FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Title: Un.Titled

Author: Choco96

Genre: Romance, Sad, Friendship, School-Life, Family

Length: Chapters

Rating: PG-17

Main Cast: Merry (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Min Yoongi (BTS)

Support Cast: Lee hayi (Leehi)

Disclaimer:  100% hasil dan punya saya. Chara idol milik Tuhan, keluarganya, Bighit Entertainment! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

Summary:

Walau kita mengalami hal yang hampir serupa, bukan berarti kita mempunyai takdir yang sama. –Merry

 

Un.titled (Part 2)

/Jungkook/

Apa kau tahu, mulai sekarang aku ingin selalu bersamamu.

Apa kau tahu, perhatianku hanya berlaku pada dirimu.

Apa di tubuhmu terdapat magnet?

Mengapa kau begitu menarikku untuk memandangmu

Kau gadis yang berbeda dengan gadis-gadis yang pernah kutemui sebelumnya.

Rasa penasaranku tumbuh ketika berurusan denganmu.

Aku ingin mengetahuimu lebih.

Apa kau perkenankan?

-Jungkook

∞∞∞

 

Wajahmu tenang jika tertidur seperti ini. Sangat cantik jika kupandang sedekat ini. Di sela-sela tidurmu, kau tersenyum dengan tulus. Apa kau bermimpi indah saat ini? Tanyaku dalam hati seraya membenahi rambut depannya.

Aku tak tahu dirimu yang sebenarnya. Kau bukan seperti orang kebanyakan di Negara ini. Matamu yang cukup besar itu tak begitu persis dengan warga Negara ini. Kulit langsatmu tak banyak yang dipunyai oleh orang sini yang kebanyakan berkulit putih pucat. Dan rambut panjangmu yang bergelombang itu berbeda dengan orang disini yang kebanyakan berambut lurus.

Aku tersenyum dengan semua opini yang keluar dari pikiranku. Mengapa aku begitu ingin tahu tentangmu, Merry-ah? Padahal aku baru saja mengenalmu tujuh jam yang lalu. Tetapi ada sesuatu yang membuatku sedikit kecewa, mengapa sikapmu pada orang lain begitu dingin. Padahal perangaimu bukan seseorang yang jahat. Mungkin jauh dari kata jahat.

‘Hey, Merry. Bangunlah.’ Kukecup bibirnya sekilas.

Bibirnya kecil dan begitu lembut. Pertama kali aku mencium gadis. Bukan di hidung ataupun di pipi. Di bibir tepatnya. Jantungku berdegup tak keruan dan darahku berdesir.

‘Ah, this is my first kiss’

Senyumnya kembali terukir di mimpi indahnya. Mulutnya yang sedikit terbuka dan mengisyaratkan kata-kata. Namun tak begitu jelas di dengar. Aku tak peduli. Aku begitu bahagia untuk hari ini.

 

∞∞∞

 

/Taehyung/

 

Dia kembali ke kedai ini. Seperti biasanya, ia menyempatkan ke kedai saat senja. Ia mengacungkan tangannya yang akan memesan. Langsung kuniatkan untuk meluncur ke arahnya.

“Apa yang ingin kau pesan, Nona?” Tersenyum pada gadis ini.

“Americano, Taehyung.” Jawabnya singkat.

‘Apa, Americano?’ Batinku sedikit heran. Sebelum kutulis pesanannya, aku sedikit ragu untuk mencatatnya, “Maaf Nona, apa tak keberatan jika aku yang menawarkan pesananmu itu?”

“Mengapa? Apa ada yang salah?”

“Tidak, akan tetapi heran saja. Kulihat kau masih umur belasan tahun, tapi kau sudah pintar minum minuman berkafein. Dan juga minuman ini Americano yang tanpa gula.” Kujelaskan apa yang sedikit membuatku ragu untuk mencatat pesanannya.

“Bukankah gula membuat seseorang diabetes militus? Bukankah jadi sehat kalau aku meminum Americano tanpa gula itu?” masih berdebat dengan argumen masing-masing.

“Aku tak ingin beragumen denganmu, Nona. Kalau begitu akan kuganti pesananmu itu saja. Ini lebih baik daripada Americano.” Langsung kucatat pesanan yang kuatur sendiri itu dan meninggalkannya sendirian.

Enam menit berlalu, beranjak dari dapur dan mengatur letak cangkir dan alasnya menjadi apik. Seperti konsep di kedai ini, sederhana namun berdesain cantik.

“Silakan, Nona—suka—berargumen.” Kupasang tawa selepas mungkin. Untuk bisa memancing tawanya juga.

“Aku bukan Nona—suka—berargumen. Namaku Merry, Taehyung.” Ia menatapku datar seperti biasanya. Lalu, menyesap sedikit cairan cream ke dalam bibir mungilnya itu.

Pandangannya masih menimang-nimang apakah caramel milk tea ini lebih enak atau sebaliknya. Masih menerawang sesekali ia menyesap caramel itu yang masih mengepul. Apa bibirnya tak kepanasan? Mengapa ada gadis yang begitu betah dengan panas.

 

Gadis yang aneh

 

“Lumayan.” Pipinya terangkat pertanda terdapat senyuman di wajahnya.

‘Pasti kau suka minuman ini.’ Tawaku yang mulai mengembang.

“Pasti kau yang buat, kan?” Tanyanya sambil menatapku.

