FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 6


Title                : “Monster” [Part 6]

Author            : intan @sena_kuki

Rating                        : T (17+)

Genre              : school life,family, Angst, fantasy, romance, comedy, etc.

Cast                :

–      Han Se Na (OC)

–      Kim Nam Joon

–      Min Yoon Gi

–      Park Han Na (OC)

–      Kim Seok Jin

–      Jung Ji Hwa (OC)

–      Park Jimin

–      Park Sang In (OC)

–      Kim Taehyung

–      Jang Ok Jung (OC)

–      Jeon Jungkook

–      Jung Eun Shi(OC)

–      Jung Hoseok

–      Park Subyong (OC)

Monster 6

***…

 

Annyeong balik lagi dengan FF paling abal di fanfictionside hoho.. karena PL nya tanggal 6 jadi author usahain bikin part 6 nya.. hehe happy reading!!!!

Karena ini sangat telat jadi author bikin lebih panjang dari biasanya hehe..

 

*ARE YOU MY DESTINY?*

 

Dikoridor itu terlihat taehyung yang berjalan dengan langkah santainya sambil memain-mainkan kunci yang ia pegang. Taehyung terlihat tidak masalah mendapatkan tugas dari salah satu penjaga sekolah untuk mengunci audiotorium walaupun sebenarnya ia adalah anak dari orang penting di jewelry. Taehyung adalah type orang yang tidak menyukai diskriminasi terhadap sesama. Baginya selama ia bersekolah disekolah ini ia tetaplah seorang murid dan bukan lah sosok Kim Taehyung yang dibangga-banggakan oleh ayah nya. Audiotorium itu akan ditutup hingga semester depan, karena kegiatan ekskul drama itu tidak akan aktif hingga semester dua nanti.

 

“yya!! Nuguya??” teriak taehyung yang berdiri dipintu audiotorium yang cukup lebar itu pada seorang murid perempuan yang duduk dibarisan kursi penonton paling depan. Taehyung terlihat kesal karena murid itu tidak menyahutinya sama sekali bahkan untuk menoleh saja tidak. Dengan kesal taehyung melangkahkan kakinya untuk menghampiri murid perempuan yang berambut coklat kemerahan itu.

 

“gwaenchana??” Tanya taehyung pada murid itu yang terlihat menundukkan kepalanya sesegukkan seperti sedang menangis. Terlihat gadis itu sedang mendengarkan lagu rock yang lumayan kencang melalui headsetnya, itu sebabnya ia tidak mendengar panggilan taehyung yang terus berteriak memanggilnya sedari tadi. Gadis itu tetap tidak menyahuti taehyung membuat taehyung tak segan-segan untuk menarik headset yang menyumbati telinga gadis itu. Saat itu juga gadis itu sadar dengan kehadiran taehyung hingga ia mendongakkan kepalanya untuk menatap orang yang sudah mengganggu waktu sendirinya.

 

“cinderella jewelry..” gumam taehyung ragu sambil mengerinyutkan alisnya, ia sedikit ragu untuk menyebut nama asli gadis itu. Taehyung seperti tidak menyukai gadis itu makanya ia tidak pernah memanggil gadis itu dengan nama aslinya yaitu Jang Ok Jung, barista yang taehyung temui di café beberapa hari yang lalu.

Darah taehyung sedikit berdesir ketika ia menatap mata ok jung yang memancarkan kesedihan, wajahnya yang dipenuhi linangan air mata membuat taehyung terdiam kaku hingga melupakan apa tujuannya sekarang yaitu mengusir ok jung gadis yang tak ia sukai dari ruangan ini.

 

Ok jung terlihat tidak senang berjumpa dengan taehyung, ia sedikit takut dan benci dengan taehyung akhir-akhir ini karena menurutnya taehyung sudah mengetahui bagaimana kehidupan ia yang sebenarnya. Ia hanyalah gadis yang menyedihkan, yang mana ibunya sekarang tengah disembunyikan di RSJ sebagaimana yang ditebak oleh taehyung di café itu. Benar sekali tebakan taehyung beberapa hari yang lalu jika ok jung hanyalah seorang cinderella yang tinggal bersama ibu tirinya yang jahat. Lebih tepatnya adalah istri muda dari mendiang ayahnya.

Seorang istri muda yang mengincar harta warisan yang tak seberapa itu dari ibu kandungnya, namun karena kondisi ibu yang tidak memungkinkan warisan itu belum tentu kepemilikannya. Jalan satu-satunya hanyalah menunggu ibu ok jung sehat kembali atau meminta tanda tangan ibu ok jung agar mengalihkan warisan itu kepada orang lain, atau dengan meninggalnya ibu ok jung otomatis harta itu akan dialihkan pada ok jung sebagaimana yang tertulis di wasiat pada pengacara ayahnya.

 

“sebaiknya.. kau segera menemui ibumu..” ucap taehyung sedikit ragu sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal itu. Namun ok jung hanya terus menunduk tidak peduli dengan taehyung. Hal yang membuat gadis itu menangis adalah ia baru saja menerima panggilan telfon dari pembantunya yang tinggal dirumah, mengatakan jika foto keluarga ia bersama kedua orang tuanya sudah diturunkan oleh ibu tirinya.

Ok jung adalah gadis yang lemah jika sudah berhubungan dengan ibu tirinya itu, bagaimanapun jahatnya wanita itu baginya dia tetaplah ibunya, wanita yang dicintai oleh ayahnya. Ok jung hanya terus bersabar dari setiap perlakuan yang kurang menyenangkan ditunjukkan oleh ibu tirinya itu padanya, bahkan menjadi barista sekalipun di café milik ibu nya sendiri.

Hal itu membuat pengacara ayah nya tidak tinggal diam, bahkan pengacaranya itu bisa saja menuntut ibu tirinya dengan pasal yang berlapis-lapis. Namun ok jung yang baik hati tidak menginginkan hal itu terjadi, ia ingin ibu tirinya itu sadar dengan sendirinya terhadap apa yang telah ia lakukan selama ini. Ia ingin ibu tirinya itu sadar dan menyadari kehadirannya sebagai anaknya walaupun bukan anak kandungnya.

 

Taehyung kali ini terlihat lebih prihatin pada ok jung daripada sebelumnya. Sebelumnya taehyung hanya berfikir jika ok jung hanyalah gadis yang benar-benar menyedihkan dan pembohong. Namun kini ia sadar jika ok jung adalah gadis yang tegar dan bukan pembohong. Ok jung tidak pernah mengatakan pada orang lain jika ia adalah seorang gadis chaebol, hanya semua murid saja yang mengatakan dan beranggapan seperti itu.

Sebenarnya yang ia tidak sukai pada ok jung adalah kenapa ok jung selalu menggetarkan hatinya? Kenapa ok jung selalu membuatnya ingin tau terhadap apapun yang terjadi pada gadis itu? Taehyung sebenarnya juga bingung. Pemikiran semacam apa itu? mengkhawatiri orang yang bahkan tidak ia kenal dengan baik, jang ok jung.

 

Setelah lumayan tenang ok jung pun beranjak dari duduknya untuk pergi dari ruangan itu. Namun, ketika ia berselisihan dengan taehyung, taehyung langsung meraih pergelangan tangan ok jung dengan erat, membuat ok jung menatap mata taehyung tidak suka.

 

Sebenarnya saat itu taehyung ingin mengatakan apa yang ia rasakan pada ok jung namun mendapati tatapan tajam dan benci dari ok jung membuat taehyung benar-benar terdiam seribu bahasa. Taehyung benar-benar bodoh, ia tidak mengerti dengan pikirannya sendiri.

 

Ok jung membanting tangan taehyung begitu saja dan meninggalkan taehyung diruangan itu dengan langkah setengah berlarinya sambil sesekali menghapus air matanya. Sementara taehyung hanya menunduk menatap telapak tangannya yang sudah menyentuh lengan ok jung. Baginya ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan dengan ok jung, taehyung kembali menolehkan kepalanya kepintu itu namun ok jung benar-benar sudah pergi. Ketika ia menatap kekursi yuang diduduki oleh ok jung tadi terlihat ponsel ok jung yang lengkap dengan headsetnya tertinggal dikursi itu. Dengan ragu taehyung memunguti ponsel itu dan menatapnya dengan bingung.

“Apa aku harus mengembalikannya sendiri?”

 

***

Disetiap kelas jewelry terlihat guru mereka membagikan helaian kertas pada setiap murid. Murid-murid itu diminta untuk menceklis salah satu kegiatan ekskul yang ia minati dan kertas itu wajib dikumpulkan besok pagi pada walikelas masing-masing. Sebagian murid terlihat tidak bersemangat menerima helaian kertas itu dan sebagian lagi tentu senang dengan peraturan baru dari sekolah itu.

 

Semua murid terlihat tengah sibuk berdiskusi untuk memilih kegiatan ekskulnya sementara taehyung masih terus mengelus jempolnya pada layar ponsel ok jung dengan wajah datarnya. Ia terlihat ingin tau apa saja isi dari ponsel itu, ia sangat penasaran dan lebih tepatnya ia ingin turut serta dalam permasalahan ok jung itu. Ok jung yang telrihat ceria, dibanggakan dan tampak sempurna dimata semua orang ternyata hanyalah seorang gadis biasa yang mudah rapuh dan menangis.

“kim taehyung-ssi..” tegur hoseok pada taehyung yang sedari tadi terus merenung disaat guru tengah menjelaskan pelajaran pada murid-muridnya. Taehyung langsung menatap hoseok dengan bingung dan linglung membuat hoseok mengerinyutkan keningnya bingung.

