FF/ BECAUSE YOU’RE V/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Author : Taebo ♔ (author tetap)

Title : Because You’re V

Cast :

  • Kim Taehyung/ V (BTS)
  • Han Seul Na (OC)
  • Kim Seok Jin (BTS)
  • And other cast J

Genre : School Life, AU, Comedy, Romance

Duration : Chaptered

Warning! Typo bertebaran!

 

because youre v 2 photoscape

 

–          Dia berbeda. –

 

 

***

Before

 

“Eghmm”

 

Suara berat seorang pria membuat Seul Na dan Jin melepaskan pelukannya masing-masing.

 

“Apa aku mengganggu? Ini aku mau mengembalikan barang ini, tadi tertinggal di meja kasir” orang itu –V- mengulurkan satu handphone bewarna jingga milik Seul Na. Seul Na meninggalkannya saat ia mencoba mengecek pesannya tadi.

 

“Eghm.. ishh kau ini! Sini kembalikan” tak mau untuk menanggapi, Seul Na buru-buru meraih Hanphonenya dengan kasar dari tangan V.

 

“Dasar ceroboh” sahut Jin sambil tersenyum.

 

“Baiklah.. aku pergi. Oh iya, aku ingin memberitahumu…” ucap V kemudian perlahan berjalan mendekati Seul Na, senyum miring yang menjengkelkan itu ia tampakkan lagi pada Seul Na .

 

“A..apa?” Seul Na memundurkan langkahnya reflek ketika V benar-benar semakin dekat.

 

“Kau… kurasa teman-temanku dan Sunbae di sekolah akan heboh besok. Setidaknya jangan meninggalkan jejak seperti itu. Bodoh”

 

Bisik V tepat ditelinga Seul Na. perkataannya itu sukses membuat tubuh Seul Na merinding seketika. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba mencerna apa yang dimaksudnya. Setelah itu, V berbalik pergi meninggalkan Seul Na yang masih bingung itu. V terkekeh pelan dengan ucapannya tadi, cengiran konyolnya ia tampakan tentu saja tanpa sepengetahuan Seul Na.

 

Lagi-lagi orang itu tak bisa ditebak.

 

‘apa dia melihatnya?’ buru-buru Seul Na mengecek hanphone nya itu. Dan benar saja, wallpaper V ketika ia bermain basket terganti dengan gambar seekor monyet yang seingat Seul Na ia tak pernah mendownload gambar itu. Mata Seul Na semakin membulat ketika tangannya menyentuh aplikasi Gambar koleksinya.

 

“AAARGHHH!!! Orang gila itu benar-benar!” Racau Seul Na tak jelas. Matanya menangkap satu kata disana ‘empty’. Semua foto yang memang koleksi list stalkernya hilang semua. Foto Jin, Rome, Ray Jungkook dan terakhir V yang ia ambil diam-diam selama ini, yang dia pertahankan mati-matian agar tidak ada yang tahu kecuali Nami, yang ia dapat selama berbulan-bulan tanpa diketahui orangnya, sekarang hilang total tak menyisakan satu gambar pun!

Kumpulan ratusan foto itu sekarang hanya tersisa satu angka ‘0’ ! benar-benar membuat amarah Seul Na mencampai puncaknya.

 

“Benar-benar! Anak itu kurang ajar” teriaknya lagi.

 

“Kenapa? Apa dia merusak hanphone mu?” Tanya Jin.

 

“A… aniya.. hanya saja, kakakku menyuruhku pulang sekarang” elak Seul Na sambil memaksakan senyum palsunya itu.

 

 

‘Mati kau V’

 

***

 

Pt. 2

 

Seul Na dan Nami sedang sibuk-sibuknya berlatih untuk pertandingan tenis minggu depan. Mereka sudah biasa di ajukan sebagai pemain tetap dalam perlombaan manapun, karena memang keduanya murid berperestasi dalam bidang ini. Bersama Jin dan juga Siwoo temannya, mereka di latih oleh pelatih Jeong selama beberapa minggu belakangan ini demi meningkatkan prima mereka dalam bertanding nanti. Hampir tiga jam mereka berkulat dengan bola-bola tenis yang terus saja dilambungkan oleh pelatih Jeong dan beberapa orang lainnya yang ikut melatih mereka. Tenis yang akan diperlombakan nanti ialah pertandingan ganda. Jin dengan Seul Na, sedangkan Nami bersama Siwoo. Sudah sering mereka dipasangkan seperti ini.

