FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 15


Title : Darkside (Chapter 15)

Sub-chapter title : The Lost Forest

Author : A-Mysty ♔ (author tetap)

Cast :   Ahn Hye Min – Shin Ah Jung

            Shin Se Jung

Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

Kim Nam Joon

Min Yoon Gi

Support Cast : Yoo Min (Hye Min’s Older Sister)

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

 

 

 

Forest

 

 

Review:

“Hye Min-ah, kau dimana?” panggil Yoo Min sekali lagi. Hye Min benar-benar menghilang tanpa jejak dirinya.

Yoo Min terduduk pasi dengan kedua mata yang menatap lurus keluar jendela. Ia dapat menyaksikan berakhirnya gerhana bulan total.

“Hye Min-ah…” ujar Yoo Min sekali lagi dengan lirih dan pucat.

///

Hye Min yang baru saja selesai memakai baju, menatap keluar jendela. Ia menatap bulan yang semakin lama cahayanya semakin meredup. Sepertinya, gerhana bulan total akan terjadi malam ini. Gadis itu hanya bisa menatap langit itu datar.

Kemudian, ia membalikkan badannya lalu berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia membuka pintu lemaritu untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Ketika ia membuka pintu itu, beberapa kelopak bunga mawar berjatuhan dari atas dan mencapai ubun-ubun kepalanya. Gadis itu memicing bingung. Ia tidak ingat kalau ia memiliki bunga mawar di dalam lemarinya. Apalagi warna bunga mawar itu bukan merah cerah, melainkan merah layu yang kehitaman.

Karena ia lupa tentang apa yang ia lakukan ketika sudah membuka lemari, akhirnya gadis itu menutupnya lagi. Pintu depan lemari itu terdapat cermin. Secara tak langsung, Hye Min dapat melihat pantulan dirinya setelah menutup pintu lemari itu. Kedua matanya terbelalak ketika ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari itu. Yang terpantul bukanlah dirinya, melainkan seorang gadis yang matanya hilang sebelah.

Hye Min memundurkan langkahnya kaget. Ia benar-benar terkejut dengan pantulan gadis yang menyeramkan itu. Gadis itu terduduk di ujung tempat tidurnya dan berdoa keras, berharap sosok gadis yang terpantul di cermin itu menghilang. Setelah cukup lama ia berdoa, gadis yang mengerikan itu benar-benar menghilang dari pantulan cerminnya.

“Fuh…” endusan napas Hye Min begitu terdengar ketika mendapati sosok itu menghilang.

Namun, tak sampai di situ. Seseorang yang lain tiba-tiba muncul dari belakang, dan memeluknya secara tiba-tiba. Entah itu lebih pantas memeluk atau menubruk, karena tubuh Hye Min hampir terpelanting ke depan. Ketika sosok itu memeluk Hye Min dari belakang dan mengenduskan napasnya, Hye Min tak bisa menahan mulutnya untuk berteriak.

“KYAAAAA!!” jeritnya sekencang-kencangnya.

Orang memeluknya dari belakang itu malah terkekeh dan melepaskan pelukannya. Hye Min langsung berdiri dan membalikkan badannya. Yoongi duduk dengan santainya di atas papan tempat tidur Hye Min. Ia menatap Hye Min yang ketakutan itu dengan senyum miring. Sedangkan Hye Min, ia hanya bisa melangkahkan kakinya mundur.

Yoongi menjentikkan jarinya. Sososk gadis yang matanya hilang sebelah itu kembali muncul dan terbang. Di saat Hye Min terdesak seperti itu, suara hanya terdengar halus seperti penyelamat terdengar. Suara Yoo Min dari luar kamarnya.

“Hye Min-ah!! Hye Min-ah!!” panggil Yoo Min panik.

Ketika Hye Min hendak menyahut, gadis mengerikan tersebut tiba-tiba memeluknya dari depan. Dingin. Sepertinya bukan memeluk, melainkan memeras tubuh Hye Min yang berada dipelukan sosok itu. Lidah Hye Min terasa kelu untuk menyahut. Jangankan menyahut, bernapas saja ia sulit. Sesak karena dadanya tertekan erat.

Yoongi hanya menonton dengan santai tanpa melakukan apapun. Sesekali, laki-laki itu terkekeh menontonnya.

‘Sialan.’ ujar Hye Min membatin. Tubuhnya terasa sangat amat sesak. Ia tidak bisa menggerakan tubuhnya karena didekap terlalu erat. Namun…

Bugh!

Dengan tenaga yang masih ada, Hye Min memelantingkan tubuhnya sendiri ke lantai. Namun, terpelanting dengan sosok itu dibawah. Tangan Hye Min meraba-raba ke atas hingga akhirnya mencoba mencekik sosok itu. Berhasil! Sosok itu menghilang secara tiba-tiba. Seiring sosok itu menghilang, senyum Yoongi pun ikut menghilang.

“EONNIE!!” jerit Hye Min menyahut. Lengan kanannya mengeluarkan sedikit darah karena sosok tadi mencakarnya.

Ketika Hye Min hendakberjalan cepat menuju pintu kamarnya, Yoongi bergerak lebih cepat. Laki-laki itu menghalangi pintu kamar Hye Min dengan tubuhnya. Hye Min mengepalkan tangan, bersiap untuk memukul Yoongi. Yoongi berhasil menghindari pukulan gadis itu, dan menangkap pergelangan tangan Hye Min. Lalu, kuku tajam milik Yoongi itu menggaret kulit Hye Min hingga berdarah. Namun, laki-laki itu tidak melepaskan tangannya sama sekali.

“KYA! SAKIT BODOH! LEPASKAN AKU!” jerit Hye Min kesakitan. Darah garetan itu mulai mengalir menuju sikunya. Perih.

