FF/ 5TH MARCH/ BTS-BANGTAN/ pt. 3 of 3 (FINAL)


Tittle : 5th March (Hard To Love How To Love)

Rating : 15+

Length : Chapter 3 END

Genre : Sad Romance, School-life, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV ♔ (author tetap) 

Main Cast : Kim Meri (OC), Min YoonGi (BTS) and Jung Hoseok/JHope (BTS).

Other Cast : Bang MinAh (Girls Day), Kim HyunAh (4Minute), etc.

 

***************************************************

IMG_20140518_145035

“Ka..kalian melakukannya?” Tanyaku lagi karena tak kunjung dapat jawaban.

 

MinAh mengangguk lemah. “Beberapa kali” jawabnya.

Hatiku rasanya mau pecah dan sekarang giliran aku yang ingin menangis lalu berteriak sekencang-kencangnya.

 

‘JUNG HOSEOK!!’

 

“Jahat” gumamku.

“Ne?” MinAh menatapku bingung.

“Bukan kau” Jawabku.

 

Kami terdiam beberapa saat sibuk dengan fikiran masing-masing.

 

“Jadi.. apa terjadi sesuatu?” Aku membuka suara.

 

Lagi lagi dia menatapku dengan tampang polosnya yang tersirat kebingungan.

 

“Maksudmu, meri-ssi?” Tanyanya.

 

Aku menelan ludah karena merasa canggung dengan topik pembahasanku.

“Yaa.. kau tahu, Apa setelah itu terjadi sesuatu?”

 

Aku dapat merasakan bahwa dia masih belum menangkap maksudku. Apa dia sebegitu polosnya hingga tidak paham arah pertanyaanku? Demi Tuhan Hope, Apa yang kau lakukan pada gadis sepolos dia?! Batinku.

 

“Apa kau..” aku berdeham sebelum melanjutkan ucapanku “hamil?” sambungku.

 

Dia tersentak mendapati pertanyaanku.

“Ahh.. aniyo. Kami melakukannya memakai pengaman” kilahnya.

 

Apapun Jawabannya yang jelas ini menyakitkan. Seketika pertahananku jebol, hatiku terlalu sakit untuk berlagak sok kuat saat ini. Ini terlalu menyakitkan, mataku sudah sangat perih dan air mata mulai membendung di pelupukku yang hanya dengan hitungan detik sudah membasahi pipiku. Isakkan keluar dari mulutku, aku bekap mulutku untuk meredam isakkan-ku, tapi sayang.. itu malah membuatku semakin merasakan sakit yang kurasakan di dadaku. Bahuku bergetar dan isakkanku yang tertahan semakin terdengar parau dan kelam.

 

‘Kau jahat hope!’

 

***

 

ESOK HARI

5th March

 

“Aku berangkat!” Ujarku sembari keluar dari rumah.

“Ne Josimhae” balas eomma.

 

“Kim Meri!”

 

Aku menoleh ke asal suara yang memanggilku saat sudah diluar rumah. Jelas aku bisa menebak siapa orang itu, Hoseok, sungguh saat yang sangat tidak tepat bertemu dengannya saat ini.

 

Dia tersenyum dan mendekatiku,

“Selamat pagi ucapnya, Selamat ulang tahun meri-ah. Kenapa kau tidak membalas pesan ucapanku?”

 

Dia memang mengirimkanku ucapan tepat pada jam 00.00, tapi aku belum buka pesannya karena aku memang tidak ingin baca kata-kata manisnya.

“Maaf” balasku.

 

Dia sedikit kecewa dengan jawaban singkatku “tidak apa-apa, ayo kita berangkat” ajaknya.

“Tidak usah, aku hari ini mau naik bis saja”

“Wae?” Tanyanya agak bingung “Biasanya tidak apa-apa kita berangkat naik subway” lanjutnya.

“Hari ini aku ingin naik bis, jadi kita tidak berangkat bersama”

“Karena ini ulang tahunmu, yasudah kita naik bis” lagi-lagi ia tersenyum padaku.

“Tidak perlu, sekolahmu jaub jadi kau bisa telat kalau naik bis”

“Bukan masalah, ini kan hari ulang..”

“Kubilang jangan!” Potongku.

 

Dia sedikit terkesiap dengan ucapanku, pasti dia sudah merasakan perbedaan sikapku padanya.

 

“Yasudah, kalau begitu biar aku antar sampai halte bis” ucapnya dengan intonasi lemah.

“Baiklah…hoseok-ah”

 

Dia reflek menoleh kearahku.

“Tidak biasanya kau memanggil nama asliku”

“Apa salahnya menyebut nama asli?” timpalku seadanya.

 

Dia mencoba untuk tersenyum. Kami mulai berjalan menuju halte bis, suasana begitu canggung berbeda dengan situasi biasanya dan tentu penyebabnya karena aku. Setelah perjalanan yang terbilang dekat kami sampai di halte bis dan tidak lama kemudian bis yang akan kutumpangi datang.

