FF/ OUR SECRET/ CNBLUE-EXO/pt. 1


Author : Naraya0694

Title     : Our Secret #1 : This is a Gift ?

Cast     : Heo Woori (OC)

CNBLUE’s Lee Jonghyun

EXO K’s Kai

Han Jieun (OC)

Genre  : Romance, School life, Friendship

Rating : NC

Length : Chaptered

Disclaimer : Cerita FF ini murni hasil pemikiran author sendiri, walaupun FF dengan jalan cerita seperti ini mungkin sudah banyak bertebaran, tapi author akan membuatnya dengan gaya dan cara author sendiri J

Our Secret 1

PERINGATAN !!! NC!! Kalau ada yang masih di bawah umur ikutan baca, dosanya tanggung sendiri-sendiri ya hahahah #plak. Tingkat NC nya (mungkin) akan bertambah seiring berjalannya cerita. Bagi yang gak kuat baca NC silakan skip.

Untuk poster FF ini memang menggunakan foto Bomi A Pink, tapi Bomi bukan salah satu cast FF ini. Maaf jika ada readers yang sudah berharap begitu. Karena pada dasarnya author suka Bomi, jadi silakan bayangkan tokoh utama ceweknya cantiknya kaya Bomi hehehe. Kalau gak jg gak apa sih ^^

Selamat Membaca

*****

Puluhan ribu kilometer jauhya dari Kota Seoul, di dalam sebuah pesawat terbang yang sedang mengangkasa, seorang pramugari menawarkan minuman pada seorang wanita yang usianya sudah memasuki akhir 30 yang duduk di deretan kursi dekat gang. Wanita tersebut kemudian menoleh pada penumpang di sebelahnya, seorang yeoja berambut hitam legam bergelombang dengan panjang melewati bahu yang sedang menatap ke luar jendela pesawat.

“Sayang, ingin minum?” Tawarnya pada yeoja yang berada di sampingnya itu.

Aniyo eommoni.” Tolak halus sang yeoja tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang dilihatnya.

Wanita itu kemudian kembali menatap ke arah pramugari dan menggeleng pelan sambil tersenyum lembut, sang pramugari yang mengerti maksudnya segera melangkahkan kakinya lagi menuju penumpang di belakang wanita tadi.

Wanita itu kembali mengalihkan tatapannya pada anak gadisnya yang masih asyik menatap ke luar, membelai rambutnya pelan. Dia tahu bahwa saat ini perasaan anak bungsunya itu masih tidak menentu bahkan lebih mendominan rasa sedih karena harus terpisah jauh dari teman-teman yang selama ini di dekatnya. Karena itu, wanita itu lebih memilih diam dan membiarkan anak gadisnya itu menenangkan pikirannya.

Yeoja itu sepertinya mulai merasa bosan menatap pemandangan yang terlihat sama saja dari tadi, hanya awan-awan putih –walaupun sebenarnya terlihat indah–. Dia mendapati eomma nya telelap di sampingnya, begitu juga sang appa yang berada di seberang kursinya.

Sebenarnya dia juga merasa matanya lelah, karena kurang tidur dan efek terlalu banyak menangis hingga matanya bengkak, tapi sulit baginya untuk memejamkan mata, karena setiap dia memejamkan mata, bayangan ‘mereka’ yang membuatnya harus memilih pilihan yang terberat dalam hidupnya saat ini selalu terbayang di benaknya. ‘mereka’ yang telah membuat hatinya hancur berkeping-keping bagaikan kaca yang dihantam sebuah palu keras. Mereka mereka mereka, mereka berdua.

Yeoja itu menghembuskan nafasnya kasar, terasa sulit untuk bernafas baginya selama beberapa minggu ini.

#Flashback#

~Busan~

“Woori-ah, keputusanmu sudah bulatkan tidak akan pindah?”

Yeoja berambut hitam legam bergelombang dengan panjang melewati bahu yang ditanya itu hanya menggeleng-geleng mendengar pertanyaan sahabatnya, mungkin sudah beberapa ratus kali Jinri –yeoja yang bertanya– mengulang pertanyaan yang sama itu.

Ayah Woori memang seorang anggota kepolisian berpangkat Komisaris yang sebelumnya berkerja di Kota Seoul. Saat Woori memasuki sekolah dasar ayahnya dipindah tugaskan ke Busan, dan sekarang ayahnya akan kembali dipindahkan ke Seoul.

“Sudah ku katakan, aku tidak akan pindah. Tidak akan pindah ke Seoul, tidak akan meninggalkan kalian bertiga. Titik.”

Dengan gembiranya –atau dengan alaynya– mereka berempat berpelukan, seperti tidak akan melepaskan satu sama lainnya.

