FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 4


Title                : Monster [Part 4]

Author            : intan @sena_kuki

Rating                        :  T (17+)

Genre              : school life,family, Angst, fantasy, romance, comedy, etc.

Cast                :

–      Han Se Na (OC)

–      Kim Nam Joon

–      Min Yoon Gi

–      Park Han Na (OC)

–      Kim Seok Jin

–      Jung Ji Hwa (OC)

–      Park Jimin

–      Park Sang In (OC)

–      Kim Taehyung

–      Jang Ok Jung (OC)

–      Jeon Jungkook

–      Jung Eun Shi(OC)

–      Jung Hoseok

–      Park Subyong (OC)

Monster 4

***…

 

~9years ago

 

Disebuah pohon besar tak jauh dari taman bermain panti asuhan terlihat seorang bocah kecil yang hanya merenung sambil menatap langit dengan suram. Tatapan dari mata sipit bocah laki-laki itu begitu tajam namun menyedihkan.

Tatapan tajam dan sendu itu mengisyaratkan bahwa ia tidak menerima apa yang telah terjadi padanya, kenapa ia bisa berada di sebuah panti asuhan tanpa kedua orang tuanya. bocah itu selalu menyembunyikan kedua tangannya didalam kantong hoodienya dengan wajah yang sesekali ditekuk menatap sekujur tubuhnya yang kotor oleh tanah.

Wajah Bocah itu berubah pucat pasi ketika ia merasakan rasa panas di kedua telapak tangannya. Bocah itu semakin takut ketika ia menyentuh akar besar dari pohon itu, tiba-tiba kayu itu langsung menghitam seperti bara. Saking takutnya, terlihat keringat dingin mulai bercucuran dari keningnya.

Bocah itu kembali memperhatikan kedua telapak tangannya lekat-lekat yang sekarang sudah terasa normal kembali. Dari tatapannya ia terlihat bertanya-tanya dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana hal-hal aneh terus saja terjadi padanya 3hari belakangan ini semenjak ia berada dipanti asuhan ini?

Bocah itu terlihat berusaha untuk tetap kuat walaupun tangannya bergetar karena sangat takut dengan kehidupan yang harus ia jalani. Hidup tanpa kedua orang tua diusia yang masih belia, dan hanya duduk manis menunggu seseorang yang mau mengadopsinya sambil berusaha menjinakkan kutukan yang telah ia terima tanpa ia kehendaki.

 

“yya.. kim nam joon..” tak jauh dari sana terdengar suara seorang gadis yang seperti memanggil bocah laki-laki itu karena gadis itu terus melangkahkan kakinya kearah bocah itu. Bocah bernama kim nam joon itu menolehkan kepalanya dengan heran, sekilas ia terlihat takut dengan gadis yang tidak ia kenali itu semakin mendekat kearahnya.

“kau takut.?” Tanya gadis itu dengan tatapan sinis membuat bocah itu bergidik ngeri.

“geokjeonghajima, selama ada aku disekitarmu kekuatan itu akan jinak sendirinya..” ucap gadis itu sambil menepuk-nepuk pundak bocah yang bernama nam joon itu sambil sedikit membungkuk memperlihatkan senyuman manisnya, membuat gadis itu terlihat semakin cantik dengan lesung pipi kecil yang ia miliki disamping bibirnya.

“kau mengingatku kan..??” Tanya gadis itu sambil menurunkan topi dari hoodie bocah itu, memperlihatkan rambut bocah itu yang berwarna blonde. Nam joon merasa risih jika orang lain melihat rambut blondenya itu, karena ia sendiri juga merasa ngeri terhadap rambutnya yang berubah dengan sendirinya semenjak 3 hari yang lalu dan ia tidak tau pasti apa penyebab dari semua itu.

“nuna.. aku tidak mengenalmu..” ucap bocah itu dingin masih dengan tatapan tajamnya, semanis apapun gadis ini bersikap padanya tetap tidak akan membuat bocah itu luluh seperti apa yang jika ia lakukan pada laki-laki dewasa.

