FF/ MY LOVE AND THE QUEEN/ BTS-BANGTAN


Pt. 1 (Unexpected Girl)

 

 

Main Cast        :

-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)

-Min Queen(Myeongseong Queen)

 

Support Cast    :

-Kim Tae Hyung (V’s BTS)

-Park Jimin (Jimin’s BTS)

-Jeon Jae Im (oc)

 

Genre              : Historical, Romance, School-life,Comedy, Fantasy

Length             : Multi Chaptered

Author             : SunKi

 

 

MY LOVE AND THE QUEEN_POSTER(1)~2

 

“Perbedaan usia, agama, negara, bahasa, ras, suku, apa lagi tingkat sosial. Semua itu sudah biasa di dunia ini. Tapi bagaimana dengan ku? Aku mencintai seseorang yang berbeda zaman dengan ku. Bagaimana tidak? Aku mencintai seseorang yang berasal dari zaman Joseon”-Jung Kook

 

 

#Tahun1872

#KamarRatuMin,IstanaChanggyeong

           

Seperti hari-hari biasadi sela-sela kepemimpinannya, Ratu Min merilekskan kembali pikirannya dengan membaca buku Riwayat Musim Semi Dan Musim Gugur. Meskipun buku tersebut buku politik yang sering dibaca oleh kaum pria, hal tersebut tak membuatnya merasa sungkan. Justru dengan mempelajari buku politik seperti itu dapat membantunya dalam hal memerintah kerajaannya. Suasana pavilium yang sunyi membuat Ratu Min semakin merasa tenang dan nyaman untuk memahami tiap-tiap kalimat yang ada pada buku tersebut.

Semenjak dirinya mengirimkan surat resmi kepada Dewan Administrasi Istana untuk menurunkan kekuasaan Heungseon Daewongun yang merupakan ayah dari suaminyayaitu Raja Gojong, ia memegang kendali penuh atas istana.Bahkan peran politik Ratu Min dianggap lebih aktif dibandingkan suaminya sendiri.

Ratu Min menghela nafasnya tatkala mengingat masalah tiap masalah yang menimpa pada dirinya. Entah itu permasalahan kerajaan maupun permasalahan pribadinya. Nafasnya terasa begitu berat begitu masalah-masalah tersebut kembali menghantui pikirannya.

“Maafkan hamba jika hamba lancang pada mu, Yang Mulia. Hamba paham betul apa yang Yang Mulia sedang alami sekarang. Maka dari itu, hamba ingin memberikan Yang Mulia sebuah hadiah” sambil membungkukkan tubuhnya, Sarjana Choe Ik-hyeon memberikan sebuah kotak kecil ke atas meja yang ada di hadapan Ratu Min.

Karena penasaran, Ratu Min membuka isi kotak pemberian Sarjana Cho Ik-hyeon. Dahi Ratu Min mengkerut seketika begitu melihat isi kotak tersebut.

“Sarjana Choe Ik-hyeon, apa ini sebenarnya? Mengapa kau memberikan ku barang macam ini?” tanya Ratu Min yang tak mengerti dengan barang pemberian Sarjana Choe Ik-hyeon.

“Bisa dibilang, Itu adalah mesin waktu. Bertahun-tahun kami mencoba membuatnya. Dan baru kali ini kami berhasil. Maka dari itu, kami khusus memberikannya kepada Yang Mulia atas rasa cinta kami kepada Yang Mulia” terang Sarjana Choe Ik-hyeon.

“Lalu, kenapa kau dan golongan mu memberikannya kepada ku? Ini hasil kerja kalian. Seharusnya kalian yang menikmatinya”Senyuman manis terlihat jelas di bibir Ratu Min. Ia sangat senang dengan penuturan Sarjana Choe Ik-hyeon. Beban di pikirannya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Ia tak menyangka masih ada orang-orang yang ada di pihaknya di saat dirinya tengah di kecam oleh sebagian kalangan.

“Tidak, Yang Mulia. Kami benar-benar sangat ingin melakukannya karena kami rasa Yang Mulia lebih membutuhkannya. Dengan alat ini, Yang Mulia dapat pergi ke masa manapun. Memang aneh kedengarannya, namun dengan begitu Yang Mulia dapat mempelajari politik tak hanya dari buku. Namun dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi maupun yang akan terjadi” tutur Sarjana Choe Ik-hyeon.

Ratu Min mengamati benda yang di sebut sebagai mesin waktu. Sebuah benda berbentuk lingkaran yang berwarna emasdengan angka-angka dari 0 hingga 9 yang mengelilingi sisi dalam benda tersebut dan 4 buah jarum yang dapat di arahkan sesuai keinginan.

