FF oneshot/ GOODBYE SUMMER/ BTS-BANGTAN


Author: @ismomos

 

Cast:

 

– Kim Seokjin (BTS Jin)

– Shin Saeri

– Min Yoongi (BTS Suga)

– Park Hana

– Kim Namjoon (BTS RapMon)

– Jung Jikyung

– Jung Hoseok (BTS J-Hope)

– Cha Yeonhwa

– Park Jimin (BTS Jimin)

– Han Yoora

– Kim Taehyung (BTS V)

– Park Hyerim

– Jeon Jungkook (BTS Jungkook)

– Kim Yeonyoung

 

Genre: Romance, Fluff, School-Life

 

Length: Oneshoot

 

A/N: This is my last FF before i’m hiatus. I hope you like it. Enjoy!

 

[BGM: Goodbye Summer – F(X) feat EXO’s DO]

 

 PhotoGrid_1403638813126

 

-The Day of Graduation at Victory High School-

 

 

I remember when we were yelled at for talking in the halls

I don’t know why it was so fun even when we were being punished

 

 

“INI SEMUA GARA-GARA KAU, KIM TAEHYUNG!!” teriak seorang gadis sambil memukuli bahu lelaki yang dipanggil Taehyung itu.

“YAK! YAK! YAK! Apa-apaan kau Park Hyerim?! Aaaaargh, APPO!”

Taehyung semakin menjerit kesakitan ketika gadis yang bernama Hyerim itu memukuli bahunya semakin keras. Padahal lelaki itu tengah sibuk membawa alat-alat kebersihan di tangannya.

“Kalau kau tidak telat menjemputku, kita tidak akan terlambat untuk latihan paduan suara, dan-kita-tidak-akan-dihukum-seperti-ini-lagi-Kim- Taehyung!” kata Hyerim sambil memberi penekanan pada kalimatnya

Gadis itu mendengus ke arah Taehyung. Tapi tangannya malah meraih sebagian alat kebersihan yang ada di tangan Taehyung, ingin membantu lelaki itu.

Mereka berdua tengah berjalan menuju lapangan basket indoor yang ada di sekolah mereka. Padahal dua jam lagi acara pelepasan murid kelas 3 akan dimulai, dan mereka termasuk salah dua dari murid-murid kelas 3.

Namun karena mereka terlambat untuk latihan paduan suara, jadi Im songsaemnim menghukum mereka untuk membersihkan lapangan basket indoor sebelum acara pelepasan kelas 3 dimulai.

“Ini semua gara-gara kau, Kim Taehyung!”

Hyerim mengulang keluhannya pada Taehyung. Meskipun mulutnya terus mengeluarkan keluhan-keluhan untuk kekasihnya itu, tapi tangannya tetap mengerjakan hukumannya. Hyerim tengah menyapu pinggir lapangan basket. Sedangkan Taehyung sibuk mengelap kaca yang tak jauh dari posisi Hyerim berada.

“Seharusnya kau bisa bangun lebih awal, Tae.”

Hyerim masih terus melancarkan keluhannya pada Taehyung sambil mengerucutkan bibirnya. Gadis itu tak sadar jika Taehyung tengah diam-diam mendekati dirinya. Lelaki itu berdiri tepat dibelakang Hyerim, sambil menyembunyikan sesuatu dibalik badannya. tentunya tanpa diketahui gadis itu.

“Bukankah sudah ku bilang? Pasang alarmu itu dan—”

“Hyerim-ah.”

Hyerim menoleh kaget ke arah belakang, saat ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.

CROOT!

Taehyung menyemprotkan cairan pembersih kaca pada wajah Hyerim. Gadis itu mengerjapkan matanya karena mendapat perlakuan seperti itu secara tiba-tiba. Dan saat ia melihat si pelaku yang berada di hadapannya itu tengah tersenyum konyol, bahkan seperti mengulum tawanya, Hyerim langsung mengambil ancang-ancang ingin membalas Taehyung.

Lelaki itu seketika melarikan diri dari hadapan Hyerim sambil tertawa puas, membuat gadis itu kembali memanyunkan bibirnya.

“YAAAK KIM TAEHYUNG!!” teriak Hyerim terdengar di seluruh sudut lapangan basket indoor itu.

Demikian dengan tawa Taehyung yang juga menggema di ruangan itu. Ia puas sudah mengerjai kekasihnya. Entahlah, melihat ekspresi marah Hyerim adalah kesuakaan Taehyung. Menurutnya, Hyerim terlihat sangat cantik jika sedang marah.

“HAHAHAHA AKU HANYA INGIN MEMBUAT WAJAHMU TAK KUSUT LAGI, HYERIM-AH. DARI TADI PAGI KAU TERUS SAJA MENEKUK WAJAH CANTIKMU ITU. HAHAHAHA.”

Taehyung tertawa sambil berlari menghindari kejaran Hyerim. Lapangan basket yang seharusnya menjadi bersih malah terlihat semakin berantakan karna ulah mereka.

Setelah lama berlari, Hyerim merasakan nafasnya tersengal, ia memutuskan untuk berhenti mengejar Taehyung. Hyerim tengah memutar otaknya memikirkan bagaimana caranya membalas Taehyung.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, Hyerim melihat beberapa alat kebersihan yang belum digunakan. Ada kain pel, lap kaca, dan sebotol cairan pembersih lantai. Tiba-tiba Hyerim mengangkat sebelah sudut bibirnya, membentuk sebuah smirk. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk membalas dendam pada Taehyung.

Hyerim melirik sekilas ke arah Taehyung, ternyata lelaki itu juga kelelahan dan sedang merebahkan diri di salah bangku yang ada di pinggir lapangan. Kesempatan emas untuk Hyerim karena saat ini lelaki itu sedang lengah.

Hyerim menuang sedikit cairan pembersih itu ke lantai, lalu menyamarkan cairan itu agar tak begitu terlihat. Setelah siap dengan jebakannya, Hyerim memanggil Taehyung untuk menghampirinya.

“Taehyung-ah! Bantu aku mengambil air untuk mengepel, jebal..” kata Hyerim sambil mengacungkan ember yang dipegangnya, pura-pura meminta tolong pada Taehyung.

Meskipun dirinya masih merasa kelelahan, namun lelaki itu langsung bangun dari posisinya, ia juga tidak tega membiarkan kekasihnya itu mengangkat air. Jadi Taehyung hanya menuruti saja apa yang dikatakan Hyerim tanpa rasa curiga sedikitpun. Hyerim sekuat tenaga menahan tawa saat Taehyung mulai berjalan mendekati tempat jebakannya.

Hana… Dul…Se—

SREEEK! “AAAAAAAARGH.” teriak Taehyung ketika dirinya terpeleset di lantai dan jatuh begitu saja. Bukannya merasa kasihan pada Taehyung, Hyerim malah tertawa dengan puas.

“HAHAHAHA SEKARANG KITA SATU SAMA, KIM TAEHYUNG!! WLEEE!” sorak Hyerim sambil menjulurkan lidahnya.

Taehyung sontak melongo melihat reaksi kekasihnya itu. Jadi—-ini hanya jebakan?

“YAK PARK HYERIM!!” teriak Taehyung memanggil nama Hyerim.

Yang dipanggil malah sibuk tertawa puas sambil memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu keras tertawa. Taehyung masih terpaku dengan posisinya, lalu mendecakkan lidahnya. Tidak menyangka dirinya akan dibalas seperti ini.

“Yaak Park Hyerim, tolong bantu aku berdiri. Kakiku terkilir—-argh!” Taehyung meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.

Hyerim menghentikan tawanya, lalu menatap ke arah Taehyung yang tengah kesakitan. Baru ia ingin membantu Taehyung, tiba-tiba sebuah kecurigaan muncul dalam pikirannya, jangan-jangan itu hanya akting Taehyung saja agar lelaki itu bisa kembali membalasnya.

Hyerim memutuskan untuk bergeming di tempat, tidak jadi membantu Taehyung.

“Paling itu hanya akal-akalanmu saja kan biar kau bisa mengerjaiku lagi? Huh, tidak akan mempan, Kim Taehyung.” Hyerim tersenyum mengejek ke arah Taehyung, kemudian ia menjulurkan lidahnya lagi.

Lelaki itu masih meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.

“Aku tidak bercanda, Hyerim-ah. Ssshhh kakiku benar-benar sakit. Aku bahkan tidak sanggup berdiri—-arghh.”