 

“Bis-mu sudah datang, meri” ucapnya.

 

Pintu bis terbuka dan beberapa orang di halte mulai masuk

 

“Hati-hati meri-ah, dan.. tunggu” ujar hoseok saat aku sudah mau naik bis. Aku berbalik dan melihat dia yang sedang merogoh kedalam tas-nya.

 

“Ini..ambillah. Ini hadiah ulang tahunmu, aku tahu ini tidak mahal tapi..ini tulus dariku, semoga kau suka” ucapnya sembari menyodorkan hadiahnya padaku.

 

Aku menghela nafas berat.

“Jung Hoseok” ucapku lugas “mulai besok kau tidak perlu mengantarku lagi, kita tidak perlu bertemu lagi.. maaf aku tidak bisa menerima hadiahmu” setelah mengucapkan itu aku langsung menaiki bis.

 

Bis mulai berjalan. Tidak seperti di film atau di Drama yang pemain utama pria akan mengejar bis yang ditumpangi wanita-nya. Hoseok hanya diam terpaku di halte tanpa bergerak sedikitpun.

 

 

***

 

“Selamat pagi” sapa meri lemah sembari duduk di kursinya.

 

“Ada masalah, Kim Meri?” Tanya jimin yang melihat tampang kusut meri.

“Hanya sedang bad mood, ketua kelas” jawab meri tanpa menoleh ke arah jimin yang duduk di belakangnya.

Bad mood tidak membuat kau tidak bisa menyapu kan?” Tanya jimin.

 

Meri yang merasa aneh dengan pertanyaan jimin otomatis menoleh ke arah pria itu.

“Apa maksudmu, ketua kelas?”

“Sekarang giliranmu piket, kau bisa memulai bersih-bersihnya sekarang”

 

Meri mengerutkan dahi.

“Maaf ketua kelas, sepertinya kau sudah keliru. Baru kemarin aku piket”

“Jadwal piket baru saja diubah” balas jimin tenang sembari memperlihatkan selembar kertas yang tertera judul Jadwal Piket 12A “Bersihkan sekarang” suruh jimin dingin.

“Ne..” jawab meri lesu.

 

“Tidak sopan” gumam meri mengeluh.

 

Meri mulai membersihkan kelasnya. Entah sejak kapan kelasnya jadi begitu banyak sampah.

 

“Yo Kim Taehyung, hari ini kau piket!” Ujar meri pada sosok taehyung yang baru saja masuk kelas.

“Maaf aku tidak bisa, tanganku terkilir kemarin” jawab taehyung sembari memperlihatkan tangannya yang di perban.

 

Meri menghela nafas pasrah “Baiklah, cepat sembuh”

 

Taehyung hanya mengangguk cuek.

 

Meri sedikit terlonjak saat Namjoo masuk kelas, suasana canggung masih meliputi mereka. Dengan modal keberanian yang hanya sebatas jari kelingking meri mendekati namjoo yang sedang duduk di tempatnya.

 

“Namjoo-ah..” panggil meri takut.

 

Namjoo hanya melirik ke arah meri membuat meri meneguk ludahnya.

“Aku minta maaf”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya, maafkan aku”

 

Namjoo terlihat berfikir.

 

“Aku juga sudah mengakhiri hubunganku dengan Hoseok” sambung meri.

“Jeongmal?” Pungkas namjoo.

“Ne” meri mengangguk.

“Aissh, kau pasti sedih” meri berdiri dan mengelus punggung meri.

“Jadi..kau mau memaafkanku?”

“Tentu, aku akan memaafkan kebodohanmu, Kim Meri” jawab Namjoo.

“Terimakasih” meri tersenyum.

“Yasudah lanjutkan bersih-bersihmu” ujar namjoo kemudian.

“Kau tidak berniat membantuku?” Tanya meri ragu.

“Tidak mau, aku malas” jawab namjoo cepat.

 

Meri hanya mendengus lemah lalu mulai membersihkan kelasnya.

 

~BEBERAPA JAM KEMUDIAN~

 

“Baiklah jam pelajaran saya sudah selesai, tolong dihapus papan tulisnya” ucap Mr. Nam “hmm..Sungjae yang piket hari ini, tolong dihapus” tambahnya.

“Ne saem” jawab sungjae hormat.

 

“Saem, sungjae tidak piket hari ini” ujar meri.

“Dia piket, tertulis di jadwal piket”

“Tapi bukankah jadwal piket sudah diubah?”

“Diubah? Tidak, masih seperti yang lama, Kim Meri” jawab Mr. Nam.

“Ta..tapi..”

“Ada yang salah, Kim Meri?”

