FF/ PHOBIA IN LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Author : Taebo [Author Tetap]

Cast :

  • Kim Taehyung/V
  • Kim Hye In
  • Kim Seok Jin
  • Min Yoon Gi/Suga
  • Kwon Nam Ju
  • Jung Hoseok
  • Park Jimin
  • Jeon JungKook
  • Kim Nam Joon/Rapmon

 

Cameo for this chapter is Oh Seung Ah ‘Rainbow’

Cameo yang lain menyusul ^^ itu kejutan

 

Genre : Romance, Comedy, School Life, AU

Duration : Chaptered

2(1)

***

Before..

 

“baik aku absen dulu oke.” Jin selaku ketua kelas mengambil selembar kertas yang tadi diberikan Kim Seonsaengnim untuk tiap kelas. Wajahnya terlihat masih pucat akibat insinden semalam.

 

Ia mulai memanggil satu persatu nama yang tertera disana.

 

“Lee Jieun”

 

“hadir”

 

“Kwon Nam Ju”

 

“aku disini”

 

“Min Yoon Gi”

 

“NE”

 

“Jeon Jungkook”

 

“ada hyung”

 

“Siwoo”

 

“ada”

 

“ – Namjoon ada, Kim Hye In ada, Chan ada, Ryeokie ada, kurasa hadir semua” Jin beberapa kali mencocokkan daftar absen dengan wajah-wajah didepannya. Memastikan kalau orang-orang ini hadir semuanya.

 

“Jamkkaman –“

 

Semua mata tertuju pada Jin.

 

“Jung Hoseok?”

 

Semua menengok kesana-kemari, mencoba mencari sosok Jung Hoseok.

 

“TIDAK ADA HYUNG!”

 

***

 

Chapter 2

 

Semua mata tertuju pada Jin.

 

“Jung Hoseok?”

 

Semua menengok kesana-kemari, mencoba mencari sosok Jung Hoseok.

 

“TIDAK ADA HYUNG!” sahut Jungkook dengan wajah paniknya.

 

“aishh anak itu. Siapa tadi yang duduk bersama Hoseok eoh?”

 

Semua anak terdiam, tak tahu dengan siapa Hoseok duduk tadi.

 

“Aku”

 

“Yak! Chan! Lalu dimana dia” Jin berjalan mendekati posisi Chan yang masih mengangkat tangannya.

 

“kurasa dia masih dimobil. Tadi dia tertidur pulas sekali, jadi aku tak tega membangunkannya” ucap bocah berkacamata itu.

 

“APA?!” Jin dan rombongannya itu berteriak, seakan tau apa yang terjadi dengan Hoseok saat ini.

 

“Yak! Apa kau gila. Apa kau tau phobianya itu?” Nam Ju tiba-tiba menendang kaki Chan. Matanya berisyarat marah. Sedetik kemudian Nam Ju meninggalkan yang lain, berlari keluar mencoba menemukan sosok Ho Seok.

 

Tak memperdulikan phobia yang ia derita, ia tetap berlari ke arah luar.

 

~

 

“Saem.. dimana supir itu memarkirkan mobilnya?” Nam Ju tiba ditempat berkumpul tadi. Menghampiri Kim Seonsaengnim yang sedang berbicara dengan beberapa guru lainnya.

 

“tak jauh dari sini, kau tinggal lurus saja” jawabnya tanpa memandang Nam Ju yang masih mengatur nafasnya akibat berlari tadi.

 

“baiklah. Terima kasih saem” Nam Ju melanjutkan larinya.

 

“anak bodoh. Kenapa kau begitu bodoh eoh!” cairanbening tertahan di pelupuk matanya itu, matanya benar-benar memerah sekarang.

 

 

 

 

DORRRR.. DORRRR

 

 

“Jung Hoseok kau didalam?” Nam Ju menggedor-gedor pintu bis yang tertutup rapat. Berharap sosok yang dicarinyasejaktadimendengareluhansuaraparaunya

 

“…” takadajawabandaridalam.

 

“Seokkie-a” Nam Ju benar-benar panik sekarang. Air matanya tak dapat ia tampung lebih lama.

 

“ahjushi. Bisa kau buka pintu ini?”

 

“apa? apa ada barangmu yang ketinggalan? Itu tidak dikunci noona” teriak sang supir dari jauh.

 

“aishh.. ahjushi kau!”

 

“HOSEOK!!”

Ia mencoba membuka pintu bis yang sulit dibuka itu.

 

 

CREEKK

 

 

Segera Nam Ju menerobos kedalam bis, usai mendapati pintu bis terbuka kendati ia menggedornya keras. Matanya mencari sosok Hosseok.

