FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 3- side D


Kim Seok Jin – Jin BTS

Jung Hana – OC

Jackson Wang – Jackson GOT7

Park Jimin – Jimin BTS

Kim Hani – OC

Kim Taehyung – V BTS

Cho Jeung In – OC

Jeon Jeongguk – Jungkook BTS

Kim Seyeon – OC

Jung Hoseok – J-hope BTS

Kim Namjoon – Rapmonster BTS

Cho Hyunsung – OC

Min Yoongi – Suga BTS

Lee Daebi / Debby Lee – OC

Other Cast

 

 

Author : pandakim  (author tetap)

Rating: 15,

Genre : Teenager, School Life, Romance, Comedy

Lenght : Chapter

 

 

SCHOOL LOVE AFFAIR

SCHOOL LOVE AFFAIR

 

– First Date –

Side D

 

=this is my love statement=

 

 

Note: Di side ini tidak terfokuskan ke cast utamanya. Tapi ke yang lain. Dan side ini lebih panjang ketimbang side sebelumnya. Typo bertebaran di mana – mana, hati – hati. Maaf kalau membosankan. HAPPY READING

 

Author Pov

 

Lelaki bernama Kim Seokjin melangkahkan kakinya dari parkiran menuju ruang kelasnya. Dan tumben sekali dia datang terlalu pagi.

Di langkahnyakannya kakinya dengan santai sampai akhirnya kakinya berhenti di ruang kelasnya.

Baru selangkah masuk dia sedikit terkejut melihat seseorang di ruang kelasnya tersebut. Tak mau mengambil pusing Jin melangkahkan kakinya ke tempat duduknya tanpa memperdulikan seseorang tersebut.

 

“Pagi Kim Seokjin”

Lelaki bernama Kim Seokjin diam tak menghiraukan sapaan yang di tunjukan untuknya.

 

“Cih.. Tak mau membalas sapaan ku huh ?”

Jin tetap diam.

 

Merasa jengkel. Seseorang tersebut bergerak melangkah ke arah Jin.

“Hei.. aku menyapa mu”

“Aku tidak mau meladeni mu Jackson”

“Ck..ck..ck.. aku hanya berbuat baik”

“Mau apa ?” Jin yang tadi tak mau menoleh ke arah Jackson kini menatap Jackson sangat dingin dari bilik kacamatanya.

“Wah.. wah.. ini masih pagi tuan Kim. Jangan emosi dulu” ujar Jackson sambil tersenyum.

“Hmm.. aku hanya mau bilang….” Jackson sengaja mengantungkan kata – katanya. Di tatapnya Jin dengan intens.

“Selamat bersenang – senang. Nikmati lah kesenanganmu”desis Jackson lalu menyeringai licik.

 

Entah kenapa Jin tersulut emosi mendengar ucapan aneh dari Jackson. Di tariknya kerah baju Jackson dan di hempaskankannya ke dinding.

“APA MAKSUDMU” pekik Jin emosi.

Bukannya menjawab Jackson malah tersenyum semakin licik.

 

“Di balik kepintaranmu itu kau ternyata BODOH” dengan sengaja Jackson menekan kata bodoh nya.

“Jangan bertele – tele brengsek” maki Jin.

“Wah.. wah.. “ seru Jackson yang bibirnya tak lepas dari senyuman liciknya.

“Apa mau mu” desis Jin.

Jackson mendecak kemudian di dorongnya tubuh Jin. “Kau cari tau saja sendiri apa mau ku”.

Di senggolnya bahu Jin dengan keras sampai Jin sedikit tergeser dibuatnya. Lalu Jin menatap Jackson melangkah pergi keluar kelas dengan kilatan merah di matanya.

Jin menggengam tangannya erat. Hati nya kali ini benar benar panas. “Mau anak itu apa” batin Jin.

 

**

 

Seorang anak laki – laki bernama Jeon Jeongguk berulang kali menggerutu menatap arloji yang di pakainya. Sudah lewat 5 menit waktu pelajaran tambahan berakhir. Tapi bel yang di nantikan dia. Bukan hanya dia mungkin seluruh siswa dan siswi yang bersekolah di mana dia bersekolah juga ingin menantikan bunyi bel itu.

“Ayolah bel, berbunyi lah engkau” desisnya seperti memanjatkan doa.

 

KRIIIIIIIIIINGGGGGGGG

 

Jeongguk membelalakan matanya mendengar suara tersebut.

“Baiklah kita akhiri pelajaran tambahan kali ini. Selamat sore” ujar gurunya.

 

Secepat kilat dia memasukan bukunya ke tas ranselnya dan bergegas menuju halte bis.

Jeongguk semakin menaikan tempo larinya menuju gerbang selanjutnya menuju halte bis.

 

“Jeongguk tidak membawa motor ?”

Langkah Jeongguk terhenti mendengar seseorang memekik bertanya kepadanya. Dia menoleh ke sumber suara tersebut. Dilihatnya satpam yang biasa menunggu di area parkiran melihatnya heran. Mungkin di pikiran satpam yang sudah berumur ini “ Sejak kapan seorang Jeon Jeongguk tidak membawa motornya ?”

“Tidak ahjussi, aku hari ini naik bus” jawab Jeongguk tersenyum.

“Ahjussi sudah dulu ya, nanti bus nya meninggalkan ku” seru Jeongguk lalu dia melambaikan tangannya dan berlari kembali.

Sedangkan satpam itu melihat Jeongguk heran. “naik bis” desis nya tak percaya.

 

Matanya sedikit berbinar melihat bus yang akan di tumpanginya datang. Tak mau berlama – lama Jeongguk menaiki bis itu.

Setelah naik, retina Jeongguk mengedar ke seluruh isi bis ini. Senyumnya yang tadi terpancar di bibirnya kini berlahan menghilang. Tujuan nya menaiki bis tidak tercapai. Ya. Dia menaiki bis karena ingin bertemu dengan gadis yang bernama Kim Seyeon.

 

“Kenapa dia tidak ada ?” keluh Jeongguk sedikit sedih. Jeongguk pun melangkahkan kaki nya menuju bangku yang kosong.

 

Setiap bus ini berhenti Jeongguk mendongak kepalanya melihat penumpang yang masuk. Dan seterusnya dia lakukan seperti itu tapi hasilnya nihil. Seseorang yang carinya tidak ada. Sampai akhirnya tempat dia seharusnya berhenti. Jeongguk pun melangkah kan kakinya keluar dari bis ini.

Di helahnya nafasnya perlahan. Lalu di tatapnya langit yang sudah memerah menandakan sudah sangat senja. Di gerak kannya kaki nya menuju rumahnya. Jeongguk memasukan tangannya ke saku kantung celana seragamnya dan mensenandungkan lagu lewat siulan.

Siulannya berhenti melihat seorang gadis yang masih memakai seragam yang dia ketahui itu dari sekolah mana keluar dari minimarket dengan belanjaan di tangannya. Sedikit kesusahan gadis tersebut membawa belanjaanya.

Jeongguk tersadar melihat gadis itu. Di gerakan kakinya cepat menuju gadis tersebut.

 

“HEI KAU MAU APA ?” pekik gadis ini saat Jeongguk menarik paksa belanjaanya.

“Noona terlihat kesusahan “ cengir Jeongguk.

“Jeo..jeo..jeongguk”

“Hai Seyeon noona. Lama tidak berjumpa”

Gadis yang bernama Seyeon ini mengkerjab – kerjab matanya menatap Jeongguk.

 

“Kau sedang apa ?” tanya Seyeon yang masih belum tersadar melihat Jeongguk yang dihadapannya.

“Membantu noona “ Jeongguk mengangkat belanjaan Seyeon keatas.

Seyeon pun mengedarkan pandangannya dari atas ujung rambut Jeongguk sampai kebawah kakinya. “Baru pulang sekolah”

“Hmm.. noona juga ?”