 

“Hhhh… hhh. Pelatih, bisa tidak kita istirahat sekarang? Aku lelah” Nami mengacungkan tangannya pada pelatih yang masih bersiap memukul bola kearahnya. Peluh di tubuh Nami sudah sangat terasa lengket untuknya. Beberapa kali tangannya ia gerakkan untuk menghapus peluh-peluh di dahinya yang terlampau banyak.

 

“Dua puluh bola lagi. Ayo Nami-a” pelatih Jeong masih saja memukulkan bola-bola itu walaupun tak di tanggapi oleh Nami maupun Siwoo di sebelahnya yang sama-sama kelelahan. Bayangkan saja, dalam satu jam mereka harus bisa memukul sedikitnya lima puluh bola tenis.

 

“Hahh.. aku lelah pelatih” bokong Siwoo ia dudukkan kasar ke tanah, ia sudah tak sanggup menopang tubuhnya yang sudah sangat kelelahan itu.

 

 

“Nami-a! Siwoo-a! Semangat! Kalian tidak boleh menyerah secepat itu”

 

“Lihat? Temanmu saja mendukungmu sepenuhnya, seharusnya dari diri kalian juga seperti itu” sahut pelatih Jeong menanggapi teriakkan Seul Na yang duduk di bangku pemain bersama Jin.

 

“Kenapa harus kita lagi? Bukankah ada Suho sunbae dan Hak Yeon sunbae yang lebih jago dari pada kita? Hhh” ucap Siwoo masih dalam nafas yang naik turun.

 

“Dia benar pelatih” Nami mulai menanggapi pernyataan Siwoo, biasanya ia hanya menggeleng atau mengangguk bila menanggapi perkataan Siwoo. Nami hanya tak suka dengan kepribadian Siwoo yang terlalu diam dan sedikit pemalu. Berbeda sekali dengan deretan list nama stalker milik Seul Na yang semuanya didiami dengan karakter yang cukup menarik, hanya saja Nami tak begitu suka juga dengan orang yang terlalu populer seperti list Seul Na itu. Dan Siwoo juga bukan orang yang jelek, Nami akui ia termasuk pria manis nomor dua setelah kakaknya sendiri.

 

“Ada apa denganmu eoh?” Tanya Nami dingin pada Siwoo yang terus menatapnya heran.

 

^

 

“Mau makan dimana malam ini” Nami yang baru saja keluar dari gedung tenis, menghampiri Seul Na yang lebih dulu keluar dari gedung. Menunggu selama Nami lima belas menit, sungguh membuaatnya jengah, ia hanya tak suka menunggu terlalu lama.

 

“Dimana saja” jawab Seul Na singkat. Dengan nada malas, ia kemudian melangkahkan kakinya mendahului Nami yang tadi berada di depannya. Kalau sudah badmood seperti ini, Nami tahu apa yang membuat Seul Na kembali kedirinya. Sebenarnya ia tak suka dengan ide ini, namun bagaimana lagi ini merupakan satu-satunya cara agar Seul Na tidak seperti itu lagi.

 

“Hey aku tahu siapa pacar V! mereka sudah berpacaran sejak kelas satu tahun lalu! Bagaimana kalau kita menguntit lagi?” teriakkan Nami yang sedikit menggelitik rasa ingin tahu Seul Na itu, sukses membuat Seul Na dengan cekatan berlari kembali arah Nami dengan senyum yang mengembang. Satu anggukan bersemangat dari Seul Na, membuat Nami hanya mendesah malas. Ini dia obat seorang Han Seul Na jika sedang badmood, ‘menguntit’.

 

.

.

.

 

“Apa kau yakin dia kekasihnya?” Tanya Seul Na pada Nami disebelahnya. Ajakan Nami benar-benar terlaksana. Usai latihan tenis tadi Seul Na dan Nami berhasil mengikuti V. Butuh waktu satu setengah jam untuk bisa melihat V keluar dari klub musicnya.

