FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 5


Author: @ismomos

 

Cast:

– Kim Taehyung/V (BTS V)

– Park Hayoung (OC)

– Min Yoongi (BTS Suga)

 

 

Support Cast:

– Jung Hoseok (BTS J-Hope)

– Park Jimin (BTS Jimin)

– Kim Seokjin (BTS Jin)

 

Genre: Romance, Sad

 

Length: Chapter

PhotoGrid_1404097983497

 

*flashback part 4*

 

“Kumohon, Min Yoongi! Aku akan melakukan apa saja untukmu asal kau mau mencabut gugatan itu. Kumohon…”

Lelaki itu kembali mengalihkan pandangannya, menatap ke arah jendela yang menampakkan pemandangan sore di kota Seoul yang cukup mendung. Hayoung dapat mendengar Yoongi menghela nafasnya, berat.

“Aku bisa saja mencabut gugatan itu dan kau boleh membawa Taehyung ke tempat yang kau maksud, tapi dengan satu syarat—”

Yoongi menggantung kalimatnya. Hayoung membalas tatapannya dan menunggu Yoongi untuk melanjutkan kata-katanya sambil mengusap air matanya.

“Setelah ini kau harus menjauhi Taehyung dan kau harus menjadi satu-satunya milikku. Bagaimana, Park Hayoung?”

Hayoung tersentak kaget mendengar ucapan Yoongi, “A-apa? Apa maksudmu?”

 

 

*flashback end*

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Author’s pov*

 

 

“Kau yakin akan melakukan ini?” tanya Jimin saat dirinya dan Hayoung sedang berada di cafe rumah sakit setelah melihat keadaan Yoongi.

Yang ditanya hanya diam saja, malah sibuk mengaduk-aduk caramel macchiato yang dipesannya, tanpa gairah. Pandangannya tertuju pada secangkir kopi itu namun tidak dengan pikirannya.

Jimin menghela nafas melihat sikap Hayoung. Ia tahu gadis itu sedang tertekan, makanya ia tak lagi mencoba untuk bertanya pada Hayoung. Jimin membiarkan Hayoung larut dalam pikirannya sendiri.

Hayoung menarik nafas seraya dengan isak tangisnya yang terdengar. Bibirnya bergetar, tangannya terkepal dingin. Dadanya sesak karena hatinya terus mencelos sakit ketika memikirkan lelaki itu.

“Demi Taehyung. Aku melakukan ini demi Taehyung.” kata Hayoung dengan suara tercekat, ia seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. Meyakinkan dirinya atas keputusan yang telah diambilnya. Ya, satu-satunya alasan terkuat mengapa ia menerima keputusan itu adalah Taehyung. Ia melakukan ini hanya demi Taehyung.

Lagi-lagi Jimin menghela nafas. Ia tidak menyalahkan keputusan Hayoung, hanya saja ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib kedua sahabatnya nanti? Membayangkan Hayoung yang akan meninggalkan Taehyung pasti akan membawa dampak besar pada Taehyung.

“Aku sudah mengambil keputusan yang benar, kan?” tanya Hayoung tanpa menatap Jimin. Matanya masih tertuju pada cangkir kopi itu.

Jimin tak menjawab pertanyaan Hayoung, ia menatap Hayoung dengan tatapan sedih. Kalau saja ia diperbolehkan untuk menangis, air matanya pasti sudah jatuh sedari tadi. Namun ia harus lebih kuat, untuk menenangkan gadis yang ada di hadapannya saat ini.

Tiba-tiba Hayoung beranjak dari kursinya, membuat Jimin menatap gadis itu dengan heran.

“Jimin-ah, ayo cepat kita bawa Taehyung keluar dari tempat itu.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *       *

 

 

“Apa kau sudah gila?”

Mata Hoseok melebar setelah mendengar apa yang baru saja diceritakan oleh Yoongi. Ia tidak menyangka akan mendapat cerita tentang perjanjian yang telah dibuat Yoongi dengan Hayoung setelah kepergiannya dari kamar perawatan sahabatnya itu.

Yoongi hanya melirik malas kearah Hoseok. Ia sudah bisa menduga reaksi apa yang akan ditujukkan Hoseok setelah mendengar ceritanya. Benar saja, Hoseok menampilkan ekspresi bodoh itu lagi.

“Kau—kau tidak bercanda, kan? Sudahlah Min Yoongi, aku sedang tidak ingin mendengar sebuah lelucon darimu.” kata Hoseok sambil mengibaskan tangannya menunjukkan kalo ia tidak percaya dengan ucapan Yoongi.

Kata-kata Hoseok kali ini membuat Yoongi mendengus kesal. Seharusnya ia tengah merasa bahagia saat ini, tapi karna reaksi yang diberikan Hoseok membuat hari bahagianya rusak begitu saja.

“Bukankah aku sudah pernah bilang padamu? Aku akan membuat Park Hayoung berlutut di hadapanku. Nyatanya? Gadis itu baru saja berlutut di hadapanku sambil memohon—-dan kau tahu? Sekarang dia sudah menjadi milikku. Sangat menyenangkan, bukan?” kata Yoongi sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Kini giliran Hoseok yang mendengus, lalu ia menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yoongi.

“Tapi bukan dengan cara seperti ini, Min Yoongi! Itu sama saja kau membuat Hayoung semakin tertekan.”

“Apa peduliku? Selama Hayoung berada di sisiku, aku tidak akan membuat hidupnya tertekan seperti saat ia bersama Taehyung. Mana mungkin aku membuat gadis yang ku cintai itu menderita?”

‘Tapi kenyataannya kau sudah membuat Hayoung menderita, Min Yoongi!” batin Hoseok dalam hati.

Hoseok menghela nafas, berat, “Hhh kau gila, Min Yoongi. Kau benar-benar sudah gila.”

“Ya, Aku memang sudah gila, Hoseok-ah. Gila karna mencintai gadis yang tak pernah mencintaiku sedikitpun. Tapi aku yakin, mungkin saat ini Hayoung tidak mencintaiku, tapi nanti pasti dia akan mencintaiku seperti aku mencintainya.” kata Yoongi datar dan dengan tatapannya yang menerawang.

