FF/ WHUT’S POPPIN EDITION GOOD PERSON/ EXO/ pt. 1


Title: Whut’s Poppin edition good person 1`

Author : J.D.N

Cast :

Xiu Luhan

Kim Jina (oc)

Support cast :

Kai

Baekhyun

Sehun

D.O

Sandara (oc)

Genre: Nc,romance,comedy.

543042_222488584523071_181288598643070_346315_700658287

Ada banyak hal yang akan kuceritakan. Tentang si maniac Luhan.Tapi percuma bila kuceritakan mulai dari bagianya. Akan aku mulai cerita ini dari awal.

Namaku Kim Jina Siswi kelas sepuluh di SMA KISS (Kirin International Seoul School) aku duduk disebelah Luhan. siswa yang belum pernah menampakkan dirinya lagi,setelah tragedy berdarah yang terjadi di hari pertama. Kudengar ia tertawa sambil berlumuran darah.

Saat ini, Luhan, Dikenal sebagai “poltergeist dari kelas sepuluh”. Sebulan yang lalu, ia mencederai sunbaenim kelas 3 sehingga mereka harus dibawa ke rumah sakit. Saat ini pun bukti dari tragedy berdarah tersebut masih dapat dilihat dengan jelas, Tapi aku tak mau ambil pusing.

 

****

“ahh.. aku membutuhkan buku panduan terbaru..”

desahku ketika kelas terasa sepi karena istirahat. aku memang malas menghabiskan waktu untuk keluar lebih baik belajar menghasilkan nilai terbaik daripada menggosip yang tak berguna.

 

“Jina-ssi..” panggil saem hyo kepadaku dengan senyumnya yang terkesan mencurigakan.

Benarkan apa yang kulihat seam menyuruhku untuk membantunya, kalau hanya mengantarkan buku tugas ke mejanya tak masalah buatku tapi aku disuruh mengantarkan berkas pada Luhan.

rumahnya memang tak jauh dari sekolahan tapi berbalik arah dari rumahku. Kudengar Luhan itu tinggal dengan kakaknya saja, sesampainya aku disambut baik oleh kakaknya lalu aku melihat Luhan juga ada disana tapi apa yang ia lakukan.

kabur ketika melihatku keluar dari jendela yang cukup tinggi, sangat aneh ketika melihatnya kabur mendadak seperti itu, tadinya dia sedang asyik bermain game, ya karena sebagian rumah luhan digunakan untuk penyewaan game baseball dan game portal.

“oh.. aku mian hamnida aku disuruh mengantarkan ini untuknya.”

“terimakasih sudah mau repot – repot kemari” ucap oppa ini.

aku izin bergegas meninggalkan tempat ini. Aku menuruni tangga rumah Luhan rumahnya memang bagus bahkan dekat area perkotaan seperti ini.

 

Beberapa meter aku menjauh dari rumah Luhan tak tau darimana ada tangan yang sedang menarik tanganku ketaman yang sepi. mendorongku terjatuh dengan posisi pria ini berada dia atasku mencekram pergelangan tanganku.

aku kaget! Takut dan ingin berteriak tapi rasanya hilang setelah kulihat dia adalah Luhan. dengan rambut acak – cakkan jelas sekali terlihat seperti berandalan tapi dia apa yang akan dia lakukan.

“keparat, kau mata – mata dari sekolahan ‘kan?!” bentak Luhan di depan wajahku.

“hah”

“jangan pura –pura kau!” teriaknya lagi dan mengencangkan cengkraman tangannya pada pergelangan tananku.sakit, aku yakin akan membekas merah.
“Aduh, Sakit!”

“Aku kemari hanya untuk mengantarkan berkas tugas saja!” teriakku

“Berkas tugas?” aku mengangguk mantap.

luhan mulai tenang dan mendudukan badanya dengan santai.melepas pergelangan tanganku. aku duduk dan memundurkan tubuhku menjauh sejauh mungkin darinnya, ini sangat menakutkan lihatkah cengkraman tangannya membekas pada kulitku dia benar – benar maniac,.

aku sempat berpikir mungkin saja aku akan kehilangan nyawaku sekarang.

“kukira kau akan memaksaku untuk ke sekolah seperti si Saem yeoja sialan itu.”

 

“yak.. Siapa namamu?” teriaknya lagi ketika menyadariku berjalan pelan – pelan meninggalkannya.

“Ji-Jina Kim.”

“Jina kim.. ya… Ja-jadi ini ya yang mereka sebut dengan ‘mangatarkan berkas tugas kerumah temanya yang sedang sakit’, iya kan?” Tanya Luhan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal seolah berfikir serius tapi tampak bodoh sekali.

“oh ya, kau boleh memanggilku Luhan soalnya kita ini ‘kan teman!”

luhan sedikit malu dan tersenyum manis, aneh sekali! Membuatku takut, langsung saja aku bergegas memalingkan wajahku dan meninggalkannya.

“Sampai ketemu lagi, Jina-ah!” teriaknya gembira ketika aku pergi menjauh.

“tidak tahu diri.” Ucapku acuh. Aku rasa dia sangat menyeramkan ketika lihatnya terus melambaikan tangannya dengan gembira kearahku.

 

Itulah kesan pertamaku terhadapnya

 

*****

 

 

“Seperti janjimu saem,.. anda akan membelikanku buku panduan terbaru setelah kuantarkan padanya.” Tagihku pada seam hyo

“arra arra ini, oh iya terima kasih ya, jina-ssi! Aku binggung harus bagaimana karena ia menolak untuk bertemu denganku. Jadi bagaimana?”

“eoh.. Dia mengganggapku temannya,..”

“wah.. kamu hebat jina..” Saem hyo menjadi heboh.. sambil membulatkan matanya.

“kalau begitu, Bisakah kamu membujuknya agar ia mau kembali bersekolah?” saem semakin antusias, sambil menunjukkanku amplop lain.

“membujuknya?”

“skors yang ditunjukkan pada Luhan sudah di tarik kembali. Ia memang sudah kelewatan, tapi tetap saja yang salah adalah sunbaenya itu”

“setelah itu, ia langsung dijatuhi skorsing tanpa memberitahunya terlebih dahulu, jadi ia sudah tidak lagi percaya dengan pihak sekolah, aku jadi tidak tenang, karena selalu kepikiran bila ia sampai dikluarkan.makanya, bujuk dia ya? Kamu mau ‘kan, jina?” sambung saem dengan senyum berharap padaku.

“Enggak mau” ucapku cepat.

“ke-kenapa?”

“padahal aku sudah memohon seperti ini!” teriaknya tak kuperdulikan ketika aku sudah di depan pintu keluar ruang guru. Aku tak ingin dekat – dekat dengan maniac itu lagi!

