FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 3


Title: Un.Titled

Author: Choco96

Genre: Romance, Sad, Friendship, School-Life, Family

Length: Chapters

Rating: PG-17

Main Cast: Merry Merry (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Min Yoongi (BTS)

Support Cast: Park Jimin (BTS) || JHope (BTS) || Kim Seokjin (BTS)

Disclaimer:  100% hasil dan punya saya. Chara idol milik Tuhan, keluarganya, dan agensi masing-masing! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

Summary:

Ketika aku mengatakannya, terdapat secercah kebahagiaan yang akhirnya kutemukan kembali

-Taehyung

 

WARNING! There’re typos in this story~

 

Un.titled (Part 3)

 

/Merry/

 

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Suara jam dinding kelas telah menemaniku hampir selama sembilan jam lamanya. Sudah delapan guru telah berganti di kelas ini. Tak lupa juga dengan kedatangan guru biologi yang menurutku mengganggu. Aku tekankan ini sangat mengganggu. Ini sangatlah membosankan. Layaknya seperti makan makanan yang aku benci dan ingin memuntahkan semuanya. Akan tetapi ada sesuatu yang salah dengan tindakan hari ini.

Aku memperhatikan penjelasan guru biologi ini. entah apa motto saat ini, rasanya ingin tahu tentang mata pelajaran ini. mungkin aku sedikit tertarik dengan pelajaran ini. mungkin.

 

‘Merry-ah~’

‘Kau tidur di kelas?’

‘Merry-ah, temani aku ke kantin~’

‘Apa kau menyesal berteman denganku?’

‘Merry-ah, maafkan aku.’

 

Aku terperanjat kaget dengan perkataan-perkataan yang sedang melanda otak besarku. Seperti palu yang menghujam sistem saraf pusatku. Banyak beban yang kualami dari dulu hingga sekarang. Bukannya lebih baik, melainkan lebih buruk dari hari ke hari.

Aku menghela napas sedikit kasar, lalu berpikir sejenak. Apa yang kulakukan selama ini tak ada yang membuatku bahagia. Selalu muncul bibit masalah jika menuju ke jalan yang ingin kuimpikan. Itu menurutku.

Ponsel berwarna black pearl bergetar seirama dengan detak jantung. Memang kuatur sedemikian rupa. Hanya keinginan untuk menyamakan detak jantungku selama ini. layar utama terdapat gambar amplop.

‘Dari siapa?’ kataku dengan pasti.

Dari ibu. Tak seperti biasanya ibu memberiku pesan singkat. Apa ada keperluan yang lain?

Kukuncir surai berwarna hitam panjang bergelombangku dengan asal, hanya untuk tidak menghalangi pandanganku. Kulirik layar ponsel touchscreenku sekali lagi. Menimang-nimang apa yang kupikirkan barusan. Apa seharusnya aku menjawab pesan dari ibu? Tapi akan kujawab apa. Pertanyaan atau pernyataan iya?

 

‘Aku akan pulang, Bu.’

 

∞∞∞

 

“Aku pulang.” Meletakkan sepatu di tempat semula. Melangkahkan kakiku ke dapur. Memastikan apakah ibu telah ada di rumah. Benar, ibu sudah pulang. Tetapi menurutku ini terlalu awal untuk pulang seperti biasanya. Tampak ibu sedang memasak untuk makan malam nanti. Tapi kulihat porsi sedikit berlebihan. Bukan porsi biasanya yang ia siapkan setiap harinya.

 

Apa ada acara penting?

 

Menggeleng kepala pelan untuk menepis yang membuatku curiga. Mungkin ini hanya perayaan kecil untuk keberhasilan ibu di kantor. Mungkin. Aku langsung ke lantai dua. Menaruh tas yang lumayan membuat pundakku bekerja ekstra hari ini. Banyak kumpulan buku tebal yang mengisi tasku. Ingat, buku biologi yang sangat menyiksaku seharian ini.

Tubuhku nyaman dengan empuknya spring bed beralaskan kain berwarna cream berpadu dengan coklat. Layaknya seperti kue maccaron. Ditambah dengan terpaan angin yang menggelitik permukaan kulitku—aku sedikit mengerang dengan nyamannya. Pintu balkonku memang sengaja kubuka sebagian saja, hanya sekedar merasakan sentuhan sang angin yang membuatku nyaman atas sentuhannya.

Sebelum menit ke dua puluh, aku telah beranjak dari spring bedku ke kamar mandi berinterior minimalis. Badanku sudah lengket dengan keringat yang menemaniku seharian ini. Jam pertama yang diisi dengan mata pelajaran olahraga, peluhku sudah mengucur dengan lancar di penjuru kelenjar keringat. Tak lupa jam terakhir juga, mata pelajaran biologi yang membuatku penat berlebihan seharian ini.

Setelah lima belas menit kusibukkan untuk mengguyur air dari ujung rambut sampai ujung kaki, melepas bau tak enak dari badanku. Keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menutupi badanku dari sebatas dada atas sampai lutut.

“Merry, kau sedang apa?” Tanya ibuku dari lantai satu.

“Baru selesai mandi, Bu.” Jawabku tak bersemangat, ”Memangnya ada apa, Bu?”

“Kalau begitu ganti bajumu dengan dress semiformal.” Perintahnya lalu suara itu menghilang seketika.

Memang benar apa yang kupikirkan sedari tadi, ada acara penting. Tapi jika dipikir-pikir ini bukan hari ulang tahun ibu. Perayaan keberhasilan ibu? Mana mungkin ibu merayakan kesuksesannya dengan menyuruhku mengenakan dress semiformal. Jika ibu ingin merayakan kesuksesan di kantornya tak serepot ini.

 

Apakah nanti ibu kedatangan tamu malam ini?

 

Pikiranku sudah malas untuk membahas tamu ibu nanti—itu opiniku. Aku mengiyakan apa yang dititahkan ibu padaku. Kulanjutkan dengan mengenakan baju dalam yang langsung kubalut badanku dengan handukku tadi. Menuju pada pintu balkon yang terbuka sebagian, lalu kututup dengan tirai berwarna putih.

Mengarah pada lemari baju untuk memilih dress semiformal. Membuka daun pintu lemari yang berumur kisaran tujuh tahunan. Memilah-milah baju yang pas untuk kupakai jam tujuh malam nanti.

 

∞∞∞

 

“Kita mau kemana, bu?” ibu masih memperhatikan jalanan yang gelap namun dihiasi oleh sinar lampu jalan.

“Ibu ingin memperkenalkanmu dengan anak teman ibu.” Beliau menjawab pertanyaanku yang masih mengawasi jalanan.

“Maksud, Ibu?”

“Perjodohanmu, Merry-ah. Teman ibu sangat ingin bertemu denganmu. Ia ingin melihatmu yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik.”

 

Apa?

Perjodohanku?

Apa aku tak salah dengar?

