FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, Romance, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin/Seokjin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Shina||Additional Characters: (OC) Cho Junmi, (BTS) Jimin, (OC) No Hara, (Girl’s Day) Yura (A-Pink) Hayoung & (Hello Venus) Alice||Disclaimer: I own nothing but storyline and the OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog|1>>2

30 DAYS CUPID(1)

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

Sinar matahari menelusup di antara celah gorden. Menerpa kulit wajah yang putih mulus milik pemuda berambut merah marun yang masih terlelap dalam tidurnya. Pemuda itu menggeliat di balik selimut berwarna coklat yang menutup hampir seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian, ia menguap sembari membuka kedua matanya. Sesaat, ia terdiam untuk mengumpulkan nyawanya.

“HOAAAAH~~~”

Sekali lagi ia menguap lebar. Menyingkap selimut hingga memperlihatkan tubuhnya yang hanya ditutupi selembar boxer berwarna merah. Pemuda itu, Jungkook, lantas duduk di tepi tempat tidur, mengalihkan pandangannya ke arah jam weker yang berada di atas nakas.

GOD! JAM 7?

Kedua matanya membulat sempurna. Sekejap ia berlari menyingkap gorden dan… sssiiing… sinar matahari yang sangat cerah langsung menyambutnya. Jungkook sadar, dia… bangun terlambat.

Dengan kecepatan cahaya, pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan seluruh tubuhnya dengan waktu yang kurang dari 5 menit. Aku bahkan tidak yakin dia mengingat untuk gosok gigi atau tidak.

Keluar dari kamar mandi, ia bergegas memakai seragam kuning-hitamnya. Beruntung, semalam ia sudah memasukkan buku-buku pelajaran hari ini ke dalam tas. Kurang dari 15 menit, pemuda itu siap berangkat ke sekolah.

Sekitar 20 menit kemudian, Jungkook mendapati dirinya berada di sekolah. Memungut sampah-sampah yang berserakan bersama beberapa siswa-siswi yang terlambat lainnya.

“Hei! Kau yang bertemu denganku di toilet beberapa hari yang lalu, kan?” tegur seseorang, menghampiri Jungkook yang sibuk memungut dedaunan kering yang berjatuhan di selokan kecil di depan ruang guru.

Pemuda beransel hitam itu menoleh kepada seseorang yang menegurnya, ikut memungut dedaunan kering di selokan kecil itu. “Uh? Jimin Sunbae?!” gumam Jungkook ketika melihat pemuda bermata sipit itu berada di dekatnya.

“Kau terlambat juga?” tanya Jimin basa-basi. Tentu saja ia tahu bahwa siswa-siswi yang bertransformasi menjadi ‘tukang-pemungut-sampah’ di saat jam pelajaran pertama sedang berlangsung pastilah siswa-siswi yang datang terlambat.

Jungkook mengangguk.

“Memangnya kau tinggal di mana?”

“Cheongdam-dong. Sunbae?”

Jimin mengangkat kedua alisnya. “Benarkah? Aku juga tinggal di situ,” ucap Jimin. “Kau tahu toko roti Park? Itu rumahku!”

Jungkook mengulum senyum. Tidak tahu harus membalas apa. Namun setidaknya, ada satu hal lagi yang ia ketahui tentang Jimin. Dia tinggal di kawasan yang sama dengannya, Cheongdam-dong. Aish! Tapi tetap saja ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menjalankan misinya.

“Kau kenapa, hah?” tanya Jimin, sedikit merasa aneh melihat Jungkook tiba-tiba menggaruk-garuk kepalanya sendiri.

Jungkook menoleh ke arah pemuda itu, tersenyum salah tingkah. “Uh, anu… ada… ada… yang ingin kutanyakan pada… Jimin Sunbae,” sahut Jungkook.

Dengan mata sipitnya, Jimin menatap Jungkook. “Apa?”

“Anu… err… Jimin Sunbae kelas berapa?”

Jimin terkekeh mendengar pertanyaan Jungkook. “Heh, kau hanya mau menanyakan kelasku, tapi kau kelihatan gugup begitu?! Astaga!” Jungkook hanya mengulum senyum mendengar ucapan Jimin. Sebenarnya, bukan itu yang ingin ia tanyakan, tetapi malah pertanyaan itu yang terlontar dari mulutnya. “Aku kelas 2.1,” jawab Jimin.

Kedua mata Jungkook membulat sempurna mendengar jawaban Jimin. “Benarkah? Berarti Jimin Sunbae sekelas dengan Hara Sunbae?” tanyanya antusias.

Jimin mendelik. “Memangnya kenapa kalau aku sekelas dengan Hara? Apa… jangan-jangan kau…”

Belum sempat Jimin menyelesaikan ucapannya, Jungkook langsung menggeleng. Ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Jimin. “Tidak, Sunbae! Tidak! Aku tidak menyukai Hara Sunbae. Maksudku, aku tidak punya perasaan apapun padanya,” sahut Jungkook buru-buru.

“Benar?”

“Aku tidak bohong! Sumpah!” Jungkook sampai mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya untuk menunjukkan ia tidak bohong.

Jimin mengidikkan bahunya. “Baguslah kalau begitu. Karena aku tidak akan membiarkanmu mendekati gadis yang aku sukai.”

Entah untuk keberapa kalinya pagi ini Jungkook membulatkan kedua matanya sempurna. “Jadi, Sunbae…”

Jimin berdiri. “Jangan katakan pada siapapun kalau aku menyukai No Hara,” ucapnya dengan nada mengancam, lalu pergi ke tempat sampah terdekat untuk membuang setumpuk dedaunan kering di tangannya.

Jadi…, Jimin Sunbae menyukai Hara Sunbae?

Oh! Wow! Fakta yang mengejutkan!

@@@@@

Jungkook dan teman-teman sekelasnya berada di perpustakaan. Beruntung bagi Jungkook, guru yang mengajar pelajaran pertama tidak masuk di kelasnya. Itu sebabnya mereka semua diperintahkahn oleh guru konseling untuk belajar di perpustakaan dari pada mereka berkeliaran di saat jam pelajaran.

Di sudut ruang perpustakaan, Jungkook duduk sambil membaca sebuah buku. Begitu juga dengan Taehyung yang berada di sebelahnya. Berbeda dengan beberapa teman-teman mereka yang malah asik mengobrol atau bermain game di ponsel masing-masing. Tapi, tolong jangan berpikir bahwa Jungkook dan Taehyung benar-benar membaca buku. Buku itu mereka gunakan untuk menyembunyikan kegiatan asli mereka, membaca komik!

