FF/ 30DAYS CUPID (PROLOG)/ BTS-BANGTAN


Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Genre: Fantasy, Romance, School-life, Friendship||Main Characters: (BTS) Jungkook, (BTS) Jin, (BTS) V/Taehyung & (OC) Shina||Additional Characters: (OC)Jeon Junmi, (BTS) Jimin, (OC) No Hara, (Infinite) Myungsoo, (T-Ara) Jiyeon||Disclaimer: I own nothing but storyline and OCs. Inspirated by film My Name Is Love, Tooth Fairy 2 & Korean Drama 49 Days||A/N: Edited! Sorry if you still got typo(s).

“Saat ini kau adalah cupid-30-hari. Kau akan diberi kesempatan selama 30 hari untuk menjalankan hukumanmu. Jika kau gagal, kau tidak akan hidup sebagai manusia lagi. Kau akan menjadi cupid selamanya.”

Prolog>>1

HAPPY READING \(^O^)/

@@@@@

30 DAYS CUPID

Pemuda yang terbaring di atas tempat tidur itu menggeliat pelan. Setelah hampir satu jam terlelap dalam tidur siangnya, ia pun terbangun. Pelan-pelan ia membuka kedua matanya, takut kali ini ia akan terbangun di tempat yang penuh dengan warna merah muda lagi.

Hah~ syukurlah, tadi benar-benar hanya mimpi.

Ia menghela napas lega begitu yang dilihatnya adalah ruangan yang tidak asing baginya. Kamarnya. Pemuda itu, Jungkook, lantas mengambil posisi duduk. Berdiam diri sejenak sembari mengingat betapa aneh mimpinya tadi.

Ah! Ini semua karena hari ini aku terlalu memikirkan gadis itu. Dia sampai membuatku bermimpi yang aneh-aneh!

Tiba-tiba Jungkook tertawa. Oh! Tolong jangan anggap dia gila setelah mengalami mimpi anehnya. Ia… ia hanya tertawa membayangkan bagaimana jika mimpinya barusan benar-benar nyata. Dia akan menjadi cupid selama 30 hari!? Ayolah! Tidak ada hal seperti itu di dunia nyata.

“Kriiiiiuuuk~~”

Perut pemuda itu berbunyi. Seketika ia teringat bahwa sejak pulang sekolah tadi, ia belum sempat mengisi perutnya. Jungkook beranjak dari tempat tidur, hendak keluar kamar menuju dapur, tapi tiba-tiba… dia menyadari sesuatu ketika ia melintas di depan cermin.

Apa aku tidak salah lihat?

Jungkook berdiri di depan cermin dalam posisi menyamping. Tadi, sekilas ia melihat dirinya mengenakan pakaian serba merah muda, lengkap dengan sepasang sayap di punggung dan juga sepasang antenna di kepalanya. Persis seperti pakaian yang digunakan oleh makhluk aneh bernama Jin di dalam mimpinya. Padahal seingatnya, sebelum tidur, ia masih mengenakan seragam sekolah.

Jungkook terdiam. Detik demi detik jantungnya berdegup kencang. Secara perlahan dan agak kaku, ia memutar tubuhnya menghadap ke arah cermin. Ingin memastikan bahwa… yang dilihatnya secara sekilas tadi hanyalah halusinasinya belaka. Tapi…, begitu ia berhasil melihat pantulan dirinya di cermin…

“AAAAAAAA!!!” Ia berteriak. “KENAPA? KENAPA PAKAIANKU SEPERTI INI?” Jungkook panik dan heboh sendiri. Bagaimana tidak? Ia melihat tubuhnya benar-benar dibalut kemeja dan celana panjang berwarna merah muda, lengkap dengan sayap dan juga sepasang antena di kepalanya.

“ASTAGA! APA AKU MASIH BERMIMPI? APA INI MASIH MIMPI?” Jungkook menampar-nampar pipinya, mencubitnya, masih beruntung ia tidak mencakar pipinya sendiri, berusaha membangunkan dirinya dari mimpi buruk yang menurutnya masih berlanjut. Namun kenyataan, ia bisa merasakan perih saat ia menampar pipinya sendiri.

“BANGUN, JUNGKOOK! BANGUN! SADAR! INI MIMPI! INI MIMPI!” Dia masih menampar-nampar pipinya sendiri. Sampai…

“Sudahlah! Tidak ada gunanya kau melakukan itu!”

Ada seseorang yang bersuara.

Sontak, Jungkook menoleh ke arah tempat tidur, tempat dimana suara itu berasal. Dan sepersekian detik kemudian…

“AAAAA!!! KENAPA KAU BISA BERADA DI KAMARKU? SEHARUSNYA KAU ADALAH BAGIAN DARI MIMPI BURUKKU!” jerit Jungkook begitu melihat sosok Jin duduk manis di tepi tempat tidurnya.

Jin mengernyitkan dahinya. “Mimpi buruk? Bukankah aku sudah bilang kalau semua ini nyata!?”

Jungkook menggeleng tidak percaya. Ba-bagaimana bisa? Bagaimana mungkin ini kenyataan? Dia mengenakan seragam cupid dan Jin, cupid yang ia temui di alam mimpinya—begitu menurut Jungkook, kini secara ajaib berada di kamarnya. Oh! Astaga! Jungkook sebentar lagi akan gila.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Ini mimpi! Ini mimpi!” Jungkook mondar-mandir di depan Jin.

“Hei! Berhentilah mondar-mandir seperti itu! Kau membuatku pusing.”

Jungkook berhenti, lantas menatap Jin dalam-dalam. “Jadi…, sekarang aku adalah cupid-30-hari?”

Jin mendengus. “Apa perlu aku mengulang semua penjelasanku, hah?”

Pemuda berambut merah marun itu langsung jatuh terduduk. Sulit menerima fakta bahwa… sekarang ia adalah cupid-30-hari. Sulit menerima kenyataan bahwa makhluk aneh yang disebut cupid benar-benar nyata dan sekarang duduk di hadapannya. Dan terlebih, sulit menerima kenyataan bahwa… ia harus menjodohkan 4 pasangan dalam waktu 30 hari!

INI SEMUA TIDAK MASUK AKAL!

Melihat hal itu, Jin menghela napas. Kejadian seperti ini sudah sering dilihatnya setiap kali ada manusia yang diberi hukuman menjadi cupid-30-hari. Tapi, karena itulah Jin berada di sini.

“Dengarkan aku, Jeon Jungkook! Kau akan terbiasa dengan semua ini,” ujar Jin, berusaha menghibur Jungkook yang terlihat sangat terkejut.

Lagi, Jin menghela napas. “Kau tidak perlu cemas. Selama menjadi cupid-30-hari, aku akan menjadi cupid mentormu. Aku akan mengajari cara-cara menjodohkan seorang pria dengan wanita.”

