FF oneshot/ DARKSIDE: (AFTER) 100 DAYS (SEQUEL)/ BTS-BANGTAN


Title : Darkside : (After) 100 Days

Author : A-Mysty

Cast :   Shin Ah Jung – Ahn Hye Min

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

Min Yoon Gi

Length : Oneshot

Genre : Adventure, School life, Love-life, Fantasy.

 

 BufxAPJIQAA2gip

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebelum waktu 100 hariku benar-benar habis. Ada yang ingin aku lakukan sebelum aku benar-benar akan pergi. –Hye Min

///

Kring… Kring… Kring…

Dentingan bel sepeda menyapa gerbang sekolah yang terletak pinggiran hutan. Tak hanya 1 atau 2 siswa saja yang mengendarai sepeda, hampir sebagainnya membawa sepeda. Tak tekecuali, Taehyung dan sahabatnya Jimin. Semenjak kematian Hye Min, mereka memang tidak pernah berjalan kaki atau menaiki bus lagi. Entahlah, tak ada alasan pasti mengenai itu.

Dan sekarang adalah sudah hari pertama mereka menginjak tahun ke-11 mereka sekolah. Mereka berdua berkomitmen untuk tidak membahas yang sudah terjadi, termasuk tentang Hye Min. Bukan bermaksud untuk melupakan sosok ceria namun egois itu, tetapi hanay untuk tidak membebani pikiran mereka saja. Seperti sebuah istilah, yang sudah berlalu biarkanlah berlalu.

“Pagi.” sapa siswa-siswi yang saling berpapasan di lobby atau di lorong sekolah.

Entahlah, sepertinya kepergian Hye Min juga merubah segalanya. Sekolah yang terasa-sedikit-hampa ini berubah sangat ceria. Begitu juga hutan yang begitu rimbun dan gelap tersebut, mulai berhawa ramah. Pemerintah setempat membiarkan hutan tersebut tetap tumbuh. Dengan alasan, bahwa hutan itu bisa digunakan untuk perkemahan atau girls’s guide.

Setiap kenaikan kelas, sekolah ini berkomitmen untuk mengacak-acak siswa-siswinya. Dan beruntung sekali, Taehyung, Jimin, Eun Soo, dan In Hyong, mendapat kelas yang sama. Jadi, tanpa mengatakan apapun lagi mereka langsung duduk depan belakang. Namun, ketika mereka sedang berbicara, mereka merasakan ada yang kurang. Ya, benar. Sesuatu yang seharusnya mereka anggap sudah berlalu, yaitu keberadaan Hye Min. Tapi, sesuatu aneh terjadi pada seseorang yang berada salah satu dari mereka.

Eun Soo menghela napasnya hingga bahunya terlihat naik-turun secara perlahan. “Sepi, ya? Kalau saja dia masih hidup, kita bisa berkumpul satu kelas.” ujarnya dengan tangan kirinya menulis asal di kertas buramnya.

In Hyong menoleh ke arah Eun Soo dengan raut wajahnya terlihat mencengkam. Lagi-lagi, Eun Soo yang membuat In Hyong merasa seperti tidak enak hati sendirian. Rasa sedih, tak tahu apa-apa, serta kesal kembali berkumpul. “Ya… aku tahu itu. Tapi, bukankah kita sudah berjanji untuk tidak membahasnya?” tanya In Hyong dengan tatapan bertanya.

“Memang,” Eun Soo menghela napas beratnya. “Tapi, aku tidak bisa. Karena aku sangat merindukannya.”

Raut wajah Eun Soo benar-benar jujur. Gadis itu menunduk karena tidak bisa menahan perih matanya karena ingin menangis. Sudah hampir 100 hari Hye Min pergi, sudah hampir 100 hari pula Eun Soo harus menjalani tahun ke-10-nya tanpa teman sebangku. Dan itu… membuat Eun Soo merasa kesepian.

“Aku juga…” tambah In Hyong. “Tak hanya kau saja, aku juga merindukannya. Aku ingin tahu, sedang apa dia di sana? Apa dia mengingat kita? Atau dia sedang bersama kita, hanya saja kita tidak melihatnya?”

“Entahlah,” Eun Soo mengusap air matanya yang mengalir pelan dipipinya. “Kalau ia benar ia sedang bersama kita, tetapi kita tidak melihatnya… setidaknya ia tahu bahwa kita sangat merindukannya.” ujarnya dengan sedikit terbata.

“Ya… aku harap juga begitu.” tambah In Hyong pelan.

Tetap saat itu, Eun Soo kembali menangis. Dengan cepat, In Hyong menarik kursi mendekati Eun Soo. Kemudian, ia memeluk gadis itu erat. Tanpa disadari, ia-pun ikut menangis. Mereka merindukan sosok sahabatnya. Mereka menangis dikelas mereka, dan semua orang mengetahui alasannya. Dan, semua siswa-siswi itu tahu bahwa persahabatan ketiga orang itu sangatlah kuat.

///

Seorang gadis menatap ke dalam kelas melalui jendela kelas itu. Ia berdiri dengan tatapan ingin tahu. Kedua bola mata gadis itu menatap dua orang gadis yang sedang berpelukan sambil terus menangis. Mendengar sedikit sesegukan dua orang itu, jantung gadis itu seperti mencelus. Mata gadis itu tanpa sadar ikut berkca-kaca juga.

“Aku tidak tahu, kalau kalian sangat sedih dengan kepergianku.” ujar gadis itu yang tanpa sadar ikut menangis, hanya saja menangis tanpa suara sesegukan.

“Kau sedang apa? Bukankah, kau sudah berjanji hanya ingin menghabiskan waktu sehari penuh denagn teman-temanmu sebelum hari ke-seratusmu habis?” Suara seorang laki-laki mengagetkan gadis itu hingga bergidik. “Ah Jung, kau menangis? Jujur saja, aku baru tahu arwah bisa menangis.”

Gadis yang bernama Ah Jung-Hye Min- menatap kesal laki-laki yang melontarkan kalimat terakhir yang begitu mengejeknya. Hye Min menatap laki-laki yang menjadi musuhnya ketika ia masih hidup, dan sekarang laki-laki itu menjadi penjaga arwah dirinya sampai hari keseratusnya berakhir. Ya, kalian pasti tahu laki-laki itu adalah Min Yoongi.

“Ini semua karena kau.” semprot Hye Min sambil mengusap air matanya. “Andai saja kau tidak bertindak macam-macam ketika aku masih hidup, pasti kedua sahabatku tidak akan menangis seperti itu! Dasar sial!” Tanpa aba-aba, Hye Min menendang tungkai Yoongi.

Yoongi sedikit meringis ketika menerima tendangan yang terasa di tungkai kakinya. Meskipun mereka sama-sama tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, namun mereka berdua bisa saling merasa sakit. Seperti menendang tadi contohnya.

“Ya! Kenapa kau menyalahkanku?! Saat itu aku adalah penjaga roh kakakmu itu.” bentak Yoongi tak mau kalah. “Aku memang dewa kematian, tapi aku juga harus menjaga roh-roh sepertimu yang belum melewatkan hari keseratusnya. Seharusnya 49 hari cukup, tapi kau itu sulit diatur! Sekarang kau sudah senangkan? Kau bisa melawan roh kakakmu sendiri, sehingga kau menjadi Ah Jung yang utuh?”

Hye min memasang wajah kesal yang muram. “Aku tidak peduli soal itu. Pada akhirnya, aku mati. Kau tidak tahu bagaimana rasanya…” Hye Min menggantungkan ucapannya dan kembali menatap kedua sahabatnya yang masih saling berpelukan dan berbagi tangis karena rindu. “… meninggalkan orang yang kau sayangi seumur hidup.”

Yoongi memeringkan kepalanya dan ikut menatap ke dalam kelas itu. Kedua bolama tajamnya dapat menangkap Eun Soo dan In Hyong yang masih menangis. “Sebenarnya, ada seseorang yang lebih tidak bisa melepaskanmu. Hanya saja, ia berusaha terlihat bisa melepaskanmu.” ujar Yoongi perlahan.

Hye Min kembali mengelap air matanya. “Siapa?” Pertanya yang bodoh baginya. Mungkin dugaannya benar, atau juga salah. Ia tidak bisa percaya diri bahwa laki-laki itu yang tidak melepaskannya. Kalau diibaratkan ke dalam cerita-cerita, laki-laki itu terlalu berlebihan juga.

“Kau pasti sudah tahu jawabannya,” ucap Yoongi yang meninggalkan jendela kelas itu. “Dan hari ini, aku akan membantumu agar laki-laki itu berserta sahabat-sahabatmu seperti merasakan keberadaanmu.” Setelah mengucapkan itu, Yoongi berjalan menjauh dari tempat Hye Min. Namun karena Hye Min berada di bawah pengawasan Yoongi, kemanapun Yoongi pergi Hye Min harus merasakan dirinya terseret paksa.

///

Basket adalah permainan umum yang dilakukan laki-laki maupun perempuan. Hanya saja, kebanyakan laki-laki yang memainkan basket hanya untuk meredakan emosinya. Entah emosi karena bahagia, sedih, kesal atau sebagainya. Yang jelas, emosi diri bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan marah saja. Termasuk, Taehyung dan Jimin saat ini.

