FF oneshot/ MISS RICH AND MR. POOR/ BTS-BANGTAN


Autumn: Miss Rich and Mr. Poor

가을 [ga-eul] Musim Gugur

Author: Mei Anna Ai

Cast: Choi Soo Eun (OC) and Park Jimin (BTS)

Genre: Romance, Friendship, School-life, Family, etc.

Lenght: Oneshoot (9000+ words)

Disclaimer: I just own the story and OCs.

Summary: “Kisah klasik seperti itu tidak mungkin terjadi pada kami,”—Soo Eun.

A/N: Annyeong haseyo! \(^_^)/ Aku dateng lagi kesini bawa bagian lain dari방탄소년단[Bangtan Boys] Series setelah yang kemarin Hello, Mr. Alien(Taehyung/V BTS – OC). Makasih lho yang kemarin udah baca dan komen. Semoga yang ini kalian suka.

Selamat membaca ya🙂

miss rich and mr. poor

On The Previous Story:

“Oh! Soo Eun-ah, kau juga bawa ya? Jadi kau bisa makan bersama Minjoo di sekolah,” kata Nyonya Kang.

Soo Eun yang berada di samping Minjoo langsung mengangkat wajah dari menyantap sarapan, “Em … aku tidak bisa.”

Sontak saja yang lain menatap Soo Eun. Minjoo tetap melanjutkan makannya karena sepertinya ia tahu apa alasan Soo Eun tidak ingin membawa bekal selama di sekolah.

“Tidak merepotkan aku kok. Jadi bawa saja,” Nyonya Kang tetap menawarkan.

“Aku tidak terbiasa—”

“Harusnya kau terima saja. Apa susahnya?” ini Jimin yang memotong Soo Eun dengan nada serius, seolah dialah yang tersinggung.

Soo Eun mendelik pada Jimin, “Urusi urusanmu sendiri, Sunbae.”

Jimin sedikit tersulut, “Wah, Nona Choi—”

Nyonya Kang langsung menyela mereka, “Sudah … jangan bertengkar! Seperti sepasang kekasih saja—”

“Kisah klasik seperti itu tidak mungkin terjadi pada kami,” ucap Soo Eun menahan kesal dan menyorot tajam Jimin sebelum kembali menyantap sarapan.

.

.

Beberapa Hari Kemudian…

.

.

Selera seorang Choi Soo Eun itu tinggi, sedangkan Park Jimin—walau menyukai gadis lucu nan mempesona—tetap saja dia menginginkan gadis itu dari kalangan biasa saja. Jadi tidak mungkin mereka bersama. Dari awal mereka juga acuh tak acuh, melirik dalam hal romantis pun tidak.

Jadi KENAPA dengan tulisan di ARTIKEL SEKOLAH INI!!?—

BRAK!—artikel yang tidak berdosa itu terbanting di atas meja karena ulah gadis cantik bernama Choi Soo Eun itu.

“APA-APAAN ARTIKEL INI!!?” hardik Soo Eun, tidak peduli dengan keadaan kelas yang mulai ramai.

Teman dari gadis itu hanya melirik sekilas pada artikel yang halaman depannya berjudul “Benarkah nona Choi Soo Eun Tinggal Bersama Seorang Namja?” yang diberi warna merah dan digarisbawahi seolah memperjelas masalah itu. Teman Soo Eun itu menatap Soo Eun yang masih senewen dengan bingung.

“Kenapa ada fotomu dan Jimi—hempp!”

Soo Eun membekap mulut temannya dengan was-was lalu melihat sekitar yang sepertinya curiga dengan sikapnya. Ia pun membenarkan sikap dengan kembali tegak, “Kecilkan suaramu, Minjoo! Belum ada yang tahu kalau itu dia. Jadi, jangan ngomong sembarangan!” bisik Soo Eun lagi setengah mengancam.

Mau tidak mau Minjoo mengangguk dan Soo Eun melepaskannya. Ia lihat Soo Eun duduk di hadapannya dengan wajah frustrasi. Ia juga tidak tega, pasalnya Soo Eun walau terlihat arogan dan sombong, Soo Eun itu tidak pernah terlihat murung. Masa iya, Soo Eun murung hanya karena masalah ini? Artikel di sekolah mereka ‘kan memang suka sekali mencari sensasi.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Minjoo khawatir.

“Apa aku terlihat baik—Akh!” Soo Eun mengacak rambutnya sendiri. Ia tidak habis pikir, kenapa bisa serumit ini! Padahal waktu itu tidak sengaja. Adegan di foto artikel yang terlihat Soo Eun keluar dari rumah dengan mencium pipi seorang namja yang membelakangi Si Penyebar Fitnah pun sebenarnya bukan seperti itu. Beruntung saja Si Penyebar Fitnah mendapat angle yang bagus.

“Gosip seperti ini paling hanya seminggu-dua minggu, setelah itu hilang seperti gosip lain. Jadi tenang saja, Soo Eun-ah…,” Minjoo tersenyum mencoba menenangkan temannya lalu mengelus pundak Soo Eun.

Soo Eun mencoba yakin. Tapi bagaimana dengan Park Jimin itu? Apa orang itu akan buka mulut kalau itu adalah dirinya?

Grak!—suara bangku bergeser.

“Mau kemana?” panggil Minjoo tapi Soo Eun sudah pergi dengan terburu-buru.

.

.

.

Soo Eun pergi mencari Jimin, sunbae-nya yang berada di kelas 11 – 1, tapi kata temannya namja itu sering menghabiskan waktu istirahat di lapangan basket yang ada di gymnasium. Jadi Soo Eun tidak ingin menghabiskan waktunya sebelum semuanya terlambat. Ia pun segera berlari ke sana dan hanya bisa berharap di sana sepi.

Ketika sampai di sana, permintaan Soo Eun terkabul. Ruang gym. terlihat sepi ketika pintu besarnya ia geser, namun ruangan itu lampunya menyala—yang bisa ia simpulkan kalau ada orang yang terlebih dulu memasuki ruangan itu dibanding dirinya. Soo Eun berharap itu adalah Jimin.

“Tapi dimana orang itu?” Soo Eun menoleh kesana kemari tapi tidak melihat siapapun.

Duk-duk-duk!

Ia mendengar bunyi pantulan bola. Tak lama seseorang muncul dari suatu ruangan. Bisa ia tebak itu Jimin. Jadi ia hampiri orang itu dengan pasti.

Di sisi lain, Jimin yang melihat kedatangan seseorang segera menghentikan aktivitasnya. Ia sempat tidak menyangka kalau orang yang mendatanginya itu Choi Soo Eun. Namun hanya sebentar karena ia kembali memantulkan bolanya selagi Soo Eun datang menghampirinya.

Soo Eun berhenti ketika jarak mereka tinggal dua meter. Soo Eun tidak ingin basa-basi juga, toh perang dingin mereka beberapa hari yang lalu belum usai.

“Sudah lihat artikel sekolah?”

Jimin hanya mengangguk dengan tampang tidak niat. Yang Jimin tahu, tidak ada yang menarik dari artikel itu; hanya berisik curhatan para siswa dan gosip tidak jelas. Ia sendiri hanya membaca bagian sport saja. Ia pun memantulkan bola lagi, siap menembakan ke ring dari three point.

Duk-duk-duk—

“Hentikan itu!”

Jimin menghela napas, konsentrasinya bubar dan ia malas mendebat adik kelasnya yang bahkan tidak sopan pada kakak kelasnya, “Kalau begitu pergilah! Hanya itu—hal tidak penting—seperti tadi saja ‘kan yang ingin kau katakan?”

Ani!” Soo Eun mengibas rambut brunette-nya dengan arogan, tidak menyadari dalam sepersekian detik tadi orang selain dirinya sempat terpesona, tapi orang itu menggeleng.

Mwoya?”

“Ada foto kita di artikel itu. Aku tidak ingin apa yang ditulis di sana itu makin berkelanjutan. Karena hanya aku yang terlihat jadi—”

“Tunggu!” Jimin memotong, “Foto yang mana?”

Mata bulat Soo Eun menyipit, “Kau baca tidak sih?!!” ia jadi sewot sendiri. Soo Eun pun ingat, jadi ia menghela napas. Ia juga bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini ia selalu merasa kesal bila berdekatan dengan Jimin ini.

“Memang kenapa? Kita tidak melakukan apapun, ‘kan?” Jimin bertanya dengan nada ragu.

Memang apa yang telah mereka lakukan?

“Kau harus melihat foto itu. Tapi beruntunglah kau tidak terlihat jelas. Tapi sebisa mungkin—anio—kau tidak boleh mengatakan apapun kalau itu dirimu, eoh? Aku tidak ingin terlibat skandal apapun denganmu,” ujar Soo Eun sebelum berbalik pergi meninggalkan Jimin.

Jimin kembali memantulkan bola, “Ada apa dengan gadis itu?”

***

Soo Eun menghela napas ketika bel tanda berakhir pelajaran bergema di seluruh penjuru sekolah. Seonsaengnim mengucapkan salam lalu pergi dari kelasnya. Soo Eun sendiri terlihat malas-malasan ketika memasukan buku-bukunya ke dalam tas.

Minjoo melihat hal itu dengan heran.

“Kenapa Soo Eun-ah?”

Soo Eun terlihat terkejut, “Hah? Oh … ani. Aku tidak apa-apa,” lalu nampak berpikir, “Kau langsung pulang, Minjoo?”

Minjoo menggeleng, “Seseorang sudah menungguku,” pipi itu sedikit tersipu, entah karena cuaca dingin musim gugur atau hal yang lain.

Soo Eun membulatkan bibirnya membentuk huruf vokal ‘o’ untuk menanggapi Minjoo. Jadi, ia harus pulang sediri lagi kali ini.

Mianhae, Soo Eun-ah,” kata Minjoo dengan tidak enak hati.

Soo Eun bangkit dari kursinya, “Arraseo. Mau bareng sampai gerbang?” ia menawarkan.

Minjoo ikut bangkit dan tersenyum, “Ne.”

