FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 1


Title: Un.Titled

Author: Choco96

Genre: Romance, Sad, Friendship, School-Life, Family

Length: Chapters

Rating: PG-17

Main Cast: Merry (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Min Yoongi (BTS)

Support Cast: Kim Namjoon (BTS)

Disclaimer:  100% hasil dan punya saya. Chara idol milik Tuhan, keluarganya, Bighit Entertainment! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

Summary:

Aku begitu nyaman denganmu. Apa kau sama denganku?-Jungkook

WARNING! There’re typo in this story~

 

 

Un.titled. (Part 1)

PROLOG

Kalau gadis ini dinilai sebagai gadis yang tolol akan arti cinta, bisa dikatakan seperti itu. Ia tak begitu mempedulikan opini setiap orang tentangnya. Memang benar, ia begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Dan sering kali tak menghiraukan yang berada di sekitarnya.

Menurut dia hidup itu seperti jarum jam yang selalu berputar untuk mengubah waktu dari siang ke malam dan malam ke siang. Sepertinya membosankan bukan? Itulah konsep hidupnya. Seperti tak punya semangat hidup. Memang.

“Ry, sejak dulu aku sudah menyukaimu. Jadilah pacarku?” pinta seorang laki-laki berperawakan tinggi dan tegap.

“Maaf, Namjoon-ya.” Keluar dan tak mengacuhkan lelaki tersebut.

Menurutmu menjalin hubungan itu mudah? Seperti membeli barang bekas? Gerutuku dalam hati. Persetan dengan hubungan. Aku berani bertaruh jika pasangan zaman sekarang banyak yang berkhianat dengan pasangannya sendiri. Batinnya yang sangat benci dengan kata itu.

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

“Apa! Aku menikah?” Tanyaku sedikit berteriak kepada ibuku.

“Iya, Ry. Ibu sudah menjodohkanmu dengan anak teman Ibu.”

Seketika aku menoleh pada ibu, “Mengapa ibu tidak bilang denganku dulu? Dan Sekarang aku baru saja menjadi murid tingkat satu SMA, Bu.” Urat kepalaku sedikit menegang atas pernyataan ibu.

“Percayalah, Ry. Dia seorang pria yang bertanggung jawab.” Tandasnya.

“Bertanggung jawab? Itu menurut ibu, bukan aku!” Langsung enyah dari hadapan ibu.

 

Aku muak. Apa segala hal di dunia ini selalu terikat oleh sebuah kata—yang begitu kubenci dari dulu. Apa semuanya berakhir dengan memiliki hal itu? Satu kata itu yang mulanya tak begitu kuhiraukan sekarang berubah menjadi malapetaka. Ya, malapetaka di kehidupanku.

 

Musim semi?

Jika memang ini musim semi, mengapa hatiku tak bisa seperti musim saat ini?

Mengapa hatiku seperti tanah yang lama-kelamaan keras yang akan menjadi batu?

Perasaanku semakin menjadi-jadi ketika terdapat seseorang berkata ingin menjadi setengah dari nyawa kita.

Belahan jiwa? Pasangan? Itulah hubungan.

Hubungan?

Mendapati kata di sebuah novel yang kubeli di toko, hatiku langsung merutuki dengan umpatan.

Apa tak ada kata yang lebih indah dari itu?

Suatu hubungan? Persetan kau hubungan.

Tapak demi setapak, aku mendapati lampu jalan yang mulai menyala. Langit begitu jingga, apa akan menjelang malam? Apa secepat itukah aku kabur dari rumah? batinku. Kutengok arloji rolex putihku pemberian ibu, kesannya sudah tak apik lagi, namun masih elegan menurutku.

Jam enam sore? Ternyata aku sudah meninggalkan rumah dua jam. Aku terkekeh getir sembari menengok arloji sekali lagi. Apa aku harus kembali ke rumah? Apa mungkin ibu sedang mengkhawatirkanku? Entahlah.

 

Tulilut~

“Halo?” sapaku dengan datar.

“Merry, kau dimana sekarang?”

“….”