Mungkin mataku telah melebar karena keterkejutanku atas pertanyaannya. Mungkin dia sedang menatapku dengan tatapan selidik. Tapi nihil. Apa yang kuprediksi itu salah. Dia memberikanku tatapan datar seperti biasanya. Tapi dia menatapku? Kejadian langka. Ini pertama kalinya dia menatapku dengan pasti. Dan mengapa dia langsung tahu kalau aku yang membuatnya?

“Bagaimana kau tahu?” Timpalku sedikit gugup.

“Hahaha, just guess, Tuan Taehyung.” Mengekspos gigi kecil nan rapinya. Dia tertawa?

Rasa gugupku membuatku begitu malu di depan gadis ini. Aku hanya berniat untuk membuatkan minuman yang tak begitu berat untuk gadis yang masih berusia enam belas tahun. Hanya itu saja. Tapi sepertinya aku dibuat gugup oleh gadis ini. Iya, hanya gadis ini yang pertama kali membuatku gugup.

Tulilut~

Suara ponsel dari gadis ini berdering. Semakin lama semakin nyaring. Kulihat dia hanya memandangi ponselnya dengan malas dan mematikan ponselnya. Dia melipat tangannya di depan dadanya. Sepertinya dia sedikit kesal ketika ponsel itu berhenti berdering.

“Hey, Taehyung. Kapan-kapan kau bisa menemaniku minum kopi sampai malam?” Tiba-tiba berkata itu denganku. Dia mengajakku untuk menemani minum kopi? Apa dia tak punya pekerjaan dari sekolah? Apa dia begitu pintar sampai-sampai ingin mengajakku larut malam hanya minum kopi. Entahlah, itu terserah dia. Toh, dia adalah pelanggan tetap kedai ini.

“Kau tak pernah insomnia?” tanyaku sedikit bergurau. Aku memikirkan jika gadis ini minum kopi hingga larut malam. Apa dia tak pernah merasakan insomnia dan terdapat kantung mata yang begitu jelek jika dilihat oleh orang lain. Ayolah, dia masih umur belasan tahun dan dia berprilaku layaknya orang berusia tiga puluh tahunan. Aku yang mungkin lebih tua darinya lebih memilih minuman hangat seperti susu daripada minuman yang berkafein.

Kulihat dia masih menatapku dengan harap. Harapan untuk mengiyakan apa yang dimintanya padaku. Matanya yang begitu cantik itulah yang membuatku luluh, “Ah, kalau begitu dengan senang hati, Nona.”

“Aku bukan nonamu, Taehyung. Aku Merry. Ingat!” Katanya dengan menuntutku untuk menghapal namanya.

“Jangan lupa satu hal. Profesional, Nona.” Dengan mata memicingkan berharap dia takut denganku.

“Aku tahu, Tuan pelayan kedai.” Senyumnya menyeruak keluar.

“Di kedai kau bisa memanggilku seperti itu. Tapi diluar, kau bisa memanggilku Taehyung. Atau… Oppa?”

“Apa?” Sudut bibirnya yang sedikit menyembul berarti Merry sedang kesal. Terutama denganku. Hari ini sangat menyenangkan. Senja yang selalu menemaniku untuk kerja paruh waktu. Tidak lupa dengan temannya. Dia, Merry. Mungkin ini hari terbaikku dalam hidupku.

 

Hanya dengan percakapan yang singkat ini, walau terdapat bumbu ingin berkelahi

Tapi berujung dengan tawa lepasku. Jangan lupa dengan senyum dan tawanya yang begitu manis.

Aku menyukainya.

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

Aku masih terpaku dengan secarik kertas yang berada di tangan kananku. lebih khususnya ini sebuah surat dari sekolah. Surat tentang lulus dari seleksi lomba olimpiade matematika sePropinsi waktu lalu. Lomba Olimpiade se-propinsi yang sudah kuikuti, aku lolos?

Ucapan selamat dari bapak kepala sekolah dan wali kelasku telah sampai di telingaku tadi pagi. Ketika aku telah meletakkan tas merah marun yang didominasi dengan hitam. Aku langsung meluncur ke ruang kepala sekolah. Wali kelasku sudah berada di ruangan itu dan beberapa guru-guru lainnya berada di sana.

Hanya menatap datar kepada ke semua guru yang ada di ruangan kepala sekolah. Aku berpikir kalau aku tak melakukan yang melanggar sekolah. Aku juga tak pernah bermasalah dengan teman-temanku. Mengapa aku dipanggil oleh wali kelasku? Dan mengapa disini terdapat beberapa guru yang memandangku?

“Nak Merry, Apa kau tahu mengapa kau disuruh ke ruangan ini?” Aku menggeleng karena tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Seperti ada sesuatu yang berhubungan denganku. Tetapi mereka belum mengatakannya langsung.

“Kau lolos seleksi, Merry. Kau mewakili sekolah kita menuju Nasional.” Senyum wali kelasku mengembang ketika memberitahukan kabar gembira padaku. Aku hanya merespon dengan anggukan dan senyum simpul.

“Terima kasih. Ini juga karena bantuan guru pembimbing yang telah membimbingku dan mendorongku untuk berusaha sampai saat ini. Akhirnya hasilnya memuaskan. Terima kasih banyak.” Aku membungkukkan badan Sembilan puluh derajat di hadapan guru-guru sekolah ini.

 

Teeeet~

Suara bel masuk telah berbunyi, “Bapak kepala sekolah, aku izin kembali ke kelas.”

“Silakan, Nak.”

 

[Kakaotalk]

From: Jungkook

Ada berita apa, Merry-ah?

 

Sedikit mengganggu dengan pertanyaan barusan, segera kutaruh di saku blazer kuningku. Melangkah dengan langkah sedikit menyeret, memang hari-hari ini begitu membosankan. Sebelum langkahku ke 21, suara pesan masuk berbunyi lagi.