Tiga orang sahabat terhebat yang pernah Woori miliki, begitulah menurutnya. Ada Jieun, sahabatnya sejak bangku menengah pertama hingga sekarang, sahabat yang tidak pernah berbeda sekolah ataupun kelas sekalipun dengan Woori itu. Kemudian Jinri dan Jinah, sahabat yang mulai dikenal Woori sejak awal sekolah menengah atas ini, samahalnya seperti Jieun, Jinri dan Jinah pun tidak pernah berbeda kelas dari Woori.

“Eheemm.” Adegan peluk-pelukan empat serangkai itupun terhenti saat Kai, kekasih Woori dari kelas sebelah berdehem pelan. Dan ketiga sahabat Woori mengerti maksud dari namja berkulit sedikit gelap itu, tentu bermaksud membawa pergi Woori, biasalah, namanya juga orang pacaran.

“Aku ke luar dulu.” Pamit Woori sambil mengiktui langkah Kai menuju luar kelas.

“Kai-ah !! Sebentar lagi ulang tahun Woori, apakah kamu sudah mempersiapkan hadiah ? Hadiah apa yang kau berikan?” Teriak Jinah lantang. Jika saja saat ini posisi mereka berdekatan, Woori pasti akan menutup mulut Jinah yang terkadang memang suka seenaknya saat bicara tanpa melihat situasi kondisi dimana mereka berada.

Sebagai jawaban, Kai tersenyum.

“Rahasia dong !”

*****

Hari itu Woori memang sengaja berangkat ke sekolah lebih siang daripada biasaya, karena memang setelah ujian semester seminggu yang lalu, tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar, siswa-siswi pergi ke sekolah hanya untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka. Hingga waktu pembagian raport nanti.

Woori yang saat ini kelas 2, merasa optimis dia dan ketiga sahabatnya + kekasinya akan naik kelas 3. Karena nilai-nilai mereka tidak ada yang mengkhawatirkan. Apalagi Woori termasuk siswa pintar di kelasnya, walaupun tidak menduduki peringkat 1 atau 2 tapi yeoja berkulit putih, hidung mancung, dengan mata agak sipit, perakawan tidak terlalu tinggi itu selalu masuk peringkat 10 besar di kelasnya.

Suasana sekolah hari ini cukup berbeda, biasanya dari gerbang masuk, koridor-koridor, hingga kelas selalu dipenuhi siswa-siswi yang berkeliaran kesana kemari, namun kali ini hanya beberapa siswa yang ia temui sejak di gerbang tadi, dan anehnya beberapa siswa itu menatapnya sambil berbisik. Apakah datang agak siang merupakan hal yang aneh saat tidak ada pembelajaran begini ? Lalu kemana siswa-siswi yang lain ?

Saat memasuki kelaspun Woori masih merasakan hal yang sama, hanya ada sekitar lima orang yang ada disana, dua diantaranya Jinah dan Jinri.

Annyeong” Sapa Woori ceria. Namun hanya sekilas senyum yang ditunjukkan kedua sahabatnya. Membuat tanda tanya di kepala Woori semakin besar. Hingga seseorang yang sangat tidak ingin Woori lihat memasuki kelas mereka. Saingan Woori sejak kelas 1, Jiyeon.

Jiyeon menatap Woori dengan tatapan merendahkan.

“Empat orang yang tidak lebih dari seorang pelacur. Tidak tahu malu.”

Mwo?” Woori sudah siap memberikan sebuah tonjokan keras ke wajah Jiyeon jika saja tidak ditahan oleh Jinah dan Jinri. Pagi-pagi sudah menyulut emosi.

“Sepertinya pelacur yang satu ini belum mengetahui bahwa seorang sahabat pelacurnya sudah tertangkap dan disidang di ruang Kepala Sekolah.”

Dugaan Jiyeon benar, karena wajah Woori terlihat bingung dengan semua ucapannya. Woori jelas belum tahu apa-apa.

“Kami yang akan menjelaskannya padamu Woori-ah.” Ucap halus Jinri.

“Percuma dijelaskan, lebih baik kamu ke ruang Kepala Sekolah sekarang dan lihat dengan mata kepalamu sendiri bagiaman sahabat pelacurmu itu akan dikeluarkan dari sekolah.”

Woori melepaskan tangan Jinah dan Jinri kasar, kemudian melangkah keluar kelas. Dengan sengaja dia menabrak bahu Jiyeon, karena masih tidak terima dengan kata-kata kasar yeoja itu.

“Sialan kau.” Umpat Jinah saat melewati Jiyeon, menyusul Woori.

Jiyeon hanya tersenyum licik, merasa dirinya telah menang.

