FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 4


Title : Just Loving Me Like Your Direction(Chapter 4)

Author : Annonymous

Main Cast : Taehyung & Baekhyun

Genre : —–

FYI : Hi, maaf aku terlalu lama ngepost chap selanjutnya. Maaf, karena aku ada ujian jadi harus mengutamain ujian dulu. Oh ya, maaf juga kalau cerita ini alurnya masih aku buat samar-samar. Karena aku lama ngepost, jadi aku perjelas semuanya di Chap ini, meski ga semuanya. J Happy reading, everyone.

 

Tempat itu bagaikan lautan hitam yang merintih. Mereka menangis menatap nisan yang hanya diam menatap mereka, tak mengerti. Kesedihan seakan menggeluti mereka yang ada di bawah hujan yang semakin deras. Pemakan Namjoon di saksikan dengan haru dari berbagai pihak, tak terkecuali Jungkook yang terus menangis hingga sampai di rumah Taehyung.

Berkali-kali Taehyung berkata padanya untuk berhenti menangis, tapi Jungkook bagai berada di dalam ruang kedap suara yang kuat, sedangkan Taehyung berada di luar. Tidak terdengar sama sekali. Taehyung menyerah dengan meninggalkan Jungkook menuju kamarnya di sisi kanan ruang tv. Taehyung tidak akan lama tentu, dia hanya ingin mengambil handphone yang ia tinggalkan ketika menghandiri acara pemakan Namjoon.

“Hm? Kemana handphoneku?”Taehyung membalik-balik benda yang memungkinkan menjadi tempat di mana handphonenya berada. Dia kemudian menyerah dan kembali menghampiri Jungkook yang masih tersedu-sedu di atas sofa.

“Kau melihat handphoneku?” Tanya Taehyung dengan wajah yang datar menatap Jungkook yang tak henti-hentinya menangis.

“Apakah orang yang sedang sedih, bisa mencuri?” Taehyung tertegun. Dia mendesah kasar meninggalkan Jungkook kembali namun pria itu mengikutinya. Melihat pemandangan sore yang tak kalah indah dari malam penuh bintang bahkan ketika matahari terbit, Taehyung lebih memilih pemandangan sore. Ketika matahari akan terbenam. Dia pikir, dengan terbenamnya matahari di ufuk barat, maka berakhirlah semua masalah yang menggerogoti perasaan tangguh seseorang.

Jika kau tak ingin bintang bersinar menerangi bumi,

Maka jadilah mentari dan jangan pernah engkau tenggelam,

Jika kau tak ingin mentari bersinar menerangi bumi,

Maka jadilah rembulan bahkan bintang di malam hari tanpa henti,

Hidup terkadang harus memilih sesuatu di antara 2 atau ketiganya. Jika hidup bukan pilihan, maka kau sendiri yang akan membunuh kehidupan dengan caramu. Itulah kalimat Taehyung yang sering ia utarakan ketika akan memilih sesuatu. Memilih sesuatu di dunia, merupakan pelajaran beharga baginya. Dengan memilih, dia akan mengatur jalan atau aliran hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun, terkadang pikirannya menjalar kea rah lain, mempertanyakan apakah orang di luar sana memilih sesuai apa yang ia inginkan? Atau bahkan memilih sesuatu yang salah? Pertanyaan itu terjawab sekarang. Setelah hasil penyelidikan kematian Namjoon sebelum hari pemakaman, pihak polisi sudah membuat kesimpulan bahwa ia bunuh diri di atas sekolah. Semua begitu tampak, karena terdapat sayatan di tangan kirinya. Dan Namjoon memilih sesuatu yang salah, kiranya.

“Akhir-akhir ini aku hampir mati ketakutan” ujar Taehyung menatap lampu-lampu kota Seoul yang indah dari atas balkon. Jungkook menolehnya dengan penasaran, dia mendekati Taehyung hingga lengan mereka bersentuhan.

“Apa yang terjadi?” Jawabnya melihat wajah Taehyung yang sedikit bingung akibat Jungkook yang terlalu dekat, “Ai, menjauhlah sedikit. Kau membuatku sesak” Taehyung mendorong Jungkook dengan lengannya hingga menyisakan 1 meter saja. Jungkook mendengus, kembali bertanya pada Taehyung “Entahlah, atau ini hanya perasaanku saja. Kematian mereka, ku pikir selalu berhubungan denganku, tidak kah begitu?” Jungkook mengernyit tidak mengerti,

“Maksudmu?”