 

Mataku melebar dengan perkataan ibu barusan, aku menoleh pada ibu. Memperhatikan air muka ibu sekarang. Tampak bahagia—karena yang kulihat sekarang terdapat ulasan senyum yang membayangkan bahagianya aku—itu menurutku.

“Apa ibu tak mendengarku tempo hari? Aku tak ingin dijodohkan!”

Raut ibu yang tadi terdapat senyuman berubah seketika menjadi serius. Ia mengarah ke tepi jalan untuk memberhentikan laju mobil fordnya. Menekan tombol off mobil. Setelah itu menatapku dengan serius.

“Merry-ah, ibu belum pernah bilang ini padamu.”

“…” amarahku masih kutekan sedemikian rupa untuk tak meledak tiba-tiba.

“Ibu dan sahabat ibu sudah berjanji sewaktu kau masih di dalam kandungan. Sahabat ibu ingin mempunyai anak perempuan, tapi sayang dia tak dikaruniai anak perempuan melainkan anak laki-laki semuanya. Dan ibu sudah berjanji jika ibu melahirkan seorang anak perempuan, ibu ingin menjo—“

“Bu, tolong jangan campuri kehidupanku! Aku bisa memilih mana yang benar dan yang salah. Jangan buat keputusan sepihak. Ibu tak sebaik yang ibu pikir!”

 

Brak!

Suara pintu mobil ibu kututup dengan keras. Aku geram dengan apa yang ia lontarkan tadi. Perjodohan untuk apa? Karena janji—omong kosong belaka? Mungkin orang tua bisa berpikir dengan kekanak-kanakan.

 

Omong kosong!

 

Langkah kakiku masih belum berhenti, mencari-cari sebuah taksi yang berhenti, dan kunaiki. Aku ingin ke suatu tempat yang takkan ada gangguan. Gangguan dari ibu tentunya.

Masih belum menemukan sebuah taksi yang melintas di sampingku. Padahal ini masih pukul tujuh lebih lima belas menit. Pundakku sudah pegal untuk merasakan beban tas selempangku. Hawa malam ini begitu dingin—itu menurutku. Mungkin kakiku sudah lecet karena tak biasa menggunakan sepatu berhak tinggi nan runcing.

 

‘Berjanjilah padaku untuk menemaniku minum kopi malam hari.’

 

Sepertinya aku pernah mengucapkan pada seseorang seperti itu.

Tapi siapa?

 

Memijat pelipis, lalu mengingat-ingat sejenak. Kapan dan dengan siapa aku mengatakan itu?

Waktu itu, aku berjanji—ah, bukan lebih tepatnya menyuruhnya untuk mengiyakan apa yang kuperintahkan. Mungkin apa yang kukatakan setengah bulan lamanya sudah mencuat juga. Seperti hal yang mustahil kuraih tapi tak sengaja bisa terwujud.

 

 

Langkahku kupercepat—seperti berlari kecil. Merogoh pita hanya untuk merapikan rambutku yang sedari tadi terurai. Ternyata tak ada di dalam tasku.

Aku menghela napas sedikit kasar—emosi. Mengapa hidupku seperti tak ada yang beres.

 

‘Taehyung-ah’ memanggil namanya dengan suara yang sangat pelan.

‘Taehyung-ah’ aku mengulang nama itu.

‘Taehyung-ah’

 

Air mataku sudah meluncur dengan sempurna dari persembunyiannya. Aku mengacak-acak rambutlku dengan brutal. Menghapus lipstick berwarna nude, eye-shadow yang mungkin sudah tak berbentuk. Make-up ini sudah membuatku sebal hari ini dan malam ini.

Entah langkah keberapa kalinya, kakiku sudah berada di samping kedai kopi. Melihat nama kedai itu—Sweet Coffee . nama yang menurutku sangat lucu untuk dijadikan nama kedai. Walaupun kedai kopi ini lebih dominan dengan menjamu tamu atas kopinya, lantas dulu mengapa taehyung bisa membuat minuman selain kopi padaku. Padahal dia hanya sebatas pelayan yang mencatat pesanan pelanggannya.

 

‘Taehyung-ah” suara isakanku sangat mengganggu apa yang kubicarakan sekarang.

 

“Kau?” suara berat di seberang sana telah memanggilku—tepatnya bertanya dengan nada menggantung.

 

Ia menatapku heran. Seperti apa—yang—terjadi—padaku? Aku hanya mengusap air mataku dengan kedua jari telunjukku dengan kasar. Aku tak ingin rasa kesalku—ah, bukan melainkan kerapuhanku terlihat oleh kedua indera penglihatannya.

Taehyung mempercepat langkahnya padaku. Ia memandangku setelah itu. Aku menundukkan kepala untuk menghindari kontak mata dengannya. Aku tak ingin terlihat rapuh seperti ini. tapi tak bisa kupungkiri jika bertemu dengannya, jantungku berdetak tak seperti biasanya.

Selagi tangisanku masih berlanjut, ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam kedainya. Kepalaku masih menunduk. Setelah itu ia mendudukkanku pada salah satu bangku panjang di kedai itu. Dekat dengan bartender—yang sekarang tak kulihat lagi.

“Mengapa kau datang kesini? Ini sudah larut malam.” Aku menunduk tak menjawab pertanyaannya.

Napasku masih tersengal-sengal dengan isakanku. Mungkin tatanan rambutku sudah tak berbentuk lagi. Aku tak mempedulikan apa yang akan tanyakan padaku. Rasanya ingin menangis semalaman ini. Kepalaku sudah pening dengan kejadian- kejadian hari ini.

Kukerahkan keberanianku untuk menatap Taehyung seraya menggigit bibir bawahku. Mungkin hidungku telah memerah, make-upku sudah luntur, dan entah apa lagi yang tak berbentuk. Aku mengusap air mataku yang masih membanjiri mataku.

“Kau menangis?” tanyanya membuka percakapan.

“…”

Isakanku masih terlihat jelas. Pundakku masih terlihat jelas naik turun—belum dapat membuat rongga pernapasanku kembali normal karena tangisanku. Semakin lama kutahan tangisanku, semakin banyak air mata yang meluncur dengan mulusnya di hadapan lelaki ini. Mengapa air mataku begitu tumpah ketika menghampirinya pada malam ini?

Mengangkat pergelangan tangan kiriku, melirik dua jarum di dalam jam rolex putihku. Masih pukul delapan malam. Menurutku ini masih tak begitu malam untukku.

“Apa yang terjadi padamu, Merry-ah?” ia mencoba untuk menanyakan kembali dengan menambah akhiran. Namaku.

Masih mengatur napasku yang masih diganggu oleh sesenggukan karena tangisanku. Menghirup udara sedikit dalam, lalu menghembuskan dari mulut dengan pelan. Sedikit membantu ternyata.

“A—Aku, aku bingung, Taehyung-ah.” Air mataku tiba-tiba mengalir deras.

Pandangannya menerawang jauh. Entah sejauh mana itu. Ekspresi yang kudapat darinya adalah berpikir sejenak.

