FF/ THE WEDDING CONTRACT/ BTS-BANGTAN/ pt. 3 (FINAL)


THE WEDDING CONTRACT [Chap. 3-END]

Author: Anditia Nurul||Rating: PG-13||Length: Chaptered||Main Characters: (BTS) Suga/Yoongi & (OC) Gyura||Additional Characters: (OC) Gyura’s Parents, || Disclaimer: I own nothing but storyline. The original version is casted By (SuJu) Kyuhyun & OC||A/N: Edited! Sorry for the typo(s) & bored plot.

HAPPY READING \(^O^)/

THE WEDDING CONTRACT-SUYU(1)

Sebenarnya… apa yang terjadi?

Tiba-tiba appa mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya. Melemparkan benda itu dengan kasar ke atas meja. Kedua mataku terbelalak begitu melihat benda itu dengan jelas. Jantungku berdegup kencang.Telapak tanganku bahkan mulai mengeluarkan keringat.

Tidak mungkin.

Bagaimana bisa… surat kontrakku dengan Yoongi bisa berada di tangan appa?

Aku melirik ke arah Yoongi. Mendapati lelaki itu melakukan hal yang sama padaku.

“JELASKAN TENTANG SURAT KONTRAK YANG KALIAN BUAT INI!” gertak appa tegas.

Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa appa menemukan benda  itu. Seharusnya, benda itu kan berada di dalam laci lemari di dekat tempat tidurku. Pagi tadi aku meletakkannya di situ. Hah, bagaimana ini?

“Kenapa kalian berdua diam, hah? Appa ingin kalian menjelaskan tentang surat kontrak penikahan yang kalian buat!” tegas appa dengan nada tinggi. Sepertinya, beliau mulai tidak sabar. “Gyura-ya, bisakau jelaskan surat apa ini?” tanya appa. Kutundukkan kepalaku, menghindarikontak mata dengan appa. Hah~ bagaimana hal ini bisa terjadi, eoh?

Aku terdiam.

“Kenapa kau diam saja, Gyura-ya?”

Aku masih diam. Bingung—lebih tepatnya takut—untuk berkata-kata. Appa sangat marah. Jelas. Bahkan, ia mulai membentakku. Hal yang sangat jarang ia lakukan. Bagaimana ini?

“Kenapa kalian berdua diam saja? Appa hanyameminta penjelasan kalian akan surat ini. Surat kontrak ini!” ucap appa tegas dengan nada penekanan di 3 kata terakhir. “Kalian membuat appa kecewa. Terlebih padamu, Gyura,” ucap appa, benar-benar membuatku merasa berdosa. Perlahan,aku mulai sesenggukan.

Aku hanya diam dan diam. Aku tahu aku telah membuat appa kecewa. Aku tahu. Tapi…, aku tidak akan pernah melakukan ini seandainya…seandainya appa mengerti keinginanku hari itu. Aku sendiri pun terpaksa menjalani hubungan seperti ini! Apa appa pikir aku bahagia selama ini, eoh? Tidak kupungkiri kalau… ya, ada beberapa saat dimana aku merasa bahagia bersama Yoongi. Tapi…

Appa sulit mempercayai ini, tapi… putri appa sendiri tega membohongi orangtuanya,” ucap appa di depanku. “Apa appa pernah mengajarimu seperti ini, Gyura-ya? Apa eomma pernah mengajarimu seperti ini? Kenapa kau… kenapa kau membuat hubungan suci seperti pernikahan menjadi…menjadi hubungan yang kontrak? Apa kau pikir segalanya bisa dibayar, Gyura-ya? Begitu? Apa appa mengajarimu seperti itu?”

Aku mendongakkan kepalaku. Menatap appa dengan mata yang berair. Aku bahkan tidak bisa melihat sosok appa begitu jelas karena air mata begitu menggenang di kedua pelupukku. “Ya, appaappa memang tidak pernah mengajariku seperti ini. Aku tahu. Tapi, aku pun melakukan ini karena appa. Kenapa appa ingin menjodohkanku dengan pria tua itu? Kenapa? Apa karena appa takut Kim Group jatuh bangkrut? Appa takut saham perusahaan tidak laku di pasaran? Apa karena itu? Dan kenapa… kenapa appa tidak menyetujui hubunganku dengan Mark? Appa sendiri tahu kalau aku menyukai Mark. Apa karena itu kau mengirim Mark ke Amerika? Apa karena itu appa?”