 

“Kenapa dia terlihat seperti perempuan jalang? Bukan aku bermaksud… ah tapi lihatlah pakaiannya itu. Bukankah itu tipe super mini untuk ukuran baju sekolah? Dan, dan juga tingkahnya itu, err sedikit genit menurutku”

 

“Hemm.. kau benar, aku pikir juga begitu waktu pertama melihatnya kemarin. Hanya saja, sepertinya V sangat menyanginya. Lihat saja cara memperlakukannya pada gadis itu, sangat manis.” jawab Nami yang masih setia pada Seul Na mengawasi V dan kekasihnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Saat ini mereka menguntit dibelakang keduanya yang bermesraan selama di perjalanan. Menyuapi satu sama lain, bergandeng tangan tak malu juga mereka menunjukan ciuman manis di hadapan Seul Na dan Nami. Benar-benar sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

 

“kau mau mengambil gambarnya lagi?” Tanya Nami heran, ketika Seul Na mulai mengeluarkan handphonenya. Sebenarnya ia sudah bosan melihatnya mengambil gambar orang-orang itu.

 

“Ssstt.. diam saja, aku masih sebal padanya. Habis semua fotoku dihapus olehnya tanpa sisa” jawab Nami, tangannya mengarah pada sasaran objek di depannya yang masih asik bercengkrama.

 

Klik

 

Satu objek menarik untuk Seul Na.

 

“Mwo? Dihapus semua? Bagaimana bisa?”

 

“Nanti aku ceritakan. Kali ini harus dapat lebih banyak. Kau bantu aku ya. Tau kan siapa saja listku?” senyum yang dibuat-buatt mengarah pada Nami didepannya. Seul Na sangat berharap fotonya itu terkumpul lagi. Berarti kali ini, Nami harus ekstra tenaga mengambil foto-foto yang baginya aneh itu. Mendengarnya, Nami hanya mengangguk malas.

 

“Cha.. kita ikuti lagi. Dia semakin mejauh”

 

^

 

Dua orang yang sedang bermesraan ini nampak tenang seperti tak terusik sama sekali dengan keberadaan penguntit dibelakangnya yang sudah dua jam yang lalu mengikutinya tanpa henti. Sesekali V mengacak pelan rambut kekasihnya itu dan tersenyum lembut, merangkulnya agar lebih dekat dengannya.

 

Sudah kebiasaan V mengantar kekasihnya pulang. Walaupun gadis itu, sebut saja Lee Seo Young tidak sekelas dengan V, namun ketika sudah berdekatan seperti ini V tak akan segan bertingakah konyol untuk gadisnya itu. Seul Na yang melihat V bertingkah layaknya orang gila itu, hanya menatapnya jijik. ‘apa ini V yang asli? Begitu mengerikan’ setidaknya itulah yang ada difikiran Seul Na.

 

“Benar kau tak mau mampir kerumah ku dulu, hm?” Tanya Seo Young pada V ketika mereka sudah sampai di belokan sebuah gang kecil yang didepannya sudah berdiri rumah megah bergaya eropa itu.

 

“Masuklah. Aku harus pergi Seo Young-a, tidak baik dilihat orang malam-malam begini” jawab V sembari mengacak pelan rambut Seo Young. Setelah V mengecup pelan keningnya, lantas Seo Young bergegas berjalan kedalam rumahnya itu.

 

 

Melihat Seo Young yang telah berlalu ke dalam rumah dan juga V yang sudah pergi, membuat rasa penasaran Seul Na makin menjadi. Nami sudah jengah dengan sikap temannya itu, masalahnya V adalah satu-satunya orang yang membuatnya malu dikantin waktu itu. Dia rasa V juga orang yang ia tak suka diantara list stalker milik Seul Na.

 

“Ayoo pulang” ajak Nami yang sudah mulai lelah

 

“Tidak, aku masih penasaran dengan yang kemarin.” Jawab Seul Na yang masih mengikuti V diam-diam hingga mereka sampai di perempatan jalan raya kota Seoul.

 

“Kemarin itu kenapa? Cerita padaku!”

 

“….” Tak ada jawaban. Seul Na masih berfokus pada V yang jaraknnya sudah lumayan jauh.