“Aniyo saem, jweseonghaeyo”

 

Meri mengalihkan pandangannya ke teman-teman sekelasnya yang seketika membuang muka dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Meri menoleh ke jimin yang duduk dibelakangnya, jimin langsung menyibukkan diri menulis sesuatu dibukanya.

 

“Selamat ulang tahun, Kim Meri” bisik taehyung yang duduk disamping jimin.

“Hah! Aku benci kalian” desis meri kesal melihat taehyung yang membuka perban tangannya “pembohong” lanjutnya.

 

***

Pukul 8 malam.

 

Meri yang baru saja pulang dari Les komputernya berjalan sendirian pulang menuju rumah.

 

“Ulang tahun macam apa ini?” Gumam meri “Hari ini adalah pengalaman sekolah dan ulang tahunku yang terburuk, aku di kerjai habis-habisan. Aigoo~ kalau tahu begini lebih baik tadi aku tidak usah sekolah”

 

Langkah meri berhenti saat mendapati hoseok sudah di depannya.

 

“Mau apa kau?” Tanya meri.

“Ada apa sebenarnya denganmu, Kim Meri? Apa salahku? Kenapa kau memutuskan hubungan tiba-tiba?”

 

Emosi yang sempat meri lupakan seketika kembali menguap karena melihat Hoseok.

“Wae? Dulu kau juga melakukannya padaku”

“Kau kenapa membahas itu? Kenapa kau berubah?”

“Sudahlah, lebih baik kau kembali pada MinAh”

“Jadi sekarang kau membahas dia? Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya! Atau karena kejadian di Mall tempo hari?”

“Hope..sudah cukup, tidak ada yang harus dibahas”

 

Meri mulai melangkahkan kakinya melewati hoseok. Hoseok menahan pergelangan meri dan membuat meri menghadapnya.

 

“Jangan seperti ini, kalau ada masalah bilang! Sejak kapan kau menjadi kekanak-kanankkan begini? Kita sudah dewasa, tidak bisakah kita bicara baik-baik?”

 

“Aku tidak mau!”

“Meri!”

“Hope!!”

 

“Aku memanggilmu Hope, karena aku selalu berpikir kau adalah satu satunya harapanku. Bahkan saat kau meninggalkanku demi gadis itu…” meri memberi jeda dalam ucapannya agar pertahanannya tidak roboh “kau masih harapanku” lanjut meri agak tercekat.

 

“Sudah berapa kali kubilang alasanku..”

“Aku tidak butuh alasanmu!” Potong meri cepat.

 

“Aku tidak ingin dengar alasan itu lagi, aku sudah muak. Aku lelah, hope. Aku lelah!” Seru meri bersamaan dengan itu Air mata terjun begitu saja dari pelupuk matanya.

 

“Aku lelah menjadi gadis baik…gadis bodoh, gadis buta, dan gadis tuli” tambah meri, yang kini sudah berderai air mata.

 

“Meri…” hanya itu yang dapat keluar dari mulut hoseok.

 

“Kau paham maksudku, hope?” Tanya meri dengan menaikkan intonasi suaranya.

 

“Gadis baik yang merelakan pria yang dicintainya demi alasan membantu gadis lain” Meri tertawa pahit mengejek betapa menyedihkan dirinya “Aku telah banyak berpikir, mengapa aku begitu bodoh menyetujui permintaanmu? Aku dan kau sama sama sibuk memikirkan perasaan gadis itu, tapi tidak ada yang memikirkan bagaimana perasaanku, bahkan diriku sendiri mengabaikannya. Selama ini telingaku tuli pada perkataan orang lain mengenai hubunganmu dengannya, dan mataku ikut buta dengan kenyataan itu” papar meri, dadanya kini naik turun menahan emosi.

 

“Maafkan aku, aku memang jahat padamu. Aku pria bodoh dan tidak berguna, tapi sungguh perasaanku padamu tulus. Mungkin perasaanku sempat terbagi untuk MinAh, tapi yang kucintai hanya kau meri” balas hoseok sungguh sungguh.

 

“Jangan beri aku harapan lagi, hope. Sudah cukup” jawab meri.

“Mer..”

 

Meri melangkahkan kakinya selangkah kebelakang.

 

“Asal kau tahu Setiap hari aku tersiksa merindukanmu!” seru hoseok mencoba meyakinkan.

 

Meri menggeleng lemah, kini ekspresi wajahnya berubah datar, cahaya dimatanya seakan telah redup.

 

“Meri aku..” belum sempat hoseok menyelesaikan ucapannya meri sudah berbalik mencoba pergi.

 

“Mer!” Hoseok menahan meri dengan mendekapnya dari belakang.

 

Meri dapat merasakan deru nafas hoseok yang hangat dan tidak beraturan tepat di tengkuknya.

 

“Jika kau pergi bagaimana denganku? Aku tahu kau sangat marah dan kecewa” terdengar isakan kecil dari hoseok “kau boleh membalasku dengan memukulku, mengumpatku, atau menjalin hubungan dengan pria lain. Tapi kumohon jangan tinggalkan aku, jangan berhenti mencintaiku, aku berjanji akan meninggalkan MinAh!”

