FF/ A LETTER FOR YOU/ BTS-BANGTAN/ 2 of 2 (END)


Title: A Letter For You

Author: Choco96

Genre: sad, romance, family, violence

Length: Twoshot

Rating: PG-15

Casts: Arden (Yourself) | Kim Seokjin

Summary: Ketika kau mendekatiku, seketika kau lenyap begitu saja.

Disclaimer: Cerita ini 100% hasil punya saya. Kim seokjin milik Tuhan, keluarganya, Bighit Entertainment! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

FF ini juga pernah aku post di blogku sendiri, tapi dengan cast dan judul yang berbeda. Tapi alurnya sama aja intinya.

WARNING! There are typos in this story~ kkk

 

 

A Letter For You (Part 2/END)

 

Tiba-tiba Jin memelukku, “Jin?”

***

 

Satu menit pun berlalu, Jin melepaskan pelukannya dan menggandeng tanganku. Di antara kita belum ada satupun yang mengawali percakapan yang mungkin sekarang dalam keadaan canggung. Itu menurutku, entah menurut Jin seperti apa.

Sudah beberapa puluh meter, Jin masih membawaku entah kemana. Yang sedari tadi kulewati hanyalah perumahan yang biasa kulewati ketika aku dan Jin berangkat sekolah maupun pulang. Entah apa yang dipikirkan Jin sekarang, aku begitu penasaran. Mengapa minggu-minggu ini gelagat Jin sedikit mengkhawatirkan. Dan ditambah juga masalah di rumah, itu begitu membuatku lebih runyam dengan keadaanku sekarang.

Botol berisi surat.

Aku lupa sekarang terdapat benda ini di dalam genggamanku. Sedikit menelisik sebentar, apa isi dari surat ini? Begitu pentingkah? Atau hanya gurauan semata? Namun aku tak menemukan wajah Jin yang sedang bergurau, melainkan wajam yang serius dan itu menurutku sangat menyeramkan.

“Jin? Kita mau kemana?” Nadaku sedikit khawatir.

“Kita pergi ke supermarket dulu. Aku haus.” Tanpa menoleh padaku.

Oh, dia haus. Mengapa tidak bilang dari tadi?

Setelah itu, dia mengantarkanku pulang. Sudah pukul enam sore. Aku membalikkan badanku, lalu tersenyum kepada Jin. Tulus.

“Terima kasih, Jin…”

“Maafkan aku, Den.” Selanya.

“For what?” Tanyaku penasaran.

“For anything. Especially related by you.”

Ah, tak apa. Ketika aku bersamamu saja, aku sudah bahagia. Karena kau tak tahu jin, perasaanku yang dari dulu takkan pernah berubah. Sedikitpun.

Aku mengangguk pelan. “Okay, no problem, Jin.”

 

***

 

Bel sekolah telah berdering selama lima detik. Waktu untuk pulang bagi pelajar SMA di sekolahku. Namun aku masih belum beranjak dari bangkuku. Masih banyak tugas dari guru yang dilimpahkan kepadaku. Maklum, aku sebagai ketua kelas dan wakil ketua OSIS di sekolahku.

“Den?” sapa seseorang.

“Ah, Jin. Mengapa ada di sini?”

“Aku ingin mengajakmu ke toko aksesoris.” Tandasnya.

“Maaf, Jin. Aku masih banyak tugas yang belum kukerjakan. Ini baru diberikan kepadaku waktu bel pulang tadi. Pulanglah.”

Jin tak mengindahkan kata-kataku mungkin. Dia masih saja berada tepat di depanku dan memandang semua tugas yang sedari kukerjakan. Jin mencari-cari buku yang tak tahu berjudul apa. Seulas senyum itu berkembang, lalu menarik buku itu dan membukanya.

“Apa boleh aku mengerjakan ini?” bertanya dan menatapku.

“Ah, jangan Jin. Ini bukan tugasmu, ini tugasku. Mengapa yang susah kau? Jangan membantuku. Ini kewajibanku. Tinggalkan aku, Jin.”

“Jadi aku berani mengusirku, Den? Sekarang kau jahat padaku.” Air mukanya dibuat sedih.

“Bukan begitu. Ini, kan, tugasku. Mengapa kau yang repot?” Aku sedikit menata kata-kataku agar tak menyakiti hati Jin.

“Kalau begitu, beri aku kesempatan untuk membantu teman tercintaku ini.” Sederetan gigi Jin terpampang jelas.

“Ya, terserah kamu saja, Jin.”

Setelah tugas ini tuntas, Jin mengajakku pulang. Di halte bus, Jin mengecek ponsel yang bordering. Bukannya dijawab, namun ia matikan.

