FF vignette/ STUCK/ BTS-BANGTAN


Stuck

.

.

Writer:

SunBell

Casts:

BTS Kim Taehyung || Jung Minah (OC)

Sub Casts:

BTS Jeon Jungkook || BTS Park Jimin || Jung Jaehyun (OC)

Length:

Vignette

Genre:

Romance, Slice of Life, Sad

stuck copy

Disclaimer:

Kim Taehyung and all of these delusional things are belongs to me.

***

Erasing those memories is such a pain. I’d rather stuck in it.

***

Sepoi angin membelai lembut wajahnya. Membiarkan tiap helai rambut burgundy-nya menari bebas. Ia tak begitu cantik. Polos dan tanpa polesan. Aku yakin sex appeal-nya yang membuatku hilang akal. Gadis itu, yang dikelilingi kawanan merpati yang memperebutkan sepotong roti miliknya. Gadis itu, dengan tawa renyah yang terus keluar dari bibir mungilnya. Gadis itu, yang terus membayangiku selama dua tahun terakhir. Bahkan aku masih bisa mencium wangi caramel dari parfumnya. Manis. Tapi tak lebih dari parasnya.

***

Hyung, ijinkan aku pulang bersamamu. Aku mohon, kali ini saja.”

“Kenapa tidak kau hubungi saja noona-mu dan memintanya menjemputmu?”

“Kau tahu kan dia sedang marah padaku, jadi…”

Dengan malas, aku menganggukkan kepala. Menimbulkan perubahan drastis pada ekspresi maknae yang bergelayut manja padaku. Jarak apartemennya dari coffee shop ini tidak terlalu jauh, jadi tidak masalah bagiku. Jujur saja, aku hanya bosan dengan ocehannya.

Sekelebat sosok yang tak asing melintas di depanku. Layaknya besi yang tak tertarik gaya magnet, pandangan mataku mengikuti arah gadis itu berjalan. Gadis manis itu. Gadis yang selalu menjadi bunga tidurku.

“Eh, agasshi!”

Jjangkamanyo!”

Gadis mungil itu berhenti. Mendongakkan kepalanya untuk melihat wajahku yang terpaut sekitar dua puluh senti darinya.

“Kau…Taehyung Oppa?”

“Kau mengenalku?”

Ku akui, aku terlihat bodoh dengan pertanyaanku barusan. Ayolah. Ini Korea Selatan. Siapa yang tak mengenaliku ?

“Emm, boleh aku tahu namamu?”

Ia mengulas senyum mautnya. Lagi.

“Jung Minah.”

***

“Nampaknya kau sangat suka ice cream, Minah-ssi.”

Ia terkesiap. Sepertinya kehadiranku yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Anak matanya mengawasi pria atletis yang memasuki Volkswagen putih di luar sana.

“Apa yang kau pikirkan? Apakah aku?”

“Kau bicara apa, Oppa?

Tawa renyahnya yang khas kembali menggelitik telingaku. Menajamkan memoriku tentangnya dua tahun silam. Memori singkatku dengannya. Ah, tidak. Ia bahkan tak menyadari kehadiranku saat itu. Mungkin aku hanya fragmen yang tak diingatnya.

Ia mendorong semangkuk chocolate sundae kepadaku.

“Aku yakin kau belum memesan. Makanlah.”

Aku memerhatikan dessert di hadapanku dengan seksama. Meneliti apakah ada yang ganjil dari hidangan favoritku ini.

“Tenang saja, dia belum tersentuh sama sekali. Dan aku tak menambahkan racun yang bisa merusak pita suaramu.”

Tiap suapan kami diiringi cerita dan gelak tawa. Sesaat ia mendengarkanku dengan seksama dan serius. Sesaat kemudian ia memerhatikan dengan sendok di mulutnya, sembari memainkan helai rambutnya yang sehalus sutera. Ada kalanya ia membuat ekspresi lucu dan membuang jauh keanggunan yang melekat pada dirinya. Satu yang tak pernah berubah. Kilat iris cokelatnya yang tampak antusias dan selalu menghanyutkanku. Lebih jauh.

Kami bercengkerama cukup lama. Membahas segala hal tentang kami. Ia menceritakan dunianya dan aku dengan duniaku. Dari situ aku tahu, bahwa ia adalah salah satu penggemar kami.

“Jadi kau lebih memilih siapa ? Aku atau Jungkookie?”

“Tentu saja kau, Oppa. You will always be my favorite.

Jawabannya sudah lebih dari cukup untukku. So are you, my favorite

***

Kami baru saja selesai melakukan wawancara dengan reporter majalah ternama. Bukannya berkemas, ba-gel man satu itu malah memberondongiku dengan pertanyaannya.

“Taetae. Apa benar yang kau katakan tadi itu?”

“Apa?”

“Yang kau katakan tadi. Gadis itu…”

“…Minah-ssi?”

“Ah, apa menurutmu aku tampak sedang berbohong?”

Aku melengos. Melangkah pergi meninggalkan Park Jimin yang tak sepenuhnya bisa menangkap ucapanku. Aku memang pandai berbohong. Tapi untuk masalah ini, aku sangatlah jujur.

“Aku pergi dulu. Annyeong.

***

“Minah-ssi!”

Suara Jeon Jungkook menggema di koridor rumah sakit. Diiringi dengan kaki jenjangnya yang berlari menuju gadis dengan sneakers merah di ujung sana. Tak ayal lagi jika tatapan sinis sebagian besar orang yang dilemparkan kepadanya. Ia sudah menginjak kepala dua, tapi tingkahnya masih kekanak-kanakan.