“Taehyung-ah, aku—“

“Tolong jangan menangis lagi. Aku bingung apa yang harus kulakukan padamu. Aku juga tak pernah memperlakukan tamuku seperti ini. Kau juga perempuan. Ini pertama kalinya aku memperlakukan seorang gadis. Menunggu hingga malam dan ternyata aku mendapatkanmu menangis tanpa kuketahui sebabnya.”

 

Apa?

Tak pernah memperlakukan tamunya seperti ini?

Pertama kali memperlakukan seorang gadis?

Apa aku…merepotkan baginya sekarang?

 

Menundukkan kepalaku sekali lagi. Rasa kecewaku keluar begitu saja dengan apa yang kupikirkan barusan. Pernapasanku semakin stabil karena isakanku tak begitu kentara daripada sebelumnya.

Tubuhnya mendekat padaku. Memelukku. Pelukannya semakin erat ketika ia mengatakan sesuatu di bibirnya, namun kata-kata itu tak begitu jelas. Tapi yang kutangkap hanya ‘jangan menjadi orang lemah’. Apa dia juga merasakan kesedihanku juga?

Aku melonggarkan pelukannya untuk mengecek mimik mukanya. Menengadah untuk melihat wajahnya. Dia masih memelukku seperti ingin berbagi kehangatan untukku.

 

Kehangatan?

Padahal aku tak pernah merasakan lagi.

Apa benar inilah kehangatan itu?

 

“Taehyung-ah?” memastikan keadaan Taehyung yang seketika menerawang.

Ia tersadar dari lamunannya, lalu menatapku. Mukanya yang menurutku tampan—mukanya bukan seperti orang di Negara ini, melainkan seperti orang jepang. Alis yang lumayan tebal, hidung yang mancung, tak lupa tulang pipi yang sedikit menonjol ketika ia menampakkan tawa yang renyah itu. Tetapi saat ini tawa itu tak kutemukan, melainkan pandangan yang dulu pernah kurasakan sebelumnya.

 

Pandangan yang begitu intens dan dalam.

 

“Hey, Merry-ah apa kau tahu jika sampai saat ini aku menjaga perasaan ini padamu.” Aku memandangnya bingung. mataku yang masih sembab disentuh oleh jemarinya “Apa maksudmu, Taehyung-ah?”

“Aku menyukaimu.” Jawabnya. Wajahnya lebih dekat dengan wajahku sekarang. Ia mengeliminasi jarak diantara kita. Entah apa yang melandaku hari ini. begitu melelahkan, Tuhan. Terlalu banyak pikiran dan peristiwa-peristiwa yang tak terduga muncul bersamaan. Aku kalut dengan keadaanku.

 

Taehyung menyukaiku?

 

Ia memangkas jarak diantara wajah kita. Delapan sentimeter, enam sentimeter, empat sentimeter, lalu menjadi dua sentimeter. Hidungku sudah bersentuhan dengannya. Dengan otomatis mataku mengatup, ketika jarak kita terlalu dekat menurutku.

Aku merasakan sesuatu yang lembut mendaratkan di bibirku. Bibirnya menekan bibirku dengan halus. Mungkin selama tiga detik tak ada suatu gerakan darinya. Hanya sekedar menempelkan saja. selanjutnya ia sedikit menggerakan bibirnya untuk melumat bibir bawahku. Badanku sedikit menegang dengan suatu rangsangan seperti ini. ini pertama kalinya. Disela-sela ciuman kita, ia memagut bibirku dengan hati-hati. Perasaanku sangat nyaman dengan ciumannya terhadapku. Akhirnya aku membalas ciumannya. Mengulum setiap millimeter di bibirnya. Aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya.

 

Apa ini yang disebut kehangatan?

Apa aku juga menganggap Taehyung lebih dari ini?

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

I tell you I love you, I’m going crazy, I miss you.

But I can’t put it into action

I can’t even remember when should we meet? Tomorrow?

I make put your hopes up

But I don’t have the time and I take you for granted.

Is love just a habit of mouth to me?

 

Aku tersenyum samar-samar. Mendengarkan alunan lagu dari penyanyi yang terkenal akan genre balladnya. 4men berjudul only all talk. Sebelum itu aku hanya penasaran dengan judul lagunya. Seperti ada dorongan untuk mengunduh lagu ini. setelah mengunduh lagu itu. Lumayan.

Tunggu dulu! Di beberapa bait lagu ini, ada yang menggelitik telingaku. Seperti menyindirku—menurutku sindiran yang mengena.

 

I tell you, I love you, I’m going crazy, I miss you

 

Aku terkekeh pelan layaknya menertawai hidupku sama persis dengan lagu ini. menggeleng-geleng kepala dengan pikiranku. Lagu yang berlogo bibir merah merekah sedang menggigit bibir bawah. Logo ini sangat menantang menurutku. Kukira lagu ini terlihat seduktif jika kulihat dari sampulnya saja. Tapi tak kusangka lagu ini begitu enak jika didengar—bahkan tak ada irama yang berunsur menggoda.

 

‘Jungkook-ah’

‘Ajari aku biologi.’

 

Ulasan senyumku terukir kembali. Menatap langit-langit ruang tidur. Rasa bahagiaku seakan keluar dari tempatnya terlelap. Senyumku semakin berkembang ketika mengingat wajah yang cantik nan elok. Wajah mungilnya yang dihiasi dengan rambut yang menawan, mata yang lebar dari punyaku, dan tak lupa senyumnya yang—ngh membuat napasku seakan berhenti seketika.

Aku menyukainya. Menyukai senyumnya, menyukai genggamannya, menyukai pelukannya, dan menyukai bibir yang mengerucut ketika kujahili. Aku menyukai semua aspek darinya. Tanpa terkecuali. Dia seperti magnetku selama ini, bak dia sebagai kutub bagian utara dan aku sebagai kutub sebaliknya.

Walaupun dia belum pernah menengokku selama ini, aku yakin jika suatu saat dia akan menengokku. Dengan pasti dan memberikanku senyum terhangat yang ia punyai. Apa aku boleh—menginginkan seperti itu?

 

‘Jeon Jungkook, aku tahu jika keadaan keluarga kita serupa. Tapi bukan karena serupa lalu kau bisa anggap itu sama!’

‘Aku membencimu!’

Aku menghela napas panjang. Terlintas memori itu, memori yang sangat melukai hatiku. itu bukan kesalahannya untuk membenciku karena aku mengusik masalah pribadinya. Akan tetapi apa aku salah dengan bersikap perhatian dengannya?

 

Apa kau masih marah sewaktu aku pulang dari sini, Merry-ah?

Aku harap itu tak akan terjadi.

 

∞∞∞

 

/Taehyung/

 

Aku mengerang—lebih tepatnya kesakitan. Badanku ngilu ketika mataku kubuka. Otot-otot di sekitar betis ngilu sekali. Mungkin ini karena kemarin aku terlalu bersemangat dengan pekerjaan sambilanku. Banyak pesanan yang memaksaku untuk mengangkat nampan berjumlah empat jika tak salah hitung. Itu juga pertama kalinya aku menerima pesanan yang rasanya begitu membludak seperti meledaknya penduduk di Negara berkembang.

