FF/ OUR FAVORITE GIRL/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Tittle      :               Our Favorite Girl /Pt.2/

Author  :               PJDaehee

Cast       :

  • Kim Hyena (OC/you)
  • Park Jimin (BTS’s Jimin)
  • Jeon Jungkook (BTS’s Jungkook)
  • Kim Seok Jin (BTS’s Jin)
  • Baek Seohwa (OC)
  • Min Yoon Gi / Suga (BTS’s Suga)
  • Kim Taehyung / V (BTS’s V)
  • Park Sora (OC)
  • Jung Hoseok / Jhope (BTS’s J-hope)
  • Kim Namjoon / Rapmon (BTS’s Rapmonster)

Other Cast          : Still in Secret^^

Genre                   : Romance, School Life, Teenager, Friendship, Little Bit Comedy, Family.

Rating                   : Teen 16+

Leght                     : Chaptered

3hajy5Yt

Hollaa~ author bawa part2nya nih ^^ ada yang menantikah? /krik krik krik/ author minta maaf karena di part1 ceritanya kurang jelas dan pendek. Nah, kalo part 2 ini author buat akar-akarnya loh (maksutnya thor?-___-) Di part ini para tokoh yang sebelumnya masih tersembunyi, sekarang udah mulai author tampilin/ paparkan^^. Oh iya, part ini cukup panjang karena menguak sisi setiap tokoh itu sendiri(?) Biar ga penasaran, langsung baca aja deh yaaaaa ~
Happy reading!

 

 

***

Hyena menatap bosan lelaki yang kini makan dengan lahap dihadapannya. Sudah 1 jam penuh ia menemani lelaki itu makan di kedai ini. Rasanya sangat mual membayangkan makanan sebanyak itu bercampur di perutnya dalam kurun waktu singkat. Bagaimana tidak? ia sudah menghabiskan 5 mangkuk jangjangmyun serta 2 porsi besar bulgogi.

“Kenapa hanya melihat? Kau tidak lapar?” tanyanya sedikit kesusahan dengan mulut penuh daging.

“Jangan banyak bicara. Sudah bagus aku mau mentraktirmu”

“memang seharusnya kan?” tukasnya santai

Hyena bergeming singkat menahan sebal.

“Ya Jeon Jungkook, kau masih belum kenyang?! Sudah berapa hari kau tak makan?!” bentak Hyena cukup keras ketika menyadari Jungkook dengan polosnya meraih seporsi Kimbab miliknya.

Jungkook sengaja menulikan pendengarannya dan langsung melahapnya tanpa sisa lagi. Hyena hanya mendesis tanpa angkat bicara lagi.

 

 

“Cepat naik”

“Kau marah rupanya, huh?” Jungkook menghembuskan nafas menyadari gadis itu tak kunjung naik ke motornya.

Keduanya kini berada diparkiran kedai.

“Kau menghabiskan uangku tau!” gerutu Hyena masih tak juga mendekati Jungkook yang sudah siap melajukan motornya.

“Anggap saja ini pengganti uang bensin yang kau habiskan” Jungkook tersenyum sembari memberikan helm kepada Hyena, “Cepat naik sebelum kau kutinggal”

Tanpa perintah dua kali Hyena sudah duduk manis di jok belakang dan langsung menggunakan helmnya. Ia sama-sekali tak menyangka bertemu Jungkook lagi, bahkan sampai satu sekolah.

Ia juga baru sadar pada malam itu Jungkook mengenakan seragam SMA Yonghwa. Terlebih lagi, Jungkook yang terlihat cool dan polos saat kesan pertama baginya, ternyata tidak dengan hari ini.

“Pegangan”

“Tidak mau.. “

“Wae?”

“………”

“Kau malu? Bukankah malam itu kau sampai memelukku sangat erat? Tadi juga” Goda Jungkook seraya tertawa.

“I-tu karena kau mengendaari motormu sangat kencang bodoh!” Hyena membalasnya dengan pukulan di punggung Jungkook. Jelas sekali pipinya merah sekarang.

Tanpa mengindahkan ucapan Hyena, Jungkook segara menarik gasnya dengan kencang. Membuat Hyena reflex memeluk perutnya kuat-kuat seraya mengeluarkan sumpah serapah tiada tara.

“YAAA JEON JUNGKOOK!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!!”

 

*Flashback*

“Kita bertemu lagi, nona”

“K-kau?”

“Masih mengingatku?” Tanyanya seraya tersenyum renyah, “Aku tak menyangka ternyata kita bersekolah di tempat yang sama. Kau anak baru, bukan?”

“kau kesini mau minta ganti rugi kan?” Potongnya langsung to the point.

Hal itu sukses membuat Jungkook terkejut.