Appa tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Ya, bisa jadi appa menjodohkanku dengan pria itu karena… pria itu memiliki 65% saham perusahaan. Kalau pria itu menikah denganku, perusahaan appa akan aman. Benar, kan? Lalu, masalah Mark. Hah,sampai sekarang pun aku tidak tahu kenapa appa tidak pernah menyetujui aku berhubungan dengan lelaki itu. Mungkin…, Mark tahu masalah ini. Karena itu…,karena itu dia setuju saja dipindahkan ke Amerika, bahkan… sekarang malah memilih untuk tetap di sana.

Andai saja semuanya itu tidak terjadi, tidak akan pernah ada surat kontrak pernikahan antara aku dan Yoongi. Bahkan, mungkin aku juga tidak akan pernah mengenal lelaki bernama Min Yoongi itu.

“SREEEET!”

Tiba-tiba saja appa merobek surat kontrak tersebut di depanku.

“Hubungan kontrak kalian sudah berakhir. Kim Gyura, masuk ke kamarmu sekarang. Dan kau Min Yoongi, lekas pergi dari rumah ini.”

Dugaanku benar. Appa pasti akan melakukan hal itu.

“Ya,” kata Yoongi, “Aku akan pergi dari sini. Tapi, Tuan Kim, semua ini terjadi juga karena salahku. Aku yang bersedia menjadi suami kontrak yang dibuat oleh Gyura. Karena itu, kalau kau ingin menghukumnya, tolong pikirkan sekali lagi. Gyura melakukan ini semua karena ulahmu.”

“CUKUP!” bentak appa. “KALIAN BERDUA LEKAS KELUAR DARI RUANGANKU!”

Seketika aku berjalan cepat menuju kamarku. Air mata yang sejak tadi aku bending agar tak mengalir terlalu deras pun akhirnya tumpah membasahi pipiku. Tiba di kamar, aku langsung melompat ke tempat tidurku, membenamkan wajahku ke permukaan bantal dan menangis sepuasnya.

ARRRGH! KENAPA? KENAPA SEMUANYA SEPERTI INI?

AKU BENCI APPA! AKU BENCI APPA!

-End Of Gyura’s POV-

-Yoongi’s POV-

Aku tiba di kamar Gyura. Mendapati wanita itu menangis. Ia bahkan tidak sempat mengganti gaunnya. Heels yang menghiasi kakinya pun tergeletak begitu saja di lantai. Entahlah. Aku merasa kasihan padanya. Dalam beberapa waktu terakhir, ia cukup sering mengeluarkan air mata. Tapi, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongnya. Yang aku bisa hanya menghiburnya. Itu saja. Namun sepertinya…, saat ini… bukan waktu yang tepat untuk memberi hiburan padanya. Ya, biarkan saja dia menangis sepuasnya. Mungkin…, dengan begitu bebannya akan lebih berkurang.

Seperti kata Tuan Kim, aku diusir dari rumah mewah ini. Ya, untuk apa aku tinggal di sini? Meskipun di mata hukum, aku menantu sah di rumah ini, tapi… ya, kau tahu sendiri, aku dan Gyura hanya menganggap hubungan pernikahan kami hanyalah kontrak dan hari ini, kontrak itu sudah berakhir! Tuan Kim sudah mengetahui hubunganku yang sebenarnya dengan putrid semata wayangnya. Hah~ sedikit kusayangkan kenapa kontrak ini berakhir begitu cepat karena sejujurnya… aku—Ah! Sudahlah!

Almost an hour later

Aku duduk di sofa tempat aku tidur setiap malam. Menunggu Gyura untuk menghentikan tangisannya, sekaligus… berpamitan padanya. Pakaian-pakaianku sudah aku susun rapi di dalam kopor. Begitu juga dengan gitarku, sudah aku masukkan ke dalam tasnya. Suara isakan kecil masih terdengar.

“Gyura-ya?” panggilku. “Aku… pamit. Maaf, aku hanya bisa membantumu sampai di sini.”

Gyura tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia bahkan tidak melihat ke arahku. Masih menenggelamkan wajahnya pada bantal.

“Ya, sudah. Aku berangkat,” kataku lirih. Entahlah,aku merasa seperti lelaki yang tidak bertanggung jawab meninggalkan Gyura begitu saja seperti ini. Aku memperhatikan Gyura sejenak, kemudian beranjak dari kamarnya sembari menarik koper dan menggendong gitar di bahu kiriku. Semuanya resmi berakhir. Semoga kita bisa bertemu lagi, Gyura-ya.

@@@@@

Two Days Later

Semenjak aku diusir dari rumah keluarga Kim, aku tinggal di studio tempatku biasa berkumpul dengan teman-temanku. Alasan pertama, aku sedikit malas untuk pulang ke rumah kontrakanku yang lama dan alasan yang kedua, aku ingin menyelesaikan lagu jingle perusahaan Kim Group. Meski aku diusir, tapi… aku sudah menandatangani kontrak pembuatan lagu. Aku harus belajar professional, kan? Siapa tahu nanti aku bisa menjadi seorang komposer terkenal.