*****

Suasana di depan ruang Kepala Sekolah sangat ramai, banyak siswa yang berkumpul. Tidak heran jika kelas-kelas banyak yang kosong, ternyata mereka berkumpul disini, saling berebut agar dapat mengintip keadaan di dalam ruangan, saling dorong-dorongan dan sikut-sikutan.

Woori yang mulai merasa kebingungannya sudah mencapai puncak ikut berdesakan berusaha mengintip ke dalam ruang Kepala Sekolah, dia benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Ku dengar yeoja itu bernama Han Jieun dari kelas 2-3.”

“Mengerikan, dia hamil diluar nikah. Saat masih berstatus pelajar seperti ini.”

“Sepertinya dia tidak perlu repot-repot belajar untuk menghadapi ujian kelulusan dan ujian masuk universitas. Hahahaha”

Yeoja itu mencoreng nama baik sekolah. Memalukan. Jika aku jadi dia, aku akan memilih untuk bunuh diri saja.”

Woori mengepalkan tangannya kuat. Ingin rasanya dia menonjok satu satu siswa yang berkomentar buruk tentang sahabatnya itu. Mereka tahu apa tentang Jieun ? Woori yang sangat mengenal Jieun melebihi siapapun. Jieun yeoja baik, selalu menjaga pergaulan, selalu berfikir dewasa dan selalu memikirkan akibat dari tindakannya. Hamil ? Woori yakin semua ini hanyalah kesalahan besar. Mana mungkin Jieun hamil. Saat ini memang Jieun tidak memiliki kekasih, selain itu Jieun tidak akan melakukan hal yang mengerikan itu apalagi sampai hamil. Maldo andwe.

Namja yang menghamilinya juga ada di dalam kan ? Bahkan dia sudah mengaku bahwa dia ayah dari bayi yang di kandung yeoja itu.”

Emosi Woori semakin meningkat. Dia bersumpah akan membunuh namja sialan yang telah merebut masa depan Jieun. Namja itu tidak akan lepas dari tanganWoori, akan dia pastikan itu, jika memang Jieun terbukti hamil.

Pintu ruang Kepala Sekolah tiba-tiba terbuka, terlihat Kang seonsaengnim mulai menghalau siswa-siswi yang memenuhi depan ruangan. Mulai berusaha membubarkan siswa-siswi yang sedang ingin tahunya terhadap masalah yang ada.

Saat pintu terbuka Woori sempat melihat ke dalam ruangan. Dia sempat melihat Jieun yang menunduk lemas sambil di dampingi orangtuanya. Namja sialan itu juga ada di sana. Woori memicingkan mata untuk melihat lebih jelas wajah namja itu. Namja itu, Woori sangat mengenalnya. Wajah itu, hidung itu, mata itu, bibir itu, dangaya rambut itu.

Itu Kai !Namja itu Kai !

Dalam hitungan detik Woori merasa dunianya hancur berkeping-keping. Kakinya tidak mampu untuk berpijak, lututnya terasa lemas. Tulang-tulang rangkanya seperti telah terlepas dari tubuhnya, tinggal menyisakan dirinya yang tidak berdaya dengan hati yang tak berbentuk lagi.

Perlahan Jinah dan Jinri memapah tubuh Woori yang tak berdaya menjauh dari ruang Kepala Sekolah yang masih ramai menuju taman belakang sekolah. Tempat favorit mereka untuk berkumpul.

Isakan Woori mulai terdengar begitu mereka duduk di bangku taman belakang sekolah.

“Apakah ini nyata ? Aku tidak sedang bermimpi ? Jj-jieun dan Kai ?”

Jinah dan Jinri tidak dapat berkata apa-apa, selain memeluk Woori erat. Berusaha mengurangi rasa sakit yang sahabat mereka rasakan, walaupun jelas tidak mungkin. Jinah dan Jinri juga sama sedih dan shocknya dengan Woori, mereka juga tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi pada mereka. Kisah persahabatan yang sedang dilanda badai besar, tidak akan berkahir walau matahari muncul.

*****

Isakan Woori semakin nyaring terdengar, air mata deras membasahi pipi mulus yeoja itu. Terlebih saat Woori sadar kedua orang yang telah menghancurkan hatinya itu terlihat menuju arahnya. Jieun melangkah diikuti Kai di belakangnya.

Keadaan Jieun sama parahnya dengan Woori. Air mata juga membanjiri pipi yeoja berambut sebahu itu, isakan-isakan juga terdengar, dan mata bengkak Jieun jelas terlihat.

“Woori-ah, mianhae.” Tangisan Jieun semakin deras saat mengucapkan kata-kata itu.

Jinah dan Jinri juga menangis, mereka merasakan sangat sedih mendengar suara Jiuen yang terasa menyayat hati itu.

