FF/ TOMORROW/ BTS-BANGTAN/ pt. 4


Title : Tomorrow(Chapter 4)

Author : Elsa Kim -00-

Cast :

Kim Seok Jin

Kang Hye Ri(OC)

Min Yoon Gi

Han Jae Gil / (+) Song Mina (OC)

Choi Se Ra(OC)

Jung Ho Seok

Kim Ha Ni(OC)

Park Ji Min

Cha Eun Mi(OC)

(+) Jang Na Ra (OC)

Im Ji Hyun (OC – soon)

(+) Kim Tae Hyung

(+) Jeon Jung Kook

Jeon Jung Hee (OC – soon)

Kim Nam Joon

Support Cast : Min Ji Seok (Ceo Min Ji group/Yoongi father/Jin step-father), Han Jae Moo (Jae Gil father), Lisa Lang, Naomi Lang, Jung Hyo Jin(Ceo Ho Min group/Hoseok mother), Other coming soon.

Length : Chapter

Genre :NC, Sad, Romance, Drama, Friendship, Family, little bit Comedy.

Rating : PG 17

Tomorrow-poster-ch4

Warning! Mengandung unsur typo, kalimat berentet rentet, kalimat susah dimengerti, dan alur yang terkadang melenceng.

You never leave my mind, even when I have a million things to worry about.

_______________________________________________________________

Prev; Chapter

Yoongi mengetik sandi ponselnya, yoori14.Ternyata benar. Yoongi sendiri tidak tahu darimana ia bisa menebak sandi itu, gerak reflex tangannya yang melakukannya.

Yoongi mengecek pesannya, ia membuka salah satu pesan yang menampilkan nama yang tak asing untuknya, Kang Hye Ri.

Pesan tersebut berisi kalimat kalimat manis yang ia kirim untuk Hye Ri, “jadi Ri itu Hye Ri? Bukankah gadis yang bernama Hye Ri itu yang menabrakku?”Tanya Yoongi pada diri sendiri.

Yoongi memutuskan untuk menghubungi nomor Hye Ri, tersambung. Cukup lama untuk mengangkatnya, beberapa menit kemudian sebuah suara yang mengangkatnya.

“yoboseo?”

“ini aku, Yoongi. Apa kau mengenalku?”

 

4th Chapter!

Author PoV

Seorang gadis berambut coklat tengah mengelap meja café dengan malasnya, dia melirik teman lelakinya yang kini tengah sibuk menghitung uang dikasir.

“hey pirang, apa belum selsai menghitung?”

Yang ditanya hanya menatap gadis itu sekilas kemudian kembali menjalani aktivitasnya.Gadis itu mencibir pelan, pintu café itu terbuka dan mendapati seorang lelaki muda disana.

“maaf pelanggan, tapi kami sudah tutup”ucap lelaki pirang itu sedikit berteriak.

“benarkah? Ahh apa aku telat?”

Gadis itu melotot kearah lelaki pirang itu, kemudian dia tersenyum “ahh aniyo, pelanggan.Kau bisa pesan. Menu biasa kan?”

Lelaki itu mengangguk, dengan cepat gadis tinggi itu berlari kearah mesin kopi kemudian membuatkan menu biasa yang diminum oleh pelanggan itu.

Ya, hampir setiap hari pelanggan itu mampir ke kedai kopi tempat mereka berdua bekerja dan memesan menu yang sama. Gadis itu sangat senang dan bersemangat bila lelaki itu sudah datang tak peduli walaupun kedai kopi tempat ia bekerja sudah tutup atau belum.

Setelah selsai membuatkan Machitto kesukaan lelaki itu, gadis itu berlari kecil untuk mengantarkannya ke meja yang pelanggan itu tempati.

“gomawo-yo,”lelaki itu melirik nametag gadis itu kemudian tersenyum, “Jang Na Ra-ssi”lanjutnya.

Gadis bernama Na Ra itu tersenyum kikuk, baru pertama kali pelanggan itu menyebut namanya setelah berpuluh puluh bahkan beratus kali mereka bertemu“ahh itu bukan apa apa, kau kan pelanggan”

Dari arah kejauah teman pirangnya itu mengikuti omongan Na Ra dan lelaki itu seolah meledek dengan tampang sangat jelek.

Na Ra berjalan kecil ke tempat temannya berada lalu memperhatikan lelaki pelanggan itu dari jauh.Matanya tak pernah lepas dari lelaki itu“ahh sesange, apa dia malaikat turun dari surga?Kenapa dia begitu tampan?”

Teman pirangnya berdegik ngeri, “mwoya?Kau bilang seperti itu tampan? Cihh apaan”

“ahh dia benar benar style ku”

“stylemu seperti itu? ckck sangat tidak elit”

“memangnya stylemu seperti apa?!!”

“yahh kenapa kau berteriak? Styleku itu seperti Yuri SNSD”

“stylemu terlalu tinggi, pirang. Pantas saja kau tidak pernah memiliki pacar”

“biarin, daripada kau. lelaki itu terlihat lebih muda daripadamu. Kau seperti anak dan ibu jika berdekatan”lelaki itu kemudian pergi ke dapur meninggalkan Na Ra.

Na Ra mendelik kesal, “YAK KIM TAE HYUNG!!APA KATAMU?!!”teriak Na Ra pada Tae Hyung yang sudah hilang dibalik dinding.

Na Ra kembali melihat kearah lelaki pelanggannya itu tapi ia sudah tidak ada ditempat, Na Ra kaget dan langsung menghampiri meja lelaki itu. Hanya uang dan selembar kertas yang ditinggalkan oleh lelaki itu.

Senyuman terlukis dibibir Na Ra ketika menyadari didalam kertas tersebut terdapat gambar dirinya yang tengah membuat kopi untuk sang pelanggan.

“apa ini yang dinamakan surat cinta? Ahhh dunia benar benar indah”ucap Na Ra pada diri sendiri. Kini ia memeluk kertas yang ditinggalkan oleh sang pelanggan.

Na Ra memasukan kertas tersebut kedalam tasnya kemudian mengambil jaketnya untuk bersiap siap pulang. “yak pirang, mari kita pulang bersama”

“tunggu sebentar”suara Tae Hyung terdengar dari dalam.

Na Ra memakai jaketnya kemudian melihat arlojinya, sudah hampir jam 11 malam.Seharusnya ia sudah ada dirumah sekarang, tapi karena pelanggan itu, ia harus merelakan jam tidurnya. Tapi sebagai gantinya, ia mendapat sebuah surat yang ia percaya itu adalah sebuah surat cinta yang sebenarnya hanya gambar biasa.

“ayo”

Tae Hyung berjalan lebih dulu keluar sementara Na Ra mematikan lampu dan memastikan semuanya sudah terkunci.

“yak Kim Tae Hyung, apa kau tahu apa yang terjadi disana? Kemarin banyak sekali wartawan”

Tae Hyung menaikan bahunya, “tidak tahu, katanya sih ada perampokan bank.”

“itu namanya kau tahu, bodoh”cibir Na Ra. Na Ra bingung kemudian dia menatap Tae Hyung, “kau tidak membawa sepeda motor bututmu itu?”

“maksudmuJackie? Dia berada dibengkel, rantainya copot lagi”

“aishh bus terakhir sudah berangat 10 menit yang lalu, bagaimana kita akan pulang?”

“jalan saja”ucap Tae Hyung santai.

Na Ra mendelik kemudian melipat tangannya didepan dada, “aku tidak mau jalan, tidak akan pernah”

Tae Hyung kemudian berjalan santai meninggalkan Na Ra, Na Ra bingung lalu berteriak. “yak pirang! Kau mau kemana?!”

Tae Hyung berbalik lalu menatap Na Ra malas, “kau bilang tidak akan pulang, yasudah aku pulang sendiri”kemudian dia kembali jalan.

“asihh benar benar tidak pengertian, bagaimana bisa seorang namja seperti itu? YAK KIM TAE HYUNG, MARI PERGI BERSAMA”

…………..

Sepanjang perjalanan Na Ra tidak berhenti berhentinya mengoceh dan mengomeli Tae Hyung, karena lelaki berambut pirang itu tidak membawa sepeda motornya.Yaa walaupun harus diakui Na Ra sangat benci dengan sepeda motor Tae Hyung yang sering mogok ditengah jalan, tapi itu lebih baik daripada berjalan.

Ddrrtt,, ddrrt,,

Na Ra menghentikan langkah Tae Hyung menggunakan tangan kanannya seolah tangan kanannya adalah sebuah portal untuk Tae Hyung.

Lagi-lagi Tae Hyung hanya bisa mendengus melihat kelakuan temannya yang dimatanya seperti detektif abal abal yang gagal tayang.

Ddrrtt,, drrttt,,

Suara getaran itu semakin jelas seiring mendekatnya Na Ra pada sebuah semak dekat gudang tua.Ternyata Na Ra menemukan sebuah ponsel dibalik semak tersebut.

Na Ra menatap Tae Hyung sekilas sebelum akhirnya ia mengangkat telfon tersebut.

“yoboseo?”

“ini aku, Yoongi. Apa kau mengenalku?”