 

“Han Seul Na!!” Teriak Nami dengan adanya penekanan kata dinamanya, membuat Seul Na sedikit terlonjak kaget lantas membalikkan badannya mengahadap Nami yang sudah menyilangkan tangannya di dada.

 

“Ahh. Arraseo! Yoon Nami. Besok semua-semuanya akan kuceritakan. Kau pulanglah duluan, ada yang harus aku pastikan sekali lagi” jawab Seul Na dan langsung membalikkan tubuhnya kembali pada objeknya tadi.

 

“Aishh.. kemana anak itu?!”

 

^

 

“Kenapa dia jadi terobesi begitu pada si idiot itu?” gerutu Nami sepanjang jalan menuju ke arah rumahnya. Dia terus saja menendang apapun yang ia lewati, mau botol bekas atau pun orang saat ini Nami tidak peduli. Ia masih kesal pada Seul Na, tak biasanya dia menyebalkan seperti itu.

 

“Eoh.. bukankah itu…”

 

“ Kali ini harus dapat lebih banyak. Kau bantu aku ya. Tau kan siapa saja listku?”

 

Perkataan Seul Na langsung mejalar dipikirannya ketika ia melihat Ray anak kelas II.2 di sebrang jalan dengan menyampingkan gitar hitam miliknya. Setelan jaket hitam yang menjulang sampai lutut, ditambah dengan topi merahnya, benar-benar membuat seorang Ray Kim terlihat tampan malam itu. Earphone yang bertengger di telinganya menambah kesan ‘cool’ bagi siapa saja yang melihatnya tak terkecuali Nami yang beberapa detik terpana dengan sosok di sebrang itu.

 

Sambil menunggu lampu hijau menyala, Nami buru-buru mengeluarkan handphonenya, mengambil beberapa gambar dari Ray dengan berbagai pose yang berbeda.

 

“Tampan” gumamnya pelan ketika melihat hasil jepretannya itu. Senyum tipis menghias di bibir mungilnya.

 

“Ohh.. apa sekarang kau menjadi seorang stalker? Yoon Nami?!” seseorang tiba-tiba berkata tepat di belakang Nami dengan menggunakan penekanan di namanya.

 

“Eoh? Yakk!!! Kau…”

 

“Emm.. emm. Lumayan bagus foto mu. Apa sekarang hoby main tenismu berubah menjadi penguntit?” ucap orang itu lagi sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya, pura-pura mengerti apa yang dilakukan oleh seorang Yoon Nami. Nami yang menyadari apa yang dimaksud orang itu, buru-buru memasukkan handphonenya kedalam tas.

 

“Diam kau! Kim Siwoo. A. aku hanya..” baru saja Nami ingin mejelaskan, orang itu sudah beranjak pergi dari hadapannya dengan wajah tanpa ekpresi yang jelas. Tanpa memperdulikan Nami yang terus berteriak, Siwoo lebih memlilih terus berjalan.

 

***

 

Seperti biasa jika ada pelajaran sejarah, mood Seul Na langsung berubah drastis. Pelajaran yang membuatnya ngantuk luar biasa, bahkan sampai berkali-kali ia tertidur dikelas dan selama itulah Seul Na dihukum. Tapi kali ini bukan itu, bukan, bukan itu alasan Han Seul Na mengeluh beberapa kali. Bukan karena pelajaran Joseon yang membosankan itu. Tapi..

 

“Arghhh!!” Seul Na mengacak rambutnya frustasi.

 

Beberapa kali ia membenarkan posisi duduknya yang tidak nyaman, menenggelamkan kepalanya ke meja beberapa kali, serta eluhan dan decakan kecil yang keluar dari mulutnya membuat Nami yang duduk disebelah mengeryitkan dahinya heran. Tidak biasanya ia seperti ini. Tidak mau membuar mood sahabatnya makin memburuk, ia lebih memilih diam.

 

Apa karena fotonya dihapus semua oleh si idot itu? Ahh, tidak dia tidak akan sefrustasi ini. Apa karena V bekerja paruh waktu? Tidak juga. Mana mungkin Seul Na menaruh perhatian lebih pada si gila itu. Ah sudahlah..

 

Setidaknya itu yang berkulat di pikiran Nami usai Seul Na meceritakan semuanya pada dirinya tadi pagi. Ceritanya itu benar-benar tidak bisa dipercaya.