Ini adalah ekspresi langka yang ditunjukkan taehyung pada orang lain, biasanya taehyung akan menampilkan wajah tengik dan sok mempesonanya itu pada orang lain. Tapi kali ini ia benar-benar terlihat gila dan frustasi.

Ya, ia benar-benar gila. Ia mencemaskan ok jung, ia merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia merasakan sesuatu akan terjadi pada ibu ok jung jika ia tak kunjung menjemput ibunya yang disembunyikan di RSJ itu.

 

“YYA!!! KIM TAEHYUNG!!” tegur guru itu pada taehyung yang tiba-tiba keluar dari kelas tanpa permisi dengan langkahnya yang tergesa-gesa. Guru itu terlihat heran, tak biasanya taehyung seperti itu. Guru itu terlihat cukup kesal karena setelah cukup bersabar dengan nam joon yang hampir tidak pernah masuk kekelas sekarang ditambah lagi dengan taehyung yang mulai menampakkan kekuasaannya disekolah ini. Guru itu hanya menarik nafasnya dalam-dalam setidaknya orang yang akan menerima ilmu nya adalah orang yang benar-benar terpilih sekarang.

 

Taehyung berdiri disekitar taman utama jewelry yang lumayan luas itu, ia terlihat berlari-lari kesana kemari untuk mencari sosok ok jung karena menurutnya ok jung tengah berada disekitar taman itu untuk menenangkan dirinya. Taehyung yang tak menemukan ok jung dan sadar dengan apa yang tengah ia lakukan sekarang kini terduduk lemas di sebuah kursi taman dan menatap ponsel ok jung dengan frustasi ditangannya. Dengan nafas tersengal-sengal ia mulai berani membuka kunci dari ponsel itu, sebuah ponsel dengan wallpaper foto buram gadis kecil dengan kedua orang tuanya. Sepertinya foto ini diambil dari sebuah foto yang sudah jadi.

 

Drrt..drrt..

 

Ponsel itu bergetar dengan sebuah panggilan telfon bertuliskan ‘ahjussi’.

 

“yeoboseyo..?” jawab taehyung bingung.

“yeoboseyo?? nuguseyo? Bisakah kau berikan ponsel ini pada ok jung??” ucap orang disebalik telfon. Suara orang itu terdengar begitu panik dan tergesa-gesa.

“ok jung sedang dikelas ahjussi..” ujar taehyung ragu.

“kalau begitu bisakah kau katakan pada ok jung untuk menerima telfon sebentar saja, karena ini sangat penting..” ujar orang itu lagi dengan suaranya yang terdengar panik membuat taehyung bingung harus melakukan apa.

 

“ahjussi.. kau bisa mengatakannya padaku, aku.. a-aku, aku namja chingu ok jung..” ujar taehyung ragu, terlihat wajah taehyung berubah sangat linglung ketika ia menyebutkan kata namjachingu itu.

“kalau begitu bisakah kau bawa ok jung untuk menemui ibunya? Katakan padanya nyonya muda sudah menemukan keberadaa ibunya, secepat mungkin ibunya harus dipind…” belum selesai orang sebalik telfon itu menjelaskan semuanya taehyung langsung berlari memasuki gedung sekolah, untuk apa lagi selain menarik ok jung. Ia sudah tau hal ini akan terjadi, Suatu hal yang buruk akan terjadi pada ibunya jika tidak ditangani dari sekarang.

 

‘BRAAKK!!’

 

Dengan tanpa bersalahnya terlihat taehyung yang mendobrak pintu kelas ok jung dan berdiri dipintu itu sambil mengatur nafasnya. Matanya seperti mencari-cari dimana tempat duduk ok jung. Kelancangan taehyung membuat semua murid dikelas itu menatap heran pada taehyung termasuk ji hwa, san gin, subyong bahkan jimin sekalipun.

Ok jung yang terlihat merebahkan kepalanya diatas meja dengan wajah lesu menatap keadaan kelas dengan heran, ia juga melirik kiri kanan menyadari semua orang tengah menatap kearah belakang tempat taehyung berdiri bahkan guru yang tengah mengajar didepan kelas sekalipun. Ok jung yang matanya bertemu dengan taehyung langsung membulatkan matanya heran, apa taehyung ingin menemuinya atau temannya?

 

Tanpa ragu sedikitpun taehyung melangkahkan kakinya memasuki kelas itu menuju tempat duduk ok jung dan menarik tangan ok jung begitu saja membuat ok jung membulatkan matanya tidak percaya atas perlakuan taehyung yang tiba-tiba itu padanya.

 

“seonssangnim.. ada sebuah masalah, aku harus membawa ok jung kesuatu tempat. Kumohon seonssaengnim mengerti..” ucap taehyung sopan namun dengan nada yang cepat sambil sesekali mengatur nafasnya yang sesak karena sudah berlari dari tadi. Sementara ok jung terus menarik tangannya agar lepas dari genggaman taehyung namun tetap saja genggaman tangan taehyung sangat kuat hingga ia tidak mampu berbuat apa-apa.

Guru itu hanya mematung melihat taehyung dan ok jung yang kini sudah keluar dari kelas begitu juga dengan semua murid bahkan kepalanya ikut menoleh mengikuti ritme perjalanan taehyung hingga punggung mereka benar-benar hilang dari kaca jendela kelas itu. Guru itu semakin kesal karena konsentrasi para murid yang mulai pecah hingga ia memukul-mukul papan tulis dengan cukup kencang membuat jimin bergelinjang karena terkejut hal itu membuat sang in tertawa kecil melihat ekspresi jimin yang konyol.

 

 

“YYA!!!!” teriak ok jung ketika ia sudah berada digerbang sekolah yang besar itu. Teriakan ok jung yang kencang itu benar-benar membuat taehyung terdiam hingga pegangan tangannya pada ok jung melemah begitu saja.

“ini bukan waktumu untuk memarahiku, dan meluapkan kekesalanmu. Seseorang mengatakan jika ibumu akan segera dipindahkan karena ibu tirimu sudah mengetahui keberadaan ibumu..” ucap taehyung sambil menyerahkan ponsel ok jung padanya membuat ok jung langsung terdiam bingung. Ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.

“kajja..” ajak taehyung menarik tangan ok jung hingga ia berlari-lari untuk menaiki taxi.

 

“dimana alamat rumah sakitnya??” Tanya taehyung sambil menggenggam tangan ok jung, membuat ok jung yang sedang termenung Karena shock itu langsung menolehkan kepalanya untuk menatap taehyung. Taehyung sedikit terkejut ketika merasakan tangan ok jung yang dingin, ok jung benar-benar sedang ketakutan sekarang. Ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada ibunya.

 

“eotteokhae.. eotteokhae..” gumam ok jung menatap taehyung hingga air mata itu jatuh begitu saja membasahi pipi ok jung.

“sebaiknya bawa ibumu ke apartmentku.. disana kosong!!” Saran taehyung dan disetujui oleh ok jung dengan anggukan kencang. Ok jung terlihat ragu namun tak ada pilihan lain untuk saat ini.

Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada ibunya, Ia tak mau kehilangan ibunya setelah kehilangan ayahnya. Ia tau betul bagaimana busuk dan iblisnya sifat ibu tirinya itu. Bahkan ibu tirinya itu tak akan segan-segan menganggab ok jung hanya sebagai pembantu jika ia berada dirumahnya sendiri.

 

Taehyung terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan agar ok jung tenang. Tanpa ragu ia menarik lengan ok jung kepinggangnya dan memeluk ok jung sambil mengelus kepalanya dengan lembut dan benar saja ok jung terlihat sedikit tenang dari sebelumnya. Taehyung terus mengelus rambut ok jung hingga ok jung benar-benar tenang.

 

 

Disekolah itu terlihat sang in yang langsung mendatangi ji hwa teman sebangku ok jung dengan penasaran dan semangat yang menggebu-gebu.

“apa yang terjadi? Bukankah taehyung dan ok jung tidak terlalu dekat? Bukankah taehyung membenci ok jung??” Tanya sang in beruntun pada ji hwa membuat ji hwa langsung menggelengkan kepalanya bingung.

“bocah tengik itu baru menyadari perasaannya..” ucap jimin sambil menolehkan duduknya menghadap sang in dan ji hwa.

“ia hanya mengkhawatiri dan penasaran pada ok jung, namun ia tidak mau mendeskripsikan itu sebagai rasa sukanya. Dia tidak mengerti dengan pikirannya sendiri, dia terlalu sibuk dengan pikiran dan masa depan orang lain hingga ia buta dengan perasaannya sendiri, itulah taehyung..” ucap jimin sambil menerawang memikirkan taehyung mantan teman sekamarnya itu. Dari mata jimin, terlihat jika ia benar-benar hafal sekali dengan sifat taehyung itu.

“jinjja..??” Tanya ji hwa dengan wajah tak percayanya.

“daebak….” Gumam sang in kagum, karena jimin yang benar-benar mengetahui jalan pikir taehyung.

“subyong-ah.. bagaimana menurutmu??” Tanya jimin pada subyong yang berada dibelakangnya.

“ne??” Tanya subyong setengah berteriak Karena terkejut, subyong terlihat sedang resah sekarang membuat jimin, ji hwa dan sang in menatap subyong dengan heran. Tak biasanya subyong gelisah seperti itu. Namun subyong langsung merebahkan kepalanya dimeja dengan alasan dia sedang mengantuk dan sakit kepala.