“Barang seperti ini bisa membawa ku ke masa mana pun? Ch! Rasanya sangat tidak mungkin! Apa mungkin.. Sarjana Cheo Ik-hyeon menggunakan ilmu gaib tao? Bagaimana bisa kalangan sepertinya menggunakan ilmu gaib tao?”gumam Ratu Min sambil terus mengamati barang yang ada di tangannya itu, Ratu Min masih belum juga mengerti dengan benda tersebut.

Namun jika mengamati lebih seksama, bisa dipahami bahwa masing-masing dari 4 jarum tersebut untuk mengarahkan tiap-tiap angka yangjika di gabungkan akanmenjadi 4 dijit angka sehingga dapat menunjukkan sebuah tahun.

“Satu.. delapan.. lima.. satu..” Ratu Min mencari-cari angka yang merupakan angka dari tahun kelahirannya.”Kalau saja aku menunjuk angka-angka itu dengan jarum ini, apa itu artinya aku bisa pergi ke tahun kelahiran ku?” gumam Ratu Min yang belum juga mengalihkan pandangannya dari benda yang ada di tangannya tersebut.

 

GUBRAK!

Ratu Min tersentak seketika tatkala 3 orang penyusup berpakaian selayaknya para ninja memasuki kamarnya. Pintu kamarnya rusak karena ulah penyusup dengan kain yang menutupi sebagian dari wajah mereka.

“PENGAWAL..PENGAWAALL!”Ratu Min mencoba untuk berteriak meminta bantuan. Namun tak ada sahutan. Perasaan takut mulai hinggap pada benak Ratu Min. Ekspresi akan rasa panik tampak jelas di wajah Ratu Min. Ia yakin jika penyusup-penyusup tersebut hendak melakukan hal yang buruk padanya.

Ketiga penyusup tersebut mulai mengelilingi Ratu Min dan semakin memojokkan Ratu Min. Bahkan salah satu diantara mereka tengah menggenggam sebuah balok kayu yang seakan-akan siap menghabisi Ratu Min. Ingin sekali Ratu Min melawan mereka dengan tangannya sendiri. Namun karena dangui yang ia kenakan saat ini menyulitkannya untuk bergerak bebas.

“Apa yang kalian inginkan, huh? Mana sopan santun kalian? Berani-beraninya kalian..”

BUG!

Sebuah pukulan dari benda tumpul tepat mengenai tengkuk Ratu Min. Kerasnya pukulan tersebut sukses membuat Ratu Min seketika tak sadarkan diri.

 

*****

 

Setelah hampir 3 jam tak sadarkan diri, perlahan tapi pasti Ratu Min mulai membukakan matanya. Ratu Min tersadarkan diri dalam posisi duduk.

Rasa nyeri pada tengkuknya masih terasa. Ia melihat sekeliling, ia bukan lagi berada di kamarnya. Suasana ruangan tersebut begitu gelap dan kotor. Hanya secuil dari sinar dari rembulan yang masuk dari sela-sela jendela. Yang terlihat oleh matanya kini hanya tumpukan jerami yang mengisi ruangan tersebut.

Ratu Min mencoba untuk bergerak. Namun gerakannya tersebut terbatasi oleh ikatan tali pada kedua tangannya juga pada kedua kakinya. Tak hanya itu, selembar kain juga membungkam mulutnya. Jangankan berteriak, untuk membuka mulutnya saja terasa begitu sulit. Tak ada yang dapat Ratu Min lakukan kecuali berharap akan ada bantuan untuk dirinya.

Namun bukan Ratu Min namanya jika ia hanya berdiam dirimengharapkan bantuan. Kedua matanya tertuju pada patahan dari samurai yang sudah tampak berkarat. Meskipun begitu Ratu Min tetap mencoba untuk memanfaatkan patahan dari samurai tersebut.

Meskipun geraknya tak bebas, Ratu Min terus berusaha meraih potongan samurai tersebut. Tak peduli dangui yang ia kenakan saat ini akan kotor. Yang terpenting adalah ia bisa meraih potongan samurai tersebut dan segera melarikan diri.

Usaha Ratu Min membuahkan hasil. Potongan samurai kini sudah ada di tangannya. Yang kini harus ia lakukan adalah memotong ikatan yang ada pada tangannya. Cukup sulit memang karena gerak tangannya terbatas.

Harapan untuk melarikan diri sudah hampir di depan mata tatkala ikatan yang ada pada kedua pergelangan tangannya berhasil terpotong. Tanpa menunggu lama, Ratu Min segera melepas ikatan yang ada pada kakinya. Untung saja di ruang tersebut terdapat sebuah jendela yang bisa Ratu Min gunakan sebagai jalan keluar. Cepat-cepat Ratu Min bangkit dari duduknya dan segera menghampirijendela tersebut.

