FF/ A LETTER FOR YOU/ BTS-BANGTAN/ 1 of 2


Title: A Letter For You

Author: Choco96

Genre: sad, romance, family

Length: Twoshot

Rating: PG-15

Casts: Arden (Yourself) | Kim Seokjin

Summary: Aku selalu memandangmu. Tetapi ketika semua memburuk, mengapa kau juga ikut memperburuk keadaanku?

Disclaimer: Cerita ini 100% hasil punya saya. Kim seokjin milik Tuhan, keluarganya, Bighit Entertainment! Please, Don’t be silent readers. Don’t be plagiarist ppl!

Ini ff perdanaku (alias fanfic pertamaku) Hihihihi~ ^^ . FF ini juga pernah aku post di blogku sendiri, tapi dengan cast dan judul yang berbeda. Tapi alurnya sama aja intinya.

 

A Letter for you (Part 1)

 

 

“Ambil surat ini. Jangan buka sebelum aku menyuruhmu.” Aku mengangguk.

 

 

***

 

Bulir air yang sedari tadi turun dari langit semakin lama semakin deras. Sekarang sedang turun hujan. Hujan yang telah membasahi pucuk daun pohon sakura di depan rumahku terlihat teduh seakan menenangkan kepenatan sesaat. Terkadang kenyamanan ini inginku hentikan sesaat dan tak ingin berlalu sedetik pun. Gemaan suara hujan yang sedari tadi menemaniku di dalam kamar tidurku semakin mereda. Digantikan oleh rintikan hujan. Itu pun kadang membuat aku tertidur lalu memimpikan sesuatu yang indah.

 

“Den, ayo makan dulu.”Panggil ibu dari lantai satu.

“Iya, Bu.” Sahutku.

 

Segera ke lantai dasar untuk sarapan bersama ibu. Sebelum ke lantai satu, kubereskan meja yang sedikit berantakan. Di meja tersebut terdapat pigura fotoku dengan dia. Iya, dia. Mengambil pigura foto tersebut dan mengelap kaca yang sedikit kotor oleh debu dengan ibu jariku. Walau pigura foto ini berukuran 8×15 sentimeter, namun terdapat seribu makna di dalamnya. Lalu kuletakkan kembali ke tempat semula dan merapikan buku-buku tebal yang selalu menemaniku dua tahun terakhir.

 

“Bu, Aku berangkat.”

“Makananmu bagaimana, Den?”

“Aku sudah makan setengah, Bu.”

 

Keluar dari rumah yang tak begitu besar, akan tetapi selalu nyaman untuk aku tempati. Bercorak bangunan kuno, yang didominasi bahan kayu. Terdapat ornamen bunga teratai di kusen pintu utama. Sebelum sepuluh langkah dari depan rumahku, aku tersadar ada seseorang yang memanggil namaku.

 

“Arden!” Suara lantang ini sangat aku kenal.

“Jin? Selamat pagi.”Jawabku tersenyum padanya.

“Apa berangkat bersamamu ya?”

“Dengan senang hati.” Seulas senyuman di bibirku terukir tulus.

Tulus hanya untukmu.

 

Pertemuan kita ini takdir atau apa?

 

***

 

When the world turns dark
And the rain quietly falls
Everything is still

– On Rainy days

 

Suara kursi yang menghantam tembok terdengar dari lantai dasar menggema sampai ruang tidurku. Pasti sumber suara itu berasal dari ruang dapur. Sudah seminggu belakangan keadaan keluarga memburuk. Entah masalahnya aku tak begitu tahu. Spesifiknya sangat teramat buruk jika kuamati. Tanpa alasan yang valid mengapa keluarga ini seperti berada di ujung tanduk. Entahlah.

Namun aku mengacuhkan peristiwa yang bertubi-tubi terjadi di keluarga yang menaungiku selama ini. Walaupun dulu aku melaknat terjadinya peristiwa ini, toh terjadilah. Tanpa tersadar air mataku telah mendarat mulus di kedua pipiku.Segera menyekanya. Aku tak ingin menjadi orang lemah. Apalagi hanya karena masalah seperti ini.

Inilah kehidupan nyataku. Yang dulunya harmonis namun berbanding terbalik.

 

***

 

“Hei! Menapa diam terus?” Tanyaku.

“Tak ada apa-apa.”

“Jangan berbohong. Aku mengenalimu sudah belasan tahun, Jin. Dan kau juga tak pintar untuk menutupi suatu masalah terhadapku terutama. Cerita, Jin.” Pancingku.

“….” Jin tak berkata apapun. Dia lebih berbalik dan pegi mejauh dari hadapanku.

 

Apa yang terjadi?

 

Aku menghela napas panjang dan berdiri satu jam lamanya. Aku mengambil tas polkadot sedikit usang pemberian Jin. Ya, dia seorang lelaki yang masih setia menemani kehidupan monotonku sejak dua belas tahun silam. Yang selalu melengkapi apa yang tak bias kutambal karena kekuranganku. Namun akhir-akhir ini, Jin lebih memilih untuk diam dan menjauh dariku. Mungkin masalahnya lebih berat daripada masalahku pungkasku dalam hati.

 

“Arden!”

