FF/ LOVE IS MOMENT/ EXO/ pt. 3


Tittle : Love is Moment (Chapter 3)

 

Author: marni_azza

 

Length : Chapter

 

Genre: Romance, School life, Friendship, Family

 

Rating : PG-17

 

Main cast :

-Kim Jongin (EXO)

-Oh Sehun (EXO)

-Kim Ruumi (OC)

 

Other cast :

-Kim Joonmyun/Suho (EXO)

-Kim Jong Woon/Yesung (SUJU)

-Park Jiyeong (OC)

-Soh Eungi (OC)

-Oh Narie (OC)

 

A/N: FF ini di posting juga di thekpopdiaries.wordpress.com.

 CYMERA_20140730_162045

Summary

 

Sehun

…Maafkan aku karna tak bisa melindungimu…

 

Kai

…Aku pasti sudah gila. Aku bisa senang hanya karna kau memanggil namaku seperti itu…

 

 

 

Ruumie prov

 

…Dia mendekat kearahku dengan terus mengembangkan senyumnya lalu dengan pelan ia mengangkat tangannya merangkul tubuhku, ia memelukku.

 

     “Pogosipo…!” Katanya lembut sambil menempelkan dagunya dibahu kiriku.

 

Aku masih kaget dengan perlakuannya, hingga tubuhku mematung tak merespon, kenanganku bersama orang ini kemudian terlintas

dikepalaku, di awali dari kenangan manis dan akhirnya muncul

kenangan dimana ia menarik Narie meninggalkan aku. Itu menyadarkanku dan membuatku melepaskan pelukan hangat itu.

 

“Sehun…Apa yang kau lakukan?” Seruku sadar.

 

“Ayo kita bicara”

 

“Tidak ada yang rus di bicarakan”

 

“Aku mohon, kali ini saja dengarkan aku” aku tak menghiraukan

permintaannya. Aku pergi meninggalkannya.

 

Aku tak mo mendengarkannya, aku tak ingin berurusan lagi dengan

orang bernama Sehun, Narie, dan Dasoom. Cukup sekali bagiku di

sakiti oleh mereka.

 

Aku terus berjalan tak yakin kearah mana kakiku membawaku, Sehun tak mencegahku dengan tangannya seperti pikiranku. Kenapa aku merasa sedih ia tak melakukan itu? Apa keinginannya bicara padaku hanya basa basi karna tak sengaja bertemu denganku? Tidak, apapun alasannya dia dan aku tak ada hubungan apa apa lagi. Seharusnya aku bersyukur sekarang karna aku tak perlu bersusah payah mengusir laki laki jangkung itu. Semua pikiran bodohku tentang Sehun membuatku tak memperhatikan jalanku, batu berukuran sedikit besar yang entah dari mana asalnya itu pada akhirnya membuatku tersandung. Aku akan merasa sakit dikakiku pikirku saat ku jatuh beberapa detik lagi. Tapi aneh aku tak merasa sakit, ada yg memegangiku dari belakang sepertinya, aku membelokkan kepalaku sedikit kebelakang, itu Sehun ia trus mengikuti rupanya.

 

“Gwencana…?” Ucapnya khawatir, tanganya belum lepas dari tubuhku

ia masih menyangganya dengan erat. Aku melepaskannya cepat, aku

berdiri di hadapannya sambil merapikan sedikit pakaianku

 

“Apa kau mengikutiku?”

 

“Aku akan terus mengikutimu sampai kau mo bicara padaku”

 

“Sudah ku bilang tak ada yang kuingin bicarakan”

 

“Aku ada…”

 

“Baiklah… kita bicara tapi setelah ini ku mohon jngan

mengikutiku lagi”

 

Sehun kembali tersenyum mendengar persetujuanku. Jujur, aku juga

ingin bicara padanya. Dari pada bicara sebenarnya ku lebih ingin

melihat wajahnya, wajah yang tiap malam mengusik tidurku.

 

 

Kami sampai di sebuah cafe, sesampai di sana ia langsung memesan

minuman dikasir setelah memintaku duduk di meja yang berada di pojok cafe ini. Dari dulu ia memang suka duduk di pojok, kebiasaannya yang tanpa sadar ku ingat. Sehun kembali dengan dua minuman di tangannya. “Cappucino ice choklat… minuman kesukaanmu kan?”. Cappucino yang di tambah susu choklat dengan sajian dingin memang selalu jadi favoritku.