Lagi-lagi Hoseok menghela nafas, “Terserah kau saja. Sebagai seorang teman aku hanya bisa mendukungmu melakukan apa yang kau mau.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

BRAAAK!!

Seseorang menggebrak meja yang ada tepat di hadapan Taehyung. Membuat lelaki itu menampakkan ekspresi ketakutan yang sangat amat. Sedangkan orang yang menggebrak meja itu malah menghela nafas dengan gusar.

Sudah 5 jam Taehyung berada di ruangan ini, ditanyai berbagai macam pertanyaan. Namun lelaki itu hanya mejawabnya dengan satu jawaban.

“Bukan aku yang melakukannya. Bukan aku yang melakukannya.” jawab Taehyung dengan bibir bergetar.

Entah sudah keberapa kalinya Taehyung mengatakan hal itu dan jawabannya makin membuat dua orang polisi yang tengah mengintrogasinya semakin marah.

Sebenarnya bukan hanya bibirnya yang bergetar, namun badan Taehyung juga ikut bergetar. Ia takut karena sedari tadi polisi ini terus saja membentak dan menggebrakan meja dihadapannya setelah ia menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban itu. Ketakutan itu muncul lagi di dalam tubuh Taehyung, membuat ia teringat akan masa lalunya yang sangat ingin dilupakannya.

“Jangan mengelak lagi, Taehyung-ssi! Dari hasil pemeriksaan sudah jelas ada sidik jarimu pada pisau itu. Bagaimana mungkin kau tidak melakukannya?!” tanya salah satu polisi itu dengan nada tajam.

“Ta-tapi aku tidak melakukannya. Bukan aku yang melakukannya. Ta-tapi di-dia–”

“Dia siapa maksudmu, hah?!” kini yang bertanya polisi yang satunya lagi.

Taehyung tak menjawab pertanyaan polisi itu. Tangannya yang terborgol malah memegangi kedua telinganya. Seluruh badannya bergetar hebat, Taehyung masih merasakan ketakutan yang amat sangat. Ia benar-benar merasa tertekan.

Kedua polisi itu saling berpandangan saat melihat sikap Taehyung yang seperti itu. Dalam hati, mereka mengira Taehyung seperti anak autis. Baru mereka ingin melanjutkan proses introgasi ketika ada seorang polisi lain yang masuk keruangan itu.

“Komandan, saya mendapat perintah dari atasan kalau tahanan atas nama Taehyung sudah bisa dibebaskan.” kata polisi yang baru saja masuk.

Kedua polisi yang bertugas mengintrogasi Taehyung kembali saling berpandangan dan melirik ke arah Taehyung.

“Apa maksudmu? Tahanan ini masih berada dalam tahap introgasi.” tanya salah satu polisi itu .

“Keluarga korban sudah mencabut tuntutannya terhadap Taehyung, Komandan. Jadi dia sudah bisa dibebaskan sekarang juga.” jelas polisi yang baru saja masuk.

“Secepat itu? Bagaimana bisa?” tanya polisi yang lain dengan tatapan kaget.

Polisi yang baru saja masuk itu hanya mengedikkan bahu, ia juga tidak tahu apa yang membuat keluarga korban mencabut tuntutannya pada Taehyung.

“Baiklah, bawa dia keluar. Sudah ada kerabat yang datang menjemputnya?”

“Siap komandan! Tadi sudah ada dua orang temannya yang menunggu di depan. Namanya Hayoung dan Jimin.”

Tanpa disangka ketiga polisi itu, Taehyung langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri polisi yang baru saja menyebutkan nama Hayoung.

“Hayoung ada disini? Park Hayoung? Boleh aku bicara dengannya? Aku ingin bicara padanya, kumohon…” pinta Taehyung dengan muka memelas.

Kedua polisi yang bertugas mengintrogasi Taehyung hanya menggelengkan kepala.

“Sebaiknya cepat kau bawa anak itu sekarang juga. Hanya karna mengintrogasi dia saja rasanya kepalaku sudah mau pecah.” kata salah satu dari mereka.

“Siap komandan!”

Polisi yang baru saja masuk itu akhirnya membawa Taehyung keluar dari ruangan introgasi. Badan Taehyung masih bergetar. Ketakutan masih menyelimuti dirinya meskipun dia sudah dinyatakan bebas. Dan saat ia diantar ke salah satu ruangan dan bertemu dengan Hayoung dan Jimin, ketakutannya seakan luruh begitu saja.

Polisi itu membuka borgol yang ada pada tangan Taehyung. Setelah borgolnya terbuka, Taehyung langsung menghampiri Hayoung dan memeluk gadis itu dengan erat.

Hayoung membalas pelukan Taehyung tak kalah eratnya. Keduanya sama-sama menangis di dalam pelukan mereka. Taehyung menangis sambil menciumi puncak kepala Hayoung yang tengah di dekapnya. Walau baru sebentar, ia sangat merindukan gadis itu.

“Aku tidak melakukannya, Hayoung-ah. Yang dituduhkan padaku semuanya tidak benar. Aku tidak pernah melakukan itu.” kata Taehyung disela tangisnya.

Kalimat Taehyung membuat air mata Hayoung semakin deras membasahi dada bidang lelaki itu.

“Aku tahu, Tae. Aku tahu. Aku percaya padamu.” kata Hayoung dalam hati.

Jimin yang sedari tadi melihat sepasang sahabatnya berpelukan juga tak kuasa menahan air matanya. Entah air mata keharuan atau air mata kesedihan. Ia tahu setelah ini akan ada saat yang lebih menyakitkan daripada semua ini.

Setelah menghapus air matanya, Jimin menepuk bahu keduanya dengan pelan.

“Sebaiknya kita pulang sekarang.”

Hayoung melepaskan pelukannya pada Taehyung, lalu keduanya mengangguk setuju. Mereka akhirnya meninggalkan kantor polisi itu untuk menuju ke tempat lain.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suasana di dalam mobil itu sangat sunyi, padahal terdapat empat orang di dalamnya. Hayoung, Taehyung, Jimin dan supir keluarga Jimin, tak ada satupun dari mereka yang memulai untuk bicara.