 

[Kakaotalk]

From: Jungkook

Hey Merry-ah, jawab pertanyaanku.

 

Dengan tidak bersemangat, kumatikan ponsel Samsungku. Aku begitu jengah, Jungkook. Tolong jangan ganggu aku sekarang. Mengapa dia menjadi temanku yang begitu penasaran dengan semua kegiatanku? Entahlah, mungkin dia hanya ingin mengerjaiku saja.

Sesampai di kelas, pasti ada murid yang langsung berlari kearahku dan bertanya panjang lebar mengenai berita barusan. Siapa lagi kalau bukan Tuan—ingin—tahu—masalah—orang—lain. Jeon Jungkook.

“Merry-ah, mengapa pesanku tak kau balas?”

“Aku malas.”

“Kau selalu begitu.” Bibirnya yang mengerucut seperti anak berusia tiga tahun. Matanya yang begitu jernih, bibir yang merah, dan wajah yang baby-faced itu sangat mendukung untuk melakukan aegyo. Ayolah, perlakuanmu itu begitu menyebalkan untuk saat ini.

Aku mengalihkan pandanganku dari sorotan mata yang menurutku polos itu. Mataku begitu berat untuk membukanya sedikit. Kuatur posisi untuk segera tidur secepatnya. Dengan cepat kedua tanganku menjadi tumpuan bantalku nanti. Wajahku kuhadapkan berlawanan jendela, itu artinya aku tak ingin acara tidurku diganggu oleh orang. Apalagi dengan Jungkook.

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

Tempat duduk Merry sekarang berada di sampingku. Tepatnya Merry dan aku sebangku. Aku tak yakin kalau dia yang berniat untuk sebangku denganku. Karena ia yang biasa berangkat lebih akhir dariku, tapi tadi pagi dia yang berangkat awal daripada aku.

Tidak seperti biasanya. Padahal jam yang selalu kuatur untuk lebih awal masih tetap. Apa kemarin dia bisa tidur lebih awal? Apa ada hal lain yang membuat dia berangkat awal dariku?

Atau mungkin dia tidur lebih awal karena dia tak mengerjakan tugas dari Mr. Bing lagi? Ah, mungkin saja. Dia selalu berlagak masa bodoh ketika pelajaran beliau. aku heran dengan kelakuan Merry. Apa penyebab dia selalu tak memperhatikan Mr. Bing?

Pertanyaan di otakku mulai membludak lagi. Penasaranku padanya mulai keluar. Tangan kiri yang sedari tadi kubuat untuk menumpu kepalaku. Yang sekali-kali melirik ke Merry.

“Nona Merry.”

Tiba-tiba Mr. Bing memanggil Merry. Gawat! Merry masih nyenyak dengan mimpinya yang entah sudah berada di lapisan mana. Secepatnya harus kubangunkan.

‘Merry-ah, bangun. Mr. Bing memanggilmu.’ Sedikit mengguncang-guncangkan tubuh mungilnya dan berbisik di telinganya.

“Nona Merry.” Panggil Mr. Bing lagi.

‘Merry-ah.’ Bisikku di telinganya. Semoga dia langsung bangun.

 

Akhirnya dia bangun juga. Tapi sialnya tatapan laser yang ditujukan kepada Merry oleh Mr. Bing telah tepat mengenai manik matanya. Apa dia tak ketakutan dengan tatapan guru ini?

“Nona Merry. Saya bertanya padamu, apa generasi dari tumbuhan paku?”

Matanya sedikit melebar dengan pertanyaan mematikan untuknya—itu menurutku. Namun itu hanya pertanyaan yang sangat mudah untuk murid-murid yang menyimak materi beliau.

Tiba-tiba muncul ide gila yang tak pernah kualami sebelumnya. Aku menyobek sepucuk kertas yang berada di buku catatanku. Lalu menuliskan jawaban yang beliau tanyakan tadi. Kucolek tangan Merry seraya memberikan jawaban yang barusan kutulis tadi.

Matanya tertuju pada sobekan kertas yang tertulis ‘sporofit’. Aku tahu mata itu menantap jawabanku. Jawabnya dengan sedikit ragu.

“Sporofit, Mr.”

“Benar Nona Merry. Tapi tolong jangan mengulangi ini lagi. Jangan lupa berterima kasihlah kepada teman sebangkumu itu. Dia berusaha untuk membebaskanmu dari hukumanku.”

Merry langsung menoleh ke arahku dan menatapku heran. Pandangan itu seperti mengatakan mengapa—kau—menyelamatkan—ku—padahal—aku—tak—pernah—baik—dengan—mu? Hanya sunggingan senyum yang kuperlihatkan padanya.

‘Aku hanya ingin membantumu saja.’ Kutulis di bawah jawaban tadi.

Merry langsung mengambil kertas itu, dan menuliskan sesuatu.

 

‘Ajari aku biologi.’

 

Dengan senang hati, Merry-ah.

 

∞∞∞

 

“Mengapa susah sekali?” Mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

 

Tebak saja siapa yang melakukan itu barusan?

Itu pasti Merry.

 

“Hey, Jungkook, bagaimana kau bisa betah dengan bahasa alien ini?”

“Mereka bukan bahasa alien, tapi bahasa latin. Kau tak pernah diajarkan itu waktu sekolah menengah pertama?”

“Aku bosan.” Melipat kedua tangannya lalu menutup wajahnya.

“Sebosan itukah?” Kepalaku kusandarkan pada meja ruang keluarga.