Ekspresi Taehyung yang menunjukkan kesakitan membuat Hyerim ragu dengan pemikirannya sendiri. Apa kaki Taehyung terkilir sungguhan? Tiba-tiba perasaan bersalah menyelimuti hati Hyerim. Ia langsung menghampiri Taehyung tanpa pikir panjang lagi.

“Ya, gwaenchana?” tanya Hyerim panik.

“Bantu aku berdiri, Hyerim-ah.” pinta Taehyung sambil mengulurkan tangannya ke atas.

Hyerim langsung meraih tangan Taehyung. Mencoba menarik Taehyung dengan sekuat tenaga. Namun bukannya ia yang menarik Taehyung, malah badannya lah yang tertarik. Dan saat ia tersadar, dirinya sudah berada di dalam dekapan Taehyung. Taehyung sengaja menarik Hyerim agar ia bisa memeluk gadis itu dengan posisi Hyerim yang berada di atas badannya.

“Jadi kau ingin bermain-main denganku, heum? Bagaimana kalau kita bermain permainan yang lain?” bisik Taehyung tepat ditelinga Hyerim.

Mendengar pertanyaan Taehyung, sontak Hyerim menelan ludahnya sendiri. Tak ada lagi ekspresi konyol dan kekanakan dari seorang Kim Taehyung. Kini lelaki itu tengah menatapnya—-err seduktif?

Belum sempat Hyerim menjawab pertanyaan Taehyung, gadis itu sudah merasakan bibir Taehyung menempel pada bibirnya. Meskipun mereka sudah sering melakukannya, namun tetap saja, setiap kali bibir itu menempel pada bibirnya, ia merasakan seperti ada sengatan listrik yang menyetrum tubuhnya.

“Eungh–” desah Hyerim tertahan, membuat Taehyung memperdalam ciuman mereka.

Cukup lama mereka berciuman, sampai akhirnya Hyerim melepaskan ciuman mereka untuk sejenak mengambil nafas. Taehyung menatap wajah Hyerim dengan tatapan teduh sambil mengelus rambut gadis itu lembut lalu menyelipkan rambut itu ke telinga Hyerim.

Kemudian Taehyung tersenyum. Senyum yang sangat memabukkan bagi Hyerim. Senyum Taehyung adalah candu untuknya. Gadis itu pun membalas senyuman Taehyung.

“Aku mencintaimu, Park Hyerim.”

Hyerim mendekatkan wajahnya pada dada bidang Taehyung, kini gantian gadis itu yang memeluk Taehyung.

“Aku juga mencintaimu, Tae. Sangat sangat.”

Taehyung membalas pelukan Hyerim sambil menciumi puncak kepala kekasihnya itu. Hari ini dia sangat bahagia. Ah tidak, tidak hanya hari ini. Baginya, selama Hyerim ada di sisinya, dia akan selalu merasa bahagia.

“Sebaiknya kita cepat membersihkan tempat ini sebelum Im songsaemnim datang, Tae. Pasti dia akan semakin marah kalau melihat kita belum membersihkannya.” kata Hyerim sambil melepaskan dirinya dari pelukan Taehyung dan beranjak dari tubuh lelaki itu.

“Ah—arasseo.”

Taehyung ikut beranjak dari posisinya dengan malas. Namun akhirnya ia mulai membersihkan tempat itu. Ya, tempat itulah yang menjadi saksi bagaimana cinta mereka bersatu. Karena tepat dua tahun yang lalu, Taehyung menyatakan cintanya pada Hyerim juga di tempat itu. Lapangan basket indoor sekolahnya.

 

 

 

“Dia yang menyebalkan. Dia yang selalu membuatku kesal. Dia yang kadang membuatku marah, namun tetap saja aku tak akan bisa menjauh darinya. Aku akan selalu kembali padanya. Tapi bukankah itu memang makna cinta yang sebenarnya? Cinta adalah tempat dimana kau selalu pulang.”- Kim Taehyung

 

 

*     *     *     *     *     *     *       *

 

 

You cried so much on the graduation’s day

I love you, I would hold you in my arms

 

 

     Setelah bagian kelasnya selesai memberikan sebuah penampilan khusus di acara perpisahan sekolah, Jimin langsung menghampiri sekumpulan murid kelas sebelah yang terlebih dulu telah memberikan penampilan mereka. Jimin berjalan menuju ke arah bangku penonton yang bertuliskan kelas XII-3, tempat sekumpulan murid itu berada.

Jimin melengkungkan senyuman lebar di bibirnya, ingin segera menemui gadisnya. Namun saat ia tiba pada tempat sekumpulan para murid itu, senyum lebarnya memudar.

“Cha Yeonhwa, kemana Yoora?” tanya Jimin dengan heran pada salah satu murid perempuan dari kelas sebelah yang merupakan teman sekelas Yoora,-nama gadis yang tengah dicarinya-.

Yeonhwa menoleh ke arah Jimin. Baru ia ingin menjawab pertanyaan lelaki itu, ada seseorang yang menjawab pertanyaan Jimin.

“Tadi Yoora bilang ia ingin ke toilet. Mungkin dia masih ada disana sekarang.” jawab Hoseok, murid lelaki yang juga termasuk salah satu dari murid kelas XII-3.

“Ah begitu? Terima kasih Hoseok-ah.”

Jimin langsung meninggalkan Yeonhwa dan Hoseok, tidak ingin mengusik mereka yang tengah menikmati pertunjukkan di atas panggung.

Jimin melangkahkan kakinya menuju toilet yang ada di dekat auditorium tempat acara perpisahan itu diadakan. Belum sampai ia ke toilet, langkah Jimin terhenti tepat di dekat pintu menuju taman sekolahnya. Ia melihat sosok yang ia cari. Yoora ada di sana, tengah duduk di bangku yang ada di taman itu. Langsung saja Jimin melangkahkan kakinya menuju taman.

“Han Yoora?” panggil Jimin, membuat gadis itu menoleh kaget ke arahnya.

Jimin pun duduk di sebelah gadisnya. Han Yoora.

“Sedang apa kau disini?” tanya Jimin lagi.

Yoora tersenyum, “Aku hanya ingin melewati acara perpisahan sekolah di tempat pertama kali kau menyatakan cintamu padaku, Jimin-ah.” kata Yoora yang sudah mengalihkan pandangannya dari Jimin. Kini ia sedang menengadahkan kepalanya menatap cerahnya langit sore pada hari ini.

Jawaban Yoora membuat Jimin tersenyum, kemudian ia ikut menengadahkan kepalanya menatap langit.

“Waktu cepat sekali berlalu, ya.” gumam Yoora pelan, namun Jimin dapat mendengarnya.

Lelaki itu hanya mengangguk menyetujui ucapan Yoora.

“Sepertinya baru kemarin kau menyatakan cintamu padaku di tempat ini, tak terasa sekarang aku sudah dua tahun menjadi kekasihmu.”

Yoora masih menatap langit, dan matanya terlihat menerawang. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Jimin yang mendengar ucapan Yoora lagi-lagi ikut tersenyum, bahkan senyumnya semakin lebar.

Keduanya sama-sama terdiam, membiarkan suasana hening menyelimuti mereka. Jimin tak mampu menahan senyumnya saat ia teringat bagaimana ia menyatakan cintanya pada gadis yang ada di sebelahnya. Hari itu, ia benar-benar tak menyangka ternyata Yoora mempunyai perasaan yang sama dengannya. Gadis yang sudah ia sukai dari awal masuk sekolah ini juga—-

Jimin seketika menoleh ketika ia mendengar suara terisak dari gadis itu.

“Han Yoora, kau menangis?” tanya Jimin cemas saat melihat Yoora menitikkan air matanya.

Yoora membalas tatapan Jimin, air mata itu belum berhenti mengalir. Namun gadis itu tetap mengukirkan senyuman di bibirnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jimin semakin panik karna Yoora tak juga menjawab pertanyaannya.

Tangan Jimin meraih pipi Yoora, menghapus air mata itu dari wajah cantik gadis yang kini tengah menatap ke arahnya.

Jimin menatap mata itu lekat, mencoba mencari jawaban dari pancaran mata Yoora. Yoora meraih tangan Jimin yang masih berada di pipinya. Gadis itu tersenyum teduh.

“Gwaenchana, Jimin-ah. Hanya saja—-”

Jimin menaikkan sebelah alis, menunggu Yoora melanjutkan ucapannya. Gadis itu menghela nafas sebelum kembali bicara.