“Mengapa tak kau jawab?”

“Aku tak mengenal nomor ini. Mengapa harus kuangkat? Itu merepotkan, Den.”

Bus masih belum menampakkan dirinya. Tiba-tiba cuaca di halte ini berubah menjadi mendung dan dengan cepat menurunkan air dari langit. Sekedar melihat langit, semakin lama hujan semakin deras.

Ah, sial mengapa sekarang sudah turun hujan gerutuku dalam hati.

“Ayo, Den.”

“Ayo kemana? Kita menembus hujan seperti ini?” tanyaku menelisik apa yang dimaksud Jin.

“Kalau bukan, apalagi? Daripada kita mati kedinginan di halte bus yang semakin lama semakin gelap. Ayo!” Ajaknya dan menarik pergelangan tanganku,” Kau pakai jasku dulu.” Sambung Jin. Aku mengangguk apa yang dilakukan Jin terhadapku.

Sesampai di depan rumahku, Jin membereskan rambutku yang sedikit acak dan basah. Sesudah itu, ia menatapku lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku. Aku masih menunggu apa yang ingin ia sampaikan.

Satu detik.

Lima detik.

Sepuluh detik.

“Jangan paksakan dirimu, Den. Kau perempuan. Tak perlu kau sembunyikan air mukamu yang pucat itu. Aku tahu masalah keluargamu. Aku juga teman dekatmu. Tolong, jangan sungkan-sungkan untuk membagi penderitaanmu padaku.” Mengusap pipiku dengan tangan besarnya. Hangat yang kurasa atau karena aku terkena suhu dingin dan hujan? Entahlah.

Aku tak bisa menatapnya. Air mataku sudah mengumpul di pelupuk mataku. Aku masih menahan untuk tak tumpah di hadapannya. Aku tak ingin kerapuhanku terpampang jelas di hadapanmu, Jin batinku.

Tiba-tiba kedua tangan Jin menangkup wajahku,” Menangislah di pelukanku.” Seraya menarikku pada dekapannya. Aku menangis sesenggukan dan punggungku dibelai Jin lembut. Sekitar dua menit berlalu, Jin menyudahi pelukannya.

“Masuklah. Ibumu pasti mengkhawatirkanmu.” Tangannya mengusap air mataku yang masih hinggap di sudut mataku. Aku mengangguk pelan. Berbalik badan menjauhi tubuh Jin.

Membuka kenop pintu tua yang bercorak oriental. Langsung kuletakkan sepatuku di rak. Akan tetapi suasana di rumah sungguh aneh. Tidak seperti biasanya. Mengapa keadaannya begitu ganjil? Tanyaku dalam hati.

Aku menuju kamar tidur untuk mengecek keadaan ibu. Namun yang kudapatkan kenihilan. Tidak ada ibu di dalam. Tidak seperti biasanya ibu tidak di kamarnya .

Apa mungkin di dapur?

Benar dugaanku. Ibu ada di dapur. Tetapi, mengapa ibu tersungkur di dapur?

“Ibu!” segera memeluk ibu.

Ibu tak menggubris. Kugoncang-goncang tubuh ibu yang ingin segera sadar,” Ibu, sadarlah!” tangisanku semakin menjadi. Jantungku begitu berdegup kencang. Bukan karena rasa bahagia yang menghampiriku, namun rasa sakit.

Hawa dingin menyelimuti keadaan ruang dapur dan tingkat kecemasanku memuncak. Aku kehilangan akal sehat dalam sekejap. Aku mencari-cari sesuatu di tubuh ibu yang mungkin terdapat secerca keterangan yang dapat kuungkap. Ternyata ada bukti itu. Warna debam di punggung kanan ibu dan pipi kanan ibu.

“Jin!” Meneriakkan namanya. Air mataku kembali mengalir kemana-mana. Tolong aku, Jin. Aku membutuhkanmu sekarang! Batinku meliar. Tanganku merogoh sebuah ponsel putih, dan mengetuk panel touchscreen. Aku asal untuk menghubungi seseorang dengan mengetuk panel ponsel nomor depan lama. Dan terisak.

Beberapa selang waktu lama, suara pintu terbuka dari pintu depan. Siapa?

Jin? Ia datang menghapiriku? Terserah terpenting ibu bisa tertolong. Jin segera membopong tubuh ibuku yang berada di pangkuanku.

“Arden, ayo!” Sergahnya.

Di luar rumahku, sudah terdapat mobil Ford biru metallic miliknya. Ia memindahkan tubuh ibuku dengan hati-hati namun cekatan. Segera Jin melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

Di dalam mobil, aku masih tertundung sembari menyeka air mata yang selalu keluar dari kelenjarnya. Walaupun sudah berulanh kali kuseka, masih tersisa air yang mengarai ke daguku. Ibu tolong sadarlah batinku semakin tersiksa.