Saat hendak keluar, kedua matanya tiba-tiba menangkap kilauan dari sebuah benda yang terpancar dari sinar rembulan. Karena penasaran, Ratu Min menghampiri asal dari kilauan tersebut. Dan betul saja, kilauan tersebut memang berasal dari sebuah benda yang cukup familiar bagi Ratu Min. Ya, benda tersebut merupakan benda yang di sebut sebagai mesin waktu.Tanpa pikir panjang, Ratu Min menggenggam erat benda tersebut dan melanjutkan niatnya untuk melarikan diri.

“Dasar bodoh! Mereka tak sepintar yang aku kira. Ch! Kalian terlalu bodoh untuk menculik ku!”gumam Ratu Min sambil tersenyum puas karena mendapati jendela yang tak terkunci yang dapat ia gunakan sebagai jalan keluar untuk meloloskan diri. Langsung saja Ratu Min keluar dengan lompat dari jendela tersebut.

KRES!

Sial. Ratu Min mendarat tepat di atas daun-daun kering dan menimbulkan suara kerapuhan dari dedaunan tersebut. Sialnya, hal itu disadari oleh dua penjaga yang sedari tadi bersiaga dari luar gudang jerami tersebut.

“MAU LARI KEMANA KAU?!” seru salah satu dari mereka. Keduanya tampak terkejut mendapati Ratu Min yang berhasil keluar. “Kau, cepat panggil yang lainnya!” Perintah salah satu dari mereka. Karena tak mau tertangkap lagi, cepat-cepat Ratu Min mengambil langkah seribu agar segera meninggalkan tempat mengerikan tersebut.

Tak ada yang Ratu Min pikirkan selain terus berlari dari kejaran orang-orang yang tengah mengejarnya hingga ke dalam hutan. Bahkan sebagian dari mereka menunggangi kuda. Alhasil jarak Ratu Min dengan mereka hanya sekitar 50 meter. Ditambah lagi dangui yang ia kenakan menyulitkannya untuk berlari dengan cepat.

Dengan alat ini, Yang Mulia dapat pergi ke masa manapun”entah datangnya dari mana, ucapan Sarjana Choe Ik-hyeon tiba-tiba muncul di pikiran Ratu Min.

Sambil terus berlari, Ratu Min mencoba untuk mengarahkan jarum-jarum yang ada pada benda tersebut. Pandangannya yang tersita pada benda tersebut membuatnya tak menyadari bahwa ada sebuah jurang yang cukup curam di hadapannya. Hal tersebut tak dapat di hindarkan. Ratu Minterjatuhseketika ke dalam jurang.

Tak jauh dari tubuh Ratu Min yang tergeletak, jarum-jarum dari benda yang sudah Ratu Min atur tersebut mengarah pada beberapa angka. Tak lama setelah itu, tubuh Ratu Min hilang seketika bagaikan cahaya lilin yang mati karena tertiup angin.

Sementara itu rombongan dari orang-orang yang sedari tadi mengejar Ratu Min kehilangan jejak dari Ratu Min.

“Sial! Kita kehilangan jejaknya!” umpat salah satu dari mereka yang di ketahui bernama Cho In Kwon sambil menghentikan laju kuda yang ia tumpangi yang di ikuti oleh lainnya.

“Sebaiknya kita pergi saja sebelum pihak istana menemukan kita!” ujar yang lainnya.

“Baiklah, kalau begitu ayo pergi!” sahut Cho In Kwon dan langsung berlalu yang di susul oleh rombongannya.

 

#Tahun2014

#DaeJin High School

 

Bunyi bel pertanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar membangunkan tidur Jung Kook. Ya, tertidur di jam pelajaran memang sudah menjadi kebiasaannya. Lebih-lebih saat pelajaran yang di anggapnya seperti pelajaran mendongeng.

“Kau sudah bangun?” sapa Jimin, teman sekelasnya yang paham betul dengan kebiasaan Jung Kook.

“Kau ini, seperti tidak tau kelakuannya saja. Bukankah dia hanya terbangun saat jam istirahat dan bel pulang?” tambah Tae Hyung yang di susul kekehan dari Jimin.

“Apa kalian sudah puas?” tanya Jung Kook yang mulai kesal dengan celotehan kedua teman sekelasnya tersebut.

“BELUM!” sahut Tae Hyung dan Jimin kompak. Keduanya kini menahan gelak tawanya karena ia sadar bahwa Jung Kook mulai kesal dengan candaan mereka.

Mengetahui tingkah kedua temannya tersebut, Jung Kook hanya mengehela nafasnya dan berlalu dari kelasnya.

“Bukankah itu Hye Min sunbae?” seru Tae Hyung sambil menunjuk seseorang yang juga hendak meninggalkan sekolah.

