FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 5


Title                       : THE PART OF SIXTH SENSE / Part 5 /
Author                  :
SonDaenaPark97
Main Cast
            :

  • Baek Naera (OC/YOU)
  • Kim Taehyung/V (BTS)
  • Kim Seok Jin (BTS)
  • Jung Daehyun (BAP)

Other Cast          :

  • Han Yoonmi (OC)
  • Jeon Jungkook (BTS)
  • Byun Baekhyun (EXO)
  • Other member of Bangtan

Length                  : Chaptered
Genre                   : Supranatural, School-life, Fantasy, Romance, Friendship, Family, etc.
Rating                   : PG-15

Summary            :

 

“Karena sekejam apapun perbuatan yang telah dilakukan, pada dasarnya pasti memiliki sebuah alasan.”

 

 PicsArt_1404806214167

Disclaimer          : The story is pure mine and the cast is belong to GOD. Don’t copy my idea.

-Enjoy and happy reading-

 

*Part 4*

Naera akhirnya berhasil meraih batu itu. Diperhatikannya dengan seksama dan sesekali ia usap. “Apa ini milik Ayah? Kenapa dia menyimpan benda seperti ini?

Graak

Naera refleks menoleh dan dilihatnya pintu tertutup sendiri dengan dentuman keras. “Nu-gu? Apa itu kau ayah?”

Lagi-lagi tak ada sahutan. Berbekal rasa takut yang mulai menjalar, Naera perlahan berdiri. Baru saja hendak memulai langkah pertama, dirinya sudah dikejutkan dengan sosok tinggi besorot mata merah menyala. Meskipun dadanya terasa mencelos saat ini juga, ia tak juga kunjung berteriak. Lidahnya kelu dan kakinya melemas.

“Apa yang kau lakukan….Honey?” sosok itu menyeringai lebar.

.

.

Apa yang kau lakukan….Honey?” sosok itu menyeringai lebar.

Suhu mendadak dingin. Dingin dalam artian berbeda. Sangat dingin dan mencekam. Naera benar-benar ketakutan sekarang. Matanya terpejam kuat dan pikirannya sudah kalut akan kemunginan hal yang tidak-tidak. Sampai-sampai ia menahan nafas semampunya dengan keringat dingin deras membajiri pelipis. Terlebih saat ia merasakan tubuhnya terkena deru nafas lain tengah berhembus membelai parasnya.

Usaha terbesar Naera adalah menampik kuat-kuat sosok yang barusan sempat terekam oleh penglihatannya. Tatapan mata merah tajam nan menusuk dan tertuju tepat padanya. Seolah ketika melihat Naera, manik itu sudah siap menerkam, mencabik, menikam, membantai habis dirinya tanpa ampun.

Hanya dengan tatapan, Naera sudah dibuat takut setengah mati.

“M-menjauh.. menjauhlah dariku!” Naera semakin memberontak ketika mersakan tubuhnya direngkuh sesuatu. Matanya masih terpejam.

“Naera…” sosok itu akhirnya bergumam atau Naera lebih mentafsirkannya sebagai bisikan maut.

“S-siapa kau?!”

Tak ada jawaban sampai didetik kelima—

“kenapa kau ketakutan seperti ini?”

Aksi pemberontakan Naera melemah. Suara itu, tentu ia tahu siapa. Sangat dikenali dan Jauh dari definisi asing. Dalam beberapa jeda pikirannya ter-pause.

“Naera? Hey apa yang sedang terjadi padamu?”

Perlahan Naera membuka mata, menerjab-nerjap, sesekali bergetar. Jantungnya mencelos begitu tahu siapa ternyata orang yang tengah merengkuh tubuh serta menepuk-nepuk pipinya tersebut.

Bibirnya membuka tanpa suara seraya langsung memeluk erat sosok yang ternyata adalah Daehyun, ayahnya sendiri. Melampiaskan getaran tubuhnya pada dada bidang lelaki itu.

“Ada apa? kenapa tubuhmu bergetar hebat begini?” telapak tangan besar Daehyun terangkat guna menyeka pelipi basah gadis itu.

“Apa ayah melihat sosok tadi? Siluet gelap dengan mata merah di ambang pintu sana? Aku melihatnya! Sangat menyeramkan! Apa dia berniat membunuhku?!” Tanya Naera seperti orang kesetan juga kerisauan.

“Kau ini bicara apa?” Daehyun menyisikan poni panjang gadis itu dibelakang telinganya. “Hanya ada aku dan kau yang kutemukan tiba-tiba di ruangan ini. Apa yang sedang kau lakukan disini, hm?”

“Tapi tadi itu—“

“Sepertinya keadaanmu sedang tak baik sekarang”

“Dia seperti iblis, kau harus percaya— Aku berani bertaruh jika aku benar-benar melihatnya!“

Lengan Daehyun kembali merengkuh, memeluknya dengan penuh keahangatan. Kasih sayang yang seakan ia salurkan tanpa kepalsuan. “Tidak. Tak ada apa-apa disini. Percayalah, kau hanya berhalunasi tadi. Mungkin karena kau sedang kelelahan sehingga pikiranmu dalam keadaan yang tak baik”

“Lalu kenapa aku merasa takut begini….”

Daehyun mengusap-usap puncak kepala Naera, “Tak perlu ada yang ditakutkan.” Ucapnya dengan nada teduh. Pandangannya pun langsung tertuju terhadap sebuah batu jingga yang tergeletak dipermukaan karpet maroon yang menyelubungi lantai. Ia berasumsi jika Naera baru saja menjatuhkan benda itu akibat kedatangan dirinya barusan. Sebelah sudut bibir Daehyun tertarik, membentuk ulasan senyum miring.

“Kau tenang saja, aku ada disini bersamamu”

.

.