Meja ruang keluarga di rumahku yang biasa terisi dengan beberapa deretan buku lumayan tebal dan terbitan lama, sekarang telah kusulap menjadi meja belajar. Mengapa demikian? Karena aku tak ingin kesan pertamaku menjadi berantakan hanya karena pikiran yang aneh-aneh.

Pikiran aneh-aneh? Bukankah itu wajar kalau pikiranku bisa menjadi aneh kalau di dekatku mendukung untuk berbuat hal yang tak terduga. Apalagi aku juga seorang laki-laki—gadis yang kuhadapi sekarang adalah perempuan yang—ehm, pernah kucium tanpa izin.

Maka dari itu aku takut dengan pikiran yang keluar dari kendaliku.

“Hey, Merry-ah. Boleh aku bertanya?”

Kepalanya langsung menyembul dari persembunyiannya. Lalu menoleh padaku. Wajah kita berhadapan, aku menoleh ke kanan dan Merry menoleh sebaliknya.

“Apa?”

“Berita seminggu yang lalu, apa berita yang menggembirakan?”

“Hanya kelolosanku dalam seleksi lomba.”

“Kau lolos? Jadi kau ikut lomba tingkat nasional? Wah, hebat kau, Merry-ah! Aku bangga padamu.” Kataku takjub dengan beritanya yang barusan ia sampaikan padaku.

“Itu hanyalah sedikit kabar gembira, Jungkook-ah. Tidak berlebihan seperti itu.” Jawabnya tanpa ada intonasi yang bahagia.

“Itu sangat bagus, Merry-ah, kau harus—“

Sebelum kulanjutkan perkataanku yang seperti biasanya panjang lebar, dipotong oleh dia, ”Lalu mengapa kau tidak mengikuti olimpiade biologi layaknya sepertiku? Padahal nilaimu mendekati angka sempurna.”

Aku sedikit susah untuk pertanyaan itu. Pertanyaan Merry yang membuatku lidahku kelu. Seperti dejavu. Aku pernah merasakan sebelumnya, seperti ada yang bertanya padaku sama persis. Tapi dengan seseorang yang berbeda. Ah, sudahlah itu masa laluku.

“Aku tak berminat dengan itu. Lebih baik mengikuti lomba dengan unsur seni.”

“Something like?” tanyanya masih menatap ke arahku.

“Dancing and singing. It’s more interesting than biology Olympiad which sometimes make me bored because of that.”

“Memangnya kau menari dengan konsep apa?”

“Modern dance.”

“…Sudah lama bergelut di seni itu?” Seperti bukan layaknya Merry. Dia begitu penasaran dengan apa yang tadi kubicarakan. Mungkin seperti itu. Pertanyaan yang bertubi-tubi dia lontarkan padaku.

“Kalau begitu coba kau mencoba tari kontemporer.” Tambahnya sedikit antusias.

 

Kontemporer?

Sepertinya begitu menarik untuk kucoba. Sudah beberapa tahun aku selalu memperdalam kemampuanku untuk menari. Dan genrenya masih sama, modern dance. Aku belum menilik traditional dance. Apalagi dengan contemporer dance, belum pernah aku berpikir hingga sejauh itu. Apa harus kucoba?

Tapi bagaimana dia tahu tentang seni? Padahal dia selalu menatap bosan ketika guru menerang masalah seni. Apa dia memperhatikan sungguh-sungguh? Pandangannya begitu ambigu untuk kuterawang. Seperti tak ada orang yang bisa memprediksi apa yang ia nilai.

“Bagaimana kau tahu tentang itu?” Aku begitu ingin tahu dengan pemikirannya.

“Kau meperhatikanku?”

‘Iya, aku memperhatikanmu, Merry-ah’ jawabku yang hanya sebatas di pikiranku.

Aku membalas dengan tawa yang sedikit terbahak. Entah bahagia atau apapun yang sekarang menjalar di hatiku dan terdapat beribu-ribu kupu-kupu di perutku memberikan kesan yang tak enak.

 

Apa aku senang?

Senang karena Merry sedikit memperhatikanku?

 

 

‘Hey, Merry-ah. Waktu dekat ini aku tak akan di sisimu sementara.’ Kataku sedikit kecewa.

∞∞∞

 

/Merry/

 

My love is like a red rose

It may be beautiful now

But my sharp thorns will hurt you

My love is like a red rose

Yes, I may be fragrant

But the closer you get, the more I’ll hurt you.

 

Don’t look at me with the light glance

Don’t speak of love easily

If you want my heart, you need to take my pain too

Because you will be pricked by my thorns someday.

 

Setelah lagu ini kuputar, aku seperti merasakan makna dari lagu tersebut. Walaupun lagu ini banyak kata perumpamaan, akan tetapi seperti mewakili setengah dari kehidupanku. Tetapi ada benarnya juga dengan dari beberapa bait lagu ini.

Aku ibarat seperti bunga mawar merah, aku tampak cantik ataupun menawan, tetapi ada sesuatu yang akan membuat seseorang terluka. Dan itu masa laluku.

Memang benar kalau aku berbau harum menyeruak kedalam hati seseorang, namun semakin seseorang mendekat untuk mendapatkanku, lebih banyak aku akan menyakiti seseorang tersebut.

Mataku sepertinya sedikit mengeluarkan air mata lagi. Bukan karena ada seseorang yang menjahatiku. Namun aku begitu miris jika disamakan dengan lirik tersebut. Terlalu melankolis kehidupanku jika kuingat-ingat lagi.

‘Mengapa kau menangis di tempat seperti ini, bodoh?’