 

Sepuluh menit lebih berlalu tapi Sehun masih tak bicara papun padaku usai memberi minuman kesukkaanku itu, akupun sama. Ia yang ingin bicara jadi kurasa ku tak perlu buka suara. Aku memang suka aku bisa memandangnya walau sesekali ku rus menundukkan kepalaku saat ia melihat kearahku, aku tak mo ketahuan telah menatapinya, tapi sampai kapan aku melakukan ini. Aku berdiri dan ia bereaksi, ia menengadah padaku.

 

“Kau mo kemana?”

 

“Karna kau tak bicara juga, bukankah sebaiknya ku pergi”

 

Sehun tak menyahut ia malah membuatku duduk kembali

 

“Mianhae…” katanya tiba tiba.

 

“Mian, untuk apa?”

 

“Maafkan aku karna tak bisa melindungimu”

 

“Melindungiku dari apa?” ulangku “lagipula untuk pa kau

melindungiku, bukankah aku bukan siapa siapa mu, ku mohon jangan pura pura baik seperti Dasoom. Itu menyakitkan. Tolong jangan muncul lagi di sekitarku, ini membuatku semakin membencimu”

 

Aku beranjak pergi setelah mengucapkan kata kata menyakitkan itu, menyakitkan untukku karna pada kenyataannya ku yang berusaha

membencinya malah semakin mencintainya.

 

Aku pergi dengan mata bekaca kaca dan tatapan orang di cafe itu

membuatku sedikit malu.

 

“Aku menyukaimu…”seru Sehun dari belakang, ia lagi dan lagi

mengentikan langkahkku. “Ku bilang aku menyukaimu” ulangnya di hadapanku.

 

Aku menatapnya, kini air mataku jatuh, tangan Sehun lembut

menghapus air mataku, aku memegangi tangannya melemparnya dari

pipiku. “Bagaimana ini.. aku tak menyukaimu lagi?”

 

“Ruumi-ah…!”

 

“Berhenti bicara omong kosong, kau tak pernah menyukaiku kau hanya pemberi harapan palsu dan aku bodoh termakan ucapanmu, tapi sekarang ku sudah sadar. Aku sudah mengubur perasaanku untukmu, sekarang hanya tertinggal rasa benci… aku membencimu, jadi pergi dari hadapanku!!!” teriakku di akhir.

 

Sehun prov

 

“Benar, bencilah aku…tapi aku takkan pergi darimu lagi, kali ni aku

akan melindungimu” ucapku , sebenarnya masih banyak yang ingin ku ucapkan tapi aku tak bisa merangkai kata, aku takut ucapanku yng

salah membuat ia semakin jauh dari ku.

 

Tekadku sudah bulat, kali ini aku tak akan melepaskan gadis yang

menjadi cinta pertama bagiku. Pertama kami bertemu adalah saat hari pertama kupindah ke sekolah Narie, sebenarnya aku dan Narie adalah teman sejak kecil, kami sangat dekat tapi ku hanya menganggap ia adalah seorang adik yang harus kulindungi, aku dan Narie sama sama di adopsi dari panti asuhan, kami berdua kehilangan kedua orangtua kami dalam kecelakaan kereta. Narie lebih dulu di adopsi. Ia beruntung yang mengodopsinya adalah keluarga kaya. Narie hidup mewah dengan segala yang ia punya, walau begitu Narie tak pernah lupa denganku setiap hari ia menemuiku di panti, sampai akhirnya ia meminta orangtua angkatnya mengodopsi aku juga. Aku di sekolahkan di tempat Narie, sekolah yang sangat bagus, aku senang bisa menikmati hidup nyaman berkat Narie. Empat bulan sebelum kelulusan SMP kami,

Narie memberitahukan perasaannya padaku, bahwa ia menyukaiku dan ingin aku jadi pacarnya, awalnya aku menolak karna di hatiku aku sudah ada Ruumi, gadis yang memberitahu dimana ruangan guru

saat hari pertamaku di sekolah itu. Narie tak menerima begitu saja

penolakanku, ia marah dan mengurung dirinya di kamar tak mo

kesekolah juga tak mo makan. Ini membuatku khwatir terlebih lebih

lagi orang tua Narie yang bingung kenapa anaknya tiba tiba jadi

seperti itu, sebelum orangtuanya tau aku mengambil tindakn lebih

dulu, aku bilang aku setuju berpacaran dengannya. Narie sangat

senang, ia memelukku dengan erat seakan tak kan pernah

melepaskanku. Mengetahui aku dan Narie berpacaran, Ruumi menjauhiku aku sedih kupikir kami bisa tetap berteman sampai saat ku mengetahui ternyata Ruumi menyukaiku juga.