 

-Jung Kook’s POV-

 

Entah mengapa langkah ku terhenti begitu aku mendengar Tae Hyung menyebut nama Hye Min sunbae. Dan ya, mata ku bisa melihat dengan jelas pemandangan yang membuat ku terasa aneh. Apa jantung ku berdegup dengan kencang? Kurasa iya.

Ya, dia lah orang yang berhasil memikat ku diantara semua siswi yang selalu berusaha untuk memikat ku. Tetapi tidak dengan dia. Dia tak melakukan apapun. Hanya saja aku yang menyukainya. Dan kurasa dua sahabat ku itu mengetahui apa yang aku rasakan pada Hye Min sunbae.

 

*****

 

-Author’s POV-

 

Kawasanderetan rumah yang terjejer rapi sudah nampak. Itu artinya rumah Jung Kook hampir di depan matanya. Cepat-cepat Jung Kook mengayuh sepedanya agar segera sampai di rumahnya dan melanjutkan aktifitas tidurnya yang sempat terganggu akibat bel sekolah.

“Omo! Apa itu!” Jung Kook menghentikan laju sepedanya dan menggeletakkan denganasal sepedanya tersebut begitu mendapati seseorang tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalan. Tanpa menunggu lama, Jung Kook segera menghampiri orang yang tergeletak tak sadarkan diri tersebut.

Jung Kook semakin panik begitu mendapati orang yang tergeletak tersebut adalah seorang wanita. Jung Kook berharap ada seseorang yang akan datang membantunya. Namun sayangnya suasana pada saat itu sangat sepi. Tak ada satupun orang yang berlalu lalang. Karena tak ada pilihan lagi, Jung Kook membopong wanita tersebut dan membawanya ke rumah Jung Kook.

 

*****

 

Tak hanya di luar saja yang suasananya terasa sepi. Di rumahnya juga terasa begitu sepi. Jung Kook tak mendengar celotehan kakek, ibu, ataupun kakaknya. Apalagi melihat batang hidung mereka. Entahlah, karena tak ada pilihan lain Jung Kook membopong wanita tersebut ke dalam kamarnya.

“Nasib sial apa yang sudah menimpa noona ini? Bagaimana bisa dia tergeletak di tengah jalan. Apa lagi sudah hampir malam” gumam Jung Kook sambil menatap wanita tersebut dengan perasaan iba.

“Apa dia baru saja mengadakan karnaval atau pameran? Atau.. bahkan hari ini bukan hari perayaan chuseok. Tapi kenapa pakaiannya seperti itu?” gumamnya lagi yang kini mengamati penampilan wanita yang tengah terbaring di kasurnya.

Ia merasa bingung dengan penampilan wanita itu. Pasalnya wanita itu mengenakan dangui atau hanbok yang dikenakan oleh para keluarga kerajaan di jaman Joseon. Dangui yang lengkap dengan pola emas yang terjahit di bahudan bagian depan. Persis seperti dangui yang sering Jung Kook lihat dalam drama-drama bertema kerajaan.

“JUNG KOOK-AH, APA KAU SEDANG ADA DI KAMAR?”pekikkan Ibunya dari ruang tengah yang terdengar hingga kamar Jung Kook sukses membuyarkan lamunannya.Suara langkah dari kaki ibunya terdengar semakin mendekat. Itu artinya, Ibunya hendak menuju kamar Jung Kook.

Jung Kook baru sadar bahwa dirinya belum sempat menutup pintu kamarnya. Akan sangat bahaya jika Ibunya mendapati seorang wanita asing tengah terbaring di ranjangnya. Maka dari itu, cepat-cepat Jung Kook menutup pintu kamarnya. Namun..

“Ya! kenapa kau malah menutup pintu? Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan, huh?” tanya Ibu Jung Kook yang menangkap basah anaknya yang hendak menutup rapat pintu kamarnya.

“A..aniyo, eomma. tidak kenapa-kenapa” sahut Jung Kook sambil menyunggingkan senyum kakunya. Niatannya untuk menutup rapat pintunya batal seketika begitu ibunya sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.

“Mencurigakan. Biarkan aku masuk!” sergah ibu Jung Kook sambil menatap curiga pada anaknya.

“Andwe..andwe. Eomma, aku sedang ganti pakaian. Aku baru saja pulang” ujar Jung Kook sambil menahan pintu dengan tubuhnya yang berusaha mencegah ibunya masuk ke dalam kamarnya.

“Memangnya kenapa? Aku ini ibu mu. Bahkan aku pernah memandikan mu di hadapan tetangga” ucap Ibu Jung Kook sambil mendorong pintu kamar agar ia bisa masuk kedalam kamar anaknya.Seketika Jung Kook bergidik geli begitu mendengar ucapan ibunya.