Mereka pun berjalan beriringan sampai pintu gerbang sekolah. Mereka langsung berpisah di depan gerbang sekolah setelah Minjoo pamit pada Soo Eun dan minta tolong sampaikan salam pada eomma Minjoo kalau Minjoo akan pulang telat karena kekasihnya mengajak kencan. Minjoo pun melambai pada Soo Eun.

Dari tempat Soo Eun berdiri, ia melihat Minjoo menghampiri seorang namja berseragam dari sekolah yang sama seperti kakak Minjoo. Minjoo terlihat mengatakan sesuatu dan membungkuk, terlihat seperti merasa bersalah—mungkin kekasihnya itu sudah lama menunggu. Lalu mereka bergendeng tangan menuju halte bus yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Melihat itu, entah kenapa, membuat hati Soo Eun seperti dicubit—iri mungkin.

Soo Eun jadi berangan-angan memiliki kekasih. Dia memang belum pernah (garis bawahi itu) memiliki kekasih. Bukan karena ia tidak laku selama ini, tapi karena statusnya lah yang membuatnya berada di kondisi dimana ia merasa semua orang mundur secara teratur setelah tahu siapa dia. Tak terkecuali para namja. Bahkan hanya untuk berteman.

Drrttt … drrttt…

Soo Eun merogoh sesuatu di saku mantel merah batanya dan melihat di layar ponselnya terdapat panggilan dari ‘Mr. Choi’ yang langsung ia usap tanda merah di ponsel android-nya untuk memutuskan panggilan. Ia pun memasukan ponselnya kembali ke saku mantelnya dan melangkah menuju ‘rumah’.

.

.

.

Dalam perjalanan menuju ‘rumah’, Soo Eun tidak menyangka akan melihat Jimin. Jimin berjalan sekitar sepuluh meter di depannya. Perjalanan satu arah ini sebenarnya sangat ia hindari. Bukannya apa, ia hanya ingin menghindari gosip skandal itu lebih lanjut—yang berarti ia harus menjaga jarak dari orang itu, tapi ini masih terbilang aman sepertinya. Tidak ada siapa-siapa, jalanan yang mereka lewati sepi pejalan kaki dan kendaraan—itulah yang Soo Eun benci.

Jadi Soo Eun berjalan santai dengan pemandangan punggung Jimin di depannya—Tapi jangan salah sangka dulu! Hanya karena Jimin ada di depannya saja, jadi mau tidak mau ia pun menjadikan Jimin salah satu pemandangannya selain daun-daun yang kemerahan dan kuning pada pohon yang mereka lewati di sepanjang jalan. Lalu mereka melewati jembatan yang di bawahnya terdapat sungai kecil mengalir bersama dedaunan kering yang gugur di atas alirannya.

Lalu Soo Eun berhenti mendadak ketika Jimin berhenti di depannya sana. Ia pun memperhatikan Jimin yang tiba-tiba membuat gerakan menggeser kaki yang selanjutnya tubuh itu menyerupai tarian. Tapi hanya sampai disitu karena Jimin menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak nyaman dengan tarian tadi dan melanjutkan perjalanan. Soo Eun tidak tahu kalau sunbae-nya itu bisa menari—ia tidak tahu saja Jimin adalah siswa jurusan menari.

Ketika mereka berjalan hampir sepuluh menit, mereka mulai memasuki kawasan yang biasanya di isi dua-tiga pemabuk yang tidak tahu waktu. Kalau Soo Eun bersama Minjoo, ia tidak akan takut, tapi kali ini ia sendirian, ada Jimin sih, tapi orang itu berjalan cukup jauh di depannya. Biasanya kalau ia berjalan sendiri, Soo Eun akan menunggu orang lewat tapi kini ia tidak bisa kembali.

Soo Eun mempercepat langkahnya kala melihat dua sosok pemabuk berdiri di sisi jalan. Mereka terlihat tidak masalah ketika Jimin melewati mereka, tapi Soo Eun was-was. Ia pun berjalan cepat yang terlihat seperti berlari menyusul Jimin. Pemabuk-pemabuk itu hanya menatapnya tajam ketika ia lewat, jadi ia berjalan makin dekat ke Jimin. Jimin sepertinya tidak sadar ia berjalan tepat di belakangnya Jimin karena ia lihat earphone menyumpal telinga itu.

Soo Eun merasa cukup aman, tapi ia ingin memastikan. Ketika ia menoleh, jantungnya berderu kencang lantaran dua pemabuk itu mulai mengikutinya. Sontak saja Soo Eun meraih belakang mantel Jimin dan mencengkeramnya.

Jimin yang pada waktu itu menyadari seseorang menarik belakang mantelnya segera berhenti dan menoleh. Ia cukup terkejut melihat Soo Eun dan langsung melepas earphone-nya.

“Apa yang kau lakukan?”

Soo eun tidak menjawabnya, malah Soo Eun terlihat begitu bergetar di belakang Jimin. Jimin sendiri tidak mengerti apa yang menyebabkan Soo Eun takut begitu, namun itu tidak butuh waktu lama baginya untuk penasaran karena ia melihat penyebab itu ada di belakang mereka.

Jimin langsung melepaskan cengkeraman Soo Eun pada mantel belakangnya dan langsung menarik Soo Eun untuk berjalan kembali di sisinya. Jimin juga mendengar isakan pelan Soo Eun, “Tegakan pundakmu! Mereka tidak akan mengganggumu kalau kau tidak takut.”

Soo Eun masih bergetar, tapi ia mengikuti perkataan Jimin.

Jimin diam-diam melirik Soo Eun. Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Namun ia merasakan tangan Soo Eun bergetar hingga menggenggam tangannya begitu erat.

“Mereka sudah tidak ada,” ucap Jimin setelah mengecek keadaan.

Soo Eun menghela napas lega. Ia pun mengendurkan pegangannya, tapi saat itu ia sadar Jimin—atau lebih tepatnya dirinya sendiri—menggenggam tangannya. Ia sontak melepas genggaman itu dengan cepat. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba pipinya memanas dan ia seperti salah tingkah seperti itu. Tapi ia sadar dirinya tidak sopan tadi.

Gomawo…,” ucap Soo Eun pelan, lalu, “Mianhae.”

Soo Eun menunggu Jimin merespon, tapi ia tidak mendengar apapun. Ketika menoleh ternyata Jimin tidak ada. Di depan tidak ada. Dan ketika ia berbalik, Jimin berjalan agak di belakangnya. Soo Eun berhenti, Jimin pun berhenti.

Soo Eun mengusap matanya, “Kenapa kau disana?”

“Kau duluan saja,” jawab Jimin sembari memasukan tangannya ke dalam saku mantel akibat angin berhembus.

Soo Eun tersinggung—“Wae—” tapi ia sadar apa yang ia katakan waktu itu dan pikiran sebelumnya tidak ingin dekat-dekat dengan Jimin. Entah kenapa hatinya jadi tidak enak, seperti ada kerikil yang mengganjal disana.

Jimin akhirnya tersenyum hingga mata itu menyipit, “Tidak apa-apa. Duluan saja.”

Kenapa Soo Eun merasa dirinya seperti gadis jahat?

Soo Eun menggigit bibir bawahnya dan berbalik ragu. Dengan perasaan bersalah dan tahu diri, ia akhirnya berjalan kembali. Dia juga berpikir, mungkin saja Jimin memang tidak ingin berjalan di sampingnya. Namun tetap saja, pemikiran itu membuatnya tidak enak dan sesak meradang hatinya.

Tapi Jimin punya alasan lain kenapa berjalan cukup jauh di belakang Soo Eun. Ia menoleh kebelakang dan lega orang-orang tadi tidak mengikuti Soo Eun lagi. Ia juga lega Soo Eun tidak terisak lagi, entah karena alasan apa ia harus lega pada Soo Eun.

.

.

.

.

Soo Eun masuk ke rumah yang terdapat tulisan ‘Kos-kosan Keluarga Kang’ dalam huruf hangeul. Ia mengucapkan salam saat melewati ruang makan yang mana sudah di penuhi penghuni rumah itu karena sudah waktunya makan malam.

“Soo Eun-ah, kenapa baru pulang? Ayo makan dulu!” ajak Nyonya Kang, pemilik kos-kosan dimana ia tinggal, yang baru saja meletakan galbi di antara menu lain di meja.

Soo Eun minta maaf, “Aku mau mandi dulu,” jawab Soo Eun. Sesekali ia juga melirik ke arah pintu masuk dan bertanya-tanya kenapa Jimin belum kembali.

“Ya sudah. Oh iya, dimana Minjoo? Aa … kemana anak itu?”

“Katanya akan pulang telat. Bersama … pria itu?” Soo Eun sendiri tidak yakin siapa nama pacar Minjoo.

“Taehyung? Ah … kenapa mereka tidak pacaran disini saja? Anak itu—”

Lalu suara seseorang bergema dari arah pintu, “Aku pulang.”

Soo Eun melihat Jimin masuk keruang makan lalu memberi salam lagi dengan sedikit menunduk, “Maaf pulang telat, Nyonya Kang.”

“Tidak apa-apa, Jimin-ah. Ayo makan bersama?” ajak Nyonya Kang yang langsung ditanggapi Jimin dengan senyum—yang entah kenapa bagi Soo Eun—terlihat menawan. Jimin mengikuti Nyonya Kang menuju meja makan tapi terhenti saat melewatinya.

“Kau tidak ikut?” Jimin tiba-tiba bertanya pada Soo Eun.

Soo Eun sendiri mengerjap-ngerjapkan mata pada detik awal dan kehilangan sikap jaim-nya, “Aa … Anio—aku … aku ingin naik ke atas dulu!” lalu berbalik dan menaiki anak tangga dengan agak terburu-buru.

Jimin hanya tersenyum melihat kelakukan Soo Eun.

***

Keesokannya, saat pelajaran berakhir dan memasuki jam istirahat pertama ada seorang sunbae yang tidak Soo Eun kenal datang ke kelas 10 dan langsung menghampiri Soo Eun yang baru ingin mengajak Minjoo ke kantin. Sunbae yang menyematkan nametag di jas almamater itu bernama Han Kang-rim, namja yang membawa kamera—Soo Eun jadi curiga.

