FF ficlet/ STILL YOU (ONE SIDED LOVE)/ BTS-BANGTAN


Title                 : Still You (One Sided Love)

Author             : Alphareita

Genre              : Romance, Sad, Angst.

Genre              : General

Length             : Ficlet (<2000)

Cast                 :Read, and you’ll find them ^^

PhotoGrid_1399693206695

-Disclaimer-

This story, this plot, and all of idea of this story is mine. Don’t copy or share this story without my permissions. Happy reading, enjoy the feeling. Don’t forget to leave your comment. Thank you ^^

Nb: ff ini pernah aku post di salah satu blog, jadi jangan kaget kalo nemu ff yg sama hehe ^^

****

Sudah bertahun-tahun memori menyedihkan itu singgah pada sosok namja tampan bersurai hitam itu. Sudah bertahun-tahun hingga bahkan rasa sakitnya itu tidak lagi dapat ia rasakan keberadaannya. Yah, ia yakin ia sudah pulih. Park Jimin, sang main dancer BTS itu meyakini hal itu bertahun-bertahun hingga detik ini. Tetapi semua keyakinannya itu hilang seketika saat melihat gadis itu lagi. Keyakinan yang dibangunnya bertahun-tahun runtuh seketika dalam hitungan detik saat menyadari gadis itu masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.

Tidak ada yang berubah dari gadis bermarga Im yang lebih tua satu tahun darinya itu. Sunbae. Yah, gadis itu sunbae dari seorang Park Jimin bertahun-tahun lalu. Jimin masih dapat merasakan aroma parfum yang sama dengan yang biasa dikenakan gadis itu dulu. Tidak hanya aroma parfum, melainkan setiap inci fisik gadis itu masih sama. Raut wajahnya, gurat-gurat senyumannya, binar dari kedua manik hitam legamnya. Masih sama.

Jimin berusaha mengalihkan pandangannya dari gadis yang tingginya hanya beberapa cm lebih rendah darinya itu. Ia mencoba mengganggu Jungkook yang sedang mencoba konsentrasi untuk mencoba mengambil nada tinggi dari lagu yang akan mereka bawakan kurang dari 10 menit lagi. Mengganggu Jungkook yang sedang dalam konsentrasi penuh seperti itu jelas tidak akan berhasil. Lihat bagaimana Jungkook sama sekali tidak mengacuhkan usaha Jimin untuk menarik perhatiannya.

“Ya! Keumanhae!” pinta Jungkook yang merasa terganggu. Sekali lagi terbukti bahwa Jeon Jungkook tidak pernah mengindahkan sopan-santunnya dengan member Bangtan yang satu ini. Yah, alasanya karena mereka berdua dekat. Alasan yang tidak pernah bisa diterima oleh Jimin.

“ ‘Ya’? Ya! Neo!” belum sempat Jimin mengutarakan ketidaksukaannya, suara lain menginterupsinya. Suara yang benar-benar tidak ingin ia dengar untuk saat ini setidaknya. Ayolah, Jimin dan Bangtan baru saja akan naik ke atas stage untuk perform. Kehadiran pemilik suara itu sudah pasti akan merusak konsentrasi seorang Park Jimin.

‘Jebal, jangan sekarang.’

“Park Jimin!” seru suara itu yang terdengar semakin mendekat. Dan detak jantung Jimin meningkat beberapa kali lipat seiring semakin dekat sang pemilik suara dengan keberadaannya itu.

“Eh, Nara sunbae?” Jimin akhirnya mau tidak mau menatap sosok yang sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu. Bertahun-tahun yang lalu. Dan gadis itu masih sama. Masih menarik. Sangat menarik hingga membuatnya kembali seperti bertahun-tahun silam. Merasakan dentuman jantungnya yang benar-benar abnormal. Jimin menyunggingkan senyumnya dengan sedikit paksaan hingga terlihat benar-benar aneh.

“Nuguya?” tanya Namjoon sambil memandang Jimin dengan pandangan menuntut. Tidak hanya sang leader yang penasaran, semua member, kecuali Jungkook yang masih dalam kondisi konsentrasi, menanyakan hal yang sama.

“Chingu, chingu.” Jimin mencoba menampilkan ekspresi wajah sewajar mungkin, tertawa canggung. Dan bodohnya itu hanya membuatnya semakin aneh.

Percaya? Tentu saja tidak ada yang percaya pada ucapan Jimin. Tingkah laku ganjil namja itu cukup membuat kelima member BTS memandang Jimin sangsi. Belum sempat Jin mengutarakan rasa penasarannya, gadis itu sudah lebih dulu mengambil alih fokus Jimin padanya.

