FF/ GAME OVER/ GOT7-MISS A/ 2 of 2 (FINAL)


Author: @ismomos

 

Cast:

– Park Jinyoung (GOT7 Jr)

– Bae Suzy ( Miss A Suzy)

– Mark Tuan (GOT7 Mark)

 

Genre: Romance, Sad, Tragedy

 

Length: Two-shoot

 

PhotoGrid_1401940318511

 

 

Youre my star, the biggest star in the world

(Youre My Star – Suzy)

 

 

Jinyoung duduk termenung di atas motornya. Setelah mengantar Suzy ke apartemen gadis itu, Jinyoung tak langsung pulang ke rumah, ia malah memberhentikan motornya di taman. Ada satu hal yang memenuhi pikirannya, tentang apa yang dilihatnya pada telinga kiri Suzy.

Sontak Jinyoung memegang sesuatu yang ada di telinga kanannya. Sesuatu yang sama dengan apa yang dilihatnya di telinga kiri gadis itu. Sebuah anting berbentuk bintang, yang sudah menempel di telinga kiri Jinyoung selama 7 tahun.

Ingatannya langsung kembali pada hari itu. Hari pertama ia bertemu dengan Suzy, 7 tahun yang lalu.

 

 

*flashback on*

 

 

     Jinyoung mengayuhkan sepeda mengelilingi komplek perumahannya. Tiba-tiba ia menghentikan kayuhannya saat dilihatnya ada seseorang yang berada di taman yang biasa menjadi tempat persinggahannya sehabis bersepeda. Karena penasaran, Jinyoung menghampiri seseorang yang ada di taman.

     “Hei.” sapa Jinyoung pada orang itu.

     Orang itu,-seorang gadis kecil yang seumuran dengannya,-menoleh ketika ada yang memanggilnya. Ketika melihat wajah orang itu, Jinyoung seketika terpaku.

     ‘Cantik.’ reflek Jinyoung membatin dalam hati.

     Gadis kecil di hadapan Jinyoung memang sangat cantik. Kulit putih dan rambut blonde sepinggangnya menambah kecantikan pada gadis itu. Jinyoung menggelengkan kepala, mengingat tujuan utamanya.

     “Kau sedang apa?”

     Gadis kecil itu tak menjawab pertanyaan Jinyoung, ia kembali sibuk dengan apa yang tengah dilakukannya. Jinyoung semakin mendekat ke arah gadis itu. Ternyata gadis itu sedang membetulkan sepedanya.

     “Rantai sepedamu putus? Mau ku bantu?” tanya Jinyoung lagi, meskipun ia tak tahu gadis itu akan menanggapi pertanyaannya atau tidak.

     Gadis itu kembali menoleh ke arah Jinyoung. Ia tak menjawab pertanyaan lelaki itu, namun matanya menatap Jinyoung dengan lamat. Tiba-tiba gadis itu berdiri menjauhi sepedanya, mempersilakan Jinyoung untuk membantunya membetulkan rantai sepedanya yang putus.

     Jinyoung turun dari sepedanya dan berjongkok di dekat sepeda gadis itu. Ia mulai membenarkan sepeda itu. Hanya membetulkan rantai yang putus adalah pekerjaan yang mudah bagi Jinyoung, karena ia sering membetulkan sepedanya sendiri.

     Gadis itu memerhatikan sepedanya yang sedang diperbaiki dari belakang, sambil sesekali melirik ke arah Jinyoung.

     “Nah! Sudah selesai.”

     Jinyoung berdiri setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berdiri di sebelah gadis itu. Jinyoung tak menyangka gadis itu terlihat semakin cantik dalam jarak sedekat ini.

     “Gomawo.” kata gadis itu.

     “Ne? Cheonmaneyo—ah siapa namamu?”

     Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, namun ia kembali memasang wajahnya seperti biasa lagi.

     “Namaku Little Bae.” jawabnya singkat.

   Jinyoung melongo mendengar jawaban gadis itu. Jawaban macam apa itu? Bukankah tadi dia menanyakan nama gadis itu?

     “Kata Appa, aku tidak boleh sembarangan memberitahu namaku kepada orang yang tidak ku kenal.” jelas gadis itu seperti bisa membaca tatapan heran Jinyoung.

     Mendengar jawaban gadis itu, Jinyoung langsung mendengus.

     “Baiklah kalau begitu, Little Bae. Perkenalkan, namaku Junior Park.”

     Jinyoung mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. Little Bae memandang uluran tangan itu dengan heran. Namun akhirnya ia membalas jabat tangan Jinyoung. Keduanya tersenyum lebar.

     “Ah ya, Little Bae. Jasa membetulkan rantai sepedamu yang putus itu tidak gratis, lho.”

     “Hm? Maksudmu?” tanya Little Bae sambil mengerutkan kening, heran.

     “Itu semua ada bayarannya. Kau harus membayar jasaku.”

     Little Bae langsung mengerti maksud Jinyoung. Lalu ia merogoh kantung yang ada di celananya. Nihil. Ia tak menemukan uang sepeser pun di kantungnya.

     “Tapi aku tidak punya uang.” kata Little Bae dengan wajah polosnya.

     Jinyoung mendecakkan lidah, padahal sebenarnya ia hanya bercanda.

     “Lalu apa yang kau punya?”

     Tiba-tiba Jinyoung melihat gadis di hadapannya tengah memegang sesuatu di telinga kanannya. Bukan memegang, lebih tepatnya melepaskan sesuatu.

     “Bagaimana kalau aku membayarnya pakai ini?”

     Little Bae memberikan sesuatu dari telinga kanannya pada Jinyoung. Lelaki itu menerimanya dengan tatapan bingung. Ia memerhatikan sesuatu yang baru saja diberikan gadis itu, yang kini ada di telapak tangannya. Sebuah anting berbentuk bintang.

   Jinyoung melihat ke arah anting itu dan pemiliknya secara bergantian.

     “Tidak apa kan jika aku membayarnya dengan itu?” tanya Little Bae menyadarkan Jinyoung dari keterpakuannya.

     “Cantik.” ucap Jinyoung tanpa sadar.

     “Eh?” sontak Little Bae terkaget mendengar ucapan Jinyoung barusan.

     Jinyoung tak menjawab pertanyaan gadis itu, ia malah memainkan anting bintang yang ada di tangannya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman lebar.

     “Kau cantik. Sama seperti bintang.”

 

*flashback off*

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     Suzy membuka pintu apartemennya ketika ada yang memencet bel. Ia langsung melihat orang yang memencet bel itu sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Suzy menatapnya dengan datar, sudah tidak kaget lagi jika orang itu ada di depan pintu apartemennya. Park Jinyoung. Semenjak Suzy berhubungan dengannya, Jinyoung selalu datang dan pergi dari apartemen gadis itu sesuka hati. Seperti saat ini.

“Annyeong chagi-ya..” sapa Jinyoung dengan senyum lebarnya.

Suzy hanya mendengus melihatnya, tahu kalau itu hanya akting Jinyoung saja. Tiba-tiba matanya melebar ketika melihat apa yang dibawa Jinyoung.

“Mau apa kau kesini? Dan itu—” tanya Suzy sambil menunjuk barang-barang yang dibawa Jinyoung. Lelaki itu tak menggubris pertanyaan Suzy, ia malah membawa barang-barang itu ke dalam apartemen Suzy.