“Maksudku, sebelum mereka mati oh maaf, pergi maksudku selalu saja bertemu denganku. Itu membuatku takut.” Jungkook menggeleng. Dia bahkan terkekeh geli sebentar dengan pernyataan Taehyung yang ia kira selalu kekanak-kanakan. Tentu saja. Siapa yang akan berfikir sejauh itu, kecuali Taehyung pikirnya. Jungkook menepuk bahunya pelan,

“Tidak. Mana mungkin semua itu berhubungan denganmu? Jika benar, maka kau mungkin tidak berada di sini dan bahkan kau berada di balik besi hitam. Ugh, tak bisa ku bayangkan.” Jungkook bergidik ngeri sekaligus meyakinkan Taehyung bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan tidak ada hubungannya dengan Taehyung.

Udara semakin mendingin ketika detik jam sudah mencapai beribu-ribu detik, yang artinya sudah hampir larut. Jungkook tidak tidur di rumah Taehyung pekan ini, karena Ibunya memanggilnya. Taehyung memakluminya dengan menitip salam pada Ibunya, jika mereka bertemu.

Kini, ia sedang menonton TV bersama Baekhyun di sampingnya. Sebetulnya Baekhyun sungguh tidak mampu menahan kantuknya saat itu. Namun Taehyung tetap memaksanya untuk menemaninya menonton TV hingga acara yang ia tunggu selesai. Acara TV yang sederhana, hanya berupa Talk Show antara korban dan tersangka. Dia begitu senang menontonnya, dan terkadang kagum terhadap tersangka yang berubah dan memberikannya motivasi hidup.

“Taehyung-a aku mengantuk sekali” keluh Baekhyun membenarkan posisinya hingga berbaring di atas sofa. Taehyung tidak membalasnya, dan tetap menonton tanpa memperdulikan Baekhyun yang terus saja mengeluh, karena mengantuk. Taehyung dengan serius menonton hingga ia lupa bahwa jarum jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Bagi orang-orang normal, saat ini mereka sudah tertidur pulas di atas ranjang.

Talk Show sedang menunjukan arti sebuah persahabatan yang berakhir dengan kebencian, hingga akhirnya saling membunuh. Tersangka yang di kira merupakan sahabat korban, melakukan pembunuhan berantai di mulai dari sahabat miliknya. Taehyung bahkan bergidik berkali-kali karena takut. Untunglah, korban hanya mengalami luka goresan pisau nan tajam, tanpa melukai korban dalamnya.

“Bagaimana kejadian seperti itu bisa terjadi?”

“Dia melarangku berteman dengan orang lain. Kekanak-kanakan ku pikir”

“Kekanak-kanakan? Bagaimana maksudmu?”

“Tentu. Apakah aku tak boleh berteman dengan orang lain, kalau begitu? Itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa.”

“Lalu, bagaimana perkembangan temanmu?”

“Ku dengar ia memiliki gangguan jiwa, dan kini sedang berada di rumah sakit jiwa. Itulah yang terbaik”

“Pelajaran apa yang bisa kau ambil dari kejadian ini,?”

“Hm.. ini begitu sulit, ku pikir tidak semua sahabat itu baik”

 

 

“Hm.. ini begitu sulit, ku pikir tidak semua sahabat itu baik” Taehyung benar-benar tertegun dengan kalimat yang korban lontarkan di TV. Ada sedikit perasaan takut ketika dia mendengar kalimat tersebut. Tentu ia merasa takut, bahwasannya ia memiliki seorang teman dekat yaitu Jungkook. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Jungkook akan berperilaku seperti binatang buas di waktu yang sama. Selesai acara tersebut, ia langsung bergegas untuk tidur karena kantuk yang tak bisa ia tahan lagi.