Mereka berdua memang tidak terlalu pandai bermain basket. Namun, belakangan ini mereka seringkali menghabiskan waktu istirahat untuk bermain bola yang harus dimasukan ke dalam ring agar bisa mendapat poin itu. Berbeda dengan Taehyung yang dulu, kali ini sikap dingin dan pendiam Taehyung lebih mudah terlihat. Bahkan, sifatnya mulai bertambah satu, yaitu mudah marah. Sedangkan Jimin, laki-laki itu tetaplah Jimin yang dulu. Tak ada yang berubah. Baik sifat maupun fenotipnya.

Krang!

Bola basket yang dilempar Taehyung masuk dari bagian inner circle lapangan. Lemparan itu berhasil membuat siswa-siswi yang bisa menonton ketika jam istirahat bertepuk tangan, ada beberapa yang berteriak karena jarak lemparan Taehyung sangat jarang ada yang bisa.

“Kau hebat Kim Taehyung!” teriak Gong Pyo, begitu juga dengan yang lainnya.

“Hebat! AKu tidak tahu kau begitu pandai bermain basket.” ujar Jimin ketika menyamakan posisinya dengan Taehyung, yaitu bersebelahan.

Taehyung hanya diam tanpa mengatakan apapun. Senyumpun tidak. Ia benar-benar seperti laki-laki tanpa ekspresi sekarang. Ia melanjutkan permainan sematanya lagi hingga 10 menit lamanya. Karena sudah cukup merasa lelah, Taehyung dna Jimin terduduk di pinggir lapangan tersebut sambil bersandar di pagar jaring-jaring besi.

Hye Min dan Yoongi rupanya sudah berada di sana ketiak pertandingan mulai sampai Taehyung dan Jimin duduk beristirahat. Karena arwah yang mendekati manusia akan membangunkan bulu kuduk, terpaksa Hye Min berdiri berjaga jarak dengan Taehyung. Tidak, maksudku, ia sedang terduduk di cabang-cabang pohon-entahlah aku tidak tahu pasti namanya- dengan mengayun-ayunkan kakinya.

“Kau memang hebat!” ujar Jimin sekali lagi untuk menyatakan rasa kagumnya.

Taehyung tidak menanggapi apapun. Laki-laki itu hanya diam sambil meneguk air minumnya. Berhubung mereka sudah menjadi senior, namun tidak paling tua. Secara otomatis, mereka memiliki adik kelas yang baru saja masuk dihari yang sama dengan mereka. Dan, secara mengejutkan Taehyung tiba-tiba saja masuk ke dalam list siswa tahun ke-11 dengan penggemar terbanyak. Namun, ia tidak bisa mengalahkan sunbaenya sendiri. Yang, aku-author- juga tidak tahu namanya.

“Kya!! Taehyung sunbae! Kau benar-benar keren!” jerit 2 siswi baru tepat di belakang pagar jaring-jaring tempat Taehyung bersandar.

Karena terkejut, Taehyung dan Jimin langsung menoleh ke belakang secara spontan. Disana memang terdapat banyak siswi yang meneriaki Taehyung, namun tidka mencapai 10 orang. Paling tidaa 4-6 orang, dan itu sudah sangat berisik. Tetapi, Taehyung tidak tersenyum atau apapun.

“Berisik!” ujar Taehyung keras, namun sedikit tanpa nada. Namun, ujaran Taehyung itu tidak dipedulikan oleh siswi-siswi itu. Mereka malah semakin berisik. Karena kesal, Taehyung-pun bangkit hingga kakinya tidak sengaja menendang Jimin, lalu menatap siswi-siswi adik kelasnya itu geram. “Kalian tidak dengar? Kalian itu berisik! Kalau ingin berteriak tidak di sini, cari saja idola kalian dan berteriak-teriak di depannya. Mereka pasti suka!”

Dalam sekejap, siswi-siswi itu terdiam kaku. Hye Minpun yang terduduk di cabang pohon dekat pagar itu juga tersentak. Sebenarnya, ia sudah pernah dibentak Taehyung (Ingat Darkside Chapter 11). Namun, ia tidak tahu bahwa Taehyung berani membentak adik kelasnya sendiri. Walau sebenarnya, memang menyebalkan.

“Aku tidka tahu kau jadi sensitive seperti itu.” ujar Hye Min sambil terus menatap lurus Taehyung dari cabang pohon yang ia duduki. Yoongi yang berdiri di cabang itu juga, hanya menatap Taehyung yang membentak tanpa raut yang jelas.

Jimin yang sempat meringis tertendang Taehyung secara tidak sengaja langsung bakit. Jimin bisa merasakan Taehyung akan marah. Entahlah, sudah dipastikan. Laki-laki itu seperti temperamental. Namun, sifatnya yang dulu tetaplah ada. Dan, Jimin tahu pemicu Taehyung itu seperti ini. Dan aku rasa, kalian juga tahu, kan?

“Tenangkan dirimu. Mereka adalah adik kelas yang menjadi penggemarmu. Kau tak seharusnya memarahi mereka.” Jimin langsung merangkul Taehyung cepat. “Untuk kalian, aku hanya menyarankan untu kmenuruti ujarannya seperti tadi. Kalau tidak, ia pasti akan marah.” ujar Jimin, kemudian menarik Taehyung menjauh dari siswi-siswi itu. Entah mengapa, ia jadi ingat ketika ia harus menenangkan Hye Min yang seringkali marah seperti tadi. Mengingat itu, Jimin hanya bisa mengembuskan napasnya.

“Birkan saja,” ujar Taehyung yang langsung melepaskan rangkul Jimin. Ia mengambil jas sekolahnya yang ia letakan di kursi batu dengan cepat, kemudian mengenakannya. “Teriakan mereka hanya membuat sakit telinga. Meskipun, mereka cantik sekalipun. Sekalinya berisik, tentu saja mengganggu.” Ia mengatakan itu dengan membalikkan badannya, lalu berjalan pergi.

Jimin menatap Taehyung smabil mengenakan jas sekolahnya juga. Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar konyol untuk Taehyung meluncur dengan lancar dari mulut Jimin. “Apa karena kau belum bisa menghilangkan rasa sukamu pada Hye Min? Atau pada Soo Hwa?”

Belum bisa menghilangkan rasa sukamu pada Hye Min? Aatau pada Soo Hwa?

Hye Min Atau Soo Hwa…

Deg!

Taehyung menghentikan langkah kakinya. Mendengar dua nama gadis yang pernah memasuki hidupnya dan menjadi kenangan terpayah baginya, membuat Taehyung mencelos. Ia mengepalkan tangannya erat. Pertanyaan Jimin seakan-akan menambah sulutan api kemarahannya. Tanpa basa-basi, Taehyung berbalik badan dan memukul Jimin di tulang pipi sahabatnya sendiri. Jimin yang ternyata sudah berjalan di belakang Taehyung, langsung terpelanting jatuh duduk.

Lagi-lagi, Hye Min terkejut. Ia menutup mulutnya yang menganga itu. Ia tidak percaya kondisi emosional Taehyung tidak stabil yang ia kira. Apalagi, baru saja Taehyung memukul sahabatnya sendiri hingga terpelanting seperti itu. Yoongi yang diam-diam memperhatikan juga membelalakan matanya. Lalu, beberapa orang mulai memperhatikan Taehyung dan Jimin dengan tatapan heran.

“Jangan pernah kau ucapkan nama itu lagi. Karena aku tidak ingin mengingatnya lagi. Mengerti?” Taehyung berucap dengan sedikit membungkukkan badannya. Jari telunjuknya menuntuk tajam ke arah Jimin, kemudian berlalu pergi. Ia benar-benar tidak memerdulikan tatapan heran orang-orang sekitar.

Jimin tak kunjung bangkit dari posisinya. Selain karena terkejut, nyeri di pipinya bergitu mencengkam. Pukulan ini lagi-lagi mengingatkan dirinya kepada sahabat dekatnya. Lagi-lagi, Hye Min. Sepertinya gadis itu akan menjadi kenangan sahabat bagi siapapun yang merasa déjà vu mengingatnya.

Tanpa mengatakan apapun lagi, Hye Min langsung turun dari cabang yang tingginya 4 meter dari tanah. Gadis itu berlari menembus siswa-siswi yang menghalangi jalannya menuju Jimin. Melihat ‘tawanan’nya pergi begitu saja, Yoongi pun ikut turun dan mengikuti arah langkah Hye Min yang cepat dan tanpa menggunakan alas kaki itu. Sebenarnya, alasan Yoongi mengejar Hye Min juga hanya bukan alasan itu saja.

Langkah cepat Hye Min berhenti tepat di hadapan Jimin yang masih meraba-raba lebamnya. Sementara itu, entah sejak kapan, Gong Pyo dan In Hyong berlari menghampiri Jimin. Hye Min berjongkok di hadapan Jimin, meskipun ia tahu bahwa tidak ada yang melihatnya. Termasuk, Jimin sendiri.