“Jiminie! Igeo. Ini untukmu,” gadis itu menyodorkan sebuket bunga besar dengan berbagai macam bunga terangkai manis di dalamnya. Lily, Rose, Freschia, dan entah jenis bunga apa lagi yang tersusun disana. Jimin hanya tahu tiga macam bunga itu. Bunga-bunga dalam rangkaian itu memang menarik, tetapi tidak lebih menarik dari senyuman lebar gadis itu.

“Untukku, sunbae?” tanya Jimin penuh harap.

“Eo! Neo hante, Park Jimin,” lagi-lagi senyuman manis itu. Jimin rasanya ingin berlari dan bersembunyi di waiting room saja jika seperti ini. Ia tidak pernah tahan berdekatan dengan gadis itu. Tidak dulu, tidak pula sekarang.

“A..ah, kamsahamnida, sunbae.” Jimin tidak berani menatap kedua manic hitam legam gadis itu. Alih-alih menatap kedua manik mata indah gadis itu, Jimin menatap buket bunga yang kini sudah dalam pelukannya.

“Ne~.” Kedua manik hitam itu tertutup oleh kedua kelopak matanya yang ikut bereaksi kala gadis itu tersenyum lebar. Menampakkan berbagai macam keindahan yang bisa Jimin rasakan. Suhu tubuh Jimin rasanya berubah-ubah cepat sekali. Dari panas ke dingin. Dan dari dingin ke panas.

Senyuman gadis itu selalu memberikan efek yang sama pada dirinya. Bahkan setelah bertahun-tahun tidak melihatnya, efeknya masih saja sama. Membuat dadanya bergemuruh. Memori-memori silamnya datang silih berganti saat ini. Seolah kedatangan sosok gadis itu membuka kotak memori pahit yang sudah bertekad ia tutup rapat-rapat. Cinta pertama. One sided love. Tidak ada yang lebih pahit bagi Park Jimin dibandingkan memori itu.

Dan kini pemeran utama dalam memori itu berdiri nyata dalam radius tidak lebih dari 1 meter. Dan Jimin masih bisa merasakan dengan sangat baik perasaannya bertahun-tahun silam. Seolah, perasaan itu baru saja ia rasakan.

[Flashback]

Jimin menghabiskan banyak waktunya dengan berada di sekitar Im Nara, seniornya yang berada satu tingkat di atasnya. Ia hanya memperhatikan dari jauh. Tidak berani mendekat. Hanya berani untuk mencoba membuat gadis itu melirik ke arahnya. Mulai dari bertindak bodoh, bertingkah sok keren, dan entahlah tingkah apa lagi yang telah Park Jimin coba lakukan untuk menarik perhatian gadis itu. Dan berhasil, tentu saja. Tetapi hanya sebatas menarik perhatian gadis itu. Tidak dengan hatinya.

“Annyeong, Jiminnie!” Nara melambaikan tangannya pada Jimin yang ia temui dalam perjalanannya menuju pintu gerbang sekolah sambil bergandengan tangan dengan seorang namja. Jimin tahu betul siapa namja itu. Senior di tingkat dan kelas yang sama dengan gadis itu.

“Sunbae,” Jimin hanya bisa menatap gadis itu yang tersenyum padanya sambil melambaikan tangan. Seolah, gadis itu sengaja membuat Jimin menyaksikan kebahagiaannya yang ia tahu membuat namja itu terluka. Senyuman gadis itu benar-benar memancarkan aura bahagia, menunjukkan kalau dirinya memang sedang berbahagia.

“Jiminie!” gadis itu melepaskan genggaman tangannya dari namja itu dan berlari kecil menuju ke arah Jimin yang berada beberapa meter di depannya. Rambutnya yang ikal panjang bergerak lembut seiring ayunan tubuhnya yang mungil.

“Ne, sunbae?” Jimin mati-matian menahan rasa kecewanya saat wajah gadis itu memancarkan sinar kebahagiaan yang belum pernah Jimin lihat selama ini.

“Jiminie! Ah, jinjja! Aku benar-benar senang hari ini. Kau tahu, Lee Yoon Jae memintaku menjadi kekasihnya tadi. Ah, Park Jimin! Aku benar-benar senang. Kau tahu, kan, aku sudah lama suka dengannya,” Nara mengekspresikan perasaannya dengan meluap-luap, seolah dengan begitu Jimin bisa merasakan kebahagiaan seperti yang ia rasakan. Tetapi salah, namja itu tidak merasakan setitikpun rasa bahagia seperti yang gadis itu rasakan.

