FF oneshot/ A GIFT FOR YOU/ BTS-BANGTAN


Tittle: A Gift For You || Author: TokiarikaJung ♔ (author tetap)  || Main Cast: Jeon Jungkook (BTS), Jang Yura (OC) || Genre: Romance, School Life || Rating: PG-13 || Length: Oneshoot

Also posted in another wordpress with different main cast.

Happy reading and be a good readers please.

Siders and plagiarism not allowed to read my fanfct.

-oOo-

A Gift For You2

 

Tuesday, 27 May 2014

Seorang pria berwajah tampan itu tengah memperhatikan kelendar di kamarnya. Terdapat tanda bulatan spidol di tanggal 29. Nampaknya pria itu sendiri yang memberi tanda pada tanggal 29 di kalendarnya.

Tanggal 29. Dua hari lagi.

Pria itu mengetuk-ngetukkan jarinya di kepala. Sepertinya pria itu tengah memikirkan sesuatu yang penting, melihat betapa seriusnya wajah pria itu.

Apa yang harus aku lakukan?

Pria itu menghela napas. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi sahabatnya yang nampaknya sangat ahli dalam masalah percintaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita.

“Min Yoongi aku ingin kita bertemu sekarang.” Ucap pria itu sambil menekankan ponselnya ke telinga. Ia tidak perlu basa basi, ia hanya merasa tidak sabar untuk menemui sahabatnya yang bernama Min Yoongi itu. Bahkan saking tidak sabarnya ia bahkan lupa mengucapkan kalimat sapaan ataupun salam.

“Jungkook? Tumben kau mengajakku bertemu. Kau tidak berniat untuk mengajakku kencan bukan?” terdengar suara dari sebrang.

“Ya. Jangan bercanda. Aku masih waras ! Ok, aku akui aku butuh bantuanmu saat ini. Kita harus bertemu sekarang. Bersiap-siaplah, soal tempatnya nanti aku kirimkan pesan singkat kepadamu. Ingat jangan terlambat.”

Klik. Pria bernama panjang Jeon Jungkook itu lantas memutuskan sambungan ponselnya.

Ia segera mengambil jaketnya yang berada di atas kasurnya. Lalu, ia mengambil kunci mobilnya beserta dompet yang berada di nakas di sebelah kasurnya.

Setelah siap ia segera mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya, Min Yoongi.

To : Min Yoongi

Temui aku di tempat biasa.

-oOo-

“Yo. Ada apa?” Tanya pemuda berkulit susu itu begitu sampai di meja yang telah di duduki Jungkook. Pemuda berkulit susu–atau yang biasa di panggil Min Yoongi–itu lantas duduk di hadapan Jeon Jungkook. * Min Yoongi berkulit susu kan? -,-)*

Jungkook mengernyit begitu menyadari kedatangan sahabatnya, yang terbilang cukup telat itu. Bukankah tadi ia telah mengingatkan agar jangan terlambat? Tapi lihat ini, ia datang terlambat bahkan tanpa menunjukkan wajah penyesalannya. Hebat.

Jungkook melirik ke arah jam tangan yang berada di tangan kirinya. “Kau membuatku menunggu selama 29 menit 05 detik.”

Mendengar tuturan Jungkook, Yoongi membulatkan matanya. “Y-yaa aku tidak tahu kalau kau menunggu selama itu.”

Jungkook mendecih. “Cih. Lupakan.”

“Hey jangan marah. Lagipula hari ini kau aneh sekali. Mengajakku ketemuan? Tidak seperti kau yang biasanya. Jadi…. pasti ada yang kau inginkan dariku bukan?” Yoongi mencondongkan badannya ke Jungkook.

Jungkook menyeringai. Ternyata sahabatnya yang satu ini bisa menebak dengan benar. Jungkook bersyukur, akhirnya mereka tidak perlu berbasa-basi. “Yeah, bantu aku bagaimana caramu memberikan kejutan kepada pacar-pacarmu saat mereka ulang tahun.”

Yoongi tersedak. Ia baru saja meminum cappuchino-nya dan langsung tersedak begitu mendengar perkataan Jungkook. “H-hah?” hanya itu balasan yang keluar dari mulut Yoongi.

“Hey jawab saja.” Jungkook mendengus kesal.

Yoongi tersenyum masam. “Hey Jungkook ! Biar ku beritahu sesuatu. Sebenarnya,” Yoongi menggantungkan kalimatnya.

“Aku tidak pernah tahu kapan pacar-pacarku berulang tahun, maka dari itu aku tidak pernah memberikan mereka kejutan atau semacamnya. Jadi kalau kau bertanya tentang masalah itu kepadaku…. Aku juga tidak terlalu tahu bagaimana caranya.” Yoongi mengangkat kedua bahunya acuh.

“Tapi mungkin jika kau meminta. Aku akan membantumu.”

-oOo-

Wednesday, 28 May 2014

Jungkook menekan beberapa tombol dan klik, pintu apartemennya terbuka.

“Masuklah. Ingat ! Jangan membuat keributan di dapurku.”

Dua orang di belakang Jungkook pun langsung mengangguk bersamaan.

Jungkook menghela napas. Entahlah ia tidak tahu ini adalah cara yang benar atau salah. Kemarin ia menghubungi kedua sahabatnya yang lainTaehyung dan Seokjin─, ia menyuruh kedua sahabatnya untuk datang ke apartemennya untuk mengajarinya bagaimana cara membuat kue ulang tahun yang benar.