“Bagaimana, Yoongi-ya? Apa sudah selesai, eoh?” tanya Namjoon, temanku yang kuminta untuk menemaniku di studio. Dari nada suaranya, kupikir ia sedang mengantuk.

“Iya. Iya. Sudah selesai,” jawabku.

Terdengar helaan napas lega. “Bagus kalau begitu. Lekas kemasi barang-barangmu dan pulang ke rumah. Kita sudah 2 hari di sini, eoh.”

“Iya, aku tahu.”

Setelah memindahkan file lagu ke dalam CD dan membereskan barang-barangku, aku pun mengajak Namjoon meninggalkan studio. Kami berpisah di halte. Namjoon berjalan kaki menuju rumahnya karena ya, rumahnya memang dekat dari sini. Sementara aku harus duduk menunggu bis. Hah~

Sekitar beberapa menit kemudian, kudapati diriku duduk di dalam bis, tepat di belakang supir. Memandang ke arah luar jendela, melihat kendaran yang masih memadati badan jalan, padahal langit sudah gelap sekali. Kukeluarkan ponsel dari saku mantelku untuk mengecek jam berapa sekarang.

10 missedcall: Kim Gyura.

Sedikit terkejut aku mendapati tulisan itu tertera di layar ponselku. Di pagi hari sejak aku pergi dari rumah, Gyura tidak berhenti menelepon dan mengirimiku pesan. Ingin tahu dimana keberadaanku. Aku sengaja mengabaikan telepon dan pesannya. Aku tidak ingin dia bertemu denganku lagi meskipun… ia pasti bermaksud untuk memberikan gajiku sebagai suami kontraknya.

Entahlah. Tiba-tiba saja aku tidak menginginkan uang itu.

Apa aku gila?

Mungkin.

Kurang dari 10 menit, akhirnya aku tiba di halte yang dekat dengan rumah kontrakanku. Bergegas keluar dari bis sambil menenteng kopor dan juga gitarku. Dari halte, aku pun berjalan menuju rumah kontrakanku yang letaknya tidak begitu jauh.

“ZZZRRSSSH!”

Uh? Apa ini? Hujan!

Aku langsung berlari sambil menarik koperku begitus edikit air hujan mulai mengguyur secara tiba-tiba. Membuatku sedikit kesusahan karena… aku harus menarik kopor dan juga menjinjing gitarku. Aish!

Tapi, untunglah rumah kontrakanku sudah terlihat di depan mata. Aku menambah kecepatan lariku, ingin cepat sampai di rumah untuk menghangatkan diri. Namun…, kedua mataku melihat sosok wanita sedang berdiri hujan-hujanan di depan rumah.

Siapa itu?

Manusiakah?

Atau—Ah! Tidak mungkin kalau dia hantu.

Semakin dekat jarakku dengan rumah, semakin jelas siapa sosok wanita tersebut. Astaga, ini tidak mungkin. Sejak kapan wanita itu berada di sini? Kenapa dia tidak pulang ke rumahnya, eoh? Ini kan sudah malam. Hujan pula.

“Gyura-ya?” gumamku begitu aku tiba di teras.

Wanita yang sejak tadi kulihat tengah menghadap ke arah pintu, seketika berbalik begitu mendengar suaraku. Benar. Dia Kim Gyura. Kim Gyura dengan tubuh basah kuyup lebih tepatnya. Beberapa detik setelah melihatku, wanita tersebut langsung memelukku tanpa permisi.

Aku yang kaget mendapat perlakuan seperti itu pun bertanya, “Hei! Hei! Apa yang kau lakukan, eoh? Sejak kapan kau berada di sini?”

“Kau… heuk… yang dari mana saja? Heuk… kenapa kau… heuk… baru pulang, eoh? Sejak kemarin heuk… aku menunggu di sini, tapi… heuk… kau tidak ada…heuk. Kau… heuk… kemana, eoh? Kenapa tidak… heuk… menjawab teleponku?” ucapnya disela-sela tangisnya. Ia begitu memelukku erat.

Aku menelan ludah. Gugup. “He-hei, jangan menangis. A-Aku… aku… tinggal di studio untuk menyelesaikan lagu appa-mu. Maaf karena aku menyusahkanmu. La-lagipula…kenapa kau mencariku, eoh. Bukankah aku sudah mengirim pesan untuk tidak mencariku!?”

Gyura masih menangis sembari memelukku. Membuatku bingung harus melakukan apa. “Kenapa… heuk… kenapa kau melarangku mencarimu? Apa… heuk… kau tidak… heuk… mau menemuiku lagi? Kau… heuk… kau benci padaku, ya?”