“Berapa bensin yang kuhabiskan malam itu? akan kuganti”

Jungkook semakin tak mengerti. Kenapa gadis dihadapannya ini selalu membuatnya binggung. Dan astaga, apa gadis ini mengganggapnya sebagai supir taxi yang ingin menagih bayaran kepada penumpang.

Bukan ini tujuan jungkook menghampirinya.

Hingga Selang beberapa jeda, terbesit suatu ide di otaknya.

“Kalau begitu traktir aku sepulang sekolah” ujarnya santai.

“Mwo? Enak sekali kau bicara” Hyena mendesis pelan.

“Anggap saja ini sebagai ganti karena aku sudah menolongmu kemarin” terkesan pamrih memang, namun bukankah itu kesempatan baik baginya agar bisa mengenal Hyena lebih jauh? toh gadis itu juga yang menawarkan sebelumnya kan?

“Bagaimana?”tanyanya kembali memastikan

*Flasback end*

 

 

“Aku pulang” seru seorang lelaki di bibir pintu. Ia segera melangkah masuk sembari mengacak asal rambut hitam tebalnya. Disampirkannya tas sekolah kearah samping.

Menyadari tak ada jawaban, ia segera menghampiri anak tangga untuk menuju kamarnya. Lekas kekamar lalu istirahat sepertinya sudah tergiang dibenaknya sejak tadi. Ia sungguh lelah.

“Yaa Jimin, darimana saja kau? Sudah sepetang ini, dan kau baru pulang?” suara seseorang yang baru saja keluar dari dapur dekat tangga sambil membawa nampan. Uap dari secangkir teh mengepul didepan parasnya yang mulai keriput.

“Seperti biasa” jawabnya singkat masih terus berlalu.

“Apa tak ada hal lain yang kau lakukan selain dengan gengmu itu, huh?” wanita itu tau dengan siapa lagi jika sudah pulang telat begini.

Jimin menghentikan langkahnya, secara telak kata-kata itu membuatnya tersinggung.

“Bisakah ibu berhenti menyebut kami geng?” ujarnya membela. Harus berapa kali ibunya ini butuh penjelasan tentang hubungan persahabatannya.

PYANGGGGGGG

“Astaga, ada apa dengan tetangga baru disebelah?” ibu jimin bergumam, ia yakin jika suara dentingan keras yang barusan terdengar berasal dari rumah disampingnya.

“Tetangga baru?” Jimin bergeming. Pantas saja akhir-akhir ini ia sering melihat bangunan kosong disamping rumahnya itu di renovasi habis-habisan. Ah sudahlah, toh dia tak ambil pusing.

Akan tetapi, dalam hatinya ia berterimakasih kepada si penyebab suara itu. Berkatnya, perhatian ibunya jadi teralihkan untuk tak perlu lagi membahas masalah ‘geng’ yang bias jadi akan jadi lebih panjang.

Ia hendak kembali menapaki anak tangga sebelum ibunya kembali berujar menyampaikan sesuatu.

“Oh iya, setelah ini antar berkas-berkas di atas laci itu pada kakakmu. Ia sangat membutuhkannya malam ini juga”

Jimin menghembuskan nafas panjang seraya mengangguk terpaksa. Ia tak mau celotehan ibunya akan tersulut kembali apabila ia menolak. Hilang sudah harapannya untuk segera tidur.

Kenapa ibu begitu peduli padanya? Kenapa tidak denganku juga?

rancaunya dalam hati dan buru-buru menuju kamarnya.

 

***

“Ah sial!” Hyena baru saja mendapat kesialan lagi. Ia menjambak rambut miliknya yang sepanjang pundak itu dengan gusar.

Bukan Kim Hyena namanya jika tak pernah melakukan kecerobohan. Covernya saja yang cuek dan terkesan dingin. Padahal ia tak lebih dari gadis konyol nan ceroboh.

Harusnya tadi Hyena lebih bersabar menahan rasa laparnya hingga pembantu barunya segera datang membuatkannya makanan. Namun kenyataannya pembantu itu lama sekali kembali dari kepergiannya mengantarkan dokumen milik ibu yang sempat tertinggal dirumah. Terlebih dilemari pendingin hanya terisi bahan makanan mentah dan perlu diolah.

Lihat sekarang, niatnya mengoreng telur mata sapi gagal total hanya gara-gara ia tergelincir minyak goreng yang tumpah di lantai. Membuatnya menabrak rak dapur hingga teplon, wajan, dan sutil didalamnya terjungkal kemana-mana. Hal itu membuat keadaan dapurnya sangat berisik dan berantakan.

