FF/ GAME OVER/ GOT7-MISS A/ 1 of 2


Author: @ismomos ♔ (author tetap) 

 

Cast:

– Park Jinyoung (GOT7 Jr)

– Baek Suzy (Miss A Suzy)

– Mark Tuan (GOT7 Mark)

– Other Cast

 

Genre: Romance, Sad, Tragedy

 

Length: Two-shoot

 

 PhotoGrid_1401048940466

     At the end, it’s just another game.

     (Game Over – 2PM)

Seorang lelaki dengan pakaian serba hitamnya,-jaket hitam, kaos hitam, celana jeans hitam, dan kacamata hitam,- memasuki sebuah bar. Tak menghiraukan kebisingan disekelilingnya, lelaki itu mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang akan ditemuinya.

Ternyata seseorang yang dicarinya ada di sebuah bangku eksklusif di sudut bar. Orang itu tengah duduk, seperti sedang menanti kedatangan seseorang. Menanti kedatangannya. Langsung saja lelaki itu meghampiri orang di sudut sana.

“Sudah lama menunggu?”

Orang itu menoleh ke arah sumber suara, lalu menaikkan sebelah sudut bibirnya, karena akhirnya orang yang ditunggunya datang juga.

“Tidak juga. Duduklah..”

Lelaki itu duduk berhadapan dengan orang itu, matanya menatap orang dihadapannya dengan lekat.

“Jadi, siapa targetnya?” tanya lelaki itu langsung ke inti pembicaraan.

Orang dihadapannya langsung melebarkan senyum angkuhnya, tidak menyagka lelaki di hadapannya itu sudah mengetahui keinginannya.

“Sudah tidak sabar, huh?” kata orang itu sambil tertawa dingin dan menatap lelaki itu sama dinginnya.

Lelaki itu hanya memandang orang itu dengan malas.

“Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu.”

Orang itu kembali menaikkan sebelah sudut bibirnya. Lalu ia melemparkan sebuah foto ke atas meja. Foto itu jatuh tepat berada di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu memerhatikan foto dihadapannya dengan lekat, lalu ia kembali menatap orang di hadapannya sama lekatnya.

“Apa yang akan ku dapatkan jika aku berhasil?”

Orang itu semakin melebarkan senyum angkuhnya saat mendengar pertanyaan lelaki itu.

“Apapun yang kau minta akan ku berikan. Namun kau harus ingat, waktumu tidak banyak, Park Jinyoung.”

Lelaki yang bernama Park Jinyoung itu kembali memerhatikan foto dihadapannya, memerhatikan objek pada foto itu dengan lekat, sejenak ia berfikir. Namun akhirnya ia mengangguk mantap.

“Kau kuberi waktu hanya 3 bulan, buat gadis itu jatuh cinta padamu, dan setelah itu kau harus meninggalkannya..”

Lelaki itu kembali menganggukan kepakanya, tanda mengerti.

“Aku tahu. Bukankah aku tidak pernah mengecewakanmu, Mark Tuan?”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung melajukan motornya dengan kecepatan di atas batas maksimal, ia sudah tidak memikirkan keselamatannya. Akibat pertemuannya dengan Mark tadi, ia jadi telat menuju ke tempat yang akan ditujunya saat ini.

Jinyoung membelokkan motornya dan tak jauh dari tempatnya berada, tempat yang ditujunya sudah terlihat di hadapan matanya. Langsung saja ia menaikkan kecepatan pada motornya agar cepat sampai.

Ciiitttttt… akhirnya Jinyoung sampai ke tempat itu.

Suara itu ditimbulkan dari decitan ban motor Jinyoung yang di rem secara mendadak, membuat semua orang yang ada di tempat itu menoleh ke arahnya. Ya, tempat itu. Arena balapan motor liar yang menjadi tempat yang selalu dikunjungi Jinyoung setiap malam.

“Yo! Park Jinyoung~~ ku kira kau tak datang.” sambut seorang lelaki berambut abu-abu yang langsung menghampiri Jinyoung ketika melihat lelaki itu datang. Im Jaebum.

Jinyoung membuka helmnya dan langsung mengedarkan pandangannya.

“Siapa lawanku malam ini?” tanya Jinyoung pada Jaebum.

Jaebum tertawa, ia sudah bisa menebak pertanyaan itu pasti akan keluar pertama kali dari mulut Jinyoung. Jaebum ikut mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang akan menjadi lawan tanding Jinyoung malam ini.

“Ah! Itu dia!” kata Jaebum sambil menunjuk ke arah orang yang dimaksud.

Jinyoung menoleh ke arah orang yang ditunjuk Jaebum. Orang itu,-lawan Jinyoung-, sudah siap di atas motornya di garis start, ia sedang membenarkan sarung tangan yang dipakainya. Jinyoung sampai memicingkan matanya agar ia dapat melihat lebih jelas siapa lawannya malam ini.

“Siapa dia?” tanya Jinyoung yang akhirnya menyerah. Ia sepertinya belum pernah melihat orang itu di arena balap liar ini sebelumnya.

“Nado molla, aku baru melihatnya malam ini. Sedari tadi ia juga tak membuka helmnya. Ah– dan kau tahu? Orang itu baru saja mengalahkan Jackson dalam balapan sebelumnya. Mengejutkan, bukan? Sepertinya ia akan menjadi pembalap terbaik di arena balap ini..”