  

Flasback

  

     “Apa ini?” Tanyaku pada Nari, ia meletakkan sebuah kertas dimeja belajarku.

 

“Surat cinta untuk oppa?”

 

“Mwo..?”

 

“Surat cinta dari Ruumi untukmu. Jadi… inikah yang membuat oppa

saat itu menolak ku, oppa sudah jatuh cinta pada gadis ini”

 

“Narie-ah…”

 

“Kuingatkan padamu oppa, ku tak kan pernah melepaskanmu untuk

gadis manapun, bahkan walau oppa menyukainya. Oppa hanya untukku, kalo oppa berani pergi dariku aku akan melakukan sesuatu pada gadis itu… oppa tau kan sebentar lagi ada ujian ! Akan sangat sulit bagi gadis itu pindah sekolah sekarang ini” ancam Narie.

 

Flasback End

 

Aku mengerti maksudnya Narie malam itu ia akan membuat Ruumi

keluar dari sekolah atau membuatnya tidak dapat mengikuti ujian, apapun itu pasti adalah hal buruk. Esok harinya setelah ia memperlihatkan surat cinta Ruumi padaku malam itu,aku menemukan Ruumi di gerumbuli oleh Nari dan teman temannya, Nari mengetahui keberadaanku dan menyuruhku untuk mendekat, ia menunjukkan surat cinta Ruumi yang ditempelnya di mading dan menawarkan aku bisa bersama Ruumi kalo aku juga menyukainya, tapi itu hanya tipuan, aku tidak punya pilihan lain, aku tak mengatakan ku menyukai Ruumi atau tidak, aku hanya menarik Narie pergi meninggalkan Ruumi yang mungkin terluka karnaku.

Ruumi sepertinya tak mempercayaiku lagi sekarang ia tetap pergi

setelah aku mengatakan aku menyukainya. Aku ingin mengejarnya lagi tapi ku menahan diriku, mungkin Ruumi perlu waktu sendiri untuk memirkan semua ucapanku untuknya. Aku hanya dapat berharap aku dapat melihatnya lagi besok.

 

 

Ruumi prov

 

Air mata dipipiku sudah mengering, aku benar benar lelah

sekarang, aku baru beberapa hari sekolah di sana tapi ku sudah banyak menemukan kejutan tidak menyenangkan. Lama lama sekolah di sana aku bisa gila pikirku. Aku merebahkan diri di ranjangku tanpa melepaskan seragam, aku merilekskan tubuhku dan aku terlelap beberapa menit kemudian.

 

Suara tak jelas tapi nyaring membangunkanku, aku sadar sekarang

sudah malam saat melihat kearah jendela, tapi suara apa itu, aku

membuka pintu kamarku dan menengok kelantai bawah, aku mendapati orangtuaku bertengkar, kini ibuku sedang menuduh ayahku berselingkuh, ayah memang jarang di rumah dan itu membuat ibu curiga, tapi ayah mengelak tuduhan ibu. Mereka bertengkar hebat kali ini karna sepetinya ibu punya bukti sekarang, aku miris melihat orangtuaku tapi aku merasa tak ada hak untuk ikut campur, aku masuk kembali ke kamarku, ku raih ponselku dan mencoba menghubungi Suho oppa, kupikir dia mungkin bisa menghentikan pertengkaran itu. Nihil, Suho oppa tak menganggat telponku. Aku menyerah aku memilih menyumbat telingaku dengan hendset mendengarkan lagu kpop idol kesukaanku.

 

Besok paginya ku bersiap pergi ke sekolah, walau enggan aku tetap

rus melakukannya karna aku masih seorang murid sekarang. Ku perg

i kedapur mendatangi sarapanku tapi pa yang ku dapat hanya ada roti bakar dan hanya ada satu orang yang duduk dikursi makan itu. Ayahku. Ada pa ini? Mana ibu?.