“Apakah aku dilahirkan hanya untuk menerima kesialan?!” Runtuknya sambil mengelus bokongnya yang sangat sakit

 

 

Kala pagi penjelang siang, keadaan kelas XII-D sangatlah gaduh. Tak ada sedikitpun dari penghuni kelasnya berniat menyentuh buku barang sedikitpun. Diantaranya ada yang saling mengganggu teman, bercanda, tetawa, berselca ria, dan ada pula yang pergi ke kantin. Rupanya pemasangan CCTV disetiap sudut tak membawa dampak apapun bagi mereka.

Padahal, Hwang Saem juga sudah memberikan tugas karena absen dikelas tersebut. Bukan kesengajaan, melainkan guru cantik itu harus menemani siswa yang berlomba di luar kota.

Meskipun menyandang nama “D”, bukan berarti kelas itu hanya berisikan para siswa yang bandel atau semacamnya.

Di SMA Yonghwa, tak ada namanya pembagian kelas berdasarkan urutan kemampuan otak siswa. Mereka merombaknya secara adil setiap tahun.

Faktanya, ini menjadi pengecualian untuk kelas D. Dikelas inilah tempat kelima Kingka sekolah bernaung. Bukan kebetulan atau tidak mungkin mereka dapat selalu menyatu dikelas yang sama, mengingat Rapmon memiliki sebagian kekuasaanya disini. Beruntung sekali, karena orang tuanya lah pemilik SMA terkenal ini.

“Ah, 6 bulan lagi kita akan menghadapi banyak ujian sekolah” Jhope membuka suara diatas meja.

“Kenapa kau terdengar tak rela begitu?” Jimin menyelanya sembari tertawa namun mata sipitnya tak mengalihkan padangannya dari ipad yang tengah ia mainan. Sefokus apapun ia terhadap sesuatu, ia tetap dapat peka terhadap lingkungan sekitar.

“Tak perlu sok peduli. Bukankah selama ini kau selalu mengandalkan otak Rapmon maupun V?” Suga menggelengkan kepalanya seraya mengejek. Jhope sama sekali tak tersinggung, karena memang seperti itulah cara bicara Suga yang terkesan blak-blakan.

Sedangkan V dan Rapmon hanya membiarkan kedua kawannya itu semakin memojokkan Jhope tanpa berniat membantunya.

Ya, kelima Kingka itu sekarang sedang berkumpul di meja Jimin yang terletak paling belakang. Menarik kursi disekitar meja itu lalu duduk disana, tanpa peduli kursi milik siapa yang mereka ambil. Toh pemiliknya tak akan protes atau merasa keberatan sedikitpun. Bisa apa mereka?

Sebenarnya nama mereka yang terdengar keren itu bukanlah nama asli mereka. Mereka mendapat sebutan nama baru dari banyaknya fans mereka yang tersebar di sekolah. Apa ini terlalu berlebihan? Tetapi itulah kenyataan yang terjadi. Awalnya mereka tak begitu mengindahkan sebutan unik itu, namun akhirnya merasa terbiasa juga. Bahkan kini, mereka sudah nyaman menggunakannya untuk berinteraksi satu sama lain.

Tapi tidak dengan Jimin, walaupun ia mendapat beberapa julukan, ia lebih nyaman dengan nama aslinya.

 

“Hello guys! May I join here?” sela seorang gadis berperawakan tinggi dengan logat kental inggrisnya. Rambut bergelombang cokelat alaminya ia biarkan tergerai bebas hingga punggung. Ia menepuk pundak Rapmon dengan semangat.

“Ya Sora-ya, bisakah kau tak mengejutkanku?” Rapmon memandangnya kesal karena tepukan dibahunya yang keras.

Siapa lagi kalau bukan Park Sora? Gadis yang paling kentara sekali perbedaannya diantara yang lain. Jika ada Kingka, bukankah ada Queenka?

Itu tak menjadi masalah.

Gadis blasteran Korea-Australia yang dianugrahi kecantikan, hidup mewah, atau tubuh bak model itu, sebenarnya bukan alasan utama penyebab keirian siswi lain. Mengingat tak jarang menemukan gadis semacam itu di sekolah elit ini.

Masalahnya adalah kedekatan Sora dengan lima lelaki impian itu! Oh hell, betapa beruntungnya gadis ini menjadi sepupu Rampon yang diusungnya dari New Zealand tahun lalu.

Tak mungkinkan jika diantara keempat lelaki itu-minus Rapmon- tak ada yang menaruh hati padanya?

“Anytime, kau bagian dari kami Sora” Jhope tersenyum manis padanya, hanya ia yang merespon kehadiran gadis itu dengan cepat kali ini.

“So thanks” Ucap Sora seraya merangkul manja pundak Jimin dari belakang, membuat lelaki itu protes. ia seperti tak begitu mengindahkan atau lebih tepatnya mengabaikan senyuman yang baru saja ditujukan untuknya.

