FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.10 – FINAL


Pt. 10 (My Truely Love)

 

 

Main Cast        :
-Jung Sae Ri (oc)

-Kim Seok Jin (Jin’s BTS)

-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)

-Min Yoon Gi (Suga’s BTS)

Support Cast    :
-Kim Tae Hyung (V’s BTS)

-Park Jimin (Jimin’s BTS)

-Song Hyeri (oc)

-Lee Ga In (oc)

-Kim Namjoon (RapMon’s BTS)

-Jung Hoseok (J-Hope’s BTS)

-Yoon Seo Yoon (oc)

Genre              : Sad Life, Romance, School Life, Comedy

Length             : Multi Chapter (end)

Author             : SunKi

THIS HEART THAT I GAVE TO YOU(10)_P_resized

 

Dengan sisa tenaganya, Seok Jin terus mencoba untuk mengejar ketinggalan. Berapa kali Yoongi berhasil merebut bola dari tangannya dan mencetak angka. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipisnya. Rasa nyeri pada dadanya mulai terasa. Seok Jin sangat ingin mengakhiri permainan yang Yoongi rencanakan untuknya, tetapi ia tak bisa. Yoongi akan memandangnya rendah jika ia menyerah dalam permainan Yoongi.

“HENTIKAAN!!!” aktivitas keduanya terhenti tatkala Sae Ri yang sudah memasuki lapangan dengan wajah merah padam. Keduanya tampak terkejut sekaligus kebingungan dengan kedatangan Sae Ri yang tampak begitu emosi. Tak seperti biasanya.

Meskipun Seok Jin tak mengerti mengapa Sae Ri yang tiba-tiba datang menghentikan pertandingan, ia merasa Sae Ri mengurangi bebannya. Walaupun begitu, ia harus tetap merasakan apa yang ia tak inginkan.

Dadanya terasa sesak. Semakin ia berusaha untuk menghirup udara, semakin pula dadanya berdebar-debar dan semakin terasa nyeri.

“SUNBAE! SEBENARNYA APA YANG ADA DI PIKIRAN MU?HENTIKAN SEMUA INI! KENAPA KAU…!” Pekikkan Sae Ri mulai terdengar samar-samar. Pandangannya juga mulai kabur. Seok Jin hendak meneguk pil nitrogliserin untuk mengatasi semua yang ia kini rasakan. Namun terlambat. Kaki Seok Jin tak kuasa menopang tubuhnya. Ia kolaps seketika. Tubuhnya tergeletak diatas lapangan dengan pil-pil yang berserakan tak jauh dari tubuhnya.

 

*****

Sudah hampir satu jam lebih dokter, perawat beserta asisten dokter yang menangani Seok Jin di ruang UGD tak kunjung keluar. Selama itu pula Sae Ri menunggu dengan harap-harap cemas. Ia sangat berharap jika yang ia takutkan tak akan terjadi.

Yoongi yang juga ikut menunggu di luar ruang UGD hanya bisa diam dan menyesali apa yang telah ia lakukan. Tak ada pembicaraan antara Yoongi dengan Sae Ri. Ia hanya sesekali memperhatikan Sae Ri yang terus mondar-mandir di depan pintu UGD dengan wajah cemasnya.

Tak lama kemudian, dokter yang menangani Seok Jin yaitu Dokter Kim keluar dari ruang UGD. Keluarnya Dokter Kim langsung disambut oleh Sae Ri yang sangat cemas dengan kondisi Seok Jin saat ini.

“Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Mari ikut ke ruangan ku” ajak Dokter Kim. Tak hanya Sae Ri saja yang tampak begitu cemas. Dokter Kim pun juga. Dokter Kim bahkan sempat menghela nafasnya begitu keluar dari ruangan UGD.

“Sae Ri-ah..” Yoongi menarik lengan Sae Ri yang hendak mengikuti Dokter Kim. Namun cepat-cepat Sae Ri menghempaskan tangan Yoongi dari lengannya.

“Aku tak akan memaafkan sunbae jika suatu hal buruk terjadi pada Seok Jin sunbae!” sambil membendung air matanya, ekspresi akan rasa kecewa tampak jelas di wajah Sae Ri. Tanpa menghiraukan Yoongi, Sae Ri langsung berlalu meninggalkan Yoongi.

Yoongi beberapa kali menghantamkan tangannya ke tembok sebagai pelampiasan rasa kesalnya juga rasa penyesalannya tersebut.

 

*****

Air mata tak bisa Sae Ri bendung tatkala ia melihat tubuh Seok Jin yang terbaring lemah di ruangan ICCU. Alat ventilator terpasang pada hidung Seok Jin untuk membantu pernafasan Seok Jin yang belum membaik.

“Untung saja kami bisa membangkitkan kembali fungsi jantungnya. Tapi itu hanya untuk sementara. Sampai saat ini kami belum juga menemukan organ jantung yang cocok untuk Seok Jin. Beberapa kali kami mendapatkan organ jantung. Tapi tak ada satupun yang cocok. Padahal dia harus cepat-cepat melakukan transplantasi. Jika tidak, bisa-bisa kita akan kehilangan dia”

Tangisan Sae Ri semakin menjadi-jadi tatkala ucapan Dokter Kim terngiang di kepalanya. Sae Ri menggenggam erat tangan Seok Jin yang sedang terbaring tak sadarkan diri. Ia sangat takut akan kehilangan Seok Jin. Sae Ri berharap ada keajaiban pada Seok Jin agar diberikan kesempatan kedua.
*****

Hye Ri tengah duduk sendirian di halte bus yang letaknya tak jauh dari sekolah. Tak seperti biasanya Hye Ri pulang sendirian. Biasanya ia selalu berangkat dan pulang bersama Ga In. Namun semenjak kejadian ia memergoki Tae Hyung dan Ga In, ia lebih memilih untuk pulang sendiri dan tak mempedulikan Ga In dan Tae Hyung yang sekarang ini tak malu lagi mengumbar kemesraan mereka.

“Andai saja ada Sae Ri. Aku tak akan pulang sendirian seperti ini..” gerutu Hye Ri sambil memanyunkan bibirnya. Tak lama kemudian deruman motor sport terdengar dan kini motor tersebut berhenti tepat di depan halte.

Hye Ri tak tau siapa si pemilik motor tersebut karena wajahnya yang tertutup helm. Rasa penasaran Hye Ri terganti dengan perasaan terkejut begitu si pemilik motor tersebut melepas helmnya yang menampilkan seluruh wajahnya yang tak lain adalah Namjoon

“Kau sendirian? Mana teman-teman mu?” Tanya Namjoon yang masih menunggangi motornya.

“Umm.. mereka sedang ada perlu. Jadi aku pulang sendiri” sahut Hye Ri sambil memasang tampang melasnya. Melihat ekspresi Hye Ri, Namjoon merasa iba.

“Naiklah. Aku akan mengantarmu pulang” ajak Namjoon yang membuat Hye Ri semakin terkejut. Ia juga tak tau kenapa Hye Ri tampak begitu terkejut setiap Hye Ri melihatnya. Namun saat ini, ia tak mempedulikan itu. Ia merasa harus mengantar Hye Ri pulang karena merasa iba  pada Hye Ri. Di samping itu, Namjoon juga masih merasa bersalah karena telah melukai kepala Hye Ri dengan lemparan bola basketnya.

“Cepatlah. Kau tak mau?” sergah Namjoon yang membuyarkan lamunan Hye Ri.

“Ah.. b..baiklah..” entah mendapat dorongan dari mana, Hye Ri menuruti perkataan Namjoon dan segera berbonceng ke motor Namjoon. Namun ada perasaan bahagia tersendiri pada Hye Ri. Ia tak menyangka bahwa seorang Kim Namjoon mengantarnya pulang.

Karena kencangnya laju motor Namjoon, sepanjang perjalanan Hye Ri menahan rasa takutnya tersebut. Ia ingin berpegangan pada Namjoon. Tapi ia merasa bahwa hal tersebut kurang pantas untuknya.

“Pegangan lah yang kuat. Aku tak mau kau jatuh terjungkal” ujar Namjoon. Awalnya Hye Ri ragu. Namun karena memang ia merasa harus demi keselamatannya, Hye Ri akhirnya berpengangan dengan memeluk pinggang Namjoon dari belakang. Mendapat perlakuan seperti itu, Namjoon hanya tersenyum.

 

——————————————————–
-Sae Ri’s POV-

Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin berdiam diri sedangkan Seok Jin sunbae sedang di ambang.. Ani! Aku tidak boleh mengatakan itu. Seok Jin sunbae harus sembuh. Dia tak boleh terus-terusan menderita! Dia tidak boleh pergi! Dia akan segera sembuh!

“Sae Ri-ah, apa yang sedang kau lakukan disini?” aku mendengar seseorang memanggil ku. Cepat-cepat aku mengusap air mata yang sudah membasahi kedua pipiku. Aku menoleh ke sumber suara. Jung Kook ternyata.

“Jung Kook-ah..” sahut ku sambil ku paksakan untuk menyunggingkan senyum. Sulit sebenarnya. Tapi kali ini aku harus tampak tabah di hadapannya.

“Kau kenapa.. ya. Kenapa kau menangis?” tiba-tiba saja Jung Kook mengusap pipi ku. Aku juga tak tau mengapa.

“Aku tak menangis” bantah ku. Memang pipiku baru saja terasa basah lagi. Tapi aku tak tau mengapa buliran air mata ku jatuh begitu saja.

“Ceritakan pada ku. Ada apa sebenarnya” ucap Jung Kook yang terdengar begitu.. menenangkan. Seperti biasa, dia begitu cepat tanggap dengan keadaan sekitar.

“Aku takut, Jung Kook-ah. Aku sangat takut..” aku menundukkan kepala ku. Aku kembali tak kuasa menahan tangisan. Bayangan Seok Jin sunbae yang tengah terbaring di ruang ICCU terngiang di kepala ku. Mengingat kondisinya, aku semakin sedih dan takut.

Tak lama kemudian Jung Kook memelukku. Pelukan hangat yang selalu ia  berikan saat aku sedang seperti ini. Aku memeluknya kembali. Air mata ku semakin tumpah setiap kali Jung Kook memberikan pelukan sebagai tempat ku untuk menangis.

“Apa pun yang membuat mu takut, pasti akan segera berakhir. Kalau pun tidak, kau harus menghentikannya. Aku yakin kau bisa. Kau orang yang kuat, Sae Ri-ah. Janganlah takut..” bisiknya disela-sela isakan ku. Mendengar ucapannya, aku semakin tenang. Dan, ya. Dia benar. Aku tak boleh takut. Aku orang yang kuat. Aku harus menghentikan apa yang membuat ku takut.

