FF oneshot/ NO ROMANCE?/ BTS-BANGTAN


Title: No Romance!? (‘Romance?’ SEQUEL) || Author: sugnminej || Main Cast: Kim Taehyung, Jung Hara(You), Son Nari(OC) || Other Cast: Jung Hoseok, Park Jimin, Moon Jongup, Kim Namjoo, Yoo Gaeun, etc || Genre: Romance, School Life || Rating: PG – 13 || Length: Oneshot(±8,5K+ ws//sequel) || Disclaimer: story line 100% mine. Taehyung milik Tuhan, keluarganya, BHEnt, milik aku(?) Don’t be silent readers peuhles. Jangan plagiattt!! Bila ada kesamaan nama cast, itu hanya kebetulan sajahh. || Note: Mungkin judul sama genre dan ceritanya ga nyambung(?), abisnya jujur aku suka bingung buat bikin judul ffku-_- ya jadi aku bikin aja judulnya gitu ehehehe. Terima kasih juga untuk readers yang udah baca ff ‘Romance?’ punya aku, dan komentarnya cukup bikin hatiku senang/apaan-_- Terus yang adik-adik Taehyung di dalam cerita nanti, itu aku ambil dari fakta Taehyung yang punya dua adik, satu perempuan, satu lelaki, tapi namanya aku karang, kfix^~^

Oh ya, yang belum baca ff sebelum ini, boleh jug abaca dulu, tapi kalau ngga juga gapapa sih’-‘ Ini ya, https://fanfictionside.wordpress.com/2014/06/04/ff-oneshot-romance-bts-bangtan/

ENJOY~!^^

Cover Sequel1

***

Ini melelahkan. Hara terpilih untuk mengikuti olimpiade, setiap hari ia mengikuti kelas khusus. Setiap hari juga ia jarang bertemu Taehyung, hanya saat jam istirahat dan pulang sekolah. Saat pulang sekolah pun mereka jarang bertemu, tidak jarang Hara pulang larut hanya untuk mengikuti kelas khusus, membuat Taehyung mau tidak mau hanya berjalan pulang berdua dengan sahabat karibnya, Jimin.

“Memang dasar orang jenius,” Taehyung mulai bersuara. Wajahnya datar, sangat datar.

Jimin melirik ke arah sahabatnya. “Aku turut prihatin Taehyung-a,”

“Prihatin untuk apa? Lagipula aku tidak putus dengannya dan tidak akan pernah,”

Jimin tidak lagi menjawab ucapan Taehyung. Taehyung kembali memperhatikan jalanan dari kaca bus, gemerlap kota Seoul di malam hari yang dingin, dengan salju dimana-mana, tentu saja! Ini musim dingin. Taehyung mengusap kedua tangannya, mengurangi rasa dingin yang menusuk tubuhnya.

“Natal akan datang,”

Perkataan Jimin menyita perhatian Taehyung. Taehyung menghadap ke arah Jimin yang di sebelahnya.

“Tahun segera berganti,” sahut Taehyung.

“Aku sangat amat mengerti, Taehyung. Kau menyukai tahun baru,”

Taehyung tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya, “Kau sungguh mengenalku, Jimin-a,”

Drrtt…

Drrtt…

Handphone Taehyung bergetar dan ia segera meraih handphone-nya yang ada di dalam saku celananya.

하라

Kau sudah pulang? Aku baru saja selesai. Maafkan aku. Ini memang menyebalkan.

Taehyung tersenyum kecil membaca pesan kakao dari kekasihnya.

“Pasti Hara,” ucap Jimin.

“Eo,”

Jimin memutar bola matanya.

Jemari Taehyung dengan lincah menyentuh huruf-huruf yang ada di handphone touchscreen miliknya.

Aku di dalam bus. Seperti biasa, bersama Jimin. Kau hati-hati, di luar sangat dingin. Yoon ahjussi menjemputmu kan?

하라

Tentu saja. Tidak baik perempuan pulang sendiri malam-malam, bukan? Kau yang berkata, aku sangat mengingatnya, kkk~

                Pintar sekali kau, nona.

하라

Ingat, Taehyung, aku jenius. Dan kau bodoh.

                Terima kasih.

“Taehyung, ayo,” Jimin menepuk pundak Taehyung, Taehyung mengangguk lalu segera turun dari bus.

Tidak perlu berjalan lama dari halte bus, menuju rumah Taehyung.

“Jimin-a, kau tidak mampir ke rumahku dulu?” tanya Taehyung saat sudah sampai tepat di depan rumahnya.

“Tidak usah. Masuklah,

Arraseo,”

Jimin beranjak dan Taehyung segera memasuki rumahnya.

“Aku pulang,” teriaknya ketika memasuki rumahnya.

“Taehyung-aaaaaaaaaaaaaa!!!” sebuah teriakan menggelegar memasuki gendang telinganya. Dilihatnya sosok gadis yang sudah lama tak ia lihat, keluar dari kamar tamu dan berlari menuju arahnya. Taehyung tersenyum dan merentangkan tangannya, ia tau bahwa gadis itu akan memeluknya. Lalu dengan cepat gadis itu jatuh ke pelukan Taehyung.

“Son Nari, kau merindukanku, pasti,” ucap Taehyung.

“Sangat, Taehyung-a,” Nari−gadis itu−meraih pipi Taehyung, Taehyung hanya tersenyum. “Bagaimana kabarmu, Kim Taehyung? Berapa lama aku tidak ke sini?”

“Aku baik-baik saja, Nari-ya,” Taehyung mencubit pelan pipi sahabat dari kecilnya itu. “Biarkan aku mengganti pakaianku dulu, Son Nari,” Nari terkikik pelan lalu mengangguk. Taehyung mengusap puncak kepala Nari dan berlalu meninggalkan gadis itu, menuju ke lantai dua, kamarnya.

Son Nari, 5 Januari 1996, dibesarkan bersama Taehyung. Mereka sangat dekat dari semasa kecil, orang tua mereka juga dekat. Taehyung dan Nari selalu bersama, sampai saat kelulusan sekolah dasar, orang tua Nari memutuskan untuk menetap di Busan karena pekerjaan. Jadi kira-kira sudah 4 tahun Nari tidak bertemu Taehyung.

Taehyung baru saja keluar dari kamarnya, sudah selesai mandi dan berganti pakaian, ia segera turun ke bawah menghampiri Nari yang sedang menonton televisi.

“Bagaimana bisa kau ke sini, Son Nari?” Taehyung memperhatikan Nari, sedangkan yang ditatapnya hanya terfokus pada layar TV.

“Ah, Taehyung-a. aku akan tinggal disini untuk beberapa tahun. Eomma dan appa ada pekerjaan yang sangat lama di Amerika. Jadi… Begitulah, Taehyung-a,”

“Kau akan tinggal disini? Jinjja?” Taehyung melotot sambil setengah berteriak.

Nari menatap Taehyung dan mengangguk pelan.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Taehyung lagi.

“Bersekolah denganmu! Bahkan kita satu kelas, Taehyung-a!” ujar Nari girang.

“N-ne????”

Mwoya? Kau tidak senang kalau aku satu sekolah denganmu?”

Bukan! Bukan tidak senang! Taehyung hanya takut Hara mengira yang tidak-tidak karena Taehyung sangat dekat dengan Nari, bahkan Taehyung membayangkan bagaimana kalau dirinya dan Hara pulang dikuti dengan Nari. Masalahnya, jika sudah bertemu Taehyung, Nari akan ingin selalu bersama dengannya. Nari termasuk orang egois, tidak ada satupun orang yang mengetahui perasaannya.

“Tentu saja tidak. Kapan kau mulai masuk?”

“Besok aku sudah mulai sekolah,”

Taehyung hanya mengangguk paksa.

***

Annyeong haseyo. Namaku Son Nari, senang bertemu dengan kalian,” Nari memperkenalkan diri di depan kelas.

“Son Nari, neomu yeppeuda,”

“Ku lihat tadi dia berangkat bersama Taehyung,”

“Apa mereka satu rumah?”

“Apa mereka di jodohkan?”

“Bagaimana nasib Hara?”

Oh, ayolah! Kelas ini senang sekali bergosip.

Taehyung hanya bisa menggigit bibirnya mendengar bisikan teman-teman sekelasnya.

“Taehyung-a, nugu?” Gaeun menyentuh pundak Taehyung sembari berbisik.

Taehyung menengok ke belakang, ke arah Gaeun dan hanya menatap Gaeun cemas. Gaeun menghela nafasnya, ia meraih handphone-nya yang tergeletak di laci mejanya, dan dengan cepat mengetik beberapa kalimat, untuk dikirimkan kepada sahabatnya, Hara.

“Nari, silahkan duduk di belakang sana, bersama Ahn Dahee,” ucap Kim seonsaengnim.

Eo, seonsaengnim, tidak bisakah aku duduk bersama Taehyung?” tanya Nari.

Sekelas pun riweuh membisikan kata-kata kepada lawan bicaranya.

“Lalu aku?” Jimin bersuara.

“Kau, pindah ke belakang, Park Jimin-ssi,” jawab Nari santai.

“Mwo?”

“Park Jimin, silahkan pindah,”

“Tapi, ssaem…”

“Sekarang,”

Jimin mendesah kasar, lalu dengan berat hati menyeret tasnya , menuju ke meja belakang bersama Ahn Dahee, gadis paling pendiam di kelas, sekaligus teman sekolah menengah pertama Jimin.

Nari tersenyum dengan penuh kemenangan lalu segera mengambil posisi di sebelah Taehyung.

 

 

 

Seperti biasa, Hara terhanyut dalam dunianya, menghadapi kertas-kertas berisi angka dan simbol-simbol aneh, mencoret-coret berbagai rumus, apa lagi kalau bukan mengerjakan soal-soal fisika.

Drrtt…

Drrtt…

Handphone di dalam sakunya bergetar, ia segera meraihnya.

유가은

Hey~ Ada murid baru bernama Son Nari. Ia sepertinya sangat dekat dengan Taehyung.

Hara mengerutkan keningnya, membaca pesan dari sahabatnya tersebut.

Hara mengetik sesuatu, membalas pesan Gaeun.

Maksudmu?

유가은

Aku hanya takut, kalau mereka punya hubungan sesuatu. Dia jelas bukan adik atau saudara Taehyung! Marganya tidak sama. Son Nari sangat cantik, Hara-ya! Bagaimana kalau Taehyung tergoda dengannya? Itu bisa saja terjadi! Oh ya, gadis itu juga meminta duduk di sebelah Taehyung dan mengusir Jimin, aigoo~

                Mwo? Sampai seperti itukah?

유가은

Begitulah, Hara-ya. Sudah dulu, pelajaran sudah dimulai.

Hara menumpu tangannya di atas meja.

Aku sangat merindukan Taehyung.

Pelatihan olimpiadenya masih kurang lebih seminggu lagi. Lusa adalah hari natal.

Hara tersenyum kecil. Ia tidak mempedulikan gadis bernama Son Nari itu, selama ia belum melihatnya, ia tidak akan sakit hati, bukan? Ia pun kembali terhanyut dalam dunianya.

 

 

Jam Istirahat

“Taehyung-aaaa,” gadis itu bergelayut manja di lengan tangan Taehyung, Son Nari.