“Ck, kau lihat? Gara-gara kau aku jadi tertangkap polisi!” Jimin berdecak sebal. Nyaris saja ia mengalahkan poin tertinggi yang sebelumnya diraih oleh V.

Sora tak memperdulikan celoteh Jimin. Ia hanya mencubit pipi chubby Jimin yang tampak menggemaskan dimatanya. Ia suka ketika lelaki itu sedang kesal, membuat wajahnya berlipat-lipat sangat lucu.

“Oh please, itu hanya permainan subway surfers Jimin-ah”

Yang lain hanya geleng-geleng kepala. Begitulah Sora jika sudah bertemu dengan Jimin. Bagaimana perasaan gadis itu padanya, mereka juga sudah memahami. Ia tak sungkan menunjukkan sifat manjanya dihadapan lelaki itu, juga yang lain.

Yang menjadi pertanyaan adalah, Bagaimana bisa Sora menyukai Jimin? Mengingat Jimin bukanlah tipenya.

Tanpa ada yang menyadari, salah satu dari mereka menampakkan perubahan raut wajah yang berbeda. Nampakknya Ia sudah tak mampu menahan luapan panas yang mulai menjalar. Menyaksikan pemandangan seperti itu hanya semakin membuat dadanya terasa sakit.

“Aku ingin mencari udara segar diluar.” Ia beranjak kemudian berlalu tanpa persetujuan. Yang lain terlihat tak merespon.

Hanya ada tanda tanya besar dipikiran mereka masing-masing.

“Ada apa dengannya?” gumam Jhope memandang seksama punggung itu hingga menghilang dibalik pintu.

 

“Mwo? Ibu tak bisa menjemputku?”

“Tadi ibu bilang sedang tak sibuk. Tau gitu kan aku sudah pulang bersama Namjoo!!!!” protesnya lagi setelah mendengarkan suara diseberang.

“Yah ibu….”

“Ah, ne arraseo” jawabnya seraya menggangguk pasrah.

KLIK

Hyena segera memasukkan ponselnya ke dalam saku cardigannya.

Ia harus telat pulang hari ini. Karena sejak sepulang sekolah tadi, ia mengurus kartu pelajarnya di ruang TU. Ia tak menyangka, mungurusi kartu saja memakan banyak waktu. Beruntung Namjoo mau menemaninya hingga sore.

Ya, Ibunya baru saja menelefon bahwa ada rapat mendadak yang sangat penting. Ibunya memang selalu sibuk. Meskipun begitu, ia masih dapat membagi waktunya untuk Hyena agar gadis itu tetap mendapat kasih sayang atau perhatian yang layak.

Hal itu membuat Hyena bisa menempatkan dimana waktu ia harus bermanja dengan ibunya atau tidak. Karena hanya sosok itu yang masih dapat setia disisinya hingga sekarang.

Kalau saja tadi ibunya dapat mengabarinya lebih awal, ia tak akan menolak ajakan Namjoo untuk pulang bersama. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga rapat dadakan.

Jadilah sekarang ia satu-satunya seorang siswi yang masih disini dengan penampilan kusam.

Ditempatnya berdiri, ia dapat melihat 2 satpam yang terlihat akan menutup gerbang sekolah.

Ia menarik nafasnya dalam.

Tiba-tiba pikirinnya melayang membayangkan lelaki yang sudah dua kali mengantarnya pulang, Jeon Jungkook.

Sudah seharian ia tak melihatnya. Padahal, kelas mereka bersebelahan.

Apa ia tak masuk sekolah?

Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari benakknya.

Dan hey tunggu! Apa baru saja ia memikirkannya? Dengan cepat Hyena menggelengkan kepalanya berusaha menampik jauh sosok yang tiba-tiba menyerang pikirannya.

“Yak apa kau sedang memikirkannya Kim Hyena?!”

Ia berusaha kembali stay cool dan mengatur nafas.

Kembali ketujuan awalnya yang ingin segera pulang. Baru saja Ia hendak menuju halte bus diseberang, matanya yang bulat malah menatap seorang wanita yang terlihat mengotak atik mesin mobil didekat sana. Kaki hyena tergerak untuk menghampiri.

 

“Maaf, ada yang bisa kubantu?”

Gerakan tangan itu terhenti dan menoleh kearah belakang saat mendengar sapa seseorang. Hyena dapat melihat jelas noda oli di pelipis kening wanita itu. Begitu pula blouse putih dan rok span yang ia kenakan terlihat kotor.

“Ah iya, mobil ini tiba-tiba saja mogok. Padahal bensinnya masih penuh”

“Oh, kalau begitu biar kuperiksa”

“Kau, bisa?” wanita itu menatapnya ragu.

