FF oneshot/ YOU’RE MY HERO, PRESIDENT CLASS/ BTS-GOT7


You’re My Hero, President Class

Author : JM

Genre : Tragedy, Sad, Brothership, Family

Length : Oneshoot

Cast :

–          Kim Seok Jin   (BTS)

–          Mark Tuan       (GOT7)

–          Yoon Ji Yoon (OC)

Summary :

“Aku rela melakukan apapun untuk sahabatku, asalkan dia tetap hidup. Dia lebih penting dari segalanya, tak peduli aku harus mati atau apapun akan aku lakukan demi keselamtannya. Sungguh, dialah sahabat terbaik yang pernah ku miliki di dunia ini. Jujur saja, dia adalah prioritas utamaku karena dia adalah malaikat pelindungku. Dan untuk gadisku, Ji Yoon, Jeongmal Gomawo, Mianhae, keundae… Jeongmal Saranghae…” – Kim Seok Jin

“Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sebaik dia dan betapa bahagianya aku mendapatkan seorang gadis sepertinya. Aku bersyukur Tuhan memberi umur panjang padaku sehingga aku bisa merasakan kasih sayang sahabat. Satu hal yang ingin ku ucapkan pada mereka, Terima kasih. Akan ku gunakan kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk membahagiakannya demi dirimu, Seok Jin Hyung! Saranghae…!!! You’re my hero, President Class…” – Mark Tuan

Inspired by Sewol Ferry Incident

# # #

Danwon Senior High School, Ansan, Gyeonggi, Korea Selatan

10 April 2014

08.00 KST

KRINGG

Suara bel berdentang dengan lantangnya sehingga para siswa yang masih berada di luar gerbang segera berlari menuju kelas masing-masing sebelum pintu gerbang tertutup. Lima menit setelahnya, security mulai menutup gerbangnya rapat-rapat namun dua orang pria dari arah berlawanan mencegah security itu. Mereka menahan gerbang itu dengan satu tangan sementara satu tangannya lagi bertumpu pada lutut. Keduanya sedang berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan karena berlari kemari agar tidak telat.

“Aku mohon! Biarkan aku masuk! Jam pertama aku ada ulangan Matematika, Jung Ahjussi!” Ujar pria berambut merah yang sedikit basah dan berantakan.

“Nde, benar itu! Biarkan kami masuk! Han Songsaenim bisa mengamuk jika murid kesayangannya tidak mengikuti ulangan kali ini! Tolonglah kami sekali ini saja, Jung Ahjussi!” Pinta pria satunya sambil memasang wajah melasnya.

“Baiklah. Karena kau anak yang baik, aku mengijinkanmu masuk! Dan kau…. kau beruntung karena telat bersama ketua kelas yang baik sepertinya jika tidak sudah ku tendang kau jauh-jauh dari sini, Mark-ssi!” Ucap security itu sembari membuka sedikit pintu gerbangnya agar kedua murid itu bisa masuk.

“Arrayo! Gomawo Jung Ahjussi! Nanti aku akan mentraktirmu makan doubboki di ujung persimpangan yang ada di depan itu pulang sekolah! Sampai jumpa, Ahjussi!” Guman pria berambut cokelat tua lalu ia segera berlari menyusul Mark –si rambut merah- yang sudah berada jauh di depannya.

“Cepat! Kau ingin Han Saem menghukum dan menceramahi kita? Dasar lambat! Kau pria atau wanita, Seok Jin-ssi?” Ketus Mark yang kini tengah menoleh ke arah temannya itu yang hanya nyengir mendengar ucapan ketus Mark. Keduanya berjalan beriringan ketika sudah dekat dengan kelas mereka sambil diam-diam melirik ke dalam kelas melalui jendela yang mereka lalui.

Sampai di kelas, Han Songsaenim belum masuk ke kelas sehingga keduanya bisa bernapas lega lalu segera duduk di tempat mereka. Kebetulan mereka berdua satu bangku sejak awal masuk sekolah ini, entah mengapa mereka selalu satu kelas dan menjadi teman sebangku hingga sekarang mereka kelas dua. Tak lama kemudian Han Songsaenim memasuki kelas itu lalu menyapa para muridnya sebelum memanggil sang presiden kelas agar membagikan kertas ulangan. Sementara Han Songsaenim membagi soal ulangan kepada murid-murid yang tampak sebal menatap soal ulangan nista itu. Seok Jin langsung kembali ke tempat duduknya setelah membagi kertas ulangan tadi lalu segera mengerjakan ulangannya.

Berbeda dengan Seok Jin yang serius mengerjakan soalnya, Mark hanya menatap lembar soal dan lembar jawabannya itu dengan malas. Ia menyerah, tak mungkin dia bisa mengerjakan soal-soal sulit itu sehingga dia memilih untuk menaruh kepalanya di meja. Baru 30 menit ulangan di mulai, Seok Jin sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu dengan mantap ia memberikan lembar jawaban dan soalnya kepada Han Saem. Mark meliriknya sekilas lalu kembali menaruh kepalanya di meja namun dari sudut matanya ia menemukan selembar kertas di mejanya.

Ia memicingkan matanya sejenak lalu kembali melirik Seok Jin yang kini tengah tersenyum lebar ke arahnya sembari berjalan keluar kelas. Samar-samar ia tersenyum melihat kelakuan Seok Jin itu lalu menyalin jawaban yang Seok Jin berikan padanya. Tak lama, ia segera mengumpulkan jawabannya lalu melengang keluar kelas di iringi tatapan kagum dari Han Saem. Tidak biasanya Mark mengerjakan ulangan secepat ini apalagi tanpa bantuan dari Seok Jin karena Han Saem membuat dua paket soal hingga tak bisa saling bertanya dengan sebelahnya.