“Jimin-ah, kau tak apa?” tanya Hye Min pelan. Ia seperti orang bodoh berbicara dengan orang yang masih hidup, sementara dirinya sudah mati. Melihat lebam yang cukup membiru di pipi Jimin, Hye Min mulai mengulurkan tangannya perlahan. Ia ingin menyentuh pipi Jimin yang terluka itu. “Jimin-ah, lukam—“

Yoongi menepis tangan Hye Min untuk menjauhi wajah Jimin dengan cukup keras. Ucapan Hye mIn terpotong seketika, daan diganti dengan ringisan. Rasa kesal kembali memenuhi cairan termometer kejengkelan Hye Min. Gadis itu bangkit dan menatap Yoongi geram. Tangannya terkepal erat.

“Apa maksudmu?!” tanya Hye Min yang semakin mengepal eratkan kepalan tangannya. “Aku hanya ingin menyentuh luka Jimin, itu saja. Kenapa kau menepis tanganku?”

Yoongi menghela napasnya, lalu menatap tajam Hye Min agar gadis itu diam. Namun, speertinya tidak mempan. Gadis itu malah membalas tatapan tajam Yoongi. “Dengarkan aku, kau itu sudah mati. Arwah yang belum menjadi soul orb tidak boleh menyentuh manusia yang masih hidup.”

“Memangnya kenapa? Toh, aku juga tidak mungkin menarik arwahnya agar tidak ikut denganku.” sahut Hye Min ketus.

“Dasar bodoh,” Yoongi langsung menyentuh kedua bahu Hye Min, lalu menarik Hye Min agar mendekatinya.

“Mau apa kau?” tanya Hye Min dengan nada yang masih ketus.

“Menciummu,” ujar Yoongi spontan, dan berhasil membuat Hye Min terkejut. “Tidaklah! Yang benar saja. Aku juga tidak ingin ber-skinship-ria denganmu. Aku hanya ingin memutar tubuhmu agar kau bisa melihat sesuatu di belakangmu.” Yoongi langsun gmemutar tubuh Hye Min secara paksa.

“Apa-apaan kau i… ni…” Ucapan Hye Min beralun tak jelas ketika melihat sesuat udi depannya. Kali ini bukan Jimin lagi, tetap sebuah keramaian siswa-siswi membuatnya menganga. “Yoongi-ssi, gadis-gadis itu kenapa?” tanya Hye Min dengan jari yang menunjuk ke arah siswi-siswi yang sepertinay pingsan di waktu bersamaan.

“Itu karena ulahmu. Kau menembus tubuh mereka seenaknya.” ujar Yoongi dengan berkacak pinggang. “Mereka terkena shocking soul. Dimana roh mereka secara tidka sengaja bertubrukkan dengan arwah yang sudah mati. Kalau itu sampai terjadi, mereka akan seperti itu. Pingsan dan butuh beberapa jam untuk memulihkannya. Jadi, kau mengertikan kenapa aku melarangmu untuk tidak menyentuh Jimin?”

Hye Min menatap 4 gadis yang masuk dalam jajaran penggemar Taehyung tadi dengan tatapan merasa bersalah. Namun, ada suatu perasaan lain yang terselip di dalam batinnya.

Berarti aku… tidak bisa mendekati Taehyung? Atau memeluk Eun Soo?

“Ayo. Waktumu kurang lebih tinggal 4 jam lagi sebelum kau berubah menjadi soul orb.” Yoongi menarik lengan Hye Min begitu saja.

Seperti biasa, Hye Min terasa badannya diseret-seret seperti kantong sampah yang sudah penuh oleh Yoongi. Namun bedanya, ia sama sekali tidak merasakan sakit atau terluka karena kaki telanjangnya bergesek-gesek dengan kerikil, bahkan pecahan kaca sekalipun. Mungkin, karena dia arwah.

Apa yang harus aku lakukan sebelum waktuku habis? batin Hye Min bergumam pelan.

///

Taehyung meletakkan manhwa-nya di atas mejanya dengan cara melepar seenaknya. Eun Soo yang sedang serius menggambar grafik pertumbuhan sebuah tanaman untuk tugas cicilan Biologi, harus berlapang dada karena gambar tercoret. Ini karena Eun Soo terkejut dengan suara debam-an Taehyung yang melempar manhwanya seperti itu.

“Kalau meletakkan sesuatu, kau bisa meletakkannya perlahan, kan?” sindir Eun Soo sambil menghapus garis lengkung perolehan hasil terkejutnya. Ia mendelik menatap Taehyung sedikit, dan mendapati Taehyung yang sedang menatapnya kesal. “Kau dengar ucapanku tidak?” tanya Eun Soo lagi dengan nada bicara yang sama.

“Cerewet.” sahut Taehyung dengan nada dinginnya. Nada yang sama ketika ia berujar ‘berisik’ kepada siswi-siswi tadi.

“Terserah kau saja,” balas Eun Soo tak kalah dingin. Sebenarnya ia tidak berujar dengan nada dingin, melainkan kesal. Ia kesal ketika tugasnya harus tercoret hanya karena orang lain mengganggunya meskipun sengaja atau tidak. “Dari pada alismu bertaut dan wajahmu dingin seperti itu, lebih baik kau mencicil tugas Biologi ini.” ujar Eun Soo lagi. Gadis itu tidak menatap Taehyung sama sekali. Kedua matanya terfokuskan ke arah lembaran kertas yang bertuliskan tugas biologi yang sedang ia cicil.

Kembali, Taehyung menatap Eun Soo jengkel. Entahlah, ia mudah sekali marah belakangan ini. Namun, ketika ia tidak marah, ia akan memilih menjadi pendiam. Seperti pendiam tulen, hingga sekali berbicara yang keluar hanyalah makian kesal. Ingat? Semuanya terjadi semenjak Hye Min sudah tidak ada.

“Kau ini kenapa berisik sekali?” bentak Taehyung tak tanggung. Ia juga sedikit menggebrak meja Eun Soo keras. Siswa-siswi yang berada di dalam kelas menatapnya bingung. “Bisa tidak kau diam? Bukan urusanmu juga, kan?”

Hye Min dan Yoongi sampai di dalam kelas tempat Taehyung dan Eun Soo berada. Yoongi lebih memilih duduk di tempat tak lazim untuk digunakan sebagai tempat duduk, yaitu adalah lemari di sudut kelas itu. Sedangkan Hye Min, ia berjalan mendekati tempat duduk Eun Soo. Kemudian, duduk di kursi yang ia yakini adalah kursi yang sebenarnya di duduki In Hyong.

Rupanya, mereka sedang berbincang. Baguslah. Mereka akrab, meskipun tanpa aku. batin Hye Min berujar senang. Namun semuanya berubah ketika ia melihat tatapan mata Eun Soo dan Taehyung.

Eun Soo mengembuskan napas beratnya. Bukan karena tugasnya tercoret lagi, tapi sikap Taehyung yang seperti air membuatnya harus bersabar. Eun Soo menatap tajam Taehyung dan setengah menyelidik. “Apa?” tanya Taehyung dengan suara beratnya.

“Apa kau jadi begini hanya karena kau belum bisa melepaskan atau berhenti menyukai Hye Min?” Eun Soo menyerang Taehyung dengan pertanyaan tajamnya. Pertanyaan yang membuat Taehyung terasa seperti dilempari batu marmer.

Mendengar Eun Soo mempertanyakan hal itu kepada Taehyung, spontan membuat Hye Min membelalakkan matanya. Ia terkejut dengan pertanyaan itu. Taehyung menatap Eun Soo dingin, bersamaan telapak tangannya yang mulai terkepal erat. Menyadari hal itu, Hye Min langsung bangkit dan bersiap-siap menghalangi Eun Soo. Serta Yoongi yang kembali bersiap menarik Hye Min agar Hye Min tidak menyentuh manusia yang masih hidup lagi.

“Jangan pernah menyebutkan nama gadis itu lagi.” sahut Taehyung dengan rahang yang mengeras.

Hye Min tercekat ketika Taehyung mengatakan itu. Matanya sedikit bergetar. Ia merasa bodoh bahwa ia merasa Taehyung menyukainya seperti yang ia katakan ketika ia masih hidup atau lebih tepatnya ketika detik-detik Hye Min menusuk dirinya sendiri. Ia juga merasa bodoh ketika ia harus mengucapkan semua rasa senangnya yang diakhiri menyukai Taehyung.

“Kenapa?” serdik Eun Soo lagi. “Kenapa kau bisa berbicara seperti itu? Kim Taehyung, kemana ucapanmu ketika peringat 49 hari kematian Hye Min? Kau mengatakan kalau kau tidak akan melupakannya dan kau akan selalu menyukainya meskipun ia sudah tidak ada. Dan, meskipun kau sudah pacar sekalipun. Kemana ucapan itu? Apa kau mengingkarinya? Atau kau memang tak bisa melepaskannya? Aku bingung. Sifatmu ini yang membuat aku, Jimin, serta In Hyong bingung. Oke, kau bisa bilang aku tidak jelas dengan ucapanku ini. Tetapi, apa kau melupakan ucapanmu sendiri?”