“Tidak hanya saja tadi ke toko kaset dulu”

 

Disaat Seyeon ingin mengambil kantung belanjaanya di tangan Jeongguk. Lelaki ini buru – buru menjauhkannya “Apa yang noona ingin lakukan” pekik Jeongguk.

“Membawa belanjaanku dong. Apa lagi ?” jawab Seyeon ketus tapi sedikit binggung.

“Tidak. – tidak . Aku saja yang membawanya. Ayo sudah senja” kemudian Jeongguk berjalan duluan kedepan.

“Ya.. Jeongguk “ pekik Seyeon lalu berlari menghampirinya.

 

 

Seyeon berjalan ke arah gerbang setelah membawa masuk belanjaanya.

“Terima kasih” ucap Seyeon seraya tersenyum ke arah Jeongguk yang berdiri tegap di depannya dan di balas senyuman oleh Jeongguk.

“Sama – sama” balasnya.

“Oh ya, besok noona pulang sekolah naik bus lagi kan ?”

Seyeon mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Jeongguk “Kenapa ?”

“Baguslah “ ucap Jeongguk lalu di tariknya ranselnya dan mencari sesuatu di ranselnya. Seyeon semakin mengernyitkan dahinya binggung.

“Ah..” seru Jeongguk setelah mendapatkan apa yang dia cari.

Di tariknya tangan Seyeon “ Ini buat noona. Aku tunggu jawabannya besok pulang sekolah. Tunggu aku ne” titah Jeongguk seraya menatap Seyeon yang menampakkan raut kaget di wajahnya.

“Jangan di buka noona” pekik Jeongguk refleks saat Seyeon berniat membuka amplop yang di berikan Jeongguk.

“Kau membuatku kaget” Seyeon mengelus – ngelus dadanya akibat pekikan Jeongguk.

Jeongguk menarik nafasnya dan mengeluarkannya secara kasar. “Kalau begitu aku pulang”

“Ya pulang lah” ucap Seyeon yang sedang menengadahkan amplop itu menerka – nerka isi dari amplop tersebut.

“Ya noona.. “ sunggut Jeongguk.

“Aku harus apa ?” tanya Seyeon binggung.

“Katakan dong. Hati – hati “

Seyeon kembali mengkernyitkan dahinya “Rumahmu kira – kira 200 sampai 300 meter dari sini. Buat apa aku mengatakan hati – hati ?”

“Kalau aku di ganggu bagaimana ?”

Seyeon mengangah mendengar pertanyaan Jeongguk barusan. “Di ganggu ? Siapa yang mau mengganggumu ? “ balas Seyeon mengingat dialah yang menolah dirinya dari ahjussi – ahjussi mesum. Bagaimana bisa dia bilang “kalau aku di ganggu bagaimana ?” Seyeon menggeleng – gelengkan kepalanya tidak percaya.

Tapi kemudian Seyeon tersenyum kearah Jeongguk “Hati – hati “ ucap Seyeon sambil mengacak – ngacak rambut Jeongguk. Kemudian Seyeon semakin mendekatkan dirinya ke Jeongguk.

“Wah rambut mu lembut sekali” Seyeon takjub merasakan kelembutan rambut Jeongguk.

“Ah benarkah ?” Jeongguk ikutan mengelus rambutnya.

“Wah.. benar benar lembut seperti bulu boneka” cetus Seyeon.

“Kau pakai conditioner berapa botol ?” Seyeon menghentikan kegiatannya yang mengelus rambut Jeongguk lalu menatapnya.

“Conditioner ? Apa itu ?”

“Itu vitamin untuk rambut bentuknya seperti sampoo hanya saja tidak berbusa”

 

Kini Joengguk yang gantian mengkerutkan keningnya “Aku cuma pakai sampoo kok”

Kemudian Seyeon menarik tangganya dan ber O ria.

 

“Sampai jumpa besok” tangan Jeongguk terulur mengelus wajah Seyeon yang membuat gadis ini memblusing seketika.

“S-sampai jumpa” gadis ini menjawab dengan gugup. Dan di tatapanya kepergian Jeongguk, lalu di raba dadanya yang berdetak sangat kencang.

 

**

 

Seyeon mendundukan tubuhnya ke kursi meja belajarnya. Ya, belajar sudah menjadi rutinitasnya sebagai anak sekolahan. Lalu dia teringat akan amplop yang di beri Jeongguk.

Di ambilnya amplop tersebut di lipatan buku matematikanya. Saat ingin di buka Seyeon mendadak gugup. Di hembuskannya nafas gugupnya dan sedikit gemetaran tangannya membuka amplop tersebut.

Seyeon membelalakan matanya kemudian mengkerutkan dahi lalu menatap datar isi dari amplop itu. Sebuah surat yang berisikan.

[ cos 60 x sin 30 : sin 90 x 100 + 300 : 5 x 2 + 65 – 7 x 2 – 100 + 7 – 10 ]

“Apa jawaban noona ?”

 

Gadis ini menengadahkan wajahnya “Setauku aku tidak ada ikutan kuis, olimpiade atau semacamnya” ujar Seyeon.

“Apa maksudnya dia memberi soal sepanjang ini ?”

“Apa ini tugas dari sekolahnya. Dia tidak tahu maka di beri kepadaku, dan aku harus menjawab soal ini lalu memberikan kepadanya begitu ?” Seyeon menekur sendiri melihat kertas yang berisi soal yang dianggap aneh oleh Seyeon.

Bukan Seyeon namanya. Kalau tidak langsung menjawab soal matematika yang diberi untuknya. Matematika adalah pelajaran kesukaanya. Sedikit tersenyum Seyeon melihat soal ini diambilnya buku catatannya dan mulai mencoret – coret mencari jawabannya.

“143” akhirnya Seyeon menemukan jawabannya.

Lalu diambilnya surat tersebut dan menuliskan jawaban yang di perolehnya. Setelah menulis jawaban tersebut di masukan surat itu kedalam amplop dan menaruh di lipatan buku matematikanya.

Dan gadis ini melanjutkan rutinitas biasanya.

 

 

“Haaaaa selesai” Seyeon merenggangkan tangannya ke udara merelflesikan otot – ototnya yang sedikit kaku.

Ditatapnya kasurnya yang seakan memanggilnya untuk tiduri. Dengan langkah pelan Seyeon melangkahkan kakinya ke kasurnya dan sebelumnya mengambil earphone dan ponselnya. Sudah menjadi kebiasaan gadis ini tidur harus mendengarkan lagu.

Di scroll nya ponselnya mencari lagu yang tepat. Mata tertuju kepada lagu salah satu member boyband terkenal Henry Super Junior – 1 4 3 { I love you} . Seyeon menatap sejenak judul lagu tersebut. Kemudian mata nya membelalak lebar. Secepat kilat dia mengambil buku matematikanya diambilnya amplop yang terselib di buku tersebut. Dilihatnya kembali soal dan jawaban yang di tulisnya.

“1 4 3 “ desisnya dan dilihatnya judul lagu di ponselnya.

“Apaa…..” desisnya lagi. Diambil buku catatannya dan di coret – coretnya lagi memastikan jawabannya itu benar “ 143 “ rancaunya melihat jawabannya tetap sama.

Diambil surat tersebut di tatapnya lamat. “Apa dia menyatakan cinta kepadaku ?” gadis ini menatap surat ini dengan mata berbinar.

“Kau menyatakan cinta kepadaku hah ?” Seyeon bertanya kembali ke surat yang diam membisu ini.

“Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh” teriaknya tiba – tiba. Gadis berlari ke kasurnya dan loncat – loncat kesenangan di kasur empuknya.

“Kyaaa….. “ pekiknya kesenangan sambil memeluk surat dari Jeongguk dengan erat.

 

**

 

Sekitaran jam 7 wilayah sekolah Empire sudah di lumayan di padati oleh siswa dan siswi yang bersekolah di sekolah elit ini. Cuaca cerah mengawali pagi para pelajar muda di sekolah ini.