Seorang lelaki berusia sekitar 60 tahun sedang menjejalkan dirinya di salah satu kursi kafe. Sesekali ia menyesap secangkir vanilla latte hangat dengan asap yang masih menyeruak ke udara. Tangannya mulai mengetuk-ngetuk meja dan pandangannya teralih pada jam yang asik bertengger di pergelangan. Walaupun parasnya menampakkan banyak kerutan, bukan berarti ia memiliki tubuh bungkuk ataupun lemah. Justru ia masih dapat dikatagorikan dalam kondisi fisik bugar dan sehat layaknya pemuda kebanyakan.

Orang itu mulai menyibukkan diri dengan menghidupkan ponselnya kemudian mengutak-atiknya, entah apa yang ingin dilakukannya sekarang. Hingga sudut matanya menyambut kehadiran seseorang mendekat kearahnya. la mendongkak dan mendapati laki-laki berjas abu-abu membungkuk sopan padanya.

Ia lantas ternseyum simpul dan menggangguk begitu lelaki itu meminta ijin untuk duduk satu meja dengannya, tepat dihadapan.

“Kau terlambat 20 menit tuan

“Ah, maafkan aku. Aku tak menyangka jalanan Seoul di pagi ini sudah sangat padat.”

Ia mulai tertawa kecil, “Mungkin karena kau terlalu lama menetap di Jepang sehingga ketinggalan banyak perkembangan kota ini.”

“Kurasa begitu” lelaki itu ikut balas tertawa.

“Ngomong-ngomong masalah ketinggalan, Jadi kau sudah benar-benar kembali dipindahtugaskan di Seoul?” tanyanya basa-basi.

“Ya begitulah, kurasa akan jauh lebih baik. Dan bagaimana dengan kabarmu, Jaewon-ssi?”

Jaewon hanya mengangkat sebelas alis dan lagi-lagi tertawa, yang malah semakin memperjelas garis-garis keriputan diwajahnya. “Tumben sekali kau bertanya begitu? Biasanya kau tak begitu suka basa-basi Daehyun.”

“Apa ini sangat aneh bagimu, cenayang Han Jaewon?”

Ia berusaha meredakan tawanya sebisa mungkin, “Ah tidak-tidak. Kau jangan salah paham, aku hanya belum terbiasa. Aku sama seperti dulu, selalu baik-baik saja.” Jika Daehyun sudah menyebutkan embel-embel cenayang padanya itu berarti dia sedang tersinggung. Ya walaupun memang benar jika Jaewon adalah seorang cenayang.

Ekspresi Daehyun pun kembali seperti semula, terlihat ramah. Setidaknya begini Jaewon jadi lebih lega, ia kembali bertanya, “Lalu, bagaimana kabar putrimu?”

“Batu jingga yang kau berikan…. Semakin terlihat menyala.”

Jawaban yang tak sesuai atas pertanyaannya, namun mengarah tepat dan berkaitan. Ia sedikit tersentak, sebisa mungkin telihat tenang. “Itu artinya…” sejenak ia menoleh ke kanan dan kiri guna memperhatikan keadaan. “dia semakin kuat?” ucapnya lagi setengah berbisik.

Daehyun mengangguk seraya menopang dagu, menggosoknya, dan kepalanya menggeleng. “Aku sudah tak tahan. Seharunya dulu langsung kubunuh saja anak itu. Menyakiti perasaannya secara perlahan akan sia-sia.” Ia menggerang tertahan.

Jaewon bersandar pada kursinya, memandangi langit-langit kafe seakaan mencari jawaban disana. Tersematlah masa lalu dimana ia pertama kali bertemu Daehyun. Dimana saat dirinya benar-benar tak mempercayai mata batinnya jika Daehyun bukanlah seorang manusia. Terlebih, kala Daehyun datang lagi di pertemuan selanjutnya kemudian berlutut memohon bantuan.

“ Rasa dendam pada dirimulah yang membuatmu terjebak. Bagaimanapun, Naera dilahirkan untuk menghancurkanmu. Kau sendiri yang telah menyalahi takdirmu Daehyun.” Ia menatap Daehyun prihatin, “Aku sudah mengiklaskan kepergian Han Seohwa, ini bukan salah Naera. Tapi kau—“ Ia menghela nafas, “Aku sendiri masih tak mengerti bagaimana bisa manusia seperti dirinya dilahirkan dengan kekuatan seperti itu.”

“Tapi kau dulu sama-sekali tak melarangku dan malah mendukung rencanaku.”

Pandangan Jaewon menyipit, kesalahannya di masa lalu adalah ‘ia tak bisa bersikap tegas terhadap Daehyun’ Padahal jelas-jelas dia adalah seorang cenayang yang setidaknya bakal tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Ia tahu rencana Daehyun dulu akan berakibat fatal dan tetap mengasilkan efek sama. Dan bodohnya kala itu, ia malah tak mencegah.Kebodohan tersebut ia lakukan karena ada dalam pilihan yang sulit, juga….. melakukannya karena sebuah alasan.

“Aku tetap tak akan menyerah.” Daehyun mengepalkan tangannya. “Karena sekejam apapun perbuatan yang kuperbuat, pada dasarnya aku memiliki sebuah alasan”

.

.

‘Pada abad kejayaan manusia di Bumi, terjadi perpecahan salah satu golongan iblis terkuat. Keliaran mereka dalam membabi buta manusia juga keserakahan terhadap kekuatan jutru membuat golongan tersebut malah tersungkur kedalam lubang penyisihan. Mereka akan diadili seadil-adilnya oleh garis alam. Tak ada yang bisa menolak, juga tak akan ada yang bisa membantah.

Mereka akan dibuang, diasingkan, dan predikat mereka sebagai iblis terkuat tentu segera dilunturkan. Apa kuat tapi jahat? Sedasyat apapun kekuatan mereka, mereka tak bisa seenaknya. Perlu diingat, mereka berasal dari api dan jua akan dikembalikan kesana apabila waktu kepulangan mereka sudah tiba atau dipercepat.

Tapi perlu diketahui jika salah satu dari mereka ada lebih dulu, telah ada yang melakukan kesalahan lain. Bukan membunuh atau mengorbankan manusia yang dilakukannya. Lebih parah dari itu…..

