FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 3


Author: @ismomos

 

Cast:

– Kim Taehyung/V (BTS V)

– Park Hayoung (OC)

– Min Yoongi (BTS Suga)

– Park Miyoung

 

Support Cast:

– Park Jimin (BTS Jimin)

– Jung Hoseok (BTS J-Hope)

 

Genre: Romance, School Life, Sad

 

Length: Chapter

 

Annyeong, author is back! Masih ada yang nunggu ff ini kah? Masih ada yang nunggu author kah? *plak* Masih ada yang inget sama cerita ff ini kah? *kebanyakan nanya lu thor* Oke i hope you like this part . Enjoy the story!^^

 

PhotoGrid_1400727614603

 

*flashback part 2*

 

“Kau—kau tidak mengingat siapa orang yang menyelamatkanmu, Tae?” tanya Hayoung memastikan.

Taehyung menggeleng dengan tatapan polosnya.

“Aku seperti pernah mengenalnya, tapi—tapi aku tidak mengingat siapa dirinya. Di dalam mimpiku, dia bilang kalau aku tidak boleh menjadi orang yang lemah. Kata-katanya sama seperti yang kau ucapkan waktu itu.”

Tidak salah lagi, orang yang dimaksud Taehyung adalah Miyoung. Tapi—kenapa Taehyung tidak mengingatnya? Sekuat itukah ia mencoba untuk melupakan Miyoung dan segala kejadian yang telah menimpanya? Hati Hayoung benar-benar terenyuh mendengarnya.

Taehyung menghela nafas, membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Ternyata ia tengah menatap Hayoung dengan kantung mata yang terlihat di bawah matanya.

“Hayoung-ah, boleh aku tidur bersamamu malam ini?”

 

*flashback end*

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Author’s pov*

 

 

Hayoung tidak dapat tidur dengan nyenyak. Bagaimana tidak? Saat ini ia sedang berbaring di atas kasurnya, bersama Taehyung. Gadis itu menerima permintaan Taehyung untuk tidur bersamanya malam ini. Mereka memang tidur agak berjauhan dan tak saling berhadapan. Taehyung yang tengah telentang dan Hayoung yang tidur dengan posisi miring membelakangi Taehyung. Tapi tetap saja, hal itu membuat Hayoung tidak dapat tidur.

“Hayoung-ah..” panggil Taehyung. Ternyata lelaki itu belum juga tidur.

Hayoung membalikkan posisi tidurnya menjadi berhadapan dengan Taehyung ketika lelaki itu memanggilnya. Tiba-tiba saat baru saja Hayoung membalikkan badan, Taehyung sudah menariknya ke dalam pelukan.

Hayoung terkesiap atas perlakuan Taehyung. Ia tengah berada di dalam dekapan Taehyung. Wajahnya menyentuh dada bidang lelaki itu. Taehyung memposisikan dagunya di atas kepala Hayoung. Tangan kanannya memeluk badan Hayoung erat, sedangkan tangan kirinya mengelus rambut gadis itu lembut.

Hayoung dapat merasakan detak jantung Taehyung yang berdegup kencang, atau itu degup jantungnya sendiri? Gadis itu sampai menahan nafas saking tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa.

“Hayoung-ah…” panggil Taehyung lagi.

“Hm?” sahut Hayoung yang masih di dalam dekapan Taehyung.

“Kau mau tahu alasan kenapa aku tidak membalas perlakuan Yoongi di lapangan basket siang tadi?”

Mendengar pertanyaan Taehyung, Hayoung sontak terkejut. Untuk apa Taehyung menanyakan hal itu kepadanya? Namun Hayoung hanya diam saja, tak menjawab.

Hayoung dapat merasakan Taehyung menghela nafas di puncak kepalanya. Tangan lelaki itu masih mengelus rambutnya.

“Aku tidak ingin melakukannya meskipun di dalam diriku ada sesuatu yang memberontak dan menyuruhku untuk membalasnya.” lanjut Taehyung.

‘Apa Taehyung mulai menyadari sosok V yang ada di dalam dirinya?’ batin Hayoung dalam hati. Ia masih belum merespon apa yang dikatakan Taehyung. Gadis itu membiarkan Taehyung melanjutkan kata-katanya.

“Aku teringat dengan apa yang kau katakan waktu itu. Aku tidak boleh membalas perlakuan orang yang membenciku. Dan aku juga pernah mendengar hal itu dari seseorang yang ada di mimpiku. Tapi aku sama sekali tidak ingat siapa orang itu. Hayoung-ah, apa menurutmu ada yang salah dengan ingatanku?”

Kali ini Hayoung mencoba melepaskan diri dari dekapan Taehyung dan menatap wajah lelaki itu dari jarak yang amat dekat. Hayoung dapat melihat pancaran kefrustasian sangat jelas terpancar dari sepasang mata itu. Hayoung menatap Taehyung dengan iba. Lelaki tu benar-benar lupa dengan Miyoung.

“Apa ada yang salah dengan diriku? Aku merasa jika aku sering melakukan hal-hal diluar kesadaranku. Apa karna itu aku tidak pernah ingat dengan apa yang terjadi?” tanya Taehyung, lebih kepada dirinya sendiri.

Hayoung menggeleng sambil tersenyum menatap Taehyung, walau di dalam hatinya ia ingin menangis melihat Taehyung yang seperti itu.

“Kau tidak pernah salah, Taehyung. Jangan menyalahkan—–.”

“Hayoung-ah, apa kau percaya padaku?” tanya Taehyung menyela ucapan Hayoung sambil menyejajarkan wajahnya dengan wajah Hayoung. Perlakuan Taehyung membuat Hayoung kembali menahan nafasnya.

“Te-tentu saja.”

“Benarkah?” tanya Taehyung memastikan. Matanya menatap Hayoung tepat di manik mata.

Hayoung mencoba menenangkan dirinya sendiri sambil tersenyum ke arah Taehyung.

“Ya, aku percaya padamu. Meskipun semua orang di dunia ini tidak ada yang memercayaimu, aku akan selalu percaya padamu. Karna kau adalah Kim Taehyung…”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

Aku masih belum dapat tertidur. Mataku tak henti-hentinya menatap wajah lelaki yang tengah tertidur di sebelahku. Kim Taehyung. Mata lelaki itu telah terpejam beberapa saat yang lalu. Taehyung tertidur dengan dengkuran halusnya. Mendengar Taehyung mendengkur membuatku tersenyum. Hal itu menandakan kalau ia tidur dengan pulas.