 

***

 

Disebuah restoran korea di hongdae terlihat sena yang duduk lurus menatap nam joon dengan tajam dihadapannya. Sena terus menatap nam joon tanpa henti begitu pula dengan nam joon ia bahkan tidak berkedip sama sekali menatap mata sena. Sena terlihat mencari celah dimata nam joon, apa benar nam joon bukanlah manusia biasa? Berbanding terbalik dengan yang dipikirkan oleh nam joon saat ini. Ia menatap sena dengan tatapan lurus menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh sena. Apa sena mulai mengingatnya atau tidak? Apa sena akan memarahinya karena mendengar percakapannya dengan subyong tadi bahwa ia sudah mencium gadis itu 3 kali.

 

“sena-ya..” ujar seorang ahjussi paruh baya dan langsung duduk disamping sena membuat perhatian sena teralihkan pada orang itu yang tak lain adalah ayahnya, lebih tepatnya adalah ayah angkatnya.

“appa..” ujar sena sedikit canggung, namun ketika ayahnya memberikan pelukan pada sena sena terlihat bingung hingga ia membalas pelukan itu dengan canggung.

 

Setelah cukup tenang kini ayah sena beralih pada nam joon yang duduk dihadapannya. Nam joon menunduk hormat pada ayah sena sementara ayah sena menatap nam joon dengan tatapan dan senyuman hangatnya. Ayah sena adalah type orang yang penyayang, itulah yang membuatnya sangat menyayyangi sena walaupun sena bukanlah anak kandungnya.

 

Ayah sena sempat mengira jika nam joon adalah kekasih putri semata wayangnya, namun langsung dibantah oleh sena membuat ayah sena tersenyum geli. Ayah sena meminta izin pada nam joon untuk membawa sena keruangannya sebentar karena ada hal yang harus dibicarakan. Ayah sena menyuruh nam joon untuk tetap disini karena beliau sudah menyiapkan hidangan makan sore untuk nam joon dan sena.

Nam joon hanya mengangguk canggung dengan ucapan lelaki paruh baya itu. Nam joon benar-benar bingung terhadap apa yang harus ia lakukan dan katakan, Karena sudah cukup lama baginya tidak berinteraksi dengan manusia seperti dulu. Ia juga heran akhir-akhir ini ia sedikit berani dari pada sebelumnya bahkan tangannya tidak seliar dulu yang bisa menghancurkan apapun tanpa ia sadari.

 

 

“kau sudah mendengarnya dari bibimu??” Tanya ayah sena dan dibalas dengan anggukan pelan oleh sena.

“kau tau? Bagaimanapun kau tetap putriku!! Kenapa kau sedih seperti itu..” ucap ayahnya sambil membuka laci mejanya santai membuat sena langsung mengangkat kepalanya menatap ayahnya. Saat itu juga ayahnya menyerahkan sehelai foto pada sena. Sebuah foto seorang bocah laki-laki berambut hitam dan bermata sangat sipit.

“kau sudah 18tahun itu sebabnya ayah mengatakan semua ini, bagaimanapun dirimu setidaknya kau masih mempunyai saudara kandung didunia ini yang kuketahui” ucap ayah sena sambil tersenyum menunjuk foto yang sudah dipegang oleh sena itu.

“dia Min Yoon Gi oppamu..” ucap ayah sena membuat sena langsung membulatkan matanya menatap ayahnya itu.

Bahkan ayahnya sendiri sudah mengetahui ini dari dulu? Jadi hal itu memang benar jika min yoon gi adalah oppanya? Sena kembali menatap foto itu lekat-lekat ia benar-benar tidak mengingatnya.

 

“aku tidak tau dimana ia sekarang, yang jelas dia diadopsi oleh seo…”

“aku tau..” putus sena, membuat ayahnya menatap heran pada sena.

“Min Yoon Gi adalah sunbaeku disekolah, dan hari ini aku juga baru mengetahui kenyataan itu dari temanku nam joon..” ucap sena bingung.

“lalu apa kau mengingat sesuatu??”

“tidak terlalu.. namun aku mengingat seorang bocah yang terus melindungiku, aku melupakan namanya. Namun sekarang aku merasa jika orang itu masih terus berada disekitarku untuk melindungiku..”

“maksudmu??”

“kim nam joon..”

“ne?”

“aku merasa jika dia mengenalku namun ia tidak mau mengatakan hal itu, apa mungkin ia mempunyai sesuatu yang benar-benar tak ingin ia katakan. Setiap malam aku selalu bermimpi tentang masa kecilku, tidak terlalu jelas namun sikap bocah itu sama dengan nam joon. Nam joon adalah teman min yoon gi, dan sekarang kenyataannya juga begitu. Nam joon dan yoon gi oppa berteman walaupun mereka menyembunyikan hal itu didepan semua orang..”

“kau mengetahuinya??”

“appa..kau tau kan? Penilaianku terhadap orang lain tidak pernah salah, dari matanya aku tau jika mereka berdua sangat dekat namun ia tidak mau menunjukkan hal itu, aku sangat peka dengan hal-hal seperti itu appa..”

“kau menyukai nam joon??”

“MWO?? A-anni.. appa kau tau kan aku tidak tertarik dengan lelaki yang terlalu dingin. Aku menyukai pria yang hangat dan penyayang seperti appa..” sergah sena dengan ragu membuat ayahnya itu tersenyum hangat pada sena. Setidaknya ia tidak cemas lagi, mencemaskan sena yang sedih mengetahui kebenaran hal ini. Juga ia sudah sedikit lega jika sena sudah mengenal oppanya walaupun hanya sebagai sunbae disekolah. Memang dunia ini sempit, sekarang hanya tinggal sena yang memberitahu yoon gi tentang kebenaran itu.

 

 

Setelah kembali dari ruangan ayahnya sena sudah tidak menemukan nam joon lagi dimeja itu, dan seorang pelayan datang kemeja itu membawa beberapa makanan yang sudah disiapkan olehnya ayahnya. Namun makanan itu hanya untuk satu porsi, sepertinya nam joon yang melakukan semua itu.

“eonni?? Lelaki yang berseragam sama dengan ku tadi apa eonni melihatnya??” Tanya sena bingung.

“ooh.. dia bilang dia tidak ingin membuang waktu jadi dia baru saja pergi..” ucap pelayan itu yang sepertinya sudah lumayan kenal dengan sena.

“eonni.. aku harus pergi, eonni mianhaeyo..” ucap sena tergesa-gesa berlari keluar dari restoran itu untuk mengejar nam joon. Ia terlihat tak rela nam joon pergi begitu saja, masih banyak hal yang harus ia konfirmasi dan tanyakan pada nam joon.

 

“YYYA..!!!!!!” teriak sena ketika melihat nam joon yang berjalan di trotoar itu hingga ia berdiri di halte untuk menunggui bis. Nam joon tidak menyadari jika sena meneriakinya dari jauh, ia terus berdiri dengan tatapan kosong menghadap jalan raya didepannya. Tatapannya begitu sendu. Sesekali ia menggigiti bibirnya seperti sedang gugup dan takut terhadap sesuatu.

“NAMJOON!!!” teriak sena lagi yang kali ini didengar oleh nam joon. Nam joon menolehkan kepalanya kesamping menatap sumber suara dan terlihatlah sena yang sudah ngos-ngosan dihadapan beberapa orang yang berdiri dihalte itu.

“yya.. Laki-laki macam apa kau meninggalkan pacarnya begitu saja??” ucap seorang wanita yang juga menunggui bis dibelakang nam joon.

“yya.. kau meninggalkannya? Kau pria brengsek..” ucap salah satu dari teman wanita itu lagi membuat nam joon menarik nafas setengah kesalnya hingga ia lebih memilih untuk menaiki bis meninggalkan sena. Sena yang tidak tinggal diam langsung berlari menaiki bis itu dipintu belakang dan terus berjalan hingga depan untuk bertemu dengan nam joon. Sementara nam joon hanya membuang muka seperti tidak mengenal sena sama sekali walaupun seragamnya cukup mencolok untuk dikatakan tidak mengenal.

 

“kau brengsek..” ujar sena dengan tatapan tajamnya membuat 2 wanita yang mengur nam joon tadi juga menatap kedua pasangan itu dengan heran. Nam joon yang menyadari jika 2 wanita itu yang akan mengompori mereka lagi mulai merasa resah dan kesal terhadap orang-orang disekitarnya.

“KAU BERANI KABUR SETELAH MENCIUMKU 3 KALI!!” teriak sena tanpa segan dibis itu membuat suasana bis yang ramai menjadi sangat sunyi seakan hanya mereka berdua di tempat itu. Sena langsung menolehkan kepalanya menyadari jika suasana terasa sangat sunyi.

 

Benar saja dunia berhenti. Dunia berhenti dan hanya sena dan nam joon yang bergerak. Sena kembali menyadari hal ini lagi. Dan ini benar-benar sebuah kenyataan dan bukan mimpi atau sensasi apapun seperti apa yang diucapkan oleh teman-temannya. Tiba-tiba bis itu mundur dengan sendirinya membuat tubuh sena tersungkur kedepan namun langsung ditangkap oleh nam joon. Mata mereka saling bertemu, tatapan tajam nam joon membuat sena diam tak berkutik.

