FF VIGNETTE/ PRESIDENT CLASS/ BTS-APINK


Tittle : President Class

Rating : G

Genre : Fluff, school-life

Lenght : Vignette

Scriptwriter : RV

Cast : Oh Hayoung (APINK) & Park Jimin (BTS).

CYMERA_20140623_001035

“Your smile just killing me”

-Hayoung-

***

Park Jimin..

Aku memerhatikannya,

Tempat duduknya berada disamping barisanku, tepat 2 meja dari depan.

 

Entah sejak kapan aku menaruh perhatian lebih pada orang itu, Ketua kelasku. Setiap memandangnya aku selalu ingin melihat senyumnya yang menampakkan hanya segaris matanya itu, manis, sungguh manis. Darahku selalu berdesir setiap mata kami bertemu pandang, karena dia akan selalu menorehkan senyumnya yang menular kepadaku. Tapi sayangnya.. tidak hanya aku, dia memamerkan senyumnya kepada semua orang. Seperti melayang kemudian terjatuh, itulah yang aku rasakan setiap mengakui kenyataan itu. Kecewa, tapi kembali ke dunia nyata. Siapa Aku? Aku hanya salah satu dari sekian banyak temannya.

 

Mungkin seorang Park Jimin bukan tipe orang yang banyak bicara seperti mayoritas siswa dikelas kami, tapi dia orang yang paling sering tersenyum yang pernah aku kenal. Bahkan orang Indonesia yang terkenal ramah dan paling sering tersenyum-pun mungkin tidak sebanding dengan banyaknya senyum yang sering ia torehkan. Terkadang aku suka merasa mubadzir melihat senyumnya yang hampir tidak pernah pudar itu. Aku takut senyum itu habis. Konyol? I knew.

 

“Oh Hayoung!” Panggil Namjoo Eonnie yang membuyarkan lamunanku.

 

Eonnie? aku memanggilnya Eonnie karena aku lebih muda satu tahun darinya. Tidak hanya dia saja, tapi seluruh murid di kelas ini. Ini karena aku pernah lompat kelas sekali saat tingkat 8 Sekolah menengah.

 

“Ne, Eonnie?” Sahutku seraya menoleh kearahnya.

“Tolong ajarkan aku soal yang ini” pintanya sedikit memohon.

 

Aku tertawa kecil melihat wajahnya yang menurutku sangat imut merajuk padaku.

“Dengan senang hati, eonnie-ya” jawabku sembari mengalihkan pandanganku pada buku soal yang ia sodorkan.

 

Aku mencoba fokus memerhatikan soal itu. Tapi lagi-lagi fokusku terpecah pada namja yang duduk 2 baris di depanku. Rasanya seperti ada magnet yang memaksaku untuk meliriknya.

 

Tunggu! Apa aku salah lihat? Park Jimin sedang menghadap belakang dan.. memandang kearahku? Sekitar 3 sekon kami berpandangan lalu ia tersenyum dengan sangat manis. Setelah itu Jimin kembali menghadap depan dan melanjutkan kegiatan membaca bukunya.

 

“Hayoung-ah, kau dengar ucapanku tidak sih?” Ujar namjoo sunbae yang mengejutkanku.

“Ah ne-ne?” Tanyaku agak panik. Demi apapun aku tidak sadar kalau dia mengucapkan sesuatu.

 

Namjoo Eonnie mendengus sembari mengerucutkan bibirnya.

“Tidak ada siaran ulang!” Timpalnya agak kesal yang kubalas dengan tawa.

 

Kalau kuingat cara Jimin tadi menoleh padaku, aku jadi mengingat ke waktu itu. Sebelumnya aku bilang entah kapan mulai tertarik padanya, bukan? Sepertinya sekarang aku tahu jawabannya, sejak saat itu.

 

~KILAS BALIK~

 

Hosh-hosh

 

Dipagi yang cerah pada hari Rabu Aku malah harus berlari menuju guru piket yang bertugas. Hari ini aku agak sial, karena bangun kesiangan dan terpaksa berlari dari terminal sampai sekolah.