“Aaaahh Jin.. aku masih mengantuk” rengek Hana yang tangannya dari parkiran hingga menuju kelasnya di tarik – tarik oleh Jin.

“Kan sudah ku bilang jangan tidur larut malam, ini kan akibatnya” Jin menghentikan tarikan nya dan menatap pacarnya ini.

“Salahmu”

Jin mengkerutkan keningnya “ Salahku ?”

“Ia salah mu. Kau tidur sangat cepat, kan aku minta kau nyanyikan sebelum tidur” Hana berujar sembari mengkerucutkan bibirnya.

“Kau akan tidur cepat kalau aku nyanyikan begitu ?”

“Hmmmm” Hana tampak berfikir mendengar jawaban Jin.

“Baiklah setiap malam aku akan bernyanyi untukmu”

Hana membelalakan matanya dan menatap Jin senang “Benarkah ?”

“Hmm “ Jin tersenyum dan mengacak rambut gadisnya ini.

 

“Ck..ck.. ini masih pagi wahai anak muda yang berpasangan” Jin dan Hana menoleh kebelakang melihat siapa yang meledek mereka.

Di sana terdapat Hani, Jeung In dan Seyeon.

 

“Dia kenapa ?” Hana menatap Seyeon heran yang tersenyum saja.

“Aku saja tidak tahu” Jeung In mengangkat bahunya menatap Seyeon yang terus tersenyum.

“Saraf nya mungkin putus atau semacamnya. Kasihan uri Seyeon-ah “ Hani menatap Seyeon dengan mimik sedih.

“Kalian tidak tahu betapa senangnya aku ?” ujar Seyeon dengan senangnya.

 

Jin yang diam menatap mereka tiba – tiba menutup mulutnya.

“Kau kenapa ?” Hana menoleh menatap Jin.

“Ti – tidak , tidak. Aku tidak kenapa – kenapa “ jawab Jin gugup.

“Permisi sebentar” ijin Jin dan langsung berlari menjauh dari Hana dan teman – temannya.

 

 

Ya hyung..” sahut seseorang yang di hubungi Jin

“Kau.. “ Jin mendesis

“Ada apa ?”

“Kim Seyeon siswi Empire ?” tanya Jin memastikan.

“………….. hyung mengenalnya ?” nada suaranya meninggi mendengar nama yang disebutkan.

“Kau serius dengannya ? Dia anak yang baik Jeongguk”

“Hyung bicara apa sih ? Hyung kira aku tidak serius ? Umurku memang lebih muda ketimbang Seyeon noona tapi aku jauh lebih serius dari yang hyung bayangkan

“Oh ya.. kalau ada yang siswa sana yang mendekati Seyeon noona, beri tahu aku. Biar ku hajar”

 

PIP

 

“Ya ampun “ Jin menatap ponselnya yang di matikan secara sepihak.

 

“Menghubungi siapa ?” Jin dikejutkan oleh Hana dan ketiga temannya mengekorinya di belakang.

“Ah.. tidak – tidak”

“Jin.. aku mohon cukup dia saja yang aneh kau jangan ikut – ikutan “ ucap Jeung In menyindir Seyeon. Tapi tetap saja Seyeon masih tersenyum.

“Kita salah apa punya teman aneh” Hani memeluk Jeung In dan berkata sambil pura – pura menangis.

 

**

 

“Aku duluan “

Jerit Seyeon mendahului mereka dengan sedikit berlari.

 

“Hei.. hei.. “ panggil Hani.

“Aku pulang dengan siapa ? “ sunggutnya. “Jeung In kita pulang bersama ya” Hani segera menoleh ke Jeung In yang sibuk berkutat dengan ponselnya.

“Huh.. Aku pulang dengan…” Jeung In menggantungkan kata – katanya melihat panggilan di ponselnya.

“Sebentar” Jeung In segera menjauh dari mereka.

 

Jeung In sedikit berlari menghampiri mereka.

“Hani kau pulang dengan mereka saja ya” Jeung In melirik Hana dan Jin berada di sebelah.

“Dengan mereka “ Hani menunjuk Jin dan Hana. Sedangkan mereka yang ditunjuk menampilkan raut binggung.

“Aku tidak mau menjadi kambing congek mereka, kau kira aku rela menjadi obat nyamuk mereka” Hani acuh tak acuh.

“Cih.. kau kira aku mau pulang bersamamu ? Motor Jin cukup buat berdua tidak bertiga. Makanya cari pacar” Hani melotot mendengar kelakar sadis Hana.

“Cih.. sombongnya kau anak muda” Hani membuang mukanya anggkuh.

Sedangkan Jin hanya senyam – senyum melihat pertengkaran ala wanita ini.

 

“Zoomzoom” Hani menjerit histeris sampai ketiga temannya kaget akibat jeritan melingking Hani.

“Aku duluan ya, zoomzoom harus ke salon. BYE “ Hani berpamitan dengan teman – temannya.

Jeung In dan Hana saling bertatapan satu sama lain “Apa tidak ada normal diantara kita ?” tanya Jeung In.

“Aku” dengan bangganya Hana menjawab.

“Kau juga tidak normal” celos Jin tiba – tiba. Dan langsung saja Jin mendapatkan cubitan panas di pinggangnya.

“Pacar macam apa dirimu” Hana melotot ke Jin.

“Kalian juga pasangan tidak normal. Sudah lah aku duluan” Jeung In melambaikan tangannya ke dua pasangan ini.

 

“Pulang ?”

“Tidak aku makan” cengir Hana.

“Baiklah” dengan senyuman Jin menjawabnya.

 

**

 

“Hei… hei.. kau mau membawa ku kemana” keluh Jeung In. Karena Taehyung membawanya ke suatu tempat dan matanya di tutup.

“Disini “ akhirnya Taehyung menghentikan kakinya dan membuka penutup mata tersebut.

Jeung In mengkerjab – kerjabkan matanya memfokus kan pandangannya. Di lihatnya sekelilingnya.

TAMAN BUNGA

Ya, Taehyung membawa Jeung In ke sebuah taman bunga di Suncheon Bay Garden.

 

“Taehyung kau mau apa ?” Jeung In bertanya tapi pandangannya masih mengitari taman bunga ini.

“Jeung In” panggil Taehyung.

 

Karena di panggil Jeung In menoleh ke Taehyung. Di lihatnya Taehyung berdiri di depannya kira – kira sejauh 2 meter dan dia berdiri sambil memegang sebuah surat.

Taehyung sedikit berdehem dan menghelah nafasnya.

 

Jeung In.. kau bagaikan sang dewi malam yg menerangi malamku. Kau laksana mentari yg menerangi hariku. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu, kau adalah oksigen kehidupanku. Kehadiranmu disisiku bagaikan setetes air di tengah musim kemarau panjang yang melanda, bagaikan semilir angin di hamparan padang pasir. Jantungku berdegup kencang tatkala ku melihatmu, saat pertama kita bertemu. Darahku berdesir kencang, dari atrium kanan masuk ke ventrikel kiri dan dari ventrikel kanan masuk ke atrium kiri

“Jeung In, maukah kau menerima cintaku? “

Setelah membacakan pernyataan cintanya Taehyung menatap Jeung In yang menatapnya datar.

“Jeung In..”

 

Gadis yang bernama Jeung In mendekat ke Taehyung dan mengambil suarat dari tangan lelaki ini.

“Darahku berdesir kencang dari atrium kanan masuk ke ventrikel kiri dan dari ventrikel kanan masuk ke ventrikel kiri ?” Jeung In mengulang kata – kata yang di surat tersebut.

“Kau manusia macam apa ? Kenapa peredaran mu berbeda dengan yang lain ?” sebelas alisnya dinaikan menatap lelaki ini.

Sedangkan lelaki yang bernama Kim Taehyung ini melongo mendengarnya. “Maksudnya” tanya nya binggung.