Kubulatkan kedua mataku setelah mendengar ucapannya. “A-apa? Membencimu. Ti-tidak. Aku sama sekali tidak membencimu, Gyura-ya,” balasku. Sedikit ragu, tangan kananku bergerak untuk membelai punggungnya. Berusaha untuk menenangkannya. “Sebaiknya…sebaiknya kita masuk ke dalam rumahku. Di sini hujan. Nanti kau sakit.”

-End Of Yoongi’s POV-

-Author’s POV-

Keduanya pun masuk ke dalam rumah yang luasnya persis seperti luas kamar Gyura di kediaman keluarga Kim. Sama sekali tidak ada kursi di rumah ini. Hanya ada sebuah meja, sebuah lemari berukuran sedang, sebuah rak dan sebuah kasur gulung.

Gyura duduk di dekat meja, menekuk kedua lutut sembari memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan. Melihat itu, Yoongi bergegas membuka kopernya, mengeluarkan sebuah handuk dari sana.

“Sebaiknya kau keringkan tubuhmu dulu,” ucap lelaki itu, menjulurkan handuk dengan tangan kanannya kepada wanita yang wajahnya mulai pucat dengan bibir yang mulai keunguan. “Dan, sebaiknya kau gantai pakaianmu dengan ini agar kau tidak masuk angin,” tambah Yoongi lagi sembari menjulurkan selembar kemeja hitam miliknya.

Tanpa mengucap satu patah kata pun, Gyura mengambil kedua benda tersebut dari tangan Yoongi. Setelah ditunjukkan letak kamar mandi, wanita itu pun beranjak dari tempatnya. Meninggalkan jejak-jejak air di tempat ia duduk dan di tempat kakinya menapak menuju kamar mandi.

Sembari menunggu Gyura mengeringkan tubuh dan mengganti pakaiannya, Yoongi pergi ke rumah sebelah, menemui bibi pemilik rumah kontrakan. Entah apa yang ia lakukan di sana.

“Yoon-Yoongi-ya?” panggil Gyura ketika ia keluar dari kamar mandi, tidak mendapati Yoongi di ruangan. Tubuh mungilnya kini telah dibalut kemeja hitam milik Yoongi yang sedikit kebesaran. Handuk Yoongi tersampir di bahu kirinya.

Wanita itu berjalan ke ruangan yang berada di belakang. Dapur. Namun, tidak didapatinya Yoongi di sana. Ia pun kembali keruang utama, tepat di saat ia melihat Yoongi masuk ke dalam rumah sambil membawa sebuah cerek.

“Kau dari mana, eoh?” tanya Gyura.

“Dari rumah bibi di sebelah untuk membuatkanmu teh hangat,” jawab Yoongi, berjalan ke arah Gyura, lewat di sebelah wanita itu untuk menuju dapur.

“Aku merepotkanmu, ya?!” gumam Gyura, berdiri di ambang pintu dapur. Memperhatikan Yoongi menuangkan teh hangat dari dalam teko ke dua gelas cangkir.

“Sedikit,” balas Yoongi jujur. Gyura merengut. Setelah menuangkan teh ke dalam cangkir, Yoongi mengajak Gyura duduk di depan perapian.

“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Yoongi setelah menyalakan api di perapian. Keduanya duduk bersampingan. Yoongi menyesap the buatannya sembari menoleh ke arah Gyura, menunggu jawaban atas pertanyaannya.

“Apanya?” Gyura malah bertanya balik.

Yoongi memutar kedua bola matanya. “Hei! Nona Kim, aku tahu kau ke sini karena ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku. Nah,apa itu?”

Gyura mendengus. “Bisa tidak kau berbicara sedikit lebih lembut seperti tadi, eoh?” balas Gyura, kemudian menyesap teh miliknya.

“Hei! Kau pikir sekarang aku tidak takut, eoh? Bagaimana kalau appa-mu mencarimu ke sini dan menuduhku menculikmu. Apa kau senang kalau aku dipenjara!?” Yoongi sewot.

“Hei! Kenapa kau marah begitu? Aku ke sini untuk menemuimu. Aku mau memberikan uang milikmu.” Bergegas Gyura meraih hobo bag yang berada di dekatnya, mengeluarkan amplop berisi uang di dalamnya. “Ini. Ini uang hasil kontrakmu,” kata Gyura, meletakkan amplop tersebut di depan Yoongi, tepat di sebelah cangkir teh milik lelaki itu.

Yoongi memperhatikan benda itu dan wajah Gyura bergantian. “Tidak usah.” Digesernya benda itu ke dekat cangkir teh Gyura.