Rooftop

08.40 KST

“Thanks, Jin Hyung! Ini untukmu!” Ucap Mark singkat sambil menyodorkan sekaleng jus jeruk ke arah Seok Jin yang sedang menatap pemandangan di sekelilingnya.

“Ya, sama-sama. Terima kasih kembali! Pasti Han Saem menatapmu dengan tatapan kagum saat keluar kelas tadi!” Balas Seok Jin sembari menerima kaleng itu lalu membukanya dan segera menegaknya.

“Hm… tentu saja! Tapi bagaimana bisa kau mengerjakan dua paket sekaligus dalam waktu yang singkat begitu?” Tanya Mark sembari menyesap mocacinonya.

“Haha… itu mudah saja! Saat membagikan kertas tadi tak sengaja kunci jawaban milik Han Saem ada di dalam situ lalu aku mengingatnya dengan cepat! Sampai di tempat dudukku aku langsung menulis semua jawaban dari dua paket itu dan aku memberikannya untukmu!” Jawab Seok Jin sambil terkekeh kecil karena gurunya yang agak ceroboh itu.

“Oh, begitu rupanya! Ku kira kau menghitungnya satu per satu! Ternyata kau licik juga, Ketua Kelas!” Ucap Mark sembari tersenyum tipis.

“Haha…. kau bisa saja! Tapi, terima kasih atas pujiannya ya? Eh… minggu depan sekolah kita ada study tour ke Jeju ya?” Seok Jin menatap Mark dengan tatapan sulit di artikan dan wajahnya sedikit pucat ketika Mark mengangguk.

“Kenapa memang? Ada yang salah? Kenapa kau jadi pucat begitu? Apa kau tak ingin ikut?” Tanya Mark sambil memandang Seok Jin heran.

“Aniyo! Nan gwenchanayo! Ku pastikan akan ikut study tour itu! Yang ku khawatirkan adalah Ji Yoon! Dia pasti tidak mau ikut!” Jawab Seok Jin lesu lalu menatap wallpaper ponselnya dengan tatapan kosong.

“Yow! Whassup, guys? Sudah lama menungguku? Maaf ya? Tadi aku harus membantu teman-teman, hehe!” Sapa seorang gadis yang tiba-tiba saja sudah ada di antara Mark dan Seok Jin.

“Ji Yoon? Kenapa kemari? Ketua kelas yang memanggilmu? Kau tak takut Yoo Saem memarahimu?” Tanya Mark spontan sembari meletakkan kaleng minumannya di atas pagar pembatas.

“Hehe… tadi kelasku ada ulangan sejarah dan sebenarnya aku sudah selesai dari tadi hanya saja… hmm… ya, kalian pasti tau lah! Dan aku kemari karena ingin saja! Tak ku sangka malah bertemu dengan kalian berdua!” Sahutnya santai lalu duduk di atas pagar pembatas dengan posisi membelakangi Mark dan Seok Jin.

“Kau terlalu baik pada teman-temanmu yang malas belajar itu! Jangan di teruskan, oke? Oh ya, apa kau ikut study tour itu?” Seok Jin menatap Ji Yoon dengan serius sedangkan yang di tatap hanya diam saja hingga terdengar dengusan sebal darinya.

“Bukankah kalian tau aku benci naik kapal? Entahlah… aku tak tau! Helmoni memaksaku untuk ikut karena dia bilang jika aku tak ikut maka aku akan menyesal!” Ujarnya datar.

“Hm… ya sudah! Tapi jika boleh memberi saran, ku sarankan kau ikuti kata hatimu saja! Jika tak ingin ikut ya, tidak usah ikut! Karena jujur saja aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi jika kau ikut!” Guman Seok Jin lirih namun cukup jelas terdengar oleh Mark dan Ji Yoon.

“Arraseo! Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita belanja bersama untuk keperluan study tour itu?” Ajak Ji Yoon dengan semangat.

“Of course! Now, can we go to canteen? I’m really hungry, you know? C’mon! I will pay all! Let’s go!” Seok Jin dan Ji Yoon menatap Mark selama beberapa detik lalu mengangguk dengan semangat.

“Kau memang yang terbaik, Mark! Kajja! Kita makan sepuasnya, Ji! The big boss will pay all!” Ujar Seok Jin sembari merangkul bahu Mark.

“Haha… sure! Let’s go! Follow me! Kita harus manfaatkan kesempatan berharga yang di berikan big boss!” Timpal Ji Yoon yang sudah berjalan dulu di depan sambil tertawa riang. Mark hanya bisa tersenyum simpul melihat kelakuan kedua sahabatnya yang childish ini.

# # #

Starbucks, Danwon, Ansan, Gyeonggi, Korea Selatan

11 April 2014

14.20 KST

Sore ini aku, Mark, dan Ji Yoon ada janji bertemu di Starbucks yang ada di dekat rumahku untuk membahas study tour ke Jeju. Kebetulan Han Saem yang mengurus study tour ini memintaku untuk membantunya meneliti sebagian data murid yang akan mengikuti study tour ini. Sebenarnya aku malas melakukan ini namun bagaimana lagi? Aku tidak mungkin menolak keinginan wali kelasku itu kan? Ku panggil waiter yang tak jauh dariku lalu aku memesan satu vanila latte dan banana split. Waiter itu berlalu setelah mengulang pesananku dan membungkuk hormat lalu aku kembali melanjutkan pekerjaanku.