“Ini.. kata – kata mu salah. Sejak kapan peredaran darah seperti ini huh ? Yang benar itu atrium kanan masuk ke ventrikel kiri dan ventrikel kiri masuk ke atrium kanan” Jeung In memprotes kata – kata yang di buat Taehyung.

“Hah ? Berarti aku salah ?” tanyanya.

“Ia. Kau salah” tandas Jeung In.

Taehyung terdiam sejenak. Ditatapanya gadis ini dengan lamat. Lalu tangannya terulur menggengam tangan Jeung In.

“Tapi aku tidak pernah salah mencintaimu Cho Jeung In. Mau kah menjadi pacarku” kata – kata itu sukses keluar dari tenggorokan lelaki bermarga Kim ini.

 

Giliran Jeung In yang melongo.

“Yaaaa….” Taehyung merengek melihat Jeung In diam saja melihatnya tidak menjawab.

“Aku ingin jawaban mu tidak diam seperti ini” pekik Taehyung setengah kesal.

“YAAA” akhirnya Jeung In membuka suaranya.

“Begini kau ingin menjadi pacarku ? Kau membentakku seperti tadi”

“Ti – tidak ,itu aku tidak membentakmu” Taehyung gelegapan melihat Jeung In.

“Jadi tadi itu apa hah ? Suara mu itu lebih dari 2 desibel” pekik Jeung In.

“Tidak, tidak aku tidak membentakmu” Taehyung menggeleng – gelengkan kepalanya.

 

Kemudian Jeung In dibuat tersentak saat Taehyung menggenggam tangannya.

“Aku serius, maukah kau menjadi pacarku Cho Jeung In” sorot mata Taehyung sangat tegas menatap Jeung In. Membuat Jeung In meneguk ludahnya kasar.

“Aku menyukai mu ], ah tidak aku mencintaimu” suara berat Taehyung mengedar di pendengaran Jeung In.

Tangan Jeung In terangkat membentuk huruf V dengan jari – jarinya. Raut muka Taehyung yang tegas kini berubah binggung.

“V” tebak Taehyung

“Tidak”

“2”

“Tidak “

“Oh.. Two”

Jeung In tersenyum penuh arti ke Taehyung. Lalu mata Taehyung melebar. “Too, juga.. benarkah”

Jeung In masih tersenyum ke arah Taehyung.

“Benarkah ?”

“Apa aku perlu merubah jawabanku ?” tiba – tiba Jeung In jutek melihat Taehyung.

“Tidak – tidak “ tangan Taehyung tergerak membuat tanda X

“Jadi kita resmi jadian ?”

“Of course Kim Taehyung” Jeung In mengakhiri jawabannya dengan kerlingan dimatanya dan membuat Taehyung merona sekita.

“Kau sangat lucu” Jeung In pun mencubit pipi Taehyung dengan gemas.

“AW.. JEUNG IN… “ pekik Taehyung.

Jeung In melepaskan cubitannya mendengar jeritan Taehyung. “Hei.. kau menjerit depan ku”

“Jeritannya mu itu lebih daru 6 desibel “ geram Jeung In.

Taehyung mendadak diam.

“Maaf” cengir Taehyung dan langsung menarik Jeung In ke dalam pelukannya.

“Mianhe…” ujar taehyung tapi kali ini seperti anak kecil dan malah mengoyang – goyang tubuh Jeung In di pelukannya.

 

Taehyung merogoh ponselnya “Selca” Taehyung mengkerlingkan matanya.

“Selca ?” Jeung In menatap binggung.

“Ne.. “ Taehyung mengangguk semangat, tanpa permisi di tariknya bahu Jeung In mendekat ke dirinya.

“Hana dul set”

 

KLIK‼

 

Jeung In melirik kesamping melihat pose Taehyung yang tengah mencium pipinya. Di telannya ludahnya kasar.

 

“KIM TAEHYUNG”

 

Suara Jeung In menggelegar di taman bunga ini membuat Taehyung menutup telinganya rapat – rapat

.

**

 

Seyeon. Gadis ini tengah duduk di bangku bis dan memegang kakinya yang bergemetaran. “Kenapa aku yang bergemetar seperti ini, seharusnya dia” desis Seyeon yang masih memegang kakinya yang bergemetaran.

Seyeon tiba – tiba memaku melihat penumpang lelaki yang masih memakai baju sekolah sambil mengacak – ngacak rambutnya memasuki bis ini.

“Jeongguk” batin Seyeon seakan menjerit.

Seyeon menggeserkan duduknya ke samping agar lelaki ini duduk di sampingnya. Tapi itu sia – sia Jeongguk malah duduk di seberang bangkunya membuat Seyeon terdiam melihat Jeongguk.

Lelaki yang di lihat Seyeon malah tidak melihatnya dan menatap lurus kedepan.

Akhirnya Seyeon mengelah nafasnya dan menatap ke arah luar jendela.

 

 

“Ayo”

Seyeon melongo melihat tangan kekar Jeongguk menariknya keluar. Seyeon terus diam saat Jeongguk menarik tangannya membawa ke suatu tempat yang dia juga tidak tau.

“Jeongguk kau membawa aku kemana ?” akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari mulut gadis ini.

“Noona simpan saja suara noona untuk jawaban noona nanti”

“Tapi kau menarik tanganku seperti ini aku tidak suka” sedikit nada kesal di keluarkan Seyeon.

 

Mendengar hal itu Jeongguk menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya “Noona tidak suka di tarik seperti ini ? “ tanya Jeongguk.

“Ya jelas aku tidak suka”

“Baiklah” Jeongguk membalas perkataan Seyeon di tariknya tangan Seyeon agar mendekat kedirinya dan mengapit lengan gadis ini. “Jangan bilang seperti ini noona juga tidak suka” Jeongguk berbicara tepat di muka Seyeon yang membuka gadis ini kaku seketika.

“Ayo jalan”

Seyeon tak tahu harus berkata apa dia hanya meneguk ludahnya kasar sambil melihat tangannya di apit oleh lengan lelaki disampingnya ini.

 

 

“Apa jawaban noona”

Seyeon menatap kakinya di yang memijak lapangan bola di sekitar rumahnya.

 

“Noona” panggil Jeongguk.

“Hum” Seyeon mengangkat wajahnya.

“Jawaban noona apa ?” Jeongguk lelaki ini bertanya dengan was – was.

“Jawaban ku…” Seyeon menggigit bibirnya. Rasa nya tidak percaya akan mengatakan IYA. Dia tidak mau mengatakan secara langsung IYA,menurutnya itu akan menjatuh kan harga dirinya. Seyeon berfikir bagaimana mengatakan ia tetapi tidak secara langsung. Tiba – tiba sebuah ide terlintas di fikirannya. Di tariknya tas ranselnya dan di carinya pulpen di dalam tasnya. Jeongguk yang melihat itu tiba – tiba heran.

 

“Mari tanganmu” pinta Seyeon.

“Buat apa ?”

“Sudah mari” Seyeon langsung menarik tangan Jeongguk yang menggantung bebas di kebawah.

Di tulisnya sebuah soal di telapak tangan Jeongguk membuat Jeongguk sedikit geli karena tangannya di kelitik oleh ujung pulpen.

“Cari jawabannya “ Seyeon tersenyum setelah menuliskan sebuah soal di telapak tangan Taehyung.

 

√ ( 25 𝑥 2) 𝑥 400+449 =

 

“Ya noona kenapa aku malah dikasih soal juga ?” Jeongguk merengut melihat telapak tangannya sudah tertulis sebuah soal

“Cepat kerjakan” bentak Seyeon.

Jeongguk yang tadinya merengut malah semakin merengut kemudian dia mencari – cari sesuatu yang bisa di tulis di tanah, retinanya menangkap ranting di dekat pohon. Segera kakinya melangkah mengambil ranting tersebut dan membawa nya ke tempat Seyeon semula.