Aku menoleh ke belakang dan menangkap bayangan yang kukenal. Jin?

 

“Ya?”

“Maaf yang barusan. Ayo pulang bersama.” Senyumannya terukir kembali. Ah, aku begitu rindu dengan dengan senyuman ini, Tuhan batinku. Aku mengangguk dan mensejajarkan langkahnya.

Aku melihatnya diam-diam dari sudut mataku. Wajah pucat itu terpampang jelas. Lagi. Apa masalahnya begitu berat hingga tak ingin bercerita kepadaku? Apa aku menjadi teman yang buruk untuknya?

Beratus-ratus pertanyaan yang sedang menghinggapi pikiranku. Pikiranku rancu hanya karena mencemaskan Jin.

 

Ya, Tuhan. Mengapa ujian-Mu begitu rumit untuk aku jalani?

 

***

 

Bentakan ayah yang memekakan gendang telinga saat subuh yang seharusnya masih terlelap dalam alam bawah sadar dan nyawa yang masih berkeliaran. Namun mengapa bentakan itu diselangi dengan suara isakan. Suara ibukah?

Emosi yang selalu kupendam dari enam belas hari belakangan ini yang tak pernah terusik oleh seseorang, sedikit demi sedikit muncul ke permukaan. Keadaan yang sudah sadar dari alam mimpi juga yang membuat emosiku meluap. Tubuhku mengarah pada suara isakan tersebut dengan sendirinya.

 

“Ibu? Ibu?” Aku berteriak ke sekelilingku.

 

Mengapa aku belum menemukan ibu? Batinku yang berontak.

Suara isakan yang tadinya keras lambat laun suara tersebut tak terdengar dan lenyap.

 

“Ibu!!” Teriakanku semakin keras namun tak dibalas oleh suara ibu.

 

Aku mendapati seseorang wanita berumur kisaran empat puluh tahun berada di ruang tengah. Terpampang jelas jejak buliran air yang melekat pada kedua pipinya telah mengering. Ibu menutup matanya dengan punggung tangan kanannya. Segera pada tubuh itu dan memeluknya.

 

“Ibu tak apa?” Aku memastikan keadaanya walaupun sudah tampak jelas keadaannya.

Suara yang lirih sekaligus gemetar, “Ibu baik-baik saja, Den.”

 

***

 

Jingga bergradasi merah.

Mungkinkah kehidupan seperti warna senja?

Warna yang lembut namun terdapat makna ambigu di dalamnya.

Atau gumpalan awan gemuruh?

Terlihat jelas apa yang terjadi namun sangatlah kejam.

Entah, aku tak tahu menahu akan hal itu. Hanya Dian yang tahu arti sebenarnya…

 

 

 

Jendela kamarku memang sengaja kubuka selebar-lebarnya. Memandang jelas keadaan luar. Tetap cantik seperti biasa. Di seberang sana terdapat jendela yang sangat kukenal. Ya, jendela loteng rumah Jin. Walau sudah tak terlihat baru masih tertuang rasa nostalgia tentang rumah tersebut.

Tiba-tiba jendela yang diam-diam kupandangi sendari tadi terbuka. Jin membuka jendela rumahnya. Ia tersentak kaget karena bayanganku sudah terpaku di jendela kamarku.

 

“Arden.” Panggilnya tersenyum.

Ia menunjuk ke bawah isyarah keluar. Aku mengiyakan apa yang diperintahkan Jin kepadaku.

 

“Ada apa?” Tanyaku heran.

“Kau ada waktu senggang besok? Aku ingin berbicara sesuatu hal.” Tandasnya.

“Memangnya sekarang tak ada waktu untuk bicara?” Sembari tertawa hanya untuk mencairkan keadaan sedikit kaku.

“I’m talking something seriously, Arden.”

“Ya. I can.”

 

***

 

“Ini apa?” Sebuah surat yang digulung dan ditempatkan pada botol transparan berukuran kecil namun bisa kuambil sewaktu-waktu.

“Pastinya itu surat.”

“Kenapa surat? Kita bisa berbicara secara langsung bukan?” Aku heran kelakuannya dari kemarin, “Boleh kubuka sekarang?” Tanyaku memandang botol tersebut.

“Jangan buka sebelum aku menyuruh pada waktu yang tepat.”jawabnya tegas.

Aku mengangguk.

 

Tiba-tiba Jin memelukku, “Jin?”

 

Ada Apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya?

 

 

xx TO BE CONTINUED xx

 

NB:Ahhhhhh!!!!Tolong dikritik dan sarannya yaaa~ Ffnya nggak jelas banget ya? Ah, maaf ya TT_TT abal-abal banget. Padahal aku pingin buat yang ada feelnya gityuuu >_<

Tungguin ya yg part 2nya.Thanks /kiss bye~/

About fanfictionside

just me

One thought on “FF/ A LETTER FOR YOU/ BTS-BANGTAN/ 1 of 2

  1. nih FF bikin penasaran aja. Sikap Jin yg aneh, KDRT papanya arden & surat dalam botol.
    cepetan dipost part 2nya dong thor TOT

    btw lbh diperhatiin lg ya ngetiknya soalnya limayan banyak typo ^^; hwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s