Yoongi menarik Hye Min paksa ketika ketukan pintu kamar Hye Min semakin kasar. Lalu, laki-laki mendorongnya hingga gadis itu terbentuk ujung kayu tempat tidurnya. Entah bagaimana, mulut Hye Min sedikit menyemburkan darah. Gadis itu juga bingung bagaimana bisa. Yang jelas, perutnya yang terbentur diujung tempat itu terasa sanagt mual dan sakit.

Hye Min terbatuk-batuk setelah tak sengaja menyemburkan darahnya sendiri. Yoongi menatap gadis itu datar sambil terus berjalan mendekat. Hye Min masih terbatuk-batuk dan meraba lehernya sendiri. Ia seperti tercekik. Sesuatu seperti mencekiknya.

Gadis itu mengambil napas dalam dan bersiap untuk berteriak kembali. Gedoran pintu kamarnya juga semakin terdengar. Pintu itu sudah semakin miring seiring dobrakan Yoo Min yang keras itu.

“KYA! Hmph! Eon… hmph!”

Baru saja ia ingin teriak, tangan Yoongi membekapnya erat. Ia berusaha mengelak, namun rasa tercekik itu semakin teras. Gadis itu terus berusaha berteriak meminta tolong kepada Yoo Min. Namun, bekapan tangan Yoongi itu seakan-akan membuat udara di sekitarnya menipis. Bola mata gadis itu berputar tidak teratur.

Pada akhirnya, Hye Min menutup matanya rapat begitu saja. Yoongi melepaskan bungkamannya, lalu mendesis licik. Darah yang keluar dari batuk Hye Min itu terciprat di atas tempat tidur, dan ada beberapa yang jatuh ke lantai. Yoongi tersenyum menang serta puas. Dengan cepat, Yoongi mengangkat tubuh Hye Min yang sudah tidak bergerak itu. Lalu, ia melompat keluar jendela dan menghilang.

‘Aku beruntung. Semuanya selesai tepat gerhana bulan itu selesai.’ membatin sambil melompat keluar. Tepat saat ia menghilang seperti debu, Yoo Min baru bisa membuka pintunya.

‘Kau memang sedang tidak beruntung, Shin Ah Jung.’ ujar laki-laki itu lagi dalam hati.

///

Namjoon berlari kencang menuju rumah Hye Min. Karena ia juga memiliki sedikit ‘kekuatan’ yang sama seperti Se Jung dan Yoongi, ia bisa mengetahui rumah Hye Min. Meskipun, ia belum pernah datang ke rumah itu sebelumnya. Ia berlari sekencang mungkin berharap ia belum terlambat. Sesekali, kedua matanya menatap ke arah langit. Berharap gerhana bulan itu belum berakhir.

Tempat di sebuah rumah sederhana yang tidak terlalu besar ia menghentikan langkahnya. Napasnya menderu napas, hingga mengeluarkan uap napas di tengah udara dingin nan lembap itu. Namjoon menatap lurus ke sebuah jendela kamar yang ia yakini itu adalah kamar Hye Min. Sayangnya, jendela kamar itu sudah terbuka lebar.

Ketika Namjoon menoleh ke sebuah dahan pohon yang tinggi, seseorang tengah berdiri sambil memapah seseorang. Orang itu tersenyum licik dan senang. Namjoon mengepalkan tangannya dan menatap orang itu tajam.

“Kau terlambat!” ujar Yoongi, kemudian menghilang dari dahan itu bersama-sama dengan Hye Min yang berada digendongannya.

Namjoon terduduk dengan posisi bersimpu. Ia meremas rambutnya sendiri. Ia menatap langit malam itu, bulan sudah kembali terang seperti biasanya. Ia terlambat. Benar-benar terlambat. Parahnya lagi, Yoongi berhasil menculik Hye Min sesuai rencana waktu itu.

///

Pagi yang cerah untuk mengawali hari ini. Taehyung berjalan santai menuju sekolahnya dengan sepasang earphone melekat di kedua telinganya. Tak biasanya ia seperti itu, tapi lagu yang diputar di media playernya seakan-akan berguna untuk menghibur hatinya yang gelisah. Gelisah akan sebuah mimpi yang –baginya- mengerikan tadi malam. Ia berharap ia masih akan melihat wajah Hye Min itu di lingkungan sekolahnya nanti.

Dari kejauhan, laki-laki itu melihat seorang wanita muda yang menatap sekelilingnya gelisah. Wanita muda itu juga terlihat tengah menunggu seseorang yang –mungkin- bersekolah di sekolah tersebut. Taehyung sedikit memicingkan matanya untuk melihat siapa wanita muda itu. Penampilan, raut wajah, dan fisik dari wanita muda itu terlihat sangat familiar di mata Taehyung.

Tanpa ragu, ia melangkahkan kakinya menuju wanita muda itu dengan berpura-pura tidak tahu. Ketika jarak diantara dirinya dan wanita itu semakin dekat, barulah Taehyung menyadari siapa wanita muda itu. Itu adalah Yoo Min, kakak perempuan Hye Min. Melihat Yoo Min di depan gerbang sekolahnya itu, ia berpikir bahwa Yoo Min baru saja mengantarkan Hye Min ke sekolah.

Ia pun mematikan musiknya, lalu melepas earphonenya begitu saja, “Annyeonghaseyo, Noona.” ujar Taehyung ramah, tapi raut wajahnya tidak terlihat begitu ramah. Laki-laki itu juga membungkukkan badannya sedikit ketika ia menyapa Yoo Min.

“Ah!” Wanita muda itu terlihat terpekik sebentar. “Ah! Kau… Apa kau benar Kim Taehyung?” tanya Yoo Min tanpa basa-basi lagi. Ia terlihat seperti melihat dewa penolong sekarang.

“Hmm… Ya. Aku adalah Taehyung. Noona mencariku?” tanya Taehyung dengan menganggukkan kepalanya sedikit.