Seketika Jungkook menegakkan kepalanya. Oke! Setidaknya, akan ada seseo—maksudnya, cupid yang akan membantunya. Melihat Jungkook yang mulai memahami apa yang terjadi padanya, Jin melanjutkan penjelasannya.

“Selama 30 hari, kau ditugaskan menjodohkan 4 pasangan yang tertera pada alat ini.” Jin menunjukkan sebuah benda serupa tablet berwarna merah muda yang secara ajaib muncul di tangan kanannya. “Benda ini akan menunjukkan orang-orang yang akan menjadi targetmu. Tugasmu adalah mencari tahu apapun yang bisa membantumu untuk membuat mereka bersatu.”

Jungkook protes. “Kenapa susah sekali?”

Jin mendengus. “Kalau tidak susah, bukan hukuman namanya!”

Pemuda berambut merah marun itu menghela napas. “Lalu, bagaimana caranya?”

“Nanti akan aku ajari,” sahut Jin.

“La-lalu, bagaimana aku bisa tahu kalau aku berhasil membuat mereka bersatu?” tanya Jungkook lagi.

Jin tersenyum. Jungkook sepertinya sudah mulai menerima kenyataan. Tidak lama, Jin menjentikkan jarinya, lalu tiba-tiba sebuah kalung dengan bandul hati berwarna merah melingkar di leher Jungkook. “Kalung itu akan berpendar-pendar, lalu di tengahnya akan muncul bentuk hati yang lebih kecil. Jika kau berhasil menjodohkan 4 pasangan, maka akan ada 4 bentuk hati kecil di dalam bandul kalung itu.”

Jungkook memegang bandul kalung itu, menatapnya lamat.

“Kau harus menyatukan 4 pasangan untuk bisa tetap menjadi manusia. Itu artinya, kau tidak boleh gagal 1 kali pun. Jika kau gagal, aku akan menjemputmu untuk pergi ke Istana Dewi Venus dan tinggal di sana sebagai cupid hingga dunia ini berakhir,” tutur Jin. “Waktumu 30 harimu akan dimulai besok. Apa ada yang ingin kau tanyakan, hm?” lanjutnya.

Jungkook menggaruk-garuk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. “Anu…, err…, apakah aku harus mengenakan pakaian ini saat aku menjalankan hukumanku?” Jungkook menunjuk pakaian yang membalut tubuhnya. Pakaian yang sangat terlihat aneh. Apalagi warnanya merah muda.

Jin terkekeh. “Tidak. Aku hanya sengaja membuatmu terkejut dengan membuatmu memakai pakaian itu. Kalau dilihat-lihat kau pantas juga jadi cupid.”

Jungkook membulatkan kedua matanya. Menjadi cupid? Oh, tidak! Dia masih ingin menjadi manusia. Setidaknya, ia tidak harus memakai pakaian aneh ini.

Jin terkekeh lagi melihat reaksi terkejut ‘trainee’ barunya. Ia lantas menjentikkan jari, lalu secara ajaib, tubuh Jungkook kembali dibalut dengan seragam sekolahnya. Persis dengan pakaian yang terakhir kali ia pakai.

“Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

Jungkook menggeleng lemah.

“Kalau begitu, aku harus kembali ke istana Dewi Venus. Ah, satu lagi. Kau harus merahasiakan hukuman ini dari manusia-manusia di sekitarmu,” pesan Jin. “Ini. Ambil benda ini. Kau harus menjaga benda ini baik-baik,” tambah Jin, menyerahkan benda serupa tablet berwarna merah muda itu kepada Jungkook.

“Tenanglah. Bukan hanya kau yang mengalami hal ini,” hibur Jin. “Malam ini aku akan menemuimu lagi. Aku akan mengajari cara kerja dari alat itu dan memberikanmu satu contoh untuk menjalankan hukumanmu. Sampai jumpa.”

Dan seketika Jin pun lenyap. Meninggalkan selembar bulu berwarna merah muda yang terayun-ayun lembut terbawa angin dan mendarat di atas kepala Jungkook. Pemuda itu meraih selembar bulu yang ia yakini berasal dari sayap cupid bernama Jin itu.

Jadi, ini semua nyata, ya?

@@@@@

Suara sumpit besi yang beradu dengan mangkuk nasi terdengar di meja makan rumah Jungkook dan sepupunya. Keduanya tampak tenggelam dalam mangkuk nasi masing-masing. Menikmati makan malam sebanyak yang bisa dimuat oleh perut mereka. Lahap. Keduanya terlihat sangat lapar. Tentu saja. Junmi baru sempat mengisi perutnya setelah dengan terpaksa ia melewatkan makan siangnya di kantor. Begitu juga dengan Jungkook. Melewatkan makan siang karena terlalu shock menerima kenyataan bahwa dirinya adalah cupid-30-hari.

“Jungkook-ah, noona minta tolong, malam ini kau yang cuci piring, ya!? Noona masih banyak pekerjaan yang dibawa dari kantor. Bisa, kan?” tanya Junmi setelah ia menyudahi makan malamnya.

Jungkook yang masih sibuk menyumpitkan nasi ke dalam mulutnya, menatap gadis yang berada di hadapannya. Dengan mulut yang masih mengunyah, ia mengangguk.

“Hah~ baguslah. Terima kasih, Jungkook-ah,” ujar Junmi. “Noona mau ke kamar duluan, ya. Setelah kau makan, langsung cuci piring, oke?”

Jungkook menelan nasi yang telah dikunyahnya, lantas berkata, “Ya~”

Sekitar 5 menit kemudian, Jungkook pun menyudahi makan malamnya. Bolak-balik meja makan menuju tempat cuci piring untuk mengangkat peralatan makan yang ia dan sepupunya gunakan malam ini. Tidak lama kemudian, pemuda yang malam ini mengenakan kaos tanpa lengan berwarna merah—memamerkan lengannya yang sedikit berotot—dengan bawahan celana pendek selutut berwarna putih, mulai mencuci piring.

Ia terlihat tenang melakukan pekerjaan itu. Ya, dia sudah biasa. Lagi pula, apa susahnya mencuci piring? Bahkan jika diberi pilihan, Jungkook lebih baik mencuci 1000 piring dari pada harus menjalani 30 hari hidupnya sebagai cupid.

“SRRRSH!”

Jungkook membilas tangannya di bawah kran yang mengalirkan air. Pekerjaanya sudah selesai. Sekarang waktunya kembali ke kamar, mengerjakan tugas atau mungkin… membaca komik One Piece yang dipinjamnya dari Taehyung 2 hari yang lalu. Oke. Opsi terakhir sepertinya lebih menarik. Tapi…

“Ehm!”