Saat ini bagi Woori kata maaf tidak ada artinya. Tidak akan merubah apa yang sekarang yang terjadi. Tidak akan merubah perasaan yang dia rasakan sekarang, rasa sakit yang sudah terlanjur mendalam.

‘kalau tahu akan merasa bersalah padaku seperti ini, kenapa kau lakukan itu Jieun-ah’ Woori tidak sanggup membuka mulutnya, hanya di dalam hati dia mampu berbicara.

“Kalau kamu marah, yang pantas menerima kemarahanmu ini hanya aku Woori-ah, Jieun sama sekali tidak bersalah. Ini semua salahku, dari awal semua salahku. Lampiaskan semua kemarahanmu padaku, jangan pada Jieun. Jaebal.” Kali ini Kai angkat bicara.

Mendengar suara namja yang sebenarnya sampai detik ini masih ia cintai hanya membuat rasa sakit hati Woori makin menjadi, bahkan emosi mulai muncul.

‘teganya kamu Kai’

Tanpa diduga-duga Woori berdiri dan berjalan ke arah Jieun dan Kai, dalam hitungan detik sebuah tonjokan keras melayang diwajah tampan Kai, namja itu tersungkur. Jieun, Jinah dan Jinri mulai panik. Dengan cepat Jieun menghampiri Kai, membantu namja itu bediri kembali, darah segar keluar dari hidungnya.

Jinah dan Jinri hanya dapat memilih mengikuti Woori, takut-takut jika hal buruk terjadi karena emosi yeoja itu. Karena ini pertama kalinya mereka melihat Woori bertindak kasar. Jelas karena Woori anak seorang anggota kepolisian, orang tuanya tentu menjauhkan anak mereka itu dari hal-hal berbau kekerasan. Walaupun memang selama ini Woori sering berkomentar kasar saat melihat hal-hal yang dianggapnya tidak pantas ‘akan kubunuh orang yang berani menggangu ketiga sahabatku’ ‘liat saja, suatu hari akan kusumpal dengan bola basket mulut si Jiyeon itu’ begitu, tapi jelas itu hanya sebatas di mulut saja, karena memang Woori tidak akan mencoreng nama baik ayahnya.

Tapi kali ini tindakan Woori cukup mengejutkan, walaupun Kai seharusnya bersyukur Woori tidak benar-benar membunuhnya seperti yang sebelumnya dia katakan.

“Jangan berharap aku akan memaafkan kalian berdua, karena itu tidak akan pernah terjadi. Dan saat kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak saling mengenal. Karena di dalam hidupku aku tidak pernah mengenal yang bernama Jieun dan Kai.”

Kai memeluk erat Jieun. Bahu yeoja yang dicintainya itu bergetar, karena jelas Jieun tidak menyangka persahabatan mereka yang sudah lama terjalin akan kandas seperti ini.

*****

Suasana hening, tidak ada yang mulai berbicara setelah Woori menyampaikan berita buruknya tadi. Aku akan ikut pindah ke Seoul bersama orangtuaku, eonni ku juga sudah menungguku di Seoul.

Mereka bertiga –Woori, Jinah dan Jinri– larut dalam pikiran masing-masing, hingga tidak ada yang dapat mereka lakukan selain berpelukan. Ini keputusan berat bagi Woori, tapi kedua sahabatnya itu tidak dapat menahannya karena tinggal di Busan hanya akan memperburuk perasaan Woori.

Mata Woori masih terlihat bengkak. Sudah beberapa hari setelah kejadian di sekolah, Woori tidak pernah ada ke sekolah lagi, lebih banyak mengurung diri di kamar dan menangis. Kedua orangtuanya tidak mengetahui masalah utama anak gadis mereka itu terus-terusan menangis, mereka hanya mengira Woori sedih karena keputusannya untuk pindah, walaupun kedua orangtuanya tidak memaksakan Woori untuk ikut pindah, karena bisa saja sebenarnya Woori tetap di Busan dan tinggal bersama keluarga di Busan.

‘aniyo, eommoni, aboji. Woori benar-benar akan ikut ke Seoul. Saat lulus nanti Woori akan kuliah di Seoul jugakan. Jadi selama kelas 3, Woori sudah bisa hafal Kota Seoul lebih dalam. Nanti susah kalau masuk kuliah baru pindah ke Seoul. Lagipula Gayoon eonni sudah memaksa Woori untuk ikut ke Seoul.’ Katanya saat itu. Kedua orangtuanya hanya menggangguk tanda setuju.

Saat ini mereka bertiga berada di rumah Jinah, kedua orangtua dan ketiga adik Jinah sedang berada di rumah neneknya, jadi Jinah meminta kedua sahabatnya menginap di rumahnya, sekalian merayakan ulang tahun Woori, karena hari ini tepat ulang tahun Woori. Walaupun akhirnya jadi acara berlinang air mata bersama.