Jimin mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela. Begitu juga dengan Taehyung, namun tangan lelaki itu masih menggenggam tangan Hayoung dengan erat.

Berbeda dengan Hayoung, gadis itu menatap ke arah Taehyung dengan tatapan sedih. Meskipun seharusnya ia merasa senang karena Taehyung sudah terbebas dari penjara, namun perjanjiannya dengan Yoongi membuatnya kembali merasa sedih.

Hayoung melihat Taehyung menghela nafas. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu. Yang pasti Hayoung ingin berlama-lama menatap wajah Taehyung. Menatap wajah itu untuk terakhir kalinya.

Terkadang ia merasa ragu untuk melakukan ini, namun kemudian ia kembali meyakinkan hatinya sendiri. Inilah yang terbaik untuknya. Dan yang terpenting, inilah yang terbaik untuk Taehyung. Kali ini Hayoung yang menghela nafasnya pelan.

Dari kaca spion yang berada di dekatnya, Jimin bisa melihat ekspresi dari kedua sahabatnya yang duduk di kursi belakang. Ia tidak berani berbicara apa-apa, takut yang keluar malah isak tangisnya karena saat ini ia sedang sekuat tenaga menahan kesedihannya untuk Taehyung.

Taehyung masih memandang ke arah luar jendela mobil, namun saat ia menyadari ini bukan jalan menuju rumah Hayoung maupun kerumah Jimin, ia menoleh heran ke arah Hayoung.

“Kita mau kemana?” tanya Taehyung dengan wajah polosnya.

Memang, diantara mereka berempat, hanya Taehyung yang tidak mengetahui tujuan mereka saat ini.

Mendengar pertanyaan lelaki itu, Hayoung dan Jimin langsung tersentak. Mereka saling berpandangan melalui kaca spion yang berada di dekat Jimin. Hayoung berdeham sejenak sebelum menjawab pertanyaan Taehyung.

“Kita akan pergi ke suatu tempat, Tae.” jawab Hayoung dengan nada yang sebisa mungkin terdengar biasa saja.

“Kemana?” tanya Taehyung lagi, sambil menaikkan sebelah alisnya.

Belum sempat Hayoung menjawab pertanyaan kedua Taehyung, mobil itu sudah membelokkan arahnya ke sebuah gedung yang cukup besar. Itu adalah sebuah gedung rumah sakit. Namun bukan rumah sakit biasanya. Rumah sakit itu adalah rumah sakit khusus yang menangani pasien dengan gangguan kejiwaan.

Saat Taehyung baru menyadari tempat apa yang akan mereka kunjungi, sontak matanya membulat sempurna.

“Hayoung-ah, mau apa kita kesini?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

“LEPASKAN AKU! YAK! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! LEPASKAN!! AKU TIDAK GILA SEPERTI YANG KALIAN PIKIRKAN!! LEPASKAN AKU!!”

Terpaku. Aku tidak bisa melakukan apapun selain terpaku di tempat saat Taehyung dibawa oleh beberapa perawat di rumah sakit ini untuk masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan terapi khusus untuk Taehyung. Namun ia terus saja memberontak, ingin melepaskan diri dari para perawat medis itu.

Kalian mau tahu perasaanku saat ini? Hhh rasanya…..seperti kau kehilangan separuh jiwamu. Sedikit berlebihan memang, tapi sungguh ini yang kurasakan. Aku merasa seperti kehilangan nafasku melihat Taehyung yang terus memberontak seperti itu.

Jimin berdiri disebelahnku, merangkulku dengan sebelah tangannya. Aku tahu sebenarnya ia juga merasakan kesedihan yang sama denganku, namun ia masih berusaha untuk menenangkanku.

Air mataku tidak berhenti mengalir semenjak aku menapakkan kakiku di rumah sakit ini. Taehyung tidak mau melepaskan genggamannya pada tanganku, sampai para perawat itu menarik Taehyung dengan paksa. Sebenarnya aku juga tidak ingin melepaskan genggamannya, namun aku kembali meyakinkan diriku, aku harus melakukan ini.

Aku melihat Taehyung masih menolak untuk masuk ke dalam ruangan terapinya. Ia terus saja berteriak meminta untuk dilepaskan. Ingin rasanya aku menghampirinya dan membawa lelaki itu kembali pulang kerumah, tapi aku tidak bisa.

Kulihat Taehyung menatapku dengan tatapan memohonnya. Tiba-tiba aku merasakan hatiku semakin sesak. Dari tatapan itu terpancar ketakutan, kesedihan, dan juga kekecewaan yang tersirat jelas dari sorot mata Taehyung.

Maafkan aku, Tae.

“YAK! LEPASKAN AKU!! HAYOUNG-AH…. KENAPA? KENAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI PADAKU?” teriak Taehyung. Namun aku bisa mendengar nada itu begitu lirih.

Maafkan aku, Tae. Maaf aku harus meninggalkanmu dengan cara seperti ini. Aku melakukan ini karena aku ingin kau sembuh. Selamat tinggal, Tae. Aku—aku mencintaimu.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     Aku membuka pintu kamar bertuliskan 309 dan kembali masuk kedalam ruangan ini. Aku sudah berjanji pada Yoongi untuk menemaninya. Kulihat lelaki itu tengah berbaring sambil tangannya sibuk memencet tombol pada remote.

Namun saat melihatku, Yoongi malah mematikan tvnya.

“Akhirnya kau datang juga, Hayoung-ah.”

Yoongi menoleh ke arahku dengan sebuah senyuman. Ya, ia ter-se-nyum. Senyum yang benar-benar tersenyum, bukan senyum sinis atau meremehkan seperti yang sering ditujukannya. Aku sempat terpaku melihat senyuman itu.

Aku membalas senyumnya dengan senyuman tipis. Sangat aneh rasanya saat orang yang paling kau benci tersenyum seperti itu padamu. Aku pun mendekatkan diriku ke arahnya, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjangnya.