Hye Min menoleh menatap Eun Soo dengan mata yang berair. Ia dapat melihat mata Eun Soo yang ikut bergetar seiring ia berujar. Tatapan dingin gadis itu kini sudah berubah menjadi sendu. Siswa-siswi yang lainpun hanya menatap mereka sedikit heran, kemudian kembali fokus pada kegiatan yang biasa dilakukan pada saat istirahat seperti ini. Sementara itu, Taehyung semakin mengeratkan kepala tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

“Bagaimana jika sebenar Hye Min ada di dekat kita? Bagaimana kalau ia tahu kau mengatakan ini? Hye Min pasti akan sedih. Aku tahu itu, karena aku bisa merasakan keberadaannya. Karena… ia sahabatku. Dan, aku tidka ingin kau semena-mena mengucap janji kecil, lalu seperti ini.” lanjut Eun Soo lagi.

Hati Hye Min terasa tersentuh. Merasa Eun Soo seperti sedang merangkulnya sekarang. Hye Min juga merasa terharu karena ucapan Eun Soo bahwa ia bisa merasakan beradaan Hye Min saat ini. Meskipun, tidak terlihat sama sekali. Kecuali, oleh orang indigo tentunya.

Rahang Taehyung terlihat semakin keras. Kepalan tangan kiri yang berada di atas meja Eun Soo juga semakin erat. Lalu, tangan kanannya juga mengepal erat. Tatapan tajam Taehyung yang ia kirimkan kepada Eun Soo sama sekali tidak melunak meskipun Taehyung dapat melihat buliran bening di pelupuk mata Eun Soo.

Brak!

Sekali lagi, Taehyung menggebrak meja Eun Soo dengan sangat keras, sebelum laki-laki itu bangkit dan pergi membawa tas kemudian meninggalkan tempat duduknya. Hye Min tersentak karena saking terkejutnya. Sementara itu, air mata Eun Soo langsung menetes ketika Taehyung menggebrak mejanya. Seakan-akan, gebrakan itu menggoncangkan pelupuk matanya. Lalu, secara tak sengaja menumpahkan air yang sudah terkumpul.

Hye Min menatap Eun Soo yang menggeser semua alat tulis serta kertas praktikumnya. Ia menangis tersedu-sedu di sana dengan kepala yang bertopang di atas lipatan kedua lengannya. Hye Min menatap Eun Soo yang menangis dengan mata yang berair pula. Ini sudah kedua kalinya Eun Soo menangis. Biasanya, ia adalah gadis yang jarang menangis jika dibentak seperti itu. Tapi, ia akan menangis karena sesuatu yang ia sayang.

Yoongi melihat semuanya semenjak Hye Min mengajaknya masuk ke dalam kelas ini. Tak ada ekspresi kasihan atau ekspresi khusus lainnya. Yoongi hanya duduk dengan punggung yang bersandar di dinding kelas itu. Tak tampang yang berniat untuk menolong atau lainnya. Laki-laki itu hanya duduk melihat, seakan-akan ia adalah sutradara dari semua ini. Padahal, tidak.

Hye Min bangkit dari tempat duduk In Hyong yang ia duduki dengan kepala yang menunduk. Berantakan. Seharusnya, ia bisa melewatkan hari tearkhir yang menjadi bagian dari hari keseratus dirinya sudah tiada yang mengharukan. Sebenarnya, yang ingin ia lihat adalah sahabat-sahabatnya akrab meskipun ia sudah tak ada. Namun pada kenyataannya, mereka semua seperti berantakan. Dan hal berantakan yang paling terlihat hanya pada sosok Kim Taehyung.

“Aku ingin kalian akur. Tidak seperti ini…” ujar Hye Min yang berdiri di dekat meja tempat Eun Soo masih menangis. “Apa yang harus aku lakukan agar mereka semua akur?” gumamnya kebingungannya. Lantas, ia menatap Yoongi yang masih duduk di atas lemari dengan santai.

“Tiga tigaperempat jam lagi.” ujar Yoongi santai, membuat Hye Min merasa dirinya sedang di kejar waktu yang akan menelannya.

Tinggal tiga tigaperempat jam lagi… Apa yang harus aku lakukan?

///

In Hyong menempelkan dua buah plester dan satu buah kasa berakohol tepat di tulang pipi Jimin yang terasa membengkak. Di dalam UKS ini, hanya ada mereka berdua. Dokter Jung sedang ikut spesialisasi di Daejeon selama 3 bulan lamanya. Sebenarnya, In Hyong dan Jimin sudah berpacaran beberapa minggu yang lalu. Namun, hanya Eun Soo dan Taehyung mengetahuinya.

“Kenapa ia bisa memukulmu seperti ini?” tanya In Hyong ketika ia merapikan pinset ke dalam wadah kaleng.

Jimin menghela napasnya dengan susah payah. Tiap kali ia mengembuskan atau menarik napas, rasa nyeri terasa begitu mengigit. “Entahlah. Aku hanya bertanya kenapa ia bisa seperti itu.”

“Tidak mungkin,” ucap In Hyong yang merasa tidak percaya. Ia mengembalikan semua alat kesehatan ke tempat semula. “Kalau hanya bertanya soal itu saja, pasti ia tidak sampai memukulmu seperti itu. Biar aku tebak, pasti kau menyangkut pautkan dengan Hye Min, kan?”

“Ting tong.” sahut Jimin langsung dengan nada bercandanya. “Kau bisa menebaknya dengan cepat dan tepat. Aku jadi iri.” sambung dengan suara kekehannya yang lambat. Lebam ini membuatnya sulit itu tersenyum bahkan tertawa.

“Hah~ Kalau tidak soal Hye Min, lalu siapa lagi?” Setelah membereskan semuanya, In Hyong langsung duduk di sebelah Jimin di atas ranjang kesehatan ini.

“Sebenarnya, dulu Taehyung juga punya orang ia sukai. Bahkan, sebelum ia mengenal Hye Min.” sahut Jimin pelan.

“Oh ya? Siapa? Aku kira selama ini Hye Min adalah orang pertama yang bersahil membuat laki-laki aneh itu menyukai seseorang. Cinta pertama maksudku.” In Hyong mengayun-ayunkan tungkai kakinya asal.

“Namanya adalah Gong Soo Hwa. Ia adalah cinta pertama Taehyung. Aku juga tidak tahu kabar benarnya, bahwa gadis itu sudah meninggal atau belum. Namun, ia menghilang tanpa kabar. Dan, sahabat-sahabatnya juga mengatakan kalau ia sudah meninggal. Itu membuat perasaan Taehyung sakit.” jelas Jimin singkat. “Mungkin ia tersinggung ketika aku membawa-bawa nama Hye Min dan Soo Hwa sekaligus.” tambahnya lagi.

“Tentu saja,” In Hyong menyahut setuju dengan ucapan tambahan Jimin tadi. “Siapapun yang membahas tentang masa lalu orang yang bersangkutan, pasti akan tersinggung dan kesal. Aku juga pasti akan kesal seperti itu.”

“Aku tahu,” sahut Jimin merasa bersalah. Terkadang, menceritakan sesuatu pada seseorang memang menenangkan batin dan pikiran.

“Tapi, kau juga tidak sepenuhnya bersalah.” timpal In Hyong lagi. Ia menggengam telapak tanag nJimin yang bertumpu di atas ranjang kesehatan itu. Jimin menoleh menatap In Hyong bingung. “Aku juga penasaran kenapa Taehyung menjadi temperamental seperti itu. Sikap dan sifatnya yang dulu memang amsih ada, hanya saja sifat pemarahnya itu seperti menghilangkan sifatnya yang dulu. Aku pikir itu juga karena kematian Hye Min.”

“Sekarang giliran aku yang bertanya.” Jimin berkata sambil membalas genggaman tangan In Hyong.

“Apa?” tanya In Hyong yang merasa sedikit terkejut karena genggaman tangan dib alas oleh Jimin. Seharusnya, ia sudah terbiasa. Tapi nyatanya, entah mengapa ia belum bisa.

“Kenapa kau juga bilang kau semua itu karena Taehyung yang belum bisa melepaskan atau berhenti menyukai Hye Min?” tanya Jimin denan kepala yang ikut dimiringkan. Hingga kepala mereka berdua sama-sama dimiringkan.

“Karena ia paling bersedih selain Eun Soo, dan kita berdua tentunya. Ia juga pernah mengatakan kalau ia akan terus menyukai Hye Min, bukan? Ia yang selalu mengganti bunga di vas makam Hye Min ketika kita datang berkunjung ke makam abu gadis itu. Jadi, wajar saja kalau kau atau aku menyangkut pautkannya dengan Hye Min. Karena kita semua tahu, kalau seorang Kim Taehyung mulai menyukai Ahn Hye Min saat ia mengalami terror dari kehidupan lampaunya, kan?”

Jimin menganggukkan kepalanya setuju. “Jadi… tidak hanya aku saja, bukan?”

“Maksudmu?” tanya In Hyong mengerutkan dahinya bingung.

“Tidak hanya aku saja yang beranggapan bahwa Taehyung seperti karena masih terikat dengan perasaannya pada Hye Min.” jelas Jimin yang kemudian melepas genggaman tangannya.