Hyena hanya membalas dengan anggukan mantab dan seulas senyuman tipis.

 

***

 

Beberapa meter dari Kafe yang terlihat begitu ramai, Suga tengah mengawasi dibalik kaca mobil Nissan skyline bewarna hitam yang tampak mengkilat. Matanya yang tajam sama sekali tak beralih dari Kafe berinterior klasik-modern itu.

Hal yang hampir setiap hari ia lakukan.

Kegiatan yang perlahan menjadi hobby terfavorite baginya.

Tanpa lelah, juga enggan mengeluh.

Ia menyandarkan punggunggya di sandaran kursi mobil. Memincingkan mata menatap ruas-ruas atap mobil yang sama sekali tak menarik.

Matanya kembali kearah kafe itu dengan harapan lebih. Namun nihil.

Seseorang yang ia tunggu, ternyata belum menampakkan dirinya sedikitpun. Tak biasanya ia membuat Suga harus menantinya lebih lama. Atau lebih tepatnya, membuat dirinya menanti lebih lama agar dapat melihat gadis pujaannya dari kejauhan. Cukup sekedar memandang wajah manis dari jarak ini, sudah membayar rasa rindunya.

Suga sadar, dirinya tak lebih dari seorang pengecut. Namun ia tak keberatan sedikitpun.

Iya hanya ingin gadis itu mengingat janjinya. Janji yang gadis itu ucapkan setahun lalu. Janji yang membuat Suga tak bisa berhenti mengharapkannya

“Aku masih boleh menunggumu kan noona?”

 

“Hati-hati eonni!”

Hyena melambaikan tangannya kearah mobil silver yang telah berlalu darinya. Ia merasa senang karena wanita yang baru ditolongnya itu sangatlah baik.

Sebelumnya, tak mudah baginya untuk cepat akrab kepada orang yang baru dikenal. Rupanya wanita bernama Baek Seohwa itu menjadi pengecualian. Banyak yang keduanya perbincangkan saat dimobil tadi hingga menimbulkan gelak tawa.

Tetapi Hyena merasa sedikit aneh pada Seohwa yang tersenyum ketika melirik kearah rumah lain yang betembok tinggi dengan dasar tosca disamping rumahnya. Hal itu membuatnya penasaran dan memandangi rumah yang nampak 2 kali lipat lebih besar dari miliknya.

“Memangnya ada hubungan apa rumah itu dengan rumahnya?”

 

 

Pemandangan kota seoul malam ini terlihat lebih padat dari biasanya. Cahaya kendaraan yang tengah berlalu lalang itu nampak beradu dengan lampu-lampu jalanan. Gedung-gedung pencakar langit di sepanjang jalan nyatanya juga tak mau kalah untuk sekedar memamerkan kilaunya.

Rupanya, hal itu berbanding terbalik dengan seseorang diatas sana yang merasa tenang dalam kedamaiannya. Ia menyeruput kopi hangat sembari melipat sebelah kaki. Seperti biasanya, hanya sekedar melepas kepenatannya barang sejenak.

“Kau disini rupanya” tegur seorang gadis dengan senyuman manis begitu menemukan orang yang ia cari. Lesung pipitnya kini begitu kentara.

Jika sudah ditempat ini, ia akan menggunakan bahasa formal layaknya kawan akrab. Sekalipun ia terpaut usia lebih muda.

“Kemari” sambut orang itu seraya menepuk kursi disisi, menyuruh gadis itu untuk ikut duduk disampingnya. “Kenapa kau lama sekali, huh? Lihatlah betapa berantakannya penampilanmu”

“Yak, salahkan mobil buntutmu yang seenaknya mo―”

Protesanya terhenti ketika merasakan wajahnya tersapu oleh permukaan saputangan dengan lembut. Orang itu tengah membersihkan noda kotor di wajahnya.

“Hentikan, aku bisa melakukannya sendiri Jin” elaknya seraya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Detak jantungnya kini berdetak sangat keras.

“Aku akan berhenti jika kau menarik ucapanmu yang menyebut mobilku adalah mobil buntut, Baek Seohwa” Jin sama sekali tak peduli dan terus membersihkan wajah itu hingga bersih.

Bisakah lelaki ini berhenti membuat jantungnya berdetak diambang batas?

“Y-ya tapi itu memang benar, aku berantakan seperti ini karena ulah mobilmu juga tau!” ucapnya membela diri. “Beruntung tetangga barumu itu datang menolongku”

Jin menghentikan gerakan tangannya di wajah gadis itu, “Tetangga? Aku bahkan tak tahu aku punya tetangga baru”

Seohwa tak bergeming. Ia tahu alasannya. Mungkin Jin yang selalu pulang larut dan kembali ke Kafe di jam subuh membuatnya tak akan tahu hal itu. Gadis itu sebelumnya memang pernah kerumah Jin beberapa waktu dan tak mendapati rumah Hyena. Jadi, ia langsung menafsirkan bahwa Hyena tetangga baru Jin.