“Merry, ibu mengkhawatirkanmu. Ayo pulang, Ry.” Bingo! Benar dugaanku. Kata-kata itu selalu berhasil untuk membawaku pulang ke rumah.

Aku menghela napas panjang. Mungkin aku lebih baik pulang dan langsung tidur untuk mengusir perasaan yang selalu gusar. Mungkin nanti malam aku tak ingin mengurusi studi eksakku.

 

Tuhan, berikan aku kekuatan untuk menghadapi ujian-Mu.

Berikan kesabaran dalam merasakan kehidupan yang Kau beri ini.

Tuhan, aku memiliki satu permohonan,

Itu terserah Engkau, kau kabulkan atau tidak,

Aku hanya ingin merasakan sesuatu yang hangat.

Hangat yang dulu pernah kurasakan.

 

.Merry.

 

∞∞∞

 

Aku menatap lurus ke depan untuk mengerti apa yang dijelaskan oleh Mrs. Eunah. Bidang studi yang menurutku tak kukuatirkan. Matematika. Bukan berarti aku paling pintar di bidang ini, aku mendapatkan predikat yang Ter-pintar. Aku tak sepintar yang kalian kira. Aku hanya gadis normal, yang mungkin diberi secuil kelebihan dari Tuhan. Hanya mendapatkan sepuluh besar saja, tak lebih dari itu. Tetapi, aku sedikit mengharumkan nama sekolahanku. Aku mewakili olimpiade matematika se-propinsi. Masih dibawah standar menurutku.

“Hey, Ry. Kau bisa mengajariku tentang logika matematika?” Tanya seorang lelaki berambut hitam yang sedikit diangkat.

Aku menoleh pada jungkook,”…..”

“Aku minta tolong padamu, Merry-ah. Aku akui kau yang terbaik kalau masalah studi ini.”

Aku hanya menatapnya datar. Apa dia tak tahu berhadapan dengan siapa? Apa dia bodoh atau tak punya saraf dengan melangkahkan kakinya ke hadapanku. Teman-teman lainnya selalu ketakutan dengan tatapan datarku ini? Tak takut dengan tatapanku?

“Hey, Ry. Kau melamun?” jungkook membuyarkan opini dengan melambai-lambaikan tanganya di depan wajahku.

“Ah, mana pensilmu.” Seperti layaknya guru, aku menuliskan rumus-rumus—Ah, bukan rumus, melainkan seperti logika di kehidupan sehari-hari, ”Jadi seperti di kehidupan kita sehari-hari, jika ada sebab, pasti ada akibat. Mengerti?”

“Mengapa semudah ini ya? Padahal menurutku ini susah untuk kucerna jika dijelaskan oleh Mrs. Eunah. Kau memang pintar, Merry-ah!” Pujinya memberi ibujarinya yang berisyarat ‘Hebat kau, Ry!’.

Aku hanya menganggap itu hanyalah sesuatu yang lumrah. Mungkin aku memang mahir dipelajaran ini. Hanya mengiyakan pujiannya.

“Kau tak kembali ke tempatmu?” Tanyaku menunjuk tempat duduk di sampingku.

Namun, ada sesuatu hal yang tak begitu tak mengerti. Pandangan itu. Sepertinya aku mengenalnya, namun dimana? Sepertinya aku pernah merasakan?

Ah, entahlah. Itu tak penting untukku. Toh hidupku sudah berkonsep ‘monoton’ setiap harinya.

 

Pandangan yang begitu intens.

 

∞∞∞

 

Secangkir coklat panas. Tidak terlalu panas untuk indera pengecapku. Ya, ini sudah hal biasa untuk menyambut senja. Namun musim ini sedikit berbeda, sedikit dingin untuk badanku. Berada di balkon memandang langit berwarna jingga cerah hingga pekat. Sendiri.

Ah, anginnya terasa lebih dingin kataku dalam hati.

Aku beranjak dari kursi kayu bercat putih senada dengan warna balkon rumah. Masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu rapat-rapat. Merangkak ke atas spring bed dan mengunci tubuhku dengan selimut tebalku. Sedikit demi sedikit mataku merapat dengan sendiri.