Baru Jungkook hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dapur, telinganya mendengar suara deheman seseorang. Begitu ia membalik tubuhnya menghadap ke belakang, kedua irisnya mendapati sosok cupid berpakaian serba merah muda itu.

Yap! Kau benar! Jin!

Seketika Jungkook menepuk dahinya pelan. Ah, iya. Cupid ini kan bilang dia mau menemuiku lagi malam ini.

“Kau sudah siap untuk belajar malam ini sebelum memulai masa hukumanmu, Jeon Jungkook?” tanya Jin dengan gaya santai. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu jawaban trainee-nya.

Jungkook mendengus. Jujur saja, malam ini ia berencana akan menamatkan komik One Piece yang dipinjamnya, tapi… mengingat ada hal yang lebih penting dari itu, mau tak mau… ia mengurungkan niat mulianya itu. “Ya,” sahutnya singkat.

“Kalau begitu ganti pakaianmu karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” perintah Jin. “Ah, dan jangan lupa membawa benda yang siang tadi aku berikan padamu.” Jungkook mengangguk. “Aku tunggu di depan rumahmu,” ujar Jin lagi, tiba-tiba membuat Jungkook merasa kalau malam ini, ia akan kencan dengan cupid tampan bernama Jin itu. Hih! Amit-amit!

Pemuda itu beringsut menuju kamarnya, mengambil hoodie berwarna biru tua yang ia gantung di belakang pintunya. Mengganti celana pendeknya dengan celana jeans hitam. Kemudian, memasang sepasang sneakers pada kakinya. Oke. Dia sudah siap.

Sebelum berangkat, pemuda itu menyempatkan diri untuk pamit kepada sepupunya yang berada di kamar. Duduk di depan komputer dengan jari-jari yang menari lincah di atas keyboard.

Noonaya, aku mau keluar sebentar,” pamit Jungkook, melongokkan kepalanya pada celah pintu kamar Junmi yang ia buka.

Tanpa menoleh ke arah pemuda yang 6 tahun lebih muda darinya, Junmi berkata, “Ya, baiklah. Jangan pulang terlalu malam, oke?”

“Oke.”

Setelah meminta ijin, Jungkook keluar dari rumahnya dan mendapati Jin duduk di kursi teras. Cupid itu langsung berdiri begitu melihat trainee-nya sudah siap diberi ‘pelajaran’. Jungkook tampak terkejut melihat mentornya tidak memakai pakaian anehnya lagi. Malah memakai setelan jaket kulit hitam yang menutupi kaos merah mudanya. Celana jeans hitam pun lekat memeluk kaki jenjangnya.

“Kenapa kau berpakaian seperti ini?” tanya Jungkook, memperhatikan mentornya dari ujung kaki sampai ujung kepala.

“Aku sengaja berpakaian seperti ini agar para manusia bisa melihatku. Kalau aku memakai pakaian tugas, hanya para cupid dan cupid-30-hari saja yang bisa melihat.”

“Jadi, kau bisa berubah jadi manusia?” tanya Jungkook.

Jin mengulum senyum. “Hanya selama 1 jam.”

“Lalu, sekarang kita mau kemana?” tanya Jungkook.

“Ikuti aku!” balas Jin.

Hampir 15 menit waktu terbuang hingga Jin dan Jungkook tiba di sebuah kawasan pertokoan. Keduanya berdiri di sudut jalan. Menyandarkan punggung masing-masing pada dinding, melihat orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.

“Apa yang akan kita lakukan di tempat ini?” tanya Jungkook bingung. Ia menolehkan wajahnya pada Jin.

Jin balas menoleh ke arah Jungkook, tersenyum. “Menunggu target.”

Kerutan muncul di dahi mulus Jungkook. “Bagaimana kau bisa tahu bahwa targetmu akan berada di tempat ini?”

Jin terkekeh. “Insting! Cupid sepertiku sudah diberi insting yang kapan saja bisa membantu kami mengetahui keberadaan target,” jelas Jungkook. “Tapi untuk cupid-30-hari sepertimu, kau harus berusaha untuk mengetahui segala hal tentang targetmu.”

Jungkook menggaruk rambutnya frustasi. Kenapa hukuman atas kesalahannya membuat seorang Shina patah hati akan sesulit ini? Hah! Tahu begini, Jungkook akan berpirkir 100 kali untuk menyakiti hati gadis itu. Ck!

“Ah, itu dia! Lelaki bermantel cokelat yang sedang berjalan ke arah lampu lalu lintas adalah targetku,” sahut Jin. Lekas Jungkook membiarkan penglihatannya berkeliaran mencari ‘target’ yang dimaksud Jin.

“Lelaki yang memakai syal itu, kan?!”

Jin mengangguk. “Dia Kim Myungsoo. 22 tahun. Guru les private untuk siswa SMP.”

“Bagaimana kau bisa tahu itu, eoh?!”

“Aku cupid. Tentu saja aku harus tahu segala hal tentang targetku,” ujar Jin.

“Lalu, siapa yang akan menjadi pasangannya?”

Jin menunjuk wanita yang berdiri di dekat tiang lampu merah. Wanita bermantel hijau muda dengan tas berwarna merah yang ia sampirkan di bahu kirinya, tengah menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

“Park Jiyeon. 21 tahun. Karyawan hotel dekat sini.”

“Tugasmu sebagai cupid-30-hari adalah membuat target bersatu. Kau bisa dinyatakan berhasil jika kau berhasil membuat mereka berdua saling menyukai satu sama lain,” jelas Jin.

“Caranya?”

Jin mengeluarkan sebuah senyuman yang tidak bisa diartikan oleh Jungkook. “Lihat dan perhatikan baik-baik!”

@@@@@

“ASTAGA! PIPIMU KENAPA?” seru Junmi terkejut ketika membukakan pintu untuk sepupunya, Jungkook, yang baru pulang dari acara ‘belajarnya’. Di pipi kiri pemuda itu terdapat bekas tamparan yang memerah. Pasti perih sekali rasanya.

Jungkook menutupi pipi kirinya dan tanpa menjawab pertanyaan Junmi, pemuda itu langsung beranjak menuju kamarnya.

Setibanya di kamar, Jungkook melepas hoodie yang dipakainya, membiarkan benda itu tergeletak di lantai. Ia beringsut ke depan cermin, melihat bekas tamparan yang tercetak sempurna pada pipi putihnya. Dasar cupid sialan!