“Mwo?Eomma,Anak mu ini sudah besar. aku sedang dalam keadaan telanjang. Aku bahkan tak akan membiarkan eomma melihat apa lagi para tetangga” sahut Jung Kook asal. Terpaksa Jung Kookmenutup paksa pintunya dengan kasarmeskipun ibunya tengah berada di luar kamar. Jung Kook sadar betul ia akan mendapatkan masalah serius jika ibu atau keluarganya mengetahui kejadian yang sebenarnya.

“Ch! benar-benar anak ini!” ibu Jung Kook hanya mendesis kesal karena tingkah anaknya tersebut yang sering kali membuatnya jengkel. Ibu Jung Kook memilih untuk berlalu dari pada harus berdiri mematung di depan kamar anaknya

 

 

 

—————————————————-

 

Setelah hampir semalaman tak sadarkan diri, Ratu Min akhirnya terbangun. Perlahan tapi pasti Ratu Min mulai membuka matanya dan melihat keadaansekeliling.

“Dimana aku?” gumam Ratu Min sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Jung Kook. Ratu Min memiringkan kepalanya begitu kedua matanya menangkap seorang pria usia belasan tahunyang tengah tertidur di atas sebuah sofayang letaknya tak jauh dari ranjang. “siapa dia?” gumam Ratu Min.

Ia mengernyitkan keningnya mencoba untuk mengingat apa yang sebelumnya telah terjadi. Yang muncul di pikirannya hanya saat orang-orang berkuda tengah mengejarnya di dalam hutan yang lebat. Selain itu, tak ada.

“YA! JUNG KOOK-AH! SUDAH PAGI! CEPAT BANGUUN!” tiba-tiba terdengar suara pekikkan seorang wanita yang terdengar dari balik pintu. Pekikkan tersebut cukup mengejutkan Ratu Min. Namun Ratu Min dibuat makin terkejut begitu pria yang sedari tadi tidur tiba-tiba bangkit dari kursi dan berjalan keluar dengan keadaan setengah sadar.

“Apa dia seorang pelayan? Bahkan dia langsung bangun begitu dia di perintah untuk bangun” gumam Ratu Min yang terkesima dengan sikap pria tersebut yang tak lain adalah Jung Kook.

Tak lama kemudian Jung Kook kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun kali ini dia sudah sepenuhnya sadar dari rasa kantuknya.

“Omo! N..nuguseyo?” seru Jung Kook yang terkejut begitu melihat seorang wanita yang tampak begitu berantakkan dan kotor tengah duduk diatas ranjangnya. Tak ada sahutan dari wanita tersebut. Tak hanya Jung Kook yang kebingungan. Tetapi wanita tersebut juga tampak kebingungan. Mungkin lebih.

“Ah.. iya. Aku ingat. Kau sudah bangun?” tanya Jung Kook. Ingatannya telah kembali. Ia teringat bagaimana ia menemukan wanita tersebut.

“Kau tak bisa lihat? Tentu saja aku sudah bangun” sahut Ratu Min yang terdengar sedikit ketus. Jung Kook hanya menghela nafasnya mendengarsahutan wanitatersebut.

“Baiklah.. baiklah.. Noona, kau tinggal dimana? Hari ini juga aku akan mengantar mu” ujar Jung Kook sambil memasang tampang seriusnya namun di samping itu terbesit perasaan iba.

“Aku.. dimana aku? istana mana ini?” bukannya menyahut ucapan Jung Kook, Ratu Min justru berbalik bertanya.

“Ne? Istana?” Jung Kook mengernyitkan keningnya karena sama sekali tak mengerti dengan pertanyaan Ratu Min.

“Iya. Kenapa kau tidak tau? Bukankah kau seorang pelayan?” ucap Ratu Min dengan polosnya. Seketika Jung Kook melongos mendengar ucapan Ratu Min.Bahkan rahang bawahnya kini terasa mengeras.

“Ya, Noona! Apa maksud noona menyebut aku seorang pelayan? Apa kau pikir aku seperti seseorang yang selalu bekerja jika majikannya berteriak?” sergah Jung Kook yang mulai kesal. Jung Kook kembali menghela nafasnya begitu Ratu Min meng’iya’kan ucapannya.

“Ch! Apa-apaan ini? Jangankan mengucapkan terima kasih. Apa lagi membalas budi!” gumam Jung Kook sambil menatap kesal pada Ratu Min. Sementara yang di tatap hanya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamarnya.

“Apa ini kamar? Tapi kenapa begitu berbeda? Sebenarnya ini istana mana?” tanya Ratu Min lagi. Ia merasa ada yang berbeda dengan keadaan di sekitarnya.