Taehyung menatap Nari risih. “Tidak disini, Nari-ya,”

Ketiga sahabat Taehyung hanya saling bertatap mata.

“Antar aku ke kantin. Ayo ke kantin bersamaku, kau tidak ingin makan, eo?” Nari memohon pada Taehyung, membuat wajah sok melas.

Taehyung mendesah pelan, lalu mengangguk. Nari tersenyum girang lalu segera menggandeng lengan Taehyung keluar kelas.

Namun belum sempat melewati pintu kelas, Hara dan Gaeun datang dengan kondisi tertawa terbahak-bahak, tawa Hara berhenti dan senyumnya memudar saat dirinya dan Gaeun berdahadapan dengan Taehyung bersama dengan gadis yang tak ia kenali, menggandeng lengan kekasihnya.

Pemandangan itu disaksikan oleh ketiga sahabat Taehyung. Mereka menatap panik kejadian itu.

“Taehyung-a, nugu?” tanya Nari sambil menunjuk ke arah Hara menggunakan dagunya. Hara hanya menatap bingung tangan gadis itu yang melingkar pada lengan Taehyung. Ia cemburu, walaupun dirinya dan Taehyung lebih banyak melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar bergandengan, tapi serius, Jung Hara sedang merasakan sesuatu yang sebut saja cemburu. Bagaimana mungkin kekasihnya membiarkan tangan gadis lain menyentuhnya? Bukan! Maksudnya menggandeng lengannya. Oh, ayolah!

“Hei, nona. Gadis ini adalah pacar Taehyung. Lepaskan tanganmu dari Taehyung,” sambar Gaeun.

Nari menatap Taehyung. Sedangkan Taehyung menatap gadisnya yang juga sedang menatap mata miliknya.

“Taehyung-a, itu benar?” tanya Nari. Taehyung melirik Nari sejenak, ia diam, tidak menjawab pertanyaan Nari.

Jawab ‘iya’, Kim Taehyung.

“Kau lihat? Taehyung tidak menjawab. Berarti? Aku boleh dengan bebas memegangnya, kan?”

Hara menunduk. Taehyung melihatnya, namun ia sungguh tidak dapat melakukan apapun.

“Permisi, kami ingin lewat,” Nari menarik lengan Taehyung keluar kelas.

Hara memasang tampang melas dan menatap sahabatnya. “Jadi itu Son Nari,” ucap Hara pelan.

“Kenapa Taehyung membiarkannya???????”

“Kenapa si bodoh itu tidak memberi tau dia kalau aku… Ah, sudahlah,”

Hara berbalik meninggalkan Gaeun. “Ya! Jung Hara!” teriak Gaeun, namun Hara tidak membalikkan badannya. Gaeun mengangkat bahunya, membiarkan sahabatnya menenangkan diri.

 

 

 

Hara memperhatikan mereka dari jauh. Wajahnya memerah menahan rasa cemburunya. Hara kembali menyesap jus mangga yang ia beli. “Sebenarnya dia itu siapanya Taehyung? Ayolah, bukannya dia hanya murid baru disini? Bantu aku berpikir, gelas,

Hara terus mengawasi Son Nari dengan Taehyung.

Taehyung terlihat tertawa lepas dengan Nari, yang semakin membuat Hara panas.

“Taehyung jarang tertawa seperti itu denganku. Kau tau kan bagaimana sifat Taehyung padaku,”

 

Dikejauhan sana, Taehyung tertawa lebar mendengar cerita pengalaman lucu sahabatnya di Busan.

“Uhuk… Uhuk… (?)” Seketika Taehyung tersedak.

“Taehyung-a, wae?” Nari menyondorkan gelas es teh miliknya. Taehyung segera meminumnya.

“Ceritamu terlalu lucu, Nari-ya,” Taehyung mengusap puncak kepala Nari.

Hara yang melihatnya dengan lebar membuka mulutnya, Taehyung memperlakukan Nari layaknya mereka berpacaran, itu yang dipikirkan Hara.

Hara mengangkat gelasnya tepat di depan wajahnya, mengajak benda mati itu berbicara.

Gelas yang cantik, apa yang harus ku lakukan sekarang? Mereka sangat romantis. Aku cemburu,”

“Taehyung jarang sekali tertawa denganku,”

“Dia dingin,”

“Romantis, kadang,”

“Taehyung bodoh,”

“Idiot,”

Hara terlalu sibuk mengajak temannya berbicara, sampai tidak sadar bahwa dua orang dihadapannya tengah memperhatikan dirinya.

“Jung Hara,” seseorang memanggilnya, suara yang sangat ia kenali. Hara mengangkat kepalanya, membelakkan matanya, benar saja itu Taehyung−dengan Nari di sampingnya. Dengan cepat Hara meletakkan gelasnya di meja, oh, saat ini si jenius terlihat sangat bodoh di hadapan orang bodoh−Taehyung(?).

Eo, Kim Taehyung, apa yang kau lakukan disini?”

“Tentu saja menghampiri kekasihku. Justru aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini? Berbicara dengan gelas, menguntitku, dasar fans,” Taehyung menjitak kepala Hara. Hara segera berdiri sambil mengelus pelan kepalanya.

Dilihatnya Nari tersenyum.

“Jadi benar kalian berpacaran. Taehyung tadi bercerita padaku,” Nari tertawa hambar.

“Orang jenius berpacaran dengan orang bodoh,” Nari tersenyum licik. Taehyung melirik Nari kemudian mengangkat bahunya.

“Namun apapun hubungan kalian, aku tetap boleh menyentuh-nyentuh Taehyung, kan, nona? Tenang saja, maksudku bukan menyentuh dalam hal yang menjurus kesana . Karena aku tinggal satu atap dengan kekasihmu, Jung Hara,”

Hara membelakkan matanya. Satu atap? Satu rumah? Matanya menatap Taehyung bertanya-tanya, Taehyung mengangguk. Hara mencibir pelan. “Arraseo, kau boleh dekat-dekat dengan Taehyung,” Hara berbalik, lalu berlari meninggalkan Nari dan Taehyung berdua.

“Taehyung-a, aku sudah dapat izin darinya,” Nari mengaitkan lengannya pada lengan Taehyung.

“Kau memang tidak berubah, Son Nari,” Taehyung kembali mengacak rambut sahabat kecilnya.

“Kekasihmu itu lucu,” ucap Nari.

“Memang,” Taehyung tersenyum.

Nari tersenyum juga. Sesuatu mengganjal di hatinya. Orang yang ia cintai ternyata sudah dimiliki orang lain. Ya, gadis itu menyadari bahwa Taehyung bukan hanya sahabat kecilnya, namun juga pengisi hatinya.

“Kajja,” Taehyung merangkul Nari, mereka pun meninggalkan kantin.

***

Natal. Pasangan mana yang tidak ingin berkencan di malam natal yang indah? Harusnya ini adalah kencan, berdua, tapi…

Hara sibuk mengutak-atik handphone-nya. Menunggu balasan pesan dari sahabatnya, Gaeun. Membiarkan dua manusia itu berjalan di depannya.

Sebenarnya siapa sih yang berpacaran?

Taehyung bodoh sekali.

Kenapa dia mengajak Son Nari ikut.

Oh, atau gadis itu yang memaksa Taehyung agar dia boleh ikut? Menghancurkan kencan yang seharusnya aku lakukan berdua saja bersama Taehyung.

Sebegitunya gadis itu rindu pada Taehyung, karena sudah kurang lebih 4 tahun tidak bertemu. Ya ya, tapi setidaknya gadis itu mengerti. Aku adalah kekasih Taehyung. Bukan dirinya.

Mana ada yeoja yang mau membiarkan namja-nya dekat dengan yeoja lain. Kalau biasa saja sih wajar, namun Son Nari berlebihan menurutku.

Apa dari kecil mereka seperti ini? Tidak terpisahkan, kemana-mana bersebelahan, bergandengan tangan.

Ya Tuhan, apa aku cemburu lagi?!

Hara terus berbisik pelan. Bisikan itu bagaikan buku diary-nya, mencurahkan semua isi hatinya.

BUGH

Taehyung berhenti berjalan, membuat Hara yang berada di belakang menabrak pelan punggung Taehyung. Lalu Taehyung berbalik badan.

Hara mengangkat kepalanya, memandang dua insan di hadapannya.

“Mwo?” tanya Hara ketus.

“Sampai kapan kau berjalan di belakangku?”

Sampai gadis itu musnah. “Kenapa? Kalian saja di depan, aku mengikuti kalian,” Hara mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Kemudian Taehyung merangkul Hara, lalu mereka berjalan pelan. Nari yang sekarang berada di belakang mereka hanya mendesah kasar.

“Bukankah kau yang mengiginkan ini?” tanya Taehyung.

“Aku menginginkannya. Namun tidak bersama gadis itu. Kenapa kau mengajaknya? Bodoh. Aku ingin berdua saja denganmu. Son Nari menghancurkannya,”

“Nari memaksaku. Jika itu sudah menjadi keinginannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia orang yang manja, maklum saja,”

“Selama mengitari tempat ini, kau terus bersamanya, mengabaikanku. Kenapa kau tidak berpacaran saja dengannya? Dia seperti mengharapkanmu,” Taehyung melirik Hara, dilihatnya wajah gadis itu yang terlihat bete. Kemudian Taehyung mencubit pelan pipi gadisnya.

“Dia itu sudah ku anggap seperti adikku, mana mungkin aku berpacaran dengannya? Kau lucu, nona jenius,”

“Kau memanggilku dengan sebutan itu lagi, Kim Taehyung. Aku membencimu,” Hara menyikut pelan perut Taehyung.

“Tidak. Kau mencintaiku,”

Mereka terus berjalan. Posisi Taehyung masih sama, merangkul Hara, baginya tubuh Hara sangat cocok dirangkulnya. Begitu juga saat dipeluk. Taehyung merasa nyaman dengan semua apapun itu yang berhubungan dengan Hara. Sepertinya mereka memang sudah diciptakan untuk bersama.

“Taehyung-a, lihat! Photobox! Ayo coba, kita belum pernah mencoba photobox, kan? Kajja kajja,” Hara menarik lengan Taehyung paksa, Taehyung mengikuti gadisnya. Sedangkan Nari berjalan dengan malas mengikuti Hara dan Taehyung.

Oh, Nari menyesal telah memaksa Taehyung agar dirinya dibolehkan ikut. Seharusnya Nari tidak menghancurkan kencan mereka. Seharusnya Nari menunggu sampai Taehyung yang mengajak dirinya kencan berdua saja, bukan dirinya yang harus memaksa. Namun, dalam hatinya bertanya-tanya, apakah masih ada kesempatan untuknya, bersama dengan Taehyung? Melakukan kencan berdua? Kembali lagi seperti masa lalu, dimana Taehyung yang akan selalu memanjakan dirinya dengan senyumannya, canda tawanya, apa mungkin?