Ya, bekas tamparan yang didapat oleh Jungkook disebabkan oleh Jin. Jungkook tidak pernah membayangkan bahwa mentornya itu akan mengerjainya di saat memberikan contoh bagaimana menyatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Setelah melihat targetnya—Myungsoo dan Jiyeon—berada di satu tempat yang sama, Jin meminta Jungkook memperhatikan apa yang akan ia lakukan. Mengajak pemuda berambut merah marun itu menghampiri Jiyeon yang masih berdiri di dekat tiang lampu lalu lintas, menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Selain wanita itu, ada beberapa orang lain yang juga berdiri di dekatnya, termasuk Myungsoo yang berdiri tepat di belakang wanita itu, Jiyeon.

Tidak lama, Jin mengambil tempat di sisi kiri Myungsoo dan memerintahkan Jungkook untuk berdiri di sebelah kanan Myungsoo. Jungkook sungguh tidak mengerti apa maksud Jin mengajak ia menghampiri target, namun mengingat saat ini ia sedang diberi contoh, ia mengikuti saja aturan cupid mentornya.

Pura-pura berbaur di antara target, Jin tanpa merasa risih, malu atau apapun, dengan sengaja mencolek pantat Jiyeon. Sontak, wanita itu berbalik menghadap ke arah belakang. Menunjukkan wajah yang merah padam, terlihat kesal. Wanita itu berpikir bahwa Myungsoo-lah yang melakukan tindakan kurang ajar itu padanya karena lelaki itu yang berdiri tepat di belakangnya.

“PLAAK!”

Dan sepersekian detik kemudian, Jiyeon menampar Myungsoo yang tidak tahu apa-apa. Membuat beberapa orang di dekat mereka mengalihkan perhatian kepada Myungsoo.

“Bukan dia yang mencolek pantatmu, Nona. Tapi, pemuda di sebelahnya!” sahut Jin tanpa nada bersalah, menunjuk ke arah Jungkook.

Kedua mata Jungkook membulat sempurna kala melihat Jiyeon menatapnya tajam. Dia tahu bahwa yang melakukan itu adalah Jin, tapi… kenapa cupid itu malah menuduhnya!?

“Ah, bukan! Bukan aku, tapi—”

Terlambat!

“PLAAAK!”

Jungkook terlambat membela diri.

Jin menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, terkekeh. Hahaha! Kena juga anak itu! Tidak lama kemudian, Jin langsung menarik Jungkook pergi dari tempat itu menuju tempat mereka semula, di sudut pertokoan. Jungkook mengelus-elus pipinya yang terasa perih.

“Apa sakit sekali?” tanya Jin, lalu terkekeh.

Jungkook mendengus kesal. “Tentu saja. Memangnya kau pikir ini tidak sakit, hah!? Sinting!” gerutunya.

Jin terkekeh. “Itu namanya pengorbanan. Tapi, coba kau lihat hasilnya.” Jin menoleh ke arah Jiyeon dan Myungsoo yang masih berada di dekat tiang lampu lalu lintas, membuat Jungkook menoleh ke arah yang sama. Jiyeon tampak meminta maaf kepada Myungsoo karena telah menamparnya sembarangan.

“Maaf. Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku pikir kau yang…” Jiyeon membungkuk berkali-kali di depan Myungsoo.

Sambil memegang pipinya yang terasa perih, Myungsoo berkata, “Tidak. Tidak apa.”

“Aku sungguh minta maaf. Pasti sakit sekali, ya?” Jiyeon merasa sangat tidak enak hati.

Myungsoo hanya bisa memaksakan dirinya tersenyum. Menyembunyikan perihnya tamparan Jiyeon. “Tidak, kok. Tidak. Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Aku baik-baik saja.”

“Ah, bagaimana kalau kuajak kau makan, eoh? Kau sudah makan belum? Anggap sebagai permintamaafanku.”

Myungsoo mengangguk. “Baiklah~”

Keduanya lantas berjalan bersisian menyeberang jalan. Meski masih terlihat canggung, tapi Jin yakin tidak lama lagi keduanya akan menjadi sepasang kekasih.

Kembali ke sudut jalan, Jungkook yang melihat adegan itu langsung membulatkan kedua matanya tidak percaya. Hanya begitu? Hanya karena kesalahpahaman itu, Jiyeon dan Myungsoo langsung bersatu. Oke. Ini terlihat tidak sesulit yang ia bayangkan.

“Bagaimana? Kau bisa melakukan hal seperti itu?” tanya Jin, menoleh ke arah Jungkook.

Pemuda itu balas menoleh ke arah Jin. “Maksudmu, mencolek pantat wanita yang menjadi target?”

Jin menutup mulutnya, tertawa. “Tentu saja tidak harus mencolek pantat wanita yang menjadi target. Itu hanya salah satu cara. Kebetulan saja kondisinya mendukung,” ujar Jin.

“Astaga! Dasar cupid mesum!”

“Hei! Kau tidak perlu mengataiku seperti itu!” Jin sedikit tidak terima dikatai cupid mesum.

Jungkook memanyunkan bibirnya. Jin mendengus.

“Apa ada yang ingin kau tanyakan? Aku mau segera kembali ke istana Dewi Venus.”

Jungkook menggeleng.

“Kalau begitu, tekan tombol yang ada di love-tablet itu,” perintah Jin, menunjuk pada love-tablet yang sejak tadi dibawa Jungkook. “Kita lihat siapa target pertamamu.”

Jungkook menghela napas. Jujur, ia sedikit gugup mengingat mulai besok, ia akan menjalankan hukuman anehnya sebagai cupid selama 30 hari. Tanpa protes, pemuda itu menuruti apa yang diperintahkan cupid mentor, menekan satu-satunya tombol yang berada pada love-tablet.

Benda itu menyala. Lalu, di layarnya muncul gambar hati dengan animasi cupid yang berterbangan di sekitarnya. Untuk sesaat, Jungkook menilai benda ini sangat aneh dan juga menjijikkan. Sekitar beberapa detik kemudian, muncul dua buah foto di layar.

Park Jimin dan No Hara.

“Hei! Jimin ini kan ketua klub dance di sekolah,” celetuk Jungkook begitu melihat wajah target pria di dalam love-tablet tersebut. “Apa dia yang menjadi target pertamaku besok?” Jungkook menoleh ke arah Jin.

Cupid mentor itu mengangguk. “Ya. Dia adalah targetmu. Jadi, mulai sekarang, pikirkan apa yang harus kau lakukan untuk membuat Park Jimin dan No Hara bersatu, paham?”

Jungkook tidak membalas ucapan Jin. Malah terdiam, bingung harus berbuat apa.

“Oke. Sepertinya kau paham. Jadi sekarang, aku kembali ke tempatku. Semoga kau berhasil, Jungkook. Sampai jumpa~” ujar Jin enteng, kemudian menghilang begitu saja. Meninggalkan selembar bulu berwarna merah muda yang terayun-ayun lembut, lalu mendarat di dekat sepatu Jungkook yang masih terdiam.

Hah~ God! Apa yang harus aku lakukan?