Kemudian dia berjongkok dan di coret – coretnya tanah tersebut dengan ranting itu.

 

Jeongguk berdiri dari jongkoknya setelah mendapat jawabannya

“143”

Seyeon tersenyum mendengar nya. Dan Jeongguk tersenyum malu melihat Seyeon tersenyum kearahnya kemudian Jeongguk melongo mengingat jawaban yang keluar dari mulutnya.

 

“Noona” desisnya senang.

“ 1 4 3 “ ujar Seyeon tetapi tidak melunturkan senyuman manisnya ke Jeongguk.

“I Love You” balas Jeongguk yang sudah tersenyum dengan manisnya.

Di tariknya kedua tangan Seyeon untuk di genggamnya.

“Noona saranghae”

“Nado”

Kemudian kedua tangan Seyeonnya ditarik mendekat ke keatas mendekatkan ke wajahnya.

Seyeon memblusing seketika melihat Jeongguk mencium kedua punggung tangannya lalu tersenyum kembali kearahnya. “Ya tuhan aku bisa mati kalau seperti ini” batin Seyeon dan gadis ini menahan mati – matian getaran di kakinya. Rasanya ia ingin jatuh melihat senyuman lelaki ini.

“Noona panggil aku oppa”

 

PLAK

Seyeon langsung melepaskan tangannya dan memukul kepala Jeongguk membuat lelaki menjerit lalu meringis.

“Aku lebih tua dari mu, oppa – oppa, tidak !”

“Ne noona dan aku hanya bercanda” ringgis Jeongguk yang masih mengelus kepalanya.

“Noona”

“Mwo” Seyeon menjawab ketus panggilan lesu Jeongguk.

“Teamo”

“Aku tau” tandas Seyeon lalu terkekeh melihat Jeongguk yang masih mengelus kepalanya tapi masih sempatnya menyatakan cintanya. “Sakit ya” tangan Seyeon juga ikutan mengelus kepala Jeongguk.

Mengangguk. Jeongguk mengangguk menjawab pertanyaan Seyeon sambil memanyunkan bibirnya.

 

**

 

“Kau dimana ?” teriak Hani di ponselnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri.

“Sebentar aku lagi sampai” teriak Hana tak kalah kerasnya membuat Hani menjauh kan ponselnya dari telinganya.

 

Sekitar 2 menit kemudian Hana sudah sampai bersama Jin.

“Lama sekali, aku sudah kepanasan. Dan lihat bulu zoomzoom sudah kriting menunggu mu” Hani mengangkat box kucingnya ke muka Hana.

Bukannya meminta maaf Hana malah mendadak girang melihat zoomzoom “Hai.. zoomzoom sudah lama tidak berjumpa, apa kau kangen kepada eonni huh ?” Hana menatap lekat – lekat kucing berjenis ragdools berwarna putih susu ini.

Hani yang jengkel malah sedikit jengkel melihat Hana.

“Jangan berbicara dengan zoomzoom” dijauhkannya box kucingnya membuat Hana tiba – tiba cemberut kesal.

“Mana buku catatannya” Hana mengadahkan telapakanya ke atas menagih buku catatan Hani.

“Nah.. ini ini.. “Hani menyerahkan dengan paksa ke Hana.

“Yasudah kalau begitu kami duluan ya” Hana pun melangkah ke motor Jin.

“Kalian mau kemana ?” tanya Hani sedikit mau tau.

“Ke perpustakan kota” jawab Jin kalem.

“Cih.. seorang Hana ke perpustakan. Awas pingsan” sindir Hani.

 

Jin menoleh kebelakang menatap Hana yang cemberut mendengar perktaan Hani.

“Hana tidak pernah pingsan kok di perpus” jawab Jin dengan polosnya.

“Kau lihat itu” pekik Hana tiba – tiba.

“Cih.. “ Hani mencibir kesal.

“Yasudah lah, aku mau manjakan zoomzoom dulu”

“Kami duluan “ pamit Jin dan Hana melambai ke Hani yang disambut lambaian juga oleh Hani.

 

**

 

Hani memasuki salon hewan biasa dia membawa kucingnya.

“Wah zoomzoom” pelayan di salon ini tersenyum menyambut zoomzoom.

“Seperti biasa” ujar Hani dan pelayan ini sudah tau apa yang harus di berikan untuk kucing ini.

 

Kemudian pandangan Hani memencar ke seluruh arah mencari seseorang yang biasanya di jumpa di salon ini.

“Apa dia tidak datang ?” desis Hani.

 

30 menit kemudian

 

Meong

Zoom zoom kucing ini terus mengeong saat Hani mengacak bulu nya yang sudah bersih sekarang dengan gemas.

Meong

“Mau bermain ?”

Meong

“Baiklah”

 

Hani kemudian mengendong kucingnya ke taman belakang tempat kucing bermain.

Hani sedikit kaget melihat kucing yang dia kenal di ujung sudut sedang bermain dengan bola bulu, dan kucing nya tiba – tiba melompat kearah kucing tersebut. Kemudian mereka mengeluskan muka mereka satu sama lain.

Hani lantas tersenyum melihat kedua kucing tersebut, kakinya dilangkahkannya mendekat ke kedua kucing tersebut.

“Hai boy lama tidak melihatmu” ujar Hani yang kini tengah berjongkok sambil mengelus kucing jantan berjenis maine coon berwarna belang abu – abu kuning.

Lalu Hani menoleh kebelakang melihat taman ini “Pemilik mu kemana ?” tanya Hani masih dengan mengelus kepala kucing ini.

Dilihat nya tak ada tanda – tanda keberadaan pemilik kucing bernama BOY ini. Hani menghelah nafasnya.

Sekitar 5 menit sudah Hani menatap kucing ini bergulat mendapatkan bola bulu tersebut. Tingkah lucun mereka membuat Hani mengeluarkan gelak tawanya. Hani tak henti hentinya tertawa melihat kelakuan dua kucing ini.

“Boy “

Hani menghentikan tawanya saat mendengar suara seseorang memanggil kucing yang bermain dengan kucingnya.

Hani menoleh kesamping melihat Jimin sudah di sampingnya yang hendak mengambil kucingnya.

“Maaf kucing mu mengganggu” ujar Jimin yang sudah mengendong kucingnya.

Hani mengekerjab – kerjabkan matanya dan bangkit dari jongkoknya.

 

“Ah.. tidak kucing mu tidak mengganggu zoomzoom, malah kucing mu membuat aku tertawa” jawab Hani dengan sedikit senyuman dia tiba – tiba gugup melihat Jimin didepanya. Yang mana Jimin memasang muka datar nya tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum ke Hani. Sebenarnya Jimin juga sangat gugup melihat Hani di depannya.

 

“Ah..begitu ya” Jimin menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kalau begitu aku pamit dulu” Jimin pun melangkahkan kakinya ke arah pintu keluar. Sedangkan Hani, gadis ini menatap Jimin dengan kecewa. Dilihatnya kebawah kucingnya mengeong – ngeong ynag juga menatap ke arah kucing milik Jimin.

“Zoomzoom” Hani berjongkok dan mengambil kucingnya ke gendongannya.

“Kau tahu apa yang kupikirkan ?”

 

Meong

“Baiklah”

 

Hani melangkahkan kakinya dan sedikit berlari ke luar.

 

“Jimin “

Hani memanggil Jimin yang hendak menstaterkan motornya.

 

Yang dipanggil sontak menoleh ke sumber suara. “Hani” desis Jimin dengan binggung.

“Mau pulang ?”

“E..ak…

“Aku mau pulang

“Aku tidak pul..

“Antar aku”

Jimin memasang muka kesalnya perkataannya belum selesai sudah di potong saja.

 

“Hani aku tidak langsung pulang, aku pergi ke suatu tempat dulu baru pulang” Jimin menjelaskan dengan menatap Hani datar.