Aku menyentuh sudut bibirnya yang masih terluka akibat kelakuan Yoongi. Aku menyentuhnya pelan. Taehyung sedikit menggerakan kepalanya,-mungkin ia merasa sakit saat aku memegang lukanya-, namun kemudian ia kembali tertidur.

Kutatap dengan lekat wajahnya. Taehyung tertidur dengan bibir yang melengkung ke atas, seperti tengah tersenyum. Aku tahu, meskipun terlihat dari luar Taehyung adalah orang yang hangat dan selalu memberikan senyuman lebarnya, namun di dalam dirinya, ia menyimpan kesakitan yang amat sangat. Itulah alasan sosok itu muncul di dalam dirinya. Sosok V.

Taehyung mencoba melupakan semua rasa sakit dan kenangan buruk yang pernah dialaminya. Ia mencoba untuk melupakan masa lalunya yang kelam. Apakah karena itu ia tidak mengingat Miyoung eonnie? Atau ia sengaja melupakan eonnie karena Miyoung eonnie telah memberikan kenangan yang buruk untuknya?

Aku masih menatap wajah lelap Taehyung. Ia tadi bertanya apakah aku percaya padanya? Pertanyaan bodoh, Kim Taehyung. Meskipun kau melakukan kesalahan terbesar apapun aku masih akan tetap percaya padamu. Bagaimana bisa aku tidak percaya pada orang yang berkali-kali menyelamatkan hidupku?

Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya. Mungkin ini agak sedikit gila, namun aku benar-benar ingin melakukannya. Ku dekatkan bibirku dengan bibirnya, lalu kukecup bibir itu sekilas.

“Selamat malam, Kim Taehyung.” bisikku pelan, dan hanya dibalas dengan dengkuran halus Taehyung.

 

 

*     *     *     *     *     *    *     *

 

 

Aku sedang menyiapkan sarapan pagi untukku dan Taehyung, saat lelaki itu baru saja keluar dari kamarnya. Kulihat ia sudah berpakaian rapi dengan kaos basketnya. Tunggu dulu…..mau apa Taehyung dengan kaos basket itu?

“Selamat pagi, Hayoung.” sapanya sambil tersenyum lebar, seperti biasa. Aku tak menggubris sapaannya karna masih sibuk menatapnya dengan heran.

“Ah—aku lupa bilang kalau hari ini ada jadwal latihan basket di sekolah.” jelas Taehyung yang seperti bisa membaca pikiranku.

“Dihari libur seperti ini?” tanyaku sambil menaikkan sebelah alis. Taehyung menjawabnya dengan mengangguk sambil duduk di meja makan.

Yang benar saja, latihan basket sudah dilakukan empat hari dalam seminggu, dan ditambah lagi dengan jadwal ekstra pada hari libur? Aku hanya menggelengkan kepala.

Aku memberikan semangkuk bubur pada Taehyung. Lelaki itu langsung memasukkan sesendok bubur ke dalam mulutnya, namun tiba-tiba ia meringis kesakitan.

“Ya! Gwaenchana?” tanyaku panik melihat Taehyung meringis.

“N-ne. Gwaenchana–agh. Ssshhh… Aku lupa kalau aku punya luka di sudut bibirku.”

Aku melihat luka di wajahnya, masih ada yang belum mengering. Aku langsung menuju kotak obat yang ada di dapur dan mengambil obat merah untuk mengobati luka Taehyung.

“Memangnya tidak apa-apa kau latihan dengan kondisi seperti ini?” kataku sambil meneteskan obat merah pada lukanya.

Taehyung hanya mengangguk sambil meringis. Aku meniup-niupkan luka Taehyung agar obat merah itu cepat mengering. Namun tiba-tiba aku merasakan bau obat merah itu sangat menyengat hidungku, membuatku mengerjapkan mata. Bukan, aku terkejut bukan karna bau menyengat obat merah itu. Aku terkejut karna sekarang bibirku sudah menempel pada bibir Taehyung. Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Ya Tuhan, ini seperti de javu saat aku mencium bibir Taehyung semalam.

Aku merasakan bibir Taehyung mulai melumat bibirku, bukan hanya mengecupnya. Bolehkah aku membalas lumatannya? Tapi bagaimana jika aku malah membuat lukanya semakin sakit? Lumatan Taehyung membuatku gila, membuatku akhirnya membalas lumatan itu. Aku bisa merasakan Taehyung meringis dalam ciuman kami. Aku langsung menghentikan lumatanku dan menjauhkan wajahku dari wajahnya.

Kulihat Taehyung menggaruk bagian belakang kepalanya dan tersenyum canggung ke arahku. Aku membalas senyumnya tak kalah canggung. Bibirnya memerah, entah karna obat merah atau karna ciuman tadi. Ah.. Jantungku berdetak dengan tidak normal.

“Mungkin dengan cara itu, luka pada bibirku bisa cepat sembuh.”

Kini Taehyung malah mengerlingkan matanya sambil mengulum senyum, seperti sedang menggodaku. Ya! Aku baru tahu Taehyung bisa berbuat seperti itu. Melihat ekspresi lucu Taehyung, membuatku memukul bahunya pelan.

“Yak! Kalau kau berani melakukan itu lagi, bisa ku pastikan lukamu tak akan cepat sembuh. Karna aku akan melumatnya dengan kasar, huh.”

Taehyung terkekeh mendengar ucapanku. Aku menghela nafas lega. Taehyung sudah bisa tertawa seperti itu, tak ada lagi raut kesedihan dan pancaran kefrustasian pada mata dan wajahnya.

“Baiklah, aku berangkat sekarang. Annyeong, Hayoung-ah.” kata Taehyung yang sudah beranjak dari meja makan dengan tas olahraga yang tersampir dibahunya.

“Ya, hati-hati.”