“Ha? Benarkah? Shina mendapat bunga mawar lagi di lokernya?”

“Ya. Bomi yang bilang padaku.”

“Ini sudah bunga yang ke-3.”

“Shina langsung banyak penggemar setelah ia melepas kacamatanya, ya!?”

“Hehe… ya. Kata-katamu benar.”

Obrolan dua orang siswi yang berada di sekitar Jungkook cukup membuat perhatian pemuda itu teralihkan dari komik One Piece yang dibacanya.

Oh Shina. Si anak baru itu memiliki penggemar rahasia!

Taehyung menyadari Jungkook berhenti membaca komiknya. Tidak adanya suara lembaran yang berpindah membuat Taehyung menoleh ke arah Jungkook. Pemuda berambut light caramel itu mendapati sahabatnya menatap kedua gadis yang sedang bergosip di sekitar mereka.

“Kookie!” Taehyung menegur Jungkook, sukses membuat pemuda itu terkejut.

“Astaga! Kau membuatku kaget!” desisnya sembari mengelus dadanya.

Taehyung meliukkan kedua alisnya. “Kau sedang apa?”

Jungkook menggeleng salah tingkah. “Tidak. Aku hanya…”

“Hanya menyimak pembicaraan Hayoung dan Alice tentang Shina?” potong Taehyung, menatap pemuda berambut merah marun itu lamat.

Jungkook tahu dirinya tidak bisa mengelak. Ia tidak membalas ucapan Taehyung dan memilih untuk—berpura-pura—membaca komiknya.

“Pagi tadi Shina mendapat setangkai mawar lagi di lokernya. Itu yang dikatakan Bomi,” jelas Taehyung, meski tanpa diminta oleh Jungkook. Bomi adalah teman sekelas mereka, gadis yang duduk berdekatan dengan Shina, sekaligus menjadi sahabat Shina.

“Untuk apa kau katakan padaku? Bukan urusanku!” sahut Jungkook, menatap gambar-gambar pada komiknya.

“Aku lihat kau penasaran, jadi aku katakan padamu,” balas Taehyung.

“Sok tahu!” ketus Jungkook.

“Ayolah. Aku tahu kau penasaran tentang Shina, kan? Jangan bohong!”

Jungkook langsung memberikan tatapan setajam pisau kepada Taehyung. Sedikit membuat pemuda berambut light caramel itu merasakan adanya ancaman. “Kau pernah mengatakan untuk tidak menyebut nama Shina di depanku. Tolong ingat janjimu itu!” tegas Jungkook.

GLEK! Taehyung menelan ludahnya, lantas mengangguk begitu saja. Saat ini Jungkook terlihat begitu seram di matanya.

“Ehm~”

Suara deheman lembut itu lantas membuat Jungkook dan Taehyung mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.

Shina? Mau apa dia ke sini?

“Uh? Shina-ssi? Panjang umur, aku dan Jungkook baru saja membicara—akh!” Jungkook menendang betis Taehyung di bawah kolong meja sebagai tanda agar ia berhenti berbicara yang bukan-bukan. Shina yang sedang memegang setumpuk undangan berwarna merah muda hanya bisa menatap aneh ke arah dua pemuda di dekatnya.

Taehyung menunjukkan wajah meringisnya sembari menggosok-gosok pelan bekas tendangan Jungkook di betisnya. Sementara sang ‘pelaku’ malah pura-pura tidak melakukan apa-apa.

“Ada apa, Shina-ssi?” tanya Taehyung kemudian.

“Anu… ini untukmu, Taehyung-ssi,” ujar Shina seraya memberikan selembar undangan berwarna merah muda di tangannya.

Taehyung menerima benda itu, membaca tulisan yang tertera di bagian amplopnya. “Undangan ulang tahun?” tanyanya memastikan.

Shina mengangguk. “Ya. Kalau kau sempat, tolong datang, ya~” balas Shina.

“Ah, tentu saja aku akan datang,” ujar Taehyung, tersenyum sambil menyelipkan undangan tersebut ke dalam saku seragamnya.

Shina hendak beranjak meninggalkan mereka—Taehyung dan Jungkook, namun tiba-tiba pemuda berambut light caramel itu mencegahnya. “Tunggu!”

“Ya?” Shina berbalik untuk menghadap Taehyung. “Kenapa?”

Taehyung melihat ke arah Jungkook yang saat ini pura-pura sibuk membaca komiknya—tidak mau melihat Shina—lantas, kembali memandang gadis manis itu. “Kau… tidak mengundang… Jungkook?”

Shina melirik Jungkook sekilas, lalu menatap Taehyung. “Maaf. Aku hanya mengundang orang yang aku anggap ada di kelas.”

“Maksudnya?” Taehyung mengenyitkan dahinya.

“Aku permisi dulu, Taehyung-ssi,” ucapnya, tidak mau menjelaskan maksud dari ucapannya, kemudian beranjak.

Taehyung menoleh ke arah Jungkook. “Shina tidak mengundangmu,” gumamnya datar. Sedikit kecewa. Bagaimana pun, Jungkook kan sahabatnya.

Jungkook balas menoleh ke arah Taehyung. “Untuk apa? Siapa yang mau datang ke acara itu?” ketus Jungkook.

Pemuda berambut merah marun itu beranjak menuju pintu ruang perpustakaan, melihat seluruh temannya memegang undangan yang diberikan oleh Shina. Oh, good! Selamat Jeon Jungkook, kau satu-satunya orang di kelas ini yang tidak diundang!

@@@@@

Dari perpustakaan, Jungkook mengayunkan langkahnya menuju toilet. Melepas blazer kuningnya, menyampirkan benda itu pada gantungan yang tidak jauh darinya. Ia kemudian membasuh wajahnya dengan air yang mengucur dari kran wastafel. Sesaat, Jungkook menatap pantulan dirinya di cermin lebar yang berada di hadapannya.

“Kenapa kau merasa kesal, Jeon Jungkook? Justru bagus, kan, kau tidak diundang. Itu artinya kau tidak perlu repot untuk datang ke rumah gadis yang kau tidak suka, kan!?” ujarnya pada dirinya sendiri dengan wajah yang basah.

“Yang perlu kau lakukan adalah fokus! Fokus!” katanya lagi. Kedua mata elangnya lantas melirik kalung pemberian Jin. Tangan kanannya bergerak memegang benda itu.

“Argh! Benda sialan!”

“Hei! Hei! Jangan lampiaskan kekesalanmu pada kalung itu!” tegur makhluk berpakaian merah muda yang tiba-tiba muncul di sebelah kiri Jungkook. Ya, siapa lagi kalau bukan Jin.