Na Ra menjauhkan ponsel tersebut dari gendang telinganya, ia menatap Tae Hyung yang menaikan bahunya seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan, tepatnya tidak peduli.

Na Ra berdehem kemudian mendekatkan ponsel itu kembali ke telinganya, “maaf, saya menemukan ponsel ini dibalik semak. Dan saya tidak tahu siapa itu Yoongi”

Tawa Tae Hyung hampir menyembur keluar mendengar bahasa yang digunakan temannya itu benar benar kaku, lagipula mana mungkin Na Ra mengenalnya karena itu bukan ponsel miliknya melainkan ponsel milik orang lain yang ia temukan di semak semak. Kalau saja Na Ra tidak melotot kearah Tae Hyung pasti tawa Tae Hyung sudah meledak ledak sekarang.

“ahh begitu ya, tadi kau bilang menemukannya dimana?”

“disemak semak dekat salah satu gudang tua di kota Daejoon”

“bisa kita bertemu? Aktifkan gps handphone itu dan mari kita bertemu besok lusa jam 3 sore digudang tua tersebut”

“ahh baiklah”

Na Ra menatap ponsel putih yang bukan miliknya itu, tertara panggilan dari Yoongi oppa disana.

Na Ra melirik Tae Hyung yang sedaritadi memperhatikannya, “mwo?Apa yang kau lihat?”

“bukan apa-apa, ayo pulang”

***

“oppa, aku kangen Naomi”

Jin yang tengah menyisir rambut adiknya itu berhenti sejenak, “ahh Naomi sedang dalam masa pencarian jadi kau tidak perlu khawatir”bohong Jin.sebenarnya Jin sama sekali belum melaporkan hilangnya Naomi pada polisi dikarenakan keterbatasan waktunya.

“ahh apa Se Ra belum pulang? Ini sudah hampir jam 1pagi”

Lisa mencibir Jin pelan yang disambut senyuman tipis Jin, “tidurlah, besok kau harus sekolah”Jin mengecup kening Lisa lalu keluar dari kamar adiknya itu.

Baru saja Jin mau keluar untuk mencari Se Ra, ia merasakan sesuatu bergerak dari celah pintu kamarnya. Ternyata Hye Ri masih terjaga, gadis itu kini tengah menggenggam liontinnya.

Jin melupakan niatnya untuk mencari Se Ra, ia mengetuk pintu kemudian masuk menghampiri Hye Ri yang tengah menatap langit dari jendelanya.

Hye Ri terkejut dengan kedatangan Jin yang tiba tiba, Jin hanya tersenyum tipis “apa kau terlalu serius hingga akhirnya tidak menyadari aku mengetuk pintu tadi? Apa yang sedang kau lakukan?”

“ahh bukan apa apa, aku hanya sedang melihat langit”

“mau kesuatu tempat?”

“ne?”

“kurasa kau harus melatih kakimu untuk bergerak dan juga sepertinya kau sedang banyak masalah. Aku akan jamin kau pasti menyukainya”

“ahh baiklah”

Jin tersenyum simpul kemudian mengambil jaket tebal yang ada dibalik pintu untuknya dan Hye Ri karena tidak mungkin untuk keluar begitu saja tanpa menggunakan jaket. Terlebih malam suhu kota Daegu sangat rendah.

Jin mengajak Hye Ri kesuatu tempat dimana ia bisa melihat keseluruhan kota Daegu, “woahh benar benar indah”Hye Ri tersenyum lebar melihat lampu lampu yang terlihat seperti bintang baginya.

Sekarang, Hye Ri dan Jin tengah berada salah satu bukit dikawasan Daegu. Hye Ri merebahkan tubuhnya diantara rumput rumput lalu memandang langit yang dipenuhi bintang.

Tanpa Jin sadari ia juga ikut berbaring disamping Hye Ri lalu menatap wajah gadis itu yang tengah tersenyum.

“woahh kurasa aku bisa menyentuh langit sekarang”Hye Ri menaikan tangannya seolah benar benar menyentuh langit.

“cantik”

Hye Ri mengalihkan pandangannya pada wajah Jin yang sangat dekat dari wajahnya. “cantik?”

“hmm, langitnya begitu cantik”

“ahh kukira apa”

“memangnya kau kira apa?”Jin tersenyum jahil yang dibalas dengusan pelan dari Hye Ri. Hye Ri tersenyum lebar, baru kali ini ia merasa benar benar hidup setelah insiden menyakitkannya dengan Yoongi.

“teruslah seperti ini, Kang Hye Ri. Jika kau ingin menangis menangislah, jika ingin tertawa tertawalah. Jangan keras kepala untuk memendam itu semua, karena sekuat apapun perasaanmu kau butuh yang namanya tempat untuk bersandar”

Hye Ri tertegun mendengar ucapan Jin, entah kenapa ucapan lelaki itu membuat sesuatu dari dalam dirinyabergetar. Terlalu menyentuh, mungkinkah?

Hye Ri menggeleng pelan kemudian kembali tersenyum, “gomawo”

“untuk apa?”

“untuk semuanya, kau membuatku merasa lebih baik. Entah kenapa aku berfikir kau mirip seperti seseorang”

“siapa?”

“ahh bukan siapa siapa”

Jin berfikir sejenak, apa dia berfikir tentang Yoongi lagi? Tanyanya pada diri sendiri.

Hye Ri bangun dari tidurnya kemudian menatap Jin sambil tersenyum, “kurasa aku sudah baikan sekarang, ayo pulang”

***

Nam Joon baru tiba di kantor polisi, ia langsung mencari sosok Eun Mi dimejanya.

“ahh sunbae-nim, kau sudah sampai?”

“katakan kasus apa?”Tanya Nam Joon tak sabaran.

Eun Mi menghela nafas, “ini tentang perampokan bank seminggu yang lalu. Aku benar benar tidak tahu bagaimana cara mencarinya, aku sudah mengecek seluruh cctv yang berada dibank tapi semuanya mati”

“bukankah disamping bank ada kedai kopi? Setiap toko pasti memasang cctv, kenapa tidak mencoba mencari disana?”

“ahh itu, aku belum mengeceknya. Heheh, sunbae benar benar luar biasa jenius. Aku tidak sempat memikirkannya”

Nam Joon menatap Eun Mi sambil geleng geleng kepala, “kau begitu saja tidak tahu? Kau seharusnya lebih memperhatikan”

“baiklah mulai sekarang aku akan belajar lebih giat”

“mengenai kedai kopi itu, jam berapa mereka buka dan tutup?”

“itu aku belum memeriksanya, akan kuperiksa dan kuserahkan semua informasi yang kudapat padamu, sunbae”

“baiklah, kurasa cukup. Aku akan pulang sekarang”

Eun Mi memberi salam pada Nam Joon sebelum akhirnya ia pergi. Eun Mi mendengus lalu memukul kepalanya, ia tidak memikirkan hal itu yang membuat dirinya kelihatan bodoh.

Ji Min yang baru sampai dengan santai berjalan menuju Eun Mi sambil memakan kue ikan yang baru saja ia beli didepan kantor.

“yak, apa kau baru saja bertemu Nam Joon sunbae? Tadi kulihat ia baru keluar dari kantor”

Eun Mi menatap Ji Min malas, ia sedang tidak ada mood berkelahi dengan Ji Min sekarang. “jangan bilang, kau tidak menyerahkan kasus perampokan bank itu pada Nam Joon sunbae kan?”

“bingo, aku menyerahkannya. Wae?Wae?Wae?”

Ji Min terdiam.Dia mengambil nafas panjang lalu berteriak, “YAAKK CHA EUN MI!!!KAU MAU MATI, HUH??!!”

***

Se Ra mengelap cangkir wine dengan serbetnya, dia melirik jam sudah hampir jam setengah 3 pagi. Kenapa Jin belum menjemputnya juga?Tidak seperti biasanya.

Seorang lelaki memasuki bar tersebut, dia duduk kemudian menatap Se Ra. “aku pesan apapun yang bisa membuatku mabuk sampai mati”

Se Ra mendesah panjang, padahal sebentar lagi dia baru akan menutup bar dan pulang. Jika saja lelaki itu tidak datang pasti Se Ra sudah tidur sekarang.

Se Ra membuat semua minuman yang ada didaftar menu dan semuanya diteguk habis oleh lelaki itu, bahkan lelaki itu melakukan hampir 2 kali putaran.

Sekarang lelaki didepannya benar benar sudah mabuk.Ponsel lelaki itu berdering, tadinya Se Ra akan mengabaikannya tapi mendengar ponsel itu berdering berkali kali dan itu sangat mengganggunya kemudian ia mengambil ponsel tersebut dari saku lelaki itu dan mengangkatnya.

“yak Jung Hoseok! Kau diamana?Aku menghubungimu berkali kali tapi tidak diangkat, selama beberapa hari ini kau menghilang, kau juga tidak memberi kabar. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, huh?!!”

Se Ra menjauhkan ponselnya dari telinganya kemudian membaca siapa yang menelfon lelaki itu.tertara nama Han Jae Gil disana. “hey, kau masih disana?”