“Kau terlalu berisik. Sedang apa kau di sini?”

Pukulan lembut yang mendarat di lengan pria itu dibalas dengan rangkulannya pada leher sang gadis.

Mereka tampak akrab.

Rhinitis-ku kambuh akhir-akhir ini. Kau….”

Punggung tangannya menyentuh kening yeoja berbalut terusan denim itu.

“…Tidak sakit kan?”

“Tentu saja tidak.”

Tepisan dari Minah menjadi tanda bahwa ia merasa tidak nyaman. Menimbulkan kecanggungan di antara mereka.

“Aku mengawasimu, Jeon Jungkook.”

“A..aku tidak bermaksud begitu, Hyung.”

Ia menjauh sedikit. Memberikan ruang di antara kami berdua. Membiarkanku lebih leluasa.

Aku menatap lembut wajah gadisku. Ia tampak lelah. Lingkar matanya sedikit lebih gelap dari biasanya. Karena pekerjaan? Mungkin. Yang aku tahu, ia tidak sedang sakit. Yah, harapku begitu.

Ku sodorkan segelas americano yang kubeli dari vending machine rumah sakit ini. Jemari kurus itu meraih gelas karton yang kuberikan. Ia menghirup aroma khas kopi panas itu, menyesapkan kehangatan ke dalam dirinya. Ia tampak lebih rileks.

“Terima kasih..”

DEG!

Ah, tidak. Senyum itu. Lagi.

“Apa yang kau lakukan di sini, Minah-ssi?”

“Mengunjungi seseorang. Kau mengantarkan Jungkookie ?”

Matanya melirik namja yang mulai terlihat muak dengan basa-basiku. Bagaimana aku bisa tahu? Ia memutar matanya tiap lima milisekon. Sangat jelas.

“Kau ingin pulang?”

Lelaki itu mengangguk. Mengembangkan senyumannya. Memperlihatkan gigi kelincinya yang putih dan bersinar.

“Pulang saja sendiri. Aku akan mengantar Minah-ssi.”

“Ah, tidak usah. Aku akan pulang dengan seseorang..”

Matanya berpendar. Tampak mencari kehadiran seseorang. Hingga pandangannya berhenti pada satu titik.

Oppa!”

Ia berteriak. Tangannya melambai pada seorang lelaki yang melangkah ke arah kami. Tubuhnya tegap dan kuakui, ia sangat tampan. Tunggu.. bukankah pria ini yang diperhatikan Minah di kedai es krim? Apakah mereka saling mengenal? Atau jangan-jangan?

“Kenalkan, ini suamiku. Jung Jaehyun.”

DANG!

Lututku lemas.

Pusat perhatianku masih tertuju padanya.

Wajahnya tampak lebih cerah dengan tangan yang melingkar mesra di lengan pria atletis itu.

Mereka tampak….

…sangat serasi.

***

“Tipe wanita idealku? Aku sudah sering mengatakannya di berbagai media. Garis besarnya, aku suka gadis yang bersosok keibuan. Sejujurnya, akhir-akhir ini aku sedang memikirkan seseorang. Aku pertama kali melihatnya dua tahun silam. Ia sedang duduk di taman sambil memberi makan kawanan merpati lapar dengan hot buns. Ia tampak sangat cantik walaupun tanpa menggunakan riasan. Suara tawanya masih terngiang di telingaku. Dan beberapa waktu lalu, aku bertemu dengannya lagi secara kebetulan. Ku rasa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, ini sedikit aneh.”

“Apakah dia cinta pertamamu?”

“Begitulah. Aku selalu berharap bisa menikah dengan cinta pertamaku. Tapi sepertinya itu hanya menjadi harapanku saja. Karena dia sudah bersama orang lain. Dan ia tampak sangat bahagia. Meski begitu, kurasa aku tak bisa melupakannya begitu saja.” (red: KJ)

Lelaki di sampingku berhenti membaca halaman wawancara kami. Tangan kekarnya menggulung majalah terkenal itu untuk menepuk pundakku dengan lembut sebagai tanda keprihatinan. Ya, prihatin. Karena lebih dari sekedar simpati.

“Sayang sekali. Wajah tampanmu sama sekali tidak membantu hubungan asmaramu. Kau…menyedihkan, Kim Taehyung.”

Ia menyalakan radio mobilku. Mencari saluran favoritnya. Dan lagu itu mengalun lembut memenuhi ruang kecil di kuda besiku.

 

Please hurry, kill me and go.

I’m alright.

Look at me one last time,

Smile like nothing’s wrong.

So When I miss you I can remember.

So I can draw your face in my mind.

Ende.

A/N:

200% hasil delusi.

Gak tahu mau kasih judul apa. Sarannya Ming sih judulnya “Minah Sudah Menikah,” “Ternyata Istri Orang,” dan otak hinaku awalnya mau kasih judul “Dia Bukan Untukku” atau “Taehyung Ditakdirkan Jomblo.” Tapi aku kembali ke jalan yang benar dan lebih memilih “Stuck.” Sama kayak hati ini yang stuck di Bangtan. Iya, BANGTAN. Bukan MANTAN.

Eh iya, fic ini pernah aku publish di blog aku www.idorable.wordpress.com

XOXO<3

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF vignette/ STUCK/ BTS-BANGTAN

  1. Sedihhhh hwaaa ToT
    Bed Ini udah bagus.. ^^
    Alur ceritanya bagus juga^^
    Keep Writting and Fighting thour ‘-‘
    Kalo buat FF lagi mau dong thour jadi castnya ._. Namaku Park Yoon Ri ._. Pliseu ‘*’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s