“Ada apa ya?” Soo Eun sendiri tidak sungkan menggunakan bahasa banmal, mungkin karena kebiasaanya yang terbawa selama ia tinggal di Amerika semenjak kecil.

“Bisa bicara sebentar?” lalu Kang-rim melirik Minjoo yang ada di samping Soo Eun, “Berdua saja?”

Soo Eun sendiri melirik Minjoo seolah bertanya bagaimana, tapi Minjoo mengangkat bahu.

“Kalau begitu … aku duluan Soo Eun-ah, Kang-rim-sunbae,” lalu Minjoo pergi dengan sesekali menoleh pada Soo Eun sebelum menghilang dibalik pintu kelas.

“Jadi, kau ingin bicara apa?”

“Kita bisa berbicara di tempat lain? Di sini—” menengak-nengok keadaan kelas lagi, “—cukup ramai.”

.

.

.

Soo Eun setuju, tapi ia meminta agar dia yang memilih tempat di mana mereka berbicara. Soo Eun, entah perasaan atau bukan, merasa tidak nyaman dengan Kang-rim. Dia merasa sunbae-nya itu punya sesuatu yang tidak akan menyenangkan baginya. Dan alasan kenapa Soo Eun setuju untuk berbicara adalah ia ingin tahu tentang artikel yang memberitakannya itu. Benarkah ini ulah Kang-rim? Kalau benar, ia ingin membersihkan namanya dan tidak ingin melibatkan Jimin nantinya bila Kang-rim bertanya siapa namja itu—hitung-hitung ucapan terima kasih dan permintaan maaf.

Soo Eun membawa Kang-rim ke dalam gymnasium yang lampunya sudah menyala seperti kemarin. Ia sendiri tidak tahu kenapa memilih tempat itu, yang pasti ia tahu di gymnasium itu bukan hanya mereka berdua yang ada di tempat itu.

Mereka duduk di bangku tribun yang biasa menjadi tempat menonton pertandingan di tempat itu. Soo Eun sendiri mengambil duduk di mana menyisakan satu bangku kosong sebagai jarak antara dirinya dengan Kang-rim.

“Jadi, ada apa?” tanya Soo Eun lagi. Ia, selain menunggu jawaban Kang-rim, matanya juga menyapu gymnasium seolah mencari sesuatu.

“Sudah melihat artikel buatanku?”

Soo Eun menoleh pada Kang-rim dengan wajah tanpa emosi dan bibir membentuk garis lurus. Ia sudah bisa menebak itu.

Kang-rim tersenyum, “Bukankah itu sensasi sekali? Menemukanmu tinggal di suatu rumah dan keluar bersama seorang namja—aku tidak meyangka sebelumnya.”

Soo Eun sempat berpikir kalau Kang-rim ini punya sesuatu yang sampai membuat sunbae-nya itu melakukan ini hanya untuk menjatuhkannya. Jadi ia ikuti permainan itu, “Wah … kau beruntung sekali, Sunbae. Biasanya,” ia tekan kata itu, “aku tidak mempermasalahkan hal ini. Ada yang lebih penting dari berita kacangan ini—bukankah kau harus mempersiapkan ujian akhir, Sun-ba-e? Kau bisa kena masalah dengan berita tidak benar ini.”

Kang-rim tertawa, “Apa pedulimu, Nona Besar? Mungkin saja aku akan kena masalah, tapi kau juga akan terseret—lihat saja reaksi Tuan Besar Choi akan hal ini—”

“Apa masalahmu?” Soo Eun mendesis dengan mata menyipit, ia mulai tersulut sekarang ketika orang itu mengungkit ayahnya.

“Rasanya puas untuk menghancurkan Mr. Choi melalui anaknya—”—SET!!

Soo Eun tidak siap ketika dirinya ditarik—kerah seragamnya ditarik ke atas oleh Kang-rim yang sudah berdiri. Lehernya sakit—matanya tidak bisa fokus dan hanya ada mereka berdua di sini. Apa ia akan mati?

“Le-lepas!!! Keh—khenap—pa … kau melak—kukan ini?!!” Soo Eun sudah sulit bernapas ketika kerah seragamnya ditarik lebih atas dan erat, ia sudah meronta, tapi tidak berguna. Tak terasa airmata jatuh di sudut matanya.

“Dia harus tahu rasanya kehilangan orang terdekatnya! Seperti Appa-ku!!—KAU TIDAK TAHU ‘KAN!!?” Kang-rim berteriak tepat di wajah Soo Eun dan makin menjerat leher Soo Eun dengan tarikannya.

Soo Eun tidak tahu apapun—kenapa?!!

Soo Eun ingin menangis atas rasa sakit ini dan berteriak, tapi yang ia lakukan hanya merintih tanpa daya dan meneteskan airmata tanpa suara. Ia rasanya tidak kuat sampai sekelebat tangan muncul dari belakang sisi wajahnya dan menghantam sesuatu—BRUK!!!

Soo Eun jatuh terduduk, begitu pun Kang-rim yang meringis dengan pipi lebam juga darah mengalir dari hidung itu. Soo Eun masih syok, tapi sebuah suara di belakangnya—“Kau mencoba membunuhnya!!?” suara itu tidak percaya.

Lantas saja Soo Eun menoleh sambil mendongak. Di sisi belakangnya ada Jimin yang berdiri menjulang tinggi dengan tampang gelap; Soo Eun tidak tahu bagaimana menggambarkan hal itu.

“Urusi urusanmu sendiri, Park Jimin!!” Kang-rim sambil kesakitan.

Ketika Kang-rim mencoba bangkit untuk mendekati Soo Eun, Jimin melangkah cepat di depan Soo Eun dan menendang Kang-rim lalu menahan dada itu agar tidak bangkit lagi, “KAU KIRA AKU AKAN MEMBIARKAN SESEORANG MATI DI DEPANKU!!”

Soo Eun yang tadi masih syok lantas bangun dan menahan Jimin agar tidak berbuat sesuatu yang lebih pada Kang-rim—“Park Jimin!!”—namun tangannya ditepis dan agak sakit sampai ia meringis—yang sontak membuat Jimin menoleh.

Mianhae,” kata Jimin lemah dan Soo Eun mengangguk, lalu kembali ke Kang-rim dengan wajah galak, “Kau dalam masalah, Sunbae.”

Jimin langsung menarik Soo Eun keluar gymnasium. Mereka berjalan agak cepat kala itu.

“Ma-mau kemana?”

“Tentu laporkan ini pada Seonsaengnim—” tangan Jimin langsung ditarik hingga berhenti.

Ani,” Soo Eun menggeleng dengan wajah gelisah.

Jimin kelihatan sebal, “Mwoya?! Apa kau yang salah?! Aku salah membela orang sekarang?!”

Soo Eun terdiam, tapi tangannya yang tadi menarik Jimin mulai mengendur.

“Kalau kau tidak melaporkannya segera, maka kita yang akan dilaporkan. Bisa saja orang itu mengatakan hal yang tidak-tidak dan kita yang kena masalah, di skorsing, di keluarkan—kau mau?” itu pahitnya kemungkinan yang Jimin ungkapkan.

Ia punya alasan kenapa tidak ingin ini dilaporkan pada guru, tapi Jimin benar adanya.

“Bagaimana?” tanya Jimin sekali lagi.

Akhirnya Soo Eun mengangguk dan mereka berjalan ke ruang guru.

.

.

.

Soo Eun akan menyalahkan dirinya sendiri kalau Jimin benar-benar ikut dihukum juga, padahal Jimin telah menolongnya—ia sudah mengatakan hal itu pada guru saat sidang dadakan terjadi untuk menyelesaikan masalah ini. Pasalnya, Kang-rim terluka dan benar kata Jimin, orang itu merancaukan hal bohong dan melebihkan semuanya.

Setelah sidang selesai dengan Kang-rim mendapat hukuman (ia tidak tahu apa), tapi Jimin juga dapat karena telah melukai Kang-rim. Gurunya memberi kemungkinan buruk baginya kalau beasiswa Jimin akan ditarik, tergantung Kepala Sekolah—itulah yang membuat Soo Eun resah.

Soo Eun menunggu dengan was-was di depan kantor Kepala Sekolah. Jimin ada di dalam dan Soo Eun tidak bisa membantu selain cemas dan mondar-mandir di sana—Bagaimana kalau beasiswa Jimin ditarik? Soo Eun juga baru tahu kalau Jimin itu siswa dari jalur beasiswa.

Sungguh, Soo Eun tidak tahu bagaimana bersikap nanti bila Jimin benar-benar mendapat hukuman yang tidak adil itu. Biar mereka tidak pernah akur (dalam hal ini adalah perang dingin), Soo Eun tidak pernah membayangkan seseorang akan kena masalah hanya karena menolongnya. Ia tidak ingin perkataan ayahnya menjadi kebenaran—ia tidak ingin menjadi merepotkan.

Soo Eun menghentikan gerakannya ketika pintu di hadapannya terbuka dengan Park Jimin yang keluar. Mereka bersitatap; Soo Eun syok dan cemas, sedangkan Jimin hanya mengulas senyum lesu. Soo Eun pun khawatir.

Eotteokhe?” tanya Soo Eun sembari menelan ludah—gugup.

Jimin tidak langsung menjawab, malah menutup pintu di belakangnya. Jimin mengambil langkah pergi dengan Soo Eun mengikutinya dari belakang, “Tidak apa-apa.”

Kenapa Soo Eun merasa Jimin berbohong? “Sungguh? K-kau—beasiswamu tidak ditarik, ‘kan?”

Jimin menoleh dan tersenyum seperti biasa, “Tidak.”

Soo Eun bisa bernapas lega, tapi masih ada sesuatu yang mengganjal, “Gomawo … dan mianhae.”

“Ini kedua kalinya kau mengucapkan itu bersamaan. Bukankah itu sebuah rekor?” Jimin agak terkekeh

Mata Soo Eun pun menyipit—masih sempat-sempatnya orang itu bergurau?

Jimin menghentikan langkahnya dan sambil tersenyum ramah ia menepuk pundak Soo Eun, “Kembalilah ke kelas! Kau tidak boleh melewatkan pelajaran lagi.”