 

*****

 

-Author’s POV-

                Sae Ri memandangi Seok Jin yang sampai saat ini belum juga sadar dengan tatapan lesunya. Ia masih berharap-harap cemas dengan kondisi Seok Jin.

                “Dia harus cepat-cepat melakukan transplantasi. Jika tidak, bisa-bisa kita akan kehilangan dia” ucapan Dokter Kim kembali menghantui kepala Sae Ri. Ia kembali terisak.

“Apa yang harus aku lakukan, sunbae? Aku tak ingin kau pergi. Kau harus tetap hidup!” sambil menggenggam tangan Seok Jin, Sae Ri membenamkan wajahnya pada tangan Seok Jin. Kedua pundaknya naik turun karena isakannya tersebut.

“Kau harus menghentikannya. Aku yakin kau bisa” isakannya terhenti tatkala Sae Ri teringat dengan ucapan Jung Kook pagi tadi. Sae Ri mengadahkan kepalanya dan kembali menatap Seok Jin.

“Sunbae, kau tak perlu khawatir. Kau akan segera sembuh. Aku yakin itu. Aku mencintai mu, sunbae..” sambil terus membendung air matanya, Sae Ri bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruang ICCU.

Selekas dari ruang ICCU, Sae Ri langsung menuju ruang praktek Dokter Kim untuk membicarakan suatu hal.
*****

“Selamat siang, apa benar ini Jung Sae Ri?” sebuah suara seorang wanita yang begitu halus terdengar di ponsel Sae Ri.

“Iya. Ini saya sendiri” sahut Sae Ri sambil duduk santai di kursi yang tak jauh dari meja belajarnya.

“Kami dari Seoul St. Mary’s Hospital, ingin mengabarkan bahwa semua hasil tes yang anda lakukan telah keluar. Juga hasil tes darah menyatakan bahwa golongan darah anda cocok dengan pasien yang bernama Kim Seok Jin….”

                “Baiklah. Aku akan segera kesana. Terima kasih..” sahut Sae Ri. Sambungan terputus. Mata Sae Ri terasa panas. Buliran air matanya kembali jatuh ke pipinya. Ia merasa senang bisa membantu Seok Jin. Namun di sisi lainnya, ia harus rela meninggalkan semua apa yang telah ia miliki.

Drrrt…Drrrrrtttt….

Ponsel Sae Ri kembali bergetar. Ia melihat nama sahabatnya, yaitu Hye Ri yang tertera di layar ponselnya. Sae Ri mengusap air matanya dan mengatur suaranya agar tak terdengar parau.

“Yeobosaeyo?” sapa Sae Ri lirih.

“Ya, Sae Ri-ah! Neo eodiseo? Apa kau ijin pulang lagi? Akh.. Aku tak ingin pulang sendirian. Tapi aku juga tak mau pulang dengan Ga In. Dia sudah sibuk dengan si Tae Hyung yang aneh itu. Besok kita harus pulang bersama. Bila perlu saat berangkat sekolah juga. Mengerti?” ujar Hye Ri yang terdengar seperti sedang menggerutu.

Tak ada sahutan. Sae Ri kembali menangis begitu mendengar permintaan Hye Ri. Bukan hal yang sulit dengan permintaan Hye Ri. Tapi yang ia sedihkan, Sae Ri mungkin tak akan bisa memenuhi permintaan sahabatnya tersebut.

“Sae Ri-ah? Apa kau masih disana?” Tanya Hye Ri yang merasa ucapannya tersebut belum mendapat sahutan dari lawan bicaranya.

“Ne?” sahut Sae Ri yang tersentak.

“Aish.. Aku pikir kau tertidur. Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok, Sae Ri-ah” ujar Hye Ri yang lagsung memutus sambungan telefon.

“Maaf, Hye Ri-ah. Besok mungkin aku tidak bisa..” gumam Sae Ri lirih.

 

Rabu, 16 April 2014

                “Cinta memang hebat bukan? Orang bisa berbuat beragai hal demi cinta. Ada yang berbuat kebaikan karena cinta. Ada pula yang berbuat kejahatan karena cinta.

Dan pada hari ini, biarkan aku menjadi orang yang egois sekaligus menjadi bodoh. Hari ini pula aku tak akan mendengar perkataan orang lain. Aku tak akan memikirkan orang lain. Bahkan diri ku sendiri. Yang aku pikirkan kali ini adalah ‘Kim Seok Jin’. Aku memang belum lama mengenalnya. Tapi aku merasa seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dialah orang yang telah membuat ku merasakan apa itu mencintai”

 

#1JamSebelumOperasi

               
Dengan wajah tertunduk, Sae Ri mengabarkan niatannya melakukan pendonoran jantung untuk Seok Jin kepada bibinya dan kakak sepupunya, Na Rin.Bibi dan kakak sepupunya tersebut sangat terpukul dengan niatan Sae Ri. Suasana haru langsung terasa diantara ketiganya.

                “Jangan lakukan itu, Sae Ri-ah.Bagaimana dengan orang tua mu disana? Kau itu anak semata wayang mereka. Mereka tak akan merelakan mu pergi begitu saja. Jangan bertindak bodoh, Sae Ri-ah! Masih banyak pendonor diluar sana!” sergah Na Rin yang tak setuju. Beberapa kali ia mengusap buliran air matanya. Na Rin begitu shock mendengar penuturan Sae Ri.

“TAK ADA WAKTU LAGI, UNNIE!” seru Sae Ri yang tak ingin niatannya tersebut terhalang oleh kakak sepepunya. “Bukan kah kau ingin kembali padanya? Bukan kah unnie memintaku untuk membantu mu? Ini yang bisa aku lakukan, unnie! Bukan hanya unnie saja yang mencintainya. Tapi aku juga. Jadi biarkan aku melakukannya!”

“Kami tau kau tulus melakukannya, Sae Ri-ah. Jika itu memang yang terbaik menurut mu, kami tak bisa berbuat apa-apa.. ” ujar bibi Sae Ri yang tampak pasrah dengan keputusan ponakannya tersebut.

“Terima kasih, bibi.. Na Rin unnie.. Terima kasih atas semuanya..” ucap Sae Ri lirih

 

*****

                “Eomma, hari ini aku akan melakukan operasi. Eomma dan appa harus datang kesini..”dengan suara paraunya, ia menghubungi orang tuanya yang berada di Inggris agar pulang ke Seoul. Sae Ri ingin sekali melihat wajah kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya. Tapi ia rasa ia tidak bisa. Setidaknya inilah kesempatan terakhirnya untuk mendengar suara orang tuanya. Setelah itu ia mungkin tak akan bisa mendengar suara orang tuanya atau siapapun yang ada di dunia ini.

“Kau akan melakukan operasi apa? Bukan kah kau takut melakukan operasi? Eomma dan appa sedang sangat sibuk sekarang ini..” ucap ibunya. Hati Sae Ri begitu terenyuh mendengar ucapan Ibunya yang terdengar seperti tak bisa memenuhi permintaannya yang terakhir.

“Berikan pada bibi, Sae Ri-ah. Bibi ingin bicara pada eomma mu..” seperti mengerti dengan apa yang Sae Ri rasakan, bibi Sae Ri meminta untuk ikut berbicara dengan adik kandungnya tersebut lewat sambungan telefon.

“Turuti saja permintaan anak mu itu. Cepatlah kemari sekarang juga.  Aku akan menunggu mu dan suami mu di rumah sakit. Mengerti?” ujar beliau lewat ponsel Sae Ri. Dan langsung memutus sambungan telefon. Bibi Sae Ri menatap keponakannya tersebut dengan penuh iba.

Selama perjalanan ke rumah sakit, Sae Ri hanya menatap kearah luar jendela dengan tatapan kosong. Beberapa kali buliran air mata kembali membasahi kedua pipinya. Namun cepat-cepat Sae Ri mengusap air matanya tersebut.

*****

#15MenitSebelumOperasi
Untuk terakhir kalinya, Sae Ri menggenggam erat tangan Seok Jin yang masih terbaring lemah. Tangisannya pecah tatkala bagaimana dirinya harus berpisah dengan Seok Jin. Sae Ri tak ingin melepaskan genggamannya tersebut.

 

#5MenitSebelumOperasi

Waktu untuk melakukan transplantasi semakin dekat. Itu artinya, akhir perjalanan dalam hidup Sae Ri semakin dekat. Sambil berbaring, Sae Ri memandang satu persatu wajah bibi dan kakak sepupunya yang kini tengah terisak. Ia sangat berharap, di antara mereka ada kedua orang tuanya yang akan menemaninya sebelum ia pergi.

“Tuhan, mulai hari ini aku akan menghilang dari bumi ini dan meninggalkan semua orang yang aku sayangi. Mulai hari ini juga aku akan kembali ke pangkuan mu. Tuhan, aku sangat mencintainya. Tak apa aku tak pernah bisa bersamanya. Tak apa jika dia tak mengingat ku. Beri dia kehidupan yang layak dan kebahagiaan dalam hidupnya. Aku akan sangat bahagia jika dia bahagia hingga hari akhirnya. Berkati dia, Tuhan..”

Sebuah suntikan obat bius total perlahan tapi pasti menghilangkan kesadaran Sae Ri. Kedua mata Sae Ri telah tertutup rapat. Tubuhnya telah lumpuh. Tak ada sedikit pun tenaga pada diri Sae Ri. Semuanya gelap.

 

Sudah hampir 5 jam berlalu. Tanda-tanda akan berakhirnya proses transplantasi belum juga tampak. Na Rin dan ibunya telah merelakan kepergian Sae Ri. Keduanya kini tampak lebih tegar menerima kenyataan. Namun kedua orang tua Sae Ri belum kunjung datang. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika kedua orang tua Sae Ri mendapati anak semata wayangnya tersebut telah tiada.

*****

Suasana kelas 1-2 seperti biasa. Tenang. Seluruh murid tengah mengerjakan latihan soal yang Jang ssaem berikan di akhir jam pelajaran. Namun tidak dengan Jung Kook. Ia beberapa kali melirik ke arah bangku Sae Ri yang kini kosong. Akhir-akhir ini Jung Kook duduk sendirian karena Sae Ri yang tiba-tiba ijin untuk meninggalkan sekolah.

