FF/ STUPID LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


Author  : Jennie Jung
Cast:

Shim min ra
Min yoongi
Kim seokjin
Jung young mi
Jung hoseok
Park jimin
Han song shin
Kim taehyung
Jeon jungkook
Park hyun syeo

Length: chaptered
Genre: Romace, Sad, School Life

14046502049761
Minra pov

Apa ini nyata atau hanya ilusi? Seorang min yoongi ada dihadapanku saat ini..,
Oh tuhan
Tatapannya tetap sama
Dingin
Aku mengalihkan pandanganku, menatap kesembarang arah menghindari kontak mata terhadap namja yang berstatus sebagai ‘PACAR KONTRAK KU’. Bisakah kita mengulang waktu?, oh ayolah aku membenci tatapan ini. Tatapan yang mampu membuat jantungku berhenti berdetak. Aku membenci situasi yang seperti ini, tatapan nya seakan ingin menerkamku saat ini juga. Oh shim minra, apa kau sudah gila? Dia yang memintamu untuk menjadi ‘PACAR KONTRAKNYA’, bukan berarti dia ‘MENYUKAIMU’.

Minra pov end

Minra masih sibuk berdebat dengan ribuan pernyataan yang bersarang diotaknya saat ini. Tak menyadari bahwa namja dihadapanya memandangnya dengan tatapan ‘yeoja macam apa dia?’. Yoongi mengernyitkan dahinya, menatapnya bingung, sebuah ide terbesit di otaknya. Yoongi mencondongkan tubuhnya, mendekat kearah minra yang masih belum sadar dan sibuk bermain dengan angan kosongnya. Minra menyadari deru nafas seseorang diatas permukaan pipinya, membangunkannya dari aksi melamunnya saat ini. Yeoja itu membelalakan matanya memandangi wajah namja yang hanya berjarak 5 cm dari wajahnya.
“Yak kau yoongi sunbae!”, ia mendorong tubuh namja yang ada didepanya, membuatnya sedikit tersentak kebelakang. Minra mengusap wajahnya yang memanas akibat ulah min yoongi. Ia membuang pandanganya, menyembunyikan raut wajahnya yang sudah mulai memerah.
“Wahaha shim minra, ada apa denganmu?”, tawa seorang min yoongi meledak. Membuat shim minra tersentak kaget memandangi pemandangan yang bisa terbilang sangat-sangat langka. Yoongi tertawa?, minra mengerjapkan matanya beberapa kali, masih dengan wajah cengonya ia berjalan mendekati yoongi. Memandangi yoongi dengan tatapan -apa kau baik-baik saja?-. Merasa ditatap, yoongi menghentikan aksinya. Kembali bersikap dingin terhadap minra yang masih menampakan wajah cengonya. Yoongi mengambil tas ransel nya, meninggalkan minra yang membelalakan matanya melihat perubahan sikap yoongi yang bisa terbilang ‘DRASTIS’ itu.

Young mi berjalan menyusuri lantai koridor kelas yang mulai senyap di sore hari. Ia mengambil ponsel dari saku blazernya, mengganti lagu yang mengaliri indra pendengaranya. Kembali memasukanya kedalam blazernya, young mi memejamkan matanya. Menikmati setiap alunan lagu yang membuatnya terlarut, menghayati setiap lirik lagu yang menyesakkan dadanya. Air matanya menetes, membasahi pipi putihnya, ia masih tak memperdulikannya seakan enggan untuk tidak menghayati setiap lirik lagu yang menjadi lambang kesedihannya saat ini.
“Bruk”, young mi merasakan tubuhnya hendak terjungkal kebelakang tapi seseorang menahanya. Ia masih memejamkan matanya, bersiap tubuhnya akan merasakan sakit setelah ini, tapi nihil. Yang ia rasakan hanya tangan seseorang menahan tubuhnya. Young mi membuka matanya perlahan. Matanya membulat seketika mendapati wajah namja yang hanya beberapa cm dari wajahnya. Ia meneguk salivanya berkali-kali. Gugup memang saat ini perasaan itu menjalar ditubuhnya. Membuat tubuhnya lemas, dan sama sekali tak mempunyai kekuatan untuk bergerak bahkan ia seakan lupa caranya bernafas.
“Kenapa kau menghindariku?”, kalimat yang diucapkan namja itu cukup membuat young mi tersentak. Matanya kembali berlinang, menututnya untuk mengeluarkan cairan bening yang sedari tadi selalu ia tahan.
“JAWAB AKU JUNG YOUNG MI!”.