Dari luar bis terlihat seorang bocah yang tak sengaja melepaskan balonnya diudara namun balon itu kembali mundur dan berada ditangan bocah itu. Apa waktu sekarang sedang mundur?? Hingga kini sena dan nam joon berada disebuah atap gedung yang tak tau pasti gedung apa itu.

 

Sena hanya diam matanya membulat besar menatap nam joon. Benar, nam joon bukan manusia biasa. Lalu kenapa hanya sena yang bisa merasakan ini? nam joon semakin mendekat kearah sena membuat sena memundurkan langkahnya sedikit ragu. Walaupun kakinya terasa keram karena begitu kaget dan takut.

“kau tak mengingatku??” Tanya nam joon pelan. Dan dibalas dengan gelengan canggung oleh sena, terlihat sena semakin gugup hingga ia terus mundur dan kini benar-benar tersudut ditembok.

 

Tiba-tiba saja nam joon meraih dagu sena hingga sena menatap nam joon dengan tatapan terkejutnya. Nam joon menempelkan bibirnya begitu saja dibibir sena dengan hangat dan lembut. Sena membulatkan matanya terdiam kaku. Kedua tangannya bahkan tergenggam kuat saking gugupnya, dengan ragu dan sedikit takut kini tangan sena beralih pada cardigan nam joon menggenggam erat cardigan merah itu. Seakan ia ingin menolak dan mendorong namjoon namun ia merasakan sesuatu yang aneh hingga ia tidak bisa melakukan hal itu.

 

Tangan kanan nam joon kini mulai beralih pada tengkuk sena sementara tangan kiriya memeluk pinggang sena semakin erat hingga badannya benar-benar menempel pada nam joon. Saking eratnya pelukan namjoon dan tarikan ditengkuknya membuat sena sedikit menginjit agar tingginya yang hanya 164cm itu sesuai dengan tinggi nam joon yang 181cm, tak peduli jika kaki kanannya tak sengaja sudah menignjak sepatu nam joon. Nam joon tidak peduli sama sekali ia hanya butuh sena dan bukan yang lain sekalipun itu adalah dirinya sendiri bahkan apapun itu.

 

Sesekali nam joon berusaha untuk membuka mulut sena, dan dengan ragu sena mulai membuka mulutnya sambil mengerinyutkan keningnya karena kini nam joon sedikit menggigiti bibirnya dan memainkan lidahnya tak beraturan.

Tiba-tiba angin berhembus kencang diantara kedua pasangan yang tengah berciuman itu. Angin itu tepat menerpai rambut sena dan nam joon, mereka benar-benar tak peduli dengan hal apapun yang mengganggu.

Sena mulai memejamkan matanya ia terlihat seperti orang tertidur, ia terlihat benar-benar seperti orang yang tak sadarkan diri. Dan benar saja saat nam joon melepaskan ciuman itu sena langsung terjatuh lemas dipelukan namjoon. Nam joon langsung memeluk sena sambil tersenyum simpul.

“kau akan mengingat semuanya gwaenchana..” ucap nam joon sambil mengusap pelan rambut sena dan saat itu juga angin itu serasa menghilang hingga nam joon menolehkan kepalanya kebelakang. Tak sengaja ia menatap sesuatu yang aneh diatas atap yang sedikit lebih tinggi dari tempat ia berdiri sekarang.

 

 

“tidak selalu takdir itu adalah takdir..dan tidak selalu takdir itu sudah ditakdirkan.. aku hobeom yang akan membantumu nam joon-ah..” ucap lelaki itu yang tiba-tiba pakaiannya yang sedikit aneh itu berubah normal dengan kaos dan jeans membuat pria itu mendengus kesal karena ini terasa aneh.

Namjoon yang melihat hal itu dengan mata kepalnya sendiri mulai merasakan perasaan yang tidak enak, apa orang itu orang baik atau orang jahat? Pikirnya.

 

***

 

“kau lihat itu??” Tanya hoseok pada eunshi yang tengah memainkan ponselnya diseberang tempat duduknya.

“ne??”

“ada sesuatu yang berjalan sangat cepat di koridor, seperti… angin?” ucap hoseok bingung sambil sedikit memicingkan matanya ragu.

“eung??” dengus eunshi juga heran menatap hoseok yang wajahnya juga bingung. Hoseok juga tidak yakin dengan apa yang ia lihat namun ia benar-benar yakin jika baru saja melihat sesuatu yang sangat cepat dikoridor itu.

“kurasa sekolah ini memang angker..” gumam hoseok pelan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang mulai terasa cukup dingin. Sementara eunshi yang polos hanya menggembungkan sebelah pipinya bingung dan kembali sibuk dengan ponselnya.

 

***

 

“apartment ini milikku, tak seorangpun tau jika aku membeli apartment ini termasuk ayahku. Aku menjadikan apartment ini sebagai tempat untukku menyendiri. Jadi tidak akan terlalu banyak terpakai, ibu mu bisa tinggal disini. Setidaknya apartment ini tidak akan sia-sia..” ucap taehyung pada ok jung yang berjongkok dilantai menggenggam tangan ibunya yang duduk dikursi roda itu.

 

“taehyung-ah gomawo..” ucap ok jung pelan ketika ia sudah merebahkan kepalanya dipangkuan ibunya itu.

 

Taehyung yang melihat hal itu langsung menolehkan kepalnya sambil menggigiti bibirnya gugup. Terlihat ia sedang menahan air matanya, ia benar-benar tidak tahan hingga ia lebih memilih untuk pergi ke toilet.

 

Di toilet itu taehyung langsung mencuci mukanya dengan air yang mengalir tanpa henti hingga ia menatap matanya dari kaca wastafel itu. Matanya sedikit memerah karena ia mencuci wajahnya dengan sedikit gila.

Perasaannya sedikit sakit melihat ok jung bersama ibunya. Bukan karena ok jung tapi karena ibunya. Ia juga merindukan sosok ibu dalam hidupnya, ia benar-benar merindukan ibunya. Ia sudah tidak mengingat lagi seperti apa ibunya. Seingatnya ia ditinggali ibunya setelah kedua orang tuanya memilih berpisah dan ibunya pergi bergitu saja. Taehyung kembali membasuh wajahnya hingga kini kemeja sekolahnya ikut basah oleh air.

 

“ok jung-ah.. kau bisa menginap disini jika kau mau, sebentar lagi suster yang merawat ibumu akan datang. Aku harus segera kembali ke sekolah..” ucap taehyung ragu dan langsung berjalan kearah pintu setelah mengambil ponsel dan cardigannya.

 

“n..ne..” jawab ok jung sedikit ragu sambil menatap punggung taehyung yang kini sudah pergi. Ok jung terlihat heran dengan taehyung, suara taehyung terdengar berbeda dari sebelumnya. Apa taehyung menangis? Pikirnya.

 

***

Dikelas terlihat yoongi yang tersenyum senang ditengah quiznya. Ia seakan percaya diri dengan jawaban yang ia tulis walaupun sebenarnya ia mengambil lembaran jawaban gurunya ketika waktu bumi terhenti begitu saja. Ia seakan sangat berterimakasih pada nam joon yang memberhentikan waktu disaat yang tepat, sangat tepat hingga sudah pasti ia akan mendapatkan nilai 100 untuk quiz mendadak fisikanya itu. Namun bagaimana perasaan yoon gi jika tau waktu berhenti disaat nam joon mencium sena? dan bagaimana perasaan yoongi jika tau sena adalah adik kandungnya. Apakah senyuman itu masih akan tetap ada diwajah yoongi walaupun jika itu adalah senyuman ketika yoongi berhasil menyelesaikan lagunya, sebuah senyuman untuk dirinya sendiri?

 

Hari ini jadwal murid jewelry memang mulai padat karena hampir mendekati ujian semester. Bahkan dijam kelas mandiri yang biasanya murid-murid lebih memilih untuk berada diasrama kini lebih banyak berada di perpus. Tak terkecuali jungkook, jungkook seorang murid nakal yang benar-benar bertekad untuk berubah kini belajar sambil mengikat kepalanya dengan sebuah bandana berwarna merah membuat seorang gadis yang duduk disamping jungkook langsung mendorong kursinya itu kebelakang karena terkejut menyadari jika orang yang berada disebelahnya adalah jungkook.

 

“nuna..” ucap jungkook menyadari jika gadis itu adalah Jung Eun Shi. Gadis yang ia kira sebagai nunanya ketika dikamar asrama itu. Jungkook terlihat canggung ketika mengingat kelakuannya yang memang cukup keterlaluan saat itu, ia juga sedikit takut jika eun shi ingin kembali memukulnya. Tiba-tiba Jungkook langsung mengemasi buku-bukunya dan menulis sesuatu dengan tulisan latin disebuah sticker note berwarna pink tua dan menempelkan sticknote itu dilayar PC meja eunshi.

Setelah jungkook keluar dari perpus, eunshi meraih sticker note itu dan membacanya dengan kening yang berkerut. Ia bahkan mendengus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menatap punggung jungkook yang kini sudah menghilang.

 

“dia benar-benar bodoh..” gumam eunshi pelan.

Tertulis dikertas itu ‘Follow I’ membuat eunshi meremas kertas itu dan melemparnya begitu saja ketong sampah dan kembali melanjutkan acara belajarnya. Namun konsentrasinya benar-benar pecah sekarang hingga ia berdiri dan mengemasi buku-bukunya dengan kesal. Mau kemana lagi kalau bukan menemui jungkook. Dengan wajah kesal eunshi berjalan keluar dari perpus itu membuat beberapa siswa disana menatap eunshi dengan kesal, karena konsentrasi mereka juga terganggu oleh eunshi.