“jinjja? kau keterlaluan dongsaeng-ah. Park Su Byong imnida, dibukit itu 3 hari yang lalu kau tidak mengingatnya..??” ucap gadis bernama subyong itu sambil menunjuk sebuah bukit yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

 

Bocah laki-laki itu terdiam tidak percaya ketika ia mulai mengingat kejadian 3hari yang lalu. Kejadian yang memilukan bagi hidupnya, andai saja 3hari yang lalu dihilangkan dari diary hidupnya maka ia tidak akan pernah berada disebuah panti asuhan seperti saat sekarang ini. Bocah itu tiba-tiba mempelototkan mata sipitnya karena sudah mengingat nuna yang ada dihadapannya saat ini.

 

“gu-gumiho…” jawab bocah itu sedikit takut sambil menjatuhkan tangan gadis itu yang tergantung di bahunya.

“gumiho.? Yya! Kau becanda? sekarang kau lah yang lebih menyeramkan, monster..” ucap gadis itu memperlihatkan senyumannya yang sangat berbeda dari yang ia tunjukkan sebelumnya.

 

“kau adalah waktuku.. kau adalah waktuku untuk menjadi manusia..” ucap gadis itu sedikit membungkuk sambil melipat kedua tangannya untuk menatap bocah itu yang hanya setinggi pinggangya.

Bocah itu masih terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu, bagaimana tidak? dengan usia yang masih seumur jagung ia bisa mengerti dengan hal-hal yang seperti itu.

“yang harus kau ingat adalah, kau harus tetap suci arrasseo? Aku mempercayaimu.. kau tidak mungkin mencium atau berbagi hal yang seperti itu diusiamu kan?” ucap gadis itu dengan penuh tekanan pada kata ‘itu’ dikalimatnya yang tentu tidak akan dimengerti oleh nam joon yang masih kecil dan malah membuat gadis itu sedikit frustasi.

 

“sekali kau menciumi seorang gadis.. hingga dikemudian hari dia akan terus bergantung padamu, dan itu juga berarti waktuku perlahan akan mulai habis karenamu..” ucap gadis itu lagi dengan pelafalan yang lebih pelan agar bocah itu bisa mengerti.

 

“nuna.. jika kau selalu disekitarku apa itu berarti kau akan selalu menjagaku?” Tanya bocah itu polos.

“menjagamu? Kau gila.? Aku adalah anak dari seekor rubah yang telah dibunuh oleh ibumu.. dan kau adalah seorang anak yang membunuh ibunya.. kau sudah paham..?” ucap gadis itu kembali berdiri normal sambil menepuk-nepukkan tangannya seperti tidak sudi sudah menyentuh tubuh bocah itu.

“AKU TIDAK MEMBUNUH EOMMAKU..!!” teriak bocah itu dengan lantangan yang keras hingga menggema dilangit. Bocah itu terlihat mengatur nafasnya karena emosi, bahkan secara tiba-tiba terlihat dunia menjadi aneh bagi bocah itu. Ia melihat sekelompok burung merpati dilangit itu tidak bergerak sama sekali. Bocah itu terdiam bingung dengan apa yang telah terjadi, ini begitu mengerikan baginya.

“karena kau masih kecil jadi aku mempercayaimu, ternyata manusia itu sama saja kecil hingga tua mereka tetap sama. Manusia orang yang tidak tau terimakasih, kau sudah kuizinkan untuk tetap hidup dan sekarang kau meneriakkiku.?” Ucap gadis itu geram sambil mempelotokan matanya.

“APAPUN ITU AKU TIDAK PEDULI!! RUBAH ITU YANG MEMBUNUH IBUKU..!!!” teriak bocah itu tidak terima.

“anni.. tanganmu sendirilah yang membunuh ibumu.. kau mengeluarkan kekuatan terkutukmu itu untuk ibumu pertama kali, dan ibumu terlempar dari jurang itu..” ucap gadis itu sambil menunjuk bukit yang tinggi itu.

 

Bocah itu benar-benar tidak terima dengan apa yang telah terjadi, bocah itu akhirnya menangis tanpa suara. Air mata itu jatuh begitu saja dari matanya, bocah itu tidaklah menangis dengan rengekan seperti yang biasanya dilakukan oleh bocah seumuran dia.