“Ya, bisa kita bicara sebentar?” ajak Yoo Min dengan suara yang terdengar sangat parau.

Mendengar suara parau seperti itu, Taehyung merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini. Entahlah, atau mungkin itu hanya perasaanya semata, “Sebenarnya, aku bisa-bisa saja. Hanya saja, sebentar lagi bel masuk akan dibunyikan.” sahut Taehyung dengan sedikit berat hati, ia juga melirik ke arah arlojinya.

“Kita bisa membicarakan hal ini di kantin sekolahmu, aku tidak akan mengajakmu pergi. Soal bel masuk, biar aku saja yang bertanggung jawab atas keterlambatanmu. Karena aku harus membicarakan ini padamu.” jelas Yoo Min cepat.

Taehyung mengenduskan napasnya dan mengangguk. Seketika Yoo Min bisa mengulas sebuah senyum tipis karena lega. Setelah setuju akan hal barusan, mereka berdua berjalan menuju meja kantin sekolah tersebut. Mereka duduk berhadap-hadapan sekarang. Meskipun sudah duduk, Yoo Min tak kunjung membuka mulutnya. Wanita itu sedikit bergelut dengan pikiran cemasnya.

Karena tidak mau membuang waktu lebih lama, Taehyung berdeham pelan. Lalu, mencoba mengajak bicara Yoo Min dengan nada yang ia usahakan untuk sopan. Sesopan yang ia bisa.

“Ehm… Noona tadi katanya ingin membicarakan sesuatu? Bicaralah sekarang,” ujar Taehyung dengan sedikit hati-hati, namun tidak menghilangkan suara beratnya. Suara berat yang terkesan dingin itu.

Yoo Min menatap Taehyung nanar, “Begini… Karena aku merasa kau sangat dekat dengan Hye Min, maukah kau membantuku untuk mencari… Hye Min?”

Tatapan datar Taehyung berubah seketika. Permintaan Yoo Min yang membawa nama Hye Min membuat jantungnya mencelos. Tubuhnya terasa tegang dan telapak tangannya berkeringat. Ia pun menggulung tangannya menjadi kepalan tangan. Ia menatap Yoo Min yang juga menatapnya.

“Me… memangnya apa yang terjadi pada Hye Min?” tanya Taehyung berhati-hati. Bibirnya terasa kaku ketika bertanya hal itu.

“Aku juga tidak tahu. Kemarin malam, ia menjerit minta tolong di kamarnya. Aku hendak menyelamatkannya, namun pintu kamarnya terkunci dari dalam. Aku sudah berulang kali meneriakinya untuk memastikan bahwa ia tak apa. Memang ia selalu menyahutiku, tapi pekikan suara melengkingnya terus bergema. Ia juga sempat menjerit kesakitan dan pada akhirnya suaranya terdengar seperti dibungkam,” jelas Yoo Min yang berhenti sejenak untuk mengambil napas.

“Ketika aku berhasil membuka pintu kamar Hye Min, ia sudah tidak ada. Pecahan kaca dimana-mana. Aku tidak tahu ia pergi kemana dan diculik siapa. Jendela kamarnya terbuka lebar. Tak hanya itu, ia pergi menyisakan darah basah yang menjadi noda di selimut dan tempat tidurnya…” Yoo Min kembali berhenti menjelaskan semuanya. Ia menunduk dan mulai menangis kecil.

Isakan wanita muda itu terdengar oleh Taehyung. Laki-laki itu menjilat bibirnya sedikit dan mengenduskan napas. Ia teringat kembali terhadap mimpi yang kemarin malam. Apa itu adalah tanda bahwa Hye Min dalam bahaya, lalu benar-benar pergi? Batin Taehyung merasa sangat mencelos jika itu benar-benar terjadi.

“Noona…” panggil Taehyung pelan.

“Aku tidak tahu harus apa lagi. Aku terus memanggil namanya tanpa henti. Tidak ada sahutan darinya. Aku tidak tahu ia pergi kemana. Aku takut ia diapa-apakan dan dibunuh oleh penculik atau yakuza yang keji…” ujar Yoo Min serak. Air matanya terus mengalir deras hingga membasahi pipinya.

“Noona, aku tidak tahu harus berkata apa… Tapi, aku akan berusaha untuk mencarinya.” ujar Taehyung yang mencoba menenangkan Yoo Min.

“…” Yoo Min masih tenggelam dalam isak tangisnya.

“Noona, berhentilah menangis. Noona hanya perlu berdoa agar Hye Min baik-baik saja. Aku akan mencarinya sampai ketemu dan membawanya pulang,” ujar Taehyung sekali lagi. Kini, keringat dingin telah membanjiri pelipisnya.

Yoo Min mengangguk dengan hidung yang memerah. Ia mengelap air matanya dengan sapu tangannya. Ia menatap Taehyung dengan tatapan sendu nan teduh. Hidungnya terlihat sangat merah karena menangis semalaman.

“Sebelumnya, aku minta maaf akan permintaanku ini. Ini pertama kalinya aku meminta sesuatu kepada laki-laki yang lebih muda dariku. Entah mengapa aku merasa hanya kau yang bisa menemukan Hye Min. Aku juga sudah meminta beberapa detektif untuk mencarinya di penjuru kota,” ujar Yoo Min yang berusaha menghentikan isak tangisnya.

“Itu… tidak masalah. Sesama manusia, tanpa mengenal batasan umur, kita memang harus saling membantu, kan? Noona tenang saja, aku dan Jimin akan mencarinya.” sahut Taehyung.

“Aku… sangat berterima kasih padamu…” ujar Yoo Min dengan sebuah senyum tipisnya. Mendengar bahwa Taehyung bersedia membantu untuk mencari adiknya, ia merasa sebuah beban kecil terangkat sedikit.