‘Ani, sunbae. Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Jebal, jangan dilanjutkan lagi. Aku tidak tahan mendengar suara bahagiamu.’ Batin Jimin benar-benar tidak enak.

“Ah, chukkae Nara sunbae. Ah, mian, aku harus segera pergi ada urusan. Mianhae, sunbae,” Jimin mencoba melarikan diri dari kebahagiaan yang dirasakan gadis yang ia cintai. Gadis pertama yang ia cintai. Gadis pertama yang membuatnya merasakan perasaan sakit seperti ini. Cinta pertama. Cinta sepihak. Sungguh bukan kombinasi yang bagus untuk dirasakan.

Jimin memasang earphonenya, memutar lagu yang sudah beberapa waktu belakangan ini menjadi pilihannya untuk didengarkan. Bukan karena ia suka lagunya, hanya saja lagu itu menggambarkan keadaanya dengan cukup tepat. Only Look at Me by Taeyang. Yah, lagu itu menggambarkan keadaan seorang Park Jimin yang mengalami cinta sepihak.

[Flashback End]

“Nara-ya! Ah, ternyata kau disini. Sudah bertemu temanmu?” seorang laki-laki menghampiri keduanya.

Nara menoleh dan tersenyum manis saat menyadari siapa yang memanggilnya. Sementara Jimin hanya bisa bertanya-tanya dalam hati atas identitas namja itu.

Nara mengangguk membalas pertanyaan namja yang terlihat sedikit lebih dewasa dari Park Jimin. “Eum, aku sudah bertemu dengannya. Jiminie, ayo kuperkenalkan dengan tunanganku. Park Donghee. Donghee-a, ini temanku. Park Jimin.”

Jimin tersenyum canggung pada sosok namja yang mau tidak mau ia akui bahwa namja itu tampan. Hanya bersopan-santun seadanya yang bisa Jimin berikan. Sementara namja itu terlihat tulus menyapa Jimin dengan hangat. Jimin merasakan perasaan bersalah melihat sikap hangat namja itu. Tetapi tentu saja itu bukan seratus persen kesalahan Jimin, ia hanya tidak bisa sedikit mengontrol sikapnya saat ini. Dia masih 20 tahun, masih dalam batas wajar jika ia masih sedikit kesulitan mengontrol dirinya sendiri sebagaimana layaknya seorang remaja laki-laki pada umumnya. Toh, namja itu masih dalam batas usia remajanya, meski berada dalam periode akhir.

“Ah, Park Jimin. Bangtan Sonyeondan?” Nada suara namja itu benar-benar tulus memuji. Yah, Jimin tidak ada keraguan soal itu. Jimin hanya menanggapinya salah tingkah. Bukan salah tingkah karena malu akibat pujian itu. Bukan, bukan itu. Yah, tentu saja bukan hal itu. Hanya salah tingkah karena tidak tahu bagaimana harus bersikap sopan di depan namja itu.

“Ah, jweosonghamnida. Kami harus segera bersiap untuk naik ke stage. Maaf, mungkin ngobrolnya bisa dilakukan lain kali.” Kim Namjoon memotong pembicaraan ketiganya. Dan untuk kali ini Jimin benar-benar merasa berterima kasih pada leadernya itu. Helaan napas lega tidak bisa Jimin sembunyikan melihat betapa seriusnya sang Rap Monster meminta aktivitas menyebalkan ini berhenti.

‘Hyung, gomawo.’

“Ah, geurae. Mian sudah mengganggu. Aku hanya ingin memberikan bunga itu untuknya karena aku pernah berjanji padanya,” ujar Nara sambil tersenyum paham akan gangguan yang ia sebabkan.

“Gwaenchanhayo, sunbae.” Janji? Bahkan Jimin tidak ingat janji apa itu. Bagaimana gadis itu bisa ingat dengan janji yang bahkan ia sendiri tidak ingat.

“Geurae. Jiminnie, aku juga harus pulang. Sampai jumpa! Annyeong!” Nara melingkarkan tangannya di lengan Park Donghee dan menariknya menjauh bahkan sebelum Jimin membalas ucapan selamat tinggalnya.