 

“Hoseok? Aigoo”

 

Nam Ju menemukannya. Hoseok tak bergeming ia tetap menutup matanya.

 

“Ireona Jung Ho Seok!” Nam Ju mengguncang-guncang tubuh Hoseok berharap kali ini ia tak pingsan lagi.

 

 

 

 

 

“oh ayolah bangun kau berat tahu!” Nam Ju membopong tubuh Hoseok. Mengalungkan tangan Hoseok ke tengkuknya. Ia Mencoba membawanya menuju villa.

 

 

“Yeoja sok kuat. Sini biar aku saja”

 

 

 

Dengan nafas yang terengah-rengah, Suga menghampiri Nam Ju yang kelelahan membawa tubuh Hoseok sendirian. Orang itu mengikuti Nam Ju berlari tadi.

 

 

“taruh dia di punggungku. Cepat!”

 

 

“hati-hati Suga-a” Nam Ju melihatnya cemas.Takmausedikitpunpriaituterluka.

 

 

“apa kau menangis eoh? Ck. Cengeng sekali” Suga menilisik mata Nam Ju, kemudian menarik satu sudut bibirnya. Ekspresi wajahnya sangat datar dan memancarkan hawa dingin. Sedetik kemudian ia berlalu dengan tubuh Hoseok di punggungnya. Nam Ju hanya diam mendengar coletehan Suga. Dahinya mengernyit heran.

 

 

‘dia itu kenapa?’ gumamnya

 

 

     Hampir satu hari semua murid berada di Petite France. Hari pertama hanya ada sedikit kegiatan, termasuk Kim seonsaengnim yang membagikan kelompok untuk per kelas masing-masing. Kelompok ini terdiri dari dua orang yang nantinya akan meneliti kegiatan apa saja yang dilakukan masayrakat di sana sehari-harinya. Satu kelompok untuk satu rumah penduduk. Sisa dari hari ini pun dinikmati tiap siswa sesuka mereka.

 

Kelas Phobia juga termasuk dalam tugas ini, namun mereka dibimimbing ‘khusus’ oleh beberapa ahli penyembuhan phobia yang disertakan langsung di liburan kali ini.

 

 

07.00 KST

Ruang Makan

 

Bunyi suara dari pisau, panci, dan beberapa alat masak lainnya terdengar dari lantai bawah rumah bercorak pink itu. Jin yang sedang memasak malam itu, menjadi kesan yang berbeda. Keahlian sang ketua kelas dalam memasak menjadi satu-satunya bahan perbincangan paling seru malam itu. Riuh semua murid yang menyemangati Jin dan beberapa orang lainnya yang membantu Jin menambah panas suasana seakan sedang terjadinya pertandingan yang seru. Mereka mengamati semua gerak-gerik yang Jin lakukan dari balik meja dapur yang menjadi batas jarak keduanya.

 

“Hana. Dul. Set”

 

TINGGGG

 

YEY!”

 

Pekik semua murid saat hitungan mereka tepat waktu. Dentingan oven yang terdengar seakan menjadi akhir dari segala bunyi musik di perut mereka malam itu. Pizza Mozarella bertoping Jamur Kancing ukuran jumbo mejadi menu utama mereka. Cukup untuk tiga puluh orang di kelas.

 

 

“bagaimana enak?” tanya Jin pada teman-temannya itu yang masih melahap potongan pizzanya masing-masing. Mereka hanya mengangguk setuju.

 

“lain kali buatkan aku Zuppa Zup Jin-a” sahut Jimin dari kejauhan. Ia berkumpul dengan Taehyung dan beberapa orang lainnya.

 

“Siapp. Kapan pun kau mau. Baiklah aku tidur duluan. Selamat malam”

Jin memberi sentuhan terakhirnya untuk dapur mereka yang bisa dibilang –hampir- tak berbentuk karena saking berantakannya tadi.

Ditaruhnya celemek bergambar princess itu di samping kulkas. Lalu kakinya ia langkahkan menuju tangga.

 

“Oh iya. Jangan lupa dengan apa yang ku katakan tadi. Ada sepuluh orang yang tidur di atas. Sisanya di bawah. Utamakan diatas untuk wanita dan phobia yang tidak memungkinkan mereka untuk bisa tidur di lantai bawah. Termasuk aku. Hehehe” Jin menatap satu persatu teman-tamannya itu, mengingatkan kembali apa yang di ucapkan beberapa jam yang lalu.

 

“Ck. Baiklah tuan Kim Seok Jin. Tidurlah yang nyenyak” celetukan Suga yang lebih terdengar menyindir itu membuat Jin terkekeh geli kemudian melanjutkan langkahnya untuk segera tidur di lantai atas.