Tak heran jika Suzy menatap heran barang-barang yang dibawa Jinyoung, karena yang dibawa lelaki itu adalah tiga buah koper besar, entah apa isinya. Gadis itu menebak koper itu berisi barang-barang Jinyoung, lelaki itu terlihat seperti ingin pindahan rumah.

“YAK! KENAPA KAU MEMBAWA BARANG-BARANG ITU KE APARTEMENKU?!” tanya Suzy kesal karna Jinyoung mengacuhkan pertanyaannya.

“Mulai hari ini aku akan tinggal disini, Bae Suzy.” jawab Jinyoung dengan santai, masih dengan tiga koper yang tengah dibawanya menuju ruang tamu.

Suzy mengerjapkan matanya berkali-kali, berharap ia salah dengar dengan apa yang dikatakan Jinyoung. Dan ketika tersadar, Suzy langsung menghampiri Jinyoung yang sudah berada di ruang tamunya.

“HUH? APA MAKSUDMU?!”

Jinyoung menjatuhkan dirinya di atas sofa lalu menghela nafas lega setelah mengangkat tiga buah koper yang berat itu.

“Mulai sekarang aku akan tinggal disini, Chagi. Aku telah diusir oleh pemilik kontrakan karna sudah menunggak uang kontrakan selama tiga bulan.” jelas Jinyoung masih dengan nada yang santai.

“M-mwo?! Yak! Kenapa kau harus pindah ke apartemenku, huh?!”

Suzy masih tidak terima dengan sikap Jinyoung yang seenaknya. Ia berdiri di sebelah sofa sambil menatap Jinyoung dengan kesal.

“Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kau, Chagi.”

Jinyoung mengucapkan kalimat itu dengan santai, bahkan ia mengucapkannya sambil memejamkan mata, mengacuhkan tampang kesal Suzy yang ditujukkan padanya.

Lelaki itu tak tahu, kalimat yang baru saja dikatakannya, membuat dada Suzy berdesir hangat tanpa sadar. Gadis itu juga merasakan pipinya bersemu. Namun Suzy langsung menggelengkan kepala, membuang perasaan aneh itu dengan cepat sebelum Jinyoung membuka mata dan melihat rona itu di pipinya.

“Aish, terserah kau sajalah. Disini hanya ada satu kamar. Jadi kalau kau ingin tinggal disini, kau tidur saja di sofa.” kata Suzy dengan nada datarnya, sambil berlalu menuju kamar.

Jinyoung membuka sebelah matanya, melirik sekilas ke arah Suzy sambil melengkungkan sudut bibirnya. Ia tersenyum penuh kemenangan, sebelum akhirnya ia kembali memejamkan matanya dan tidur di atas sofa.

 

BRUK!

 

Disaat ia sudah mulai terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba ada sesuatu yang cukup berat menimpa tubuh Jinyoung. Ia sontak membuka kedua matanya dan siap menumpahkan kekesalannya kepada orang yang sudah berani mengganggu tidurnya.

“Ya! Apa-apaan kau?!” tanya Jinyoung dengan mata kantuknya.

“Pakai itu. Aku tidak mau besok diapartemenku ditemukan sesosok mayat yang mati karna kedinginan.” kata Suzy dengan nada sinis.

Jinyoung sempat melongo, namun saat melihat apa yang baru saja dilempar ke arahnya, ia tersenyum lebar. Sebuah bantal dan selimut.

“Aigo, chagiya~ bilang saja kau memberikan ini karna kau perhatian padaku, kan?”

Jinyoung membalas tatapan sinis Suzy dengan senyum menggoda. Tak disangkanya ternyata gadis itu mempedulikan dirinya. Hal itu membuat Suzy mendengus dan menatap Jinyoung dengan tatapan “terserah-kau-saja-Park-Jinyoung”.

Suzy hendak berjalan menuju kamarnya saat tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Jinyoung. Awalnya lelaki itu hanya ingin menahan kepergian Suzy, namun karna tarikannya terlalu keras membuat badan Suzy limbung dan akhirnya menimpa tubuh lelaki itu. Kini badan Suzy berada di atas tubuh Jinyoung.

 

Glek!

 

Keduanya sama-sama menahan nafas karna jarak mereka yang sangat dekat. Suzy merasakan detak jantungnya dan detak jantung lelaki yang tengah berada di bawahnya itu berdetak bergantian.

Saat Suzy baru saja mau menjauhkan dirinya, Jinyoung malah mendekapnya ke dalam pelukan. Jantung Suzy serasa berhenti berdetak seketika. Gadis itu masih menahan nafasnya.

“Terima kasih..” bisik Jinyoung lembut, tepat di dekat telinga Suzy, membuat tubuh gadis itu merinding. Ia dapat merasakan hembusan nafas Jinyoung di sekitar lehernya.

Posisi mereka yang seperti itu bertahan dalam waktu yang cukup lama. Keduanya tak ada yang mengeluarkan suara. Hanya detak jantung mereka yang terdengar mengisi keheningan.

Jinyoung menarik nafasnya dalam, atau lebih tepatnya lelaki itu tengah menghirup aroma vanilla yang berasal dari rambut Suzy, aroma yang sebentar lagi akan menjadi candu bagi Jinyoung. Kemudian lelaki itu menghembuskan nafasnya lagi.

“Bae Suzy, bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta padamu?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung mulai membuka mata saat dirasanya ada sesuatu yang mengusik matanya. Sinar matahari pagi yang masuk melewati jendela apartemen Suzy yang dibiarkan terbuka. Jinyoung membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan sinar yang mulai masuk ke dalam penglihatannya. Ia menguap sebentar sambil meregangkan badannya yang terasa pegal akibat tidur di sofa semalaman.

Namun gerakannya terhenti saat pandangannya menangkap sesosok gadis yang ada di ruang makan. Bae Suzy. Gadis itu tengah menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, atau mungkin juga untuk Jinyoung.

Lelaki itu beranjak dari sofa dan berjalan menuju ruang makan. Jinyoung menarik salah satu bangku dan duduk berhadapan dengan Suzy. Tiba-tiba suasana canggung menyelimuti mereka. Entahlah sejak kejadian semalam mereka menjadi canggung satu sama lain.

Suzy menghabiskan sarapannya dalam diam. Wajahnya masih terlihat biasa saja, namun tidak dengan hatinya. Jinyoung pun demikian, baru kali ini ia merasa canggung berada di dekat Suzy.

“Apa semalam tidurmu nyenyak, Little Bae? Ah–atau sekarang aku harus memanggilmu Yeppeu Bae? Atau Chagi Bae?” canda Jinyoung, mencoba ingin mencairkan suasana canggung di antara mereka.

Suzy sama sekali tidak menanggapi candaan Jinyoung, ia hanya diam saja sambil menatap sekilas ke arah Jinyoung dengan datar. Ekspresi Suzy membuat Jinyoung kikuk dan mengalihkannya dengan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.

“Kau marah?”

Lagi-lagi Suzy tak menjawab pertanyaan Jinyoung, gadis itu masih,-pura pura,- sibuk dengan makanannya. Jinyoung menghela nafasnya.

“Kau–kenapa tidak bilang kalau kau adalah Little Bae, huh?” tanya Jinyoung lagi, tak menyerah untuk membuat Suzy menjawab pertanyannya.