Jungkook terkejut. Seketika mengeluas pelan dadanya. “Aish! Kalau kau selalu muncul tiba-tiba, bisa-bisa aku mati terkena serangan jantung!”

Jin terkekeh sembari menutup mulutnya. “Maaf. Kau hanya perlu membiasakan dirimu, Jeon Jungkook.”

Pemuda berambut merah marun itu mendengus. “Mau apa kau datang menemuiku?” tanyanya.

“Tentu saja untuk mengetahui perkembanganmu! Aku kan mentormu.”

Lagi, Jungkook mendengus. “Belum ada perkembangan apapun. Aku tetap tidak tahu bagaimana menyatukan Jimin Sunbae dan Hara Sunbae.”

Jin melipat kedua tangannya, menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau kau masih mau menjadi manusia, kurasa kau harus segera melakukan sesuatu. Kau harus ingat, waktumu tersisa 26 hari lagi.”

“Aku benar-benar tidak tahu, Jin! Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku sudah berusaha mencari informasi tentang mereka. Tapi, aku tetap saja tidak bisa. Aku tidak tahu!” Jungkook frustasi. “Kalau kau mau membawaku ke istana Dewi Venus, bawa saja sekarang. Biar aku jadi cupid saja. Toh! Setelah 26 hari ini aku akan menjadi cupid, kan!?”

Tidak lama, cupid itu menghela napas. Ia lantas berkata, “Kau ingin tahu sebabnya kenapa para cupid-30-hari tidak diberikan alat-alat khusus selain love-tablet itu?”

Jungkook tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Karena cupid-30-hari adalah manusia. Dibanding dengan cupid seutuhnya seperti aku yang dibekali insting, kalian… para manusia, para cupid-30-hari memiliki akal. Bukankah hal itu bisa lebih memudahkan kalian?”

Jungkook terdiam mendengar ucapan Jin. Mencerna kata-kata yang keluar dari mulut mentor yang sering kali membuatnya terkejut.

“Kau mempunyai ini,” Jin mengetuk-getuk pelan batok kepala Jungkook dengan jari telunjuknya, “Kau harus memanfaatkannya.”

Jungkook masih terdiam.

“Kau harus ingat kata-kataku. Tenangkan pikiranmu, lihat apa yang terjadi di sekitarmu, manfaatkan data yang kau ketahui tentang targetmu dan lakukan apa saja untuk menyatukan mereka. Apa saja!” jelas Jin. “Paham?”

Tanpa mendapatkan satu respon pun dari trainee-nya, Jin lantas menghilang begitu saja. Seperti biasa meninggalkan selembar bulu sayapnya yang berterbangan dan mendarat di atas kepala Jungkook. Tangan kanan Jungkook beralih mengambil selembar bulu sayap Jin itu, menatapnya sejenak seiring dengan terngiangnya ucapan Jin beberapa saat lalu.

Tenangkan pikiranmu, lihat apa yang terjadi di sekitarmu, manfaatkan data yang kau ketahui tentang targetmu dan lakukan apa saja untuk menyatukan mereka. Apa saja!

@@@@@

“Taehyung-ah!” Jungkook meneriakkan nama pemuda berambut light caramel itu ketika melihatnya berjalan di koridor sekolah, hendak menuju kelas. Beberapa teman sekelas Jungkook pun terlihat menyusuri koridor yang sama. Ternyata, sudah waktunya pergantian pelajaran.

Mendengar namanya disebut, Taehyung membalik tubuhnya ke belakang, mendapati Jungkook berlari ke arahnya. “Kau dari mana?” tanya Taehyung begitu Jungkook tiba di hadapannya.

“Dari toilet,” jawab Jungkook. Keduanya lantas berjalan bersisian menyusuri koridor.

“Oh~”

Jungkook menghela napasnya. “Oh, ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah Jungkook. “Apa?”

Sebenarnya, Jungkook tidak mau menanyakan hal ini kepada Taehyung, tapi… dia tidak punya tempat lain untuk bertanya. Meskipun menyebalkan dan sedikit—maksudnya, cukup aneh, Taehyung satu-satunya orang yang ia percaya bisa membantunya—setidaknya memberi ide—untuk menyelesaikan ‘kasus’ pertamanya ini.

“Ehm.” Jungkook berdehem. “Jika kau ditugaskan untuk membuat seorang laki-laki dan seorang perempuan bersatu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Jungkook, menatap pemuda berambut light caramel di sebelahnya, lamat.

Kerutan halus muncul di dahi Taehyung. “Maksudmu… semacam aku menjadi mak comblang?”

Jungkook mengangguk. “Ya. Apa yang akan kau lakukan untuk membuat targetmu bersatu?”

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?”

Jungkook mendengus. “Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Taehyung!”

Taehyung terdiam sebentar. Menggerak-gerakkan bibirnya sembari mengelus-elus dagu lancipnya. Memikirkan jawaban untuk pertanyaan Jungkook. “Emm… tentu saja yang harus dilakukan adalah membuat mereka dekat.”

“Caranya?”

“Emm… entahlah. Mungkin kau harus membuat mereka makan bersama sehingga mereka bisa saling mengobrol.”

“Kau yakin dengan cara itu mereka bisa saling menyukai?”

Taehyung menggidikkan bahu. “Tidak juga. Tapi, itu kan langkah awal.”

Untuk kedua kalinya, Jungkook menghela napas. Ini sama dengan yang dilakukan Jin saat memberi contoh padanya. Membuat targetnya makan bersama. Masalahnya sekarang, bagaimana membuat Jimin dan Hara makan bersama? Aish!

“Hehehe… kau ada-ada saja, Yura-ya.”

“Tapi, aku benar, kan!? Dia itu kelihatan menyukaimu, Hara-ya~”

Saat Jungkook dan Taehyung melintas di dekat pertigaan koridor, Hara dan seorang temannya, Yura, melintas dan sekarang berjalan di depan mereka. Jungkook dan Taehyung sempat mendengar apa yang kedua senior mereka bicarakan. Ada seseorang yang sedikit ketahuan menyukai Hara.

Apa mungkin yang mereka maksud adalah Jimin Sunbae?

“Sudahlah, Yura. Jangan membuat gosip macam-macam. Tidak ada bukti kalau Jimin menyukaiku!”

Jungkook tersentak mendengar ucapan Hara. Oke. Dia tahu bahwa Jimin memang menyukai gadis manis berambut ikal itu, tapi… dia butuh bukti. Oh, God! Seharusnya ini lebih mudah untuk Jungkook. Dia hanya perlu membuat Jimin membuktikan perasaannya kepada Hara.