Soo Eun hanya diam ketika Jimin kembali melangkah, matanya tidak beranjak untuk menatap punggung itu sampai Jimin berbalik lagi di ujung sana—“Langsung kembali ke kelas!”—lalu menghilang di tikungan lorong.

Soo Eun ingin mengeluh saat itu—kenapa Jimin begitu baik? Kenapa ada orang seperti dia? Kenapa harus Park Jimin?—Wae?

***

Semua jadi serba salah. Soo Eun tidak tahu darimana itu bermula, tapi yang pasti berada dekat dengan Jimin ada yang aneh. Dia tidak suka yang menjadi tidak nyaman sendiri. Mereka yang terkenal di kosan saling bersikap dingin sekarang sudah berubah—ia sendiri mencoba bersikap seperti biasa, namun ketika Jimin tersenyum padanya ia jadi bingung mau bersikap seperti apa.

Contohnya, saat mereka menonton tv bersama setelah makan malam. Ini menjadi aktivitas rutin diantara penghuni kosan yang lain, Minjoo juga mengajak Taehyung untuk menonton perhelatan Piala Dunia 2014 kali ini. Mereka berkumpul di depan tv dengan berbotol-botol cola dan kudapan ringan yang dibuat Nyonya Kang.

Yang lain sudah berisik dan repot sendiri, padahal pertandingan belum dimulai. Soo Eun sendiri duduk tenang di atas sofa bersama Minjoo dan Taehyung yang sedang mengobrolkan sesuatu di sampingnya, sedangkan Soo Eun menatap layar tv yang sedang menampilkan iklan ini-itu—ya, menatap namun tidak menyimak. Karena sedari tadi (entah sejak kapan ini menjadi keahliannya) ia memasang telinga pada Jimin, yang duduk di lantai dengan yang lain, yang juga sedang teleponan.

Siapa sih yang diteleponnya? Kenapa dia tertawa-tawa seperti itu? Pacar?—Soo Eun mencoba menerka-nerka melihat Jimin yang sedang berbicara dengan dialek Busan.

“Ah? Kau sudah di depan?”

Soo Eun melihat Jimin bangkit setelah mengatakan itu. Jimin berjalan ke arah pintu depan—membuat Soo Eun bertanya-tanya. Apa mungkin orang itu mengundang pacarnya untuk datang?

Tak lama, Jimin datang bersama seorang namja tampan dan terlihat masih muda. Jimin pun membawa namja itu ke hadapan yang lain.

“Nah, maaf mengundang sepupuku tanpa permberitahuan, tapi bocah ini ditinggal sendirian di rumahnya. Aku tidak tega—”

Hyung, aku sudah besar. Lagi pula aku lebih tinggi darimu,” namja itu tersenyum menggoda.

“Ya! Kau ini!”

“Tapi Jimin terlihat imut, bukan?” sahut Nyonya Kang yang langsung dibuahi tawa dari yang lain.

Jimin hanya tersenyum, ia tidak terlihat keberatan digoda seperti itu. Mungkin pada dasarnya Jimin memang orang yang ramah, dan entah kenapa sosok namja ‘yang sok ikut campur’ di awal pertemuan dulu lenyap sudah dibenak Soo Eun. Itu membuatnya merenung sambil memikirkan itu sampai ia tidak sadar kalau hanya dirinyalah yang tidak bersenang-senang.

“Jeon Jungkook imnida.”

Lalu Soo Eun terpengkur dengan ponselnya selagi yang lain saling memperkenalkan diri. Walau pun ia tidak memperhatikan, tapi sesekali ia menangkap tawa dan canda mereka, khususnya tawa Park Jimin yang beberapa hari ini akrab di telinganya.

Bahkan ketika suara itu berbicara—“Kau lihat yeoja cantik dan pendiam yang duduk di sana? Itu Choi Soo Eun.”

Soo Eun mematung ketika mendengar suara itu menyebut namanya—bukan itu, tapi ketika dua kata yang ia tidak tahu itu pujian atau bukan, ‘yeoja cantik’—tersebut hatinya bersuara aneh. Dan ia merasakan semua mata tertuju padanya jadi ia makin menunduk seolah ada sesuatu di layar ponselnya—itu hanya alasan.

Ia hanya tidak ingin yang lain melihat wajahnya karena ia merasakan perubahan di sana—wajahnya terasa hangat.

Ada apa—ada apa sih dengan dirinya sendiri?

“Kau tidak apa-apa?”

Kenapa kau melakukan itu? Kaulah yang membuatku kenapa-napa…

Tapi Soo Eun melirik sebentar untuk mengangguk, tidak tahu kalau seseorang yang membuatnya seperti itu merasa sikapnya agak berubah.

Apa aku salah bicara? Pikir Jimin.

Selanjutnya mereka menonton pertandingan bola. Semua sudah heboh tentang siapa yang dijagokan, bahkan mereka bertaruh dengan sebotol cola (Nyonya Kang melarang soju karena kebanyakan dari mereka di bawah umur) untuk siapa yang mencetak gol terlebih dahulu. Soo Eun sendiri terbawa suasana dengan yang lain walau ia tidak terlalu mengerti bola. Bahkan lebih dari itu, Soo Eun sampai lupa kegugupannya (yang sangat bukan dirinya sekali) karena Jimin duduk di bawahnya dan bersandar pada kaki sofa yang berarti tepat di depannya. Namun hanya bertahan sebentar.

Seseorang menyenggol kakinya yang menekuk di atas sofa—“Kau menikmatinya?” Jimin bertanya padanya tanpa menoleh.

Huh … jantungnya berdebar aneh—Ya ampun, jantung berhentilah!

Soo Eun tentu terlalu khawatir untuk menjawab, takut mengacaukan suaranya sendiri, jadi ia diam. Lantas saja itu membuat Jimin berpikir kalau ia tidak mendengar, sehingga Jimin menoleh dan langsung menatapnya, sedangkan ia tidak berani menatap langsung mata gelap itu.

“Kau menikmatinya, Soo Eun?” tanya Jimin sekali lagi. Karena tidak menjawab juga, Jimin kembali berbicara, “Kuharap … kau menikmatinya.”

Itu perasaannya saja atau memang suara Jimin terdengar sedih? Ia jadi menyalahkan dirinya sendiri karena sikapnya yang terlihat sombong minta ampun—ia tidak bermaksud. Apa yang Jimin pikirkan? Apa ia memang terlihat sombong dimata Jimin? Jimin harus tahu ia tidak bermaksud menjadi sombong.

Ia hanya …—ahh … ia tidak tahu apa yang dia rasakan.

Tapi yang pasti, ia tidak ingin Jimin berpikir itu.

“Aku … aku menikmatinya…,” bisik Soo Eun, berharap Jimin mendengar bisikannya diantara suara riuh yang lain.

Mungkin harapan Soo Eun terkabul, karena tanpa disadarinya, orang yang duduk membelakanginya tersenyum simpul.

***

Pada masa istirahat pertandingan bola, beberapa orang disana menyempatkan diri melakukan sesuatu sebelum pertandingan kembali di mulai. Sesuai perjanjian, salah seorang yang kalah dalam taruhan siapa tim yang menggolkan lebih dahulu harus membelikan cola di supermarket yang tidak jauh dari rumah dan Jimin-lah yang ditugaskan untuk membeli itu. Beberapa orang menitip snack dan Jimin menawarkan Soo Eun juga—“Kau ingin menitip juga?”

Soo Eun tentu menggeleng, tapi kini ia menjaga sikapnya agar tidak terlihat sombong bahkan ia beri senyum walau sedikit gugup. Lalu Jimin yang sudah mengambil topi di kamar (mungkin) segera pergi di antar penyewa kosan lain yang juga kalah. Ia lihat Minjoo dan Taehyung juga pergi ke halaman belakang, mungkin mau berduaan saja, tapi anehnya ia menangkap sinyal aneh saat menatap sepupu Jimin. Mungkin hanya perasaannya saja, tapi sepupu Jimin (ia lupa namanya) beberapa kali melirik ke arah Minjoo.

Sepertinya sepupu Jimin ini tertarik pada Minjoo, jadi itukan sebabnya Taehyung mengajak Minjoo keluar? Ah … entahlah.

Kruyuuk~

Duh, kenapa di saat seperti ini perutnya terasa lapar?

Soo Eun pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Saat itu ada Nyonya Kang yang membawa beberapa macam tteokbokki dan sosis, Soo Eun menyapa terlebih dulu sebelum Nyonya Kang berbalik dan tersenyum.

“Kenapa tidak menunggu di sana?”

Soo Eun menggeleng pelan, “Apa Anda punya makanan, Nyonya Kang?” Ia agak ragu, “Aku … agak lapar.”

“Tidak ingin tteokbokki dan sosis?” tawar Nyonya Kang.

“Aku tidak terbiasa.”

Nyonya Kang cukup mengerti Soo Eun. Lidah Soo Eun kadang berbeda dalam hal makanan dan Minjoo sudah cerita soal alergi Soo Eun, “Ada di lemari pendingin. Tapi kau harus menghangatkannya dulu. Tidak apa-apa ‘kan?”

Soo Eun tersenyum dan mengangguk sebelum Nyonya Kang meninggalkannya sendiri di dapur. Soo Eun pun mengambil makanan di lemari pendingin lalu memasukannya ke dalam microwave. Sambil menunggu, ia duduk di atas kursi meja makan di dapur dengan memainkan ponselnya. Tidak butuh waktu lama bapkkwa guk siap untuk disantapnya dengan lauk pauk lain. Tapi ketika sendoknya terangkat, ponsel yang ia letakan di atas meja bergetar.

‘Mr. Choi is Calling’

Nafsu makannya hilang seketika. Ia letakan sendok di sisi mangkuk yang isinya masih hangat, berharap apa yang ia lihat di layar ponselnya itu hanya efek dari lapar, tapi getaran yang bertahan hampir satu menit mau tidak mau membuat Soo Eun harus menyadari panggilan itu. Dalam hati ia belum siap—mungkin benar ego-nya terlalu tinggi, tapi ia tahu bagaimana memperbaiki perasaannya yang terlanjur sakit. Ia perlu sendiri.

