FF/ LOVE BAY/ BAP/ pt. 1


Title :   Love Bay! (Part 1)

Bay 1 : Baby? Senior? How can they came into my world at same time?!

Author : A-Mysty

Cast :   Myo Jung Hwan (OC)

            Lee Se Won (OC)

            (BAP)

Length : Mini Series (Monthly Update)

Rating : Shoujo 16+ or 17+

Genre : Slice of Life, Romance, Friendship.

Greeting First!

Halo~ Mysty balik dengan cepat /?

Kali ini, aku bawain FF romance. Bedanya adalah genre-nya saja. Sepertinya, FF ini bisa disebut full romance kayaknya. FF ini terinspirasi sebuah manga Jepang lama. Namun, alurnya murni dari otakku. Hanya terinspirasi saja. Semoga suka, maaf jika awalnya membosankan atau alurnya terlalu cepat. Karena ini part 1, jadi masih sering ‘menyenter’ sang OC-nya terlebih dahulu. Oh ya karena ini mini series, jadi setiap 1 partnya mungkin 20 pages atau lebih.

Selamat Membaca! ^^

 

 


 

Jung Hwan menundukkan kepalanya dan memainkan kedua jarinya asal. Ia sengaja seperti itu untuk menutupi rasa malasnya. Ia melakukan sandiwara kecil agar terlihat bahwa ia menyesal datang terlambat dan melupakan janji untuk bertemu komandan hari ini.

Tak hanya Jung Hwan saja yang menundukkan kepalanya, Se Won, Geun Ho dan Sae il pun sama. Karena mereka satu tim dengan Jung Hwan ketika melakukan penyelamatan, jadi mereka terkena imbas juga.

Kali ini komandan yang berkunjung ke markas di Busan ini adalah komandan wanita. Komandan yang sudah berumur paruh baya itu masih aktif di bidang sosial seperti ini. Banyak yang mengatakan bahwa komandan itu adalah wanita yang tidak takut api. Meskipun, sekujur tubuhnya pernah nyaris terbakar api.

“Myo Jung Hwan, kenapa kau selalu datang tidak tepat waktu?” tanya Komandan Kim, si wanita paruh baya itu.

Jung Hwan mengangkat kepalanya dan menunjuk dirinya sendiri. Komandan Kim pun menganggukkan kepalanya dan melipat kedua lengannya di depan dadanya. Wanita paruh baya itu terlihat tidak sabar untuk mendengar jawaban dan alasan Jung Hwan. Hal ini sudah terjadi untuk kedua kalinya. Baru beberapa bulan yang lalu ketika komandan datang berkunjung, Jung Hwan juga datang terlambat seperti ini. Oleh karena itu, Komandan Kim mulai ragu dengan predikat yang pegang oleh gadis yang baru berumur 21 tahun itu.

“Saya… Jujur saja, saya lupa akan janji untuk menemui anda hari ini. Saya hanya ingat ini adalah hari libur. Oleh karena itu, saya kira pertemuan ini dibatalkan,” jelas Jung Hwan. Raut wajahnya tidak terlihat takut sama sekali ketika menatap bola mata cokelat muda komandannya sendiri.

Se Won mengusap wajahnya asal, lalu menepuk dahinya sendiri. Sae il dan Geun Ho hanya mengembuskan napasnya pasrah. Komandan Kim yang mendengarkan alasan Jung Hwan itu terlihat jengkel seketika. Wanita paruh baya itu mengambil sebuah tongkat kecil yang sering ia bawa. Tanpa basa-basi lagi, wanita itu melepaskan topi yang dikenakan Jung Hwan cepat. Lalu, memukul kepala gadis itu dengan tongkat itu.

Jung Hwan hanya bisa menyerngit dengan kedua bahu yang terangkat. Tiga orang lainnya hanya bisa menyiapkan mental untuk menerima pukulan tongkat itu. Se Won menutup kedua matanya rapat-rapat dan mengigit bibir bagian dalamnya.

“Jangan karena kau memiliki predikat terbaik kau bisa berbuat seenaknya. Siapa bilang kalau hari libur, segala pertemuan apapun akan dibatalkan? Peraturan tidak pernah merincikannya. Kalau itu benar ada, berarti segala tragedi kebakaran yang terjadi hari ini, kau lalaikan hanya karena hari libur?” Komandan Kim masih mengetuk-ngetukkan tongkat itu di kepala Jung Hwan. Pelan namun tekanan tongkat itu sangat terasa di ubun-ubun Jung Hwan.

Se Won membuka matanya sedikit, kemudian mengendus lega. Untung saja, hanya Jung Hwan yang terkena pukulan dari tongkat itu. Sebenarnya memang tidak sakit, karena tongkat itu hanya setebal 3 lidi yang digabungkan. Tapi, tetap saja tidak enak.

“Maafkan saya…” ujar Jung Hwan dengan suara yang bergumam. “Saya minta maaf akan hal ini.”

Komandan Kim mengembuskan napasnya malas. Kemudian, ia menghentikan pukulan tongkat kecil itu. Wanita paruh baya itu berdiri tegap dengan gaya berkacak pinggang yang tegas, “Sekali lagi kau begini atau lain kali kau begini… Saya tak segan akan mencabut predikatmu dan mengembalikanmu ke Daejeon!”

Mendengar kata Daejeon, Jung Hwan langsung mengadahkan kepalanya lagi. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya menganga. Gadis itu langsung menarik sebelah tangan Komandan Kim sambil memohon.

“Saya mohon jangan! Jangan balikan saya ke Daejeon! Baiklah, saya tidak akan seperti ini lagi. Saya janji!” ujar Jung Hwan sambil memegang telapak tangan keriput Komandan Kim.

Se Won, Geun Ho, dan Sae Il saling bertukar pandang kebingungan. Sudah hampir 2 tahun bekerja menjadi pemadam kebakaran bersama Jung Hwan, mereka baru mendengar gadis itu bisa memohon. Biasanya, Jung Hwan bertindak seenaknya namun dalam tujuan yang baik. Tapi terkadang, gadis itu benar-benar dingin dengan sifat egois yang cukup tinggi.

