FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 5


Just Loving Me Like Your Direction (Chapter 5)

Cast : Taehyung & Baekhyun

Genre : —–

 

 

POV’s Taehyung

Satu minggu, bagiku bukan waktu yang lama untuk sekedar berlibur dari sekolah. Satu minggu tidak akan membalas segalanya dengan cara sekolah memperlakukanku seperti orang gila setiap harinya. Mereka menyuruhku untuk mengerjakan PR di setiap malam, lalu menuntutku untuk segera mengumpulkannya esok hari sebelum bel pertama berbunyi. 7 hari bukanlah balasan yang tepat bagiku. Lagipula, ketika para siswa sedang berlibur sekolah seakan-akan memberikan nilai ‘0’ untuk keikhlasan membebaskan kami dari sebuah tugas. Seperti saat ini, aku bersama Jungkook sedang mengerjakan berbagai tugas yang harusnya tidak di berikan.

“Hei, tunggu. Kau mendapatkan nilai alfa dengan cara apa?” Jungkook dengan lekas meraih kertas polio di bawah tubuhku. Kami sedang tengkurap layaknya anak kucing yang baru lahir, dan berbaring di bawah sinar pagi. Aku meraihnya kembali. Mengambil sebatang pensil untuk menjelaskan semuanya padanya.

“Kau hanya harus membalik rumus pemuaian benda padat ini. Jika kau membalik-baliknya, akan mendapatkan rumus alfa dengan tepat dan akurat sekali. Coba saja jika kau tidak percaya” kataku menatapnya mengejek. Ya, ku rasa, aku memiliki kelebihan darinya dalam masalah kurikulum. Untuk sedikit menyombongkan diri padanya, adalah ide bagus menurutku. “Kau memakan apa hingga bisa menjadi pintar seperti itu haa? Atau kau hanya berpura-pura sok pintar di hadapanku, agar aku menjadi terkagum?” Aku meliriknya sekilas, lalu berpaling lagi agar tidak kontak mata dengannya. Akhir-akhir ini aku takut melihat matanya yang selalu memerah.

“Aku memang sudah cerdas sejak lahir, asal kau tahu itu. Beruntunglah jikalau kau menjadi temanku hingga kini. Bukankah itu menarik, Jeon Jungkook?” matanya melirikku dengan bolpoint di jemari kanannya. Aku juga melihatnya dengan tatapan mengejekku padanya. Hanya untuk sekedar berguyon ringan pada Jungkook yang terlihat lebih damai akhir-akhir ini. Dia menghela nafas kasar, lalu melanjutkan menulis, maksudku menyalin jawaban yang sudah ku cari mati-matian semalam suntuk. Ku pikir, membantu Jungkook bukanlah keputusan yang buruk sebagai teman sebangku.

Setelah semuanya selesai, Jungkook mengajakku untuk pergi mengelilingi kompleks rumahku sore ini. Tidak biasanya dia akan mengajakku berjalan-jalan seperti ini sebelumnya, bila bukan aku yang menyarankan. Sikapnya yang berubah menjadi lebih lembut, seakan menyihirku untuk selalu berada di dekatnya sampai kapanpun. Aku terkadang heran jua.

“Ini kali pertama, aku berjalan mengelilingi komplekku sendiri” Katanya sambil memasukan jemari ke dalam saku celana pendek miliknya. Aku menyeringai. Menatapnya sekilas, hanya untuk sekedar merespond saja. “Taehyung-a” dia menyeru namaku di tengah-tengah perjalanan kami, aku bergumam kecil untuk menjawab panggilannya itu, “Apa?” “Boleh aku mengutarakan sesuatu?” sahutnya membuatku sedikit merinding. Jungkook tidak akan pernah berkata seformal ini padaku, jadi itu membuatku sedikit aneh juga canggung.