“Maaf, tadi aku harus mengantar Taehyung dulu sebelum kesini.” jelasku mengenai keterlambatanku untuk datang menjenguknya.

Tiba-tiba senyum pada Yoongi menghilang begitu saja. Aku tahu, pasti karena tadi aku menyebut nama Taehyung. Wajah itu kembali memasang tatapan datar. Suasana hening pun kembali menyelimuti kami. Atau hanya aku saja yang merasakannya?

“Kau sudah makan?” tanyaku dengan canggung.

Pertanyaa bodoh, Park Hayoung! Sudah jelas-jelas disebelahmu ada senampan makanan untuk pasien yang belum tersentuh sama sekali. Apa dia menungguku?

“Kau mau makan sendiri atau—”

“Aku ingin kau yang menyuapiku.” kata Yoongi menyela ucapanku.

Aku langsung mengikuti apa yang dia mau, mengambil sepiring nasi dan menguahinya dengan sayuran dan beberapa potongan daging, mulai untuk menyuapinya.

Yoongi membuka mulutnya dengan patuh saat aku menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya. Ia terlihat seperti anak kecil dengan pipi yang penuh dengan makanan. Dan tanpa kuduga, ia kembali menyunggingkan senyumnya, membuat pipinya yang penuh makanan itu semakin membulat.

“Belum pernah aku memakan makanan seenak ini.” kata Yoongi setelah ia menelan makanan yang ada di mulutnya.

Aku hanya memandangnya heran, mana mungkin orang sekaya Yoongi belum pernah makan makanan yang jauh lebih enak dari makanan rumah sakit ini.

“Entah karena makanan ini benar-benar enak atau karena kau yang menyuapiku makanan ini.” Kulihat Yoongi tertawa kecil.

Lagi-lagi sikap Yoongi hari ini membuatku tertegun. Kenapa Yoongi terlihat sangat berbeda dengan Yoongi yang ku kenal selama ini? Atau inikah sifat aslinya?

“Aku ingin kau selalu berada disisiku, Park Hayoung.” kata Yoongi dengan nada yang lebih serius.

Aku hanya diam saja, malah sekarang aku menundukkan kepalaku sambil sibuk mengaduk-ngaduk makanan pada piring yang kupegang. Jujur saja, aku tidak tahu apa yang ku lakukan saat ini adalah sesuatu yang benar atau salah. Sedari tadi aku terus memikirkan Taehyung, bahkan saat bersama Yoongi sekalipun.

“Bisakah kau mengabulkan keinginanku, Park Hayoung?” tanya Yoongi lagi.

“Tentu saja aku tidak bisa mengabulkannya. Jangan berharap terlalu banyak padaku, Min Yoongi. Dan… Jangan bertanya seperti itu padaku.” batinku langsung menjawab begitu.

Aku menghela nafas, lalu aku mengangkat wajahku untuk menoleh ke arahnya. Aku sedikit tersentak saat sepasang mata itu tengah menatapku lekat. Jadi sedari tadi Yoongi menatapku?

Aku membalas tatapannya, “Selama kau memintaku untuk melakukan itu, aku akan melakukannya, Min Yoongi.”

Seketika aku merasa bersalah pada diriku sendiri. Aku telah mengatakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang dikatakan hatiku. Aku juga merasa bersalah pada lelaki yang masih menatapku dengan lekat. Aku telah membohonginya tentang perasaanku.

Maafkan aku, Min Yoongi, bukan maksudku untuk memberikanmu sebuah pengharapan. Demi Tuhan, aku hanya tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Author’s pov*

 

Hayoung melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit tempat Taehyung menjalani proses penyembuhan. Ia tahu, seharusnya ia tidak boleh kesini. Bahkan ia harus sampai berbohong pada Yoongi. Ia mengatakan ingin pulang kerumah, padahal ia ingin mengunjungi Taehyung. Ya, lelaki itu. Lelaki yang sudah seminggu tak dilihatnya. Jangan ditanya seberapa rindu gadis itu pada Taehyung, karena hal itulah yang memaksa Hayoung nekat mengingkari janjinya pada Yoongi.

Hayoung menghela nafas berat ketika sedikit lagi ia sampai di kamar perawatan Taehyung. Namun saat ia tepat berada di depan pintu yang bertuliskan nama “Kim Taehyung”, Hayoung mengurungkan niatnya untuk membuka pintu.

Ini bukan saat yang tepat untuk bertemu dengan Taehyung. Lelaki itu mungkin tidak ingin menemuinya lagi mengingat kekecewaan yang jelas terpancar pada mata Taehyung hari itu. Taehyung pasti telah kecewa dengannya. Jadi Hayoung memutuskan untuk melihat lelaki itu hanya dari luar, melalui kaca bening yang terpasang sebagai pembatas.

Taehyung sedang terlelap dalam tidurnya. Meskipun Hayoung melihatnya dari jarak yang cukup jauh, namun gadis itu bisa melihat raut kefrustasian dari wajah Taehyung. Dan tangan itu… Taehyung tertidur dengan kedua tangannya yang terborgol di sisi ranjangnya. Hal itu membuat dada Hayoung semakin sesak. Air matanya sudah jatuh melihat keadaan Taehyung yang sangat memprihatinkan.

“Nona tidak ingin masuk?”

Suara seseorang yang tiba-tiba mengagetkannya membuat Hayoung langsung menghapus air matanya dan menoleh ke arah sumber suara. Ternyata seseorang yang bertanya pada Hayoung adalah salah satu perawat di rumah sakit ini, terlihat dari seragam yang dikenakannya. Perawat itu memberikan senyuman hangat ketika Hayoung melihat ke arahnya. Hayoung membalasnya dengan senyum kikuk, sedikit terpukau dengan ketampanan perawat yang masih terlihat muda itu.

“Ne? Ti-tidak usah. Aku hanya ingin melihat keadaannya saja.”

Dengan cepat Hayoung kembali mengalihkan pandangannya pada Taehyung. Perawat itu mengikuti arah pandang Hayoung. Sekilas ia meilirik ke arah gadis yang tengah berdiri disebelahnya.