“Kau tahu tidak, anak itu yang memperbaiki mobilmu yang sempat mogok. Tangannya begitu lincah saat mengutak atik-ati mesin mobil, padahal ia perempuan” jelas Seohwa.

“Benarkah? wah hebat sekali dia. Kalau sudah bertemu dengannya aku akan mengucapkan terimakasih karena sudah menolongmu”

Entah mengapa. Hanya ucapan sederhana Jin, Seohwa tak dapat menyembunyikan senyumnya “M-memang kenapa jika dia sudah menolongku?”

“Hmm, karena berkatnya kau jadi datang lebih cepat untuk membawa almond dari pabrik” balasnya sok tak peduli.

Hingga ketika Seohwa menampilkan pipinya yang menggembung, tawa Jin meledak.

“Sial!” Seohwa memukul lengan Jin.

Jin sama sekali tak merasa kesakitan. Pukulan Seohwa bukanlah tandingan bagi lengannya yang kekar, sekalipun ia memukulnya bertubi-tubi.

“Berhenti!” Jin menggengam kedua pergelangan tangan Sohwa erat untuk menghentikan aksi gila-gilaan gadis itu. Jarak yang hanya beberapa senti membuat keduanya saling kontak mata. Merasakan hembusan nafas masing-masing.

Entah suruhan dari mana, Seohwa memejamkan perlahan matanya. Nyata sekali, ia dapat merasakan suhu serta aroma Jin semakin mendekat. Ia yakin, Jin akan melakukannya.

Inilah yang ia bayangkan sebelumnya tentang hayalan indah bersama Jin.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

Belum juga Ia rasakan bibirnya tersentuh.

Melainkan, malah sesuatu berhembus di kedua kelopak matanya yang tertutup. Merasakan ada yang aneh, segera ia buka matanya.

Tepat disaat kedua mata sipit itu terbuka, Jin meniupnya sangat kencang hingga tercipta muncratan. Reflex Hyena berjengit sembari memejam kuat-kuat.

“APA YANG KAU LAKUKAN JIN!!!” Seohwa mendorong Jin hingga lelaki itu terjungkal dari kursinya. Wajah tampannya mengaduh kesakitan.

“Yak, kenapa kau malah mendorongku?!” ia memekik seraya meringis.

“Untuk apa kau meniupi mataku seperti itu?! nafasmu bau sekali!”

“Barusan kau kelilipan kan?!” Tanya Jin membenarkan, tanpa mengira akan menyebabkan perubahan raut wajah pada gadis itu.

“M-maksudmu?”

“Aku aneh saja ketika kau memejamkan matamu secara tiba-tiba. Aku pikir kau kelilipan, jadi aku tiupi saja.” jelasnya polos tanpa dosa. Jujur saja, memang hal itu yang tadi terbesit di otaknya kala mendapati perilaku Seohwa.

Ditempatnya Seohwa melongo. Ia binggung. Namun detik kemudian Ia merasa malu ,sangat malu!

Ayolah Jin, kau ini sangat tampan. Kau terlihat begitu tegas dan memukau. Bagaimana bisa laki-laki berumur 21 tahun sepertimu malah berfikir demikian?! gak bisa peka atau memang bodoh!

“Argh, Lupakan!” Seohwa berusaha melarikan diri.

Ia ingin segera berlari sejauh mungkin lalu membuang pikirannya jauh-jauh. Bagaimana bisa ia berfikir Jin akan menciumnya? Ingat Seohwa! Jin adalah Bos mu, dan kau? Ekhem, hanya asisten belaka. Tolong sadarlah.

Oh Tuhan. Jika gadis itu adalah siluman, ia akan melenyapkan dirinya segera dihadapan laki-laki itu. Sayangnya itu hanya angan semata. Ia tak lebih dari manusia biasa, bukan makhluk supranatural atau semacamnya. Apa daya, kakinya keburu membeku ditempat. Jin, kini menahannya.

“Sebenarnya aku sungguh tak mengerti kenapa kau marah secara mendadak, tapi aku mohon maafkan aku dan tetaplah disini denganku”

Lagi, lagi dan lagi.

Bisakah Jin berhenti membuatnya berharap lebih? Siapapun tolong sadarkan dia atas perkataannya! Mungkin ia mengganggap setiap kata yang keluar dari mulutnya itu wajar, tapi bagaimana dengan gadis dihadapannya ini? gadis yang memendam rasa lain terhadapnya selama 1 tahun.