“Katakan saja”

“Jika saat ini aku membunuhmu, apa yang akan kau lakukan?” pertanyaan macam apa itu? Aku mendengus, berhenti berjalan menatap langit keabu-abuan menandakan hari sedang tidak bagus untuk melakukan sesuatu di luar, “Pertanyaan macam apa itu, huh?” kataku, “Kau bahkan sudah menyuruhku untuk mengutarakannya, lalu mengapa?” sahutnya membalas ucapanku, “Apa yang aku lakukan? tentu saja aku hanya diam, dan meringkuk di lantai jika memang kau membunuhku di sebuah ruangan. Haruskah aku berteriak tidak jelas? Maaf saja, aku harus menjaga sikap cool ku sampai mati” aku menjawab sebisaku dan sedikit menyindirnya. Dia tersenyum terhadapku, memamerkan mata yang terlalu sipit untuk tersenyum, “Begitukah? Berarti kau setidaknya sudah siap mati, ya?” katanya membuat tubuhku seperti di sengat oleh penggelitik perut, benar-benar lucu.

“Nah, bagaimana dengan kau? Apa yang akan kau lakukan setelah membunuhku?” sebetulnya ini hanya pertanyaan untuk sekedar tahu saja. Tidak lebih. Dan aku pula tidak terlalu serius dengan pertanyaan ini. Namun ketika aku melihat wajahnya, dia seperti seorang mayat. Pucat sekali. Apa yang salah dengan pertanyaanku tadi, omong-omong?

“Yang ku lakukan? tentu diam dan tak lama kemudian, aku mungkin menjadi orang gila?” sahutnya, “bagaimana dengan membunuh dirimu pula?” dia menyeringai, “Aku bukan pengecut”

 

Perjalanan kami berhenti ketika jam sudah menunjukan pukul 6 sore. Saatnya pulang ke rumah dan bersiap-siap untuk makan malam bagi setiap orang normal. Entahlah, apa ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku merasa Jungkook akan benar-benar melakukannya padaku suatu hari.

Aku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang masih menjadi opini menurutku. Aku bukan tipe orang yang selalu berlarut dengan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan aku jawab sendiri. Itu bukan gayaku. Menjadi seseorang yang tidak peduli, itu bukan ide yang buruk. “Hyung, apa sekolah menginzinkan untuk sekedar berlibur lebih lama?” ucapku di sela-sela makan malam. Tidak berbeda dengan menu mala mini, hanya ada kecambah dan telur dadar sebagai penambah menu makanan. “Ya, mungkin mereka akan memberinya jika kau sudah mereka tendang dari sana” Baekhyun memakan makanannya setelah menjawab begitu pula denganku, hanya saja mengapa perkataan Jungkook masih saja menggerogoti pikiranku malam ini.

“Jungkook berniat membunuhku” kataku membuat Baekhyun melotot terhadapku, “maksudmu?” “Ya, si gila Jungkook menanyakan apa yang akan aku lakukan bila hari ini ia membunuhku. Aku bahkan hampir saja pingsan tadi setelah mendengarnya” Baekhyun meneguk segelas air, me-lap sudut bibirnya yang berminyak “Benarkah? Ada apa dengannya kalau begitu?” “Aku sebagai teman, tidak begitu tahu tentangnya. Dia itu menyenangkan serta juga mengerikan di waktu yang sama. Itu yang terkadang membuatku mati rasa karena terlalu heran”.

Makan malam selesai dan aku memutuskan untuk mengerjakan PRku yang di kumpulkan besok lusa. Aku tidak ingin membuang waktuku sedikit saja, karena ku pikir sekolah tidak akan membiarkanku untuk bersantai. Jemariku meraih sebuah buku tebal bewarna cokelat dan tertulis sebuah tulisan di depannya “Science”. Pelajaran ini adalah pelajaran yang mungkin bisa membunuhku otak juga diriku ketika di kelas. Aku hampir mati karena guru sialan itu menyuruhku menghafalkan nama latin yang membuat lidahku melilit. Bagaimana bisa aku harus membaca semuanya serta menghafal dengan cepat bila PR yang lain melambai-lambaikan tangan terhadapku.