Menurutnya Taehyung yang sekarang berbeda dengan Taehyung yang dulu, yang hanya punya dirinya−Nari. Yang hanya membagi cerita kepada dirinya. Yang hanya tersenyum padanya. Yang hanya akan tertawa pada saat bersamanya. Tidak, sekarang tidak lagi. Hati Taehyung sudah dipenuhi, Jung Hara, Jung Hara, Jung Hara. Nari terlambat mengetahui arti perasaannya, kian lama merindukan Taehyung, disaat dia sudah bertemu dengan Taehyung, justru ia sudah dimiliki orang lain. Nari sadar, bahwa selama ini Taehyung menyayanginya sebagai sahabat sekaligus adik kecilnya, tidak lebih. Nari sadar, cinta Taehyung sepenuhnya untuk Hara. Nari menyadarinya, ketika Taehyung menceritakan semuanya, di kantin, saat itu.

“Nari-ya, kau tidak ikut? Ayo berfoto denganku, kenangan untuk tahun ini,” suara Taehyung membuyarkan lamunan Nari. Nari segera berjalan mendekati Taehyung dan Hara. Lalu mereka memasuki studio photobox.

“Delapan kali foto. Lima foto aku dengan Taehyung, sisanya kau dengan Taehyung,” ucap Hara santai.

Mwo? Itu tidak adil! Kalau delapan kali, seharusnya aku dengan Taehyung empat kali, begitu juga kau dengan Taehyung!” Nari membalas ucapan Hara.

“Tidak bisa. Aku yang meminta photobox ini, dan aku kekasih Taehyung, aku harus lebih banyak berfoto dengannya,”

“Itu tidak adil,” Nari memasang wajah cemberut.

Taehyung yang tadinya hanya memperhatikan pertengkaran kecil itu, kini angkat bicara, “Berhentilah bersikap kekanakan. Biar aku yang menentukan. Tiga foto pertama, aku dengan Hara. Lalu tiga foto lagi, aku dengan Nari. Sisanya kita bertiga. Tidak ada protes. Jung Hara, kemari,”

Taehyung menekan tombol ‘START’ di layar. Hitungan mundur dimulai dari detik 10. Nari dalam diam memperhatikan Hara dengan Taehyung di sudut studio.

“Aku bingung harus gaya seperti apa,” ucap Hara pelan.

“Aku akan mencium pipimu,” jawab Taehyung.

CEKREK(?)

Foto pertama, Taehyung mencium pipi Hara.

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

CEKREK

Foto ke dua, Hara mencium pipi Taehyung.

“Lalu apa?” tanya Hara.

Taehyung menempatkan kedua tangan Hara melingkari lehernya, sedangkan dirinya memeluk pinggang Hara.

“Manyun!” perintah Taehyung. ((Maksudnya bibirnya kedepan gitu/? Kayak pout_-_))

CEKREK

Foto ke tiga, bibir Taehyung dan Hara bertemu.

Lalu bergantian, kini Hara yang berada di sudut studio. Taehyung merangkul Nari yang berada di sampingnya.

5

4

3

Taehyung membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta cengiran yang memperlihatkan giginya. Sedangkan kepala Nari bersandar pada bahu Taehyung, mengerucutkan bibirnya, jarinya juga membentuk huruf V.

CEKREK

“Nari-a, naiklah ke balok di atas,” saran Hara.

Nari menaiki balok yang sedikit lebih tinggi itu. Lalu memeluk Taehyung dari belakang, Taehyung memegang tangan Hara dan memejamkan mata.

3

2

1

CEKREK

“Bagaimana lagi?” tanya Taehyung menghadap ke arah Hara.

Hara befikir sebentar. “Ah, pura-pura berciuman!” Hara sedikit berteriak. Taehyung dan Nari menatap Hara heran.

“Mwo?” Hara memandang mereka heran. Taehyung menggelengkan kepalanya, lalu membalikkan badan menghadap Nari yang lebih tinggi darinya−karena pijakan balok. Taehyung memeluk pinggang Nari, kepalanya mendongak ke atas. Nari menempelkan dahi dan hidungnya dengan milik Taehyung, wajah Taehyung tertutup karena rambut Nari yang di gerai. Kini mereka terlihat seperti berciuman. Ayolah, bayangkan bagaimana detak jantung Son Nari saat ini.

2

1

CEKREK

“Kalian lucu,” Hara tertawa pelan, lalu menghampiri mereka.

Nari turun dari balok lalu berdiri di samping kanan Taehyung, sedangkan Hara di sebelah kiri Taehyung. Taehyung merangkul keduanya.

“Say KIMCHII,”

“KIMCHI,”

“KIMCHI,”

2

1

CEKREK

Foto ke tujuh, cengiran mereka yang menampangkan gigi-giginya(?), beserta V sign.

10

9

“Gaya apa lagi?” tanya Taehyung.

“Kami berdua akan mencium pipimu,” saran Hara.

Eo? Bolehkan?” Nari menatap Hara.

“Kau sahabat Taehyung, kan?”

Nari tersenyum.

2

1

CEKREK

Foto terakhir, Taehyung dengan wajah terkejut, kedua gadis di sebelahnya mencium pipi kanan dan kirinya.

Mereka segera keluar dari studio foto, menunggu hasil cetakan foto tadi.

Tidak perlu menunggu lama, kedelapan fotonya sudah terpotong dengan rapih.

“Aku lelah. Kita istirahat dulu, eo?” pinta Hara. Nari mengangguk, “Duduk disana,” Nari menunjuk ke arah kursi panjang yang terbuat dari kayu, di dekat kedai es krim. “Kajja,” Taehyung berlari kecil menuju ke kursi tersebut, begitu juga Hara dan Nari.

Taehyung di tengah, Hara disebelah kanannya, dan Nari disebelah kiri Taehyung.

“Ini sangat menggemaskan,” ucap Taehyung sembari memperhatikan hasil jepretan photobox tadi.

Nari dan Hara tertawa pelan.

“Kalian berdua sudah mulai akrab, hm?” tanya Taehyung, melirik Hara dan Nari bergantian.

“N-ne?” kecanggungan meliputi Nari dan Hara. Hara hanya tersenyum kikuk.

“Sok imut,” Taehyung menjitak kepala Hara. “Ish,”

Panggilan alam, aku akan mencari toilet,” kata Hara, Taehyung mengangguk, Hara pun segera meninggalkan Taehyung dan Nari, dan mencari toilet terdekat.

“Taehyung-a, aku ingin lihat foto-foto tadi,”

“Ini,” Taehyung memberi potongan hasil foto tadi. “Nari-ya, kau ingin es krim?” tawar Taehyung. Nari segera mengangguk. “Tunggu,”

Taehyung berjalan ke kedai es krim di dekat sana, sedangkan Nari memperhatikan hasil foto-fotonya.

Taehyung dan Hara sangat cocok. Mereka sama-sama aneh, ternyata.

Mereka lucu.

Taehyung-a, aku mencintaimu.

Tak lama kemudian, Taehyung datang membawa dua es krim cone. Strawberry dan Chocolate. Taehyung menyondorkan es krim berwarna merah muda itu pada Nari. Taehyung selalu tau bahwa Nari sangat suka semua sesuatu yang berhubungan dengan strawberry.

Nari menyambar es krimnya dengan girang, lalu mengembalikan foto-foto kepada Taehyung.

“Taehyung-a, aku mengambil dua foto bersamamu, ok?” tanya Nari sembari melahap es krimnya.

Taehyung mengangguk.

“Taehyung-a, berlomba siapa cepat menyelesaikan eskrim, ayo,” ajak Nari semangat. Dulu mereka sangat sering berlomba seperti ini. Siapa yang kalah, ia harus mencium yang menang, konyol. Taehyung sudah berkali-kali mencium Nari karena kekalahannya memakan es krim.

“Kau masih mengingatnya,” Taehyung tertawa pelan.

“1,”

“2,”

“3,”

Taehyung dan Nari dengan cepat melahap es krim milik masing-masing. Bibir Nari sangat cepat, Taehyung melahap es krimnya tak kalah cepat sembari memperhatikan cara Nari melahap es krim yang masih sama seperti dulu.

“Taehyung-a, aku akan habis,” ucap Nari ditengah penuhnya eskrim di bibirnya.

5

4

3

2

1

Tadaaa~ Aku masih pemenangnya, Taehyung-a,

Taehyung tersenyum. “Arraseo, kau pemenangnya,” Taehyung segera menghabiskan sisa eskrimnya.

“Kau berantakan sekali memakannya,” Taehyung menjulurkan tangannya ke arah bibir Nari, lalu membersihkan sisa es krim disana.

“Tidak ada ciuman kekalahan,” gumam Nari. Sepertinya Taehyung mendengar ucapan pelan gadis itu.

“Ne?” Taehyung memandang Nari. Nari menunduk.

“Taehyung-a, saranghae,” bisik Nari. Taehyung diam, dirinya mendengar apa yang diucapkan gadis itu.

“Aku baru menyadari cinta, Taehyung-a,”

“Perasaan ini sudah cukup lama, aku mencintaimu,”

“Aku kembali untukmu, namun kau mencintai Hara,”

“Terlambat bukan? Haha,”

Taehyung bisu, lidahnya kelu. Tidak tau harus berucap apa saat ini.

“Son Nari,” Taehyung mengangkat dagu Nari, dilihatnya wajah Nari yang memerah.

“Aku menyayangimu, menganggapmu sebagai adikku. Aku menyayangimu, sungguh,” Taehyung mengusap pelan pipi Nari.

Ehm, hei,” Hara kini sudah berdiri di hadapan Taehyung dan Nari. Taehyung dengan cepat melepas tangannya dari pipi Nari.

“Sudah jam 11 malam. Ayo pulang,” ucapnya.

“Kalian pulang saja duluan, aku masih ingin disini, sungguh. Aku bisa naik taksi atau bus nanti,” Taehyung dan Hara saling bertatap heran. Tatapan Hara pada Taehyung memberi isyarat bahwa ia bertanya, ada apa dengannya? , Taehyung menggeleng.

“Kau serius?” Taehyung menatap Nari, yang ditatapnya mengalihkan pandangannya, lalu mengangguk.

“Pu-“ belum sempat Hara menyelesaikan kalimatnya, Taehyung memotongnya.

Arraseo. Kalau begitu kami duluan. Hati-hati,” Taehyung menarik paksa tangan Hara menjauhi Nari.

Ya! Kenapa kau biarkan dia sendiri? Ini sudah malam, Taehyung!” Hara melepas genggaman Taehyung dari tangannya.

Taehyung menatap Hara dengan dingin. “Dia butuh waktu sendiri. Dia juga tidak bisa dipaksa jika itu sudah menjadi keinginannya. Ayo pulang,”

Taehyung kembali menarik tangan Hara agar berada di dekatnya. Taehyung merangkul pinggang Hara. Hara dengan pasrah mengikuti Taehyung. Mereka berjalan dalam keheningan.

 

 

 

Pikirannya masih melayang kemana-mana, Nari masih terdiam di kursi itu. Taehyung meninggalkannya.

Nari menggigit pelan bibirnya. Pikirnya, Taehyung telah melupakan semua kejadian masa lalu, saat bersamanya.

“Mungkin aku egois,” gumamnya.

“Apa benar aku mencintai Taehyung?”

“Aku terlalu menginginkan Taehyung saat ini,”

“Ish, Kim Taehyung, kau berubah,”

Ya! Kau Son Nari, kan?” seseorang menyebut namanya, Nari segera mencari sumber suara itu.