 

“Apa gara-gara aku? Ahh Yoon Nami apa gara-gara aku?”

 

“Eoh? Apa maksudmu? Aku tak mengerti” Nami semakin heran ketika tiba-tiba saja Seul Na menghadapnya dengan tatapan yang menyedihkan. Tentu saja Nami tak tahu apa yang dimaksudnya.

 

“Apa benar gara-gara ku?” gumamnya sekali lagi, kali ini sambil memerhatikan lapangan luar yang nampak kosong.

 

 

“V? siapa yang kau maksud?”

 

“Kemarin.. sekitar jam 8 staff mu yang berjaga disini. Tidak mungkin kalau itu bukan V”

 

“Jam 8? Ah apa maksudmu Kim Taehyung?”

 

“Kim Taehyung? Bukan bukan”

 

“Tapi hanya dia yg bekerja di jam 8 kemarin. Dan jika yang kau maksud orang itu, dia sudah di pecat”

 

“Dipecat?”

 

“Meninggalkan kasir begitu saja ketika bekerja itu benar-benar tidak sopan. Seharusnya anak baru yang baru tiga hari bekerja melaksanakan tugasnya dengan baik”

 

Percakapan Seul Na dengan manager minimarket kemarin itu membuat Seul Na bingung. Bingung? Siapa yang tidak bingung, jika di waktu yang sama orang itu menghampiri dirinya hanya untuk mengembalikan handphonenya yang tertinggal itu.

 

“Kim Taehyung, Nama aslinya kah? Babo! Harusnya dia mengembalikannya lain kali saja, atau perlu buang saja handphone ku itu!” racau Seul Na tak jelas, kontan saja teriakkannya itu langsung mengundang perhatian dari semua murid di kelasnya tak terkecuali Ahn ssaem yang langsung menyuruhnya keluar dari jam pelajarannya. Ia sudah jengah dengan sikap Seul Na.

 

^

 

“Ahh… apa yang harus kulakukan?” sedikit ada perasaan bersalah di hati Seul Na pada sosok V. Semenyebalkan apapun V, tapi tetap dia merupakan bagian dari listnya. Seul Na sendiri yang membuat moto ‘seorang stalker harus setia pada siapapun yang menjadi bagian listnya. Mempercayainya dan juga selalu menyukainya. Menolongnya seperti pahlawan bayangan yang tidak di ketahuinya’

 

“Iya! Benar! Aku harus menanyakan langsung padanya. Tapi apa dia mengenaliku waktu itu? Aishh ini gila”

 

BUKK

 

Seul Na menendang paksa pintu ruangan tenis hingga satu engselnya tekoyak hampir lepas. Seul Na kemudian masuk kedalamnya, merebahkan tubuhnya pada satu matras yang memang menjadi tempat favoritnya jika sedang dihukum seperti ini. Letaknya yang berada dilantai dua dan terpojok itu membuat guru piket tidak ada yang berani kearah ruang tenis ini, kabar tentang angkernya ruang tenis mungkin salah satu alasannya mengapa ruangan ini hanya bisa dimasuki oleh anggotanya saja.

 

Bosan dengan suasana ruangan yang terlampau sepi, Seul Na menghampiri lemari bola tenis di dekat pintu kecil yang mengarah pada atap sekolah. Entah apa maksudnya, Seul Na lantas mengeluarkan semua bola yang ada didalamnya dan mencari satu bola favoritnya. Bola pemberian pemain tenis terkenal Kim Y yang ia dapat di turnamen tahun lalu. Bola itu bergelinding menuju pintu kecil tadi mengikuti bola-bola yang sudah lebih dulu berserakan di sana.

 

“Harusnya pelatih membiarkanku menyimpannya, mengapa di taruh disini kalau pada akhirnya tak terawat. Huhh, ini jelek sekali” Ucapnya ketika memungut bola yang bersentuhan dengan sepasang sepatu di depan pintu tadi.

 

“Sepatu punya siapa ini?” tangannya mengulur untuk memeriksa satu sepatu bewarna jingga. Seul Na membolak-balikkan cepat sepatu itu beberapa kali, sampai satu hal yang berhasil mengingat sepatu milik siapa itu.