Sebenarnya bisa saja ia membeli kue ulang tahun langsung dari toko langganannya, tapi Yoongi melarangnya. Yoongi bilang, sesuatu yang spesial adalah sesuatu yang kita buat sendiri. Entahlah Jungkook sendiri juga tidak mengetahui apa maksud dari perkataan Yoongi.

“Woaaaaaaah. Aku baru tahu kalau kau tinggal di tempat ini.” Decak kagum keluar dari mulut Taehyung. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Jungkook benar-benar tinggal di apartemen yang mewah.

Seokjin sama terkejutnya dengan Taehyung. Setahunya Jungkook hanya orang yang biasa-biasa saja. Jungkook tidak pernah mengumbar-ngumbar atau memamerkan kekayaannya kepada sahabatnya.

Jungkook mengabaikan Taehyung. Ia mulai berjalan menuju dapur.

“Hey hyung ! Sekarang cepat ke dapur ajari aku cara membuat kue ulang tahun.” Pinta Jungkook kepada Seokjin dan Taehyung.

Namun tak ada jawaban dari keduanya. Jungkook membalikkan badannya, tidak ada siapapun di belakangnya. Kemana kedua bocah itu?

Jungkook mulai menyusuri seluruh ruangan lalu menggelengkan kepalanya begitu mendapati Taehyung berada di ruang tengah. Taehyung terlihat asyik bermain dengan playstation milik Jungkook.

“Ya ! Kim Tae─”

“Biarkan saja dia bermain. Sekarang tunjukkan padaku di mana dapurnya.” Potong Seokjin sambil menarik-narik langan Jungkook. Ok, Jungkook sadar seharusnya ia tidak perlu mengajak Taehyung. Ia tahu Taehyung memang tidak pernah menanggapi sesuatu dengan serius.

“Huh baiklah hyung.”

-oOo-

Sepasang boneka couple menarik perhatian Jungkook. Boneka yang dulunya pernah di elu-elukan oleh seorang gadis yang sangat berarti bagi Jungkook. Meskipun boneka itu terlihat seperti boneka beruang biasa, namun di mata Jungkook boneka itu terasa begitu spesial.

Alasannya sederhana,

Karena gadis itu menyukai boneka ini.

“Baiklah aku ambil boneka couple ini.” Gumam Jungkook sembari memegang sepasang boneka couple itu.

Ia berjalan menuju kasir. Namun ia segera menghentikan langkahnya begitu melihat sebuah kalung berliontin beruang mini berwarna perak.

Dia suka memakai kalung. Dia juga menyukai beruang.

Tanpa berpikir dua kali Jungkook langsung mengambil kalung tersebut. Lalu dengan langkah lebar ia berjalan menuju kasir. Tanpa sadar sudut-sudut bibir Jungkook tertarik ke atas. Membentuk sebuah senyuman manis.

Aku harap kau mau memaafkanku.

Aku akan membuatmu jatuh cinta─lagi─kepadaku.

Jang Yura.

-oOo-

Thursday, 29 May 2014

Jungkook terbangun karena alarm di ponselnya.

Ia mengecek ponselnya sebentar lalu mengulas senyum tipis begitu melihat waktu di ponselnya sudah menunjukkan pukul 12 malam. Itu tandanya sudah memasuk tanggal 29. Dengan cepat Jungkook mengetikkan sesuatu di ponselnya.

To : Jang Yura

Saengil chukkae Jang Yura-ya.

Jungkook tersenyum lega begitu mengetahui pesannya telah terkirim. Aku harap kau membaca pesanku. Lalu membalasnya. Gumam Jungkook dalam hatinya.

Jungkook memutuskan untuk mengunggu balasan dari Jang Yura.

5 Menit.

10 Menit.

15 Menit.

Masih belum ada jawaban. Jungkook mulai merasa bosan. Ia mengecek ponselnya kembali, namun belum ada balasan sama sekali dari Jang Yura.

Apa gadis itu masih tertidur?

Atau gadis itu lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya?

Atau jangan-jangan gadis itu sudah membaca pesan dariku, namun enggan untuk membalasnya?

Tidak mungkin!

Jungkook mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya secara bersamaan.

Ok, jangan negatif thinking. Mungkin saja ia masih tertidur. Jungkook berusaha menenangkan dirinya sendiri.

20 Menit berlalu. Nampaknya Jungkook sudah tidak sabar lagi. Ia menyambar ponselnya dengan cepat, lalu mencari kontak Jang Yura di ponselnya. Ia baru saja ingin menekan tombol hijau kalau saja ponselnya tidak bergetar.

Satu pesan di terima.

Jungkook berharap itu adalah pesan dari Jang Yura. Ia membuka pesannya, lalu merasa kecewa begitu mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.

From : Kim Taehyung

Hey! Apa kau sudah memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Jang Yura? Kalau belum berarti kau kalah telat denganku!

Jungkook mendengus sebelum akhirnya ia mengetikkan balasan untuk Taehyung.

To : Kim Taehyung

Sudah 20 menit yang lalu aku memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Jang Yura.

Klik. Pesanpun terkirim. Tak beberapa lama kemudian, ponsel Jungkook kembali bergetar.

From : Kim Taehyung

20 Menit? Apa Jang Yura membalas pesanmu?

 

To : Kim Taehyung

Tidak hyung. Dia tidak membalas pesanku. Mungkin dia sedang tidur.

 

From : Kim Taehyung

Tidak ! Siapa bilang dia tidur? Dia saja membalas pesanku :p Haha kasihan😀

 

Jungkook membulatkan kedua matanya. Ia tidak percaya bahwa Jang Yura membalas pesan Taehyung tapi mengabaikan pesan darinya. Jungkook mengacak-ngacak rambutnya frustasi, Ada apa dengan Yura?