“Aku takut membayangkan bagaimana hubungan kita setelah ini.”

Kalimat Yoora membuat Jimin mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak pernah terpikirkan olehnya, Yoora akan mengatakan hal itu.

“Hari ini adalah hari terakhir kita bersekolah di tempat yang sama. Setelah ini, kau dan aku akan melanjutkan pendidikan di universitas dan jurusan yang berbeda. Pasti nantinya kita akan sibuk dengan dunia kita masing-masing. Kau sibuk dengan duniamu dan aku sibuk dengan duniaku. Bukankah dengan begitu kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama sesering dulu? Aku takut Jimin-ah.” kata Yoora yang kembali menitikkan air matanya.

Jimin langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, memberikan ketenangan dan kehangatan pada Yoora.

“Hey, hey, Han Yoora, dengarkan aku.” kata Jimin dengan lembut, tepat di telinga gadis itu.

Yoora menangis di dalam pelukan Jimin, membuat lelaki itu semakin mempererat dekapannya.

“Meskipun nanti kita bersekolah di universitas yang berbeda dan kita akan sama-sama disibukkan dengan kegiatan masing-masing, tapi aku tidak memedulikan hal itu, Yoora-ah. Aku tak peduli seberapa sibuknya kita nanti, seberapa jarangnya kita bertemu, bukankah dalam suatu hubungan yang terpenting adalah sebuah kepercayaan?”

Jimin melepaskan pelukannya pada Yoora, lalu ia memegang kedua bahu gadis itu sambil menatapnya lekat. Tak lupa ia memberikan sebuah senyuman untuk gadisnya itu.

Yoora tahu senyum Jimin seperti sebuah virus yang menular, membuatnya ikut tersenyum menatap Jimin. Ia tak menghapus air matanya karena sudah ada jari-jari Jimin yang melakukannya.

“Hubungan kita akan baik-baik saja. Selama kau percaya padaku dan aku percaya padamu, hubungan kita akan selalu baik-baik saja.” kata Jimin penuh dengan keyakinan.

Mendengar itu, senyum Yoora semakin lebar, “Aku sungguh beruntung memilikimu, Jimin-ah.”

“Tentu saja, aku terlahir memang untuk memberikan keberuntungan bagi orang lain. Terutama untuk kau, Han Yoora.” kata Jimin dengan begitu percaya diri, sambil mengulum senyumnya. Membuat wajah imut lelaki itu menjadi semakin imut.

“Yak, kau Park Jimin–” kata Yoora sambil melancarkan cubitannya pada pinggang Jimin. Ingin memberikan pelajaran kepada kekasihnya itu karena sudah terlalu percaya diri.

“Yak! Yak! Appo, Yoora-ah. Sekali lagi kau berani mencubitku, aku tak akan segan-segan untuk menciummu.” ancam Jimin sambil sibuk menghindari cubitan Yoora pada pinggangnya.

“Coba saja kalau kau berani melakukannya.”

Mendengar ucapan Yoora yang seperti menantangnya, Jimin langsung menahan tangan gadis itu dan menariknya agar wajah Yoora mendekat ke arahnya.

CHU~

Jimin mengecup bibir Yoora sekilas. Perlakuan Jimin yang tiba-tiba itu membuat pipi Yoora bersemu merah.

“Kau lihat, kan? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Han Yoora.”

 

 

 

“Meskipun hari ini adalah hari perpisahan sekolah, tapi aku harap perpisahan ini tidak akan berlaku pada hubungan kami. Aku dan dia sudah berjanji untuk saling percaya satu sama lain. Karena kami yakin, kekuatan cinta bukan diukur dari seberapa banyak waktu yang dapat dilalui bersama, namun dari seberapa besar rasa saling percaya.”- Park Jimin

 

 

*       *       *     *       *     *     *     *

 

 

Just like that hot summer when we could

say what we wanted

 

 

“Yeon noona!”

Gadis yang dipanggil namanya itu langsung menghentikan langkah, sehingga ia tertinggal dari sekumpulan teman-teman yang sedang asik mengobrol dengannya. Gadis bernama Kim Yeon itu menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Ternyata orang itu adalah Jungkook, adik kelasnya yang masih duduk di bangku kelas satu.

Jungkook mendekati Kim Yeon dengan ragu, ia sendiri belum begitu yakin dengan apa yang akan dilakukannya.

“Kim Yeon-ah, ppali, sebentar lagi giliran kelas kita yang akan tampil.” kata salah satu temannya. Mereka hendak menuju belakang panggung untuk mempersiapkan diri sebelum tampil. Kim Yeon menatap teman-temannya dan Jungkook secara bergantian. Namun saat dilihatnya Jungkook sudah berjalan mendekat ke arahnya, ia pun memutuskan untuk menunggu Jungkook terlebih dahulu.

“Kalian duluan saja, nanti aku menyusul!” kata Kim Yeon dengan sedikit berteriak karna jarak mereka agak jauh.

Teman-temannya pun mengangguk mengerti dan kembali berjalan menuju belakang panggung.

“Ada apa Jungkook-ah?” tanyanya saat Jungkook sudah berada di hadapannya.

“Ada yang ingin ku katakan, noona.” jawab Jungkook, namun terdengar sedikit ragu.

“Sekarang? Tapi sebentar lagi giliran kelasku yang tampil. Bagaimana kalau—-”

“Sebentar saja, noona.” kata Jungkook menyela ucapan Kim Yeon.

Awalnya Kim Yeon memandang Jungkook heran, namun karena lelaki itu menatapnya dengan tatapan memohon akhirnya ia mempersilakan Jungkook untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

Bukannya langsung bicara, Jungkook malah terdiam cukup lama.

“Ada apa, Jungkook-ah?” tanya Kim Yeon sedikit mendesak, karena Jungkook hanya diam saja.

Jungkook mengusap tengkuknya, selalu seperti itu jika ia sedang gugup, sedangkan Kim Yeon masih menunggu lelaki itu sampai bicara.

“Ah—hm—selamat atas kelulusanmu, noona.” kata Jungkook dengan gugup.

Ucapan Jungkook membuat Kim Yeon menaikkan sebelah alisnya. Entah mengapa, ia merasa bukan itu yang sebenarnya ingin dikatakan Jungkook.

“Hanya itu?” tanya Kim Yeon memastikan.

Jungkook mengangguk ragu, “N-ne, hanya itu, noona.”

“Ah baiklah kalau begitu, aku duluan ya. Teman-temanku sudah menunggu. Annyeong Jungkook-ah.”

Kim Yeon hendak berjalan menuju auditorium dan meninggalkan Jungkook. Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Kim Yeon, ia masih penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Jungkook. Yang pasti bukan hanya sekedar ingin memberi ucapan selamat atas kelulusannya. Kalau memang hanya itu, kenapa Jungkook sampai terlihat begitu gugup?

“Aku menyukaimu, noona.” gumam Jungkook tiba-tiba, namun dengan suara pelan.

Kim Yeon yang belum begitu jauh meninggalkan Jungkook, mendengar apa yang baru saja dikatakan lelaki itu. Tanpa sadar gadis itu melengkungkan sebuah senyuman.

“Aku mendengarnya, Jungkook-ah.” kata Kim Yeon sambil membalikkan badannya, kembali menghadap ke arah Jungkook.

“N-nde?”

Mata Jungkook langsung membulat sempurna, ia tidak menyangka Kim Yeon mendengar ucapannya barusan. Ia langsung merasakan pipinya bersemu merah. Kim Yeon sampai harus menahan diri untuk tidak mencubit pipi lelaki itu.

“Aku mendengar apa yang baru saja kau katakan, Jeon Jungkook. Kau bilang kalau kau menyukaiku, kan?”

Kim Yeon sontak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Jungkook, membuat lelaki itu berdiri mematung, tidak tahu apa yang harus di lakukannya. Seharusnya ia merasa lega karna sudah menyatakan perasaannya pada gadis yang selama ini ia sukai. Namun entah mengapa ia takut memikirkan jawaban apa yang akan diberikan Kim Yeon padanya.

“Terima kasih, Jungkook-ah.” kata Kim Yeon yang kini sudah tepat berada di hadapan Jungkook.

Jungkook memandang Kim Yeon dengan heran, tak mengerti dengan maksud ucapan gadis itu. Terima kasih untuk apa?

“Terima kasih karna sudah tidak membuatku menunggu lagi.”