 

Kamar atas ada empat kamar yang tiap kamar bisa dimasuki dua sampai tiga orang. Sedangkan di lantai bawah mereka tergeletak tidur begitu saja. Sama sebenarnya, tidur mereka hanya dibalut tempat tidur tipis yang dibawa masing-masing murid dan satu selimut. Entah lantai atas ataupun bawah mereka sama pulasnya bersemayam di balik selimut.

 

^

 

23.00 PM KST.

 

 

 

“Hye In-a apa kau sudah tidur?”

 

Nam Ju membalikkan badannya ke hadapan Hye In yang membelakanginya, penasaran apa temannya itu sudah tidur atau belum.

 

“…”

 

Tak ada jawaban

 

“Hye- ah baiklah, kurasa kau sudah lelah tadi. Dimaki Taehyung habis-habisan. Pasti kau- ” Nam Ju menatap langit-langit kamarnya, menggantikan Hye In yang tak bisa diajak bicara.

 

 

“Tidurlah Nam Ju-a. Ini sudah malam. Ocehan mu itu bisa membuat yang lain bangun” ucap Hye In samar-samar, namun suranya masih bisa di dengar oleh Nam Ju. Sejujurnya Hye In juga belum tidur sejak tadi, ia masih memikirkan kejadian tadi siang.

 

 

“Hemm.. baiklah.”

 

 

“orang itu apa maksudnya? ‘cengeng’ aku hanya meneteskan beberapa air mata saja, apa itu cengeng?” gumam Nam Ju.

 

“eoh?”

 

Kwon Nam Ju tiba-tiba bagkit dari tempatnya, dan dengan mengendap-ngendap ia menuju lantai bawah berharap tak ada yang mendengar derap langkahnya itu.

 

 

 

“Tae..” Lirih Hye In, giginya menggigit kuat bibir bawahnya. Di tariknya kuat-kuat ujung selimutnya. Nam Ju yang sudah pergi membuat Hye In yang sedari tadi menahan tangisannya kini Air mata itu keluar tanpa seizinnya.

 

 

 

“Hemm..”

 

Suara berat seorang laki-laki terdengar di telinga Hye In.

 

 

“Aku keterlaluan ya tadi siang?” lanjut suara itu. Hye In yang merasa kenal dengan suara itu buru-buru menghapus jejak-jejak air matanya dengan cepat. Tubuh Hye In yang sudah sejak tadi membelakangi pintu kamar dan susana gelap membuat dia tak dapat melihat sosok pria yang sudah menyerang hatinya tadi siang itu.

 

“Maaf.. Kim Hye In, aku memang bodoh”

 

Taehyung. Pria itu menyenderkan dirinya di depan pintu. Tangannya dilipat di depan dadanya. Ia tak tahu, kalau sejak tadi sepasang kuping Hye In mendengar kata-katanya dengan –sangat- jeals.

 

“Pahami aku dengan caramu sendiri. Angan yang tak mungkin aku rasa”

Lanjutnya. Ia menatap dengan lekat punggung Hye In yang berbalut selimut tebal itu. Ia ingin kakinya memasuki lebih dalam kamarnya, namun niat itu ia batalkan, Taehyung lebih memilih pergi sebelum yang lainnya memergokinya masuk ke kamar seorang Kim Hye In.

 

Hye In menghela nafas berat, sebelum air matanya benar-benar mengalir lebih deras. Isakannya itu, ia harap tak terdengar oleh siapapun.

 

‘Kau wanita macam apa hah?’

 

‘wanita gila. Wanita sialan! Pergi kau sana! Beraninya kau mendekati ku!’

 

‘jangan bilang kau lupa dengan phobia ku huh? Apa perlu aku meyumpahimu agar kau amnesia?’

 

‘Arghhh! Pegi kau Kim Hye In. AKU BILANG PERGI!’

 

Ucapan Taehyung tadi siang masih tergiang-ngiang di benaknya. Dia tak tahu jika menyenderkan kepala di bahunya itu bisa membuat amarahnya meledak. Apa itu kesalahan besar?

 

Bukan-bukan itu yang membuat Hye In terlalu sesak untuk mengingatnya. Tapi, tangan halus Taehyung yang mendarat mulus di pipinya dengan kasar. Bekas memerah dan nyeri masih Hye In rasakan sampai malam ini.

 

Perlahan ia terlelap dengan isakannya sendiri. Orang itu.. belum pergi. Bayangan tingginya masih terlihat dari dalam.

 

 

 

“kau dari mana Hyung?” suara Jungkook terdengar ketika Taehyung memasuki kamar. Jin, Jungkook, dan dirinya tidur di satu kamar yang sama.

 

“buang air kecil” jawabnya kemudian ia menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.