Data murid yang tidak ikut sudah ku periksa satu per satu, kira-kira ada 20 orang murid yang tak bisa ikut study tour kali ini. Aish… kemana sih Ji Yoon dan Mark? Katanya berjanji akan membantuku tapi kenapa belum datang juga? Menyebalkan sekali! Tak lama waiter tadi datang membawa pesananku lalu ia membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkanku. Ku lirik jam tangan Adidas berwarna biru laut milikku lalu ku ambil ponselku dari dalam saku celana. Pertama aku akan menghubungi Mark baru menghubungi Ji Yoon setelahnya dan aku harap mereka sudah di perjalanan kemari.

“Mark?”

“Eoh? President Class? Why?”

“Where are you? You… you not remember? We have a promise!”

“Really? Sorry… I forget it! Wait for 10 minute! Bye…”

PIP

Dasar anak itu! Sekarang aku harus menelepon Ji Yoon! Namun baru akan menekan nomornya, dia sudah datang dan langsung duduk manis di depanku. Dia hanya memasang wajah innocent dan senyum polosnya yang membuatku ingin mencabik-cabik wajahnya itu. Aku menghela napas sejenak lalu memanggil waiter lagi dan memesankan tiramisu serta capucino untuk Ji Yoon. Kemudian aku memesan sandwitch tuna serta mocacino untuk Mark yang sebentar lagi akan datang. Setelah waiter itu pergi aku menatap Ji Yoon lekat-lekat lalu menghembuskan napas berat sebelum bertanya padanya.

“Kenapa kau telat, hm? Jangan bilang kau lupa! Cukup Mark saja yang bilang begitu!” Tanyaku datar sembari menyerutup vanila latteku yang sudah agak dingin.

“Aniyo! Aku tidak melupakannya hanya saja tadi helmoni menyuruhku untuk membantunya memanen sayuran di belakang rumah. Hehe… maaf ya? Ini sayuran dari helmoni! Beliau titip salam untukmu dan keluargamu!” Jawabnya sambil menyodorkan keranjang berisi sayuran.

“Arraseo! Katakan pada helmoni kalau aku akan membantunya memanen sayur lain kali dan aku mengucapkan terima kasih karena mendapat sayuran enak ini! Baiklah, kau periksa data kelas 1 ya? Aku akan memeriksa data kelas 3!” Dia hanya mengangguk lalu mengambil map berwarna biru tua yang berisi data kelas 1 sedangkan aku mulai membaca data kelas 3 yang ada di map hijau tua.

“Ehm… sorry! Mana yang harus ku periksa?” Tanya Mark ketika dia baru saja sampai lalu ia duduk di sebelahku. Aku menyodorkan map berwarna merah terang ke arahnya lalu dia segera memeriksanya dan aku kembali memeriksa data kelas 3.

Akhirnya kami selesai memeriksa data-data itu setelah dua jam penuh keheningan kami habiskan hanya untuk memeriksa semua data yang di berikan Han Saem. Sejenak kami merilekskan otot-otot yang terasa kaku karena terlalu lama duduk dan menatap data-data itu. Mark melirik ponselnya yang terus bergetar sejak setengah jam yang lalu namun ia tetap mengabaikannya. Ji Yoon menatapku seolah bertanya ada apa dengan Mark dan aku hanya mengangkat bahu acuh. Sekali lagi, ponselnya bergetar lalu aku yang tak tahan segera mengangkat ponselnya yang langsung mengundang tatapan laser dari Mark.

“Hello?”

“Mark? Why you not come in here? Jackson was very angry because you not come! He want you to come in his apatermen at 7 p.m! Don’t late again!”

“I can’t! Toninght, I will have dinner with my girlfriend! Said to Jackson if I can’t come in his apatermen tonight but I will come soon! Bye…”

KLIK

“YA! Kenapa kau mengangkatnya, hm? Siapa kau? Berani-beraninya kau, Ketua Kelas!” Sentak Mark sambil merebut ponselnya dengan kasar yang membuat Ji Yoon terkejut.

“Calm down, Mark! I know who is Jackson! And Junior? Ha, I know him too! Kau membuat Jackson marah, Mark! Dia bisa menghajarmu habis-habisan! Lebih baik pulang ke apatermenku saja jika masih ingin hidup!” Ujarku santai. Ya, aku memang tau tentang kehidupan Mark yang tak di ketahui oleh orang lain bahkan Ji Yoon saja tak mengetahui hal ini.

“Ya, ya, up to you! Sekarang kita akan melakukan apa?” Tanyanya sambil menatapku dan Ji Yoon.

“Sepertinya aku harus pulang! Helmoni bisa marah jika aku tak langsung pulang karena tadi aku ijinnya hanya untuk membantumu memeriksa data murid. So, I will back now! See you tomorrow, guys! Bye…” Aku dan Mark hanya mengangguk lalu melambaikan tangan pada Ji Yoon.

“Sekarang kita ke rumah Han Saem dulu untuk memberikan ini dan setelahnya kita jalan-jalan saja di sekitar danau yang ada di dekat sini!” Dia hanya mengangguk lalu membantuku membereskan map-map itu dan kami bergegas menuju rumah Han Saem.

Pinggir Danau

19.30 KST

Kami berdua hanya bisa terdiam menatap danau yang ada di depan kami dengan tatapan kosong. Dia pasti masih memikirkan masalahnya dengan Jackson tadi. Biar ku cerita kan sedikit tentang Mark dan Jackson. Mark adalah kakaknya Jackson namun semenjak kedua orang tua mereka berpisah, Jackson berubah. Dia mengidap Schizofrenia dan itu mengubahnya menjadi pria yang kasar, egois, dan ambisius. Mark sering menjadi sasaran kemarahannya atau saat penyakitnya kambuh pasti Mark akan babak belur di buatnya. Jujur saja aku merasa kasihan dengan Mark namun tanggung jawabnya sebagai seorang kakak membuatnya bertahan hingga saat ini. Walau imejnya di sekolah buruk tapi sungguh, dia anak yang baik dan bertangung jawab bahkan dia lebih dewasa dariku yang usianya setahun lebih tua di atasnya. Aku tersenyum mengingat betapa kekanakannya diriku dan betapa dewasanya Mark, rasanya aneh. Haha… aku tak percaya kami bisa bersahabat selama ini padahal sifat kami saling bertolak belakang.