 

Aku bergegas untuk keluar dari department store khusus menjual CD album. Aku memilih album penyanyi yang masih seumuran denganku namun sarat akan talenta yang ia miliki. Penyanyi itu juga sekelas denganku. Namanya Lee Hayi, dengan nama panggung Leehi. Kala itu aku tak pernah mengenal namanya. Tapi beberapa bulan yang lalu, dia selalu absen karena mengikuti latihan vocal di salah satu agensi ternama.

Mungkin kalian mengira aku sedikit memperhatikan lingkungan sekitarku. Mungkin bisa dibilang seperti itu. Awalnya aku tak menyangka dengan perubahanku akan hal ini. Namun jika ditilik lebih dalam lagi, ini tak begitu merugikanku sama sekali.

Aku sedikit tenang. Dan sedikit terbesit dengan seseorang yang sudah membuatku orang yang sedikit peduli dengan orang lain. Dan bukan lain dialah, Jeon Jungkook.

Apa aku sedang memikirkan Jeon Jungkook?

 

[Kakaotalk]

To: Jungkook.

Jungkook-ah.

 

Berselang waktu tiga puluh detik, pesanku sudah dibalas oleh jungkook.

 

[Kakaotalk]

From: Jungkook

Ada apa, Merry-ah? Tumben kau memberikanku pesan dulu. ^^

 

Benar perkataan jungkook. Sejak kapan pula aku mengajak mengobrol dahulu. Padahal aku paling antisosial. Mungkin ini hal positif yang sudah terjadi di diriku. Bukankah itu lebih baik daripada menjadi orang yang angkuh dan tak punya teman?

 

[Kakaotalk]

To: Jungkook

Mengapa kau selalu berisik, Jungkook-ah?

Apa kau tak pernah memiliki teman mirip denganku?

 

[Kakaotalk]

From: Jungkook

Hey, Merry-ah. Jangan marah dulu. Hahaha😄

Aku tak punya. Hanya kau saja temanku yang berkategori unik buatku.

Oh iya, kau ingin mengatakan apa?

 

Jemariku masih mulus untuk mengetuk papan panel touchscreen ponsel bermerk Samsung Galaxy S3 berwarna black pearl. Aku ingin menuliskan ‘terima kasih, Jungkook-ah’. Tiba-tiba aku sedikit tersandung sesuatu yang lumayan membuat badanku oleng, hingga menabrak seseorang.

“Ah maaf, saya tak sengaja.” Seseorang bersuara berat meminta maaf padaku,” Saya tak memperhatikan jalan saya.” Sambungnya dengan sopan.

Album yang akan kubayar ke kasir, telah mencium dinginnya lantai toko dan tak lupa dengan nasib ponselku juga. Aku menabrak seseorang yang mungkin dia juga tak memperhatikan jalan sepertiku. Suaranya berat dengan meminta maaf padaku dengan sopan. Sepertinya dia sudah berumur 25 tahunan. Dia seorang lelaki.

“Bukan kesalahanmu sepenuhnya. Ini kesalahan saya juga yang teledor untuk memperhatikan jalan.” Aku memberanikan diri untuk menatap ke arahnya dan memilih kata yang sopan dan pas untuk meminta maaf kepada lelaki ini.

“Ponselku jatuh.” Kataku setelah meminta maaf padanya. Kucoba untuk menyalakan ponselku. Tapi hasil yang tak memuaskan. Layar ponselku tak lekas kembali hidup. Masih mati. Apa ponsel ini sudah rusak?

“Ponselmu jatuh? Kalau begitu saya akan menggantikannya.”

 

Apa? Menggantikan?

Bukankah itu sedikit berlebihan?

Ponsel ini juga sudah menemaniku dua tahun belakangan ini. Mungkin ponsel ini sudah rusak.

 

“Ah tidak usah. Mungkin memang waktunya rusak.” Timpalku dengan santai.

“Tidak. Ponselmu jatuh karena saya.”

“Tak apa, Tuan. Jangan terlalu dipaksakan.” Lelaki ini masih saja keras kepala dengan saranku.

“Kalau kau tak ingin ponselmu kuganti, tolong saya yang memperbaiki ponselmu. Akan kubawa ponselmu sementara dan kau bawa ponselku.” Dia mengambil ponselku dan menggantikan ponsel bermerk Samsung Galaxy S4. Tak lupa dia membuka kartu memori eksternal dan kartu SIMnya.

“Lalu kau—?”

“Di ponsel itu ada nomorku. Jika ingin kau bertanya apa ponselmu sudah kuperbaiki atau belum.” Lelaki itu mengukir senyum padaku dan melambaikan tangan. Dia bergerak pergi dari hadapanku. Punggung itu kutatap sampai tak terlihat dari indera penglihatanku.

 

Macam lelaki apa dia?

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

‘Bagaimana ini? Lomba itu memang masih jauh. Tapi masa karantina selama sebulan di sana. Bukan di wilayah dekat kota ini dan bukan Negara ini. melainkan kota yang sangat jauh dari Negara ini. Los Angeles, Amerika Serikat.’ Batinku seraya mengacak-acak rambutku frustasi.

Mengapa semakin lama hari itu semakin dekat?

Aku tahu lomba ini begitu aku impikan dari dulu, tetapi lambat laun lomba ini begitu meresahkanku. Pasalnya keberadaanku tidak dalam jangkauan ibuku. Ibu juga seorang diri jika berada di rumah sendiri. Itu masih alasan lain dari beberapa alasan. Alasan utamanya yaitu aku tidak berada di zona gadis itu. Ini begitu jauh darinya.