 

 

*****

 

Kulangkahkan kakiku untuk beranjak pulang sekolah, sambil membaca buku panduan baruku.

tiba – tiba ada sebuah tangan membekap mulutku dari belakang dan membawaku ke dalam gang sempit di balik gedung toko samping sekolah ini hingga pungungku membentur dadanya. Aku takut.

“Jangan Bergerak.. Satu tariakan kecil saja, akan kuperkosa kau..”

suara berat tepat di samping telingaku aku pernah mendengar suara ini suara ini… kulirik dan dia adalah luhan si maniac itu. ku anggukkan kepalaku dengan cepat, karena takut akan ancamnya.

“bagus.” Ucapnya lirih lalu melepaskanku.

“Ikut denganku.” Ucapnya meninggalkkanku,aku hanya mengekorinya berjalan hingga sampai di tepian sunga han.

 

*****

 

“Kenapa kau membawau kemari?” tanyaku mencari tahu padanya.

“aku menemukan anjing liar di depan sana, jadi kusembunyikan saja di sini.”

“anjing? MWO….’’

“oh itu dia.. kau sudah menungguku ya?.. Nafasmu bau bangkai jiroo…”

Bagaimana bisa anjing memakai kalung bernama sepertiitu disebut anjing liar? Dia bodoh atau apa. Bagaimana bisa orang sepertiluhan masuk sekolahku. Dia dia anak yang sangat aneh dan menakutkan.

 

*******

 

“akhirnya aku memulangkan anjing tersebut kepada pemiliknya.”

Luhan duduk santai sambil meminum orange juice yang berada di tangannya, kenapa aku malah berada di sini. Pikirku karena kami berada di area makanan cepat saji. Tapi tunggu siapa meraka? Mengintaiku seperti aku buronan saja.

 

“hey luhan..” panggil temannya.

“ada apa, Kai?”

“siapa dia?” tanyanya balik, aku hanya melirik saja tetap menghabiskan makananku tanpa memandangnya bahkan aku malas untuk sekedar menyapanya.

“ohh dia temanku, Jina.”

“Temanmu?” tanyanya lagi.. “oh ya luhan, Pinjamkan aku Uang dong” ucap temannya satu lagi.

“ngutang lagi sehun?” Tanya luhan santai

“Aku sedang banyak pengeluaran, uang sakuku juga dipotong… ayolah, kita ini teman ‘kan?” ucap temannya dan ternyata dia ini bodoh. Langsung saja memberikan temanya beberapa lebar uang.

 

“Jadi bagaimana?’ Tanya luhan padaku ketika temannya sudah pergi.

“hah?”

“Jangan ‘’hah-heh-hoh’ pabo’!”

Teriaknya sambil menggebrak meja membuatku terkejut bahkan hampir membuatku tersedak. Orang – orang di ruangan ini juga melirik kearah kami. Aigoo betapa memalukanya.

“aku tahu kalau hari ini kau pergi bersekolah!’’

“te-terus kenapa?!” tanyaku takut.

“A-apa di sekolah suasananya menyenangkan?”

tanyanya sangat bodoh kepadaku yang sedang shock karena tingkahnya.

 

“hah?’’

“jadi ini ya yang mereka sebut dengan ‘Bermain bersama teman sepulang sekolah’ iya ‘kan?” Tanyanya riang dengan wajah penuh senyuman gembira,

“Luhan-ssi, jangan – jangan kamu sangat ingin pergi bersekolah? Kalau memang iya coba saja.” Ujarku padanya yang dibalas dengan tatapan menyelidik.

 

“Aku takut.. aku tidak tahu kenapa, tapi kelihatannya mereka semua takut denganku. Tanpa pikir panjang, mereka langsung menjauhiku.. jadi aku tak mau pergi bersekolah.”

tampang yang sangat sedih seolah tak ada yang mengharapkanya untuk menjadi temannya. Bagaimana bisa dia merubah mood seperti ini.

“tapi kaulah pertama kali mengunjungi rumahku, Jina… Dan mereka juga, orang – orang pertama yang mau bermain bersamaku tanpa merasa takut,jadi aku tak perlu lagi bersekolah ” Sambungnya sambil tersenyum riang kembali. Aneh!

 

“Menurutmu, itu hanya dalam pandanganmu saja.” Jawabku sekenanya.

“eh??”

“Teman yang sesungguhnya tak akan memanfaatkan uangmu. Aku juga tidak tau pasti, karna tak pernah punya teman. Tapi lebih baik tak pernah punya teman daripada berteman dengan mereka.”

Jelasku menanggapi apa yang ia pikirkan tentang temannya yang salah itu ,sedetik kemudian aku merasakan tubuhku basah, lengket oleh orange juice yang ia siramkan padaku.

apa maunya maniac ini sekarang ha?.

“kau tak bisa menghargai orang lain.’’ Jawabnya pergi meninggalkanku.

apa yang dia lakukan hah aku sudah berbaik hati membantunya untuk kembali tapi ini balasannya. Menyiramku seperti ini, aku tak terima. Ku ambil minumannku menghampirinya yang sudah berjalan keluar dan melemparnya tepat di kepalanya ah anii tepat di rambutnya yang penuh dengan krim akibat lemparanku. Ia tampak marah, lebih marah aku karena ia membasahiku dengan keadaan aku masih memakai seragam sekolah. mau taruh dimana mukaku ini.

 

 

********

 

 

“Jina-ssi.. kamu berhasil membujuknya untuk kembali bersekolah?” tanya saem padaku.

“tidak”

“begituya dia juga tak mau mengangkat telepon dariku kalau terus begini, mungkin dia akan segera dikeluarkan.” saem lalu pergi mmeninggalkanku, kalau seperti ini aku jadi tak tau harus bagaimana.

 

pulang sekolah aku menghampiri rumah luhan, sebenarnya aku juga tak ingin kesini tapi entahlah kakiku membawaku kesini. Kulangkahkan kakiku menaikki tangga rumah luhan dan membuka pintu yang terbuat dari kaca ini.

“oh.. selamat siang.. luhan tidak ada di rumah” ucap kakaknya padaku

“emm. . .Aku. . . untuk… bisakah anda sampaikan pada luhan, ia akan di keluarkan jika terus membolos… aku pamit” ucapku langsung pada kakaknya.

kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat, menuruni tangga rumah luhan. Dia sedang duduk sambil memikirkan sesuatu. Kuacuhkan luhan yang sedang sibuk dengan pikirannya sediri.

 

“chakkamman..” ucap luhan.

Tangannya menahanku untuk pergi menjauh. Apa lagi sekarang.

Ia mendengarkan apa yang ku katakan. Setelah itu, luhan mengantarkanku pulang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berjalan di belakangku sambil menyusuri anak tangga menuju rumahku.

“ke-kenapa kamu malah menangis?” Tanyaku saat membalikkan badan melihatnya menitikkan air mata yang terus di usapnya tapi tetep saja mengalir tak ingin berhenti. Walaupun dia menunduk tetap saja ketara kalau dia sedang menangis.