Jungkook menaikkan sebelah alisnya, masih belum paham dengan apa yang diucapkan Kim Yeon.

CHU~

Tak disangka Jungkook, Kim Yeon menarik kerah seragamnya dan mencium pipi kanannya. Perlakuan Kim Yeon membuat tubuh Jungkook membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Apa–apa ia sedang bermimpi?

“Aku sudah lama menunggu kau mengatakan hal itu padaku dan aku juga sudah lama menunggu untuk mengatakan hal ini padamu—-aku juga menyukaimu, Jungkook-ah.”

CHU~

Kali ini Kim Yeon mencium pipi kiri Jungkook. Membuat lelaki itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Kim Yeon tertawa melihat ekspresi polos Jungkook.

“YAK KIM YEON YOUNG CEPAT KEMBALI. SEKARANG SUDAH SAATNYA KELAS KITA TAMPIL!”

Teriakan ketua kelas dari pintu auditorium membuat keduanya menoleh. Kim Yeon langsung berlari ke arah auditorium. Sekilas, ia kembali membalikkan badannya sambil melambaikan tangan ke arah Jungkook.

“JUNGKOOK-AH. TUNGGU SAMPAI AKU SELESAI, OKE?”

Jungkook yang sudah kembali tersadar, membalasnya dengan mengacungkan kedua jempolnya. Kim Yeon kembali berlari ke arah auditorium.

Saking bahagianya, Jungkook sampai melompat dan berteriak kegirangan.

“WOOHOOOO, YESS! YESS! YESS!” teriak Jungkook dengan bahagianya.

Lelaki itu menghela nafas lega lalu ia tersenyum lebar. Senyum paling lebar yang pernah ditujukkannya pada dunia. Hari ini memang hari yang paling membahagiakan untuknya.

Sebelum masuk ke auditorium, Kim Yeon sempat menoleh ke arah Jungkook dan melihat lelaki itu sedang melompat kegirangan. Kim Yeon hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Hari ini ia juga merasa bahagia. Sangat-sangat bahagia. Alasannya apa lagi kalau bukan karena Jungkook, adik kelas yang sudah lama disukainya.

 

 

 

     “Setiap perasaan harus diungkapkan, setiap cinta harus dinyatakan, karena tak semua orang mampu membaca apa yang tersimpan di dalam hati. Tak ada yang lebih membahagiakan selain mendapat balasan cinta dari orang yang kau cintai. Meskipun hari ini adalah hari terakhir aku satu sekolah dengannya, namun tepat pada hari ini kisah cinta kami baru saja dimulai.”- Jeon Jungkook

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

The friend label is a label that I got to hate

The feelings I’ve hidden still remain as a painful

secret memory

 

 

     Tepuk tangan penonton terdengar di seluruh sudut auditorium. Yeonhwa dan Hoseok masih duduk di bangku penonton bersama puluhan murid dan keluarga mereka untuk menyaksikan penampilan dari para pengisi acara di acara perpisahan sekolah.

Hoseok melirik ke arah Yeonhwa yang duduk tepat disebelahnya. Ia melihat gadis itu sedang tersenyum lebar menatap ke arah panggung, tengah menikmati penampilan girl group dari kelas XII-4 yang menamai diri mereka GLAM. Walau mata Yeonhwa fokus ke arah panggung, tapi Hoseok tahu sesekali gadis itu melirik ke arah lain.

“Sekali lagi kau melirik ke arahnya, dia akan sadar kalau sedari tadi kau memerhatikannya, Yeonhwa-ya.”

Ucapan Hoseok membuat Yeonhwa menoleh ke arah lelaki itu. Ternyata Hoseok memang sudah melihat ke arahnya.

“Min Yoongi akan sadar kalau kau sedari tadi memerhatikannya.”

“Yak Jung Hoseok!” reflek Yeonhwa menutup mulut sahabatnya itu dengan kedua tangannya sambil menoleh ke sekelilingnya, takut ada yang mendengar apa yang dikatakan Hoseok.

“Hmmpphhh—-”

Hoseok mencoba bicara tetapi mulutnya masih ditutup oleh tangan Yeonhwa. Gadis itu menatap Hoseok dengan tatapan sekali-lagi-kau-bicara-seperti-itu-kau-akan-mati-Jung-Hoseok. Lelaki itu langsung mengangguk cepat tanda mengerti dengan maksud tatapan Yeonhwa.

Yeonhwa melepaskan tangannya pada mulut Hoseok. Lelaki itu sontak mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

Yeonhwa mendelikkan matanya ke arah Hoseok, membuat lelaki itu tertawa melihat reaksi sahabatnya itu.

“Aku hanya bercanda, Yeonhwa-ya. Tidak ada yang mendengar, kau tenang saja.”

Tatapan Yeonhwa kembali mengarah ke arah panggung, mengacuhkan Hoseok. Ah lebih tepatnya kini tatapan Yeonhwa tertuju pada salah satu lelaki yang sedari tadi berada di depan panggung dan sibuk dengan kamera yang menggantung di lehernya. Min Yoongi.

“Yak Cha Yeonhwa, kau masih marah? Bukankah tadi sudah ku bilang aku hanya bercanda?” tanya Hoseok karena sahabatnya itu tak menggubris ucapannya.

Yeonhwa menghela nafas, “Yoongi terlihat tampan sekali hari ini. Sayang, dia sudah punya kekasih.” kata gadis itu dengan pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Hoseok yang melihat perubahan pada raut wajah Yeonhwa, langsung terdiam dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh arti. Lelaki itu tahu, Yeonhwa menyukai Yoongi sejak mereka duduk di kelas satu. Namun, perasaan cinta Yeonhwa tak berbalas karena Yoongi telah memiliki kekasih.

“Hana sungguh beruntung memiliki Yoongi,” kata Yeonhwa dengan kepala tertunduk.

Seketika Hoseok tertegun, ia seperti merasakan apa yang dirasakan Yeonhwa. Tentu saja, ia juga sedang merasakan perasaan itu. Perasaan cinta yang tak berbalas. Perasaan cinta sepihak. Perasaan cinta yang melebihi rasa suka pada sahabat. Perasaan cintanya pada Yeonhwa.

Entah sejak kapan perasaan itu berubah, yang pasti saat ini Hoseok telah meyakini hatinya bahwa ia menyukai Yeonhwa. Menyukai Yeonhwa sebagai layaknya seorang lelaki yang mencintai seorang perempuan.

Hoseok mengelus rambut Yeonhwa dengan lembut, mencoba untuk menenangkan gadis itu meskipun hatinya juga ikut sedih saat melihat Yeonhwa sedih.

“Jangan sedih, Yeonhwa-ya. Suatu saat kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik.” kata Hoseok menghibur sahabatnya itu.

Yeonhwa menoleh ke arah Hoseok. Dilihatnya lelaki itu sedang tersenyum ke arahnya. Meskipun Hoseok sering membuatnya kesal tetapi lelaki itu selalu punya cara untuk menghiburnya dan membuatnya kembali tersenyum. Yeonhwa pun membalas senyuman Hoseok.

“Terima kasih, Hoseok-ah. Terima kasih karena telah menjadi sahabat terbaikku.” kata Yeonhwa sambil menggenggam tangan Hoseok. Ia tak lagi merasa sedih karena cintanya yang tak berbalas dengan Yoongi. Yeonhwa telah memiliki Hoseok, seorang sahabat yang akan selalu berada disampingnya.

“With my pleasure, Cha Yeonhwa.”

Hoseok dan Yeonhwa kembali menyaksikan pertunjukkan yang ada di atas panggung, dengan tangan mereka yang masih saling menggenggam.

 

 

 

     “Tidak ada yang bisa mengelak rasa cinta dalam persahabatan. Mungkin kau mengira aku terlalu pengecut karna lebih memilih untuk tidak menyatakan perasaanku padanya. Aku hanya tidak ingin merusak hubungan persahabatan yang sudah lama terjalin. Bagiku, selama dia tetap berada disisiku,-tak peduli apapun statusku denganya,- itu sudah lebih dari cukup.”- Jung Hoseok

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

What do I say, we didn’t have to play no games

I should’ve took that chance,

I should’ve asked for you to stay

 

 

Disaat semua temannya banyak yang menghabiskan waktu pada acara perpisahan sekolah di auditorium, Namjoon malah memilih menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di kelas, sendirian. Bukan di kelasnya sewaktu kelas tiga, melainkan di salah satu kelas tingkat dua. Kelasnya sewaktu kelas dua dulu. Kelas yang mengingatkannya dengan sosok gadis itu.