“Ya, itu kewajibanku juga, kan? Kewajiban untuk melindungi orang yang aku suka…” ujar Taehyung dengan suara bergumam.

“Apa? Apa katamu tadi?” tanya Yoo Min. Sepertinya wanita muda itu bisa mendengar gumaman suara Taehyung, meskipun tidak terlalu jelas, “Kewajiban untuk apa tadi?”

Taehyung menegakkan tubuhnya. Ia tidak menyangka bahwa Yoo Min akan mendengar gumamannya. Dengan cepat ia menyahut, “Ah! Tidak. Aku hanya bergumam saja.”

“Baiklah kalau begitu,” Yoo Min kembali mengelap wajahnya dan pelupuk matanya perlahan, kemudian bangkit dari tempat duduknya, “Terima kasih sudah menolongku. Kalau ada kabar tentang keberadaan adikku, kau bisa menghubungi ke nomor ini.” Yoo Min meletakan secarik kertas kaku di hadapn Taehyung.

Kartu nama.

Taehyung mengambil kartu nama itu perlahan. Ia menatap kartu nama itu beberapa saat, kemudian kembali menatap Yoo Min, “Ya, aku pasti akan mengabarkannya.” ujarnya tipis dengan senyum yang dipaksakan.

“Ya. Sekali lagi, terima kasih.” ujar Yoo Min dengan senyum yang sedikit lebar dari sebelumnya. “Kalau begitu, aku pergi. Sekali lagi, terima kasih!”

Taehyung hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala yang canggung. Yoo Min pun membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Taehyung. Suara ketukan sepatu hak sedangnya masih terdengar di telinga. Taehyung tak bisa mengalihkan pandangannya sampai suara ketukan sepatu Yoo Min itu benar-benar menghilang dari pendengarannya.

Ketika suara ketukan itu sudah tidak terdengar lagi, Taehyung mengembuskan napasnya perlahan. Ia menatap kartu nama pemberian Yoo Min lamat. Ia kembali mengendus, lalu menopang dahinya.

‘Aku tak menyangka bahwa mimpi itu akan terjadi secepat ini…’

///

Bel istirahat berdering hingga memekik telinga. Taehyung mengepalkan tangannya erat dan beranjak dari tempat duduknya secara asal. Ia tidak perduli pinggulnya terbentur mejanya atau meja orang lain. Teman sekalasnya pun hanya bisa menatapnya melongo kebingungan. Tak ada satupun yang tahu penyebab tatapan dan sikap Taehyung yang sangat dingin itu. Laki-laki itu berjalan dengan tatapan dingin yang begitu menusuk. Tak ada yang berani menyapanya seperti biasa.

Ia mengepalkan tangannya erat ketika melihat Namjoon bersama teman-temannya berjalan dengan suara tawa ria. Sorot mata Taehyung semakin mendingin dan tajam. Tanpa basa basi, ia berjalan menuju kawanan Namjoon. Tepat di depan kawanan itu, Taehyung langsung narik kerah Namjoon dan mendorongnya ke dinding keras, sangat keras.

Bruk!

Semua mata tertuju pada Taehyung dan Namjoon. Namjoon yang terkejut akan apa yang dilakukan Taehyung, hanya bisa mencengkram tangan Taehyung yang juga mencengkram kerah bajunya. Seketika tempat itu dipenuhi oleh siswa-siswi yang hendak berlalu lalang. Mereka semua menonton apa yang dilakukan Taehyung itu dengan tatapan bingung.

“Kau kemanakan Hye Min?” tanya Taehyung dingin.

Namjoon menatap sekitar sekilas dengan dahi yang mengerut. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Taehyung dari kerahnya, “Lepaskan tanganmu dahulu, baru aku akan menjawabnya…”

Taehyung semakin mengencangkan cengkraman dan mendorong Namjoon ke dinding semakin kencang, “Kau hanya perlu mengatakannya.”

Tatapan kebingungan para siswa dan tatapan terkejut para siswi menghiasi adegan itu. Beberapa siswi menutup mulutnya tidak percaya dengan sikap Taehyung yang tiba-tiba itu. Apalagi, Taehyung dengan beraninya mencengkram kerah seniornya tanpa merasa bersalah.

“Aku tidak bisa memberitahunya disini. Jadi lepaskan tangan terlebih dahulu, leherku sudah tercekik!” ujar Namjoon yang mencoba menarik-narik untuk melepaskan cengkraman itu.

Taehyung mendengus remeh. Ia pun mulai melepaskan tangan dari kerah baju Namjoon perlahan-lahan. Karena banyak tatapan ingin tahu dari para siswa, Taehyung menatap sekitarnya dingin, kemudian berkata, “Kalian sedang melihat apa?”

“Ah! Tidak. Semoga urusan kalian selesai sebelum Guru Noh mengetahuinya.” ujar salah satu siswa laki-laki ragu, kemudian melangkah pergi. Sepertinya, laki-laki itu adalah teman kelasnya Namjoon.

Setelah laki-laki itu yang berujar itu pergi, siswa-siswi yang menyaksikan itu ikut membubarkan diri. Seperti biasa, namanya perempuan pasti akan membicarakan sesuatu tentang apa yang ia lihat dengan teman-temannya tanpa henti.

Namjoon merapikan kerah baju serta simpul segitiga dasinya yang sempat teremas oleh cengkraman Taehyung. Ia berdeham pelan dan mengembuskan napasnya. Ia mengisyaratkan Taehyung untuk segera mengikutinya dengan gerakan kepalanya. Dengan tatapan dingin laki-laki itu, Taehyung mengikuti langkah kaki Namjoon dengan tangan yang masih terkepal erat.

Di taman belakang sekolah inilah mereka berdua berhenti melangkah. Taehyung menatap sekitarnya bingung. Namjoon membalas tatapan bingung itu dengan sebuah dengusan napas lelah. Laki-laki itu mulai berjalan mendekati pilar tua yang masih kokoh namun sudah berlumut itu. Namjoon menatap pilar tua itu dengan bahu yang mulai menegak.