Jujur saja, yang tidak pernah aku lupa nama tumbuhan dari sebuah nama latin adalah Padi. Cukup simple, Oryza sativa. Sangat mudah menghafalnya di bandingkan aku harus menghafal nama jamur merang yang susah untukku sebut. Ya, setidaknya aku bisa tahu soal objektif bila begitu.

Aku mencoba membuka buku tebal itu dengan sedikit membaca di bagian Bab V. materi ini adalah materi terakhirku sebelum aku naik ketingkat 2, tiga minggu lagi. Tugas yang mereka berikan tidak juga rumit, hanya menjelaskan bagaimana seseorang akan mendaur ulang limbah menjadi bahan yang lebih bermanfaat. Jika boleh aku menyombongkan diri, ini adalah hal yang mudah sebenarnya. Namun entah mengapa kali ini aku seperti membaca buku yang sudah di beri ramuan tembus pandang. Aku tidak bisa berkonsentrasi membaca entah karena apa itu. Apa karena Jungkook? Haruskah aku memikirkannya sampai menjadikanku seperti ini? Kau curang Jungkook.

 

Belajar yang tidak menentukanku apa aku bisa menghafal untuk besok sudah tak ku hiraukan lagi. Pagi ini aku sengaja tidak ingin bangun lebih pagi karena terlalu lelah pergi ke sekolah. Sudah ku duga jua, Baekhyun akan menerjang pintu kamar dengan kakinya yang kuat dan tentu saja membuatku harus segera bangun.

“Bisakah membangunkanku lebih manusiawi sedikit? Kau benar-benar!” kataku sedikit kesal, meninggalkannya sendiri di ambang pintu. “Taehyung! Jungkook menyuruhmu untuk lekas!” katanya sedikit berteriak padaku. Aku mendengarnya, namun berusaha tak memperdulikannya ketika itu karena aku harus menjaga sikap. Ketika aku menuruni tangga, di sertai Baekhyun yang mengikutiku di belakang, seseorang mengejutkanku di hadapanku. Sialan kau Jeon Jungkook. “Kau idiot? Apa yang kau lakukan di pagi buta di rumah tetangga, huh?” dengusku menyenggol bahunya ketika melewati tubuhnya, “Ayo pergi sekolah bersama! Ini akan menjadi baik bila kita bersama dalam 7 hari ini! ayo Taehyung!”

Aku melihat Jungkook dari balik dinding dapur yang sedang meringkuk di atas sofa seperti seseorang yang kurang sehat. Aku meletakan gelas di atas meja, berjalan mendekatinya. “Kau sakit? Jangan sekolah kalau begitu” saranku agar ia tidak terlalu memaksakan tubuhnya untuk bekerja lebih keras, “Aku tidak ingin naik kelas seperti SeokJin. Kau sudah siap?” Dia membenarkan duduknya menghadapku. Jungkook memang pria keras kepala yang pernah kutemui, jelas-jelas bibirnya sedang kering serta warna pucat yang sudah tidak layak di katakan sebagai orang yang sehat.

“Kau yakin akan ke sekolah?” “Ya, dan mari kita bersenang-senang”

Pov’s Jungkook

Sudah seharusnya aku menerima saran Taehyung, menyuruhku untuk tidak pergi ke sekolah. Namun aku ingin sekali menuntaskannya hari ini juga. Jantungku rasanya sudah hampir berhenti berdetak sejak kemarin karena takut akan sikapnya yang akan curiga saat itu juga.

Aku segera bangkit dari ringkukkanku karena menahan dingin yang teramat sangat. Pria brengsek itu menyuntikkan sesuatu ketika aku sedang terlelap dalam tidurku semalam. Aku berusaha tampak segar di hadapan Taehyung, agar ia tidak akan mempertanyakan banyak hal padaku. Sungguh, tulang rusukku seperti ingin runtuh dan jatuh bersama Fecesku kali ini rasanya. “Taehyung, bisa bantu aku untuk berdiri?” Taehyung menoleh padaku, mengulurkan tangannya menarik tubuhku agar berdiri dengan benar. Aku tidak menatap wajahnya karena ia pasti kini sedang menatapku.