Kepalaku pening jika aku duduk. Memegangi kepala yang serasa mau pecah, aku kembali ke posisiku semula. Berbaring.

Jam berapa ini? tanyaku dalam hati. Sudah jam delapan. aku mendengus kesal, merutuki apa yang kulakukan kemarin. Aku tak seharusnya bersemangat kemarin. Begini kan badan mudah oleng.

 

‘Aku menyukaimu.’

 

Ah, aku lupa waktu itu. Memoriku telah mengingatkanku pada curahan—lebih tepatnya mengutarakan perasaanku pada seorang gadis. Gadis yang selalu mendatangi kedaiku. Itu adalah pelanggan perempuan pertamaku. Kedaiku memang dominan diisi oleh lelaki berusia tujuh belas tahun keatas. Ada pelanggan perempuan, namun kebanyakan mereka sudah berumur tiga puluhan dan bekerja.

Tak seperti kebanyakan pelanggan perempuan di kedaiku yang sering mengerlingkan genit padaku. Padahal mereka—sepertinya sudah bersuami. Terkadang aku sedikit risih dengan pelanggan di kedai ini, tetapi ini adalah masalah profesional seorang pelayan.

Namun dia berbeda. Dia selalu memandang ke arah jendela. Entah pandangan apa dan menerawang seperti apa. Aku sering memandangnya ketika dia mengadukkan kopi dengan malas dengan tatapan nanar.

Sesekali dia mengambil ponselnya dari saku celananya, lalu mematikan dengan kasar. Pundak gadis itu sering kulihat naik turun, seperti menahan tangisannya. Sesekali juga dia menyandarkan punggungnya untuk mendapatkan posisi yang nyaman.

Wajah gusarnya itu ingin kutangkup pada kedua tanganku. Jika terdapat tangisan di antara kegusarannya, ingin sekali kuhapus air matanya dengan jemariku ini. Tapi apa daya, aku hanya sebatas pelayan dan gadis itu pelanggan.

Aku ingat ketika aku memberikan pesanan moccachinonya pada gadis itu. Dia menatapku, “Terima kasih, Taehyung.” Aku ingat sekali. Aku gugup ketika dia mengimbuhi rasa terima kasih dengan namaku.

Aku berpikir keras mengapa gadis ini bisa tahu namaku, padahal dia tak pernah bertatap muka denganku. Menatapku tanpa ekspresi, dia menunjuk kearah dadaku, “itu.” Aku lupa nametagku bertengger di celemek coklat ini.

Mukaku mungkin sudah seperti kepiting rebus dihadapan gadis ini. Malu? Pasti. Karena kebodohanku yang menanyakan seperti itu. Aku menyesali sekali lagi jika mengingat kejadian itu kembali. Setelah kejadian ‘bodoh’ itu, aku tersenyum lepas untuk menutupi rasa maluku. Dan itu berhasil.

 

Apa aku mulai menyukai gadis ini?

Lambat laun seiring dia berkunjung ke kedai ini, rasa sukaku bertambah.

Entah zat apa yang membuat rasa sukaku bertambah.

Dialah gadis pertama yang mengetuk hatiku.

Memberi kebahagiaan yang telah hilang.

Dan kebahagiaan itu kembali padaku lagi.

Sedikit memaksakan untuk tersenyum, mengingat dengan kejadian-kejadian yang telah terjadi padaku dan gadis itu. Aku terkekeh pelan.

 

‘Aku mencintaimu, Merry-ah.’

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

Aku menanti-nanti kedatangan lelaki itu. Lelaki yang selalu menghampiriku ketika aku ingin memesan secangkir kopi—ah, bukan sekarang aku lebih memilih caramel milk tea. Mencari-cari kedatangan pelayan itu. Tapi rasa kecewa semakin muncul ketika lelaki itu masih tak menampakkan batang hidungnya.

“Apa ada yang perlu kubantu, Nona?” tawar seseorang pelayan perempuan.

“Aku ingin secangkir caramel milk tea hangat.” Jawabku ala kadarnya.

“Maaf, Nona. Di kedai kami tak menyuguhkan caramel milk tea.” Tambahnya si pelayan dengan sopan padaku.

 

Tak ada? Bukankah dulu aku pernah dibuat secangkir oleh Taehyung?

 

“Kalau begitu aku pesan moccachino.”

“Baik, Nona. Tunggu sepuluh menit lagi.” Membungkukkan badan dan berlalu dari hadapanku.

 

Aku masih terhenyak dengan jawaban sang pelayan tadi. Kedai ini tak menyuguhkan caramel milk tea. Apa benar? Sepertinya aku dipermainkan oleh Taehyung. Lantas mengapa dia membuatku secangkir caramel milk tea padaku yang tak pernah disuguhkan dari kedai ini.

Aku menyandarkan punggung untuk mendapatkan posisi nyamanku. Berpikir sejenak, apa yang akan kulakukan selanjutnya? Sesekali aku memandang jalanan di balik jendela besar. Tempat favoritku memang berada di dekat jendela, karena dapat memandang orang-orang yang berlalu lalang.

 

‘Jungkook-ah, kapan kau kembali?’

‘Kau tahu kalau aku sekarang sendirian di sini. Tanpa ada kehadiranmu dan taehyung, seperti tak ada asupan semangat.’

‘Aku harap kau kembali secepatnya.’

 

∞∞∞

 

Mencari-cari buku yang sedari tadi tak kunjung ketemu. Aku menghela napas pelan, tak kunjung menemukan buku itu sangat melelahkan. Aku benci itu. Rasa ingin tahuku semakin terkikis, karena tak kunjung ketemu buku yang ingin kubaca. Aku menyerah.

Mengarah pada rak di sebelahku tadi. Mencoba untuk mencari buku yang sekiranya membuatku penasaran dengan kontennya. Masih menelisik satu persatu buku di hadapanku. Tapi nihil yang kutemukan.

“Apa buku itu sedang gencar-gencarnya untuk dibaca orang-orang?” gumamku.

Kecewa? Mungkin bisa dibilang seperti itu. Tak kunjung menemukan sesuatu itu hal yang kubenci. Padahal biasanya buku yang selalu kuincar berada pada raknya. Rak bernamakan ‘Novel’.

Aku mengacak-acak rambutku dengan asal. Tak bernafsu mencari buku lagi. Aku merogoh buku yang memiliki halaman empat ratus halaman. Berniat untuk mengembalikan pada petugas perpustakaan kota. Langsung meninggalkan rak buku tadi untuk menuju petugas perpustakaan kota.

“Ini buku yang ingin kukembalikan.”

Memberikan kepada wanita paruh baya. Wanita itu mengulas senyum padaku dan kubalas dengan senyuman juga, ”Sering mampir ke sini, ya.” Rayunya padaku.

“Iya.”