 

***

 

Disebuah mini market tak jauh dari jewelry terlihat ji hwa yang sedang menikmati ramyun cupnya sendirian. Tidak biasanya ji hwa pergi ke market dan memakan ramyun ditengah malam, ji hwa takut sendirian di asrama Karena subyong yang tak kunjung kembali dari tadi sore hingga sekarang begitu pula dengan ok jung yang tak kunjung kembali bersama taehyung.

Ji hwa memakan ramyun itu cukup terbuuru-buru Karena masih panas. Tiba-tiba seseorang meraih ramyun cup itu dan memakannya dengan lancangnya. Lelaki itu hanya meninggalkan kuah nya saja di cup itu membuat ji hwa menatap kesal pada orang itu.

 

“YYA!! TAEHYUNG!!!” teriak ji hwa tak terima sambil memukul kepala taehyung. Namun terlihat taehyung sedang mengeluarkan air matnaya membuat ji hwa heran. Apa taehyung seorang lelaki yang penangis? Hanya dijitak seperti itu langsung membuatnya menangis dihadapan wanita? Pikir ji hwa heran.

“kenapa ramyunmu terasa aneh.. kau memasukkan wasabi??” Tanya taehyung dengan wajahnya yang terlihat kesal namun jelas sekali jika itu dibuat-buat. Taehyung yang melihat tissue didepannya meraih tissue itu untuk mengahpus air matanya dan bahkan mengeluarkan ingusnya dengan kencang agar ji hwa benar-benar yakin jika taehyung benar-benar tidak menyukai wasabi.

 

“kau menjijikkan.. ini yang membuat jimin tidak nyaman denganmu??” Tanya ji hwa dan langsung dibalas tatapan tak suka dari taehyung.

“kudengar kau bertengkar dengan jimin hanya Karena masalah sepele. Taehyung kau egois, kau hanya memikirkan kesenanganmu.. kau tau jika jimin masih menganggabmu sebagai temannya? Ia bahkan tersenyum kagum melihatmu membawa lari ok jung, kau benar-benar the real man..” ucap ji hwa sambil memberikan ancungan jempolnya pada taehyung membuat taehyung menggaruk telinganya dengan malas.

 

“lalu dimana ok jung?” Tanya ji hwa heran.

“wae??” Tanya taehyung heran.

“apa dia sudah diasrama? Kalau begitu aku akan ke asrama sekarang juga..”

“kenapa harus menunggu ok jung? Bukankah kamar mu ada??” Tanya taehyung tak terima.

“subyong selalu keluar malam, jadi aku sering tidur dikamar ok jung karena ok jung tinggal sendirian dikamar itu..” jelas ji hwa sambil meraih minuman kalengnya.

“subyong keluar malam??” Tanya taehyung memastikan dan dibalas dengan anggukan oleh ji hwa.

“aku tidak tau apa yang ia lakukan, ia juga tidak kembali semenjak tadi sore ketika tiba-tiba ia keluar dari kelas..”

“aku merasa subyong itu sedikit aneh semenjak pertama kali melihatnya..” ucap taehyung sambil menarik-narik bibirnya.

 

“dulu ditahun pertama, aku melihat subyong dan namjoon sedang bertemu di taman. Saat itu tengah malam dan aku tertidur diperpus, aku melihatnya dari kaca jendela. Bahkan aku melihat nam joon menunduk ketika subyong berbicara, nam joon hyung seperti takut dengan subyong. Kurasa ada yang aneh dengan mereka berdua, jadi aku ingin lebih dekat dengan nam joon hyung dan setuju untuk pindah kamar..” jelas taehyung dan langsung dibalas dengan tatapan tak percaya dari ji hwa.

“jinjjja??? Dulu aku juga tak sengaja melihat ponsel subyong yang dipenuhi dengan panggilan masuk dan keluar dari nam joon, bahkan aku tak sengaja membaca pesan dari nam joon ‘nuna, apa kita bisa bertemu sebentar?’” jelas ji hwa dengan mimic wajahnya yang juga bingung.

 

“nuna?? Bukankah subyong harus memanggil nam joon dengan panggilan oppa??” Tanya taehyung memastikan.

“ehm.. juga tak berapa lama ini aku melihat subyong yang terus tersenyum sepanjang malam, seperti baru saja mendapatkan ciuman pertama..” ucap ji hwa membuat taehyung semakin bersemangat untuk mendengarkan cerita ji hwa.

“jadi subyong dan nam joon punya hubungan rahasia?? Dan subyong sebenarnya lebih tua dari kita?” ujar taehyung dan langsung dibalas anggukan kencang oleh ji hwa. Taehyung langsung menggigiti kukunya memikirkan hal yang tidak-tidak. Hingga matanya tak sengaja menagkap sebuah mobil di tepi jalan itu.

 

“wae??” Tanya ji hwa heran pada perubahan ekspresi taehyung.

“tampaknya ada yang salah paham..” gumam taehyung sambil tersenyum jahil membuat ji hwa menggaruk alisnya karena bingung dan mengantuk.

“kau mau keasrama??”

“sudah kubilang aku…” taehyung langsung menarik tangan ji hwa membuat ji hwa merintih kesakitan karena yang ditarik oleh taehyung adalah lengan hoodie ji hwa membuat ji hwa memabanting lengan taehyung karena kesal.

 

“YYA!!!” teriak taehyung kesal.

“kau meneriakiku??” Tanya ji hwa tak terima hingga ia memukuli taehyung tanpa henti. Namun mata taehyung masih tertuju pada mobil yang ia tatap tadi, taehyung tidak peduli setelah membayar tagihan ji hwa ia langsung mendatangi mobil itu. Lampu mobil itu langsung menyala bersiap-siap untuk pergi namun taehyung lebih dulu untuk mengetuk jendelanya.

 

“apa yang kau lakukan??” Tanya ji hwa heran menatap punggung taehyung, ji hwa hanya berdiri dibelakang taehyung tidak menatap siapa orang yang berada didalam mobil itu.

“hyung.. keluarlah…” ucap taehyung masih terus mengetuk jendelanya.

 

 

Pintu itu terbuka dan seorang lelaki yang cukup tinggi dengan kaos bergambar Mario keluar dari mobil itu membuat ji hwa terdiam kaku.

“hyung.. lelaki jantan bukan seperti itu caranya menangani perasaan..” ucap taehyung sambil menepuk-nepuk pundak lelaki itu dan meninggalkan ji hwa dengan senyumannya yang penuh kemenangan itu.

 

“jin oppa.. a-aku.. aku harus keasrama..” ucap jihwa canggung pada lelaki bernama jin itu dan lebih memilih untuk meninggalkan jin. Namun jin langsung menarik lengan ji hwa, menatap ji hwa dengan datar lalu membukakan pintu mobil untuk ji hwa menyuruh ji hwa masuk kedalam mobilnya dan jin pun juga masuk kedalam mobil itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan lumayan penuh membuat ji hwa sedikit bergidik karena sedikit takut.

 

“oppa.. kau membawa ku kemana??” Tanya ji hwa bingung.

“kerumahku..” jawab jin cepat.

“mwo?? Wae??” Tanya ji hwa yang merasa sedikit terkejut dengan jawaban jin. Selama berpacaran dengan jin, jin tidak pernah membawanya kerumahnya. Kecuali saat mereka berdua masih kecil yang hanya pergi bermain kerumah satu sama lain dalam garis bawah teman dan bukan pacar.

 

“mianhae..” ucap jin tiba-tiba.

“ne?”

“mianhae… aku bodoh, aku tidak mengerti dengan perasaan orang yang kucintai. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya kau menjauh dariku,bagaimana caranya agar kau cepat untuk melupakanku, aku benar-benar bodoh dan ternyata aku menyakiti banyak perasaan wanita disekitarku. Termasuk kau? Dan hanna. Aku menghancurkan hubungan kalian, juga tidak berani berhadapan dengan kalian. Aku sudah menjelaskan semua ini pada hanna, namun aku benar-benar bersalah tidak mengatakan yang sejujurnya padamu.. mianhae..”

“oppa..”

 

“sebenarnya saat itu aku akan bertunangan dengan goo hara..” ucap jin sambil menggenggam erat stir mobilnya membaut ji hwa menatap jari manis jin dengan heran karena terdapat sebuah cicin perak yang terlingkar disana. Ji hwa terlihat sedih mendengar kebenaran itu, ini benar-benar sudah terlambat.

“namun aku akan menentang itu.. kumohon kau berada dibelakangku. Aku hanya ingin bersamamu. Ji hwa-ya..” ucap jin menolehkan kepalanya pada ji hwa, menatap ji hwa dengan segenap hatinya yang hanya ditujukan pada ji hwa. Saat itu juga ji hwa hanya diam menatap jin tidak tau harus berkata dan melakukan apa.

 

Jin meraih tangan ji hwa dan mengelus kepala ji hwa dengan lembut. Ia benar-benar merindukan ji hwa saat ini. Ia merindukan moment seperti ini. Ia merindukan tawa dan suara manja ji hwa yang hanya ditunjukkannya pada jin.

“saranghae..”

 

***

 

“makanlah semuanya nuna.. aku mentaraktirmu, anggab sebagai rasa permohonan maaf ku padamu..” ucap jungkook sambil melemparkan 2 kantong besar makanan ringan pada eunshi. Eunshi hanya menangkap lemparan kantong itu dengan bingung dan shock.