 

“Cepat makan rotimu. Ayahkan mengantarmu sekolah hari ini”

suruhnya, sepertinya Suho oppa tidak pulang dan ayah tahu, jika tidak ia tak akan menwarkan diri tuk mengantarku ke sekolah.

 

Ayah menghirup minumannya, lalu berdiri ingin meninggalkan ku.

 

“Dimana ibu?” Tanyaku takut .

 

Ayah hanya diam dan terus berjalan pura pura tak mendengarkanku.

 

 

Aku segera turun dari mobil ayah sesampainya di depan sekolah paling ku benci ini. Usai memberi salam ayahku pergi. Aku segera menelpon Suho oppa, kupikir ia kan lebih cepat menemukan ibu dari pada aku, tapi lagi lagi ku tak dapat menghubunginya. Aku terus mencoba menghubungi Suho oppa bahkan saat jam plajaran, sudah lebih lima pesan kukirim tapi tak ada satu balasan pun, saat bel istirahat berbunyi akupun mencoba menelponnya lagi tapi tetap tak ada jawaban, benar benar membuatku prustasi.

 

Aku terus berjalan di lorong sekolah menuju perpustakaan.

Sebenarnya aku tak mau kesana dengan alasan yang masih sama yaitu takut kalau kalau bertemu dengan Dasoom dan teman teman SMP ku lagi tapi apa daya guru biologi itu memberi tugas pada semua murid termasuk aku yaitu membuat makalah tentang tanaman hijau. Karna perlu buku tentang itu akupun terpaksa pergi ke perpustakaan. Selama berjalan menuju tempat itu aku tetus mencoba menghubungi Suho oppa.

 

“Oppa!!!” Teriakku ketika ia mengangkat telpon dariku.

 

“Yaa! Kenapa kau berteriak???!!!”

 

“Oppa, kau dimana ? Kau tahu sudah berapa kali aku mencoba

menelponmu” aku langsung bertanya tanpa menghiraukan balasan

teriakannya padaku.

 

“Araso… bukankah sekarang kita sedang bicara”

 

“Omma… omma tidak ada di rumah”

 

“Wae…? Apa ayah dan ibu bertengkar lagi?”

 

“Ne…mereka ber…”

 

   BRUK

 

Aku terdorong, tiba tiba seseorang menabrakku dan membuat hpku

jatuh ke lantai, hpku jadi berantakan betrainya lepas dan layarnya

retak. Bagaimana sekarang aku menghubungi Suho oppa lagi

pikirku.

 

“Yaaa!!!” Teriaku pada orang yang menabrakku.

 

“Aish…Kenapa kau berteriak?” Tanya laki laki yang menabrakku itu

sambil memunguti hp ku yang sudah tergerai di lantai.

 

“Kim Jongin…”

 

“Aku pasti sudah gila. Aku bisa senang hanya karna kau memanggil namaku seperti itu”

 

“Mwo…? “

 

“Mian, sudah menabrakmu, aku tak sengaja” ucapnya tanpa menjawabku.

 

“Kau sudah membuat hpku jadi begitu bagaimana bisa ku memafkanmu? kau tau tadi aku sedang menelpon, sekarang bagaimana ku menghubunginya kalo hpku jadi seperti itu?”

 

“Jadi kau marah karna hpmu, kupikir kau kesakitan karna aku menabrakmu…”

 

“Itu juga termasuk…”

 

“Tenanglah, kau tak perlu marah seprti itu, wajah manismu jadi tak

terlihat lagi,,,” anak itu menggombal di saat seperti ini, dia pikir aku

menyukainya apa itu hanya membuatku semakin marah. Aku lihat ia

mengambil hp dari saku celananya lalu membukanya mengambil sim

cardnya dan menggantinya dengan punyaku.

 

“Ini…Pakailah aku akan mengganti hpmu dengan yg baru, untuk

sementara pakaelah hp ku. Aku sudah mengganti sim cardnya jadi punyamu, sekarang kau bisa menghubungi pacarmu lagi…”

 

“Pacar? Jangan sok tahu!”aku mengambil hp miliknya, ku rasa ini solusi yg baek jadi tak ada alasan untuk menolaknya. “Untuk sementara aku setuju memakai hpmu tapi bukan bearti kita sudah impas, aku masih ingin hpku kembali utuh jadi perbaikilah tak perlu membelikanku yg baru.”