“ahh joseunghamnida, teman anda sedang dalam keadaan mabuk sekarang. Aku mengangkat telfonnya karena merasa ini penting dan kau terus menelfonnya berkali kali”

“kau bilang dia mabuk? Dia ada dimana sekarang? Ahh baiklah aku akan segera kesana”

Se Ra meletakan ponsel lelaki tersebut diatas meja.Baru saja Se Ra hendak kembali ketempatnya, ia berhenti ketika merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya. “kajima”lirihnya.

Se Ra secara perlahan melepaskan tangan lelaki itu agar tidak membangunkannya.Lagi-lagi Hoseok terus bergumam yang membuat Se Ra bingung harus bagaimana.

Melihat lelaki didepannya -saat ini- begitu menyedihkan, Se Ra akhirnya duduk disamping Hoseok dan membiarkan lelaki itu menggenggam pergelangan tangannya erat.

“eomma”erang Hoseok. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Se Ra yang membuat buku kukunya sedikit memutihdan membuat gadis itu sedikit meringis karena genggaman tangan Hoseok terlalu kencang.

Se Ra sangat terkejut ketika tangannya ditarik oleh Hoseok yang membuatnya jatuh kedalam dekapan lelaki tersebut, tanpa sengaja ia bisa merasakan bibir lelaki itu berada diatas permukaan pipinya, ia juga bisa mencium aroma parfum lelaki itu. ugh sial, umpat Se Ra dalam hati.

Dengan agak memaksa Se Ra bangkit kemudian menyingkirkan tangan Hoseok dari pergelangan tangannya,“dasar ahjusshi gila, sudah bagus aku membiarkannya tadi”Se Ra menyilangkan tangannya didepan dada, memeluk dirinya sendiri seolah takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padanya.

Kaki Hoseok melingkari salah satu kaki Se Ra, Hoseok sendiri tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Se Ra melotot lalu menendang Hoseok cukup kencang sehingga tubuh Hoseok terjungkal dari sofa sementara dirinya sendiri terhuyung kebelakang saking kencangnya.

Dengan sekuat tenaga Hoseok bangkit lalu menatap Se Ra yang tengah menatapnya takut, semakin lama langkahnya semakin mendekat.Tanpa Se Ra sadari punggungnya sudah menyentuh tembok yang membuatnya sudah tidak bisa bergerak mundur lagi.

Hoseok merentangkan kedua tangannya didinding, membuat tubuh Se Ra seolah terperangkap olehnya.Hoseok menatap Se Ra tajam yang membuat yang ditatap mulai risih.“w-wae? Kenapa menatapku seperti itu?ahjushhi, aku tau aku cantik tapi aku sudah ada yang punya”

Hoseok tidak menjawab, ia masih diam. Se Ra merutuki dirinya sendiri yang membuat lelaki didepannya itu minum sangat banyak. Detik kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya.

Cukup lama mencerna apa yang terjadi padanya, otaknya tidak bisa berjalan dengan baik. Degup jantungnya tidak stabil dan bisa meledak kapan saja.

Ciuman yang awalnya ringan menjadi lumatan lumatan kecil, tapi itu lama karena Hoseok benar benar sudah mabuk.Diukulumnya bibir Se Ra dengan ganas sementara tangannya menahan tangan Se Ra yang terus saja memberontak, mendorong, bahkan memukul tubuh Hoseok.

Tapi itu seperti sebuah anginkecil bagi Hoseok, ia tidak memperdulikan Se Ra yang terus memberontak agar dilepaskan. Tangannya bahkan sudah berani masuk kedalam kaos Se Ra. Ia mengelus perut rata SeRa yang membuat sekujur tubuh gadis itu menegang.

Se Ra sangat ketakutan, saat ini hanya kakinya saja yang terbebas.Dengan cepat Se Ra langsung menaikan sebelah kakinya, membuat lututnya menghantam keras bagian intim Hoseok yang membuat lelaki itu memegangi daerah sensitifnya karena merasa ngilu dan membuatnya pingsan seketika.

Se Ra menyilangkan tangannya didadanya, ia menjambak rambutnya sendiri “tidak mungkin, ini pasti mimpi. Ayo bangun”Se Ra memukul pipinya sendiri, saat tangannya menyentuh pipinya entah kenapa ia merasakan pipinya sangat panas.

“aishh kenapa aku masih bisa merasakan hembusan nafasnya”Se Ra memukul pipinya lagi.

“t-tidak tidak, tidak mungkin. Yang boleh menyentuhku hanya Jin oppa, dasar ahjusshi gila”Se Ra kembali menendang pelan tubuh Hoseok yang terkapar dilantai.

Tak lama setelah -insiden- itu Jae Gil masuk kedalam bar itu, dia melirik Hoseok yang -menurutnya- sedang tertidur dilantai.

Jae Gil langsung menghampiri tubuh sahabatnya itu kemudian menggopohnya keluar bar. Sementara Se Ra masih frustasi dengan apa yang terjadi.

Mata Se Ra tertuju pada sebuah ponsel hitam milik Hoseok, dia menoleh kearah pintu bar “yak tunggu, ponselnya ketinggalan”

Se Ra berlari keluar bar, ia tidak bisa menemukan Hoseok maupun Jae Gil disana. Lagi-lagi ia merutuki nasib sialnya. “apa yang harus kulakukan?”

***

pagi pagi sekali Naomi sudah selesai mandi, dia menggedor gedor kamar Eun Mi yang tadinya dilanda keheningan.

Karena tidak mendapat respon Naomi langsung masuk kedalam dan mendapati Eun Mi tengah tertidur pulas sambil menutup kedua gendang telinganya dengan earphone milknya.

Naomi naik keatas kasur lalu loncat loncat diatasnya yang membuat Eun Mi mau tidak mau harus bangun karena merasa tubuhnya seperti terbang, “asishh bisakah biarkan aku tidur saja sebentar? Aku sangat lelah”

“eonni, kau sudah janji mau-”

“mengenalkanmu pada Ji Min? iya iya baiklah aku akan mengenalkannya tapi tidak sekarang”potong Eun Mi cepat.

Naomi tersenyum lebar, “jadi namanya Ji Min, Ji Min oppa”gumam Naomi.

Naomi kembali melirik kearah Eun Mi yang baru saja akan memasuki alam mimpinya, “eonni aku mau sekarang, jam 10 terlalu lama dan terlalu malam”rengek Naomi sambil menarik selimut yang Eun Mi pakai.

“aishh baiklah, beri aku 10 menit lagi untuk tidur. Mataku benar benar sangat berat untuk dibuka”

“shireo! Aku mau sekarang”

“kalo begitu 5 menit, ya 5 menit”

Naomi mendengus melihat respon yang diajukan Eun Mi. tiba-tiba sebuah ide muncul dibenaknya. Naomi berjalan kearah dapur untuk mengambil beberapa tutup panci, setelah mendapatkannya ia kembali ke kamar Eun Mi.

“kebakaran!! Eonni kebakaran, bagian ‘itu’mu terbakar!!(?)”Naomi berteriak sambil membenturkan kedua tutup panci itu, membuat suara nyaring agar Eun Mi terbangun.

Eun Mi langsung duduk, “MANA MANA?? ANGKAT CUCIAN!!”

Tawa Naomi seketika pecah, Eun Mi yang sadar dirinya dibodohi langsung berteriak.“YAKKK!!”

“ini sudah lebih dari 5 menit”ucap Naomi datar.

Eun Mi mendecakan lidahnya lalu mengambil ponselnya.

“Park Ji Min, ini aku. Kau tahu anak kecil yang bersamaku ditoko sashimi itu?Dia ingin bertemu denganmu jam 10 malam. Kututup.”

Belum Ji Min membalas perkataan Eun Mi, ia langsung menutup telfonnya. “puas? Sekarang biarkan aku tidur, pertemuanmu sudah kuatur jam 10 malam”

Ponsel Eun Mi berdering lagi, siapa lagi jika bukan Ji Min yang ingin meminta penjelasan apa maksud dari semua yang dikatakannya.

Eun Mi mengangkatnya, “aishh mwo?”

“yak, belum aku merespon kau sudah menutup”

“aishh molla, aku butuh tidur dan jangan hubungi aku dulu”

Eun Mi memutuskan panggilannya, belum sedetik setelah panggilan itu ponsel Eun Mi berdering lagi.

“AISHH SUDAH KUBILANG JANGAN MENELFON!!”bentak Eun Mi cukup keras.

“YAK KAU BILANG JANGAN MENELFON??!”bentak dari sebrang tak kalah keras.

Eun Mi kaget, suara itu bukanlah suara Ji Min. Eun Mi melihat kearah ponselnya, “aishh mati aku”gumam Eun Mi sambil memukul kepalanya.

“YAK CHA EUN MI!! KAU MAU MATI, HUH?”

“ahh inspektur, aku-”

“KAU BENAR BENAR ANAK TENGIK, KAU MAU DIPECAT?”

“ahh, bukan begitu, Inspektur.Kau salah faham, ahh ani ani. Kubilang kau salah faham, insperktur! Jangan, jangan lakukan itu, aishh kau salah sangka….”