“Aku tidak mengizinkanmu untuk sekolah. Istirahatlah di sini” katanya membuatku terkejut, “Aku bahkan sudah mengatakannya, aku tidak ingin menjadi SeokJin” dia menoleh padaku, membantu tubuhku untuk duduk kembali di sebuah sofa sedang miliknya, “Kau sebenarnya mempunyai berapa telinga di kepalamu? Apa kau tidak dengar? Kau sedang tidak sehat, jadi tidurlah di sini dan biarkan aku mengizinkanmu pada guru” Ucapnya. Aku tidak berkutat apalagi mencegahnya lagi, karena rahangku seperti es yang tidak akan pernah mencair. Dengan sendirinya membeku. “Berjanjilah satu hal” aku menelan ludahku, “Jangan biarkan seseorang menikammu nanti. Lari” dia tersenyum meremehkanku, “Aku juga sudah menyusun strategi untuk itu. Dah” Taehyung melambaikan tangannya yang berarti aku akan menunggu hingga sore, di rumah Taehyung.

000End000

Taehyung meninggalkan Jungkook dengan kekhawatiran di dirinya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada bocah itu, hingga membuatnya sakit seperti orang bodoh. Untunglah Baekhyun tidak ada jadwal sekolah hari ini, jadi Taehyung menyuruhnya untuk menjaga Jungkook sampai ia pulang nanti.

Tidak seperti yang ia perkirakan seperti hari-hari yang lalu, suasana sekolah begitu sepi hanya sedikit siswa yang berkeliaran di koridor yang lumayan sempit. Taehyung penasaran dengan mendatangi petugas sekolah, sekedar untuk menanyakan apa yang sedang terjadi hari ini, dan mengapa sekolah menjadi sepi.

Dia berjalan menuju lantai 2 di mana petugas sekolah biasanya akan membersihkan setiap kelas. Taehyung menggunakan lift yang ada karena tidak ingin terlalu lama menunggu, “Maaf,” Taehyung menepuk pelan bahu petugas sekolah yang sedang menempel sesuatu di kaca jendela kelas, “Kenapa sekolah sepi sekali hari ini? Tidak seperti biasanya” katanya sambil melirik setiap sedut sekolah, “Kelas khusus akan menjalankan ujian besok. Apa kau siswa tipe C?” Taehyung mengangguk, dia mengakui bahwa ia adalah siswa tipe C seperti yang sudah ia deskripsikan sebelumnya, “Kau bisa pulang hari ini, hanya tipe B yang bersekolah hari ini”

Kebahagiaan bagai menyelimuti setiap sisi tubuhnya hingga ia tak ingin melepas selimut itu. Dia terlalu bahagia karena sekolah memberinya lebih dari 1 minggu untuk berlibur, selepas dari libur karena Guru sedang mengoreksi ujian tingkat 3. Taehyung segera pulang untuk bersantai dan bersenang-senang entah dengan siapa itu. Dia tidak memperdulikan dengan siapa dia akan bersenang-senang, namun yang terpenting ia akan bebas hari ini.

Sebelum ia melangkahkan kakinya untuk pulang, ia membeli beberapa Bubble Tea untuk mereka bertiga di rumah. Baekhyun memberinya uang lebih hari ini, maka dari itu dia dapat membelinya dalam jumlah banyak. “Labirin? Aku tidak pernah tahu tentang labirin yang ada di kota itu” suara itu seakan membuatnya tertarik untuk mendengarkannya selagi ia menunggu pesanan datang, “Dari mana kau dapatkan kabar itu?” Tanya seseorang yang sedang berbincang, “Aku mendapatkanya dari Pamanku yang tinggal di sana. Dan-“ dia mengecilkan suaranya, membuat Taehyung harus mendengarkannya lebih hati-hati tanpa menimbulkan kecurigaan, “Dan itu tempat dimana orang-orang mati karena dehidrasi” Taehyung menelan ludahnya kasar, membenarkan posisinya yang sedikit memiring tadinya. Dia membenarkan blazernya yang berantakan karena terselip oleh bangku. “Terimakasih”