 

“ohh..” Jungkook megangguk kemudian memejamkan matanya kembali.

 

Silaunya lampu tak membuat Taehyung bisa tertidur lelap. Phobia Jungkook membuat ia benar-benar mual. Ada tiga lampu yang ia nyalakan dalam satu kamar ini.

 

“arghh!” Taehyung mengacak-ngacak rambutnya dari dalam selimut. Semua yang terjadi hari ini benar-benar membuatnya gila.

 

^

 

Nam Ju sudah sampai dilantai bawah. Kakinya menjelajah tiap kasur yang berserakan di bawah, semuanya terisi oleh satu orang. Mereka nampak terlelap, suara dengkuran Namjoon dan beberapa murid pria lainnya menggema di ruangan itu.

 

Mata Nam Ju menyipit, retina matanya mencoba melihat sisi pojok ruangan. Satu kasur yang tak berpenghuni. Ia tahu betul kasur siapa itu. Kasur bergambar Spongebop beserta selimut dengan gambar yang serupa, membuat Nam Ju menarik tiap sudur bibirnya. Diahlikan tatapannya itu ke seluruh ruangan berharap menemukan sosok yang ia cari.

 

 

“merasa baikan, Jung Ho Seok?”

 

“eoh?”

 

Nam Ju menemukannya! Ia berada di balkon depan villa ini. menelungkupkan kedua kakinya di atas kursi dan kepalanya yang ia sandarkan. Matanya terpejam mencoba menikmakmati angin dingin yang menjelajahi tengkuk lehernya. Ia menoleh ketika seseorang menyebut namanya.

 

Mata mereka sesaat bertemu. Memberi kesan rindu. Sudah berapa lama mereka tak seperti ini? duduk berdua di satu kursi yang sama. suasana sepi ini, dahulu dimanfaatkan Hoseok untuk bisa memandang lebih dalam wajah cantik Nam Ju. Menyelipkan kata-kata romantis yang membuat wajah Nam Ju merona, tawanya ketika ia melakukan itu menjadi kerinduan yang dalam tiada arti.

 

“Seoki-a kau belum jawab pertanyaan ku!” merasa sudah lima menit berlalu namun pertanyaannya belum di jawab, membuatnya jengah. Kekhawatiran sedari siang tadi mengerubunginya, semakin menohok rasa aneh dalam dirinya jika sudah berhadapan dengannya seperti ini. Hoseok yang tak sadarkan diri selama tiga jam itu membuatnya mati penasaran. Bagaimana keadaannya? Apa dia ada luka dalam? Apa dia akan mati? Hey! Itu pemikiran gila.

 

“aku baik” Hoseok memalingkan tatapannya ke hadapan Hye In yang sejak tadi mengernyitkan dahinya menunggu jawaban Hoseok.

 

“Baguslah. Ku kira kau tak akan bangun lagi” Nam Ju tertawa garing. Ia tak bermaksud mengatakan hal itu pada Hoseok. Sungguh.

 

“Apa kau pikir begitu? Padahal tadi aku bertahan untuk tetap hidup karenamu yang menangis untukku. Tapi kau benar-benar ingin aku mati?” tanya Hoseok. Matanya kini memandang kembali indahnya malam Petite France di depannya.

 

“Ah.. bu.. bukan begitu. Aku.. aku-“ Hye In gelagapan mendengar pernyataan Hoseok. Apa yang barusan ia katakan? Bertahan untuknya? Menangis? Apa dia melihatnya?

 

“Huhhh.. sudah lama Nam Ju-a kita tak seperti ini.” tak mau ambil pusing dengan percakapan mereka, Hoseok lebih suka mengenggam tangan kanan Nam Ju yang bebas menapak di bangku itu. Nam Ju membulatkan matanya. Sepertinya ada yang berlari di jantung nya kini. Degupannya tak karuan. Wajahnya selalu merona kalau Hoseok melakukan ini padanya.

 

“Tak apa. Aku hanya rindu seperti ini. Sebentar saja” jawabnya membuat jantung Nam Ju mempercepat lajunya. Bibirnya terkunci rapat, ia bingung harus membuka topik apa agar Hoseok berhenti seperti ini padanya. Berhenti? Sebenarnya bukan itu yang dia mau. Hanya saja ia takut jika ada yang lihat mereka seperti ini.

 

“Chan memang gila. Aku kalah taruhan tadi. Taruhan makan kimbab dua puluh buah dalam lima menit. Hahaha” Ucap Hoseok, menyiratkan penjelasan pada Nam Ju yang pasti akan menanyakan ‘bagaimana bisa kau pingsan bodoh?’