 

~***~

 

Dihalaman belakang jewelry dipepohonan lebat itu terlihat seorang murid perempuan yang berlari dengan langkah terbirit-birit sambil menarik-narik cardigan merah itu agar menutupi seluruh tangannya yang terlihat cukup menyeramkan itu. Jari-jarinya terlihat mengeluarkan kuku-kuku runcing berwarna kehitaman. Bahkan telapak tangan gadis itu terlihat berbeda dari manusia biasanya. Hingga sampai lah disebuah pohon yang paling besar di tempat itu, dengan lincahnya gadis itu bisa memanjati pohon itu hingga ketempat yang paling tinggi.

 

Petirpun menggelegar hingga membuat langit yang mendung itu akhirnya tidak kuasa untuk menahan air. Hujan lebat itu turun begitu saja, tapi gadis diatas pohon itu tidak peduli dengan hal itu. Ia merasa nyaman dengan air hujan yang jatuh membasahi tubuhnya membuat gadis itu berubah menjadi normal kembali. Tangan dan kakinya yang terlihat aneh itu terlihat seperti manusia kembali, tapi tidak dengan hal itu, ada 9ekor yang menjuntai dari atas pohon itu. gadis itu masih saja terlihat santai dan memicingkan matanya membiarkan air hujan itu jatuh dikelopak matanya. Air hujan bagaikan sebuah kekuatan untuknya.

 

***

 

“kenapa dia sering pingsan akhir-akhir ini..?” ujar dokter jin sambil menyentuh kening sena yang tengah berbaring di ranjang UKS itu. Tubuh gadis itu terasa normal, dan ini hanya shock atau kelelahan saja bukanlah hal yang serius.

” ini sudah lewat 1 jam dari jam pulang kalian, apa tidak apa jika kalian masih tetap disini?” Tanya dokter jin pada 2 murid laki-laki yang berdiri tak jauh dari ranjang itu yang hanya memperhatikan sena dengan khawatir. Tapi kedua laki-laki itu tidak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh dokter jin, pandangan kedua laki-laki itu tetap pada sena yang masih memicingkan matanya.

Murid berambut blonde itu menyadari tatapan namja disebelahnya yang tak berkedip sama sekali menatap sena. Ya, dia adalah yoongi yang sedang mengagumi wajah sena yang menurutnya tidak banyak berubah dari 9tahun yang lalu.

Namja berambut blonde itu lebih memilih untuk meninggalkan ruangan UKS itu tanpa pamit sama sekali. Ia terlihat sedikit kesal dengan apa yang terjadi, sena yang pingsan dipelukannya tetapi yoongi lah yang menggendong sena hingga sampai di UKS.

 

“Aku ada kelas malam 1 jam lagi.. jika dia tidak sadar juga kau bisa membawanya keasrama, aku mempercayaimu..” ucap jin sambil menarik selimut untuk sena namun tindakan jin itu langsung dicegat oleh yoongi membuat jin heran.

“kau pacarnya?” Tanya jin sambil menyunggingkan senyumannya, tepatnya seperti mencemooh tindakan kekanak-kanakan yoongi.

“apa urusanmu?” tanya yoongi sinis lalu melanjutkan menarik selimut itu menutupi tubuh sena hingga bahunya.

 

Jin masih tersenyum geli sambil berjalan menuju mejanya mengambil ponselnya yang bergetar dari tadi dengan 7+ panggilan tak terjawab bahkan ada banyak pesan masuk disana, dari wajahnya terlihat ia begitu malas untuk menanggapi kesibukan ponselnya yang masih terus bergetar itu.

 

“kau jin itu kan.?” Ujar yoongi tiba-tiba membuat langkah jin yang hampir menuju pintu untuk keluar terhenti karena ucapan yang kurang sopan terdengar olehnya dari seseorang yang lebih kecil darinya.

Jin membalikkan tubuhnya sambil bergidik tidak terima dengan ucapan itu. Tapi yoongi biasa saja karena tidak merasa bersalah sama sekali. Itulah yoongi, lelaki yang blak-blakan dengan mulutnya.

 

“kau jin yang sudah merusak persahabatan orang itu kan.? Hanna.. gadis itu, kau tidak tau sudah membuatnya sedih sepanjang hari..” ucap yoon gi dengan suara yang cukup keras membuat jin terdiam seribu bahasa.