Namun ponselnya belum berhenti bergetar—belum menyerah. Soo Eun pun raih ponselnya ragu lalu jawab panggilan itu lemah, “Yeoboseyo….”

.

.

.

“Sial! Pertandingan udah mulai, tuh!”

Mereka baru saja tiba. Jimin meletakan tiga botol cola dan titipan lainnya di atas meja. Ia pun melihat penonton di rumah kosan ini agak berkurang, mungkin pergi tidur.

“Jimin-ah, bisa tolong ambil piring di dapur?” tanya Nyonya Kang.

Jimin tentu tanpa menjawab langsung pergi ke dapur. Ia melangkah ke dapur yang terdengar lebih tenang dibanding ruang keluarga yang riuh. Dari langkahnya menuju kesana, ia lihat seseorang menelungkupkan wajah di atas meja. Mungkinkah tidur? Jimin penasaran, tapi ia telan penasaran itu.

Jimin mengambil piring di rak piring. Ketika selesai dengan urusannya, ia berniat pergi agar tidak mengganggu. Tapi saat Jimin melewati meja makan, ia dengar orang itu terisak. Otomatis ia berhenti karena ia familiar dengan suara itu. Ia mendekati orang itu.

Takut-takut ia bertanya, “Kau tidak apa-apa, Soo Eun?”

Punggung Soo Eun bergerak perlahan sampai akhirnya Jimin dapat melihat wajah Soo Eun yang basah. Jimin merasa waktu membeku. Ada waktu dimana ia yakin Soo Eun ini walau terlihat arogan dan sombong, sebenarnya menyimpan sesuatu. Dan bila sudah sampai seperti ini, tangis gadis itu bukan lagi sekedar isakan pelan yang ia lihat pertama kali waktu itu, pastilah sekarang gadis itu sudah tidak kuasa lagi menahannya. Jimin jadi sesak.

Apa mungkin iba? Apa hanya … iba?

Soo Eun menelungkupkan wajah lagi di atas meja—“Pergilah, Park Jimin! Aku tidak ingin kau—hiks…—yang lain melihat wajahku.”

Soo Eun sendiri benar-benar malu tertangkap dengan keadaan menyedihkan seperti ini, apalagi oleh Jimin. Ia hanya berharap Jimin pergi sekarang. Ia merutuki perbuatannya, kenapa ia harus menangis disembarang tempat?

“Semua orang akan lewat sini,” Soo Eun mendengar suara Jimin. Ternyata Jimin belum beranjak dari sana. Tapi yang lebih mengejutkan dari itu adalah saat Soo Eun merasakan kepalanya dihinggapi sesuatu, sontak ia mendongak tapi tatapannya terhalang sesuatu yang ia kenal sebagai topi—ujung topi itu ditekan ke bawah, “Pakai ini untuk sebagian wajahmu, jadi kau bisa berjalan ke kamar tanpa perlu malu berpapasan dengan yang lain.”

Soo Eun tidak bisa berkata apapun, ia hanya bisa melihat Jimin sebatas pinggang karena ujung topi yang menghalangi padangannya. Soo Eun menggigit bibir bawahnya—ragu untuk berucap.

“Untuk sementara pakai itu saja dulu,” lalu Soo Eun mendengar Jimin terkekeh pelan, “Pasti baunya aneh ya?”

Bukan—bukan itu, batin Soo Eun.

“Mianhae kalau itu mengganggumu,” tambah Jimin lagi seolah bersalah karena bercanda pada waktu yang tidak tepat.

Kenapa? —batin Soo Eun resah.

Deg-deg-deg

Soo Eun bangkit dari duduknya tiba-tiba, tentu membuat Jimin agak kaget. Soo Eun yang segera berbalik pergi lalu menaiki tangga dengan tergesah-gesah membuat Jimin khawatir sekaligus bersalah.

Apa aku salah ngomong? Kini Jimin yang membatin.

Sedangkan di sisi lain, Soo Eun yang sudah berada di kamarnya kini bersandar pada belakang pintu. Soo Eun yang masih memakai topi Jimin kini merasa perasaannya jungkir balik. Ia bahkan malu melihat dirinya sendiri sekarang yang tadi dilihat Jimin. Pasti jelek.

Kenapa Jimin selalu ada saat ia merasa lemah seperti ini? Saat ia berada dikeadaan menyedihkannya. Wae?

Tapi yang penting dari itu—Soo Eun melepas topi Jimin perlahan—ia tidak tahu bagaimana perasaannya bisa jungkir balik seperti ini; jantung berdebar-debar ketika mengingat Jimin. Oh Tuhan!! Apa mungkin … ia jatuh ci—Masa?

Soo Eun menutup wajahnya dengan topi Jimin secara refleks karena malu berpikir hal itu.

Perlahan-lahan topi itu ia turunkan sebatas wajah dan mengingat kejadian tidak mengenakan di antara mereka; saling bersikap dingin, melontarkan sindiran. Bahkan ia sendiri pernah mengatakan di hadapannya yang lain.

“Kisah klasik seperti itu tidak mungkin terjadi pada kami”

Ia merasa termakan dengan perkataannya sendiri karena—ia turunkan topi Jimin dari wajahnya sampai ke dadanya—ia … mulai menyukai Jimin.

***

Setelah hari itu dan Soo Eun berbaikan dengan hatinya juga mulai menerima kalau ia menyukai Jimin, hari-hari berjalan lebih baik. Gosip di sekolah tentang dirinya yang tinggal bersama seorang namja juga hilang seiring berjalannya waktu, seperti kata Minjoo—itu bagus. Tapi yang tidak bagus atau berjalan lancar adalah ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya pada Jimin dengan baik; salah tingkahlah, marah-marah tidak jelaslah, ngambek—benar-benar kekanakan. Bahkan sekarang ia hanya mampu duduk-duduk di balkon kamarnya dan melihat Jimin serta anak-anak penyewa lain bermain basket di halaman belakang pada sore hari di musim gugur yang makin dingin.

Sepertinya mereka sangat senang, Soo Eun hanya bisa membatin iri.

Bahkan Minjoo ikut dalam permainan meninggalkan Taehyung yang sepertinya kali ini ingin menonton saja sambil membaca komik. Permainan mereka terlihat makin seru walau terkadang gagal memasukan bola kedalam ring mereka tetap tertawa. Hal itu pun makin membuat Soo Eun iri.

Jimin, kakak kelasnya itu juga terlihat lebih atraktif dan banyak tersenyum bila sudah dengan teman-temannya, membuat Soo Eun yang diam-diam melihat jadi ikut tersenyum. Aneh sekali rasanya, ia tidak pernah seperti itu sebelumnya.

Apa begini rasanya?

Soo Eun pangkukan pipi pada sebelah tangannya yang bersandar pada pagar pembatas balkon. Sedang asik-asik menontonnya, ia mendengar seseorang memanggilnya dari bawah—“Soo Eun-ah!!” itu Minjoo yang melambai padanya. Refleks saja yang lain (termaksud Jimin) menatapnya juga, membuat Soo Eun segera menegakan badannya.

“Ayo turun!!” ajak Minjoo.

Tentu hal pertama yang Soo Eun pikirkan adalah mengangguk, tapi ia menggeleng karena tida ingin merusak kesenangan dengan sikapnya nanti.

“Ayolah, ayo! Kau tidak bosan seharian saja di kamar?” bujuk Minjoo sekali lagi.

Soo Eun ingin menolak sekali lagi, tapi ia lihat Jimin tersenyum kearahnya yang membuat Soo Eun membeku seketika lalu membuat gerakan tangan agar Soo Eun ikut juga. Jimin tidak tahu bagaimana berdebar-debarnya ia saat itu hingga mundur perlahan memasuki kamarnya dan sibuk mondar-mandir.

Eotteokhe—Eotteokhe? Eotteokhe…

Tapi tetap saja keputusan akhirnya adalah ia turun dengan tergesah-gesah. Dan saat hampir sampai, ia berhenti dahulu untuk mengatur napas, mengecek penampilan dan sebisa mungkin terlihat biasa saja.

.

.

.

Di pihak lain, Jimin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena tadi melihat Soo Eun masuk begitu saja. Ia pikir Soo Eun pasti marah lagi dengannya. Akhir-akhir ini Soo Eun memang suka marah-marah dengannya, tapi entah kenapa bukannya balik marah ia merasa lega dan lucu—bukannya meledek, tapi lucu bagaimana Soo Eun marah itu terlihat imut—Sial, apa yang kupikirkan?

Ketika ingin kembali bermain, tanpa sengaja Jimin melihat Soo Eun keluar dari dalam rumah yang membuatnya tersenyum begitu saja tanpa tahu apa alasannya.

Minjoo yang melihat Soo Eun langsung menariknya untuk ikut bermain, “Kita jadi lengkap! Ayo buat tim!” putus Minjoo yang anehnya hari ini terlihat bersemangat sekali.

Soo Eun disitu seperti orang linglung, nilai olahraganya saja jelek, apalagi main basket. Tapi ia kali ini ikut-ikut saja. Sangking banyak berpikirnya, Soo Eun tidak sadar tim telah dibuat. Ia satu tim dengan Minjoo dan seorang namja lainnya, sedangkan Jimin di tim lawan.

Permainan di mulai dengan bola berada di tangan tim Soo Eun. Pertandingan main-main terasa sangat menyenangkan walau beberapa kali Soo Eun gagal memasukan bola ke ring, ia tetap tersenyum bahkan sesekali tertawa bersama yang lain. Dan Soo Eun menikmati moment-moment di mana Jimin ingin merebut bola darinya, bahu yang sesekali bersinggungan, mata yang sesekali bertemu. Bahkan saat Soo Eun jatuh terduduk karena tidak sengaja bertabrakan dengan yang lain Jimin mengulurkan tangan padanya yang langsung ia terima (gugup pastinya) untuk kembali berdiri.

Soo Eun hanya bisa berharap tidak ada yang menyadari bagaimana pipinya merona di sore musim gugur itu.