@@@@@

Pemuda itu, Jungkook, berjalan dengan langkah gontai memasuki gerbang SOPA. Bahunya terlihat lemas, tidak tegap seperti biasanya. Matanya terlihat sedikit bengkak ditambah lagi ia cukup sering menguap. Lemas! Itu yang dirasakannya pagi ini. Selain lemas karena belum sempat sarapan akibat noona-nya yang berangkat pagi-pagi ke tempat kerja, ia juga lemas karena… ya, hari ini adalah hari pertama ia menjalani hukuman sebagai cupid-30-hari.

Jungkook melirik jam tangan hitamnya. Oke. Masih ada waktu 15 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Pemuda itu memutuskan untuk mampir ke kantin, mengisi perut sebelum ia terpaksa menahan lapar selama 3 jam, menunggu jam istirahat.

Tiba di kantin, Jungkook langsung menuju rak roti. Mengambil satu dari sekian bungkus roti berwarna cokelat pada rak paling atas. Ia lantas mengayunkan langkahnya menuju lemari showcase, mengambil satu kotak susu dingin rasa vanilla dari sana.

Tepat di saat Jungkook hendak mengayunkan langkah menuju salah satu kursi kosong yang berada di dalam kantin, entah dari mana datangnya, Taehyung langsung menghampirinya.

“Hei, Brother!” Taehyung merangkulkan tangan kanannya pada pundak Jungkook.

Jungkook menoleh ke arah pemuda itu, menatapnya sambil tersenyum kecut. “Apa? Kau mau apa, hah?” tanya Jungkook, melepaskan rangkulan tangan Taehyung, berjalan menuju kursi yang ia maksud.

“Kau masih marah padaku, eoh?” tanya Taehyung.

Jungkook yang telah duduk di kursi, menyobek plastik bungkusan roti, menatap Taehyung, lalu berkata, “Kau pikirkan saja sendiri.”

Bro~” rajuk Taehyung. “Oke. Aku minta maaf. Kemarin aku malah menyudutkanmu. Aku hanya kasihan pada gadis itu.”

Jungkook memutar kedua bola matanya, jengah. “Terserah apa katamu!” balasnya ketus. Sebenarnya, Jungkook tidak begitu marah lagi pada Taehyung akibat insiden kemarin, hanya saja… ia tidak begitu mood untuk berbicara pagi ini.

Come on, Bro! Aku minta maaf. Oke. Aku janji, aku tidak akan menyebut-nyebut nama Shina lagi. Bagaimana? Kau mau memaafkanku, kan?”

Jungkook menelan roti yang baru saja dikunyahnya, lalu menyeruput sedikit susu kotak dingin miliknya. “Oke. Permintaan maaf diterima. Tapi, kau harus benar-benar menepati janjimu, mengerti?”

Seulas senyum lebar tersemat di wajah manis Taehyung. “Haha… itu baru sahabatku, Jeon Jungkook~” sahutnya lega. Sekilas, Jungkook tersenyum. Meskipun sedikit menyebalkan, tapi Taehyung satu-satunya orang yang sangat dekat dengan Jungkook di sekolah ini. Apa jadinya pemuda itu tanpa si aneh Taehyung?

“Oh!” Taehyung tiba-tiba berseru, seperti menyadari sesuatu. “Kalung apa yang kau pakai itu?” tanyanya, menunjuk kepada kalung ‘aneh’ yang menghiasi leher Jungkook.

Jungkook tersentak. Ia lupa menyembunyikan kalung aneh pemberian Jin. “Ah, ini…,” Jungkook menyelipkan benda itu ke balik seragamnya, “… bukan apa-apa. Hanya kalung hadiah snack,” jelasnya sedikit kikuk.

Taehyung mengernyitkan dahinya. “Tapi…, kalung itu bentuknya bentuk hati, Jeon Jungkook. Kau kan…” Taehyung tidak melanjutkan ucapannya. Dia sudah tahu betul bagaimana hubungan antara Jungkook dan sesuatu yang berkaitan dengan cinta. Dan bentuk hati ada kaitannya dengan sesuatu yang semu itu.

“Sudahlah! Tidak usah dipikirkan.” Jungkook berusaha mengelak. “Oh, ya, aku dengar, mulai hari ini Jung Sonsaengnim cuti melahirkan, ya?” Jungkook mengalihkan topik pembicaraan.

“Ya. Tapi, akan ada guru yang menggantikannya.”

Jungkook mendengus. “Yah! Tidak seru.”

Taehyung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Memang tidak seru! Apalagi, aku dengar guru yang menggantikan Jung Sonsaengnim adalah laki-laki. Bisa kau bayangkan pelajaran akuntansi yang menyebalkan itu dibawakan oleh guru laki-laki? Gosh! Pelajaran akuntansi akan semakin menyebalkan!”

Jungkook tertawa. “Berarti ini kabar baik untuk anak perempuan di kelas.”

“Ya, begitulah~” sahut Taehyung sembari mengangkat kedua bahunya, cuek.

Sekitar beberapa menit kemudian, usai Jungkook menghabiskan sarapan paginya dan membayar harga sarapan itu, bersama Taehyung ia berjalan menuju kelas. Dari kejauhan, Jungkook dan Taehyung bisa melihat beberapa siswa keluar-masuk dari kelas mereka. Ada beberapa yang baru datang, ada juga yang sibuk menjalankan tugas piket.

Jarak mereka dari kelas tidak begitu jauh lagi. Keduanya tampak membicarakan sesuatu, entah apa. Namun, keduanya seketika tertegun di ambang pintu begitu melihat seorang gadis, teman sekelas mereka, melintas di samping Taehyung, hendak keluar dari kelas. Seorang gadis yang hari ini penampilannya sangat berbeda. Tidak ada lagi kacamata yang menghiasi wajah gadis itu.

Taehyung terpana untuk sesaat. Ia membalikkan tubuhnya demi melihat lebih lama gadis yang saat ini berjalan menjauh dari kelas mereka, entah pergi kemana. “Jungkook-ah, apa aku tidak salah lihat? Itu… Oh Shina, kan?” ucap Taehyung, tanpa sadar mengingkari janjinya untuk tidak menyebut nama Shina di depan Jungkook.

Namun, Jungkook tidak menjawab. Terlalu sibuk menatap lamat punggung mungil gadis yang mulai menjauh.

Ya. Dia Oh Shina.

@@@@@

“Astaga! Aku tidak percaya. Shina tidak memakai kacamatanya lagi dan… dia terlihat benar-benar sangat manis. Iya, kan, Jungkook?!” seru Taehyung heboh begitu mereka tiba di tempat duduk masing-masing.