Jimin menatap kedua sosok itu. Lagi. Untuk yang kedua kalinya. Pada sosok yang sama. Ia merasakan perasaan yang dulu pernah ia rasakan. Cinta pertama. Cinta sepihak. Kombinasi yang benar-benar buruk. Dan terjadi untuk yang kedua kalinya pada Park Jimin. Sayup-sayup rasanya indera pendengaran Jimin kembali memutar lagu yang melekat erat dengan memori ini. Lagu Only Look at Me memenuhi indera pendengarannya. Tentu saja tidak ada yang memutar lagu itu. Yah, itu tidak lain hanya sebuah delusi yang dialami Park Jimin. Delusi dalam kadar yang wajar hingga belum sampai diklasifikasikan dalam sebuah gangguan kejiwaan, karena akan terdengar sangat ironis ketika seorang member dari sebuah boyband rookie paling bersinar di tahun 2013 mengalami gangguan kejiwaan. Teramat ironis.

“Ya! Gwaenchanha, Park Jimin!” Rap Monster menepuk pelan bahu Jimin yang hari ini tertutup cardigan rajut berwarna putih tulang untuk keperluan penampilan mereka di atas stage.

“Ne, hyung. Gomawo.” Jimin mengikuti Rap Monster berjalan menuju backstage, menunggu giliran mereka untuk naik dalam waktu tidak lebih dari 2 menit lagi.

Yah, Rap Monster bukan tanpa alasan meminta Jimin untuk bersiap. Selain karena memang waktu mereka untuk naik ke stage sudah tidak lama lagi, Rap Monster melihat gelagat Park Jimin yang memang ingin segera pergi dari sana. Yah, bukan leader yang baik jika ia tidak tahu apa masalah membernya yang satu itu. Rap Monster pernah mendengar sekilas kisah tentang cinta pertama Park Jimin. Dan rasa-rasanya gadis itulah sang tokoh utama dalam kisah menyedihkan seorang Park Jimin. Hanya sebatas ini yang bisa Rap Monster lakukan untuk menyelamatkan hati dongsaengnya yang sepertinya sudah mulai kembali retak setelah butuh waktu cukup lama untuk merekatkannya kembali.

****

“Nara-ya, gwaenchanha? Jinjja gwaenchanha?”

Nara menatap wajah khawatir Donghee, kemudian tersenyum. “Eum, gwaenchanha, oppa.”

“Haruskah memastikannya dengan cara seperti ini? Cara yang sama dengan bertahun-tahun yang lalu?” Donghee benar-benar tidak habis pikir jalan pikiran gadis itu.

“Eum. Ternyata dia masih saja tidak peka,” ujar Nara sambil tersenyum pahit.

“Bukan. Bukan namja itu yang tidak peka, Nara-ya. Caramu yang sangat salah yang membuatnya menumpulkan inderanya,” bantah Donghee sambil menghela napas lelah menyaksikan gadis itu masih bersikap bodoh setelah bertahun-tahun lamanya.

****

-FIN-

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF ficlet/ STILL YOU (ONE SIDED LOVE)/ BTS-BANGTAN

  1. Nara please Nara. Gue berharap ini kisah nyata, yg suatu saat nanti mereka bisa bersatu. ini kasian juga si jimin, cinta pertama tapi udah nyesek.

    • aduuuh, ini murni karangan kook…jangan jadi kisah nyatalah, aku kasian sama jimin😦

      tp alasan yg dia suka lagunya Taeyang itu emang beneran, tp yg lain murni karangan

      *aduh aku takut sendiri kalo emang ceritanya bener kyk gini >,,<

  2. Andwaeeee jangan jadi kisah nyata dong u.u gategaa guee nara sama jimin .. Mending ama gue aja bang-_- *plak
    Oke ini ffnya gantung ;___; kasian bang jimin

    • gantung ya? aduh maap, soalnya lg kepengen bikin yg gantung2 (?) gitu..dan jimin tokoh yg pas *dijitak jimin*

      tenaaang, ini bukan kisah nyata kok, tp yg bagian alasan jimin suka dengerin lagunya taeyang itu bener gara2 cewek. tp detilnya murni karangan kok hehe ^^
      makasih udah mampir ^^

  3. Thor ini ffnya baguss loh.. tapi sayang gantung😦 aku kasian sama jimin
    Tapi kni feelnya ngenak :’

    Oke fix ff ini daebak .. aku tunggu next karyamu thor ^^ fighting

    • huaaa makasiiih…emang sengaja aku bikin gantung hahaha /ngeles/
      aku juga jadi kasian sama jimin, jimiiiin mianhaeee

      hehehe, makasiiih sekali lagi atas apresiasinya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s