 

“YYA!!” teriak eunshi tidak terima. Jungkook seakan memperlakukannya sebagai perempuan yang cukup rakus. Eunshi berdiri dari duduknya dan melempar kantong belanjaan itu pada jungkook.

 

“bagaimana perasaanmu diperlakukan seperti itu??” ucap eunshi sambil menatap jungkook dengan kesal.

“mianhae..” ucap jungkook masih tersenyum memperlihatkan bunny teeth nya membuat eunshi tak tega bersikap seperti itu pada jungkook karena seakan-akan jungkook bertingkah layaknya anak kecil yang berusaha tegar saat dimarahi oleh nunanya.

 

“kau selain mesum ternyata juga bodoh.. aku tak menyangka, apa yang membuatmu lulus dari SMP jika bahasa inggrismu seperti itu??” ucap eunshi dengan angkuh melipat kedua tangannya menatap penampilan jungkook dari bawah sampai atas. Penampilan jungkook benar-benanr tak sesuai dengan otaknya. Namun ketika menatap wajah jungkook ia sedikit gugup hingga mengalihkan tatapannya pada rumput disebelahnya.

 

“nuna.. aku ingin belajar, kau mau mengajariku? Sena nuna dia terlalu sibuk dengan masalahnya akhir-akhir ini. Jadi aku ingin belajar denganmu.. nuna??” pinta jungkook masih menampilkan senyumannya membuat eunshi sedikit mendengus karena tak tahan. Jungkook begitu imut tampak baginya, kenapa ia terus tersenyum seperti itu? Apa tak ada hal lain yang bisa ia tunjukkan untuk membujukku? Pikir eunshi sambil menatap jungkook dengan sebelah matanya.

 

“berhenti tersenyum didepanku..” ucap eunshi dingin.

“karena senyumku terlalu manis??” ucap jungkook sambil menunjuk wajahnya.

“anni.. karena gigimu terlalu besar untuk ku pandang..” ucap eunshi datar.

Saat itu juga wajah jungkook langsung berubah datar dan kesal. Jika scene ini ditampilkan disebuah drama mungkin sebuah animasi pemandangan desa dengan matahari berwajah jungkook menampilkan senyuman bunny teethnya, tiba-tiba saja matahari itu meleleh hingga desa itu menjadi terbakar dan menghitam seperti bara.

 

“besok dikelas mandiri kau temui aku..” ucap eunshi ragu sambil membuang muka pada jungkook. Saat jungkook menatap eunshi dengan tatapan sangat senang eunshi langsung mendengus kesal dan berjalan meninggalkan jungkook. Jungkook hanya tersenyum dan menggepal tangannya karena senang.

“aku meninggalkan sesuatu..” ucap eunshi yang tiba-tiba kembali dan mengambil dua kantung belanjaan yang berisi makanan ringan yang ditolak mentah-mentah oleh eunshi tadi.

Jungkoook hanya menatap sedikit kesal pasa eunshi.

 

“itulah contoh wanita yang terlalu jual mahal..” gumam jungkook pelan menatap eunshi dari belakang dengan decakan herannya dan berjalan dengan santai menuju asrama untuk beristirahat mengumpulkan tenaganya di esok hari.

 

***

 

“jimin-ah.. ireona..” panggil sang in pada jimin yang masih tertidur didalam kelas.

“eung??” eluh jimin yang bangun dan kemudian menguap sambil merenggangkan otot-otot punggungnya membuat sang in mendengus kesal.

“sebaiknya kau tidur diasrama jika tak akan belajar..” ucap sang in sambil mengemasi bukunya kedalam tas.

“tunggu..” ucap jimin ketika sang in bersiap untuk meninggalkan kelas. Saat itu jimin segera menyandang tasnya dan meraih tangan sang in untuk ke asrama bersama. Sang in menatap jimin dengan heran dan tak percaya. Baru kali ini seorang lelaki menggenggam tangannya.

 

Kenapa jimin selalu yang menjadi pertama untukku? Batin sang in.

 

“apa hanna sudah sembuh??” tanya jimin tiba-tiba. Saat itu juga wajah sang in yang cerah langsung berubah mendung.

“wae? Apa dia semakin parah? Kenapa tidak bawa kerumah sakit??” ucap jimin ketika menyadari perubahan raut wajah sang in.

“dia sudah sembuh, besok dia akan kembali bersekolah..” ucap sang in biasa dan dibalas dengan senyuman simpul oleh jimin.

 

“sang in-ah.. bisakah kau tanyakan pada hanna, klub apa yang akan ia pilih??” ucap jimin sambil tersenyum malu.

“ne.. aku akan mengirimmu pesan nanti..” ucap sang in menampilkan senyum paksanya sebelum memasuki gedung asramanya.

 

Dikamar itu terlihat sang in yang memasuki kamar dengan tatapan tak bersemangat begitupun saat ia membuka kaosnya dan melemparnya kesembarang tempat.

“gwaencahana??” Tanya hanna yang datang dari balkon dengan segelas air putihnya.

“ne gwaenchana..” balas sang in biasa sambil melepaskan seragamnya hendak pergi menuju kamar mandi. Namun ketika akan memasuki kamar mandi ia terdiam sebentar dan menatap hanna yang sedang memainkan ponselnya diatas ranjang sambil bertelungkup mengangkat kedua kakinya.

 

“hanna-ya.. jimin memintaku untuk menanyakanmu tentang klub ekskul apa yang akan kau ikuti? Karena kepsek menyuruh kita untuk memilih kegiatan eksul sebelum ujian.. karena.. karena jimin menyukaimu..” ucap sang in terburu-buru diakhir kalimatnya sebelum masuk kekamar mandi itu.

 

Sementara hanna hanya terbatuk-batuk mendengar ucapan sang in itu. Ia menolehkan kepalanya kebelakang untuk menatap sang in namun sang in sudah terkunci rapat dikamar mandi itu. Hanna langsung terdiam bingung memikirkan jimin, sikap seperti apa saja yang ditunjukkan jimin padanya. Menurutnya sikap jimin itu biasa saja seperti taehyung dan teman lainnya.

“jimin menyukaiku? Bukankah dia hanya temanku..” gumam hanna bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya bingung.

 

Sedangkan digedung asrama itu jimin terlihat tersenyum simpul menggosok-gosok hidungnya sebelum menekan tombol lift yang baru saja ia masuki. Baru saja pintu lift itu tertutup namun seseorang dari luar menekan tombol itu membuat lift itu kembali terbuka. Betapa herannya jimin jika orang itu adalah taehyung. Taehyung juga terlihat canggung berjumpa dengan jimin. Memang ini terlihat kekanak-kanakan untuk bertengkar dengan masalah sepele namun taehyung adalah orang yang sangat gengsi untuk memulai pembicaraan jika terjadi suatu masalah dalam sebuah hubungan yang renggang.

 

Di dalam lift itu terlihat taehyung dan jimin hanya terdiam kaku tanpa suara. Taehyung hanya bersandar dibelakang sementara jimin hanya berdiri tegap ditengah-tengah lift itu.

 

“kau tampak kusut.. bagaimana dengan ok jung?” Tanya jimin menatap taehyung dari kaca dalam lift itu.

“apa urusanmu..” Balas taehyung ketus. Ia begitu sensitive mendengar jimin menyebut-nyebut nama ok jung karena jimin selalu mengatakan pada taehyung jika taehyung itu sedang menyukai ok jung, namun taehyung selalu membantah pernyataan jimin itu karena menurutnya tak mungkin ia menyukai ok jung, gadis yang jauh dari type idealnya.

 

“urusan temanku adalah urusanku juga, bukankah itu yang selalu kau katakan padaku??” ucap jimin menolehkan kepalanya kebelakang menatap taehyung dengan wajah lucunya yang biasa ia tunjukkan pada taehyung.

Bagaimanapun kondisinya yang namanya teman tetaplah teman. Bagaimanapun hubungan itu rusak atau menjadi renggang tak mungkin tak sedikitpun rasa untuk kembali memperbaiki hubungan renggang itu walaupun hanya sebesar biji jagung atau lebih kecil dari itu. Jimin menatap taehyung dengan senyuman tulusnya taehyung mulai luluh hingga tak tau ekspresi apa yang akan ia keluarkan. Ia hanya berdiri sedikit tegap dari sebelumnya sambil menggaruk belakang telinganya bingung. Ketika sudah sampai dilantai kamarnya taehyung lebih memilih untuk keluar lebih dulu meninggalkan jimin.

 

“kau terlalu sering mengurusi urusan orang lain, kau terlalu sering menerawangi masa depan orang lain. Namun bagaimana denganmu? Apa kau bahkan pandai membaca pikiranmu sendiri? Apakau pandai meramal masa depanmu sendiri? Setidaknya coba kau fikirkan itu. Siapa yang kau sukai? Siapa yang tak kau sukai? Apa kedepannya hidupmu tetap tenang atau akankah ada kejutan yang tak kau sangka akan terjadi kedepannya?? Aku tau kau taehyung yang pintar..” ucap jimin sambil meninju bahu taehyung dan berjalan meninggalkan taehyung menuju kamarnya.

 

Taehyung yang berdiri di tengah koridor itu hanya diam mematung. Perkataan jimin memang ada benarnya. Ia hanya sibuk pada pikiran orang lain hingga ia tak mengerti dengan pikirannya sendiri, Ia buta dengan pikirannya sendiri.