“Kau sudah baikan?” Taehyung mendekati Jungkook yang masih terbaring di sofa, menyodorkan bubble tea pada Jungkook. Bualan bila Jungkook tidak menerimanya dan tidak meminumnya saat itu pula. Jelas saja, ia meminumnya tanpa henti hingga menyisakan beberapa bubble di dalam gelas kemasan itu. “Jungkook, apa pendapatmu mengenai labirin?” Jungkook memutar bola matanya menatap langit-langit, “Bukankah itu adalah tempat yang berisikan ruangan-ruangan buntu, namun ada satu jalur yang akan membawamu keluar?” Taehyung mengangguk, “Lalu?” Jungkook duduk di hadapannya saat itu pula, “Aku pernah mendengarnya sebelumnya. Akan ada yang mati nantinya, kau tahu itu kan?”

“Tunggu, telponku berbunyi” Taehyung sedikit melirik smartphone milik Jungkook dan melihat huruf ‘Y’ untuk nama kontak. Jungkook juga pergi meninggalkan Taehyung hanya untuk mengangkat telpon. Setelah beberapa lama, Jungkook berpamitan untuk pulang entah karena apa. Taehyung hanya mengiyakan dan membiarkan bocah itu pulang lekas.

Satu hari berlalu setelah Taehyung libur dari sekolah yang layaknya neraka itu. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang tanpa beban apapun di pikirannya. Taehyung hanya bahagia hari ini.

Pov’s Taehyung

Jika memang dunia seindah surga, biarkan aku tetap tinggal di sini sampai nanti bahkan sampai aku mati. Dan hidup bahagia di alam selanjutnya yang ku sebut dengan alam baka. Alam di mana aku akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatanku di dunia kepada Tuhan. Jikalau memang esok hari hidupku akan berakhir, maka raga ini telah siap pergi meninggalkan segalanya, dan berniat menyusul teman-temanku di sana.

Aku tidak pernah tahu kapan aku akan pergi meninggalkan mereka, begitu juga mereka. Rasa kerinduan yang selalu menyengat tubuhku seperti sebuah petaka yang tak akan pernah terhapus dari diriku, selama aku hidup. Merindukan gelak tawa mereka bersama, menjadi kesan tersendiri di sini. Membayangkan wajah polos Namjoon ketika dia ingin sekali belajar dance di kelas menari 8 bulan lalu, adalah sesuatu yang tak akan pernah aku lupakan.

“Sampai kapan kau akan berusaha mati-matian begitu?” kataku memulai pembicaraan singkat dengannya di atas balkon. Namjoon adalah orang yang pertama sekali datang dan terlambat untuk pulang, hanya sekedar membuktikan pada mereka bahwa ia bisa. Berulang kali dia berkata bahwa mereka adalah seseorang yang tak akan pernah bisa, tanpa sebuah proses. Ku pikir, itu hanyalah sesuatu yang ingin menghibur hatinya ketika dia sudah terjatuh, dan berusaha untuk bangkit.

Aku iri pada mereka yang berusaha keras untuk mencapai sesuatu. Ku rasa, aku mendapatkan sesuatu hanya karena aku beruntung, bukan karena aku harus bekerja keras. Misalnya saja, hanya untuk mengisi soal objektif yang mana banyak pilihan yang harus aku pilih, dan aku tidak tahu. Seperti sebuah sihir, perasaan itu seakan membawa pensil itu ke lembar jawab, dan menjawab soal tanpa peduli itu benar atau salah. Dan beruntungnya, aku benar memilih dan menjawabnya. Mereka selalu saja memujiku karena kepandaianku dalam materi, namun mereka tidak pernah tahu bahwa aku hanya beruntung. Sekali lagi, aku hanya beruntung.

Dengan sebuah keberuntungan yang selalu datang menghampiriku, aku tidak pernah sama sekali merasa terbawa oleh kenyamanan seperti itu. Setelah mengisi menggunakan instingku, aku akan memeriksanya kembali di rumah, dan mempelajarinya ulang. Hampir setiap hari, kegiatan itu selalu aku lakukan.