“Kau akan saya letakkan di dalam masa percobaan pertama. Untuk saat ini, ketua tim penyelamatanmu akan saya berikan kepada Se Won terlebih dahulu! Saya akan memberikan kedudukanmu kembali ketika kebiasaan terlambatmu itu berubah! Mengerti?!” ujar Komandan Kim tergas. Meskipun sudah paruh baya, ternyata sifat tegasnya masih melekat di dirinya.

“Saya mengerti!” ujar Jung Hwan yang langsung menegakkan badannya. Suara gadis itu terdengar sangat lantang.

Komandan Kim pun tersenyum pasti dengan sahutan Jung Hwan. Kemudian, wanita paruh baya itu berjalan meninggalkan 4 orang yang masih mematung dengan posisi menghormat. Komandan Kim bersama bawahan kepercayaannya berjalan keluar ruangan dengan postur tubuh yang terlihat tegas untuk seorang wanita tua.

Ketika Komandan Kim sudah keluar dari ruangan , Jung Hwan dan yang lain menurunkan tangannya secara bersamaan. Endusan napas lega terdengar secara bersamaan pula. Jung Hwan mengusap ubun-ubun kepalanya yang terasa berdenyut. Se Won mengembung-kempiskan pipinya tidak jelas. Sedangkan Sae Il, menatap pintu ruangan yang sudah tertutup rapat.

“Noona tak apa, kan?” tanya Geun Ho dengan suara lantang dan beratnya.

Jung Hwan menjauhkan telapak tangannya dari ubun-ubun, kemudian tersenyum yakin, “Aku tak apa, Geun Ho-ssi. Aku sudah biasa menerima rasa sakit dari pukulan tongkat itu.”

“Tapi, tetap saja. Terkadang, orangtua bisa berbuat seenaknya saja, ya?” Geun Ho mendenguskan napasnya keras-keras.

Se Won menatap Jung Hwan yang tengah mencibir tidak jelas sendirian. Cibiran dari mulut gadis itu sepertinya berisi tentang Komandan Kim barusan. Se Won mulai berjalan mendekati Jung Hwan, kemudian menjitak kepala gadis itu cukup keras.

Bletak

“Sakit!” pekik Jung Hwan keras. Cibirannya terhenti karena jitakan Se Won. Jung Hwan mendelik menatap Se Won, “Aduh kau ini! Apa salahku padamu?!”

Se Won tersenyum meledek ke arah Jung Hwan, “Itu hukuman dariku, karena aku yang menjadi ketua tim mulai sekarang. Bagaimana rasanya? Sakitnya tidak seberapa, kan?” Se Won terlihat begitu meledek Jung Hwan.

“Akan aku tunjukkan bagaimana nyeri jitakan yang sebenarnya, Ketua!” balas Jung Hwan cepat.

Gadis itu langsung menjitak ubun-ubun Se Won kencang. Pekikkan Se Won terdengar sangat melengking. Geun Ho dan Sae Il menoleh ke arah dua wanita yang lebih tua dari umur mereka itu. Dua wanita itu malah tertawa-tawa tidak jelas sambil saling menjitak kepala.

“Perempuan itu… meskipun sudah menginjak kepala dua, tetap saja sifatnya seperti remaja berumur 15 tahun,” ujar Sae Il cukup kencang. Sae Il menggelengkan kepalanya tidak jelas mengingat umur dari dua noona itu. Jung Hwan yang sudah berumur 21 tahun, sedangkan Se Won sudah berumur 24 tahun.

Jung Hwan dan Se Won langsung menoleh ke arah Sae Il bersamaan. Mereka berhenti menjitakkan kepala satu sama lain itu. Geun Ho tercekat kaget, secara refleks menunjuk ke arah Sae Il. Ia melambaikan kedua tangannya seperti mengatakan ‘bukan aku yang berbicara, tapi Sae Il’.

“Apa yang kau katakan barusan?” ujar Jung Hwan dan Se Won bersamaan.

Sae Il menutup mulutnya dan tertawa canggung, “Bukan apa-apa, Noona. Aku hanya bergurau.”

“Aku rasa ada orang lebih tepat untuk merasakan jitakkan tangan ini,” ujar Se Won mendelik ke arah Jung Hwan dengan senyum jahil yang sumringah. Jung Hwan pun mengangguk setuju.

Dua gadis yang bisa dibilang sudah dewasa itu berjalan menghampiri Sae Il dengan langkah yang sangat cepat. Tanpa berkata apapun lagi, Se Won dan Jung Hwan menjitak kepala Sae Il bersamaan.

“Maafkan aku, Noona!”

@@@

Hari-hari berjalan seperti biasa bagi Jung Hwan. Ia hanya duduk di markas pemadam kebakaran bersama rekan kerjanya yang lain. Yang mereka lakukan hanya menatap radar tempat tertentu untuk mengetahui apakah terjadi kebakaran atau tidak. Jung Hwan menatap sekitarnya sambil meneguk tehnya asal. Ia merasa sangat bosan sekarang.

Bukannya ia berharap rumah seseorang terbakar atau apapun yang berhubungan dengan api. Tapi, sudah hampir 2 minggu lamanya timnya tidak beroperasi. Sekalinya ada, itupun hanya bisa dilakukan oleh satu truk saja. Mengingat itu, Jung Hwan merasa dirinya adalah seorang pengangguran.

Ditengah pikirannya, sirine markasnya berbunyi nyaring sekali. Jung Hwan kembali sadar dan menoleh menatap Se Won yang tengah duduk di depan monitor radar. Se Won tampak menekan-nekan mouse itu cepat untuk mengetahui titik terjadinya kebakaran.

“Apartemen X lantai 5, di Jalan Hanwon Nomor Z!” teriak Se Won yang meninggalkan kursinya.

Jung Hwan juga tak kalah cepat. Gadis itu merambet jaket anti-panas beserta topinya. Se Won dan Jung Hwan turun dari ruangan markas itu dengan tiang besi yang memang dikhususkan untuk para pemadam kebakaran turun dengan cepat. 1 truk pemadam kebakaran sudah berangkat lebih dahulu. Jung Hwan dan Se Won berlari menuju truk satunya, dimana Geun Ho-lah yang menyetir.

Ketika dua gadis itu sudah masuk ke dalam truk, Geun Ho langsung menjalan truk tersebut dengan sirine yang menyala. Terkadang suara sirine mobil pemadam kebakaran terdengar sangat mirip dengan mobil ambulance. Oleh karena itu, banyak kendaraan yang minggir di pinggir jalan.

Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Jung Hwan bersama yang lain sampai di lokasi yang tadi Se Won teriaki alamatnya. Sae Il melompat turun bersama satu orang pemadam kebakaran yang lain, lalu bergerak mengulur gulungan selang besar itu. Geun Ho pun turun dari truk dan memegang kepala selang yang sudah siap untuk menyemprotkan air.

Jung Hwan, Se Won, beserta 6 anggota penyelamat lainnya, berlari memasuki gedung apartemen itu. Karena mereka berdelapan, mereka memutuskan untuk terpecah menjadi dua kelompok. Jung Hwan bersama dua laki-laki dan satu perempuan lain bertugas untuk mengecek dan mendobrak setiap ruangan yang –mungkin sudah- tersambar api. Sedangkan, Se Won dan 3 pemadam perempuan yang lain berusaha mengarahkan korban yang masih bisa melarikan diri ke pintu darurat dan pintu utama.

Meskipun sudah menjadi 2 kelompok, pada akhirnya mereka melakukannya masing-masing. Rekan Jung Hwan yang lain mendobrak beberapa pintu dan menyelamatkan korban yang terjebak di dalam ruang apartemen. Nmaun, Jung Hwan mendengar sesuatu yang asing dari salah satu ruang apartemen yang sudah terbakar oleh api. Ia mendengar suara tangis bayi yang khas di kamar apartemen yang sudah hampir hangus sepenuhnya. Gadis itu meminta salah satu rekannya membantunya untuk masuk ke dalam ruangan itu.

Suara tangis bayi itu semakin terdengar di telinga Jung Hwan. Gadis itu terpisah dengan rekannya ketika sudah menemukan korban yang harus diselamatkan. Jung Hwan menatap ke dalam sebuah ranjang bayi. Didalam ranajang itu ada bayi, ah tidak, batita mungil. Batita itu menangis dengan kencang. Dengan cepat, Jung Hwan mengangkat batita itu dan mendekapnya.

Gadis itu berjalan menuju sebuah jendela yang belum tertutupi reruntuhan yang sudah dilingkupi api. Dengan tendangannya, jendela apartemen itupun pecah. Gadis itu memberi sebuah isyarat kepada rekannya yang lain untuk mengeluarkan alas mendarat secepatnya. Geun Ho melihat isyarat yang Jung Hwan kirim. Lekas, laki-laki yang baru berumur 18 tahun itu memanggil beberapa rekan lainnya untuk mengambil sebuah alas mendarat yang cukup lebar.

Setelah semuanya siap, Jung Hwan mendekap batita itu semakin erat. Api di dalam kamar itu semakin berkobar dan membesar. Gadis itu melompat turun dan mendarat dengan pasti di alas itu. Batita itu menangis keras di dalam pelukannya. Jung Hwan berusaha untuk menenangkan batita itu dengan segera berlari ke dalam truk.

Butuh waktu 2 jam lebih untuk memadamkan api yang sudah mengganas itu. Ketika semuanya berhasil menyelesaikan tugasnya, Se Won menghampiri Jung Hwan yang tengah menggendong batita yang belum lama diselamatkan itu.

“Ini buruk.” ujar Se Won dengan tatapan panik dan juga sedih.

“Apa?” tanya Jung Hwan. Kedua tangannya mendekap erat batita yang sepertinya akan tertidur. Jung Hwan terpaksa berhenti beroperasi hanya untuk menenangkan batita malang itu.

“Kedua orangtua dari bayi itu tidak dapat di selamatkan…” ujar Se Won yang menunjuk ke dua kantung jenazah yang baru saja dimasukkan ke dalam ambulance.

Kedua mata Jung Hwan melebar sektika, “A-apa?”

“Joon dan Myung Ki tidak berhasil menyelamatkan mereka. Separuh wajah sang suami sudah terbakar oleh api. Sedangkan sang istri… ia mati tertimpa plafon kamar yang runtuh serta terbakar. Sangat mengenaskan… Tapi, kau berhasil menyelamatkan batita itu. Kau memang hebat!” jelas Se Won, kemudian diakhiri dengan sebuah pujian bangga.

Jung Hwan tidak memedulikan pujian temannya itu. Gadis itu menatap batita yang sudah menutup kedua matanya rapat di dalam dekapannya. Jung Hwan menjilat bibirnya sendiri, kemudian berkata, “Lalu, bagaimana dengan anak ini?”

Se Won mengembuskan napasnya perlahan, “Entahlah. Pihak kepolisian akan membantu untuk mencari suadara dari anak ini.”

“Sampai kapan?” tanya Jung Hwan dengan dahi yang sedikit mengerut.

“Aku tidak tahu pastinya. Tapi, batita itu akan dititipkan di rumah sakit anak terlebih dahulu untuk di bersihkan dari kuman-kuman dan… kau tahulah sendiri.” jawab Se Won dengan memutar bola matanya sendiri.

Jung Hwan hanya bisa menarik napasnya, kemudian mengembuskannya lagi ke atas.

@@@

Ini sudah hari ke-delapan, batita itu dititipkan dirumah sakit anak yang cukup terkenal di Busan. Pihak kepolisian juga sudah berhasil menemukan beberapa kerabat dari keluarga orangtuanya. Sayangnya, tak ada satupun dari mereka yang mau merawat dan membesarkan batita tersebut. Ditambah, pihak rumah sakit juga sudah tidak mau menanggung batita itu lebih lama lagi.

Jung Hwan dan Se Won berjalan masuk ke lorong rumah sakit untuk melihat batita itu hari ini. Sebenarnya Jung Hwan tidak ingin pergi, tapi Se Won memaksanya. Se Won memang terkenal dengan sifat penyayangnya, namun juga menjengkelkannya. Tapi saat ini, sifat penyayangnya sedang terlihat.

Seorang suster mengantarkan mereka berdua menuju ruang rawat batita itu. Setelah suster menunjukkan ruangannya, Jung Hwan dan Se Won berjalan memasuki ruangan itu. Batita itu tengah tertidur tenang dengan selang infus menancap di pergelangan tangan mungilnya. Se Won menatap batita itu sendu. Ia merasa batinnya tersentuh ketika melihat anak kecil seperti ini.