 

Pagi-pagi sekali Taehyung bangun untuk segera pergi ke sekolah seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini, adalah hari pertandingan golf antar sekolah di Seoul. suatu kebanggaan baginya, karena ia mewakili sekolah untuk mengikuti pertandingan tersebut. Kadang, menjadi pertanyaan bagi mereka mengapa dengan keadaan Taehyung yang seperti itu (Ekonomi) ia bisa mengikuti olahraga golf yang mahal. Dia menyukai golf sejak SD. Ayahnya yang mengajarkan bagaimana memegang tongkat golf dengan benar, bagaimana cara memukul bola hingga melebihi garis batas, Ayahnya yang mengajarkannya. Alat-alat golf yang ia punya pun milik Ayahnya yang ia rawat sampai sekrang. Terkadang, Baekhyun juga iri.

“Wah, pagi sekali. Hari ini, ada pertandingan?” Baekhyun baru bangun dan mendapati Taehyung sedang memasukan beberapa peralatan golfnya ke dalam tas. Taehyung mengangguk, tanpa menatap Baekhyun karena terlalu serius. Baekhyun iri sekali, Taehyung memiliki bakat yang tak semua orang miliki. Berbeda dengan dirinya yang hanya bisa menonton tanpa melakukan apapun. Dia sebetulnya, ingin seperti Taehyung. Dapat melakukan banyak hal.

“Aku merasa iri denganmu, Taehyung. Kau bisa melakukan banyak hal, sedangkan aku? Hehe, hanya berdiam seperti orang bodoh” Baekhyun terkekeh sambil membantunya memasukan beberapa peralatan Taehyung. Taehyung berhenti. Menatap dengan lekat Baekhyun di depannya yang sedang memasukan barang-barang ke dalam Tas. Bagi Taehyung, Baekhyun tak perlu iri karena ia pikir Baekhyun juga melakukan banyak hal yang tak bisa Taehyung lakukan pula. Dia menepuk bahu Baekhyun pelan, “Hei, aku juga iri denganmu. Kau pintar, kau bisa memasak, bisa mencuci pakaian levis milikku dengan kuat, bekerja untukku, menjadi donator terbaik di sekolah. Hm, bisa kau bayangkan betapa irinya aku, huh?” Taehyung menggerakan dagunya menatap Baekhyun.

Meskipun begitu, Baekhyun masih juga heran Taehyung bisa bicara banyak seperti itu. yang ia tahu, Taehyung jarang sekali bicara banyak bahkan dengan bahasa yang formal.

Aigoo. Adikku sudah besar, ya?” Baekhyun berguyon hingga membuat wajah Taehyung memerah. Taehyung kembali melakukan aktifitasnya, memasukan barang-barang yang masih banyak tertinggal, “Hentikan, idiot”

 

Seusai ia sarapan, Taehyung langsung bergegas menuju sekolah tanpa Baekhyun. Hari ini adalah hari minggu dan siswa tidak di perkenankan masuk sekolah. Baekhyun berkali-kali memohon pada Taehyung bahwa ia ingin menonton. Namun Taehyung menolaknya mentah-mentah.

“aku boleh ikut?”

“TIDAK!”

“Kenapa? Whats wrong with you?”

“Ini masih seleksi, aku mengizinkanmu untuk menonton ketika sudah masuk final. Are u understand, my bro?”

Begitulah larangan Taehyung pada Baekhyun yang membuatnya mengalah. Taehyung selalu begitu ketika ia akan bertanding. Seumur hidup Baekhyun, ia tidak pernah melihat Taehyung bertanding. Dalam arti, Taehyung belum pernah menjadi runner up dan hanya selalu menjadi yang ke-3. Baekhyun bangga dengan Taehyung yang menjadi 3 besar, meski bukan yang pertama.

 

Jungkook merangkul Taehyung ketika dia datang ke tempat pertandingan. Menggiringnya menuju sebuah ruangan ganti tepat di sebelah kiri di mana ia berdiri bersama Jungkook. Jungkook juga merupakan peserta golf sama seperti Taehyung, mereka bahkan sering latihan bersama untuk mempersiapkan pertandingan ini. Namun ada yang berbeda, Taehyung mewakili sekolahnya sedangkan Jungkook tidak mewakili siapapun. Dia mengikuti lomba, atas kesenangan tanpa berada di bawah naungan siapapun.