“bukan,.. aku merasa senang sekali.”

“waeyo?’’

tanyaku padanya. Padahal waktu itu aku tak pernah menitikkan air mata.

 

#flashback

 

Ketika aku duduk di bangku taman kanak kanak semua teman – temanku menangis melihat merci.

ya dia kucing peliharaan kami yang digigit anjing liar dan tergeletak tak berdaya tapi anehnya hanya aku saja yang diam tak merasakan kesedihan atau menangis seperti teman – temanku atas kejadian tersebut.

saat di bangku sekolah menengah pertama ada temanku sebangku mengalami kecelakaan di depan mataku tapi aku hanya diam, aku tak pernah mau mengambil pusing masalah mereka.

karena….

aku berusaha sendiri tanpa merepotkan mereka dalam hidupku dan tak ingin hidupku direpotkan oleh mereka.

“aboji.. kata teman aku disebut face ice, aku Cuma tak ingin cengeng seperti mereka,”

“ahaha… sifatmu itu seperti eommamu, sangat tegas”.

Semenjak saat itu aku berfikir tak usah mengurus apa yang orang lain lakukan, karena kau tak ingin ikut campur, lebih baik berusaha sendiri dan menghadapi soal – soal yang akan menuntunku untuk menjadi terbaik.

 

#flashback end

 

tapi kali ini, ada rasa yang bergejolak di dalam dadaku.

 

kuhampiri dia dan kupeluk luhan erat sambil mengusap punggungnya,

“tak perlu khawatir… Sebentar lagi, kamu akan dikelilingi oleh banyak orang yang lebih terbuka padamu. ” ucapku lirih masih memeluknya.

“Jika kau selalu ada di sana…. maka akan kucoba untuk bersekolah kembali.” Jelasnya padaku setelah kulepaskan pelukanku.

“aku senang mendengarnya!”

“lho, dadaku kok jadi berdetak cepat begini?” luhan bergumam sambil menyentuh dadanya.

“hah”

 

“sepertinya aku menyukaimu, Jina..”

“eh? Ma-maksudmu sebagai teman?” ucapku masih mencerna kata –katanya barusan.

“sebagai lawan jenis” teriaknya menyakinkan apa yang dia rasakan

“Tunggu m-mungkin kamu hanya salah cara mengutarakan saja! Karena kamu belum pernah punya teman sebelumnya”

“hah? Jika kalau aku sudah punya teman, kau baru percaya kata – kataku tadi? mungkin saja.. baiklah.. tapi perasaanku tetap takkan berubah… aku akan selalu menyukaimu’’ jelasnya percaya diri sambil menatap langit.

 

Dan dibawah indahnya matahari di senja musim semi, untuk pertama kali dalam hidupku, seseorang mengutarakan perasaanya padaku,

inikah perasaan jujur?

Inikah perasaan dimana ada orang lain juga peduli terhadapmu?.

 

 

^^^

 

Esok harinya, ternyata luhan memang datang kesekolah.

 

“J-Jina aku terlalu gugup sampai kakiku membeku”

teriak luhan frustasi di depan pagar sekolahan padahal aku tadi berjalan buru – buru agar ia tak melihatku tapi ternyata terlambat.

“kenapa kamu muncul di sini?’’

tanyaku tanpa ekspresi karena sudah menjadi pusat perhatian teman – teman di sekitarku, akhh apa yang dia lakukan? Benar – benar membuatku takut. Ini memalukan. Menurunkan reputasiku sebagai anak baik. Berteman dengan luhan. Benarkah ini?

 

 

Satu bulan kemudian waktu berjalan sangat cepat.

 

aku sekalas dengan luhan. luhan duduk di sampingku. aku memang terusik dengan tingkahnya, Karena ketika ia duduk dan pelajaran dimulai dia duduk dan mengajakku bicara.

tanpa memperhatikan atau setidaknya ketika ia bosan ia akan menggambar dan tak menghiraukan teman – teman yang lain ataupun saem yang ada di depan, ketika bibir runcingnya berhenti bicara ia akan menggambar manga tak memakai baju itu. Apa peduliku.

 

#jam istirahat

 

Ketik aku berjalan keluar kelas, hari ini aku akan menghabiskan waktuku untuk membaca buku baru di perpustakaan sekolah.

 

“Jina.. tolong aku.. aku dipalak! mereka memaksaku untuk memberikan uangku pada mereka!”

“eh?’’

teriaknya padaku meminta pertolongan padahal bila dilihat posisinya sangat tidak memungkinkan kalau dia yang dipalak. lihat saja tangannya ada di kerah sunbaenim dan satunya mengepal, dengan keadaan wajah sumbaenim memar kecil dan hidungnya mengeluarkan darah.

benar – benar menakutkan sekali maniac ini keadaan yang berbalik bukan?, ku langkahnya pura – pura tak mengerti dan meninggalkannya masuk kedalam kelas.

 

#Disaat memulai Pelajaran olah raga

 

“Jina .. kau mau kemana?’’

luhan bangkit dari duduknya melihat kearahku yang sudah membawa baju olah raga ditangan untuk menggantinya di ruang lain.

“menggati baju olah raga..”

“begitu ya? baiklah kalau begitu..” ucapnya setelah itu luhan membuka kancing – kancingnya serta membuka ikat pingganya dan menarikku lalu ia berbisik

“ akan ku tutupi tubuhmu kau bisa ganti di sini tak usah takut kalau ada orang lain yang melihat”. Ucapnya di dekat telingaku,

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” sontak saja aku berteriak keras dan memukul kepalanya lalu kutinggalkan saja dia.

 

 

^^^^^

Selama sebulan terakhir, aku mulai menyadari tentang tingkah laku dan presepsi luhan yang salah mengenai “apa sebenarnya sekolah itu sendiri” aku tetap tak mau ambil pusing tapi masalahnya adalah sekembalinya ke sekolah, ia selalu mengikutiku kemanapun, sampai – sampai aku kesulitan untuk belajar.

 

********

 

“ahh.. Jina-ssi” panggil saem tampak kaget ketika melihat luhan di depanku tengah duduk di atas pagar tempatku berdiri.

“hah.. sedang lihat apa kau?” Tanya luhan dingin.

“sudah cukup jangan dilawan!” cegahku pada luhan sambil memengang pundakknya.

“aku membencimu, pergi sana..” ucapnya marah lagi.

“kamu juga..”

balasku padanya dingin. Dan luhan dengan cepat menarik kerah bajuku sedikit mencengkramnya aihh bajuku kusut dasar maniac. Membuatku sebal darinya seenaknya saja tak perduli siapa orang yang dia ajak bicara.