Jinyoung mencibir mendengar penjelasan Jaebum. Menurutnya Jaebum terlalu berlebihan memuji orang itu. Lelaki itu kembali memerhatikan lawannya dengan tajam.

“Kau tahu, akulah yang terbaik disini.” kata Jinyoung dengan angkuh.

“Hahaha, arasseo. Sudahlah, sebaiknya kau bersiap-siap, lawanmu sudah menunggu di garis start.”

Jaebum tertawa melihat ekspresi Jinyoung. Sebenarnya tadi ia hanya bercanda, tidak benar-benar memuji kehebatan orang itu, karena ia tahu, Jinyoung lah yang terbaik. Lelaki itu tidak pernah terkalahkan selama balapan liar ini dilakukan.

Jinyoung memakai helmnya dan mulai melajukan motornya menuju garis start. Suara sorak sorai dari para pembalap lain dan para penonton pun semakin membuat suasana arena balapan liar ini semakin panas. Banyak yang meneriakkan nama Jinyoung karena memang lelaki itulah yang diunggulkan dalam setiap balapan.

Motor Jinyoung sudah berada di sebelah motor orang itu. Jinyoung kembali menatap lawannya yang sekarang berjarak cukup dekat. Namun tetap saja ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah lawannya, karena kaca helm yang dipakai orang itu sangat gelap, membuat Jinyoung makin penasaran.

“Oke, guys. Are you ready???” teriak Jaebum dengan pistol ditangannya, menandakan balapan akan segera dimulai. Suara sorak penonton semakin riuh terdengar.

Jinyoung menutup kaca helmnya dan fokus dengan jalanan yang ada di depannya. Ia sudah tak mempedulikan siapa lawannya saat ini, yang terpenting ia harus menang.

ONE….. TWO…… THREE….. DOORRR!!!

Jaebum menembakkan pistol ke arah langit, tanda balapan telah dimulai.

 

 

*     *     *     *     *    *     *     *

 

 

Kedua orang itu saling memacu kecepatan maksimal pada motor mereka. Keduanya saling kejar mengejar, sama-sama ingin mendapatkan posisi pertama.

Jinyoung memacukan motornya lebih kencang, harus ia akui lawannya kali ini cukup kuat. Ia bahkan sempat kewalahan mengejar lawannya itu. Namun ia tak akan membiarkan hal itu begitu saja, ia harus memenangkan balapan ini.

Kini Jinyoung menyalip motor lawannya dan sengaja memposisikan motornya tepat di depan motor lawannya, ingin menghalangi jalan. Orang itu mendecak kesal melihat motor Jinyoung yang menghalangi jalannya. Orang itu langsung mengarahkan motornya ke arah jalan yang kosong,-yang tidak dihalangi motor Jinyoung-. Namun dengan sigap, Jinyoung mengikuti arah lawannya itu, sehingga lagi-lagi motor Jinyoung menghalangi jalan lawannya.

Tanpa di duga Jinyoung, lawannya itu malah menyalip pada bagian jalan yang sempit, antara motor Jinyoung dan pembatas jalan, membuat Jinyoung terkecoh dan sempat melambatkan kecepatan motornya. Keadaan itu tak di sia-siakan sang lawan untuk mempercepat laju motornya, membuat ia berhasil membalap motor Jinyoung.

“SHIT!!” teriak Jinyoung kesal.

Tersadar dari kesalahannya, Jinyoung langsung menggas motornya gila-gilaan. Ia sudah tidak memikirikan nyawanya karna ia tidak akan membiarkan lawannya itu menang. Lelaki itu sampai menggertakkan giginya dan mengencangkan genggamannya pada stang motor.

Namun karna jarak antara motor Jinyoung dan motor lawannya itu memang agak jauh dan garis finish yang sudah terlihat tak jauh dari posisinya, maka……

 

——–sang lawan-lah yang akhirnya memenangkan balapan.

 

Lawannya itu sampai di garis finish sambil diiringi oleh sorak penonton, meskipun mereka tak menyangka lawan Jinyoung yang akan menang. Mereka langsung memandang kagum ke arah orang itu, karena selama ini belum pernah ada yang mengalahkan jagoan balapan di arena ini. Park Jinyoung. Mereka juga masih penasaran dengan sosok yang ada dibalik helm. Sampai sekarang belum ada yang mengetahui sosok itu.

Jinyoung sampai di garis finish tak lama setelah lawannya sampai. Lelaki itu langsung membuka helm yang dipakainya dan menunjukkan ekspresi kekesalan yang sangat terlihat dari wajahnya. Ia tidak terima dengan kekalahannya. Jinyoung menatap ke arah lawannya sangat tajam.

Merasa diperhatikan, orang itu menghampiri Jinyoung dengan motornya. Setelah mereka berhadapan cukup lama, akhirnya orang itu pun membuka helm yang sedari tadi di pakainya. Hal itu membuat semua orang yang ada di arena balap,-termasuk Jinyoung,- membulatkan mata, terkejut melihat sosok yang baru saja membuka helmnya.

Bersamaan dengan helm itu dibuka, tergerailah rambut panjang sepinggang dan terlihatlah wajah yang tengah menatap Jinyoung dengan tatapan dan senyuman sinis.

“Senang bertemu denganmu, Park Jinyoung..”