“Uh! Jatuh!” Jungkook tersadar dari lamunan sesaatnya begitu mendengar gumaman Taehyung.

“Apa yang jatuh?” tanya Jungkook bingung.

“Itu!” Taehyung menunjuk sebuah benda yang tergeletak begitu saja di lantai koridor. “Sepertinya itu punya Hara Sunbae,” sahut Taehyung. Jungkook melihat kedua senior di depannya kini berlari menuju deretan kelas tiga. Entah apa yang menyebabkan kedua gadis itu nampak terburu-buru hingga tidak menyadari ada sesuatu yang jatuh.

“Uh! Gantungan ponsel!” Tahu-tahu Taehyung sudah menghampiri benda itu. Memungutnya dan memperlihat gantungan ponsel berbentuk beruang kecil berwarna ungu kepada Jungkook. “Ini pasti punya Hara Sunbae,” celetuk Taehyung.

Jungkook menghampiri Taehyung, mengambil benda mungil itu dari tangan pemuda berambut light caramel. Untuk beberapa saat, ia menatap benda itu sejenak.

“Kita harus mengembalikannya,” kata Taehyung.

“Tidak!” sergah Jungkook cepat, berhasil membuat Taehyung menunjukkan tatapan herannya.

“Kenapa?”

Jungkook menatap Taehyung. “Mungkin ini bisa menjadi sesuatu yang penting untukku!” sahutnya, tersenyum, lantas berjalan meninggalkan Taehyung.

“Hei! Jungkook, ternyata kau benar-benar normal!?” Taehyung pun tersenyum tak kalah lebarnya. Mengira Jungkook benar-benar jatuh hati pada seniornya, Hara. Setidaknya, itu bukti bagi Taehyung bahwa sahabatnya tidak mati rasa.

@@@@@

Kedua pemuda itu, Jungkook dan Taehyung, berjalan memasuki kantin yang sudah cukup ramai. Bang Sonsaengnim yang keasikan menjelaskan materi persamaan linear membuat waktu istirahat Jungkook dan teman-teman sekelasnya berkurang 10 menit.

“Hei! Kau ambil tempat duduk, biar aku yang mengambil makanan,” perintah Taehyung kepada Jungkook begitu melihat ramainya kantin saat ini. Takut jika mereka tidak mendapatkan tempat duduk untuk menikmati makanan mereka. “Kau mau makan apa?”

“Sama denganmu saja,” sahut Jungkook.

Okay~”

Taehyung menganyunkan langkahnya menuju antrian siswa-siswi yang ingin memesan makanan, sementara Jungkook bergerak mencari tempat untuk ia dan juga Taehyung. Tidak butuh waktu lama, Jungkook mendapat dua tempat kosong. Sebuah bangku-meja panjang dimana beberapa siswi juga sedang duduk di sana. Dari pada makan berdiri, lebih baik makan bersama siswi-siswi yang tidak ia kenal. Lagi pula, dilihat dari makanan di mangkuk mereka, sebentar lagi siswi-siswi di sekitar Jungkook akan beranjak dari kantin.

Jungkook diam saja sembari memandang ke sekitar kantin, menunggu Taehyung—tepatnya menunggu makanan yang dipesankan oleh Taehyung. Tidak mempedulikan cekikikan-cekikikan centil para siswi di sekitarnya. Entah mereka membicarakan apa, Jungkook tidak mau ambil pusing.

“AISH! KAU INI PUNYA MATA, TIDAK?” teriakan seorang pria bersuara berat itu sukses menarik perhatian semua siswa-siswi yang berada di kantin, begitu juga dengan Jungkook.

Di sana, tidak jauh dari tempat Jungkook duduk, seorang pemuda yang rambutnya dimodel spike sedang memarahi seorang pemuda berkacamata di depannya. Seragam pemuda berambut spike itu tampak basah dan kotor setelah terkena kuah ramyeon. Mungkin, pemuda berkacamata itu tanpa sengaja menumpahkan kuah ramyeon dari mangkuk yang masih ia pegang ke seragam pemuda berambut spike.

“SUDAH PUNYA 4 MATA, TAPI TIDAK DIGUNAKAN BAIK-BAIK! DASAR!” gerutu pemuda berambut spike itu, Namjoon, seraya menoyor dahi pemuda berkacamata.

Cukup banyak siswa-siswi yang kasihan melihat pemuda berkacamata itu, tapi… tidak ada satu pun yang berani untuk membelanya. Semua takut pada Kim Namjoon, siswa kelas 3 yang terkenal sangat galak di sekolah ini.

“Namjoon Sunbae galak sekali.”

Entah sejak kapan Taehyung duduk di hadapan Jungkook, namun pemuda berambut merah marun itu baru menyadari keberadaan sahabatnya setelah pemuda berambut light caramel itu bersuara.

“Jangan bicara macam-macam, Taehyung! Kalau dia dengar, kau bisa mati di sini!” desis Jungkook, mengingat di sekitar mereka ada beberapa siswi yang bisa mendengar ucapan Taehyung.

Taehyung hanya menggidikkan bahunya, tidak peduli. “Memang begitu kenyataannya, kan!?”

Ya, siapa yang tidak tahu bahwa siswa tergalak di sekolah ini adalah Kim Namjoon!? Selama dua kali menjadi bagian dari panitia penyambutan siswa baru, ia selalu berhasil mendapat predikat ‘senior tergalak’.

Jungkook masih mengingat, 6 bulan lalu, saat ia harus menjalani masa orientasi, Namjoon pernah memarahinya karena pemuda itu datang sedikit terlambat ke lokasi orientasi. Oke. Jungkook memang salah, tapi… dia hanya terlambat 2 menit. Namun bagi Namjoon, 2 menit atau 2 jam, itu sama saja. Jungkook terlambat! Akibatnya, Jungkook diperintahkan berjalan kodok dari gerbang sekolah menuju koridor utama yang jaraknya 50 meter.

Jungkook tidak menanggapi ucapan Taehyung. Memilih menikmati gimbap-nya dari pada membicarakan senior galak, Kim Namjoon. Bisa bahaya kalau pemuda berambut spike itu mendengar apa yang Taehyung ucapkan.

Sekitar beberapa menit kemudian, siswi-siswi yang duduk semeja dengan Jungkook-Taehyung mulai beranjak. Membuat Jungkook merasa lega karena akhirnya ia bisa bergerak bebas. Namun…, belum cukup semenit bangku panjang itu lengang, dua orang siswi datang menghampiri mereka, duduk di bangku yang sama.