Eo,” didapatinya Park Jimin yang berada tak jauh dihadapannya.

“Ini sudah malam, Son Nari. Apa yang kau lakukan disini?” Jimin berjalan menghampiri Nari dan duduk di sebelahnya, Nari menggeser posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan Jimin. Ia sedikit merasa tidak enak pasca kejadian dirinya yang semacam mengusir Jimin pada saat awal masuk sekolah.

Ani~ Tadi aku bersama Taehyung dan Hara,”

“Sekarang kemana mereka?”

“Pulang,”

“Kenapa kau tidak ikut mereka?”

“Aku pikir mereka butuh waktu berdua. Ku dengar mereka jarang bertemu akhir-akhir ini karena Hara mengikuti kelas khusus. Ini juga salahku, memaksa Taehyung agar aku dibolehkan ikut tadi. Seharusnya aku tidak menghancurkan kencan mereka. Aku ini egois, bukan?” cerita Nari.

Jimin menghela nafasnya.

“Aku merindukan Taehyung,” perkataan Nari membuat Jimin memusatkan seluruh perhatiannya pada gadis itu.

“Aku merindukan Taehyung kecil,”

“Yang dulu selalu bersamaku, kemanapun aku pergi, ia selalu mengikutiku. Kami bermain bersama, makan bersama, bahkan sering tidur bersama. Oh, ayolah, dulu aku sangat dekat dengannya. Namun sekarang… sepertinya kehadiran Jung Hara jauh lebih penting daripada aku. Mungkin Taehyung sudah melupakan semua kenangan itu,”

“Taehyung tidak melupakan semua kenangan itu. Tidak mungkin,” Nari memperhatikan Jimin.

“Benar kau egois, Son Nari. Seharusnya kau membiarkan Taehyung bahagia, Hara adalah pilihannya,” kata-kata itu membuat Nari menatap Jimin geram.

“Lalu aku harus menderita demi melihat Taehyung bahagia?”

“Kau tidak senang melihat orang yang kau cintai itu bahagia? Bayangkan kalau dia bersamamu, bagaimana kalau justru Taehyung membohongi perasaannya demi melihatmu bahagia bersamanya? Itu justru membuat Taehyung menderita! Jadi biarkan Taehyung bahagia dengan Jung Hara karena Taehyung sangat mencintainya,”

“YA PARK JIMIN!” Nari berteriak cukup keras dan memukul pundak Jimin membuat lelaki itu sedikit kesakitan karena pukulan yang lumayan kencang.

“Ah, pukulanmu itu sakit, bodoh,” Jimin mencubit kencang pipi Nari.

“Akk,” Nari memegangi pipinya sambil mengerjapkan matanya berulang kali. Lama sekali sudah dirinya tidak merasakan semacam cubitan seperti yang baru saja Jimin lakukan padanya. Rona merah di pipinya mulai menjalar. Nari menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

“Ya~ Gwaenchana?” Jimin menunduk sedikit, memegang tangan Nari yang digunakan untuk menutupi wajah gadis itu, mencoba melepaskan tutupan tangannya dari wajahnya.

“JANGAN SENTUH AKU!” sontak Jimin menjauhkan tangannya dari tangan Nari.

“Aku hanya ingin memastikan. Kau menangis?” tanya Jimin.

Nari menggeleng.

“Hei,” Jimin menyentuh pelan pundak Nari, takut-takut gadis itu menyerangnya lagi.

Nari melepas tangannya dari wajahnya dan menatap Jimin.

“Apa kau benar-benar tidak bisa melupakan Taehyung?” tanya Jimin.

Nari menggeleng cepat.

“Kau benar-benar mencintainya?”

Nari mengangguk cepat.

“Benarkah?”

Nari mengerjapkan matanya, pertanyaan Jimin justru membuatnya bertanya-tanya sendiri dalam hati. Apa dirinya benar-benar mencintai Taehyung? Apa benar arti perasaan itu adalah cinta?

“Molla,” Nari menunduk.

“Taehyung sudah menganggapmu sebagai adiknya. Lagipula kau tidak bisa mencintai orang yang sudah memiliki kekasih,”

“Tidak bolehkah aku menunggu?” Nari menatap Jimin sendu, Jimin menatap kembali gadis itu.

“Menunggu itu membosankan, Nari-a,”

“Kau pernah merasakannya?” Nari mendekatkan sedikit posisi duduknya dengan Jimin.

Jimin mengangguk pelan.

“Lihatlah sekitarmu! Banyak lelaki yang lebih dari Taehyung! Lebih tampan, lebih pintar, dan… Normal. Aku sebagai contohnya,” Jimin menunjuk dirinya sendiri. Nari mencibir pelan.

“Kau pikir aku mau menyukai dirimu, huh?” Nari meleletkan lidahnya ke arah Jimin.

Jimin mengangkat alisnya. “Baiklah, aku bukan tipe-mu,”

“Aku ingin pulang,” Nari beranjak berdiri, begitupun Jimin.

“Biar aku antar. Tidak baik berjalan sendiri malam begini, banyak tindak kriminal di malam hari,”

Nari tersenyum lalu mengangguk.

Setidaknya Park Jimin bisa menenangkan hatinya saat ini.

 

 

 

Mereka sudah berada di depan rumah Hara. Taehyung dan Hara berdiri berhadapan. Dengan lembut, Taehyung menyisir rambut tebal gadisnya dengan jemarinya.

“Maaf, kalau hari ini sangat tidak sesuai dengan keinginanmu,” Hara menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya, membiarkan lelaki itu melanjutkan ucapannya.

“Maaf, kalau hari ini adalah malam natal paling tidak menyenangkan dalam hidupmu,” Taehyung masih terus memainkan rambut gadisnya.

“Kau harus tau, aku mencintaimu,” Taehyung mencium puncak kepala Hara.

“Kau harus tau, hati ini hanya memilihmu,” Taehyung mencium kening Hara.

“Kau harus tau, aku hanyalah milikmu,” mencium pipi kanan dan kiri Hara.

“Kau harus tau, kau adalah milikku,” lalu mengecup singkat bibir Hara.

“Jelas aku mengetahuinya, Kim Taehyung,” Hara mengusap pipi namja-nya.

“Aku ingin selamanya bersamamu,” Taehyung memeluk Hara, kehangatan menjalar ke sekujur tubuh gadis itu. Hara juga memeluk Taehyung. “Aku juga, Taehyung-a,”

Cukup lama mereka berpelukan, Taehyung melonggarkan pelukannya. Menangkup wajah Hara, dengan ragu mendekatkan wajahnya kepada gadisnya, memejamkan matanya dan sedetik kemudian bibir mereka bertemu. Hara membalas ciuman Taehyung. Yang awalnya hanya sebuah kecupan kecil kini bibir Taehyung bergerak dengan cepat melahap bibir Hara. Taehyung memiringkan kepalanya agar lebih leluasa dalam memberi lumatan bertubi-tubi pada bibir gadisnya. Taehyung menghisap pelan bibir Hara, sedangkan Hara hanya dapat terpejam menikmati apa yang dilakukan Taehyung padanya. Taehyung berhenti dan menjauhkan wajahnya dari Hara, mengusap lembut bibir gadis itu.

Lalu Taehyung mencium lama kening Hara. Kemudian menatap gadisnya lagi.

“Merry Christmas,” bisik Taehyung.

“Merry Christmas,” Hara tersenyum. Mereka berpelukan lagi, tak peduli dengan kedua jarum jam yang sudah berada di angka dua belas.

“Kalian sangat manis,” sebuah suara berat seseorang menghancurkan keheningan. Taehyung dan Hara dengan cepat melepaskan pelukannya.

“A-abeoji,” didapatinya ayah Hara tengah berdiri di depan gerbang rumahnya. Taehyung membungkukkan badannya. Kembali Taehyung dan Hara saling bertatap.

Appa, sejak kapan ada disitu?” wajah Hara bersemu merah, oh untunglah, ini sudah malam, tidak terlalu banyak penerangan yang menerangi wajahnya.

“Tenang, appa tidak melihat kalian berciuman,” jawab ayah Hara santai.

“Mwoya appa,”

“Ayo masuk. Taehyung-a, terima kasih sudah mengantar Hara. Kau perlu tumpangan? Aku bisa panggilkan supir,” Hara menghampiri ayahnya.

Taehyung menggeleng, “Aniya abeoji~ Aku bisa jalan sendiri,”

“Kalau begitu pulanglah, ini sudah malam. Terima kasih sekali lagi,”

“Sudah kewajibanku menjaga Hara. Aku pamit dulu,” Taehyung membungkuk, lalu melambaikan tangannya ke arah Hara, Hara pun melambai balik. Dan Taehyung berbalik meninggalkan rumah Hara untuk segera pulang ke rumahnya.

“Hubungan kalian sampai tahap apa?” ayahnya menggoda Hara. Dirangkulnya tubuh anaknya itu, menuntunnya masuk ke dalam rumah.

Mwoya? Aku bukan nappeun yeoja, appa. Aku akan melakukannya kalau sudah menikah, e-eh,” Hara keceplosan, dengan cepat ia menutup bibirnya.

Ya~ anakku sudah dewasa sepertinya,”

“Appa~~~!”

***

Setelah lengkap dengan seragam sekolahnya, Hara segera turun untuk sarapan dengan keluarganya. Hara tidak biasa sarapan dengan makanan berat, ia hanya sarapan dengan roti dan juga susu. Jika persediaan rotinya habis, pasti ada sereal yang menggantinya.

Ia segera mengambil posisi di sebelah kakaknya, Jung Hoseok.

Ibunya tengah sibuk memasak sesuatu disana, menu hari ini mungkin. Sedangkan ayah, sudah pasti berangkat kerja lebih dini. Hara terbiasa dengan itu.

“Good morning,” sapanya hangat.

“Morning my sist,” Hoseok menyapa balik adik kesayangannya.

Hara mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya dengan selai cokelat lalu di ambilnya lagi selembar roti tawar untuk bagian atasnya, dan segera melahapnya. Sedangkan tangan kiri gadis itu sibuk mengutak-atik handphone-nya.

“Hari ini berangkat dengan siapa?” Hoseok bersuara setelah selesai menghabiskan susunya.

Eo? Yoon ahjussi tidak ada?” Hara mengalihkan pandangannya ke arah Hoseok.

“Yoon ahjussi pulang menemui keluarganya. Ibunya sakit,”

Hara hanya mengangguk menanggapi ucapan kakaknya. “Mungkin aku akan naik bus,” ucap Hara sembari mengunyah roti yang masih berada didalam mulutnya.

“Sendiri?”

Hara mengangguk lagi dan kembali memainkan handphone-nya.

“Berangkat bersamaku saja,” Hoseok kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu.

Hara menghabiskan rotinya dan segera meminum susunya, setelah habis ia menyambar tasnya yang berada di bawah meja makan.

“Kau tidak ada kelas?” tanya Hara sembari menyampirkan tas gembloknya di pundak kanan dan kirinya.

“Tidak. Sekalian aku ingin bertemu Sung Haera. Kau sudah siap? Kajja,” Hoseok segera keluar rumah menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya.