“tunggu.. luhan-ssi, kamu harus menaruh perhatian lebih pada wanita! I-Ini, aku pinjamkan salah satu buku kesukaanku! Jangan berkelahi lagi ya… ” ucap saem memberikan buku berwarna pink soft itu pada luhan lantas berlalu pergi begitu saja.

 

“Disaat tangannya merangkul dan memelukku dengan lembut, dadaku mulai bergedup kencang” kedengar ia membaca buku itu.

dengan cepat ia merengkuhku kedalam pelukkannya, ah apa yang ia lakukan sekarang ha? ,membuatku sangat takut, beberapa menit ia masih merengkuhku, rasanya kakaiku lemas, aku takut.

Hal ini aku teringat ketika sore itu setelah kupikir, kupikir, kupikir, dan terus kupikir tentang maksud perkataannnya kemarin. Menyukaiku.

 

 

Pelajaran saem Jo salah satu mata pelajaran yang sangat kusukai mungkin bukan hanya maple ini saja tapi semua mata pelajaran aku menyukaianya, kuhadapkan wajahku melihat langit di balik jendela, awan – awan begitu tampak banyak, mungkin saja akan hujan.

“saem..apa yang dimaksud dengan ‘menaruh perhatian lebih pada seseorang’?” Tanya luhan ketika pelajaran saem Jo hari ini, melenceng jauh dari pelajaran pikirku.

“oh.. kau harus menjaga perasaaannya!”

“bagaimana cara menjaga perasaannya?”

“kau harus selalu baik padanya.”

 

 

*********

 

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku membiarkan masalah yang tak terpecahkan.

 

“mereka tampak senang.. aku yakin mereka akan pergi makan bersama atau bermain lempar bola.. enaknya kalau bisa seperti mereka..” ucap luhan di depan jendela menatap anak – anak yang tengah pulang, lalu ia menatapku yang masih focus mengerjakan latihan soal dari buku panduanku.

“hai jina-ah.. “ ucapnya sambil memperlihatkan brosur makanan padaku,

~makchang Mashita~.

“sudah kubilang aku tak ingin pergi kemanapun! Lagian sebentar lagi ada ujian tengah semester..” tegasku padanya

“bukan berarti hanya untuk makan makchang,, wajar saja bila pergi jalan – jalan bersama teman, ‘kan? Aku ingin pergi jalan – jalan bersamu. Karena tak ada yang berani mentapku selain kau..” jelasnya terdengar sedih lagi.

“Itu karena kamu selalu memelototi, mengancam. Dan menghajar mereka…”

#hening

 

“kamu tau tentang sambutan saat upacara pembukaan? Sambutan itu di peruntukkan bagi siswa kelas sepuluh dengan nilai tertinggi..”

“oh..?”

“Sebelumnya,….. aku selalu mendapatkan nilai tertinggi.. aku selalu berjuang untuk mencapainya.. tapi saat itu.. bukan aku yang dipilih… jadi aku harus memperbikinya saat ujian tengah semester.. tak ada waktu luang untuk makan makchang” ucapku padanya sambil memikirkan hal yang pernah terjadi padaku di waktu upacara penyambutan yang sempat membuat dadaku terasa pilu.

“Oh, kalau itu pertama – tama, kau harus temukan dulu koordinat untuk simpangan di sini lagain jawabanya salah nih.. seharusnya “b=4”, bukan “b=8”. Ucapnya mengacuhkan apa tadi yang sudah kuceritakan.

Dan sekarang aku dibuat tergagap melihatnya sekarang aku ingat,siswa kelas sepuluh yang seharusnya memberikan sambutan.

 

#flashback

 

“silahkan menuju ke mimbar.. “ucap saem kala itu, tidak datang di hari itu.

“wakil dari kelas sepuluh, XIU LUHAN!”

kejadian itu mengingatkanku, tentang pencapaianku yang yang kupikir sudah maksimal, apa aku bodoh bagaiman bisa aku kalah hanya dalam pelajaran seperti ini. aku hampir frustasi hingga aku terus dan terus belajar -obsesiku

 

#flashback

 

^^^^^^

 

Sekian lama waktu semakin dekat ya ujian tengah semester aku terus belajar, hingga lingkar hitam di mataku tampak jelas, kurasa kulitku pucat sekali. Apa peduliku tentang itu? Yang harus kupikirkan mendapatkan hasil terbaik,tak usah perdulikan orang lain atau apapun, tentang luhan…

 

“J-Jinaa…. “ teriak luhan dari ujung loker dimana aku berdiri.

“Kenapa kemarin pulang tanpa memberi tahuku?”

Aku menatapnya malas dan menutup lokerku menguncinnya serta mulai beranjak meninggalkannya, sangat tak berguna mendengarkan pertanyaan konyolnya.

“kenapa sih?!” tanyanya lagi, dan membuatku menghentikan langkah sejenak dan menghadapnya.

“mian,… tapi sampai berakhirnya ujian tengah semester, kamu adalah musuhku… mulai sekarang, jangan ganggu saat aku sedang belajar..” kubalikkan tubuh lagi akan memulai langkahku menjauh darinya.

“memang apa asyiknya belajar? setiap pertanyaan punya jawaban masing – masing, lalu apa yang membuatmu jadi sulit?” jawab luhan. aku tak tahan ku palingkan wajah menghadapnya dengan tampang marah, iapun membuang muka.

 

“apa sebesar itu kebencianmu kepadaku?” tanyanya lirih.

tapi masih dapat ku dengar dengan jelas. Apa maunya dia? Aku memang harus berjuang mendapatkan nilai baik, aku tak ingin menjadi yang kedua, ketiga atau yang lainnya,

aku hanya ingin jadi yang pertama dalam mendapatkan nilai terbaik. Hingga waktunya tiba Ujian tengah semester mulai dan selesai dengan susahnya, ku hampiri papan pengumuman melihat posisiku berada pada urutan berapa? Bagus… tapi Kenapa.. padahal aku rangking satu seharusnya aku merasa senang, tak ada dia yang selalu mengkutiku, apa luhan marah?.

 

*****

Usai pulang sekolah aku datang menghampiri rumah luhan.

 

“Rangking Satu” kutunjukkan kertas ujian hasilku padanya.

“hah? Apa maksudmu?..

karena kebencianmu, kau sampai repot – repot menunjukkan langsung di hadapanku?” ucapnya acuh tak memandangku, bahkan ini terkesan dia marah padaku bibirnya mengerucut.

“aku tidak membencimu.. aku tidak membencimu, luhan-ssi..”

ucapku lirih sambil meremas ujung bajuku, sekilas teringat waktu itu ketika dia menangis, aku memang merasakan ada getaran di dada ini.

“aku lupa mengatakan ini sebelumnya, terima kasih sudah menyelamatkanku waktu itu, aku senang sekali…”

jelasku ambil tersenyum kepadanya, Dan setelah itu hari hari – hari berlalu Dimana Xiu Luhan, si maniac bringas sudah jinak dan jauh lebih tenang.