“Haruskah?” tanya Suzy yang kini sudah tak lagi mengacuhkan pertanyaan Jinyoung.

“Kau tahu? Aku menunggumu waktu itu..”

Ucapan Jinyoung membuat Suzy menghentikan gerakan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia terpaku seketika. Memorinya tiba-tiba berputar pada kejadian waktu itu, kejadian tujuh tahun yang lalu.

“Kenapa waktu itu kau tak datang? Bukankah kau sudah berjanji untuk datang ke taman? Aku masih menunggumu, sampai akhirnya aku meyakinkan diriku sendiri kalau kau memang tak datang. Kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau—-”

“Sebaiknya kau cepat habiskan makananmu, aku tak mau jika nanti kita terlambat ke sekolah.” sela Suzy memotong ucapan Jinyoung.

Tanpa melihat ke arah Jinyoung lagi, Suzy langsung beranjak ke dapur untuk menaruh piring kotornya. Jinyoung menatap kepergian Suzy dengan tatapan sedih. Baru kali ini ia menunjukkan ekspresi seperti itu dalam hidupnya. Hanya karna gadis yang kini kembali meninggalkannya.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suzy dan Jinyoung berjalan di koridor sekolah dalam keadaan diam. Sejak keluar dari apartemen Suzy, salah satu dari mereka tidak ada yang memulai pembicaraan.

Suzy melirik ke arah Jinyoung yang berjalan di sampingnya. Lelaki itu menampakkan ekspresi datarnya seperti biasa. Tanpa sadar Suzy menghela nafas. Sebenarnya gadis itu tidak marah seperti yang diduga Jinyoung. Hanya saja ia terlalu bingung untuk memulai pembicaraan, jadi dia memilih untuk diam saja.

Jinyoung menghentikan langkahnya tepat di depan kelas Suzy, ia memutar badannya menjadi berhadapan dengan gadisnya. Ia berdeham sejenak, mencoba menutupi rasa gugupnya sebelum bicara.

“Kau masuklah, istirahat nanti aku akan ke kelasmu lagi. Annyeong..”

Jinyoung langsung berlalu begitu saja. Tidak seperti sebelumnya yang selalu mengelus rambut Suzy sebelum ia meninggalkan gadis itu. Dan hal itu pun membuat Suzy terhenyak, baru merasakan perubahan pada diri Jinyoung. Belum lagi nada suara yang dikeluarkan Jinyoung tadi begitu lembut, berbeda dengan sebelumnya.

Suzy mencoba mengenyahkan pikiran itu, seharusnya ia tidak mempedulikan perubahan pada diri lelaki itu. Suzy pun melangkah masuk ke dalam kelasnya. Namun langkahnya tertahan saat ada yang memanggil namanya.

“Suzy-ah, tentang ucapanku semalam hm—–aku harap kau memikirkannya kembali.”

Suzy menoleh ke arah sumber suara itu. Park Jinyoung. Lelaki itu masih berdiri mematung tak jauh dari kelasnya dan kini menatap Suzy dengan tatapan yang sulit diartikan gadis itu.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

I still love you, I wanted to tell you

the one who couldn’t take it anymore

and gave up in the end.

I miss you more than I hate you

(This Isn’t It – Taeyang)

 

 

Jinyoung memainkan anting yang ia lepas dari telinga kanannya, sama halnya dengan angin yang berhembus di rooftop sekolahnya yang juga tengah memainkan rambut hitam lelaki itu. Jinyoung menghela nafas, tatapannya memang mengarah ke gedung sekolah yang terlihat dari rooftop, namun tidak dengan pikirannya. Ia sengaja membolos di tengah pelajaran karna pikirannya tidak bisa fokus.

Jinyoung kembali memandangi anting bintang yang ada di tangannya. Lalu ia tersenyum kecut. Seharusnya ia membenci gadis yang memberi anting itu kepadanya. Gadis itu,-gadis yang mengingkari janjinya,- gadis yang telah meninggalkannya tanpa memberi kabar.

Jinyoung masih mengingat betapa hancur hatinya saat mengetahui gadis itu tak datang ke tempat yang telah mereka janjikan, dan ketika Jinyoung datang ke rumah gadis itu ternyata gadis itu telah pindah rumah dan Jinyoung sama sekali tidak mengetahui tentang kepindahannya. Jinyoung baru berumur 12 tahun waktu itu, namun hatinya benar-benar terasa sakit saat gadis itu meninggalkannya. Gadis yang membuat Jinyoung jatuh cinta pada pandangan pertama. Gadis yang selalu menemaninya setelah kepergian kedua orang tuanya. Gadis itu, cinta pertama Jinyoung.

Lelaki itu menghela nafasnya lagi, rasa sakit itu kembali menyeruak ke permukaan hatinya. Namun sama sekali ia tidak bisa sedikit pun membenci gadis itu. Dan seperti sudah menjadi takdirnya, kini ia kembali bertemu dengan gadis itu. Gadisnya, yang saat ini menjadi kekasihnya walaupun hanya karena sebuah taruhan. Sebuah permainan.

Rasa sakit dalam hatinya seketika digantikan dengan perasaan bersalah. Jinyoung merasa sangat bersalah karena membiarkan gadis itu jatuh ke dalam permainannya.

Dan saat tersadar dengan apa yang baru saja dipikirkannya, Jinyoung langsung meraih handphonenya. Ia tidak bisa terus seperti ini, ia harus segera mengakhiri permainan ini.

Jinyoung mengetik sebuah pesan yang akan ia kirimkan untuk seseorang.

 

 “Mark Tuan, temui aku di rooftop saat jam istirahat nanti.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Bel istirahat baru saja berbunyi, dan langsung saja para murid berhamburan kelas, ada yang menuju kantin, lapangan dan lain sebagainya. Namun tidak dengan Suzy, ia masih bertahan di tempat duduknya sambil menyalin catatan milik temannya.

“Suzy-ah, kau tidak ke kantin?” tanya Jieun bersama teman-temannya yang lain.

Suzy menggeleng, “Aku tidak lapar.”

Jawaban Suzy membuat teman-temannys mengangguk mengerti.

“Jinyoung tidak kesini? Biasanya dia sudah ada di depan kelas tepat bel istirahat berbunyi.” kata Jieun menggoda Suzy.

Suzy hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Jieun. Teman-temannya itu pun meninggalkan Suzy sendiri di kelas.

Gadis itu kembali melanjutkan menulis pada bukunya. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti, seketika ia tersadar sesuatu. Benar juga apa yang dikatakan Jieun, biasanya Jinyoung sudah berdiri di depan kelasnya, namun kenapa sekarang ia belum juga muncul? Kemana dia?

Suzy juga teringat dengan obrolannya dengan Jinyoung tadi pagi. Saat lelaki itu menanyakan kenapa ia tidak datang menemuinya waktu itu. Suzy menghela nafas mengingat kejadian itu. Tanpa sadar tangannya memegang anting yang ada di telinga kirinya.

Meskipun waktu itu Suzy telah meninggalkan Jinyoung, namun itu semua bukanlah kemauannya. Keluarganya pindah ke Jerman karena tugas ayahnya yang mendadak. Ia tidak sempat menemui Jinyoung untuk memberi tahu kepergiannya. Hal itu juga membuatnya sedih, karena ia harus kehilangan sahabat terbaiknya. Teman masa kecilnya. Cinta pertamanya.