 

“Tidak.. tidak mungkin, ayolah Han Seul Na banyak yang memakai sepatu seperti ini. Lagian mana mungkin dia memasuki ruangan ini dan, dan juga pintu yang terkunci ini? Tidak, pasti bukan dia. Tapi… ini seperti punyanya” dahi Seul Na mengerut, kepalanya ia miringkan sedikit menatap heran sepatu di tangannya itu.

 

“Untung saja, setengah dari foto-fotoku yang hilang ada di Nami” Seul Na tersenyum saat mengeluarkan handphonenya, memeriksa foto-foto yang tadi pagi dikirim Nami padanya. Foto-foto yang hilang tentunya.

 

“Kalau tidak salah seharusnya sepatu ini milik…” perkataan Seul Na terpotong ketika matanya menangkap satu foto dengan gambar pria yang ia ambil dengan berbagai pose dari atas sampai bawah. Mata Seul Na terus tertuju pada titik bawah dimana sepatu Jingga itu di pakai.

 

Crekk

 

“tidak dikunci?” Seul Na mengambil langkah pertama untuk membuka pintu berukuran cukup kecil itu. Bahkan untuk memasukinya seseorang harus menunduk terlebih dahulu agar bisa masuk.

 

Tap

 

Tap

 

Tap

 

Kaki Seul Na dengan pelan melangkah semakin dalam menuju atap sekolah. Pintu kecil yang kurang diketahui banyak orang itu, merupakan pintu masuk untuk mencapai atap. Seul Na terus berjalan, mencari tanda-tanda seseorang yang jika tidak salah pasti orang itu.

 

“Eoh?” baru saja Seul Na ingin kembali, ia mendengar suara seperti err suara dengkuran mungkin. Suaranya terlalu halus dan tidak jelas, tapi Seul Na yakin bahwa memang benar ada orang disini.

 

Seul Na beranjak dari tempatnya menuju samping disana terdapat sebuah bangunan kecil yang tak terpakai yang menempel langsung dengan ruangan tenisnya.

 

“V…” Dugaan nya benar. Sosok V di hadapannya tengah asik tidur siang tanpa terganggu sinar matahari yang jelas-jelas mengenai wajahnya. Tapi tunggu! Dia menutupinya dengan sebuah topi. Ah benar-benar jenius. Satu buah batu bata menjadi bantal baginya, tapi tidur tidak beralas seperti itu apa tak sakit? Pikir Seul Na.

 

“Ini harus di abadikan. Hanya Jungkook saja yang pernah aku foto seperti ini”

 

Klik

 

Klik

 

Klik

 

Beberapa kali Seul Na mengambil gambar V yang sedang tertidur tanpa ada rasa takut membangunkannya. Pemikiran tentang bertanya satu hal padanya, seakan tenggelam begitu saja.

 

“Hentikan” tiba-tiba tangan V berhasil menggapai pergelangan tangan Seul Na yang hendak memfoto wajahnya secara dekat. Orang itu lalu membuka topinya, matanya menyipit memandangi Seul Na yang masih kaget.

 

“Apa kau tidak bosan mengikutiku terus sejak kemarin hm?”

 

“Ne?

 

“Aku melihatmu. Ck benar-benar penguntit”

 

Flashback

 

“Benar kau tak mau mampir kerumah ku dulu, hm?” Tanya Seo Young pada V ketika mereka sudah sampai di belokan sebuah gang kecil yang didepannya sudah berdiri rumah megah bergaya eropa itu.

 

“Masuklah. Aku harus pergi Seo Young-a, tidak baik dilihat orang malam-malam begini” jawab V sembari mengacak pelan rambut Seo Young. Setelah V mengecup pelan keningnya, lantas Seo Young bergegas berjalan kedalam rumahnya itu.

 

Sesaat V melihat kearah cermin jalanan berbentuk bulat besar yang berada di depan rumah Seo Young. Dan dia melihat dua wanita yang sedang melihatnya bersama Seo Young. Satu wanita yang ia kenali bahkan memfotonya.