Taehyung melambaikan tangannya seraya dengan sosoknya yang menghilang dari balik pintu. Aku menatap kepergian Taehyung sambil tersenyum. Namun tiba-tiba senyumku menghilang.teringat kalau sosok itu bisa saja berubah sewaktu-waktu. Apalagi hari ini ia akan bertemu dengan Yoongi, yang juga anggota tim basket. Aku langsung mengambil handphone yang ada di meja, lalu menekan layar handphone dan mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang.

 

To: Park Jimin

Jimin-ah, hari ini kau datang ke sekolah, kan? Ku mohon, tolong kau awasi Taehyung, ya? Aku sangat men

gkhawatirkannya. Jeongmal gomawo🙂

 

Tak lama setelah aku mengirim pesan, handphoneku bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Jimin sudah membalas pesan dariku.

 

From: Park Jimin

Kau tak perlu khawatir, Hayoung-ah. Aku akan selalu mengawasinya. Kau tenang saja^^

 

 

*     *     *     *     *     *     *   *

 

 

*Author’s pov*

 

Semua anggota basket sedang berlatih di lapangan sekolah, kecuali Yoongi. Lelaki itu malah duduk di salah satu bangku yang ada di sudut lapangan. Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya, ia sedang malas untuk melakukan apapun. Tak ada yang berani mendekatinya atau hanya sekedar menyapa.

“Annyeong Min Yoongi~” sapa seseorang dengan senyum lebarnya.

Hanya ada satu orang yang berani melakukannya. Jung Hoseok. Lelaki itu baru saja datang dan langsung menghampiri Yoongi. Hoseok memang bukan bagian dari anggota tim basket, namun saat Yoongi menyuruhnya datang ke sekolah, lelaki itu langsung datang.

Yoongi tak membalas sapaan Hoseok, matanya malah tak menoleh sama sekali. Ia masih memerhatikan sesuatu yang ada di depannya dengan tatapan datar. Hoseok duduk disebelah Yoongi, lalu mengikuti arah pandang lelaki itu. Ia tahu, Yoongi tengah menatap salah satu lelaki yang sedang berlatih basket di tengah lapangan. Siapa lagi kalau bukan Taehyung.

Hal itu juga yang membuat Hoseok datang kesekolah. Ia tak mau Yoongi kehilangan akal sehatnya,-lagi- dan menghajar Kim Taehyung. Meskipun ia tahu rasa sakit yang dialami Yoongi semakin bertambah karena lelaki itu.

Hoseok menghela nafas. Pandangannya tak lagi memandang ke arah yang sama dengan Yoongi. Ia kini memandang ke arah sahabatnya dengan lekat. Sebenarnya ini hanya masalah sepele. Masalah tentang cinta yang ditolak karna gadis itu lebih memilih bersama lelaki lain. Namun semua itu tidak akan pernah sepele bila berhubungan dengan Yoongi. Lelaki kerasa kepala itu tidak akan begitu saja melepas sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.

“Hari ini kita mau kemana?”

Pertanyaan tiba-tiba Yoongi membuat Hoseok merubah tatapan lekatnya menjadi tatapan heran, tak mengerti maksud pertanyaan Yoongi.

Yoongi mendecakkan lidah melihat Hoseok menaikkan sebelah alisnya. Entah kenapa dimatanya saat ini Hoseok terlihat sangat bodoh dengan ekspresi seperti itu.

“Hari ini aku ingin menghabiskan waktu denganmu.”

Lagi, ucapan Yoongi membuat mata Hoseok melebar. Ia bahkan sampai mengerjakan mata berkali-kali. Apa ia tidak salah dengar?

“Apa katamu?” tanya Hoseok dengan ekspresi yang dianggap Yoongi adalah ekspresi terbodohnya.

Yoongi melengos, membuang tatapannya dari Hoseok. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu benar-benar bodoh.

Hoseok tertawa saat tersadar dengan maksud Yoongi. Ia tertawa sangat keras saking tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Ya! Ya! Ya! Aigoo Min Yoongi~ apa yang membuatmu berubah seperti ini, huh? Ingin menghabiskan waktu denganku? Biasanya kau selalu menolak jika aku mengajakmu bermain dengan teman-teman yang lain.”

Hoseok tak dapat menahan tawanya. Air matanya sampai keluar akibat ia terlalu lama tertawa. Baru kali ini Yoongi berkata seperti itu, benar-benar sangat lucu bagi Hoseok.

“Anggap saja hari ini adalah hari terakhir kau bisa melihatku, karna mungkin besok aku tidak akan ada di hadapanmu lagi. Mungkin besok aku sudah ada di penjara..”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

Kurebahkan diriku di atas sofa. Lelah rasanya setelah membereskan seluruh sudut rumah seharian. Aku mengambil snack dan remote tv yang ada di meja. Aku mulai memakan makanan ringan itu sambil menyalakan tv. Ku tonton sebuah channel tv yang sedang menayangkan tayangan ulang drama yang ku lewatkan semalam. Ah betapa beruntungnya aku bisa menonton kelanjutan drama ini.

Disaat tengah asyik menonton, tiba-tiba channel tv tersebut menayangkan sebuah breaking news. Awalnya aku tak peduli, namun saat pembaca berita itu membacakan berita yang terjadi, sontak aku menegakkan posisi dudukku dan tiba-tiba jantungku berdebar sangat kencang.

Tempat itu…. Kejadian itu….

Tiba-tiba aku memikirkan Taehyung, jangan bilang kalau—-

BRAAAKKK!!!

Jantungku semakin berpacu cepat saat mendengar suara yang mengagetkanku. Suara dobrakan pintu. Tubuhku bergetar, akibat kekagetan yang semakin menyelimutiku. Dia baru saja kembali. Dia—–dia bukan Taehyung. Lelaki itu, lelaki yang baru saja masuk kerumahku adalah V. Ya, V. Matanya berkilat tajam, nafasnya tersengal.

Ya Tuhan! Jangan bilang kalau Taehyung baru saja melewati tempat itu saat kembali dari sekolah—

“Kim—ah V, apa yang ingin kau lakukan?”

V tak menggubris pertanyaanku, ia langsung berlalu menuju dapur. Aku mengikutinya dengan langkah takut. Apa yang terjadi padanya? Kenapa sosok V kembali muncul dalam tubuh Taehyung?