Namjoon duduk di deretan kursi yang sama dengan kursi yang ia duduki sewaktu kelas dua. Lalu ia menatap kursi yang berada tepat di sebelahnya. Kursi gadis itu. Tanpa sadar Namjoon melengkungkan senyumnya, membuat kedua lesung pipinya yang dalam terlihat jelas.

Hari ini memang hari perpisahannya dengan semua teman yang seangkatan dengannya. Namun rasa kehilangan sudah ia rasakan terlebih dahulu sebelum hari perpisahan ini. Peripsahannya dengan gadis itu.

Namjoon menghela nafasnya, tiba-tiba saja ingatannya berputar pada kejadian satu tahun lalu bersama gadis itu. Jung Jikyung.

 

*flashback on*

 

     “Namjoon-ah.” panggil Jikyung sambil menggoyang-goyangkan badan lelaki yang sedang tertidur di dalam kelas pada jam istirahat.

     Namjoon tetap bergeming. Tak bangun dari posisi tidur dengan kedua tangan yang menopang kepalanya di atas meja. Jikyung memutar bola matanya, tak ia sangka membangunkan Namjoon adalah pekerjaan yang sangat sulit.

     “Namjoon-ah!” panggil Jikyung lagi, kali ini dengan usaha yang lebih keras.

     Berhasil. Namjoon menggeliatkan badannya sambil mendesah pelan. Mata sipitnya belum terbuka sepenuhnya, membuat wajah kantuknya terlihat sangat lucu.

     “Hoaam—Ada apwaaah, Jikyung-ah?” tanyanya sambil menguap lebar.

     “Temani aku ke kantin.” pinta Jikyung dengan nada dan tampang memohon.

     Mendengar alasan Jikyung membangunkannya, membuat Namjoon mengerang. Tak disangkanya, Jikyung membangunkannya hanya karna gadis minta ditemani ke kantin.

     “Aigo, Jikyung-ah. Kau kan bisa mengajak Hana atau Hyerim ke kantin. Aku ngantuk sekali. Bagaimana kalau nanti aku tertidur pada jam pelajaran?”

     Jikyung meniup poninya, “Hana dan Hyerim sudah ke kantin duluan bersama Yoongi dan Taehyung, Namjoon-ah. Kau tega membiarkan aku menjadi obat nyamuk di antara kedua pasangan itu?”

     Jikyung mengerucutkan bibirnya, memasang wajah memelas mungkin agar Namjoon mengindahkan keinginanya.

     Namjoon yang sudah berancang-acang untuk tidur lagi, jadi mengurungkan niatnya setelah melihat wajah memohon Jikyung. Ia pun menghela nafas.

     “Aish, baiklah aku akan menemanimu ke kantin. Kajja!” kata Namjoon sambil menggandeng tangan Jikyung, membuat gadis itu tersenyum lebar.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     Namjoon menaruh buku-buku yang tidak dibawanya pulang ke dalam loker. Setelah ia menutup pintu lokernya, Namjoon pun berjalan meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada salah satu loker yang belum tertutup rapat. Loker milik Jikyung.

     Namjoon menggelengkan kepala, “Aish, gadis itu ceroboh sekali.” katanya sambil menutup pintu loker Jikyung. Tapi sesaat sebelum lelaki itu menutupnya, ada sebuah kertas yang jatuh tepat di ujung sepatu Namjoon. Kertas itu berasal dari loker Jikyung.

     Namjoon langsung memungut kertas itu dan membukanya. Ia pun membaca kata demi kata yang tertulis dari kertas itu yang ternyata adalah sebuah surat edaran. Dan setelah mengerti maksud dari surat itu, Namjoon langsung pergi meninggalkan loker sambil membawa surat yang dipegangnya.

     Namjoon berjalan menuju kelas, tempat si pemilik loker tengah menunggunya. Jikyung langsung menghampiri Namjoon saat lelaki itu sudah tiba di depan pintu kelas.

     “Namjoon-ah, ayo kita pu—-“

     “Jikyung-ah, mengapa kau tak mengatakannya padaku?” tanya Namjoon menyela ucapan Jikyung.

   “A-apa maksudmu?” tanya Jikyung heran dengan pertanyaan Namjoon.

     Namjoon menyerahkan surat yang dibawanya kepada Jikyung. Gadis itu langsung membulatkan matanya saat mengetahui apa yang baru saja diberikan Namjoon.

     “K-kau dapat darimana surat ini?”

     “Tadi kulihat lokermu terbuka, dan saat aku baru mau menutupnya, kertas itu jatuh mengenai sepatuku.”

     Tanpa sadar Jikyung meremas kertas yang dipegangnya sambil menggigit bibir bawahnya.

     “Yak Jung Jikyung! Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau dapat beasiswa ke Jerman? Aigo, aku tidak menyangka gadis bodoh ini mendapatkan beasiswa ke negara impiannya. Huaah, selamat Jikyung-ah.”

     Namjoon langsung memeluk Jikyung, ia tak bisa menahan rasa bahagianya setelah mengetahui kekasihnya itu mendapatkan beasiswa ke Jerman.

     Hiks!

   Sontak Namjoon melepaskan pelukannya. Tanpa diduga lelaki itu, ternyata Jikyung malah menangis di dalam pelukannya.

     “Kau kenapa?” tanya Namjoon sambil mengusap air mata Jikyung.

     “Aku tidak ingin mengambil beasiswa itu.” jawab Jikyung masih dengan isakannya.

     “Apa maksudmu?” tanya Namjoon kaget mendengar jawaban Jikyung.

     “Aku tidak mau berada jauh darimu, Namjoon-ah. Kalau kau memintaku untuk tidak mengambil beasiswa itu, aku akan melakukannya. Aku tidak mau meninggalkanmu.”

     Jawaban Jikyung sempat membuat Namjoon melongo, namun kemudian ia melengkungkan senyumnya. Namjoon kembali memeluk gadisnya itu.

     “Yak, tak ku sangka kau benar-benar sangat bodoh. Kenapa aku harus memintamu seperti itu? Meskipun aku juga sangat berat untuk merelakanmu pergi jauh dariku, tapi aku tidak akan membiarkanmu kehilangan kesempatan untuk meraih impianmu, Jikyung-ah. Bukankah ini yang kau impikan dari dulu?”

     Jikyung mengangguk pelan di dalam pelukan Namjoon, membenarkan kata-kata lelaki itu. Dalam hati Namjoon merasa senang, meskipun nantinya ia dan Jikyung akan terpisah oleh jarak dan waktu, tapi itu semua tidak akan merubah rasa cintanya kepada gadis itu.

     “Aku akan mengambil beasiswa ini, asal kau berjanji satu hal padaku…”

     “Hm?”

    “Tunggu sampai aku kembali, Namjoon-ah. Tunggu sampai aku kembali lagi padamu.” pinta Jikyung pada lelakinya itu.

     “Pasti, Jikyung-ah. Aku pasti akan menunggumu.” kata Namjoon sambil mencium puncak kepala Jikyung.

 

*flashback off*

 

 

   Tanpa sadar Namjoon melengkungkan senyumannya saat mengingat kejadian itu. Sudah setahun kejadian itu berlalu, tapi ia masih dengan jelas mengingat janjinya kepada Jikyung.

Sering ia bertanya dalam hati, kalau saja waktu itu ia menahan kepergian Jikyung, pasti saat ini gadis itu tengah berada di sisinya, merayakan perpisahan sekolah bersamanya. Namun lagi-lagi bagian hatinya yang lain menepis. Biarlah mereka menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Toh, kalau Jikyung memang takdirnya, gadis itu akan kembali lagi padanya. Seperti janji mereka setahun yang lalu.

 

 

 

     “Cinta bukanlah tentang menahan seseorang yang kau cintai untuk selalu berada disisimu, namun tentang bagaimana kau merelakannya pergi untuk meraih kebahagiannya. Jangan pernah takut untuk merelakan, karena tak pernah ada kata sia-sia dalam sebuah pengorbanan.”- Kim Namjoon

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

And it gets me down the unsaid words that still remain

The story ended without even starting

 

 

Seokjin beranjak dari bangku yang sedari tadi didudukinya. Kalau bukan karena adiknya,- Kim Taehyung,-yang memaksanya untuk datang ke acara perpisahan di Victory High School, ia akan lebih memilih untuk mengisi hari libur kuliahnya dengan seharian tidur di rumah.