Keuman…keuman.. kita berkumpul di rumah Jinah untuk berpestakan, jangan jadi acara nangis gini dong.” Woori berusaha menghidupkan suasana.

Jja !” tiba-tiba Woori terlihat bersemangat, mengeluarkan tiga buah mini dress dari tas yang dia bawa. Kedua sahabatnya terlihat bingung.

Ya. Karena kita sudah dewasa, jadi boleh dong kita sedikit bersenang-senang ke luar ?”

Woori kemudian menjelaskan ide gilanya kepada Jinah dan Jinri. Woori mengajak kedua sahabatnya pergi ke club malam, bersenang-senang, melupakan semua beban pikiran mereka. Jinah sih setuju-setuju saja karena dia memang menyukai untuk melakukan hal gila dan bebas, sedangkan Jinri masih berfikir, dia masih takut untuk ikut. Bagaimanapun mereka masih (calon) anak kelas 3 sekolah menengah atas. Masih di bawah umur.

Namun setelah didesak-desak akhirnya Jinri memberanikan diri untuk memilih ikut melakukan hal gila itu.

Kajja ! aku yang traktir”

*****

Woori, Jinah dan Jinri terlibat takjub saat memasuki salah club malam yang cukup ternama di Busan itu, karena ini pengalaman pertama mereka. Suasana club sama seperti yang biasanya mereka lihat di drama televisi. Banyak orang yang menikmati minuman dan berjoget menikmati alunan musik club yang keras.

Malam ini mereka terlihat seperti anak kuliahan yang dewasa, tanpa ada kesan kekanakan yang terlihat. Woori mengenakan mini dress berwarna hitam yang panjangnya beberapa belas centi di atas lutut, dengan belahan dada pada bagian depan yang membuat dadanya sedikit terekspos dan paha mulusnya tentu tidak kalah menjadi pemandangan indah juga. Dengan olesan make up sedang dan lipstick pink yang mewarnai bibirnya, rambut terurai indah membuat kecantikan alami yeoja itu semakin terpancar.

Tidak kalah cantik dari Woori, Jinahpun tampil mempesona, olesan make up yang ditemani mini dress berwarna soft pink yang lebih pendek dari Woori yang memperlihatkan paha yeoja itu, ditambah bagian belakang dress yang lebih mengekspos bagian belakang tubuh Jinah yang mulus.

Sedangkan Jinri lebih terlihat tertutup, walaupun tidak menutupi kecantikannya. Dengan dress selutut berwarna soft blue, tanpa ada bagian depan atau belakang yang terbuka, hanya beberapa hiasan pada dressnya tapi tetap terlihat elegan karena memang ketiga gaun yang mereka kenakan adalah milik Gayoon eonni, kakak perempuan Woori yang saat ini berkerja di Seoul, semua gaunnya itu dibeli di Seoul dan dari perancangan yang terkenal sehingga ketiga gaun itu jelas mempesona siapa saja yang melihatnya, terutama dikenakan oleh tiga yeoja cantik bagai bidadari itu.

*****

Ketiga yeoja cantik itu sempat tergidik saat meminum minuman yang mereka pesan, mereka terkenjut dengan sensasi minuman beralkohol yang mereka nikmati, nama minumannya saja mereka tidak ingat apa, karena mereka memesan asal-asalan pada sang bartender.

Sekitar sepuluhan menit kemudian Jinah mulai tertarik untuk ikut berjoget bersama orang-orang yang seding menikmati musik yang diiringi DJ di lantai dansa club. Woori menolak karena masih merasa belum mood untuk ikut berjoget, jadi dia membiarkan Jinah dan Jinri meninggalkanya duluan. Woori melanjutkan menikmati minuman beralkoholnya hingga habis.

“Joon-ah, pesan dua minuman yang seperti itu, berikan salah satunya untuk yeoja cantik ini.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria di samping Woori, Woori menoleh karena sadar dengan maksud ‘yeoja cantik ini’ adalah dirinya.

Bartender yang dipanggil Joon tadi hanya memberikan isyarat ‘OK’. Sepertinya sang bartender sudah mengenal pria yang duduk di samping Woori itu. Pria dengan senyum manis ditambah lesung pipi nya yang membuat senyumnya semakin menawan, dari perkiraan Woori pasti pria itu orang kaya, karena terlihat dari setelan pakaiannya dari atas hingga bawah, semua merk terkenal.

“Anggap itu sebuah perkenalan dariku.” Ucap sang pria, tidak lupa dengan senyum yang tersungging di wajahnya. Oh God, tampannya ! batin Woori.