 

“Ck. Anak bodoh”

 

“Aku memang bodoh, tak seperti Suga ya kan? Dia bisa menduduki peringkat ke tiga, aku? Sepuluh besar saja tidak”

 

Mendengar nama Suga disebut buru-buru Nam Ju menarik tangannya dari genggaman Hoseok. Ia risih jika mendengar nama itu ketika sedang bersama Hoseok. Sejarahnya panjang, satu nama yang menjadi penghalang hubungan mereka kala itu.

 

“Ku bilang hanya sebentar saja. Kenapa pelit sekali Kwonie” Hoseok yang tak suka dilepaskan genggamannya, kemudian menarik kembali tangan mungil Nam Ju. Mempererat lagi, sedetik kemudian kepalanya ia sandarkan pada bahu Nam Ju. Hoseok tersenyum ketika Nam Ju tak menolak tingkahnya itu.

 

“Aku.. Aku rindu padamu Kwonie” Perlahan mata Hoseok terpejam. Hoseok malah semakin mempererat genggamannya.

 

‘sial. Genggamannya. Harusnya aku tak mencarinya tadi’ runtuk Nam Ju dalam hatinya, sebesar apapun hatinya senang diperlakukan seperti ini, tetap saja ia takut akan ada yang memergokinya.

 

“apa kau sudah tidur Seoki-a?” Nam Ju mengerak-gerakan tangannya di depan wajah Hoseok yang tertidur pulas di bahunya. Memastikan jika orang itu benar-benar sudah di alam mimpinya, jadi ia bisa bebas mengatakan apapun yang ia sudah pendam sejak tadi.

 

“Huhh.. kau memang tukang tidur”

 

Tiga menit..

 

Lima menit..

 

Sepuluh menit..

 

Nam Ju masih membiarkan Hoseok tidur di bahunya. Tangan nya sesekali mebenarkan rambut Hoseok yang berterbangan tertiup angin. Diusapnya pipinya secara perlahan. Menyalurkan rasa rindunya. Benar, Nam Ju demi apapun sangat rindu dengan orang ini.

 

“Aku juga merindukanmu”

 

CUPPPP

 

Nam Ju pun memberanikan dirinya untuk mencium lembut pipi Hoseok yang tertidur itu. Nam Ju tersennyum. Ia senang rasa rindunya sudah terbalaskan.

 

***

 

 

08.00 AM KST.

 

 

Semua murid kelas phobia sudah berbaris rapi di sebuah taman tak jauh dari villa mereka. Kelas ini benar-benar dipisahkan oleh kelas normal lainnya. Kegiatan mereka diawasi secara signifikan oleh para ahli penyembuh phobia. Tiap gerak-gerik yang mereka lakukanpun akan di pantau berdasarkan catatan kesehatan yang mereka punya.

 

“Cih. Sekolah ini benar-benar gila. Apa mereka pikir kita ini terganggu jiwanya eoh? kalau saja Kim seosaengnim bukan orang baik, sudah kuhajar dia dengan otot-otot ku ini”

 

“Apa yang kau katakan Park Jimin? Siapa yang ingin kau hajar eoh?”

 

PLAKK

 

Tangan Jin sukses beradu dengan dahi Jimin. Telinganya sudah gatal dengan ocehannya sejak tadi pagi. Sudah cukup ocehan Taehyung semalaman yang membuat Jin tak bisa tidur. Ocehan Taehyung yang frustasi akan Kim Hye In. Sebersit di hati Jin, ada perasaan yang sesak yang menyumbul dari dalam sana.

 

“Oke. Perhatian semuanya. Sekarang tiap kelompok cari satu rumah untuk membantu segala kegiatan mereka selama dua hari yang tersisa disini”

 

“Ne saem”

 

“Dan.. kalian tak boleh bercampur dengan kelas lain. Lokasi rumah yang dipilih hanya boleh di sekitar sini”

 

Setelah hampir sepuluh menit Kim seosaengnim memberikan arahannya, semua murid langsung mencari satu rumah untuk di jadikan sasaran penelitian mereka. Hari ini setidaknya mereka harus mengisi tujuh lembar laporan dari lima belas kertas yang disediakan.

 

Mati hari ini untuk Taehyung, dia dijadikan satu kelompok dengan Hye In. Protes? Tak usah di tanya, mereka Sudah menolak mati-matian pada Kim seosaengnim, namun protes mereka di jawab oleh saem dengan jawaban yang bisa dibilang logis.

 

“Kim Taehyung kau menderita Caligynephobia. Phobia mu itu harus dilawan. Kebalikan dari hatimu itu harus dimusnahkan. Kim Hye In akan menjadi pasangan kelompok mu itu. Kami sudah membicarakannya pada penyembuh, dan mereka bilang kau terlihat coocok untuk bisa disembuhkan dengan Hye In”

 

“Dan Kim Hye In, Insectophobia mu juga harus disembuhkan. Tujuan sekolah ini untuk kalian bukan hanya belajar tapi juga perlahan menyembuhkan”

 

Setidaknya itu yang dikatakan Kim Seosaengnim. Masuk akal bukan?