“Sepertinya, kau akan menang hari ini” Jungkook berkata sambil membuka baju, dan menggantinya dengan baju golf bewarna biru. Taehyung mendesah, “Ah, kau tidak akan pernah tahu. Mungkin kau yang akan menang tahun ini, eo?” Jungkook tertawa pelan, berjalan mendekati Taehyung yang tengah memasang sepatu, “Kau sepertinya tidak mengenalku lebih dalam ya? Pernah kah aku mengalami kemenangan di pertandingan seperti ini? Bahkan, terkadang aku sengaja mengalah demi kau” Jantung Taehyung seperti menendang dadanya kuat. Dia tidak pernah menyangka, bahwa Jungkook pernah membuatnya menang dengan sengaja. It isn’t he style. Taehyung menatap dalam. Dia tidak pernah melihat wajah Jungkook layaknya rangka tulang yang berjalan bahkan akan mengikuti sebuah pertandingan. Wajahnya, layaknya seseorang yang merasa tertekan.

“Kenapa?”

Hyungku

 

Sesuai dengan perkataannya, Jungkook sudah tereliminasi dengan mudah pada babak awal. Berbeda dengan Taehyung yang terus maju dan akhirnya memasuki babak final. Pertandingan selanjutnya akan di lakukan 1 bulan setelah seleksi. Terlalu lama bagi Taehyung. Hal ini karena ‘mereka’ memiliki masalah dengan pemilik lapangan.

‘Hyungku’

Taehyung telah lama menjalin hubungan teman bersama Jungkook, bahkan ketika dia masih di sekolah menengah pertama. Seumur hidup Taehyung, dia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumah Jungkook untuk sekedar bermain atau mengerjakan tugas. Bukan karena ia tak ingin, karena Jungkook yang selalu melarangnya.

Yang Taehyung tahu, Jungkook berada di keluarga Broken sejak berada di bangku sekolah dasar. Selain atau selebihnya, Baekhyun tidak pernah tahu menahu mengenai hal yang mendalam tentang Jungkook. Dan, seseorang pernah berkata padanya Jungkook memiliki seorang kakak laki-laki sepertinya, memiliki Baekhyun. Itulah fakta yang Taehyung tahu.

“Kau awesome, Taehyung!” Jungkook berseru. Taehyung menatap sekilas. Dia yakin, sebetulnya Jungkook memiliki kelebihan bermain dari Taehyung. Taehyung selalu memperhatikannya ketika sedang latihan bersama. Tembakan/pukulan Jungkook jauh lebih tepat sasaran dan itu kuat sekali. “Hei bocah, kau setidaknya harus menjadi runner up bersamaku. Bukankah itu menarik, huh?”

“Yeah… aku akan melakukannya. Kau tunggu saja sampai Toha(Monyet milik Jungkook) mengerami telurnya.” Taehyung menepuk bahu Jungkook menggunakan sepatunya. Bagaimana bisa, dalam keadaan Taehyung yang mulai serius, dia masih bisa melakukan lelucon murahan?

“Hei, jangan marah begitu. Oh, ada telpon, tunggu” Jungkook berlari menjauhi Taehyung. Tidak biasanya, Jungkook akan pergi ketika ia sedang menelepon seseorang. Jungkook memiliki sikap keterbukaan yang amat sangat. Dia bahkan membiarkan Taehyung mendengar desahan manja pacar Jungkook melalui telponnya 2 hari lalu. Dan itu lantas membuat Taehyung merasa ‘jijik’ hingga esok harinya.

Taehyung begitu penasaran. Ia mendekati Jungkook, untuk sekedar mendengarkannya bicara di balik tembok ruang ganti. Dia melihat ekspresi Jungkook yang terlihat sama seperti awal ia datang. ‘Tertekan’. Jungkook menggelengkan kepalanya kuat dengan satu tangan menyentuh dinding. Dia bahkan nyaris menangis entah karena ia merasa geram atau bagaimana.

Samar-samar, dia mendengar

“Hyung, aku tidak bisa. Jangan suruh aku melakukannya lagi. ku mohon Hyung” Taehyung mengkerutkan dahinya selagi mendengar. Apa yang kakak Jungkook lakukan hingga membuatnya frustasi seperti yang ia lihat saat ini. Ekspresi Jungkook berubah menjadi sedih ketika ia sudah mengakhiri teleponnya bersama kakaknya. Dengan cepat, Taehyung berlari menuju tempat di mana ia berada ketika Jungkook berlari untuk mengangkat telepon.