“Dimana Hye Min?” tanya Taehyung, meskipun ia bingung kenapa Namjoon menatap pilar tua tersebut begitu serius.

“Dia ada di seberang pembatas pilar tua ini.” balas Namjoon cepat. Ia menunjuk pilar tua itu dengan kedua mata yang menatap Taehyung.

“Hah?! Maksudmu…” ujar Taehyung tidak percaya. Ia menatap pilar tua itu beserta hutan rindang yang menjadi latarnya.

Hutan itu memang di-isolir oleh pihak sekolah semenjak tragedi hilangnya 5 orang siswa yang seharusnya menjadi sunbaenya sekarang ini. Hutan itu di-isolir ketika Taehyung menjabat menjadi siswa baru di sekolah ini. Semenjak hilangnya 5 siswa itu, sekolahpun menambal pilar-pilar tua itu dengan tambahan beton dan semen untuk memperkokoh.

“Ya, ia ada di dalam hutan itu. Hutan itu adalah tempat persembunyian makhluk yang lahirnya kurang beruntung. Bisa dibilang, ketika kau masuk ke dalam sana… sangat sulit untuk menemukan jalan keluar. Semua teman-temanmu juga dibawa ke sana. Oleh karena itu, mereka hanya bisa muncul ketika Yoongi sedang mempermainkan soul mereka. Hutan ini… adalah hutan yang hilang.” jelas Namjoon perlahan, ia kembali menatap pilar tua itu dan hutan rindang secara bersamaan.

“Kenapa kau membawa Hye Min ke sana?!” tanya Taehyung keras.

“Aku tidak membawanya. Justru, aku yang ingin membawanya kembali ke sinibersama teman-temannya. Sayangnya, aku tahu kalau aku sendirian pasti aku akan kalah di sana. Yoongi yang membawa Hye Min ke sana ketika gerhana bulan total kemarin malam terjadi… Aku sudah berusaha mengejarnya, namun terlambat…” jelas Namjoon lagi.

“…”

Taehyung menggigit lidahnya pelan dan menatap hutan yang hilang itu benci. Ia semakin mengepal eratkan tangannya. Rasanya ia ngin segera melompat melewati pilar-pilar itu, dan mencari semua teman-temannya, serta Hye Min.

“Hutan ini terisolir oleh hawa mistis Yeowang. Oleh sebab itu, sering kali ada orang yang mati tanpa kejelasan yang tepat. Di hutan ini juga seringkali terlihat gadis cantik bergaun putih anggun serta kuda putih yang berkeliaran dengan bebas di saat gerhana matahari ataupun gerhana bulan,”

Taehyung mulai melemaskan kepalan tangannya secara perlahan. Ia mendengarkan penjelasan Namjoon dengan saksama, meskipun tampangnya terlihat tak acuh.

“Dulu, aku juga bagian dari ‘mereka’. Namun setelah tahu target mereka adalah gadis yang tidak bersalah, aku memilih untuk menjaga gadis itu. Gadis yang bernama Ahn Hye Min itu. Aku kira ketika aku pergi untuk menjaga Hye Min, mereka akan membatalkan rencananya dan menyerah. Pada kenyataannya, Yoongi dan Se Jung langsung turun dan menghantui kalian. Satu per satu dari kalian mati begitu saja. Dan… apa kau sudah tahu Dokter Jung itu?”

Taehyung memiringkan kepalanya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Apa yang diujarkan Namjoon membuat titik kesalnya perlahan-lahan naik.

“Ia adalah Se Jung. Dokter Jung yang sebenarnya sudah dibunuh Se Jung, lalu roh serta jasadnya di kunci dalam hutan yang hilang ini. Ada kemungkinan mereka masih hidup. Hanya saja, kita tidak bisa bertemu dengannya. Oh ya, aku minta maaf akan hal yang akan aku sampaikan ini…”

“Tak apa, penjelasanmu membuatku bisa memikirkan rencana untuk menyelamatkan semua orang yang terjebak di dalam sana…” balas Taehyung dingin.

“Bukan. Ini menyangkut Jimin.” sela Namjoon cepat.

“Jimin?” tanya Taehyung dengan kerutan dahi yang rapat.

“Ya. Maafkan aku, aku tidak berhasil menyelamatkannya juga. Ia mati di hadapanku. Jasadnya menghilang bersama angin yang perlahan merubah tubuhnya menjadi pasir.” jelas Namjoon perlahan.

Kepalan tangan Taehyung yang sudah melemas itu kembali mengerat. Rahangnya mengeras, serta geretakan giginya terdengar. 1 orang kembali dibawa ‘kabur’ oleh orang-orang yang keji itu. Kelenjar adrenalin Taehyung meningkat drastis sekan-akan membuatnya tidak bisa bernapas. Rasa benci dan kesalnya semakin menjadi.

“Sunbae, bisa kau bawa aku masuk ke dalam sana?” ujar Taehyung begitu saja. Ia ingin menyelesaikan hal ini segera. Lalu, membawa teman-temannya kembali pulang ke keluarga mereka.

Namjoon menoleh dan menatap Taehyung tidak percaya. Kemudian tatapan itu itu berubah menjadi senyuman, “Aku bisa membawamu ke dalam saja… hanya saja… aku tidak yakin kalau kita bisa menemukan semua teman-temanmu dan Hye Min…”

“Tak ada salahnya untuk mencoba, kan?” selas Taehyung cepat. Laki-laki itu melangkahkan kakinya mendekati pilar tua berlumut itu, kemudian menyentuhnya dengan tangan yang masih berbalut perban putih itu, “Aku akan berusaha. Karena hanya aku satu-satunya yang tersisa, kan?”