Dan seperti sudah menjadi takdirnya, Suzy kembali bertemu dengan Jinyoung saat ia kembali ke Korea dan bersekolah di Victory High School. Sebenarnya Suzy sudah mengetahui dari awal bahwa Jinyoung adalah Junior Park, namun ia tidak tahu bagiamana caranya menyapa lelaki itu terlebih dahulu. Belum lagi perasaan bersalahnya karna telah meningggalkan Jinyoung membuat Suzy tidak berani untuk mendekatinya.

Suzy menghela nafas. Seharusnya ia merasa senang karna sekarang ia sudah kembali dekat dengan Jinyoung, bahkan lelaki itu telah menjadi kekasihnya. Meskipun hubungan mereka terikat hanya karna sebuah permainan.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

“Ada apa kau memintaku untuk menemuimu disini?”

Mark berjalan ke arah Jinyoung yang sudah menunggunya di rooftop sekolah. Jinyoung menoleh ke arah Mark, kemudian ia menatap lelaki itu dengan datar.

“Aku ingin mengembalikan ini.” kata Jinyoung sambil memberikan selembar kertas kepada Mark. Cek yang diberikan Mark waktu itu.

Mark melihatnya dengan tatapan heran, sebelah alisnya terangkat.

“Apa maksudmu?!”

Jinyoung beranjak dari duduknya, dan tanpa di duga Mark, Jinyoung melemparkan kertas itu tepat di hadapannya.

“Yak! Apa-apaan kau?!” desis Mark dengan marah melihat perlakuan Jinyoung padanya.

“Cek itu aku kembalikan. Tenang saja, aku belum memakai sepeser pun. Aku juga ingin mengakhiri taruhan ini.” jawab Jinyoung dengan gayanya yang santai. Berbeda dengan Mark, yang terlihat dari ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia sedang menahan emosi.

Jinyoung pergi begitu saja setelah ia mengembalikan cek itu pada Mark.

“Rupanya kau sudah mulai jatuh cinta pada gadis itu, huh?!” tanya Mark dengan nada dingin.

Jinyoung menghentikan langkah dan membalikkan badannya, kembali menghadap ke arah Mark. Lelaki itu membalas tatapan Mark tak kalah tajamnya.

“Kau salah. Aku sudah menyukainya jauh sebelum aku mengenalmu, Mark Tuan.”

Mendengar jawaban Jinyoung membuat Mark menaikkan sebelah sudut bibirnya. Memberikan sebuah senyuman sinis ke arah Jinyoung. Matanya masih menatap Jinyoung dengan tajam. Tangannya terkepal kuat.

“Kau lupa satu hal, Park Jinyoung. Aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ku mau. Jauhi gadis atau aku akan melakukan berbagai cara untuk menyakitinya.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suzy berjalan menuju parkiran sekolah. Selalu seperti itu saat ia pulang sekolah, menghampiri Jinyoung yang sudah menunggunya di parkiran dan pulang bersama lelaki itu. Apalagi sekarang Jinyoung tinggal di apartemennya. Namun ada satu hal yang membuat Suzy bertanya-tanya. Hari ini Jinyoung sama sekali tidak menghampirinya seperti biasa. Suzy juga tidak melihat batang hidung lelaki itu di sekolah hari ini. Lagi-lagi ia bertanya dalam hati, kemana lelaki itu?

Biasanya Jinyoung sudah duduk di atas motor balapnya ketika Suzy tiba di parkiran, namun tidak kali ini. Motor Jinyoung masih bergeming di tempat. Suzy menaikkan sebelah alisnya, lalu kepalanya menoleh ke segala arah untuk mencari keberadaan Jinyoung. Namun lelaki itu sama sekali tak terlihat di sekitar area parkiran.

“Kau sudah lama menunggu?”

Suzy tersentak saat tiba-tiba ada suara yang terdengar di dekatnya. Tanpa Suzy berbalik arah dan melihat si pemilik suara, Suzy sudah mengetahuinya. Itu suara Jinyoung. Dan benar saja, lelaki itu langsung berdiri di hadapan Suzy.

Tanpa sadar Suzy melengkungkan sudut bibirnya, tersenyum tipis. Tak bisa disangkal Suzy saat ini ia senang bisa melihat Jinyoung yang seharian ini tak dilihatnya.

“Ayo kita pulang.”

Jinyoung menarik lengan Suzy, membawa gadis itu mengikuti dirinya. Namun Suzy malah menatap lelaki itu dengan heran. Jinyoung bukan berjalan menuju motornya, melainkan ke arah pintu gerbang sekolah.

“Kita mau kemana?”

Jinyoung tak menjawab pertanyaan Suzy. Tangannya masih menggenggam tangan gadisnya itu untuk mengikutinya. Sampai akhirnya mereka berada di depan gerbang sekolah. Jinyoung menghentikan langkahnya di pinggir jalan lalu melepaskan genggamannya pada tangan Suzy. Suzy sempat melihat Jinyoung menghela nafas.

Tiba-tiba Jinyoung melambaikan tangannya. Ternyata lelaki itu tengah menyetop sebuah taksi. Taksi itu pun berhenti tepat di hadapan mereka. Jinyoung membukakan pintu untuk Suzy, menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam, namun tidak dengan dirinya. Jinyoung malah membuka pintu depan, hendak berbicara dengan supir taksi tersebut.

“Antarkan gadis ini ke apartemen di daerah Gangnam, dan pastikan dia selamat sampai tujuannya, Ahjussi.” kata Jinyoung dengan nada sedikit menekan. Supir taksi itu mengangguk, tanda megerti.

Setelah berbicara pada supir, Jinyoung kembali membuka pintu belakang, sekilas ia menatap Suzy yang tengah menatapnya heran.

“Maaf hari ini aku tak bisa mengantarmu pulang. Kau berhati-hatilah. Sampai bertemu dirumah. Annyeong..”

Suzy hanya mengangguk mendengar ucapan Jinyoung meskipun sebenarnya ia tak mengerti dengan apa yang terjadi dan banyak sekali pertanyaan yang ada dikepalanya. Jinyoung tersenyum tipis sebelum ia menutup pintu.

Taksi itu mulai berjalan menuju apartemen Suzy, meninggalkan Jinyoung yang masih berdiri terpaku. Jinyoung menatap kepergian taksi itu dengan tatapan menerawang. Tanpa sadar ia menghela nafasnya,-lagi-

 

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Motornya itu berjalan menyusuri jalanan Seoul pada malam hari. Entah akan kemana tujuannya saat ini, Jinyoung terus melajukan motornya tanpa arah. Pikiran Jinyoung tak terfokus pada jalanan, karena pikirannya dipenuhi oleh gadis itu. Gadisnya. Bae Suzy.

Jauhi gadis atau aku akan melakukan berbagai cara untuk menyakitinya.”

     Kata-kata Mark kembali terngiang di kepala Jinyoung, membuat lelaki itu menghela nafasnya berat.

Sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini, menjauhi Suzy seperti apa yang diinginkan Mark. Ia menjauhi Suzy bukan karena takut dengan ancaman Mark. Namun Jinyoung tahu, Mark tidak pernah bercanda dengan ucapannya. Dan seperti yang dikatakan lelaki itu, Mark bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Jinyoung juga sadar ini memang salahnya, ia telah membiarkan Suzy jatuh dalam permainannya. Dan mungkin hanya dengan menjauhi gadis itu ia bisa menebus semua kesalahannya. Ia lebih baik menjauhi Suzy daripada ia melihat gadis itu harus menderita nantinya.

Alasannya sangat sederhana, tentu saja karna Jinyoung mecintai Suzy. Sangat amat mencintai cinta pertamanya itu.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suzy melirik jam yang ada di ruang tamunya. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, namun lelaki itu belum juga kembali. Jujur saja Suzy sangat mengkhawatirkannya, belum lagi perubahan sikap Jinyoung yang tiba-tiba membuat Suzy semakin mencemaskan lelaki itu.

Suzy melirik ke arah sofa yang tengah didudukinya. Disudut sofa ada sebuah bantal dan selimut. Ingatannya berputar pada kejadian semalam, saat tubuhnya tepat berada di atas tubuh Jinyoung. Suzy kembali merasakan dadanya berdesir hangat. Belum lagi kata-kata yang diucapkan lelaki itu, membuat pipinya bersemu merah.

Jinyoung bertanya bagaimana bila lelaki itu benar-benar mencintainya? Mengingat kata-kata itu membuat Suzy mendengus, namun kali ini dengan senyuman yang terukir dibibirnya. Entah mengapa ia begitu merindukan sosok lelaki itu dengan tatapan dan senyuman yang membuat Suzy kesal namun mampu membuat jantungnya berdegup kencang.

Tiba-tiba Suzy menguap, menandakan kalau ia sudah mengantuk. Ia ingin tidur dikamarnya, namun ia masih ingin menunggu kepulangan Jinyoung. Setelah hampir satu jam menahan kantuknya, akhirnya Suzy malah tertidur dinruang tamunya.

Even I feel sorry for myself,

I want to bury this finished love,

(This Isnt It – Taeyang)

 

Selang beberapa jam, ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen Suzy. Orang itu bisa masuk ke dalam apartemen Suzy karna gadis itu telah memberi tahu password apartemennya. Orang itu, Park Jinyoung, yang baru kembali saat waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Ia sengaja untuk pulang jam segitu agar Suzy tidak mengetahui kepulangannya.

Tanpa diduga Jinyoung, lelaki itu malah melihat Suzy tertidur di sofa ruang tamu. Hal itu membuat Jinyoung tertegun. Benar-benar tak disangkanya, ternyata Suzy menunggu kepulangannya. Jinyoung berjalan mendekat ke arah Suzy, lalu duduk disebelah gadis itu.

Jinyoung menatap wajah terlelap Suzy dari jarak yang dekat, hatinya seketika terenyuh. Baru kali ini ia melihat gadis itu tertidur dengan wajahnya yang damai. Andai saja ia tidak bisa menahan perasaannya, sudah dikecupnya kening atau bahkan bibir gadisnya itu. Jinyoung menggelengkan kepala, membuang jauh-jauh keinginannya itu.

Jinyoung membenarkan posisi tidur Suzy di sofa, karena tadi gadis itu tertidur dalam posisi duduk. Kemudian ia meraih bantal dan selimut dan langsung saja ia menyelimuti badan Suzy. Jinyoung kembali menatap wajah Suzy. Tanpa sadar air matanya sudah menggenang. Sesedih inikah rasanya pergi meninggalkan orang yang dicintai?

Jinyoung mengelus pipi Suzy dengan sangat pelan, takut membangunkan gadis itu. Langsung saja ia beranjak dan mengambil koper-kopernya yang ada di pojok ruang tamu. Sebelum ia keluar dari apartemen Suzy, ia sempat menatap ke arah gadis itu untuk yang kesekian kalinya. Jinyoung menghela nafas, menahan isak dan airmatanya yang akan keluar.

“Selamat tinggal, Bae Suzy…”

 

 

*     *     *     *     *     *   *     *

 

 

Suzy membuka kelopak matanya perlahan, ia melenguh karna dirasanya badannya begitu pegal. Namun saat kesadarannya belum penuh, ia sudah tersentak kaget. Posisi tidurnya yang berubah dan selimut yang menyelimuti tubuhnya membuat gadis itu tersadar seketika. Seingatnya sebelum ia ketiduran di sofa, ia tidak memakai selimut itu dan posisi tidurnya tidak sedang berbaring di sofa. Atau jangan-jangan…….

Suzy sontak melihat ke arah pojok ruang tamu. Benar saja dugaannya, koper-koper itu sudah tidak ada disana. Tidak salah lagi, pasti semalam Jinyoung kesini dan membawa semua koper-koper itu.

Dan satu hal lagi, pasti Jinyoung juga yang membuat posisi tidurnya menjadi terbaring di sofa dan menyelimuti badannya dengan selimut yang kini masih berada dalam dekapannya. Tanpa pikir panjang lagi Suzy langsung menuju kamarnya dan bersiap diri untuk segera berangkat ke sekolah. Ia harus segera menemui lelaki itu.

Suzy keluar dari apartemennya, tidak peduli dengan blazer seragamnya yang belum terkancing dan rambutnya yang belum disisir rapi, ia biarkan tergerai. Fokusnya hanya satu. Cepat sampai sekolah dan langsung mencari keberadaan Jinyoung.

Suzy hendak menaiki motor balapnya yang terparkir di basement saat dirasanya saku roknya bergetar. Ada sebuah pesan masuk.

 

From: Junior

 

Maaf aku harus meninggalkanmu. Jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, Bae Suzy.

 

 

Suzy membaca kata demi kata pesan yang dikirimkan Jinyoung dan saat membaca kalimat terakhir Suzy sontak menghela nafasnya. Tak ada waktu lagi, ia harus segera berangkat k sekolah. Suzy langsung menaiki motornya dan melajukan motor itu dengan kecepatan di atas batas maksimal.

 

 

*     *     *     *     *     *    *     *

 

 

Suzy memarkirkan motornya disembarang tempat dinparkiran sekolahnya. Ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kelas Jinyoung. Perasaan tidak enak langsung menyelimutinya setelah membaca pesan dari lelaki itu tadi pagi. Melihat Suzy yang terburu-buru membuat beberapa teman yang berpapasan dengannya tidak jadi menyapa gadis itu, mereka malah menatap Suzy dengan tatapan heran.

BRAAK!

Suzy membuka pintu kelas Jinyoung dengan keras. Para murid yang sudah datang dan berada di dalam kelas itu langsung menoleh ke arah pintu dan terlihat Suzy yang tengah berdiri di depan pintu dengan nafas tersengal.

“Hosh hosh—Jinyoung-ah—hosh hosh—eodiga?” tanya Suzy dengan susah payah. Saking terburu-burunya tadi, ia nyaris kehabisan nafas.

“Jinyoung belum datang. Yak, Bae Suzy, bukannya biasanya dia berangkat sekolah bersamamu?” jawab Jackson,-teman sekelas Jinyoung-.

Jawaban Jackson membuat Suzy menghela nafas kecewa. Rasanya ia ingin menjatuhkan tubuhnya saat ini juga karena lututnya terasa lemas dan nafasnya yang masih ngos-ngosan. Tanpa menjawab Jackson yang bertanya balik padanya, Suzy meninggalkan kelas itu dengan langkah payah.