 

Meri memegang tangan hoseok yang melingkar sempurna ditubuhnya, ia mengaitkan kedua jemari tangannya dengan jemari hoseok lalu menuntun tangan hoseok secara perlahan untuk melepas dekapannya, meri membuat dirinya dan hoseok kini berhadapan.

 

Tangan kanan meri memegang puncak kepala hoseok, mengelus lembut rambut pria itu.

“Sudah lama aku tidak menyentuh rambutmu” ucap meri lembut.

 

Tiba-tiba Meri memeluk hoseok.

“Kau orang pertama yang memelukku” tambahnya.

 

Baru saja hoseok mau membalas memeluknya, meri sudah melepaskan diri.

 

Meri kembali menatap hoseok secara intens, tangan kanannya menyentuh dahi kemudian beralih ke pipi, bibir, dan berhenti di dagu hoseok.

 

“Kau juga ciuman pertamaku, hope” kemudian meri memegang dadanya “kau orang pertama yang membuat jantungku berdebar, tak bisa kupungkiri kau adalah cinta pertamaku”

 

Hoseok terdiam, dengan sabar ia menunggu ucapan meri selanjutnya.

 

“Kata orang cinta pertama tidak akan berhasil, dan sepertinya… itu berlaku juga untuk kita. Cinta pertama terlalu menyakitkan, dan kau harus menerima rasa sakit itu secara dewasa”

“Meri, bukan kata itu yang kuharapkan darimu. Aku mau kita perbaiki semuanya lalu kita mulai dari awal”

“Kau terlalu menyakitkan untukku, dan sekarang… akupun telah menorehkan luka yang sangat menyakitkan dihatimu. Kita benar-benar tidak bisa bersama, hope” setelah mengucapkan itu meri mundur selangkah, ia berbalik dan berlari pergi meninggalkan hoseok tanpa memberikan kesempatan pada pria itu untuk membalas ucapannya.

 

Seluruh Indera pada tubuh Hoseok seakan lumpuh, bibirnya kelu tidak dapat mengucapkan sepatah kata apapun, bayangan sosok meri yang tengah berlari menjauhinya terasa kabur karena air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

 

Kakinya terasa lemas menahan bobot tubuhnya, ia memukul dadanya yang ia rasakan sangat sakit dan sesak karena nafasnya yang berderu dengan kasar. Tiba tiba tangisnya pecah begitu saja, isakannya sangat menyedihkan dari suaranya yang terdengar serak dan parau. Ia bahkan tidak mempedulikan jika ada orang yang melihat sisi kelemahannya ini. Yang jelas saat ini ia hanya ingin mengeluarkan seluruh rasa perih dihatinya.

 

“Dan.. kau menyerah?” Tanya seseorang yang sontak membuat hoseok terkejut.

 

***

 

“Kim Meri!”

 

Meri menghentikan laju larinya, ia mengalihkan pandangannya ke asal suara yang memanggilnya. Ia mengernyit saat indera penglihatannya menangkap sosok seorang gadis dalam sisi jalanan yang gelap tidak mendapat bias cahaya lampu jalan, berbanding terbalik dengan tempat ia berpijak saat ini yang bermandikan cahaya lampu jalanan.

 

Meri membenarkan letak kacamatanya, ia mengerutkan dahi saat sosok gadis itu semakin dekat dan semakin terlihat jelas.

 

“Bang MinAh..” gumam meri.

 

MinAh tersenyum lembut kepada meri, hanya 2 langkah kaki yang membuat jarak diantara mereka.

 

Meri tetap bergeming, ia masih memandang MinAh seakan menilai maksud gadis itu menemuinya.

 

“Kau melakukannya dengan baik” ucap minah masih dengan senyumnya yang terlihat ramah.

 

Meri menghela napas berat saat mendengar ucapan gadis itu.

 

“Kau memang orang yang baik hati, meri-ssi. I’m so glad, you are an expert” ujar minah riang.

 

Raut wajah meri berubah, ia tidak mengerti maksud gadis dihadapannya.

An Expert?” Tanya meri dengan pronoun yang sangat baik.

“Well.. yang kumaksud tentang hoseok, kau sangat hebat dalam memperlakukannya”

 

Sedetik kemudian wajah polos minah berubah, wajahnya mengeras sedigin es. Kesan ceria dan ramah yang melekat padanya hilang tanpa bekas.

 

“Dengan mudah kau dapat membuat dia sangat bahagia dan sangat mudah bagimu menghancurkannya. Sebenarnya aku iri padamu dapat membuat hoseok seperti itu. Aku ingin memiliki dia sepenuhnya dan sekarang jalanku tinggal selangkah lagi berkat kau. Terimakasih karena sudah melepaskannya” terang minah.