“kim taehyung-ssi! kau sedang dream walking??” Tanya seseorang yang baru keluar dari kamar jimin yang tak lain adalah hoseok. Hoseok bahkan menyenteri wajah taehyung walaupun koridor itu cukup terang karena lampu masih menyala.

“mwo?” ujar taehyung bingung lalu ia memilih untuk masuk kekamarnya meninggalkan hoseok yang sedang memegang senter itu, ia tak mau tau dengan apa yang akan dilakukan hoseok ditengah malam seperti ini mulai sekarang ia bertekad tak ingin ikut campur lagi dengan pikiran dan urusan orang lain walaupun itu pasti akan terasa sangat sulit baginya.

 

***

 

“oppa.. sepertinya dirumahmu ada acara, tidak apakah jika aku datang hanya dengan pakaian casual seperti ini??” ucap ji hwa canggung pada jin yang sedang melepaskan sabuk pengaman ji hwa dengan penuh perhatian.

“gwaenchana, eomma bukankah menyukaimu? Kedua orang tua ku sudah mengenalmu..” ucap jin santai lalu keluar dari mobil segera membukakan pintu mobil untuk ji hwa. Ji hwa hanya tersenyum tipis dengan perlakuan istimewa jin itu padanya. Sudah cukup lama ia menunggu jin kembali seperti dulu dan sekarang itu benar-benar terjadi walaupun masih terasa cukup canggung baginya.

 

“annyeonghaseyo..” sapa jin diruang tengah itu pada kedua orang tuanya. Namun berbeda dengan tatapan seorang wanita yang juga duduk di ruang tengah itu yang tak lain adalah goo hara bersama kedua orang tuanya. Dimeja itu terlihat sebuah kotak seperti cincin emas beserta sebuah contoh undangan membuat ji hwa yang berdiri dibelakang punggung jin terdiam heran.

 

“apa jin oppa akan menikah dengan hara? Secepat itukah?” pikir jihwa sambil menahan gejolak hatinya yang serasa akan meledak Karena begitu sakit rasanya dibawa oleh jin kerumahnya untuk melihat pemandangan seperti ini.

 

“ji hwa-ya?? Lama tidak berjumpa..” sapa ayah jin ramah pada ji hwa membuat ji hwa langsung membungkukkan badannya pada orang-orang terhormat yang ada didepannya.

“dia adalah anak dari Dr. Ricky Jung di rumah sakit kita..” ucap ayah jin ramah pada orang tua hara membuat orang tua hara juga tersenyum ramah pada ji hwa. Sementara hara yang kesal hanya menatap jin dengan tatapan tajamnya. Hara semakin kesal ketika menyadari jin yang tengah menggenggam erat tangan ji hwa dibelakang punggungnya.

 

“jin dan ji hwa berteman dekat semenjak kecil, jadi mereka sudah seperti adik kakak..” ucap ibu jin ragu namun tetap berwibawa dengan senyumannya.

“anniyo.. dia adalah yeojachinguku..” ucap jin biasa membuat semua mata terarahkan pada jin begitupula dengan ji hwa dan hara.

“appa, eomma, abeoji eomoni dan hara. Jung Ji Hwa adalah gadis masa depanku. Mianhaeyo, aku benar-benar tidak bisa menikah dengan hara. Abeoji, hara terlalu sempurna untukku. Aku lebih menyukai gadis yang sederhana seperti ji hwa..” ucap jin tetap dengan senyumannya pada ayah hara membuat wajah ibu hara muram karena tak suka.

 

“ahh.. itu, kita bicarakan nanti..” ucap ibu jin bingung pada ibu hara.

“maksudmu??” Tanya ayah hara bingung. Apa anaknnya baru saja dicampakkan oleh seseorang dihadapannya. Ia tak ingin putri semata wayang nya itu menangis dan bersedih Karena ia tau hara sangat mencintai jin.

“mianhaeyo abeoji, aku sangat mencintai wanita ini. Seharusnya aku melakukan hal ini lebih awal namun ayah terus memaksaku, untuk menghormati ayah akupun melakukannya semampuku. Tapi aku benar-benar tak sesuai dengan hara abeoji, ini demi kebaikan putrimu juga. Aku tak ingin menyakiti hati putri anda lebih dalam dan lama lagi. Kuharap abeoji mengerti bagaimana perasaanku..” ucap jin tenang sementara ji hwa hanya menatap jin dengan matanya yang seperti menahan tetesan air mata. Ia terharu dengan ucapan jin, ia menganggab selama ini jin benar-benar akan menganggabnya sebagai teman saja namun ternyata tidak, perasaan jin masih sama saja seperti dulu. Jin masih tetap mencintai ji hwa sebagaiman adanya.

 

“appa.. ini tidak boleh..” gumam hara sambil menggoyang-goyangkan tangan ayahnya. Ayah hara juga bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

“kalau begitu, pertunangan ini batal bukan?” Tanya jin pada orang-orang yang ada dihadapannya dengan santai membuat ayah jin semakin geram.

 

Hara yang semakin kesalpun memilih berlari keluar rumah jin dan diiringi oleh kedua orang tua hara. Bahkan keluarga Goo tak mau salah satu keluarga Kim itu untuk mengantarnya hingga depan. Mereka sangat kecewa terhadap keluarga Kim karena anaknya Kim Seok Jin sudah melukai hati anak semata wayangnya Goo Hara.

 

“jin keruanganku sekarang..” ujar ayah jin pada anaknya itu namun langsung ditolak oleh jin.

“appa aku tau apa yang akan apa katakan padaku, kau akan memukulku lalu akan menyita semua barang-barangku. Terserah apa yang akan appa lakukan padaku. Tapi tolong kali ini biarkan aku memilih, ini menyangkut perasaanku sendiri. Appa boleh mengatur otakku namun tidak dengan hatiku, aku sangat mencntai ji hwa sama seperti appa mencintai eomma. Appa..”

“diam kau..” ujar ayah jin dingin. Berbeda dengan ibu jin yang mulai luluh dengan ucapan jin, ia sadar ia juga sama seperti ji hwa. Ia berasal dari keluarga yang lebih rendah dari keluarga suaminya.

 

“yeobo.. hentikan..” ujar ibu jin namun ayah jin yang keras tak mau mendengarkan hal itu.

“kau.. ji hwa bisakah kau pulang sekarang?” ujar ayah jin sambil menatap ji hwa dengan dingin. Tatapan itu seperti tatapan kekecewaanya pada ji hwa, ji hwa yang ia anggab sebagai anaknya sendiri karena ia sangat dekat dengan jin juga ayah ji hwa yang juga sudah mengabdi selama bertahun-tahun di Wooridul Hospital dengan jabatan yang cukup tinggi.

 

“appa.. jika kau mengusir ji hwa sama saja appa mengusirkku..” bantah jin tak terima kemudian menarik ji hwa untuk keluar dari rumah yang lumayan besar itu.

“YYA!! SEOK JIN!!” panggil ayah jin namun tak dihiraukan oleh jin. Ji hwa hanya diam tak tau dengan apa yang harus ia lakukan.

 

Setiba digerbang rumah jin ji hwa langsung melepaskan tangan jin.

“oppa.. apa yang kau lakukan? Ayah mu pasti akan sangat kecewa padamu oppa..” ucap ji hwa sambil menangis pada jin.

“gwaenchana.. untuk sementara aku akan hidup mandiri. Aku akan buktikan pada mereka jika aku bisa melakukan semua hal dengan sendiri. Aku bisa memimpin Wooridul tanpa iming-iming apapun. Kau jangan bersikap seperti ini, jangan pernah melepaskanku..” ucap jin lembut sambil menghapus air mata ji hwa dan kembali menggenggam tangannya lembut.

 

Mendengar ucapan jin yang hangat itu membuat Ji hwa memeluk jin dengan erat. Ia begitu tersanjung dengan kata-kata jin. Jin benar-benar sudah berubah sekarang, jin semakin dewasa baginya sementara ia hanya bisa menyusahkan jin saja.

 

Jin melepaskan pelukannya pada ji hwa dan lebih memilih untuk menciumi bibir ji hwa dengan hangat. Ia sangat merindukan ji hwa, ia tak peduli jika seseorang atau siapapun akan melihatnya berciuman didepan gerbang rumahnya. Ia sangat merindukan ji hwa, jin hanya menempelkan bibirnya begitu saja didbibir ji hwa. Ia tak melakukanya dengan lebih karena ia tau ji hwa masih kecil dan belum terlalu dewasa untuk melakukan hal yang lebih seperti hal yang diinginkan oleh jin diusianya yang sudah lumayan matang itu.

 

“lalu oppa akan kemana?” Tanya ji hwa bingung.

“kau hanya sendirian dikamar asrama??”

 

***

 

Ditaman sekolah tempat hoseok menemukan gumiho itu terlihatlah hoseok yang sedang menyenteri setiap batang pohon dengan heran dan bingung. Kenapa tak ada cahaya atau apapun itu seperti halnya yang ia temukan malam kemarin?

Namun, ketika ia menolehkan kepalanya kegedung jewelry terlihat sebuah ruangan yang menampakkan cahaya putih berkelap-kelip, sebuah cahaya remang-remang seperti bukan berasal dari lampu apalagi lilin dan senter. Karena cahaya itu memantul hingga keluar dari jendelanya membuat hoseok semakin penasaran.