“Jadi.. kau tidak bisa mengantarku ?”

Jimin dapat melihat raut kecewa dari gadis di depannya ini.

 

“Bukannya tidak bisa, hanya saja aku ingin membeli sesuatu dulu, nanti tokonya tutup” jelas Jimin dengan cemas

“Aku ikut”

“Tapi ini sudah senja” di tolehkannya wajahnya keatas melihat langit yang sudah memerah.

“Jadi kau mau aku pulang sendirian begitu ?” Hani bertanya dengan sedikit ketus.

“Bukan begitu tapi.. “ belum saja Jimin menjelaskan sudah di potong saja oleh Hani.

“Baiklah aku pulang sendirian kalau kau tidak mau mengantarku” tukas Hani kesal. Di langkahkan kakinya menjauh dari salon ini.

“Kalau aku jatuh saat berjalan kau kusalahkan. Kau lihat aku pakai apa” Hani mengangkat satu kakinya ke atas untuk memperlihatkan kalau dia pakai highells.

 

“Cih.. apa – apaan dia. Bilang saja tidak mau mengantarku” Hani mengerutu sembari berjalan mencari taxi. Di hentak – hentakannya highhellsnya ke aspal sehingga bunyinya highellsnya sangat ketara.

 

“Eomma” pekik Hani terkejut.

Hani di kagetkan oleh motor Jimin yang menghadangnya di depannya. Di elus – elus dadanya yang kaget tadi.

“Ayo naik. Tapi jangan protes kalau pulang malam” ujar Jimin.

Sebuah senyuman terpancar di bibir Hani “Baiklah”

“Ini pegang” Jimin menyerahkan box kucingnya ke Hani.

 

**

 

Jimin dan Hani memasuki sebuah toko alat – alat untuk motor. Jimin langsung tersenyum melihat penjaga toko ini, sedangkan Hani ? Dia melongo memasuki toko yang di penuhi alat – alat yang hanya di ketahui oleh lelaki saja.

“Haa… akhirnya kau datang juga. Ini alatnya. Oh ya balap di..”

Jimin berlari kearah penjaga toko tersebut dan membungkam mulutnya. Jimin menempelkan jari telunjuknya ke mulutnya menandakan disuruh diam. Dan penjaga toko tersebut mengangguk menandakan mengerti.

 

“Ini uangnya “ Jimin mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

“Dan untuk nanti malam, kami semua tidak ikut”

“Tapi law…”

“Ssstttt” dengan gemas Jimin menempelkan lagi jarinya ke mulutnya.

“Bilang kami semua sibuk. Sudah lah. Aku pergi dulu” Jimin pamit dan melangkah keluar toko ini.

 

Jimin melihat Hani dan terbengong – bengong melihat alat – alat yang dijual di sini.

“Hani.. ayo” panggil Jimin. Hani pun menoleh lalu berjalan kearah Jimin.

“Tempat ini menyeramkan ah tidak tapi memusingkan ku” keluhnya.

“Ayo pulang” Jimin pun melangkahkan kakinya duluan keluar dari toko ini.

Tapi Hani malam terdiam mendengar kata AYO PULANG. Kemudian dia tersenyum. Di hampirinya Jimin dengan sedikit berlari yang sudah di atas motor.

Hani menggoyang – goyangkan lengan Jimin membuat Jimin kaget “Aku lapaaar” rengek gadis ini.

“Lapar ?”

“Hum.. bisa makan dulu tidak sebelum pulang ?” Hani memohon.

“Mau ya..” rengek Hani lagi.

“Baiklah ayo naik” sebuah ulasan senyuman di ukir di bibir Jimin.

**

“Wah… pasta ini enak sekali” pekik Hani kesenangan.

“Ini seperti pasta – pasta di Italia” tambahnya lagi.

“Wah.. kau saja tempat makanan yang mempunyai pasta enak” Hani berbicara dengan mulut penuhnya.

Jimin menatap Hani yang lahap menyantap pastanya “Penyuka pasta ?”

“Sangat” jawab Hani mantab tanpa menghentikan menyuapkan pasta ke mulutnya.

Jimin sedikit terkekeh melihat Hani menjawab dengan semangat sementara mulutnya sudah penuh dengan pasta.

“Aku akan sering – sering mentraktirmu makan pasta disini” lelaki ini tersenyum ke Hani.

“Benarkah ?” tanya Hani dengan mata berbinar.

“Hum.. “ Jimin malah tersenyum lebar ke Hani. Lalu tangannya terulur mengarah ke mulut Hani “Maaf” Jimin mengusap sudut bibir Hani yang berlepotan saus pasta.

Hani yang tadi asyik makan kini diam membeku saat jemari Jimin mengusap sudut bibirnya. “Hei.. “ Jimin melambai – lambaikan tangannya menyadarkan Hani yang masih diam menatapnya.

“Eh..” Hani mengkerjab – kerjabkan matanya.

“Kenapa diam ? Ayo dimakan lagi” pinta Jimin.

“Ah.. ba – baiklah “ Hani sekilas menatap Jimin dan langsung menundukan kepalanya menatap pastanya.

 

 

Hani mau pun Jimin diam satu sama lain di halte yang sepi. Mereka duduk sambil menunggu hujan reda. Saat di tengah perjalan pulang tiba – tiba saja hujan deras mengguyur kota seoul. Alhasil mereka harus menepi seperti ini.

“Ini sudah malam, aku panggilkan taxi ya”

Jimin membuka suaranya karena melihat Hani bolak – balik melihat arlojinya. Hani menoleh menatap Jimin saat mengatakan itu “Tidak, tidak. Tidak mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini”

“Tapi ini sudah malam, anak gadis tidak baik pulang malam” sela Jimin tegas.

“Tapi..” Hani merengut saat Jimin menatapnya dingin. Di lipatnya tangannya dan membuang pandangannya ke samping. “Tidak. Aku tidak mau pulang” tukas Hani.

Jimin menghelah nafasnya kasar mungkin Hani bisa mendengar helaan nafas Jimin.

Di tatapnya gadis disampingnya ini “Ini sudah malam dan huja juga dingin, bagaimana kalau kau sakit karena kedinginan ?”

Hani lantas menoleh ke Jimin “Aku tidak sakit. Aku tidak kedinginan, aku.. HATTTACCIIMM “ tiba – tiba saja Hani bersin saat dia berbicara.

“Tck.. sudah kubilang” dengan gerakan cepat Jimin melepaskan jaket yang di pakainya dan langsung memasang ke Hani.

Hani tertegun melihat yang dilakukan Jimin terhadapnya. Disaat dia hendak melepaskan jaket lelaki ini, dengan cepat Jimin menghentikannya. “Kau mau bertambah sakit lagi ?” tanya Jimin sambil menatap lekat manik mata gadis ini. Gadis ini menatap Jimin dan menggelengkan kepalanya pelan.

Hattcchiiimm

Jimin menatap Hani dan menggelengkan gelengkan kepalanya.

 

 

Kemudian keheningan melanda mereka berdua. Hani menggoyang – goyangkan kakinya sesekali melirik Jimin dari ujung ekor matanya. Di lihatnya Jimin menatap lurus kedepan yang mendesis seperti kedinginan, lalu kepalanya digerakkannya benar benar menatap lelaki ini. Dapat di lihat Jimin sedang kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan, dia hanya berbalutkan kaus putih saja.

“Kau kedinginan ?” sebuah nada khawatir keluar dari mulut Hani.

“Ha.. “ Jimin sedikit menoleh menatap Hani.

“Ah.. tidak” jawab lelaki ini dengan tersenyum.

Hani mendengus mendengarnya. “Kau jelas kedinginan, aku melihatmu mendesis kedinginan” kemudian Hani mendekatkan dirinya di bukanya jaket pemberian Jimin lalu di sandangkan ke bahunya Jimin “Kita bisa berbagi” papar Hani.