 

“Songsaenim, jwesonghaeyo” ucapku pada Goo Saem yang saat itu sedang menangani beberapa murid lain yang juga terlambat.

“Oh Hayoung, hari ini kau telat. Terpaksa aku harus memberikanmu hukuman” ucap Goo Saem lugas tetapi terdengar ramah seperti biasanya.

“Maaf, saem” sesalku sembari menunduk.

“Bergabunglah dengan murid lain yang terlambat” perintahnya seraya menjauh dari hadapanku.

 

Aku mendongak dan melajukan langkahku dengan lemas ke kerumunan beberapa murid yang sedang berdiri di depan meja piket.

 

“Yookyung, Jisoo dan SungJae kalian menyapu halaman. Choi Minki bertugas membuang sampah dan Oh Hayoung kau membersihkan ruangan BP, arraseo?”

“Ne, saem” jawab kami serempak kecuali minki.

“Kalau begitu kerjakan! Setelah selesai kalian bisa melapor kepadaku dan meminta surat izin masuk kelas” Setelah menginformasikan hal itu Goo Saem masuk ke ruang Guru yang terletak tepat disampingnya.

 

Minki yang terkenal berandal disekolah berdecap malas sembari mengacak rambutnya yang membuat kami memerhatikannya. Penampilannya yang urakan terkesan keren dimata kebanyakan siswi putri, wajahnya-pun sangat tampan, cantik seperti wanita. Rambutnya yang terbilang gondrong untuk ukuran seorang pelajar pria menambah kesan keren diwajahnya, Bahkan dimataku ia lebih terlihat seperti tokoh Anime.

 

Tanpa disangka pandanganku dan minki bertemu, dia menatapku dengan tatapan teduhnya. Tiba-tiba dia mendekat dan merangkulku, aroma maskulin-nya seketika tertangkap di indera penciumanku.

 

Minki sedikit menunduk untuk menatapku yang lebih pendek darinya.

“Kau tahu? Hal ini hanya membuang-buang waktu, kita bukan pelayan sekolah yang seenaknya dapat disuruh-suruh” ucapnya intens padaku, melihat jarak pandang kami sekarang tentu membuatku gugup bahkan Sungjae dan lainnya yang memandang kami juga merasa demikian.

 

Aku melepaskan rangkulan Minki dengan perlahan agar tidak menyinggung perasaannya.

“Ini kan hukuman karena kita terlambat, minki-ssi. A-aku permisi karena harus segera menyelesaikan hukumanku” aku mengambil seribu langkah untuk menjauh darinya.

 

Dengan tempo cepat aku berjalan menuju Ruang BP, sedikit merasa janggal dengan situasi sekolah yang saat itu sedang sepi sebab jam pelajaran sudah dimulai daritadi.

 

Srrett-Blam!

 

Aku masuk keruangan Bimbingan konseling dan segera menutup pintunya dengan keras, kemudian aku mengintip dari balik jendela untuk memeriksa apa masih ada sosok Choi Minki diluar sana.

 

‘Namja yang menyeramkan, Bad boy seperti dirinya sangat membuatku tidak nyaman’ batinku.

 

“Oh Hayoung, wae geureyo?” Tanya seorang namja dibelakangku.

 

Aku terkesiap dan reflek menghadap kearah suara namja itu.

 

“Ketua kelas?” Ucapku tersirat tanda tanya besar akan keberadaanya disini dan dari ekspresinya aku tahu dia juga heran dengan kedatanganku yang mengejutkan.

 

“Ah aku..diminta membersihkan ruangan ini oleh Goo Saem karena terlambat, ketua kelas sendiri sedang apa disini?” Sambungku.

 

Dia duduk di sofa ditemani beberapa kertas di meja dan sebuah pulpen ditangannya, Kemudian Dia tersenyum simpul padaku.