Perasaan khawatir hinggap pada Jung Kook mengingat terakhir kalinya ia bertemu Sae Ri tadi pagi yang tengah ketakutan. Jung Kook merasa bahwa Sae Ri takut bukan karena murid-murid lain. Tapi ada suatu hal lain yang tak ia ketahui.

Drrrttt….Drrrrrrrtttt….

Ada panggilan masuk. Jung Kook melihat nama Na Rin yang tertera. Keadaan di sekitarnya memaksa Jung Kook untuk ‘mereject’ panggilan dari Na Rin.

Ke           : Na Rin Noona

                “Noona, maaf. Aku sedang ada di kelas. Apa ada yang noona perlu sampaikan?”

                Tak lama kemudian ada sebuah pesan masuk. Jung Kook membuka pesan tersebut. Ternyata pesan dari Na Rin.

Dari        : Na Rin noona

                “Cepatlah kesini. Aku sedang ada di ruang tunggu operasi di Seoul St. Mary’s Hospital. Sae Ri sedang menjalani operasi”

Rasa khawatir semakin memuncak tatkala mendapati kabar dari Na Rin. Cepat-cepat Jung Kook mengemasi semua buku kedalam tasnya.

“Ya, Jung Kook-ah. Kau mau kemana?” Tanya Jimin yang melihat Jung Kook seperti hendak meninggalkan kelas.

“Ya, Ini belum saatnya untuk pulang” tambah Tae Hyung. Tak ada sahutan dari Jung Kook. Karena saking terburu-buru, Jung Kook lebih memilih untuk berlalu.

“Maaf, seongsaenim. Aku harus pergi sekarang juga. Ada urusan yang penting” Jung Kook membungkukkan tubuhnya sebagai tanda pamit dan langsung lari meninggalkan kelas. Sontak seisi kelas tercengang dengan Jung Kook yang tiba-tiba saja meninggalkan kelas.

“YA! JEON JUNG KOOK! KAU MAU KEMANA? INI BELUM WAKTUNYA UNTUK PULANG!” pekik Jang ssaem yang mencoba untuk menghentikan Jung Kook. Namun terlambat. Jarak Jung Kook sudah terlalu jauh.

 

*****

Jung Kook membungkukkan tubuhnya begitu ia menemui Na Rin dan Ibunya yang tengah duduk di ruang tunggu operasi. Jung Kook sedikit terperanjat begitu mendapati mata bibi Sae Ri dan Na Rin yang tampak sembab.

“Noona, eommonim, sebenarnya ada apa dengan Sae Ri? Kenapa dia tiba-tiba di operasi?” Tanya Jung Kook dengan dada yang masih naik turun. Ekspresi khawatir tampak jelas di wajah Jung Kook.

“Sae Ri…” dengan lesu, Na Rin hendak menjawab pertanyaan Jung Kook. Namun niatannya tersebut terhenti tatkala sepasang suami-istri yang tak lain adalah kedua orang tua Sae Ri datang.

“Unnie, ada apa dengan anak ku? Kenapa Sae Ri tiba-tiba di operasi? Apa dia mengalami kecelakaan? Apa dia mengidap penyakit?” pertanyaan yang hampir sama terlontar dari Ibu Sae Ri yang baru saja tiba dari Inggris. Ibu Sae Ri tak kuasa menyembunyikan perasaan khawatirnya.

“Istri ku, tenanglah dulu. Kau masih lelah setelah perjalanan” ujar Ayah Sae Ri yang mencoba untuk menenangkan istrinya.

“Sae Ri.. dia melakukan donor jantung. Dan sekarang ini para ahli bedah sedang melakukan transplantasi” sahut Ibu Na Rin yang mulai tak kuasa menahan tangisannya.

Mendengar penuturan Ibu Na Rin, kedua orang tua Sae Ri dan Jung Kook begitu terkejut dan terpukul. Tubuh Ibu Sae Ri lemas seketika. Namun cepat-cepat Ayah Sae Ri menahan tubuh istrinya agar tak tumbang.

Sementara Jung Kook, nafasnya terasa perih. Kedua matanya tiba-tiba terasa panas. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Jung Kook masih tak mempercayai dengan apa yang baru saja ia dengar. Bayangan akan sosok Sae Ri terus membayangi pikirannya.

“M..mwo? Kau sedang bercanda kan, unnie? Anak semata wayang ku tidak mungkin mati. SAE RI MASIH HIDUP KAN, UNNIE?” seru Ibu Sae Ri yang belum bisa menerima ucapan kakaknya tersebut.

Tak lama kemudian, Dokter Kim keluar dari ruang operasi. Sedikit bercak darah tampak mengotori baju operasi Dokter Kim yang sedang ia kenakan. Karena penasaran, cepat-cepat Ibu Sae Ri menghampiri Dokter Kim yang disusul oleh lainnya.

“Dokter, apa benar anak saya.. Sae Ri ada di dalam sana?” linangan air mata tampak jelas jatuh di pipi Ibu Sae Ri yang sangat khawatir akan keadaan anaknya.

“Ya. Jasad Sae Ri ada disana. Proses transplantasi berjalan sukses. Saya turut berduka cita atas kepergian Sae Ri. Dia telah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan seseorang. Sae Ri mengakhiri perjalanan hidupnya dengan melakukan hal yang sangat mulia. Berkat pengorbanannya..” ucapan Dokter Kim terpotong tatkala Ibu Sae Ri yang tiba-tiba kolaps karena terlalu shock.

*****

Bel yang menandakan berakhirnya aktivitas sekolah telah terdengar di tiap sudut sekolah. Sama seperti murid-murid yang lainnya, Hye Ri tengah bergegas untuk pulang. Langkahnya terhenti tatkala ia melihat Jimin yang sedang menemui Jae In untuk pulang bersama. Hye Ri menghela nafasnya untuk menetralisir rasa perihnya tersebut.

Saat hendak melanjutkan langkahnya, Hye Ri berpapasan dengan Ga In dan Tae Hyung yang juga hendak pulang bersama. Diantara teman-temannya, hanya Hye Ri-lah yang belum jelas dengan urusan percintaannya.

Hye Ri masih kesal dengan kejadian beberapa hari lalu. Maka dari itu, ia lebih memilih untuk ‘membuang muka’ pada keduanya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya.

Tae Hyung melirik sebentar kearah Ga In. Ia tampak sedih begitu melihat Hye Ri, sahabatnya itu yang belum juga mau berbicara padanya. Bahkan seolah-olah tak mengenali mereka.

“Ya, sindrom kesepian!” seru Tae Hyung yang mulai gerah dengan tingkah Hye Ri.

“APANYA YANG SINDROM KESEPIAN, HUH? APA KARENA..” pekik Hye Ri yang juga mulai kesal. Namun tak lama kemudian ekspresinya berubah begitu Hye Ri melihat Namjoon dan Hoseok yang sedang berjalan bersama dari arah belakang Tae Hyung dan Ga In.

“Apa kalian pikiir hanya kalian saja yang bisa seperti itu, huh?” ujar Hye Ri lirih sambil menyunggingkan smirknya.

“SUNBAEEEE…!” Hye Ri langsung menghampiri seseorang yang kini berada di belakang persis Tae Hyung dan Ga In. Keduanya terkejut begitu mendapati Hye Ri yang tengah bergelayut manja di lengan Namjoon.

“Sunbae, ayo kita pulang bersama!” pinta Hye Ri dengan nada manja.

“Ne?” Namjoon tersentak dengan tingkah Hye Ri. Belum juga rasa kebingungannya reda, tiba-tiba saja Hye Ri menyeret Namjoon dengan tangan Hye Ri yang masih menggelayut di lengannya.

Pandangan Tae Hyung dan Ga In tak bisa lepas dari Hye Ri yang tampak begitu mesra dengan Namjoon. Mereka tak menyangka bahwa Hye Ri begitu dekat dengan Namjoon.

 

Hye Ri menoleh kearah belakang. Matanya mulai mencari-cari, sudah tak ada Tae Hyung dan Ga In. Cepat-cepat Hye Ri melepas gelayutannya tersebut dari lengan Namjoon dan langsung membungkukkan tubuhnya.

“Maaf, sunbae. Tadi aku hanya….” Ucapan Hye Ri begitu ponselnya berdering.

“Ne, yeobosaeyo?” sapa Hye Ri lewat ponselnya. Namjoon menoleh kearah Hoseok dengan ekspresi bingungnya. Hoseok hanya mengangkat kedua pundaknya menyahut tatapan bingung Namjoon.

“M..mwo? Ya, Jung Kook-ah! Itu tidak mungkin! Jangan bercanda!” seru Hye Ri yang terdengar parau. Mendengar ucapan Hye Ri, Namjoon dan Hoseok langsung menatap kearah Hye Ri. Bukan tatapan bingung lagi yang tampak, melainkan tatapan penasaran sekaligus khawatir. Pasalnya mereka mendapati Hye Ri yang tengah membendung air matanya.

“Hye Ri-ah, ada apa? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Namjoon begitu Hye Ri telah mengakhir sambungan telefonnya. Tatapannya tampak kosong. Kakinya terasa lemas dan hampir kehilangan keseimbangan. Untung saja Namjoon cepat-cepat menahan tubuh Hye Ri.

“Sunbae.. Sae Ri telah tiada..” Hye Ri tak dapat membendung air matanya. Air matanya tampak jatuh dari pelupuk Hye Ri.

“Ne? Apa maksud mu?” Namjon menatap Hye Ri lamat. Ia antara tak mengerti dan tak percaya dengan ucapan Hye Ri.

“Aku harus memberi tahu mereka..” Hye Ri melepas pegangan Namjoon dan berlari meninggalkan Namjoon dan Hoseok yang masih tak mengerti dengan ucapan Hye Ri.

Hye Ri memaksakan kedua kakinya tersebut yang terasa lemas untuk berlari agar segera menemui teman-temannya.

“Sae Ri.. Dia telah tiada. Dia mengorbankan nyawanya demi mendonorkan jantungnya..” Tangisan Hye Ri pecah begitu ucapan Jung Kook dan bayang-bayang Sae Ri terngiang di kepalanya. Hye Ri menggunakan sisa tenaganya untuk terus berlari.

“GA IN-AAAAAAH….!!” Tanpa pikir panjang, Hye Ri langsung memeluk sahabatnya tersebut dan menangis sejadi-jadinya. Beberapa kali Ga In menanyakan mengapa Hye Ri menangis seperti ini. Hye Ri ingin sekali menceritakan apa yang sebenarnya yang terjadi pada Sae Ri. Tetapi lidah dan air matanya seolah-olah menghalanginya untuk memberi tahu pada Ga In.