Kematian mereka juga ku jadikan sebuah ilmu untuk hidup. Kematian membuatku percaya bahwa Tuhan memang benar-benar selalu berada di sekeliling seseorang bahkan sampai ia mati. Pernah terbesit di pikiranku, bahwa Tuhan kadang-kadang tidak adil menjadikan seseorang menjadi yang lain. Misalnya mengambil nyawa seseorang secara cepat tanpa melihat masa depannya. Namun pikiran seperti itu, ku buang jauh-jauh sampai tak terlihat kembali. Tuhan tahu segalanya isi dari setiap pikiran manusia yang berusaha menyembunyikan rasa pada orang lain bahkan sebelum ia lahir di dunia. Tuhan selalu tahu itu. Dan sangat tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan tahu isi hati Jungkook yang semakin menggila bila ku lihat. Sungguh, setiap saat kadang aku memohon kepadaNya bahwa aku ingin tahu lebih dalam tentang Jungkook, meski itu bukan sepenuhnya hakku. Dia adalah anak yang periang bila aku kembali mengingatnya.

Keceriaan selalu tampak di wajahnya ketika bersamaku, meski ia mempunyai masalah begitu pula denganku. Kesenangan yang selalu terselimut di tubuhnya ingin sekali ku tarik dan membaginya untuk diriku sendiri mungkin. Namun keceriaan itu sekejab hilang sejak pertandingan golf itu di mulai. Keceriaan yang selalu ia tampakkan di depan setiap orang, berubah menjadi tatapan dingin yang mengerikan. Matanya yang selalu memerah itu, selalu membuatku takut jikalau mata kami bertemu dan saling mengamati di sisi lain.

Kehilangan rasa kebahagiaan pada dirinya itu, sudah pernah terjadi sebelumnya. Ketika kami baru lulus dari sekolah menengah pertama, kami berencana memasuki sekolah yang memiliki akreditasi lebih baik dan melepaskan berbagai siswa teladan. Hari itu, kami malakukan sebuah Tes yang ia sebut sebagai tes jalan menuju kematian. Sekolah yang kami harapkan, memiliki system militer yang kuat dan membuat semua orang harus muntah di hari pertama melakukan Tes. Karena mereka harus memakan satu piring besar nasi, dengan lauk yang sedikit hanya dalam waktu 5 menit. Dan juga, untuk membantu menelan makanan secara cepat maka mereka menyediakan air satu gelas penuh. Setelah makan, mereka mentitah kami para calon siswa untuk berolahraga mengelilingi halaman sekolah hingga 10 kali putaran.

Makanan yang mengisi perutku ingin sekali termuntahkan ketika sedang berlari. Bahkan sebelum melakukan lari, teman-temanku yang lain sudah memuntahkan isi perutnya terlebih dahulu di parit kecil halaman. Jungkook selama Tes, tidak pernah memuntahkan isi perutnya dan menyerah ataupun mengeluh di tengah jalan hanya karena ia lelah. Dia tidak pernah mengatakan hal apapun ketika tes sedang berlangsung di sana. “Kau ingin sekali masuk ke sekolah ini?” sahutku saat mereka memberi kami waktu 3 menit untuk duduk sebelum waktu tes yang lain akan di mulai, “Ya begitulah. Setidaknya aku membuat Kakakku bangga dengan aku masuk ke dalam sekolah militer ini.” ucapnya meneguk beberapa liter air ke lambungnya.

“Apa hanya itu tujuanmu?

“Ya ampun, tidak.” Dia mengecilkan suaranya, “Setidaknya mungkin aku akan belajar menembak seseorang di sini. Bukankah itu menarik, huh?”

Tes selanjutkan berada di dalam sebuah ruangan kecil di dalam gedung. Nama calon, akan di panggil satu persatu dan masuk ke dalam ruangan kecil itu. Ketika namaku di panggil, aku menyentuh paha Jungkook untuk sekedar membuat jantungku berhenti memompa darah secara cepat. Dia menatapku, meyakinkanku untuk masuk dan melakukan yang terbaik di sana.