Kini giliran Jimin tertegun. Dilihatnya jaketnya yag sudah terbagi untuk menutupi bahu nya dan bahu gadis ini.

 

**

 

“Terima kasih maaf merepotkan mu”

“Tidak masalah” jawab Jimin dengan senyuman simpul. “Ah ia “ Jimin merogoh kantung celananya. “Ini” Jimin menyerahkan sesuatu ke Hani.

Hani menatap plastik kecil di tangan Jimin. Jadi dia ke supermarket membeli ini batin Hani.

“Ingat jangan lupa di minum, kalau sudah sembuh beri tahu aku” tandas Jimin sedikit dengan nada paksaan.

“Memberi tahumu ?” dahi Hani mengkerut mendengarnya.

Jimin mengambil ponselnya dan menyerahkan ke Hani. “Masukan nomormu”

“Nomorku ?”

Walaupun sedikit binggung tetapi Hani tetap memasukan nomornya. “Ini”

 

“Tidur jangan menghidupkan ac, pakai selimut tebal, obatnya jangan lupa diminum dan jangan mnum air dingin minumnya air hangat saja, jendela jangan dibuka udara sangat dingin”

Hani menatap ngeri Jimin yang mengucap sederet kata – kata yang barusan diucapkannya.

“Aku cuma flu”

“Jadi kalau flu dibiarkan begitu saja ?”

Sekarang Jimin terlihat seperti ibu ibu yang memarahi anaknya yang sedang sakit.

 

“Cepat masuk kedalam udara semakin dingin” titah Jimin.

Hani mengangguk pelan mendengar titahan Jimin.

 

**

 

Hani pov

 

Ku tatap lekat ponselku dengan lamat. Kenapa tidak ada tanda tanda dia menghubungiku sunggutku sedekit kesal. Eh tapi sebentar, kenapa aku berharap dia menghubungi ku ? Ada apa denganku ? Ku acak – acak rambutku kesal.

“Haaaa”

Aku kaget setengah mati tiba – tiba saja ponselku berdering. “Mengejutkan saja” ujarku.

Kulihat nomor baru di ponselku. Siapa ? batinku.

“Halo…”

“………….”

Ke jauhkan ponselku dari telingaku. Kenapa diam ?

“Halo.. ini siapa ?” tanyaku lagi.

Kudengar suara deheman. “Hani”

Dahi ku mengekerut, ku tebak – tebak suara siapa ini. Apa jangan – jangan…

“Bagaimana keadaanmu ?” tanya nya.

Jimin.. batinku.

 

“Kan aku sudah bilang aku hanya flu”

Aku tersenyum mendengar dia berdecak di seberang sana. Ku dengar juga dia menghelah nafasnya.

“Aku tidak ingin kau sakit”

 

Diam. Aku terdiam mendengar kata – kata. Mendadakan darahku berdesir, detak jantungku juga berdetak cepat. Ada apa denganku.

“Hani.. kau masih mendengarku ?”

“Ah..y-ya aku masih mendengarmu”.

Yaampun kenapa aku tiba – tiba gugup seperti ini. ku hembuskan nafas ku kasar. Kini kami berdua sama – sama diam.

 

“A-aku sudah mengantuk”

sebentar kenapa kata – kata ini yang keluar ? Bodoh – bodoh.

“Begitu.. baiklah. Selamat malam”

Tersenyum aku mendengarkan ucapan selamat malamnya. “Malam juga “ balasku.

 

“Hei kenapa tertawa” pekikku mendengar dia tiba – tiba tertawa.

“Tidak – tidak. Hanya saja suara mu lucu saat mengatakan selamat malam. Hahahaha” dia kembali tertawa.

Lucu ? Apa ya yang lucu saat aku mengatakan selamat malam. Tck, menyebalkan.

“Sudah ku tutup telfonnya” ujarku dengan nada marah, dan langsung saja ku matikan telfonku secara sepihak.

 

Baru beberapa detik ku matikan telfonku. Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.

“Malam”

Ku decakkan lidahku melihat sebuah pesan dari dia. Ku rebahkan tubuhku ke kasur. Lalu ku terawangi langit – langit kamarku. Kalau ku pikir – pikir dia tidak buruk. Senyum nya, tawanya, sorot matanya, dan ucapan – ucapanya..

“OMO – OMO”

Ku pukul – pukul pipiku. Kenapa aku memikirkan seperti itu. Tidak – tidak, tapi dia…

“Senyum itu… aahh tidaaaaak” ku acak – acak rambutku lagi mungkin rambutku sekarang sudah tidak berbentuk.

 

**

 

Hana berjalan santai menuju sambil mengandeng seseorang di sampingnya. Hana mendengus kesal melihat Jin yang digandengnya tetapi pandangannya kearah buku yang di bawa nya.

 

“Saat seperti ini pun sempatnya membaca buku”

Hana mencicit kesal melihat Jin sedang membaca buku. Jin melirik Hana yang mencicit kesal lalu tersenyum. Yang mana membuat Hana kembali mendengus kesal. Tapi Jin malah terkekeh kecil. Di cubitnya pipi Hana dengan gemas membuat si empunya merengut.

 

“Ck..ck..ck.. Ini masih pagi kalian sudah berantam”

Jeung In menatap kedua pasangan ini dan diikuti oleh Hani dan Seyeon.

 

“Cih.. sirik saja” balas Hana dengan nada angkuh. Di tariknya Jin untuk duduk. Jin menuruti saja apa mau Hana, dia pun duduk disamping Hana dan tersenyum ke teman – temannya.

Jeung In menatap Jin yang menatap nya juga.

“Eh.. Jin aku sudah..”

“Aku sudah tau kok. Jadian dengan Taehyung kan ?” tebak Jin lalu tersenyum membuat yang lain terbengong heran.

“Taehyung ? Siapa dia ? Kau pacaran ? Kau sudah jadian ? Bagaimana bisa ?” tanya mereka serempak.

 

Jeung In memutar bola matanya.

“Begini.. aku sudah jadian dengan Taehyung lebih tepatnya Kim Taehyung. Dan dia..” Jeung In melirik Jin. “Dia teman Jin”

Dengan cepat Hana melirik Jin dengan tatapan selidik. Seakan berkata “Kau harus menjelaskan nya padaku “

“Lalu.. “

“Lalu.. yasudah itu saja. Apa lagi yang harus aku katakan ?” Jeung In menatap teman nya dengan bingung.

“Eheeemm”

Tiba – tiba Seyeon berdehem. Membuat yang lain mengalihkan pandagannya ke Seyeon.

“Aku juga ingin mengumumkan sesuatu.. “

Sebelum mengatakan Seyeon menarik nafasnya dalam – dalam.

 

“Aku juga sudah punya pacar” ungkap Seyeon dengan datar.

Retina Jin membesar mendengarnya. Bukan hanya dia yang lain juga.

“Dengan siapa ?”

“Dengan…. “ Seyeon mengantungkan kata – katanya.

“Dia tingkat dua di sekolah Victory dia bernama..

“Tunggu – tunggu sekolah victory ? Bukan kah itu sekolah khusus yang orang tua nya angkatan ya ? “ Hani menatap Seyeon takjub.

“Tingkat dua ? “ Hana angkat suara. “Kau pacaran dengan anak tingkat dua ?”

“Berarti.. dia lebih muda begitu ?” kini Jeung In yang angkat suara.

 

Seyeon meneguk ludahnya kasar. “Ke- kenapa kalau aku berpacaran dengan yang lebih muda ?” nada takut – takut Seyeon bertanya..

 

“Apa tidak ada yang seumuran mu atau yang lebih tua dari mu yang bisa kau pacari ? Kenapa harus dengan yang lebih muda darimu ?” tatapan tajam Hana mengarah ke Seyeon.

“Kan tidak masalah berpacaran dengan yang lebih muda” Seyeon memprotes.