Hyun syeo menghela nafas nya berat, menunggu seseorang yang telah berjanji untuk menjemputnya. Sudah 2 jam ia menunggu dibawah pohon depan sekolah yang menjadi tempatnya berteduh dari sengatan matahari tapi nihil orang yang ditunggunya tak kunjung menampakan batang hidungnya, bahkan tak mejawab pesan singkat yang dikirimkan yeoja berkulit putih dengan rambut sebahu itu. Yeoja itu menghela nafasnya frustasi. Jika saja orang yang ditunggunya bukanlah namja yang disukainya, ia tak akan mungkin membuang waktu berharganya hanya untuk menunggu sesuatu yang tak pasti, bahkan sejauh ini hanya menjadi hayalan semata.
“Apa dia tak akan datang?”, gumamnya lirih. Matanya sudah cukup berkunang menatap teriknya matahari yang terpantul pada layar ponselnya. Ia begitu berharap jika namja yang ditunggunya setidaknya membalas pesan singkatnya. Apa susahnya hanya membaca dan mengetikan beberapa kata saja?. Hyun syeo tak henti-hentinya merutuki nasibnya. Ia sudah cukup kehilangan kesabaran akibat menunggu seseorang yang ‘TAK PASTI’. Ia memutuskan untuk tetap menunggu. Walaupun perutnya sudah benar-benar memintanya agar mengisinya, sama sekali ia tak menghiraukannya. Masih sibuk dengan ponselnya, hyun syeo memutuskan untuk bermain game kesayanganya. Setidaknya ia berharap waktu akan berlalu cepat sehingga membuat namja yang ditunggunya dapat menunjukan batang hidungnya.
“Dert dert”, satu pesan berhasil memasuki ponselnya, membuat yeoja itu menghentikan aksi bermain gamenya. Matanya berbinar menatap nama yang tertera pada layar ponselnya. Dengan semangat ia membuka pesanya, dan seketika wajahnya berubah menjadi suram.
“Sudah kuduga pada akhirnya akan seperti ini”, ia menghela nafasnya, kali ini jauh lebih kasar.  Hyun syeo menendang bebatuan yang ada didepanya, meluapkan kekesalan hatinya saat ini. Memutuskan untuk tidak mengeluarkan air matanya yang hanya membuat suasana hatinya semakin buruk. Benar-benar buruk.
“Yak! IGE MWOYA!!!!!!”, ucap seorang namja yang berjalan mendekatinya. Hyun syeo mulai panik, dia menyadari bahwa tendangan nya barusan mengenai seseorang. Tak ingin cari mati, hyun syeo pergi melarikan diri, berlari menjauhi namja yang sudah mengeluarkan tanduk diujung kepalanya. Yeoja itu menyadari bahwa tendanganya barusan telah membangunkan seseorang dari aksi tidurnya.
“YAK JANGAN LARI KAU! AWAS SAJA!!! KAU HARUS BERTANGGUNG JAWAB!!”, serunya yang masih bisa didengar dengan jelas oleh seorang Park hyun syeo.