“Aaaargh.” Jungkook mengerang. Ia tahu kenapa Yura mengabaikannya. Ia tahu. Ia tahu apa alasan Yura.

Ini semua karena kesalahan Jungkook sendiri. Kesalahan fatal yang membuat Yura menjauhinya. Kesalahan fatal yang membuatnya sangat menyesal.

Jungkook berniat untuk menelpon Yura. Sampai kapanpun, masalah ini tidak akan selesai apabila ia tidak meminta maaf kepada Yura.

Kau bodoh Jungkook ! Rutuk Jungkook dalam hatinya.

Ia mencari kontak Yura di ponselnya. Namun lagi-lagi ponselnya bergetar. Satu pesan di terima.

From : Kim Taehyung

Jungkook ! Yura bilang ia masih marah denganmu, makanya ia tidak membalas pesanmu.

Jungkook menggertakan giginya. Ok, ia rasa ia benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena telah membuat Yura membencinya. Sepertinya ia memang harus bicara baik-baik dengan Yura. Tapi bukan sekarang waktunya.

Jungkook mengetikkan beberapa kata lalu mengirimkannya pada Jang Yura.

To : Jang Yura

Besok pagi temui aku di taman belakang.

Tak beberapa lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Secepat itukah ia membalas pesanku? Tanya Jungkook dalam hatinya. Ia membuka pesannya, lagi-lagi dugaannya salah. Ternyata yang mengirim pesan bukan Jang Yura, melainkan Kim Taehyung.

From: KimTaehyung

Kookie ! Jang Yura marah kepadamuu :p

Jungkook menggertakan giginya. Bisakah hyung ini tidak mengirimiku pesan lagi?

To : Kim Taehyung

Arasseo Arasseo hyung ! Tak perlu di bilang aku pun sudah tahu !

Oh iya hyung, bisakah kau membantuku?

-oOo-

“Akhirnya kau berguna juga.” Jungkook menepuk kepala Taehyung lalu mengacak-ngacak rambutnya.

Taehyung yang mendapatkan perlakuan itu lantas mengerucutkan bibirnya. “Ya ! Tidak sopan. Aku ini hyung mu tahu !” Taehyung menggapai tangan Jungkook dengan mudahnya.

“Sial kau kookie ! Kau kira aku tidak bisa apa-apa? Huh. Jangan menganggapku remeh.” Taehyung menyisihkan lengan bajunya. Entah apa yang ingin ia lakukan, yang jelas Jungkook hanya memperhatikannya dengan bingung.

Anak ini, dia datang dari planet mana sih?

Jungkook menghela napas. Ia tidak boleh memikirkan hal sepele itu sekarang, ada hal penting yang harus is lakukan hari ini. “Heh hyung! Jaga apartemenku sampai aku pulang mengerti?”

Taehyung menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tidak ada salahnya ia datang ke apartemen Jungkook pagi-pagi, Jungkook hanya memintanya untuk membawa kue ulang tahun buatannya sendiri ke dalam mobilnya.

Mudah bukan? Dan sekarang imbalannya Taehyung dapat bermain playstation sepuasnya di apartemen Jungkook.

“Yeeeeees.” Taehyung mengangkat kepalan tangan kanannya ke udara. Ia bersorak kegirangan. Jungkook hanya menatap Taehyung tanpa minat.

Anak ini, anak siapa sih?

Jungkook mengerutkan dahinya lalu berusaha mengingat-ngingat. Setahunya, orangtua Taehyung memiliki sifat dingin dan bijaksana. Sangat berbanding terbalik dengan sifat yang dimiliki Taehyung. Taehyung tergolong manja dan kekanak-kanakan.

“Oh iya kookie. Semoga berhasil, fighting !” Taehyung mengerluarkan aegyo-nya membuat Jungkook merasa ingin muntah sekarang juga.

“Jangan tunjukkan aegyo-mu itu di depanku lagi, hyung. Kau bisa membuatku mual berhari-hari.”

-oOo-

Jungkook mengendarai mobilnya dalam keadaan sedang. Di satu sisi ia terlihat fokus mengendarai mobilnya, namun di sisi lain ia terlihat tengah memikirkan sesuatu. Memikirkan Jang Yura tentunya.

Jungkook merasa gugup sekarang. Setiap akan berhadapan dengan Jang Yura, potongan-potongan kejadian masa lalu selalu membayangi pikirannya. Mungkin bukan hanya Jungkook yang merasa seperti itu, Jang Yura juga merasakannya. Maka dari itu Jungkook takut, takut jika Jang Yura-nya akan menjauhinya.

Seharusnya bukan menjadi rahasia lagi bahwa mereka berdua sudah saling menghindari satu sama lain. Itu semua karena perbuatan bodoh Jungkook. Perbuatan yang di dasari karena emosi semata. Membuat Jungkook menjadi orang yang berbeda di bandingkan biasanya. Membuat Yura kecewa kepadanya. Sangat sangat kecewa.

“Aku harap di umur yang ke-21 ini Jang Yura bisa memaafkan seluruh kesalahanku.” Jungkook tersenyum getir. “Ya, aku harap.”

-oOo-

Jungkook membawa bungkusan kue ulang tahun dan juga kado di tangannya. Ia menyembunyikan bungkusan beserta kado kado itu di balik punggungnya, agar terlihat seperti kejutan.

Dengan langkah perlahan, ia mulai memasuki taman belakang kampus. Di sapukan pandangannya ke seluruh taman dan akhirnya ia dapat menemukan seorang perempuan tengah terduduk di bangku taman, sendirian.