***

Hoseok PoV

Aku merasakan silau yang teramat saat kubuka kedua kelopak mataku.Rasa mual mulai kurasakan ditambah pusing yang menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepalaku.

Aku baru menyadari kalau aku bukan berada dirumahku ataupun dibar, sebuah ruangan yang sangat familiar bagiku. Tunggu, bukannya ini..

“kau sudah bangun? Ck, kenapa kau minum sangat banyak?”

Tidak salah lagi, itu suara Jae Gil.Kulirik kearahnya lalu kembali menaikan selimut yang kugunakan untuk tidur kembali.

Dengan cepat Jae Gil menarik selimutku lalu memukuliku, “akk appo apppo, aishh mwo?”erangku.

Jae Gil berhenti memukuliku lalu menatapku intens, “neo, kenapa kau menghindariku akhir akhir ini? Kau bahkan tidak mengangkat telfonmu”

Aku mendecakan lidahku, bukannya aku menghindarinya tapi akhir akhir ini aku sedang banyak masalah.Kau saja yang terlalu bodoh dan tidak peka.

“tidak, aku tidak menghindarimu”bohongku, Jae Gil kembali memukulku. Ck, pukulannya benar benar menyengat sampai ketulang.

“ahh berhenti, baiklah baiklah aku akan mengaku. Tapi hentikan dulu pukulanmu”

Jae Gil menghentikan pukulannya padaku lalu menatapku datar, kenapa dia benar benar menyusahkan?Aku menghela nafas panjang, “sebenarnya, ini benar benar sebenarnya. Aku tidak apa apa, hanya saja terlalu malas untuk bertemu dengan manusia”

“jika kau malas bertemu dengan manusia sana temui Tae Gong Shil(*nama pemeran utama di drama master sun) dan minta padanya untuk mempertemukanmu pada setan”

“kau benar benar, yak kau fikir Tae Gong Shil bukan manusia?Sudah kubilang aku tidak ingin bertemu manusia.Udahlah, berbicara denganmu membuatku tambah pusing”ucapku seraya bangkit menuju kamar mandi rumahnya.

Samar samar aku bisa mendengar suara Jae Gil menggerutu, “aishh ngomong apa sih dia, kenapa tidak nyambung begitu”dengusnya.

Aku langsung masuk kedalam kamar mandi, tidak peduli dengan ocehannya.Saat kubuka resleting celanaku, aku merasakan ngilu pada bagian intimku.Ditambah saat aku mengeluarkan cairan dari dalamnya, rasa ngilu bercampur sakit itu semakin terasa.

Apa sesuatu terjadi padaku?

Yang kuingat hanya aku sedang berada di bar dan, tunggu..sekilas aku mendengar sebuah suara.

“…., dasar ahjusshi gila”

Ahjusshi?Siapa itu ahjusshi?Kenapa gadis bartender itu memanggil ahjusshi?

Kurasa kemarin hanya tinggal aku yang ada di bar, ahh tidak tahu lah. Aku melirik jam tanganku, menunjukan pukul 9 pagi. Sial aku bisa telat, eomeoni pasti sudah menungguku.

Aku langsung mengambil jaketku dan langsung keluar tampa pamit pada Jae Gil. Aku yakin saat ia menyadari aku sudah pergi tanpa pamit pasti dia akan mengomel. Itu tidak masalah sekarang, aku benar benar akan telat jika aku menunggu terlalu lama.

***

Se Ra PoV

Aku benar benar tidak habis fikir dengan jalan fikiran Jin oppa, kenapa dia sangat perhatian pada Hye Ri dibandingkan denganku? ahh payah, Choi Se Ra, kau benar benar payah.

Badanku serasa panas seperti terbakar ketika melihat pemanadangan Jin oppa yang sedang membantu Hye Ri untuk menyuci piring kotor yang menumpuk. Walaupun hanya menyuci piring bersama, tapi kulit mereka beberapa kali melakukan contact yang sangat membuatku sebal.

Dan yang masih menjadi pertanyaan besar diotakku, apa Jin oppa masih sayang terhadap adiknya? Kenapa sampai sekarang ia masih belum juga menemukan Naomi?

Akhh kenapa akhir akhir ini aku sangat banyak fikiran dan gampang emosi? Kurasa waktu menstruasiku sudah lewat, apa ada yang salah denganku?apa karerna insiden kemarin? Ahh tidak tidak, meningat insiden kemarin lagi membuatku benar benar seperti orang gila.

Sepanjang malam aku tidak bisa melupakan insiden mengerikan itu, ya, aku tidak tidur lebih dari 2 jam semalam. Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman yang kutemukan dalam diriku.

Ahh tidak tahu.Aku benar benar pusing sampai kepalaku bisa meledak. Kuputuskan untuk menyempil diantara Jin oppa dan Hye Ri. Kurangkul lengan Jin oppa lalu menyender manja padanya.

“oppa, belikan aku es krim”ucapku manja.

Jin oppa menatap sekilas kearah Hye Ri yang tersenyum tipis, lagi-lagi Hye Ri. “aku harus beres beres rumah dengan Hye Ri, kau pergi bersama Lisa saja”

“denganku? tapi kapan aku bilang-”

Walaupun aku tidak yakin, aku bisa melihat Jin oppa menggenggam lengan Hye Ri yang membuatnya langsung terdiam.

Aishh benar benar menyebalkan, “oppa, Lisa belum pulang dari sekolah jam segini.Ayolah, kumohon”aku memasang puppy eyesku sambil merajuk.

“ahh aku-. Nah itu Lisa, kau pergi bersamanya ya”

Ahh Lisa bodoh, kenapa harus sudah pulang jam segini? Jika dia belum pulang pasti aku sudah ada kencan buta dengan Jin oppa, benar benar menyebalkan.

Kutatap Lisa yang sedang memasang tampan poker face-nya seolah tidak tahu apa-apa, dasar tidak peka.

“Lisa, Se Ra ingin mengajakmu untuk makan ice cream. Ikutlah bersamanya”

“jinjja? Tumben sekali ahjuma baik padaku”

“tumben? Yahh kenapa aku tidak baik padamu? Kau kan calon adik iparku”

Lisa mendellik kesal, “yang pantas itu kau menjadi haramoniku bukan kakak iparku”

Haramoni?Dia bilang haramoni?Aishh benar benar bocah tengik, “apa katamu? Yak kesini kau”aku langsung menghampirinya untuk memberikan beberapa jitakan padanya. Dasar anak gila.

***

Yoongi menatap sekumpulan orang orang kalangan atas yang tengah bercengkrama ria tak lupa dengan tangan mereka yang memegang gelas wine.

Ya, Yoongi sedang hadir pada pesta yang diselenggarakan beberapa perusahaan ternama termaksud perusahaan ayahnya.Tadinya dia tidak ingin hadir, tapi Seketaris Kim bilang bahwa bahwa ini ada kaitannya dengan Ho Min group.Akhirnya Yoongi memilih ikut karena Ho Min group merupakan partner perusahaan ayahnya.

Yoongi berjalan menujuPantry untuk mengambil beberapa gelas wine guna menjernihkan fikirannya. Saat lelaki itu berbalik untuk kembali ketempatnya, ia menabrak seorang perempuan yang sepertinya ingin mengambil beberapa minuman juga. Dengan terpaksa wine tersebut sedikit menyipratkearah gaun gadis itu.

“joesunghaeyo, aku tidak sengaja”

“apa kau tidak punya mata?!”

Yoongi menatap gadis itu bingung, bukankah dia sudah meminta maaf?Kenapa dia jadi marah marah.

“sepertinya kau yang tidak punya mata, nona. Maksudku sepertinya kedua matamu itu hanya pajangan,kau tidak melihat aku memiliki mata?”

“mwo?”

Yoongi menghela nafas malas, “sudah selsai kan? Aku pergi”

Gadis itu mendengus kesal, “kau, berhenti disana!”ucap gadis itu sedikit kencang. Yoongi menghentikan langkahnya sementara gadis itu dengan kesusahan berjalan mengejar Yoongi. Sulit untuknya mengimbangi langkahnya karena ia tidak terbiasa dengan heels.

“setidaknya kau minta maaf atau apalah. Hanya itu reaksimu?”

Yoongi tertawa renyah lalu sedikit mendekatkan kepalanya kearah kepala gadis itu, “ternyata selain mata, telingamu juga yang menjadi pajangan. Aku sudah mengatakannya tadi, jika kau tidak percaya”Yoongi berhenti sejenak, ia menunjuk cctv yang berada di langit langit ruangan itu. “kau bisa melihatnya disana.”

Yoongi mendengus remeh lalu pergi meninggalkan gadis itu yang amarahnya memuncak.Dia menghela nafas, “bagaimana bisa ada seorang pria seperti itu?benar, ayah dan anak tidak akan jauh berbeda”sinis gadis itu.

Dia berjalan kearah kerumunan, “Song Mina-ssi?”merasa namanya disebut, gadis itu menoleh kearah sumber suara. Siapa lagi, Min Ji Seok.Dengan wajah tersenyum yang dibuat buat, gadis itu menghampiri Ji Seok.