“Iya! Aku beri tahu, ini Istana Jung Kook. Istana termegah dan terbesar di tahun 2014 ini!” jawab Jung Kook asal dengan nada ketus sambil menata buku-buku pelajaran kedalam tasnya.

Ratu Min tersentak seketika begitu mendengar jawaban Jung Kook. “Apa kau baru saja bilang sekarang ini tahun 2014?”

“Ah.. noona tak tanya lagi tentang istana? Kenapa sekarang justru tanya tentang tahun?” ujar Jung Kook dengan nada meremeh.

“CEPAT KATAKAN! TAHUN BERAPA INI?” seru Ratu Min dengan wajah seriusnya bahkan tatapannya kini tampak begitu tajam.

“S..sekarang ini tahun 2014. W..waeyo?” sahut Jung Kook terbata-bata.Nyali Jung Kook seolah-olah menciut seketikasetelah mendapat tatapan tajam Ratu Min. Jung Kook menatap kebingungan pada Ratu Min. Ekspresi Ratu Min berubah seketika. Bahkan kedua mata kecilnya tampak jelas membulat begitu mendengar sahutan Jung Kook.

“Tahun 2014? Bagaimana.. mungkinkah benda itu benar-benar berfungsi?” gumam Ratu Min yang masih tercengang dengan kenyataan yang terjadi.

“Apa noona baik-baik saja?” Jung Kook mencoba untuk memastikan keadaan Ratu Min dengan bertanya sehati-hati mungkin.

“Apa kau tau cara membawa ku pulang?” tanya Ratu Min yang kini tampak gelisah. Lagi, Jung Kook dibuat kesal karena pertanyaannya tak di gubris oleh Ratu Min.

“Tentu saja, noona! Aku akan mengantarkan mu pulang sekarang juga. Jangan khawatir!” sahut Jung Kook sambil mengeraskan rahang bawahnya karena harus menahan emosinya.

“Benarkah?” seru Ratu Min. Ekspresi akan perasaan gelisah tergantikan dengansenyuman lebar yang tampak jelas di wajah Ratu Min. Bahkan rasa bahagianya tersebut semakin memuncak tatkala Jung Kook meng’iya’kan.

“Tapi sebelum aku mengantar noona, ada yang harus dilakukan terlebih dahulu..” Jung Kook melipat kedua lengannya kedepan dadanya sambil mengamati penampilan Ratu Min yang tampak berantakkan dan kotor.

“Apa itu?” Ratu Min ikut memperhatikan penampilannya hingga ke chima atau rok yang ia kenakan dengan tatapan bingung.

 

*****

 

Jungkook keluar dari kamarnya, suasana rumahnya terasa sepi. Tetapi hal tersebut bukan hal yang asing baginya. Pikirnya, ibu dan kakaknya telah pergi bekerja. Sementara kakeknya.. mungkin saja pergi untuk mengurusi usahanya penangkaran ikan mas.

“Apa mereka semua sudah pergi?” gumam Jung Kook sambil mengamati suasana sekelilingnya.Karena merasa ada kesempatan, Jung Kook memberanikan diri untuk masuk ke kamar kakaknya. Meskipun begitu, ia harus bergerak tanpa menimbulkan suara.

Langkah pertama, Jung Kook berhasil memasuki kamar kakaknya. Seperti yang ia duga, ia tak melihat batang hidung sang kakak di dalam kamarnya.

Tanpa menunggu lama, Jung Kook langsung menuju lemari pakaian kakaknya dan kedua matanya mulai mencari-cari pakaian yang kiranya cocok untuk Ratu Min. Karena tak mau terlalu lama, Jung Kook langsung mengambil pakaian kakaknya dan memasukkannya kedalam kantong tas. Langkah ke dua, berhasil. Kini tinggal menutup pintu lemari dan segera pergi dari kamar kakaknya.

Saat hendak menutup pintu lemari, tiba-tiba saja ia ingat suatu hal. Matanya tertuju pada sebuah ruang yang termasuk bagian dari lemari.

“Haruskah aku mengambilnya juga?” gumam Jung Kook yang mengurungkan niatnya untuk segera pergi.

“Tidak..tidak..tidaak.. aku tak mungkin akan melakukannya!” Jung Kook menepuk pelan kepalanya berharap pikirannya akan segera menghilang. Ia sadar bahwa ia tak semestinya melihat apa lagi mengambil pakaian pribadi kakaknya.

“Tapi.. bukankah semua orang membutuhkannya? Apa lagi dia seorang wanita..” Pikirannya kembali berubah. Entah apa yang harus Jung Kook putuskan, pikirannya seolah-olah berebut untuk menguasai isi otaknya. Maka dari itu, Jung Kook dibuat bingung oleh pikirannya sendiri.