Yaitu adalah, menghasilkan keturunan dengan manusia.

Kesalahan terfatal. Tak termaafkan, dan akan melahirkan sebuah kutukan besar. Sudah digariskan bahwa kelak salah satu keturunan dari persilangan ‘dua insan alam yang berbeda berbeda’ tersebut akan melakukan pemberontakan. Dia akan melanggar janji yang sudah ditetapkan dengan mendatangi bumi.

Kelak juga, seorang bayi manusia perempuan akan dilahirkan guna mengembalikan keadaan. Dia bukan manusia sembarangan karena sudah terikat akan sanggahan takdir dan pesan. Namun, ia nantinya terus saja diliputi oleh banyaknya kerapuhan. Oleh karena itu, maka diutuslah penyelamat guna melindungi serta membantu anak itu. Tapi konsuensi lainnya adalah; hal itu akan menjadi pilihan yang sulit bagi sang penyelamat. ‘Membantu atau malah ikut terjebak.’

Karena pada dasarnya…

‘Sang Pemberontak adalah bagian dari Sang Penyelamat’

“membantu anak itu? pilihan yang sulit bagi penyelamat? Terjebak?” gumam Taehyung setelah membaca lembaran usang dalam genggamannya. Rupanya ia justru dibuat semakin binggung oleh barisan kata didalamnya. “Apa maksudnya?”

Walaupun gambaran ramalan itu sudah jelas, ia masih kurang bisa mencerna. Penafsir tokoh yang dimaksud memang sudah benar-benar terpampang. Tentu saja adalah Daehyun, Baek Naera, dan juga… dirinya sendiri. Ia hanya tak mengerti rentetan, ‘Membantu atau malah ikut terjebak’ Dan apakah akan terjadi suatu buruk mengenai hubungan dengan ‘sang pemberontak adalah bagian dari sang penyelamat’, pada kalimat terakhir.

Ia melipat kaki sembari berfikir. Lembaran kertas usang dengan tulisan yang hampir pudar tersebut adalah petunjuk dari ramalan yang telah ia minta dari Baekhyun. Niatannya bertemu dengan Baekhyun kala itu juga ingin meminta bantuan darinya agar mau mengambilkan barang tersebut di ruangan sang ayah. Kemampuan Baekhyun dalam mengecoh patut ia acungi jempol, itu sebabnya ia mengandalkan Baehyun dalam hal ini.

Ternyata benar saja. Ramalan yang tertera disana itu sangat sesuai seperti apa yang sempat dikatakan ayahnya dulu. Rupanya ayahnya menyalinnya pada lembaran ini dan menyimpannya dengan baik. Taehyung sendiri masih binggung, dari mana ayahnya bisa mendapat ramalan gila ini? yang lebih gila lagi, kenapa harus benar-benar terjadi?

“Apa itu?”

“Eh, apanya yang apa?” Refleks Taehyung menyembunyikan barang itu dibalik punggungnya. “ternyata kau.. bikin kaget saja” ujar Taehyung begitu menyadari siapa gerangan. Dibalik punggung, tangannya sibuk melipat-lipat benda itu lalu memasukkannya kedalam saku celananya.

Kecurigaan tergambar jelas pada raut orang yang sempat mempergokinya tersebut. Ia lantas berdeham dan tak ingin ikut campur terhadap kekikukan Taehyung. “Apa yang kau lakukan disini? Kau tak ingin membantu Naera? Kalian kan satu partner.”

“Aku memang partnernya, tapi kupikir Naera jauh lebih mengandalkanmu ketimbang aku.” Perkataan Taehyung terkesan mencibir lawan bicaranya. Ia akhirnya memutuskan bangkit, melaui orang itu dan berniat mendekati Naera yang sedang sibuk bertkutat dengan laptoptopnya di bangku pojok perpustakaan.

Orang itu tentu saja Kim Seok Jin, yang baru saja menawarkan diri untuk membantu kedua hobaenya merevisi tugas teks ilmiah mereka. Jin memang lebih berpengalaman dan memiliki ketelitian terhadap apapun (termasuk penguasaan materi, tentang skirpsi, maupun makalah). Ini tentu sangat membantu Taehyung dan Naera lolos dari pengurangan poin saat penyetoran tugas mereka dan akan lolos dengan nilai sempurna nantinya. Bisa dipastikan karena Jin memang penganalisis handal.

Jin tertegun begitu Taehyung sudah duduk manis disamping Naera. Bukan merasa tak suka karena mereka dekat atau apa. Melainkan rasa penasarannya yang besar atas keganjalan di rumahnya malam itu―

Keganjalan atas menghilangnyaTaehyung dengan tiba-tiba dan begitu cepat membuat dirinya jadi berasumsi aneh. Tapi apabila dipikir-pikir, tak logis juga kalau dirinya beranggapan bahwa lelaki itu adalah mahkluk jadi-jadian. Hey, Jin memiliki IQ tinggi dan logika bagus. Tak mungkin kan orang pintar seperti dia dengan gamblang akan berfikir demikian?

Jadi ia memikirkan kemungkinan masuk akal lain seperti ‘bisa saja kan anak itu keluar melaui pintu depan bukan pintu menuju balkon belakang ruangan’—meskipun ia yakin Taehyung kearah pintu yang menuju balkon— atau kemungkinan lain semacam ‘Ah, mungkin aku saja yang memang salah mengira. Tentu saja anak itu tak akan menuju pintu sana yang jelas-jelas merupakan akses buntu untuk melarikan diri. Memangnya dia mau meloncat dari lantai dua kebawah? Gila saja!’

Setidaknya dia masih normal dan lebih memilih melupakan masalah malam itu walaupun rasa ingin tahunya telanjur mendarah daging. Kembali bersikap sewajarnya, ia beralih kepada Naera juga Taehyung, membuka kembali obrolan ‘penting’ mereka.

.

.

Out lagi? Berapa kali kau tidak bisa melakukan rebound, Ren?!” Teriakan Namjoon membahana memenuhi lapangan basket.