Saat minuman yang dipesan disuguhkan, Woori sempat bertoast dengan pria itu. Minuman yang sama yang sebelumnya Woori pesan. Pria itu tersenyum melihat cara Woori meminum minumannya.

“Tidak terbiasa dengan minuman beralkohol ?”

Woori tidak menjawab pertanyaan pria itu. Apakah sebegitu kentaranya terlihat Woori tidak biasa meminum minuman beralkohol khas club malam ? bisa ketahuan kalau dia masih dibawah umur kalau begini. Riasan wajahnya kurang menampakkan kedewasaankah ? Woori sedikit takut. Bagaimana jika dia katahuan melanggar batas umur yang seharusnya ? apakah orang tuanya akan dipanggil. Aiiisshhhh

Namun beruntung si pria manis itu tidak melanjutkan pertanyaan tentang minuman tadi, dia lebih memilih bertanya tentang Woori, sepertinya pria itu tertarik dengan Woori. Walaupun tidak bisa Woori pungkiri dia juga cukup tertarik pada pria manis yang sepertinya lebih tua beberapa tahun darinya itu.

Saat ditanya, Woori terpaksa berbohong dan mengaku sebagai mahasiswa universitas untuk menutupi identitas aslinya.

“Sedang bertengkar dengan pacarmu ?” pria itu seperti bisa menebak apa yang terjadi pada Woori.

eoh, lebih tepatnya baru putus.”

“Tidak usah dipikirkan, yeoja cantik seperti mu akan gampang mencari pengganti namja itu.”

Woori tersenyum dan menggangguk.

Pria itu kemudian mengajak Woori untuk turun ke lantai dansa, dengan senang hati dia menerima tawaran pria manis itu. Setelah banyak mengobrol dengannya tadi, Woori sedikit menarik kesimpulan bahwa pria –yang bahkan belum Woori ketahui namanya itu– merupakan pria baik-baik, karena cara bicara dan sikapnya yang sopan dan nyaman saat diajak bicara.

Di lantai dansa Woori tidak bisa menemukan Jinah dan Jinri diantara kerumunan orang yang ada di sana, walaupun Woori tidak ambil pusing karena yakin sahabatnya baik-baik saja.

*****

Dentuman musik yang keras, membuat semua orang yang berada di lantai dansa bergerak meliuk-liukkan tubuh mereka. Termasuk Woori yang semakin asyik menggerakkan badannya. Kali ini dia benar-benar membebaskan fikirannya dari masalah-masalahnya sekarang. Benar-benar memberikan tubuhnya waktu untuk bersenang-senang. Melupakan segalanya.

Di depannya sang pria manis juga sedang menikmati musik sambil menggerakkan badannya. Posisi mereka sangat dekat, tapi Woori tidak mempermasalahkan itu, bahkan tanpa ragu Woori meletakkan tangannya di bahu pria manis itu, sambil tersenyum menggoda. Tidak kalah menggoda, si pria manis juga menunjukkan senyum berlesung pipi menawan andalannya, membuat Woori sempat terhanyut dalam pesona pria itu. Hingga tanpa Woori sadari bibir pria itu sudah menempel tepat di bibirnya.

Mata Woori membulat, dia benar-benar tidak sadar kapan pria itu mulai mendekatkan wajahnya, hingga yang dia rasakan hanya bibir lembut pria itu. Otaknya berfikir untuk mendorong tubuh pria itu lalu menapar keras pipi pria itu, tapi tubuh Woori berkata lain, tubuhnya malah menikmati sensasi sentuhan pria itu, bahkan bibir Woori ikut membalas lumatan lembut yang dimulai pria itu.

Ciuman yang tak bertahan lama, karena tubuh mereka berdua tersenggol-senggol oleh orang lain yang sedang berjoget. Pria manis itu menarik tangan Woori dari kerumunan di lantai dansa, membawanya ke salah satu bagian club menuju basemant tempat parkiran mobil yang remang-remang. Lagi-lagi tubuh Woori tidak mampu menolak apa yang dilakukan pria itu.

Dengan cepat bibir pria itu kembali menempel pada bibir pink cery Woori, tubuh Woori terbentur dinding saat pria itu menekan lebih dalam bibirnya, menghisap bagian bawah bibir Woori, menggigit sedikit, dilanjutkan hisapan kuat kembali. Bahkan tidak tanggung-tanggung, lidah pria itu juga sudah ikut bermain di rongga mulut Woori, sekaan mengajak lidah Woori untuk saling bergulat. Saliva mereka sudah saling bercampur, terasa manis bagi keduanya.