“Hey, apa kau ingat pertama kalinya kita bertemu saat kelulusan SMP? Saat itu kau begitu jelek! Beda dengan sekarang yang sudah agak tampan, haha..” Mark menoleh ke arahku dan tersenyum miring.

“Tentu. Bagaimana bisa aku melupakan kejadian itu? Seorang bocah yang baru saja lulus dengan nilai terbaik seangkatannya menangis di bawah pohon maple belakang sekolah karena tak menyangka bisa lulus dengan nilai yang baik dan takut jika itu tidak nyata? Haha.. kau konyol, Hyung!” Balas Mark seraya terkekeh pelan.

“Hehe… lupakan hal memalukan itu, Mark! Hm.. ini sudah larut lebih baik kita pulang sekarang! Kajja!” Aku langsung merangkul Mark lalu bergegas meninggalkan tempat ini.

Sampai di apatermen, aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu lalu memasak makan malam. Mark memilih untuk tidur lebih dulu karena dia bilang kalau dia sangat lelah hari ini jadi aku membiarkannya tidur di sofa ruang tamu apatermenku. Ku biarkan air dari shower membasahi tubuh lelahku dan berharap rasa lelahku mengalir seiring dengan aliran air shower ini. Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna pink melingkar di pinggangku. Aku berjalan menuju lemari bajuku lalu mengambil t-shirt v-neck berwarna biru tua dan celana pendek berwarna putih.

Setelah berpakaian lengkap, aku membangunkan Mark agar dia mandi terlebih dahulu sebelum makan malam. Dia berjalan gontai menuju kamarku sedangkan aku beranjak menuju dapur untuk memasak makan malam. Tak lama kemudian Mark keluar dari kamarku dan langsung duduk di meja makan dengan wajah kusutnya. Aku hanya geleng kepala melihatnya lalu ku taruh dua piiring spageti yang baru saja matang dan aku segera duduk di depannya. Mark memakan spagetinya dengan lahap sementara aku terdiam beberapa saat untuk memperhatikannya.

“Makanlah pelan-pelan! Nanti kau tersedak! Tidak ada yang akan merebut spagetimu, Mark!” Ujarku datar tanpa melihatnya dan aku memakan spagetiku dengan perlahan.

“Hmm… arrayo! Hyung… bagaimana kalau besok kita jalan-jalan? Tiba-tiba saja aku ingin ke Lotte World!”

“Eoh? Ke Lotte World? Hm… bukan ide yang buruk! Baiklah, kita pergi setelah pulang sekolah! Kita ajak Ji Yoon juga ya?”

“Ya, tentu saja. Kita harus mengajaknya karena jika tak ada dia maka tidak seru kan Hyung? Hehe… gadis itu kan mood maker!”

“Kau benar! Aku akan meneleponnya nanti! Sekarang kau tidur duluan saja! Aku akan mencuci piring-piring ini dulu, oke?”

“Nde! Gomawo Hyung! Aku tidur duluan! Jaljayo….”

# # #

Lotte World, Seoul, Korea Selatan

12 April 2014

15.00 KST

Saat ini Mark, Seok Jin, Ji Yoon, dan Jackson sudah berada di pintu gerbang Lotte World. Seharusnya tidak ada Jackson disini namun dia memaksa ingin ikut dengan mereka karena ada Mark. Mau tak mau mereka bertiga terpaksa mengajak Jackson bersama mereka kemari daripada Mark babak belur karena anak itu. Mark, Ji Yoon, dan Jackson tampak gembira ketika Seok Jin memberikan tiket masuk kepada mereka lalu mereka bertiga segera masuk ke dalam. Seok Jin mengikuti mereka dengan langkah perlahan namun Jackson menariknya hingga kini mereka berempat jalan berdampingan.

Mereka berempat menuju jet coaster lalu mengantri di stand agar bisa menaiki wahana ekstrim itu. Setelah menaiki wahana itu, Seok Jin langsung memuntahkan isi perutnya di dekat wahana itu. Yang lain hanya terkekeh melihatnya lalu menariknya menuju rumah hantu yang berjarak tak jauh dari wahana jet coaster tadi. Di dalam rumah hantu Seok Jin terus berteriak sambil memeluk lengan Jackson yang selalu berdiri di sampingnya. Keluar dari rumah hantu, wajah Seok Jin semakin pucat dan sekali lagi dia memuntahkan isi perutnya yang membuat Mark tertawa terbahak-bahak. Ji Yoon, Seok Jin, dan Jackson terheran-heran melihatnya karena ini pertama kalinya mereka melihat Mark tertawa lepas seperti itu.

“Cih! Kau sangat suka melihatku menderita ya? Kemari kau! Akan ku patahkan lehermu agar kau tak bisa tertawa lagi!” Ujar Seok Jin lalu mengejar Mark yang berlari menghindarinya.