Walaupun aku meninggalkan gadis itu hanya kurung waktu sebulan, akan tetapi serasa meninggalkan gadis itu berpuluh-puluh bulan. Aku takut rasa rinduku tak terbendung. Rasa rindu itu menyiksaku di sana. Dan siksaan itu mengganggu konsentrasiku untuk lomba itu.

‘Apa aku harus bertemu Merry?’

Kugapai ponselku dari tas merah di lantai tempat aku berlatih menari. Aku sedikit ragu untuk mengajaknya ke suatu tempat. Ini juga inisiatifku untuk memulai pendekatan pada Merry.

 

[Kakaotalk]

To: Merry❤

Merry-ah~

 

[Kakaotalk]

From: Merry❤

Ada apa, Jungkook-ah? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?

 

Bingo! Merry tahu apa yang ingin aku utarakan padanya. Tapi bukan di pesan ini. aku ingin mengatakan di sesuatu tempat. Seperti taman kota mungkin.

Aku mengetik sesuatu di ponselku.

 

‘Aku ingin bertemu denganmu di taman kota besok.’

∞∞∞

 

“Tak seburuk apa yang kau kira, Merry-ah. Berjalan-jalan di taman kota waktu senja tak begitu buruk, kan?” Tanyaku menoleh ke wajahnya.

Dia mengenakan kaos v-neck yang sedikit mengumbar tulang selangka, blazer lumayan panjang berwarna merah muda yang bergradasi dengan biru lazuardi, sneaker converse hitam putih, dan celana jeans panjang berwarna biru. Tanpa menggunakan make-up. Dia masih kelihatan cantik. Mungkin karena kulit langsat, bibir mungil, dan lipatan di kelopak matanya itulah yang membuatku terpesona.

Merry mengangguk pelan. Dia masih melihat-lihat suasana taman kota yang sedikit ramai. Mungkin dia jarang di lingkungan seperti ini. Seingatku dia merupakan seseorang pendiam dan tak acuh dengan keadaan sekitarnya.

Tak sengaja punggung tanganku bergesekan dengan punggung tangannya. Begitu dingin. Apa hawanya begitu dingin di luar sini?

Aku menggapai tangannya dan menggenggamnya. Aku mengeratkan tanganku untuk menghangatkan salah satu tangannya. Berselang waktu yang singkat, dia menoleh ke arahku. Memandangku heran.

“Jungkook-ah—“

“Aku hanya ingin, Merry-ah. Tanganmu juga begitu dingin jika aku rasakan. Apa kau begitu kedinginan di luar sini? Apa kita harus ke tempat itu?” menunjuk ke suatu toko yang mungkin bisa menghilangkan rasa dinginnya.

Aku segera menarik tangannya ke toko yang mencuri perhatianku. Aku ingin membelikan beberapa hot pack. Tentunya untuk Merry yang sekarang masih berada di sisiku.

Saat berada di dalam aku mengambil beberapa hot pack. Merry menungguku di luar. Itu memang kemauannya berada di luar toko. Mungkin ia malu untuk ke dalam denganku. Takut digosipkan oleh ibu-ibu dan para gadis di dalam sana kalau aku kekasihnya.

 

Kekasihnya? Aku tak sadar dengan perkataanku barusan.

Apa yang kupikirkan?

Apa mungkin kalau aku mengutarakannya dan dia akan menjadi kekasihku?

 

“Jungkook-ah. Cepatlah, di luar sini begitu dingin.” Pintanya yang membuatku untuk segera ke kasir.

Aku mendudukkan diriku di sebelah Merry. Dia mungkin penasaran apa yang aku beli barusan. Aku langsung memberikan tiga hot pack padanya.

“ini.” Memberikan hot pack yang berjumlah tiga buah.

“Apa? Hot pack? Apa aku setua itu untuk memakainya?”

“Badanmu dingin, Merry-ah.” Jawabku sedikit mengkhawatirkan Merry.

“Tapi kenapa hot pack juga? Syal atau sarung tangan misalnya.” Timpalnya sedikit kesal.

“Kau ingin itu? Kalau begitu aku akan kembali ke sana.” Sebelum aku kembali ke toko tadi, tanganku ditarik oleh Merry. Dia menggeleng pelan, ”Tak usah. Ini saja sudah cukup, Jungkook-ah.”

“Hahaha kau menggodaku?”

“Menggoda seperti apa?”

Langsung kutarik tangannya ke dalam sakuku. Ia terperanjat kaget. Wajah inilah yang begitu manis jika kusaksikan barusan, “Apa kau malu?”

“Aku hanya terkejut saja. Karena—“

“Kau baru pertama kali diperlakukan lelaki seperti ini?” godaku.

“Hey, kemana Jungkook-ah yang selalu menggangguku?” tanyanya sedikit sebal denganku. Bagaimana tidak, bibirnya sudah mengerucut. Pertanda dia mulai sebal denganku.

“Bukankah ini mengganggu?”

“Ini lebih menjerumus untuk menggodaku, bukan menggangguku.”

Aku terbahak dengan kelakuan Merry. Muka yang manis itu menghiasi wajah mungilnya. Rambutnya dibiarkan terurai. Aku begitu terpesona dengannya.

 

‘Kapan kau bisa menganggapku lebih dari teman?’

 

∞∞∞

 

“Jungkook-ah, waktu aku belajar di rumahmu, mengapa aku hanya melihat ibumu saja? Dimana ayahmu?” tanyanya sambil memakan kembang gula yang kubelikan tadi. Jangan lupa tangan kita masih tertaut.