Song shin masih sibuk berkutat pada buku-buku tebalnya, yang sejujurnya mampu membuat matanya benar-benar panas karna harus membaca tulisan yang membuat matanya harus menyipit membaca tulisan yang benar-benar kecil ini. Jika saja ia tidak terkena hukuman kim seongsanim mungkin saja saat ini ia sudah tiba dirumah.
“Aargh”, desahnya frustasi. Ia mengacak rambutnya yang sudah benar-benar terlihat kusut saat ini. Sama sekali tak memerdulikan imagenya sebagai seorang yeoja, demi apapun saat ini ia benar-benar terlihat kusut. Song shin menidurkan kepalanya, menjadikan tangan mungilnya sebagai tumpuanya diatas meja perpustakaan yang sudah terlihat sepi. Ia mengambil ponsel yang tergeletak tak jauh darinya, mengetikan beberapa pesan dan mengirimnya. Sudah ribuan kata ia merutuki nasibnya yang sama sekali tak beruntung. Semalam ia susah tidur akibat harus mendengarkan curhat seorang shim min ra, yang membuat matanya harus terjaga sepanjang malam. Belum lagi ia melupakan tugas han seongsanim seminggu yang lalu, dan dengan terpaksa, sangat-sangat terpaksa ia mengerjakan dengan sistem kebut semalam. Astaga itu benar-benar melelahkan. Dan dengan bodohnya ia tertidur saat pelajaran kim seongsanim, membuatnya terusir dan diberi tugas meringkas 1 buku tebalnya. Astaga, song shin kembali menepuk kepalanya lembut. Kesal karna tugasnya masih lumayan banyak, dan harus dikumpulkan hari ini juga. Pasrah akan nasibnya ia kembali melanjutkan aksi mencatat dan membaca bukunya, sesekali menerawang atap perpustakaan untuk merilekskan tanganya yang akan putus saat ini juga. Yeoja itu melirik jam yang melingkar manis pada pergelangan tanganya. Ia kembali menghela nafasnya saat menyadari bahwa waktu sudah menunjukan pukul 02.00 kst. Sudah 2 jam ia berada ditempat yang menjadi ‘phobia’ nya mulai saat ini. Pungungnya sudah sangat lelah harus menumpu tubuhnya. Terlalu lelah, ia memutuskan untuk mengumpulkan tugasnya pada meja kim seongsanim saat ini juga. Ia mulai mengemasi barang-barangnya yang sangat berantakan, dan memakai tas ranselnya meninggalkan ruangan yang menjijikan menurutnya.

Dengan kesal minra melangkahkan kakinya. Sesekali ia tampak menghentakan kakinya, walaupun terlihat lemah tapi mampu didengar hingga ujung koridor sekolah yang sudah sepi oleh beberapa murid. Oh ayolah ini benar-benar mengerikan. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok song shin yang menyuruhnya untuk menunggunya menyelesaikan tugas hukuman kim seongsanim. Minra kembali teringat dengan sosok yang diam-diam mencuri perhatianya. Walaupun selama ini ia mengelaknya, tapi tetap saja perasaan itu selalu menghampirinya saat ia sedang bersama namja itu.
“Apa aku sudah benar-benar gila?”, ia mengacak rambutnya sendiri, tersenyum kikuk saat kembali mengingat momen yang baru saja membuatnya lupa caranya bernafas. Terdengar bodoh jika seseorang mampu meluluhkan hati seorang shim min ra, tapi begitulah keadaanya. Ia kembali berjalan saat langkahnya baru saja terhenti akibat aksi melamunya. Minra kembali mengedarkan padanganya, kembali menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan yang tidak mengenakan berada dihadapanya. Ia mengangakan mulutnya, matanya terlihat membulat sempurna dengan ‘kejutan’ yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Tubuhnya benar-benar melemas melihat pemandangan yang cukup membuat matanya memanas. Dadanya terasa sesak seiring air mata yang membuncah keluar dari ujung matanya, membasahi pipi mulusnya. Tubuhnya bergetar hebat saat seorang namja mulai mendekati wajah yeoja yang masih mematung ditempatnya. Minra benar-benar menangis dalam diam, sebenarnya dia sudah menduga bahwa semua ini akan terjadi. Hanya saja perasaannya yang terlampau jauh pada namja yang sama sekali tak menyadari kehadiranya. Seandainya waktu dapat berputar, mungkin ia akan benar-benar menutup perasaanya pada namja manapun. Namja yang telah menyakiti perasaanya, walaupun rasa sakitnya tak separah ini. Bahkan minra sama sekali tak menyadari sejauh mana perasaanya. Ia tak berfikir terhadap resiko yang akan dihadapinya yang saat ini telah terjadi. Minra menatap sendu kedua sejoli yang tak jauh dari jangkaunya, ingin sekali memghampiri namja itu. Sadar akan statusnya yang ‘BUKAN SIAPA-SIAPA’, membuatnya mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih membalikan tubuhnya dan berlalu meninggalkan mereka yang masih asik dengan dunia mereka masing-masing.