“Kau mencari Park Jinyoung?”

Sebuah suara membuat Suzy menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara. Sontak ia mendecakkan lidah ketika melihat orang yang baru saja berbicara padaya. Orang itu adalah orang yang paling tidak ingin dilihatnya saat ini. Mark Tuan.

Mark berdiri dengan tegapnya di hadapan Suzy yang sudah menghadap ke arahnya. Ia tahu gadis itu menatapnya dengan benci, namun Mark membalasnya dengan sebuah senyuman yang tak sembaranhan ia tunjukkan kepada orang lain.

Suzy masih menatap Mark dengan benci. Mungkin jika gadis lain yang diberikan senyuman seperti itu oleh seorang Mark Tuan, mereka akan langsung jatuh dalam pesona lelaki itu. Namun tidak dengan Suzy, ia sudah mengetahui orang seperti apa Mark Tuan itu.

“Kau masih saja mencarinya setelah semua yang ia lakukan padamu?” tanya Mark yang belum menghilangkan senyuman maut pada bibirnya.

Suzy diam saja, sama sekali tak berminat menjawab pertanyaan Mark. Pandangannya sudah mengarah ke arah lain, terlalu malas hanya untuk sekedar menatap wajah lelaki tampan itu.

“Dia sudah menjadikanmu sebagai taruhan dan kau masih mencarinya? Ck.”

Mark mendecakkan lidahnys sambil tertawa remeh, matanya menatap Suzy lekat. Mencoba membaca ekspresi Suzy saat ia mengatakan hal yang bisa membuat gadis itu terkejut. Namun harapan Mark sepertinya sia-sia. Ia memang sempat melihat Suzy membulatkan matanya, tapi gadis itu langsung mengubahnya dan kembali menatap Mark dengan tajam.

“Aku tahu. Aku sudah tahu kalau kau dan Jinyoung menjadikanku sebagai barang taruhan. Aku tidak terkejut lagi dengan hal itu.” kata Suzy dengan nada dingin.

Kali ini giliran Mark yang membulatkan matanya, tidak menyangka kalau gadis yang ada di hadapannya ini sudah mengetahui tentang taruhannya dengan Jinyoung.

“Aaah~ kau sudah mengetahuinya? Lalu kenapa kau masih mencarinya, heum? Bukankah itu menunjukkan kalau Jinyoung sama saja denganku? Sama-sama menyukai sebuah permainan dan kau menjadi salah satu mainannya.”

Mark sudah merubah ekspresi terkejutnya dengan ekspresinya semula, menatap Suzy dengan lekat dan sudut bibirnya yang melengkung sehingga membentuk sebuah senyuman khasnya.

“Setidaknya Jinyoung jauh lebih baik darimu.” tandas Suzy dengan tajam membuat Mark memicingkan matanya, ia tak lagi menatap gadis itu dengan lekat. Kini Mark menatap Suzy dengan tajam dan dingin.

“Hah, Jinyoung lebih baik dariku? Dalam hal apa? Aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ku mau. Aku mempunyai segalanya. Sedangkan Jinyoung, dia tidak—”

“Kau tidak punya hati, Mark Tuan! Kau memang punya segalanya tapi kau tidak punya hati!” Suzy menyela ucapan Mark karena dia sudah muak dengan apa yang dikatakan lelaki itu.

Kalimat Suzy membuat Mark terdiam, bukan karna ia kehilangan kata-katanya. Hanya saja lelaki itu sedang sekuat tenaga menahan emosi. Gadis ini,-gadis yang sudah berani menolak cintanya,- kini berani bilang bahwa ia tak punya hati. Gadis ini telah menginjak harga dirinya, sedangkan harga diri bagi seorang Mark Tuan adalah hal yang mutlak. Ia tidak akan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya.

“Jinyoung memang tidak mempunyai apa-apa, tapi suatu saat aku yakin ia pasti akan membutuhkanku. Tidak seperti kau, bukankah dengan segala yang kau miliki kau tidak membutuhkan yang namanya cinta? Karna itulah kau tidak mempunyai hati.”

Lagi, Suzy mengatakan hal yang membuat emosi Mark memuncak. Namun gadis itu sudah tidak memedulikan Mark. Suzy kembali melangkahkan kakinya menuju kelas dan meninggalkan Mark sendiri.

Tanpa diketahui gadis itu, Mark tengah menatap punggung Suzy yang menjauh dengan tatapan yang sulit di artikan. Tangan lelaki itu terkepal kuat, belum pernah Mark segeram ini sebelumnya.

“Cih. Lihat saja nanti, kau akan menyesal Bae Suzy!”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suzy mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dan tangannya yang satu lagi sibuk memijit keningnya. Kepalanya terasa pusing sekali. Ia tidak fokus menerima pelajaran karna lelaki itu berhasil menyita hampir seluruh pikirannya. Teman-temannya yang lain sibuk menghabiskan waktu istirahatnya di kantin, sedangkan ia malah sibuk berpikir sendiri di dalam kelas.

Hari ini Jinyoung benar-benar tidak masuk sekolah dan tidak ada satupun teman sekelasnya yang mengetahui alasannya. Gadis itu menghela nafasnya dengan gusar. Ia tengah berusaha mengingat-ingat tempat yang mungkin dikunjungi Jinyoung.

Tiba-tiba saja Suzy menjentikkan jarinya dan langsung merutuki kebodohannya sendiri. Di zaman teknologi yang canggih seperti ini bukankah sangat mudah untuk mencari keberadaan seseorang? Suzy langsung mengeluarkan handphone dari saku roknya sambil berharap Jinyoung tidak terlalu pintar untuk menonaktifkan GPS pada handphonenya.

Bingo! Suzy dapat melacak keberadaan Jinyoung. Gadis itu sempat terpaku saat mengetahui daerah tempat Jinyoung berada. Namun ia langsung tersadar dari keterpakuannya dan sontak berlari keluar kelasnya.

“Yak Bae Suzy, kau mau kemana?” tanya Jieun saat mereka berpapasan di depan kelas. Jieun menatap Suzy dengan heran karena melihat gadis itu terburu-buru.

“Aku harus pergi sekarang, Jieun-ah. Aku sudah menemukan keberadaan Jinyoung. Kalau nanti songsaemnim menanyakan tentangku bilang saja aku ijin pulang karna sakit. Ara? Annyeong, Lee Jieun.”

“Ta–tapi, Yak! Bae Suzy—-aish.”

Jieun tak jadi melanjutkan kata-katanya karna Suzy sudah melesat jauh meninggalkannya. Saking cepatnya Suzy berlari, gadis itu tidak menyadari bahwa tadi ia melewati Mark yang baru saja keluar dari kelas. Mark menaikkan sebelah alisnya melihat Suzy terburu-buru seperti itu. Ia menoleh ke arah kelas Suzy, dilihatnya Jieun masih ada di depan pintu. Gadis itu pasti habis berbicara dengan Suzy. Mark memutuskan untuk menghampiri Jieun.

“Dia mau kemana?” tanya Mark sambil menunjuk ke arah Suzy yang sudah berlari menjauh.

Jieun mengedikkan bahu, “Nado molla. Tapi katanya ia sudah menemukan keberadaan Jinyoung.”