“ahh heuijangnim. Ada yang bisa kubantu?”

“ani, aku hanya ingin berbicara lebih dekat pada anda. apa anda bersedia?”

“ahh tentu saja, siapa yang tidak ingin berbicara pada anda. anda adalah seorang pengusaha besar, suatu kehormatan untuk saya berbincang dengan anda”lagi lagi akting gadis itu benar benar sangat hebat. Dia mengelabui musuh dengan kemampua aktingnya.

“tentang itu. bagaimana bisa kau bertemu dengan Han Jae Moo? Apa kalian kenal sebelumnya?”

Mina tersenyum, “ahh maksud heuijangnim Han ahjusshi?Aku tak sengaja bertemu dengannya saat beliau sedang terluka.Saya prihatin dan membantunya memulihkan luka dibagian kakinya. Dan beliau bilang, dia ingin membalas budi padaku”

“jadi seperti itu?”

“ne. memangnya ada masalah apa?”

“tidak ada, tidak ada apa apa. Oh, Yoongi! Kesini sebentar”

Merasa dipanggil, Yoongi menghampiri ayahnya untuk mendengarkan apa yang akan dikatakannya. “kenalkan ini Yoongi, Yoongi kenalkan ini Mina. Mulai sekarang, dia akan bekerja menjadi direktur di Min Ji”

Yoongi menoleh keorang yang dimaksud oleh ayahnya, ekspresinya datar memperhatikan gadis itu lamat. “berhenti menatapnya seperti itu, dia cantik kan?”

“abeoji, apa kau tahu pepatahdiluarnya cantik tapi siapa tahu didalamnya busuk? Ini aneh, sepertinya situasinya sangat pas”

Mina mengepalkan tangannya kuat, menahan emosi yang sedari tadi tertahan olehnya. Sebisa mungkin ia memasang ekspresi tersenyum, tapi sepertinya sedikit gagal.

Yoongi terus menatap Mina, sementara gadis itu menatap kearah lain. Tatapan dinginnya seolah menusuk, membuat gadis itu merasakan hawa dingin tiba tiba menyelimutinya.

Tapi itu tidak lama karena Jung Hyo Jin, Ceo Ho Min group membuka suaranya, membuat Mina sedikit lega karena tatapan Yoongi kini terlaih pada ceo ho min group itu“bisa aku minta perhatiannya sebentar?”

Semula yang tadinya ramai mendadak sepi. “terimakasih. Pertama tama, aku ingin meluruskan berita negatif yang sedang tersebar tentang anak saya. Saya minta maaf, mulai sekarang. Saya akan memperkenalkan kalian semua pada anakku, Jung Ho Seok”seketika Ho Seok keluar dari balik pintu.

Mata Mina melebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Bukankah itu Hoseok?Jadi dia… tepat saat itu juga, mata mereka bertemu.Hoseok terkejut dengan penampilan temannya itu yang sangat berbeda.

Ibunya menyenggol lengan kanan Hoseok membuat lelaki itu melepaskan eye contact-nya dengan Mina.Hoseok berdehem lalu mendekatkan bibirnya ke mic.

“annyeonghaseyo, Jung Hoseok imnida. Mulai sekarang, aku akan bekerja di Ho Min. mohon bantuannya”Hoseok sedikit menundukan badannya.Kasak kusuk mulai terdengar, Hoseok kembali menatap temannya itu dengan tajam.

***

Mina menarik lengan Hoseok untuk mengikutinya keluar gedung, setelah sampai ditempat parkiran yang sangat sepi itu Mina melepas tautan tangan mereka.

“jelaskan padaku sekarang juga”sinis Hoseok.

“aku tidak akan menjelaskannya”

“yak Han Jae Gil!”

“mian, aku bukan Jae Gil Hoseok-ssi. Aku Mina, Song Mina”

“jelaskan sekarang juga!”

Mina berbalik menatap Hoseok, tatapannya lebih tajam dan dingin dibandingkan tatapan Hoseok. “apa yang membuat anak dari perusahaan Ho Min begitu ingin mengetahui urusan perempuan biasa seperti saya?”

Hoseok terdiam. Dia tahu maksud Mina, dia menghela nafas.“mian. Aku tidak memberi tahumu jika-”

“jika apa?!! Kau menyuruhku untuk menjelaskan semuanya, kau harusnya yang menjelaskan semuanya, Jung Hoseok!!”pekik Mina keras.

“Jae Gil-ah, aku salah. Aku minta maaf”

“SUDAH KUBILANG SEKARANG AKU MINA, BRENGSEK. Kau sendiri yang bilang bahwa selama kita berteman tidak ada satupun rahasia diantara kita, kenapa kau merahasiakan latar belakangmu sendiri?Kenapa kau tidak memberitahuku?Apa ini alasannya kau selalu marah ketika aku bertanya tentang orangtuamu dan dimana rumahmu?”

Hoseok menunduk, dia benar benar menyesal. Sekarang mungkin dia kehilangan sahabatnya itu, ia tidak ingin itu terjadi.

“mianhae”

“aku tidak butuh maaf darimu, Jung Hoseok! Yang kuperlu penjelasan darimu!!”teriak Mina.

Hoseok mengangkat kepalanya, “akan kujelaskan nanti sehabis pesta usai.Kau juga harus menjelaskan padaku kenapa kau bisa berada disini, oke?”

***

“kau mau kemana?”

Jin menyunggingkan senyumnya, dia mengeratkan jaket yang ia gunakan. “aku akan kesuatu tempat. Aku akan segera pulang”

“ahh geurae, pergilah. Berhati-hati, Jin-ssi”

Jin kembali tersenyum, baru selangkah ia meninggalkan pintu rumah ia kembali berbalik, menyadari ada sesuatu yang salah.

“mulai sekarang panggil aku oppa. Aku lebih tua 3 tahun darimu”

“ahh baiklah, oppa”

Jin mengacak pelan rambut Hye Ri, “aku pergi”

Jin pergi ke kantor polisi, apalagi jika tidak untuk mencari keberadaan Naomi.Ia melirik jam tangannya, pukul 9 malam. Telinganya menangkap sebuah suara tidak jauh dari tempatnya berada.

“aishh eonni, menyebalkan. Telfon saja dia sekarang”

“bisa diam tidak? Dia hanya ada free time lewat jam 10, kau tahu”

“ahh aku tidak peduli, telfon sekarang”

Tidak salah lagi.Itu suara Naomi.Ia menoleh dan mendapati Naomi tengah bersama seorang gadis sambil merengek rengek manja.

“Naomi!”panggil Jin.

Naomi menoleh kesumber suara, “oppa!!”

Jin langsung memeluk Naomi, ia melepasnya lalu menatapnya khawatir. “kau kemana? Kenapa tidak pulang?”

Naomi nyengir lebar, “eheheh, aku terlalu sibuk bermain dengan Eun Mi eonni”

Jin melirik kearah Eun Mi yang ikut tersenyum canggung, Jin berdiri dari jongkoknya kemudain memegang tangan Naomi erat. “gamsahamnida. Maaf jika adikku merepotkanmu, aku akan membawanya pulang sekarang. Terimakasih untuk merawatnya”

“shireo! Aku tidak akan pulang, aku masih mau dengan Eun Mi eonni”

Jin menggeleng pelan, “aniyo, kau sudah terlalu merepotkannya. Kau tidak bisa seperti ini, ayok pulang”

“ahh shireo!”rengek Naomi.

Eun Mi tersenyum tipis, “gwenchana-yo, aku masih ada beberapa hal yang harus kuselsaikan dengan Naomi.Aku akan mengembalikannya saat sudah selsai, bisa kuminta nomor ponselmu?”

“tapi-”

“oppa, eonni tidak apa apa. Dia benar benar bersikap baik padaku, jebal”

Jin menghela nafas, ia mengeluarkan ponselnya dari sakunya lalu memberikannya pada Eun Mi. Eun Mi menelfon ponselnya sendiri kemudian menyerahkan ponsel milik Jin pada pemiliknya.

“bersikaplah baik padanya, jangan nakal dan berulah. Apa kau mengerti?”

Naomi nyengir lalu memberi hormat, “siap laksanakan!”Jin tersenyum tipis lalu mencubit pelan pipi Naomi.Ia beralih menatap Eun Mi, “maaf untuk semua ini, tapi tolong kuminta padamu. Jaga Naomi dengan baik”

Eun Mi mengangguk, “ahh namaku Eun Mi, Cha Eun Mi”

“ahh Eun Mi-ssi, kuharap kau bisa menjaga adikku dengan baik”

“ne, aku mengerti”

“geurom, aku akan pergi sekarang. Sampai nanti”Jin mengecup kening Naomi sekilas lalu pergi.

***

“sekarang jelaskan padaku”

Hoseok menghela nafas, ia memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada siapa siapa disini. “okey, itu semua benar. Aku anak pemilik Ho Min group, Jung Hyo Jin. kau sudah baca Koran kan? Sebenarnya aku bukan anak diluar pernikahan, tapi aku anak yang bukan lahir dari Rahim ibuku.”