“Aku sedang mengisi laporan kelas. Jadi kau sedang dihukum?” Jawabnya yang diakhiri pertanyaan.

“N-ne” jawabku malu.

“Kalau begitu semangat! aku ingin sekali membantu tapi kerjaanku belum selesai” ucapnya tersirat kekecewaan.

 

Aku menggeleng cepat “tidak masalah, ketua kelas! Aku bisa mengerjakannya sendiri, terimakasih atas niat baikmu” jawabku sembari membungkukkan tubuh 90 derajat.

 

Lagi-lagi ia tersenyum padaku. Ia mengangguk mantap lalu kembali meneruskan kegiatannya yang tadi sempat tertunda.

 

Aku mulai mengambil sapu untuk membersihkan lantai yang agak berdebu. Setelah menyapu aku ke rak buku yang terletak di belakang sofa yang sedang di duduki Ketua kelas.

 

Aku menyempatkan diri memerhatikan punggung Ketua kelas yang kini membelakangiku. Kalau dipikir-pikir entah apa yang membuatku tidak pernah berani memanggil dia dengan sebutan nama aslinya.

 

Aku mengendikkan bahu mencoba tidak peduli. Kemudian aku memulai pekerjaanku untuk mengelap rak buku. Cukup lama aku berkutat dengan rak itu sampai aku merasakan ada sepasang mata yang memerhatikanku.

 

Dengan ragu aku menoleh dan mendapati ketua kelas sedang memandangku, ia sangat tenang bahkan ia tersenyum besar padaku membuatku merasakan sengatan listrik dibagian perutku. Ia kembali keposisinya yang mempunggungiku lalu melanjutkan tugasnya dengan tenang.

 

“Oh Hayoung?” Panggilnya tak lama kemudian.

“Ne?” Jawabku cepat.

“Kau lahir tahun 1996, bukan?”

“Ne, ketua kelas”

“Kalau begitu aku lebih tua darimu, tentu untukmu aku tidak hanya sebagai ketua kelas”

“Mak..maksud, ketua kelas?”

 

Ia meletakkan pensilnya lalu berdiri dan menghampiriku.

“Teman sekelas yang seumuran denganku saja memanggilku ketua kelas. Kau lebih muda berarti aku sebagai presiden kelas bagimu” tuturnya dengan senyum yang terus tergantung.

“Presiden kelas??” Tanyaku mengulang ucapannya dengan heran.

 

“Presiden kelas. Julukan yang keren” ucapnya terlebih pada dirinya sendiri.

 

Aku hanya tertawa menanggapi ucapannya.

 

“Apa kau sudah selesai?” Tanyanya sembari melihat lap ditanganku.

“Ne, sepertinya sudah selesai”

“Kalau begitu kutemani ke Goo saem, kau mau mengambil surat izin masuk kelas, bukan?”

“Ne tapi.. tidak perlu, ketua kelas! Kau tidak perlu repot-repot mengantarku”

“Aku sama sekali tidak keberatan. Aku presiden kelas, ingat? So, it’s an order” timpalnya “kajja!” ajaknya kemudian.

 

*

 

Aku dan Ketua kelas mendekati meja piket, kami melihat Goo Saem yang sedang memarahi minki. Wajah Goo Saem yang biasanya terlihat tenang kini terpatri kekesalan, sedangkan minki yang dimarahi hanya diam tanpa adanya rasa penyesalan diwajahnya.

 

“Chogiyo, saem” sapa ketua kelas sopan.

“Eoh, kalian?” Raut kesal Goo saem agak berkurang saat melihat kami.

“Oh Hayoung sudah menyelesaikan tugasnya, Dapatkah saem memberi Surat izin masuk kelas untuknya?” Tutur ketua kelas dengan sangat sopan.

 

Goo saem tersenyum pada ketua kelas, menurutku Ketua kelas sangat mempesona dengan sisi gentle yang ia miliki.

 

Kulihat minki berdecap malas sembari membuang muka. Ia terkesan muak melihat sikap ketua kelas dan tanggapan Goo saem.