Wanita cantik itu menatap Yoongi heran. “Kenapa?”

“Yaaa~ karena aku tidak mau!” balas Yoongi.

Wanita cantik itu masih menatap Yoongi. Aneh. Kenapa dia tidak mau uang ini? Atau…sekarang dia sudah kaya, eoh? Jadi, dia tidak butuh uang lagi. Cih!

“Baiklah, kalau kau tidak mau, aku—haaatttchiiii!” Ucapan Gyura terpotong oleh suara bersinnya.

Yoongi mendengus. “Aish! Apa aku bilang!? Sekarangkau sakit, kan!?” gerutunya. Lelaki itu berdiri, berjalan menuju lemari. Dari dalam lemari tersebut, dikeluarkannya selembar selimut berwarna cokelat.

“Ini. Pakai ini untuk membuat tubuhmu lebih hangat,” kata Yoongi, menyerahkan benda tersebut kepada Gyura setelah ia kembali duduk di tempatnya.

Gyura mengulurukan tangan kanannya untuk mengambil benda itu. Beberapa detik kemudian, ia pun menutupi hampir seluruh tubuhnya—kecuali kepala—dengan selimut tersebut. “Uuh~ hangat,” gumam Gyura.

Keduanya pun terdiam sembari menikmati teh hangat. Mendengar ‘indahnya’ suara hujan yang disertai guntur di luar. Entah kapan hujan akan reda agar Gyura bisa segera pulang. Seperti itulah yang tengah dipikirkan Yoongi. Namun sepertinya, hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Terlalu deras di luar.

“Hatchiii!” Tiba-tiba, Yoongi pun bersin. “Aish! Sekarang aku juga kena flu,” ucapnya. “Hatchiii… hatchiii… hatchiiii….”

“Hatchiiii!” Gyura pun ikut bersin. Untuk beberapa detik kedepan, keduanya seperti duet bersin. Hahaha.

“Hei!” Gyura memanggil Yoongi, membuat lelaki itu menoleh ke arahnya.

“Apa?” Lelaki itu menoleh malas-malasan.

“Lebih baik kau yang pakai selimut ini. Sepertinya…, flu-mu lebih parah dariku.” Gyura melepaskan benda yang menyelimuti tubuhnya, lalu memberikan benda itu kepada Yoongi.

“Tidak. Kau saja yang pakai. Aku baik-baik sa—HAAATCHIII!!!”

“Sudahlah! Jangan membantah!” bentak Gyura. Sedikit memaksa, wanita itu menutup tubuh Yoongi dengan selimut. Yoongi diam saja diperlakukan seperti itu. “Nah, sekarang kau sudah merasa lebih ha—AAAATCHIII!!!”

Uuh~

“Bodoh~” gumam Yoongi. Lelaki itu mendekatkan tubuhnya ke arah Yoongi, lalu membagi selimut yang menutupi tubuhnya hingga menutupi tubuh Gyura juga. “Sudah merasa lebih baik, kan?”

Gyura mengangguk pelan. “Ya.”

Keduanya kembali tenggelam dalam diam. Tampak canggung untuk mengeluarkan apa yang tengah mereka pikirkan dalam bentuk kata-kata. Sesekali terdengar suara bersin dan juga suara helaan nafas berat dari keduanya.

“Lagu yang kau buat untuk appa, boleh aku mendengarnya, hm?” Gyura melelehkan kebekuan yang terjadi di antara mereka dengan sebuah pertanyaan.

“Tidak boleh,” tolak Yoongi. “Orang yang berhak mendengar lagu itu pertamakali adalah appa-mu,” jawab Yoongi.

“Memang apa bedanya antara aku dan appa? Perusahaan appa perusahaanku juga, kan?”

Yoongi terkekeh mendengar hal itu. “Tapi, yang memberiku pekerjaan membuat jingle song ini adalah appa-mu, Nona Kim.”

“Ya, aku tahu. Tapi, appa-ku tidak akan memberi pekerjaan itu padamu kalau kau tidak menjadi suami kontrakku. Jadi, aku yangmembuka jalan untukmu sebagai komposer dari jingle song perusahaan!”

Yoongi tersenyum samar mendengar ucapan Gyura. Membenarkan ucapan wanita itu barusan.

“Apa hukuman yang diberikan appa-mu padamu?” tanya Yoongi mengalihkan topik pembicaraan.

Gyura memanyunkan bibirnya. Terlihat sedikit malas untuk membicarakan topik ini. Tapi, di sisi lain, ia juga ingin menceritakan hukuman apa yang diterimanya. “Appa menghapus namaku dari daftar warisan.”

“Lantas?”