 

Sangat nyaman. Tapi ini bukan di rumah. Ini dimana? Aku seperti di hamparan padang rumput yang luas. Di hadapanku terdapat rumah mungil yang begitu lekat denganku. Bukankah itu rumahku? Rumahku dulu sewaktu di Indonesia.

Kuedarkan pandanganku sekeliling padang rumput ini. Sama persis apa yang pernah kukenali dahulu. Sebelum aku ke kota Seoul ini. Beranjak dari posisi tidur, aku langsung meluncur ke rumah itu.

Di depan ambang pintu rumah, aku melihat-lihat rumah ini dengan seksama. Lalu, masuk ke dalamnya. Terdapat kursi goyang yang terletak di sudut ruangan, masih sama seperti dulu. Aku masuk ke dalam ruangan yang terdapat kenangan yang buruk. Mungkin lebih buruk menurutku.

“Hey, Noora, aku menceraikanmu!” suara lantang menggema di segala ruangan.

“Maksudmu apa? Aku tak mengert—“

“Jangan berlagak bodoh kau, Noora! Dengar baik-baik, sekarang aku men ce rai kan mu!”

“Ta, tapi aku masih mencintaim—“

“Mencintaiku? Apa aku tak salah dengar? Hei bodoh! Aku tak mencintaimu lagi. Aku bosan denganmu! Sekali lagi aku tak mau tahu, aku menceraikanmu sekarang. Titik!”

“Dengan cara sepihak?” ibu masih terisak.

“Kau tuli Noora? Aku jengah mengatakan ini berkali-kali. Kau bodoh. Dan kau sama seperti anakmu juga. SANGAT BODOH!” Meninggalkan istrinya dengan kasar.

Mataku membulatkan mendengar apa yang dikatakan ayah barusan.

Cerai?

Tak mencintai lagi karena bosan?

Bodoh?

Kata terakhir itu yang begitu menghantam pikiranku dan hatiku. Ayah yang selalu kubanggakan mengatakan ibu dan aku bodoh?

Air mataku sudah berhamburan kemana-mana. Aku menuju tubuh ibu dan memeluknya. Aku menangis di pundak ibu. Aku juga merasakan sesenggukan ibu yang masih kurasakan.

“Ibu, tolong jangan katakan kalau ibu masih mencintai ayah?

“Ibu masih mencintainya, Ry. Walaupun ayahmu sudah menceraikan ibu secara sepihak.” Ibu masih terisak.

Aku menangis sejadi-jadinya di dekapan ibu. Aku tahu aku rapuh. Namun yang lebih rapuh saat ini adalah kau. Ibu. Masih mencintai lelaki yang sudah bosan dengannya.

 

Mengusap wajahku dengan bentuk ‘mencuci muka’. Tapi mengapa terasa suatu yang dingin di kedua pipiku? Apa ini?

 

Aku menangis lagi?

Bodoh kau, Ry.

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

Tak seperti biasa rasa keinginanku untuk pergi ke sekolah lebih awal muncul entah dari mana. Tiga hari belakangan ini, aku lebih suka berangkat sekolah pagi buta, yang terkadang tak sarapan dulu.

“Jungkook, kau mau ke sekolah sepagi ini?” Tanya ibuku khawatir.

“Iya, Bu.”

“Kalau begitu ini bekalmu untuk sarapan nanti. Jangan kau sia-siakan bekal ini. Jika tidak—“

“Iya, Bu. Jungkook mengerti ibuku tersayang~” kukecup kening ibu.

“Hahaha, sekarang anak ibu pintar merayu ya? Ya sudah, berangkat sana.” Menepuk pundakku dan melambaikan tangannya seraya tersenyum.

 

Musim semi?

Aku baru sadar jika sekarang sudah memasuki musim yang menurutku, ehm paling indah.

Bagaimana tidak? Daun yang tak tumbuh di dahan pohon karena musim dingin, sekarang tergantikan oleh tumbuhnya pucuk daun yang masih sangat muda. Di musim ini suhu lingkungan tak begitu dingin dan tak juga panas. Begitu nyaman.