Permainan usai setelah sepuluh menit karena Minjoo keluar lapangan dengan wajah agak pucat, mungkin kelelahan, yang langsung dipapah Taehyung ke dalam. Yang lain juga satu persatu pergi, hanya tersisa Soo Eun yang berkali-kali mencoba memasukan bola ke dalam ring namun gagal. Lalu ada Jimin yang duduk di tengah lapangan sambil memperhatikan Soo Eun.

Jimin tertawa ketika Soo Eun gagal lagi. “Bukan seperti itu caranya,” dan berdiri, mengebaskan bokong celananya yang kotor lalu melangkah ke arah Soo Eun.

Jimin tidak tahu saja bagaimana jantung Soo Eun saat itu, tapi Soo Eun berusaha tegar. Ketika Jimin mengambil bola di tangannya dan menyuruhnya memperhatikan bagaimana caranya, Soo Eun malah memperhatikan wajah Jimin yang main menarik baginya. Jujur, Soo Eun suka bagaimana mata itu menyipit kala tersenyum—

“Kau mengerti?”

“Eh?”

Jimin langsung memberikan kembali bola itu pada Soo Eun yang tidak mengerti karena sedari tadi tidak memperhatikan. Mau tidak mau Soo Eun bergaya seolah mengerti, ia bagaimanapun tidak ingin terlihat bodoh. Ia siap menembak—

“Aaa … bukan seperti itu!”

Jimin mendekat pada Soo Eun dan membenarkan tangan Soo Eun dari belakang. Sungguh, saat itu Soo Eun tidak fokus, ia hanya menoleh untuk menatap Jimin. Dan mungkin Jimin sadar ditatap olehnya hingga mata mereka bertemu dalam jarak sedekat itu. Entah ini perasaannya saja atau memang sunyi menyelubungi mereka. Dan Soo Eun sudah terlanjur tenggelam dalam gelapnya mata Jimin.

Tapi moment itu tidak bertahan lama karena Jimin mengalihkan perhatian lagi pada tangan Soo Eun. Lalu tangannya di dorong tangan Jimin untuk melempar bola—dan masuk.

Pada akhirnya Jimin berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Jujur, saat itu Soo Eun kecewa. Apa Jimin tidak menyukainya juga?

Soo Eun menghela napas amat berat. Jadi begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Sesak sekali.

Sedangkan Jimin yang berjalan meninggalkan Soo Eun di belakang kini tengah dilanda bingung yang nanti akan membuatnya terjaga di malam hari. Ia telah memikirkan Soo Eun akhir-akhir ini, tapi tadi itu pikirannya kacau. Bagaimana bisa ia berpikir untuk mencium Soo Eun tadi?

Gila!

Ingin sekali Jimin mengacak rambutnya kini, tapi di belakangnya masih ada Soo Eun. Mungkin nanti saja kalau sudah di kamar—Sial-sial!

***

Kenyataannya, perasaan memang tidak bisa ditutupi terlalu lama. Walau tidak pernah berucap, hanya sikap saja sudah cukup dikatakan cinta. Itulah yang terjadi pada dua insan ini.

Bila kita lihat dari sisi Jimin, namja itu sejak awal sudah memperhatikan Soo Eun sebagaimana namja normal lainya, tapi hanya sebatas itu karena ia tahu batasnya; dia datang dari Busan untuk mendapatkan beasiswa atas bakat menari dan olahraganya, juga eomma-nya yang banting tulang menyekolahkannya serta adiknya. Tapi hanya sampai situ?

Dan ternyata tidak. Ketika ia tanpa sengaja melihat sisi lemah Choi Soo Eun yang selalu bersikap dingin di kos-kosan membuat Jimin lama kelamaan (tanpa disadari dirinya sendiri) memiliki rasa ingin melindung pada yeoja itu tumbuh. Jimin memperingati kalau itu memang bisa terjadi ketika namja melihat yeoja menangis, seperti sudah kodratnya. Bolehlah kita sebut rasa iba saja. Tapi Jimin tidak mengantisipasi perasaan lain yang tumbuh berakar dihatinya pelan-pelan.

Jimin tidak sadar ketika ia selalu tersenyum ketika melihat Soo Eun, matanya yang perlahan kembali mencari sosok Soo Eun, ingin mengobrol santai karena tanpa ia sadari (lagi) ia suka suara Soo Eun dipendengarannya—tidak berisik, hanya pas saja. Dan yang paling ekstrim setelah ‘insiden’ ingin mencium itu, Jimin tidak bisa berhenti memikirkan Soo Eun ketika sendiri.

Ketika di sekolah pun, Jimin ingin menghampiri Soo Eun yang ada di kelas 10 hanya untuk sekedar mengobrol, tapi Jimin ingat Soo Eun tidak ingin ada gosip tetang mereka, jadi ia urung mendekat. Tapi ketika pulang sekolah dan Soo Eun berjalan pulang sendiri, Jimin menemani Soo Eun karena khawatir Soo Eun akan diganggu lagi oleh para pemabuk. Beruntung Soo Eun setuju walau Jimin harus menerima tatapan terkejut-bingung-tajam dari Soo Eun.

Bagi Jimin itu sudah cukup.

“Jadi, dimana Minjoo?” Jimin melirik Soo Eun yang kini cemberut.

“Tidak tahu! Kenapa bertanya tentang Minjoo?” Jimin mungkin tidak menebak sinyal cemburu Soo Eun, ia hanya menyangka Soo Eun kesal karena di tinggal Minjoo.

“Ani. Aku hanya berpikir bagaimana kalau kau terus di tinggal Minjoo dan pulang sendiri.”

Soo Eun terlihat bingung. Rambut brunette bergelombangnya yang indah tertiup angin sore, “Maksudnya?”

Jimin memasukan kedua tangannya ke dalam saku mantel karena tiba-tiba ia merasa gugup, “Sebaiknya … kau mencari teman pulang bersama ketika Minjoo tidak bisa, aku hanya khawatir kau akan diganggu oleh pemabuk.”

Sungguh, saat itu Jimin ingin mendengar respon Soo Eun, tapi tidak kunjung bersuara apapun. Jimin pun memberanikan diri—“Kalau kau memang tidak menemukan orang lain … kau bisa meminta padaku—”

“Apa boleh?” potong Soo Eun dengan cepat dan terkesan bersemangat.

Jimin tentu terkejut, tapi selebihnya ia terkekeh, “Tadi kau diam saja. Ada apa denganmu?” tanya Jimin setengah menggoda.

Ani!” Soo Eun membuat wajah cemberut yang membuat Jimin gemas ingin mencubitnya, tapi tentu tidak ia lakukan.

Mereka pun berjalan pulang dengan mengobrol santai. Sesekali mereka akan tertawa atas lelucon yang mereka buat.

Dan setelah hari itu Jimin dan Soo Eun lebih banyak mengobrol bahkan sesekali saling curhat di beranda belakang setelah bermain basket bersama. Mereka sudah dekat, bahkan kerap digoda Nyonya Kang dan penghuni yang lain, tapi belum ada satu pun pernyataan apalagi penerimaan cinta. Entah apa lagi yang mereka pertimbangkan.

Lalu pada suatu pagi Jimin menerima telepon, “Ya, ada apa?”

Eomma!!?”

***

Pagi hari itu Soo Eun keluar kamarnya dengan perasaan senang karena mimpi semalam. Ia menuruni tangga dan langsung menuju ruang makan untuk sarapan bersama yang lain. Di meja makan sudah ada semua kecuali Jimin, Soo Eun berpikir mungkin Jimin masih di kamar. Soo Eun menyapa semua lalu duduk di antara Minjoo dan kursi kosong yang biasa di duduki Jimin.

Setelah sepuluh menit dan sarapan hampir berakhir, Soo Eun tidak melihat Jimin hadir. Apa mungkin berangkat duluan? Bukankah mereka berjanji akan pergi bersama? Soo Eun melirik-lirik pada kursi kosong di sampinganya.

Mungkin Nyonya Kang menyadari Soo Eun yang terus melirik kursi Jimin, jadi Nyonya Kang bersuara, “Jimin tadi pagi-pagi sekali pergi ke Busan karena eomma-nya kecelakaan—”

“Berapa lama?” sontak yang lain menatap Soo Eun yang bertanya terlampau menggebu.

“Katanya seminggu paling lama.”

.

.

.

Jadi ia harus tidak melihat Jimin paling tidak seminggu? Soo Eun diam saat memikirkan itu, bahkan saat Minjoo mengajak bicara saat jam istirahat.

Minjoo yang menyadari perubahan sikap Soo Eun lantas tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengotak-atik ponselnya mencari kontak seseorang lalu saat sudah ketemu ia geser ponselnya di meja kantin kehadapan Soo Eun. Soo Eun yang melihat itu mengangkat alis bingung.

Mwo?”

Minjoo menyeruput jus apelnya lalu tersenyum, “Telepon dia saja.”

Soo Eun masih menatap Minjoo heran. Minjoo sendiri tahu kalau Soo Eun tidak punya nomor Jimin. Dan Minjoo tahu bagaimana rasanya merindu.

Soo Eun menatap Minjoo ini aneh, sok peramal, mungkin ketularan pacarnya itu—Taehyung ya? “Apaan sih?” ia kembali menyantap makan siangnya walau sedari tadi tidak berselera.

“Kau harus jujur dengan dirimu sendiri, Soo Eun-ah. Baru kau bisa jujur dengannya. Memendam rasa terlalu lama rasanya tidak mengenakan, apalagi tidak bertemu; sehari serasa sebulan. Aku pernah merasakannya saat Taehyung pergi mengunjungi Daegu, padahal hanya tiga hari,” Minjoo mengangguk-angguk seolah dia adalah orang tua yang memberi wejangan.

“Ada apa denganmu, Minjoo?” Soo Eun menggeleng-geleng, bersiap menghabiskan makanannya lebih cepat agar Minjoo tidak berbicara macam-macam lagi tapi matanya tidak pernah bohong saat ia diam-diam melirik pada rombongan anak basket yang duduk di pojokan dengan berisik. Biasanya Jimin ada di sana, hatinya berbicara tanpa sadar.