 

Hoseok benar-benar penasaran hingga ia memasuki gedung sekolah yang sudah lumayan sepi itu dan berlari kelantai tempat ia menemukan cahaya tadi. Dan sampailah ia disebuah ruangan klub yoga yang lumayan besar namun sepi tak ada orang satupun bahkan lampunya juga tidak menyala. Klub yoga benar-benar sepi semenjak sekolah sudah mendekati ujian. Namun, Hoseok tetap keukeuh yakin jika ia melihat cahaya itu disekitar tempat ini bahkan ia menyenteri setiap sudut ruangan namun tetap tak menemukan apapun.

 

“argh..” terdengar rintihan seseorang membuat hoseok terkejut, suara itu berasal dari sebuah lemari. Hoseok mendatangi lemari itu dan membukanya dengan ragu. Namun, tak ada apapaun dilemari itu tapi ketika ia membuka lemari disebelahnya betapa terkejutnya hoseok mendapati seorang murid berseragam jewelry dengan tangan dan kakinya yang aneh sementara wajahnya terbenam dipelukan kedua lututnya. Ia tak mau memperlihatkan wajahnya pada hoseok. Hoseok sedikit merinding menyadari kulit dari murid perempuan berambut hitam panjang itu juga berbulu kecoklatan seperti hewan.

 

“yya? Gwaenchana??” Tanya hoseok sedikit tegang dengan suaranya yang sedikit ditahan karena ia juga sedikit takut. Baginya ini adalah pertama kalinya melihat makhluk seperti itu. Hal yang biasanya terjadi di dalam drama kini terjadi pada dirinya sendiri.

 

“apa kau bisa membuat hujan turun??” gumam makhluk itu dengan suaranya yang seperti menahan rasa sakit. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba tubuh makhluk itu oleng dari dalam lemari yang tak terlalu tinggi itu. Dengan sigap Hoseok langsung berlari menghampiri makhluk itu, ia tak peduli seberapa mengerikannya sosok itu. Bagaimanapun makhluk itu yang jelas makhluk itu terlihat sangat lemah dan membutuhkan pertolongan, ia tak mungkin membiarkan makhluk itu menahan rasa sakit sendirian setidaknya ia bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan makhluk itu yang seperti terjebak oleh sesuatu.

 

Hoseok terlihat menggigiti bibirnya karena sedikit takut, namun ia sedikit khawatir karena sosok itu terlihat semakin melemah. Hoseok dapat melihat wajah sosok itu lebih dekat, wajahnya tidak terlalu ditutupi oleh bulu seperti tangannya. Wajah makhluk itu terlihat sangat cantik, ia berfikir jika sosok ini lebih cantik dari pada Kim Tae Hee ataupun Song Hye Gyo bahkan Bae Suzy yang dibanggakan oleh orang-orang saat ini. Ya, dia adalah Park Subyong yang sedang kritis.

 

Tiba-tiba subyong membuka matanya dengan lemah, mata itu terlihat cukup terang dengan sinar kehijauan dikegelapan layaknya hewan. Ketika mata itu bertemu dengan mata hoseok tiba-tiba petir menggelegar cukup keras, tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Perlahan-lahan tubuh subyong itu berubah layaknya manusia. Kaki dan tangannya kembali normal seperti manusia biasanya begitu pula dengan wajahnya yang terlihat semakin jelas dimata Hoseok.

Subyong terlihat sangat lemas hingga subyong kembali memicingkan matanya karena ia sudah terlalu lemah. Subyong terlihat sangat lemah dari biasanya, karena nam joon telah melakukan hal yang ia larang dari jauh-jauh hari itu pada sena. Namun, kali ini hal yang dilarang itu benar-benar permintaan subyong sendiri pada nam joon. Itu sebabnya nam joon mengikuti sena ketika ia hendak pergi ke hongdae untuk menemui ayahnya. Setidaknya beberapa masalah akan terselesaikan jika sena dapat mengingat semua masa lalunya.

 

“subyong-ssi?? Ireona??” panggil hoseok sambil memukul-mukul pipi subyong namun subyong benar-benar lemah hingga tak bisa membuka matanya walaupun ia masih mengeluarkan suara eluhan kesakitan.

 

Menyadari permintaan subyong tadi yang menginginkan hujan, hoseok segera keluar dari ruangan itu sambil menggendong subyong dipelukannya. Untung saja tak banyak murid yang berada disekolah sehingga tak ada orang yang bisa melihat kejadian yang genting ini.

 

Setiba ditaman belakang tempat ketika hoseok pertama kali menemukan subyong, hoseok langsung menyandarkan subyong ditepi pohon itu. Hoseok terus berusaha untuk membangunkan subyong namun tetap saja subyong tak kunjung sadar. Bahkan tubuh hoseok dan subyong sudah sangat basah kuyup sekarang oleh derasnya hujan. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan, tak mungkin jika ia memanggil orang-orang atau membawa subyong ke rumah sakit.

 

Perhatian hoseok tiba-tiba teralihkan pada kalung subyong yang terlihat aneh karena bersinar dengan mainan bergambar rubah. Hoseok memegang kalung itu dengan hati-hati dan tiba-tiba mainan kalung yang ia pegang itu menghilang dengan sendirinya. Hoseok langsung terpelanting kebelakang karena terkejut. Hal magic baru saja terjadi padanya. Apa ia benar-benar akan aman terus bersama subyong ditempat ini? Ia terus menatap subyong dengan cemas dan sedikit takut.

 

Tiba-tiba subyong membuka matanya, matanya sudah tak berwaran hijau lagi seperti tadi. Ia menatap hoseok dengan tatapan bingungnya, ia terlihat tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya barusan. Ia melihat kalungnya dengan heran yang sekarang sudah tak terdapat mainan rubah lagi dan menatap hoseok dengan tatapan tak percaya.

 

“apa yang kau lakukan??”

 

To be continued..

 

Huwaaa.. gumawo yang masih setia sama FF ini hehe.. untuk next part author posnya mungkin agust atau sept atau mungkin juga oktober karena author keknya benar-benar sibuk hikz.. jangan lupakan author ne??????

About fanfictionside

just me

25 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 6

  1. Weleh keren nuna :v
    bakalan lama dah nih nunggu ,oke lah fighting yeth thor =D

    taehyung jjiiaahaa ..
    Sampe luva mau ngmong apa gegara puanjang bingit😀

  2. next thor next!!!
    SENAAA NEXT OMEGAT??!!!
    JANGAN LAMA LAMA OR CIUM /GGG

    Apakah ternyata hoseok itu penyelamat subyong? JENGG JENGG..
    Apakah yg akan dilakukan hoseok dan subyong di tengah malem yang gelap dan sepi? JENGG JENGG JENGG JENGG..
    Apakah ternyata dia jodohku? JENGG JENGG /ha

    oke ini nyepam~_~ maaf kan aku

  3. Annyeong~
    Mian ya bru coment dsini thor😀
    Makin suka sma namjoon sena >.<
    jangan2 nnti hoseok bkal jdi gumiho? O.o

    ditunggu next part nya thor, fighting^^

  4. Ooo… Taehyung baik banget sma ok jung, smpe minjemin apartement segala.. Buruan di Door ya Ok jung nya Tae…hehe
    Jangan2 Hoseok cinta sejatinya subyong smpe bisa ngilangin kalung Subyong.. Tapi apa itu pertanda baik buat subyong ?
    Aku penasaran sama hubungan Namjoon-sena-yoongi nanti..
    Di tunggu next partnya..😀

  5. sena namjoon~ aku suka kalian demi apa… ♡♡ cie~~ taetae lagi falling in love ^^ part sena namjoon nya banyakin… next ditunggu… ♡♡♡

  6. kyaaaaaaa namjoon – sena aigoo aigoooo >_< next part banyakin couple ini thor😀

    cieeee cieeee taehyung udah mulai jatuh cinta xD uhuuuukkkk :v

    uhuuuuuuyyyyy…. gua yakin pasti hoseok adalah penyelamat s Gumiho Subyoung itu😀
    ahhhhh makin penasaran sm kelanjutannya

    next thor jgan lama"😀

  7. uwaaa makin seruu, semakin panjang makin seru nih 
    apa yang terjadi ama sena, jadi dia tau kalo rapmong nyium dia udah 3 kali :V tapi setelah dia bilang gitu, mendadak adeganya jadi bikin deg degan.. terus laki laki yang yang dateng itu siapa?
    penasaran.. dan suga kasian, ngga kebayang ntar gimana nasib ni anak/?
    jungkook eunshi, aku ngesip mereka.. wkwk lucu

  8. Huaaa nih ff tmbh keren😄 lope” sma cerita nya
    Ahhh smpe bingung mau ngomen apa
    -_-, huaa lama sekali bru d post tpi ttp d tunggu thor fighting😀

  9. Hampir gak ada typo…
    Di part ini aku melupakan ok jung soalnya jrng out.
    Bagaimana dgn perasaan yooongi nanti ?
    Bagiamana hub namjoon sama sena ?
    Apa hoseok dan subyong akan jatuh cinta?
    Gimana apa jin ikut tidur diasrama ?
    Baiklah sbg reader cuma bisa nunggu.
    Tapi jangan terlalu lama
    agustus wahh

  10. sempet ngakak pas hoseok pengen keluar nyari gumiho itu pake senter-.- oh idiotnya dirimu.
    Gyaaa… jangan-jangan hoseok itu cinta sejatinya subyong

  11. thor. mianhae aku baru nemu ff mu yg ini. alhasil aku ngebut baca dan baru coment sekarang. sumpah aku suka bgt thor baca ff mu. authornya daebak nih bikin ceritanya. thor fighting ya!^^)9 ditunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s