 

∞∞∞

 

Sinar sang mentari terasa menyengat seperti membakar kulitku. Sinarnya ditemani oleh hembusan angin yang menembus lubang tirai kamar tidurku. Burung-burung di luar sana tak ingin kalah, mereka berkicau dengan khasnya. Ini masih musim semi, tetapi matahari sudah menampakkan tanpa malu.

Kutengok jam tanganku, ternyata masih pukul dua siang. Pantas saja rasa terik matahari sangat terasa. Mengedarkan pandanganku ke suatu benda. Ponselku.

 

//NO NOTIFICATION\\

 

‘Tak seperti biasanya tak mengirimkanku pesan.’ Gumamku

‘Apa dia sangat sibuk di sana?’ tambahku.

 

Aku menghela napas pelan, mengembalikan posisi ponselku—bukan ponselku sebenarnya, tetapi ponsel lelaki yang merusakkan ponselku tempo itu. Rasa penasaranku kembali muncul. Aku berniat membuka isi folder ponsel yang berada digenggamanku ini. mungkin saja ada sesuatu yang menarik untuk kulihat nanti.

Pertama yang kulihat adalah pesan. Kosong.

Kedua, kontak. Ternyata kosong juga. Pasti dia menyimpan semua kontaknya langsung pada kartu simnya.

Ketiga. Aku sedikit ragu untuk membukanya. Mungkin satu folder yang tersisa, aku masih mengingat ketika dia mencabut kartu memori dan kartu simnya. Pasti di ponsel ini tak ada satupun folder yang tersisa.

 

‘Tunggu dulu, ada satu file.’

 

‘file gambar.’ Kuketuk langsung file tersebut dan gambar itu hasil jepretan kamera Dslr. Jika dilihat sekilas gambar bangunan tua ini berumur ratusan tahun. Aku tak begitu mengenal bangunan ini sebelumnya. Sepertinya ini tempat sembahyang.

Hasil jepretannya begitu rapi dan apik. Aku tak pernah melihat gambar sebagus ini. aku berdecak kagum dengan gambar ini. fokus pada… lonceng yang sangat besar.

 

‘kapan aku mengembalikan ponsel ini kepemiliknya?’

 

Aku kembali masuk ke dalam rumah hanya sekedar menghilangkan rasa hausku. Ponselku langsung kutaruh saku rompi putihku. Melangkahkan kaki menuju kulkas setinggi 160 sentimeter. Membuka daun pintu kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin di dalamnya.

Segarnya batinku dengan perasaan lega. Setelah menutup kulkas berwarna perak, sepertinya aku mendengar seseorang sedang berbicara. Dengan siapa ibu berbicara?

“Iya, iya iya. Bibi disini baik-baik saja.”

“Kamu baik-baik saja, kan? … Kapan kau kemari?”

 

Ibu bertelepon dengan siapa?

 

“Kau tak ingin bertemu dengan calon istrimu? Dia sedang berada di rumah.”

 

Calon istri? Siapa yang calon istri?

 

Sebelum ibu menutup teleponnya, ibu membalikkan badannya dan menatapku sebentar. Seperti ingin menyuruhku melakukan sesuatu. Lalu mengakhiri sambungan telepon.

“Merry-ah kau tak ada—“

“Aku keluar dulu, Bu.”

 

∞∞∞

 

Jari-jariku kuketuk-ketukkan sedari tadi. Aku menunggu seseorang. Pasti tahu siapa yang kutunggu sedari tadi. Ya, pelayan itu.

Aku mencari-cari sosoknya. Ini sudah beberapa hari dia tak menampakkan dirinya padaku. Apa ada suatu hal yang menghalanginya untuk menemuiku—ah, bukan menemuiku, tetapi melayaniku untuk memesan caramel milk teanya itu.

 

‘Aku merindukannya.”

 

“Permisi.” Aku mengacungkan tanganku pada seorang pelayan.

“iya, Nona?”

“Apa kau tahu pelayan yang berambut coklat muda yang memiliki poni segini, hidungnya mancung, dan—“

“Maksud anda Taehyung, Nona?” Bingo! Itu dia.

Aku menganggu dengan pasti. Aku penasaran mengapa beberapa hari ini dia tak datang ke kedai ini. apa ada sesuatu padanya? Seperti sakit?

“Dia izin cuti selama seminggu Nona.” Menjelaskan apa yang kutanyakan.

“Apa boleh aku meminta nomor ponselnya?” tanyaku sedikit ragu, namun si pelayan di hadapanku dengan senang hati memberikan nomor ponsel taehyung padaku.

 

∞∞∞

 

Ragu. Untuk. Mengirimkan. Pesan singkat.

Aku kirim atau tidak?

Ya Tuhan, mengapa sesulit ini untuk menanyakan keadaan seseorang.

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

Apa ini benar Taehyung si pelayan kedai kopi itu?

Aku Merry.

 

Kirim!

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

?

 

Dibalas dengan tanda Tanya. Apa benar nomor yang kukirim ini adalah Taehyung?

Apa aku hanya dipermainkan dengan pelayan itu?

 

Ponsel black pearl itu kulempar ke kasur dengan asal. Aku sedikit kesal dengan balasan tadi. Apa tadi? Tanda tanya jawabannya. Mungkin aku salah sambung.

Aku berniat untuk mengambil ponselku. Berniat untuk menghapus nomor yang barusan kukirim pesan singkat. Sepertinya aku salah orang. Sebelum kuhapus nomor yang membuatku marah, tiba-tiba ponsel yang berada ditangkupan tanganku bergetar.

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

Kau Merry?

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

Tahu darimana?

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

Teman kerja paruh waktumu. Apa yang lucu?

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

Ada apa denganku?

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

Kau menambahkan namamu ketika kau mengirim pesan pada seseorang yang baru saja kau kenal?

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

Salah?

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

HAHAHA😄 KAU LUCU!

 

Ada apa dengan dia?

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

Kau tahu nama panggilanku Merry-ah? (O.O)/

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

 

[Kakaotalk]

From: Caramel Taehyung

Kalau kau tak tahu, kenapa kau memanggilku alien? ~(>.<)~

 

[Kakaotalk]

To: Caramel Taehyung

Karena kau aneh, Taehyung-ah.

 

Jam sudah menunjukkan sepuluh. Waktu tidurku akan dimulai. Kutaruh ponsel lima inci di samping tempat tidurku—lebih tepatnya di atas laci.

 

Drrt~

 

“Hello? Who are you?” tanyaku sekenaku dengan berbahasa inggris.

“Merry-ah, ini aku Taehyung.”

“Kenapa kau meneleponku? Ini sudah malam.” Tanyaku dengan nada mengantuk.

“Hey, Merry-ah. Ini baru jam sepuluh dan kau akan tidur? Kau seperti kucingku saja, hahaha.” Terdengar tawa lepasnya dan tak lupa suara beratnya.

“Apa yang kau inginkan?” nadaku yang masih datar.

“Hehehe”

“Ada apa denganmu, Taehyung? Kau sakit?” mengelus-elus dahiku yang masih bingung dengan kelakuan Taehyung di seberang sana.