Jungkook tersenyum getir. Ia tahu siapa perempuan itu, bahkan hanya dengan melihat punggungnya, ia tahu. Ia hapal siapa pemilik punggung itu, punggung mulus nan putih yang terhalang oleh rambut panjangnya.

Siapa lagi kalau bukan Jang Yura?

Jungkook menenangkan dirinya sesaat. Berusaha menghilangkan potongan-potongan masa lalu yang berputar dengan cepat di otaknya. Oh ayolah, ini saatnya Jungkook memperbaiki seluruh kesalahannya. Ia tidak boleh gugup ! Ia harus percaya diri.

Jungkook mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Begitu seterusnya sampai akhirnya ia merasa cukup tenang.

Oh iya kookie. Semoga berhasil, fighting ! Bayangan Taehyung yang tengah beraegyo muncul tiba-tiba di hadapan Jungkook, membuat Jungkook mendengus kecil. Meskipun mendengus, ia tidak dapat menyembunyikan senyum yang sedari tadi ia tahan begitu melihat Taehyung beraegyo.

Astaga kenapa jadi memikirkan Taehyung? Jungkook merutuki dirinya sendiri. Baiklah, waktunya beraksi.

Jungkook mulai mendekati tempat dimana Yura duduk. Begitu sampai Jungkook langsung menyerukan namanya. Membuat sang empu-nya nama menolehkan kepalanya, menatap Jungkook dengan datar.

“Untuk apa kau menyuruhku kesini? Kau sangat membuang-buang waktuku.” Ucap gadis itu dingin.

Jungkook menghentikan langkahnya tiba-tiba. Perkataan Yura benar-benar mengiris hatinya. Ia tidak menyangka Yura berubah sejauh ini.

Tapi ini wajar. Ini karena kesalahannya.

“Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan juga ingin meminta maaf kepadamu.” Jungkook membuang mukanya, berusaha menatap apapun kecuali menatap Jang Yura.

Jang Yura yang melihat Jungkook hanya bisa tersenyum getir. Minta maaf? Tanyanya dalam hati.

Yura berdeham sesaat sebelum akhirnya ia berbicara.

“Apa itu? Yang kau sembunyikan di balik punggung mu?” Tanya Yura langsung to the point. Ia benar-benar sedang dalam keadaan tidak mood untuk membahas masa lalunya dengan Xi Jungkook.

“Eh-ah. Ini… Ini…” Jungkook gelagapan seketika. Jujur ini pertama kalinya ia merasa gugup berbicara dengan seseorang. Ini aneh !

Jungkook menyodorkan sebuah kue ulang tahun beserta kado di sebelahnya. Ia menyerahkannya pada Jang Yura dengan malu-malu. Dan oh! Wajah Jungkook sedang bersemu sekarang.

Jang Yura yang melihatnya hanya bisa membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Sungguh, ia merasa deja vu dengan keadaan ini. Dan memori itu kembali muncul dan berputar dengan cepat di otaknya. Membuatnya menjadi sesak, dan ingin menangis sekarang juga.

Ini seperti kejadian yang waktu itu.

-Flashback-

Jang Yura berjalan berdampingan dengan seorang laki-laki yang bernama Kim Hansol. Kim Hansol adalah murid baru di sekolah Jang Yura. Meskipun murid baru, Jang Yura terlihat sangat akrab dengan Kim Hansol. Jelas saja, Hansol adalah anak yang friendly dan mudah bergaul dengan siapa saja. Membuat Yura nyaman berbicara dengannya. Belum lagi mereka duduk bersebelahan, membuat keduanya semakin akrab.

Yura sadar, semakin ia dekat dengan Hansol semakin renggang hubungannya dengan Jungkook. Yup ! Mereka adalah sepasang kekasih, namun karena faktor berbeda kelas membuat mereka terlihat jarang bertemu. Jungkook sudah memasuki kelas 3 dimana mereka di haruskan untuk belajar dengan serius agar dapat lulus dengan nilai memuaskan. Sedangkan Yura masih berada di kelas 1.

Tak jarang Yura mengeluh karena merasa rindu setiap saat ia tidak melihat wajah kekasihnya. Sedangkan orang yang di rindukannya hanya mengabaikannya, dan tidak mempedulikan atas rasa rindu yang Yura rasakan.

Kesal? Sudah pasti.

Tapi apa yang bisa Yura lakukan? Yura harusnya pengertian tentang sikap Jungkook yang berubah, mungkin karena terlalu sibuk belajar membuatnya sedikit stres. Mungkin saja. Makanya Yura tidak pernah menuntut agar mereka selalu bertemu setiap hari. Tidak, Yura bukan orang yang seperti itu.

Sangat di sayangkan, karena sikap pengertian Yura berbanding terbalik dengan sikap ketidakpedulian Jungkook. Membuat mereka menjadi jaga jarak, membuat mereka menghindar satu sama lain.

Beruntung ada Hansol, yang bisa di bilang sebagai sahabta baru Yura. Hansol selalu bisa menghibur Yura. Dan Hansol selalu bisa membuat Yura –sesaat– melupakan Jungkook. Ini aneh, dan Yura merasa ini pertanda yang buruk.

Mungkinkah ia berpindah hati pada Hansol?

“Heeey kau melamun nona Yura.” Hansol menjentikkan jarinya di dahi Yura. “Melamun itu tidak baik.”

Yura terkesiap lalu merasakan jantungnya berdebar begitu saja. Oh tidak mungkin aku jatuh cinta pada Hansol. Tidak mungkin.

“Tidak mungkin.” Tanpa sadar Yura menyuarakan pikirannya.