 

“Tentu saja, aku sudah menyiapkan surat izin masuk untuk Oh Hyoung” balas Goo saem, kini ekspresi kesal sudah lenyap dari wajahnya.

 

Goo saem menyodorkan surat izin itu padaku.

“Ige. Tapi tunggu!” Serunya yang otomatis membuat tanganku yang ingin meraih kertas yang ia sodorkan terhenti.

 

“Kenapa kalian bersama? Kau Park Jimin, buat apa kau yang meminta surat izin untuk hayoung? Apa kalian berkencan?” Tanya Goo saem dengan dahinya yang mengerut.

 

“A-aniyo~” jawabku terbatah, aku menoleh ke arah ketua kelas yang hanya tersenyum kearah Goo Saem.

 

Goo saem sedikit memicingkan matanya.

“Tidak? Tapi kalian terlihat cocok bersama” ucap Goo saem yang membuat wajahku kini memanas.

 

Choi minki reflek menoleh kearahku dengan tatapan dinginnya, dengan cepat aku mengalihkan pandangan mataku kearah lain untuk menjauhi kontak mata dengannya.

 

~END FLASHBACK~

 

“Teman-teman, sudah saatnya kita pindah ke Lab. Bergegaslah!” Ujar Jimin di depan kelas “Oh dan jangan lupa bawa buku tugas kalian!” Tambahnya.

 

“Ne!” Jawab kami kompak seraya merapikan perlengkapan tulis dan buku kami

 

“Terimakasih Oh hayoung, sekarang aku sudah paham soal ini. Ayo rapikan barang-barangmu, sebaiknya kita bergegas” ucap namjoo eonnie sembari memasukkan buku tulis matematikanya kedalam laci meja.

“Ne, eonni” jawabku.

 

Satu persatu kami keluar dari kelas, seperti biasa Jimin selalu menjadi orang terakhir yang keluar karena ia akan mengontrol setiap murid dikelas kami.

 

*

 

Aku menaruh buku dan alat tulisku di meja ruang Lab. Kini Ruang Lab mulai ramai oleh murid kelas kami.

 

“Ok, sepertinya sudah lengkap. Tolong disiapkan agar kita bisa memulai pelajaran” ujar Yong Saem.

“Jimin belum masuk, saem” ujar Taehyung memberi informasi bahwa teman sebangku-nya belum menampakkan diri.

“Benarkah? Tidak biasanya, coba kau cari dia” balas Yong saem.

 

“Biar aku, saem!” Seruku tiba-tiba, entah dari mana aku mendapatkan keberanian ini.

“Eh? Tidak biasanya” tanya namjoo eonni yang hanya kubalas dengan lirikkan gugup singkat.

“Baiklah, terimakasih Oh Hayoung” jawab Yong Saem.

“N-ne, saem”

 

Setelah membungkuk aku cepat-cepat keluar Lab untuk mencari Jimin. Hal pertama yang kufikirkan adalah Kelas kami, tanpa pikir panjang Aku berlari ke kelas, tapi Nihil! keadaan kelas kosong, tidak ada tanda-tanda sosok Jimin disana. Dengan nafas memburu aku berbalik dan mulai mencari lagi.

 

Langkahku terhenti saat mendengar suara deru air keran dari samping ruang olahraga. Aku mendekat ke sumber suara air keran yang mengucur itu.

 

“Ketua kelas..” panggilku hati-hati.

 

Bahu ketua kelas tersentak mendengar panggilanku, ia terlihat membersihkan hidungnya di wastafel dengan posisi tubuhnya yang menunduk mendekati bibir keran, kemudian ia memutar gagang keran itu jadi menutup yang membuat suara air keran yang mengucur itu digantikan kesunyian yang melanda atmosfer kami.

 

Setelah mengelap kedua tangannya Ketua kelas membalik tubuhnya ke arahku. Tak lupa dengan senyumnya yang terukir manis, tapi senyum itu tidak menular kepadaku seperti yang biasanya.