Namun ini tidak ada salahnya juga, begitu menurut Seokjin, karena dia adalah lulusan dari Victory High School, dua tahun yang lalu. Jadi mungkin ia bisa bernostalgia dengan kenangan semasa ia bersekokah di sekolah ini.

Seokjin berjalan sambil memerhatikan beberapa lukisan yang ada pada dinding auditorium. Sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan lukisan-lukisan itu, hanya saja ia terlalu bosan jika hanya duduk melihat penampilan di atas panggung dan mendengar obrolan orang tuanya dengan orang tua murid yang lain.

Seokjin menatap lukisan yang ada di hadapannya dengan malas, sambil sesekali melirik ke arah lukisan yang ada di sebelahnya. Namun seketika matanya melebar ketika melihat seseorang yang berdiri di hadapan lukisan yang ada disebelahnya itu.

“Shin Saeri?” panggil Seokjin dengan ragu.

Seseorang yang dimaksud Seokjin menoleh, lalu tatapannya tak kalah kaget saat melihat orang yang baru saja memanggilnya.

“Kim Seokjin? Yak, kau apa kabar?” gadis bernama Saeri itu langsung berjalan mendekat ke arah Seokjin dan mengulurkan tangannya.

Seokjin menyambut uluran tangan Saeri dengan canggung, masih tidak menyangka ia melihat gadis itu kembali di hadapannya. Teman satu sekolahnya waktu ia masih bersekolah disini.

“Aku baik. Bagaimana kabarmu?”

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, menjawab kalau kabarnya juga baik. Senyum yang sama bagi Seokjin. Masih sama cantiknya seperti dulu.

“Kau kesini untuk menghadiri acara perpisahan adikmu? Siapa namanya? Ah—-Kim Taehyung?”

“Ne, kau juga? Kudengar adikmu sekelas dengan Taehyung.”

Saeri mengangguk membenarkan ucapan Seokjin.

“Sekolah ini belum banyak berubah, ya..” kata Saeri sambil matanya memandang ke sekeliling auditorium sekolahnya yang lumayan besar.

“Ya, tak banyak berubah. Dan kau juga, tak berubah… masih cantik seperti dulu.”

Entah dapat kekuatan darimana Seokjin bisa mengatakan hal seperti itu kepada Saeri. Ucapan Seokjin membuat Saeri tertawa, menambah kecantikkan pada wajah gadis itu.

“Kau juga semakin tampan, Kim Seokjin. Pasti banyak gadis yang menyukaimu, kan?” kata Saeri sambil tersenyum, membalas ucapan Seokjin.

Seokjin hanya tersenyum mendengar kata-kata Saeri. Lalu keduanya terdiam, suasana hening menyelimuti mereka. Seokjin mengalihkan pandangannya pada lukisan, begitu pula dengan Saeri.

Pertemuannya dengan Saeri membuat perasaan yang dulu pernah dirasakan Seokjin kembali menguak. Saeri bukan hanya sekedar teman satu angkatannya sewaktu sekolah dulu, tapi gadis itu adalah gadis yang disukai Seokjin semasa SMA atau bahkan masih sampai saat ini.

Tapi apadaya Seokjin, waktu itu ia tak berani mengungkapkan perasaan cintanya pada Saeri, membuat perasaan itu terpendam bertahun-tahun lamanya. Seokjin melirik ke arah Saeri sekilas, mata gadis itu terarah ke arah lukisan yang ada di hadapan mereka. Seketika Seokjin tersadar, apakah ini saatnya untuk menyatakan perasaannya pada Saeri?

“Saeri-ah..” panggil Seokjin. Entah lagi-lagi ia mendapatkan keberanian dari mana.

Gadis itu menoleh, menatap Seokjin yang telah menatapnya terlebih dahulu. Seokjin menghela nafasnya pelan, sebelum bicara.

“Sebenarnya hmm—-”

“Saeri-ah, kau disini? Aku kira kau kemana.”

Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri mereka. Seorang lelaki dengan postur badan tinggi dengan rambut blonde, langsung berdiri didekat Saeri. Seokjin menghentikan ucapannya dan memandang lelaki yang baru saja datang dengan heran.

“Ya, tadi aku ingin melihat-lihat lukisan disini, ternyata aku bertemu dengan teman lamaku. Mark, kenalkan ini Kim Seokjin, temanku sewaktu SMA dulu.” kata Saeri kepada lelaki berambut blonde itu dan memperkenalkannya dengan Seokjin.

Lalu Saeri kembali menoleh ke arah Seokjin, “Seokjin, kenalkan ini Mark Tuan. Teman satu kuliah dan dia adalah pacarku.”

Deg! Seperti ada sebuah palu besar yang menikam dada Seokjin saat itu juga. Rasanya sakit sekali.

Kedua lelaki itu berjabat tangan dengan canggung, mengingat ini pertemuan pertama mereka.

“Ah ya, Seokjin-ah, tadi kau mau bicara apa?” tanya Saeri yang tak menyadari perubahan pada raut wajah Seokjin.

“Eh? Ah–hm itu– tidak jadi, Saeri. Bukan sesuatu yang penting.” kata Seokjin sambil mengusap bagian belakang tengkuknya, mencoba untuk menutupi perasaannya.

“Ah baiklah, kalau begitu kami pamit ya. Sampai bertemu lagi, Seokjin-ah. Annyeong~”

Saeri dan Mark meninggalkan Seokjin yang masih berdiri terpaku dan memandang kepergian keduanya dengan tatapan miris.

Menyesal? Tentu saja ia sangat menyesal. Andai saja dulu ia menyatakan perasaan cintanya pada Saeri, mungkin kisah cintanya tidak akan seperti ini. Kisah cintanya sudah berakhir sebelum dimulai.

 

 

 

“Penyesalan selalu datang terlambat, tapi tidak datang untuk yang kedua kalinya. Rasanya memang sulit untuk merelakan seseorang yang kau cintai bahagia bersama orang lain. Namun aku baru menyadari satu hal, cinta bukan berpihak pada dia yang terlebih dahulu datang dan mengenal tapi berpihak kepada dia yang terlebih dahulu berani menyatakannya.”- Kim Seokjin

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Our feelings that were precious

because we were together

Like the deepening night sky

 

 

     Yoongi memerhatikan seorang gadis yang sedang berbicara dengan sekumpulan murid yang berkumpul didepan gadis itu, mendengarkan apa yang dikatakan gadis itu dengan baik. Senyum Yoongi melebar ketika memperhatikan gadis itu, dibalik raut lelah sebagai ketua panitia dari pelaksanaan acara perpisahan sekolah, gadis itu tetap memancarkan kecantikan yang amat sangat. Gadis itu adalah gadisnya.

Tangan Yoongi tak henti-hentinya membidikkan kamera ke arah wajah gadis itu. Gadis yang tengah berbicara dengan sekumpulan murid itu -yang tak lain adalah tim panitia acara perpisahan sekolah-, gadis yang tengah tersenyum, gadis yang tengah tertawa, dan——gadis yang tengah menoleh ke arahnya.

Jepret! Yoongi berhasil mengabadikan senyum gadis itu dalam kameranya, saat gadis itu menoleh ke arahnya.

Senyum Yoongi semakin melebar, terlihat sangat puas dengan hasil jepretannya.

“Kau tidak usah terpesona seperti itu melihat kecantikanku, Min Yoongi. Bukannya aku memang sangat cantik?”

Sebuah suara mengagetkan Yoongi yang tengah fokus memerhatikan foto-foto yang ada di kameranya, lelaki itu menoleh ke arah sumber suara. Seketika di hadapannya sudah ada sosok yang tadinya menjadi objek jepretannya. Gadis itu sudah berdiri di hadapannya saat ini.

Bukannya menjawab, Yoongi malah mengacak rambut gadis yang berdiri dihadapannya dengan lembut, “Kau sudah selesai?”

Gadis itu menganggukkan kepala. Sebenarnya tanpa bertanya pun Yoongi sudah tahu jawabannya karena sekumpulan panitia itu sudah membubarkan diri dan banyak yang bersiap untuk pulang, karena acara perpisahan sekolah memang sudah selesai.

“Min Yoongi! Park Hana! Kami pulang duluan ya..” seru Taehyung kepada sepasang remaja itu. Disebelah Taehyung, ada Hyerim yang melambaikan tangannya kepada Yoongi dan Hana.