Namjoon menatap tangan Taehyung berbalut perban putih dan sedikit bercak merah. Namjoon menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan taehyung.

“Baiklah…” ujar Namjoon.

///

Hye Min bangun dari lelapnya. Rasa perih menyertainya dibagian tangan dan tenggorokanya. Ia membuka matanya perlahan-lahan dengan suara ringisannya. Ia terlelap dengan posisi terduduk bersandar disebuah dinding batu gelap yang lembap. Gadis itu menerjapkan mata berkali-kali, kemudian menatap sekitarnya bingung. Asing. Apa yang lihat saat ini sangatlah asing dimatanya. Seperti, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini.

Ia menatap sekujur tubuhnya dengan bingung. Tubuhnya bukanlah berbalut dengan piyama yang ia gunakan, melainkan gaun putih polos selutut. Serta, kaki tanpa alas. Ia menatap lurus ke depan dan di sana terlihat bayangan besi yang menancap. Ia baru menyadari bahwa dirinya berada dalam jeruji besi yang mengerikan. Ia mencoba bangkit dari posisi duduknya, namun tak bisa. Kaki kirinya seperti tidak bisa menanggung bebannya sendiri.

Hye Min berdiri dengan badan yang tidak seimbang. Ia memengangkat poninya ke atas dan mengedarkan pandangannya ke penjuru arah. Kedua matanya berhenti ketika sekelompok manusia menatapnya. Karena terkejut, Hye Min kembali terduduk dan memejamkan matanya. Sekelompok manusia itu mulai mendekati Hye Min.

“Tidak! Menjauhlah dariku!” ujar Hye Min yang berteriak ke takutan.

Sekelompk orang itu terus mendekatkan diri menuju Hye Min. Ketika sudah berada di dekat Hye Min, salah satu dari mereka mengulurkan tangan untuk menyentuh Hye Min. Namun, Hye Min menepisnya sangat keras dan terus beteriak ketakutan.

“Jangan sentuh aku!” ujar Hye Min takut.

“Hye… Hye Min-ah ini aku…” ujar orang yang hendak menyentuh Hye Min.

Suara yang sangat familiar di telinga Hye Min. Suara seorang gadis yang pernah berdengung setiap hari. Hye Min menghentikan rontaan dan tepisannya, kemudian mencoba membuka matanya perlahan-lahan. Rasa terkejut dan haru yang luar biasa langsung menghinggap di dalam batinnya. In Hyong, Eun Soo, Dokter Jung, Jimin, Gong Pyo, Mi So, dan yang lain tengah menatapnya bingung.

“Ka… kalian… kalian masih hidup?” ujar Hye Min yang berbicara dengan mulut yang tertutup.

In Hyong tersenyum manis dan mengangguk, “Ya, kami tidak mati. Kami hanya dikurung di sini.”

Hye Min tak kuasa menahan tangisnya. Gadis itu langsung menghambur ke dalam pelukan sahabatnya yang menghilang paling utama itu. Gadis itu memeluk In Hyong erat. Dokter Jung yang sebenarnya pun mengelus kepala gadis itu lembut dengan sebuah senyum terharu. Tak mau ketinggalan, Eun Soo juga memeluk kedua sahabatnya itu. Tapi, Jimin… Ia gengsi untuk mendekati 3 orang yang tengah berpelukan sekaligus itu. Jadi, ia hanya duduk di dekat Dokter Jung sambil menggaruk-garukkan kepalanya tidak jelas.

“Aku kira kalian sudah mati!” ujar Hye Min yang mulai terisak.

“Tidak. Sudahlah, kami hanya harus keluar dari sini saja.” ujar Eun Soo yang ternyata mulai menitihkan air matanya.

Sesaat dalam jeruji besi asing itu hanya terdengar sesayup isak tangis saja. Dokter Jung melemparkan tatapannya kepada Jimin kemudian memberikan sebuah isyarat. Namun, Jimin menggelengkan kepalanya menandakan bahwa ia canggung untuk ikut melepas rasa harunya juga. Apalagi, ia laki-laki sendirian diantara 3 orang yang tengah berpelukan itu. Namun, Dokter Jung memaksakanya. Pada akhirnya, Jimin mengembuskan napasnya dan mulai mendekati 3 teman dekatnya itu.

“Hye Min-ah…” panggil Jimin pelan.

Hye Min menghentikan isak tangisnya dan melepaskan pelukannya. Ia mengelap air matanya yang telah membasahi pipinya itu. Gadis itu menatap Jimin yang sedikit berbayang karena pelupuk matanya masih tertutupi buliran air matanya.

“Ji… Jimin… kenapa kau bisa ada di sini juga? Ba-bagaimana bisa?” tanya Hye Min bingung.

Jimin menatap bola mata Hye Min yang berair itu dalam, kemudian sebuah sunggingan senyum menghiasi, “Beberapa lama sebelum kau masuk ke jeruji ini, aku juga dikirim ke sini. Aku… aku terjebak di atap dan laki-laki yang bernama Yoongi itu menjebakku dengan roh In Hyong…”

In Hyong langsung menundukkan kepalanya merasa bersalah. Ia ingat bagaimana rohnya dikendalikan untuk menusuk perut Jimin. Padahal jauh di dalam batinnya, ia tidak ingin menusuk laki-laki itu. Ia juga jadi ingat betapa menyeramkan sosoknya ketika menghantui Eun Soo di laboratorium IPA saat itu. Semuanya itu bukan berdasarkan keinginannya, melainkan Yoongi memainkan rohnya begitu saja.

“Maafkan aku. Saat itu, aku dikendalikan oleh laki-laki itu secara paksa…” ujar In Hyong pelan.

“Ah! Sudahlah. Itu juga bukan keinginanmu, kan? Tak usah dipikirkan lagi.” ujar Eun Soo yang menepuk punggung In Hyong pelan.