Ji Yoon dan Jackson ikut tertawa melihatnya lalu mengejar mereka berdua. Mereka melanjutkan bermain ke beberapa wahana sehingga tak sadar jika langit sudah mulai gelap. Setelah puas bermain, mereka membeli es krim di salah satu kedai lalu mencari tempat untuk beristirahat. Mereka cukup lelah setelah bermain di sini selama 3 jam lebih di Lotte World ini padahal masih ada banyak wahana yang belum mereka coba. Saat ini mereka sedang menonton festival musik yang di adakan di Lotte World setiap tanggal 14 dan 15 April. Mereka menikmati itu hingga terdengar suara perut Ji Yoon dan Seok Jin yang kelaparan karena belum makan apapun sejak tadi siang.

“Hey! Ayo kita makan dulu! Aku sangat lapar! Kita makan dimana? Mark, kau tau tempat makan enak tapi terjangkau harganya?” Pinta Ji Yoon saat mereka sedang duduk di bawah pohon sakura.

“Di sekitar sini? Oh, baiklah! Ayo! Aku tau tempat makan yang enak namun harga murah! Ikuti aku!”

Mark bergegas meninggalkan mereka bertiga lalu mereka berjalan ke arah kedai bulgogi yang tak jauh dari Lotte World ini. Sampai di kedai mereka langsung memesan 3 porsi bulgogi, 1 porsi jumbo ramyun kimchi, 3 botol soju, dan 1 kaleng cola. Mereka memilih duduk di tempat yang agak jauh dari tempat mereka memesan makanan tadi. Seok Jin memilih untuk mendengarkan musik dari IPODnya sedangkan Mark dan Ji Yoon memilih mengobrol tentang film amerika terbaru. Jackson menyandarkan kepalanya di bahu Seok Jin lalu memejamkan matanya dan dia ikut mendengarkan musik dari IPOD Seok Jin. Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka segera menghabiskan pesanan mereka lalu pulang ke Ansan.

“Setelah ini jangan pulang dulu ya? Aku ingin ke Namsan Tower sebentar untuk melihat festival kembang api! Jebalyo Hyung!” Pinta Jackson pada Mark. Yang di mintai, menatap kedua kawannya yang tampaknya tak keberatan dengan permintaan Jackson.

“Tentu! Ayo! Setelah dari Namsan Tower kita harus segera pulang karena besok kita masih masuk sekolah, oke?” Kawan-kawan Mark hanya mengangguk lalu pergi dari kedai itu menuju Namsan Tower.

Namsan Tower

19.45 KST

Jackson yang pertama keluar dari mobil di susul oleh Ji Yoon serta Mark dan Seok Jin di belakangnya. Kali ini Mark yang membeli tiket masuknya dan setelahnya ia memberikan tiket itu pada kedua kawan dan adiknya itu. Di dalam mereka berkeliling tamannya lalu baru memasuki menaranya itu dan setelahnya mereka mencari tempat yang bagus untuk melihat kembang api nanti. Rencananya festival itu akan di mulai pukul sembilan malam dan itu berarti tinggal 45 menit lagi akan di mulai karena ini sudah jam 8 lebih 15 menit. Akhirnya mereka memilih untuk melihatnya dari ketinggian karena Seok Jin berpendapat kalau kembang apinya akan terlihat lebih baik jika di lihat dari atas.

“Kalian tunggu di sini dulu ya? Aku akan membeli beberapa snack dan minuman kaleng untuk kita! Jangan kemana-mana oke?” Mark, Jackson, dan Ji Yoon mengangguk mendengar ucapan Seok Jin tersebut lalu pria itu bergegas menuju mini market yang masih berada satu lingkungan dengan tempat ini.

“Hyung! Aku ingin tidur sebentar ya? Bangunkan aku jika kembang apinya sudah di ledakkan!”

Mark hanya mengangguk lalu membiarkan Jackson tidur dan menyandarkan kepalanya di bahu pria berambut merah itu. Ji Yoon dan Mark hanya diam hingga 30 menit berlalu masih tidak ada yang membuka mulutnya. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing yang tak bisa di tebak dengan mudah dari raut wajah mereka yang datar. Akhirnya Mark memberanikan dirinya untuk membuka pembicaraan di antara mereka berdua yang tampak canggung.

“Ji Yoon-ah…”

“Wae? Apa yang ingin kau bicarakan Mark?”

“Hm… apa kau benar-benar ikut study tour besok? Bukankah kita akan berangkat besok siang?”

“Ya, aku ikut! Aku tidak bisa menolak permintaan helmoni! Lagipula ada kau dan Jin! Itu sudah cukup untuk meyakinkanku ikut acara study tour ini! Memang kenapa?”

“Gwenchana. Aku hanya ingin bertanya saja! Eoh? Kau mau ku jemput besok?”

“Menjemputku? Bersama Seok Jin juga kah? Kalau ada dia aku mau-mau saja kok!”

“Arraseo! Aku akan mengajak Seok Jin Hyung juga! Hm… sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu!”

“Eh? Apa? Katakan saja, Mark! Kenapa harus merasa gugup begitu? Kita ini sudah berteman sejak lama jadi biasa saja!”

“Aku harap kau tak menjauhi atau membenciku setelah ini! Sebenarnya aku…. aku…”

“Aku? Aku apa Mark? Bicaralah yang jelas, oke? Coba ulangi dengan jelas dan mantap!”

“Huh… baiklah! Sebenarnya… sebenarnya aku… aku… a..ku… huh… aku mencintaimu! Sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu!” Ji Yoon terdiam dengan wajah terkejutnya lalu sedetik kemudian ia merubah ekspresinya dengan wajah datar.

“Lalu?”

“Eh? Lalu? Hm… do you wanna be my girlfriend? Ah, kau tak harus menjawabnya sekarang! Aku bisa menunggumu!”

“Ini terlalu mendadak! Aku butuh waktu untuk berpikir! Ku harap kau akan menerima apapun keputusanku nanti!”