Gadis yang tengah bersama Yoongi,-yang bernama Park Hana-, itu pun membalas lambaian tangan keduanya. Sedangkan Yoongi hanya membalas lambaian tangan itu dengan singkat.

“Kau mau pulang sekarang?” tanya Yoongi sambil memerhatikan Hana yang sudah kembali memasukkan sesuatu ke dalam tasnya.

Gerakan Hana terhenti, lalu ia melirik jam yang ada di tangannnya.

“Masih jam 7, aku lagi malas dirumah..”

Yoogi mengerti maksud Hana. Terang saja Hana sedang malas pulang kerumah, setelah acara perpisahan sekolah, orang tuanya langsung kembali terbang ke Jepang karena ada pekerjaan mendadak yang membuat kedua orang tuanya berangkat saat itu juga. Kakak perempuannya juga baru pulang bekerja setelah pukul 9 malam, jadi Hana memutuskan untuk menghabiskan waktunya lebih lama bersama Yoongi.

“Bagaimana kalau kita ke rooftop sekolah? Sepertinya ini belum terlalu malam, lagipula bintang bersinar sangat terang malam ini, pasti akan menjadi pemandangan yang sangat indah.” usul Yoongi.

Langsung saja Hana mengangguk dan menyetujui apa yang diusulkan kekasihnya itu.

“Kajja!”

Yoongi meraih tangan Hana dengan erat, sedangkan gadis itu hanya mengikutinya sambil tersenyum. Yoongi dan Hana sesekali membalas sapaan beberapa temannya yang ternyata belum pulang, mereka masih banyak yang berada di kelas. Mungkin ingin menikmati saat-saat terakhir bersekolah disini dengan tawa.

Setelah menaiki tangga sampai pada lantai kelima, akhirnya sepasang remaja itu sampai pada rooftop sekokah mereka. Hana langsung duduk pada salah satu bangku, diikuti Yoongi yang duduk di sebelahnya.

Hana tak bisa menyembunyikan decak kagumnya melihat hamparan langit malam dengan banyak bintang yang berkelap kelip.

“Indah..” guman Hana masih dengan tatapan takjubnya.

Yoongi hanya tersenyum melihat ekspresi gadis itu dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, Yoongi siap mengambil foto Hana secara diam-diam, tanpa sepengtahuan gadis itu, tentunya.

Yoongi terkekeh pelan melihat hasil jepretannya, ekspresi Hana benar-benar sangat lucu. Lelaki itu kembali melihat foto-foto Hana yang dia ambil sebelumnya.

“Yoongi-ah, malam ini sangat indah, ya?” tanya Hana tanpa mengalihkan pandangannya pada langit.

“Heeum.” sahut Yoongi singkat.

Sama seperti Hana, lelaki itu belum mengalihkan pandangannya pada kamera.

Hana menghela nafas, entahlah perasaan senangnya malam ini membuat dadanya terasa sesak. Sesak karena bahagia.

“Hana-ya..” panggil Yoongi dengan lembut. Tatapannya sudah beralih pada gadis yang duduk disebelahnya.

“Hm?” sahut Hana tanpa menoleh. Matanya fokus memandangi bintang-bintang yang bersinar. Senyum gadis itu pun tak kalah bersinar dari bintang yang tengah diperhatikannya.

Yoongi mendengus pelan karena Hana tak menoleh ke arahnya.

“Hana-ya, bantu aku memilih foto mana yang paling bagus menurutmu?”

Kali ini gadis itu menoleh, “Mana coba sini aku li—-

CHU~

Jepret!

Tepat saat Hana menoleh, Yoongi sudah mendaratkan bibirnya pada bibir mungil gadis itu. Dan tanpa diduga Hana, Yoongi mengabadikan moment itu dengan kamera yang dipegangnya.

Tak lama, Yoongi melepaskan ciumannya pada bibir Hana, membuat gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali.

“Nah! Sepertinya ini adalah foto yang paling bagus, Hana-ya.” kata Yoongi dengan senyum puas sambil merhatikan fotonya saat mencium Hana.

Saat tersadar dengan apa yang baru saja terjadi, Hana langsung merebut kamera itu dari tangan Yoongi.

“Yak! Seharusnya kau bilang padaku dulu jika mau mengabadikannya dalam sebuah foto. Jadi kan aku tidak terlihat kaget seperti ini!” kata Hana sambil memukul bahu Yoongi, setelah melihat wajahnya pada foto itu.

Yoongi sontak tertawa keras, baru menyadari ekspresi Hana di dalam foto itu. Seperti seseorang yang baru pertama kali ciuman.

“Lagian kau kan sudah berkali-kali merasakan bibir manisku, Hana-ya. Kenapa masih saja kaget seperti itu, huh?” goda Yoongi sambil menjilat bagian bawah bibirnya dengan gaya seduktif.

“Huh, kau menyebalkan!” kata Hana langsung mengalihkan pandangannya dari Yoongi dengan kesal.

Lagi-lagi tingkah Hana membuat Yoongi terkekeh geli.

“Hanya gadis menyebalkan yang mau dengan lelaki menyebalkan seperti ku, Hana-ya.”

Ucapan Yoongi membuat Hana mendengus, lalu mengerucutkan bibirnya tanda ia benar-benar sedang kesal dengan lelaki yang ada di sebelahnya ini. Ia pura-pura sibuk dengan kamera Yoongi.

“Ngomong-ngomong, malam ini kan malam perpisahan sekolah, kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? Sesuatu yang spesial?” tanya Hana tanpa menoleh ke arah Yoongi.

Yoongi menaikkan sebelah alisnya, “Eh? Mengatakan sesuatu? Hm—–seperti ucapan selamat tinggal maksudmu?”

Hana sontak membulatkan matanya, dan menoleh tajam ke arah Yoongi.

“Yak! Apa maksudmu, huh?! Kau ingin meninggalkanku?!”

“Bukankah memang itu yang seharusnya dikatakan seseorang di sebuah acara perpisahan? Selamat tinggal, kan?”

Hana menghela nafas dengan gusar. Tidak diduganya kekasihnya itu benar-benar sangat menyebalkan!

Yoongi sekuat tenaga menahan tawanya. Sebenarnya ia mengerti dengan maksud ucapan Hana, hanya saja ia ingin mengerjai gadis itu. Namun sepertinya Hana benar-benar kesal padanya, jadi Yoongi memutuskan untuk menyudahi candaannya itu.

Yoongi meraih kedua bahu Hana dan menghadapkan gadis itu menjadi berhadapan dengannya. Tatapan Yoongi yang dalam dan sarat akan cinta untuknya sontak membuat Hana luluh dengan amarahnya. Lagipula ia tahu Yoongi hanya bercanda. Sekarang, ia tinggal menunggu apa yang akan dikatakan lelaki itu. Tanpa sadar, sebuah senyuman sudah mengukir kembali pada wajah gadis itu.

“Tak ada kata-kata spesial yang ingin ku katakan selain kata-kata ini, Hana-ya. Mungkin kau sudah bosan mendengarnya, karena aku sering mengatakannya padamu—–”

CHU~

Diberinya satu kecupan pada pipi kanan gadisnya itu.

“Aku mencintaimu, Park Hana.”

 

 

 

“Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Perpisahan tidak selalu tentang kesedihan dan kehilangan. Justru bagiku, perpisahan ini adalah sebuah awal. Awal untuk kami melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Dan awal untuk kami meningkatkan hubungan ini ke tingkat yang lebih serius.”- Min Yoongi

 

 

 

FIN

 

 

 

Heyho, ismomos here~

Sebenernya aku ragu buat ngasih genre FF ini fluff, karena setelah aku baca ulang kok ceritanya gak semanis muka bang Suga ya(?) Maaf banget kalo romance scene-nya fail. Soalnya aku gak jago bikin cerita yang sweet romance._.v Tapi karena ini FF special, jadinya aku berusaha bikin cerita yang full romance~

 

Kenapa FF ini special?

 

Yap, seperti yang udah aku bilang di awal, FF ini adalah FF terakhir sebelum aku hiatus dari dunia per-FF-an, dan aku juga belom tau bakal hiatus sampe kapan. Jangan pada kangen sama aku ya, readers! *pede banget lu mi* hahaha.