 

Aku berjalan pergi meninggalkan Kai

 

“Diperpus ada Dasoom, kau tidak bisa ke sana sekarang ” seru Kai,

bagaimana orang itu tau terus aku mo kesana? Apa dia menguntitku

lagi seperti waktu itu “Ikutlah aku ke atap, disana lebih aman

untukmu”.

 

     “Sudah ku bilang jangan sok akrab denganku. Untuk apa ku ikut

denganmu lebih baik aku kembali ke kelas” tolakku, laki laki perusuh ini benar benar ingin mendekatiku sepertinya.

 

Kuturuti saran Jongin untuk tidak pergi keperpustakaan tapi tidak

untuk pergi keatap bersamanya, lebih baik aku ke kelas mendengar

semua omongan Eungi yang tak penting dari pada dengan namja sok

cool sepertinya. Baru beberapa detik yang lalu ku berbalik dari Jongin tapi kemudian ku kembali padaya lagi sambil berlari.

 

Aku menarik tangannya

 

“Ayo kita ke atap” ajakku,aku pasti sudah gila sekarang aku menarik

tangan Jongin ikut bersamaku, ini karna tiba tiba aku melihat Sehun dan ia sepertinya berjalan kearahku. Dari pada rus bertemu dengan Sehun lebih baik aku dengan Jongin, setidaknya aku bisa menjadi diriku sendiri saat bersamanya.

 

Author prov

Kai merasakan keanehan sikap Ruumi, ia lalu menengok ke belakang

dan melihat laki laki yang lebih tinggi dari dirinya, lebih putih darinya, tapi tak lebih tampan darinya sedang menatap kearah dirinya tau lebih tepatnya ke arah Ruumi. Ruumi segera melepaskan tangannya dari tangan Jongin sesampainya mereka di atap. Ia berdiri kikuk sekarang. Kai tersenyum melihat tingkah Ruumi, ia pun punya ide menjahili gadis itu. Jongin menarik tangan Ruumi dan mendorongnya ke arah pagar atap itu, lalu menghimpit tubuh Ruumi dengan tubuhnya.

 

“Yaa! kau mo apa?”

 

“Wae…? bukankah ini yg kau inginkan”

 

“Apa kau sudah gila?”

 

“Bukankah kau yg mengajakku kesini agar kita bisa…” Jongin terus

memajukan wajahnya, hidung mereka bahkan sudah bersentuhan karna terlalu dekat. Ruumie bahkan otomatis menutup matanya. Melihat Ruumi seperti itu Kai tersenyum “Apa kau benar benar minta di cium?”

 

Ruumie membuka matanya lalu sekuat tenaga mendorong Kai setelah sadar Kai mempermainkannya. “Kau… beraninya kau

mempermainkanku”

 

“Yaa! Apa kau sekarang sedang marah karna aku tak jadi menciummu?”

 

“Aku tidak marah, untuk apa ku marah? Kau bukan siapa siapa

untukku dan dengar bukan aku yang mengajakmu kesini, tapi kau yang mengajakku, dan aku juga sama sekali tidak mengharapkan di cium oleh pria sepertimu”

 

“Sepertiku?”

 

“De, sepertimu!”

 

“Memangnya aku pria seperti apa?”

 

“Apa lagi kalau bukan pria brengsek? Suka bersikap semaunya pada semua orang. Kau tidak sadar dengan sikapmu yang bak preman itu. Kau pikir siapa dirimu? Apa kau anak pejabat atau konglomerat, memperlakukan orang seperti itu. Apa ayah dan ibumu tidak pernah mengajarkanmu sopan santun?”

 

“Ayah dan Ibuku?”

 

“De…Ayah dan Ibumu. Kau seharusnya belajar sopan santun dengan mereka agar kau tidak jadi pria seper…” omelan Ruumi terhenti, tiba tiba Kai menariknya dan menciumnya .

 

Ruumi sungguh kaget, matanya membulat saat Kai meyatukan bibir

mereka. Ruumi berusaha untuk mendorong Kai tapi Kai malah semakin mendekap tubuhnya. Lelaki itu bahkan menekan tengkuk Ruumi memperdalam ciuman mereka. Tapi Ruumi terus berusaha melepaskan diri dari Kai dan ketika ia berhasil ia mengambil nafas dalam dalam lalu memberikan tatapan tajamnya lalu tiba tiba…

 

TBC…

 

 

 

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ LOVE IS MOMENT/ EXO/ pt. 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s