Gyura menoleh ke arah Yoongi, menatap pria itu dengan tatapan apa-kau-tidak-tahu-akibat-dari-penghapusan-namaku-di-daftar-warisan. “Ya, aku tidak punya apa-apa lagi selain uang hasil dari penjualan baju di butikku!” balas Gyura.

“Jadi, sekarang kau jatuh miskin?” tanya Yoongi dengan nada meledek yang langsung mendapat sebuah pukulan kecil dari Gyura di lengannya.

“Tapi, setidaknya aku lebih baik darimu. Aku punya penghasilan tetap!” balas Gyura sedikit sombong.

Yoongi mendengus kesal. “Oh, jadi karena itu kau datang membawakan uang untukku, eoh?! Karena kau kasihan pada diriku yang pengangguran ini?”

“Hei! Bukannya kau pernah bilang kau akan tetap minta bayaran meskipun kontrak kita ketahuan, eoh!? Aku datang ke sini karena alasan itu, tapi kau malah menolak uang dariku,” ucap Gyura membela diri. “Dan lagi, ada sesuatu yang ingin aku katakan.” Gyura menundukkan kepalanya.

Mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Gyura, Yoongi mengernyitkan dahinya. “Apa?” tanyanya penasaran.

Gyura mengalihkan pandangannya sejenak dari Yoongi. Nampak ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin dikatakannya. “Err… ehm… aku mau tinggal di sini!”

“A-APA?!” Yoongi nyaris terkena serangan jantung. “Kau mau tinggal di rumah kontrakan kecil ini? Kau sadar dengan ucapanmu!?”

Gyura mengangguk.

“Astaga! Ya Tuhan! Astaga!” Yoongi berdiri dari duduknya. “Pasti ada sesuatu yang membuat otakmu tidak beres. Apa karena hujan, eoh!?” Gyura mendengus.

“Hei! Otakku baik-baik saja, Min Yoongi. Memangnya kenapa kalau aku tinggal di sini? Kau… kau tidak suka?”

Yoongi menatap Gyura sambil memijat pelan keningnya. “Bukan begitu,” katanya. “Kau tidak akan tahan tinggal di sini, eoh. Rumah ini sangat berbeda dengan rumah mewahmu.”

Gyura berdiri menyejajarkan posisinya dengan lelaki yang berada di dekatnya. Membuat selimut yang tadi menutupi tubuhnya,terjatuh ke lantai. “Tidak apa-apa. Aku sudah memikirkan itu. Aku yakin aku bisa tinggal di sini.”

Yoongi semakin menatap Gyura heran. “Hah! Gila!.”

“Terserah katamu. Yang jelas aku mau tinggal di sini!” tegas Gyura.

“Tunggu!” kata Yoongi kemudian. “Kenapa kau mau tinggal di sini, eoh!? Apa kau tidak tahu kalau di rumah ini hanya ada 1 kamar? Kau tidak suka tidur 1 kamar denganku, kan!?” Ia berusaha untuk membuat Gyura membatalkan keinginannya tinggal di rumah ini.

“Tidak apa-apa. Bukannya kita sudah biasa tidur 1 kamar, eoh!?” kata Gyura polos, namun itu tidak membuatnya menyerah untuk mengubah pikiran Gyura yang menurutnya sangat aneh.

“Aku hanya punya 1 tempat tidur, Kim Gyura. Dan lagi, ini rumahku. Aku tidak akan menyerahkan tempat tidurku satu-satunya padamu, mengerti!?” Yoongi masih bersikeras ‘mengusir’ Gyura.

“Tidak apa-apa,” kata Gyura enteng, “Untuk malam ini aku tidak keberatan tidur di lantai. Besok aku akan membeli tempat tidur.Gampang, kan!?” lanjutnya.

Yoongi merasa kepalanya ingin meledak. Apapun yang dikatakannya, Gyura sepertinya bersikeras untuk tinggal di rumah kontrakan kecilnya ini. Pria itu pun mendengus. “Baiklah. Kau boleh tinggal di sini semaumu. Kalau kau butuh sesuatu di rumah ini, kau tidak akan mendapatkannya. Karena itu, jangan pernah mengeluh tentang apapun di rumah ini, mengerti!?”

Gyura mengangguk. “Ya, aku paham.”

“Kau benar-benar tidak akan mendapatkannya, Kim Gyura,” ulang Yoongi sekali lagi, berharap kali ini Gyura akan mengatakan, ’Baiklah.Kalau begitu aku tidak jadi tinggal di rumah ini’ atau kalimat semacam itu.

“Tidak apa-apa. Asalkan bisa bersamamu, aku tidak butuh yang lain.” Kalimat Gyura barusan sungguh berhasil membuat Yoongi nyaris terkena serangan jantung untuk yang kedua kalinya.