 

Meri mengangguk menahan perih sekaligus sesak di hatinya, hari ini terlalu banyak yang membuat hatinya terluka ia beranggapan kalau efek sakit hati adalah luka fisik, pasti saat ini hatinya sudah terkoyak dan berdarah disana-sini. Meri agak meringis saat menggigit bibirnya karena bibir bawahnya jadi memerah dan tergores.

 

“Jaga hubungan kalian dengan baik, aku ingin melihat kalian bahagia” ucap meri berusaha kuat.

 

Minah tertawa sinis.

“Tidak bisa jika kau terus disisi kami”

 

Minah mendengus kasar lalu menatap meri tepat dimanik matanya.

“Meri-ssi… berjanjilah padaku bahwa malam ini adalah kali terakhir kalian bertemu. Jangan muncul dihadapan kami lagi bahkan walau ia datang menemuimu berpura-puralah membencinya, Buat ia percaya kalau kau sungguh membencinya, jangan pernah saling menghubungi. Kalau perlu menghilanglah” rajuk minah dengan ekspresi yang dibuat buat.

 

Meri tidak habis pikir dengan jalan pikir minah yang menurutnya ‘Such Horrible Think’ baru pertama kali ia diperlakukan seburuk ini oleh manusia. Tangannya mengepal, gemetar menahan emosinya yang seakan sudah merembas keluar karena sudah tidak tertampung lagi. Ia ingin sekali menampar wajah minah hingga mulutnya terluka, menghancurkan senyum palsu gadis itu, menjambaknya hingga akar rambutnya dan mengumpatnya dengan kata kata kasar yang biasa digunakan oleh teman temannya disekolah, kata yang sangat mudah di tuturkan teman temannya.

 

“A..” meri sudah mau mengucapkan sesuatu tapi ia urungkan.

 

Meri mengambil nafas dalam untuk menetralisir perasaannya. Mungkin bagi orang lain jika diposisinya mudah untuk melakukan hal itu, toh.. disini dia yang jadi korban tapi tidak bagi meri, baginya balas dendam hanya akan melahirkan dendam dendam lainnya.

 

“Yak! Gadis ular!” Seru seorang namja.

 

Meri dan MinAh terkejut lalu reflek menoleh ke arah namja tersebut.

 

“Sunbaenim..” gumam meri dengan bola matanya yang membulat karena terkejut.

 

Yoongi terlihat garang, ia mendekati meri dan minah dengan langkah besar. Ia berdiri disamping meri lalu menunjuk minah dengan jari telunjuknya.

 

“Yak Neo! Jaga mulut sampahmu, berani-beraninya kau mengganggu muridku. Meminta hal yang tidak tidak, memang kau siapa menyuruhnya pergi menghilang, huh?” Caci yoongi dengan napas memburu karena kesal.

 

Yoongi mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan makiannya yang belum tamat.

“Awwass kau ya!” Ucap yoongi penuh penekanan di kata ‘Awas’

“Jika kau berani menganggunya lagi, tidak hanya aku yang akan kau hadapi, tapi seluruh temannya akan memotong habis rambutmu! Jadi, pergilah jauh jauh, bawa sekalian pria bodoh yang kau puja itu. Asal kau tahu disekolah banyak namja yang mengejar meri karena kepribadiaanya yang baik, bahkan jika saat ini aku belum punya pacar aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya! Jadi kekhawatiranmu itu hanya perlu kau fokuskan pada namja tak berguna itu” yoongi mengakhiri ucapannya dengan melipat tangannya di dada sembari tersenyum meremehkan.

 

Keringat mengucur dari pelipis MinAh, ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Mulutnya terasa berat untuk membela diri dari cacian yoongi, ia takut karena baru pertama kali diteriaki dan di caci maki oleh namja. Harga dirinya seakan jatuh, bahkan seperti di injak-injak oleh kata-kata yoongi.

 

“Wae? Kau tiba-tiba bisu? Atau Mulutmu tidak berfungsi sama seperti otak dan hatimu?” Yoongi mendengus melihat wajah MinAh yang sudah pucat “Tadi dengan lancarnya lidahmu yang kotor itu menari-menari saat mulut jahatmu menyemprotkan racunnya ke meri!” Cerca yoongi dengan kata kata perumpaan.

 

Lagi lagi yoongi mendengus, ia sangat geram jika mengingat bagaimana menyebalkannya tingkah MinAh menyudutkan meri tadi.

 

“Aissh..jinjja. Kau ini… hanya wajah saja yang cantik. Daya tarik Nol! Pergilah jika tidak mau lebih sakit hati mendengar mulut berbisaku!”

 

Bibir MinAh bergetar menahan air matanya agar tidak keluar. Dalam hati ia bersumpah tidak akan mau bertemu dengan Min Yoongi atau Meri lagi. Tanpa mengucapkan sepatah katapun MinAh berbalik dan berlari pergi.