Jungkook yang duduk di sebelah Taehyung tampak tidak peduli. Malah duduk menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di depan dada sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain. Malas melihat wajah berseri-seri milik Taehyung yang berada di dekatnya.

“Menurutmu, kenapa dia begitu?” tanya Taehyung lagi.

Jungkook mendengus. Tidak menjawab pertanyaan itu.

“Apa mungkin… dia berubah karena kau telah membuatnya menangis kemarin?!” tebak Taehyung asal dan sontak mendapat tabokan yang cukup keras dari Jungkook.

“Kau bisa diam, tidak? Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak akan menyebut-nyebut nama Shina di hadapanku. Ini bahkan belum cukup satu jam sejak kau berjanji padaku, Kim Taehyung!” kesal Jungkook. Tidak peduli Taehyung kini meringis pelan sembari mengelus-elus lembut bekas tabokan di kepalanya.

“Iya! Iya! Aku ingat janjiku, Jeon Jungkook. Astaga! Sebenarnya telapak tanganmu itu terbuat dari apa!? Kepalaku sepertinya benjol!” ujar Taehyung yang masih mengelus-elus lembut kepalanya.

Jungkook melirik pemuda berambut light caramel itu. “Makanya, lain kali jangan banyak bicara! Hah~”

Taehyung tidak membalas. Ia lantas keluar dari kelas, bergabung dengan beberapa teman laki-laki yang terlihat membicarakan Shina. Sementara itu, Jungkook masih berdiam diri di atas bangkunya. Hanya memandang ke sekitar kelas, melihat teman-temannya mengobrol atau saling melempar kertas kepada satu sama lain.

Pemuda itu mendengus.

Jujur, ia memang sedikit—ah, maksudnya cukup pangling melihat berubahnya penampilan Oh Shina. Gadis berkacamata itu kini bukan lagi gadis berkacamata. Melainkan gadis yang memakai lensa kontak. Belum lagi potongan rambutnya yang panjang dan terlihat sangat biasa, beberapa saat tadi terlihat sepunggung dan sedikit bergelombang. Tidak lupa dengan poni tipis yang menutupi dahinya.

Apa mungkin ia berubah karena aku telah membuatnya sakit hati kemarin?

Jeon Jungkook dengan selamat termakan omongan Kim Taehyung. Ayolah, Jeon Jungkook. Mana mungkin gadis itu berubah karenamu? Tidak! Mungkin dia hanya merasa bosan saja dengan gayanya selama ini.

Lelaki berambut merah marun itu memutuskan untuk tidak peduli. Yang jelas, berubahnya Shina pasti bukan karena dirinya. Itu yang ia yakini. Lebih baik ia memikirkan hal yang jauh lebih penting.

Park Jimin dan No Hara.

Bagaimana membuat kedua orang ini bersatu?

Jungkook kemudian memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada teman yang berada di dekatnya atau pun sedang memperhatikannya. Yakin aman, ia lantas membuka ranselnya. Mengeluarkan love-tablet yang diberikan oleh cupid mentornya. Namun, di saat Jungkook hendak menggunakan benda itu, tiba-tiba teman-temannya yang berada di luar kelas bergegas masuk.

Uh? Apakah bel sudah berbunyi? Aku bahkan tidak mendengarnya.

Bergegas Jungkook memasukkan kembali benda itu ke dalam tasnya. Tidak lama kemudian, ia memperbaiki posisi duduknya. Sekilas menatap Taehyung yang berjalan menuju bangkunya—tepat di sebelah Jungkook.

“Ada apa?” tanya Jungkook kepada Taehyung.

Taehyung sedikit mengernyitkan dahinya. “Tentu saja jam pelajaran pertama dimulai. Kau tidak mendengar bel?”

Sekitar beberapa menit kemudian, seorang pria yang memakai setelan kemeja hijau muda dengan bawahan celana kain dan sepatu pantofel berjalan memasuki ruang kelas. Pasti pria yang menjadi guru pengganti Jung Sonsaengnim.

Beberapa siswi nampak mengulas senyum. Terlihat senang melihat kali ini, guru mereka adalah seorang pria yang… ya, dia masih bisa dikatakan cukup muda. Mungkin… hanya terpaut 6 tahun lebih tua dari mereka. Terlihat tampan—mungkin sedikit manis.

Untuk sesaat, Jungkook menatap lamat pria muda yang mulai hari ini akan menjadi guru akuntansi di kelasnya.

Hei! Bukankah dia teman Junmi Noona?

@@@@@

“Hyaaa… guru baru tadi cerewet sekali! Nilai akuntansiku benar-benar bisa hancur jika Min Sonsaengnim yang mengajar hingga akhir semester.” Baru tiba di tempat duduk, meletakkan mangkuk jajangmyeon-nya di atas meja, Taehyung langsung menggerutu tentang guru baru mereka, Min Yoongi.

Saat ini Jungkook dan Taehyung berada di kantin. Menikmati waktu istirahat mereka dengan jajangmyeon dan iced lemon tea. Duduk di tempat biasa, di sudut kanan depan kantin.

“Kau masih beruntung karena dia tidak mengenalmu,” balas Jungkook tak kalah kesalnya. Tentu saja. Hampir sepanjang pelajaran, guru baru mereka, Min Yoongi, terus saja memintanya untuk naik ke papan tulis, mengerjakan beberapa transaksi dari soal latihan yang diberikan.

Seketika Taehyung mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah pemuda yang sedang sibuk mengaduk-aduk jjajangmyeon-nya. “Mengenal? Jadi, kau mengenal Min Sonsaengnim? Kau kenal dimana?”

Jungkook mengalihkan pandangannya sekilas ke arah Taehyung, lantas kembali sibuk mengaduk-aduk jjajangmyeon-nya. “Yoongi Hyung. Dia teman Junmi Noona saat SMA dulu. Kadang-kadang dia datang ke rumah. Hah, aku tidak menyangka kalau dia akan menjadi guru akuntansi di sini.”

“Dan lebih parahnya, dia sangat menyebalkan,” tambah Taehyung.

Keduanya terkekeh, lantas sibuk menyantap jjajangmyeon masing-masing. Berusaha lupa bagaimana menyebalkannya guru baru mereka. Sesekali acara makan mereka diselingi obrolan tentang komik atau sekedar mengomentari beberapa orang yang tanpa sengaja tertangkap mata oleh mereka. Dan tepat di saat itu, iris Jungkook menangkap sosok gadis yang tidak asing. Gadis yang sedang berjalan memasuki area kantin bersama kedua temannya. Mengenakan bando ungu untuk menghias rambutnya yang berwarna eboni.

Uh? Bukankah dia yang menjadi target pertamaku? No Hara!?

“Taehyung-ah,” panggil Jungkook.

Taehyung yang sedang menyumpitkan mi ke dalam mulutnya, sedikit mendongak, “Khenhapha?” tanyanya dengan mulut penuh mi.