Mianhae

“Berikan bola itu padaku!” Namjoon mengambil alih sang bola sembari memberi contoh pada Ren bagaimana cara memainkannya benar. “Meskipun kau bukan team inti, bukan berarti kau bisa bermain-main saat berlatih” ujarnya kembali begitu bola berhasil tepat memasuki ring.

 

“Dia bossy sekali”

“Namjoon memang begitu. Itu sebabnya dia jadi kapten sekarang. Dia juga hebat, jadi kurasa tak ada yang salah.” Jawab Jin seadanya sembari mengoleskan sesuatu di pergelangan kaki Taehyung. “Kalau kau sudah mengenal dia lebih jauh, kau tak akan menyesal berteman dengannya.”

“Aku tak bilang kalau ada yang salah―agh! Bisakah kau melakukannya pelan-pelan?!” Taehyung memekik begitu Jin sedikit memijit kakinya.

“Tahan dulu. Apa kau tadi tak melakukan pemanasan dengan benar sehingga cidera begini?” Tanya Jin. mereka berdua sedang berada di luar lapangan basket. Memang ada sedikit kecelakaan yang menimpa Taehyung hingga sendinya sedikit bermasalah. “Nah, sekarang kau julurkan kakimu. Jangan kau gerakkan dulu”

Jin lalu duduk di samping Taehyung dan segera mengemasi barang-barangnya. Ia pun segera memasang arloji di pergelangan tangannya.

“Kau mau kemana? Bukankah latihan minggu ini masih berlangsung 1 jam lagi?” Taehyung yang merasa penasaran akhirnya bertanya. Jin terlihat terburu-buru kali ini, tak seperti biasanya. Bahkan semenjak latihan tadi, Taehyung diam-diam menangkap gerak-gerik aneh dari Jin yang terkesan ingin segera pergi. Sampai-sampai setiap 10 menit sekali, Jin terus bertanya ‘sudah jam berapa sekarang?’ kepada anggota lain saat istirahat tadi. Disetiap minggu, klub ini memang mengadakan latihan di jam sore.

Jin sudah berdiri dan siap mengambil ancang-ancang untuk melangkah. Ia membalas pertanyaan Taehyung dengan senyuman misterius, “Urusan laki-laki”

“Aku duluan ya!” Pamit Jin lagi kepada anak-anak yang terengah-engah di dalam lapangan. Ia berlalu begitu saja dan dibalas dengan Hoseok oleh acungan jempol sebagai ganti kata ‘Sip’.

Sedangkan Taehyung yang merasa ditelantarkan hanya mencibir. “Apa semua senior bisa bertindak seenaknya begitu? Cih!”

“Tapi tunggu― urusan laki-laki katanya? Apa maksudnya?” pikirannya mendadak kalut.

.

.

“Kau suka pantai ya?”

Suara baritone milik Jin menyeruak di udara bersamaan dengan cicitan burung diatas langit. Naera menganggukkan kepalanya. Telapak kaki putihnya yang telanjang tengah menyusuri butiran pasir basah.

“Dulu aku sering kemari sendirian sampai menunggu matahari terbenam.”

“Kenapa?”

Naera tersenyum sembari berjongkok. Jemarinya menyentuhi kepiting kecil yang tengah berlarian medekati laut.

“Aku tak punya teman. Saat aku merasa kesepian, aku pasti pergi ketaman atau kesini. Semenjak sekolah menengah pertama, aku lebih sering menghabiskan waktu disini. Dengan begitu, perasaanku akan membaik dan nyaman. Aku bersyukur karena rumahku tak jauh dari sini.”

Jin ikut berjongkok dan menatap Naera lekat-lekat. Tanpa sadar, ia pandangannya seperti di paku untuk terus melihat gadis itu. seketika hatinya ikut bergetar. Walau dari samping, Jin dapat melihat wajah polos Naera. Rambutnya berkibar terbawa oleh angin laut, membuat pesonanya semakin kentara. Layaknya lukisan indah berlatar nuansa senja pantai, Jin benar-benar terlarut. Namun ada yang terlihat menggangu, yaitu iris Naera yang memancarkan kesedihan.

“Bagaimana bisa gadis secantik dirimu harus merasa semenderita begini?” Jin bergumam dan Naera tak merespon. Suaranya yang lirih teredam oleh deburan ombak sehingga tak terdengar.

“Terimakasih sunbae”

“Eh?”

“Terimakasih atas hari ini” ulangnya lagi dan balik menatap Jin tepat dibola mata. Sudut bibirnya tertoreh senyum ketulusan. Jin sampai menyimpulkan bahwa senyuman itu jauh lebih indah dari sunset di ufuk barat.”Terimakasih atas selama ini, atas waktumu, dan perhatianmu padaku”

Kepalanya menunduk. Ia sendiri tahu jika kata ‘perhatian’ itu mungkin terkesan ia sudah kelewat percaya diri. Namun tanpa dipungkiri, memang itulah yang ia ingin katakan pada sosok laki-laki di sampingnya saat ini. Walaupun selama ini ia terlihat tak begitu menanggapi perhatian Jin, sesungguhnya ia bisa memahami ada perasaan lain dalam hati Jin. Ia belum yakin sepenuhnya akan hal ini mengingat kelemahannya adalah membaca perasaan orang lain.

Mata. Lewat tatapan mata Jin untuknya yang selalu berbeda membuat Naera terkadang merasa bersalah padanya.

Sarangahae

S-sunbae?”

Saranghae Naera”

Hati Naera mendadak bergemuruh. Walau ia sudah menebak, bukan berarti ia siap menerima pernyataan Jin yang secara tiba-tiba ini. Jin memperlihatkan keteduhan dan kehangatan untuknya. Lagi-lagi ini malah membuat hati Naera terasa sakit.

Bibirnya terasa beku. Kalau sudah begini Naera tak tahu harus bagaimana. Selama ini ia memang nyaman atas semua perlakuan Jin.