“Sung Haera nuguya?” gumam Hara pelan.

“Pacarnya,” sahut eomma-nya yang tengah merapihkan benda-benda yang ada di meja makan.

“Pacar Hoseok oppa? Punya pacar? Sejak kapan?” pertanyaan bertubi-tubi itu membuat nyonya Jung terkekeh.

YAAA~! JUNG HARA PPALLIWA~!

Eomma, aku berangkat,”

“Hati-hati,”

Hara segera berlari menuju kakaknya.

 

Dalam perjalanan, Hara sibuk memperhatikan Hoseok yang sedang menyetir disebelahnya.

“Kau akan terus memperhatikanku?” Hoseok bersuara. Hara terkekeh.

“Kau tidak ingin menceritakan proses jadianmu itu?” Hara bertanya dengan nada menggoda kakaknya.

“Diamlah,”

“Apa dia cantik? Pintar? Kaya? Apa dia satu jurusan denganmu?”

“Diam atau aku akan memberhentikan mobil ini dan menurunkanmu,” perkataan Hoseok sukses membuat wajah Hara berubah seratus delapan puluh derajat. “Arraseo,” Hara pun membenahkan posisi duduknya, menghadap depan.

“Kau baik-baik saja dengan Taehyung?” Hoseok bersuara lagi. Hara diam tidak menjawab sepepatah katapun.

Ya~ kenapa tidak dijawab?” Hoseok melirik Hara yang masih dengan wajah cemberutnya.

“Hmmm hrrhh aghghh ddmm,”(Kau suruh aku diam.)

“Apa yang kau katakan? Bodoh,”

Ya~ aku tidak bodoh!” Hara mengambil ancang-ancang untuk memukul kakaknya, namun ia sadar bahwa kakaknya itu sedang menyetir. Jika saja Hara memukulnya, kalau terjadi kecelakaan bagaimana? Hara masih ingin hidup dan meneruskannya hubungannya dengan Taehyung, kalau ia mati pasti Taehyung sangat sedih.

“Aku dan Taehyung baik-baik saja,”

“Hari ini kau masih mengikuti kelas khusus?”

“Tidak. Aku pikir aku akan kelelahan jika terus-terusan mengikuti kelas khusus. Jadi aku meminta izin Jang seonsaengnim agar sisa tiga hari menuju olimpiade ini, aku tak lagi mengikuti kelas khusus. Ku pikir, aku sudah sangat siap untuk olimpiade itu,” Hoseok tersenyum mendengar jawaban adiknya, lalu menjulurkan tangan kanannya ke arah kepala adiknya dan mengusapnya lembut.

“Aku bangga padamu. Eomma dan appa pasti juga bangga akan prestasimu, Hara-ya,” Hara tersenyum menanggapi ucapan kakaknya.

Tak lama setelah itu, mereka pun sampai di sekolah Hara.

“Selamat belajar. Hwaiting,” Hoseok mengepalkan tangannya menyemangati Hara dan dibalas dengan cengiran gadis itu, lalu Hara melambaikan tangannya kepada Hoseok.

Hara segera berlari kecil, dilihatnya Yoo Gaeun tengah berjalan pelan tak jauh di depannya.

“DORR!”

“YA!”

Teriakan Gaeun sangat kencang, semua murid yang ada di tempat itu sontak memusatkan perhatian mereka kepada sang empunya suara.

“Jung Hara kau gila! Aku bisa saja mati kena serangan jantung gara-gara kau!” Gaeun meninggikan suaranya, ia kesal.

Mianhae, Gaeun-a. Habisnya kan aku merindukanmu,” sambil terus berjalan, Hara bergelayut manja di lengan Gaeun, kepalanya bersandar di pundak sahabatnya.

“Kau tidak perlu mengagetiku seperti tadi juga, kan. Kalau kau bukan sahabatku, sudah ku habisi kau,” ucap Gaeun, masih dengan memperhatikan secarik kertas yang berupa amplop tengah ia pegang.

Hara menyadarinya dan segera merebut amplop berwarna merah muda itu. Ia berhenti berjalan, tentu Gaeun juga ikut berhenti. Hara memperhatikan amplop itu, membolak-balik benda itu berulang kali.

Ige mwo? Kenapa tidak kau buka?” tanya Hara sembari memandang wajah sahabatnya.

Gaeun merebut kembali amplop itu. “Molla, seorang hoobae memberiku benda ini. Ia menyuruhku membukanya saat sudah di kelas,”

Mereka melanjutkan jalannya. Hara terlihat berpikir, lalu kembali memberhentikan langkahnya. Gaeun menatap Hara kesal. “Apa lagi, Hara-ya?”

“Mungkinkah itu surat cinta? Hoobae yang memberimu perempuan atau laki-laki? Aku penasaran,” Hara terus memperhatikan amplop itu sembari mengetuk jari telunjuknya dipinggir bibirnya.

“Perempuan. Kalau penasaran ayo cepat ke kelas dan kita buka. Hoobae itu menyuruhku membukanya di kelas,”

Arraseo. Ayo,” Hara menarik paksa tangan Gaeun lalu berlari.

Ya! Jung Hara, kau ingin membuat tanganku patah, eoh?” Gaeun kembali meninggikan suaranya karena diperlakukan seperti itu oleh sahabatnya.

Sesampainya di kelas, Hara buru-buru masuk dan mempersilahkan Gaeun duduk di kursinya.

“Silahkan duduk, ratu,” Ini aneh, batin Gaeun. Memang aneh. Hara jarang sekali seperti ini. Pasti gadis ini sedang ada maunya.

Hara pun duduk di kursinya dan sedikit menggeser kursinya lebih dekat dengan Gaeun.

Ya~ tunggu apa lagi? Cepat bukan amplopnya,” Hara berbisik.

“Jangan bilang kau juga ingin melihat isi amplop ini,” ucap Gaeun was-was.

“Tentu saja! Untuk apa aku dengan baik hati mempersilahkanmu duduk tadi, huh?!

Gaeun mendesah. Tepat sekali dengan dugaannya.

“Tapi, hoobae itu menyuruhku agar hanya aku saja yang mengetahui isi surat ini!” bentak Gaeun dengan berbisik.

“Sudahlah. Dia kan juga tidak tau!” balas Hara.

“Baiklah,”

Perlahan, Gaeun membuka amplop merah muda itu dan mengeluarkan isinya. Secarik kertas.

Aku menyukaimu! Ini sungguh! Sangat menyukaimu!
Hei, ayo berkencan!
Kau tidak tau siapa aku ya? Aku sudah lama sekali memperhatikanmu, Yoo Gaeun.
Ya~ hanya saat jam istirahat saja sih. Tapi aku menyukaimu!
Aku adalah sunbae-mu.
Kau tidak sadar kalau aku selalu menguntitmu saat jam istirahat, ya? Wah, kalau begitu aku penguntit yang hebat!
Aku ingin mengenalmu lebih dekat, mungkin aku akan mencintaimu?!?
HAHAHA.
Tebak aku!

Have a nice day, Yoo Gaeun!

KNJ

Gaeun tercengang setelah membaca isi surat tersebut. Begitupun Hara, dengan pandangan masih menuju ke arah kertas itu, ia menganga.

“Yoo Gaeun, kau punya penggemar,” Hara menggoyang-goyangkan tubuh Gaeun.

Hei, hentikan. Disini tertulis ‘KNJ’. Menurutmu siapa?”

“KNJ….” Hara berfikir sambil mengetukkan jarinya di atas meja. “KIM NAMJOO!” teriak Hara sembari menunjuk ke arah wajah Gaeun dengan mata melotot.

“Ada apa menyebut namaku, Hara-ya?” ucap Namjoo diseberang sana.

Ya! Kim Namjoo! Kau mengirim surat ini pada Gaeun kan?” tanya Hara setengah berteriak sambil menunjukkan kertas surat itu.

“Jung Hara hentikan! Pasti bukan Namjoo dikelas ini, kau gila!” Gaeun menoyor kepala Hara.

“JUNG HARA AKU MASIH NORMAL!” teriak Namjoo.

“AKU JUGA NAMJOO-YA!” balas Hara.

Gaeun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya.

“Kau pasti akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu, Gaeun-a,” ucapan Hara di balas oleh anggukan Gaeun.

Ngomong-ngomong, kenapa kau disini? Tidak mengikuti kelas khusus?” tanya Gaeun.

Eo? Kau tidak rindu belajar bersamaku?”

“Jadi kau tidak lagi mengikuti kelas khusus?”

Hara mengangguk.

“Aku merindukanmu,” Gaeun memeluk Hara erat. “Uhuk. Ya~ lepaskan, bodoh,”

Begitu Gaeun melepaskan pelukannya, dua murid memasuki kelas. Hara menatap mereka datar.

Taehyung segera melempar tasnya ke lantai dan seperti biasa, duduk dengan menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangannya. Sedangkan Nari yang berada di sampingnya, duduk manis sambil mendengarkan alunan lagu yang mengalir dari iPod-nya melalui headset yang ia pasang.

“Mereka selalu datang berdua?” tanya Hara sambil memperhatikan punggung Taehyung dari belakang. Oh! Dia sangat merindukan kegiatan ini!

“Begitulah,”

Hara meraih tasnya, membukanya lalu mencari sesuatu yang selalu ia pakai untuk menggoda Taehyung, penggaris besi 30 cm milikknya. Setelah mendapati benda itu, Hara tersenyum girang dan hendak menyentuh punggung Taehyung dengan penggarisnya. Namun sekitar 3 cm sebelum penggarisnya menyentuh punggung itu, suara berat yang ia rindukan itu menyapanya.

“Kau tidak lagi mengikuti kelas khusus?” ucapan Taehyung begitu terdengar di telinga Hara walaupun Taehyung menenggelamkan wajahnya. Hara menngerjapkan matanya.

“Berbicara denganku?” tanyanya dan kini penggarisnya sudah menyentuh punggung lelaki di depannya.

“Siapa lagi yang mengikuti kelas khusus selain dirimu, nona jenius,”

“Aku pikir aku sudah siap menghadapi olimpiade, jadi aku meminta Jang ssaem agar cukup sampai kemarin saja kelas khususnya. Aku lelah pulang larut terus menerus juga,” cerita Hara. Dirinya mengukir sesuatu dengan sentuhan penggaris yang menggesek punggung Taehyung.

‘사랑해 김태형’

“Nado,” jawab Taehyung singkat. Bagaimanapun, Taehyung selalu bisa membaca apa yang diukir gadisnya di punggungnya itu. Ia sudah terbiasa.

Rona kemerahan menjalar di pipi Hara, tersipu.

***

Sekarang ini, kelas begitu sunyi. Semua murid tengah sibuk mengerjakan soal ulangan matematika dadakan dari Sung seonsaengnim. Kebanyakan dari mereka tampak gusar, karena sama sekali tidak mengerti cara menjawabnya. Namun beberapa murid juga dengan lancar mengerjakan soal-soal itu. Bagi Hara ini adalah soal mudah, ia baru saja selesai mengerjakan 25 soal itu.