 

————————————————

#3HariKemudian

Ini sudah hari kedua setelah acara pemakaman Sae Ri. Namun Ibu Sae Ri belum bisa rela melepaskan kepergian anak semata wayangnya.

Ibu Sae Ri mengamati barang-barang yang ada di kamar Sae Ri.  Ia menatap foto anaknya yang terpajang di atas meja belajar Sae Ri. Tetesan air matanya tak kunjung berhenti. Hanya ini yang bisa ia lakukan semenjak kepergian Sae Ri. Ibu Sae Ri terus saja membayangkan, seandainya ia bisa memutar waktu, ia akan membantu mencarikan pendonor. Sehingga ia tak perlu kehilangan anaknya seperti ini.

“Kau akan melakukan operasi apa? Bukan kah kau takut melakukan operasi? Eomma dan appa sedang sangat sibuk sekarang ini..” Ia kembali menyesali apa yang telah ia ucapkan saat terakhir kalinya berbicara dengan putrinya. Tak seharusnya ia seperti itu. Ia yakin, ia telah menyakiti putrinya.

Na Rin yang mengetahui keberadaan Ibu Sae Ri, langsung menghampiri dan memeluk bibinya yang tengah terduduk di ranjang sambil menangisi kepergian anaknya.

“Bibi, kau mempunyai seorang anak yang pemberani. Aku iri dengan Sae Ri..” ujar Na Rin disela-sela isakan bibinya. Mendengar ucapan Na Rin, Ibu Sae Ri langsung menatap Na Rin untuk mendengar maksud dari ucapan Na Rin.

“Bibi mungkin berpikir bahwa Sae Ri bodoh. Akupun begitu. Tetapi di balik keputusan bodohnya tersebut, aku menyimpan rasa iri padanya. Ia mengorbankan nyawanya demi orang yang ia cintai. Kami mencintai orang yang sama. Bedanya, aku justru melukai orang tersebut. Dan Sae Ri-lah orang yang menyembuhkan luka dari orang tersebut. Aku tak menyangka bahwa rasa cintanya pada orang tersebut jauh lebih besar dari rasa cinta ku pada orang itu..” buliran air mata tampak jelas jatuh dari kelopak mata Na Ri mengingat apa yang telah ia lakukan pada Seok Jin dengan apa yang Sae Ri telah lakukan pada Seok Jin. Ia merasa ia tak ada apa-apanya jika dibanding dengan Sae Ri.

“Dia tidak bodoh. Meskipun aku harus kehilangan dia, aku setuju dengan keputusannya. Tak peduli apa pria itu juga mencintai Sae Ri atau tidak. Aku yakin dia akan selalu mengingat apa yang telah Sae Ri berikan padanya. Yaitu kehidupan” Ibu Sae Ri bangkit dari duduknya dan berlalu dari kamar anaknya.

Na Rin menatap sekitar kamar Sae Ri. Ia kembali teringat saat-saat ia bersama Sae Ri dikamar ini. Tatapannya terhenti saat kedua matanya tertuju pada sebuah buku berukuran sedang yang berwarna pink.

“Kau belum tidur? Kau sedang apa?” Tanya Na Rin sambil menghampiri Sae Ri yang tengah menulis sesuatu. Menyadari kehadiran Na Rin, Sae Ri langsung menutup buku hariannya tersebut.

                “Aku hanya… aku sedang mencatat apa yang harus kulakukan besok” jawab Sae Ri berbohong.

                “Benarkah? Kalau begitu, aku mau lihat” Na Rin meraih buku harian Sae Ri yang berwarna pink tersebut. Namun cepat-cepat Sae Ri merebut kembali bukunya itu.

                “Ah.. ini bukan apa-apa. Ini tidak penting” ucap Sae Ri sambil cengengesan.

Na Rin mengamati sebentar buku pink tersebut. Buku yang ia lihat saat Sae Ri menuliskan sesuatu di dalamnya beberapa bulan yang lalu. Lebih tepatnya saat hari kedua Sae Ri tiba di Seoul. Karena penasaran, Na Rin membuka buku tersebut yang tak lain adalah buku harian Sae Ri.

 

—————————————————–

#1BulanKemudian

Seok Jin tengah duduk sendirian sambil mengamati lapangan basket yang dulu menjadi tempat favoritnya untuk mengusir kejenuhan. Bayangan seseorang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ia bangkit dari duduknya untuk mencari dimana keberadaan orang tersebut.

Seok Jin juga tak tau mengapa ia merindukan orang tersebut dan sangat ingin bertemu dengannya. Ada sedikit rasa kesal dalam benaknya mengingat orang tersebut tak menjenguknya sama sekali saat ia masih dalam masa pemulihan semenjak dirinya melakukan transplantasi.

Namun disamping itu, ada rasa khawatir dan rasa takut yang menghantuinya. Bagaimana tidak, berminggu-minggu tak bertemu dengan seseorang yang selalu muncul, tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar apapun.

Senyuman mengembang di wajah Seok Jin begitu ia melihat Jung Kook bersama gerombolan teman-temannya yang juga merupakan teman-teman dari orang yang sedang ingin ia temui.

Senyumannya berganti dengan kerutan di keningnya tatkala ia tak melihat orang tersebut. Ada perasaan kecewa di benaknya, namun ia tak akan berhenti begitu saja.

“Bukankah kalian teman Sae Ri? Dimana Sae Ri?” Tanya Seok Jin yang menghentikan langkah Jung Kook, Jimin, Tae Hyung, Ga In dan Hye Ri. Mereka tercengang dengan pertanyaan Seok Jin. Ingin mereka menjawab, tapi tak tau bagaimana caranya untuk menjawab.

 

*****

Jung Kook dan Seok Jin kini berada di sebuah hamparan lahan yang luas. Di lahan tersebut, terdapat beberapa gundukan tanah. Seok Jin melihat sekeliling. Tetapi ia masih tak mengerti mengapa Jung Kook membawanya ke tempat seperti ini. Yang ia lakukan hanyalah berjalan mengikuti Jung Kook. Namun tak lama kemudian orang yang ia ikuti  mengentikan langkahnya.

“Kau ingin bertemu dengan Sae Ri? Dia ada di sana” ujar Jung Kook dengan nada ketus sambil menunjuk sebuah gundukan tanah yang tepat di depannya.

“Ya! Apa maksudmu? Itu bukan Sae Ri! Itu hanya gundukan tanah!” sergah Seok Jin yang belum menerima ucapan Jung Kook.

“Apa kau bodoh? Tidak kah kau tau kenapa kau masih hidup saat ini? Itu karena Sae Ri!” Jung Kook menatap Seok Jin dengan tatapan dinginnya. Namun dibalik itu, bendungan air mata tampak jelas di pelupuk Jung Kook.

“Apa dia yang melakukannya? Kenapa harus dia?” dengan langkah gontai, Seok Jin menghampiri gundukan tanah yang merupakan tempat peristirahatan terakhir Sae Ri.

Kakinya tiba-tiba saja terasa sangat lemas. Bahkan Seok Jin jatuh terduduk karena kedua kakinya tersebut tak kuasa lagi menopang tubuh Seok Jin. Saat itu pula, tangisannya pecah. Nafasnya terasa sesak. Dan kedua matanya terasa panas.

Ia membenamkan kepalanya diatas gundukan tanah yang ada dihadapannya. Seluruh tubuhnya terguncang keras. Ia membiarkan isakannya, sedu-sedannya, air matanya tumpah keluar. Ia tak bisa menahannya walau ia sangat ingin.

Seok Jin sangat berharap bahwa ia sedang berada dalam alam mimpi. Namun yang sedang ia hadapkan bukanlah alam mimpi, melainkan alam nyata. Yang sangat ia takutkan ternyata benar-benar terjadi. Ia tak menyangka bahwa ia harus menangis diatas makam dari orang yang ia cintai untuk ketiga kalinya setelah kematian kedua orang tuanya.

“Kenapa? Kenapa kau yang melakukannya?” air mata tak henti-hentinya jatuh dengan derasnya. Kedua pundaknya naik turun karena kerasnya isakan Seok Jin. Ia sangat terpukul dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Ia merasa begitu rapuh dan secuil dari dirinya hilang begitu mendapati orang yang ia cintai telah terkubur dalam tanah.

Sementara itu Jung Kook yang masih berdiri mematung, dia hanya mengedarkan pandangannya dan mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menahan tangisan harunya. Tak hanya Seok Jin yang merasa kehilangan atas kepergian Sae Ri, bahkan rasa kehilangannya  jauh lebih besar.

 

———————————————

 

Semenjak Seok Jin mengetahui tentang kepergian Sae Ri, ia menghabiskan waktunya untuk berdiam diri dan merusak dirinya sendiri dengan kembali pada kebiasaan buruknya. Yaitu mabuk-mabukkan.

Ia merasa begitu kosong dan sendirian. Ia tak memiliki seseorang untuk ia cintai atau ia lindungi. Bahkan ia tak tau lagi untuk apa ia hidup.

Beberapa botol soju yang kosong terjejer rapi dimeja yang ada di hadapannya. Botol-botol yang isinya telah ia teguk untuk menghilangkan rasa kepedihannya tersebut. Seok Jin berusaha untuk mengadahkan kepalanya yang kini terasa berat. Ia melihat sekeliling. Pandangannya mulai kabur. Namun di tengah-tengah pandangannya yang mulai kabur, ia melihat sosok perempuan dengan seragam sekolahnya tengah duduk sendirian sambil menatapnya dengan tatapan sedih.

Seok Jin memicingkan matanya agar ia bisa melihat siapa sosok tersebut. Matanya membulat seketika begitu mendapati sosok tersebut adalah Sae Ri.

“S..sae Ri-ah?” dengan langkah berat, Seok Jin menghampiri sosok tersebut. Seok Jin tersenyum lega karena ia bisa melihat Sae Ri kembali. Ia merasa sangat lega dan yakin karena yang ia tangisi akhir-akhir ini tidak benar-benar terjadi.

“Sae Ri-ah, kau kemana saja? Aku sangat merindukan mu” cepat-cepat Seok Jin mendekap sosok tersebut dengan erat. Tetesan air mata jatuh dari matanya karena perasaan bahagianya.

Belum lama Seok Jin mendekap sosok ‘Sae Ri’ tersebut, tiba-tiba saja punggungnya terasa ngilu. Ia terdorong dan terjatuh hingga punggungnya merobohkan meja dan kursi-kursi yang ada di kedai. Seok Jin berusaha untuk memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun seseorang menarik tubuhnya dengan kasar hingga Seok Jin berdiri tegak kembali.