Sunbae…” Berusaha keras ia membuka mulutnya, tapi hanya itu yang mampu ia katakan. Otaknya berputar. Dan satu nama kembali muncul dalam benaknya.

“Ah… iya.. aku mengerti..” seolah mengerti atas sikap Naera, Jin berusaha tertawa meskipun pedih.”Pasti Yoongi ya?” Jin tersenyum pahit begitu merasakan sesak dalam dadanya. Sudah setahun ia menunggu, tapi gadis itu masih bersikukuh menutup hatinya. Hatinya sudah telanjur tertutup oleh sosok Yoongi. Ah kalau sudah begini Jin merancau dalam hati ‘Ah yoongi.. bagaimana ini? cintanya hanya untukmu seorang. Apa aku masih punya harapan?’

Sayangnya Naera masih tak tahu kalau lelaki ini jauh lebih dulu mencintainya. Jauh sebelum Yoongi meruntuhkan pertahanannya.

Mianhae

“Jangan seperti itu. Aku akan lebih sakit melihatmu merasa bersalah daripada menerima kenyataan jika aku di tolak.” Jin bangkit kemudian menjulurkan tangannya pada gadis itu, “Ayo, bukankah kau berjanji akan mentraktirku cupcakes?”

Naera melukiskan guratan pada dahinya dan tanpa pikir panjang langsung menerima uluran itu. “Kenapa sunbae begini? Kenapa kau selalu tersenyum? Kau seharusnya membenciku karena aku sudah menyakitimu”

“Bukankah sudah ku bilang? Aku akan lebih sakit jika melihatmu merasa bersalah” ia mengulang perkataannya kembali kemudian memegang kedua pundak Naera. “Tak masalah kau menolakku seperti ini. Aku yang salah karena tak memahami perasaanmu yang masih mencintai Yoongi. Mianhae” Jin beralih menautkan jemarinya dengan Naera menjadi satu, begitu erat. “Tapi kumohon, biarkan aku tetap disisimu dan menjagamu”

.

.

Bau keringat mengoar dari tubuh Taehyung. Ia bersandar dan meneguk ganas colanya. Sepulang latihan, Namjoon mentraktir seluruh anggota team untuk makan bersama. Lelaki jangkung itu kini tertawa dengan yang lain sambil membahas banyak hal. Ternyata apa yang dikatakan Jin padanya tadi sore itu benar. Walau Namoon terlihat menyeramkan saat di lapangan, ketika di luar ia akan bertindak sangat baik dan royal. Taehyung jadi berfikir jika memahami sifat manusia itu terkadang sulit. Kebanyakan sikap mereka saat di awal akan berbeda dikemudian.

“Kenapa melamun?”

Taehyung mulai tersadar dari segala tumpukan argumentasinya dan mendapati Jimin sudah berdiri di dekatnya.

“Tak ikut bergabung dengan yang lain?”

Taehyung hanya menggeleng sekenanya sebagai jawaban. Terdengar helaan nafas dari Jimin, “Hhhh, kau ini tak suka bicara ya?”

“Aku hanya merasa jika sepertinya tak akan mengerti dengan topic yang kalian bahas” Bohong! Sebenarnya bukan itu alasan dirinya memilih menyendiri begini. Tujuan sebenarnya adalah karena ia menghindari satu hal.

“Hahaaha, kenapa kau kaku begini sih? Baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu. Kau ini memang lugu ya?” Jimin menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, Bukalah sedikit dirimu untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Kau tahu? Memiliki banyak teman dan saling berbagi itu sangat menyenangkan, lho!”

Taehyung tak menjawab, justru itu yang ia takutkan. Kalau boleh jujur, ia sudah mulai nyaman ketika membaur seperti ini meskipun terkadang ia memilih menghindar. Persaannya yang selalu datar, kini terjadi perubahan. Ia bisa merasakan senang, kemarahan, khawatir, kasihan, dan sifat manusiawi lainnya. Perlahan, ia memberi arti di setiap kehadiran seseorang yang telah memasuki kehidupannya sekarang.

Annyeong! Boleh aku bergabung??” sebuah suara memecah suasana. Berdiri seorang gadis dengan cardigan peach dan celana jeans selutut. Siapa lagi kalau bukan Han Yoonmi?

“wah, wah kau terlambat 30 menit nona!” tampik Hoseok.

“Tentu saja, kau kan bagian dari kami!” kali ini suara Jungkook. Dengan bahagia ia mengahampiri gadisnya dan menuntunnya untuk bergabung dengan yang lain. Kehadirannya diterima dengan senang hati dan langsung membaur dengan mudah.

Kalau diingat-ingat, dulu Naera yang diperlakukan seperti ini. Bedanya, Naera tak terlihat sok imut seperti Yoonmi dan bersikap sewajarnya saja. Biasanya Naera akan datang sambil membawa ayam panggang dan membaginya rata. kemudian mereka semua akan meghabiskanya bersama sembari berbincang-bincang. Sayangnya itu hanya ‘masa lalu’. Masa dimana ada Yoongi disisi Naera.

“Gadis itu… kenapa dia ikut kemari?” Taehyung yang juga menyadari kehadiran Yoonmi bersungut. Dalam catatannya, ia sudah menempatkan gadis itu dalam daftar orang terkutuk. Bagaimana bisa ia terlihat sebahagia ini setelah merebut semua kebahagiaan Naera? Dimana sosok sahabat yang pernah terpantri dalam jiwanya untuk Naera? Oke, Taehyung memang tahu alasan mengapa Yoonmi jadi berubah seperti ini. Tapi bukankah ia sudah kelewatan atas penghianatannya? Daripada Naera, Yoonmi lebih cocok disebut iblis.

“Hey, kau sudah mengenalnya?” Jimin tak menyangka, “Sebenarnya aku tak begitu suka padanya. coba kau lihat gayanya yang genit itu! Aku tak habis fikir kenapa ia bisa berpacaran dengan Jungkook padahal gelagatnya itu menunjukkan jika dia menyukai Jin.”