“Dan kau menghela napas—itu artinya kau merasakan sesuatu.”

“Aku tidak—”

“Kau merindukannya?”

Iya…

Anio!”

“Oke, terserah kau, Soo Eun-ah.”

***

Minjoo benar. Soo Eun rindu Jimin. Dan rasanya tidak enak sekali. Soo Eun tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya, tapi dalam kasus berbeda ia pernah rasakan saat eomma-nya meninggal dua tahun lalu. Dan keputusan appa-nya untuk menikah lagilah yang membuat Soo Eun sedih, makanya ia pergi untuk menenangkan diri. Dan alasan Soo Eun belum juga menghubungi Jimin padahal ini sudah tiga hari dan ia sudah punya nomor ponsel Jimin adalah karena ia tidak ingin mengganggu. Bisa saja Jimin sekarang sedang repot mengurus eomma-nya dan ia tidak ingin egois walau bagaimanapun rindunya ia.

Jadilah ia sekarang duduk-duduk di balkon kamarnya saat malam datang dan ia tidak bisa tidur. Entah kenapa ini menjadi aktivitas-nya saat ia rasa ingin melihat Jimin, ia juga banyak menghela napas seperti kata Minjoo dan melihat layar ponsel juga jadi kebiasaan setiap menit—padahal belum tentu Jimin punya nomor ponselnya, apalagi meneleponnya.

Babo! Soo Eun babo…

Soo Eun jadi berpikir, kalau seperti ini bagaimana ia bisa melewati empat hari lagi?

Soo Eun mengusap dadanya dan bangkit dari duduknya—Aduh … sesak sekali.

Ia berniat kembali kedalam dan tidur karena besok ia harus sekolah. Ia hanya bisa berdoa Jimin baik-baik saja di sana.

Kau harus tetap sehat, Park Jimin…

***

Sudah tiga hari ya?

Jimin melihat kalender kecil yang terpajang dimeja resepsionis saat ia sedang memperpanjang administrasi untuk eomma-nya di rumah sakit di Busan itu. Ia juga baru saja menebus obat di apotik dan perutnya agak keroncongan karena ia belum sempat makan malam. Keadaan eomma-nya sempat kritis sore tadi jadi ia tidak sempat berpikir apapun, bahkan makan.

Ia mengucapkan terima kasih pada resepsionis sebelum kembali berjalan ke kamar inap eomma-nya. Saat di lorong menuju kamar inap, ia lihat seorang yeoja cantik berambut pendek berdiri di depan pintu kamar inap eomma-nya, seperti ingin masuk tapi karena melihat kedatangnya jadi menyapanya.

“Jimin-ssi, kau sudah kembali?”

Jimin mengangguk ketika sudah di hadapan yeoja yang dua tahun lebih tua darinya, “Kenapa tidak masuk, Hyi-sung-noona?”

“Kau sudah makan malam?” Jimin menggeleng, “Ayo aku traktir.”

Jadi mereka pergi ke kantin rumah sakit yang buka 24 jam. Jimin makan dengan lahap karena memang ia kelaparan, tapi noona di depannya malah menatap Jimin dengan pandangan sedih. Iba? Ada apa memang?

“Kenapa kau tidak makan, Noona?”

Hyi-sung menggeleng dan menunduk dalam, “Mianhamnida, Jimin-ssi.”

Jimin menghentikan makannya dan menatap Hyi-sung sedih, “Bukan salahmu, Noona.”

Mian—hiks—mianhae, Jimin-ssi. Ka—karena aku, eomma-mu—” Hyi-sung menunduk lebih dalam sambil terisak.

Jimin tidak mengatakan apapun selain menatap sedih Hyi-sung yang duduk di depannya. Jimin sudah tidak mempermasalahkan hal itu, ia mengerti Hyi-sung yang seorang mahasiswa yang datang untuk study tour ke Busan tidak sengaja menabrak eomma-nya yang sedang menyeberang jalan saat lampu hijau. Tidak apa-apa, itu juga kesalahan eomma-nya.

Hyi-sung masih menangis ketika ia mengusap punggung itu. Satu lagi yeoja menangis di hadapannya, namun rasanya begitu berbeda dengan Soo Eun. Soo Eun…

Bagaimana kabar gadis itu?

***

Ternyata sisa empat hari ia bisa hadapi. Dan kalau tidak salah hitung, Jimin pulang hari ini. Kalau tidak sampai sore ya malam. Tapi yang pasti, Soo Eun akan melihat Jimin lagi menyapanya dan tersenyum padanya. Ia tidak sabar. Bahkan ia tidak sabar bahwa nanti ia akan jujur tentang perasaannya pada Jimin.

Ya. Rasa cintanya.

Soo Eun memerah sendiri memikirkan itu. Ia belakangi resiko penolakan, saat ini ia hanya mau membangun rasa beraninya. Mencoba dulu katanya.

Soo Eun natap refleksi dirinya pada cermin dan tersenyum, “Choi Soo Eun, fighting!”

Lalu pintu kamarnya diketuk. Ketika ia buka ternyata Nyonya Kang dengan wajah cemas, “Soo Eun-ah?”

“Ada apa, Nyonya Kang?”

“Ada … ada yang mencarimu,” jawab Nyonya Kang takut-takut.

Mata Soo Eun berkedip-kedip bingung, “Nugu?”

.

.

.

“Aku pulang.”

Jimin baru saja tiba di kosan langsung dihampiri Nyonya Kang yang senang.

“Wah akhirnya kau datang juga, Jimin-ah. Kau sehat?” tanya Nyonya Kang terlihat sedikit cemas, yang membuat Jimin agak curiga.

“Ne.”

Mereka berjalan kearah ruang keluarga dimana yang lain sudah duduk di depan tv. Ini memang sudah melewati jam makan malam dan sudah jadi kebiasaan untuk penghuni lain berkumpul. Jimin menyapa mereka.

“Bagaimana keadaan eomma-ku, Jimin-ah?” tanya Minjoo.

“Sudah baik, bahkan sempat ia mengantarku sampai keluar rumah.”

“Syukurlah,” ucap Nyonya Kang.

Tapi mata Jimin menyadari ketidakhadiran penyewa lain; Soo Eun; yang sudah jadi pikirannya ketika masih di sana. Kemana dia itu? Apa sudah tidur?

“Kau mencari Soo Eun?” tanya Nyonya Kang.

Jimin lantas menatap Nyonya Kang. Biar terkejut karena hatinya terbaca, ia tetap mengangguk.

“Itu…”

.

.

.

Appa sudah memberi waktu padamu, Soo Eun.”

Soo Eun sendiri sudah menunduk dalam saat diajak makan malam bersama appa dan seorang yeoja yang umurnya terlihat 10 tahun lebih muda dari appa-nya itu. Ia sebenarnya tidak sanggup duduk seperti ini—duduk dalam satu ruangan dengan orang yang akan menggantikan eomma-nya.

Appa Soo Eun terlihat frustrasi. Dia mencoba meraih tangan Soo Eun, tapi Soo Eun tarik tangannya perlahan darinya, “Appa mohon, Soo Eun. Appa juga tidak sanggup harus kehilanganmu— Appa—

Tidak. Soo Eun juga tidak sanggup kehilangan keluarganya lagi. Dan apakah ia egois? Apa Soo Eun seegois itu membiarkan Appa-nya tidak bahagia?

“Soo Eun-ssi?” yeoja itu buka suara lembutnya, membuat Soo Eun kini memperhatikannya dengan sedih, “Aku tidak pernah berniat menggantikan siapapun, aku juga tidak merebut Appa-mu darimu—aku hanya mencintainya, Soo Eun-ssi. Aku…”

Appa tidak bisa melakukan apapun kalau kau tidak ada. Apa kau pikir Appa akan menikah begitu saja jika kau tidak menyukainya?”

Soo Eun lihat pipi Appa­-nya yang tirus dan kantung mata yang hitam. Apa Appa-nya sakit? Kenapa? Kenapa sampai seperti itu? Apa sudah minum obat?

Apa aku begitu egois-nya?—Tidak, Soo Eun hanya butuh waktu karena ia masih belum bisa menerima kematian eomma-nya.

“Soo Eun—”

Appa—” Kini Soo Eun buka suara yang bergetar dan matanya yang dihangati airmata, “Beri—” ia menahan airmatanya demi satu-satunya orangtuanya, “Beri waktu aku berpikir sekali lagi.”

Lalu Soo Eun bangkit, berniat pergi meninggalkan restoran itu untuk merenung, tapi langkahnya terhenti dengan pemikirannya sendiri. Ia pun membalikan badan lagi dan menatap kekasih Appa-nya, “Aku tidak membencimu, Ahjumma.” Ia pun membungkuk sekali sebelum kembali berjalan pergi dari sana.

Soo Eun terus berjalan di antara kerumunan orang di daerah Apgujeong-dong dimana letak restoran mahal yang tadi ia tinggalkan. Ia berjalan tanpa arah dan bingung. Ia masih memikirkan appa-nya yang ingin menikah lagi—sungguh, ia juga ingin melihat appa bahagia, tapi ia juga belum bisa melupakan eomma untuk saat ini. Mungkin benar ia memang butuh waktu dan ia juga butuh seseorang.

Soo Eun remas ponselnya yang berada di saku mantelnya. Dan ia terpikir Jimin. Apa Jimin sudah kembali ke kosan? Bagaimana keadaan namja itu? Baik?

Karena banyaknya pikiran yang berseliweran di kepalanya, Soo Eun tidak sadar ia melangkah sudah sampai taman yang berada di luar kawasan elit tadi. Ia pun mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi Jimin—karena ia terlampau rindu dan butuh seseorang untuk diajak bicara, airmatanya pun yang sedari tadi ia tahan di depan kerumunan orang sudah siap jatuh di taman yang sepi itu.

Ia ingin menghubungi Jimin, namun ponselnya bergetar terlebih dahulu dengan panggilan seseorang—Park Jimin?

Kenapa—tapi ia tahan pertanyaannya itu dulu saat ia mengangkat panggilan itu. Tarik napas … buang, “Yeoboseyo?

.

.

.