“Kau bilang apa?” tanya Yoongi ingin memastikan.

Seketika Gyura mengalihkan pandangannya, menghindari kontak mata dengan Yoongi. “Se-sepertinya… sepertinya aku mulai menyukaimu,” ucapnya malu-malu.

“Apa?” seru Yoongi tidak percaya.

Gyura mendongakkan kepalanya, menatap Yoongi. Sekali lagi ia mengulang pengakuannya. “Aku mulai menyukaimu dan karena itu,aku mau tinggal di sini bersamamu,” katanya. “La-lagi pula, kita… kita kan masih suami istri yang sah, meskipun kontrak itu sudah dibatalkan.”

Yoongi terdiam. Ya, benar kata Gyura. Mereka memang masih suami istri yang sah walaupun surat kontrak tersebut kini telah dimusnahkan oleh Tuan Kim, appa Gyura.

“Ja-jadi…, aku boleh kan tinggal di sini?” Kali ini Gyura meminta izin Yoongi secara baik-baik.

Yoongi menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, lantas mengangguk pelan. “Y-ya. Baiklah.”

Keduanya pun terdiam. Terlihat canggung satu sama lain. Gyura sedikit malu untuk memulai pembicaraan setelah pengakuannya beberapa saat tadi. Ah, entah dia mendapat keberanian dari mana sehingga ia mampu mengucapkan kalimat itu.

“DUAAAARR!”

Suara petir yang sangat keras itu terdengar dan sepersekian detik kemudian, lampu tiba-tiba saja padam.

“KYAAA!” jerit Gyura di tengah kegelapan.

“BRUUKKK!”

Entah apa yang terjadi, namun terdengar suara jatuh yang cukup keras.

“Aww~”

“Yak! Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan, eoh!? Kepalaku jadi sakit tau!” gerutu Yoongi sambil berusaha mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Maaf, aku kan tidak sengaja,” sesal Gyura.

“Ah! Kau menyusahkan saja!” gerutu Yoongi sekali lagi, lantas menekan sembarang tombol HP-nya, membuat benda itu mengeluarkan cahaya melalui layarnya. Seketika, Yoongi merasa gugup begitu menyadari wajah Gyura berada tidak jauh dari wajahnya. Perlahan, kejadian malam itu kembali teringat oleh keduanya.

“Gyu-Gyura-ah,” gumam Yoongi.

“Y-ya?” balas Gyura. Keduanya terlihat gugup,namun tidak ada satu pun di antara mereka yang berinisiatif untuk saling menjauhkan wajah masing-masing.

“Se-sebenarnya… aku…” Yoongi ragu meneruskan ucapannya.

“Kau kenapa?”

“A-Aku… aku juga mulai menyukaimu.”

Gyura terdiam mendengar pengakuan itu. Kedua mata indahnya menatap kedua mata Yoongi yang hanya berjarak sejengkal.

“Kau… serius?”

“Ya.”

Gyura tersenyum. “Terima kasih.”

“Ya.” Lagi-lagi hanya itu yang diucapkan oleh Yoongi.

Keduanya saling diam satu sama lain. Lalu, entah siapa yang memulai, keduanya perlahan saling mendekatkan wajah satu sama lain dan… semuanya pun mendadak gelap.

-End Of Author’s POV-

@@@@@

6 years later

-Gyura’s POV-

“Malam ini kau kelihatan sangat cantik~” goda Yoongi ketika aku sedang duduk di depan cermin. Memastikan hasil riasanku cukup bagus. Ya, mungkin sangat bagus karena Yoongi bilang aku sangat cantik… hihi.

“Jadi kemarin aku tidak cantik? Pagi tadi aku tidak cantik? Siang tadi aku cantik? Begitu maksudmu?” tanyaku kepada lelaki yang berada di belakangku, membungkuk 90 derajat agar dagunya bisa bersandar di bahu kananku. Kedua tangannya pun menyentuh kedua bahuku.

“Tentu saja cantik. Kau kan selalu cantik,” katanya,menatapku dengan seduktif melalui cermin di hadapan kami. “Tapi, akan lebih cantik lagi kalau—” Ia menggantung ucapannya. Tangan kanannya bergerak untuk mengalihkan wajahku ke arahnya dan perlahan… ia mulai mendekatkan bibirnya, lantas….

“GDOOR! GDOOR! GDOOR!”

Appa! Eomma!”

Fiuh~ syukurlah aku tidak perlu memperbaiki lipstick di bibirku.

“Aish! Menganggu saja!” gerutu Yoongi kesal. Seketika ia menegakkan tubuhnya, lalu berajalan membukakan pintu kepada penyelamatku yang masih menggedor-gedor pintu kamar. Tidak lama kemudian, sepasang anak kembar berlari memasuki kamar, menghampiriku.