Saat aku masuk, hanya ada seorang pria tua yang menyambut kedatanganku. Aku membungkuk sebagai tanda sopanku padanya sebagai orang yang lebih tua dariku. “Maju” katanya dan aku mengikuti seluruh perkataan pria itu untuk maju. Dia mendekatiku dan menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya, aku memejamkan kedua mataku karena terlalu takut atas perlakuan pria tua di depanku. Dia mentitahku untuk membuka seluruh bajuku di hadapannya saat itu juga. Aku masih diam dan tidak melakukan apapun ketika itu. Aku hanya masih takut.

“Buka” ulangnya hampir sudah 5 kali. Perlahan, ku buka bajuku dan memegangnya(baju) dengan tanganku ketika sudah di buka. Dia berjalan mendekat, meraba perutku yang sedikit membuncit lalu menciumnya. Aku takut sekali dengan hal yang ia lakukan padaku seperti itu. Tidak seharusnya ia melakukannya pada siswa SMP yang baru saja ingin lulus. “Buka celanamu” aku terbelalak, menjauhkan tubuhku dari tubuhnya yang aku takuti akan melakukan hal yang sama. “Ku mohon, bisa kita berhenti sekarang? Tidak ada gunanya, kau melakukan hal semacam ini” kataku sedikit berteriak. Ada sebuah jendela transparan yang menampakkan calon siswa yang lain di luar, namun mereka seakan tidak melihatku. “Kau berani melawan seniormu?!” dia berteriak padaku, mendekati tubuhku yang mundur karena takut.

“Ku bilang, buka celanamu! Itu prosedur?!” katanya, “Prosedur apa?! Ini pelecehan seksual!!” teriakku menendang kursi hingga menjatuhkan beberapa karamik di atasnya. Tubuhku terhenti di sebuah pintu dimana aku masuk, aku menendang-nendangnya dengan posisi masih menghadap pria tua itu di depanku. Mungkin saja kalau begini, Jungkook ataupun yang lain bisa melihatku dan menyelamatkanku.

“Jungkook!! Jungkook!!” Mungkin dia dengar. Seseorang mendorong pintu hingga aku ikut terdorong pula. Jungkook datang menolongku dan menghajar pria tersebut hingga jatuh ke bawah lantai kayu. “Apa yang kau lakukan?!” katanya menerjang tubuh pria itu hingga ia tidak berdaya lagi untuk bicara. Aku menangis saat itu juga. Jungkook berjalan mendekatiku yang meringkuk ketakutan di balik pintu. Dia meraih baju kaosku dan memakaikannya untukku, “Tidak apa-apa, aku di sini” lalu Jungkook membawaku keluar dengan sisa darah di telapak tangannya karena terkena keramik,

“Ayo kita pergi. Aku benci sekolah ini” ketika itu, aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi padanya nanti. Apakah dia akan mengecewakan kakaknya nanti atau apalah itu, yang jelas keesokan harinya ia datang dengan wajah yang lebam dan terdapat noda darah di leher miliknya. “Kau kenapa?” “Tidak apa” itulah pertama kali aku melihatnya kecewa.

2 hari setelahnya,

Polisi datang menghampiri kami di balkon tempat biasa kami bermain apapun itu. Aku terlalu shock untuk mengetahui segalanya, mengapa segerombol orang-orang itu datang menghampiri anak SMA. Dia mengeluarkan sebuah kartu, “Aku Hyunsik, petugas kepolisian Seoul. Bosku meminta kalian berdua untuk ikut bersamaku” kami seling bertukar pandang satu sama lain. Jungkook melihatku dengan kekosongan matanya, dan aku hanya menunduk tidak tahu harus berbuat apa ketika sudah begini. “Tenang, kantorku tidak membuat kalian merasa rugi” katanya, “Silahkan masuk”.

 

TBC

 

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 5

  1. lanjutttt donggg…..ff nya bagus…udah di tunggu lama banget tapi lanjutannya kok gak cepet di posting..penasaran lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s