“BERANI-BERANINYA KAU MEMELUK KEKASIH KU DENGAN SEMBARANGAN! KAU PIKIR SIAPA DIRI MU, HUH?” satu hantaman keras tepat mendarat di pipi Seok Jin. Tubuhnya kembali terhempas. Ia masih tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Keributan di kedai tak dapat dihindari. Orang-orang yang saat itu juga berada di kedai berusaha untuk melerai perkelahian. Namun emosi pria bertubuh besar tersebut terlanjur tersulut karena Seok Jin yang tiba-tiba datang dan memeluk kekasihnya. Apa yang Seok Jin lihat baru saja ternyata hanyalah halusinasinya belaka.

Sementara itu tak jauh dari kawasan tersebut, Jung Kook yang sedang dalam perjalanan pulang tak sengaja melihat Seok Jin didorong dengan kasar oleh seseorang dari sebuah kedai yang berada di pinggir jalan.

“Tolong hentikan mobilnya!” perintah Jung Kook pada supir pribadinya. Ia hendak membuka knop pintu mobilnya. Namun ia mengurungkan niatnya tersebut.

Ia mengamati Seok Jin yang sudah babak belur. Seseorang tengah mengatakan pada Seok Jin dengan wajah merah padam. Seok Jin tampak tak berdaya dengan perlakuan pria tersebut. Tetapi Jung Kook tak bisa mendengar apa yang pria bertubuh besar itu katakan. Sambil terus mengamati, Jung Kook mengepal tangannya kuat-kuat. Tatapannya berubah menjadi tatapan benci.

“Tolong jalan lagi” perintah Jung Kook lagi. Tanpa menunggu lama, sopir pribadi Jung Kook langsung melajukan kembali mobil milik majikannya tersebut.

 

————————————————-

Jung Kook yang tengah berjalan sendirian di koridor sekolah tak sengaja melihat Seok Jin yang tengah duduk sendirian dengan tatapan kosongnya. Luka lebam tampak jelas di wajah Seok Jin. Ia teringat kembali dengan apa yang ia lihat tadi malam.

BUGH!

Jung Kook meninju wajah Seok Jin yang sudah terdapat luka lebam. Titik-titik darah segar tampak dari sudut bibir Seok Jin karena kerasnya tinjuan Jung Kook. Seok Jin yang tak terima dengan perlakuan Jung Kook langsung bangkit dari duduknya dan meremas kerah seragam Jung Kook sambil menatap sinis.

“APA MAKSUD MU, HUH?“ pekik Seok Jin yang tampak begitu emosi. Wajahnya mulai merah karena emosinya tersebut.

“SEHARUSNYA APA MAKSUD DENGAN HIDUP MU SEKARANG INI!” pekik Jung Kook yang tak mau kalah dengan Seok Jin. Emosi telah menyelimuti keduanya sehingga suasana tegang mulai menyertai diantara mereka.

Masih dengan tatapan penuh kebencian, Jung Kook menghempaskan tangan Seok Jin dari kerah seragamnya “Aku benar-benar muak dengan mu, Kim Seok Jin. Kau.. orang yang tak tau diri! Tidak kah kau berterima kasih pada Sae Ri yang sudah memberikan mu kesempatan hidup? Melihat mu menyia-nyiakan apa yang Sae Ri berikan benar-benar membuat ku jijik dengan mu! Tak seharusnya Sae Ri merelakan nyawanya demi seseorang pecundang seperti mu! Jangan buat dia sedih dan menyesal!”

Nafas Jung Kook naik turun. Matanya terasa panas. Namun karena ia tak mau terlarut dalam emosi, ia memilih untuk berlalu dari Seok Jin.

 

*****

Seok Jin menatap gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Sae Ri. Ia kembali teringat dengan ucapan Jung Kook. Buliran air mata tiba-tiba saja jatuh dari kelopak matanya. Ia meruntuki dirinya.

Ia merasa menyesal apa yang telah ia lakukan. Ia menyesal telah merusak diri dan menyia-nyiakan hidupnya yang Sae Ri berikan. Tangisannya pecah. Meskipun tak nyata, Seok Jin masih ingat betul bagaimana ekspresi dari bayangan Sae Ri tadi malam. Ia merasa sangat bersalah pada Sae Ri. Ia yakin, apa yang ia lakukan akhir-akhir ini telah membuat Sae Ri sedih.

“Seok Jin-ah?” tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ia kenal betul dengan suara tersebut. Cepat-cepat Seok Jin mengusap air matanya.

“Kau mau kemana?” Na Rin meraih lengan Seok Jin yang hendak pergi.

“Itu bukan urusan mu” sahut Seok Jin dengan ketus sambil melepas pegangan Na Rin pada lengannya dengan kasar. Na Rin hanya menghela nafasnya mendapat perlakuan dingin dari Seok Jin.

“Ini!” Na Rin menyodorkan sebuah buku berwarna pink yang tak lain adalah buku hariah Sae Ri. Tak ada respon dari Seok Jin. Ia hanya menatap buku tersebut sambil mengernyitkan dahinya.

“Ambilah! Ini milik Sae Ri. Aku rasa kau harus melihatnya” Na Rin mengulurkan tangan Seok Jin dan memberikan buku harian Sae Ri tepat diatas telapak tangan Seok Jin.

“Sepertinya Sae Ri sudah merasa cukup dengan kedatangan mu. Kalau begitu aku pamit” Na Rin mengedarkan pandangannya ke makam Sae Ri sebelum akhirnya berlalu.

 

—————————————————-

 

Pagi-pagi sekali, Seok Jin memasuki kelasnya. Suasana kelas masih sepi. Dugaannya salah, seseorang telah berada di kelas sebelum kehadirannya. Seorang siswi tengah duduk tegak sambil menulis sesuatu di sebuah buku yang berukuran sedang.

                “Kau sudah datang, sunbae?” kedatangan Seok Jin langsung disambut dengan senyuman manis dari siswi tersebut. Mendapati kedatangan Seok Jin, dia langsung menutup rapat bukunya. Mata Seok Jin membulat seketika begitu mendapati siswi tersebut adalah orang yang sangat ia rindukan.

                “S..sae Ri-ah? Apa benar itu kau?” kaki Seok Jin terasa kaku seketika. Matanya tak bisa lepas dari sosok Sae Ri yang masih tersenyum kearahnya. Seok Jin memaksakan kedua kakinya untuk menghampiri Sae Ri.

                “Memangnya siapa lagi kalau bukan aku?” sahut Sae Ri sambil terus menyunggingkan senyumannya. “Sunbae? Kau tidak apa-apa?” Sae Ri bangkit dari duduknya sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Seok Jin.

                Tanpa aba-aba, Seok Jin memeluk tubuh Sae Ri erat-erat. Ia menyenderkan dagunya di atas pundak Sae Ri. Sae Ri sempat tersentak dengan perlakuan Seok Jin yang secara tiba-tiba. Namun senyuman kembali tersungging di bibir Sae Ri.

                “Tidak kah kau tau? Aku sangat merindukan mu. Kemana saja kau? Jangan pernah pergi lagi!” ujar Seok Jin sambil terus memeluk Sae Ri.

                “Aku tidak akan pergi” sahut Sae Ri singkat. Mendengar ucapan Sae Ri, Seok Jin menegakkan tubuhnya agar ia bisa menatap wajah Sae Ri.

                “Benarkah?” Tanya Seok Jin sambil menatap Sae Ri dengan lamat.

                “Ne. Aku tidak akan pergi dari mu, sunbae. Aku akan selalu berada disini” Sae Ri menujuk dada Seok Jin yang mengartikan bahwa Sae Ri akan selalu berada di hati Seok Jin. Ada perasaan bahagia dalam benak Seok Jin. Hal itu terlihat dari bibirnya yang kini telah menyunggingkan senyuman.

Kedua mata Seok Jin tiba-tiba saja menangkap sebuah buku berwarna pink diatas meja yang sedari tadi Sae Ri gunakan untuk tempat menulis suatu hal. Ia merasa tak asing dengan buku tersebut. Karena penasaran, Seok Jin mengambil buku tersebut dan membuka isi buku.

                Seok Jin membuka asal buku tersebut. Senyumannya tampak jelas tatkala ia melihat coretan yang bertuliskan ‘Jung Sae Ri Kim Seok Jin’

“Apa-apaan ini?” Seok Jin menunjukkan halaman buku yang baru saja ia lihat sambil tersenyum mengejek. Karena malu, Sae Ri hanya menyunggingkan senyum kakunya. Tanpa di sangka, Seok Jin mengambil pulpen yang tergeletak di meja dan mencoret tulisan yang baru saja ia lihat.

                “Kau seharusnya menuliskannya sepert ini ‘Kim Seok Jin Kim Sae Ri’ ” ujar Seok Jin sambil menunjukkan hasil tulisannya.

                “Tapi nama ku Jung Sae Ri. Kenapa menjadi Kim Sae Ri?” Sae Ri mengernyitkan keningnya sambil memasang tampang polosnya. Melihat ekspresi Sae Ri, sontak Seok Jin terkekeh.

                “Kenapa kau tak mengerti juga? Aku ingin, suatu saat nanti kau mengganti nama marga mu dengan ‘Kim’. Seperti ku. Jadi akan ada sebuah keluarga kecil yang bermarga Kim” terang Seok Jin sambil memainkan pulpen yang ia pegang.

                “Apa-apaan sunbae ini..” gumam Sae Ri yang tertunduk karena tersipu malu. Sementara Seok Jin, ia kembali terkekeh melihat reaksi dari Sae Ri.  

          Kekehan Seok Jin tak terdengar lagi. Bahkan ia kini tengah menatap Sae Ri yang masih tertunduk dengan lamat .

          “Sae Ri-ah, aku mencintaimu..”  ucap Seok Jin sambil mengangkat dagu Sae Ri agar mata mereka saling bertemu.

           “J..jinjja?”  Sae Ri menatap Seok Jin dengan tatapan tak menyangka. Namun kedua matanya tampak berkaca-kaca.

           Seok Jin hanya mengangguk sambil tersenyum menyahut Sae Ri. Matanya terus saja menatap Sae Ri dengan lamat.

           Pelan tapi pasti Seok Jin mulai mendekatkan jarak antara wajahnya dengan wajah Sae Ri sambil memiringkan kepalanya.