Dan tanpa ku duga, ternyata V sudah memegang sebuah pisau. Ia lalu mencondongkan pisaunya tepat dihadapanku.

“V–kau—mau—apa?!” tanyaku tercekat, sambil berjalan mundur menjauhi V. Sialnya, aku merasakan bagian belakangku menabrak tembok.

Lagi-lagi V tak menjawab. Ia malah memajukan langkahnya, membuat badanku semakin terhimpit dengan tembok. Namun ia sudah menjauhkan pisau itu dari hadapanku. V mengarahkan ujung pisau ke tangannya seolah olah ia ingin memotong tangannya sendiri.

“V, kumohon kau jangan—”

“Hayoung-ah, bolehkah aku membunuh orang?” tanyanya dengan nada dingin dan tajam. Nada paling dingin yang pernah keluar dari mulut V. Pertanyaannya membuatku tersentak kaget. Dia tidak serius dengan ucapannya, kan?

“Tentu saja tidak boleh, V. Kau tidak boleh membunuh orang. Tidak boleh!” kataku dengan penuh penekanan. Ku harap V segera tersadar dengan ucapannya.

“Tidak boleh, huh?! LALU KENAPA ORANG ITU TEGA MEMBUNUH ORANG, HAH?! KENAPA AKU TAK BOLEH MELAKUKANNYA SEDANGKAN ORANG ITU BOLEH MELAKUKANYA SAMPAI MEMBUAT NOONA MATI?! KENAPA HAYOUNG, KENAPA?!”

V kembali mencondongkan pisau itu ke hadapanku, tepat di depan wajahku. Perlakuannya membuatku menahan nafas. Kakiku terasa lemas sampai aku tidak yakin apa aku dapat berdiri kalau saja V tidak menghimpit badanku dengan tembok. Aku melihat mata V berkilat tajam. Aku tahu, ia benar-benar sedang marah saat ini.

“V, kumohon kau berhenti melakukan ini.” kataku dengan air mata yang mengalir membasahi pipiku. Aku sudah tidak bisa menahan segala perasaan yang menyelimuti hatiku saat ini.

“Jangan menangis, Park Hayoung. Aku tidak akan mungkin menyakitimu. Aku hanya bertanya, bolehkah aku membunuh orang, heum?!” tanya V dengan nada yang lebih lembut. Tapi tetap saja, itu terdengar sangat mengerikan untukku.

“YAK! KIM TAE—-AH V APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!”

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam rumahku. Park Jimin. Ia berteriak histeris saat melihat posisi V yang seakan-akan ingin membunuhku.

“Enyah kau!”

Jimin langsung menjauhkan tubuh V dariku. Benar saja, aku langsung terhuyung ke lantai saat V tak lagi menahan tubuhku. V terjatuh akibat dorongan Jimin. Pisau yang ada ditangannya terlepas begitu saja. V menatap Jimin dengan kilatan tajamnya. Ia tidak suka cara Jimin memperlakukannya seperti itu. Ia langsung berdiri dan masih menatap Jimin dengan tajam.

“Kali ini aku membiarkan kau, Park Jimin! Namun tidak untuk selanjutnya!” desis V dengan geram, lalu ia berjalan meninggalkanku dan Jimin, lelaki itu pergi keluar rumah.

BRAAAKK!! V menutup pintu dengan sangat kencang.

Jimin membantuku untuk berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Kakiku benar-benar tidak dapat digunakan untuk berjalan karena masih terlalu lemas dan gemetar.

“Mianhae. Aku tidak tahu kalau di tempat itu ada sebuah peristiwa pembunuhan dan sudah ada banyak polisi dan tim medis yang mengevakuasi. Kalau saja aku tahu, aku tidak akan membiarkan Taehyung melewati tempat itu. Mianhae Hayoung-ah..” kata Jimin penuh rasa bersalah.

Aku hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak menyalahkan Jimin. Ya, tempat yang diberitakan menjadi tempat peristiwa pembunuhan itu terjadi pada hari ini, adalah tempat yang sama dengan tempat pembunuhan yang terjadi beberapa tahun lalu. Memang seharusnya Taehyung tidak melewati tempat itu lagi. Tempat yang juga menyimpan kenangan buruk bagi Taehyung maupun V.

“Jimin-ah, apa menurutmu V bersikap seperti itu karna ia teringat dengan kematian Miyoung eonnie?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*flashback on*

 

*Author’s pov*

 

     Taehyung dan Hayoung baru saja sampai dirumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Akhir-akhir ini mereka disibukkan dengan pelajaran tambahan di sekolah menjelang ujian kelas tiga tingkat menengah pertama.

     Hayoung membuka pintu rumahnya yang terkunci dan langsung mendapati keadaan dalam rumahnya yang gelap, karena lampu yang ada di dalam ruangan tidak dinyalakan.

     “Noona belum pulang?” tanya Taehyung sambil menyalakan lampu.

     Hayoung menaruh sepatunya dan langsung berjalan menuju kamar Miyoung. Mengecek keberadaan kakaknya itu.

     “Belum, Tae. Apa dia ada jadwal mengajar kelas malam?”

   “Mungkin saja.” jawab Taehyung lalu ia berjalan menuju kamarnya.

     Hayoung memilih untuk merebahkan dirinya di sofa terlebih dahulu. Rasanya hari ini ia benar-benar sangat lelah.

     Drrt..drrtt..drtt…

     Hayoung merasakan sesuatu yang ada di dalam saku roknya bergetar. Handphonenya. Ada sebuah pesan masuk.

 

From: Miyoung Eonnie

     Hayoung-ah, apa kau sudah pulang? Maaf hari ini eonnie pulang larut malam, karena aku sedang membeli sesuatu untuk membuat kejutan ulang tahun buat Taehyung. Aku sudah memesan kue ulang tahun untuknya. Nanti sekitar pukul sebelas malam kau ajak dia untuk ke supermarket, ne? Biar aku menyiapkan kejutan untuk Taehyung dirumah. Arasseo? Sampai bertemu dirumah, Hayoung-ah.

 

 

     Hayoung membaca pesan dari Miyoung yang cukup panjang itu. Ia baru ingat besok adalah hari ulang tahun Taehyung. Untung saja Miyoung mengingatkannya.