Berbeda dengan Se Won, Jung Hwan malah tidak menatap batita yang telah ia selamatkan itu. Baginya, menyelamatkan orang itu penting. Namun, ia tidak ingin tahu urusan dan nasib orang yang di selamatkannya itu seterusnya. Termasuk, batita ini. Ia hanya memiliki rasa kasihan yang sangat mendalam pada awal saja. Sekarang? Gadis itu terlihat santai dan tenang saja. Bahkan, terlihat tidak peduli.

“Kasihan anak ini. Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang mengalaminya…” Se Won berujar sembari mengelus puncak kepala batita itu.

Jung Hwan mendelik ke arah Se Won, kemudian mendesis seakan-akan ia tidak suka dengan sikap Se Won itu. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Bau khas obat tersebar dimana-mana. Bau obat… Bebauan itu selalu saja membuat Jung Hwan pusing.

“Kalau pihak rumah sakit tidak ingin menampungnya lebih lama lagi, batita ini harus dikemanakan?” ujar Se Won sekali lagi.

Jung Hwan kembali mendesis bosan, “Taruh saja batita itu di panti asuhan dekat taman kota. Mudah, kan? Mereka pasti mau merawat batita itu sampai ada yang mau mengadopsinya.” sahut Jung Hwan enteng.

Sahutan enteng dan tanpa dosa Jung Hwan itu membuat Se Won menoleh, lalu menatap gadis yang berumur lebih muda darinya itu tajam. Jung Hwan menatap Se Won dengan wajah tanpa dosanya, seolah-olah ia tidak mengatakan apapun.

“Apa?” tanya Jung Hwan heran.

Se Won mengembuskan napas jengkelnya asal. Ia tidak suka mendengar tuturan kata Jung Hwan yang seenaknya itu. Setelah sekian lama bekerja dengan gadis itu, Se Won baru mengetahui sisi buruk gadis itu yang lainnya. Masa bodoh, cuek, seenaknya sendiri, keras kepala, dan ditambah sifat tidak punya hati itu. Se Won ingin sekali memukulnya agar sadar.

Namun, Se Won tidak ingin membuang waktunya untuk hal itu lagi. Wanita berumur 24 tahun itu kembali mengelus kepala batita itu lembut, “Aku jadi ingin mengadopsinya… Batita ini lucu sekali. Aku jadi gemas sendiri!”

Jung Hwan melipat lengannya dan menatap Se Won bosan. Gadis itu terus saja mendesis. Lalu, kata-kata yang cukup pedas untuk di dengar oleh telinga Se Won meluncur dari mulutnya begitu saja.

“Kalau begitu kau tanda tangan ke rumah sakit kalau kau yang akan membawa batita itu pulang. Baiklah, masalah selesai! Orang yang akan merawat batita itu adalah kau! Ayo sekarang kita temui suster yang tadi untuk mengambil tanda izin. Oh ya, sampai kapan kita kan di sini? Bau obat ini seperti membunuhku secara perlahan,” celoteh Jung Hwan santai. Tatapan dingin yang kebosanan itu terlihat jelas melalui sorot mata gadis kelahiran tanah Daejeon itu.

Se Won menahan napasnya sejenak. Ia tidak ingin berteriak dan memaki Jung Hwan disaat batita mungil itu tertidur dengan sangat pulas. Wanita itu sedikit mengepalkan tangannya, lalu kepalannya kembali melonggar dengan cepat. Sebuah bola lampu menyala terang di benaknya, menandakan bahwa itu memiliki ide yang paling tepat.

“Aku tidak bisa. Tunanganku pasti akan berpikir yang tidak-tidak denganku,” ujar Se Won yang kembali mengelus puncak kepala batita itu. Kemudian, batita itu membuka kelopak matanya perlahan. “Oh! Dia terbangun! Ah lucunya~ Aku rasa ia masih berumur 10 bulan-an.”

Jung Hwan memutar bola matanya asal. Entah sudah berapa kali mendesis bosan, tetapi Se Won tak kunjung mengajaknya keluar dari ruangan itu. Gadis itu mulai membuka mulutnya dan kembali berkata, “Oh bagus! Lalu, batita ini bagaimana? Kau bisa menjelaskannya pada Ji Kwang, tunanganmu itu, kan? Ayolah! Ia pasti akan mengerti. Dan, lihat apa yang kau lakukan? Ia terbangun karena belaian tanganmu yang kasar itu.”

‘Tangan yang kasar? Kasar? Dasar kurang ajar!’ batin Se Won terasa panas seketika.

Se Won kembali menahan napasnya. Trik ini ia lakukan untuk menahan marahnya yang semakin memuncak. Butuh kesabaran yang tinggi agar bisa memenangkan diri dari adu mulut dengan Jung Hwan. Apalagi, kalimat atau untaian kata yang pedas mudah sekali meluncur dari gadis yang terlihat berisi dan tinggi itu.

Sebuah ide yang lain kembali muncul dibenak Se Won, wanita itu tersenyum pasti dan senang. Bahkan, terdengar suara kekehannya. Wanita itu terlihat sangat amat senang sekarang. Dimata Jung Hwan sekarang, Se Won malah terlihat seperti orang gila.

“Kau kenapa? Kau sudah salah minum obat asmamu, ya?” tanya Jung Hwan seenaknya.

Batita yang tadi sempat terbangun itu, ternyata kembali tertidur. Se Won menjentikkan jarinya. Suara jentikkan jari wanita itu membuat Jung Hwan menatapnya dengan dahi yang mengerut rapat. Ia tidak habis pikir dengan Se Won. Ia mulai berpikir bahwa Se Won memang salah minum obat.

“Kau kenapa?” tanya Jung Hwan lagi, namun langsung disela oleh Se Won.

“Aku tahu siapa yang akan memabawa pulang dan merawat bayi ini!” sela Se Won senang.

“Siapa?” tanya Jung Hwan heran. Baiklah, ia bingung.

“Karena kau yang menyelamatkan batita ini. Dan, kau juga yang menenangkan batita ini pada waktu itu. Jadi, yang akan menjadi ‘orangtua’ sementara batita ini adalah… Kau!” ujar Se Won.

“Aku?! Yang benar saja! Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mau hidupku dibebani oleh batita yang hidup bersamaku di apartemenku. Lagi pula, kamarku hanya satu! Aku tidak mau membeli ranjang batita. Tidak! Tidak akan pernah! Sudah aku bilang, lebih baik taruh saja batita itu di panti asuhan!” bantah Jung Hwan dengan cepat.