 

“Ketua kelas..gwenchanayo?” Tanyaku hati-hati.

“Tentu” jawabnya sembari tersenyum.

“Itu..” tunjukku ke arah hidungnya yang memerah karena bekas noda darah “Apa kau mimisan?”

“Oh ini, bukan masalah. Aku hanya panas dalam hehe..sepertinya aku kelelahan”

 

Tiba-tiba hatiku terasa sangat sesak melihat senyum sekaligus keadaannya saat ini.

“Ayo kuantar ke UKS” ucapku melemah.

“A-aniyo, aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Kajja, hayoung-ah” ujarnya seraya melangkahkan kakinya ke arahku.

“Jangan seperti itu..”

“Ne?” Tanyanya seperti bingung antara kurang dengar atau kurang mengerti maksudku.

“Jangan begini..” ucapku sembari menggeleng pelan “kumohon, aku tidak bisa melihatmu begini” sambungku.

“Oh hayoung, ada apa? Kau kenapa?” Tanyanya dengan ekspresi khawatir.

 

Aku menelan ludah dan menarik nafas untuk memperbaiki debaran jantungku yang keras.

“Sepertinya aku menyukaimu, ketua kelas” ucapku tenang walau ekspresiku menyiratkan rasa gugup.

 

Jimin mengangkat wajahnya menatapku, tentu hal itu membuatku tambah gugup apalagi ekspresinya yang begitu sulit kuartikan. Wajahnya Terlihat tenang walau tidak dapat dipungkiri ia cukup terkejut dengan ucapanku.

 

Tiba-tiba aku merasa kikuk dan serba salah harus bagaimana.

“Mi-mianhaeyo, ketua kelas. Bukan maksudku membuatmu tidak nyaman, lupakan saja ucapanku” sergahku.

 

Cukup lama ia terdiam sampai ia menatap tepat dimanik mataku.

“Oh hayoung, Apa kau tahu aku selalu berfikir kau sangat cantik?”

“N-ne??” Ujarku terkejut.

“Saking cantiknya sampai membuatku berfikir tidak mungkin bisa bersamamu”

 

Mataku membulat merespon ucapannya, jujur aku masih merasa bingung dengan perkataannya.

 

“Jadi.. kau tidak mempermainkanku, kan? Kau benar menyukaiku?” Lanjutnya.

 

Aku menunduk malu dengan pertanyaannya. Bagaimana mungkin aku menjawab secara gamblang, sekarang saja kata Iya seperti tersangkut di tenggorokanku.

 

“Jawab aku, Oh Hayoung! Aku presiden kelas untukmu, ingat?”

 

Lagi-lagi aku meneguk salivaku.

“Ne…aku menyukaimu, presiden kelas

“Kalau begitu, mulai saat ini kau bisa memanggilku oppa”

 

END

 

Bagaimana readers-nim?? Aneh kah? Atau feelnya gak dapet? Ini Vignette pertamaku jadi maklumin aja ya klo gagal hehe tapi tentu aku berharap readers senang membaca tulisanku ini. Ini adalah FF main cast Hayoung kedua yg aku bikin, FF Hayoung sebelumnya aku pair dia sm TaeHyung ‘Bubbles Honey’ Apa diantara readers ada yang baca ff Oneshot-ku itu? Mungkin tidak-_- it’s okay^^ Mohon komennya sebagai pembelajaran dan semangatku dalam menulis:) Terimakasih banyak untuk readers yang bersedia RCL *BigHug dan Owner yang sudah bersedia ngePost FF ini makasih^^ c u next time dan Selamat Ulang Tahun Alviany eonnie (23 Juni) *bow~

About fanfictionside

just me

19 thoughts on “FF VIGNETTE/ PRESIDENT CLASS/ BTS-APINK

  1. azzzz cutie couple >O<
    Hayoung X Park Jimin like like it, kukira cuman aku yg ship hayoung jimin ternyata aku ada temennya/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s