In Hyong menurunkan tangannya dan menjadi tumpuan punggungnya, lalu mengayunkan kakinya. “Tentu,” In Hyong menghela napasnya. “Aku penasaran sedang apa Hye Min di sana. Apa ia sedang memerhatikan kita? Atau sedang memastikan bahwa kita semua akur, meskipun ia sudah tidak ada?”

“Entahlah,” Jimin ikut menghela napasnya perlahan. Ia terdiam sejenak kita rasa nyeri yang begitu mengigit datang kembali. Rasanya ia seperti orang yang sedang sakit gigi. “Jika apa yang kau katakan itu benar, ia harus melihat Taehyung yang seperti itu. Kalau membicarakan dirinay seperti ini, aku jadi merindukannya.” ujar Jimin dengan mata yang langsung menatap plavon UKS.

“Aku juga. Dan…” In Hyong menggantungkan ucapannya, serta Jimin yang langsung menatapnya. “Pasti Taehyung yang paling merasakan hal itu.”

“Ya, pasti.” timpal Jimin dengan senyum kecil.

Hai, Hye Min. Apa kau bisa melakukan telepati? Kalau kau bisa, aku harap kau bisa membuat Taehyung kembali seperti dulu. Ya, dimana Taehyung terlihat riang namun serius ketika kau masih ada di sini. Di sini diantara kami. Ujar batin In Hyong dengan penuh harapan.

///

Hye Min dan Yoongi terduduk di batang pohon maple dengan sedikit santai. Mereka berdua hanya menatap ke arah lapangan basket tanapa mengatakan apapun. Sudah 1 jam habis hanya dihabiskan dengan duduk di batang pohon maple ini. Pohon maple yang dulunya menjadi tempat Yoongi mengawasi semuanya.

“Kenapa dulu kau menggangu hidupku dan membantu setengah rohku untuk membunuhku?” tanya Hye Min spontan. Sebenarnya, ia ingin sekali tahu kenapa Yoongi melakukan itu semua. Setelah 100 hari bersamanya, Yoongi ternyata tidak sejahat yang ia kira.

“Itu permintaan Se Jung sebelum menyentuh hari keseratusnya. Kenapa pada saat bulan purnama? Ya, karena hari keseratusnya jatuh tepat pada bulan purnama.” jawab Yoongi santai.

Hye Min menatap Yoongi yang sekarang sedang duduk di sebelahnya. Setelan jas serba hitam. Berbeda sekali ketika ia mengganggu hidup Hye Min pada masa itu. “100 hari? Dengar, di buku tentang siklus hidupku. Se Jung dan aku sudah mati beratus-ratus tahun yang lalu. Tapi, kenapa kau masih bilang itu hari keseratus? Oh, berarti aku juga bisa mengulur waktuku, kan?” tanay Hye Min dengan dahi yang mengerut.

Yoongi mengembuskan napasnya, kemudian menatap Hye Min yang sudah lebih dulu menatapnya. “Karena ia hanya setengah. Setengahnya lagi masih hisup. Lalu, aku harus bagaimana untuk mengubahnya menjadi soul orb? Salah satu caranya adalah membunuhmu. Lagipula, ia juga mengatakan kalau ia ingin membalas dendam untukmu, bukan? Jadi… aku pikir sekalian saja. Karena aku sudah bosan bertahun-tahun mengawalnya hanya untuk mencarikannya setengah rohnya yang hilang. Kau tahu ‘kan asal-usul dirimu dari buku kuno itu? Ya, kurang lebih cerita selanjutnya seperti yang ada di buku itu.” jelas Yoongi panjang lebar.

Mulut Hye Min sedikit menganga. Ucapan Yoongi terlihat sangat jujur, hanya saja tampang dinginnya membuat Hye Min tidak percaya. “Jadi, kau benar-benar bersekongkol dengan kakaku sendiri hanya untuk membunuhku?!” tanya Hye Min denagn suara yang sedikit meninggi.

“Ya, begitulah. Jahat? Pasti. Karena aku lelah mengawalnya. Ia sama sepertimu. Hanya karena ia butuh rohnya yang ternyata berkesempatan hidup lagi, jadi aku menawarkannya agar ia ikut denganku. Lalu, membuat batinnya kotor.” jelas Yoongi lagi. Ia menggeser tempat duduknya ke samping menjauh dari Hye Min sedikit. Lalu mengubah posisi duduknya, dan bersandar di batang kambium tebal pohon maple itu.

“Sialan. Penjahat.” umpat Hye Min spontan, namu ndengan suara yang dipelankan. Tetapi, Yoongi bisa mendengarnya dengan jelas. Hanya saja, Yoongi memilih untuk diam ketimbang berdebat dengan tawanannya sendiri. “Satu lagi, kenapa kau membenci Namjoon? Dan, kenapa ia menghilang? Kenapa tidak kau saja yang menghilang, dan aku di kawal olehnya?” ujar Hye Min dengan nada sinis.

Yoongi mengembuskan napas sabarnya perlahan. “Entahlah. Seharusnya dia yang mengawal kemanapun Se Jung pergi untuk mencari roh itu.” Yoongi memutar-mutar sebuah benda yang biasa ia simpan dalam kantongnya, yaitu pocket watch. “Tapi ia malah ingin mempertahankan hidupmu dan memilih menjadi manusia. Kau tahu cara dewa kematian mengubah dirinya agar bisa menjadi manusia lagi? Yaitu dengan cara manusia tersebut. Ia dikatakan pengkhianat bukanlah olehku. Melainkan oleh dewa kematian lainnya, serta Se Jung. Lalu, aku yang diutus menggantikan posisinya. Sebelumnya, kami berdua untuk mengawal Se Jung. Ya, begitulah. Terlalu panjang untuk di ceritakan oleh mulut ini. Jika aku berkesempatan hidup lagi, aku ingin menulis novel tentang pengawalan roh.” Yoongi menjelaskan dengan kedua mata yang fokus dengan jarum detik pocket watch-nya.

“Setidaknya, Namjoon lebih memiliki sifat manusia daripada dirimu. Kau kejam, menyebalkan, membunuh orang lain seenaknya, dan menggangu hidupku. Kua tahu, kalau saja aku masih hidup persahabatan ini tidak mungkin seberantakan ini.” Hye Min mengeluarkan umpatan dan keluh kesalnya dengan rahang yang sedikit mengeras.

“Memang itu tugas dewa kematian. Lalu, kau mau aku melakukan apa agar aku tidak terlihat sekejam dan sejahat yang kau kira?” Yoongi menutup pocket watch-nya, kemudian memasukkan ke dalam saku jasnya. “Waktumu tinggal dua setengah jam lagi sebelum kau berubah menjadi soul orb.”

Mendengar Yoongi merincikan wkatu yang tersisa, tatapan Hye Min berubah menjadi jengkel dan sinis. Ia menatap ke lain arah. Tepat ketika ia menoleh ke arah bergang sekolah, ia melihat Taehyung berjalan cepat meninggalkan sekolah.

Bukankah… jam selanjutnya sudah dimulai? Mau kemana dia? Jangan-jangan… Terlintas sebuah ide dipikiran Hye Min tepat ketika batinnya berbicara.

“Yoongi-ssi!” pekik Hye Min yang menoleh langsung menoleh ke arah Yoongi. Yoongi yang sudah mendapatkan posisi sandaran yang enak, secara refleks menegakkan punggungnya.

“Ada apa?” tanya Yoongi yang merasa terganggu. “Waktumu tinggal dua setengah jam lagi.” ujarnya mengulangi peringatan waktu yang tersisa sekali lagi.

“Lupakan soal waktu yang tersisa itu,” Hye Min mengibaskan tangannya cepat. “Kau bilang kau mau melakukan sesuatu agar kau tidak terlihat sejahat yang aku pikirkan, kan?”

“Kapan aku mengatakannya?”

“Barusan. Kau yang mengatakannya sendiri. Ayolah, aku butuh kau membuktikannya. Dan, tadi kau bilang Se Jung mempunyai permintaan sebelum hari keseratusnya habis. Apa aku juga berhak mendapatkannya?” tanya Hye Min tanpa mengenal jeda.

“Ya, kalau kau bisa melkakukan sebuah batasan waktunya tiba, kenapa tidak?”

Hye Min mendelik ke arah gerban gsekali lagi, dan Taehyung masih berdiri di sana dengan kepala yang menoleh ke kanan-kiri tak pasti. “Kalau begitu…”

///

Kabur dari jam pelajaran selanjutnya. Itulah yang Taehyung lakukan. Ia lebih peduli terhadap ego-nya, kemudian memilih kabur di sekolah untuk menenagkan dirinya. Sudah dua orang sahabatnya yang mengatakan pemicunya seperti ini karena Hye Min. Ya, kalau dikatakan memang benar. Hnaya saja, Taehyung sedang tidak ingin membahas gadis yang terkadang bisa membuatnya menangis.