“Apa kau tahu gadis berbando ungu itu?” tanya Jungkook. Diam-diam menunjuk ke arah Hara yang saat ini duduk tidak jauh dari tempatnya.

Taehyung mengikuti ke arah mana Jungkook menunjuk sembari mengunyah mi dalam mulutnya. Ia lalu mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jungkook.

“Kau tahu apa tentangnya?” Lagi, Jungkook bertanya.

Taehyung menelan mi yang memenuhi rongga mulutnya, lalu meneguk iced lemon tea sebelum menjawab pertanyaan Jungkook. “Namanya No Hara Sunbae. Ketua klub sains. Memangnya kenapa?” Taehyung bertanya balik. Namun seketika, seolah menyadari sesuatu, mimik wajah pemuda berambut light caramel itu berubah. “Ha~ jangan-jangan kau naksir Hara Sunbae, ya?!” tebak Taehyung dengan nada menggoda.

Jungkook langsung menatap pemuda di hadapannya, tajam. “Jangan sembarang bicara,” tegurnya. “Aku hanya… hanya…” Jungkook bingung mencari alasan. Dia tidak mungkin bilang kepada Taehyung bahwa mulai hari ini ia adalah cupid-30-hari dan No Hara itu adalah targetnya.

“Hanya apa? Hanya suka?” goda Taehyung lagi.

Pemuda berambut merah marun itu mendengus. Tanpa membalas ucapan Taehyung, Jungkook kembali bertanya, “Apalagi yang kau ketahui tentang No Hara Sunbae?”

Taehyung terkekeh geli. “Wah… wah… wah… akhirnya kau penasaran terhadap seorang wanita, Jungkook-ah. Ini harus dirayakan!” ucapnya, yakin pada pendapat bahwa sahabatnya, Jeon Jungkook, akhirnya menyukai seorang gadis—meski itu gadis yang lebih tua.

Jungkook memutar kedua bola matanya, jengah. “Terserah apa pendapatmu, Kim Taehyung. Aku hanya butuh informasi sebanyak mungkin tentang No Hara Sunbae.”

Taehyung tersenyum. “Baiklah. Karena kulihat kau sangat menyukai No Hara Sunbae, aku akan memberitahumu beberapa hal.”

“Apa?”

Taehyung mengehela napas sebelum memulai ucapannya. “No Hara Sunbae sering mengharumkan nama sekolah lewat lomba sains antar sekolah. Ya, kurasa semua orang di sekolah ini tahu hal itu. Ah, Hara Sunbae juga menyukai warna ungu. Aku dengar, dia orang yang sangat ramah. Banyak siswa di sekolah ini yang menyukainya dan aku tahu salah satunya,” Taehyung melirik jahil Jungkook, sementara Jungkook hanya memamerkan senyum kecutnya, “Selain itu…, kabar yang paling penting, dia belum punya pacar,” kata Taehyung mengakhiri penjelasannya.

Mungkin kau sudah tahu mengapa Jungkook masih mempertahankan Taehyung—yang seringkali membuatnya kesal—sebagai sahabatnya. Ya, Taehyung tahu banyak hal.

“Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu?” tanya Jungkook, merasa beruntung ia mengenal Taehyung yang cukup tahu tentang targetnya.

“Ayolah. Siapa di sekolah ini yang tidak tahu No Hara Sunbae!? Hampir setiap hari teman-teman di kelas membicarakannya.” Untuk sesaat, Jungkook merasa dirinya orang yang paling ketinggalan informasi di sekolah ini.

Tapi setidaknya, sejauh ini ia sudah mengetahui beberapa hal tentang salah satu targetnya. Selanjutnya, ia perlu mencari tahu tentang Park Jimin, si ketua klub dance.

@@@@@

“Hei! Aku mau ke toilet sebentar,” ujar Jungkook ketika ia dan Taehyung berjalan menyusuri koridor, hendak kembali ke kelas mereka. “Tolong pegangkan ponselku,” tambahnya seraya menyerahkan ponselnya kepada Taehyung.

“Oh, oke.” Taehyung menerima ponsel Jungkook. “Aku tunggu di sana, eoh?!” Lalu, ia menunjuk ke sebuah bangku taman yang tidak jauh dari toilet. Pemuda berambut merah marun itu mengangguk, lantas bergegas masuk ke dalam toilet pria.

Begitu masuk, Jungkook melihat seseorang berdiri di depan salah satu dari 3 urinoir yang terpajang dinding, membelakangi Jungkook yang berjalan menuju salah satu urinoir yang tidak terpakai. Berdiri di sana dan melakukan apa yang hendak ia lakukan. Sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri, entah apa maksudnya. Namun, seketika ia terdiam memandang pemuda yang berdiri di sebelahnya.

Uh! Bukankah dia Park Jimin Sunbae?

Tanpa sadar, Jungkook terus menatap pemuda itu. Merasa diperhatikan oleh Jungkook, pemuda itu menoleh, menatap Jungkook dengan tatapan aneh, lantas bertanya, “Kenapa kau melihatku seperti itu?”

Bergegas Jungkook menggeleng, lalu mengalihkan pandangannya. Diam-diam merutuki tindakannya barusan. Astaga! Sunbae ini pasti menyangka aku… gay!

Usai melakukan apa yang ia lakukan, sedikit menjaga jarak dari Jungkook, pemuda itu, Park Jimin, berkata, “Kau gay?!”

Tuh, kan!?

“Bukan! Bukan, Sunbaenim! Aku bukan gay! Aku normal!” ucap Jungkook panik, buru-buru menyudahi kegiatannya.

Jimin menatap Jungkook dengan tatapan menyelidik. Melihat pemuda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Memastikan bahwa… lelaki yang sedang di toilet bersamanya saat ini benar-benar bukan gay. “Lantas…, kenapa kau melihatku seperti tadi? Kau tampak… mencurigakan.”

Ingin rasanya Jungkook menangis saat ini. Yang benar saja!? Ini pertama kalinya ada orang lain di sekolah ini—selain Taehyung, tentunya—yang menyangka dia gay.

“A-Anu… itu… aku… aku… aku hanya tidak menyangka akan bertemu dengan Jimin Sunbae di sini.”

Jimin membulatkan kedua matanya. “Uh? Kau mengenalku?”

Jungkook membuat senyum simpul di wajahnya. “Sunbae kan ketua klub dance. Siapa yang tidak mengenal Jimin Sunbae di sekolah ini?!”

Jimin terkekeh, sedikit ge-er dengan ucapan Jungkook yang secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya terkenal di sekolah ini. Tidak lama kemudian, keduanya mengobrol sembari berjalan keluar dari toilet.