“Dan, kenapa Dokter Jung bisa disini? Bukankah…” ucapan Hye Min menggantung karena di sela oleh Dokter Jung cepat.

“Saya di‘bunuh’ oleh seorang gadis manis beberapa hari setelah merawatmu yang mengalami keretakkan tulang itu.” sela Dokter yang berumur kira-kira 24 tahun itu cepat.

“Ba…bagaimana bisa…” ujar Hye Min bingung. Baiklah, penyebab orang-orang yang disekitarnya meninggal berbeda-beda. Itu membuat semakin banyak pertanyaan dipikirannya.

“Entahlah, saya tidak begitu ingat dengan jelas.” ujar Dokter Jung.

Ditengah banyak pertanyaan yang Hye Min lontarkan itu, tiba-tiba terdengar sebuah decitan pilu besi yang di seret. Suaranya begitu memekik telinga. Semuanya menuntup telinganya rapat-rapat dan memejamkan matanya. Tepat ketika Hye Min membuka matanya, Se Jung tengah berdiri di hadapannya. Gadis itu berdiri dengan senyum licik menghiasi wajahnya dan berkacak pinggang santai.

In Hyong, Eun Soo, dan Jimin memundurkan dirinya secara bersamaan. Se Jung terlihat puas melihat Hye Min yang sudah berada di ‘perangkap’nya. Gadis manis itu melangkahkan kakinya mendekati Hye Min. Lalu, ia membungkukkan badannya. Ia menatap semua orang yang ada di sana dengan licik.

Kemudian ia menegakkan badannya lagi sambil berkata, “Sebentar lagi kau akan ikut denganku.”

///

Namjoon dan Taehyung berjalan memasuki ke hutan itu. Tak ada cahaya lampu di sana, kecuali sinar matahari yang masih sanggup menelusup masuk ke dalam hutan itu. Karena hutan itu adalah ‘rumah’ lama Namjoon, secara tiba-tiba bola mata Namjoon berubah menjadi mengkilat. Tetapi, Taehyung tidak menyadarinya.

Mereka berdua berjalan dalam diam, yang terdengar hanyalah suara gesekan sepatu dengan dedauan kering yang mereka injak. Hawa hutan itu terasa aneh dan asing, serta suhu udara yang dingin. Sepertinya, hutan ini sangat pantas untuk di-isolir.

“Aku kira hutan ini akan dipenuhi kelelawar yang bertebangan ke sana-kemari dengan berisik seperti di manhwa kebanyakan,” ujar Taehyung sambil menatap sekitarnya santai.

“Aku yakin kau terlalu mendalami teori yang di ajarkan Manhwa,” ujar Namjoon yang tatapannya terus menelusup mencari sebuah ‘bangunan’. “Di sini kau tidak kan menemukan kelelawar seperti di Manhwa atau di film-film, tapi kalau arwah ynag hilang itu mungkin saja.”

Mendengar ujaran Namjoon itu, Taehyung merasakan bulu kuduknya meremang. Suhu dingin yang semakin mencengkam, membuatnya harus memeluk dirinya sendiri. Mereka berdua kembali terdiam. Suara gemersik daun kering yang injak lebih terdengar. Taehyung melangkahkan kakinya ke depan, namun tatapannya tidak ke depan sama sekali. Ia tak henti-hentinya menoleh ke segala arah untuk memastikan lingkungan hutan ini ‘aman’.

“Itu di sana!” ujar Namjoon yang menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba.

Taehyung menoleh ke arah yang tengah ditatap oleh Namjoon. Sebuah bangunan tua yang sudah berdiri miring bahkan mendekati kata hancur. Taehyung melemparkan sebuah tatapan tanya ke arah Namjoon. Ia merasa tak yakin Hye Min dan teman-temannya yang lain berada di dalam bangunan itu.

“Ayo kita harus cepat!” ujar Namjoon dengan suara mendesis, namun terdengar tegas.

Namjoon melanjutkan langkahnya lebih cepat. Taehyung langsung mengikuti Namjoon dengan langkah yang tak kalah cepat. Sepertinya langkah mereka saat ini tidak pantas untuk disebut berjalan, seharusnya disebut berlari saja.

Tak berapa lama, mereka sudah berdiri di depan pintu kayu tua. Jarak mereka berdiri dengan pintu kayu tua itu hanya 7 meter saja. Namun, Namjoon kembali menghentikan langkah kakinya. Dengan terpaksa, Taehyung menghentikan langkah kakinya juga. Ia menatap Namjoon kesal dan jengkel. Sebentar berhenti, sebentar berlari, siapa yang tidak jengkel dengan hal itu?

“Ayo! Kau bilang kita harus cepat, tunggu apa lagi?!” ujar Taehyung jengkel. Tanpa menghiraukan Namjoon lagi, Taehyung melangkahkan kakinya menuju pintu kayu itu.

Baru beberapa langkah ia mendekat, tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan senyum miring yang senang di hadapan Taehyung. Dengan segera, Namjoon menjajarkan dirinya di sebelah Taehyung dan menatap sosok itu benci. Karena sosok itu tidak terkena pantulan sinar matahari, Taehyung tidak dapat melihatnya dengan jelas.

Taehyung memundurkan langkahnya sedikit. Namun, Namjoon menahannya. Jadi dengan terpaksa, Taehyung kembali menjajarkan dirinya. Laki-laki itu berjalan semakin dekat hingga berhenti dibawah sinar matahari yang bisa menerobos rimbunnya hutan. Taehyung bisa melihat sosok laki-laki itu jelas sekarang. Yoongi tengah menatap mereka dengan senyum miringnya.

“Selamat datang kembali di rumahmu, Kim Namjoon.”