“Ehm~”

Taehyung sengaja berdehem, bermaksud menggoda Jungkook. Pemuda berambut merah marun itu melihat tajam ke arah Taehyung, tahu maksud dari deheman itu. Ia lantas mendengus. Terserah Taehyung mau berpikir seperti apa mengingat dua siswi yang sekarang semeja dengan mereka adalah… Hara dan Yura.

“Huh~ kira-kira benda itu jatuh dimana, ya!?” ujar Hara terdengar sedih. Ia nampak kehilangan sesuatu yang penting.

“Yang jelas, pasti masih di sekitar sekolah,” balas Yura.

“Tentu saja. Saat berangkat ke sekolah, aku yakin benda itu masih menggantung di ponselku~”

Oh! Mungkinkah benda itu adalah…

“Sudahlah. Tidak usah sedih begitu. Gantungan ponsel semacam itu kan banyak di toko-toko! Kau bisa beli yang baru. Yang lebih bagus!” sahut Yura.

“Uhuk… uhuk… uhuk….”

Taehyung tiba-tiba saja terbatuk mendengar pembicaraan Hara dan Yura, membuat kedua gadis itu menoleh ke arahnya sejenak. Ya, Taehyung tahu benda apa dan berada dimana benda itu sekarang. Tidak peduli dengan adik kelas aneh yang tiba-tiba batuk, Hara dan Yura melanjutkan kembali pembicaraan mereka.

“Tidak bisa! Benda itu penting, Yura. Aku sangat menyukai benda itu!”

Yura mendengus. “Baiklah. Nanti aku bantu mencari gantungan ponsel berhargamu itu!”

Jungkook yang juga mengetahui maksud dari pembicaraan Hara dan Yura, bertingkah pura-pura tidak tahu. Bahkan saat Taehyung berdehem sekali lagi untuk menggodanya, ia tidak menanggapi. Keberadaan Hara membuat ia teringat akan misinya.

Sembari menikmati makanannya, diam-diam Jungkook memikirkan apa yang harus ia lakukan agar misi pertamanya terlaksana. Setidaknya, hingga detik ini ia sudah tahu beberapa hal. Jimin dan Hara adalah teman sekelas; Jimin menyukai Hara; Hara membutuhkan bukti dari gosip—menurutnya—bahwa Jimin menyukainya; Jimin mempunyai toko roti; dan terakhir, gantungan ponsel kesayangan Hara berada di tangannya.

Ayolah, Jungkookie, pikirkan! Pikirkan!

Tenangkan pikiranmu, lihat apa yang terjadi di sekitarmu, manfaatkan data yang kau ketahui tentang targetmu dan lakukan apa saja untuk menyatukan mereka. Apa saja!

“Jungkookie, setelah ini temani aku ke ruang loker, oke!? Ada yang ingin aku ambil,” sahut Taehyung.

Loker?

Jungkook terdiam. Namun tiba-tiba, ia menatap Taehyung, lantas tersenyum lebar. “Kau hebat, Taehyung! Aku mencintaimu!”

“HA? MAKSUDMU?” kaget Taehyung. Pemuda bersuara berat itu melotot mendengar ucapan yang keluar dari mulut sahabatnya. Ikut membuat kaget Hara dan Yura yang berada di dekatnya. Beruntung bagi Jungkook, kedua gadis itu tidak mendengar ucapannya kepada Taehyung.

Jungkook tidak menjawab, hanya memamerkan senyum lebarnya. Hahaha… akhirnya aku tahu apa yang harus aku lakukan, Jin! Aku punya ide untuk menjalankan misi pertamaku.

Namun, Taehyung yang tak kunjung mendapat penjelasan dari Jungkook, bergidik ngeri. Memakan mentah-mentah ucapan Jungkook yang mengatakan ‘aku mencintaimu’. Oh, God, sahabatku, Jungkook, ternyata tidak normal!

@@@@@

“TREEEEEET!!!”

Bel tanda para siswa boleh pulang ke rumah menggema di seluruh penjuru sekolah. Tidak butuh waktu lama, suasana sekolah yang semula lengang karena para siswa sibuk belajar di kelas masing-masing, kini dihiasai warna kuning-hitam dari seragam para siswa yang berhamburan keluar kelas.

Gadis berambut ikal itu, Hara, berjalan bersisian dengan Yura menuju ruang loker untuk menyimpan beberapa bukunya. Raut wajah gadis itu tampak kecut. Merasa sedih karena ia tidak juga menemukan gantungan ponsel kesayangannya setelah menyusuri koridor yang pagi tadi ia lalui bersama Yura.

“Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan benda itu, Hara,” bujuk Yura.

Hara menoleh sejenak ke arah gadis di sebelahnya, lantas menghela napas. “Aku akan memberikan apapun untuk orang yang bisa menemukan benda itu,” sahutnya.

“Ha?” Yura terkejut. “Maksudmu, kau… mau membuat poster pencarian untuk benda kecil yang banyak dijual di mall itu!?”

“Tentu saja.”

“Kau sinting!”

“Hei!” Hara memukul pelan lengan gadis itu. “Benda itu bukan benda sembarangan, Yura! Itu benda pembawa keberuntungan untukku!”

“Ya… terserah kau saja,” sahut Yura sekenanya.

Tiba di ruang loker yang di dalamnya terdapat beberapa siswa-siswi lain, Hara langsung beranjak ke depan lokernya. Membuka pintu loker berwarna kuning dengan tulisan ‘No Hara’ dalam huruf hangul di bagian depannya. Seketika, kedua manik mata gadis itu menemukan sesuatu yang pagi tadi tidak ada saat ia mengecek lokernya. Sebuah kertas yang dilipat, mungkin diselipkan melalui celah di bagian bawah pintu lokernya.

“Uh? Apa ini?” gumam Hara, mengambil benda itu.

Yura yang mendengar gumaman Hara beringsut mendekati gadis itu. “Itu apa?” tanyanya.

Hara menggidikkan kedua bahunya. “Entahlah. Tapi, pagi tadi benda ini tidak ada,” ujarnya.

“Sepertinya surat,” sahut Yura sok tahu. “Cepat baca isinya.”

Tanpa bicara, Hara menuruti perintah Yura. Membuka lipatan kertas itu hingga terlihat beberapa baris tulisan yang tertera pada permukaan kertas yang kusut.