           Kini tak ada jarak antara wajah keduanya. Seok Jin mencium bibir Sae Ri dengan lembut. Kedua matanya mulai tertutup.

           Saat Seok Jin hendak memperdalam ciuman, tiba-tiba saja ia merasa tubuh Sae Ri yang terkulai lemas. Ia terpaksa melepas ciumannya untuk memastikan. Dan benar  saja. Sae Ri sudah tak sadarkan diri.

            “Sae Ri-ah, andwe!  Bangun, Sae Ri. Banguuun!!”  rasa takut mulai menjalar pada benak Seok Jin. Bahkan ia tak kuasa lagi membendung air matanya.

           Seok Jin mendekap tubuh Sae Ri erat-erat. Ia beberapa kali mencoba untuk membangunkan Sae Ri. Namun tak ada sahutan. Bahkan kini tubuh Sae Ri mulai terasa dingin. Rasa takut Seok Jin mulai menjadi-jadi. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk membangunkan Sae Ri. Namun nihil.

           Seok Jin terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling. Suasana kelas telah ramai. Ia mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Seok Jin menghela nafasnya begitu ia sadar bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi.

“Buku berwarna pink..” Seok Jin teringat dengan suatu hal. Cepat-cepat ia merogoh isi tasnya. Dan ya, tangannya sudah menggenggam sebuah buku berwarna pink yang sama persis di dalam mimpinya. Buku yang tak lain adalah buku yang Na Rin berikan padanya.

           Tak lama kemudian bel pertanda dimulainya jam pelajaran terdengar di tiap sudut sekolah. Seluruh murid langsung bergegas duduk di bangkunya masing-masing. Namun tidak dengan Seok Jin. Dia justru bangkit dari duduknya sambil terus menggenggam buku berwarna pink tersebut.

Seluruh murid-murid menatap Seok Jin dengan tatapan bingung. Pasalnya, jam pelajaran akan dimulai. Namun Seok Jin justru meninggalkan kelasnya.

 

*****

Suasana di koridor sekolah mulai sepi. Seluruh murid-murid telah memasuki kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Yang terlihat hanya segelintir murid yang berlarian menuju kelasnya karena terlambat. Beda dengan Seok Jin yang hanya duduk santai sambil mengamati buku berwarna pink yang ada di tangannya.

Karena penasaran dengan isi buku yang ada di tangannya, tanpa menunggu lama Seok Jin langsung membuka buku tersebut. Dan mulai membaca isi tulisan Sae Ri dengan seksama.

 Senin, 23 September 2013

           “Tadi pagi adalah hari pertama ku di sekolah baru ku. Awalnya aku agak gusar karena aku mendapat bangku dengan posisi yang sangat sempurna, yaitu di pojok belakang.Tapi perasaan itu hilang seketika ketika aku berkenalan dengan empat teman baru ku. Namanya Song Hye Ri, Lee Ga In, Kim Tae Hyung dan Park Jimin. Mereka itu begitu lucu. Mereka tak henti-hentinya bertingkah seperti anak kecil. Aku juga mentraktir mereka di Caffe.

           Ngomong-ngomong di Caffe, ada segerombolan para sunbae yang membuat para yeoja histeris. Begitu juga Hye Ri dan Ga In. Ga In menyebut mereka dengan sunbae yang tampan. Aku menatap salah satu dari mereka. Tapi sialnya, dia menyadari tingkah ku. Jantung ku langsung berdegup kencang. Aku langsung memalingkan wajah ku yang memerah. Ku akui, dia memang sangat tampan. Seperti pangeran dari negeri dongeng yang dulu selalu ku impikan. Hehehe..~

           “Sunbae yang tampan? Memangnya siapa dia? ”  Seok Jin mengernyitkan keningnya karena tak mengerti dari maksud tulisan Sae Ri. Ia tak tau bahwa sunbae yang dimaksudkan adalah dirinya sendiri.

“Hari ini aku tak tau ada apa dengan Yoongi sunbae. Pertama, dia hampir saja memukul Seok Jin sunbae saat aku baru saja di bully. Kedua, dia memukul Jung Kook karena hal sepele. Dan yang ketiga… Dia tiba-tiba saja mencium ku.

           Itu adalah ciuman pertama ku. Yoongi sunbae sudah mencurinya dengan cara yang.. yah begitulah. Aku malas mengingatnya lagi”

           “Apanya yang ciuman pertama? Aku bahkan pernah mencium mu sebelum Yoongi melakukannya!” gerutu Seok Jin yang mulai terbawa suasana dengan isi tulisan tersebut.

Sudah hampir setengah jam Seok Jin membaca isi tulisan Sae Ri. Selama itu pula ia membaca satu persatu lembar dari buku tersebut.

Rabu, 16 April 2014

                “Cinta memang hebat bukan? Orang bisa berbuat beragai hal demi cinta. Ada yang berbuat kebaikan karena cinta. Ada pula yang berbuat kejahatan karena cinta.

Dan pada hari ini, biarkan aku menjadi orang yang egois sekaligus menjadi bodoh. Hari ini pula aku tak akan mendengar perkataan orang lain. Aku tak akan memikirkan orang lain. Bahkan diri ku sendiri. Yang aku pikirkan kali ini adalah ‘Kim Seok Jin’. Aku memang belum lama mengenalnya. Tapi aku merasa seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dialah orang yang telah membuat ku merasakan apa itu mencintai”

Hati Seok Jin tersentuh saat membaca kalimat-kalimat terakhir  Sae Ri di buku tersebut. Ia baru menyadari begitu besarnya perasaan Sae Ri padanya. Ia mulai menyesali karena ia tak sempat mengatakan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama pada Sae Ri.

Seok Jin merogoh isi kantung jasnya. Ia baru ingat bahwa ia juga membawa pulpen dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.

“Aku juga mencintai mu, Sae Ri-ah. Maaf aku tak sempat mengatakannya secara langsung. Bodohnya aku tak mengatakan aku juga menyukai mu saat itu. Aku sangat menyesal sekarang.

          Aku juga sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan hidup ku akhir-akhir ini. Dan aku rasa Jung Kook benar, kau pasti sedih melihat ku seperti itu. Aku berjanji tak akan menyia-nyiakan hidup ku dan akan terus berusaha untuk menghabiskan hidup ku dengan hal-hal yang bermanfaat. Hanya itu yang aku bisa lakukan untuk mu, Sae Ri-ah. Terima kasih banyak telah memberikan ku kesempatan hidup. Aku mencintai mu”

           Seok Jin tersenyum menatap hasil tulisannya di buku tersebut.  Ia melihat sekeliling. Suasana koridor telah sepi. Ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya agar dapat mengikuti pelajaran dan belajar dengan giat untuk persiapan tes kelulusannya.

Namun ia tak menyadari satu hal. Didalam buku tersebut,terdapat sebuah halaman dengan isi coretan Sae Ri yang bertuliskan sama persis dalam mimpinya.  Yaitu ‘Jung Sae Ri♥Kim Seok Jin’

————————————————-

 

#1TahunKemudian

 

          Suasana di kelas 2.1 tampak riuh oleh kebisingan murid-murid. Sementara itu, Ju ng Kook hanya duduk tak mempedulikan kebisingan dari teman-teman barunya. Ia hanya duduk sendirian dan mendengarkan musik lewat earphone yang terpasang di telinganya sambil memejamkan matanya.

Tak lama kemudian datang seorang siswi dengan keadaan tergesa-gesa. Karena tak ada pilihan lain, ia memilih untuk duduk disamping Jung Kook yang kebetulan satu-satunya bangku yang masih tersisa.

Mendapati seseorang duduk disampingnya, Jung Kook melepas earphone dari telinganya. “Ya! Kenapa kau duduk disini,huh? Pergilah! Aku tak mau duduk dengan siapa pun!” sergah Jung Kook dengan nada ketus.

“Kenapa? Kita ini sudah satu kelas. Lagi pula tak ada lagi bangku tersisa” sahut siswi bername tag Yoon Soo Yeon.

“Aku tak peduli! Pergilah sebelum aku menyeret mu!” sahut Jung Kook dengan tatalan dinginnya.

Ya, semenjak Sae Ri pergi Jung Kook tak pernah sekalipun duduk satu bangku dengan siapa pun. Ia akan menjadi sangat sensitif jika seseorang memaksanya untuk duduk satu bangku dengannya. Hal itu membuatnya dikenal sebagai siswa dingin diantara teman-teman barunya di kelas 2. Jung Kook tak peduli dengan hal itu. Baginya, ia hanya mau duduk satu bangku dengan Sae Ri, cinta pertamanya.

“Sudah aku bilang berapa kali. PERGILAH!” seru Jung Kook yang mulai kesal dengan Soo Yeon yang tak kunjung bangkit dari duduknya. Karena tak ada pilihan lain, Jung Kook mendorong tubuh Soo Yeon.

Tubuh Soo Yeon hampir terjatuh karena dorongan dari Jung Kook yang cukup keras. Untungnya Soo Yeon dapat menyeimbangkan tubuhnya sehingga ia tak perlu jatuh keatas lantai.

“YA, YOON SOO YEON! KENAPA KAU MASIH SAJA BERDIRI? CEPAT DUDUK. PELAJARAN SEGERA  DIMULAI” pekik Jung ssaem yang sontak mengheningkan suasana kelas.

“N..Ne, seongsaenim” sahut Soo Yeon seraya membungkukkan tubuhnya. Ia mengaharahkan pandangannya pada Jung Kook. Yang ditatap justru ‘membuang muka’ sambil terus memasang tampang dinginnya.

Dengan hati-hati Soo Yeon duduk disamping Jung Kook. Takut jika Jung Kook meneriakinya kembali. Namun yang ia takuti tak benar-benar terjadi.

“Kau.. setelah jam pelajaran Jung ssaem berakhir, cepat-cepatlah bawa tas mu dari sini dan jangan pernah kembali ke bangku ku” ujar Jung Kook lirih yang masih dengan tatapan dinginnya yang begitu menusuk.

“A..arraseo..” sahut Soo Yeon lirih namun terdengar parau.

Jung Kook tak henti-hentinya memasang tampang dingin semenjak keberadaan Soo Yeon. Apa lagi Jung ssaem memberikan tugas kelompok secara satu bangku. Terpaksa Jung Kook harus satu kelompok dengan Soo Yeon.

Karena Jung Kook perlu mencari refrensi untuk tugasnya, ia memilih untuk pergi ke perpustakaan. Dan saat itu pula Soo Yeon terus mengikuti Jung Kook.