“Pulang cepat?” tanya sang ibu sambil mengelap meja makan. Namun, Taehyung bergeming saja. Kemudian, sang ibu hanya bisa mengembuskan napasnya pasrah. “Kenapa lagi kau…”

Taehyung membuka pintunya cepat, lalu melempar tasnya ke sembarang arah. Dalam sekali lompatan, ia merebah tubuhnya keras. Suara berderit karena per kasur yang menerima hentakan erat tubuhnya begitu memekak. Namun, ia tidak memedulikannya. Embusan napas beratnya terdengar. Ia menatap plavon kamarnya dalam. Berbagai pikiran masuk dan mengaduk-aduk otaknya. Terutama, soal sikap dan Hye Min.

“Apa benar aku begini hanya karena Hye Min?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Tapi aku rasa pikiran orang sajalah yang berlebihan.” timpalnya lagi.

Ia berguling pinggir kasurnya, lalu sebelah tangannya terulur untuk menarik naskas kamarnya. Tiga tumpuk buku kuno langsung menyapanya. Buku-buku yang sempat menjadi misteri semata yang kemudian ia simpan untuk mengingat gadis itu. Kalau buku itu ada, Taehyung bisa merasakan bahwa cerita dan Hye Min itu masih ada. Ternyata, rasa cinta itu bukan membutakan semuanya. Melainkan, bekasnyalah yang membutakannya.

Lantar, Taehyung langsung membuka halaman terakhir buka yang berjudul ‘Muerte’. Halaman yang membuatnya memilih untuk menyimpan buku ini. Halaman yang membuatnya bermalam di dalam sekolah hanya karena melampiaskan rasa kesal dan sedihnya sekaligus. Halaman yang membuatnya merasa kebingungan. Yaitu, halaman terakhir buku itu dan juga halaman yang hilang.

Ketika membaca ulang halaman terakhir itu, Taehyung kembali merasa sedih. Sepertinya, apa yang dikatakan para sahabatnya memang benar. Ini karena ia sulit melepaskan dan menghilang rasa sukanya. Merasakan hal ini lagi, Taehyung sepertinya déjà vu. Taehyung pernah merasakan seperti ini ketika Soo Hwa pergi meninggalkannya tanpa kabar, atau lebih tepatnya sembunyi-sembunyi. Soo Hwa… mengingat nama itu Taehyung merasa bahwa gadis itu patut dibenci karena kebohongannya sebelum gadis itu pergi.

Berbeda dengan rasa kesal terhadap Soo Hwa, Taehyun tidak bisa membenci Hye Min yang lebih memilih menusuk dirinya ketimbang kabur dari bangun miring itu. Miris memang melihat orang yang kau sukai membunuh dirinya sendiri demi orang lain. Tapi, itu Hye Min. Itu yang membuat Taehyung menyukainya. Meskipun, gadis itu juga sempat memukulnya dan… membohonginya.

“Mereka benar…” Taehyung mengembuskan napasnya, lalu menumpuk ketiga buku itu lagi dengan rapi. “Kenapa aku harus mengelak?” Taehyung meneletakkan buku-buku itu kembali ke dalam laci nakas, kemudian bangkit dari posisinya.

Taehyung berjalan menuju jendela kamarnya, membukanya kemudian menatap langit yang sedang cerah ceria. Namun, sorot mata Taehyung tidak seceria langit saat itu. Sepertinya, segerombol air mulai membasahi pelupuk mata laki-laki itu.

“Aku memang merindukanmu…” ujarnya. “Hey, sedang apa kau di sana? Apa kau bisa mendengarku?”

Tepat ketika Taehyung mengatakan hal itu, Hye Min dan Yoongi sampai di rumah Taehyung. Mereka berdua melayang tanpa pijakan. Dan, Hye Min dengar ucapan Taehyung sebelumnya. Laki-laki itu merindukannya, Hye Min dapat merasakan kesedihan untuk semua. Eun Soo, In Hyong, dan Jimin ucapan mereka sama seperti Taehyung tadi. Lagi-lagi, Hye Min hanya bisa menangis tanpa mengatakan apapun.

“Apa kau bisa mendengarku dari sana?” tanya Taehyung menatap ke arah langit terus-terusan.

“Ya, aku bisa mendengarmu. Tapi, ini hari terakhirku berkeliaran di sini.” jawab Hye Min parau.

Hye Min mendekatkan wajahnya ke wajah Taehyung yang memberikan sis jarak 20 senti meter. Hye Min tahu laki-laki itu tidak bisa melihatnya. Tapi, entah mengapa Hye Min ingin menkati Taehyung sedekat yang ia bisa. Namun dari sana, Yoongi seperti menarik benang agar bisa menahan Hye Min.

“Kau kau bisa mendengarkanku, bisakah kau turun ke sini… dan menemuiku?” ujar Taehyung lagi. Kedua matanay terus menatap terangnya cahaya matahari yang begitu ceria, serta awan-awan putih di langit yang berwarna biru cerah.

“A-aku… tidak bisa…” balas Hye Min yang sudah dapat dipastikan bahwa Taehyung tidak bisa mendengarnya.

“Aku sungguh merindukanmu.” ujar Taehyung dengan air mata yang mulai mengalir secara perlahan-lahan.

Dengan cepat, Hye Min menarik tubuh menjauh. Iat idak bisa melihat orang yang ia sukai menangis seperti ini. “Yoongi… aku mohon…” ujarnya menatap Yoongi sendu.

Yoongi mengembuskan napasnya, kemudian mengecek pocket watch-nya lagi. Tersisa 1 jam lagi sebelum arwah gadis itu benar-benar lenyap dan menjadi soul orb. “Baiklah… Tapi, kau janji padaku untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.”

“Apapun agar aku bisa bertemu dengannya sebelum aku benar-benar pergi.” jawab Hye Min pasti.

///

Taehyung menyudahi aksi menatap langit dan berbicara sendirian ketika ibunya mengetuk pintu kamarnya perlahan. Karena tidak ingin dikira yang tidak-tidak, Taehyung langsung mengelap matanya dengan cepat. Beruntung sekali, ia tidak menangis lama seperti di sekolah. Hidung dan matanya punbelum terlihat sangat memerah.

“Taehyung-ah, ada kiriman untukmu. Ibu letakan di depan pintu kamarmu saja, ya?” ujar sang Ibu setelah mengetuk pintu kamar Taehyung berkali-kali, namun tanpa jawaban.

Dengan langkah berat, Taehyung mulai berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya perlahan, dan mendapati sebuah kotak kecil berwarna merah keemasan. Tatapan Taehyung langsung berubah bingung. Isi kotak kecil itu bukanlah kalung ataupun cincin. Melainkan secarik kertas buram kecil yang berisi sebuah pesan.

Temui aku di Hwaniwon, oke? Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi, aku rasa kau sudah pasti mengenalku.

Dahi Taehyung mengerut kebingungan. Masih dengan seragam lengkap, Taehyung langsung berjalan menuruni tangga rumahnya dengan langkah kaki yang terdengar semangat serta terburu-buru.

“Eomma, aku izin pergi!” teriaknya ketika memakai sepatunya. Lalu, berlari meninggalkan pintu yang tetap terbuka begitu saja.

Sang ibu-pun hanya bisa menatap kelakuan anak laki-lakinya itu. Aneh namun unik. Saat ini, ibunya hanya bisa mengembuskan napas saja. Kemudian, kembali memasak untuk makan siang.

///

Hwaniwon. Bukit yang terkenal indahnya ketika festival musim gugur datang. Debu kuning yang terbawa oleh angin menghiasi landaian bukit ini dengan pasti. Hingga warna bukit yang sebelum berwarna hijau, menjadi kuning keemasan serta dedauan cokelat menambah keindahan alamnya. Di dekat bukit itu, terdapat sungai beraus sedang yang menjadi daya tarik kedua. Tempat ini adalah tempat Taehyung merasakan pahitnya cinta untuk pertama kalinya.

Napas menderu, serta rambut acak-acakkan karena harus melawan arah angin betiup. Taehyung sampai di Hwaniwon ini dengan napas tersengal. Ia menatap sekitarnya, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Kemudian, tungkai kaki mulai bergerak menuju sungai berarus sedang itu. Lalu, kedua matanya terbelalak lebar. Ia mendapat sosok gadis berpakaian dress putih sederhana tanpa menggunakan alas kaki sedang berjongkok menatap arus sungai itu.

Perlahan tapi pasti, Taehyung mendekati sosok gadis itu secara perlahan. Ia merasa pernah melihat postur itu. Rambut pendek sederhana serta warnanya. Sepintas mirip Hye Min dan sepintas pula mirip Soo Hwa. Tetapi, Taehyung meyakinkan diri bahwa gadis itu bukanlah Hye Min ataupun Soo Hwa. Namun, batinnya tidak mau percaya.

“H-hye Min?” panggil Taehyung tergagap. Nama yang ia sebutkan itu adalah perintah batinnya. Sejenak, rasa ragu mulai menghiggapi Taehyung. Ia menjadi benar-benar tak yakin bahwa itu adalah Hye Min.