Hoseok berhenti sejenak, “apa tadi aku baru bilang ibu?Kurasa pannggilan itu tidak pantas untuknya, tch. Mana ada seorang ibu meletakan anaknya sendiri dirahim orang lain.”Hoseok tersenyum miris.

Mina menunduk, “maaf, aku terlalu emosi tadi.Aku tidak melihat dari sudut pandanganmu, aku benar benar minta maaf.”

Hoseok tersenyum kecut, diraihnya salah satu tangan Mina lalu menggenggamnya erat. “Jae Gil, kau ingat kan? Janji kita, janji bahwa kita akan berteman selamanya tak peduli tentang masalah apapun? Kita harus saling melengkapi dan berbagi apapun yang terjadi?”

Mina mengangguk, “kuharap kau tidak pernah melupakan janji itu, kau satu satunya yang kumiliki, sahabatku.Aku tidak bisa mempercayai siapapun kecuali kau, Han Jae Gil.Kuharap kau mengerti maksudku, jangan pernah mengingkari janji kita.Apa kau mengerti? Teman?”

Hoseok mengepalkan tangannya, Mina tersenyum lalu membenturkan kepalan tangannya pada tangan Hoseok.Mereka tertawa bersama.

“oh ya, bagaimana denganmu? Bagaimana bisa kau berada disini?”

Mina menghela nafas, “aku sudah pernah bilang kan, ibuku meninggal karena seseorang?”Hoseok mengangguk.

“akan kuceritakan padamu. Kejadian bermula saat abeoji terlalu sibuk dengan pekerjaannya, eommaku tidak mendapat perhatian dan memilih untuk membawa orang ketiga dikeluarga kami, siapa lagi. Min Ji Seok”

Mina tersenyum miris, tanpa ia sadari air bening sudah menggenang dipelupuk matanya. “aku mencoba untuk membalas dendam padanya, tapi abeoji selalu menghalangiku.Dan sekarang, dia sudah setuju.Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, melihat abeoji terus menerus bekerja disana, diperusahaan bajingan itu.aku tidak bisa.”

Baru saja Hoseok ingin membuka suaranya, Mina kembali berbicara.“aku tahu ini salah, tapi aku benar benar sudah tidak tahan ingin membawanya bersamaku, ke neraka. Ini lebih baik ketimbang aku harus pergi sendiri, setidaknya ini menyenangkan karena aku memiliki teman untuk kesana. Pergi bersama sama. Hhh”

Mina menghapus sebulir airmata yang baru saja terjatuh dari matanya, dia berbalik menatap Hoseok.“kuharap kau tidak akan membocorkan semua ini pada siapapun, Jung Hoseok. Aku tahu, ini alasanku untuk hidup.Membalaskan dendamku pada Min Ji Seok.”

Untuk yang keberapa kalinya Hoseok hanya bisa diam, dia menghela nafas.“aku memang tidak tahu yang kau lakukan itu benar atau salah, itu keputusanmu. Sebagai teman, aku hanya bisa mendukungmu.”

“gomawo”Mina tersenyum lalu menyender dibahu temannya itu. “aku janji kita akan menjadi sahabat, selamanya. Mari berfoto, kita selalu melakukannya kan.”

Hoseok menepuk dahinya, “ahh benar, ponselku sepertinya ketinggalan dibar kemarin.”

Mina mendelik kearah temannya, “hhh, bukan Jung Hoseok namanya jika tidak disertai sifat pikunnya.Pergi mengambilnya.”

“tanpa kau menyuruhnya aku juga akan pergi, cih. Tunggu sebentar lagi, aku masih ingin disini.”

***

Hye Ri melirik kearah Jin yang entah keberapa kalinya sedari tadi menghela nafas panjang. Rumah tampak sepi karena Lisa sudah tertidur sementara Se Ra masih belum pulang dari bar. Jam menunjukan pukul setengah 3 pagi.

Jin berdiri, ia menatap Hye Ri lalu memberikan sebelah tangannya. “mau kesuatu tempat?”

Hye Ri menggigit bibir bawahnya, ia tersenyum dan dengan senang hati menerima uluran tangan Jin. belum sempat Hye Ri bertanya akan kemana, Jin meletakan tangannya dibibirnya sendiri, memberi isyarat agar diam dan jangan berisik.

Hye Ri menurut saja. Ia tidak tahu dibawa kemana saat ini, yang jelas sudah bermenit menit mereka berjalan. Tapi Jin tidak menunjukan tanda tanda akan berhenti.

Mereka terus berjalan hingga sampai disuatu taman. Sangat gelap, hanya beberapa lampu taman saja yang menyala, beberapa ada yang mati, bahkan beberapa ada yang pecah.

Jin mengajak Hye Ri untuk duduk disalah satu bangku taman tersebut. Canggung.Itu yang mereka rasakan saat ini.

Akhirnya Hye Ri membuka pembicaraan, “untuk apa kita kesini?”

Jin yang tadinya melihat kearah depan beralih menatap Hye Ri, “ahh ani, hanya merasa butuh udara bebas.”

“tidak adakah tempat lain? Maksudku, disini sangat..”

“gelap?”tebak Jin.

Hye Ri mengangguk, dia memperhatikan sekitar dengan ngeri. Jin terkekeh lalu mengacak rambut Hye Ri pelan. “tidak perlu takut. Tidak akan ada orang jahat disini. Hanya ada kau dan aku, jadi tidak perlu khawatir.”

Hye Ri mengangguk angguk mengerti. Rasa takutnya sekarang sudah berkurang.Ia kembali menatap Jin, “oppa, bagaimana kau tahu tempat ini?”

“itu, aku memiliki kenangan ditempat ini”

“dengan siapa? Seorang perempuan?”

Jin tersenyum, “hmm, dengan seorang perempuan.”

Hye Ri mengerjapkan matanya, jadi benar dengan seorang perempuan.batin Hye Ri. Dia menatap Jin dengan serius, “nugu? Se Ra?”tanyanya.

Jin tertawa kecil, ia tidak menyangka bahwa Hye Ri akan berfikir sejauh itu. “bukan, dengan eommaku”

“eomma? Eommamu dimana?”

Jin menggaruk belakang lehernya kemudian menghela nafas.“dia berada disuatu tempat yang sangat jauh dari sini”

“kenapa kau tidak mengunjunginya?”

“kuharap aku bisa”gumam Jin pelan.

Hye Ri menatap Jin yang menundukan kepalanya, apa omonganku ada yang salah? Suasana kembali canggung, Hye Ri terus saja memperhatikan Jin yang tengah menunduk sambil menutup matanya.

Jin membuka matanya, ia menoleh kearah Hye Ri yang tengah memperhatikannya. Hye Ri tertegun ketika melihat mata Jin sudah basah.

Hye Ri memegang kedua pipi Jin lalu menghapus airmata lelaki itu. “apa ada yang salah? Kenapa kau menangis?”

“tidak ada apa apa, aku hanya-”

“kau menangis, oppa. Cerita saja padaku, kumohon.”

Jin menghela nafas, ia memegang tangan Hye Ri lalu perlahan menurunkan dari kedua pipinya. “eommaku sudah meninggal 15 tahun yang lalu, karena overdosis obat obatan terlarang.”

“m-mwo?”

“aku belum sempat mengucapkan kata kata terakhir untuknya, aku-. Aku merasa anak yang paling terburuk didunia, kata terakhir yang kuucapkan padanya adalah aku membencinya.

Kata kata Jin sewaktu itu masih terngiang iang dikepalanya, kata yang keluar dari mulutnya bahwa ia membenci ibunya.“kematian eomma karena aku, jika aku tidak membiarkan eomma menikah dengan lelaki itu, ia tidak akan stress dan memilih untuk meminum nikotin dan sebagainya. Aku- aku tidak berguna.Aku pantas untuk dihukum.”

“oppa. Kenapa kau seperti ini?”Hye Ri meletakan kedua tangannya dipipi Jin agar lelaki itu menatapnya, “dengar, kemataian eommamu bukan salahmu. Ia yang memilih untuk menikah dengan lelaki itu, ia yang memilih takdir itu. kau tidak boleh menyalahkan dirimu, ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya denganmu.”

“Manusia sudah memiliki batasan umur, jika batas umur eommamu sampai situ kau tidak bisa mengelaknya.Walaupun eommamu tidak menikah dengan lelaki itu, jika sudah batasan umurnya cukup sampaisitu itu tidak dapat diubah. Dia akan tetap meninggal. Semua makhluk yang hidup akan merasakan yang namanya kematian, oppa. Berhenti menyalahi dirimu sendiri.”

Jin terdiam.Ia sedikit terkejut ketika menyadari kedua pipi Hye Ri telah basah. “k-kau menangis?”

Hye Ri menunduk, ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol perasaannya. Kini giliran Jin yang menangkap kedua pipi Hye Ri, menghapus airmata gadis itu.

Hye Ri perlahan menatap kearah mata Jin, ia terkejut ketika Jin secara tiba tiba mendekat kearahnya dan menciumnya. Hanya ciuman manis, tanpa pergerakan, tanpa nafsu, dan tanpa paksaan.