Ketika Jungkook datang, Taehyung memperhatikan wajah palsu Jungkook yang ia paksa untuk berusaha tersenyum. Taehyung benar-benar penasaran dan dia mulai memancing Jungkook untuk bertanya sesuatu, yang akan membuat pria itu tentu berbohong.

“Pacarmu?” Taehyung dengan hati-hati bertanya karena takut akan Jungkook yang akan merubah moodnya nantinya.

“Huh? Ya, pacar bawelku” Jungkook tersenyum kikuk. Sudah dapat Taehyung tebak bahwa Jungkook sedang berbohong dan berusaha menyembunyikan semuanya. Setelah semuanya sudah terselesaikan, Jungkook berpamitan pulang lebih dulu pda Taehyung. Sebetulnya, hari ini mereka memiliki janji dengan teman-teman yang lain, namun karena Jungkook ingin pulang lekas mereka membatalkannya.

Sebuah mobil bewarna hitam, berisikan seseorang menggunakan Jas bewarna hitam dan menyambutnya untuk masuk. Taehyung melihatnya dari kejauhan, dia menebak, itu kakak laki-laki Jungkook.

“Kenapa kau masih belum melakukannya, huh?” seorang pria muda, membentak Jungkook di dalam mobil. Jungkook menekan erat bangku penumpang karena terlalu takut. Dia menggeleng kuat. Dia sungguh tidak ingin ‘melakukan’nya untuk yang kesekian kalinya. Jungkook hanya tak ingin kehilangan seseorang lagi, sungguh dia tak ingin lagi.

Jungkook kini layaknya seseorang yang terpojokan di koridor sempit karena keramaian. Dia bahkan hampir lupa cara untuk bernafas karena terlalu sempit dan juga menakutkan.

Hyung, ber-berhenti menyuruhku membunuh lagi. A-aku takut” suara isakan tangis, memenuhi ruangan kendaraan hitam itu.

“Atau kau yang akan aku bunuh, Jeon Jungkook!! Kau berani melawanku?!” pria itu memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Jungkook menunduk takut, tak berani melihat wajah pria yang sedang melihatnya dengan tatapan yang menakutkan. Pria itu meraih dagu Jungkook, agar ia melihat mata pria yang memerah itu. Jungkook dengan wajah yang terbanjiri oleh air mata, memberanikan dirinya menatap pria itu. Jungkook melihat wajah kakak laki-lakinya begitu dalam. 6 tahun ia selalu melakukan hal yang sama, namun sejak 1 tahun ini, ia melihat seseorang yang berbeda di mata kakaknya.

“Dengar… kau adalah adikku. Oke? Kau harus tunduk denganku, jadi-“ Pria itu mengelus pelan rambut Jungkook lalu beralih menuju wajah, menghapus air mata Jungkook. “Bunuh temanmu sama seperti temanku yang membunuh ayah, kau mengerti?” Jungkook kembali menggeleng. Mengalihkan pandangannya berusaha tak ingin menatap kakak laki-laki yang menakutkan.

Ayah Jungkook meninggal ketika dia berada di bangku sekolah dasar. Dia benar-benar melihat dengan matanya ketika ayahnya memohon pada seseorang untuk tidak membunuhnya. Pria bertubuh jangkung serta tirus, mengunjungi rumah Jungkook dengan alasan ingin bertemu kakak laki-laki Jungkook. Lelaki itu, teman Yonggi di sekolah hanya saja ia sudah berhenti sekitar 4 bulan lalu, karena frustasi oleh kematian ayahnya. Menurut medis, Pria itu memiliki gangguan jiwa yang menginginkan seorang ayah yang telah meninggal sebelumnya. Yonggi, kakak Jungkook sedang tidak berada di rumah dan sedang bermain sepak bola di sekolah. Jungkook bahkan berkali-kali menyuruh pria itu pergi dan menghentikannya. Namun ia terlambat datang, ketika benda tajam itu sudah menusuk bagian kiri pinggul ayahnya.

“Ayah!!”

“Ayah, ku mohon bangun!!”

“Aku tidak ingin kau pergi!!”

“Tolong!! Tolong!! Ayahku!!”

 

 

Dia benar-benar takut. Dia sungguh tidak ingin melakukan hal tersebut untuk yang ke 2 kalinya setelah Namjoon. Hal itulah yang membuatnya menangis ketika pemakaman Namjoon sedang berlangsung. Jungkook sangat merasa bersalah, bahkan ia ingin mati saja menggantikan korban-korbannya. Diri pria itu penuh dengan tekanan yang terkadang hampir membuatnya memukuli kepala menggunakan dinding.