“… K—kau, kau tahu aku sakit d—darimana?”

“Apa? Kau sakit sejak kapan? Apa parah? Apa aku harus ke rumahmu?” aku terlonjak kaget ketika mengetahui jika dia sakit. aku mencemaskan taehyung.

“ A—apa? Aku hanya kecapekan. Mengapa kau begitu mencemaskanku?”

“A—aku hanya terkejut. Aku tak pernah melihatmu beberapa hari ini. aku…” aku menggantungkan pernyataanku.

 

‘Aku sangat mencemaskan keadaanmu.’

 

“Hahaha, kau tak perlu ke rumahku Merry-ah. Tapi aku perlu bertemu denganmu hari selasa sore hari.” Seketika nada yang terdengar gelak tawa menjadi serius.

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

“Kita akhiri latihan menarinya.” Perintah trainer menariku kepada seluruh anak didiknya.

 

Teman-temanku saling bersalaman dan memberikan tos yang mereka buat. Setelah kita melakukan tos, aku keluar dari gedung ini. bersama dengan teman seangkatanku maupun dengan seniorku.

“Hey Jungkook-ah, setelah ini kau ingin kemana?” tanya seorang seniorku yang berambut hitam, namanya Jhope.

“Aku langsung ke asrama saja.”

“Okay, kalau begitu aku ikut kau saja.” Hoseok hyung merangkul bahuku.

“Hyung, aku akan beli makanan dulu. Apa hyung tak titip juga?” tawar salah satu tim tari Jungkook, Jimin.

Jhope hyung mengangguk dengan semangat, seperti tak kenal lelah padahal sudah melewati pelatihan selama enam jam berturut-turut. Badannya seperti robot saja. Pantas saja dia tak pernah mengeluh, dia sudah mengikuti karantina selama satu tahun lebih awal dariku.

Sekelebat teringat untuk mengirimkan pesan pada seorang gadis. Seingatku aku mengirim pesan padanya waktu masih di Korea. Semenjak menjejakkan kaki di Negara paman sam ini, aku tak pernah mengirim pesan padanya.

 

 

[Kakaotalk]

To: Merry❤

Merry-ah~~

 

Drrt~

 

[Kakaotalk]

From: Merry❤

Ada apa, Jungkook-ah?

 

[Kakaotalk]

To: Merry❤

Aku merindukanmu, Merry-ah J

Maaf kalau aku tak mengirimmu pesan semenjak aku sudah berada di Amerika.

Karantina disini sangat padat dan tak ada waktu untuk sekadar memberitahu keadaanku di sini.

 

[Kakaotalk]

From: Merry❤

Me too~

 

Apa aku tak salah lihat? Merry merindukanku juga. Jantungku berdegup sangat cepat saat ini. bibirku tak terasa sudah terangkat, untuk tersenyum. Aku senang.

 

[Kakaotalk]

From: Merry❤

Jungkook-ah…

 

[Kakaotalk]

To: Merry❤

Iya, Merry-ah?

 

[Kakaotalk]

From: Merry❤

Apa kau tahu merasakan sesuatu yang hangat?

Bukan hangat karena dekat dengan bara api. Tapi seperti di dadamu terdapat kelegaan ataupun kehangatan yang telah hilang beberapa tahun sebelumnya.

 

[Kakaotalk]

To: Merry❤

 

‘dan itu kau yang membuatkan itu semuanya padaku, Merry-ah.’

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

Aku mengaca pada cermin oval berukuran satu meter di depanku. Menyisir rambut hitam bergelombangku dengan hati-hati. Aku tak ingin merasakan sakit hanya karena salah menyisir. Kutaruh sisir merahku pada kotak ukuran sedang, lalu mengarah pada foundation.

 

‘Sejak kapan aku ingin memulas wajahku dengan makeup?’

 

Tak seperti biasanya aku menyiapkan sesuatu yang mungkin terbilang berlebihan. Ayolah, ini hanya bertemu seseorang yang sedang cuti seminggu. Dan aku…

 

Merindukan kehadirannya?

 

Entahlah. Aku tak bisa memastikan iya atau tidak. Aku hanya ingin terlihat lebih baik dari sebelumnya. Apa salahnya?

Kuoleskan beberapa losion foundation merata pada wajahku. Dari pipi, dahi, hidung, hingga dagu. Meratakan losion dengan hati-hati. Maklum, aku hanya pernah memakai sekali ketika ada acara ulang tahun kantor ibu dan aku dipaksa ibu untuk menggunakan makeup. Padahal aku masih umur empat belas tahun pada waktu itu.

Setelah itu menambahkan sedikit bedak merata pada wajahku. Lalu kububuhi kedua kulit pipiku dengan blush-on berwarna pink. Warna merah muda itu sengaja tak kuperjelas dengan kentara, agar make-upku tak berlebihan. terakhir kuberi ulasan lip balm untuk kedua belah bibirku.

“Selesai.” Gumamku memperhatikan hasil polesanku barusan. Lumayan untuk sebagai pemula.

Aku merapikan semua barang yang ada pada kasurku. Meletakkan beberapa dress pada lemari. Menata aksesoris yang kubongkar dari laci. aku siap bertemu dengannya.

 

 

∞∞∞

 

“Permisi.”

 

Lelaki itu menoleh. Menghadapku dan memandangku. Dahinya sedikit menyatu, mungkin dia sudah lupa denganku. Apa harus aku ke arahnya?

“Kau, Kau yang waktu di department store bukan?” mengingatkan tempo itu—tepatnya ketika aku tersandung sesuatu hingga ponselku terlepas dari genggamanku.

“Oh kau.” Mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti, “Kebetulan sekali kita bertemu.”

“… Ponselku?”

Salah satu alisnya naik dan matanya menyipit. Dia mengingat-ingat apa yang kukatakan barusan. Apa dia memang lupa dengan kejadian itu? Semoga saja dia ingat.

“Ponselmu memang rusak.” Ucap lelaki itu datar.

Aku menghela napas, aku sudah tahu kalau seharusnya aku mengganti yang baru. Tapi…

“Ini ponselmu, Tuan.” Memberikan ponselnya yang sudah menemani hari-hariku.

Aku memandangnya heran. Dia menampakkan senyumnya. Terdengar seperti tawa yang ditahan, “Tak usah, itu untukmu saja. Aku sudah membeli yang baru.”

“Jangan panggil Tuan. Yoongi, itu namaku.” Lelaki ini masih menatapku dengan tampang datar.

“Ah, maaf.”

“Kenapa minta maaf? Kau aneh Nona.” Senyumnya sedikit terlihat.

“Aku Merry, bukan Nona.”

Seperti dejavu. Lelaki ini—ah, Yoongi oppa maksudku, membenarkan perkataanku. mengingatkan untuk tak mengatakan tuan. Tanpa sengaja Yoongi oppa juga melakukan hal sama denganku. Menurutku itu terdengar lucu.