Jin sesekali melirik keadaan Arden. Namun Arden tak begitu menggubris karena pikirannya masih buram dengan masalah sekarang ini. Tanpa kusadari, tangannya menyusup di sela-sela jemariku,” Arden, are you okay right now?”

“….”

Sesampai di rumah sakit, Jin membopong ibu menuju ke IGD. Aku mengatupkan tanganku menutupi sebagian mukaku. Berkomat-kamit dengan harap ibu secepatnya sadar. Tangan Jin sudah bersandar di bahuku. Menarikku dalam pelukannya.

“Arden.” Panggil Jin dengan lirih.

“….”

“Baru kali ini aku melihatmu menangis selama ini.” Katanya yang terselipi rasa khawatir.

“Den, aku begitu kecewa. Kecewa dengan diriku sendiri. Aku tahu aku gagal menjadi teman yang berarti untukmu.” Menatapku intens.

“Jin.”

“Walau tak bisa menghilangkan rasa sakitmu, akan tetapi aku ingin sedikit membantumu.” Mengeratkan pelukannya padaku.

Mungkin aku begitu naïf dengan keadaanku. Keadaan yang memaksaku untuk tahan dengan cobaan Tuhan, tahan akan keadaan ibu yang belum sadar. Dan tahan akan perasaan yang tak terbalas?

Aku menyukaimu, Jin.

Ah, lebih tepatnya aku mencintainya sepuluh tahun yang lalu.

 

***

 

It hurts because you left

I cried all day, but it still hurts again

Though it hurts like this

Though it really hurts

Like a fool, I’ssmilling again today.

 

 

“Hello?”

“Arden.” Sapa seseorang yang begitu kukenal dari telepon nirkabel corak kuno.

“Yes, Jin?”

“Kamu sudah membaca surat yang kuberikan tempo hari?”

“Belum. Aku begitu taat apa yang kau perintahkan, Jin. Aku takkan membukanya jika kau yang menyuruhku.”

“Menurutmu, kau tahu apa isi dari surat itu?”

“Entahlah.” Jawabku datar.

“Kau masih sama seperti dulu. Bisa kau baca sekarang. Selamat siang, Arden.”

 

Tut tut tut~

 

Aku berbalik kearah berlawanan dan menuju ke sumber yang membuat otakku terusik. Surat itu. Botol yang sudah berumur delapan hari berada di kediamanku, tepatnya kamar tidurku. Aku meraih botol tersebut dan segera membuka tutup botol tersebut.

Dengan seksama kupahamu makna surat yang kupegang. Satu demi satu kata yang kucerna. Namun isi dari surat ini, mengapa?

Seketika air mataku menetes tanpa ku sadari.

 

Mengapa kau begitu kejam padaku?

 

***

 

Untuk teman mungilku, Arden.

 

Arden, apa kabar?

Aku harap selalu baik-baik saja.

Mungkin apa yang kuharapkan ibu bukan sesuatu yang “baik-baik saja”

Maafkan aku, Arden.

 

Ketika kamu membaca surat ini, kupastika jika aku sudah tak berada di sekitarmu.

Maafkan aku, Arden.

 

Sebenarnya aku tak ingin pergi dari Kota kecil yang sarat akan kenangan. Kenanganmu dan kenanganku.

Akan tetapi aku tak bisa menolak akan tawaran ayahku.

 

Bagaimana keadaan ibumu? Semoga keadaan beliau sehat selalu.

 

Aku mohon padamu, janganlah merasa sendiri walau aku tak berada di sampingmu lagi. Aku selalu di dekatmu.

 

Especially, in your heart. Trust me.

 

Satu hal yang belum kau ketahui dari dulu.

Dan pasti kau tak akan tahu dari dulu, sebelum aku pindah ke Kota kecil itu.

 

I love you, more than anything in the world.

 

Jika kau memang mencintaiku, tolong tunggu aku.

Mungkin takdir masih belum merestui apa yang kutulis ini barusan.

 

One more time, I love you so damn, Arden.

 

Your boyfriend, Jin.
 

/FIN/

 

NB: Gimana Fanficnya? Lebih ada feelnya nggak? Belum ya? Maafin author /tersungkur/ masih belajar buat Fanfic. Thank you all~ ^^

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ A LETTER FOR YOU/ BTS-BANGTAN/ 2 of 2 (END)

  1. Kependekan thor >____<
    Sikap Jin aneh gara2 jin mau ninggalin kota toh
    Sayang bgt jadi pisah padahal saling mencintai -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s