Soo Yeon sangat ingin mengakrabkan diri dengan Jung Kook. Ia tak tahan bila bekerja dalam satu kelompok tetapi terus-terusan diam tak ada komunikasi dengan teman sekelompoknya. Ia sudah beberapa kali berusaha untuk memulai perbincangan dengan Jung Kook. Namun Jung Kook sama sekali tak menggubris Soo Yeon. Dan ia berusaha untuk berjalan disamping Jung Kook. Tetapi Jung Kook lagi-lagi melangkahkan kakinya lebih cepat agar tak berjalan secara bersampingan dengan Soo Yeon.

“YA, JEON JUNG KOOK! SEBENARNYA ADA APA DENGAN MU? KENAPA KAU TERUS SAJA MENGHINDARI KU? APA KAU TAKUT KEKASIH MU AKAN MELIHAT KITA? BAHKAN AKU TAK PERNAH MELIHAT KAU BERSAMA SEORANG SISWI MANAPUN SEMENJAK MENINGGALNYA SAE RI!” pekik Soo Yeon yang mulai geram dengan perlakuan Jung Kook.

Mendengar Soo Yeon yang menyebut nama Sae Ri, sontak ia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

“Memangnya apa urusan mu? Jangan pernah sembarangan menyebut nama Sae Ri! Asal kau tau, hanya dia orang yang aku sukai” ujar Jung Kook yang nadanya terdengar begitu ketus di telinga Soo Yeon.

 

*****

Berbeda dengan Jung Kook yang kini bersikap dingin, keempat temannya yaitu Tae Hyung, Jimin, Ga In dan Hye Ri kini semakin bahagia dengan kehidupan percintaannya.

Tae Hyung dan Ga In yang masih terikat dalam hubungan spesial, bahkan hubungannya tersebut semakin erat dari sebelumnya. Mereka begitu bahagia tatkala mereka mendapat kelas yang sama. Itu artinya, mereka berdua akan berada dalam satu kelas selama dua tahun.

Sementara Jimin, usahanya untuk mendekati Jae In ternyata membuahkan hasil. Kini ia sudah resmi menjadi kekasih dari seorang Jae In yang kala itu terkenal di sekah. Perbedaan usia tak menghalangi Jimin untuk menjalin hubungan dengan Jae In. Setiap harinya Jimin mengantar dan menjemput Jae In yang kini melanjutkan pendidikannya di universitas. Tak ada rasa bosan di benak Jimin dan Jae In. Justru keduanya senang dengan hal tersebut.

Hye Ri yang kala itu patah hati dengan Jimin yang mendekati Jae In, kini perasaan tersebut tergantikan oleh seorang Namjoon yang kini sudah menggantikan posisi Jimin. Ia tak menyangka bahwa Namjoon akan menjadi miliknya. Tak ada lagi perasaan sedih atau patah hati dalam diri Hye Ri. Hari-harinya kini sudah dihiasi oleh Namjoon yang tulus mencintainya.

*****

“Annyeong, Sae Ri-ah. Apa kau baik-baik saja disana? Aku sangat merindukan mu. Tapi aku yakin kau tak pernah pergi dari ku. Benar kan? Sekarang ini aku menempati posisi ayah di perusahaan orang tua ku. Aku berencana melanjutkan perusahaan ayah ku. Walaupun aku masih harus didampingi. Maka dari itu aku belajar dengan giat di universitas. Jadi aku bisa mengelola perusahaan orang tua ku. Seperti janji ku dulu, aku tak akan lagi menyia-nyiakan hidup ku. Dan itu demi untuk kebahagiaan mu disana, Sae Ri-ah. Ku harap kau terus bahagia di alam sana..” senyuman tampak jelas di bibir Seok Jin. Ia tak henti-hentinya menatap gundukan tanah di hadapannya. Hampir setiap harinya ia mengunjungi makam Sae Ri sebagai pelepas rasa rindu. Walaupun rasa rindu untuk berjumpa dengan Sae Ri sangatlah besar.

Seok Jin mengecek jam tangannya yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Jam tangannya sudah menunjukkan pukul 08.15. Itu artinya ia harus bergegas menuju tempat kuliahnya.

“Maaf Sae Ri-ah. Aku harus berangkat kuliah sekarang juga. Jangan khawatir, aku akan kembali lagi besok. Sampai jumpa” ujar Seok Jin dan berlalu dari makam Sae Ri.

Saat hendak meninggalkan makam Sae Ri, Seok Jin tak sengaja berpapasan dengan Na Rin yang juga hendak mengunjungi makam Sae Ri. Ia hendak terus melanjutkan langkahnya. Namun langkahnya terhenti oleh Na Rin yang tiba-tiba memanggilnya.

“Seok Jin-ah, apa kau mengunjunginya tiap hari?” tanya Na Rin sambil menatap punggung Seok Jin.

“Katakan saja apa yang sebenarnya ingin kau katakan!” sahut Seok Jin dingin seperti biasanya.

“Baiklah. Kau.. apa kau juga menyukainya?” tanya Na Rin dengan hati-hati.

“Tidak” jawab Seok Jin singkat yang belum juga membalikkan tubuhnya untuk menatap lawan bicaranya.

Mendengar jawaban Seok Jin, senyuman tersungging di bibir Na Rin. Ia merasa lega. “Kalau begitu, ayo kita kembali seperti dulu. Dan memulainya dari nol”

Seok Jin membalikkan tubuhnya dan menatap lawan bicaranya tersebut. Bahkan ia mulai menampilkan senyumannya kepada lawan bicaranya tersebut.

“Kau terlambat, Kim Na Rin. Aku terlanjur mencintai adik sepupu mu. Pertanyaan mu salah. Seharusnya ‘apa kau juga mencintainya?’ maka aku akan menjawab ‘iya’. Bukan hanya perasaan suka. Melainkan perasaan cinta ku pada Sae Ri. Maaf, aku harus pergi sekarang” Seok Jin kembali menyunggingkan senyumannya sebelum ia berlalu.

Sementara Na Rin, ia hanya membisu mwndengar ucapan Seok Jin. Ia tak menyangka bahwa ia telah melepaskan Seok Jin begitu jauh hingga kini telah bersinggah di hati orang lain.

 

        Sae Ri dan Jung Kook baru saja dari kantin. Mereka terpaksa pergi dari kantin sebelum menghabiskan makan siang mereka karena tak nyaman dengan suasana kantin.

           Kini mereka berdua berada di koridor sekolah yang kondisinya cukup sepi. Jung Kook menghentikan langkahnya yang di ikuti oleh Sae Ri.

           “Sae Ri-ah, ada yang perlu aku bicarakan dengan mu” ujar Jung Kook begitu ia mengehentikan langkahnya.

           “Apa itu?” tanya Sae Ri yang penasaran dengan apa yang akan Jung Kook katakan karena Jung Kook yang tampak begitu serius.

           “Aku.. sangat menyukai mu. Sudah lama aku menyukai mu, Sae Ri-ah. Aku tau, aku keterlaluan. Tapi aku senang dengan keadaan mu sekarang ini. Tiap waktu mendampingi mu, memberikan sandaran saat kau menangis, memeluk mu saat kau ketakutan, memberi mu rasa aman, dan menjaga mu.. aku ingin melakukan itu semua pada mu. Tak akan ada rasa letih. Justru aku akan sangat bahagia jika aku bisa melakukan semua itu. Sae Ri-ah, boleh kah aku memiliki mu seutuhnya?” ujar Jung Kook sambil menatap Sae Ri dengan lamat.

           Sae Ri mengerjapkan matanya beberapa kali menahan matanya yang mulai panas karena terharu dengan apa yang ia dengar. Ia merasa senang dengan apa yang Jung Kook katakan. Bahkan sebelum Jung Kook mengatakan itu, Sae Ri sudah bisa merasakan bagaimana Jung Kook yang selalu ada disisinya dan selalu menjaganya. Pikirannya mulai memunculkan sebuah jawaban.

           Kedua mata Sae Ri tiba-tiba saja menangkap seseorang yang tengah berdiri sambil menatapnya dengan tatapan lesu. Isi pikiran langsung terpenuhi dengan sosok pria tersebut yang tak lain adalah Seok Jin.

           “Sae Ri-ah?” Jung Kook membuyarkan lamunan Sae Ri hingga mata mereka kembali bertemu. Sae Ri menatap Jung Kook dengan lamat. Sambil terus menatap, ia terus berfikir. Entah mengapa pikirannya tiba-tiba berubah 180 derajat dari sebelumnya.

           “Jujur saja aku senang mendengarnya. Tapi aku tidak tau ada apa dengan isi pikiran ku sekarang..” sahut Sae Ri sambil mengernyitkan dahinya.

           “Jung Kook-ah, aku sangat senang dengan kehadiran mu. Dan aku tak mau kehilangan mu.. sebagai seorang sahabat ku. Kau mengerti dengan maksud ku kan?” tambah Sae Ri sambil terus menatap orang yang ada di hadapannya, Jung Kook.

           “Baiklah, aku mengerti apa maksud mu” kedua mata Jung Kook tampak berkaca-kaca begitu mendengar ucapan Sae Ri.

           “Tapi.. biarkan aku..” Jung Kook mendekatkan wajahnya ke wajah Sae Ri. Kemudian ia mencium lembut bibir Sae Ri. Namun Jung Kook memilih untuk segera melepas ciumannya tersebut karena ia paham betul posisinya di mata Sae Ri.

          “Kenapa kau mencium ku?” ekspresi akan rasa terkejut tampak jelas di wajah Sae Ri. Beberapa kali ia memerjapkan matanya.

           “Anggap saja ciuman tadi ciuman tanda persahabatan kita” sahut Jung Kook. Dalam batinnya, meskipun Sae Ri menganggapnya hanya seorang sahabat, ia tak akan pernah berhentu menganggap Sae Ri lebih dari seorang sahabat.

#FlashBackEnd

 

 

 

THE END

 

 

 

 

Author’s note: Gak terasa ternyata dah nyampe part 10 sekaligus part terakhir \^^/

Untuk para readers, sebelumnya author mau minta maaf soalnya ga nyajiin cerita sesuai keinginan para readers. Dan maaf juga kalo ceritanya ga ada feelnya sama sekali atau ceritanya ngebosenin.