Anehnya, bukannya Hye Ri mendorong Jin, ia malah ikut memejamkan matanya. Merasakan kehangatan yang ia rasakan diatas bibir Jin.

Hye Ri sendiri tidak tahu kenapa ia tidak menolak saat bibir Jin menyentuh bibirnya, yang ia rasakan kini berbeda. Seperti ada sesuatu didalam perutnya yang bergerak, menggeltiknya. Jantungnya berdetak tak karuan, ciuman yang Jin berikan benar benar membuat udara sekitar menjadi hangat.

***

Ji Min mengetuk pintu rumah Eun Mi tak sabaran.Mulutnya sangat gatal untuk memberinya beberapa ocehan panas. Dilirknya jam tangannya menunjukan pukul 4 pagi.

“tunggu sebentar.”

Dari dalam Eun Mi dan Naomi sudah bersiap akan pergi ke suatu tempat. Saat Eun Mi membuka pintu, Ji Min sudah siap menyemburkan omelannya.

Sebelum Ji Min sempat mengeluarkan kata-katanya, Eun Mi mengangkat sebelah tangannya.“aku yang akan berbicara lebih dulu, kau jaga Naomi. Aku akan pergi menyelidiki kasus pembobolan bank itu, ini kan yang kau mau? Dan juga, jangan protes dan banyak bicara.”

Ji Min mendelik kesal, ditatapnya rekan kerjanya itu sambil tersenyum dibuat buat.“kau ingin aku menjadi babysister?”Tanya Ji Min pelan.

“babysitter, Park Ji Min.”

“terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku akan ikut menyelidikinya.”omel Ji Min cepat.

Eun Mi menatap rekannya itu malas, ia mengibaskan sebelah tangannya. “aku tidak butuh bantuanmu, shuu shuuu~”

“anak ini benar benar.. yak, kau kan partnerku. Memangnya salah, huh?!”

“aishh terserah!”ucap Eun Mi kencang lalu pergi.

Ji Min memiringkan kepalanya, menatap kepergian rekannya itu.“aneh, dia bukan istrikukenapa dia begitu galak?”

Eun Mi berbalik, “MWO?!Ucapkan itu sekali lagi, hahh”Eun Mi menghampiri Ji Min lalu memukulinya.

***

Se Ra mengunci pintu bar tempat ia bekerja. Ia menatap kunci itu, entah keberapa kalinya ia mencari sosok Jin yang ia harap akan datang menjemputnya pulang. Tapi orang yang ditunggu hanya sebatas harapan, Jin sama sekali tidak menampakan batang hidungnya sedikitpun.

“aishh, seharusnya dia khawatir padaku! Orang cantik ini belum pulang sampai pagi, kenapa dia cuek saja.Hhhh, benar benar imut.Imut sampai sampai aku ingin menginjaknya.”dumel Se Ra.

Se Ra memasukan kunci itu kedalam kantongnya asal, ia tidak menyadari kunci itu sebenarnya tidak masuk kedalam kantongnya, melainkan jatuh ketanah. Dengan langkah malas dia berjalan kembali kerumah Jin.

Dibelakangnya, seorang lelaki mengambil kunci tersebut, Hoseok.Dia menatap kearah sekitar, hanya ada Se Ra yang tengah berjalan membelakanginya.Disini masih sangat sepi, matahari belum muncul diufuk barat.langit masih gelap, menunggu cahaya matahari menyinarinya. Orang orang tentu masih berada dialam mimpi mereka.

Hoseok ingin bertanya tentang ponselnya, maka dari itu ia kembali ke bar ini. “chogio”panggil Hoseok.

Merasa hanya dialah satu satunya orang selain Hosoek disini, ia menoleh. Hoseok menghampiri Se Ra, perlahan Se Ra mundur.Tangannya disilangkan didepan dada.Belum sempat Hoseok berbicara dengan sekuat tenaga Se Ra berlari.

Hoseok yang bingung langsung mengejarnya.“agasshi, berhenti sebentar.”teriak Hoseok. Bukannya mendengarkan, Se Ra semakin menginjak gas.Langkahnya benar benar cepat, bukan seperti gadis gadis lainnya.

“aishh nasib sial, bagaimana bisa dia kesini lagi.”gerutu Se Ra.

Hoseok tetap mengejarnya, “yak, tidak mau berhenti?Kubilang berhenti!”

Se Ra berbelok, ia tidak bisa melanjutkan larinya karena tebok besar menghalanginya.“ahh sial. Aku mengambil jalan yang salah.”

Baru saja Se Ra hendak berbalik, Hoseok sudah berada didepannya.Dia memegangi lututnya yang terasa ngilu, “kenapa tidak berhenti juga? Sudah kubilang berhenti”

Se Ra menatap Hoseok selidik, merasa ada tatapan aneh pada mata Se Ra, Hoseok memasang tampang cool-nya.“kenapa menatapku seperti itu?”

Se Ra menghela nafas, ia melipat tangannya didepan dada. “a-apa lagi yang kau inginkan dariku, tidak puaskan kau- ekhmm”

“puas apa? Aku tidak melakukan apapun padamu.”

“tidak melakukan? Kau bilang tidak melakukan? Jadi kemarin apa, haaahhh??!! Tidak cukup membuatku susah tidur karna kelakuanmu?”

“kelakuan apa? Jelaskan yang benar, aku benar benar tidak mengerti.”

Se Ra menghela nafas.“waktu itu.. kisseu… ahh bagaimana aku mengatakannya.” Tidak mungkin di bilang tentang kejadian waktu itu, pasti Hoseok akan terus menyelanya karena waktu itu Hoseok dalam keadaan mabuk dan tak sadar.

“tunggu. Kisseu?Jangan bilang-” Hoseok kembali memutar memorinya.Ia memejamkan matanya lalu memukul kepalanya.Ia ingat, dimana saat kejadian itu terjadi. Bukan kejadian saat dimana ia mencium bibir gadis itu, melainkan saat ia -secara tidak sengaja- mengecup pipi Se Ra.

“bodoh, apa yang kulakukan? apa kau puas sekarang? Kau menikmatinya kan?”

Se Ra menunjuk dirinya sendiri, “a-aku?Woahh ahjusshi, jangan gila.B-bagaimana aku menikmatinya.”

“sudah jelas, ayo ikut aku.”Hoseok segera meraih tangan Se Ra lalu menariknya dengan sedikit kasar.Dengan sedikit kasar pula Se Ra menepisnya.

“lepas, yak apa yang kau lakukan sekarang?!”

“kau harus oprasi pipi, aku tidak mau meninggalkan jejak bibirku disana.”

“pipi?”

“hmm, bukankah tadi malam aku mencium pipimu?”

“woahh benar benar tidak tahu malu, hanya mencium pipi katamu?!!”teriak Se Ra, secara tidak sengaja ia mengeluarkan dialect-nya.

“jangan bermimpi terlalu tinggi, nona. Kau ini sangat terobsesi ya padaku sampai ingin sekali kucium ditempat yang lain?”

“ditempat yang lain? Kenapa aku ingin?!? Untuk apa?! HAH???!!!”

“aku kan tampan, dan kau jelek. Ehhh sungguh menggelikan, aku yang harusnya marah marah.Kenapa kau membuatku mencium pipimu?”

“siapa yang kau sebut menggelikan??!!Dasar ahjusshi berotak cabul, bahkan kau yang memulainya!”cibir Se Ra.

Kini giliran Hoseok yang menunjuk dirinya sendiri.Dia mendengus sambil tertawa renyah, “aku?Kenapa aku yang memulainya?”

“woahh aku benar benar bisa gila, jelas jelas kau yang melakukannya. Kenapa kau yang memulainya?Tanyakan pada dirimu sendiri ahjusshi gila.Jangan bilang-.Kau melakukannya karena istrimu selingkuh, ani.Apa mungkin istrimu mencampakanmu? Woohh benar benar ironis.”

“mwo?! Dengar ya nona sok tahu, aku tidak gila dan aku bukan ahjusshi.Mungkin kau yang ahjuma, bawel sekali seperti nenek nenek.”

“kau benar benar ingin ribut denganku ya?”

Hoseok terbahak, dia mendekatkan badannya ke badan Se Ra lalu menyentuh lengan gadis itu berkali kali dengan jari telunjuknya.

“kita lihat, seberapa besar kekuatan yang ada disi-.”Hoseok tidak menyelesaikan perkataannya. Dia bengong mencoba mencerna apa yang terjadi. Pipinya baru saja ditonjok oleh Se Ra yang membuatnya memerah dan sedikit lebam.

“jangan kurang ajar padaku atau tidak, aku tidak bisa menjamin kau pulang dengan keadaan berambut.”Se Ra mengelus rambut Hoseok lalu menoyornya yang membuat Hoseok jatuh ketanah.

Ia menginjak kaki Hoseok, baru Se Ra hendak pergi ia melihat kunci bar itu berada ditangan Hoseok yang tengah meringis kesakitan. Dia mengambilnya secara kasar kemudian menginjak lengan Hoseok pelan lalu pergi.