“Woaa… anak-anak eomma terlihat tampan dan cantik~”pujiku, berbalik menghadap Jinsoo dan Jisoo.

“Hei! Kalian berdua kenapa mengetuk pintu sekeras itu, hm?” Yoongi yang masih kesal karena kesenangannya terganggu pun menghampiri kami—aku, Min Jinsoo dan Min Jisoo.

“Tadi ada telepon dari halmeoni, Appa,” jawab Jinsoo, putraku yang terlihat tampan dengan setelan tuxedo yang sangat pas untuk tubuh mungilnya.

Halmeoni bilang appa dan eomma harus bergegas. Sebentar lagi acara ulang tahun halmeoni akan dimulai,” tambah Jisoo, putriku yang terlihat saaaaangat cantik dengan gaun baby doll berwarna ungunya. Ya,putri siapa dulu!? Ehehehe.

Acara ulang tahun halmeoni yang dimaksud Jisoo sebenarnya adalah acara ulang tahun pernikahan appa dan eomma. Acaranya diadakan di sebuah ballroom hotel sebentar lagi. Dan, tentu saja kami diundang.

Hubungan antara aku-Yoongi dengan kedua orangtuaku memang tidak begitu baik semenjak pernikahan kontrakku dengan Yoongi terbongkar 6 tahun lalu. Dan semenjak 6 tahun itu, seperti yang kau tahu, aku tinggal bersama Yoongi. Membuat keluarga kecil kami.

Tapi, perlahan, es yang menutupi hati appa mulai mencair begitu Jisoo dan Jinsoo hadir di keluarga kami. Jisoo dan Jinsoo bagaikan pembawa keberuntungan di dalam keluarga kecilku. Semenjak kehadiran mereka, hubunganku dan appa mulai membaik. Yoongi  pun mendapatkan pekerjaan sebagai composer tetap di salah satu agensi artis di Korea Selatan.

“Ya sudah, ayo berangkat~” kataku. Kuambil clutch bag silver-ku yang berada di atas meja, lalu menyusul Jinsoo dan Jisoo yanglebih dulu berlari keluar dari kamar. Namun, begitu aku berdiri di ambang pintu, kusadari Yoongi masih berada di dalam kamar.

“Sayang, kenapa kau masih di situ, eoh!? Ayo,anak-anak sudah tidak sabar untuk berangkat,” kataku. Dia masih terdiam di tempatnya, menatapku.

Hah~ sifat kekanak-kanakannya kumat lagi.

Aku pun berjalan menghampirinya dan tanpa berkata-kata, aku langsung mengecup bibirnya singkat. “Sudah tidak ngambek,kan!? Ayo~”

You know me so well, honey~” bisiknya di telingaku. Kami pun berjalan keluar dari kamar menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Usai mengunci pintu rumah, aku segera masuk ke dalam mobil, bergabung bersama keluarga kecilku.

“BERANGKAAAATTT!”

-THE END \(^O^)/-

Anditia Nurul ©2014

-Do not repost/reblog without my permission-

-Do not claim this as yours-

Have been posted in author personal blog

A/N: Annyeong~~ ^^/

Hehehe… FF-nya udah end nih. Pendek, ya!? Maap ya kalo FF-nya pendek. Rencana awalnya, FF ini sebenarnya cuma mau dibikin 2shots. Tapi, kalo 2shots, nanti chapter 2-nya kepanjangan. Makanya aku bikin 3 chapter aja… hehehe. Buat yang udah ikutin FF ini dari awal, makasih. Buat yang udah komen/kasi saran/ kritik juga makasih banget. Maaf kalo FF ini kurang memuaskan. Sampai jumpa di FF-ku yang lainnya ^^/

About fanfictionside

just me

24 thoughts on “FF/ THE WEDDING CONTRACT/ BTS-BANGTAN/ pt. 3 (FINAL)

  1. Jiiiaaaah… udahan thoor ???
    kirain agak panjangan dikit.. wekekke

    Bagus thor happy ending..
    good job thor🙂

  2. Keren! Sekeren kerennya ff yang keren!😀 apalagi happy ending kaya gini beuh makin lope lope deh sama sugaa~♡

  3. Yah, udah end?._. /digetok/ haha
    Aah~ akhir yang membahagiakan :)) /ikut seneng/
    Haha, Suga-nya lucu deh :3 jadi gemes mau nyium juga /eh?/ wkwk

  4. wahaahaa sukaa…. endingnya gini ternyata…. kirain aku bakal ada konflik lainy kaya misalnya ada si mark ganggu atw apa… padahal singkat padet jelas tapi keren ffnya suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s