Terima kasih juga buat para readers yang  selama ini udah setia mbaca dan ninggalin jejaknya di ff ku. Mungkin kalau ada ide buat bikin ff lagi, aku bakal come back dengan ff yang baru. Tapi entahlah, kita lihat saja nanti ^^

well, thanks for your time, readers. Bye bye.. ppyong!~

About fanfictionside

just me

62 thoughts on “FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.10 – FINAL

  1. dapet bnget feelnya thor :’0 daebaaak walaupun sad ending. tapi Yoongi ga ada kabarnya pas saerinya meninggal :v keep writing thor^^)9

  2. Andai aku ga lg didepan umum pasti aku nangis pake bgt gegara ini! This heart that i gave to you bener” daebak thor T-T lurv” bikin sequel dong thor yg jungkook, kasian tuh bocah ._.

  3. tuh kan saeri yg donorin jantungnya buat seokjin. ceritanya mengharukan bgt thor TOT pd akhirnya jungkook ama seokjin jomblo nih. yg laen dp pasangan hehehe one of my fave FF ever *thumbs up* ditunggu FF selanjutnya ya thor

  4. nyesek banget bacanya padahal ngarep banget ini bakal happy ending😥
    tapi ga apa lah keep writing thor

  5. Ya ampun nyampe nangis baca nya
    Kenapa harus mati.. huahhhh
    terus itu yoongi nya kmn kok ngilang
    ahhhh

  6. 😥😥 huaaaaaa Saeri-ah hebat and pemberani pantas Narin iri pengorbanan buat SeokJin gk main2 daebak bngt itulah cinta sedih&indah pada waktunya, next ff fighting🙂

  7. ga nyangka udah final… ahh sedih bgt thor huhu T_T kasian sama jungkok deh… Hmmm ga bisa comment apa2 deh… Sedih.,..

  8. thor tanggung jawab bacanya gk bisa diem gegara ni air keluar terus😥 klo aku sampe pilek ato kekurangan air mata author harus tanggung jawab !!
    hehe
    mian thor bercanda😀 tapi serius
    btw ffnx keren loo..
    sampe spreiku basah
    tanggung jawab !!
    bercanda lagi😄
    author harus besyukur saya komen ff author karena saya jarang ngecoment -elah ketauan-
    kutunggu ffmu yg akan membuat kamarku becek #lebeh
    klo bisa lbih sad lagi biar author tanggung jawab lbih besar bwahahaha #evil laugh
    buat ff lagi yg bisa membuat reader setia nunggu author^^6
    sekian
    ppyong~

  9. Kan yaa,, sae ri donorin jantungnya ke seokjin😥.. Hhuuaaa nangis bacanya..
    Bagus banget FFnya thor..
    Kapan2 bikin FF seokjin-sae ri lagi thor, tapi happy ending..

    • Boleh kok. Justru jantung dari orang yg masih hidup lebih bagus kualitasnya ketimbang yg udah meninggal. Soalnya jantung yg bisa di donorkan itu harus jantung yg masih bisa berfungsi. Kalau dari orang yg meninggal seringnya seluruh organ vitalnya sudah ga berfungsi lagi dalam waktu yg cukup singkat. Jadi percuma aja kalo ndonorin jantung yg dah ga berfungsi.

  10. T_T beneran ternyat saeri yg donorin jantung nya thor jni keren daebak..
    kenapa harus sad ending tpi bgus kok thor🙂
    Kasian kookie T_T

  11. Tuh kan saeri yg donorin jantung ToT , author wajib sequel loh , yoongi g ada kabar , jin ? Jungkook ? Nasib mereka bgaimana ToT , daebak ff ny thor ToT Next Sequel Thor

  12. yes thor, baru aja gue berenti nangis gegara nilai un yg anjlok dan sekarang ff ini malah bikib gue nangis lagi..
    KEERRREEEENN >\\<

  13. TUHKAN SAD ENDIINGG AAAAAAAAAAA. AKU NANGIS KEJER TAUGASIH THOOR BACA INI SERIUS AUTHORNYA HARUS TANGGUNG JAWAAABB!!!!!TTT–TTT.
    INI BENERAN FINAALL?!??? BENERANN?!!?! AHHH CEPET BANGET ABISNYA IHHH PADAHAL AKU SUKA BANGET SAMA FF INI HUEEEE TT–TT
    hmm yaudalahlahyaaaa intinya ff ini kereeeennnn bgtbgtbgt!! authornya juga daebaakk!! hehehe sarangek SunKi unniee<3<3

  14. ouo author tanggung jawab bikin aku nangis!? daebak thor aku suka sama ceritanya, feel nya dapet ko thor^^ fighting for other ff thor!^^

  15. Aigoooo thor bikin nangis bombay thor kenapa sad ending dah
    Secara keseluran okeee bgt thor jalan cerita nya

  16. thor… hiks.. hiks T_T
    aku ikutan nangis bca nya ><
    saeri Jjang! (Y) hhhh~ rela mati demi org yg di cintai~

    d'tunggu karya mu yg lain thor🙂

  17. daebak author bikin gua mewek TT_TT
    knp hrus sad ending sih >_<
    huaaaaaaa….
    author jahat sae ri nya di matiin?
    trlalu keren..
    bru kali ini bca ff sampe mewek nhni u_u
    #keep_writing_ajabuat author..
    sering2 bkin ank org nangis ye???
    :')

  18. Ya Allah ,thor gw ga tau mesti ngmong apa:-/ yg jelas gw yg bego ato apa yah coba dri awal udah kliatan ada tanda2 Sae Ri sma Seok Jin ,tp gw msh b’harap Jungkook yg ama Sae Ri ;-( dan gw bru sadar pas ngeliat jdul’a di part ini ,MASYA ALLAH :-O

    sedih bgt Masya Allah ,ini kaya nnton drama jadi’a T_T sedih krna kbodohan sae ri, kasian jg sma jungkook /?
    Ada kecewa jg krna t’nyata ah sudahlah…
    Bnyak cing cong gw :3

  19. Admin lu harus tau sekarang jam 03:37 dini hari dan ff lo bikin gue nangis dan menghasilkan mata lembam besok hueeeeee tanggung jawab lu! Idupin saeri lgi /salah hahaha, daebak lah ff lo ini, udh kek rollercoaster, di bikin ngefly ujung2nya di jatohin T.T untung jin gak terlalu gue biasin, daebak lah min

  20. Dari Part 1 aku baca hingga part 10.
    Bener2 sae ri,kagum bgt aku sama dia.. Dia bener2 sayang sama seok jin oppa hingga merelakan nyawanya.
    Bener2 ceritanya bikin hati nyesek sedihhh omooonaaa
    Good Job Thour!! I like this!! Keep Writting and Fighting!!

  21. Aggghhhhhhhh gilaaaaaa daebak daebak daebakkkkkkkkkkkk.. Ya ampun aku nangis masa :’3
    Gilaaaaaa author daebakkkk (y) tepat dugaanku dri mulai chap 8, pasti si sae ri bakal jd pendonor jantung buat si jin/?
    Tp thor, hrsnya di part ending ini tampilin jg si yonggi.. Soalnya gimanapun dia prnh prnh buat sae rin nangis/? Ya kan?? ._. Tp overall, daebakkk bangettttttt… Melting tau baca ini xD ya Allah, bnr2 salut dah sama sae ri :’3

  22. Runtut dari chapter awal (Chap.1) bersoraksorai karna ada bias majeng disitu (read yoongi) alurnya keren ga sampe bisa kepikiran kalo ternyata hyungnya Jungkook bakalan mutusin hubungan sama nari. Dan dari situ juga ngerasa kalo saeri bakalan sama jungkook. Tapi karna ada yoongi jadi rada bingung. Sempet greget sama jungkook yang sangat tulus karakternya /g. Dan yoongi obb, yang kukira bakalan jadi obb Saeri ternyata berubah kan jadinya sedih hehe, sempet nge feel kalo “sunbae tampan” itu seokjin obb. Jungkook obb pas nyatain perasaannya aduh bikin nangis beneran. Dan yang puncaknya, dimana Saeri nulis diary dan isinya aduh, ngena thor~. Itu bikin aku nangis kedua kalinya. Gilaaa keren. Sempet greget gegara Nari unni aduhh sedih Jungkook berubah jadi dingin. Btw tentang taehyung gain, rapmon hyeri, sama jimin – jaein sunbae keren cuman rada ga pas dimana jungkook berubah eh mereka malah seneng gitu. Tapi pada intinya thor, cuman ngingetin masa “Flashback” sebaiknya dikasih tanda ya, sempet bingung, tibbatiba langsung Flashback off gitu. Suksseeess thorrr

  23. Daebak thor. Aku bacanya sampe nangis:” aku pikir bakal happy ending pas awal baca dr part1. Mian baru comment thor *bow
    author jjang(y) FIGHTING NE^^)9

  24. Wah thor , kog langsung diendingin sih ? Suga sunbae nya masak gadak pas kabar meninggal saeri , tapi tetep keren banget thor *10jempol* sampe2 mama aku heran liat nangis terus , hwaaa daebak (y)

  25. Aku rekomendasiin lagu yang pas buat bagian Saeri pas mau di operasi
    Jin – Gone (Bukan Jin bts)
    Aku kejer masaa bacanya -_- hahaha feelnya dapet banget!
    Hebat!
    Ditunggu karya selanjutnya ya kak!

  26. huaaa… keren thor😉
    seok jin oppa neomu johaeyo :*….
    walaupun seok jin oppa harus di tinggalkan sae ri … aku disini akan selalu menemani mu oppa … by : Jung Hye Min

    aku suka FFnya karna :
    1. sunbae tampan => Kim Seok Jin
    2. FFnya sad ending
    3. Yonggi yang lucu tapi kenapa yonggi selalu jadi karakter jahat ya😦

    oke.. thor di tunggu FF mengharukan selanjutnya

  27. huaaa hiks :””” abis deh tisu dirumah gue buat ngilapin ingus (: berpikir ending ff ni pasti happy ending ternyata sad:( kereeen hiks hiks😥

  28. mian baru coment . hehee lupa ..
    sad ending???😥
    berharap Sae ri sma Yoongi , Jin sma Na rin ..😥
    tp ttp bagus ni ff .. sipp thor ..
    daebakkk ..🙂

  29. hiks….hiks….slam knal author ni reader bru..
    ni nangis btulan msak bca 2 ff di blog ni sad ending smua…hiks…..hiks…* dijitak sma adminny *****
    smgt author…..we lov u…fighting…!!!

  30. Mian thor,aku baru baca
    Tapi ceritanya sumpah bagis banget,aku nggak bisa nahan tangis bacanya😂😂😂😂
    Jempol buat thor👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s