 

Bukan hanya Taehyung dan Hye In, tapi semua pasangan diberi alasan yang logis juga. Membuat mereka, tak mau berkutik lebih lanjut.

 

“Cha! Kau jalan duluan, jangan mendekatiku atau pipimu akan bernasib sama seperti kemarin” ucap Taehyung pada Hye In di belakangnya.

 

“Tak kan kubiarkan kau sentuh wajahku dengan tamparanmu lagi!” gumam Hye In ketika berjalan melewati Taehyung. Taehyung yang mendegarnya hanya membuang mukanya.

 

Sesal. Itu yang dirasakan nya. Kenapa aku bisa menamparnya? Pikirnya.

 

^

 

Setelah hampir setengah jam mereka berputar-putar, mencari rumah yang akan mereka teliti, sampailah mereka di satu rumah yang jauh dari villa mereka. Letaknya lebih terbelakang dari pada villa yang mereka tempati. Belakangnya sudah bukan rumah bercorak warna-warni lagi, melainkan hutan yang terlihat gelap meskipun masih di jam sembilan pagi seperti ini.

 

GLEKK

 

Baik Hye In maupun Taehyung sama-sama meneguk savilanya masing-masing. Halaman depan rumah itu terlihat sedikit suram. Daun-daun kering bewarna kecoklatan yang berserakan menambah kesan aneh rumah itu.

 

“Hye.. ayo kita cari rumah lain saja. Ini menyeramkan kau tahu” Ucap Taehyung pada Hye In di depannya. Jarak mereka sudah bukan dua meter yang selalu di wanti-wanti Taehyung, tapi satu meter.

 

Apa ini kemajuan?

 

“Aishh.. kita mau kemana lagi? Semua rumah di dekat villa sudah diselak oleh yang lain. Aku mengutuk Kim seonsaengnim kali ini. mengapa aku harus denganmu eoh!” Hye In berbalik menatap Taehyung di belakangnya.

 

 

“Ah. Ada tamu rupanya” suara orang paruh baya terdengar dari balik pintu rumah itu.

 

Tak berselang lama, pintu tua bewarna coklat kusam itu perlahan terbuka. Nampak satu orang nenek tua yang mencoba tersenyum pada Taehyung dan Hye In.

 

 

 

“Wooaaa!! Kau siapa?” kaget Taehyung mendapati nenek tua yang dengan sanggulan rambut putihnya serta baju hanbok yang dipakainya mendekati mereka.

 

“ahh.. tak perlu takut, aku bukan penyihir. Kalian sepasang kekasih kan? ada apa datang kerumahku?”

 

Tanya nenek tua itu. Taehyung dan Hye In sama-sama menoleh satu sama lainnya, tatapan mereka terlihat jijik. Seakan tak suka jika nenek itu memasangkan mereka sebagai kekasih. Cih! Pasangan kelompok saja sudah muak, apa lagi pasangan kekasih! Pikiran mereka mulai berakar.

 

“Ahhh.. ayo masuk, aku lupa. Harusnya kita berbicara di dalam” Nenek itu kemudian berjalan menuju rumahnya, mengisyratkan Taehyung dan Hye In yang masih terbuai oleh pikirannya untuk segera mengikuti langkah nenek tua itu.

 

 

^

 

12.30 PM KST

 

“Oh iya nek, ah maksudku Nyonya Lee. Apa kau tinggal disini sendiri?” Tanya Hye In ditengah-tengah aktivitasnya menyapu halaman rumah tua itu.

 

“Hahaha. Kau terlalu formal Kim Hye In. Tidak apa-apa kau boleh memanggilku nenek” Ucap Nyonya Lee dengan senyumannya. Walalupun sudah tua, senyumannya itu masih terlihat menawan bagi siapa saja yang melihatnya.

 

“Tidak.. aku tidak sendiri, ada cucu perempuanku yang tinggal bersamaku” Lanjutnya. Kemudian menyeruput kopi panas yang dibuatkan Taehyung beberapa waktu lalu. Ia duduk tenang di pinggiran lantai rumahnya.

 

“Oh iyakah? Aku tak melihatnya.” Hye In berteriak kegirangan hingga sapu yang dipegangnya jatuh. Setidaknya selama bekerja disini akan ada yang menemaninya bukan si bodoh Taehyung itu.