 

 

*******

 

“hari ini kamu jauh lebih tenang?” tanyaku ketika kami belajar di perpustakaan.

“tentu saja.. walau aku tak begitu mengerti, tapi kau menaruh perhatian lebih pada pelajaran, ya ‘kan?”

“Jika memang iya, aku pun harus melakukannya.” Sambungnya sambil tersenyum riang.

 

“Oh begitu, Jadi itulah maksudnya, ‘menaruh perhatian lebih pada seseorang’, tanyaku lirih yang aku yakin itu tak mungkin didengarkan olehnya

Tapi kenapa begitu?

Jadi dia menaruh perhatian lebih padaku? Ahh kenapa pipiku memerah, aku gugup di dekatnya, udara kenapa meningkat menjadi sangat panas?, Aku mulai beranjak dari bangku.

 

“mwode? Apa kau sudah selesai belajarnya?, Tanya luhan memperhatikanku.

“a-apa kamu lapar?”

 

 

^^^^^

 

makchang… makchang.. makchang… makchang.~ luhan terus bernyanyi di perjalanan pulang kami. Dan iriknya hanya MAKCHANG. Bagaimana dia bisa sesenang ini. Xiu luhan kau memang aneh.

 

“kau pasti sangat kelaparan, sampai – sampai menghentikan kegiatan belajarmu seperti ini.”

“oh begitulah.. lagian, tidak ada pelajaran yang masuk ke kepalaku” jawabku dingin

“eh?”

“Dan kamu terlihat senang sekali.” Ucapku lirih ketika kami berhenti berjalan sejenak.

“ada apa?” tanyaku menatapnya.

luhan juga menatapku hingga menusuk ke relung hatiku. darimana ini bisa terjadi dia menarik kerah seragamku, aku kaget. Dia menempelkan bibirnya pada bibirku, menyesapnya.

mataku memnbulat. Apa yang harus kulakukan? Pipiku memerah, ini ciuman pertamaku, apa dia gila? luhan memejamkan matanya apa yang dia rasakan ha? Apa sama sepertiku?

Dadaku berdegup cepat!, dadaku terasa sedikit sesak. Ini lama sekali aku kehabisan napas, aku bahkan tak berani melepaskanya, aku terlalu takut.

luhan melepaskan pangutan bibir kami.

 

“lho… kenapa ya padahal waktu itu iya, tepi sekarang kok enggak ya?” ucapnya polos sambil membalikkan tubuh membaca buku yang diberikan saem waktu itu? Aku sedikit limbung merasa bodoh hanya diam saja dengan apa yang telah terjadi.

“hah?”

“kenapa ya? Padahal sebelumnya, dadaku teras berdegup cepat lho.. ahh.. tapi aku masih tetap menyukaimu!” ucapnya santai tersenyum kepadaku.

ah dia gila apa tidak lihat pipiku sudah merah seperti kepiting rebus sperti ini? Wajahku mau aku taruh mana, memang keadaan sekitar sangat sepi tapi tetap saja dihadapannya aku harus bagaiman. MANIAC.

 

“heh?”

“Hoy jina.. cepatlah aku sudah lapar nih?” teriaknya berlalu meninggalkanku dengan keadaan shock sekali.

rasanya otakku kembali kosong akibat ulahnya barusan, ahh dadaku berdetak cepat sekali, bahkan rumus – rumus di otakku memudar dengan cepat. Dia manakutkan sekali.

 

^^^^^^^

 

Kupotong – potong makchang dengan cepat – cepat mengunakan gunting yang sudah di siapkan. lalu memakan soup sayur panas ini, aku tidak peduli akan rasa panasnya, di kepalaku masih mengingat kejadian yang membuat syaraf di otakku lumpuh sejenak, kenapa tak bisa hilang kejadian tadi, akh bibirku sudah tak bernyawa rasanya, dasar maniac.

“Ahjumma.. mau aku pesan Jogaetang! Gobchang 2 mangkok.. soup ikan.. kimchi!!

“Hebat.. kau masih lapar ne? Tanya luhan.

“Berisik.. aku perlu menjernihkan pikiranku!”

 

Jantungku masih berdegup mungkin karena aku begitu terkejut pasti karena itu.

 

“aku tak pernah merasakan makanan seenak ini sebelumnya… tapi Kurasa semua hal terasa enak ketika aku berasamamu.” Ucapnya sambil tersenyum manis sekali karahku.

kenapa luhan tampak tampan sekali. aigoo mukaku memerah, panas sekali disini, panggangan makchang ini terlalu panas.

 

denyut aneh di dadaku tidak melambat. Aku kurang lebih sudah tahu penyebabnya.

 

“ahjumma… Makchang 4 porsi..kimchi ekstra.. Samgyubsal 2 mangkuk!!” teriakku ketika ahjumma yang bekerja lewat.

“oh? Kau masih belum kenyang?” Tanya luhan yang kuacuhkan.

 

Dan aku menikmati pengalaman pertamaku makan makchang jadi tidak semuanya buruk.

 

 

^^^^^^^^

 

Sejak masih kecil, Satu – satunya kekhawatiranku hanyalah nilai pelajaranku. Aku tidak peduli siapapun atau apapun karena duniaku dimulai dan diakhiri olehku.

 

“1.400 won untuk sekardus kentang untuk mencapai keutungan 30%, setiap 700 gram kentang harus dijual seharga 138 won” ucapku sambil memasang barkode label kentang untuk di jual.

“oh?.. wae.. wae.. sedang memikirkan sesuatu? Jarang sekali kau begini. Hehehe…” Tanya aboji padaku.

Jika abojiku tahu bagaimana caranya menghitung harga barang, aku tidak perlu melakukan semua ini.

“berjuanglah..” teriak aboji padaku sambil mengngakut beras merah.

 

Aku tak bisa berkonsentrasi dengan apa pun yang kulakukan.

 

~setengah harga~

“haraboji.. bisakah anda berhenti memasang stiker “setengah harga” di sini? Tanyaku dingin kepada pelanggan ini.

 

Walau sebenarnya aku mengerti alasan aku seperti itu.

 

******

Pagi ini hujan, tidak cukup deras tapi membuatku dan yang lain tetap memakai payung, kulangkahkan kaki menuju pintu gerbang sekolah yang sudah mulai tampak dari sini dengan membaca buku panduanku.

 

“Remidial?” ucap luhan.

“setiap murid yang gagal di UTS harus mengikuti remedial! Karena kau lupa mengisikan namamu kau dan mendapatkan nilai nol di setiap mata pelajaran, kau harus ikut remedial!” teriak saem hyo di balik diding kelas kami dengan ekspresi ketakutan.

“Jina-ah ikut remedial juga?” Tanya luhan kepadaku.