Hara sedikit merenggangkan ototnya yang kaku dan mendesah pelan. Dilihatnya Taehyung tengah tertidur dengan kepala di atas meja tanpa tumpuan tangan, menghadap kiri, menghadap Son Nari, dengan bibirnya yang sedikit terbuka ((Bayangin dehhhh HAHAHA)). Hara dapat melihatnya.

Idiot. Kau tidak akan pintar kalau begini terus,” Hara kembali menyentuh punggung Taehyung dengan penggarisnya. Taehyung sedikit menggeliat dan mengganti posisi kepalanya ke arah kanan. Hara menggelengkan kepalanya melihat tingkah Taehyung idiot itu. Kenapa ia menyukai orang bodoh nan idiot itu? Ya Tuhan. Hara sendiri tidak mengetahuinya.

Hara menekan penggarisnya ke punggung Taehyung. “Ya! Kau sudah menyelesaikan soalmu?” bisik Hara pelan dan hati-hati. Takut-takut Sung ssaem mendengarnya.

“Eugh,” Taehyung menggeleng pelan masih dengan mata tertutup, entahlah bocah itu tertidur, setengah sadar, atau hanya sekedar memejamkan mata.

Ya! Kemarikan soalmu,” Hara kembali menekan punggung Taehyung sambil berbisik.

“Eo,” jawab Taehyung singkat. Lalu dengan malas lelaki itu mengoper lembar soalnya ke belakang, ke meja Hara.

“Idiot,”

Dengan segera, Hara menyalin jawaban miliknya ke lembar soal milik Taehyung.

Tak perlu waktu lama untuk menyelesaikannya, tangan Hara sangat cepat dalam hal menulis, tulisannya pun tidak buruk.

“Taehyung-a, soalmu,” Hara kembali menekan penggarisnya ke punggung Taehyung untuk menyadarkannya. Taehyung menjulurkan tangannya ke belakang dan Hara segera memberikan soal itu. Taehyung kembali terlelap.

Tanpa mereka sadari, sepertinya guru mereka menyadari apa yang dilakukan dua muridnya.

“Kim Taehyung dan Jung Hara. Kalian bekerja sama?” seisi kelas memusatkan perhatiannya kepada Hara. Hara mengedipkan matanya.

“KIM TAEHYUNG,” guru Sung membentak ketika melihat Taehyung yang tak kunjung bangun dari tidurnya.

“Mwo?” tanya Taehyung santai tanpa berpikir panjang siapa yang baru saja membentaknya.

YA! KAU-. KIM TAEHYUNG, JUNG HARA, KELUAR,”

“N-ne?” Hara membelakkan matanya. Ini pertama kalinya.

“SEKARANG,”

Taehyung beranjak dari kursinya malas dan segera berjalan keluar, ia sudah biasa. Sedangkan Jung Hara, ia menahan rasa malunya untuk kejadian ini, ia pun segera keluar kelas, menuruti apa yang diperintahkan gurunya itu.

Hara dan Taehyung duduk bersebelahan. Ya, sebagaimana hukuman di sekolah, duduk sambil mengangkat kedua tangan. Konyol.

“Maaf,” Taehyung bersuara.

“Untuk apa?”

“Membuatmu merasakan nikmatnya dihukum seperti ini. Maafkan aku,” Taehyung menoleh ke arah Hara. Hara juga menoleh.

“Tidak apa. Lagipula salahku juga, memberikan kertasnya tidak lihat kondisi dulu,”

“Andai aku pintar. Setidaknya seperti Gaeun agar aku bisa menyelesaikan soal sendiri,” Taehyung menunduk.

“Kau sendiri malas belajar, bagaimana akan pintar?”

Hening. Taehyung tidak membalas ucapan Hara.

Krukkk~

Suara itu cukup kencang untuk didengar Hara yang berada tak jauh di sebelah Taehyung.

“Kau belum sarapan pagi ini? Aku dapat mendengar monster di dalam perutmu itu berteriak,” Hara mendekat ke arah Taehyung.

“Kesiangan. Tadi kan aku terlambat memasuki pelajaran pertama, kau tau,” Taehyung melirik Hara.

“Sepertinya aku membawa roti didalam sakuku,” bisik Hara. Taehyung hanya terkekeh mendengarnya.

Hara memeriksa koridor, melirik ke kanan dan kiri. Setelah dirasa aman, ia menurunkan satu tangannya untuk mengambil roti kecil yang ia bawa di saku seragamnya.

“Tada~” Hara mengeluarkan rotinya. Dan segera membuka bungkusannya. Taehyung memperhatikan gadisnya.

“Taehyung-a, aaa~” Hara member kode agar Taehyung membuka mulutnya. Begitu Taehyung membuka mulutnya, Hara langsung memasukkan roti itu ke dalam mulut Taehyung. Walaupun bisa dibilang kecil, roti itu tentu tidak cukup untuk dimasukkan langsung ke dalam mulutnya.

“Hmmmmpp,” Taehyung berbicara namun seperti tertahan oleh roti. Hara menoleh ke arah Taehyung yang mulutnya masih penuh dengan roti.

“Mwo?” tanya Hara.

Taehyung segera mendekatkan wajahnya ke wajah Hara, roti yang ada di luar mulut Taehyung menyentuh bibir Hara. Hara membelakkan matanya bertanya-tanya. Sedangkan mata Taehyung mengisyaratkan agar gadisnya menggigit roti itu, supaya Taehyung dapat memakannya. Hara mengangguk dan segera menggigit rotinya. Dapat dirasakan bibir mereka sedikit bersentuhan.

Setelah roti itu terpotong menjadi dua, Taehyung membenarkan posisinya begitupun Hara. Mereka mengunyah jatah rotinya masing-masing. Taehyung lebih dulu menghabiskan rotinya, ia menoleh lagi ke arah Hara.

“Kau gila, memberiku satu roti seperti itu, bagaimana bisa aku memakannya, bodoh,”

Hara menatap Taehyung cemberut.

“Yang penting aku sudah memberimu makanan, setidaknya itu mengganjal,” jawab Hara masih dengan mengunyah sisa rotinya.

Taehyung mengangguk. “Gomawo,”

***

Begitu keluar dari kamarnya, Taehyung dikejutkan oleh surprise kecil yang dibuat oleh keluarganya.

Saengil chukkae, Kim Taehyung!” Ibu, ayah, kedua adiknya beserta Nari, mengucapkan selamat kepada Taehyung. Anak itu sekarang berumur 17 tahun.

Taehyung memberi cengiran lebar kepada keluarganya.

Aigo~ Kalian semua ingat dengan ulang tahunku, eo?” Taehyung mengelus kepala kedua adik lelaki dan perempuannya itu.

“Kim Taegyu, Kim Ahrin, gomawo,” Taehyung berjongkok dan mencium pipi kedua adiknya.

Ne, hyung. Semoga panjang umur, dan langgeng bersama Hara nuna,” ucap Taegyu, adik lelaki Taehyung yang hanya berbeda 3 tahun lebih muda darinya.

“Tau apa kau tentang cinta,” Taehyung mengacak pelan rambut adiknya.

“Ahrin-a,” Taehyung mencium pipi adik perempuannya lagi kemudian mengusap puncak kepalanya.

Taehyung kembali berdiri, menoleh ke arah Nari yang berada di sebelah kirinya.

“Son Nari,” Taehyung memeluk Nari. Lalu melepaskannya dan mengusap pipi sahabat kecilnya, “Gomawo,”

Nari mengangguk. “Igeo. Untukmu, Taehyung,” Nari member bingkisan kecil kepada Taehyung.

“Ini kado ulang tahunku?” tanya Taehyung sembari mengintip apa isi bingkisan tersebut. Dilihatnya boneka teddy bear yang berada di dalamnya.

Nari mengangkat pundaknya. “Aku hanya dapat memberikan itu,”

Taehyung tersenyum lalu mengusap kepala gadis itu. “Tidak apa. Terima kasih,”

Taehyung berpindah. Menghampiri ibu dan ayahnya.

“Eomma, appa,” Taehyung memeluk mereka berdua sekaligus.

“Taehyung-a,” panggil ibunya. “Kau sudah besar sekarang. Jaga dirimu baik-baik. Jangan melakukan hal aneh sebelum waktunya! Arrachi?” Taehyung tersenyum mendengar nasihat ibunya. “Tentu, eomma. Aku ini anak baik-baik,” ibunya tersenyum sambil mengacak rambut anaknya.

“Taehyung-a,” kini ganti ayahnya yang memanggil Taehyung. “Panjang umur, nak. Jaga gadismu, Jung Hara. Sebagai laki-laki kau harus bisa menjaganya dengan baik. Jangan pernah sekalipun kau melukainya. Karena gadis itu sangat mencintaimu, begitupun kau, kan? Bersikaplah lembut kepadanya, appa yakin kau bisa menjaganya,” tuan Kim menepuk pundak anaknya.

Taehyung mengangguk. “Aku sedang menjalankan kewajibanku, appa. Menjaga Jung Hara,” ayah dan ibunya tersenyum.

“Taehyung-a, tingkatkan juga belajarmu, sebentar lagi kita naik kelas 3!” ucap Nari dengan nada berpura-pura seperti memerintah.

Taehyung terkekeh. “Arraseo,”

“Sekarang, ayo turun, kita sarapan,” ajak nyonya Kim. Mereka pun segera turun, menuju meja makan.

 

 

 

Taehyung dan Nari memasuki kelas. Sudah lumayan ramai. Taehyung menuju ke arah mejanya, menghempaskan tasnya ke lantai, kemudian menghempaskan bokongnya dipermukaan kursi, duduk menyamping memperhatikan Hara yang tengah membaca buku, entah buku apa itu.

Taehyung memundurkan sedikit kursinya agar mendekat dengan meja Hara. Kedua tangannya menumpu pada meja Hara. Taehyung memperhatikan gadisnya.

“Jadi…” Taehyung menggantungkan kalimatnya. Ia memperhatikan gadisnya yang begitu serius membaca buku di atas mejanya. “Apa kau ingat hari ini hari apa?” lanjut Taehyung. Ia seperti sedang menguji pengetahuan Hara mengenai dirinya. Apakah Hara mengingat hari ulang tahun kekasihnya?

“Tentu,” jawab Hara singkat, matanya masih bergerak-gerak membaca satu per satu kalimat yang tertulis pada buku yang ia baca.

Cengiran lebar terpampang di wajah Taehyung. Untungnya Hara tidak melihat itu. Kalau saja Hara melihatnya, harga diri Taehyung akan jatuh dihadapan gadis itu.

“Apa kau menyiapkan sesuatu?” tanya Taehyung lagi.

Kini Hara menutup bukunya dan menatap Taehyung yang berada di hadapannya. Hara memajukan sedikit kursinya agar ia bisa lebih dekat dengan Taehyung.

“Tentu saja, Taehyung-a! Untuk apa aku pulanng larut, mengikuti kelas khusus selama tiga minggu lamanya? Tentu saja untuk olimpiade hari ini,” Taehyung menganga mendengar jawaban Hara.

Bukan itu yang ku maksud, Jung Hara.

Mwo? Tutup mulutmu! Lalat akan masuk,” bukannya menutup mulut, tetapi Taehyung malah membalikkan badannya, menghadap ke depan, merapatkan kursinya dengan mejanya dan ya, seperti biasa, menenggelamkan wajahnya diatas lipatan tangannya.