“Maaf nona, kami terpaksa memborgol kedua tangan Taehyung, karena selama seminggu ini Taehyung belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Ia sering mengamuk dan berteriak sambil menghancurkan benda-benda yang ada disekitarnya.” jelas perawat itu mengenai keadaan Taehyung.

Hayoung menghela nafas mendengar penjelasan dari perawat itu. Ia tahu, hal ini sangat tidak mudah untuk dilalui Taehyung.

“Ia juga sering berbicara sendiri. Hal itu wajar bagi penderita penyakit seperti Taehyung. Dia sedang ingin menyelaraskan dirinya dengan kepribadiannya yang lain. Tapi yang membuatku khawatir, setiap ia berbicara sendiri, ia selalu mengamuk dan berteriak histeris. Kepribadiannya yang lain benar-benar membuatnya tertekan.”

Lagi-lagi Hayoung menghela nafasnya berat, mencoba ingin mengurangi rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya. Matanya tak lepas menatap sosok yang masih tertidur dengan lelap di dalam sana.

“Ah—apa kau yang bernama Park Hayoung?”

Pertanyaan tiba-tiba perawat itu membuat Hayoung mengalihkan pandangannya dari Taehyung, ia menoleh ke arah perawat itu dengan heran.

“Iya, namaku Park Hayoung.” jawab Hayoung sambil menatap perawat itu dengan tatapan darimana-kau-tahu-namaku.

“Taehyung sering meneriakkan namamu, Hayoung-ssi. Sepertinya kau adalah orang yang sangat berarti untuknya.” kata perawat itu menjawab tatapan heran Hayoung.

Mendengar penjelasan perawat itu membuat Hayoung kembali menitikkan air matanya. Seketika terlintas dalam pikirannya saat dimana Taehyung meneriakkan namanya waktu para polisi menangkap lelaki itu dan ketika para perawat medis memaksa Taehyung masuk ke dalam sebuah ruangan. Tatapan ketakutan itu, tatapan kesedihan itu, tatapan kekecewaan itu, Hayoung masih sangat mengingat dengan jelas tatapan Taehyung waktu itu.

Maafkan aku, Tae. Maafkan aku.

Hanya itu yang bisa dilakukan Hayoung, meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah dilakukannya pada lelaki itu.

Aku pernah bilang akan selalu percaya padamu malah melakukan hal yang terlihat seperti aku tidak memercayaimu lagi. Sungguh Tae, aku benar-benar meminta maaf.

Hayoung menghapus air matanya lalu kembali menghela nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Sepertinya aku harus pulang sekarang. Terima kasih karena sudah merawat Taehyung dengan sangat baik—–Seokjin-ssi.” kata Hayoung sambil melirik nametag yang ada pada seragam perawat itu.

Perawat yang bernama Seokjin itu tersenyum, “Itu sudah menjadi tugasku, Hayoung-ssi.”

Hayoung mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya, lalu ia menuliskan sesuatu pada secarik kertas. Tak lama ia merobek kertas itu dan memberikannya pada Seokjin.

“Itu nomor handphoneku, hubungi aku jika terjadi sesuatu pada Taehyung.”

Seokjin menerima kertas yang diberikan Hayoung, “Baiklah, tentu saja.”

Hayoung menatap sekilas ke arah Taehyung, kemudian ia tersenyum tipis sebelum akhirnya ia berjalan meninggalkan rumah sakit.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Hayoung baru saja ingin menutup pintu kamar perawatan Yoongi dan hendak berjalan keluar ketika tiba-tiba ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu. Hayoung sedikit mendongakkan kepala karena orang itu memang lebih tinggi darinya.

Ketika tatapan mereka bertemu, orang itu langsung tersenyum canggung ke arah Hayoung.

“Jung Hoseok? Kau ingin menjenguk Yoongi? Ah kalau begitu masuklah.” kata Hayoung sambil mempersilakan Hoseok untuk masuk ke dalam kamar perawatan Yoongi. Setelah itu Hayoung kembali melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.

Baru Hoseok ingin membuka pintu, namun ia mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Hayoung yang sudah berjalan menjauh.

“Park Hayoung!”

Panggilan Hoseok membuat Hayoung menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah lelaki itu dengan tatapan ada-apa.

Hoseok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Hm–bisa kita bicara sebentar?”

 

 

 

 

Hoseok menyesap cappucino hangat yang ia pesan di cafe rumah sakit. Di hadapannya, Hayoung duduk tanpa memesan apapun. Hoseok menyadari kecanggungan di antara mereka, sebenarnya mereka tidak terlalu mengenal dekat. Hoseok tahu Hayoung karena Yoongi sering menceritakan gadis itu padanya.

Hoseok berdeham sebelum ia mulai bicara.

“Park Hayoung, selama ini kau menganggap Yoongi seperti apa?” tanya Hoseok langsung ke inti pembicaraan.

Hayoung terhenyak ditanya seperti itu oleh Hoseok. Ia paham dengan maksud pertanyaan lelaki itu, hanya saja ia bingung untuk menjawabnya.

“Aku tahu kau pasti sangat membenci Yoongi, atau bahkan kau dendam padanya. Tapi sebagai sahabat Yoongi, tentu aku akan membelanya. Hm–sebenarnya Yoongi bukanlah sosok orang yang selama ini kau kenal, Park Hayoung.”

Hayoung tidak terlalu kaget mendengar penjelasan Hoseok, ia sendiri sudah melihat sisi lain dari seorang Min Yoongi. Ia tidak menyangka apa yang dirasakannya ternyata benar.

“Dia bersikap seperti itu karena dia terlalu menginginkanmu.”

Hoseok kembali menyesap cappucinonya, sambil melirik ke arah Hayoung, mencoba membaca ekspresi dari raut wajah gadis itu. Namun Hayoung hanya menampakkan ekspresi datarnya, seperti biasa.

“Aku hanya tidak ingin Yoongi semakin dibutakan oleh cintanya padamu dan melakukan hal-hal yang bisa mencelakai dirinya atau bahkan orang lain. Seperti kejadian saat itu.”

Hayoung menghela nafas mendengar kalimat Hoseok. Lelaki itu ada benarnya. Yoongi memang tidak seburuk yang dipikirkannya selama ini.