“yang benar saja.. aku yang mendapatkan nilai tertinggi ini?” jawabku santai sambil melihat hasil UTsku yang sangat memuaskan sekali.

“kalau begitu aku juga tidak ikut!” ucapnya santai lalu kulirik hasil uts luhan di meja.

“eh?”

ku ambil cepat dan meneliti hasil uts luhan. dia.. asalkan dia menulis namanya, nilainya jauh lebih tinggi dariku, lihatlah dia mendapatkan nilai sempurna sekali, seratus disetiap mata peajaran.

 

Kulihat luhan tampak gelisah di tempat duduknya, ia tamak sedang menyembunyikan sesuatu di balik kaosnya, bahkan ia bertingkah meringis seperti sedang di cakar. Membuatku tak nyaman, kutarik paksa kaosnya dan tompatlah kelinci putih dari balik kaosnya.

 

“so-soalnya, aku melihatnya hujan-hujanan ketika aku berangkat sekolah!” jelas luhan panic.

“dia lucu sekali, ‘kan?” “iya ‘kan? Namanya changdu”

 

 

******

 

Sekarang muris-murid sudah terbiasa dengan perilaku anehnya luhan.

aku juga merasa ada perubahan kecil di dalam diriku, aku terus melamun hingga tak sadar luhan sedang menyandarkan wajahnya tepat di depan mejaku, hingga membuatku terkejut bukan main. Dia sangat tampan dan lucu! Apa yang ku pikirkan.

“kenapa kau mengabaikanku? Padahal aku sudah panggil dari tadi.”

Ucap luhan sambil mencondongkan tubuhnya dengan wajah polos kearahku membuatku bingung jadi salah tingkah.

dan aku mulai menyadari kehadiranya wajar saja ‘kan?. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan orang lain… bagaimaa aku bisa mengabaikannya?.

 

Ciuman itu tiba – tiba muncul kembali. Akhh yak mwonde!!!. Sadarku dari bayangan tadi.

 

“hoi.. apa yang kalian lakukan?! Jangan sakiti kelincinya!” teriak luhan lalu lompat keluar jendela.

 

Tapi sepertinya dia sama sekali tidak peduli.

Apa ini..

Aku bertingkah seolah – olah aku jatuh cinta dengan luhan. Pikirku semakin menjadi, kuremas kepalaku kuat.-masalah ini jadi semakin rumit.

 

^^^^^^^

Jam sekolah pun berakhir dan kami maksudku luhan dan aku pulang. Suasana kembali hujan seperti aku berangkat sekolah, kami berjalan menyusuri jalan arah toko area makan.

 

“luhan..”

“hemm…?”

“kau dulu bilang kalau kau me-.. kau menyukaiku?”

“ya.. aku menyukaimu, jina-ah.” Jawabnya memandangku.

“apakah itu jenis yang romantic?”

“kalau kau mau begitu, akan aku lakukan.” Jawabnya santai menunduk kearahku, apa maksudnya itu? #hening kami masih melanjutkan jalan.

”selain itu bisakah kau bawa kelincinya?” suruhnya padaku.

“asal kau tidak keberatan kalau aku memaksaknya.” Ucapku dingin.

 

 

“ji..jina-ssi” #BUGG

 

kuhentikan langkahku, luhan juga sama menghadap kebelakang melihat seorang gadis tengah terpeleset di tengah hujan. Kami hanya memperhatikan tak peduli.

 

“ TOLONG BANTU AKU BELAJAR!” teriaknya mulai menangis dan sedikit malu.

 

#makchang house

 

“namaku sandara..”

“oh..”

“apa kau mengingatku?”

“…..”

“tidak, ya? Kita di kelas yang sama! Ngomong-ngomong, luhan-ssi dari tadi menatapku dengan tajam.. kelincinya juga ” Tanya dara dengan takutnya.

“abaikan dia, dia hanya berhati – hati denganmu” ucapku tenang sambil mengunyah makchang, ahh~ gum.

“oh ahjumma kalau begitu aku pesan kimchi pedas dan soup ikan campur ya,” teriaknya.

“baiklah.. tunggu.”

“perut kalian ini sebesar apa, sih.?” Ucap luhan dengan bibirnya yang runcing itu sambil memperhatikanku.

“Jadi, seperti kukatakan sebelumnya, jika aku gagal remedial, aku harus ikut pelajaran tambahan minggu depan, tapi aku ada acara penting dengan temanku hari itu, jadi aku tidak boleh gagal dengan remidialnya, maka di hari itu, Jina-ssi..”

“aku menolak!” jawabku apa adanya.

“aku sudah berusaha sebisaku tapi aku ini terlalu bodoh…” tangisnya sambil menunjukkan lembara hasil UTSnya padaku dan luhan.

“beneran.. padahal semua soal sudah dijawab tapi masih saja gagal… Mian,tapi itu masalahmu.” Jawabku sekenannya

“Jika kau bodoh, kau harus ikut pelajaran tambahan!.. kalau begitu aku pergi..” pamitku padanya. luhan juga sudah bersiap – siap pergi.

 

“ohh.. sudah tak hujan lagi” Tanya luhan saat kami sudah di keluar.

“cha-chakamman”

“aku tidak punya waktu untuk mengikuti pelajaran tambahan!” teriaknya di depan toko makchang tadi.

#huekk~ apaan dia muntah sembarangan,dengan cepat aku dan luhan melangkah lebih mundur.

“mianhae..sepertinya aku kebanyakan makan!” jawabnya sambil mengelus perut

“Tadi itu kau memaksakan diri untuk makan sebanyak itu?”

“soalnya jika aku langsing, akan banyak pria yang menyukaiku, ‘kan? aku yakin sudah banyak yang menyadari betapa manisnya aku. Para pria selalu terpesona denganku itulah kenapa aku selalu dijauhi oleh para gadis!’’ucap dara dengan wajah yang sangat dibuat kecantikan.

Aku tak memperdulikanya, kamipun berjalan pelan meninggalkan dia, itu lebih baik daripada mendengarkan omonganya itu.

“chakkamman.. tunggu aku..”

 

*******

Kami akhirnya duduk di subuah taman, ya ini bukan keingananku bahkan daripada bersantai seperti ini lebih baik aku duduk di depan meja belajar dan mulai mengerjakan soal.

“ah.. kau duduk di sini jina-ssi, karena sudah kering”

“aku memiliki komunitas, seluruh anggotanya adalah orang yang tidak kukenal, tapi mereka adalah teman pertama yang kupunya” tunjuknya di depan netbook yang bertuliskan situs pertemanan.

“jadi karena itu kau tidak ingin ikut pelajaran tambahan?”

“iya..” luhan dengan seksama memperhatikan layar netbook yang ditunjukkan padaku.

“aku masih menolak” jawabku lalu pergi.

 

“devil!” teriaknya sambil menahan kakiku.