Jinyoung masih belum bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Seorang gadis dengan motor balap dan helm yang ada di tangannya. Seorang gadis yang baru saja mengalahkannya dalam balapan motor. Gadis itu…. Baek Suzy.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung masuk ke dalam rumah kontrakannya dan langsung merebahkan diri di atas lantai kayu. Sebenarnya kontrakannya tidak layak disebut sebagai tempat hunian, karna rumah itu sangat kecil, hanya terdapat satu kamar. Ia tinggal sendirian, karna kedua orang tuanya sudah lama meniggal. Begitulah hidup Jinyoung. Dan itu juga yang menjadi alasan ia menerima taruhan yang ditawarkan oleh Mark.

Seketika Jinyoung teringat dengan sesuatu yang ada di kantung celananya. Ia merogoh kantungnya dan mendapati selembar foto yang sedikit lecek. Jinyoung memerhatikan foto itu dengan lekat. Lalu sebelah sudut bibirnya terangkat, melengkungkan sebuah senyum yang terkesan dingin.

Seraya dengan Jinyoung yang tengah memerhatikan foto itu, tiba-tiba bayangan wajah seseorang yang ada di arena balapan liar, terlintas di pikiran lelaki itu. Ya, orang yang berhasil mengalahkan Jinyoung pada balapan malam ini. Hal itu semakin membuat Jinyoung melebarkan senyum dinginnya.

Baek Suzy,-gadis yang telah mengalahkannya,- adalah gadis yang akan menjadi targetnya. Gadis itulah yang menjadi objek pada foto yang sedang di pegang Jinyoung. Gadis itu, gadis yang dijadikan Mark sebagai gadis taruhan dengannya.

“Kita lihat saja nanti, Sayang. Kau pasti akan jatuh ke dalam pelukanku.” desis Jinyoung geram, sambil meremas foto yang dipegangnya dan melemparnya ke sembarang tempat.

Jinyoung telah bersumpah dalam hati kalau ia harus memenangkan taruhan ini. Karena hanya dengan cara itulah ia dapat bertahan hidup…

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung melangkahkan kakinya menuju cafetaria sekolah. Gayanya yang terlihat seperti brandalan sekolah,-seragam yang tak dimasukkan, blazer yang tak dikancing, dan anting berbentuk bintang yang terpasang di telinga kanannya-, membuat semua perhatian murid yang ada di cafetaria tertuju padanya,terutama murid perempuan-. Namun Jinyoung hanya berjalan dengan cuek, sama sekali tidak mempedulikan keadaan sekitarnya.

Jinyoung masih berjalan dengan santai, sampai langkahnya terhenti pada salah satu meja. Sebenarnya meja itu sudah penuh dengan murid yang lain, namun ada satu hal yang menarik perhatiannya. Bukan satu hal, melainkan satu orang. Dan orang itu….Baek Suzy. Salah satu murid perempuan di Victory High School, yang tengah duduk bersama teman-temannya.

Teman-teman Suzy yang lain langsung memasang tampang terkejut saat mengetahui Jinyoung menghampiri meja mereka. Namun tidak dengan Suzy, ketika gadis itu tahu siapa yang menghampiri, ia malah membuang muka dan memasang tampang tak peduli. Jinyoung hanya menaikkan sebelah sudut bibirnya melihat respon dari Suzy.

Tiba-tiba dengan satu gerakan cepat, Jinyoung menarik lengan Suzy dan memposisikan gadis itu tepat berdiri di sebelahmya. Posisi mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, sehingga para murid lain,-yang tengah menyaksikan kejadian itu,- mengira Jinyoung akan mencium Suzy. Padahal Jinyoung hanya mendekatkan bibirnya ke telinga sebelah kanan Suzy, seperti ingin membisikkan sesuatu.

“Kutunggu kau di arena balap nanti malam.”

Jinyoung berbicara dengan suara pelan, namun Suzy dapat merasakan nada tajam pada ucapan lelaki itu. Setelah melakukan itu, Jinyoung melepaskan cengkramannya pada lengan Suzy lalu pergi meninggalkan Suzy dan murid lain yang masih terbengong melihat kejadian itu.

“Omo! Omo! Omo! Baek Suzy! Kau kenal dekat dengan Park Jinyoung? Yak, benarkah?!” tanya Lee Jieun, teman Suzy yang duduk berhadapan dengannya.

Suzy dapat merasakan semua mata yang ada di cafetaria tengah menatap ke arahnya dengan tatapan seakan mereka bertanya pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan Jieun. Namun ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan temannya itu. Biarlah mereka beranggapan sendiri, karena ada hal lain yang lebih mengusik pikiran Suzy. Apalagi kalau bukan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Park Jinyoung.

Haruskah ia menuruti apa yang dikatakan lelaki itu?

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Mark mengangkat wajahnya sehingga matanya menatap ke arah langit. Ia tengah berada di rooftop sekolahnya. Matanya menyipit karena sinar matahari yang masuk ke dalam mata dan semilir angin yang meniup rambut blondenya.

“Ada apa mencariku?”

Tiba-tiba ada seseorang yang datang membuat Mark menoleh ke arah itu. Park Jinyoung. Mark langsung menyambut kedatangan Jinyoung dengan senyuman dingin. Ia sudah menunggu lelaki itu sedari tadi.