Se Won sedikit memanyunkan bibirnya. Sepertinya wanita itu akan merayu Jung Hwan dengan aegyonya, “Ayolah~ Kau tega melihat batita itu tumbuh di jalanan sendirian dan kedinginan? Kau adalah wanita yang paling tidak memiliki perasaan namanya.”

Jung Hwan muak melihat aegyo temannya itu. Ingin sekali ia menampar wajah sok imut itu keras hingga pipi chubby wanita itu memerah. Namun apa daya, ketika mendengar bahwa dirinya tidak berperasaan, Jung Hwan hanya mendengus.

“Mau, ya? Aku akan membantumu untuk memenuhi kebutuhan batita itu,” rayu Se Won. Jung Hwan tidak menyahut sama sekali, “Ayolah~ Jung Hwan-ssi, kau ini pernah mengalami masa batita seperti batita itu, kan? Coba kau bayangkan kalau kau yang ada diposisinya. Pasti kau sangat sedih.”

Se Won terus mengeluarkan rayuannya dengan tatapan mata yang sendu. Jung Hwan melonggarkan lipatan lengannya sendiri, kemudian mendesis lagi.

“Baiklah…” ujar Jung Hwan perlahan.

“Yeah!” pekik Se Won senang.

“Tapi…” ujar Jung Hwan lagi.

“Apa?”

“Kau harus mengizinkanku untuk menatuh anak itu ketika ia sudah bisa berjalan meskipun tertatih-tatih dipanti asuhan!” tawa Jung Hwan keras.

“Hmm… boleh saja. Tapi, aku yakin hal itu tidak akan terjadi. Kau akan luluh dengan keimutan batita itu! Apalagi, kau merawatnya dengan pacarmu!” ledek Se Won senang. Tangan wanita itu terulur menekan bel untuk memanggil suster.

“Tidak akan! Aku juga tidak punya pacar!” jawab Jung Hwan dingin.

Sahutan dingin Jung Hwan itu berhasil memancing tawa Se Won keluar. Ia tahu bahwa Jung Hwan tengah menahan amarah dan jengkel terhadap dirinya. Apapun itu, Se Won merasa bahagia kalau Jung Hwan mau menurutinya saat ini. Ini adalah sebuah keajaiban!

@@@

“Apa yang aku lakukan?!” pekik Jung Hwan fustasi. “Aku menerima tawaran Se Won untuk merawat batita ini? Apa kau sudah gila Myo Jung Hwan?!” Ia kembali merutuki dirinya sendiri.

Gadis itu menatap batita yang tidak ia ketahui namanya itu dengan tatapan sinis. Kini, batita itu tengah merangkak di atas pangkuannya meskipun masih tertatih. Jung Hwan mendecakkan lidahnya kesal. Ia membuang tatapannya, seolah-olah batita tidak berada dipangkuannya. Namun…

Celana panjangnya terasa basah dan hangat. Jung Hwan menatap batita itu kembali. Ia menatap paha dan celananya. Batita itu membuang air kecilnya tepat di atas pangkuan Jung Hwan. Seketika, amarah Jung Hwan memuncak.

“AISH! JINJJA! IMMA! @#!%&?! ” teriaknya keras-keras.

@@@

Entah sudah hari keberapa, Jung Hwan harus datang ke markas dengan memikul batita itu di depan dengan gendongan depannya. Awalnya, semua rekan kerjanya menertawakan gadis itu. Lambat laun, mereka semua mengerti dan mengetahui siapa batita itu. Pada akhirnya, setiap batita itu datang bersama Jung Hwan, semua orang datang untuk mengajak main batita itu.

Dengan dengusan napas lelah, Jung Hwan terduduk di sebelah Se Won tanpa mengatakan apapun. Se Won menoleh menatap Jung Hwan yang terlihat lebih berantakan dari biasanya. Wajah gadis itu terlihat sanagt berminyak dan rambut yang ia biarkan lengkung kusut. Berbeda dengan Jung Hwan sebelumnya.

“Bagaimana?” Tanya Se Won.

Jung Hwan langsung menoleh, lalu menatap temannya kesal, “Bagaimana apanya? Aku seperti menua 7 tahun dalam waktu 7 hari hanya untuk merawat batita itu!” jawab Jung Hwan kesal.

Se Won hanya bisa tersenyum cengengesan, “Tapi, uang yang aku berikan cukup, kan?”

“Aku tidak butuh uangmu itu! Aku hanya butuh kau untuk membantuku merawat…” ucapan Jung Hwan menggantung ketika mendengar sirine markas mereka itu. Gadis itu langsung berlari menuju sang batita, lalu meminta Sae Il untuk menggendongkan batita itu di gendongannya itu.

Se Won pun langsung menarik kursinya ke hadapan radar yang sudah menjadi tempat sehari-hari matanya menatap. Gadis itu menekan-nekan mouse itu cepat seperti biasa.

“Universitas L!” teriak Se Won.

Semuanya bertindak cepat. Namun, hanya Jung Hwan saja yang kebingungan. Ia tidak dapat meluncur dengan tiang besi bulat licin itu seperti biasa karena batita itu. Andai saja gendongan itu ia bisa putar beserta batita itu menjadi di punggungnya, pasti ia bisa meluncur bebas seperti biasa. Karena tali yang begitu erat dan batita yang tidak mau diam itu, Jung Hwan tidak bisa apa-apa sekarang.

“Ya! Kalian! Bagaimana denganku?!” teriak Jung Hwan.

Se Won menatap ke atas dengan kepala yang mendongak tegak, “Kau lewat tangga saja! Kami akan menunggumu! Jadi, sebaiknya berlari!”

Jung Hwan mengepalkan tangannya erat, “Sial!”

@@@

Lagi-lagi, Jung Hwan dan tim pemadam kebakarannya berhasil memedamkan kobaran api dengan sempurna. Meskipun, kali ini Jung Hwan tidak bisa berbuat lebih banyak. Tapi, gadis itu bisa membantu Se Il memegang selang dengan mengarahkannya ke arah yang tepat. Ia menaruh batita itu di dalam truk dengan seatbelt yang melingkar erat dipinggang batita itu.