“Maafkan aku, Jae Im noona. Aku melakukan ini bukan karena aku tak polos lagi. Tapi karena aku pengertian..” Jung Kook menutup rapat kedua matanya. Sedangkan tangannya meraih pakaian pribadi kakaknya tersebut hanya dengan kedua jarinya. Bukan karena jijik. Melainkan ia merasa ia tak pantas untuk menyentuhnya.

“Omo! Ya! Apa yang sedang kau lakukan disini?” Di luar dugaan Jung Kook, orang yang sangat tak ia harapkan tiba-tiba muncul di hadapannya. Karena saking terkejutnya, kedua mata dan mulutnya terbuka lebar begitu kakaknya menangkap basah Jung Kook yang sedang melakukan aksinya.

 

*****

 

“Ya! Kau.. Jelaskan semuanya kenapa kau mencuri pakaian ku, huh?” Jeon Jae Im, selaku pemilik pakaian yang hampir dicuri oleh adiknya sendiri merasa begitu kesal dengan apa yang terjadi. Sementara Jung Kook, ia hanya bisa duduk membisu di ruang tengah tak tau harus mengatakan apa di hadapan keluarganya yang baru saja kembali dari membesuk salah seorang tetangga.

“Maaf, noona. Umm.. aku hanya membutuhkannya untuk aku pinjamkan pada.. Hye Min. Ya, Hye Min..” jawab Jung Kook asal sambil menyunggingkan senyum kakunya.

“Untuk Hye Min? Memangnya untuk apa? Apa dia tak memiliki pakaian? Sampai-sampai harus meminjam ke kakak mu?” tanya kakek Jung Kook yang juga ikut penasaran dengan cucunya tersebut.

“Mwo? Harabeoji, apa maksud mu? Bukan itu maksudnya..” gerutu Jung Kook sambil memanyunkan bibirnya.

“LALU UNTUK APA, HUH?” pekik Jae Im yang tak kuasa lagi menahan rasa kesalnya. Sementara ibunya, hanya bisa mencoba untuk meredam kekesalan anak pertamanya.

“Umm.. itu untuk…..” Jung Kook sangat ingin menjawab. Tetapi entah mengapa seolah-olah otaknya tak mau membantunya untuk menemukan alasan yang tepat sebelum akhirnya Jae Im menumpahkan suluruh isi yang ada pada kantung tas ke atas meja.

Bukankepalang, seluruh keluarga Jung Kook terkejut begitu melihat pakaiandalam Jae Im yang ikut terjatuh ke atas meja. Sontak, mata dan mulut Jae Im dan ibunya membulat seketika.

“YA! BAGAIMANA BISA…” pekik Jae Im yang tak kuasa menahan emosi sekaligus malu terhadap kelakuan adiknya tersebut. Namun rasa emosinya tak dapat ia luapkan seluruhnya begitu terdengar suara wanita dari dalam.

“PERMISI.. APA ADA ORANG DI LUAR SANA?” seluruh keluarga Jung Kook tersikat pandangannya untuk mencari sumber suara tersebut. Sementara Jung Kook, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tak tau harus apa jika keluarganya mengetahui seorang wanita asing tengah berada di kamarnya.

“Eomma, Harabeoji, apa kalian mendengar ada suara wanita dari arah dalam?” tanya Jae Im yang ingin memastikan bahwa bukan hanya dirinya yang mendengar suara wanita tersebut.

“Ah, iya. Tadi aku juga mendengar. Tapi suara siapa? Bukan kah dirumah ini hanya ada empat orang. Tak ada orang lain selain kita kan?” sahut ibunya yang juga ikut mendengar suara wanita tersebut yang tak lain adalah suara.

“Baiklah kalau begitu. Eomma, Harabeoji, aku akan mengecek” ujar Jae Im yang hendak mencari sumber suara tersebut.

“Ne” sahut ibu dan kakeknya.

“Andwae.. andwae.. Mereka tak boleh tau. Aku pasti akan mati jika mereka tau. Apa lagi Jae Im noona” gumam Jung Kook dalam hatinya. Entah mungkin karena takut, tiba-tiba saja tubuhnya terasa kaku. Jantungnya mulai berdebar dan punggungnya terasa panas.

“Noooonaaa.. noooonaaaa.. apa tadinoonabilang noona mendengar suara seorang wanita?” tanya Jung Kook seraya menghampiri kakaknya.

“Ne” sahut Jae Im singkat. Jae Im tak bicara banyak karena terlalu sibuk mencari-cari sumber suara di satu ruangan ke ruangan lainnya.

Hampir semua ruangan sudah Jae Im telusuri. Kini tinggal satu ruangan yang belum Jae Im telusuri. Yaitu kamar Jung Kook yang memang menjadi tempat sumber suara yang sebenarnya.