Nyaman?

Nyaman seperti apa? Musim ini apa ada hal lain yang membuatku nyaman?

 

Kau berpikiran apa, Jungkook. Ini masih pagi kau sudah memikirkan hal yang aneh menyesal dalam hati setelah memberi opini dalam pikiranku sendiri.

Lima ratus meter telah kutempuh, akhirnya sudah berada di depan gerbang sekolah. Aku lupa jika aku sudah masuk dalam sekolah ini. Tepat tujuh bulan jika dihitung dari awal aku mengikuti orientasi siswa hingga sekarang.

Membuka loker nomor delapan, loker baruku di SMA ini. Sepatu yang sedari tadi terpasang di kedua kaki ini yang berganti menjadi sandal khusus sekolah. Beranjak ke lantai dua, Kelas 1-1. Mengambil tempat duduk urutan ketiga dari depan dekat dengan jendela. Tempat ini begitu favorit, apalagi sekarang musim yang sangat disukai orang-orang. Dan aku juga.

Masih jam setengah tujuh, mengapa masih lama? Gerutuku dalam hati. Mengambil ponsel Samsung galaxy note 3 untuk mengecek sesuatu di dalamnya. Memandang dengan lamat, tanpa sadar bibirku tersungging untuk tersenyum. Ah, aku suka desah dalam hati.

Aku melirik ke arah jam dinding kelas, jam 7.45. Tanpa sengaja aku menoleh kea rah pintu kelas, terdapat siswi yang baru masuk kelas. Rambut panjang bak gelombang ombak laut yang tenang tanpa poni, wajah yang kuning langsat yang mungkin jarang ada orang yang berkulit seperti itu di Negara ini, mata yang cukup lebar, dan tingginya kira-kira 163 sentimeter.

‘Dia duduk dimana?’ tanyaku dengan penasaran dalam hati.

Gadis itu masih memandang bangku di kelas ini, sepertinya dia bingung memilih. Tak luput dia memandang bangku yang kutempati ini. Dia mengarah padaku! Bagaimana ini?

Dia semakin mengarah padaku, dengan gelagapan aku memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku. Langsung berdiri dan berkata padanya ”Apa kau ingin—?” mengambil jarak dari tempat dudukku.

Ia menatapku dan menggeleng pelan. Ia menunjuk ke arah bangku yang berada di sampingku. Gadis ini mendudukkan tubuhnya di sampingku, lalu menguncir rambut panjangnya dengan jemari kecilnya itu. Walaupun itu tak begitu rapi jika dilihat, namun kulihat ia tak begitu memperhatikan penampilannya.

‘Namun itu yang membuatku tertarik padamu’ Melirik lalu memandang ke jendela.

 

∞∞∞

 

Aku masih berkutat pada rumus yang menjengkelkan ini. Materi apa ini? Begitu rumit kupahami. Sangat frustasi jika kuteruskan memahaminya.

Apa aku bertanya pada gadis sebelahku ini? Aku sedikit ragu untuk mengawali percakapan ini. Hanya bertanya tentang materi ini, apa susahnya? Daripada kau menjadi botak seperti orang stres.

“Hey, Ry. Kau bisa mengajariku tentang logika matematika?” Tanyaku dengan senyuman.

Ia menoleh padaku, ”…..”

Dia hanya menatapku datar?

Padahal aku begitu ingin bertanya kepadanya.

“Aku minta tolong kepadamu, Merry-ah. Aku akui kau yang terbaik kalau masalah studi ini.” Kurayu semoga bisa luluh dengan perkataanku dan mengajariku.

Ia masih menatapku datar. Apa aku begitu membosankan? Padahal dia tak pernah bertegur sapa dengan orang lain, apalagi denganku. Mungkin kesan gadis ini sangat dingin di kelas ini. Seperti membatasi zonanya dengan orang lain yang tak ingin seorangpun memasuki zonanya.