Hoseok kembali berdeham sebelum bicara, dari raut wajahnya ia terlihat ragu untuk mengatakan hal ini pada Hayoung.

“Aku sudah berteman dengan Yoongi dari kecil. Hmm—Sebenarnya Yoongi adalah anak broken home. Orang tuanya bercerai ketika ia masih berusia 7 tahun. Yoongi sangat ingin ikut dengan ibunya waktu itu, tapi ibunya lebih memilih untuk merawat adiknya dan Yoongi ikut dengan ayahnya yang menikah lagi satu tahun kemudian. Yoongi benar-benar sangat terpukul dan seperti yang kau lihat sekarang, ayah Yoongi dan ibu tirinya sama-sama sibuk bekerja, membuat dia kurang mendapatkan kasih sayang.”

Awalnya Hoseok ragu untuk menceritakan masa lalu Yoongi kepada Hayoung, namun ia berpikir tidak ada cara lain selain menceritakan keadaan Yoongi pada gadis itu. Hoseok berharap Hayoung dapat mengerti keadaan sahabatnya itu.

Hayoung melebarkan matanya saat mendengar cerita Hoseok. Benar-benar tidak disangkanya Yoongi juga memiliki masa lalu yang menyakitkan.

“Jika kau tidak bisa menganggapnya sebagai seorang lekaki yang kau cintai, anggaplah dia sebagai sahabatmu, Park Hayoung. Anggap dia sebagai seorang sahabat yang juga membutuhkan perhatianmu.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Hayoung duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Yoongi. Lelaki itu tertidur dalam posisi duduk di atas kasur, mungkin ia kelelahan menunggu kedatangan Hayoung. Dalam hati, Hayoung merasa sedikit bersalah kepada Yoongi karena sudah membuat lelaki itu menunggunya.

Gadis itu memutar kenop yang ada dipinggir kasur agar posisi ranjang itu menjadi datar dengan perlahan, kemudian ia membenarkan posisi tidur Yoongi, juga dengan perlahan. Hayoung tidak ingin membangunkan Yoongi yang sudah tertidur dengan lelap.

Dilihatnya wajah Yoongi yang sedang tertidur. Wajah lelap Yoongi mengingatkannya pada wajah lelap seseorang. Wajah lelap Taehyung. Keadaan itu langsung membuat Hayoung tertegun.

Tanpa sadar ia mengusap pelan luka pada sudut bibir Yoongi. Lelaki itu sempat melenguh saat Hayoung menyentuh lukanya. Gadis itu kembali mengusap sudut bibir Yoongi, dan lagi-lagi dengan tanpa sadar Hayoung tersenyum. Mungkin karena ia melihat wajah lelap Yoongi yang tertidur dengan damai.

Ucapan Hoseok benar, inilah sisi lain dari Yoongi. Meski Hayoung tidak begitu mengenal lelaki itu secara dekat, entah kenapa Hayoung merasa sebenarnya Yoongi adalah orang baik, hanya saja karena suatu alasan lelaki itu menutupi sifat baiknya. Lebih dari sepuluh tahun tinggal bersama Taehyung membuat Hayoung mengerti dan ikut merasakan apa yang dirasakan orang-orang seperti kedua lelaki itu.

Hayoung menghela nafasnya sejenak lalu ia bergumam pelan.

“Mulai hari ini aku akan menjadi temanmu, Min Yoongi.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Malam ini begitu sunyi, sama dengan apa yang dirasakan Taehyung sekarang. Sunyi, sepi dan sendiri. Ia tengah duduk di sudut kamar perawatannya. Lebih dari seminggu ia “dikurung” di tempat ini dan diberi obat-obatan yang katanya bisa menyembuhkannya. Padahal Taehyung tak merasa dirinya sakit, tapi kenapa Hayoung malah membawanya kesini? Apakah Hayoung sudah menganggapnya gila?

“Hayoung sudah tidak mempedulikanmu lagi, Kim Taehyung!”

   Lagi-lagi sosok itu bersuara dalam hatinya. Hanya suara itu yang selalu menemani hari-harinya selama ini. Suara sosok lain yang ada di dalam dirinya.

“Tidak! Tidak! Hayoung tidak mungkin melakukan itu. Dia percaya padaku dan aku percaya padanya!” balas Taehyung sambil menutup kedua telinganya, berharap suara itu tak didengarnya lagi.

Percuma saja, sekuat apapun Taehyung mengelak, suara itu akan terus mengganggunya karena suara itu juga berasal dalam dirinya. Taehyung sedang berbicara dengan dirinya sendiri, atau lebih tepatnya ia sedang berbicara dengan sosoknya yang lain.

“Bukankah sudah jelas? Hayoung membawamu kesini karena ia sudah lelah dengan kelakuanmu, Kim Taehyung! Dia sudah tidak mempedulikanmu!”

     “Diam! Diam kau! Ini semua juga terjadi karenamu! Kalau kau tidak melakukan itu, aku tidak akan berada disini! Aku membencimu! Aku membencimu, V!” balas Taehyung dengan suara histeris. Tangan dan bibirnya bergetar. Ia semakin menekan tangannya pada kedua telinganya sambil meringkuk di sudut ruangan. Ia sangat ketakutan saat ini, suara itu benar-benar membuatnya tertekan.

Suara itu mendengus, “Huh, kau membenciku?! Bukannya selama ini kau yang bersembunyi di balik sosokku? Siapa yang selama ini menolong Hayoung? Siapa yang selama ini membela Hayoung? Siapa yang selama ini menyelamatkan Hayoung? Kau terlalu lemah untuk melakukan semua itu, Kim Taehyung!”

     Taehyung tidak menjawab, seperti membenarkan apa yang diucapkan suara itu. Tapi ia tidak bisa membiarkan sosok itu ada di dalam dirinya terus menerus dan menghancurkan hidupnya. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

“AAAAARGH! MATI KAU! AKU MEMBENCIMU V! KAU HARUS MATI!!!!”

Teriakkan Taehyung semakin keras seraya dengan tekanan batin yang semakin menyiksanya.