Ketika pekerjaannya sudah selesai, Jung Hwan harus mengecek bahwa batita itu baik-baik saja di dalam truk. Ketika ia membuka pintu truk, batita itu sudah tidak dikursinya. Ia kebingungan dan panik sekaligus. Kebingungan karena… bagaimana bisa batita itu menghilang padahal pintu truk itu ditutup dan melepaskan seatbelt itu? Panik jika Se Won tahu bahwa batita itu hilang.

Jung Hwan menatap bagian dalam truk yang cukup luas itu. Jung Hwan menatap sebuah celah tempat biasa selang dikeluar masukkan oleh Sae Il beserta sandaran yang cukup landai untuk dipijak. Jung Hwan menepuk dahinya keras. Ia dapat menduga batita itu merangkat atau entah apapun itu, keluar melalui celah dan pijakan landai itu. Celah itu memang cukup besar untuk ukuran batita itu. Tapi, bagaimana bisa?

‘Lupakan hal itu! Aku harus menemukan batita itu sekarang!’ ujatr Jung Hwan membatin.

Semua rekannya tengah bercengkrama ria dengan dosen-dosen dan korban yang terselamatkan di Universitas tersebut. Tetapi, Jung Hwan berlari ke sana kemari untuk mencari dimana batita itu berada. Jung Hwan tak habis pikir bahwa batita itu akan menghilang di kawasan Universitas yang cukup luas ini.

“Batita yang menyebalkan, kau berada dimana? Setidaknya, keluarkan suara anehmu itu.” Jung Hwan berujar dengan mata yang menerawang ke segala arah.

“Ngeh!”

Jung Hwan menoleh ke suara yang biasa ia dengar itu. Itu suara batita yang baginya sanagt menyebalkan itu. Rupanya, batita itu tengah di gendong seorang laki-laki. Laki-laki mengangkat tubuh batita itu tinggi-tinggi sambil bergurau riang.

“Maaf, tapi batita itu harus aku bawa pulang sekarang…” ujar Jung Hwan ragu, namun perlahan.

Laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya yang sepertinya akan mengangkat batita itu lagi. Jung Hwan meneguk ludahnya dengan canggung. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu membalikkan badannya dengan batita didekapannya.

“Oh ya. Akhirnya, kau bertemu dengan ibumu…” ucapan laki-laki itu menggantung ketika ia melihat wajah Jung Hwan. Jung Hwan pun sama. Ia terkejut ketika melihat paras laki-laki itu.

“Kau?!” pekik mereka bersamaan. Mereka berdua juga saling menunjuk. Laki-laki itu menunjuk ke arah Jung Hwan dengan tangan yang masih mendekap erat batita itu.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Jung Hwan bingung.

“Aku adalah seorang asisten dosen di sini. Kau sendiri kenapa kau bisa ada di sini?” jawab laki-laki itu tak kalah bingung.

“Kau tidak lihat seragamku? Ini seragam pemadam kebakaran. Jadi, aku adalah pemadam kebakaran yang telah membantu memadamkan universitasmu itu!” jawab Jung Hwan sedikit cuek, “Omong-omong, berikan batita itu padaku. Aku harus mengajaknya pulang sekarang.”

Laki-laki itu menatap wajah batita itu dengan wajah Jung Hwan secara bergantian. Tiba-tiba sebuah senyum aneh dari laki-laki muncul begitu saja, “Jadi, kau sudah punya anak? Astaga! Busan ini bisa menjadi kota yang…. kau tahulah maksudku.”

Jung Hwan melongo mendengar ujaran laki-laki itu. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki yang ia sudah kenal cukup lama ini. Ia sedikit mengepalkan tangannya erat, “Batita itu bukan anakku! Aku hanya bertugas untuk merawatnya saja!”

“Kau yakin? Sekilas, wajah anak ini mirip denganmu, lho. Astaga, Jung Hwan-ssi… jangan-jangan kau…” ujar laki-laki yang menggantung. Tapi, Jung Hwan tak bisa menahan rasa jengkelnya. Jadi, gadis itu berteriak tepat di depan wajah laki-laki itu sekaligus wajah batita itu.

“YA! JUNG DAEHYUN! SUDAH AKU BILANG KALAU ITU BUKAN ANAKKU! DASAR KAU… Hmph!”

“Jung Hwang-ssi…” Se Won yang datang secara tiba-tiba itu, langsung menutup mulut Jung Hwan yang sepertinya akan mengeluarkan kata-kata kasarnya lagi.

Laki-laki yang mungkin bernama Jung Daehyun itu menatap Jung Hwan melongo. Karena ada batita di tengah mereka, secara refleks Daehyun memeluk batita itu agar tidak bisa mendengar teriakkan Jung Hwan.

“Apa-apaan kau ini?!” omel Jung Hwan ketika berhasil melepaskan bungkaman tangan Se Won.

“Akh! Maafkan rekan kerja saya. Ia memang kasar, namun ia sangat baik. Jadi, maafkan dia. Dia memang seperti itu,” Se Won membungkukkan badannya di hadapan Daehyun dengan sangat sopan. Sedangkan Jung Hwan, ia hanya menatap Se Won aneh.

“Tak apa. Aku tahu rahasia dia, kalau dia …”

“Uhm… Daehyun-ssi, anak itu memang bukan anak Jung Hwan.” sela Se Won cepat sebelum Daehyun mengatakan hal yang tidak pantas didengar. Ia juga menyebut nama ‘Daehyun’ karena teriakkan Jung Hwan bisa dikatakan tidak tahu volume itu.

“Maksudmu? Lalu, darimana ia dapatkan anak ini?” tanya Daehyun dengan menatap batita itu sekilas.

“Begini. Beberapa hari yang lalu, Jung Hwan berhasil menyelamatkan batita itu dari kobaran api yang akan menghanguskan tubuh batita itu seutuhnya. Batita itu memang selamat, namun tidak dengan orang taunya. Sayangnya, kerabatnya tidak ada yang mau merawat batita itu. Jadi, saya menyuruh Jung Hwan merawatnya karena ia yang telah menyelamatkannya.” jelas Se Won perlahan.

“Kau sudah mengerti sekarang?” timpal Jung Hwan dingin.