To Be Continue

Author’s Corner :

Sampai sejauh ini, ada yang mau ditanyakan? /Haha. Semoga suka~🙂

About fanfictionside

just me

27 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 15

  1. FIRST COMMENT KAH? YEAY~ HIHI. OMEGATT THOR!! DEMI APA DI PART INI GUE DUGEUN DUGEUN BACANYA, FEEL DEGDEGAN NYA DAPET BANGET, SERIUS DI PART INI GAK NYANGKA BENERAN. TERNYATA JIMIN MASIH HIDUP, KYAAAA! THANKS BANGET THOR, LAF LAF BUAT AUTHOR(?) HEHE. THOR, TAEHYUNG SAMA HYEMIN JANGAN DIILANGIN YAA, KALO BISA AKHIRNYA ROMANCE GITU, EAAA, BIAR COCWIIT :3 TAPI INI GREGET ASLI, TOP MARKOTOP, TAPI TBCNYA KURANG GANTUNG!!! BTW INI NGAPA CAPS JEBOL YA(?)
    AIH, NEXT THOR!! DITUNGGU DENGAN SETIA /CIELAH :3 KEEP WRITING THOR!!! FIGHTING!! :d

  2. OMOOO!!!! seru bangeeettt thooorrr!!!!
    Pas baca cast, liat nama jimin dicoret…………. omoooo!!! Jiminkuuuhh *lebay
    Terus pas baca “aku dan Jimin akan mencarinya.” aduuuuhh itu nyeess bangeeettt!!
    Entah kenapa gak rela banget Jimin mati >,< wkwk
    Dan tap ternyata dia dan yang lainnya masih hidup, horeeeee!!!!
    Aaaahh, penasaraaannn….. cepet lanjut ya thorr!!! Hwaitiiing!^^

  3. Hiaaaaaa *0* makin seru😄 jinjayo…
    thor mau nanya itu temen” hyemi sma dokter jung itu entar kalo udh bisa keluar masih jadi manusia atau itu cma roh mereka ajj yg ketemu hyemi ???
    taehyung keren masa :* whahahah
    thor next chapter ppali juseyo🙂

  4. Huweee kenapaTbc nya nyumpel sih ?
    Ini lagi seru serunya.
    Keren, feelnya dapet banget banget banget. Merinding lo bacanya.

    Next next next !
    Penasaran kelanjutanya🙂

  5. AAAH INI PART YG MENGGEMPARKAN DI MANA PERTARUNGAN BAKALAN DI MULAI , AKU AKHIRNYA BISA BACA DARKSIDE LAGI SETELAH STOP DI PT.9 KARNA UDAH KETINGGALAN JAUH DAN SETENGAH DARI HARI INI GUA HABISIN BACA DARI PT.10-15 DAN IMAGINE GUA JADI KEBAWA SERASA GUA DALAM SITUASII INI CKKK SEMACAM GUA LAGI MAIN PLAY STATION GITU WKS , NEXT CHAPT DI TUNGGU THOR KALO BISA BANYAKIN ADEGAN WAR NYA BIAR GREGET . OH IYA GUA BESYUKUR DAH JIMIN , IN HYONG , EUN SOO , DOKTER JUNG , MI SO , DLL GA BERAKHIR PERANNYA . NICE FF DAEBAKK BIN JJANG DAH THOR *ACUNGJEMPOL

  6. YAAAAAAAAAAA GREAT BANGETTTTTT!!!!
    oh oke mungkin ini berlebihan wkwk. tapi beneran chapter ini bikin excited bgttt. dan itu tbs nya fdghsnjmk serius ya nanggung-_- next chapter please?

  7. HEPI ENDING JUTHEY ;A; KOK BISA INHYONG NGELIAT DIRINYA PAS HANTUIN EUNSOO? EH ITU ADA YOO SONGSAENIMNYA GAK? ;A; ADUH ITU PASTI YOONGI/? ANAK NAKAL KAMU NAK CIUM SINI/g SEJUNG JANGAN DENDAMAN DONG AKU GASUKA/g
    INI FANTASYNYA NGENA GEULA/? ;A; TBCNYA SINGKIRIN AJA/?
    UYEEEH JIMIN BLUM MATI ;3; AKU PADAMU BEYBEH/abaikan

    next jangan lama-lama thor keep writing ya *-*)9

  8. yeay… Jimin still life!! Haha… Sumpah nie feelnya dpt bnget, mencekam, deg deg duar.. Lg seru2nya eh kok tiba2 TBC. Cpt dlanjut y thor…

  9. ahh makin seruuuu~~~!!!
    suga nyebelin, aku ngebayangin muka sinisnya itu looohh.. duh nyebelin😄
    cieee v sama rapmong aku niye wjmwk
    next next udah ngga sabar

  10. Next part rame nih kaya nya ..
    Author ntar nya happy ending ya, inget loh ya aku cuma minta happy ending kgak minta cepet2 ending.😀

    V sama RapMon fighting!!! ㅋㅋㅋㅋ😄

  11. sampai sejauh ini ff nya thor daebak plus menyeramkan, sedikit konflik akhirnya terbongkar juga,namjoon taehyung fighting,untuk thor juga fighting ditunggu juseyo🙂

  12. Ah bener kan dari awal aku ngrasa kalaumereka g m ungkin mati meski rada rragu sihhh xD wkwkwkwk alhamdulilah banget mereka masih hidup , kren thor !!! Dan salam kenal thor aku jga suka anime kok ^^

  13. Aish penasaran stengah jiwa .. Daebak thor next sdh keduga mereka semua gk mati tp yg gk keduga kenape agus jahat pisan T.T ouh .. Feelnya dapet bnget apa lg bacanya diatas jaM 10 malam u,u .. Next

  14. PANASSSSS~ SEMAKIN PANASSSS~ aigoooo~
    Huha… ini bener-bener bikin orang err…. -.- greget gitu. huah, taeyong & namjoon alias rapmon jangan sampe telat deh ;-;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s