 

“Haa gadis menyebalkan” erang yoongi. “Hmm…Kukira tadi kau akan menghentikan ucapanku pada gadis itu, tapi aku lega kau tidak melakukannya” tambah yoongi.

“Apa aku termasuk orang jahat jika berterimakasih padamu karena melakukannya?” Tanya meri.

“Syukurlah kau tidak semembosankan itu, karena aku tidak suka dengan orang yang terlalu baik”

“Tapi sunbaenim, apa benar yang kau bilang tadi?”

“Tentang apa?” Yoongi mengernyit.

“Bagian kau akan melakukan segala cara untuk mendapatkanku kalau kau belum punya pacar” meri menyunggingkan senyum jahil.

“Mendekati bocah ingusan sepertimu? Aisssh… jangan mimpi!”

 

“Hahaha Oh ya, Ada apa sunbaenim kerumahku malam-malam? Jangan bilang sunbaenim ingin mengajakku dinner berdua untuk merayakan hari ulang tahunku?”

 

Yoongi meringis.

“Apa kau punya kantung muntah?” Canda yoongi dengan berpura pura mual, lalu mereka tertawa.

 

“Seluruh anggota klub berkumpul dan membuat pesta sederhana untuk ulang tahunmu” terang yoongi.

“Kenapa kau memberi tahuku? Bukankah itu seharusnya jadi kejutan untukku?” Tanya meri polos.

“Aissh… jangan kekanak-kanakan, kau sudah 17 tahun. Kukira kejadian hari ini sudah cukup membuatmu jera dengan kejutan. Apa kau mau dikejutkan lagi?” Yoongi beralih mendongak menatap langit “Kau dengar dia Tuhan? Dia masih menginginkan kejutanmu”

 

“Yak! Ani~ sudah cukup, jika masih ada lagi aku bisa mati” rajuk meri.

 

Yoongi hanya tertawa melihat tingkah meri.

“Dibohongi, sakit hati, Putus untuk kedua kalinya dengan cinta pertama, di labrak gadis gila…hahaha sungguh hari ulang tahun yang mengesankan”

“Aissh, jangan khawatir. Akan kupastikan kau mendapatkan kejutan Saat ulang tahunmu sunbaenim!”

“No thanks, I hate suprise at all!” Elak yoongi.

 

Setelah puas tertawa mereka pergi ke halte bus untuk menaiki bus yang menuju daerah dimana cafe tempat merayakan ulang tahun meri.

 

“Ngomong-ngomong, aku mengajaknya ke pestamu” jelas yoongi.

“Kekasihmu? Wah.. kau membuatku tidak sabar untuk bertemu dengannya”

“Aku juga” jawab yoongi dengan senyumnya yang manis.

“Aissh..sunbae ini kan pacarnya, pasti sudah sering bertemu. Lagipula memang hubungan kalian sudah berjalan berapa lama?”

 

Yoongi merogoh ponselnya lalu menyentuh layarnya. Sedangkan Meri masih bersabar menunggu aktifitas yoongi selesai.

 

“3 Tahun 2 bulan 11 hari dan 14 jam” terang yoongi setelah memasukkan kembali ponselnya.

“Lama juga ya… pasti tidak mudah mempertahankan suatu hubungan, Memulai mudah, mengakhiri sulit, dan menurutku mempertahankan jauh lebih sulit.”

 

“Kau masih saja belum mengerti, meri-ah. Tidak ada yang lebih mudah atau lebih sulit, mungkin bagi beberapa orang memiliki pendapat lain. Tapi bagiku semua terasa sulit, aku dibuat jatuh bangun mengejarnya, 2 tahun lebih aku mencoba meyakinkannya dan itu sama sekali tidak mudah”

 

“A..aku tidak mengerti, kenapa dia sulit sekali membuka hatinya?” Meri menggaruk rambutnya yang tiba-tiba gatal.

 

“Menurutmu kenapa? Jelas Kenyataan pertama bahwa umurku lebih muda darinya, dia selalu menghindariku bahkan dia mengaku menjalin hubungan dengan Suho hyeong, hingga aku mengetahui bahwa sejak SMA ia sudah berkomitmen untuk tidak akan menikah, akhirnya kebohongan hubungan dia dan suho hyeong terungkap, dan itu tidak membuat jalanku mendapatkannya mudah, semua semakin sulit ketika aku mengetahui komitmennya”

YoonGi memberi jeda ucapannya.

“ia selalu membuat komitmennya itu sebagai alasan menolakku, komitmen yang menurutku sangat konyol dan tidak beralasan. Tapi aku tidak menyerah, walaupun saat itu aku terbilang hopeless, ditambah saran dari orang orang sekitarku untuk menyerah, bahkan ada yang bilang kalau ia pencinta sesama jenis. Yang jelas aku juga memiliki komitmen, dan berpegang teguh pada itu”

 

Yoongi menoleh ke arah meri..