Hara mengangkat bahunya. “Idiot,”

 

 

 

“Jung Hara, dipersilahkan,”

Mendengar namanya dipanggil, Hara segera menyambar tasnya, dan berdiri didepan kelas.

“Aku meminta do’a kalian untuk menemaniku dalam menjalankan olimpiade ini. Semoga aku dapat melewatinya, dan membawakan prestasi untuk sekolah ini,” begitulah pidato singkat dari Hara. Ia membungkukkan badannya 90°, lalu segera berjalan keluar.

Sebelum keluar dari kelas, dapat ia dengar dengan jelas suara yang sangat ia kenali.

“Goodluck,” ucap Taehyung begitu Hara melewati dirinya.

Hara tersenyum menanggapinya.

 

 

 

“Taehyung-a, kau harus mentraktir kami!” ujar Jongup. Seperti biasa, mereka berempat berkumpul saat jam istirahat. Taehyung sudah lumayan nyaman, Nari tidak lagi sesering dulu mengajaknya makan di kantin, yang membuat waktu mengobrol bersama tiga sahabatnya berkurang. Kini Nari sudah berteman baik dengan beberapa murid di kelas, jadi, ya~ sudah banyak juga yang mau makan siang bersama gadis itu.

Ne! Traktir kami, Taehyung-a!” sahut Namjoo.

Taehyung cemberut, entahlah, anak ini badmood.

Ya~! Sepertinya uri Taehyungie sedang tidak bagus moodnya. Ada apa Taehyung-a? Ceritakan pada kami, kami kan sahabat,” Jimin memeluk Taehyung dari samping. Ini sedikit menjijikan.

“Wajarkah jika seorang kekasih melupakan hari ulang tahun kekasihnya?” Taehyung memajukan bibir bawahnya, sambil mengayunkan kakinya yang menggantung di bawah meja−seperti biasa, Taehyung dan Jimin duduk di atas meja.

Omo, Hara lupa dengan ulang tahunmu?” tanya Namjoo. Taehyung mengangguk lemas.

Ya~! Kim Taehyung, kau jelek sekali seperti itu!” Jimin yang berada di sebelah Taehyung mencubit pipi sahabatnya itu. “Ya! Itu menjijikan, Park Jimin,” muka kesal Taehyung justru membuat ketiga sahabatnya itu terbahak. Taehyung jarang sekali seperti sekarang ini! Ini langka! Dan hanya Jung Hara yang bisa membuat Kim Taehyung menjadi seperti ini.

“Padahal aku sangat mengingatnya bahwa besok adalah 17 tahunnya, Jung Hara. Haruskah aku berpura-pura lupa?” Taehyung jelek sekali saat ini! Sahabatnya terus-terusan menertawai ekspresi Taehyung.

“Tidak ada yang lucu!” bentak Taehyung. Ia menuruni meja lalu keluar meninggalkan kelas.

Jongup mangangkat bahunya.

“Dia butuh waktu sendiri, menenangkan diri,” ucapan Jimin dibalas oleh anggukan Namjoo dan Jongup.

***

Jung Hara, kau bodoh sekali! Kau melupakan tanggal ulang tahun kekasihmu!

Hara mengacak rambutnya gusar. Ia terus merutuki dirinya yang dengan bodohnya mematikan ponselnya dari pagi, karena itu dia tidak mendapat alarm pengingat bahwa tanggal ini adalah ulang tahun Taehyung. Otaknya benar-benar terkuras untuk pelatihan kelas khusus, sampai ia melupakan tanggal yang termasuk penting itu.

Jam menunjukan pukul 18.00 KST, dan mobil jemputannya belum menampakan diri.

Hara sudah berhasil melawati soal olimpiade tadi, justru soal-soalnya lebih mudah dari soal pelatihan.

Hara berkali-kali menengok ke arah jam tangannya. Kakaknya belum juga datang,.

Wajahnya menunjukan kepanikan, dirinya bahkan belum menyiapkan kado apa-apa untuk Taehyung.

Yaampun, kekasih macam apa aku ini.

TINN~

Suara klakson mobil mengagetkannya, segera saja Hara memasuki mobilnya.

Oppa! Lama sekali!” bentak Hara.

“Maafkan aku, tadi macet sekali, Hara-ya,” Hoseok mulai menjalankan mobilnya.

“Antar aku ke sebuah mall, jebalyo. Bantu aku memilih kado untuk Taehyung. Bodohnya aku melupakan kalau hari ini adalah ulang tahunnya. Oppa, bisa bantu kan?” Hara memohon.

Jinjja? Aigo~ bagaimana bisa kau melupakannya? Baiklah, aku akan membantu,”

“Yesss,” Hara mengepalkan tangannya.

“Tadi sukses?” tanya Hoseok.

“Sangat,”

Cih, dasar jenius,” Hoseok mengusap kepala adiknya yang hanya di balas dengan cengiran kecil Hara.

 

 

 

Hara terus menerus menarik tangan Hoseok. Mengunjungi satu per satu toko di mall itu. Mulai dari toko aksesoris, snapback, kemeja, banyak! Oh, dia bingung harus membelikan apa, pasalnya dia tidak tau apa yang disukai Taehyung. Ini sudah satu jam lebih mereka mengelilingi seisi mall.

“Bantu aku berpikir harus membelikan apa!” Hara membentak pelan kakaknya.

Ya~! Mana aku tau selera Taehyung itu,” Hoseok menjitak pelan kepala adiknya.

“Jam tangan,” gumam Hara pelan. “Haruskah aku membelikannya jam tangan? Tapi sepertinya Taehyung sudah punya banyak jam tangan. Dia berganti jam tangan setiap harinya,” Hara mendesah pelan.

“Kau tau klub bola yang disukai Taehyung?” Hoseok bertanya.

Hara berpikir, mencoba mengingat apakah Taehyung pernah menceritakan tentang klub bola kesukaannya. Tidak, Hara tidak tau.

Lalu Hara menggeleng pasrah. Hoseok berdecak.

Mereka berdua terus berjalan. Sampai akhirnya Hara melihat sebuah toko yang menjual boneka dan mainan anak-anak.

“Ini pilihan terakhir,” kata Hara lalu segera menarik tangan Hoseok menuju toko boneka itu.

“Kau akan membelikan Taehyung salah satu dari barang disini?” tanya Hoseok tak percaya. Hara hanya memandang kakaknya polos. “Tidak bolehkah? Untuk menemaninya tidur. Yang penting aku memberinya kado, daripada tidak,”

“Ini kekanak-kanakan, bodoh,”

“Biarlah, aku yang memilih,”

Hara melihat-lihat boneka-boneka yang terpajang di rak. Mengambilnya, dibolak-balik, lalu kembali meletakkannya. Seperti itu terus menerus.

Hoseok dengan malas mengikuti adiknya dari belakang.

Hara berhenti ketika melihat boneka singa yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Ia mengambilnya.

“Ini lucu, bukan?” Hara menunjukkan boneka itu kepada Hoseok. Hoseok mengangguk.

“Aku akan memilih ini,”

 

 

 

Hara sudah sampai rumahnya. Mereka sampai pukul 11.30, melelahkan memang. Hara merebahkan dirinya di atas kasur.

“Kim Taehyung, selamat ulang tahun,” ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

Ia menoleh ke arah jam di meja sebelah tempat tidurnya.

“MWO?!?” dengan buru-buru Hara berlari ke kamar mandi. Bersiap-siap untuk ke rumah Taehyung.

Kali ini ia tidak bisa berlama-lama melakukan ritualnya itu, waktunya sangat mepet.

Butuh waktu 7 menit untuk menyelesaikan mandinya. Kini Hara sudah lengkap dengan jaket tebal miliknya.

Sebelum keluar kamar, Hara menulis sebuah kartu ucapan untuk Taehyung.

Taehyung-a, selamat ulang tahun yang ke-17.
Maafkan aku, tadi pagi aku benar-benar tidak ingat, Taehyung-a.
Hanya ini yang bisa ku beri.
Aku mencintaimu.

Nona Jenius

Jung Hara          

Hara tersenyum kecil, lalu mesukkan kartu ucapannya ke dalam tas karton berisi boneka singa untuk Taehyung.

Ia segera keluar kamar.

Apa semuanya sudah tidur, aku ke rumah Taehyung dengan siapa? Sendiri?

Hara menuruni tangga. Lampu di ruangan-ruangan rumahnya sudah di matikan.

Hara berdecak pelan.

“Baiklah, aku akan memberanikan diri. Dua puluh menit menuju rumah Taehyung,” ucap Hara meyakinkan dirinya sendiri.

Pelan-pelan ia keluar dari gerbang rumahnya.

Ayolah, Hara takut sendiri malam-malam seperti ini.

“Dua puluh menit,” gumamnya.

 

 

 

Taehyung tengah duduk di sofa, menonton televisi sambil memakan camilannya. Sesekali ia menyalakan layar handphone-nya, memeriksa apakah ada pesan masuk atau tidak, namun nihil, tidak ada pemberitahuan apapun di handphone-nya.

Taehyung mendesah kasar. Ini sudah hampir jam dua belas dan kekasihnya belum juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.

“Kau jenius tapi melupakan tanggal ulang tahun kekasihmu, aigo~”

Drrtt… Drrtt… Drrtt…

Handphone di sebelahnya bergetar. Layarnya menunjukkan bahwa ‘Jenius Hara menelpon’. Segera Taehyung angkat panggilan itu.

“Taehyung-a,” suara itu terdengar seperti bergetar.

“Ppalli naga,”(cepat keluar)

“Eo?”

“Ppa…lli. Hiks,” isakan kecil terdengar dari seberang telepon.

“Kau ada di luar?”

“Hiks,” yang Taehyung dengar hanya isakan.

Dengan buru-buru, Taehyung berlari untuk keluar rumah.

Setelah mengeluari pagar rumahnya, didapati Hara bersandar pada dinding pembatas dengan keadaan terisak.

“Ya!” Taehyung meneriaki Hara. Begitu mendengarnya, Hara langsung berlari ke arah Taehyung. Lalu memeluk Taehyung erat. Menumpahkan tangisannya pada pundak Taehyung.

“Sudah tidak apa-apa,” Taehyung mencoba menenangkan Hara, ia menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.

“Taehyung-a,” Hara melepaskan pelukannya dan menatap Taehyung. Wajahnya memerah karena ketakutan saat ia berjalan sendiri tadi. Tentu saja! Perempuan mana yang tidak takut berjalan sendiri hampir tengah malam di daerah yang bisa dibilang sepi?!

“Kau sendirian?” tanya Taehyung datar.

“Kalau tidak sendiri, tidak mungkin aku seperti ini,” Hara memasang wajah cemberut. Taehyung terkekeh.

“Tau sendiri kau penakut, masih memaksakan diri,” Taehyung mengacak pelan rambut Hara.

Hara memeriksa layar handphone-nya, dan menunjukkan pukul 11.55 KST.

Hara menatap Taehyung lagi.

“Tanggal 30 sudah hampir habis, maafkan aku telah melupakan hari ulang tahunmu. Otakku terlalu penuh dengan isi pelajaran sampai tidak mengingatnya. Apa aku kelewat jenius?”