 

“Dia akan pulang sebentar lagi.. Ah itu dia” Tunjuk Nyonya Lee ke arah gerbang rumahnya yang terbuat dari kayu itu. Disana sudah ada seorang gadis. Seperti pada desa umumnya, gadis itu terlihat anggun dengan pakaian sederhananya. Baju lengan panjang bewarna putih dan juga rok sedengkulnya yang senada dengan bajunya. Serta rambut panjang yang dbiarkannya tergerai.

 

 

 

“Oh ada tamu rupanya” Gadis itu menutup gerbang kayunya kemudian berjalan mendekati Hye In.

 

“Ah.. aku Oh Seung Ah. Kau?” Gadis itu menyapa Hye In. Ia tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya.

 

“Kim Hye In” Hye In yang membalas jabatan tangan Sung Ah.

 

‘Sial. Kenapa gadis desa terlalu cantik?’

 

 

 

“NENEK! Ini ditaruh dimana? Aww.. gatal!” Sura Taehyung dari belakang rumah terdengar di telinga mereka. Nenek yang mendegarnya pun langsung pergi menghampiri Taehyung di belakang.

 

“aishh.. anak itu, tak bisa apa untuk tidak berteriak?” Gerutu Nyonya Lee.

 

 

Taehyung sedari tadi ditugaskan untuk mengambil rumput di bekang rumah untuk makanan satu ekor sapi dan dua ekor kambing milik Nyonya Kim.

 

Dibelakang ia terlihat menggaruk-garuk kulitnya yang nampak memerah. Hye In dan Seung Ah menghampiri Taehyung dan Nenek yang lebih dulu sampai.

 

“Dasar orang kota. Begini saja sudah gatal-gatal. Apalagi kusuruh kau membersihkan sarang Tarantula milik Seung Ah. Kau bisa mati ketakutan” Nyonya Kim membaluri minyak obat ke tangan Taehyung yang memerah.

 

“Ck. Sama wanita saja dia lari, apa lagi dengan Tarantula” cibir Hye In.

 

“lari?” tanya Sung Ah heran

 

“Phobianya.. kau akan muak dengan itu.” Jawab Hye In yang kembali dengan sapu ditangannya.

 

 

“Hey diam kau!” Teriak Taehyung.

 

“Kau ini. Diam sebentar!”

 

Nenek memukul keras bokong Taehyung. Kesal karena ia tak bisa diam sedari tadi ia mengobati tangannya.

 

“Tapi bukankah nenek juga wanita? kenapa dia tidak takut” tanya Seung Ah sekali lagi. Ia mulai penasaran dengan Taehyung.

 

“Orang tua sepertinenektidak dia takuti, tapi gadis cantik seperti aku atau dirimu ia bisa lari. Berteriak –teriak tak jelas. Yaa..seperti orang gila” sahut Hye In santai. Ia ditatap tajam oleh Taehyung.

 

“Ini seperti racun bunga mawar kuning” Nenek memerhatikan secara seksama kedua tangan Taehyung.

 

“Racun?”

 

“Tidak apa-apa. Itu akan hilang nanti malam” Sahut Seung Ah. Lalu langkahnya mulai mendekati Taehyung dan Nenek, sesaat setelah Hye In membisikan sesuatu di telinganya. Senyuman jahil mengembang di wajah Hye In. Sepertinya ia ingin balas dendam dengan tamparan Taehyung kemarin.

 

“Sini nek biar aku yang obati”

 

“Woaa woaa woaa!! Shireo! Biar nenek saja.” Taehyung memundurkan langkahnya begitu tahu Seung Ah mendekatinya.

 

Hye In terkekeh geli melihat pertunjukan di depannya itu. Nenek yang tahu maksud Hye In hanya tersenyum.

 

“Kau nakal Hye In” tangan nenek menyenggol pelan tangan Hye In beigitu ia mendekatinya.

 

“Hhahaha. Biarkan saja nek”

 

Tawa Hye In semakin menjadi, ketika Taehyung benar-benar ketakutan dengan Sung Ah. Ia berlari ke arah luar menghindari kejaran Sung Ah.

 

“Hahahha. Pacarmu itu Kim Hye In. Bagaimana bisa kau menyukai dia. Phobia dengan wanita. Lalu bagaimana caranya kau menciumnya eoh?”

 

Hye In yang mendengar pernyataan Seung Ah langsung terdiam dari tawanya.

 

 

 

‘pacaran? Ciuman?’

 

 

Sekali lagi Hye In mematung. Matanya membulat sempurna. Berapa kali lagi orang-orang akan menganggapnya berpacaran dengan Taehyung si idiot itu? Kupingnya sangat panas jika ada yang bilang begitu.

 

 

“Ahh… apa kau bisa masak? Aku lapar.” Hye In mengalihkan permbicaraan dengan Seung Ah.