“aishh bagaimana bisa seorang gadis seperti dia. Yak, aku belum selsai denganmu! Akk sakit sakit”

***

“yoboseo?”

“ahh ini aku pelenfon kemarin, Yoongi. Bisakah kita bertemu sekarang?”

“tentu saja. Aku akan aktifkan gps handphone itu sesuai permintaanmu. Tapi, aku masih harus bekerja sampai pukul 10.Tidak apa-apakah jika menunggu?”

“baiklah, kututup.”

Na Ra menatap handphone yang ia temukan dijalan itu. ia melirik kearah Tae Hyung yang tengah mengelap beberapa meja.

Pintu café terbuka, “ahh selamat datang, pelanggan. Maaf tapi café baru akan buka pukul 9 pagi. Masih setengah jam lagi sebelum buka.”ucap Na Ra.

Pelanggan itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya lalu menunjukannya kepada Na Ra. “aku Cha Eun Mi dari Kepolisian Daegu. Aku perlu menyelidiki kasus bank disebelah toko ini. Ditoko ini ada cctv yang dipasang diluar kan?”

Tae Hyung menghampiri Na Ra, “maaf polwan cantik, tapi ini café bukan toko.”

Na Ra menyenggol siku Tae Hyung, dia nyengir lebar.“ahh maaf, dia memang begitu hahaha. Silahkan, kau bisa lihat diruang itu.”

“siapa bilang dia bisa? Kau harus bayar untuk mendapat informasi dari sini. Tidak ada yang gratis, nona.”

Na Ra menginjak kaki Tae Hyung kencang lalu tersenyum kearah Eun Mi, “yakk, kenapa menginjakku?Kau tidak ingin cepat kaya?”

“bisa kau tutup mulutmu sebelum aku merobeknya dari wajahmu?”bisik Na Ra yang pandangannya masih kearah Eun Mi sambil tersenyum.

Baru Tae Hyung hendak berbicara lagi, Na Ra langsung membekapnya.“silahkan kalian bisa lewat sana, aku permisi dulu. Ada yang harus kulakukan dengan orang ini heheh”

Tanpa disuruh dua kali, Eun Mi diikuti Ji Min dan Naomi dibelakangnya langsung masuk kedalam ruangan cctv yang dimaksud.

Sementara Na Ra menarik tangan Tae Hyung keluar, tangannya masih membekap mulut lelaki itu.“kau ini kenapa sih?”

Tae Hyung melepaskan tangan Na Ra yang membekap mulutnya, dia menatap Na Ra malas.“kita tidak bisa memberi informasi begitu saja pada mereka.”

“yak Kim Tae Hyung! apa kau gila? Mereka polisi yang sedang menyelidiki kasus.”

“kau percaya begitu saja?”

“mwo?”

“tidak kan?”

“yak Kim Tae Hyung, jangan berbicara sembarangan.”

“terserah, tapi aku tidak bisa memberikan informasi itu secara gratis.”ujar Tae Hyung.

Tidak mendapat respon dari temannya, dia langsung masuk kedalam menuju ruangan cctv. Tae Hyung menarik tangan Eun Mi dan membawanya keluar.

“aishh mowyya?”

“maaf nona, tapi kita tidak bisa memberikan informasi pada orang asing

Eun Mi mendesah panjang, “hey rambut kemoceng, aku ini sedang menyelidiki kasus.Menyingkir atau kupatahkan hidungmu.”Eun Mi berujar pergi, tapi Tae Hyung menahan lengannya.

Disisi lain, Ji Min, Naomi, dan Na Ra tengah memperhatikan mereka berdua dari dalam. Wajah mereka menempel pada kaca untuk melihat lebih jelas apa yang sedang mereka lakukan.

“mwo? Rambut kemoceng?Dasar pendek.”

“pendek? Kau benar benar ingin kuhajar ya?”

“benar, pendek. Tinggimu saja tidak mencapai bahuku.”ucap Tae Hyung santai.

Eun Mi memejamkan matanya, mencoba meredakan emosinya.Dia meniup poninya lalu menatap lelaki berambut caramel light didepannya geram.

Dia menendang tulang kering Tae Hyung yang membuat lelaki itu memegangi kakinya kesakitan.Eun Mi memberi beberapa pukulan tangannya pada badan Tae Hyung.

“minta maaf, cepat minta maaf. Apa ini kurang?! Kau mau lagi?!”

“ahhh sakit, yakkk”

“kubilang minta maaf!”

“tidak mau!”

“kau mau pukulan lebih kencang lagi ya?!!”

Merasa banyak orang memperhatikan kelakuan mereka berdua, Ji Min langsung menghampiri temannya itu lalu menahan tubuh Eun Mi dari belakang sementara Na Ra membantu Tae Hyung berdiri.

“sudah kubilang biarkan saja! Hal kecil bisa jadi besar begini, dasar kau ini.”Na Ra menjitak kepala Tae Hyung keras.

Tae Hyung mendengus malas, dia melipat tangannya didepan dada.“dengar ya, aku tidak akan memberikan informasi itu pada kalian. Jika kalian mau kalian harus membayarnya.”

“berapa kami harus membayarnya?”ujar Ji Min cepat. Dia tidak ingin memperpanjang masalah lagi.

Kedua sudut bibir Tae Hyung terangkat, dia menaikan sebelah alisnya dan tersenyum misterius.Tae Hyung menunjuk Ji Min dan Eun Mi secara bergantian.

“kalian berdua harus bekerja disini selama 1 bulan”

 

 

TBC

 

Jang jang jang~~ chapter 4 is coming, horeeee!!

Maaf di prev chapter author bilang Nam Joon bakal semi eksis di chapter ini tapi ternyata cuma sedikit adegannya-__- tadinya sih emang pengen begitu, tapi kayaknya terlalu kecepetan ceritanya.

Dan maaf juga kalo chapter ini kurang berfeel dan kepanjangan ;_; stuck ide masa, kejar kejaran sama waktu ngepost jadi gini deh/alesan aje lu thor-_-. Wkwkwk, dan maaf juga kalo ada yang kecewa di chapter ini karena part Jin-nya cuman seupil, apalagi part yoongi. Nanti di chapter 5/6 author bakal banyakin lagi part yoongi-hyeri-jin, promise deh/alah sok b.ing lu thor.

Oh ya, tadinya author pengen bikin scene nc disini /lirik hoseok/, tapi berhubung masih bulang puasa(?) kaga jadi deh, walaupun dikirimnya setelah buka puasa tapi author gak khusyu(?) bikinnya/alah.

Udahlah daripada banyak cincong langsung cus comment and likenya ya. Jujur, mungkin karena ngepost prev partnya kelamaan readersnya menurun ;-; tapi gapapa, yang penting author masih memiliki kalian/apa. No siders ya sayang, nanti author cipok jimin sampe abis loh/salah. Comment and like, please?^^

About fanfictionside

just me

21 thoughts on “FF/ TOMORROW/ BTS-BANGTAN/ pt. 4

  1. Ternyata bukan hyeri palsu yang ngangkat😀
    Aku sedih hyeri sama jin, terus yoongi gimana? Aku ngrasa gak adil, yoongi lagi amnesia, aku setujunya yoongi sama hyeri, buat mereka bersatu ya thor?

  2. aduuuhhh aduuuhh greget sm sm Hoseok Sera ya ampuuuunnn mreka lucu bget hahaha😀

    part taehyung selalu bikin gua ngakak haduuuhhh haduuuhhh dasar rambut kemoceng xD😀

    next thor jan lama”😀

  3. Daebakk !!! Semakin suka sama Couple HyeJin😀 heosok kaya ntar sama sera ya ? /sok tau/ kasihan lihat yoongi yang lupa sama hyeri. Tapi mau gimana udah terlanjur suka dan setuju hyeri sama jin aja😀 duh duh duh gimana kalo sampe polwan cantik dan polisi ganteng kerja di kedai kopi /kalo deket tiap hari gue kesana/ *bayangin karywan nya Jimin ma V * /pingsan gue/

    • hoseok sama author /digampar/ wkwkwk=D gimana kalo jin sama author aja/? /author maruk/ xP
      taunih dasar tae-_- nanti gue ikutan mampir coba ;3
      makasih ya udah baca dan comment ;D

  4. Author satu lagi ya *wink* tolong sangat author-nim entar pas ending nya Hyeri Haru Wajib sama Jin *oppa jessie yang paling ganteng*. Ya ya ya author-nim ? /maksa/

  5. Waah Naomi dsar kocak nih msa ‘barangny’ Eun mi k’bkar sih??? #futt. Kok genit sih kcil” udah mau kencan #masa…

    Jin soswieet ama Hye Ri udak Kiss….
    Jga Hoseok ama sera xixixi #d’gmpar

    Taehyung emak gila msa seorang polisi d’sruh kerja d’café sih??? Bsa gila tuh hahaha😀

    Tpi nae msih penasaran nih yoongi nanti ya ama cfa??? ^^V

    Lnjut lgi thorr seru faithing ^-^

  6. Pingback: FF/ Tomorrow/ Bangtan Boys | blackorchid28

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s