Namun, diluar dugaannya, gadis itu bangkit dan membalikkan badannya. Jantung Taehyung langsung berdebar keras. Gadis itu benar-benar Hye Min. Hye Min saat ini sedang menatapnya dengan senyum manis khasnya, lalu melambaikan tangannya ke arah Taehyung denga nsemangat. Sementara itu, Yoongi terduduk di salah satu batu besar di pinggir sungai itu. Kedua mata Yoongi masih fokus pada pocket watchnya. Tinggal empat puluh lima menit lagi.

“Kim Taehyung!” Tanpa ragu, Hye Min berlari mendekati Taehyung. Begitu juga dengan Taehyung. Lalu, mereka langsung berpelukan ketika jarak mereka sudah dekat.

“Aku tahu kau masih hidup.” ujar Taehyung pelan.

“Aku merindukanmu. Sangat, sangat merindukanmu.” ujar Hye Min dengan suara yang seperti terbungkam. Wajarnya saja, karena Taehyung yang sedikit lebih tinggi dibantingnya. Ia harus bisa menahan rasa sakit di bibirnya karena bertubrukan dengan bahu Taehyung yang tegap itu.

Taehyung sedikit menelusupkan kepalanya di antara helaian rambut Hye Min yang pendek itu. “Aku juga.” balasnya dengan suara yang benar-benar berbeda.

Mereka berpelukan selama beberapa saat, kemudian Hye Min melepaskan pelukannya lebih dahulu dari pada Taehyung. Gadis itu tersenyum dengan matanya berair karena terlalu senang bisa melihat Taehyung, dan Taehyung bisa melihatnya.

“Senang bisa melihatmu lagi.” ujar Taehyung sambil terus menggenggam kedua tangan Hye Min.

“Tentu, aku juga.” balas Hye Min. “Sebenarnya, aku ke sini karena ingin memberika sesuatu padamu.” tambahnya cepat.

“Oh, ya? Apa itu?” tanya Taehyung yang tidak bisa berhenti tersenyum ketika ia bisa melihat Hye Min. Ini seperti mimpi.

Hye Min mengambil sesuatu yang terletak di antara rerumputan tinggi, kemudian membawanya kembali ke Taehyung. Sebuah kalung dengan liontin healing Kristal kecil menyapa bola mata Taehyung. “Ini adalah kalung healing. Entahlah, aku yang emnamainya seperti itu. Karena, kalung ini bisa meredakan rasa kesal dan marahmu. Kalau kau menggunakan kalung ini, tandanya kau mau akur dengan yang lain.” Hye Min terus berujar samba lemekaikan kalung itu ke leher Taehyung.

Taehyung hanya bisa terdiam mendengar suara Hye Min yang mengalun tepat di dekat telinganya. Suara yang sudah lama ia tak dengar. Begitu pula dengan sosoknya. Ia benar-benar seperti mimpi sekarang.

“Nah, sudah. Bagaimana? Tidak terlihat seperti perempuan sekali, bukan?” ujar Hye Min yang menatap Taehyung beserta kalungnya dengan seukir senyum yang manis. Hingga mata sipit gadis itu terlihat terpejam rapat.

Tangan Taehyung mulai tergerak menyentuh liontin kalung itu dengan ekspresi yang tercampur aduk. “Terima kasih, Hye Min-ah. Aku senang kau tahu perasaanku. Aku snagat menyukaimu.”

Hye Min tetap tersenyum riang. “Aku juga, Kim Taehyung. Jaga kalung itu baik-baik, dan persahabat itu tentunya.” balas Hye Min riang. Matanya mendelik ke arah Yoongi yang masih duduk di batu besar itu. Ia menangkap sinyal waktu yang tersisa melalui jari-jari Yoongi. 5 menit lagi. Sepertinya wkatu yang tersisa itu habis hanya untuk menunggu Taehyung sampai di Hwaniwon ini.

Degh!

Kekuatan yang sementara menghidupkan Hye Min sepertinya semakin berkurang. Jantungnya sudah berhenti berdetak. Itu tandanya, tak lama lagi dirinya harus kembali dalam kondisi tubuh yang tembus pandang. Hye Min mulai meraba dadanya dan menekan jantungnya. Benar-benar sudah tidak berdetak. Mungkin beberapa menit lagi ia akan menghilang.

Melihat reaksi dan raut Hye Min yang berubah secara tiba-tiba, Taehyung mengerutkan dahi kebingungan. Ia menyentuh bahu Hye Min, kemudian bertanya, “Kau tak apa? Apa kau sakit?”

Hye Min sedikit tersentak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia sekarang seperti mayat hidup. Ia tetap memasang senyum, namun terlihat kaku. Namun, sepertinya ia harus berkata jujur pada laki-laki yang ia sukai ini.

“Taehyung-ah…” panggil Hye min pelan.

“Ya?”

“Aku rasa sudah saatnya aku pergi.” ujar Hye Min.

Taehyung kembali merasa tercekat mendengar ucapan Hye min itu. Belum lama ia bertemu dengan gadis ini, tetapi sebentar lagi gadis itu akan pergi. “Kenapa?”

“Karena waktu sudah habis. AKu harus kembali.”

“Bisakah kau hidup dan kembali?” tanay Taehyung yang mulai parau.

“Tidak bisa.” ujar Hye Min. Ia mendelik ke arah Yoongi yang sudah berdiri dari batu besar itu, bersiap untuk membawa Hye Min kembali ke tempat sebenarnya.

“Hye Min-ah…” Taehyung menautkan jari-jarinya dengan jari-jari Hye Min erat. “Aku tahu aku konyol dengan permintaanku yang tadi. Ini pernyataanku sebelum kau pergi…”

Hye Min tidak dapat fokus dengan Taehyung, ia hanya bisa menatap Yoongi yang sepertinya sedang menghitung mundur waktu yang tersisa. Sekarang kakinya mulai tak nampak hingga dengkulnya. Waktunya sepertinya hanya tinggal hitungan detik. Cepat sekali.

“Taehyung-ah, aku menyukaimu. Ah, tidak. Mungkin ini terlalu berlebihan…” Hye Min memejamkan matanay rapat, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Taehyung. Dengan sedikit keberanian, ia mengecup bibir Taehyung singkat. “Aku mencintaimu.”

Taehyung menatap Hye Min tidaa percaya serta salah tingkah. Ia baru pertama kali menerima kecupan dibibir. Namun, Taehyung mendapati sesuatu yang berbeda denga nHye Min. Tubuh gadis itu seperti berubah menjadi debu yang tertiap oleh angin, ynag kemudian secara perlahan menghilang.

“Selamat tinggal, Kim Taehyung! Tetaplah tersenyum dan jadilah dirimu yang dulu! Fighting!” Itulah ucapan terakhir Hye Min sebelum gadis itu benar-benar lenyap. Bagian tubuh yang terakhir lenyap adalah tangan yang jari-jarinya bertaut dengan jari-jari Taehyung.

Yoongi pun ternyata sudah menghilang lebih dahulu dariapda Hye Min. Kalau sudah seperti itu, sepertinya waktu Hye Min memang sudah habis.

Kali ini Taehyung bisa merasakan berat hati yang sam seperti waktu itu. Namun, ia tidak menangis diam. Tangannya memegang liontin healing kristal itu sambil menatap ke arah langit. Laki-laki itu mulai mengukir senyum, kemudian berteriak ke arah langit.

“Ahn Hye Min! Sampai jumpa! Aku akan selalu menyukaimu! Tidak! Maksudku, aku akan selalu mencintaimu.” teriak Taehyung yang terdengar semangat, namun sesungguhnya air matanya sudah mengalir perlahan.

Semuanya belum berakhir. Ya, tentu. Aku akan terus mencintaimu, meskipun aku sudah menikah nanti.

///

“Sialan! Kenapa kau melakukan ini!” Hye Min menendang tungkai Yoongi berkali-kali hingga dewa kematian itu meringis.

“Aku terpaksa bodoh! Kau tidak mungkin pergi tanpa meninggalkan pesan untuk sahabatmu juag, kan?” ujar Yoongi yang menepuk ringan tungkainya.

Hye Min langsung terdiam. Memang benar apa yang dikatakan Yoongi. Ia juga harus meninggalkan pesan sebelum benar-benar lenyap dan menjadi soul orb seutuhnya. “Berikan aku kertas!” ujar Hye Min galak.

“Untuk apa?” tanya Yoongi dengan dahi yang mengerut.

“Untuk menulis pesan perpisahan yang singkat untuk ketiga sahabatku.” ujar Hye Min dengan tangan yang mengulur ke arah Yoongi. Yoongi hanya mendesis jengkel, kemudian mengambil beberapa lembar kertas yang ada di meja kelas itu. Ya, mereka kembali ke skolah yang sudah cukup sepi ini. “Terima kasih.” ujar Hye mi ndengan sedikit senyum.

Hai! Hari ini aku datang mengunjungi kalian. Apa kalian merasakan keberadaanku? Sering-sering datang ke makamku, ya! Aku akan selalu merindukan kalian. Tetap akur dan bersahabat, berpacaran juga boleh. Haha. Yang terpenting, kalian tetap akur dan kompak! Selamat tinggal, aku sangat menyayangi kalian! –Hye Min.