 

At least, semoga kalian suka sama FF ini ya. Meskipun ini FF terakhir, tapi aku tetep nunggu komen, kritik dan saran kalian, lho~

Aku juga mau berterima kasih untuk readers yang selama ini yang udah baca + komen FF aku mulai dari Elegy Of Valentine, I Don’t Like Her, Bestfriend?, Game Over, I’m Not For You, The Another Of You dan FF Goodbye Summer ini. Aku bener-bener terharu atas komen dan support kalian. Sekali lagi terima kasih, ya! Sukses untuk para readers dan author di Fanfictionside~ See you later! Annyeong…

 

With Love,

@ismomos

About fanfictionside

just me

37 thoughts on “FF oneshot/ GOODBYE SUMMER/ BTS-BANGTAN

  1. author jangan pergiiiiii T,T *nangis kejer* *sok kenal*
    bagus kok thor ffnya, bikin senyum2 sendiri^^
    paling suka baca partnya yoongi… aaahh~ manis banget bagiannya dia.. walaupun ngeselin tapi sweet ♡♡♡ ngebayangin dia bawa2 kamera ya ampun keren banget ><
    aku suka aku suka^^ cepet kembali dari hiatusnya ya thor :') fighting!!

  2. aku ga akan kemana mana kok, tetap ada di hatimu(?) /apasih/ iya yoongi pasti keren banget kalo bawa2 kamera~ hahahaha btw makasih ya udah baca+komen. diusahain hiatusnya gak lama-lama deh🙂 *peluk dan cium dari author*

    • Huhuhuhu mianhae hoseok oppa T___T tau nih authornya tega banget bikin cerita kayak gitu(?) btw thanks ya udah baca + komen🙂 *peluk dan cium dari author*

  3. aaaaaaa kenapa pas part hoseoknya begitu, sedih kan bacanya :’) (?) itu partnya namjoon juga bikin mau mewek :’) partnya taehyung sama jungkook so sweet >\\< over all keren lah pokoknya :3

    • Iya Hoseok oppa terjebak friend-zone, kalo aku malah terjebak fans-zone(?) sama member bangtan *curhat* btw makasih ya udah baca + komen🙂 *peluk dan cium dari author*

  4. Aduh, Thor!
    Bagian’nya Bang Yoongi emang sweet bgt, se’sweet senyum’nya bang Yoongi. ^_^
    aku jg ngebayangin bang Yoongi pas lg bawa kamera pasti keren bgt!

    Tapi kasihan jg sma Jin opp dan Hoseok oppa..
    kisah mereka yg paling miris u,u * -_- *

    Oke, Thor!
    Sampe berjumpa di lain kesempatan!
    Annyeong!!

    • Muehehehehe bang Yoongi emang manusia plg manis sejagat raya(?) *lebay* kekekeke mianhae Jin&Hoseok oppa ceritanya dibuat miris._.v makasih ya udah baca + komen🙂 see you~ *peluk dan cium dari author*

  5. Aduh, Thor!
    Bagian’nya Bang Yoongi emang sweet bgt, se’sweet senyum’nya bang Yoongi. ^_^
    aku jg ngebayangin bang Yoongi pas lg bawa kamera pasti keren bgt!

    Tapi kasihan jg sma Jin oppa dan Hoseok oppa..
    kisah mereka yg paling miris u,u * -_- *

    Oke, Thor!
    Sampe berjumpa di lain kesempatan!
    Annyeong!!

  6. Aaaaa! *teriak dulu biar greget*
    Taehyung Hyemi koplak kopel xD Jimin Yoora sweet juga.. JK nembak sunbae ciyeee xD
    Namjun sumpah ya kesian banget, kesepian pasti.. Jin, makanya kalo cinta itu diungkapin, daripada keduluan.. Yoongi yaampun kece banget, so sweet sama Hana xD

    Btw, Cha Yeonhwa itu aku xD Makasih ya pake OCku thor.. Yah walaupun nyesek, setidaknya Yeonhwa bahagia dicintai Hoseok.. Kan sahabat lama2 nanti jadi cintaaaa xD *peluk cium ismomos*

    • Muehehehehe miaanhae Cha Yeonhwanya dibikin gak happy ending sama Hoseok oppa, mereka malah kena friend-zone *sama dong kayak aku* /plak/ malah curhat. Btw makasih ya kak udah baca + komen🙂 *peluk dan cium balik*

  7. Yampun … Bagian suami ane (red:hoseok) kenapa friend-zone gitu (?) kasian bangettt … Tapi maniis bangett thor :3
    Itu juga pacar ane (red:jin) bagiannya miris bangettt:'(
    Dan si selingkuhan ane (red:namjoon) awal baca dikira pacarnya meninggal o.O gataunya dapet beasiswa hahahhhh xD
    Ceritanya complit banget ada sad, happy, awakward (?) /abaikan\
    Buatt ukuran oneshott puas bangett bacanya …
    Ditunggu karya selanjutnya thor :3

  8. Uh….. So swettt ya meskipun nasib seokjin sedikit apes *yaelah* tapi tak pa lah…..keep writing buat authornya!!!

  9. Bagus thor^^) kasian Jungkook thor, bagian dia dikit doang-_-lebih nyesek Jin.. baru mau Gobaek-gobaekan, ehh.. malah cewek inceran udh pnya pacarrr^^) aku suka bgt deh another of you~~~ cepet comeback pake FF yang cetar ya thorrrr!!! Hwaithinggg!!!

    • Mianhae jungkookie(?) Hehehe btw makasih ya udah baca + komen🙂 makasih juga udah baca the another of you~ ditunggu ajaya buat ff selanjutnya *peluk dan cium dari author*

  10. Penataan katanya bagus..
    Quotesnya apalagi thor..
    Alurnya bagus..
    Pokoknya nice semua..
    Jungkook lucu ya kalau nyatain cinta😀
    Taehyung yang byuntae
    dan yoongi oppa yang romance.
    BTW,is author mau kemana ?
    Kok hiatus ?
    Mau ngurusin DKI ya #apaancoba
    Pokoknya waiting for u !

    • Huaaaah makasih yaa~ aku gak kemana mana kok hehehehe ditunggu ajaya untuk ff selanjutnya~ makasih udah baca + komen🙂 *peluk dan cium dari author*

  11. Huaa ff nya daebak ♡♡♡
    T_T author hiatus
    oh ini author yg bkin ff the another of you toh huaa pantesan ff nya sma” bgus huaaa ska sma ff author
    Smoga bsa bkin ff s bgus author dab amin

  12. Kerennnn ye minnnnn greget guaacanya sumpeh…
    V oppa terlalu romantisss.. Love yuu :*
    Jimin oppa jeongmal saranghae… Dohhh bias lopp yu :*
    Jungkook oppa… Gemes baca pas partmuuu~ love you :*
    J-Hope oppa sabar yak.. Kan masih ada aku (?) #plak lovr you oppaaa :*
    Namjoon oppa :* uljimaa saranghae :*
    Jin oppa… Harusnya nyatakan duluan sebelom mark.. Sabar yoo oppa saranghae :*
    Yoongi oppa.. Romanticcc jinjja! Saranghae my sweet rapper :*

    Thanks min udh ngebuat gua ngeply hari ini! Jinjja! Gomawo^^
    Keep Writting And Fighting yoo^^

    • Heyhoooo~ makasih ya udah baca + komen🙂 im feeling happy if my ff can made you day, very thank you! Fighting for you too~ *peluk dan cium dr author*

  13. IMICHAAAAAN ~ >o<
    YOONGI BENER BENER SWEET BANGET SAMA HANA ^-^

    duuuuh aku nggak berhenti2 senyum lho pas baca ini /gila//nggak/ xD kkk

    punya kisah cinta masing2 yak :v
    dan itu semuanya manis?/
    kecuali hoseok-yeonhwa –"
    kenapa yeonhwa harus suka sama yoongi~ ahhhh.. maap ya mama @jhobangtan xD kkk

    Imichan~ kalau udah kambek di dunia per-ff-an, aku mau di buatin ff lagi dong yang chapteran😀 /nglamak/ wakakak(?) cepet kampek ya imichaaaaan~ aku menunggumu ({})

    NB: maap baru bisa komen padahal aku bacanya dulu pas baru di post xD hhe

    Sekali lagi maap dan TERIMA KASIH BANYAK untuk IMICHAN ku chuyuung :* /hughug/ ({})

    • Muehehehehe makasih viychaan udah baca+komen+ngasih nama untuk cast ceweknya hahahaha i love you full laah~* *peluk dan cium dr imichan* hahahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s