“Yaa. Jelas-jelas kau melamun, kenapa kau bilang tidak mungkin?” Hansol menatap Yura dengan alis yang terangkat.

“Yaaa ! Aku tidak berbicara denganmu bodoh !” Yura menoyor kepala Hansol.

Hansol merintih kesakitan lalu balas menoyor kepala Hansol. Yura meringis, ia segera mengangkat tangannya─berusaha menoyor kepala Hansol─ namun sebuah suara membuatnya menghentikan aksinya tiba-tiba.

“Yura.”

Walaupun hanya satu kata Yura hapal siapa pemilik suara itu.

Suara itu… Suara yang sangat di rindukannya.

Yura mengangkat wajahnya, pandangannya bertemu dengan pandangan Jungkook. Ia terkejut begitu mendapati Jungkook menatapnya dengan tajam. Sungguh, ia kira ia akan melihat Jungkook tersenyum kepadanya, tapi nyatanya itu hanya angan-angan semata.

“Jungkook oppa !” Yura langsung berhambur ke pelukan Jungkook. Yura memukul-mukul dada Jungkook yang bidang. “Ya ! Bogoshippo ! Kau tidak tahu bahwa aku sangat merindukanmu, eoh?” Yura terus saja memukul dada Jungkook, membuat Jungkook kesal.

Dengan satu kali gerakan, Jungkook menangkap kedua tangan Yura lalu menariknya dengan kasar. Yura bahkan sampai mengeluh kesakitan begitu merasakan rasa perih di pergelangan tangannya. “Ikut aku. Ada yang harus aku bicarakan.” Ucap Jungkook dengan dingin. Yura hanya mengangguk dengan kaku lalu menundukkan wajahnya.

Ternyata Jungkook mengajaknya ke taman belakang sekolah. “Ya ! Oppa pelan-pelan appo.”

Jungkook melepaskan tangan Yura dengan kasar. Ia menatap Yura dengan tajam lalu mencondongkan badannya, membuat Yura mundur ketakutan.

Jungkook terus saja mendekati Yura sampai akhirnya ia berhasil menangkap bahu Yura. Tak ingin membuang kesempatan, Jungkook mendekatkan wajahnya ke wajah Yura. Yura hanya bisa menutup kedua matanya.

“Jauhi Kim Hansol.” Bisik Jungkook dengan nada mengancam. Yura merasa lututnya lemas seketika. Suara Jungkook terdengar sangat dingin, membuatnya takut. Benar-benar takut.

“Tapi oppa, dia sahabatku.”

“Aku tidak peduli. Jauhi dia, sebelum kau tahu akibatnya.” Setelah mengatakan hal itu Jungkook pergi begitu saja. Yura menatap punggung Jungkook yang semakin menjauh.

Ada apa denganmu, oppa?

───

Nampaknya Yura tidak memedulikan apa yang Jungkook pinta kepadanya. Ia terus saja menempel dengan pemuda yang bernama Hansol itu. Ia benar-benar tidak bisa jauh-jauh dari Hansol. Hanya bersama Hansol yang membuatnya merasa tenang dan nyaman. Juga merasa aman dari Jungkook.

Entahlah apa yang dipikirkan oleh Yura. Yura lebih memilih untuk berdekatan dengan Hansol di bandingkan dengan kekasihnya sendiri.

Yura mendekati Hansol bukan karena ia jatuh cinta kepadanya. Ia hanya merasa nyaman apabila berada di dekat Hansol. Yura menjauhi Jungkook juga bukan karena Yura sudah tidak lagi mencintai Jungkook. Ia hanya ingin menjaga jarak sementara dengan Jungkook.

“Hey. Kue itu untuk siapa?” Tanya Hansol begitu melihat Yura tengah membawa sebuah kue. Ia yang penasaran berusaha melihat kue yang berada di tangan Yura lalu membaca tulisan yang ada di kue itu.

Maafkan aku Jungkook oppa.

Akhir-akhir ini kita jadi saling jaga jarak.

Aku merindukanmu. Merindukan kebersamaan kita.

Saranghae.

“Eoh? Ini? Ini untuk Jungkook oppa. Oh iya aku harus segera menemui Jungkook oppa. Sampai nanti Hansol.” Yura berlari meninggalkan Hansol yang tertegun.

Yura hanya bisa berdiri menunggu Jungkook keluar dari kelasnya. Tak beberapa lama kemudian, Jungkook keluar bersama kedua sahabatnya, Bambam dan Yugyeom. Jungkook yang tadinya sedang bercanda dengan kedua sahabatnya kini berhenti begitu melihat Yura yang berdiri di depan kelasnya.

Yura segera menghampiri Jungkook. Ia tersenyum manis, namun lain halnya dengan Jungkook yang hanya menatapnya tajam.

“Kau tahu? Ini adalah wilayah kelas 3. Kau tidak di perbolehkan datang ke sini bahkan hanya untuk menemuiku.”

Yura terkejut. Seketika kata-kata yang sudah ia siapkan dalam hati menguap begitu saja begitu mendengar Jungkook berkata seperti itu.

Tidak ada sapaan. Tidak ada senyuman.

Yura merasa Jungkook benar-benar tidak mengharapkan kehadirannya. Menyedihkan.

“Tapi ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu oppa.”

Jungkook tersenyum meremehkan. “Kau pengkhianat, sayang. Kau bahkan tidak mendengar perkataanku saat aku menyuruhmu untuk menjauhi Hansol. Aku melihatnya, setiap saat aku memperhatikanmu Yura. Tapi apa yang kau lakukan? Kau terlihat bahagia bersama Hansol. Benar begitu sayang?” Jungkook mengelus pipi Yura.