Jinyoung berjalan mendekati Mark. Seharusnya ia sedang berada di cafetaria, saat tiba-tiba ada teman Mark,-yang terlihat sebagai anak buah daripada seorang teman,- menyuruhnya untuk menemui Mark di rooftop.

Bukannya menjawab pertanyaan yang ditanyakan Jinyoung, Mark malah menyodorkan sesuatu dari dalam saku seragamnya. Sebungkus rokok. Jinyoung mengambil sebatang lalu menyalakannya dengan korek yang dibawanya. Lelaki itu langsung menghisap dan mengepulkan asap melalui mulutnya.

Mark ikut mengambil rokok dan menyalakannya, lalu mengepulkan asapnya. Bibirnya masih membentuk senyuman dingin. Sebenarnya mereka dilarang merokok di area sekolah, namun rooftop adalah tempat yang aman, tidak ada cctv yang merekam gerak-gerik mereka.

“Ada apa?” tanya Jinyoung lagi, seraya dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya.

“Aku hanya ingin mengingatkan, waktumu tidak banyak.”

Jawaban Mark membuat Jinyoung mendengus, tak menyangka ia disuruh kesini hanya karena hal itu.

“Jadi kau menyuruhku kesini hanya untuk mengatakan itu? Kau tahu, kau sudah membuang waktuku, Mark Tuan…”

Jinyoung membalas senyuman dingin Mark,-yang selalu ditunjukkan lelaki itu-, dengan senyuman meremehkan.

“…..tenang saja, kupastikan besok gadis itu sudah menjadi milikku…..” lanjut Jinyoung dengan percaya diri.

“Buktikanlah, jangan hanya bicara..”

Lagi-lagi Jinyoung mendengus, ia sudah terbiasa dengan kata-kata yang keluar dari mulut Mark. Namun dia hanya diam saja, tak menimpali kalimat Mark. Kedua lelaki itu terdiam, keduanya sibuk dengan rokok yang ada di tangan mereka, dan juga sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kenapa kau tidak melakukannya sendiri, huh?” tanya Jinyoung, memecah keheningan diantara mereka.

Mark menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Jinyoung, tak mengerti dengan maksud lelaki itu.

“Bukankah kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan? Dengan harta, kekuasaan dan ketampanannmu, kau bisa membalas dendam pada gadis itu.” jawab Jinyoung saat melihat tatapan heran Mark.

Kalimat Jinyoung membuat Mark mengubah ekspresi herannya menjadi ekspresi dingin kembali. Lelaki itu tertawa angkuh.

“Aku bosan bila hanya mengandalkan harta dan kekuasaanku. Ada yang lebih menarik dari itu semua. Bukankah kau juga menyukai sebuah permainan?”

Jinyoung menatap Mark dengan datar. Ia tahu, Mark menyimpan dendam yang amat sangat pada Baek Suzy, gadis pertama yang berani menolak seorang Mark Tuan.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung tengah duduk di atas motor sambil mengisap rokok yang ada di tangannya. Ia sudah siap di garis start arena balapan, tinggal menunggu lawannya untuk datang. Suzy memang tidak mengiyakan “ajakan” Jinyoung untuk bertanding malam ini, namun lelaki itu yakin Suzy akan menerima ajakannya itu.

“Kau yakin akan bertanding dengannya?” tiba-tiba Jackson sudah berada di samping Jinyoung, diikuti dengan Jaebum.

Jinyoung hanya menjawabnya melalui anggukan sambil mengepulkan asap rokok melalui mulutnya.

“Tapi dia adalah seoarang wanita. Apa kau tidak malu, huh?” Kini yang bertanya Jaebum.

Jinyoung menatap ke arah Jaebum dengan malas, ia malah memasang tampang “ini-semua-bukan-urusanmu”, membuat Jaebum dan juga Jackson tak lagi bertanya. Mereka tahu Jinyoung melakukan hal itu karena ia punya alasan yang kuat.

Tak jauh dari arena balapan, Jinyoung melihat ada sebuah motor yang mengarah ke tempat itu. Ia melengkungkan sudut bibirnya, sudah mengetahui siapa yang akan datang. Lelaki itu langsung menjatuhkan rokoknya dan menginjak rokok itu dengan ujung sepatu.

Jackson dan Jaebum,-serta semua orang yang ada di arena balapan,- mengikuti arah pandang Jinyoung dan tak lama motor itu sudah berada di dekat motor Jinyoung. Orang itu membuka helm yang dikenakannya. Benar saja, orang itu adalah Suzy. Gadis itu langsung menunjukkan tatapan sinis ke arah Jinyoung, namun Jinyoung membalasnya dengan tatapan datar yang sulit di artikan.

Jinyoung mengisyaratkan Jackson dan Jaebum untuk meninggalkan mereka. Kedua lelaki itu pun pergi meninggalkan Jinyoung dan Suzy yang sudah ada di garis start.

“Kupikir kau tak akan datang..” kata Jinyoung yang masih menatap Suzy lekat.

“Aku hanya tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mempermalukanmu buat yang kedua kalinya, Park Jinyoung.” kata Suzy sambil tersenyum remeh ke arah Jinyoung.

Jinyoung menunjukkan ekspresi pura-pura terkejut mendengar jawaban Suzy.

“Ah, maksudmu malam itu? Waktu itu aku tidak terlalu bersemangat balapan karna tidak ada taruhannya.”