Jika kau menginginkan gantungan ponselmu, temui aku di taman Sungai Han sore ini pukul 5. Aku mendapatkan benda itu dan akan aku kembalikan padamu di sana. Aku akan memakai baju berwarna biru. Sampai ketemu.

Hara dan Yura saling berpandangan satu sama lain setelah membaca kalimat-kalimat yang tertulis di sana. “Siapa yang melakukan ini?” tanya Hara.

Tentu saja Yura menggidikkan bahunya. “Mana aku tahu,” sahutnya. “Yang jelas, benda yang kau cari-cari itu berada di tangan seseorang dan jika kau ingin benda itu kembali, kau harus menemui orang itu sore ini!”

Hara menatap surat itu kembali. “Tapi, bagaimana jika orang ini hanya berbohong, Yura-ya? Mungkin saja ia sengaja menulis surat ini karena ia tahu kalau aku sedang mencari-cari benda itu!”

Yura memutar kedua bola matanya, jengah. “Hara, sayang, yang tahu kau kehilangan gantungan ponsel keberutunganmu hanya kau, aku dan beberapa teman di kelas. Jadi, kemungkinan, orang yang menyelipkan benda ini di lokermu adalah teman sekelas kita.”

“Kalau begitu, menurutmu siapa tulisan ini?”

Yura mengambil kertas itu dari tangan Hara. Mencoba mengingat siapa teman sekelasnya yang memiliki tulisan yang sama persis dengan tulisan di kertas ini. Namun, hasil dari pengamatan Yura selama sekitar 30 detik itu adalah, “Entahlah. Tulisannya cukup bagus. Bisa jadi perempuan,” katanya. “Tapi…, aku rasa, tidak mungkin perempuan yang melakukan hal semacam ini, jadi… bisa saja salah satu dari laki-laki di kelas kita,” jelas Yura.

“Begitu?”

Yura mendengus. “Sudahlah. Intinya, kau harus menemui orang yang menulis surat ini sore nanti. Titik!” tegas Yura. “Kalau sudah tidak ada yang ingin kau lakukan, ayo kita pulang. Kepalaku pusing berlama-lama di sekolah~” ujar Yura.

Hara menghela nafas, lantas melipat kembali surat itu, kemudian menyelipkannya ke dalam saku bagian dalam seragamnya. “Baiklah, ayo pulang~” desis Hara. Terselip rasa penasaran di dalam benaknya, sedikit ragu untuk menemui orang misterius yang mengaku memiliki gantungan ponsel keberuntungannya.

Oh, God, mudah-mudahan saja dia benar-benar teman sekelasku.

Sementara itu, di depan sekolah, Jungkook nampak mengejar seseorang yang berjalan agak jauh di depannya. Ransel di punggungnya berguncang-guncang tatkala pemuda berambut merah marun itu berlari. Beberapa kali ia tidak sengaja menyenggol orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya, membuat ia mendapat gerutuan.

“Jimin Sunbae!” teriak Jungkook.

Pemuda bernama Jimin yang berjalan sekitar 3 meter di depan Jungkook pun berbalik begitu mendengar seseorang meneriakkan namanya. Didapatinya adik kelas yang pagi tadi sempat dihukum bersamanya, Jungkook, sedang menumpukan kedua tangannya di lutut, mengatur nafas yang tersengal. Jimin, pemuda itu menghampiri Jungkook.

“Kau yang memanggilku?” tanya Jimin ketika ia berdiri di hadapan Jungkook.

Jungkook bergegas menegakkan tubuhnya, menatap senior di hadapannya, kemudian mengangguk.

“Ada apa?” tanya Jimin.

“Boleh aku minta tolong sesuatu pada Jimin Sunbae?”

Alis Jimin meliuk. “Minta tolong apa?”

Bergegas Jungkook mengeluarkan sesuatu dari saku blazer kuningnya, lantas memberikan benda itu pada Jimin. “Itu gantungan ponsel milik Hara Sunbae. Bisa kau kembalikan padanya sore ini?”

Alis Jimin semakin meliuk. “Sore… ini?”

Jungkook mengangguk. “Ya, sore ini, jam 5 sore di taman Sungai Han.”

“Tunggu! Kenapa harus sore ini dan kenapa harus di taman Sungai Han?” tanya Jimin bingung.

“Sudahlah! Jangan banyak tanya. Pokoknya Jimin Sunbae harus datang ke taman Sungai Han sore ini. Ah, dan jangan lupa memakai baju warna biru!”

Jimin membulatkan kedua mata sipitnya. “Hei! Hei! Kenapa kau mengaturku seperti itu? Sebenarnya ada apa?”

“Pokoknya Jimin Sunbae datang saja. Kalau tidak, Jimin Sunbae akan menyesal. Aku serius! Ah, satu lagi, jika Hara Sunbae menanyakan siapa yang menemukan benda itu, bilang bahwa kau yang menemukannya, oke?” sahut Jungkook terburu-buru, lantas berlari meninggalkan Jimin.

“HEI! TUNGGU DULU… AISH!” Jimin menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Jungkook berlari begitu saja. “Aish! Apa-apaan anak itu?!” gerutunya.

Ia lalu menghela napas, kemudian memandang benda yang diberikan Jungkook padanya. Ya, ini memang kepunyaan Hara. Tapi, bagaimana benda ini bisa berada pada anak itu!?

@@@@@

Gadis itu duduk di salah satu bangku yang berada di taman di dekat Sungai Han. Menghadap ke arah sungai, melihat air yang mengalir begitu lembutnya. Sesekali gadis itu mengecek jam tangannya, melihat sudah jam berapa sekarang.

Jam 5 tepat.

Hara melihat sekitarnya, mencari orang berbaju biru. Bahkan ia sampai berdiri dari duduknya, berputar hanya untuk mencari tahu apakah ada seseorang berbaju biru di belakangnya, di sekitar lapangan basket. Namun, terlalu banyak orang berbaju biru di tempat ini.

Aish! Apa orang itu mengerjaiku?

Hara mulai gelisah. Takut dirinya hanya dipermainkan mengingat pengirim surat misterius itu belum menampakkan batang hidungnya. Huh, apa orang itu benar-benar akan datang, eoh?

Hara kembali duduk di tempatnya, sekali lagi mengecek jam tangannya. Ia menghela nafas. Berjanji dalam hati akan memberi 30 menit untuk si-pengirim-surat-misterius-berbaju-biru itu menampakkan batang hidungnya.

Tidak jauh dari tempat Hara duduk, Jungkook berdiri di balik pohon. Ia pun sama gelisahnya dengan Hara. Menunggu Jimin yang belum datang juga. Berkali-kali pemuda itu mendecak sebal.