Keduanya hening ditempat.

Drtt Drtt Drtt

Saku kiri Jin bergetar, menandakan ada panggilan masuk dari ponselnya. Terdengar hembusan nafas darinya. Ia sempat menggerutu seakan ingin protes.

Kenapa harus menelevon disaat seperti ini?

“Hallo?” jawabnya sedikit kesal tanpa melihat terlebih dahulu layar ponselnya.

“Jin? Kaukah itu”

“Tentu, memangnya siapa lagi.” jawabnya menahan kesal yang mulai naik level.

“Ada apa denganmu, Jin?!” Jin terjingkat. Dengan segera ia mengecek layar, menampilkan nama ibunnya yang terpampang jelas. Jin meneguk ludahnya. Hilang sudah predikatnya sebagai anak teladan dimata sang Ibu.

“Eh, Mianhae, bu. Aku kira….manager Han”

“Sejak kapan manager Han menjadi wanita? Ah, Sudahlah. Bisakah kau pulang lebih cepat malam ini?”

“Untuk apa bu?”

“Sudah, pokoknya sekarang juga kau harus segera pulang!!”

KLIK

Sambungan pun terputus. Jin beranggapan, terkadang ibunya ini seperti anak kecil.

Kini rahang tegas itu mengarah pada Seohwa. Ia baru sadar, jemarinya masih bertaut di pergelangan gadis itu.

“Kau bisa kan mengawasi Kafe selagi aku pergi?”

Seohwa hanya mengganggukkan kepalanya.

Jin tersenyum renyah seraya mengacak puncak kepala gadis itu, “Gomawo”

 

**

Sepergian Jin, Seohwa menyentuh puncak kepalanya sendiri, dimana Jin mengacak rambutnya. Ia tersenyum. Kali ini ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

Ia memperhatikan sekitarnya yang dipenuhi dengan tanaman hias sebagai penyejuk serta sebuah meja keramik dengan 2 buah kursi. Sebuah ruangan bersantai tanpa atap atau tembok yang sengaja dibuat oleh Jin diatas Kafenya. Sungguh, ini alasan mengapa ia menyukai tempat ini. Tempat dimana ia bisa merasakan segala perilaku Jin yang hangat sambil menatap bintang dilangit ketika malam.

Tempat favorit Jin dan hanya Seohwa yang dibolehkannya kemari.

Bukankah itu terkesan special?

Seohwa menyentuh balkon kaca sebatas perut yang mengitari taman mungil ini. Senyum konyol itu rupanya masih awet menghiasi wajah manisnya.

Tetapi itu semua memudar ketika ia melihat kebawah, metanap jalanan disana.

Bukan itu, melainkan sebuah Nissan skyline bewarna hitam dengan kaca terbuka dibagian pengemudi. Mobil itu terpakir beberapa meter dekat Kafe.

Seohwa dapat melihat jelas siapa orang didalam sana. Namun ketika hendak berkata, mobil itu sudah melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

Perasaanya mendadak khawatir dan tak enak.

“Min Yoongi….apa ia melihat semuanya?”

 

 

 

Hyena hanya menekuk wajah ketika sang ibu membawanya kesini dengan paksa. Kini ia mengenakan dress bewarna cream selutut dengan pita cokelat melingkar di pinggangnya. Bahkan ia juga memakai makeup yang sebelumnya tak pernah ia sentuh. Rupanya, ibunya dapat merubah image urakan anaknnya menjadi lebih sempurna. Namun tetap saja, gadis jadi-jadian macam dirinya mana nyaman dengan ini?

 

“Wah, jadi ini putrimu? Cantik sekali” gumam seorang wanita paruh baya. Meskipun kerut wajahnya terlihat, ia masih terlihat anggun.

“Ahaha kau bercanda, Jungrae? Itu hanya tipuan makeup. Aslinya, anak ini begitu urakan”

Hyena hanya mendengus, berusaha menerima lapang dada. Ia tersenyum garing dihadapan wanita yang merupakan sahabat lama ibunya itu, seakan membenarkan perkataan buruk dari sang ibu.

Demi apapun, kenapa ibunya hari ini begitu menyebalkan. Kau tahu tidak perihal Hyena yang tak jadi dijemput ibunya dengan alasan rapat? Ternyata itu hanyalah scenario belaka.

Rupanya, ibunya baru saja menemukan sahabat lamanya yang terpisah saat SMA, tadi pagi. Menabjubkan sekali karena ternyata sahabatnya ini tetangga samping rumah. Mereka tak sengaja bertemu ketika sama-sama hendak pergi kekantor. Jadilah, mereka mempersiapkan reuni dadakan ini dengan makan malam bersama dan mengajak anaknya masing-masing.