Yura benar-benar merasa tersindir atas perkataan Jungkook. Anehnya bukannya marah, ia malah merasa sesak dan ingin menangis. “Oppa. Dia sahabatku.”

“Persetan dengan perkataanmu. Yang jelas, disini adalah,” Jungkook menggantungkan kalimatnya.

“Kau tidak menuruti perkataanku.” Ucap Jungkook dengan penekanan di setiap katanya.

Yura menelan salivanya, takut. Ia ingin membalas perkataan Jungkook, namun ia merasa lidahnya kelu. Karena ia sadar apa yang di ucapkan Jungkook adalah sebuah kenyataan.

“Maaf.” Hanya kata itu yang bisa Yura keluarkan. Dengan tangan gemetaran Yura menyodorkan kue buatannya ke hadapan Jungkook.

Awalnya Jungkook mengernyit melihat kue yang di sodorkan Yura kepadanya, namun ia segera tertawa meremehkan begitu membaca tulisan yang berada di cake itu. “Apa-apaan ini? Tidak menarik.” Komentarnya tajam, membuat Yura menciut seketika.

Meskipun Jungkook berkomentar tajam, ia tetap mengambil kue itu. “Ini buatanmu sendiri?” Tanya Jungkook dingin. Yura hanya mengangguk kaku.

Jungkook menunjukkan smirknya. Ia menjatuhkan kue itu tiba-tiba, membuat Yura yang melihatnya hanya bisa membulatkan kedua matanya tidak percaya.

Belum puas dengan apa yang ia lakukan, Jungkook menginjak-injak kue pemberian Yura. Kue yang Yura buat sendiri dengan penuh perjuangan. “Maaf. Kue mu tidak menarik sayang.” Jungkook tersenyum menyindir.

Yura menatap Jungkook dengan mata berkaca-kaca. Ia merutuki dirinya sendiri apabila ia meneteskan air matanya di hadapan Jungkook. “Oppa kau─” Ucap Yura dengan suara bergetar. Ia hampir saja terisak kalau saja ia tidak menggigit bibirnya. Ia berusaha mati-matian menahan isakannya agar tidak keluar. Ia bersumpah tidak akan menangis sekalipun di hadapan Jungkook. Ia bersumpah !

“Kau tidak tahu kalau aku CEMBURU melihat kalian berdua selalu bersama? Kau tidak tahu kalau aku selalu BERSABAR apabila melihat kalian bergandengan tangan? Sudah cukup lama aku bersabar, tapi sepertinya kau tidak memedulikanku. Setiap melihat kalian berdua aku selalu bertanya-tanya di dalam hatiku, Sebenarnya kekasihmu itu aku atau dia?” Jungkook mengeluarkan seluruh emosinya. Ia berteriak kepada Yura, membuat orang-orang di sekitarnya mengerubungi mereka berdua.

“Ya. Mungkin karena aku yang terlalu cinta kepadamu. Mungkin karena aku terlalu menyayangimu. Mungkin karena aku terlalu menyukaimu. Aku bisa bersabar. Tapi sayangnya sekarang kesabaranku sudah habis Jang Yura.”

“Kita sampai disini saja.”

Satu tetes air mata terjatuh.

Yura terkesiap.

Air mata itu bukan miliknya, melainkan milik Jungkook.

Jungkook menghapus air matanya dengan kasar. Ia berlari meninggalkan Yura begitu saja. Ia tahu ini keputusan yang fatal. Sangat fatal. Karena di lubuk hatinya ia masih mencintai Jang Yura. Mencintai mantan kekasihnya.

Jungkook menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.

Jadi karena cemburu aku sampai segininya?

───

Semenjak hari itu, Yura berubah. Ia menjadi orang yang sangat berbeda di mata Jungkook. Yura menjadi orang yang berkepribadian dingin dan datar. Ia bahkan mengabaikan Jungkook apabila pria itu berusaha meminta maaf kepadanya.

Jungkook menyesal. Ia menyesal karena telah menyakiti hati orang yang di cintainya.

Ku mohon maafkan aku Jang Yura. Maafkan aku karena aku mencintaimu.

-Flashback end-

 

Yura menatap kue ulang tahun yang Jungkook sodorkan kepadanya dengan datar.

“Kue ini kau yang membuatnya?” Tanya Yura datar. Jungkook mengangguk antusias.

“Maaf. Buang saja kue-nya. Aku tidak tertarik.”

Jungkook menatap Yura dengan tatapan sendu. Sekarang ia tahu bagaimana perasaan Yura saat itu. Rasanya sakit dan sesak.

“Yura. Tolong. Maafkan aku. Kau sudah 21 tahun sekarang, masih tak bisakah kau memaafkanku? Aku menyesal Yura, aku menyesal. Sekarang ku mohon terima ini. Aku─” Jungkook merutuki air matanya yang terjatuh begitu saja. Sungguh, ia tidak ingin Yura menganggapnya sebagai pria yang cengeng. Ia tidak mau.

“Sudahlah lupakan saja hal itu. Aku saja sudah tidak mengingat kejadian itu.” Bohong ! Yura bohong !

“Jadi mulai sekarang mari kita kembali ke kehidupan sebelumnya. Kau menjadi Jungkook yang dulu, menjadi Jungkook yang jahat. Dan aku menjadi Yura yang sekarang, menjadi Yura yang kejam. Mudah bukan?”

Jungkook menatap Yura dengan datar. “Bagaimana kalau aku tidak mau?”