Saat berpacaran dengan Kai, memang mereka pernah berciuman, tapi tentu hanya ciuman biasa. Tidak seperti ini, ciuman yang menurut Woori terlalu ganas bahkan sulit baginya untuk mengimbangi. Hingga mereka berdua kehabisan nafas, pria itu baru melepaskan bibirnya. Woori terengah-engah mengatur nafasnya. Dadanya naik turun.

Melihat lawannya kewalahan seperti itu tidak membuat si pria manis mengurunkan niatnya untuk menyentuh semakin dalam yeoja cantik yang berhasil menawannya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit itu. Dia sudah terlanjur menikmati ciuman mereka tadi, terutama sensasi manis dari bibir yeoja itu.

Pria manis itu kembali menyambar bibir Woori, melanjutkan ciuman mereka tadi, walaupun akhirnya tidak selama sebelumnya karena, banyak yang berlalu lalang keluar atau masuk dari parkiran. Membuat mereka merasa terggangu.

Pria itu kembali menarik tangan Woori untuk mengajak berpidah, kali ini mereka menuju parkiran.

“Aku sudah tidak tahan. Kita lanjutkan disina saja.”

Woori tidak mengerti apa yang pria itu maksud, hingga pria itu membukakan pintu sebuah mobil mewah berwarna biru. Mendorong pelan tubuh Woori memasuki mobil di bagian bangku penumpang. Setelah mereka berdua berada di dalam mobil, pria itu memposisikan bangku mobil hingga terebah, dengan posisi Woori berada di atas tubuhnya.

Sepertinya Woori juga sudah terlanjur menikmati sensasi gila berciuman dengan pria manis ini, sehingga membuatnya tidak segan mencium pria itu duluan. Saling menghisap bibir masing-masing dan berperang lidah kembali mereka lakukan, bahkan Woori menekan tengkuk pria itu untuk memperdalam cuman mereka.

Hingga hisapan pria itu beralih menuju leher Woori, memberikan kissmark dibeberapa bagian lehernya. Ditambah remasan pelan tangan pria itu pada kedua dada Woori. Sialnya Woori tidak dapat menahan dirinya untuk mendesah, sehingga membuat pria itu makin bersemangat meremas kedua gundukan kenyal milik Woori itu.

“aa…aahhh…”

Saat ini suara Woori benar-benar terdengar menggoda, sexy.

Remasan tangan pria itu turun ke bagian tubuh bawah Woori, meremas pantannya. Sambil mencium bibir Woori kembali.

Saat ini Woori yakin dirinya tidak sedang mabuk karena minuman beralkohol tadi, dia masih sangat sadar dengan apa yang dilakukannya sekarang. Benar-benar gila memang dirinya saat ini. Dia merasa bukan dirinya yang biasanya, dia merasa berbeda, merasa cukup nakal sekarang.

Walaupun dia masih berusaha menjaga akal sehatnya yang hampir terkalahkan oleh nafsunya.

Cchhaa..chankamannyo..!” Woori berusaha menghentikan kegiatan tangan pria itu. Yang bermula dari bagian dadanya kemudian beralih ke daerah belakang tubuhnya, seperti mencari steling dari dress Woori.

Wae ?” tanya pria itu, tidak terlihat marah tetapi jelas pria itu sudah sulit menahan hawa nafsunya untuk ke arah yang lebih nikmat. Dan merasa cukup terganggu saat Woori menahannya.

“Jika tidak ingin disini tidak apa-apa, mari ke hotel.”

Woori membulatkan matanya mendengar ucapan pria itu. Hingga dia beralih memposisikan diri menjauh dari tubuh pria itu, duduk disampingnya sambil merapikan minidressnya yang mulai berantakan. Baru sekarang tubuhnya bergetar, seperti ketakutan.

“Ok. Kuakui aku menikmati ciuman kita. Tapi aku tidak bisa lebih jauh dari itu.”

Wajah pria itu terlihat kecewa, ayolah bagaimana Woori mungkin mengatakan tidak bisa melanjutkan ke arah yang lebih jauh padahal pria manis itu sudah diambang nafsunya, tidak kuat sebenarnya jika tidak menuju untuk melakukan hal ‘itu’.

Walaupun akhirnya pria itu mengerti dan membiarkan Woori untuk pergi karena Woori tidak ingin diantar pulang. Bisa gawat kalau pria itu yang mengantar pulang, bisa-bisa Woori berakhir di hotel. Dan yang pasti Woori pulang ke rumah Jinah, gawat kalau pria itu akhirnya meneror sekitar rumah Jinah. Woori bersyukur kali ini otaknya mampu berfikir akibat kedepan dari perbuatannya.

Dengan langkah sedikit terburu-buru, Woori berjalan menjauh dari mobil pria itu.

Ya ! siapa namamu ?” Teriak pria menghentikan langkah Woori sesaat.