Daehyun terdiam beberapa saat, lalu tertawa secara tiba-tiba. Jung Hwan semakin jengkel melihat mantan seniornya ketika ia SMA itu. Senior yang tida tahu diri. Bahkan, ia tidak pernah memanggil laki-laki dengan kata ‘sunbaenim’. Ia hanya memanggil laki-laki dengan namanya saja, terkadang memangilnya dengan marga laki-laki itu.

Daehyun menghentikan tawanya begitu menyadari Jung Hwan dan Se Won menatapnya aneh. Kemudian, ia menyerahkan batita yang seperti nyaman di dekapannya itu kepada Jung Hwan.

“Kau rawat batita itu dengan baik. Rawatlah dengan kasih sayang, bukan dengan bahasa kasarmu itu.” ujar Daehyun pelan.

“Aku tahu itu,” balas Jung Hwan singkat. Ia menerima batita itu dari Daehyun perlahan.

“Sekali lagi maafkan teman saya,” Se Won masih saja mencoba meminta maaf pada Daehyun. Jung Hwan melihatnya hanya menjulurkan lidah merasa tidak sudi.

“Tak masalah. Banmal saja bisa tidak? Aku tidak terlau suka berbicara formal. Bicara soal sifat Jung Hwan, aku sudah tahu sifatnya bagaimana. Jadi, aku sudah terbiasa. Oh ya, batita itu lucu sekali. Aku jadi ingin ikut merawatnya juga.” ujar Daehyun begitu saja. Laki-laki itu tersenyum santai sambil menatap batita yang kini sudah berada di dekapan Jung Hwan.

“Apa kau bilang?! Kau ingin ikut merawat batita ini? Ikut? Kau sudah gila, ya?” Jung Hwan menyerang Daehyun dengan pertanyaan yang cukup banyak, namun berakar dari satu kata saja. Yaitu kata ‘ikut’.

“Aku hanya bergurau,” ujar Daehyun dengan kekehan.

“Tapi kalau kau benar-benar ingin merawat batita itu bersamanya, kau bisa melakukan hal itu.” timpal Se Won secara tiba-tiba.

Jung Hwan dan Daehyun sama-sama menoleh ke arah Se Won. Hawa negatif langsung mengelilingi Se Won ketika Jung Hwan menatapnya tajam. Tapi, Se Won tidak memedulikan tatapan tajam Jung Hwan yang menusuk seperti pisau sekalipun.

“Apa? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Daehyun yang sepertinya tidak terlalu mendengar dengan jelas ucapan Se Won. Atau, ingin meyakinkan pendengarannya.

“Kalau kau ingin merawat batita itu, aku sangat menyetujuinya. Aku akan memberitahu alamat… Hey! Aku belum selesai berbicara!” Se Won harus membiarkan ucapannya menggantung begitu saja ketika Jung Hwan menarik lengannya secara paksa hanya dengan meggunakan sebelah tangan saja.

“Lupakan apa yang ia katakan. Ia sudah gila!” ujar Jung Hwan yang masih menarik Se Won paksa. Tampaknya, batita itu memeluk leher Jung Hwan ketika gadis itu bergerak sedikit kelabakan.

Daehyun hanya bisa menatap dua orang wanita yang bisa dibilang sudah menginjak usia dewasa itu dengan senyum aneh. Laki-laki mengadukan kedua bibirnya seperti seseorang yang bibirnya telah dipoles gincu. Lalu, laki-laki itu kembali tersenyum.

“Hmm… Kira-kira gadis itu tinggal dimana, ya?” ujar Daehyun kepada dirinya sendir dengan hempasan napas jahil.

@@@

“Kau sudah gila, ya? Meminta dia untuk membantuku merawat batita ini. Kenapa tidak sekalian aja batita ini dibiarkan diadopsi oleh laki-laki itu?” omel Jung Hwan yang mulai lepas kendali itu.

“Kau sendiri yang bilang kalau kau lelah merawatnya sendirian. Berhubung ia mau merawat batita itu juga, kenapa tidak? Tapi, lucu juga kalau kau merawat batita itu bersama laki-laki yang bernama Daehyun itu, ” balas Se Won dengan senyum ejekan khasnya.

“Aku tidak lelah! Dan tidak ada yang lucu! Awas kalau kau berani memberitahukan alamat apartemenku, jika bertemu lagi dengannya. Pukulan tanganku tidak akan segan-segan menjitak kepalamu!” ancam Jung Hwan kasar. Beruntung, batita itu sudah mulai menutup kelopak matanya perlahan. Jadi, kemungkinan kecil batita itu melihat perilaku Jung Hwan yang sangat kasar itu.

Mendengar ancaman Jung Hwan yang sangat tegas itu, Se Won mengangkat kedua tangannya mengejek. “Ampun! Aku tidak akan memberitahunya. Aku berjanji!”

“Aku tidak melihat sebuah keseriusan dimatamu,” serdik Jung Hwan tajam.

“Aku serius, Jung Hwan-ssi! Kau bisa menggunting rambutku sesuai pikiranmu kalau aku melanggarnya!” pekik Se Won begitu saja tanpa berpikir terlibih dahulu.

“Kalau itu, kau baru serius. Call!” ujar Jung Hwan. Gadis itu membetulkan posisi batita yang sepertinya sudah mulai tertidur itu sambil berjalan berdampingan dengan Se Won.

@@@

Pukul 9 malam. Waktu yang tepat untuk memejamkan mata dan beristirahat dengan nyenyak di atas tempat tidur. Ini adalah waktu yang paling ditunggu olehnya. Meskipun, Jung Hwan harus membagi tempat tidurnya dengan batita itu. Batita itu sudah tertidur satu jam yang lalu, saat Jung Hwan tengah mencuci piring di dapur.

Sudah 3 hari ia tidak datang ke markas pemadam kebakaran karena terserang flu secara tiba-tiba. Mungkin, karena ia kelelahan merawat batita itu serta bekerja sekaligus. Lagipula, ia belum siap menimang bayi diumur seperti ini. Tunggu, pacaran saja belum terpikirkan dibenaknya, apalagi menimang batita? Pikirannya terasa sedikit gila ketika memikirkan itu.

Ketika ia sudah duduk dikasurnya yang cukup empuk itu, bel apartemennya berbunyi. Jung Hwan mendengus kesal. Ia menatap jam yang ada dimejanya. Sudah pukul 9 malam lewat 12 menit.