     “Ada apa?” tanya Taehyung yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Hayoung.

     Hayoung memalingkan pandangannya dari layar handphone. Namun saat ia melihat ke arah Taehyung, tiba-tiba dadanya berdegup kencang.

     Bagaimana tidak? Saat ini, Taehyung, lelaki yang tengah berdiri di hadapannya dengan mengenakan celana pendek dan handuk yang menggantung dilehernya. Dan ia tak memakai baju untuk menutupi bagian atas tubuhnya! Wajar saja, lelaki itu baru selesai mandi dan langsung menghampiri Hayoung saat ia melihat gadis yang tengah duduk di ruang tamu itu terlalu serius memandangi layar handphonenya.

     Walaupun sudah dari kecil Hayoung terbiasa bersama Taehyung, namun tetap saja Taehyung yang sekarang bukan lagi Taehyung yang dulu. Kini lelaki itu sudah berumur belasan tahun dan mulai menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan pada tubuhnya. Hal itu yang membuat Hayoung malu melihat Taehyung dalam keadaan seperti sekarang.

     “Ada apa?” tanya Taehyung lagi, karena Hayoung tak menjawab pertanyaannya yang pertama. Ia tidak sadar dengan apa yang dirasakan Hayoung.

     “Uh? Ah–aniya. Aku—-aku mandi dulu ya.” jawab Hayoung salah tingkah dan langsung berlalu menuju kamarnya untuk mengambil handuk.

     Taehyung hanya menggelengkan kepala sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang masih menggantung di lehernya.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     Tok…tok…tok…

     Hayoung mengetuk pintu kamar Taehyung. Tak ada respon, ia mengetuk pintu itu sekali lagi.

     Tok…tok…tok… Ceklek. Taehyung membuka pintu kamarnya.

     “Hm?” sahut Taehyung dengan wajah mengantuk.

     “Kau sudah tidur?” tanya Hayoung yang jadi tak enak hati telah membangunkan tidur Taehyung.

     Taehyung mengangguk lemah, matanya masih setengah terpejam. “Memangnya kenapa?”

     “Hm—kau mau menemaniku ke supermarket ? Tiba-tiba saja aku ingin memakan ramen instan dan ternyata persediaan di dapur sudah habis.”

     Sebenarnya itu hanya alasan Hayoung saja mengingat ia tengah melakukan apa yang disuruh Miyoung melalui sms tadi.

     “Ah begitu? Baiklah, lagipula aku tidak akan membiarkanmu keluar malam-malam sendiri. Kajja!”

     Taehyung melebarkan matanya. Entah kenapa kantuknya hilang seketika. Ia berjalan di samping Hayoung yang memintanya untuk menemani gadis itu ke supermarket.

     Udara malam yang dingin langsung menerpa tubuh mereka saat keluar rumah. Jalanan di komplek rumah Hayoung sudah sepi, membuat Hayoung bergidik takut. Ia tak pernah keluar rumah semalam ini. Tanpa sadar ia mendekatkan dirinya ke arah Taehyung.

     Taehyung yang menyadari ketakutan Hayoung langsung menarik lengan gadis itu untuk mendekat ke arahnya. Ia tak melepaskan lengan Hayoung setelah itu. Tetap menggandeng lengan gadis itu dalam genggamannya.

     Hayoung masuk ke dalam supermarket yang mereka tuju dan langsung mengambil beberapa bungkus ramen instan dan membawanya ke kasir. Ia melihat Taehyung yang tengah menunggunya di depan supermarket sambil menguap. Hayoung jadi merasa kasihan dengan lelaki itu, namun saat ia teringat tentang kejutan ulang tahun untuk Taehyung, senyumnya sontak melebar.

   Setelah menerima beberapa lembar uang kembalian dari kasir, Hayoung langsung menghampiri Taehyung.

     “Sudah?” tanya Taehyung ketika Hayoung telah berada di sampingnya.

     Hayoung mengangkat kantung belanjaannya dan menunjukkanya pada Taehyung.

     “Sini, biar aku saja yang bawa.”

     Taehyung mengambil kantung belanjaan pada tangan Hayoung dan mulai berjalan meninggalkan supermarket. Hayoung berjalan mengikuti langkah lelaki itu.

     Mereka berjalan dalam diam, keduanya sama-sama tengah menikmati suasana malam di luar rumah yang belum pernah mereka rasakan. Hayoung memasukkan kedua tangannya pada saku hoodienya karena ia kembali merasa kedinginan.

     “ANDWAE!!!”

     Tiba-tiba sebuah teriakan memecah keheningan di antara mereka, membuat keduanya mematung. Rasa takut langsung menyelimuti Hayoung dan Taehyung.

     Teriakan itu berasal dari gang kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Taehyung baru ingin menghampiri tempat itu saat tangannya di tahan oleh seseorang. Hayoung. Gadis itu tengah memandangnya takut sambil menggelengkan kepala.

     “Jangan, Tae! Sebaiknya kita pulang saja.” bisik Hayoung, takut orang itu menyadari keberadaan mereka.

     Sebenarnya Taehyung juga merasa takut, dan akhirnya lelaki itu mengikuti ucapan Hayoung. Keduanya kembali melangkahkan kaki dengan langkah takut-takut.

     “YAAAK ANDWAEE!!! LEPASKAN!”

     Taehyung langsung berlari ke arah gang kecil itu ketika teriakan itu terdengar lagi, ia seperti mengenali suara orang yang berteriak tadi.

     “Kim Taehyung!” panggil Hayoung dengan cemas melihat Taehyung yang sudah berlari meninggalkannya. Mau tak mau ia mengikuti Taehyung yang berlari ke arah gang kecil itu. Langkah Hayoung terhenti ketika Taehyung juga menghentikan langkahnya. Saat ia melihat sesuatu yang membuat Taehyung menghentikan langkah, jantungnya serasa berhenti berdetak.

     DEG!

     Tak jauh dari hadapannya, ada seorang lelaki berbadan besar yang ingin mengambil tas dari seorang wanita,-yang berteriak tadi-. Dan ketika melihat siapa wanita itu, nafas Hayoung tercekat. Wanita itu…….Park Miyoung.