Aish! Kenapa Jimin Sunbae belum datang?

Apa… jangan-jangan dia mengira aku mengerjainya?

Aish! Kenapa aku bodoh sekali!? Kenapa tadi aku tidak meminta nomor ponsel senior itu!? Aish! Bagaimana ini? Bisa-bisa rencana ini gagal. Argh!

Di tempat lain, orang yang mereka—Jungkook dan Hara—tunggu, Jimin, tengah duduk di dalam sebuah bis. Tidak jauh berbeda dengan Hara dan Jungkook, pemuda bermata sipit itu pun gelisah. Gelisah karena ia tahu dirinya terlambat dari waktu yang dikatakan Jungkook.

Mengenakan raglan berwarna biru dan topi hitam kesukaannya, pemuda itu mencoba menenangkan dirinya. Bagaimana tidak? Gadis yang akan ditemuinya sore ini di taman Sungai Han adalah No Hara, pujaan hatinya. Bodohnya, dia malah terlambat! God. Itu akan membuat kesan yang tidak baik. Aish! Kalau saja tadi ibunya tidak menyuruhnya mengantar roti pesanan, dia pasti tidak akan terlambat.

Uh, bagaimana ini?

Apa Hara masih di sana?

Atau… mungkin saja dia sudah pulang.

Aish! Park Jimin, kau ini benar-benar bodoh.

Sekitar beberapa menit kemudian, Jimin tiba di halte terdekat dengan Sungai Han. Bergegas turun dari bis, kemudian beranjak ke area taman. Sambil berjalan, kedua matanya terus melihat sekitar, mencari keberadaan Hara.

Uh, dimana Hara sekarang?

Jimin masih berjalan, sesekali memutar tubuhnya, menoleh ke sana dan ke sini untuk mencari Hara. Namun, ia sama sekali tidak menemukan gadis berambut ikal itu.

Apa dia sudah pulang?

Atau… jangan-jangan anak berhidung besar itu mengerjaiku, eoh!?

Awas saja kalau…

Sunbae!” tegur Jungkook, berhasil membuat Jimin tersentak.

Tadinya, Jungkook berencana menyusul Jimin ke rumahnya, ke toko roti Park, namun beruntung…, Jungkook melihat Jimin berada di taman, terlihat kebingungan.

“Aish! Kau ini membuatku kaget saja!” Jimin mengelus dadanya. “Apa yang kau lakukan di sini? Dimana Hara? Kau tidak membohongiku, kan?!” Jimin langsung memberondong pemuda berambut merah marun itu dengan banyak pertanyaan.

Jungkook memutar kedua bola matanya. “Hara Sunbae sudah sejak tadi menunggumu. Ikut aku sekarang,” ujar Jungkook, tanpa ijin menarik tangan senior yang sedikit lebih pendek darinya itu.

@@@@@

No Hara. Gadis itu terlihat duduk sembari menekan-nekan keypad ponselnya, menunggu si pengirim surat misterius itu datang. Tersisa 5 menit lagi dari batas waktu yang diberikan Hara untuk memberi kesempatan si pengirim surat misterius itu menghampirinya.

Oke. Setelah 5 menit ini berlalu, jika orang itu tidak datang, aku benar-benar akan pulang!

“Hara-ssi?”

Suara lembut seorang pemuda membuat Hara menolehkan kepalanya ke arah kanan. Mendapati pemuda bermata sipit berpakaian biru serta topi hitam yang menutupi kepalanya. Tentu saja Hara mengenal pemuda ini.

“Uh? Jimin-ssi?” Hara membulatkan matanya melihat Jimin menghampirinya. “Apa kau—” Hara memilih untuk tidak menyelesaikan kalimatnya. Berharap Jimin mengerti tanpa perlu ia perjelas.

Jimin mengangguk, lantas mengeluarkan gantungan ponsel keberuntungan milik Hara. “Ini milikmu, kan?!”

Hara mengambil benda mungil itu dari permukaan telapak tangan Jimin yang nampak berkeringat. “Ya. Ini milikku. Bagaimana kau bisa menemukannya, hm?”

Jimin terdiam sejenak. Ia ingat, sebelum menemui Hara, Jungkook, adik kelasnya itu mengatakan sesuatu tentang hal ini. Jimin tidak tahu apa maksudnya, tetapi pemuda itu meminta Jimin untuk mengakui bahwa dialah yang menemukan benda keberuntungan Hara itu.

“Jimin-ssi?” Hara menunggu jawaban.

“A-anu… itu… aku menemukannya saat aku ke toilet,” jawab Jimin, menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal.

Hara tersenyum ramah. “Kalau begitu, terima kasih, Jimin-ssi. Ini benda keberuntunganku. Aku pikir benda ini hilang atau diambil oleh orang lain. Aku sungguh berhutang budi padamu.”

Jimin tersenyum salah tingkah. “Ehehe… ya, sama-sama,” balasnya. “Padahal, bukan aku yang menemukannya,” lanjutnya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, keduanya terdiam. Tenggelam dalam suasana canggung yang tidak mengenakkan. Udara di sekitar mereka terasa berat di punggung masing-masing. Bingung harus membicarakan apa atau… melakukan apa.

Tidak jauh dari tempat mereka, Jungkook bersembunyi di balik sebuah pot bunga yang cukup besar untuk membuat dirinya tidak terlihat oleh Jimin dan Hara. Melihat dari jauh apa yang dilakukan oleh kedua targetnya. Tentu saja berharap agar keduanya bisa bersatu.

“Euum…, Jimin-ssi?” Hara membuyarkan keheningan di antara mereka—ia dan Jimin.

“Ya?”

“Eum, apa kau ingin sesuatu?”

Jimin membulatkan mata sipitnya. “Maksudmu?”

“Eung…, sebagai ucapan terima kasih karena kau telah menemukan benda ini. Apa kau menginginkan sesuatu?”

“Ah, tidak usah. Tidak perlu repot, Hara-ssi,” tolak Jimin, pura-pura tidak butuh. Namun dalam hatinya, ia tahu ia menginginkan sesuatu dari Hara.

Hara tersenyum. “Tidak. Tidak apa, Jimin-ssi. Aku sama sekali tidak merasa repot. Katakan saja. Kau mau apa, hm?”

Seketika Jimin terdiam. Jemari telunjuk kanannya bergerak menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal. Antara ingin mengucapkan keinginannya atau… tetap berpura-pura menolak permintaan Hara.

“Kenapa diam, hm? Katakan saja,” ujar Hara lagi.