“Mulai bosan mendengar cerita cintaku?”

“Tidak sama sekali, tolong lanjutkan sunbaenim” jawab meri.

 

“Membuat keputusan adalah hal sulit, Aku tidak akan mau mundur dan membuat usahaku sia-sia. Itulah komitmenku yang membuatku tidak menyerah dan satu hal lagi yang terus menguatkanku saat itu adalah air matanya. Setiap aku melihat cara ia menatap dan mengeluarkan air mata saat menolak dan mencaciku. Aku tahu ada sesuatu yang ia sembunyikan. Finalnya saat aku jatuh sakit, dia tiba tiba ke apartementku dan menjelaskan tentang penyakit yang ia derita semasa SMA dulu yang mengharuskannya untuk operasi pengangkatan rahim, sehingga dia tidak bisa mengandung” papar yoongi.

 

“Sebagai sesama wanita aku paham perasaannya, setiap wanita memiliki impian menjadi seorang ibu dari anak yang ia kandung sendiri dan ketika harapan itu dirampas, sama saja dengan mati” meri menghela napas sangat dalam “Kau sangat keren, sunbaenim. Entah apa di korea masih ada stock namja sepertimu Hehehe, tapi aku masih penasaran bagaimana kalian meresmikan hubungan kalian? Apa dihari yang sama saat dia ke apartementmu?”

 

“Oeh! Tapi aku tidak melakukan sesuatu hal yang istimewa. Karena kupikir keadaanku yang benar benar drop saat itu adalah hasil dari jeri payahku yang hampir 3 tahun mengejarnya, dan selama itu juga semuanya sudah ku ungkapkan, jadi kurasa dia telah mengerti bagaimana perasaanku padanya”

 

“Lalu hal apa yang kau lakukan?”

“Aku memeluknya dengan erat, lalu aku bilang Aku merindukanmu”

“Merindukannya?? Kenapa kau mengatakan itu?”

“Tidakkah kau pikir satu kalimat ‘Rindu’ yang kuucapkan sudah cukup sebagai tanda bila perasaanku tidak berubah walau telah mengetahui alasannya?”

 

“Kau benar, itu sangat bermakna” meri mengangguk menyetujui.

 

“Bahkan walau hubungan kami sudah terbilang lama, tapi perasaanku tidak pernah berubah. Aku masih merasa kalau Rasa cintaku untuknya tidak tertampung, jantungku masih berdebar kelewat cepat saat bersamanya, perasaan tidak tenang sekaligus takut dengan kemungkinan tiba-tiba dia berubah pikiran, dia berhenti mencintaiku, dia menyukai orang lain, dia bosan atau hal negatif lainnya masih saja terus menghantuiku”

 

Meri bertepuk tangan dan mendecap takjub.

“Kau yang terbaik, sunbaenim!”

 

***

 

@Yeobos Cafe`

 

TENG!

 

Suara denting bel berbunyi saat Meri membuka pintu cafe`.

 

“Yo! Itu mereka!” Seru Namjoo dengan menunjuk ke arah meri.

 

Atmosfer cafe jadi ramai katika pemeran utama yang mereka tunggu telah menampakkan diri.

 

“Meri-ah~” seru mereka.

 

Mereka berbondong berhambur ke arah meri dan menerjangnya dengan berbagai pertanyaan dan ucapan.

 

Yoongi membuka pintu cafe, ia tersenyum melihat semua muridnya tersenyum bahagia, lalu matanya beralih pada sosok gadis yang terdiam berada tidak jauh dari kerumunan yang masih asik bercengkramah.

 

Gadis berambut hitam panjang itu mendekati yoongi, ia tersenyum lembut.

 

“Sudah lama menungguku, chorong-ah?” Tanya yoongi sembari mengecup pipi kanan dan kiri gadis dihadapannya.

“Lumayan, tapi.. aku senang semua muridmu sangat menyenangkan” balas gadis itu tersenyum.

“Sudah kubilang kau akan menyukai mereka”

 

Chorong tersenyum besar menanggapi ucapan yoongi.

“Ayo kita bergabung bersama mereka” ajak chorong sembari menarik lengan YoonGi.

 

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya Namjoo tiba-tiba, yang membuat semua orang mengalihkan pandangannya ke sosok orang yang dituju Namjoo.

“Kau.. mau apa lagi? Apa ucapanku kurang jelas?” Kini meri yang melemparkan pertanyaan pada orang itu.

 

“Aku tidak bisa, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja” jawab hoseok yang entah dari kapan sudah di hadapan mereka.

 

“Tapi bagaimana dengan MinAh? Kau ingin meninggalkannya begitu saja setelah apa yang kau lakukan dengannya?”

“Aku tahu kami sudah bersama cukup lama tapi yang aku cinta kamu bukan dia!” Timpal hoseok.