     Hayoung melihat Miyoung tengah berusaha mempertahankan tas miliknya dan sebuah plastik dengan kotak berukuran cukup besar di dalamnya. Kejadian yang dilihatnya saat ini benar-benar membuat Hayoung membeku. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu kakaknya itu.

   Berteriak meminta bantuan? Percuma, saat ini mereka tengah berada di gamg kecil di ujung jalan. Tidak ada dirumah di seklilingnya. Hanya ada tembok tinggi yang membatasi komplek perumahannya dengan jalan besar. Melawan lelaki itu? Yang benar saja, ia masih terlalu kecil untuk melawan lelaki itu, walaupun ia melawannya bersama Taehyung.

     “ANDWAEEE!!!!”

     Teriakan itu kembali terdengar. Tapi bukan berasal dari mulut Miyoung karena mulut wanita itu sudah dibekap oleh si lelaki berbadan besar. Teriakan itu berasal dari mulut lelaki yang berdiri di sebelah Hayoung. Kim Taehyung.

     Teriakan Taehyung membuat Hayoung sontak menoleh ke arahnya, tak terkecuali Miyoung dan lelaki bertubuh besar itu.

     Hayoung melihat keringat dingin mulai membanjiri tubuh Taehyung, tangannya terkepal kuat dan nafas lelaki itu tersengal, seperti sedang menahan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya. Tanpa di duga Hayoung, Taehyung sudah menjatuhkan kantung belanjaan yang dipegangnya dan mulai berjalan mendekati Miyoung dan si lelaki berbadan besar.

     “Kim Taehyung.” panggil Hayoung dengan bergetar. Tubuhnya masih terpaku membuat dirinya tak bisa menahan Taehyung.

     Lelaki itu menoleh ke arah Hayoung, membuat gadis itu terkesiap. Hayoung baru sadar ia telah salah memanggil nama. Kilatan mata itu. Tatapan tajam itu. Dia—-dia bukan Taehyung. Lelaki itu telah berubah menjadi sosok V. Ya Tuhan!

     Miyoung yang menyadari perubahan dalam diri Taehyung hanya bisa menggelengkan kepala sambil berharap dalam hati agar Taehyung atau V tidak lagi berjalan mendekatinya.

     ‘Jangan mendekat lagi, kumohon.” batin Miyoung dalam hati.

     Namun V terus saja berjalan mendekat dengan mata dan kilatan tajam itu. Ia tidak akan membiarkan lelaki-berbadan-besar itu menyakiti Miyoung, meskipun sangat tidak mungkin untuk dirinya melawan lelaki itu.

     “AAAAAAARGGGHHH!!” teriak V sambil menahan kemarahan yang ada di dalam dirinya. Tangannya masih terkepal kuat.

     JLEBB

     Langkah V terhenti seraya dengan tubuh Miyoung yang terkulai lemas tak jauh dari hadapannya. Tubuh itu jatuh dengan darah yang mengalir deras dari perut wanita itu. Tas dan plastik yang ada di tangan Miyoung terhempas begitu saja ke tanah. V mengerjapkan mata saat melihat apa yang baru saja terjadi di hadapannya. Ketika ia tersadar, matanya langsung menatap tajam ke arah lelaki berbadan besar itu,-lelaki yang baru saja menancapkan pisau pada perut Miyoung-.

     Ya, lelaki berbadan besar itu baru saja membunuh Miyoung.

 

 

         *     *     *     *     *     *     *   *

 

 

     Hayoung menerima ucapan duka dari saudara dan kerabat Miyoung yang mengunjungi tempat peristirahatan terakhir wanita itu. Isak tangis terdengar hampir di setiap sudut ruangan, mengiringi kepergian Miyoung. Hayoung kembali merasakan rasanya ditinggalkan oleh orang yang disayanginya, setelah kepergian kedua orang tuanya yang telah meninggal 7 tahun lalu akibat kecelakaan.

     Hayoung ditemani oleh Park imo, adik perempuan dari ayahnya. Tantenya itu juga sangat terpukul atas kepergian Miyoung, karena ia sudah menganggap kedua kakak beradik itu sebagai anaknya sendiri.

     Hayoung mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sudah tidak ada di sampingnya. Kim Taehyung,-atau yang sekarang tengah menjadi V-. Hayoung keluar dari ruangan itu untuk mencari V. Tak lama ia menemukannya, tengah terduduk di bangku yang ada di depan tempat itu. Hayoung langsung menghampiri V.

     “V…”

     Yang dipanggil tak menoleh, masih memandang lurus kedepan dengan tatapan kosong. Meskipun V memandang dengan tatapan kosong, Hayoung melihat kilatan tajam pada matanya.

     “Aku benci Taehyung!” geram lelaki itu dengan nada tajam.

     Hayoung menoleh kaget, tidak menyangka V akan mengatakan hal itu.

     “Aku benci Taehyung! Dia yang menyebabkan Miyoung noona mati!”

   “Tidak, V. Kematian eonnie bukan karna Taehyung.” kata Hayoung mencoba menenangkan V.r

     “Lalu ini apa?!” tanya V sambil membuang sebuah kotak besar yang ada di sebelahnya ke tanah.

     Kotak itu berisi sebuah kue ulang tahun dengan tulisan “Happy Birthday Taehyung” dan lilin dengan angka 15 yang menunjukkan umur lelaki itu. Kue yang didominasi warna biru itu terlihat hancur karena lemparan V. Hayoung melihatnya dengan tatapan sedih.

     “Noona pulang selarut itu karna ingin menyiapkan kejutan untuk Taehyung, kan? Kalau saja noona tidak pulang malam untuk itu, noona tak akan mati seperti sekarang. Ini semua karena Taehyung! AKU BENCI TAEHYUNG!”

     Hati Hayoung mencelos sakit mendengar ucapan V. Bagaimanapun Taehyung adalah bagian dari lelaki itu. Bagaimana bisa V membenci dirinya sendiri?

     “Aku juga benci lelaki sialan itu! Kenapa ia tega membunuh noona, huh?! Apa salah noona padanya?! Lelaki brengsek!”

     V masih tidak bisa menahan emosinya, bahkan ia sampai mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh anak seumurannya.