 

“Ck. Perasaan Seo Young benar.. Lihatlah mereka bodoh. Hey aku sudah mengetahuinya” gumam V sembari terus melihat kaca besar itu. Senyum miring menakutkannya terukir disana. Tak mau berlama-lama, V lalu pergi dengan tetap berpura-pura tidak dikuti. Sesampainya di jalan raya, V sengaja menggunakan kesempatan ini untuk menghindar dari incaran Seul Na dan juga temannya itu. Dan V berhasil menghindar tanpa diikuti kembali.

 

Flashback end.

 

“Ahh.. pantas saja kau cepat sekali menghilang, baguslah aku tak perlu meminta maaf padamu” ucap Seul Na pada V yang masih merebahkan tubuhnya itu.

 

“Kau wajib meminta maaf padaku” jawab V ketus.

 

“Ne?”

 

“Manager Kim menelponku kemarin”

 

“Manager?”

 

“…”

 

“Ahh.. itu. Baiklah aku minta maaf. Kalau bukan karena kecerobohanku, kau tak mungkin dipecat. Ma..maaf” Seul Na menundukan kepalanya beberapa kali sebagai tanpa bersalahnya. Bagaimanapun juga ia penyebab V dipecat secara tidak langsung.

 

“Tujuh kali dipecat.. huhh, sepertinya aku harus mencari pekerjaan baru lagi” lanjutnya sembari tersenyum konyol. Deretan gigi putihnya itu ia tampakkan, mata yang ikut tersenyum seakan V sudah menerima maaf Seul Na. Melihatnya Seul Na hanya mematung. Tujuh kali? Anak SMA mana yang sudah dipecat sebanyak itu bahkan mereka saja belum lulus.

 

“Baiklah aku harus –“

 

CREKK

 

“Seul Na-a apa kau disana?” teriak seseorang. Mata Seul Na membulat sempurna, jantungnya memompa lebih cepat. Takut-takut ada yang memergokinya. Apa lagi suara itu.. Seok Jin?

 

BUKK

 

Tangan V dengan cepat menarik Seul Na hingga tubuhnya menindih setengah tubuh V. orang itu terlihat santai saja melakukannya. Tapi Seul Na? jantung nya tak bisa ia kendalikan, matanya mengerjap beberapa kali.

 

“Diam.. oke. Dia tidak akan kesini. Aku jamin itu” ucapnya menenangkan sedikit hati Seul Na yang terlampau gelisah. Lagi-lagi V tersenyum padanya! Sesaat mata mereka bertemu sampai suara teriakkan itu tak terdengar lagi mereka tetap dalam posisinya. Bahkan hembusan nafas V masih sepenuhnya Seul Na rasakan.

 

“Ahh… baiklah aku harus pergi” Seul Na bangun dari posisinya. Terlambat V menariknya kembali. Kepelukannya?

 

“Tunggu…”

 

“Kau harus membayar pemecatanku” lanjutnya tanpa memandang Seul Na. Matanya terpejam menikmati angin yang berhembus cukup kencang.

 

“N.. Ne?”

 

Kringggg!!

 

Suara bel istirahat yang memekakkan telinga menyadarkan lamunan keduanya.

 

“Nanti kau juga akan tahu. Pergilah” V melepaskan pegangannya pada Seul Na.

 

“Kenapa masih disini? Oh iya satu lagi, jangan pernah bilang siapapun tentang aku disini. Sekarang pergi” kali ini nadanya terdengar ketus dan dingin tidak seperti tadi yang terdengar sedikit hangat.

 

^

 

“Seul Na-a… kau kemana saja?” Nami menghampiri Seul Na yang sedang asik menyantap makan siangnya.

 

“Aku tadi… ah, aku di UKS perutku sedikit sakit tadi. Kenapa memangnya?”

 

“Kau tahu. Tadi Seok Jin mencarimu. Dia bilang ada perlu padamu. Semua kelas ia datangi dan dia juga ke klub tenis tadi”

 

“Ohh… kukira ada apa. Apa dia menitip pesan untukku?” Tanya Seul Na datar. Ia masih memikirkan rencana apa yang dibuat V nanti.

 

“Ishh.. kau ini kenapa eoh? Apa masih sakit?” ucap Seul Na khawatir. Biasanya jika ia membicarakan Jin, ia senang bukan main bahkan sampai matanya itu mau keluar. Tapi kali ini? Hari ini Seul Na aneh.