Namun pandangan yang tadi ia pasang datar sekarang berubah menjadi memikirkan yang lain. Seperti layaknya orang melamun. Apa yang dia lamunkan?

“Hey, Ry. Kau melamun?” Membuyarkan lamunannya dengan melambai-lambaikan tanganku di depan wajah sederhananya.

Merry menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tangannya membentuk isyarat untuk meminta sesuatu padaku. Seperti meminta alat tulis dariku.

“Ah, mana pensilmu.” Seperti layaknya guru, ia menuliskan rumus-rumus. Namun bukan seperti layaknya rumus-rumus yang bersimbol aneh. Seperti pelajaran bahasa, ”Jadi seperti di kehidupan kita sehari-hari, jika ada sebab, pasti ada akibat. Mengerti?”

Dia mengetukkan pensil yang sedari tadi bersarang di jemarinya. Mengartikan apakah aku mengerti apa tidak. Bukan kata ‘tidak’ yang kulontarkan pada gadis yang berpredikat terpintar untuk bidang studi matematika ini.

“Mengapa semudah ini ya? Padahal menurutku ini susah untuk kucerna jika dijelaskan oleh Mrs. Eunah. Kau memang pintar, Merry-ah!” Pujiku dengan symbol mengacungkan ibujariku yang berisyarat ‘Hebat kau, Ry!’.

Tanpa menyunggingkan senyumannya padaku, hanya tampang datar yang ia berikan. Mungkin sudah hal lumrah jika teman-teman mengatakan itu padanya. Termasuk aku juga yang mengatakan hal lumrah untuk Merry kesekian kalinya.

“Kau tak kembali ke tempatmu?” Tanyanya menunjuk tempat dudukku.

“Ah, aku lupa. Terima kasih, Merry-ah.” Aku tersenyum puas dengan memperhatikannya dengan seksama. Ternyata dia perhatian denganku.

Perhatian denganku?

Terlalu percaya diri. Dia tak mungkin punya perhatian pada temannya, apalagi terhadapku.

 

Tapi, apa aku sudah merasakan zona nyaman itu?

 

∞∞∞

 

/Merry/

 

Semilir angin di tengah hari begitu tenang. Tak seperti biasanya, angin yang menyelimuti kedai kopi ini. Semingguan ini aku sering ke kedai ini. Entah apa yang selalu membawaku ke sini, aku rasa lebih nyaman ke tempat ini. Tenang, tanpa ada orang yang mengganggu pikiranku.

Aku begitu kesal dengan suasana di rumah. Tanpa lupa dengan ocehan ibu yang selalu menyangkut tentang perjodohanku dengan anak teman ibu. Apa itu? Perjodohan yang tak kutahui sebelumnya.

Apa ibu tak tahu dengan keadaanku. Aku masih seorang siswi SMA di tingkat satu. Hatiku seketika mengeras dengan memikirkan hal ini. Omong kosong gerutuku dalam hati.

“Ini pesanan nona.” Meletakkan secangkir moccacino di depanku.

“Terima kasih, Taehyung.” Melihat nametag yang terletak di dada kanannya.

Sedikit terkejut dengan apa yang kukatakan, ia mengangkat bicara, ”Kau tahu namaku, nona?” tanyanya sedikit gugup.

“Itu.” Menunjuk nametagnya.

Air mukanya berubah menjadi malu yang bisa diindentifikasi dengan semburat merah tipis di kedua pipinya. Gelagatnya sedikit salah tingkah. Sedikit lucu melihat lelaki ini, “Apa kau tak pernah dipanggil seperti itu dengan pelanggan di kedai ini?”

“Ah itu—aku hanya sekedar pelayan yang mengantar pesanan pelanggan.” Tandasnya dengan tawanya yang khas menurutku.

“Profesional maksudmu?” Tanyaku lalu menyesap moccacino.

Ia mengangguk dengan senyuman itu.

 

Senyuman ini.

Pernah kurasakan sebelumnya. Tapi ini berbeda.

Senyuman atau lelaki ini yang berbeda dengan lelaki yang lain?