Yonggi akan selalu memaksanya untuk membunuh seseorang yang pernah mengunjungi rumahnya. Kakaknya tidak ingin hal yang sama terulang kembali, sehingga ia tak ingin siapapun mengunjungi rumah. Bahkan sampai sekarang ini, Yonggi masih menganggap Ayahnya tidak akan pernah mati. Itulah alasan Jungkook tidak pernah membawa Taehyung masuk ke sana bahkan untuk sekedar bermain. Berbeda dengan Hoseok dan Namjoon yang tanpa sepengetahuannya, mengunjungi rumah dan Yonggi-lah yang menyambut kedatangan mereka. Bahkan malam itu, Yonggi membantai habis-habisan Jungkook karena membiarkan seseorang datang ke rumah.

Dan kini memiliki masalah yang berbeda. Taehyung pernah tertangkap basah menjemput Jungkook ke rumahnya dan Jungkook tidak pernah menyadarinya. Sampai akhirnya Yonggi menyambut Jungkook pulang dengan alasan, harus membunuh Taehyung lekas. Sejak saat itu, Jungkook lebih jarang tidur bersama Yonggi di rumah dan memilih untuk tidur bersama Toha di rumah kecil buatan Jungkook. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Taehyung, hanya karena ia mengunjungi rumah Jungkook.

Tidak di pungkiri, sudah berapa ribu kali Jungkook memohon sembari menangis agar Yonggi menghentikan semuanya sekarang juga. Jungkook merasa bahwa ia ingin kembali di masa, ia dan Yonggi bermain bersama layaknya adik dan seorang kakak normal. Bukan seperti sekarang, ia merasa Yonggi semakin jauh dan menjauh.

Hyung, ku mohon…” itulah kalimat yang sering ia utarakan ketika Yonggi mulai memaksanya kembali untuk melakukan hal yang sama, dengan seseorang yang berbeda. Di balik itu, terselip harapan-harapan sederhana yang mungkin akan merubah Yonggi menjadi seseorang yang lain, lebih baik.

Kini, Yonggi pria bertubuh tegap itu layaknya seorang monster pemangsa manusia, yang kapan saja akan melakukan hal brutal. Jungkook hampir setiap hari, melihat Yonggi menangis sembari memegangi figura Ayahnya di ruang yang dulunya di sebut sebagai ruang keluarga namun dalam beberapa menit, ia menghancurkannya. Jungkook terkadang berfikir, Yonggi sudah menjadi gila.

Bahkan, ketika kabar kematian Hoseok di publish di stasiun TV, Jungkook ingin menjadi gila serta ketakutan. Dia mengurung diri di kamar miliknya selama beberapa jam, dan tidak memakan apapun selama 2 hari meski hari-hari sekolah. Yonggi tidak merasakan masalah apapun yang terjadi, ketika kabar Hoseok muncul di stasiun TV. Malah, Yonggi memeluk Jungkook, dengan membisikan suatu kalimat sederhana yaitu “Kerja bagus, terimakasih”

“Kerja bagus, terimakasih”

“Kau puas? Kau puas membuatku menjadi seorang pembunuh seperti ini, eo?! kau puas sekarang?”

“Hentikan, tidurlah. Sudah larut” Yonggi meninggalkannya sendiri di ruang tamu. Jungkook mengepal tangannya karena terlalu sulit membenam amarah yang harusnya Ia tahan entah sampai kapan itu. Jungkook melempar tas sekolahnya di lantai secara sembarang. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa sembari menutup matanya menggunakan lengan. Jungkook menangis malam itu.

 

 

“Jungkook, Seven days start from now

TBC

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 4

  1. Sumpah baru ngerti banget ceritanya sekarang:o sumpah yoongi psycho abis! Ckck please banget jungkooknya jangan jahaat:( taehyungnya jangan dibunuh sumpah jangaannn

  2. MWO??? jd kookie yang ngbunuh hoseok dan namjoon?? atas printah dr yoongi gtuh???
    oh… tdk bsa dprcaya?? thor, tlong slamatkan Taehyungie.q!!#lebay
    next~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s