Yura menatap Jungkook dengan terkejut. “Ya ! Kenapa tidak mau oppa?” Yura membentak Jungkook, sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.

Apa aku bara saja memanngilnya oppa?

Ya Ampun ! Tidak mungkin !

Yura merutuki bibirnya yang tidak bisa di ajak kompromi.

Jungkook tersenyum jahil begitu melihat Yura yang gelagapan.

Akhirnya Yura ! Aku punya celah juga.

“Oppa?” Jungkook berusaha menggoda Yura, dan nampaknya usahanya berhasil. Semburat merah mulai muncul di kedua pipi Yura.

“Ya ! Maksudku Jungkook ! Bukan oppa ! Tadi bibirku sendiri yang keceplosan.” Yura semakin gelagapan. Ia masih tidak percaya dengan segala yang ia ucapkan. Di umur yang ke-21 ini kenapa ia tidak bisa menjadi orang yang dingin lagi di hadapan Jungkook? Kenapa bibirnya keceplosan begitu saja?

“Berarti bibirmu rindu memanggilku dengan sebutan ‘oppa’”

Sialan ! Rasanya Yura ingin menyumpal mulut Jungkook dengan sendal atau apapun yang sekiranya bisa membuat Jungkook berhenti berbicara.

“Baiklah. Kau bisa memanggilku oppa. Tapi izinkan aku memanggilmu sayang. Bagaimana?” Jungkook menaik turunkan alisnya.

Sialan ! Yura tidak dapat memungkiri bahwa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar ingin meledak sekarang juga. Ia yakin sekali pasti wajahnya sudah memerah saat ini. Omonaaaa…

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Jungkook menaruh kue ulang tahunnya di tanah begitu saja. Ia tidak memedulikan kue-nya. Yang terpenting adalah bingkisan kado yang berada di tangan kirinya.

Ia menyodorkan bingkisan itu kepada Yura. Yura menatapnya dengan bingung dan heran. Jungkook tersenyum melihat ekspresi Yura. Ini kemajuan besar ! Yura tidak menampilkan raut wajah datar lagi.

“Apa itu?” Tanya Yura penasaran, sambil menatap Jungkook.

“Ambil saja.” Pinta Jungkook. Yura pun akhirnya mengangguk. Yura berani bersumpah ia benar-benar tidak sadar dengan apa yang ia lakukan saat ini. Seolah-olah semua yang ia lakukan terjadi begitu saja tanpa di komando sama sekali.

Yura mengambil bingkisan berwarna biru itu. Melihat bingkisannya saja sudah membuat Yura senang, apalagi melihat isinya? “Boleh aku buka ini?” Tanya Yura. Oh tuhan. Sungguh, ini berada di luar kesadarannya.

Jungkook mengangguk sambil tersenyum. Kau pasti akan menyukainya Jang Yura.

Dengan semangat Yura membuka bingkisan itu. Ia penasaran, benar-benar penasaran. Ia berharap Jungkook memberikan kado yang bisa membuatnya bahagia. Ia berharap..

Sampai akhirnya bingkisan terbuka Yura hanya bisa melongo tidak percaya. Tangannya bergetar meraih isi bingkisan itu. Ia menyentuhnya dengan hati-hati seakan-akan tidak ingin tangannya menodai apa yang ia pegang.

Yura mengangkat kepalanya menatap Jungkook dengan mata berbinar ooops ralat, bahkan matanya sudah berkaca-kaca. “Boneka couple? Boneka beruang? Kalung beruang?” Tanyanya berturut-turut.

“Iya. Beruang kesukaanmu.”Akhirnya Jungkook pun menjawabnya dengan perkataan─setelah dari tadi Jungkook hanya menjawab pertanyaan dari Yura dengan anggukan semata.

Yura masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sungguh beruang adalah boneka favoritnya. Bahkan bisa di bilang beruang adalah maskot hidupnya. “Beruang?” Tanya Yura memastikan.

Jungkook mendengus namun tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Ia hanya mengangguk.

“Beruang? Beruang? Beruang?” Tanya Yura bertubi-tubi.

Jungkook kesal, ia mengangguk tiga kali. “Iya sayang. Beruang maskot hidupmu.”

Yura tidak tahan. Ia menaruh boneka couple beserta kalung beruang itu di tanah begitu saja. Ia menghampiri Jungkook lalu memeluknya dengan tiba-tiba. “Y-ya !” Jungkook berusaha protes, namun Yura mengabaikannya. Yura bahkan semakin mengeratkan pelukannya kepada Jungkook.

“Aku merindukanmu oppa. Aku merindukanmu. Sungguh aku tersiksa dengan sikapku sendiri. Aku merasa kekanak-kanakan. Seharusnya aku tidak perlu bersikap dingin kepadamu. Aku tahu waktu itu kau sedang dalam emosi. Dan percaya atau tidak, aku benar-benar merasa bahagia saat kau bilang bahwa kau cemburu kepadaku.

Sayangnya aku egois. Semenjak saat itu aku malah mengabaikanmu, bersikap jahat kepadamu. Sejujurnya aku tersiksa, tersiksa dengan kelakuanku sendiri. Dan sekarang di umurku yang ke-21 ini aku tidak akan egois lagi oppa. Aku berjanji.

Terima kasih untuk beruangnya. Aku sangat suka. Terima kasih banyak oppa. Saranghae.” Yura mengecup pipi Jungkook singkat. Ia merasa lega sekarang. Lega karena telah mengatakan yang sejujurnya.