“Tidak hope, kau tidak boleh meninggalkannya sampai kapanpun”

“Mengapa kau jadi memaksakan perasaanku? Hubunganku dengan dia sudah berakhir dan tidak akan berhasil”

“Setidaknya kau harus tanggung jawab, hope!”

“Tanggung jawab? Apa maksudmu Kim Meri?”

 

“Tanggung jawab? Apa dia.. hamil?” Tanya namjoo ragu.

“MWO?” sentak hoseok.

“Yaa.. aku tahu dia tidak hamil, tapi kalian sudah melakukannya, kau yang..merebut miliknya” meri meneguk ludahnya karena merasa tidak enak mengucapkannya.

“Mworago? Kami melakukan apa? Sebenarnya apa maksudmu Kim Meri?” Hoseok mengacak rambutnya frustasi.

 

“Kau melakukan sex dengannya atau tidak?” Celetuk yoongi yang langsung mendapat jitakan dari chorong.

 

Kaki hoseok terasa tidak bertenaga, dia mendengus lemah lalu ia menjambakki rambutnya. Orang-orang yang melihat tingkahnya hanya memandang aneh sekaligus prihatin.

“Astaga.. Demi Tuhan aku tidak melakukan hal itu!” Ujar hoseok dengan intonasi tinggi, kesabarannya sudah habis karena begitu banyak hal yang membuatnya frustasi hari ini.

 

“Apa MinAh yang bilang begitu padamu?” Tanya hoseok ke meri.

 

Meri yang mulai menyadari ada sesuatu yang salah pada informasi yang ia dapat sedikit takut memandang hoseok. Apa ada kesalah pahaman? Pikirnya.

 

“Ne” jawab meri tanpa berani menatap hoseok.

“Jika aku bilang dia bohong apa kau akan percaya?” Tanya hoseok, wajahnya sudah terlihat sangat lelah “Apa kau mengenalku, Kim Meri? Seburuk itu aku di matamu?” Tambahnya.

 

Namjoo tersenyum miring dan mendengus mendengar perkataan hoseok.

“Meri-ah, jangan semudah it-auuh..” Perkataan namjoo terpotong saat YoonGi menyikut pinggangnya. “Sunbaenim~” bisik namjoo.

“Hush!” YoonGi menyentuh bibirnya dengan telunjuk pertanda diam yang membuat namjoo berdecap kesal.

 

Meri memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya.

“Kau..tidak melakukannya?”

“Tentu saja tidak!” Jawab hoseok cepat.

 

Kini air mata meri mulai turun.

“Maafkan aku hope, maafkan aku”

“Kau mau kembali padaku?”

Meri mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Kalau begitu Permintaan maaf diterima” balas hoseok seraya menarik meri kedalam pelukannya.

 

Semua menyorakki mereka, tepuk tangan yang sangat meriah menjadi pengiring suka cita mereka, tawa dan godaan yang di lemparkan pada pasangan meri-hoseok terasa tidak ada habisnya.

 

“Jangan tinggalkan aku lagi, hope” pinta meri.

“Tidak akan!” Jawab hosoek sembari mengeratkan pelukannya.

 

Hoseok mendekati telinga meri lalu membisikkan sesuatu padanya.

“Saranghae, Kim Meri”

 

And Happily Ever After

 

END

 

 

About fanfictionside

just me

10 thoughts on “FF/ 5TH MARCH/ BTS-BANGTAN/ pt. 3 of 3 (FINAL)

  1. Aaaaaaaaaaaaa akhirnya setelah menunggu lama ff ini dipost juga. Huaaaa hatiku dibuat terguncang guncang (?) nyesek rasanyaa huaa dibikin nangis lagi sama authornyaT_T rasa seneng, gregetan sama minAh, kesel sama hope, benci juga sama minAh karena trnyta dia bohong semuanya jd 1 thor. Aaaaa ff paling keren yang pernah ada!! Ceritanya ngga bisa ditebak. Dikirain putus gitu aja oh hope:'( LOVE BGT THIS FF♥♥♥
    Sayang udh end:'( tapi yey akhirnya happy ending:D hopeMeri bahagia~
    “kata orang cinta pertama tidak akan berhasil” aaaa seperti tau itu katakata^^ btw thanks thor♥♥

  2. ah ff ini bikin nambah kekeuh bikin hoseok jadi bias wrecker aku :(( suka karakternya disini, aku mau dong jadi meri😦

  3. dan pda akhir’a selesai ini ff dgn happy ending stelah melewati problem yg menegangkan dan ckut bkin gemes😀
    DAEBAK thor
    KEREN…

  4. IIHHHH SERUUU BANGEETTTT
    yaampun yoongi sweet banget
    JUNG HOSEOK napeun namja aaaaa kenapa sih dia mau aja sama minah di awal cerita T___T
    but keren endingnya thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s