“Jessica Jung” jawab Woori berbohong, karena memang tidak ingin memberitahukan nama aslinya, jadi dia menyebutkan nama teman eonni nya yang dia ingat.

“Jessica-ssi, terimakasih untuk malam ini. Aku juga menikmati ciuman kita. Kalau kita bertemu lagi, akan kupastikan aku tidak akan melepaskanmu seperti ini. Akan ku tuntaskan sampai akhir.” Woori hanya tersenyum kecut mendengar ucapar pria itu, pria itu malah mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum khasnya. Dasar pria penggoda.

Woori melangkahkan kakinya kembali dengan cepat. Diperjalanan pulang Woori terus merutuki kebodohannya yang terlalu menikmati saat-saat bersama pria yang bahkan tidak dia ketahui namnya itu. Syukurnya dia mampu menahan nafsunya, kalau tidak bisa saja apa yang terjadi pada Jieun akan dialaminya juga karena pria itu

Pabo ! Woori pabo

Alhasil sesampai di rumah Jinah, Woori langsung disambut amukan kedua sahabatnya, dilanjutkan dengan introgasi keduanya. Karena rencana mereka merayakan ulang tahun Woori bersama batal gara-gara yeoja yang ulang tahun itu malah menghilang.

#Flashback End#

Woori merasa tubuhnya diguncang perlahan, ternyata benar, sang eomma membangunkannya.

“Kita sudah sampai di Seoul sayang.”

Woori segera merapikan diri, dan bersiap turun dari pesawat. Dia sempat menghela nafas berat, karena mengingat saat tertidur tadi dia malah bermimpi bertemu pria itu lagi.

“Mimpi buruk ditahun yang buruk juga.” Gumamnya.

Bersama kedua orangtuanya, Woori berjalan menuju luar bandara Internasional di Seoul itu.

Welcome to Seoul.” Sambut sang eonni bagai seorang tourguideyang menjemput mereka di bandara.

Hemm.. Goodbye Busan. Welcome to Seoul !

*****

TBC

*****

Auhtortalks

v  Annyeong haseyo, Naraya imnida. Ini bukan FF pertama author, tapi ini FF NC pertama author, jadi harap maklum ya kalau adegan NC nya masih kaku #bow

v  Awalnya si pria itu mau author rahasiakan dulu siapa, trus di chapter 2 baru dikasih tau, tapi ternyata author berubah pikiran hahaha #penting y thor kasih tau ??

v  Kritik dan saran author buka dengan selebar-lebarnya untuk perbaikan FF ini.. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian juga y, karena walau sedikitpun komentar yang kalian berikan akan memberikan auhtor semangat untuk melanjutkan FF ini hehehe

About fanfictionside

just me

39 thoughts on “FF/ OUR SECRET/ CNBLUE-EXO/pt. 1

  1. Penasaran siapa cowo itu, tar si seol ketemu lagi. Jadi penasaran diawal aja udah to the point gitu gimana nantinya. Jangan jangan itu kekasih oeninya. Next ditunggu ya thor. Bagus kok.

  2. si mai ya udah item seli gkuh pula—v wkwkwwkw aiyo woori jangan nodai jiri dan jinah(?) untumg merka engga ketemu pria berlesung pipi kayak kamu juga– dan eum si pria itu nuguya?! jonghyun kah…… zzz
    di tunggu next chapnya, keep writing!!♥♡♥♡

  3. Kamsahamnida utk yg sdh baca dan comment..
    Chap 2 nya sdh ada koq.. Tinggal nunggu publishnya y.. Smg setia m
    Menunggu.. Sampai ktemu d chap 2 ^^
    Maaf y g bisa balas comment nya 1 1😦

    ~Naraya0694~

  4. Whoa haha nice story thor, xixi pria lesung pipi? Nuguya? Hongbin? Yixing😄 haha Keep Writing ya thor ~<3

  5. sahabat apa itu nusuk temennya dari belakang!!!
    kai juga jahat banget selingkuh sama temen yoejacingunya sendiri *emosi*
    ok deh thor sampe terbawa emosi😀 ff nya daebak thor di tunggu ya next nya dan kalau boleh saran nanti ada saat nya kai nyesel udah nyelingkuhin woori biar tau rasa*emosi lagi*
    buat next nya di tunggu ya thor fighting😀

  6. Cowo manis itu jonghyun kan?? Aku sukaaaaa ff ini ><
    Cara author mapaparin itu simple, mudah dipahami.jadinya pas baca nyaman bgt^^
    Sumpah itu kai tega bgt.. jieun entah jnpa aku kasian sm dia. Ngrasa klo dia korbannya kai /?
    Aku jg suka karakter si Woori^^
    Harus lanjut pokoknya.. aku tunggu thor fighting!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s