     “Tenanglah, V. Lelaki itu sudah dipenjara. Dia—-“

     “Meskipun sudah dipenjara, ia tak bisa membuat Miyoung noona hidup kembali, kan?”

     Ucapan V membuat Hayoung kehilangan kata-katanya. Memang benar apa yang dikatakan V. Hayoung masih sangat menyesalkan mengapa kejadian ini harus terjadi pada kakaknya.

     “Aku gagal menyelamatkan noona, Hayoung.” Kini nada suara V terdengar lirih. Dibalik kilatan matanya yang tajam, Hayoung melihat kesedihan dan penyesalan terpancar jelas dari kedua mata lelaki itu.

     ‘Jangan menyalahkan dirimu sendiri.’ batin Hayoung dalam hati.

     Hayoung juga merasakan kesedihan yang dirasakan V. Ia tahu, meskipun Miyoung adalah kakaknya, namun kesedihan V jauh melebihi rasa sedihnya. Selama ini V menganggap Miyoung sebagai pahlawannya. Sebagai orang yang paling berharga dalam hidupnya.

     “Aku akan melindungimu, Park Hayoung. Aku tak akan membiarkan siapa pun mengambil dirimu dari sisiku.” kata V yang sudah kembali dengan nada tajamnya.

     Mendengar itu, Hayoung hanya menghela nafasnya panjang.

 

 

*flashback off*

 

 

Mengingat kejadian yang terjadi 3 tahun lalu itu membuat Hayoung menyadari satu hal. Pantas saja Taehyung tak mengingat Miyoung, karena kenangan yang telah terjadi benar-benar buruk tentang kakaknya itu. Dan kejadian pembunuhan itu terjadi di depan mata V, bukan Taehyung.

Tiba-tiba Hayoung mengkhawatirkan sesuatu. Bagaimana kalau Taehyung mengingat semua yang terjadi dan mengetahui semua hal yang pernah dialami V? Akhir-akhir ini Taehyung juga sering menanyakan keanehan pada dirinya dan seperti mulai menyadari keberadaan V di dalam tubuhnya.

Hayoung menghela nafas dan memijat keningnya sendiri. Kemudian ia menatap Jimin yang masih duduk di sebelahnya. Hayoung menatap Jimin dengan lirih.

“Jimin-ah, kapan menurutmu semua ini akan berakhir?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

 

Aku memasukkan buku-buku ke dalam tas ketika bel pulang sudah berbunyi lima menit yang lalu, begitu juga dengan semua teman sekelasku.

Hari ini berjalan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa, tidak ada kejadian aneh, dan bagusnya lagi semua murid di sekolah ini terlihat sudah lupa dengan kejadian-Taehyung-dan-Jang-songsaemnim waktu itu, membuat aku tidak perlu mengkhawatirkan Taehyung lagi. Ia juga sudah kembali bergaul seperti biasa dengan teman-temannya. Seperti saat ini, saat aku menghampiri mejanya, Taehyung sedang asyik mengobrol dengan Jungkook,-yang duduk di sebelah mejanya-,sambil memasukkan bukunya.

“Taehyung, kau sudah selesai?” tanyaku padanya.

“Taehyung-ah, Hayoung-ah, aku pulang duluan, ne? Annyeong~”

Jungkook berlalu meninggalkan kami berdua di dalam kelas. Aku dan Taehyung membalas lambaian tangannya.

“Sudah. Mau pulang sekarang?” tanya Taehyung setelah ia memasukkan semua bukunya ke dalam tas.

“Heeum. Ah—tapi kau tunggu sebentar disini ya.” kataku yang awalnya mengangguk namun akhirnya aku malah menaruh tas ku kembali, ke atas meja Taehyung.

Taehyung memandangku heran, “Ada apa?”

“Aku ingin ke toilet dulu. Kau tunggu disini.”

Taehyung mengangguk, aku pun langsung berjalan menuju toilet.

Selesai membuang air kecil, aku keluar dari salah satu bilik toilet dan sebelum keluar aku menyempatkan diri untuk mengaca, merapikan penampilanku. Setelah itu aku membuka pintu untuk keluar dari toilet.

Siapa sangka sudah ada seseorang yang sepertinya sudah menungguku di depan toilet,-mengingat tadi hanya ada aku di dalam toilet-. Orang itu… Min Yoongi!

Dia langsung menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.

“Park Hayoung?” panggilnya dengan suara pelan.

Aku tak menyahut, malah ku buang pandanganku, lalu berjalan meninggalkannya. Namun tangan Yoongi langsung menahan tanganku, membuatku menghentikan langkah. Aku kembali menoleh ke arahnya dengan tatapan malas.

“Aku ingin bicara padamu..” katanya lagi, dengan suara pelan.

Aku sedikit terhenyak saat melihat tatapan matanya. Tatapan itu… mengapa aku melihatnya sebagai tatapan sendu dan….ada sorot penyesalan? Kemana tatapan dingin dan tajamnya yang selalu diperlihatkannya? Kenapa ia berubah seperti ini?

“Kumohon, Hayoung-ah.”

Kini ia berbisik ditelingaku, membuat seluruh tubuhku merinding. Namun aku mendengar suara itu benar-benar dengan nada memohon. Satu hal aneh lagi, sejak kapan Yoongi bisa bicara dengan nada memohon dan sehalus ini?

“Kumohon, aku hanya ingin—”

“Baiklah, katakan saja apa yang ingin kau bicarakan.” selaku dengan nada datar.

Yoongi mengangkat sebelah sudut bibirnya, mungkin ia senang akhirnya aku menerima pwrmohonannya.

“Tidak disini, Hayoung-ah.”

Aku menaikkan sebelah alisku, menatapnya bingung. Baru aku ingin menolak namun lagi-lagi aku melihat sorot mata memohon dari tatapannya. Belum lagi raut wajahnya yang mampu (sedikit) meluluhkan hatiku. Aku menghela nafas.

“Dimana?”

Yoongi tersenyum, lalu menarik lenganku yang sedari tadi digenggamnya.

“Di taman belakang sekolah. Kajja!”

Aku hanya mengikuti langkah Yoongi menuju taman belakang sekolah. Sebenarnya dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa Yoongi tiba-tiba berubah seperti ini?