“itulah akibatnya jika kau malas… menyerahlah..”

“aihh jebal jangan begitu..”

 

“hey..” panggil luhan kamipun menoleh bersamaan.

“aku bisa membantumu belajar”

“be-benarkah?”

“ya serahkan padaku, sebagai gantinya, ajak aku pergi denganmu”

“oke.. oke”

“apa dipertemuan langsung aku bisa dapat banyak teman?”

“tentu saja! Tentu saja!.. ahh tapi tolong jangan jatuh cinta padaku! Nanti malah merepotkan,”

“ya gak masalah itu nggak akan terjadi.”

Konyol- Apa yang ada di kepala si maniac ini? Bodoh! Aku hanya diam memperhatikan saja, ada perasaan sedikit sebal, lupakan! Untuk apa aku ikut mencampuri. Bukan urusanku. Kenapa mereka melakukannya di sini? Perpustakan tempatku belajar. Yah, setidaknya aku tidak sendirian dengan luhan.

 

 

******

 

Hujan masih deras aku tak bisa pulang kalau seperti ini, walaupun aku membawa payung pasti seragamku akan tetap basa apa lagi anginnya juga kencang seperti ini, aku harap akan cepat berhenti.

“hem? Apa itu barusan?”

aku masih mengunyah roti isi ini sambil melihat changdu di kardus ini yang juga memperhatikanku makan.

“hakkkkhhhhh” teriakku pada kelinci ini, dan membuatnya kaget.

“ani..”

“Hah!!” teriakku melihat luhan bergelantungan di sampingku sambil membawa kubis, dan bekalku jatuh ke dalam kardus kelinci.

“apa kau melihat gadis itu di sekitar sini?”

“ma-maksudmu sandara-ssi? aniya..”

“sial, kemana dia pergi? Cercah luhan mendekati kardus kelincinya.

 

Ahh.. aku merasa gelisah lagi.

 

“changdu-ah, mau makan kubis? Tanya luhun pada kelinci tadi.

“bagaimana belajarnya tadi?”

“YAK!!”

“sudah terlambat untuk bertukar posisi! Akulah yang akan ikuti pertemuan itu!” teriaknya histeris, dengar wajah garangnya sedikit lucu.

“aku gak butuh itu! Lagipula, memangnya itu masalah besar? Kau dan sandara-ssi saja” jawabku malas menanggapinya.

“buat apa juga peduli kalau orang lain yang tidak menyukaimu?’ sambungku sekenanya.

“kau memang hebat Kim jina…” senyumnya kearahku dan menatapku dengan kedua matanya yang tajam itu.

 

Ekspresi barusan itu.. apa maksudnya?

 

 

“apa kau pernah merasa hampa?

“ha?”

“kekosongan.. tidak bisa merasakan apapun, diselimuti kegelapan,itu benar –benar membuatku takut….”

“tapi aku sudah tidak takut lagi.. karena aku memilikimu..” sambungnya sambil menatapku.

 

Apa yang dikatakan luhan barusan, terdengar seolah dia tidak bisa melihat apa –apa. Walaupun aku ada di depan matanya…

 

 

 

^^^^^^^^^

 

 

Aku mainkan pencil ini, aku sedang memikirkan sesuatu, tapi apa?

Soal matematika ini sudah ku kerjakan, apalagi?

Sudah kuduga, ada yang aneh denganku, aku tak pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Aku tidak peduli orang –orang berpikir apa tentang aku. Aku harus belajar! Sebentar lagi hampir ujian akhir.tundukku di atas buku pelajaran ini.

Ujian,ujian,ujian, ada banyak kebisingan yang membuatku tidak bisa pikir.

 

“jina-ssi..”

panggil seseorang dari arah jendela perpustakaan, namja itu tersenyum ramah bukan malah tampak konyol, apa yang sendang ia lakukan? Tersenyum seperti itu dengan masih memakai baju baseball kurasa dia sedang beristirahat.

“Nuguseo?”

“MWO? Paling nggak, ingatlah wajah teman sekelasmu! Aku byun Beakhyun! Panggil saja aku baekhyun”

“oh..jadi, ada apa?”

“bukan, apa –apa kok. Aku hanya tertarik denganmu.” Ucapnya masih dengan senyum konyolnya.

“waeyo”

“Karena aku menyukaimu..”

ucapnya riang dengan mata berbinar-binar sekali, dengan senyum seperti itu. Bodoh

“hemm…… kau bohong.”

“ahaha.. ketahuan, ya? Kau selalu bersama luhan, jadi aku penasaran seperti apa kau! Jadi, bagaimana kau membuat si pemalas itu kembali bersekolah?”

“entahlah.. aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. Kurasa dia hanya menginginkan seorang teman, siapa saja juga boleh.”

“aku satu SMP dengan luhan, apa kau tahu?”

“Sebenarnya,selama 3 tahun dia sama sekali tidak masuk sekolah.” Sambung baekhyun lagi.

Mwoo?? Yah.. tidak ada yang tidak mungkin buat luhan….

“tapi ternyata, tidak semua orang bisa membuatnya seperti ini.” Jelasnya sambil tersenyum penuh arti.

“Baekhyun-ah, kita kembali!”

“ohh… oke..”

“sampai jumpa jina-ssi..”

 

“ohh.. baekhyun-ssi! Aku ada permintaan.” Ucapku ketika baekhyun akan beranjak menjauh dari jendela.

 

*****

Selesai dari perpustakaan untuk mencatata materi aku kembali kekelas dan melihat dara-ssi sedang tengkurap di meja dengan anehnya.

“eh?”

“tolong jangan pedulikan aku, aku hanya sedang putus asa”

 

_______

 

“luhan-ssi!” teriak saem

“berisik”

“kau tidak boleh membawa kelinci kesekolah!”

“kau sangat menyebalkan!”

“Xiu Luhann…” terik saem, mereka masih berlarian di bawah sana alias lapangan. Pemandangan Aneh

 

“semuanya percuma,aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia ajarkan, dan tidak ada waktu lagi!” ucap dara malas.

“yah, pelajar seharusnya menghabiskan waktunya untuk belajar.”

“huh!! Siapa yang peduli dengan sekolahan?! Hidupku yang sesungguhnya di internet.”

“bukannya itu sama saja hidup dalam kebohongan?”

“tinggalkan aku sendiri….”

“Orang yang pandai dan tidak berperasaan sepertimu tidak akan mengerti ” ucapnya sedih sambil menukup keduan kakinya menenggelamkan wajahnya. -pilu

“ti-tidak juga..” bantahku

“aku tidak peduli jika aku hidup dalam kebohongan, aku ingin dekat dengan orang lain… rasanya sepi sekali ketika semua orang menjauh”

aku memang tau bahwa dara-ssi memang tinggal sendiri di sini karena orang tauanya memutuskan menetap di Canada, maka dari itu akau rasa dia kesepian seperti sekarang.