“Kalau kau ingin mematikanku di dalam tubuhmu, berarti kau juga harus ikut mati bersamaku, Kim Taehyung!”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Yoongi membuka matanya perlahan, ia sedikit meringis ketika merasakan sakit pada lukanya yang ada di sudut mata. Matanya langsung terarah pada jam yang menempel di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul dua pagi. Entah apa yang membuat Yoongi terbangun.

Yoongi mencoba untuk menggerakan tangannya, namun gerakannya terhenti saat ia merasa menyentuh sesuatu yang ada di sebelahnya. Kepala Hayoung. Gadis itu tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya tersandar pada tempat tidur Yoongi. Lelaki itu menggeser badannya, memberikan ruang untuk kepala Hayoung. Tangannya pun langsung mengelus rambut gadis itu dengan lembut.

Dilihatnya Hayoung yang tertidur dengan pulas, membuat Yoongi tertegun. Wajah Hayoung selalu mengingatkannya pada wajah seseorang yang sangat dirindukannya. Ibunya. Wajah Hayoung sekilas mirip dengan wajah ibu Yoongi.

Itulah yang membuat Yoongi begitu menggilai Hayoung. Wajah gadis itu mengingatkan Yoongi akan sosok ibunya. Lelaki itu sontak menghela nafas ketika kenangan masa lalunya terlintas begitu saja dalam pikirannya.

Yoongi masih jelas mengingat bagaimana sakitnya ia waktu ibunya lebih memilih untuk merawat adiknya pasca perceraian kedua orang tuanya. Bukankah ibunya itu tahu Yoongi sangat menginginkan untuk tinggal bersamanya? Kenapa wanita itu lebih memilih adiknya dibanding dirinya?

Lelaki itu sedang sekuat tenaga menahan tangis. Selalu seperti ini jika ia teringat akan ibunya. Ia sangat merindukan ibunya. Tidak bisakah sekali saja ia bertemu wanita itu dan memeluknya? Seperti waktu kecil dulu? Apa ibunya tidak merindukannya atau—–

“Taehyung-ah…”

Yoongi berhenti mengelus rambut Hayoung ketika gadis itu menggumamkan sebuah nama dalam tidurnya. Mungkin gadis itu sedang bermimpi. Memimpikan seseorang yang baru saja disebutkan namanya.

Mendengar itu membuat air mata Yoongi mengalir begitu saja. Bahkan saat tertidur pun Hayoung masih menggumamkan nama Taehyung. Tidak bisakah gadis itu memikirkan Yoongi sekali saja? Inilah yang membuatnya begitu menginginkan Hayoung. Yoongi terlalu iri pada Taehyung yang memiliki Hayoung disisinya.

Tidak bisakah ia juga mendapatkan hal yang sama? Memiliki seseorang yang selalu berada disisinya. Kenapa semua orang yang ia sayangi tidak pernah memilihnya? Mengapa mereka selalu memilih orang lain? Apa dia tak cukup baik untuk mendapatkan itu semua?

Yoongi menghapus air matanya, baru kali ini ia kembali menangis setelah sekian lama ia menyimpan rasa sakitnya dan lebih memilih melampiaskannya dalam bentuk lain, membuat dirinya terlihat sebagai orang yang jahat.

“Maafkan aku, Hayoung-ah.” gumam Yoongi dengan sangat lirih.

Kriing….kriing….kriing…..

Yoongi langsung menoleh ke arah sumber suara. Handphone Hayoung yang ada di atas meja berbunyi, ada sebuah panggilan masuk.

Baru Yoongi akan membangunkan Hayoung, namun gadis itu sudah beranjak bangun dari posisinya. Hayoung sempat melirik ke arah Yoongi sebelum akhirnya ia mengambil handphonenya yang ada di atas meja, lalu ia berjalan ke arah jendela, menjauhi tempat tidur Yoongi.

Mata Hayoung sontak melebar ketika melihat nama kontak yang meneleponnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menggeser tanda hijau pada layar handphonenya. Yoongi memerhatikan Hayoung yang sedang menerima telepon.

“Halo, ada apa—”

“Halo, Hayoung-ssi?! Maaf mengganggumu malam-malam, tapi bisakah kau datang kesini sekarang juga?!” sahut orang diseberang telepon dengan nada panik.

“Yak, ada apa, Seokjin-ssi??? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Taehyung?” tanya Hayoung tak kalah panik. Ia merasa ada sesuatu yang buruk menimpa Taehyung setelah mendengar nada bicara Seokjin.

“Taehyung—dia—hm—saat ini dia sedang mencoba untuk bunuh diri, Hayoung-ssi!”

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Aloha~~~ im back with part 5. What do you think, readers? Author mohon maaf karena lagi-lagi romance belum muncul di part ini. Author lemah sekali dalam membuat romance scene *curhat* As always, i really need your comment! Hehehe oke i hope you like it. Enjoy!^^

 

 

Ohiya, buat yang bingung sama adegan Taehyung ngomong sama V, sebenarnya dia lagi ngobrol sama dirinya sendiri, semacam kayak perang batin di dalam hati gitu. Dan yang aku cetak miring itu adalah suaranya V.

 

Kalau ada yang bikin bingung lagi boleh tanya melalui comment box ya, readers~ Thankyou!

About fanfictionside

just me

34 thoughts on “FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 5

  1. andweee!! tae gak boleh bunuh diri. Karena manggis sekarang ada ekstranya *lho?* xD
    Sumpah ini feelnya dapet banget >< V mati kau!!! selamatkan tae coblos nomor 3! -_-
    lanjut thor ^^ keep fighting!