Lalu kenapa ibunya harus berbohong? Katanya sih, agar Hyena tak membantah dan langsung menurut saja. Astaga, ada-ada saja ya ibu-ibu jaman sekarang.

Ah sudahlah.

 

Hyena kini mengedarkan pandangannya di setiap sudut ruang makan milik keluarga Park itu. Hyena, yang latar belakang dari orang kaya saja mengganggapnya sangat mewah. Bahkan ia beranggapan tempat ini lebih pantas disebut restaurant berbintang lima.

“Ngomong-ngomong mana kedua putramu?”

“Ah iya dia lama sekali…. Ah itu dia”

Hyena menoleh kearah samping, tepat di bibir pintu ruangan makan. Ia Menangkap sosok lelaki dengan rambut hitam gelapnya.

Deg

Bukankah dia salah satu Kingka sekolah? Hyena tahu siapakah gerangan itu. Karena hanya Kingka ini yang tanpa sengaja paling disorotnya saat pertama masuk sekolah.

Park Jimin

Hyena bahkan sudah tau namanya. Tentu hal itu ia ketahui dari Namjoo, temannya.

Jimin rupanya juga merasa pernah bertemu gadis itu. Tapi dimana? Dengan sekali gerlingan, ia mampu membenarkan ingatan di memorinya.

Gadis ini, bukankah yang memecahkan kaca spion mobilku waktu itu?!

Acara tebak-menebak dipikiran mereka berdua terhenti ketika sosok lain datang, menampilkan rahang tegas serta postur tubuh tinggi. Ia sedikit kaget ketika mendapati Jimin mematung di ambang pintu. Terlebih ada orang asing bersama ibunya duduk di meja makan, seakan-akan sudah menanti kehadirannya.

Ada apa ini?, batin Jin yang nampak binggung.

“Jin, Jimin.. cepat kemarilah” sapa ibu mereka hangat. Ia membuyarkan lamunan kedua putranya.

Bukan lagi Jimin yang menjadi perhatian Hyena saat ini, melainkan laki-laki yang kali terahkir datang. Entah mengapa air matanya ingin tumpah saat itu juga.

 

 

 

 

-TBC-

 

 

How how how? Gimana ceritanyaa?? Aneh ya? gak bikin penasaran ya? #plak

Author sebelumnya minta maaf karena di part ini masih banyak teka-teki. Nah, di Part 3 nanti kisah mereka yang sebenarnya baru akan dimulai!! SO JANGAN LEWATKAN XD!!!!
Di part 1 dan part 2 ini, author emg sengaja buat begitu (semacam kaya prolog/?) *tendang author*

Buat kalian yang udh beniat baca ff gaje ini tolong jangan jadi siders, comment kalian sangat berharga buat author!!^_^
Sampai jumpa di part 3! Annyeeeoongg~

About fanfictionside

just me

21 thoughts on “FF/ OUR FAVORITE GIRL/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Kyaaaa kerenn!! Buruan di lanjut thor! Mian sbelumnya ga koment di part 1
    Huaa itu yoonginya suka sama seohwa? ><
    Trus yg cemburu sama jimin n sora itu sapa thor? Klo boleh nebak, si jhope bukan ? Ato v? Buruan lanjutt penasaraan.. daebak!

  2. Aduh rumit.. Jin siapanya Hyena?
    Itu Seohwa sama Yoongi ada apa?
    Nanti cewek Queenka itu sama siapa?

    Ah terserah, yg penting Hoseok a.k.a JHope harus jadi lajang elit ya thor. Harus ><

    • Jhopenya mau gak ya dijadiin lajang elit xD

      Temukan jawabannya di part 3 ya^^
      Thanks sudah baca dan komen:)

  3. Knpa banyak teka teki gini:s
    Itu jin sapanya hyena?
    Aduh ma yoongi disini dibuat nyesek ya thor ;_; duh abangg
    Itu yg cemburu sama si queenka sopo?
    Buruan dilanjut! Penasaran akut ;;

  4. Baguuuuss kakak!!
    Itu Sore cewek blasteran yg sempat adu mulut sama Hyena di kafe itukah??
    Trus kenapa itu Hyena mau nangis? Jin siapanya dia??
    Gak sabar part 3 >< jangan lama2 kakak ^^

  5. Baguuuuss kakak!!
    Itu Sora cewek blasteran yg sempat adu mulut sama Hyena di kafe itukah??
    Trus kenapa itu Hyena mau nangis? Jin siapanya dia??
    Gak sabar part 3 >< jangan lama2 kakak ^^

  6. uwah banyak banget teka tekinya ! kisah percintaan mereka pun kayanya berliku liku banget deh dan semua nya bikin penasaaaaaraan .
    ada hubungan apa jin dan hyera ?

    good job ka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s