“Uh… anu…,” gumam Jimin sembari menundukkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan gadis manis di hadapannya, “kalau ada waktu… nanti malam, kau mau menonton bersamaku?” tanya Jimin, terlihat takut-takut melihat Hara.

Uh, bagaimana kalau Hara menolak? God! Jimin akan sangat malu sekali.

“Kau mengajakku kencan, hm?” Hara tersenyum menggoda.

Wajah Jimin memerah. Ia lantas mengangguk pelan sebagai respon atas ucapan Hara.

“Baiklah, kalau begitu,” lanjut Hara.

Jimin menegakkan kepalanya. “Kau benar-benar mau?”

Hara menganggukkan kepalanya. “Kau tinggal hubungi aku saja. Kau mau nonton dimana dan jam berapa. Aku pasti datang,” ujarnya.

Jimin merasa ada jutaan kembang api yang menyala-nyala di sekitarnya. Dia tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum lebar. Tanda bahwa ia benar-benar bahagia hari ini.

“Kalau begitu, aku pulang dulu, Jimin-ssi. Terima kasih,” pamit Hara.

“Ah, biar aku antar kau pulang,” tawar Jimin. Hara mengangguk.

Jungkook bisa melihat kedua targetnya berjalan bersisian meninggalkan taman Sungai Han. Terlihat saling mengobrol satu sama lain, nampak diselingi suara tawa. Jungkook bisa memastikan bahwa… rencananya berhasil.

Benar saja.

Sepersekian detik kemudian, bandul kalung Jungkook berpenda-pendar mengeluarkan cahaya berwarna-warni. Kedua mata Jungkook tidak berkedip melihat kalungnya bereaksi sepeti itu. Lantas, beberapa detik kemudian, seiring dengan memudarnya cahaya warna-warna yang berpendar di sekitar bandul, sebuah bentuk hati muncul di tengah bandul.

“Aku berhasil,” bisik Jungkook pada dirinya sendiri.

“Woah, selamat! Kau berhasil!” Jin tiba-tiba saja datang.

Jungkook terperanjat. Masih belum terbiasa dengan kemunculan Jin yang tiba-tiba. “Aish! Kau ini, bikin kaget saja,” gumamnya.

Jin memutar kedua bola matanya, jengah. Jungkook selalu mengatakan kalimat itu setiap kali ia muncul. Memilih untuk tidak membalas ucapan Jungkook itu.

“Lalu, sekarang bagaimana, Jin?” tanya Jungkook. Menatap makhluk serba merah muda itu.

“Tentu saja kau harus melanjutkan ke target keduamu, eoh,” jawab Jin. “Dimana love-tablet-mu?”

“Aku tidak membawanya,” jawab Jungkook polos.

Jin mendengus. “Kau harus membawa benda itu kemana-mana! Ck!” kesalnya. Tidak lama kemudian, cupid tampan itu menjentikkan jarinya dan secara ajaib, love-tablet milik Jungkook berada di tangannya. “Ini.” Jin menyerahkan benda itu kepada Jungkook. “Sekarang lihat siapa target keduamu!”

Baru beberapa menit Jungkook bernapas lega karena ia berhasil menyaukan target pertamanya, sekarang ia harus disusahkan lagi oleh target kedua yang bisa saja lebih sulit dari Jimin dan Hara.

Dan…

“Astaga!” Jungkook terkejut melihat foto seorang laki-laki yang menjadi target keduanya.

“Kenapa?” tanya Jin.

“Kau pasti bercanda! Bagaimana mungkin orang ini menjadi targetku?”

Jin mengernyitkan dahinya. “Hei! Jangan menyalahkanku! Bukan aku yang mengatur target untukmu!” Jin membela diri. “Lagi pula, memangnya ada apa dengan target keduamu?” tanya Jin yang tidak mengerti.

Jungkook tidak menyahut. Tatapan matanya kosong. Sungguh terkejut menerima kenyataan yang baru saja didapatnya.

Tuhan, tolong ambil nyawaku saja.

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N2:

Annyeong~

Apa kabar kalian semua?

Gimana libur lebarannya?

Lebaran kemarin dapat THR berapa? Hehehe. Gegara aku udah selesai kuliah, dapat THR-nya cuma dikit T.T *kenapa curhat di sini?*

Oh iya, di sini aku mau menjelaskan tentang komen-komen yang masuk di beberapa chapter sebelumnya. Kalo ada yang merasa FF ini MIRIP sama film Thailand-yang-mungkin-kalian-lupa-judulnya-apa, saya mau bilang kalo IYA, FF ini memang terinspirasi dari film itu—judulnya MY NAME IS LOVE. Dari chapter prolog aku sudah nulis keterangan itu di DISCLAIMER FF. Di situ aku sudah tulis dengan jelas ide untuk membuat FF ini berasal dari mana.

Terakhir, meski ini udah telat seminggu, saya mau minal aidin wal faidzin-an sama adik-adik(?)*ngerasa paling tua* semua. Maaf atas semua kesalahan saya ya yang suka telat balas komen (malah dari chapter prolog kayaknya belum ada komen yang saya balas T/\T), suka telat ngirim FF ke admin sampai jadinya FF ini telat di-post dan kesalahan-kesalahn lain yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Dimaafin, ya~

Oke. Buat yang udah nunggu chapter 2 (ada yang nungguin gak sih?), ini buat kalian~ Hope you like it. Leave your comment, please. I’m waiting ^^

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Kenapa mesti TBC??????
    Aku kepo HUHA
    Authornya minta diketekin HUHA /nyebur/
    Author gamau TAHU maunya tempe/? Ini FF harus kudu wajib dilanjutkan AS SOON AS POSSIBLE!!!
    Sekian>~<
    ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ

  2. ngakak pas baca “Kau hebat, Taehyung! Aku mencintaimu!” Sial apa bgt😄
    Namjoon? Taehyung? (?) /plak
    next jgn lama2 ya thor huehue

  3. Daebak , bener bener daebak ff nya . Lanjutkan yaa thor , kepo maksimal nihh sebenernya target keduanya jungkook siapa . Fighting thor!!!

  4. Whahaha aku telat baca ini thor -_- ah ini makin menarik sumpah, itu siapa target keduanya jungkook ? Janganjangan si namjoon galak ? Hahahah next chap ditunggu ya thor jangan lamalama hehe😀

  5. Siapa targetnyaaaa???
    Namjoon oppa???
    Taehyung???
    Shina??
    Atau… yoongi sama sepupunya jungkook???
    Ayo update author…
    Aku kepoooo……
    Hehe….
    Keep writing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s