“Siapa yang bertamu malam-malam begini?! Apa orang itu tidak bisa membaca jam, ya?” omel Jung Hwan dengan suara mendesis. Ia juga tidak ingin batita itu bangun.

Namun, deringan bel apatemennya tak kunjung berhenti. Dengan sangat terpaksa, Jung Hwan kembali turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan dengan langkah yang sengaja ia lambatkan menuju pintu apartemennya sendiri.

“Tunggu sebentar bisa tidak? Salah kau sendiri kenapa kau datang malam-malam begini!” omel Jung Hwan lagi. Ia menekan kata sandi pintu apartemennya malas.

Setelah pintu sudah bisa dibuka, Jung Hwan memutar kenop pintu perlahan. Matanya yang ingin menutup sesegera mungkin itu kembali tegar ketika melihat siapa yang bertamu ke apartemennya itu. Sebuah senyum senang menyambut Jung Hwan yang membuka pintu dengan malas itu.

“Kenapa…”

“Aku dengar kalau kau sakit dari temanmu. Aku pikir karena kau kelelahan merawat anak itu. Jadi, aku memutuskan untuk mencari tahu dimana tempat tinggalmu, lalu berniat membantumu menjaga batita itu.” jelas laki-laki itu santai. Seakan-akan, tidak ada yang salah dengan kata-katanya.

‘Membantuku merawat batita itu…’

“Apa kau gila?! Ini sudah malam! Lagipula, batita itu sudah tidur!” cegah Jung Hwan cepat.

“Tak apa. Bagaimana kalau nanti pagi?” tanya Daehyun santai.

“Kau ini waras tidak, sih? Darimana kau tahu alamat apartemenku? Apa Se Won memberitahumu?” tanya Jung Hwan bingun dan jengkel. Ucapannya yang menyatakan Daehyun adalah senior yang aneh ternyata memang benar. Datang malam-malam ke apartemen perempuan seenaknya, apa itu tidak aneh?

“Sudahlah, simpan semua pertanyaanmu. Aku ingin tidur. Aku lelah mencari apartemenmu ini. Izinkan aku menginap hari ini, ah tidak, maksudku sewaktu-waktu.” pinta Daehyun yang dengan santai masuk ke dalam apartemen Jung Hwan.

“Apa katamu?! Menginap?! Sewaktu-waktu?!” tanya Jung Hwan lagi. Gadis itu benar-benar jengkel melihat laki-laki ini. Ingin rasanya ia menendang laki-laki keluar sekarang. “Tidak! Tidak ada ruangan lagi! Apartemen ini hanya memiliki satu kamar! Mengerti?! Jadi, sekarang kau keluar.”

“Berisik! Aku bisa saja tidur di sofa ini. Lagi pula, aku tidak akan tidur di sini setiap hari. Aku ‘kan sudah bilang, aku hanya ingin membantumu merawat batita itu. Aku tertarik dengan batita itu, bukan denganmu! Mengerti?” jelas Daehyun dengan santai duduk di atas sofa tengah Jung Hwan.

“Ya! Ya! Keluar kau sekarang!” Jung Hwan berusaha keras untuk mengusir laki-alki itu.

“Ssstt!” Daehyun mendesis dengan santainya. “Kau lupa? Kau sendiri yang mengatakan batita itu sudah tidur. Jadi berhentilah mengomel dan berteriak, dan tidur sana!”

Daehyun membaringkan badannya di sofa kemudian menutup kelopak matanya perlahan. Jung Hwan mengepalkan tangannya erat dan menggigit bibir bagian dalamnya. Kelenjar adrenalinnya semakin meningkat. Ia benar-benar merasa hidupnya tidak akan jauh dari orang-orang yang menjengkelkan.

Jung Hwan menatap Daehyun yang terbaring di atas sofa seenaknya. Sudah hampir 3 tahun tidak bertemu dengan mantan seniornya itu. Padahal, gadis itu berharap untuk tidak bertemu dengan orang itu lagi. Memang sepertinya, doa-nya tidak bisa dikabulkan.

‘Aku dan dia… secara tiba-tiba seperti ini… merawat batita… bersama? Sudah gila, ya?’

To Be Continued

Author’s Corner:

Bagaimana? Maaf agak aneh. Ini seperti basa-basi, tapi bukan juga prolog. Tidak enak sama owner juga masalahnya kalau nge-share prolog. Hehe. Semoga suka ya🙂. Maaf kalau tidak sememuaskan dan seasik yang di sinopsis. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar terlihat asik dan ringan untuk dibaca. Silakan berkomentar^^

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ LOVE BAY/ BAP/ pt. 1

  1. Busett, itu Jung hwan galak banget yak.. Ahaha
    Emang kenapa JungHwan ga mau ketemu sama Daehyun ? Jangan2 dulu JungHwan pernah suka Daehyun lagi,, ahaha
    Penasaran sama cerita mereka nanti waktu ngrawat bayi,,
    Ditunggu next partnya thor..😀

  2. Sifatnya jung hwan jadi mengingatkan aku sama sung shiwon di reply 1997😀
    Hahahhahahhh sejauh ini jalan ceritanya keren thor (Y)
    Next part agak dibanyakin lagi yahh biar puass dan jangan lama lama buat updatenya (?) xD
    Semangatt thor >o<

  3. AAAAAA DAEHYUUUUNN … AKHIRNYA PAKE CAST BIEIPI JUGAA… GOMAWO AUTHOOR ⚽️
    seru nihh, aku juga suka cerita yang bau bau pekerjaan kaya gini..
    daaan daehyun cocok bgt jadi cast yang pembawaannya cool tapi seenaknya sendiri itu..
    awal awalnya ngelawak kaya gini, penasaran nih.. takutnya tar konfliknya bakal bikin nangis kejer :’V
    next, sangat sangaat ditunggu kelanjutanya~~~~

  4. Akhirnya ada juga ff cast bap, makasih thorrr:D ffnya bagussbgttt!! btw itu jung hwan knp gamau ketemu daehyun? Ditunggu lanjutannya ya thorrr penasaran mereka ngerawat bayi barengbareng hahaha

  5. aseeeeeekkkk rameeeeeeee.. aku pikir yongguk trnyta daehyun. tpi aku suka . bkal jdi couple yg keren.. dae yg manis junghwan yg bar bar xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s