Suzy menaikkan sebelah alisnya, lagi-lagi ia tersenyum sinis ke arah lelaki itu.

“Jadi malam ini kau mau bertaruh, huh?”

“Tentu saja, untuk apa aku mengajakmu balapan kalau tidak ada taruhannya. Bagaimana?” tawar Jinyoung.

Suzy terlihat mempertimbangkan tawaran Jinyoung, gadis itu melirik sekilas ke arah Jinyoung yang tengah menunggu jawabannya.

“Memangnya kau mau bertaruh apa—-”

“Jika aku yang menang, kau harus menjadi milikku. Tapi jika kau yang menang, akukah yang menjadi milikmu…”

Suzy langsung mendengus mendengar apa yang baru saja dikatakan Jinyoung. Apa laki-laki itu sudah gila?

“Geez, apa bedanya? Kenapa taruhan itu terlihat seperti sangat menguntungkan buatmu?”

Jinyoung tak menjawab pertanyaan Suzy, lelaki itu hanya diam sambil terus menatap gadis yang ada di hadapannya. Hal itu membuat Suzy jengah.

“Baiklah, aku setuju dengan taruhanmu. Tapi… jika kau yang kalah, kau harus menuruti semua perintahku. Bagaimana?”

Lagi-lagi Jinyoung tak menjawab pertanyaan Suzy, ia malah menjulurkan tangannya ke hadapan gadis itu. Awalnya Suzy ragu untuk membalas uluran tangan Jinyoung, namun akhirnya ia meraih tangan lelaki itu dan menjabat tangannya.

“Deal.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Who am I? I am champion

     (Game Over – 2PM)

 

Kedua motor sudah bersiap di atas garis start. Jaebum berada di hadapan ke dua motor itu dengan pistol di tangannya.

“Kalian sudah siap?” tanya Jaebum.

Kedua orang itu menjawab dengan menggas motor mereka, tanda bahwa mereka sudah siap. Jaebum pun mengangkat tangannya ke arah langit, siap menembakkan pistol itu.

DOORRR!!

Kedua motor itu langsung melaju dengan cepat saat Jaebum baru saja menembakkan pistol itu ke arah langit.

Jinyoung menggas motornya dengan kecepatan yang sangat kencang. Begitu juga dengan Suzy, bahkan motor gadis itu sudah melaju melewati motor Jinyoung. Lelaki itu sempat tercengang melihat kecepatan motor Suzy. Seharusnya ia tak perlu kaget, karena ini adalah pertandingan keduanya dengan Suzy. Jinyoung langsung meliukkan motornya, bersiap untuk menyalip motor gadis itu.

Suzy yang merasa sudah berada agak jauh dari Jinyoung, menurunkan sedikit kecepatan pada motornya. Namun ternyata dugaannya salah, karna selang sepersekian detik saja motor Jinyoung sudah berada di hadapannya.

Jinyoung tersenyum penuh kemenangan dibalik helmnya. Meskipun ia belum sampai di garis finish, namun lelaki itu yakin dia yang akan memenangkan balapan kali ini. Kepercayaan dirinya membuat Jinyoung lengah. Motor Suzy tepat berada di belakang motornya, mencari celah untuk meyalip lelaki itu.

Jinyoung melihat ke arah kaca spion, terlihat Suzy tengah mengincar jalanan sempit antara motornya dan pembatas jalan. Namun Jinyoung tak akan membiarkan hal itu terjadi dua kali. Lelaki itu langsung merapatkan motornya dengan pembatas jalan, sehingga benar-benar tidak ada celah untuk motor Suzy.

Suzy yang melihat tak ada lagi jalan untuknya langsung membelokkan stang motornya ke arah tengah. Jalanan itu lengang akibat motor Jinyoung yang berada di pinggir jalan. Dengan sigap Jinyoung mengikuti arah motor Suzy, tidak membiarkan motor itu untuk melewati motornya. Keadaan itu membuat Suzy merutuki dirinya sendiri berkali-kali. Kalau saja tadi ia tidak lengah, pasti dia yang ada di posisi pertama saat ini.

Tak jauh, garis finish sudah terlihat dari posisi Jinyoung, lalu lelaki itu melihat ke arah spionnya kembali. Terlihat motor Suzy masih berada di belakangnya, kalau ia bisa mempertahankan posisinya seperti ini, sudah dipastikan ia yang akan menang. Namun tiba-tiba Jinyoung tertegun saat melihat kaca spionnya, ia melihat Suzy seperti tengah menurunkan kecepatan pada motornya. Apa gadis itu membiarkannya menang?

Jinyoung langsung membuang pikiran itu jauh-jauh. Ia tak peduli, yang terpenting saat ini adalah ia harus menang.

Benar saja, Jinyoung menjadi orang pertama yang melewati garis finish, diiringi oleh sorak penonton. Mereka sudah menduga Jinyoung lah yang akan memenangkan balapan. Jinyoung melepas helmnya sambil menunggu kedatangan Suzy.

Tak lama, motor Suzy sampai di garis finish. Jinyoung menyambutnya dengan senyum angkuh penuh kemenangan. Suzy membuka helmnya dan langsung menatap Jinyoung dengan tatapan datar. Hal itu sempat membuat Jinyoung terhenyak karna ia tak menyangka Suzy akan menatapnya seperti itu. Dalam bayangannya gadis itu akan menatapnya dengan tatapan kesal karna telah kalah dalam balapan.