Taehyung terus memperhatikan gadisnya berbicara. Hatinya tersenyum.

“Kim Taehyung, selamat ulang tahun,”

CUP~

Hara mengecup pipi Taehyung. Taehyung tersenyum kecil.

“Untukmu,” Hara menyondorkan benda itu, kado untuk Taehyung.

“Ige mwo?” Taehyung membuka tas itu, lalu diambilnya boneka singa didalamnya.

“Lucu sekali,” Taehyung tertawa pelan. Ia kembali mengintip isi tas tersebut, kemudian mengambil secarik kertas di dalamnya.

“Taehyung-a, selamat ulang tahun yang ke-17. Maafkan aku, tadi pagi aku benar-benar tidak ingat, Taehyung-a. Hanya ini yang bisa ku beri. Aku mencintaimu,” Taehyung membacakan isi kertas itu, membuat Hara tersipu malu.

“Kau jelek dalam membuat kartu ucapan,” ucap Taehyung, yang dibalas dengan cibiran yang keluar dari mulut Hara.

“Selamat ulang tahun, Taehyung-a,” Ia kembali memeluk Taehyung. Rasanya belum puas untuk melepaskan pelukan hangat Taehyung.

Taehyung tersenyum dan memeluk erat gadisnya. Setidaknya ini membuatnya senang, akhirnya gadisnya itu mengingat tanggal ulang tahunnya, walau Taehyung tidak tau kalau pengingat di handphone Hara-lah yang mengingatkan gadis itu.

Cinta memang sangat indah bukan?

Taehyung melepas pelukannya. Memasukan kembali boneka singa dan kartu ucapannya ke dalam tasnya kemudian meletakkannya di bawah.

Ia menangkup wajah Hara dengan lembut.

“Selamat ulang tahun, Jung Hara,”

“M-“

Taehyung mengecupi bibir gadisnya.

“Tae-“

CUP~

“Ya!”

CUP~

“Kim Taehyung!” Hara menggenggam wajah Taehyung dan mendorongnya agar berhenti mengecupi bibirnya.

“Mwo?” Taehyung menatap Hara kecewa.

“Ini hari ulang tahunmu, bukan aku, bodoh,”

“Kau juga tidak ingat dengan tanggal ulang tahunmu, nona?”

Hara membelakkan matanya. Taehyung merebut handphone milik Hara yang di genggam sejak tadi. Menyalakannya, menampilkan layar benda itu. Lalu menunjukkan kepada gadisnya.

“Sabtu, 31 Desember 2011. 00:10. Saengil chukkae,” Taehyung meraih pinggang Hara. Bibir mereka pun bertemu. Ciuman yang begitu lembut, menyatukan cinta mereka. Suhu yang begitu dingin, mereka abaikan begitu saja, karena sesungguhnya saat ini mereka saling menghangatkan satu sama lain.

Cukup lama bibir mereka bersatu, Taehyung melepaskannya.

“Aku tidak bisa menandingi kepintaranmu. Aku bodoh dan akan terus seperti ini. Selama kau bersamaku, semuanya akan baik-baik saja, contohnya, kau akan memberiku contekan, bahkan mengerjakan ulanganku, tugas-tugas, itu lebih dari baik-baik saja. Aku tidak tau bagaimana aku kalau mengerjakan semuanya tanpamu, aku membutuhkanmu,” Hara mencibir mendengar kata-kata yang Taehyung ucapkan.

“Namun disini,” Taehyung mengarahkan tangan Hara ke dadanya. “Disini lebih membutuhkanmu, cintamu, kasih sayangmu,”

“Aku memang idiot, bodoh, tidak jenius sepertimu, aneh. Aku mencintaimu,”

Taehyung mencium lembut kening Hara. Ini yang membuat Hara bahagia, tetap berada di sisi Taehyung. Ia selalu merindukan anak itu, sifat dingin dan cuek kepadanya, sikap kekanakan Taehyung, memperhatikan Taehyung dari jauh yang sedang melakukan sesuatu yang bodoh.

Selama apa yang ia lakukan berhubungan dengan seorang Kim Taehyung, ia akan menikmati itu semua. Karena Kim Taehyung adalah candu Jung Hara.

Hei, aku akan menginap di rumahmu, tidak mungkin aku pulang jam segini. Ada kamar kosong?” Hara memecah keheningan.

“Tidak ada. Tapi tempat tidurku muat untuk dua orang,”

***

Seiring berjalannya waktu, Jimin perlahan membuka perasaan untuk Son Nari. Begitupun gadis itu. Setelah melewati hari-hari pendekatan, yah~ jadilah mereka sepasang kekasih. Gaeun juga, kini ia sudah mengetahui, surat itu ditulis oleh Kim Namjoon, siswa kelas 3-1, dan mereka sedang ditahap pendekatan.Taehyung, Jimin, Jongup dan Namjoo juga masih bersahabat baik.

Semuanya berakhir bahagia, jika tidak, itu bukan akhir.

Cinta memang indah.

Mulut bisa berdusta, fikiran bisa mengelabui. Namun hati dan perasaan, tidak bisa disembunyikan dari apapun. Bodoh atau jenius, tidak menghalangi adanya perasaan cinta, itulah mereka, Kim Taehyung dan Jung Hara.

-kkeut

Note: ayeeeyy selesai juga ini HAHAHAHAHA. Garing yaa??? Lebay? Kepanjangan ga?? Kurang memuaskan ya?T^T aku masih butuh saran buat memperbaiki ff-ffku selanjutnya hehehe. Btw, ada reader yang bilang ff Romance? Sebelum ini, itu mirip sama film You Are The Apple Of My Eye, iya!! Aku nonton loh film itu, lumayan mirip._. tapi memang sebelumnya aku belum pernah nonton itu kok, jadi jangan salah paham/? Itu ff hasil percampuran imajinasi dan pengalaman real life, ok ini curhat. Mohon komentar ya~^^ tanya2 bisa di ask.fm @lfrdda. Ppyong!

About fanfictionside

just me

48 thoughts on “FF oneshot/ NO ROMANCE?/ BTS-BANGTAN

  1. GILA THOOOOR DAEBAK! GUA SENYUM2 SENDIRI BACANYA HAHAHAHAH TANGGUNG JAWAB LU THOR/? DAEBAK LAH THOR GA BISA NGOMONG APA2 LAGI GUA :*

  2. Harusnya judulnya gak usah pake No, karena jelas ini romantis pake bgt😄
    Tadi ada bagian gak jelas tuh mengenai waktunya. Kayak tadi jam 11.30, aku pikir itu siang hari. Tapi ternyata itu malam hari, habis gak ada keterangan pm/am nya sih -,-
    Syukurlah Nari pacaran sm Jimin, jadi gak ada yg gangguin Tae sama Hara deh ..
    Kak, bisa buat sequel lagi gak? /ngarep banget/ Karena jujur couple ini so sweet banget walau beda karakter ><

    • Ooo itu, iya nanti selanjutnya di benerin deh ehehe. Untuk sequel aku belum ada ide lagi hehe._. nanti di pikir lagi dehh, makasih udah baca dan komen yaaa<3

  3. Oh myyy !!! Gilaaa thor ini maniisss banget !!! Kepengen deh jadi Hara huhuhuh , di tunggu ff yang lain dengan cast taehyung ne thor ^^

  4. kereeeeen~ wahahahhh ngakak aja sama hubungan taehyung sama hara.
    lanjutin lgi thor. kayak ini kan kelanjutan nya ‘romance’ kan

  5. Sweet !! Aku kira kgk ada lanjuttan di FF ROMANCE? .. Wahh pas pertama baca aku marah/? Sma Son Nari ampe mau banting hp :3 #lebay ..
    Ternyata akhirnya kek gitu .. Bahagia/? aku ..

    Bakalan ada lanjutannya lagi gak thor??
    FF terbaik yg pernah aku baca !!
    Ditunggu FF yang lainnya !!

  6. Huhuhu~ Taehyung-nya manis banget sii, jadi gemess deh :3 mau dong yang kaya gitu juga satu *lah? situ kira Taehyung barang?!😄
    Uhm, ah gataulah mau ngomong apalagi, udah terlanjur cinta sama nih ff❤
    buat lagi yaa thor cerita yang kaya gini🙂 pake castnya Jungkook *kalo bisa, haha

  7. thor….. tanggung jawab duhT_T aku jadi mewek bacanya(?)
    penyakit kalau baca ff romance mah kayak gini -_-
    ceritanya sweeet pake banget, astaga. semacam kena diabetes kan jadinya:>
    aku suka sama karakter taehyung yg rada cuek tapi soswit:3 lelaki idaman aduh(?)
    sedikit saran nih yaa, kenapa ga dibikinin series aja? aku fans berat taehyung-hara :>
    keep writing! next ff ditunggu ^^

    • Waahh makasih sarannya tuh hehe kalau bikin series aku suka bingung mau nulis apa(?) aku kalo nulis tuh angot2an gitu(?) idenya mesti mateng dipikir2 dulu, ah gatau deh(?) nanti aku cari ide dulu hehe._. Makasih udah baca dan komen ya<3

  8. Kyaaaaaaaaaaa………. ya ampun keren banget ni story ><
    di tunggu cerita taehyung hara yang lainnya ya🙂

  9. Hiaaa ini lanjutan dri miss jenius and mr.fool yah bener gk sih judul nya lupa” ingt wheheheh
    hiaaaaaaaa so sweet >_<

  10. Omooooona thor maniiiiiiis pake bgt ni ff
    Suka bgt ama cerita nya thor, bikin gemes banget taehyung ama hara
    Bikinin nexcapt nya lagi dong thor

  11. nari minta di tebas X’D
    jangan ganggu taehara dong😦
    baca yang romance terus ke no romance ini bikin sedih <\3
    kasian sih si nari tapi gimana lagi
    sama jimin aja :') dan emang bener sama si jimin ♥

  12. THOR…. FF NYA SERU SEKALEE BIKIN SY SENYUM SENYUM SENDIRI /…
    sequel thor.. kalo kaga ada sequel, gigit nih /gagagagagaga
    maaf telat komen /?

  13. ehehehe.. ngefly bacanya thor.. gomawo udh ngebuat cerita bagus nan kece ini.. lanjutkan karyamu thor! Romantis gilaa.. keren..😀 kalo di indonesia takut jalan malem malem gitu sama aja nyari bahaya mungkin di korsel jg sih kkk.. samalah malem menakutkan.. kkk.. sequel ada gk?

  14. Keren thor! Aku jg udh baca yg ‘romance?’
    Aaaa sweet bgt taehyung ;_; Sampe kebawa mimpi xDDD
    Keep writing yaa ^~^

  15. ceritanya romantis pakai Bingitzz..
    bagus banget thor!
    good,i like it!🙂
    sequel lagi donk! ya ya ya,boleh ya?
    FF yang “romance ?” itu,keren banget!
    thor! keren thor!
    sering2 buat FF beginian ya🙂

  16. Waaah . , sungguh amat amat amat bagus thor !! My bias taehyung akhirnyaaaa :* walaupun sifatnya agak idiot-_- tapi aku juga mencintainya slain Jung hara , hahaha🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s