“Jin?”

“Ya benar. Saat ada Jin, dia lebih menempelinya ketimbang memperdulikan jungkook. Aku jadi khawatir ia hanya memperalat Jungkook.” Jimin menggosok ujung hidungnya, kemudain melipat tangan di dada “kurasa dia adalah gadis licik”

Mendengar itu Taehyung jadi semakin membenci Yoonmi. Entah atas dasar apa. Ia jadi curiga kalau Yoonmi terlahir dengan tanpa hati nurani. Apa Yoonmi melakukan semua ini karena Naera? Taehyung tak akan membiarkannya.

 

“Jadi namamu Taehyung?” Yoonmi dengan berani mendekati Taehyung begitu ia berhail menemukan lelaki itu sedang sendirian.

“Mau apa kau?” balasnya dingin.

“Ah tidak penting sih sebenarnya. Aku cuma penasaran kenapa kau sok melindungi Naera seperti itu. Kudengar, kau ini anak baru yang sekelas dengannya ya? apa kau terpesona olehnya karena dia cantik?” Yoonmi mendekat anggun nan angkuh, “Dengar ya Kim Taehyung! Dia adalah seorang pembunuh! Dia bukan manusia! Apa kau tak takut? Dia iblis” Ia menjeda kalimatnya, menanti Taehyung untuk merespon namun lelaki itu tetap diam dan menatapnya benci. “Ah, kau belum dengar ya apa yang pernah dilakukannya dulu? Bisa saja kau jadi korban selanjutnya”

“Memangnya apa? apakah perbuatannya begitu keji sehingga kau mati-matian menghasut banyak orang untuk memjauhi dirinya?” Ia akahirnya membalas ucapan Yoonmi lebih angkuh.

“A-apa?”

“Kenapa terkejut, hm? Aku tahu kalau dia sudah membunuh Yoongi. Tapi apa kau tahu hal itu terjadi diluar kendalinya?”

Yoonmi tak bergeming. Bagaimana Taehyung seakan tahu semuanya?

“Kau dulu sahabatnya kan? Ckck, bagaimana bisa kau malah semakin menindas dirinya seperti ini? Apa ini kebahagiaanmu? Mencapapakkan sahabatmu sendiri lalu menggantikan posisinya?”

“A-apa yang kau bicarakan! Apa dia telah mencuci otakmu, hah?!”

“Sebelum kau bicara seperti itu, lihat dulu dirimu.” Taehyung tersenyum remeh seraya menyampirkan tasnya dan berhendak pergi begitu saja. Ia harus benar-benar meninggalkan gadis itu sebelum emosinya semakin terpancing dan membunuhnya saat ini juga. kata-kata buruk yang Yoonmi tujukan untuk Naera, membuat Taehyung geram. Ia sungguh tak terima.

Yoonmi merasa syok ditempat. Bisa-bisanya ada orang yang seolah membuat dirinya tertelan atas senjatanya sendiri. “Sialan! Siapa sebenarnya dia?” ada perasaan mengganjal di benak Yoonmi. Ia jadi curiga kalau Taehyung bukan orang sembarangan.

“ Lihat saja, aku akan membalasmu Kim Taehyung.” Gumamnya masih terus memandangi punggung Taehyung hingga menghilang.

.

.

Daehyun memandangi tattoo berhuruf “L” pada pergelangan tangannya juga sebuah foto secara bergantian. Mata dan dahinya berkerut keras dan giginya menggertak. “Ini artinya waktuku sudah hampir habis, sialan!” nyeri dikepalanya tiba-tiba semakin terasa hingga ia berusaha menenangkan dirinya. Ingatan-ingatan masa lalupun berputar layaknya film.

kehadiran Daehyun ke bumi adalah secara baik-baik. Ia hanya ingin mewujudkan keinginannya yang sederhana. Menjadi manusia. Itu saja. Mungkin tujuan iblis yang lain mendatangi bumi hanya sebagai penyiksa. Tapi Daehyun tidak―pada awalnya.

Tak tahu apa yang dipikirkan Daehyun sehingga ia melanggar takdirnya. Dalam darahnya sebagian memang mengalir darah manusia, tapi itu tetap tak bisa merubah takdirnya. Kau tahu apa alasan ia ingin menjadi manusia? Jawabannya adalah karena ia jatuh cinta dengan manusia.

Bagaimanapun ada jiwa manusiawi dalam dirinya. Jadi apakah salah jika hatinya berhasil diluluhkan seseorang?

18 tahun lalu, Daehyun tanpa sengaja berhasil membuka dimensi terlarang. Begitu ia menembus dimensi itu, ia menemukan dirinya berada di bumi. Awalnya ia ingin langsung kembali saja ke alamnya begitu menyadari tempat ini tak diperuntunkan padanya. Namun, seseorang segera menahan lengannya secara tiba-tiba.

“Songyu? K-kau kah itu?! benar ini kau? kau masih hidup?!” tiba-tiba sesosok gadis berperawakan tak begitu tinggi memegang kedua pipinya dengan tatapan tak percaya.

“Kau Songyu kan?! Kumohon jangan pernah pergi lagi dariku! Kau tahu betapa hancurnya aku saat kau tak ada?!” gadis itu memeluk Daehyun erat seakan tak membiarkannya lepas.

Daehyun menatap sekitarnya begitu gadis tadi membawanya hingga sampai di sebuah rumah kecil. Ia sendiri tak tahu kenapa ia menurut saja dibawa oleh gadis yang tak dikenalinya ini. buliran bening yang membanjir di pipinya, membuat Daehyun urung menolak ajakannya.

Ayah! Lihatlah! Aku menemukan Songyu!” ujarnya riang begitu nampak seorang lelaki paruh baya mendekati mereka. Begitu melihat siapa yang dimaksudkan, lelaki itu nyaris merosot. Ia terkejut setengah mati.

“S-songyu?”