Aku menoleh ke arahnya, yang masih memakan kembang gula berwarna pink. Mungkin moodnya sedang baik karena yang kulihat hanyalah senyuman dibalik acara makan kembang gula.

“Orang tuaku sudah pisah sewaktu aku masih sekolah dasar.” Jawabku sambil menerawang jauh ke masa lalu, “mungkin sekarang aku sudah lupa dengan wajah ayahku. Karena yang selalu menemaniku adalah ibuku.”

Aku menatapnya sekilas. Wajah yang ia perlihatkan padaku sedikit kaget dengan apa yang kukatakan barusan. Apa berita seperti itu membuat dia syok?

“Apa kau menyayangi—Ah, maksudku apa kau benci terhadap ayahmu—tentang perceraian orang tuamu?”

“Mungkin tidak. Aku masih menyayanginya, walaupun dia tak di sampingku lagi.” Aku tersenyum dengan perkataanku barusan. Sedikit bangga, walaupun tak ada yang seharusnya dibanggakan. Apalagi kehidupan keluargaku yang sudah seperti itu.

“Lalu kau bagaimana?” tanyaku balik ke Merry.

“Mirip denganmu.” Jawabnya singkat masih memandang lurus ke depan.

“Cerai—ah, maksudku orang tuamu berpisah? Sejak kapan?” tanyaku sedikit menyelidik.

“…” dia tak menjawab.

“Merry-ah, sejak kapan?”

“Sekolah menengah pertama.” Jawabnya singkat menundukkan kepalanya.

“Apa kau masih menyayangi ayahmu, Merry-ah?”

 

Tiba-tiba tangannya yang kugenggam dari tadi, dia lepas dengan kasar. Aku terkejut dengan hal tersebut. Apa ada salah dengan kata-kataku?

“Jeon Jungkook, aku tahu jika keadaan keluarga kita serupa. Tapi bukan karena serupa lalu kau bisa anggap itu sama! Aku membencimu!” teriaknya yang sarkasme lalu mencampakkanku di sini.

 

Tempat yang ingin kukatakan sesuatu.

Keberangkatanku besok.

Dan perasaanku.

Bukan perkelakelahian yang kuinginkan.

 

Apa aku sudah terlambat?

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

‘Aku malas ke sekolah’ mengeluh dengan keseharianku. Aku sedang mengalami mood yang tidak baik. Aku sedang tak ingin bertatap muka dengan orang-orang. Apalagi seseorang yang habis kubentak waktu itu.

 

Jeon Jungkook.

 

“Merry, kau nanti akan terlambat.”

“Aku malas ke sekolah, ibu.” Memasang muka sebal dan malas pada ibu.

“Merry-ah, ayo berangkat. Apa kau ingin mengecewakan ibu?”

Aku menggeleng. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku tak ingin mengecewakannya kedua kalinya. dan tak akan untuk kedua kalinya karena kelakuan pria persetan itu.

Tak akan pernah!

 

∞∞∞

 

Aku memasuki sekolah dengan suara kakiku yang berdecit kemana-mana. Aku malas. Dan kemalasan itu bertambah ketika aku membuka loker nomor 18. Lokerku pastinya.

Di dalamnya terdapat buku-buku diktat, memo-memo, sepatu khusus sekolah, dan… surat berwarna merah?

Apa aku meninggalkan sesuatu yang mencurigakan kemarin?

Langsung kuambil surat yang entah darimana itu ke dalam sakuku. Aku menaiki anak tangga dengan gontai. Tak bersemangat. Bukan tak bersemangat karena belum sarapan, tetapi akan hal sesuatu.

Itu pasti sapaan seseorang.

Siapa lagi kalau bukan dia?

Jeon Jungkook.

Aku menghela napas pelan. Aku heran dengan tingkat lelaki itu. Begitu hangat dengan seseorang di sekelilingnya. Sangat bertolak belakang denganku yang antisosial.

Tetapi ketika aku membuka pintu kelas, tak kutemukan seseorang di sana. di dekat jendela urutan ketiga dari depan. Dia selalu lebih awal dariku. Tapi yang terpampang jelas, dia tak ada disana.

 

Dimana dia?

 

Aku membuka surat merah yang tadi kumasukkan di saku kananku. apa ini ada hubungannya dengannya? Entahlah.

 

∞∞∞

Merry-ah~

Maafkan aku, bukannya aku untuk memulai pertengkaran itu di taman kota.

Aku hanya penasaran denganmu. Dari temanmu, kamu sendiri, dan kehidupanmu.

Kau juga sudah tahu keluarga seperti apa.

Kau mendengarnya sendiri dari mulutku sendiri. Apa kau menyesal untuk berteman denganku?

Jika kau berpikir seperti itu, aku minta maaf padamu dan tolong jangan menghindar dariku.

 

Merry-ah~

Kau membaca surat ini bukan? Jika iya, mungkin aku sudah berada di bandara Gimpo untuk bertolak ke Amerika Serikat. Aku menjalani karantina disana selama sebulan. Apa kau akan merindukanku?

Hahaha, tak mungkin kau merindukan seseorang yang merepotkan dan cerewet sepertiku. Aku tahu itu.

Tetapi Merry-ah, aku punya pesan padamu.

Setelah aku menginjakkan kakiku di kota ini, tolong kau kabulkan permintaanku.

Tunggu aku di taman kota tempo lalu.

Terima kasih banyak, Merry-ah.

 

 

 

∞∞∞

 

/Taehyung/

 

“Kau menangis?” tanyaku sambil melihat keadaan gadis di hadapanku sekarang.