Namun Jinyoung tak mempedulikan ekspresi Suzy, ia kembali menunjukkan senyum pwnuh kemenangannya.

“Baek Suzy, mulai sekarang kau adalah milikku..”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

  

     I can’t get you outta my head

     And it plays again, and it plays again

     (I’m Sorry – 2PM)

 

Suzy memasuki apartemennya dan langsung merebahkan dirinya di atas sofa yang ada di ruang tamu. Ia melempar kunci motornya ke meja, lalu membuka jaket kulitnya dan melemparnya ke sembarang tempat.

Ia memijat keningnya sendiri. Sedari tadi pikirannya hanya memikirkan hal yang itu-itu saja. Park Jinyoung. Wajah lelaki itu terus berputar di dalam pikiran Suzy, sekuat apapun Suzy mencoba mengelaknya namun tetap saja bayangan lelaki itu masih berputar di kepalanya.

Suzy menghela nafas, ia benar-benar tidak dapt membayangkan bagaimana hari-hari selanjutnya akan terjadi, hari-hari selanjutnya tidak akan sama lagi.

Karena mulai hari ini, ia telah menjadi kekasih Park Jinyoung.

 

 

*     *     *    *     *     *     *     *

 

 

Ting..tong..ting..tong..

Suzy baru saja akan berangkat sekolah saat ada yang memencet bel apartemennya. Gadis itu pun melangkah menuju ke arah pintu. Dalam hati ia bertanya-tanya, siapa yang datang ke apartemennya sepagi ini. Tidak biasanya ada yang mengunjungi apartemennya.

Gadis itu mendengus saat melihat orang yang datang pada layar interkom. Siapa lagi yang dapat membuatnya mendengus seperti itu kalau bukan Jinyoung. Suzy membuka pintu dengan malas.

Terlihat Jinyoung sudah berdiri di hadapannya dengan seragam dan tas yang tersampir di kedua bahunya. Lelaki itu tersenyum melihat Suzy yang sudah ada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan disini, huh?” tanya Suzy dengan tatapan malas.

Sebenarnya ia tidak benar-benar ingin mengetahui alasan lelaki itu.

“Tentu saja aku ingin menjemput kekasihku dan mengajaknya berangkat sekolah bersama.” kata Jinyoung masih dengan senyuman manisnya.

Suzy terhenyak melihat senyum Jinyoung. Ia tak pernah melihat senyum Jinyoung yang seperti itu sebelumnya. Permainan macam apa lagi yang sedang dimainkan Jinyoung?

“Ah iya, ini untukmu..” kata Jinyoung sambil menyerahkan sesuatu yang ada di tangannya. Sebuket mawar.

Suzy menatap ke arah bunga dan wajah Jinyoung bergantian. Ia tidak menyangka Jinyoung akan bersikap seperti ini padanya. Namun akhirnya, Suzy menerima bunga yang diberikan Jinyoung. Hal itu membuat senyum lelaki itu semakin lebar.

Tanpa diduga Jinyoung, Suzy malah membuang bunga itu ke tempat sampah yang berada di depan apartemennya. Jinyoung sampai mengerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Yak! Kenapa kau membuang bunga dariku, huh?!” tanya Jinyoung sambil menahan marah. Senyum lebarnya sudah lenyap dari wajah lelaki itu, digantikan dengan ekspresi marah.

“Karena aku tidak membutuhkannya.” jawab Suzy dengan santai.

“Kau tahu?! Aku baru saja menghabiskan uangku untuk membeli bunga itu dan kau malah membuangnya?!”

“Kalau begitu jangan membuang uangmu untuk hal yang tidak berguna seperti itu.”

“Yak! Kau——”

“Sudahlah, cepat kita berangkat sekolah sebelum nanti terlambat.” kata Suzy sambil mengunci pintu lalu berjalan meninggalkan Jinyoung yang masih berdiri mematung di depan apartemennya.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Suzy membuka helm yang dikenakannya lalu menyerahkannya kepada Jinyoung. Semua murid yang ada di parkiran sekolah melihat ke arah mereka dengan tatapan heran. Baru kali ini Jinyoung dan Suzy terlihat berangkat sekolah bersama.

“Apa mereka berpacaran?” tanya salah satu dari mereka.

“Benarkah? Tapi aku tidak pernah melihat mereka berdua dekat sebelumnya.” timpal yang lain.

“Sayang sekali, pasti banyak yang kecewa karna keduanya termasuk murid dengan penggemar paling banyak. Ah tapi, keduanya terlihat sangat cocok.” sahut temannya yang lain.

Jinyoung dan Suzy hanya diam saja, tak menanggapi apa yang dikatakan para murid itu. Jinyoung langsung meraih jemari Suzy dan menguncinya dengan jemari miliknya. Suzy terksiap dengan perlakuan Jinyoung, namun dia hanya menurutinya dengan mengikuti langkah lelaki itu menuju kelasnya.

Suzy dapat merasakan seluruh tatapan murid di sepanjang koridor sekolah tengah menatap ke arahnya dan Jinyoung. Berbagai macam ekspresi yang dilihatnya.

“Sejak kapan mereka menjalin hubungan?”