Song shin sudah mengumpulkan tugas hukuman kim seongsanim yang membuat kepalanya semakin pening. Ia mencari minra yang telah menunggunya, mengedarkan matanya mencari keseluruh sudut sekolah, dan benar ia menemukan minra sedang duduk disalah satu bangku sekolah. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang menerpa kulit putih nya. Song shin menghela nafasnya dan berjalan mendekati minra yang masih memejamkan matanya. Ia terperanjat kaget menyadari bekas air mata yang belum sepenuhnya mengering pada wajah minra. Ia menatap sendu seorang shim min ra yang tampak benar-benar menyedihkan saat ini. Song shin tau benar bahwa seorang minra tak akan mungkin meneteskan air matanya hanya karna hal-hal konyol, ia yakin bahwa ada seseorang yang saat ini menyakiti perasaannya. Minra membuka matanya, tersenyum lebar saat melihat song shin telah ada dihadapanya. Senyum palsu, minra mengetahui bahwa tatapan song shin seakan mengintimidasinya. Minra tak ingin song shin terlibat dalam masalahnya saat ini,ia merasa telah terlalu merepotkan sahabatnya yang satu ini.

Sepanjang perjalanan minra memutuskan untuk tidak banyak bicara. Kejadian yang baru saja ia lihat membuat hatinya benar-benar hancur kali ini. Miris, karna kenyataanya perasaan yang seharusnya tak boleh tumbuh kini benar menyiksa hatinya. Song shin hanya menatap minra iba. Ingin bertanya, tapi seakan lidahnya kelu unyuk mengucapkan beberapa kata yang sudah ia rangkai dengan baik sejak perjalanan menuju rumah mereka yang hanya berbeda beberapa blok saja. Song shin menghentikan langkahnya saat telah tiba pada depan rumahnya yang terlihat sepi.
“Apa kau ingin masuk dulu?”, tanya song shin menatap minra yang masih menunduk menatap sepatunya sendiri.
“Eoh, ani…, lebih baik aku pulang sekarang. Paipai”, ujar minra dan berlalu dari hadapan song shin.

Minra sudah sampai pada rumahnya, ia memasukinya dan berlari menuju kamarnya yang berada pada lantai 2. Menghempaskan tubuhnya pada kasur king size nya, dan memejamkan matanya mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia coba untuk menahannya.
“Kenapa harus seperti ini?”, gumamnya lirih. Ia menghapus air matanya kasar. Mengatur nafasnya akibat tangisnya.
“Seharusnya aku sadar sejak awal bahwa aku ini bukan siapa-siapanya!!”, ia menutup wajahnya sendiri dengan bantalnya.
“Dert dert”, 1 pesan memasuki ponsel berwarna pinknya. Minra mengambilnya dan membukanya dengan wajah sembabnya.

“ADA APA DENGANMU SHIM MIN RA! APA KAU BENAR-BENAR PACARAN DENGAN NAMJA BRENGSEK ITU HAH????!!!”

TBC……

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF/ STUPID LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s