Apa yang terjadi padanya?

 

Dia masih terisak. Aku mencoba untuk menenangkan hatinya di sebelahku. Air matanya begitu tumpah ketika menghampiriku pada malam ini. pukul setengah delapan malam. Menurutku ini sangat malam jika dilihat dari kedatangannya seperti biasanya.

“Apa yang terjadi, Merry-ah?” aku mencoba untuk menanyakan kembali dengan menambah akhiran. Namanya.

“A—Aku, aku bingung, Taehyung-ah.” Tangisannya semakin menjadi-jadi.

 

Aku bingung juga, Merry-ah.

Lebih bingung darimu.

Aku bingung denganmu.

Kau sering ke kedaiku akhir-akhir ini.

Kau sering menyebut namaku ketika aku sedang bekerja, padahal semua orang memanggilku pelayan.

Kau menyebut namaku tanpa kata oppa, padahal kau adik kelasku.

Kau selalu memesan kopi yang mungkin lebih membuat kantung mata terbentuk.

Dan aku tak mengerti lagi, mengapa kau memperbolehkan seseorang untuk menciummu?

 

Cemburu?

Mungkin hawa itu mulai merasuk dalam hatiku. Dadaku semakin sesak ketika aku mengingat tentang kejadian itu. Kejadian dimana kau dicium oleh seseorang ketika kau terlelap. Apa yang menciummu itu kekasihmu?

Sederetan pertanyaan itu membuatku kalut seperti penampilanmu sekarang. Aku begitu bingung apa yang harus kulakukan saat ini. Apa aku hanya memberimu secangkir kopi untuk membuatmu lebih nyaman?

Ah, bukannya lebih nyaman, mungkin lebih memperburuk. Pasalnya lebih membuat dia terjaga di malam hari dan menangis semalaman. Itu tak aku harapkan saat ini.

 

“Taehyung-ah, aku—“

“Tolong jangan menangis lagi. Aku bingung apa yang harus kulakukan padamu. Aku juga tak pernah memperlakukan tamuku seperti ini. Kau juga perempuan. Ini pertama kalinya aku memperlakukan seorang gadis. Menunggu hingga malam dan ternyata aku mendapatkanmu menangis tanpa kuketahui sebabnya.”

Mukanya menengadah untuk menghadap ke wajahku. Aku memeluknya. Aku ingin memberi kehangatan dan kelegaan untuk tangisannya itu. Aku tak suka dengan air muka yang murung. Aku benci itu.

Aku benci sebuah air mata karena alasan yang tak jelas. Jika alasan itu jelas, aku lebih membenci itu. Tangisan itu tak akan menyelesaikan masalah. Seperti halnya aku sepuluh tahun silam, Taehyung kecil yang selalu menangis. Tak pernah dihiraukan oleh seseorang di panti asuhan. Masa laluku yang kelam.

 

“Hey, Merry-ah apa kau tahu kalau sampai saat ini aku menjaga perasaan ini padamu.” Aku memandangnya intens. Matanya yang sembab itu aku sentuh dengan jemariku. Masih terdapat jejak air matanya yang belum kering sepenuhnya.

“Apa maksudmu, Taehyung-ah?”

“Aku menyukaimu.” Jawabku jujur. Mengeliminasi jarak diantara kita. Entah dorongan apa yang mengganggu pikiranku untuk merengkuhnya. Aku hanya tak ingin dia menangis di hadapanku. Aku hanya ingin membuatnya bahagia di sampingku. Apa salahnya?

 

8 sentimeter…

 

6 sentimeter…

 

4 sentimeter…

 

2 sentimeter…

 

Hidungku sudah bersentuhan dengannya. Ia juga sudah menutup matanya ketika jarak kita begitu dekat. Aku mendaratkan bibirku halus ke bibirnya. Bibirnya begitu halus dan lembut. Aku sedikit menggerakan bibirku untuk melumat bibirnya. Berhati-hati untuk memagut bibirnya. Namun disela-sela ciuman kita, akhirnya dia membalas ciumanku. Dia mengalungkan kedua tangannya di leherku.

Walaupun di dalam hatiku begitu senang karena ciumanku terbalas, di sela ciuman kita pula aku menitikkan air mata. Apa tangisanku berisi kebahagiaan atau sebaliknya?

Sebuah rasa sakit masa lalu.

 

‘Aku tahu aku begitu egois. Tapi apa kau tak sudi untuk memberikanku kesempatan untuk membagikan sedikit kehangatan dariku?’

‘Karena aku menyukai—bukan. Aku mencintaimu, Merry-ah’

 

XX TO BE CONTINUED XX

 

NB:

Hai Readers~ ketemu lagi sama saya. Capek juga nulis part kedua ini. gimana? Masih kurang panjangkah? /curhat/ part ini menyita waktuku empat jam nonstop dan capek buanget.

Hehehe, oh ya~ makasih sudah baca ya ^^ dan tolong komennya~

Byeee~

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Yaah trus hubungan jungkook sm merry gimana? Ahh jungkook sm merry aja thor,lebih dapet feel nya ,keren thor! Next chapternya di tunggu

  2. Yah kenapa Jungkooknya pergi?? sedih deh: ‘( Thor kalo bisa sih Merry sama Jungkook aja, biar Taehyung sama aku \plak/ *oke abaikan* Next ya thor jgn lama2

  3. Yah kenapa Jungkooknya pergi?? sedih deh: ‘( Thor kalo bisa sih Merry sama Jungkook aja, biar Taehyung sama aku \plak/ *oke abaikan* Next ya thor jgn lama2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s