Aku menunduk dan membuka buku pelajarannya yang bercerceran itu.

“yang ini, yang ini dan yang ini. Jika kau focus di bagian ini, mungkin kau bisa lulus ada pola tertentu dalam soal yang diujikan, jadi jika kau mengerti poin-poin ini. Kau tidak akan gagal” jelaskku masih mencoba mengerjakan soalnya.

“eh? Jina-ssi..”

Aku masih belum mengerti apa yang mereka pikirkan, tapi kurasa aku bisa mengerti apa yang mereka rasakan.

 

“Luhan.. apa kau mau pergi ke pertemuan langsungnya?” teriakku padanya dari atas kelas.

“mau..” jawabnya tegas

 

“yah, dia sudah memutuskan untuk ikut, jadi kau harus sukses dengan remidialnya.”

“angel!!!!!!! remidialnya besok! Apa waktunya masih cukup?”

“mwo?”

“sudah terlambat untuk kembali.”

 

*****

 

 

“jangan tidur!!!” teriakku.

“ne!!!”

“kenapa rumus sederhana begini saja nggak bisa ingat?!”

“devil!”

“apa kau sadar aku begini semalaman demi dirimu?!” teriakku padanya, luhan sudah tertidur di sampingku sambil mendekap kelinci putihnya.

 

berkat kerja kerasku,sandara terhindar dari pelajaran tambahan.

 

“nilai tertinggi selama ini!” tunjuknya padaku angka 60.

 

Tapi di hari senin.

 

“luhan-ssi mengacaukan segalanya!”

“aku nggak akan pergi ke acara begitu lagi” ucap luhan acuh.

“aku tidak punya kesempatan untuk mengobrol dengan para gadis setelah itu, luhan-ssi malah memulai perkelahian.” Tangis sandara sambil me-log-out situs pertemananya.

 

“Hoi!! XIU LUHAN-SSI!! Appo!! Berapa kali harus kukatakan untuk tidak membawa kelinci ini? Appo!”teriak saem saat membuka pintu karena hidungnya digigit changdu kelinci luhann.

“oh? Aku lupa memberitahumu.”

“eh?”

 

#flashback

“Baekhyun-ssi mau merawat kelincinya dengan sukarela?” tanyaku padanya.

“tentu, aku suka sekali kelinci bakar!”

 

# flashback end

 

 

*********

 

#Waktu istirahat

“Dimana kau?”

“Hey.. jina?” teriak luhan di bawah sana mencariku.

 

“angell…, luhan-ssi mencarimu. Ckcckkc……. Dia seperti ayahku yang lagi mencari kaos kakinya.” Ucap dara, ya kami memang sedang berada di atap gedung sekolahan.

“jangan bilang apapun. Jika dia menemukanku, dia akan berisik lagi.” Ucapku lirih.

“kau kelihatan lelah? Oh! Aku Akan membelikanmu minuman, tanda terimakasih karena telah membantuku belajar.” Dara meninggalkanku di atas gedung sekolah untuk membeli miunman sesuai janjinya.

 

Akhirnya, sepi dan tenang juga, sejak aku terlibat dengan orang – orang seperti mereka, rasanya melelahkan, perlahan aku mulai memjamkan mata, menikmati suasana tenang ini.

 

_____

“angel, aku bawakan jus untukm…” dara berhenti.

“sstt..” cegah luhan memberikan tanda untuk tidak berisik.

“luhan-ssi, berjuanglah!” dara memberikan semangat lalu pergi meninggalkan atap.

_____

 

Aku rasa matahari mulai naik aku bisa merasakan kehangatan, ahh kubuka mataku perlahan.

 

“hey..” senyum luhan tepat di depan wajahku. Aku tertidur di pangkuan luhan.

“lu-luhan-ssi?! Sejak kapan kau? Oh, aku bolos pelajaran” tanyaku cepat –cepat duduk.

dan mulai untuk berdiri tapi dia dengan seenaknya menarik kepalaku kembali tidur di pangkuannya.

“nggak usah di pikirin, tidur saja lagi.”

“kenapa kau tidak membangunkanku?” tanyaku sambil menepuk tangannya yang masih menutupi sebagian wajahku.

“hemm,.. karena kau tidur nyenyak sekali. Noumu kyoepta..” jawab luhan sambil menampakkan senyuman tampanya padaku.

Dia.. aku penasaran apakah dia melakukannya dengan sengaja? Good berhasil membuat wajahku memerah sempurna.

 

Ini pertama kalinya aku bolos pelajaran, cuacanya cerah. Diriku yang dulu tidak pernah tahu betapa indahnya langit di siang hari jika dilihat dari atap.

 

Duniaku terus berkembang apa yang ku anggap mengganggu pada awalnya, sekarang menjadi menyenangkan. –nyamannya

 

 

“luhan..”

“hemm”

“aku senang bisa bertemu denganmu sebelumnya, aku hanya peduli tentang belajar, tapi aku mulai menikmati hidupku.!” Kupunggung luhan menatap langit yang begitu luas.

 

“Aku meyukaimu, luhan.” Jelasku padanya dengan tersenyum manis.

 

Nilai – nilai pandangku berubah kuharap, duniaku juga ikut berubah karena itu. Jadi demikian yang mengubah duniaku dan luhan.

                                              

#TBC

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ WHUT’S POPPIN EDITION GOOD PERSON/ EXO/ pt. 1

  1. Aku kurang ngerti sih maksudnya apa… Tpi aku bingung luhan itu disini orngnya jdi yang ga ngerti apa apa ato gimana ._. , trus katanya nc ._. , apa di chap berikutnya? Maaf aku ga ngerti sama sekali :v , tpi cukup menikmati :v , tetap semangat yahh!!! FIGHTING!!! ^_^

  2. Bahasa awalnya baku, tapi akhirnya kurang baku..
    Tapi aku suka ff nya, alurnya agak dperjelas ya thor..
    Tapi aku noumo noumo joahe thor.. Alurnya bda dari yg lain, apalagi luhan.. Hohoho..🙂

  3. Ohhh… luhan manisnya.. aku suka sama sama karakternya disini, apa lagi pas dia ngomong kalau dia dipalak tapi tanganya ada dikerah sunbaenya seolah olah kebalikannya, ngebayanginnya bikin ngakak sendiri😀
    nextnya ditunggu thor🙂

  4. berantakan thor…
    bingung bacanya
    kyk manga jepang, tp berantakan gitu
    ceritanya sih bagus, tp cara penyampaiannya itu loh…
    aku sampek mikir ini authornya bukan org Indo asli deh??

  5. suka^^ ..walaupun rada2 gak ngerti xD :v

    thor.. entar bhsa ny pke bhsa baku ya/?! biar enak bca ny ‘-‘

    nexxtt!! fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s