“Aku tahu itu! Tentu, aku pasti akan menerima segala keputusanmu nanti! Aku akan setia menunggumu, Ji Yoon-ah!”

Mark dan Ji Yoon saling bertatapan satu sama lain dan tatapan mereka begitu dalam. Perlahan Mark mendekatkan wajahnya ke arah Ji Yoon lalu mengecup bibir ceri gadis itu bersamaan dengan kembang api yang meledak di langit malam kota Seoul. Pria itu segera menjauhkan wajahnya lalu membangunkan adiknya karena kembang apinya sudah di ledakkan di langit. Tak lama Seok Jin datang dan ikut bergabung dengan ketiga kawannya itu menyaksikan kembang api yang tampak apik di langit Seoul yang bertabur bintang. Setelah itu, sekitar pukul sebelas malam, mereka memutuskan untuk kembali ke Ansan.

# # #

Sewol Ferry, Laut Jeju, Korea Selatan

14 April 2014

17.00 KST

Ini sudah sore dan sebentar lagi matahari tenggelam jadi aku mengajak Ji Yoon ke bagian depan kapal untuk melihat sunset. Aku akan memberinya kejutan ketika sunset nanti dan ku harap dia menyukainya karena setelah ini aku tidak akan bisa bersamanya lagi. Dia tampak cantik sore ini dengan kemeja biru serta celana jins berwarna biru tua dan ia membiarkan rambutnya tergerai. Rambut indahnya berkibar tetiup angin yang begitu kecang dan aku menyampirkan mantel warna hitam milikku di bahunya. Ia tersenyum lebar melihatku lalu menarikku agar lebih dekat dengannya dan dia memeluk lenganku erat. Sebenarnya aku juga kedinginan karena aku hanya memakai kaus hitam polos dan celana jins berwarna krem pendek namun demi gadisku itu tak masalah sama sekali. Sambil menunggu matahari terbenam, aku mulai bernyanyi untuknya lagu favorit kami yang biasa kami nyanyikan jika kami sedang kencan.

“Oppa, suaramu semakin hari semakin indah saja! Aku pasti akan merindukan suara merdumu itu!”

“Jinja? Sebagus itukah suaramu hingga kau memujiku? Terima kasih kalau begitu! Mau ku nyanyikan lagi? Sepertinya masih ada waktu sebelum matahari terbenam!”

“Haha, jinjayo! Suaramu terdengar seperti suara nyanyian dari surga, Oppa! Nde, aku ingin kau bernyanyi lagi! Nyanyikan aku lagunya Shinwa yang T.O.P ya?”

“Arraseo. Eoh? Sejak kapan kau pintar mengombal begitu? Kau ingin aku bernyanyi lagi? Shinwa? T.O.P? Baiklah!” Tepat ketika aku selesai bernyanyi, mataharinya tenggelam dan aku langsung mengecup bibir Ji Yoon cukup lama sebelum aku melepaskannya.

“Happy 1st Anniversary, Ji Yoon-ah! Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu! Saranghae yongwonhi Yoon Ji Yoon-ah!!!” Ujarku lalu menyerahkan sebuah kotak berwarna biru muda dengan motif bintang dan di hias dengan pita berwarna pink.

“Ne, Oppa! Happy 1st Anniversary too, Jin Oppa! Aku juga selalu mendukungmu dan berdoa agar kau bisa selalu di sampingku! Nado saranghae yongwonhi Kim Seok Jin Oppa!” Balasnya seraya mengecup pipiku lalu dia juga memberikan kotatak berwarna pink dengan motif hati dan di hias dengan pita berwarna biru.

“Ayo kita buka hadiahnya bersama! Hana…. dul… set!” Kami membuka kotak itu bersamaan dan kami tersenyum melihat hadiah masing-masing.

“Uwaah… sweter berwarna biru laut! Ini sangat bagus Oppa! Apa kau membuatnya sendiri? Wah ada motif hati berwarna pinknya juga! Gomawo, ne?”

“Ne, aku merajutnya sendiri! Kau juga merajut syal ini sendiri kan? Warna yang manis, pink terang dengan garis berwarna biru tua ada motif bintangnya pula! Nado gomawo, ne?”

“Ah, hari ini aku bahagia sekali Oppa! Aku merasa bahagia karena bisa menjalin hubungan denganmu! Dan aku tak ingin segera berakhir!”

“Jinja? Aku juga sama denganmu namun ada suatu hal yang harus ku katakan padamu! Aku harap kau tidak marah padaku dan membenciku!”

“Ne? Apa maksud Oppa? Aku tidak mengerti! Kenapa tiba-tiba jadi serius begini? Ada apa?”

“Kita akhiri hubungan kita sampai disini! Terimalah Mark jika kau memang mencintaiku! Rasa sayangku pada Mark lebih besar dari rasa sayangku padamu karena aku selalu mengutamakan sahabatku di bandingkan kekasihku, Ji Yoon-ah! Aku mohon!”

“Mwo? W…wae? Kenapa harus begini? Apa kau mendengar percakapan kami malam itu, Oppa? Jangan suruh aku menerimanya Oppa! Yang ku cinta adalah kau, bukan Mark! Jangan paksa aku Oppa!”

“Berarti kau tak mencintaiku? Aku mohon lakukan itu jika kau memang mencintaiku, Ji Yoon-ah! Setidaknya sebelum aku pergi, aku bisa melihatmu bersama dengan orang yang tepat! Tolonglah! Aku sangat mencintaimu, Ji Yoon-ah! Lakukan ini demi diriku! Anggap ini sebagai permintaan terakhirku!”