Senyum Yoongi oppa juga merekah ketika ia menyadari kalau ia melakukan ‘kesalahan yang sama’ seperti. Senyumnya sedikit berbeda. Sangat manis untuk dipandang. Kalau saja aku tak punya keimanan yang cukup, pasti aku akan jatuh dalam pelukan. Tapi itu tak berlaku bagiku.

Memang kuakui dia tampan sekaligus manis. Senyumnya yang membuat wajahnya seperti seumuran denganku. Tapi masih bisa kuketahui umurnya ketika ia memandang ponselnya tadi dengan serius.

“Oppa sedang apa di dekat sini?” mengakhiri konsentrasinya yang tertuju pada ponselnya barusan.

Aku mendapatkan ekspresi sedikit terkejut dari oppa—pasalnya alisnya yang terangkat dan matanya yang tiba-tiba melebar mengisyaratkan kalau ia terkejut. Tapi dengan cepat ia mengubah ekspresinya dengan tatapan datar.

“Menunggu temanku.”

“…” aku mengangguk mengerti.

“Lalu kau?”

 

‘Aku? Entah apa yang akan kulakukan nanti.’

 

“Entahlah. Hanya sekedar berjalan-jalan di taman mungkin.”

 

Alisnya terangkat sekali lagi. Menatapku heran, lalu ia memalingkan wajah dariku. seperti mencari-cari sesosok manusia. Pasti temannya yang ia tunggu.

“Yoongi-ah!” teriak dari seberang jalan.

Pandanganku dan Yoongi oppa otomatis tertuju pada sumber suara yang memanggil nama oppa. Apa dia temannya?

“Maaf, tadi ada urusan mendadak jadinya sedikit terlambat.” Lelaki yang di hadapanku menepuk pundak seseorang disampingku. Yoongi oppa.

“Ck, dari dulu kau memang begini kan? Bilang saja karena kekasihmu.” Tatapan tak suka Yoongi oppa tepat mengenai sasaran. Mata temannya.

“… Yoongi-ah, di sampingmu itu siapa? Apa jangan-jangan kau akan menggo—“ tatapan lelaki itu seperti terkejut dengan kehadiranku di sini.

“Seokjin jangan berkata yang melantur. Aku tinggal, Merry-ah.” Berbalik badan dan meninggalkanku—sekaligus dengan teman lelaki Yoongi oppa.

 

∞∞∞

 

/Yoongi/

 

“Hey, Yoongi-ah! Jangan tinggalkan aku!”

Mengambil headset yang berada di saku bajuku dan ponsel LG di saku kananku. kumasukkan colokan headset pada lubang headset yang tersedia di ponsel ini. kutancapkan headset itu pada kedua lubang telingaku. Aku malas dengan ocehan Seokjin yang penasaran dengan perempuan itu. Merry.

“Hey Yoongi-ah! Kau memang menyusahkan.”

Aku menoleh ke arahnya, menatapnya datar tapi terselip pandangan yang menusuk—semoga seokjin enyah dari hadapanku. Itu yang kuharapkan saat ini.

“Sejak kapan kau dekat dengan gadis lagi?”

“…”

“Siapa namanya? Me—me…?”

“Merry namanya.” Jawabku tanpa hasrat untuk menoleh ke arahnya. Masih menatap lurus ke depan.

“Jika kulihat dengan seksama kau serasi dengannya. Menurutku dia manis dan kau yang terkenal di teman-teman fakultas akan senyum manismu itu membuat mataku terkesima akan keserasianmu dengan gadis itu.” Ucapnya mencoba untuk menggodaku.

Siku kiriku otomatis menyikut pinggangnya. Membuatnya meringis kesakitan, “Apa yang kau lakukan? Sakit,Yoongi-ah. Tapi benar yang kukatakan barusan, kau dan dia serasi jika menjadi sepasang kekasih.”

“Kau cerewet Seokjin.”

 

‘Apanya yang serasi?’

‘Aku bertemu dengan dia karena sebuah kecelakaan.’

 

“Yoongi-ah jangan lari! Kau tahu dia tampak manis dan cantik.”

 

Bukankah seorang gadis memang relative cantik?

 

∞∞∞

 

/Taehyung/

 

“Hahahaha” gelak tawaku kembali kambuh.

“Taehyung-ah, hentikan!”

“Kejar aku.” Aku masih berlari menghindari kejarannya. Kau tahu mengapa terjadi seperti ini?

 

Saat perjalanan ke taman kota terbesit ide konyol yang muncul dari otakku. Tak sekonyol yang parah, tapi standar. Ide konyol itu berskenario kalau nanti aku berpura-pura membelikan es krim untuk Merry, padahal yang kuinginkan dari ide itu adalah membuatnya kesal denganku. Bodoh bukan?

Mungkin bisa dibilang aku lelaki aneh yang ingin membuat acara kencan—bukan maksudku jalan-jalan dengan seorang gadis menjadi gagal. Tapi bukan itu yang kumaksud dari ide bodohku ini. pasalnya sewaktu aku jalan dengan Merry, dia selalu diam. Tak ada yang membuka percakapan.

Canggung? Mungkin iya. Aku bukan seorang yang mudah mengawali obrolan. Ya seperti itulah mengapa terlintas ide itu.

“Taehyung-ah, berhenti!” Merry masih berada di belakangku.

“Tangkap aku, Merry-ah.” Teriakku masih tertawa dalam keadaan berlari.

“…” tak ada jawab.

Aku berbalik dan melihat dia dengan bahu yang naik turun. Apa dia lelah? Aku menghampiri tubuhnya yang terdapat satu jejak keringat di wajahnya. Aku menunduk dan menyentuh bahunya.

“Kau baik-baik saja?”

Ia menatapku dengan napas yang masih terengah-engah, matanya terlihat penat juga.

“Hentikan, Taehyung-ah.” Ia menarik lengan baju untuk mengakhiri acara kejar-kejaran, “Aku lelah.”

Aku mengangguk mengerti, lalu kutarik tangannya untuk mengikuti langkahku. Aku berniat ke toko dekat-dekat sini. Semoga saja cepat menemukan.

Tapi masih belum kutemukan sebuah toko yang sekiranya menjual air mineral. Aku masih mencari-cari alternatif lain untuk menghilangkan ataupun hanya mengurangi rasa lelah Merry.

“Taehyung…”

“Sebentar lagi—“

 

Bruk!

Tiba-tiba badan Merry ambruk mengenai punggungku. Aku menangkap tubuhnya dan menggotongnya. Sepanjang perjalanan aku merutuki apa yang kuperbuat tadi. Bodoh!

 

‘Bukan ini yang kuharapkan.’

 

∞∞∞

 

Sekarang aku duduk di sebuah bangku panjang di depan toko perlangkapan mendadak—seperti itulah deskripsinya. Kepala Merry kutidurkan di atas pahaku. Dia masih terlelap dari tidurnya karena dehidrasi. aku bertingkah seperti itu hanya ingin mencairkan suasana saja, hanya itu. Tapi caraku terlalu berlebihan menurutku.