Jin akan berubah dingin jika sudah mengungkit masalah yang seperti itu. Masalah yang paling memilukan bagi hidupnya, juga yang paling membingungkan baginya. Memang hal itu sangat bodoh tapi hal seperti itu ia lakukan karena tidak ada pilihan lain. Ingin rasanya jin mengungkapkan alasannya itu agar semua orang tidak terus menyalahkan dirinya.

 

“wae.? Sekarang kau merasa bersalah.? Kau hanya lelaki pengecut, bahkan kau tidak meminta maaf atau membuat hubungan mereka itu kembali normal, dan sekarang dengan santainya kau mulai bekerja disini.. kau fikir mereka tenang saja mendengar berita kau yang tiba-tiba berada disini..??” ujar yoon gi lagi panjang lebar, seakan ia tidak terima jika hanna bersedih sepanjang hari yang jika dilihat lagi bukan hal itulah yang membuat hanna sedih sepanjang hari ini.

 

“Min Yoon GI, yang bodoh itu kau.. hanna menyukaimu, dia sudah melupakanku. Kau yang pengecut berpura-pura tidak peka, bukankah begitu?” ujar jin meyakinkan yoon gi yang keras kepala itu.

“menyukaiku? HAHA.. Tentu semua orang menyukaiku. Hanya kau yang tidak disukai orang-orang, hanna sudah seperti adikku, dia seperti seekor kucing yang ditinggalkan didalam kardus ketika kau buang. Dan saat itu dia begitu lucu hingga aku ingin memungutnya dan menyayanginya selayaknya. Setidaknya itu yang kulakukan agar ia lebih baik daripada sebelumnya… dan apa yang kau lakukan setahun belakangan ini..?” ucap yoongi hingga ia sedikit berteriak diakhir kalimatnya sementara jin hanya diam dengan semua itu, semua cercaan itu sudah kebal ditelinganya.

 

“dan kau tidak sadar sudah membuat kucing peliharaanmu itu semakin menyayangi majikannya..” ucap jin dengan wajah datarnya, namun dari ucapannya itu ia sedikit tidak suka dengan ucapan yoongi yang menjurus bahwa hanna hanyalah seseorang yang ia kasihani.

 

Yoongi hanya menatap jin dengan tajam, wajahnya berubah merah padam seakan ia sudah marah hingga ingin mematahkan semua tulang jin itu.

 

Jin hanya tersenyum remeh dan kembali mengecek ponselnya sambil berjalan keluar dari ruangan UKS itu. Saat menutup pintu dorong itu ia sedikit terkejut melihat seorang murid perempuan dengan rambut panjang kecoklatan tengah menunduk sedikit terisak menyembunyikan wajahnya. Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap jin, terlihat begitu banyak air mata yang mengalir dipipi gadis itu.

“hanna-ya..” ujar jin hendak menyentuh bahu gadis bernama hanna itu, tapi hanna langsung berlari begitu saja meninggalkan Jin dengan langkah cepatnya. Jinpun menatap yoongi dari kaca pintu itu, ia sadar bahwa hanna sudah mendengar semua hal yang dikatakan oleh yoon gi barusan.

 

Hanna yang hanya seperti anak kucing yang tertinggal didalam kardus, hanna yang hanya seperti adiknya sendiri. Semua perhatian yang diberikan oleh yoongi pada hanna selama ini hanya sebatas kategori kasihan menurut pemikiran gadis itu.

Gadis itu terus melangkahkan kakinya disepanjang koridor sambil sesekali berlari lalu menghapus air matanya yang tak hentinya terus keluar. Secara tidak langsung gadis itu baru saja sudah ditolak oleh seseorang yang selama ini sudah mengisi hati dan hari-harinya.

Hanna tidak sadar jika ia sudah sampai dikoridor utama yang terdapat beberapa murid yang sedang berteduh dari hujan, disepanjang koridor itu juga terdapat deretan loker para murid jewelry. Namun karena ini sudah 1jam yang lalu dari jam pulang, tentu tidak terlalu banyak murid yang tengah berteduh disekitar sini.

 

Seorang murid perempuan berambut coklat kemerahan yang tengah mengambil payung dari lokernya menatap hanna dengan heran. Tidak biasanya ia melihat hanna seorang gadis yang ceria menangis seperti itu, bahkan hanna berlari begitu saja menempuh hujan lebat itu dari gedung jewelry menuju asramanya. Tidak peduli dengan derasnya hujan ia hanya menangis bersama rintikan hujan itu, bahkan suara tangisannya itu juga tersamarkan oleh rintikan hujan lebat itu.