Mark membulatkan matanya ketika mendengar jawaban Jieun. Ia melirik sekilas ke arah Suzy yang sudah sampai diparkiran dan menaiki motornya.

“Aku heran, sebegitu cintanya kah Suzy dengan Jinyoung? Sampai-sampai ia——”

“Terima kasih atas informasinya, Lee Jieun. Annyeong.”

Tiba-tiba Mark menyela ucapan Jieun dan langsung mengambil langkah lebar-lebar untuk segera menuju parkiran, menyusul kepergian Suzy. Jieun mengerjapkan matanya berkali-kali saat menyadari Mark sudah pergi dari hadapannya, padahal ia belum selesai bicara.

“YAK! KENAPA SEMUA ORANG SEENAKNYA SAJA MENINGGALKANKU, HUH?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *   *

 

 

Jinyoung menengadahkan kepalanya ke arah langit. Meskipun langit tak lagi memantulkan cahaya matahari karna hari sudah semakin petang. Matanya terpejam namun lagi-lagi bayangan gadis itu terlintas dalam pikirannya. Belum sehari ia menjauhi gadis itu, namun rasanya ia sudah rindu sekali. Jinyoung tersenyum membayangkan wajah gadis itu, mengingat bagaimana ekspresi kesal gadis itu, mencoba mengingat bagaimana suara gadis itu.

“Tak ku sangka kau pergi ke tempat pertama kali kita bertemu.”

Ya. Seperti itu suara Suzy yang terngiang dalam pikirannya. Namun ketika Jinyoung merasakan suara itu begitu nyata, ia membuka matanya dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Tatapannya seketika terpaku. Tidak. Tidak. Ini pasti karna ia terlalu merindukan gadis itu sampai-sampai ia mengkhayal gadis itu ada di hadapannya kini.

“Ck, kau pasti mengira kalau kau hanya berkhayal. Sadarlah Jinyoung, kau masih berada di dunia nyatamu.”

Gadis itu berjalan semakin mendekat ke arahnya, semakin membuatnya yakin kalau ia memang sedang tidak berkhayal.

“K-kau kenapa bisa tahu kalau aku ada disini?” tanya Jinyoung yang masih tidak percaya dengan kebaradaan Suzy di hadapannya saat ini. Gadis itu mendengus mendengar pertanyaan Jinyoung. Namun kemudian ia tertawa meledek Jinyoung.

“Bodoh. Kusarankan sebelum ingin pergi jauh dan tanpa kabar, sebaiknya kau nonaktifkan dulu GPSmu itu..”

“M-mwo??”

“Kau hampir saja membuatku gila, Park Jinyoung.”

Suzy tertawa melihat ekspresi bodoh Jinyoung. Lelaki itu hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, baru menyadari kebodohannya.

Tak lama Suzy menghela nafas, tawanya sudah terhenti. Wajahnya kembali memasang tatapan datar lalu ia duduk di sebelah Jinyoung.

“Aku rindu tempat ini. Aku juga rindu kenangan yang pernah kulalui disini.” kata Suzy sambil menghirup udara yang begitu sejuk disekeliling taman.

Ya disinilah mereka. Di sebuah taman tempat mereka pertama kali bertemu. Taman ini tak banyak berubah. Pohon besar yang memberikan kesejukan di taman ini pun masih tumbuh dengan kokohnya. Dan bangku dibawah pohon itu,-bangku yang menjadi tempat duduk Jinyoung dan Suzy saat ini,- juga masih ada.

Jinyoung kembali menengadahkan kepalanya menatap langit. Matanya juga kembali ia pejamkan. Ia membenarkan kata-kata Suzy. Ia juga merindukan tempat ini. Ia juga merindukan kenangan yang pernah dilalui di taman ini, meskipun taman ini juga memberikan kenangan buruk untuknya. Ia juga—–

“Aku rindu seseorang yang dulu sering menghabiskan waktunya denganku di taman ini.”

Kalimat Suzy membuat Jinyoung membuka mata dan menoleh ke arah gadis itu. Jinyoung tahu, Suzy sedang berbicara tentang dirinya.

“Aku juga merindukan seseorang yang sudah meninggalkanku di taman ini.” kata Jinyoung sambil menatap Suzy dengan lekat.

Suzy tertegun mendengar ucapan Jinyoung. Keduanya sama-sama terdiam, masih saling menatap dalam waktu yang cukup lama.

“Maaf.” kata mereka hampir berbarengan. Lalu keduanya langsung tertawa canggung.

Jinyoung berdeham sebelum ia mulai bicara.

“Maaf aku telah mengecewakanmu. Mungkin kau belum mengetahui tentang ini. Sebenarnya—-aku dan Mark telah menjadikanmu——”

“Aku tahu. sela Suzy memotong ucapan Jinyoung.

“Ne?”

“Ya, aku tahu. Kau dan Mark sudah menjadikanku sebagai taruhan kalian, kan? Aku sudah mengetahuinya.”

Jinyoung langsung menatap Suzy penuh dengan rasa bersalah, “Maafkan aku.”

Suzy tersenyum tipis, “Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak lama. Aku tahu, orang seperti Mark tidak akan membiarkanku yang sudah menolaknya begitu saja. Aku juga tahu taruhan kita dulu itu hanya akal-akalanmu saja agar aku bisa menjadi milikmu, kan? Tapi sebenarnya——”

Suzy sengaja menggantung kalimatnya, ingin melihat respon dari Jinyoung. Lelaki itu masih menatapnya dengan lekat, menunggu ia melanjutkan ucapannya.

“Mungkin ini terdengar bodoh. Tapi kau tahu? Sebenarnya aku melakukan itu dengan sengaja..”

“Maksudmu?” tanya Jinyoung sambil menaikkan sebelah alisnya, heran.

“Aku sengaja mengalah denganmu agar kau memenangkan balapan itu dan aku menjadi milikmu. Aku juga dengan sengaja menjatuhkan diriku sendiri ke dalam permainan kalian. Aku sengaja melakukannya selama hal itu bisa membuatku kembali dekat denganmu, Junior Park.”

Butuh beberapa menit untuk Jinyoung mencerna apa maksud ucapan Suzy. Dan ketika ia tersadar, langsung saja ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“Yak….Kau Bae Suzy—-”

Jinyoung tak lagi melanjutkan kata-katanya. Kini lelaki itu tengah menciumi puncak kepala Suzy dan menghirup aroma vanilla dari rambut gadis itu. Aroma yang dirindukannya. Jinyoung sampai tak bisa menahan air matanya. Lelaki itu menangis, membiarkan dirinya untuk meluapkan rasa rindunya pada gadis yang tengah didekapnya.

Suzy juga tak sanggup menahan air matanya, ia menangis di dada Jinyoung. Sungguh, ia tak ingin lelaki ini menjauhinya apalagi sampai meninggalkannya.

“Maaf aku telah meninggalkanmu waktu itu, Jinyoung-ah. Jangan pergi lagi, kumohon. Aku—aku mencintaimu.”

Pengakuan Suzy membuat Jinyoung medekapnya semakin erat. Tanpa perlu Jinyoung menjawabnya pun Suzy sudah tahu bagaimana perasaan lelaki itu padanya. Kini Suzy membalas pelukan Jinyoung dan memeluk pinggang lelaki itu sama eratnya.