 

“Aniyo…”

 

“Dia minta kau pulang bersamanya lagi”

 

“Oh baiklah. Hanya itu? Kenapa tidak lewat pesan saja” jawab Seul Na kali ini sedikit tersenyum.

 

“Hey.. orang berkencan itu, harus secara langsung bicaranya. Itu baru namanya romantis” Nami menyenggol pelan tangan Seul Na.

 

“Siapa yang berkencan? Hahaha. Kau ini ada-ada saja”

 

 

 

“Eoh.. apa kau Han Seul Na?” seseorang dengan tiba-tiba menghampiri Seul Na sambil tersenyum. Tangan kekarnya merangkul Seul Na begitu saja. Baik Nami dan Seul Na sama-sama terkejut.

 

“Rome su.. sunbae? A.. ada apa?” dengan gugup ia mencoba bertanya pada Rome. Tangannya yang bergelayut di tengkuk lehernya membuatnya sedikit risih.

 

“Ahh.. Seul Na-a… bagaimana kabar mu?” satu orang lagi menghampiri lalu duduk di sebelah Seul Na, menggeser posisi Nami.

 

“R.. Ray?”

 

“Wow.. apa ini noona yang katanya sering memfoto ku? Bahkan kata V hyung, dia pernah melihat foto ku sedang tertidur. Ah apa itu benar noona? Bagaimana wajahku saat itu? Lucu tidak?” ucap seorang lagi yang menghampiri sambil menampakan mukanya yang sok imut itu. Matanya ia kedipkan beberapa kali menambah kesan manis padanya. Orang ini Jeon Jungkook, adik kelasnya sendiri.

 

“V hyung?” tanyanya pada Jungkook. Yang ditanya hanya mengangguk pelan. Ketiga orang itu tetap pada posisinya sambil terus tersenyum aneh. Bagaimana bisa list setalker nya saat ini di hadapannya semua?

 

“Kau harus membayar pemecatanku”

 

Sesaat Seul Na memejamkan matanya, menghembuskan nafasnya kasar. Mencoba mencerna kembali apa yang dikatakan V ketika di atap tadi.

 

“ARGHHHH!!! V! Dimana anak itu?!” teriaknya, mengagetkan ketiga orang tadi dan juga Nami.

 

Matanya mencari keseluruh sudut kantin. Seul Na menemukannya! Pria berambut caramel yang ia ingin bunuh sekarang. Orang itu sedang asik mengobrol dengan gerombolannya, berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. V melihat tatapan menusuk milik Seul Na, dia terkekeh pelan, lidahnya ia keluarkan mencoba meledek Seul Na benar-benar membuat amarah Seul Na mencapai ubun-ubun. Harusnya ia bunuh saja tadi ketika di atap, menyembunyikan mayatnya di sana sampai membusuk. Begitulah isi pikiran Seul Na saat ini.

 

 

“KIM TAE HYUNG! ARGHHHHH”

 

           

***

 

 

Anyeong~~

Hueheee.. Taebo mau ngucapin makasih banyak yang udah pada komen di pt.1 kemaren ^^

Seneng banget kalo pada suka. Ini chapter ke duanya, maaf yee feelnya kagak dapat, terus romance VNa nya belum ada -,- kan ceritanya yaaa masih gitu deh *apalah*

 

Ini kedikitan apa kagak?

Dikomen lagi yaa.. kasih kritik dan saran😀

Okelah saya rasa cukup sekian dan terima kasih /cling/

 

Oh iya, just information dari Taebo, Project ff Twoshoot Jungkook lagi digarap(?) tunggu tanggal tayangnya wokehhhh😄

About fanfictionside

just me

10 thoughts on “FF/ BECAUSE YOU’RE V/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Maaf buat semuanya di pending sementara dulu yaaa… Mau fokus ke UN dulu sma Ujian Kejuruan😦
    Tapi bener deh nanti dilanjutin :’)
    makasih bgt yg udh setia nunggu.. kalo ada kesempatan aku post kok, padahal lanjutannya udh ada lebh dari 10 lembar, cuma ya gtu blum ada waktunya aja ditambah notebooknya lgi rusak u.u

    Once again, thanks for wait readers❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s