Jung Kook sangat berharap bahwa kakaknya tidak akan menyadari ada ruangan yang belum ia telusuri. Namun hal tersebut hanya sebatas harapannya. Jae Im terlanjur menyadari hal tersebut dan hendak menuju kamar Jung Kook. Saat hendak membuka knop pintu kamar…

“Noona, apa nanti malam aku boleh makan daging panggang?” tanya Jung Kook sambil beraegyo berusaha untuk menghalangi niatan kakaknya tersebut.

“Tidak boleh!” jawab Jae Im dengan nada ketus.

“Noonaaaa..” gerutu Jung Kook sambil terus beraegyo. Meskipun ia tak dapat beraegyo sebaik Tae Hyung, ia terus berusaha untuk beraegyo sambil memasang tampang melasnya.

“Pergilah! Jangan ganggu aku! Ya, bocah tengik, apa kau tak tau aku itu masih kesal dengan kelakuan mu tadi! Ch. Aku tak menyangka, bocah tengik sepertimu punya otak mesum. Dasar memalukan!” ujar Jae Im sambil menoyor kepala Jung Kook.

 

CEKLEK

 

Knop pintu terbuka. Itu artinya, yang Jung Kook takutkan akan benar-benar terjadi. Tak ada yang Jung Kook bisa lakukan selain berharap kakaknya ataupun keluarganya tidak akan membunuhnya.

“Andwe.. matilah aku..”

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

Author’s Note: Annyeong, readers ^^. Author SunKi comeback dengan ff terbaru nih. Author ketagihan buat bikin ff lagi. Heheh😀

Di ff kedua ku ini, aku pengen nyajiin cerita yang.. sedikit berbeda. Well, Hope you enjoyed this ^^

Oh iya satu lagi, tinggalin jejaknya ya. Author bakal sangat menghargai dan berterima kasih dengan komentar dan saran dari para reader.

Ok lah kalau begitu, see you next chap, readers.Ppyong..~

 

About fanfictionside

just me

25 thoughts on “FF/ MY LOVE AND THE QUEEN/ BTS-BANGTAN

  1. wahahahhaa~ kookie gelagepan gara2 nyembunyiin cewe. adegan yang ratu min bangun harusnya bisa lebih lucu lagi soalnya beda banget sikap mereka . Lanjut yah authornim~~

  2. Hahahaha keren thor😀

    kevo nich ama next chapter ..

    Masa iyes gw ketawa2 sendiri bca nyah😮 *lucudimanah*
    lucu aja kalo dibayangin nyah kaya di drama” gituh kkk~

    fighting thor😉

  3. WHOAAAA, DAEBAK!
    Suka banget Kak SunKi ^^
    Pas bagian Jungkookie ngambil pakaian dalam itu lucu banget :DDD
    Terus pas dia lagi aegyo itu ya ampun, hahaha :))
    Ditunggu lanjutannya^^

  4. bahasanya rapi dan aku suka😀 Daebak!!!
    unik…
    kukira sarjana Choe Ik-Hyeon jahat, soalnya agak mencurigakan juga sih pas kasih mesin waktu itu #haha #random_mind
    Jungkook menurutku polos dan baik hati, bagus, tapi apa dia ngga takut Ratu Min ini orang jahat sebelumnya? ^^v
    Boleh usul? Part depan agak panjang aja, nanggu kalo segini #gemes >.<
    Lanjutkan yooo
    fighting ^-^9

  5. lucuuu, aku kesel sendiri bacanya.. gemes, kalo yang di dalem kamar jungkook ketahuan gimana..
    suka banget genre ffnya, perpaduan yang unik antara fantasy comedy sama historikal..
    oke disini romancenya blm kelihatan jelas/?
    next thor sangat ditunggu~~~~

  6. Ceritanya menarik bgt
    Bhsanya rapi dan detail… neomu choa ^^
    Tp mau ngasi sdikt masukan sih, ga apa kan?
    Org yg make pedang namanya SAMURAI sedangkan pedangnya namanya KATANA, jdi pas ratu min disekap itu yg dia temuain bukan patahan SAMURAI tapi patahan KATANA yg sudah berkarat
    Itu aja sih yg perlu aku kritik untuk keseluruhan udah bgus kok
    Keep writing^^

  7. smpah keren… awalnya agak bte jga… keena trlalu monoton… tapi pas pertnghan jinjja neomu daebakkk… bkn ngakak sma klakuan jung kook

  8. ini cerita emang beda dr ff kebanyakan. berasa kyk rootop prince tp beda versi dan imajinasi. pokoknya keren lah, humor juga dan bikin penasaran juga. krn ini cerita beda dr yg lain, jadi sangat ditunggu kelanjutannya. keep writting ^o^)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s