Aku mendengus kesal. Kesal dengan kebodohanku. Aku tak melihat bagaimana keadaan Merry yang mungkin sekarang yang kurang sehat. Aku masih merutuki diriku sendiri, kesal dengan ide gilaku tadi.

Aku mengipas wajah Merry yang masih tertidur dengan damai itu. Sesekali aku membelai pipinya dengan jemariku. Jari-jariku masih saja menyapu kedua pipi Merry. Tertampang jelas semburat merah muda tepat di kedua belah pipinya dan dua belah bibirnya yang sedikit berwarna nude. Sepertinya dia berhias diri.

 

‘Merry berdandan?’

 

Apa maksudnya? Aku memikirkan sejenak dengan pikiran yang terlintas barusan. Masih berpikir-pikir untuk membuat beberapa hipotesis ‘mengapa Merry berdandan padahal dia tak sekalipun memakai alat rias ketika pergi ke kedaiku?’

 

Apa mungkin…

Apa dia berpikir kalau ini… kencan?

 

Tanpa terasa pipiku terasa hangat dan bibirku terangkat. Aku terkekeh pelan dengan satu hipotesisku itu. Ini kencan bukan?

Mengapa aku tak menyadarinya dari awal. Kau bodoh, Taehyung. Senyumku masih belum menghilang dari tempatnya.

“Nggg… aku dimana?” badan merry tiba-tiba bergerak dengan mengendurkan otot-ototnya.

“Taman.” Aku tersenyum padanya tetapi sedikit lebar. Rasa senangku tak bisa kusembunyikan.

Badannya langsung ia sandarkan pada bangku panjang yang sedari tadi setia kududuki. Gadis ini masih memandangku bingung. Bingung mengapa aku menyapa bangunnya dengan senyum lebar—itu menurutku. Mungkin alasannya seperti itu.

“Ini airnya. Kau sudah tertidur selama satu jam.” Masih memajang deretan gigiku, “kau tahu Merry-ah, kau sangat cantik hari ini.”

“…” dia menenggak air mineral dalam botol bervolume enam ratus milliliter yang kukasih.

“Kau menggunakan make-up?”

“…” ia masih menatapku dengan tak percaya.

“Jujur saja, aku tahu itu. Aku selalu memandangi waktu pertama kali kau datang ke kedai. Kau selalu tak menggunakan make-up. Dan sekarang kau mema—“

“Kau memperhatikanku sudah dari lama?” tanyanya dengan memasang tampang heran.

“…” Bodoh, kenapa aku bilang seperti itu?

“Mengapa kau yang berbalik tak berbicara?”

“…” langsung saja kurengkuh badan gadis ini dalam pelukanku. Aku melakukan ini hanya untuk menutupi rona merah yang sudah timbul ketika ia berbalik tanya padaku.

 

Malu?

Itu pasti. Pasalnya yang kukatakan tadi seperti mengungkapkan perasaanku secara tidak langsung. Tapi mengapa aku semalu ini? Bukankah aku sudah mengutarakan perasaanku ketika waktu dia sedang menangis di pelukanku tempo hari?

“Hey Taehyung-ah, kau tak ap—?”

Semakin kueratkan pelukanku. Aku tak ingin rona merahku dilihat oleh gadis ini. aku sangat malu saat ini.

“Taehyung-ah, jantungmu mengapa berdetak tak seperti biasanya?”

Pertanyaan yang bertubi-tubi dilontarkan padaku seakan-akan nyawaku akan tercabut dari ragaku. Aku mencoba mengatur kecepatan pompa jantung, tapi jantungku tak menurut dengan pikiranku. Jantungku masih berdegup tak normal.

“Taeh—“

“Jangan bergerak.”

“Taehyung-ah, aku tak bisa bernapas.”

“Ah, maaf.”

Aku menggaruk kepalaku tanpa ada alasannya. Aku terlalu kikuk untuk berada di situasi ini. aku mencoba untuk tertawa seperti biasanya.

“Kau tak apa-apa, Taehyung-ah? Kau sedari tadi bertingkah aneh. Kau tak enak badan? Apa kita harus kembali saj—?”

Kukecup bibirnya, lalu kulepaskan kecupanku. Matanya masih tak mengatup sama sekali. Terkejut dengan barusan mungkin.

“Kau memang sakit Taehyung-ah.”

“Aku tak sakit Merry-ah.”

“Lalu?”

“Aku menyukaimu.”

“…”

“Kau tak menjawab pernyataanku barusan?”

“…”

“Jika kau tak menjawabnya dengan segera kucium lebih dari itu.” Pancingku semoga dia membuka bibirnya lalu menjawab.

“…”

“Satu…”

“Dua…”

“Tig—mmp”

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

“Aku menyukaimu.” Ucapnya tiba-tiba.

“…” Apa?

“Kau tak menjawab pernyataanku barusan?”

“…”

Aku masih menata pikiranku yang sedari tadi masih belum sempurna dikarenakan rasa peningku tadi masih terasa. Dan lagi lelaki ini… mengutarakan perasaannya…lagi?

“Jika kau tak menjawabnya dengan segera kucium lebih dari itu.” Menatapku dengan alis yang terangkat dan suaranya lebih berat yang terdengar seperti ingin menggodaku.

“…”

“Satu…” Ia mulai menghitung.

“Dua…” Ia masih menghitung

“Tig—mmp”

Hitungan ketiga. Langsung kutempelkan bibirku tepat pada bibirnya. Hanya kutempelkan saja. Sebelum kulepaskan kecupan itu, kedua tangannya dengan mulus menangkup wajahku dan mengecup bibirku lagi. Tangan kanannya sekarang berada ditengkukku dan menekannya. Memperdalam ciuman kita. Dia melumat bibir atas lalu bibir bawahku secara bergantian. Aku sedikit kewalahan dengan ciumannya. Aku tak terbiasa dicium seperti ini sebelumnya. Sampai-sampai napasku semakin menipis dan sesekali menghirup oksigen disela-sela ciuman kita. Lumatannya tak begitu kasar, hanya saja sangat lama. Mungkin lebih dari lima belas detik.

Di sela-sela ciuman kita terasa ulasan senyum. Senyumnya. Di sela-sela ciuman kita juga, aku bergumam…

 

‘Inilah jawabanku, Taehyung.’

 

 

XX TO BE CONTINUED XX

 

NB:

Hai reader ^^ kembali lagi dengan saya~

Gimana ceritanya? Bikin greget nggak? Hahahaha kalo iya, aku lanjutin /plak/. Ceritanya nggak disitu aja kok, tenang aja😄 muahahahaha.

Yang masih penasaran sama kisah merry, tungguin aja ya~ aku kasih kejutan sama readers.

Tolong kritik & saran ya readers~ thank you all ^^ Bbyong~

About fanfictionside

just me

11 thoughts on “FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 3

  1. Aaahh aku kira merry sukanya sm jungkook:”
    Tapi gpp sih taehyung juga lucu kok feelnya dapet bgt~ hmm berarti jungkook diphpin dong?(?) greget abieezz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s