Namun mereka tidak sadar, ada sepasang mata yang mengintai mereka dari jarak yang cukup jauh. Mark Tuan. Lelaki yang tengah duduk dibelakang kemudi mobilnya, menatap mereka dengan sangat tajam sambil mencengkram setir mobilnya dengan geram.

“Kalian tak akan ku biarkan!”

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Tidak ada malam yang lebih indah dibanding malam ini, setidaknya bagi sepasang kekasih yang tengah menikmati indahnya kota Seoul dengan berkendara motor. Jinyoung mengendarai motornya dengan kecepatan rata-rata, dengan Suzy yang berada diboncengannya. Lelaki itu melengkungkan senyumnya, entahlah ia merasa sangat bahagia. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia selain Suzy. Gadis itu adalah sumber kebahagiaannya.

Hal itu juga dirasakan oleh Suzy, ia tak pernah sebahagia ini sebelumnya. Hanya karna Jinyoung. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia selain Jinyoung. Suzy melengkungkan senyumannya meskipun lelaki itu tak dapat melihatnya.

Jinyoung melirik ke arah kaca spion hanya untuk sekedar melihat ke arah Suzy. Senyumnya semakin lebar saat dilihatnya Suzy dengan rambut panjang gadis itu yang tertiup angin malam. Namun tiba-tiba senyum Jinyoung menghilang seketika saat ia melihat ada sebuah mobil tepat berada di belakangnya. Sebuah mobil dengan olat nomor yang ia kenali. Mobil sport hitam milik Mark. Langsung saja Jinyoung menambah kecepatan pada motornya.

“Bae Suzy, eratkan peganganmu!” teriak Jinyoung pada Suzy seraya dengan tangannya yang menggas motornya semakin kencang.

Suzy yang tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan reflek mengikuti perkataan Jinyoung. Ia semakin mempererat pegangannya pada Jinyoung, bahkan gadis itu sampai memeluk pinggang Jinyoung.

Jinyoung menggas motornya dengan kecepatan penuh. Untung saja jalanan tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa mobil yang melintas sehingga memudahkan Jinyoung untuk melajukan motornya menjauhi mobil sport milik Mark.

Ia memang belum tahu apa yang akan dilakukan Mark, namun hatinya langsung merasakan perasaan tak enak. Sudah pasti Mark akan melakukan hal yang buruk padanya, dan juga pada Suzy.

Mobil Mark masih terus mengikuti motor Jinyoung. Mark juga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak memedulikan dengan klakson mobil yang lain saat mobilnya menyalip mobil-mobil itu. Tujuannya hanya satu, mengejar motor Jinyoung.

Mark sampai menggertakan gigi, ia terus menaikkan kecepatan pada mobilnya. Tangannya semakin mencengkram kuat pada setir mobil.

“Its game over, and your life will be over too.” desis Mark sambil menunjukkan smirknya.

Suzy masih mengeratkan pegangannya pada pinggang Jinyoung Meskipun sekarang ia diselimuti oleh ketakutan karna Jinyoung semakin mempercepat laju motornya, ia menyempatkan diri menoleh ke arah belakang. Seketika ia menahan nafas, baru menyadari bahaya yang mengancam mereka berdua. Mobil Mark hanya berada beberapa meter di belakang motor Jinyoung. Suzy melihat mobil Mark melaju dengan kecepatan penuh.

Gadis itu semakin mempererat cengkramannya pada Jinyoung. Matanya sampai terpejam, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya bisa berharap Jinyoung dapat melajukan motornya dengan baik dan semoga lelaki itu tidak lengah saat——

BLAAAAAM!!!!!

Gelap. Hanya itu yang dapat dirasakan Suzy saat sebelumnya ia merasakan sesuatu yang sangat keras menghantam tubuh dan kepalanya.

Suara benturan itu berasal dari mobil Mark yang baru saja menabrak motor Jinyoung. Ya, Mark berhasil menabrak motor itu, dan langsung membuat Jinyoung dan Suzy terpental dari motor dan membentur trotoar di pinggir jalan yang sangat sepi.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suara sirine terus berbunyi mengiringi ambulance yang baru saja memasuki sebuah rumah sakit. Para petugas medis dengan sigap membawa sepasang korban kecelakaan pada peristiwa tabrakan yang terjadi beberapa saat yang lalu. Ya, korban kecelakaan itu adalah Jinyoung dan Suzy. Keduanya dalam keadaan yang sangat parah. Banyak darah yang keluar terutama dari bagian kepala. Satu kesalahan mereka adalah keduanya tak memakai helm saat berkendara motor. Hal itu menyebabkan mereka terluka sangat parah di bagian kepala.

Para petugas medis langsung membawa Jinyoung dan Suzy ke ruang operasi untuk mendapatkan penanganan intensif. Dan para petugas medis itu segera memasangkan beberapa alat bantu agar keduanya dapat bertahan hidup.

Bunyi detak jantung mereka terdengar melalui alat pembaca detak jantung yang masih memunculkan garis bergelombang, menandakan jantung keduanya masih berdetak.

Beep beep—–beep beep—–beep beep——-beep beep—–

Para tenaga medis masih terus memberikan pengobatan pada luka yang ada di kepala dan tubuh Jinyoung dan Suzy, sambil sesekali salah satu dari mereka melirik ke arah alat pembaca detak jantung.

Beep beep—–beep beep—–beep bee———beeeeeeep

Tiba-tiba alat pembaca jantung dari keduanya memekikkan bunyi yang sangat nyaring. Semua petugas medis yang tengah menangani mereka sontak menoleh ke arah sumber suara. Para petugas medis itu langsung menghela nafas berat saat melihat sebuah garis lurus yang terpampang pada layar alat pembaca detak jantung.

Nyawa Jinyoung dan Suzy tak terselamatkan.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

“Selamat pagi pemirsa, kembali lagi dalam breaking news. Pelaku peristiwa tabrakan yang terjadi malam tadi akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian. Pelaku berinisial MT akhirnya menyerahkan diri setelah menewaskan dua orang dalam peristiwa tabrakan tersebut. MT terancam hukuman penjara seumur hidup karna telah menghilangkan nyawa orang lain. Demikian breaking news kali ini.”

 

 

FIN

 

 

 

 

Finally end~~~ terima kasih buat readers yang udah baca dan setia nungguin lanjutan ff ini. Terima kasih juga buat yang udah comment + vote. Kometar kalian sangat berarti banget buat author. Sampai jumpa di ff author yang lain. Sekali lagi author mengucapkan terima kasih untuk para reader tercinta. Annyeong~

About fanfictionside

just me

14 thoughts on “FF/ GAME OVER/ GOT7-MISS A/ 2 of 2 (FINAL)

  1. Maaarrkkk~ kenapa kamu jadi jahat begitu ._. mana namanya jadi ‘MT’ lagi… pengen nangis sumpah. Keren thor, tapi Mark yang biasanya dingin dan baik kenapa jadi kayak gini. gak bisa keluar penjara apa??!! pokoknya aku suka ff ini🙂

  2. wktu awal aku ketawa2 bacanya… lama pengen nangis baca endingnya :’3
    ffnya keren… hehehe knp nggk couplenya jinmark :v #mulai gila karna ff ini ahahaha
    eh y jr. itu biasku thor.. sukses bikin ff ya authorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s