 

“Hahaha. Baiklah. Ayo ikut aku ke dapur. Sepertinya kau tak mau membicarakan ciumanmu. Hahaha. Wajahmu memerah Kim Hye In”

 

 

‘apa? memerah?’ tangan Hye In memegang kedua pipinya. Seung Ah benar, mukanya memanas saat ini.

 

 

“Ah tidak-tidak. Apa yang kau pikirkan Kim Hye In”

 

***

 

Rumah bewarna hijau daun menjadi tujuan si Hoseok dan Suga kali ini. Sudah sekitar beberapa jam yang lalu mereka berdua menjajakan barang dagangan Park Ahjushi –pemilik rumah- di persimpangan jalan tak jauh dari rumah yang mereka datangi.

 

“Aku sudah tak tahan dengan baunya Suga-a..” Hoseok refleks memundurkan tubuhnya ketika mencium bau banyak ikan yang tergeletak berjejeran di meja.

 

“Hah. Kampungan” sahut Suga. Tatapannya terlihat dingin.

 

“Mwo? Apa yang kau bilang?”

 

“Kampungan”

 

“Yakk kau ini-“ tangan Hoseok yang ingin memukul kepala Suga di tahan oleh tangan kekar Suga. Di tolehkan kepala nya pada Hoseok yang diam mematung. Tatapan itu benar-benar dingin saat ini.

 

“Kau.. kenapa?” Tanya Hoseok pelan.

 

“Ck.”

 

Suga melepaskan tangan Hoseok dengan kasar. Hoseok yang merasakan sakit di tangannya hanya meringis kesakitan.

 

“Sshh.. tenagamu kuat sekali”

 

Sesaat mereka terdiam, bergulat dengan pikiran masing-masing, berhubung pelanggan Park Ahjushi sedang tak mampir ke tempat jualannya.

 

 

“Bagaimana pipimu?” Suga bertanya pada Hoseok tiba-tiba. Senyumannya terangkat satu sudut.

 

 

“pipiku kenapa?” Tangan Hoseok meraba-raba pipinya sendiri.

 

 

“dicium oleh Nam Ju bagaimana rasanya?”

 

***

 

 

     “lihatlahwajahmuituHoseok-a. hahahmenggelikan. Bagaimanaactingkubagusbukan? setelah lulus nantiakuakandaftarmenjadipemaintetap drama musical. Hahaha. SudahlahHoseok, hentikanwajahkonyolmuitu” SugatertawamenanggapirautwajahHoseok yang berubahdrastis. Suga yang terlihatdingin pun sudahkembalikedirinya, bukandirinya yang tadi.

 

‘apa yang di bilang? Acting?’

 

 

“ahh.. ne, hehehe. Akubenar-benartakutdenganperubahansikapmutadi. Ah sudahlah, akumaukeke toilet dulu. Oh iya, Park ahjushibilang, jam 3 nantiiaakankembali.” UcapHoseokdengantawa yang sedikitiapaksakan. Tengkuk yang taditakgatalituiagarukpelan, sedetikkemudianiaberanjakdaritempatnya.

 

“ahye.. arraseo” jawabsugadiikutisenyumanmanisnya.

 

 

 

“sebenarnyaapa yang kalian sembunyikanhm?” gumamSugapelanketikaHoseoksudahbenar-benarpergi. Senyumsatusudutnyaterukirkembali. Apainibagiandari acting juga?

 

***

 

TBC

 

Hay hay..Taebobawa chapter 2 nih, maap yang udahnunggu lama. Hehehedanmaapjuga yang gakpernahtepatwaktungepostnya😀

Kayaknyaini triangle dah ._. *lugimanasihthor?*😄

Ada apadenganHoseokdanNamju? Ditungguajaya next chaptnya. Komen untuk chapter ini^^ pengen tau gimanareaksikalian :DsatukomentarberhargabangetlhobuatTaeboJ

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ PHOBIA IN LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Taehyung Hyein ohok/?
    jadi suga liat waktu Namju sama Hoseok ketemu ya ‘-‘)7 Namju harusnya sama Namjoon kan cocok /gak ohya yang bagian bawah spasinya lebih diperhatikan ya’3’
    ditunggu chap selanjutnya^^

  2. Daebakk , Thor!
    Aku langsung suka pas baca ini ff.😀 Penasaran sama V dan Hye In, Bang Suga dan Nam Ju..
    btw, kookie kasih pasangan dong, kasihan.. *pelukkookie*

    ~ppyong

  3. Ceritanya bagus thor greget banget/? Next thor\(‘^’\), kalo bisa kelanjutannya cinta segitiga antara Jin x Hye In x Taehyung. KEEP WRITING THOR! \(^0^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s