  2. ANJIR THOR!! NEXT NEXT!!!
    DUH PENASARAN AAAAAA
    AAAA YOONGI!! MATI KAU SINI GUE BUNUH/?

    THOR!! PLIS JANGAN LAMA LAMA UPDATENYA HIKZZ

  3. Tadinya aku benci bgt ihh sama Yoongi disini, tapi setelah tau ceritanya… aku jadi kasian sama diaa:(dibuat dia sahabatan aja sama Hayoung ya thorr^^cintanya buat Taehyung ajaaa^^) keep writing thor:)

  4. Duh Yoongi oppa jangan kayak gitu. hatiku jadi potek nih TT_TT
    beneran ya yoongi miris bgt ceritanya.
    jadi tau sedikit sedikit penjelasannya~
    Next thor~

  5. Oh gitu, ternyata masa lalu Yoongi juga kelam. Pantesan dia jahat(?)..

    Itu Taehyung kasihan banget, anak autis pasien RSJ eh..

    Nah kan, kalo jadi Hayoung aku juga bingung pasti. Tapi tetep milih Taehyung, karena udah 10th bersama. Toh juga ada amanat dari Miyoung buat jaga Taehyung..
    Duh dedek Taehyung kasihan, sama nuna sini yuk….

    Itu Tae jangan mati dulu, sembuhin dulu sayang..

  6. sebenernya kasian juga sama yoongi tapi dia terlalu terobsesi sama hayoung
    yaudah yoongi buat aku aja #eeehhh
    ceritanya seru bingit kutunggu next chap nya yaaa🙂

  7. Huwaaaa.. Kebayang bnget tuch Taehyung pas teriak” mnggil nama Hayoung… Ugh, sedih😦 ternyata nasifnya Yoongi jga sangat menyedihkan….

    Itu Taehyung mw bunuh diri?? Wahh… Si V bener” kejem ye?? Ngusulin yg ngak-ngak… Thor, ffnya feelnya dpet… I like this !!

  8. taehyung pokoknya gak boleh bunuh diri.. titik gak boleh, jangan tinggalin aku sendiri taetae…
    Next part ditunggu… ♡♡♡♡

  9. Aduhh TBC, muncul disaat tidak tepat. Haha.
    Aku suka banget ff ini, tiap hari kesini buat nunggu updatean ff ini authornim. Hihi di next part ada romance taehyung sama hayoung donk, tapi kalo gak ada juga gpp ;p
    Ditunggu updatennya author. Fighting!

  10. Akh !!! akhirnya di post juga. Hueh !!! tolong buang sosok V dong. kasian sama taehyungnya ;-; . dan sebenernya agak kasian sama yoongi. Heuheu~ next chapter ditunggu thor. jan lama” ya >3<

  11. ini sedih banget gila ngefeels banget gue baca ini -_-taehyungie gimana? jangan mati dulu deh plis thorrr daebak lanjut juseyo jangan kelamaan kalo gamau gue mati penasaran :” yaiksss

  12. yaampun taehyung kasian bener dimasukin ke rumah sakit jiwa. ga tegaaaaaaa.
    kasian juga yoongi ga ada yg merhatiin. sini gue perhatiin.😀
    next thor. tambah seru aja

  13. kalo ujungnya tae sama hayoung, nyesek jg ama yoongi T.T tp kalo hayoung ama yoongi kasian tae nya T.T njir gimana kl hayoung aja yg d bikin mati? hueeee nyesek ples binngung sumpah moga happy ending lah

  14. Next thor!!!
    Aku benci!!!!! Benci!!!!! Kenapa semua ff yang aku suka lagi sad-sadnya sekarang#koq jadi curhat
    Iiihh!!! Taehyung gak papakan!!!!!!
    Aku BENCI YOONGI!!!!

  15. sakitnya tuh di sini *nunjukati , bingung tertekan kao di posisinya hayoung pastilah . jadi masalalu mu yang membuatmu kelam min yoongi? taehyung kenapa?jangan bunuh diri karena itu menyakitkan sayang ..

  16. Give up thor gua yoongistan tapi kasian taehyung juga tapiya mihak yoongi juga tapiya mihak jimin juga tapiya mihak seokjin juga tapiya mihak hoseok juga

    Castnya kurang dua. Tambahin jungkook namjoon biar lengkap

    Satu lagi.aku mihak polisi sama supirnya jimin. Babay

  17. Kenapa disini jadi benci sama sosok V.. Kenapa harus kerumah sakit jiwa sih? Kan taehyung gak gila, dia malah tertekan kalo dikurung di rsj sama sosok V

  18. gw tau prasaan si hayoung
    d stu sisi yoongi mmbthkan hayoung
    tpi d sisi lain taehyung lbih mmbthkan hayoung
    gw ckup prhatian jga sih ma yoongi
    tpi my taehyung knpa harus mnderita
    awas aja klau smpai taehyun bunuh diri gw bnuh si v #bkannya v ma taehyun stu tbuh
    next thor

  19. Kasian taehyung T_T
    Thor ade nya suga sebenar nya cwe apa cwo aku mikir nya klo hayoung itu sebenarnya ade yoongi wheheheh thor lanjut” jdi penasara jgn lama” thor d tunggu🙂 fighting

  20. Yoongi sakit, Taehyung di borgol tapi aku kasihannya sama Hayoung😦
    Author ff ini ngingetin aku sama temen SMK aku, dia juga kaya Taehyung, anak nya baik tapi kalo sosok yg kaya V itu muncul sumpah aku gak berani natap mata nya .

  21. njiiirrrrrrr taehyuuuuuung jngan bunuh diri dulu T, T . kasihan juga yoongi. tpi haypung knpa bawa taetae ke rsj? ksihaaaaaaan. lanjut yaaaaaaa

  22. Wah,,, cerita nya seruuuu thor!!! Mmmhh,,, thor, bs gk klo adegan romance nya jgn yg berlebihan?? Soalnya taehyung sm yoongi itu bias aku.. Yaaa,, thor tau lah perasaanku gmn klo adegan romance nya berlebihan, eh(?) *curhat* hehe,,, itu saja sih saran dariku..

    Ditunggu kelanjutannya ya thor!! Jangan lama2 yaa,, bisa2 aku lumutan deh

  23. Taehyung bener2 frustasi ya
    D tinggl Hayoung d tmpat rehab, blom lagi dia gak tw knapa masuk situ
    Eh tpi dia gw loh kalo suara itu namanya V
    Wahhhh, apa dia bakalan inget juga sama kakaknya Hayoung?
    Ini menegangkannnnnnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s