Malam itu sang lelaki paruh baya menuangkan teh hijau kedalam cangkir dan mempersilahkannya pada Daehyun ketika mereka sudah duduk berlesehan di ruang tamu. “Maafkan atas kesalah pahaman ini tuan. Putriku…” ia menggantungkan kalimatnya dan kembali berucap, “Ia sedikit mengalami tekanan jiwa. Dia mengira kau adalah Songyu, suaminya yang sudah meninggal”

“Aku sudah melihat foto suaminya di atas nakas. Benar-benar mirip denganku”

“Begitulah, makannya tak heran jika Seohwa menahanmu. Dia memang tak pernah rela melepaskan kepergiannya”

Daehyun diam tak menjawab, membuat keadaan terasa hening. Yang terdengar hanyalah dentingan cangkir yang barusan di seruput oleh sang laki-laki paruh baya.

“Ah iya, perkenalkan saya Han Jaewon.”

“Aku―”

“Aku sungguh tak menyangka bisa bertemu dengan mahkluk supranatural seperti anda”

“Eh?”

Jaewon tersenyum simpul, “Mungkin manusia biasa tak akan percaya ini. Tapi saya adalah seorang cenayang yang peka terhadap mahkluk semacam anda.”

Kini balik Daehyun yang terkejut. “Tapi saya bukan sepenuhnya mahkluk demikian.” Ia berdeham, meminimalisir suasana. Tiba-tiba tenggorokannya tercekat mendengar pernyataan gamblang dari Jaewon. Bisa-bisanya ia terlihat tenang. Apakah ia tak takut dengannya? Bukankah menurut pemikiran manusia kalau mahkluk seperti dirinya sangat berbahaya?

“saya juga tahu dan saya tak perlu merasa takut karena anda bukanlah golongan yang kejam.”

“Wah, anda hebat sekali. Berhubung anda tahu siapa saya, sudah semestinya saja pergi dari sini.”

“Songyu!” derap langkah kasar terdengar dari arah dalam. Gadis yang sama dengan mata membengkak. Han Seohwa, nama itu yang langsung digumamkan Daehyun. Apakah ucapan Daehyun barusan didengar olehnya? Apa ia terlalu keras berbicara? Aroma sabun menelusup ke dalam rongga hidungnya. Gadis ini sepertinya baru saja membersihkan tubuhnya.

“Kau tak boleh pergi lagi! kau harus tetap disini! Temani aku dan ayah disini, kumohon jangan buat aku menderita lagi….” mendengar isakan pecah Seohwa, Daehyun merasa iba. Apa tak mengapa ia tinggal disini sementara waktu sampai gadis ini pulih? Yang jelas, ia harus tetap kembali ke tempat ‘golongannya’ berada.

 

Ceklek―pintu ruangan Daehyun terbuka. Mau tak mau ia mengakhiri kenangan di masa lalunya yang belum tuntas untuk kembali dihayalkan. Dan saat ia tahu siapa orang yang tengah membawa secangkir kopi di ambang pintu, dengan gerakan cepat foto di meja tadi ia desakkan ke dalam laci. “Sayang, kau sudah kembali?”

Orang di ambang pintu itu tersenyum dan mendekat, ia adalah Ibu tiri Naera.

.

.

Cahaya kendaraan yang tengah berlalu lalang itu nampak beradu dengan lampu-lampu jalanan. Gedung-gedung pencakar langit di sepanjang jalan nyatanya juga tak mau kalah untuk sekedar memamerkan kilaunya. Langkah lebar taehyung menuntunnya di atas trotoar.

Tadi dia memutuskan langsung pergi tanpa berpamitan dengan yang lain. Tentu saja itu karena Yoonmi. Seharusnya Taehyung sekarang sudah ada dirumah jika ia menggunakan teleportnya, tapi nyatanya ia malah ingin berjalan di tengah keramaian kota malam Seoul. Kali ini Taehyung tak bisa menampik kalau dia memang mulai menyukai bumi.

Tiba-tiba kakinya berhenti melangkah tepat di depan toko cupcakes yang tak sengaja ia lewati. Mungkin karena design interiornya yang lucu dan unik membuatnya sedikit tertarik dan mendekat. Cupcakes sedemikian bentuk di pajang di dekat kaca seakan menarik minat siapa saja apabila melihatnya. Layaknya orang desa yang baru menerjunkan kaki ke kota, Taehyung terus saja mengamatinya satu-satu. Hingga sampai di ujung, maniknya berhasil menangkap dua sosok tak asing tengah tertawa sambil saling menyuapi cupcakes. Bahkan pemandang paling tak enak baginya adalah ketika sang sosok laki-laki mengusap bibir sang gadis dengan tissue.

Ia semakin memincingkan penglihatannya, berharap ia salah lihat. Namun semakin diperhatikan harapannya untuk salah lihat menjadi pupus. Baek Naera dan Kim Seok Jin. Keduanya terlihat mesra bagai pasangan kekasih. Melihatnya saja Taehyung benar-benar ingin membuang wajah dan segera pergi.

Tapi apa yang dia lakukan? Ia tetap berdiri disitu dan tangannya terangkat guna memegangi dadanya.

“Kenapa dadaku sesak begini? Apa ada yang salah dengan kinerja tubuhku? Apa sedang tak berfungsi dengan baik?”

Taehyung membulatkan mata ketika tanpa peringatan, ia bertemu pandang dengan Naera.

.

.