Itu adalah pesan terakhir yang ditulis oleh Hye Min sebelum Yoongi menariknya kembali ke tempat sebagai mana semestinya. Dan kini, Eun Soo, In Hyong beserta Jimin tengah membacanya bersama. Berkat pesan itu pula, mereka merasa lega. Mereka seakan-akan benar-benar bertemu dengan Hye Min. Yang hanya bisa mereka katakan setelah membaca pesan itu hanyalah, ‘selamat tinggal kawan’.

///

Simple Epilog:

2 bulan kemudian….

“Hai! Ini sudah lama tidak bertemu setelah hari itu. Jujur saja, semenjak hari itu aku merasa lega dan aku kembali seperti diriku yang dulu. Kemunculanmu adalah yang sangat tidak terduga bagiku.” Taehyung membereskan bunga-bunga yang ia bawa ke dalam vas hijau kaca yang ada di makam abu Hye Min.

“Oh, ya terima kasih kalungnya. Itu sangat berarti untukku, Bahkan, sampai sekarang aku masih menggunakannya. Lihatlah!” Taehyung mengeluarkan rantai kalung beserta liontin dengan semangat.

“Aku juga punya sesuatu untukmu.” ujarnya lagi. Sebelah tangannya sibuk merogoh kantung celananya. Lalu, menarik sesuatu yang berkilauan. Sebuah cincin berwarna emas putih cantik Taehyung bawa sampai sini. “Cincin ini memang tidak bisa kau pakai, tapi aku akan meletakkannya di dalam tanah dupa ini. Jadi, kau dapat menyimpannya dengan baik” ujarnay sambil sedikit mengorek tanah dupa yang ia maksud.

“Selesai.” Taehyung mengembuskan napas puas dan senang. Datang ke makam Hye Min, saja saja bertemu dengan Hye Min meskipun yang ada di matanay hanay batu kemarik nisan khas.

“Satu lagi… Selama ulang tahun, Ahn Hye Min.”

The End

Author’s Note:

Hai! Masih ingat denganku? Masih ingat dengan ceritaku sebelum cerita ini lahir? Aku harap kalian masih ingat dengan hal itu. Aku memakai cast bangtan lagi karena cerita sebelum cerita ini memang pake cast bangtan bukan? Dan, ini adalah permintaan readers yang menurutkan sangat special. Hehe. Semoga kalian suka dengan cerita ini. Maaf kalau banyak typo, karena aku mengerjakan dalam sehari dan merevisinya secepat kilat. Terima kasih sudah ingin membaca seri Darkside, beserta cerita sampingnay ini^^

Aku juga sudah nge-post ff lain kok. Di antara Unmarried lady (yang sedang dalam proses re-posting) serta Love Bay. Komentar jangan lupa.

About fanfictionside

just me

25 thoughts on “FF oneshot/ DARKSIDE: (AFTER) 100 DAYS (SEQUEL)/ BTS-BANGTAN

  1. feelnya ngena banget *-* Taehyung relain Hyemi yaa~ aku nangis loh thor bacanya/? Yoongi ternyata baik juag OwO akhirnya aku negrti kenapa namjoon hilang duh ini ceritanya ringkas tapi bisa cepat ditangkap aku kira epilognya tentang jimin,dkk ngeliat surat yang diantar yoongi itu ternyata Taehyung yang sudah kembali kaya dulu yaa >3/\<

    Keep writing author-nim^^~

  2. uwaaaaaaaaa thor aku sangat terhura sekali😥
    knp harus sad ending huhuhuhu😥
    tpi squelnya keren bget thor

  3. Sblmnya Maaf thor untuk prtama kali komen stelah bbrapa episode darkdise ini, aku baru komen di squelnya… Soalnya baru” juga nih tau caranya ngomen di wp.. *maafkan saya*..

    Aduuuyyaaa, squelnya bkin nangiss T_T
    Sukaa bngt sm critanya taehyung & hyemin di FF ini, klo baca part mereka kyk ngerasain nyata bnget gitu ya~ Hyemin kenapa matinya cepet, baru aja dikit crita tntng taehyung sm hyemin.

    Ga tau knp pengen terus terus terus ada lanjutan dari kisahnya taehyung sm hyemin.. Wkwk

    Bnyak sbnrnya yg pngn saya tulis tp yasudahlah, itu cmn ocehan” semata :’v

    Keep writing thorr!! FF Darkdise nya Kerenn!! ^.^

  4. aaa aku telat bgt baca ff ini u.u walaupuntelat tp aku ga ketinggal alur cerita nya . part 1 – 17 + sequelnya . udh aku baca dalam waktu setengah hari >.< saking niat nya dan penasaran sm ff ini wkwwk . ini ff pertama aku baca bikin penasaran + deg deg an sndiri . aaaaa pokoknya the best deh ff darksidenya thor /.\

  5. THOR TAU GAK SEGIMANA BAHAGIA NYA SAYA PAS STALK INI WP DAN ADA SEQUEL DARKSIDE, INI SERIUS SAYA BAHAGIA THOR.
    FEEL TAEHYUNG SAMA HYEMIN ITU KLOP BANGET DAH MAKANNYA SAYA SUKA BANGET SAMA INI FF, JUJUR AJA AWAL NYA SEMPET MALES BACA SOAL NYA SEREM TAPI SELALU PENASARAN SAMA KELANJUTANNYA. Hhehehe😀

    AUTHOR SAYA PENGEN BACA CERITA AUTHOR YANG LAIN DONG ADA AKUN WP PRIBADI KGAK ? KALO ADA TAPI KGAK MAU NGASIH TAU DISINI BISA NGASIH TAU DI TWITTER KAN? BISA DONG BISA YA !!!!! Follow @wyvbjg ya thor, saya follback semua orang yg follow saya kok.
    제발용 !!!!

    MAAF KAN ATAS KOMEN SAYA YANG TERLALU PANJANG DITAMBAH CAPSLOCK JEBOL INI😄

    Author keep writing ! ^_-

  6. Ah kok sedih ya😥 kirain si hyeminnya bisa idup lagi, tapi untung lah taehyung ceria lagi^^ garela sih sebenernya ini ff tamat thor haha

  7. Maaf ya author-nim aku baru muncul di comment padahal darkside udah lama aku baca habis. Aku gak tau cara komen soalnya. H3h3 n_n

    Aaaaaaak ini melepas rasa rinduku sama ff darkside. Aku suka bgt sama ff itu TT dan… karakter taehyung di akhir cerita jadi miris gitu ya? Kasian juga bacanya tapi lebih baik dari pada jadi pemarah.
    Aku kangen namjoon-ssi…… dia gak muncul lagi TT tapi gak apa deh soalnya yoongi metamorfosis jadi baik ke hyemin. Hahaha. Nice ff dan sequel author-nim! Lope lope♥

  8. Maaf ya author-nim aku baru muncul di comment padahal darkside udah lama aku baca habis. Aku gak tau cara komen soalnya. H3h3 n_n

    Aaaaaaak ini melepas rasa rinduku sama ff darkside. Aku suka bgt sama ff itu TT dan… karakter taehyung di akhir cerita jadi miris gitu ya? Kasian juga bacanya tapi lebih baik dari pada jadi pemarah.
    Aku kangen namjoon-ssi…… dia gak muncul lagi TT tapi gak apa deh soalnya yoongi metamorfosis jadi baik ke hyemin. Hahaha. Nice ff dan sequel author-nim! Lope lope♥

  9. Thoorr gila sequel nya bagus bgt,terharu bgt dan bikin mata berkaca kaca (seriusan)
    Yang ga enak bacanya gara2 Masih banyak typo,tp ceria nya kereen :*

  10. Thor ini untuk kesekian kali nya aku nangis gra” bca ff mu TT__TT jujur msh belum rela dark side tamat,huaa thor banjir air mta ini aku bca sequel nya jujur aku sebenarnya kurang ska sma ff yg genre nya fantasy tpi wktu pertama kali bca ff dark side langsung ketagihan thor klo entar bikin ff fantasy lgi d tunggu loh😀 fighting
    komen 1 bnyk typo bertebaran🙂 d sini tapi secara keseluruhan cerita nya keren banget ^_^

  11. Aku nangis again thor T.T
    Sumpah keren banget ffnya, aku sampai tidak biaa berkata-kata T.T
    Pokoknya keren banget banget ffnya^^

  12. ya ampun, aku ngga nyangka kalo bakal dibikinin squel beneran~~~
    first time, aku dibikin nangis sama ff genre fantasi, rssanya errrrr ㅠㅠㅠㅠㅠㅜㅜㅜㅜ ㅜ……..
    yakin, patut direkonmendasikan buat dibikin film kkk~~~
    jesetiaan taehyung bener2 langka, seperti ja an cerita darkside yg nggak mainstream.. bener2 ff yg berkesan..
    ersahabatan mereka patut duterapkan di kehudupan nyata..

    terus berkreasi thor, sukses selalu….!

  13. w nangis masa?

    ya ampun, w nangis pas Taehyung ngomong sendiri di makam,. sumpah itu bkin hati w gmna gtu..

    mksh dh udh di buati sequelnya ^^

    Daebak!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s