Jimin mengatur napasnya yang baru saja memburu setelah berlari cukup jauh setelah turun dari subway menuju sebuah taman yang dekat Apgujeong-dong area. Matanya menyapu kawasan untuk mencari dimana taman yang disebutkan Soo Eun dan gelapnya malam makin membuatnya sulit mencari yeoja itu.

Tapi Jimin tidak menyerah. Ia menyusuri daerah Gangnam tanpa melewati detail sedikit pun. Taman yang sepi, kata Soo Eun. Tapi dimana?

Saat berjalan hampir setengah jam itulah baru ia menemukan sebuah taman kecil yang berada di antara dua bangunan besar. Tamannya cukup sepi, tapi dari tempatnya berdiri ia bisa lihat lampu-lampu taman bersinar cukup untuk menunjukan arah. Semakin ia berjalan mendekat ke sana, ia lihat sesosok yeoja duduk di salah satu bangku taman di bawah salah satu lampu taman. Sontak saja ia mempercepat langkahnya, bahkan terlihat seperti berlari.

Jimin yakin itu Soo Eun yang sedang memeluk kaki yang terlipat itu sambil menelungkupkan wajah di sana. Jimin melihat Soo Eun yang masih sama; rambutnya yang indah masih sama. Tapi yang masih membuatnya kadang merasa sesak di dada adalah ketika Soo Eun menangis.

Ada apa?

Tanpa sadar Jimin mengutarakan pikirannya sampai Soo Eun mengangkat kepala dengan wajah basah yang langsung diusapnya itu.

“Ji-Jimin?” Soo Eun menurunkan kakinya saat Jimin duduk di sampingnya.

Wae? Kenapa kau bisa ada di sini sendirian?”

Nada suara Jimin yang cemas itu entah kenapa membuat Soo Eun lega, bahkan ketika Jimin mengusap airmatanya yang masih tersisa ia tidak tahan dengan rasa rindunya. Maka ia peluk Jimin, tidak terlalu peduli bagaimana reaksi Jimin. Awalnya terasa aneh karena Jimin begitu kaku, tapi lama kelamaan rasanya hangat apalagi ketika Jimin balas memeluknya dan mengusap puncak kepalanya.

Benar-benar rindu…

Jeongmal … bogoshipeoyo…”

Soo Eun mengangkat wajahnya dari dada Jimin dan menatap wajah itu. Apa ia salah dengar? Apa Jimin … mengatakan merindukannya dengan lirih tadi?

Soo Eun menatap Jimin dengan airmata menggenang lagi, membuat yang ditatap sadar dan kembali menatapnya dalam jarak sedekat itu. Entah sebahagia apa perasaan Soo Eun saat tahu perasaannya terbalas dan bahkan ia tidak tahu bagaimana perasaannya lagi ketika wajah Jimin makin mendekat hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.

Di bawah lampu taman dan malam cerah di musim gugur itu perasaan mereka terungkap. Tapi bukankah sudah kukatakan, walau tidak pernah berucap, hanya sikap mereka saja sudah cukup dikatakan cinta? Ini hanya sebagian dari sikap itu yang makin membuat mereka jujur.

Begitulah cara cinta mereka.

.

.

.

Sebulan Kemudian…

.

.

.

Soo Eun mematut dirinya di cermin dan tersenyum dengan penampilannya sendiri. Gaun berbahan sifon berwarna merah muda permen kapas terlihat pas di tubuhnya. Ia pun memoles wajahnya dengan make-up tipis sehingga pas dengan gaun yang dibelikan appa-nya. Ia juga memakai heels 7 centi untuk memperindah kaki jenjangnya yang terlihat sebatas lutut.

Lalu pintunya diketuk, segera saja ia membukanya setelah mengambil mantelnya dan melihat Jimin berdiri di depan kamarnya dengan jas yang makin membuat Jimin tampan. Jimin pun menatapnya dari atas ke bawah dengan tampang datar—entah apa yang dipikirkannya saat itu.

Wae?” tanya Jimin heran karena Soo Eun masih menatapnya.

Dan Soo Eun ini tipe orang kalau sudah sayang tidak akan sungkan, “Oppa, tampan!” tidak sungkan menggoda, maksudnya.

Tentu yang dipuji memerah dan Soo Eun hanya terkekeh. Dalam hati ia senang menggoda Jimin—Bahaya tuh! Bahaya!

Lalu Jimin mengembalikan harga dirinya sambil menghela napas, “Kau terlihat lebih tinggi daripada aku. Aku tidak bisa berjalan di sampingmu,” nah, kini giliran Jimin yang menggoda Soo Eun dengan pura-pura bete.

Soo Eun cemberut dan panik sendiri, “Ya…! Eotteokhe…? Aku sudah tidak punya heels lagi—apa aku pinjam Minjoo saj—”

Anio! Kalau menunggumu meminjam pada Minjoo kita akan telat,” Jimin langsung meraih tangan Soo Eun untuk ia genggam dan menuruni tangga. Sedangkan Soo Eun terus memanggilnya dengan protes, “Kau sudah sempurna dan cantik. Tidak apa-apa terlihat tinggi sementara daripada aku.”

Protes Soo Eun langsung berhenti. Mereka berjalan keluar dari kosan dan di depan sudah ada mobil Lamborghini hitam menunggu mereka dengan seorang supir yang siap membukakan pintu untuk mereka kapan saja.

Jimin mendengar Soo Eun menghela napas gugup.

“Aku gugup,” ungkap Soo Eun saat mereka masih berdiri di depan mobil itu.

“Kau tidak sendiri,” Jimin meyakini Soo Eun.

Soo Eun pun menatap lekat Jimin lalu memeluk lengan kokoh itu, “Jangan jauh-jauh nanti di sana. Arraseo?”

Jimin ingin tertawa dengan sikap Soo Eun yang kalau datang manjanya jadi sangat lucu, “Ne. Memang aku mau kemana?” tapi akhirnya ia tersenyum saja, “Appa-mu dan Ahjumma pasti sudah menunggumu di pernikahan mereka. Kita tidak boleh telat datang ke gereja. Kajja!”

Soo Eun mengangguk dan masuk kedalam mobil di ikuti Jimin yang membukakan pintu tadi. Mobil mereka pun pergi menuju tempat suci yang kelak akan mereka kunjungi lagi dengan mereka sebagai pengantinnya.

The End

A/N: Ide kosan dari Reply 1994 ya. Dan apa ini sinetron banget? Jimin-nya OOC pula, ngga pecicilan. Gimana kalo bikin Hoseok-oppa? #ngga abis pikir (atau aku emang ngga bisa mikir ya? -.-a). Moga-moga ngga aneh. Hahaha😀

Oh iya, walau telat bingitz (?) Saengil chukkae ne uri Bangtan!!!😄 BTS fighting!!!

Buat yang minta sequel yang kemarin, nanti ya kalo udah semua. Aku mau selesai-in semuanya dulu baru buat sequel.

Bersedia ber-comment ria?

Selanjutnya: Winter: Babo Love [Hoseok/J-Hope BTS – OC]

About fanfictionside

just me

31 thoughts on “FF oneshot/ MISS RICH AND MR. POOR/ BTS-BANGTAN

  1. Hai😀 *nyegirkuda* aku komen lagi nih, hehe😀 Ini cast yang paling aku tunggu *maklum bias* Jiminnya berbanding terbalik dengan dunia nyata ya. Biasanya dia selengean (?) sekarang jadi serius kayak gini hoho ^^. Aku suka ini, suka pake banget. Next Jhope? wah anak super active itu mau dibikin kayak gimana karakternya? kayak Jimin dan Taehyung kah yang berbanding 180° dari kehidupan nyata (?) Next ditunggu ya jgn lama-lama.

    Oke sekian komentar dari gue yang panjang x lebar ini. Fighting!! 🙂

  2. Gimana ya.. Aku terharu bacanya thor… Kesannya kata-kata nya itu lembut banget ngena banget tau :’D aku seneng karna jimin bias ku yg jadi cast nya😄 soo eun keliatan manis disitu dan jimin dia sangat manly menurutku😄 aku pengen bisa nulis kata-kata selembut ini u.u tapi aku ga bisa milih kata-kata bagus yg artinya “wow” gitu ;curhat; /? Kkk~ good job thor!!! Tapi… Aku penasaran.. Jungkook ada hubungan apa sama minjoo??

    • Iya, kita sama mem-biaskan dia. abis manis sihh :3
      Aku juga masih belajar, kebetulan aja feel-nya dapet.
      Kookie? Nanti ya di next fic😉

  3. Keren ih ! Aku Suka Aku Suka ! Apalagi cast ny jimin itu kan bias aku xDsifat jimin weh bikin aku ngFLY ! Manly bingitsss ! Alhamdulilah happy ending xD

  4. Maniss bgt ceritanya… baca jadi senyum2 sendiri:3
    Aku suka bgt cara author maparin tulisannyaa😀
    Btw aku dpt bgt feelnyaa>< biasanya klo baca yg maincast jimin feelnya kurang ngena *padahal bias* muehehe
    Okelah thor… yg jelas ini daebaaak bgt ♥

  5. huuahhh….
    Selesai bacanya😀
    iya thor lanjut buat yg ver JHOPE oppa ^_^

    ini keren aku suka, di sini pnya cara tersendiri utk nyampein rsa cintanya (jiailegh😀 hahaha)

    DAEBAK

    • Haha panjang ya?
      Silakan tunggu ya, jangan lupa yang lain Hello, Mr. Alien #promo😉
      Makasih udh baca🙂

  6. Serasa bkn jimin😄
    jimin terllu cool wkwkwkwk kan asli nya pecicilan whhehe *peace*
    aku ska thor cerita nya bgus😀

  7. ini seruu hahahahaw… ide nya bagus dan feel nya juga dapet.
    Jimin disini cool banget yeh -..- tapi suka kalo dia begini, ngebayangin aja bikin senyum-senyum kkkk~

    keep writing !

  8. Huaaaa daebak…. Aku suka banget sama cast + alur ceritanya, oh ya Thor, udh buat siapa aja castnya??
    Hehehe baru ngikut soalnya😀. Mian🙂 , btw terus berkarya dan semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s