“Op…pa… wae? Hiks… hiks… nde, aa..rraseo, aku akan menerimanya Oppa! Aku janji! Kulakukan ini demi dirimu Oppa!”

Dia langsung memelukku erat dan aku balas memeluknya erat, ku biarkan dia menangis dalam dekapanku. Setelah ini dia akan menjadi milik orang lain jadi aku akan memanfaatkan waktu yang tersisa ini dengan sebaik-baiknya. Aku yakin jika ini keputusan yang terbaik untuk menjaga tali persahabatan di antara kami bertiga yang sudah terjalin sejak lama. Keduanya sangat penting bagiku jadi aku tak ingin mereka tersakiti terutama Mark, dia sudah cukup merasakan sakit selama ini. Kini biarlah aku yang merasakan sakit, aku yakin Ji Yoon bisa melupakanku dengan cepat karena aku tau di juga memiliki rasa pada Mark sejak beberapa bulan yang lalu. Tuhan, ku harap ini keputusan yang terbaik untuk kami semua.

15 April 2014

06.30 KST

Kami para murid Danwoon Senior High School sedang sarapan di ruang makan yang ada di dalam kapal feri ini. Aku, Ji Yoon, dan Mark memilih memakan makanan kami di pojok ruangan ini agar lebih nyaman. Kedua sahabatku ini terlibat perbincangan seru yang membuat mereka melupakan aku. Ku tatap wajah temanku satu per satu yang ada di ruangan ini, wajah mereka ada yang gembira, gelisah, sedih, dan berbagai macam ekspresi mereka tunjukkan. Entah kenapa aku juga merasa sedikit gelisah padahal perjalanan kami sejauh ini baik-baik saja. Tiba-tiba kapal ini berguncang dan membuat beberapa dari kami panik dan berusaha keluar dari ruangan ini untuk melihat apa yang terjadi. Aku mengajak Mark dan Ji Yoon untuk melihat apa yang terjadi di luar namun sulit sekali untuk keluar dari ruangan ini. Butuh perjuangan hingga kami bisa keluar dari ruangan ini lalu aku berinisiatif untuk mencari tau di ruang nahkoda.

“Apa yang terjadi dengan kapal ini? Apa kapal ini menabrak sesuatu? Apa yang harus kami lakukan?” Tanyaku pada kapten kapal yang tampak ketakutan.

“Pergilah ke kabin! Kami akan menyiapkan sekoci untuk mengevakuasi kalian semua! Sepertinya kapal ini akan tenggelam! Kajja!” Kapten itu keluar dari ruangan nahkoda lalu memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan sekoci dan ia juga menyuruh para penumpang menunggu di kabin.

“Apa anda sudah menelepon bantuan? Sepertinya memang kapal ini akan tenggelam dan terbalik!” Kini giliran Mark yang bertanya pada kapten tadi dan kapten tadi hanya mengangguk saja lalu dia mondar-mandir ke sana kemari.

“Mark, Jin, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kan kita berdiam diri disini?” Tanya Ji Yoon sedikit takut.

“Ah, begini saja! Kita bantu mengevakuasi anak-anak kecil yang ada di sini baru kita menyelamatkan diri kita sendiri!” Jawabku bijak lalu Mark dan Ji Yoon mengangguk.

“Bagus! Ayo lakukan yang terbaik! Hm.. kalian harus selalu di dekatku oke? Jangan sampai terpisah! Kajja!” Aku berjalan mendahului mereka lalu membantu anak-anak kecil yang kini tengah menangis ketakutan di kabin.

Sudah 15 menit kami bertiga menyelamatkan para anak kecil dan beberapa orang tua menuju kapal milik tim penyelamat yang mengevakuasi kami. Ji Yoon dan aku menatap kesekeliling dan melihat sang kapten kapal dan beberapa awak  kapal yang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Ku tahan lengan Ji Yoon agar tak berbuat yang aneh-aneh karena dia terlihat geram karena kelakuan kapten kapal itu. Semakin lama, kapal ini semakin miring dan sebentar lagi akan tenggelam jadi aku bergerak dengan cepat untuk menyelamatkan para penumpang yang lain.

Mark memberikan pelampungnya kepada Han Saem yang kebetulan ada di dekat kami lalu kami mengantarnya ke kapal tim penyelamat yang ada di ujung. Kemudian kami bergegas menolong beberapa teman kelasku agar bisa segera di selamatkan. Beberapa orang tim penyelamat mengiring kami setelah tadi kami menolong beberapa teman sekelasku dan kami hanya pasrah saat di bawa ke kapal. Namun aku melihat seorang anak kecil perempuan yang hampir tertimpa lemari jadi aku langsung berlari ke tempat anak itu.

“YA! Kim Seok Jin! Apa kau gila? Kembali kemari! Ah, tuan tolong bawa temanku ini terlebih dahulu! Aku akan menunggu temanku itu!” Teriak Mark yang masih bisa ku dengar dan sepertinya dia mendekatiku. Ku tahan lemari yang hampir menimpa anak kecil tadi lalu aku menatap Mark yang berusaha membantuku.

“Lepaskan! Aku bisa menahannya sendiri! Kau bawa gadis ini terlebih dahulu nanti aku menyusul!” Perintahku namun Mark hanya diam bergeming di tempatnya dan masih berusaha membantuku untuk menahan lemari ini.

“MARK TUAN! CEPAT BAWA ANAK INI PERGI! INI PERINTAHKU SEBAGAI PRESIDEN KELAS! CEPAT PERGI SEBELUM KAPAL INI BENAR-BENAR TENGGELAM! IKAT TANGANMU DENGAN JI YOON DAN GADIS INI DENGAN SYAL INI! JANGAN SAMPAI TERPISAH!” Bentakku keras lalu menyerahkan sebuah syal berwarna pink bergaris biru dan Mark menatapku ragu namun perlahan dia menerimanya serta dengan cepat menggendong anak kecil itu dan segera berlari meninggalkanku.