“Tapi kau pedopil”

Sebuah kata yang langsung menikam jantung Seyeon. Kata inilah yang dia takutkan keluar dari mulut teman – temannya yang sadisnya bukan main.

“Pedopil ?” Hani mengkerutkan keningnya. “Bagaimana bisa kau menjadi pedopil ?”

Seyeon menghela nafasnya. “Dia sangat baik, dia yang menolongku dari ahjussi mesum itu dan dia.. “ Seyeon menatap teman- temannya. “Kalian tidak merestui hubunganku dengan dia.. “ sebuah pertanyaan memohan keluar dari mulut Seyeon.

“Dia siapa ?” Jin yang tadi diam ikutan angkat suara.

“Jeon Jeongguk”

Jin menahan nafasnya. Benar – benar anak itu batin Jin. Tapi di sisi lain Jin sedikit senang melihat temannya sekaligus adiknya itu berkomitmen dengan cinta. Biasanya juga seorang Jeon Jeongguk tidak pernah serius dengan yang namanya cinta.

 

“Kami harus bertemu dengan nya, kami harus tau dia” perintah Hana tegas dan ikuti anggukan Hani.

“Kau juga, kami harus bertemu pacarmu” Hana menunjuk Jeung In.

 

KRIINNGG‼!

 

Baru saja mereka memulai perbincangan yang seru, tapi bel menghentikan obrolan mereka. Dan mau tak mau, mereka bangkit dan menuju ke dalam kelas masing.

 

Jin sengaja menarik Hana berjalan di belakang dan mendahulukan Hani berjalan di depan. Di genggamnya tangan Han dengan erat.

“Ada apa ?” tanya Hana heran.

“Nanti malam ada acara tidak ?” Jin berbicara sambil menundukkan kepalanya.

“Hmm.. seperti nya tidak..”

Jin sontak mendongakan kepalanya lalu menatap Hana, di hentikannya langkahnya.

 

“Nanti malam..”

“Ya.. “ Hana menantikan lanjutan kata – kata dari Jin.

Jin menarik nafasnya dalam – dalam lalu menghembuskan sembarang “Nanti malam kencan tidak ?”

Awalnya Hana diam mendengarnya tapi kemudian Hana tersenyum senang. “Baiklah”

“Jam 8 aku jemput” Jin menatap Hana tersenyum lalu mengacak rambut Hana.

“Ok “

 

“YA…. Kenapa kalian diam disitu ayo cepat. Nanti Lee Ssaem keburu masuk” jerit Hani yang menghentikan adegan mesra – mesraan mereka di lorong sekolah.

Dengan cepat Jin menarik tangan Hana berjalan ke arah ruang kelas mereka.

 

Tapi..

 

Di sudut lorong sebuah makian tertuju kepada Jin, tangannya terkepal kuat melihat Jin yang mengandeng tangan Hana masuk kedalam kelas.

“Tunggu saja pembalasanku Kim SeokJin” desisnya tertahan.

 

TBC

 

Holaaaaa…. Bagaimana ceritanya ? Makin membosankan ya ? feel nya kurang dapat ya ? Maafkan lah pandakim yang imut ini (abaikan itu bohong ) sebenarnya pandakim ingin membuat side ini khusus pernyataan cinta maknae line tetapi ada sebuah ide yang harus membuat sebuah konflik lagi hehehe. Lagi pula kalau di buat konfliknya disini side ini akan panjang banget seperti jurnal /? Hahahaha😄

Very KAMSIA yang koment di side sebelumnya loh.

NO SILENT READER GAIS. KOMENT KALIAN SANGAT MEMBANTU… 

About fanfictionside

just me

33 thoughts on “FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 3- side D

  1. ceritanya makin seru!!! akhirnya jinkookV punya pacar juga🙂 hohoho jimin kok belum jadian sih?? heol~ apa salahnya pacaran sama yang lebih muda?? gak dosa kan?? -_- ditunggu next part nya🙂🙂

  2. AKU SUKA BANGET THOR part ini, Terutama couple JUNGKOOK sm SEYEON ah mereka couple so sweet sm pintar =D Ahh next part jgn lamalama ya thor :]

  3. jeung in-taehyung kapel yg aneh ._.😄
    jackson~ah!! knp blm nyrahjga sih?! ‘-‘ jgn ganggu kapel jin-hana lgi -.-” eoh/?

    aku suka gaya seyeon-jeongguk (Y)😀
    nexxttt~~

  4. aku suka cara jeongguk nyatain cinta ke seyeon, pernyataan cinta kyk gini bikin pintar hahaha…pernyataan cinta taehyung bikin sesat aja😄, mana ada peredaran darah yang kayak gitu . kurang hani-jimin nih, jimin nyatain cintanya kayak mana ya ? penasaran. memang kenapa jin terkejut jeongguk jadian sama seyeon. anak bts nggak ngumpul” nih, kan ada yang sudah nyatain cintanya.

    • jeongguk pinter kan ? adik seperti ini patut di contoh.
      taehyung hidupnya ajah sesat jadi maklum lah nyatain cinta juga sesat.
      jimin – hani bakalan ada konflik xixixi

      tar dibuat kok anak bts ngumpul2 arisan. ditunggu ya

  5. Pas FF ini dipost aku seneng BGT!
    Terus aku baca judulnya SLA yg pt.3 sampe side-D hehe
    Chapter ini bahas gak cuma jin doang, terus cara nembak jungkook gak pasaran ok.fix.tembak.aku.sekarang.jungkook
    Pandakim unni jangan lama-lama updatenya yaaa
    Tunggu next chapter, fighting! :]

  6. Wahh makin daebak, ngakak bacanya salting sendiri :v
    Td si seyeon digandeng taehyung? Heheh sedikit typo disana😀
    Ohya pandakim kapan ff foolish lovenya dipost aku nungguin loh:D apalagi ff NC hehehhe *dasarmesum*
    Next chap jan lama2 ya ^-^ hwaiting!!!

    • pandakim bikinnya terjun ke sumur dulu loh.
      aduh maapin pandakim. pandakim queen of typo sist. maklumin ya cintah~

      duuuh foolish love… huummm~ pandakim juga gak bisa jaminin kapan di publis soalnya lagi sibuk banget nih kampus – pengadilan – kampus – pengadilan ( eh kok curhat)
      apalagi pake nc kan ya. gak boleh asal nanti gak klimaks *EH

      di tunggu ya

  7. no comment kak.
    no comment. NOOOOOOOOOOO COMMMENNNNTTT.
    Seyeon-Jeongguk! Taehyung-JeungIn. tinggal Hani-Jimin doang! huaaaaaakkkh!!! T_____T
    lanjut………………

    *nb: padahal yg bagian Seyeon-Jeongguknya romantis, tapi sayangnya gue bacanya sambil ketawa, ga bisa berenti😄

  8. thor ni ff keyennnnnn tapi satu hal aku bingung mecahin rumus dari jungkook plisssss kasi tao akohhh thor jebalyo ~~~

    ditunggu kelanjutan ni ff sama foolish lovenya hihihi

  9. LANJUUUTTTT~ makin penasaran aja inii ihh yaampun jackson lo jgn jadi pho dong aaahh mending sama gue ajaa/noo/. next chapternya kalo bisa difokusin ke jin-hana couple dong thooorr hehehe fightingg!!

  10. Entah ini kebetulan atau gimana. Awalnya cuma ngikutin aja tautau kok ada nama Debby muncul(?) Wahahaha. Mana pas bgt sama2 tomboy acuhtakacuh dan gasuka kalo nama salah sebut atau salah tulis. *kok jadi curhat*

    Keren thor!!!!! Lanjut terus ditunggu yaaa hihi. Jangan kelamaan^^ fighting!!!

  11. kren FFnya thor(y) tapi btw mana lanjutannya ? Yah jan gitooh dong thor, author mah nggak asik klw nggak ada lanjutannya ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s