Dia berbeda.

 

∞∞∞

 

Tuk!

Sesuatu yang mengenai kepalaku. Kertas yang dibentuk menyerupai bola. Siapa yang melakukan ini barusan?

Aku menyapu pandangan di sekelilingku. Nihil. Sepertinya ada yang ingin mengerjaiku. Tapi tak mungkin ada di antara temanku yang mau berhadapan denganku.

Tuk!

‘Aduh!’ sambil mengelus-elus puncak kepalaku. Siapa orang melakukan ini padaku? Mengapa mengusik acara menggambarku. Aku sangat bosan dengan pelajaran ini. Biologi. Pelajaran menghafal.

Aku mengambil ancang-ancang ke belakang. Ternyata dia yang mengusik acara kesukaanku. Jungkook.

‘Kau berisik’ ucapku tanpa bersuara dan bermuka sinis padanya.

‘Kau sedang apa?’ timpalnya.

‘Tak ada hubungannya denganmu!’ mataku melaser layaknya ingin membunuh jungkook. Aku mengabaikan kata-katanya dan menghadap ke depan.

Tuk!

“Jungkook-ah, kau menggangguku!” berteriak tanpa sadar Mr. bing memperhatikanku setelah adengan teriakku.

“Hey, tuan Jungkook dan nona Merry, jika kalian tak mengindahkan materiku bisa kalian meninggalkan kelas ini dan bersihkan lapangan indoor.”

 

∞∞∞

 

/Jungkook/

 

Merry berdiri dari tempat duduknya, lalu membungkukkan badan pada Mr. Bing, “Thanks, Mr.” berlalu keluar kelas.

‘Apa? Terima kasih?’ sedikit heran dengan kelakuan Merry. Padahal hanya ingin mengetahui apa yang ia kerjakan sewaktu Mr. Bing mengajarkan materinya. Apa salahku?

Tanpa berpikir panjang, aku langsung meninggalkan kelas untuk menjemput Merry. Dia begitu cepat atau dia seperti hantu cepat menghilang? Tanyaku heran. Pasti ada di lapangan indoor.

Merry tak melakukan apa yang disuruh Mr. Bing. Melainkan ia menyandarkan tubuhnya pada tiang ring basket. Matanya terpejam dan terpasang headset pada kedua telinganya.

Menghampiri tubuh Merry yang bersandar di tiang ring basket. Menempatkan tubuhku dengan nyaman. Tiba-tiba pikiranku sendikit rancu. Entah apa yang merasuk pada pikiranku. Sedikit demi sedikit jarak antara wajahku dengan Merry semakin menipis. Aku mengecup bibirnya sekilas. Darahku berdesir, dan jantungku berdetak tak keruan.

 

Aku begitu nyaman padamu.

Apa kau tak merasakan yang sama denganku, Merry-ah?

 

∞∞∞

 

Dilain tempat, seseorang memandang apa yang dilakukan Jungkook. Sedikit terkejut dengan kejadian tadi. Hati orang tersebut seketika kecewa.

“Dia? Bukannya dia waktu itu?”

 

XX TO BE CONTINUED XX

 

NB:

Hello, readers~ ^^ Ketemu lagi sama aku. Hihihi, gimana fanfic ini? Apa kurang panjang? Ah iya, di main castnya kan aku kasih min yoongi, tapi belum muncul juga. Dia ada kok, yg penting dia itu chapter yang keberapa gitu. Nantiin ya hehehe.

Oh ya, yang fanfic yg dulu (a letter for you) itu emang gantung sih kalo dibaca. Maunya sih dibuat sequel, tapi masih pending soalnya mau garap fanfic ini.

Hehehe~ comment ya readers. Bye~ ^^

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ UN.TITLED/ BTS-BANGTAN/ pt. 1

  1. Aduhhhh potek! Alurnya bagus,ceritanya jg. Oh ya,mending ini jadiin novel. Keren deh,hihi😉 Next ya!!!! Jangan lama” oke. Ya,minimal 1minggu 1x update wkwkwkwkwk😀 keep writing^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s