“Aku iri dengan mereka. Jinyoung memang terlihat sangat cocok dengan Suzy.”

“Ah.. andai aku bisa seperti Suzy dan memiliki kekasih setampan Jinyoung. Suzy benar-benar sangat beruntung.”

Itulah kalimat yang Jinyoung dan Suzy dengar di sepanjang koridor, membuat Jinyoung melengkungkan sebelah sudut bibirnya.

Jinyoung melepas genggamannya pada jemari Suzy saat mereka sudah sampai di depan kelas Suzy. Lalu lelaki itu memposisikan dirinya berhadapan dengan Suzy, ia tersenyum ke arah Suzy, ekspresi marahnya yang tadi ditunjukannya sudah hilang begitu saja. Dan tanpa di duga gadis itu, Jinyoung mencium kening Suzy sekilas. Hal itu membuat para murid yang melihatnya menahan nafas.

“Sampai bertemu di waktu istirahat nanti. Annyeong~” kata Jinyoung sambil mengacak poni Suzy dengan lembut.

Jinyoung melangkahkan kaki menuju kelasnya, tak mempedulikan tatapan murid lain yang masih melihat ke arahnya. Tanpa diketahui Jinyoung, perlakuannya pada Suzy tadi membuat jantung gadis itu bergemuruh.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

“Yak Baek Suzy! Bagaimana bisa kau berpacaran dengan Park Jinyoung, huh?!”

Entah sudah berapa kali Suzy mendapat pertanyaan seperti itu hari ini. Sekarang saja waktu istirahat teman sekelas Suzy langsung mengerubungi gadis itu untuk mendengarkan penjelasan dari Suzy.

Suzy meniup poninya dan memasang tampang malas. Ia tidak ingin menjawab serentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh teman-temannya. Namun teman-temannya itu tetap saja sibuk bertanya kepada Suzy.

Dari arah yang berbeda, Jinyoung melangkahkan kakinya menuju kelas Suzy. Tepat di depan kelas, lelaki itu menghentikan langkah. Dilihatnya Suzy tengah dikerubungi oleh teman sekelasnya, hal itu membuat Jinyoung melengkungkan sudut bibirnya sambil tertawa.

“CHAGIYAAA!”

Teriakan Jinyoung membuat semua murid yang ada di kelas menoleh ke arah sumber suara, termasuk Suzy. Dan mereka langsung membulatkan mata saat melihat siapa yang datang.

Park Jinyoung berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Suzy. Entah gadis itu harus merasa lega,-karena kedatangan Jinyoung membuat teman-temannya tak bertanya padanya lagi,- atau merasa kesal,-karena lelaki yang tengah berjalan ke arahnya itulah yang menyebabkan kekacauan ini terjadi-. Teman-teman Suzy yang tadinya mengerubungi gadis itu pun langsung menepi, memberi jalan untuk Jinyoung.

“Ayo kita ke cafetaria, aku sudah sangat lapar..” kata Jinyoung sambil menjulurkan tangannya, memberi kode pada Suzy untuk segera mengikutinya.

Suzy langsung menerima uluran tangan Jinyoung, karena pergi dari kelas secepatnya adalah pilihan terbaik dibanding ia harus disesaki oleh pertanyaan-pertanyaan dari teman-temannya.

Suzy mengikuti langkah Jinyoung yang masih menggenggam tangannya. Namun tepat saat mereka sudah berada di luar kelas, Suzy langsung melepas tangannya dari genggaman Jinyoung secara paksa. Jinyoung menoleh kaget ke arah gadis itu.

“Kumohon hentikan permainan ini sekarang juga!” kata Suzy yang sudah muak dengan taruhan yang sudah mereka sepakati, walau baru berjalan selama satu hari.

Kalimat Suzy membuat Jinyoung mendengus dan berbalik arah menjadi berhadapan dengan gadis itu.

“Bukankah kau sudah menyetujuinya? Kau kalah dalam taruhan dan itu artinya kau milikku sekarang.” kata Jinyoung sambil berbisik, membuat Suzy sulit untuk menelan ludahnya karena jarak mereka yang begitu dekat.

“Lalu sampai kapan aku menjadi kekasih mainanmu, huh?”

“Hm? Sampai kapan?”

Jinyoung menjauhkan wajahnya dari wajah Suzy. Ia menoleh ke arah lain, seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun tiba-tiba dengan satu gerakan cepat, Jinyoung menyudutkan tubuh Suzy ke arah dinding kelas, membuat tubuh gadis itu terhimpit antara dinding dan tubuh Jinyoung. Lagi-lagi Suzy sulit untuk menelan ludahnya sendiri.

“Kau bertanya sampai kapan kau akan menjadi milikku? Hm— prinsip dalam hidupku adalah sesuatu yang telah menjadi milikku, akan selamanya menjadi milikku. Begitu juga dengan kau, Baek Suzy.”

Jinyoung mengatakannya dengan pelan namun penuh dengan penekanan.

Tanpa disadari kedua orang itu, ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik mereka. Sepasang mata itu tengah menatap mereka dengan tajam. Sepasang mata itu…milik Mark Tuan.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

“Ini untukmu..” kata Mark sambil menyerahkan selembar kertas pada Jinyoung.