Jungkook yang tadinya tertegun kini tidak dapat menahan senyumannya. Ia bahkan hampir saja menangis. Menangis senang, menangis haru. Sayangnya ia ingat bahwa ia adalah seorang lelaki. Dan di hadapannya ada Yura, ia tidak ingin Yura menganggapnya sebagai pria yang cengeng.

Jungkook membalas pelukan Yura. Ia mendekap Yura seakan-akan takut Yura akan meninggalkannya lagi. “Maafkan aku. Aku yang salah. Sekarang mari kita mulai kehidupan baru kita tanpa ada bayang-bayang masa lalu lagi. Janji?” Tanya Jungkook. Jungkook dapat merasakan Yura menggerakkan kepalanya ke atas dan ke bawah, ia menangguk dalam dekapan Jungkook.

Jungkook tersenyum, ia mengacak-ngacak rambut Yura. Lalu mencium puncak kepala Yura cukup lama. “Saranghae.”

Akhirnya mereka pun melepaskan dekapan mereka. Yura menunjuk-nunjuk ke arah kalung yang berada di tanah. Jungkook mengangguk, ia mengambil kalung itu. Memasangkannya ke leher Yura.

Yura melompat kegirangan begitu merasakan kalung itu sudah terpasang di lehernya. “Ya ampuuuun beruang ini lucu sekali.” Yura mengambil boneka couple itu. Ia mengambil yang berwarna pink lalu ia menyerahkan yang berwarna biru kepada Jungkook.

“Aku tidak mungkin menyimpan boneka di apartemenku.” Jungkook menatap Yura dengan datar. Yura marah ia meraih tangan Jungkook lalu menaruh boneka biru itu di atas tangan Jungkook.

“Simpan ini atau aku akan membunuhmu.” Pintanya dengan nada tajam.

Jungkook menghela napas. “Arra arra.” Ucapnya malas sembari memegang boneka itu. “Sekarang kau harus mencoba kue buatanku.”

Mendengar itu Yura merubah raut wajahnya menjadi sedih. Jungkook menyadari itu, ia mengacak-ngacak rambut Yura. “Sebenarnya kue buatanmu waktu itu sangat enak. Hanya saja aku yang cemburu dengan kurang ajarnya menginjak-injak kue buatanmu begitu saja. Mianhae.”

Yura tersenyum lebar. Ia tidak ingin merusak suasana, maka dari itu ia langsung berjongkok lalu menatap kue buatan Jungkook dengan tatapan tidak meyakinkan.

“Hey oppa. Ini tidak beracunkan?” Tanya Yura sambil menunjuk-nunjuk kue Jungkook.

Jungkook tertawa lalu menggeleng. Ia memutuskan untuk ikut berjongkok di sebelah Yura. “Ani. Aku membuatnya dengan cinta. Jadi tidak mungkin beracun bukan?”

Yura memukul lengan Jungkook pelan. Ia akhirnya mencolek kue itu lalu memakannya. “Ini enak.”

Jungkook yang tidak percaya pun ikut mencolek kuenya lalu merasakannya. “Woaaah chef Jungkook memang keren !” Jungkook berdecak kagum. Mengagumi dirinya sendiri.

“Aku ragu. Jangan-jangan bukan kau yang membuat kue ini.”

“Sudah ku bilang. Ini kan kue buatanku sendiri. Aku membuatnya dengan rasa cinta. Pantas saja rasanya enak.”

Jungkook tersenyum lalu merangkul bahu Yura. “Selamat ulang tahun sayang. Ini semua ku persembahkan kepadamu dengan rasa cinta.”

-Fin-

Ahahaha akhirnya aku bikin oneshoot lagi. Gak kapok kapok bikin oneshoot gagal :v Tapi maaf ya kalau kalian yang baca jadi bingung sama alurnya yang kecepetan, terus gak dapet feelnya lah, typo bersebaran, dan bla bla bla. Karena wajar aja aku buat ini langsung tanpa aku edit, dan begitu selesai langsung aku post :3

Sebenernya fanfict ini aku post di saykoreanfanfiction.wordpress.com tapi disitu main castnya EXO bukan BTS. Dan kalau disini kan harus member BTS makanya aku ganti Luhan jadi Jungkook >w<

Sebenernya ide ini udah lama banget bersarang di kepalaku. Ide ini muncul waktu aku nonton My Daughter Lee Sooyong *Eh aku gatau tulisan sooyongnya kayak gimana*

Dan aku nulis ini ngebut bahkan aku gamake poster. Karena aku gak sempet buatnya. Aku ngejar deadline tanggal 29 Mei. Tadinya aku mau nge post ini waktu jam 12 malem tapi aku mikir itu terlalu kemaleman. Makanya aku post sekarang :v

Kenapa deadlinenya tanggal 29 Mei?

Karena aku lahir tanggal segitu. Makanya aku buat ff ini buat ngerayain ultahku sendiri. Yaaaaay berasa jones /?

Yaudah sekali lagi maaf karena aku bikin bingung readers yang udah baca ff abal ini >< Maafkan rikaaaa ;A;

Tapi meskipun ff ini abal aku tetep minta RCL dari kalian dong ya /? Kan aku udah nulis ini dengan rasa cinta *halah /keikutan Jungkook/* Yaaaa itung-itung kan kalian bisa ngasih kado aku dengan komen yang bejibun *halah ngarep -,-)*

Ok segitu aja. Oh iyaaa kalau ada yang mau kenal aku silahkan follow @TokiarikaJung terus mention nanti pasti aku follback :3 Follow ye follow *Eh lu ngapain malah jadi promosi? -_-*

Udah udah udah gitu aja. RCL di tunggu juseyooo~

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF oneshot/ A GIFT FOR YOU/ BTS-BANGTAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s