“Oh, ya, namamu siapa? Kau siswa kelas 1, kan?!” tanya Jimin.

Pemuda berambut merah marun itu mengangguk. “Oh, maaf aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Jeon Jungkook, Sunbaenim. Kelas 1.2.” Jungkook membungkuk sekilas.

“Oh~” sahut Jimin. “Em, aku mau ke kantin dulu, Jungkook-ah. Senang berkenalan denganmu,” ujar Jimin, berlalu dari hadapan Jungkook. Pemuda itu membungkuk sekilas sebelum Jimin benar-benar beranjak.

Sejauh ini, Jungkook sudah mengenal secara langsung salah satu targetnya. Tapi, ini belum ada apa-apanya. Dia harus lebih banyak tahu tentang Jimin dan Hara. Hah, kalau begini, apa aku bisa menyelesaikan hukumanku dalam waktu 30 hari?

@@@@@

Jungkook berbaring di dalam kamarnya. Di atas tempat tidur, memandang langit-langit kamar. Kepalanya terasa panas. Pusing memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan misi pertamanya, menyatukan Jimin dan Hara.

Yang jelas, dia tidak akan pernah melakukan apa yang telah dicontohkan Jin padanya.

“Arrgh!” Jungkook mengacak-acak rambutnya, frustasi.

“Tenangkan dirimu. Ini biasa terjadi di hari pertama.” Tiba-tiba terdengar suara dari sebelah Jungkook. Begitu Jungkook menoleh…

“YAAA!!!”

Jungkook berteriak kaget begitu mendapati sosok Jin ikut berbaring di sebelahnya. Tersenyum.

“BRUUK!”

Saking kagetnya, ia sampai terjatuh dari tempat tidur.

“BISAKAH KAU TIDAK MUNCUL SECARA TIBA-TIBA?” bentaknya, berdiri sambil mengelus-elus dahinya yang beberapa saat lalu mencium lantai.

Jin saat ini duduk di atas tempat tidur, mengenakan pakaian merah mudanya, terkekeh. “Maaf. Aku memang suka membuat trainee-ku terkejut. Itu hiburan tersendiri untukku,” sahutnya, kembali terkekeh sambil menutup mulutnya.

Jungkook mendengus. Pemuda berbaju merah itu lantas duduk di kursi yang berada di dekat meja belajarnya, memandang ke arah Jin yang bergerak menuju tepi tempat tidur Jungkook.

“Aaah~ rasanya aku sudah tidak tahan lagi, Jin! Aku pusing! Aku tidak tahu caranya menjodohkan orang!” gerutu Jungkook, sekali lagi menggaruk kepalanya, frustasi.

Jin menghela napas. “Di saat seperti ini kau harus menenangkan dirimu dan fokus pada apa yang telah kau capai di hari pertamamu.”

Jungkook menghela napas panjang. Mengikuti apa yang diucapkan mentornya. Berusaha untuk menenangkan pikirannya.

“Di hari pertama, para cupid-30-hari memang selalu merasa tidak akan sanggup menjalani hukuman ini. Tapi, seiring berjalannya waktu, mereka mulai menikmati hukuman ini dan… ya, banyak di antara cupid-30-hari yang tetap menjadi manusia setelah menjalani hukuman mereka,” ujar Jin, berusaha menghibur.

Lagi, Jungkook menghela napas. “Aku benar-benar pusing!” sahutnya sedikit ketus.

“Kalau kau benar-benar merasa tidak sanggup, aku punya penawaran untukmu.”

Kedua mata Jungkook langsung berbinar memandang Jin begitu mendengar adanya tanda-tanda ia tidak harus menjalani hukuman mengerikan ini. “Apa?”

“Ikut denganku ke istana Dewi Venus dan menjadi cupid seutuhnya. Dengan begitu, kau tidak akan merasa susah. Bagaimana? Kau mau?”

Seketika Jungkook mendecih. “Tidak! Aku tidak mau menjadi makhluk sepertimu! Aku mau tetap menjadi manusia!” tegas Jungkook.

“Kalau begitu, jalani hukumanmu. Jodohkan 4 pasangan yang ditargetkan padamu sebelum waktu 30 harimu habis.”

Jungkook mendengus. Mengalihkan wajahnya dari cupid mentornya.

Entah untuk keberapa kalinya, Jin menghela napas. Tahu betul bagaimana perasaan Jungkook saat ini. Tidak lama, cupid itu berkata, “Mau aku beri tahu satu rahasia agar kau bisa melewati hukuman ini?”

Pelan, Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah Jin. Menatap cupid itu sedikit curiga, takut Jin mengajaknya ke istana Dewi Venus lagi. Namun, di satu sisi, ia juga merasa tertarik. “A-apa?” tanya Jungkook.

Jin melukiskan senyum yang tidak bisa diartikan oleh Jungkook. “Lakukan apa saja.”

“Apa?”

“Lakukan apa saja untuk membuat mereka bersatu, paham? Apa saja.”

Oke. Itu jawaban yang sangat jauh berbeda dengan apa yang diharapkan Jeon Jungkook.

-TaehyungBelumCebok (^/\^)-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Also posted on author’s personal blog (Noeville) & Read Fanfiction / Fanfiction Side

A/N: Makasih untuk readers yang minggu lalu udah nyempetin baca & komenin FF ini. Hope you like this part. Don’t forget to leave your comment. I’m waiting ^^ Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan ^^

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ 30DAYS CUPID (PROLOG)/ BTS-BANGTAN

  1. Istg dua makhluk ciptaan tuhan ini adalah bias-bias saya
    Tuhaaaaaan senyum” sendiri bacanya /mojok/
    Setiap ada adegan ‘ganti baju’ saya selalu ngebayangin (?) Apalagi pas Jin ganti baju pake jaket kulit dan jeans itu bikin asdfghjkl
    Makasih buat Athor-nim
    YOU MADE MY NIGHT!!
    Segitu aja, gatau harus ngomong apa lagi huhuhuhu /terbang bareng JIN/

  2. Wahahhah aku baru baca ini ff, menarik thor ^^ wkwk jin jadi cupid aaaah pasti lucu :3 pink-pink semua deh haha. Jungkook ngejodohin orang ? Wkwk yang sabar deh abang, semoga bisa. Oke next chap ditunggu thor^^

  3. Aku ketawa ngakak pas jimin ngira jungkook gay…
    Dan lebih ngakak pas jin muncul tiba2…
    Huaaa…. keren bgt ceritanyaa…
    Daebakk…
    Keep writing🙂

  4. Yesss.. karena patah hati ma kookie, shina jadi bertransformasi jadi gadis yg lebih cantik kkk~ dan katanya kookie mulai suka tuh.. what? Min yoongi jadi guru? Mau jadi muridnyaaaaaaa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s