TBC

 

Ceritanya semakin aneh ya? cerita flashback emang aku terus sediain sampai part 7 (maybe) , setelah itu mungkin alurnya bakal aku buat terus maju hehehe

Maaf ya kalau misalnya chapter ini kurang memuaskan^^ tapi aku udh berusaha keras biar kalian gak ngerasa kecewa hehe. Buat Daehyun, dia memang juga punya kisah panjang di masa lalunya. Dan aku sengaja gak langsung bahas ampe tuntas soalnya aku pikir gak bakal seru kalo 1 part isinya masa lalu daehyun semua. Jadi di part 6 masih ada kisahnya si Daehyun🙂

Okedeh, sebelumnya aku mau nyampein kalau nextnya partnya mungkin agak telat. Soalnya aku udah kelas 12 dan udh belajar efektif semenjak seminggu lalu dan aku udh banyak ketimbun tugas sekolah. Tapi aku tetep usahain biar nextnya cepet kelar

Dan aku ucapin banyak makasih buat reader yang udh mau terus ngikutin ff ini, karena kalian aku jadi terus semangat buat lanjut^^

Jangan lupa kritik dan sarannya ya, aku tunggu! Annyeong! ^^

About fanfictionside

just me

49 thoughts on “FF/ THE PART OF SIXTH SENSE/ BTS-bangtan/ pt. 5

  1. keren keren thor aku suka wkwk.
    suka kalo jin-naera lg sama sama ih.hiehie
    next ya ditunggu ya thor.semangat!!!
    semangat juga buat tugas kelas 12nya thor.wkwkwk

    • Wahh makasih ya sudah sukaa^^ jin sm naera ya? Wehehe
      Makasih juga dukungannya🙂 aku jg usahain next partnya cepet jadi

  2. Oke rahasia dan masa lalu mulai terungkap😀 thoorrrr tmbh seru ajj nih ff d tunggu chapther berikut nya😀
    Kelas 12 ternyata fighting yah thor buat persiapa ujian nya🙂

    • Makasih yaa^^ iya nih udh kelas 12 u.u ujian udh menanti didepan sana /? Hihi
      Siaap, next chapnya juga aku bakal usahain kelar:)

  3. Aaaaa~ kenapa Taehyung harus liat:(:(:(kasiaaaaan thorrr:3 pokoknya nnti Naera harus sama Taehyung ngga mau tau!!! 짱짱짱짱^^)화이팅 yaa thor, semogaaaaa owner ceper update jadi kelanjutanntannya engga lama lama:D keep writing;););)

    • Iyaa taehyung udh nyeri2 di dada tuh u.u
      Hehee🙂 di part 6nya mungkin scene naera ama taehyungnya jd lbh banyakan wekeke

      Aminn^^ makasih ya chingu:)

  4. Aaaaa mkin kren…
    Prlahan2 nmun pasti/apa ini? Rahasia mlai trungkap…
    Pnasaran xg jdi step mother x naera???!!!
    Udah klas 12 brarti kta sma donk,…smangat trus ea and brjuang tuk UN 2O15 mndatang….hahahaha
    d tnggu klanjutanya eaaa~_^

    • Waah kita seangkatan ternyata xD kkkkk ne chingu, ujian sudah menanti hufff.. semangat juga ya!^^ kita tempuh un sama2 wehehe🙂

      Untuk next chapnya kuusahin gak telat ^^ *amin* btw makasih juga ya atas komentarnya n udh mau baca ff ini:)

  5. Aaaaaa crtanx mkiii kren….
    Prlahan2 nmun psti/ige mwoya? Msa laluxa mlai trungkap…
    Pnasaran xg jdi step mother x naera???
    Udah klas 12 brarti kta sma donk…smangat trus eaa…
    And the last d tnggu klanjutanya…~_^ keep writing!!!!

  6. Oke thor.. aku tunggu flashback ya di part 7. Untuk part selanjutnya aku ngerti deh sama kesibukan author, gak papa deh lama lama yang penting ada thor. Thanks ya thor udah tetep mau nglanjutin ffnya😀

    • Hehehe makasih bgt atas pengertiannya dan juga udh mau ngikutin ff ini:)
      Untuk nextnya aku usahain cpt kelar sesuai waktu pe-ngupdatetan /? ^^

  7. Iih kasiyan tuh Taehyung liat Naera ama Jin😦 ampe skit dada gtu #bwo

    Sabar ya Taehyung………
    Lanjut Thorr !! Jangan lama2 ya hehehe😀

  8. Ceritanya baguss bgt!><
    Aku baru baca ff ini dri rekomendasi temen😀
    Buruan dilanjut ya. Aku nunggu momennya taehyung ama naera hehee.. penasaraann

  9. taehyung kamu kenapa sesek gtu?? udh suka sama Naera ya? TT kasian sih lu bang😦 thor aku juga penasaran sama daehyun.. apa dia dulu masa lalunya suram?? /soktau.. okelah lanjuit ya thor! aku menunggu ffmu iniiii

    • maafkan daku yang membuat taehyung nyesek u.u jin jugaa kok ‘-‘ *digampar
      siaap chingu.. thanks komentarnya😉

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida

  10. wah, sdkt2 terungkap nih…
    kyknya flashback bnyk dperlukan thor…
    hehehehe..
    pnasaran bgt sma masa lalunya biar semaki njelas…
    ok thor i’ll be waiting for the next chapt…
    fighthing… ↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗∩__∩~^O^~∩__∩~^O^~↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida~

  11. crita.a keyeeeennnn bangeett..
    cup cup cup jin oppaaaa cini sama aku ajjaaaa..
    #saranghaeeejinoppaaa

    d tungguuu part selanjut.a..;)
    ff.a kereeeennn kereeeeeenn kereeeeennnn banget..:D

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida🙂

  12. Anyyeooonngg ..
    Kpan nih part selanjutnya nongol.. Udah penasaran bgt niih ..
    Di part part sebelumnya keren thoor.. Jgan lama lama .. Sebelum kelupaan .. T.T

    • Annyeong^^
      mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida

    • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
      siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
      Khamsahamnida~

      • mian sebelumnya karena ff ini sempet ngandet dalam waktu yg cukup lama u,u
        siaap, skrg nextnya udh kelar kok, ditunggu yaa^^
        Khamsahamnida~

  13. Wahhh ini bener2 mencengangkan, jin menyatakan perasaannya sama naera……
    Dan jeng jeng naera mash blom bsa melupakan Yoongi atw dia mulai suka sma Taehyung?
    Hah gak twlah gw

    Woaaa daehyun suka sama manusia? Siapa? Seohwa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s