Aku langsung membuang pikiran negatif itu jauh-jauh. Aku tidak ingin berprasangka buruk. Lagipula wajah dan tatapan Yoongi tadi——

SREEEEK!! AAAH!

Sontak aku berteriak karna tiba-tiba Yoongi menyeretku. Bukan. Ini bukan taman sekolah. Ini—–gudang?

Aku menahan nafas saat menyadari wajah Yoongi tepat berada di depan wajahku. Ia merapatkan tubuhku ke tembok. Perlakuannya membuatku terhenyak.

Tatapan sendu itu…. Raut wajahnya yang memohon…. sudah tak terlihat lagi pada wajahnya. Digantikan oleh tatapan tajam dan dingin yang selalu ditujukkan lelaki itu. Wajahnya menatapku datar dan tangannya yang menggengam lenganku semakin mencengkramnya dengan keras, membuatku susah untuk mengeluarkan suara.

“Kau terlihat jauh lebih cantik jika dilihat dalam jarak sedekat ini, Park Hayoung.” katanya dengan nada datar. Bukan nada memohon yang ia keluarkan seperti tadi.

Jari Yoongi bermain di wajahku, menyentuh setiap lekukannya. Aku menolehkan wajahku ke samping, tak rela jika Yoongi mempermainkanku seperti ini.

“Le-lepaskan!!” kataku sambil mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi tenaga lelaki memang jauh lebih kuat.

Yoongi mengunci bibirku dengan jari telunjuknya.

“Ssstttt tenanglah, Sayang. Aku hanya ingin menikmati wajahmu dari jarak yang sedekat ini. Tenang saja, aku tidak akan melakukan lebih.” katanya masih sambil menyentuh wajahku dengan jari-jarinya.

Aku terus mencoba untuk melepaskan diri darinya. Kulihat Yoongi mengambil sesuatu dari saku celananya. Dan ketika melihat apa yang baru saja dikeluarkannya, sontak aku menghentikan usahaku untuk melepaskan diri. Aku menahan nafas dan keringat dinginku mulai bercucuran.

Yoongi kembali menyentuh setiap lekukan wajahku. Namun kali ini bukan dengan jarinya, melainkan dengan benda yang baru saja dikeluarkan dari saku celananya. Sebuah pisau lipat.

“Kau—kau mau apa?”

 

TBC

 

 

Part 3 done~ Sebelumnya author minta maaf ya untuk part 3 ini terlalu lama proses pembuatannya. Jujur aja author sempet ngestuck dan terserang authors block(?), terlebih di bagian romancenya. Dan sebagai permintaan maaf, author sengaja bikin part ini lebih panjang dari part sebelumnya. Tapi kalo masih kurang panjang juga, auhor minta maaf (lagi) kekeke oke i need your comment, readers. Silakan dikomen sepuasnya, kalo perlu dikritik yang panjang lebar, karna author butuh banget komen dan kritik dari readers tercinta~ thankyou!^^

About fanfictionside

just me

23 thoughts on “FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 3

  1. first kah? maybe..
    akhirnya part ini nongol juga.. ohmygod itu yoongi mau ngapain?? huahhh taehyung.. kamu harus dateng!! tolongin hayoung.
    jujur aku lebih suka karakternya taehyung kok..
    cieee~ yang ciuman hehehe
    next part ditunggu🙂

  2. Bagus thor ;-; jgn lama2 thor lanjutannya, penasaran nih sama taehyung ;~; etapi td kukira si yoongi mau ngeyadongin hayoung/?

  3. yongi ? phsycopath ? segitu banget suka sama Hayoung😦 jangan2 waktu dia bilang dia mau jalan sma heosok sebelum di penjara itu karna dia mau bunuh hayoung ? arrghh gillaa lu oppa !!! thor jujur ya aku lebih suka karakter v dri pada taehyung coz v lebih badboy and err agresif xd next chap janga lama2 ne ? fighting !!!

  4. Ya ampun thor, berhubung aku sangat penasaran menurutku part ini kurang panjang, habis aku nungguin part ini lama banget sih.
    Sebenernya yoongi mau nglakuin apa sih thor, bukannya yoongi suka sama hayoung? Terus tuh kenapa nodong nodongin pisau segala?
    Hehe jadi banyak omong aku thor gara gara saking penasarannya, maap thor😀 ditunggu part selanjutnya

  5. aaaaa Kenapa TBC gak sabar Benerannnn,,, aaaa yoongi apa yang akan kau lakukannnn penasaran ,,, sukses ffnya kalau Bisa Panjangin Lagi ya hahaha V

  6. Aigoo aku nunggu updatean FF ini lamaa, tapi udah tergantikan dgn panjangnya part ini ^^
    Yoongi mau ngapain?!!!
    Ya ampun kasian taehyung gak bisa kontrok emosi jadi dia kaya berkepribadian 2 ;_;
    Tunggu chapter selanjutnya🙂

  7. Ya Allah kak, ga tau knapa suka deh sma jlan critanyah ~~
    cerita’a emang sedih ,bkin terhura >_<
    yoongi uedan jgn gilaa lu bang ,,maksudnya d penjara krna lu mau bnuh hayoung gitu /? OMG Hellooo sarap lu bang :v

    kak ku hrap part 4 nyah ga lma lho hehe #maksa

    smangat kak lanjutin :')

  8. omejiiiiii yoongi kenapa kamu jadi psycho gitu duh sadar nak masih ada aku disini yg mencintaimu dengan tulus lol duuh bisa banget ya tbc d bagian menegangkan kayak gini lol bacanya jd ikutan nahan napas duuh hayoung semoga tuhan melindungimu >< hwaa peansaran next chapt fighthing thor!!

  9. KYAAA !!! INI FF AKU UDAH TUNGGU” ;-; . Aish, yoongi kenapa sih ? dia terlalu terobsesi atau gimana ? dan taehyung huhuhu ;-; kasian sama dia. duh gak bisa komen lagi. Jangan lama” ya thor udah kepo banget. 짱 !!!

  10. wow segitu besar kah obsesi Yoongi untuk Hayoung? 0__0 ayodong Taehyun muncul buat nolong! Wah tragis banget ya cerita kematian Miyoung, jadi malah nambah V makin Trouma >< kyaaaaaaa penasaran sama cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s