Tanpa sadar, air mataku mulai mengalir di pipiku membentuk alur sungai yang tak berujung. Perlahan kapal ini benar-benar terbalik dan beberapa benda seperti kursi, lemari, dan meja menghantam tubuhku dengan keras. Aku berusaha keluar dari tempat itu dan mencari penumpang lain yang ikut tenggelam bersamaku dan sekiranya masih bisa ku selamatkan. Beberapa orang bisa ku naikkan ke permukaan dengan kayu sebagai pelampung namun saat aku berusaha menyelamatkan seorang teman sekelasku, sebuah meja kayu besar menghantamku sehingga aku tak sadarkan diri dan tenggelam ke dasar. Sepertinya aku memang sudah di takdirkan untuk mati sekarang dengan cara yang cukup tragis namun aku bangga karena aku sudah menyelamatkan belasan nyawa orang lain. Semoga hidupku nanti lebih baik dan di masa yang akan datang aku masih bisa menjadi orang yang seperti ini.

# # #

One years later…

Rumah duka, Danwoon, Ansan, Korea Selatan

17 April 2015

10.00 KST

Seorang gadis berbalut dress hitam selutut memasuki sebuah rumah duka tempat salah satu teman terbaiknya tinggal. Tangan kanannya membawa sebuket bunga sedangkan tangan kirinya membawa kotak hadiah. Di belakang gadis itu ada seorang pria berbalut setelan formal berwarna hitam pula dan dia juga membawa sebuah kotak hadiah. Mereka duduk berdampingan lalu berdoa untuk teman mereka yang lain juga selain teman terbaik mereka. Setelah selesai, sang gadis menaruh bunga tadi di dalam almari kaca yang berisi kendi abu milik temannya. Keduanya menatap sendu foto yang di bingkai apik dalam figura foto yang ada di lemari kaca itu. Ya, itu foto mereka bertiga saat mereka di Lotte World tahun lalu. Tak terasa, gadis tadi mulai meneteskan air matanya ketika mengingat kenangan-kenangan masa lalunya. Si pria langsung memeluk gadisnya untuk menenangkan gadisnya yang begitu rapuh saat ini.

“Sebaiknya kita pergi sekarang! Aku tak mau kau menangis terus-menerus seperti ini! Kajja!” Ajak pria itu namun sang gadis hanya diam saja sambil menatap foto sahabatnya dengan tatapan nanar.

“Jin Oppa, annyeong? Lama sekali kita tidak berjumpa! Selamat ulang tahun ne? Aku harap kau suka dengan hadiah yang ku bawa ini. Nan bogoshipoyo, Oppa! Apa kau senang? Aku sudah menuruti keinginanmu Oppa! Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk bisa menjalin kisah cinta denganmu di masa lampau! Aku bersyukur memeliki sahabat, kakak, dan kekasih seperti dirimu. Ku harap kau bahagia di surga sana! Tunggu aku, Oppa! Saranghaeyo…”

“Huft.. Presiden Kelas! Kau tidak menepati janjimu! Katanya kau akan menyusul? Kenapa tidak? Kenapa kau malah pergi? Aku kecewa padamu, Presiden Kelas! Tapi aku besyukur karena mengenalmu, Hyung! Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sebaik dirimu dan betapa bahagianya aku mendapatkan seorang Ji Yoon. Aku bersyukur Tuhan memberi umur panjang padaku sehingga aku bisa merasakan kasih sayang sahabat yang baik sepertimu, Hyung. Satu hal yang ingin ku ucapkan padamu, Hyung! Terima kasih. Akan ku gunakan kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk membahagiakannya demi dirimu, Seok Jin Hyung! Saranghae…!!! You’re my hero, President Class…”

Keduanya meninggalkan tempat itu dan berharap di lain kesempatan mereka bisa kemari lagi bersama. Mark Tuan dan Yoon Ji Yoon tak akan dengan mudah melupakan Kim Seok Jin, sahabat terbaik mereka. Mereka berdua berharap di kehidupan selanjutnya mereka bisa bersahabat lagi dengan Kim Seok Jin. Dengan langkah berat mereka keluar dari rumah duka itu dan tanpa di ketahui oleh mereka, Seok Jin melihat mereka dari kejauhan. Ia tersenyum puas melihat sahabatnya yang masih mengingatnya walau sudah setahun berlalu. Seok Jin membalas kata-kata Mark dan Ji Yoon dengan lirih namun kedua sahabatnya itu bisa mendengarnya walau hanya samar-samar.

“Aku rela melakukan apapun untuk sahabatku, asalkan kau tetap hidup. Kau lebih penting dari segalanya, tak peduli aku harus mati atau apapun akan aku lakukan demi keselamatanmu. Sungguh, kaulah sahabat terbaik yang pernah ku miliki di dunia ini. Jujur saja, kau adalah prioritas utamaku karena kau adalah malaikat pelindungku. Dan untuk gadisku, Ji Yoon, Jeongmal Gomawo, Mianhae, keundae… Jeongmal Saranghae…”

# # #

END

# # #

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF oneshot/ YOU’RE MY HERO, PRESIDENT CLASS/ BTS-GOT7

  1. kya😥 aku jadi ke ingat lagi sama kejadian itu,😥
    Cerita ini mirip sama namja yang meninggal tempat di hari ulang tahun dan hari kematiannya😥
    Hwa debak chingu😥 aku sampai gak bisa berhenti nangis😥
    (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s