Seperti biasa, mereka tengah berada di rooftop sekolah. Jinyoung menerima selembar kertas itu dengan senyum penuh kemenangan. Ia tak dapat menyembunyikan kesenangannya saat melihat nominal yang tertera pada selembar kertas itu. Sebuah cek bernilai satu juta won.

“Anggap saja itu sebagai uang muka, karena tugasmu belum benar-benar selesai, Park Jinyoung.”

Jinyoung hanya menganggukan kepala, tidak begitu memerdulikan ucapan Mark. Ia lebih memerdulikan kertas yang ada di tangannya saat ini.

“Sebaiknya kau lebih menjaga hatimu dari sekarang. Aku tak ingin pada akhirnya kau jatuh cinta beneran pada gadis itu.”

Kali ini kalimat Mark mampu membuat Jinyoung terpaku. Namun tak lama lelaki itu malah tertawa dengan sinis.

“Heeum—-kau tenang saja.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jinyoung menghentikan motornya di depan gedung apartemen Suzy. Gadis yang diboncengannya itu pun turun dari motor. Suzy langsung saja masuk ke dalam gedung apartemennya tanpa bicara lagi. Sontak Jinyoung menarik lengan gadis itu.

“Tidak menyuruh kekasihmu ini untuk mampir ke apartemenmu dulu, huh?”

“Haruskah?” tanya Suzy dengan malas.

Jinyoung tak menggubris pertanyaan Suzy. Ia malah ikut turun dari motornya dan meraih lengan gadis itu untuk mengikutinya berjalan. Suzy tersentak, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya. Namun tetap saja, tenaga Jinyoung lebih kuat darinya.

Sesampainya di depan apartemen Suzy, Jinyoung baru melepaskan genggamannya. Ia menyejajarkan wajahnya dengan wajah Suzy. Sepertinya Suzy harus mulai terbiasa dengan perlakuan Jinyoung padanya. Kini lelaki itu malah mengelus rambut Suzy dengan lembut.

“Aku pulang dulu, ya. Jaga dirimu dan—–”

Kalimat Jinyoung terhenti saat tangannya mencoba untuk menyelipkan rambut panjang Suzy ke telinga kiri gadis itu. Tiba-tiba saja ia melihat sesuatu yang ada di telinga kiri Suzy dan hal itu langsung membuatnya tertegun.

“Kau?”

 

 

TBC

 

 

 

 

 

 

Annyeong, anyone miss me? *pede banget lu thor* kkkkk~ author kembali dengan ff baru~ ff ini requestan dari kak @hertyyy yang minta dibuatin ff dengan cast Jr, Suzy dan Mark. Maaf banget ya kalo author lama update ffnya, soalnya akhir-akhir ini author lagi (sok) sibuk hahaha. Oke, i hope you like with the story!^^ dont forget to comment, readers:)

About fanfictionside

just me

17 thoughts on “FF/ GAME OVER/ GOT7-MISS A/ 1 of 2

  1. hai.first nih?cie.-.
    next thor ffnya keren, seru, sukaaaaa (y)
    mark nyuruh jr cuma grgr ditolak doang? wuihh kerennya suami ku>..<
    terus apa si jr bakalan suka beneran sama suzy?
    trus itu diakhir yg diliat jr tuh apa?.-.

    next thor, gepeelll. semangka'-')/9

  2. Aaa… ff nya keren…
    Penasaran d ending nya??
    Apa jr ma suzy punya masa lalu???
    Cepet di lanjut thor..

  3. WAHHHHH ada ff ttg Jr.-Suzy seneng bgt ^o^
    ada apa dgn suzy.????
    kalian saling knl.???
    jinyoungah~~~~~
    aigo ini bakalan dramatis ini …. jinyoungah jagain suzy dr mark ..
    update soon thor … palliwa ~~
    #JinZy Fighting !!
    lanjut thor !!

  4. chapter 1, keliatannya seru nih, penasaran….
    please, segera dipublish ya… nungguin nih, inikan cuma two shot.
    okey, next chap jgn kelamaan, yaa…😉

  5. Kayaknya aku br pertama kali berkunjung ke blog sini dan seneng bgt ada ff dgn cast gotzy apalagi jinzy hehe
    Ceritanya seru thor…itu suzy knp? Suzy pakek alat bantu dengar apa yaaa? Kekeke mian nebak asal thor
    Ditunggu kelanjutannya ^^

  6. jinzyyy aaaaa author keren nih pas lagi ngesip berat jinzy eh nemu ff ini. kerennn lagi! keep writing authoor

  7. Aaahh unni aku sebenernya ngeship suzy-mark gara-gara lihat variety shownya got7 disitu suzy sama mark pas banget, tapi kalo ending FF ini suzy sama jinyoung gpp deh ^^
    Yang ditelinga suzy apaan?!! Gila penasaran.
    Cepet update part 2nya yaaa :]

  8. Waahhh min greget banget min>< Cepetan update min, kepo tingkat dewa dewi nih min(?)
    Bagus min ff nya=)) Min, bikin ff yang main cast nya GOT7 aja dong, habis itu yaoi official cuple min. Ya ya ya ya ya miinnn;;)

  9. jr sama mark bad boy nih yee ….
    suzy mulai suka tuh sma jr dan jr keknya bakalan suka juga sama suzy .. jadi karna suzy nolak mark makanya dia mau balas dendam … tapi kenapa suzy ikut balapan liar yaa .karna hobi atau emang ada sesuatu ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s