 

“ji hwa-ya.. hanna menangis..” ujar gadis yang sedang memegang payung itu pada ji hwa yang sedang memasukkan buku-bukunya kedalam loker. Gadis itu segera menolehkan pandangannya melihat hanna yang sudah berlari meninggalkan sekolah. Ji hwa terlihat heran melihat hanna yang seperti itu, dari tatapannya juga ia seperti ingin mengejar hanna menanyai apa yang telah terjadi? Apakah kau butuh sandaran bahu? Tapi ji hwa langsung menunduk dan menutup lokernya dengan lesu.

“kau masih belum berani untuk menyapanya.?” Tanya gadis berambut coklat kemerahan itu. Jihwa hanya diam tidak menjawab dan mengunci lokernya dengan pelan karena pikirannya masih terus memikirkan hanna.

Ji hwa tidak bisa berbohong dengan perasaannya, sejujurnya ia masih ingin berteman dengan hanna. Tapi hanna adalah orang yang seperti itu, hanna tidak akan mudah luluh pada orang yang sudah mengecewakannya.

 

“MWO..?? KAU MENJEPUTKU.? WAE..??”

“a-anni.. hanya ini begitu mendadak, bukankah ini hujan kau akan sakit..”

“teruslah didalam taxi hingga aku mengambil mobilku arra?? Oppa akan segera keluar..”

 

Ji hwa yang sudah selesai memutar kunci lokernya terdiam kaku hingga membiarkan tangannya itu masih tergantung memegang kunci itu. Suara itu begitu familiar baginya, dari sudut matanya ji hwa terlihat berusaha melirik namja yang sedang berbicara dengan telfon itu.

“ji hwa-ya.. ppalli..” ujar teman jihwa itu lagi sambil melepaskan penjepit pada payungnya itu dan bersiap untuk segera keluar dari gedung.

 

Hal itu juga membuat langkah namja itu untuk segera berlari menuju parkiran mobilnya terhenti karena mendengar nama ji hwa. Ketika jihwa membalikkan tubuhnya untuk segera berjalan ia tidak sengaja menabrak namja itu hingga dengan sigap namja itu menahan bahu ji hwa agar tidak terjatuh atau membentur loker besi yang ada dibelakangnya.

 

“ok jung-ah.. a-ayo keasrama..”  ujar ji hwa gugup pada temannya yang bernama ok jung itu sambil menurunkan tangan namja itu dari kedua bahunya.

“annyeong haseyo dokter jin.. kudengar kau pengganti sementara dari dokter kim, jang Ok Jung imnida..” ucap gadis bernama ok jung itu tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya. Ji hwa menatap ok jung tidak terima, ketika jin akan menyahut sambutan tangan ok jung, ji hwa lebih dulu menyambutnya dan menarik ok jung dengan kencang membuat gadis itu terhuyung dengan langkah terbirit-birit. Ok jung berusaha membalikkan tubuhnya menatap jin dan membungkukan badannya sebagai tanda dari permintaan maafnya pada jin terhadap tingkah temannya yang kurang sopan.

 

***

 

Diasrama laki-laki nomor 98, terlihatlah seorang namja dengan rambut coklat kemerahan itu tengah membaca komik dengan headset yang masih menempel ditelinganya. Bahkan laki-laki itu tidak peduli dengan panggilan temannya, hingga temannya itu membanting sebuah bantal cukup keras membuat komik itu terlempar dari tangannya.

Hal itu sangat dibenci oleh namja itu, ia tidak akan pernah rela jika seseorang mengganggu kesenangannya. Apalagi komik itu, komik itu terjatuh tergeletak dilantai juga headsetnya jatuh begitu saja dari telinganya membuat namja itu semakin kesal.

 

“YYA..!! BISAKAH SEKALI SAJA KAU TIDAK BERISIK DAN MENGGANGGUKU..??” teriak namja itu mempelototkan matanya dengan posisi tubuhnya yang masih berbaring diatas ranjang itu.

“yya.. aku hanya memanggilmu untuk menutup jendela yang kau buka lebar itu, tetapi kau malah meneriakkiku..??” ujar namja berambut hitam itu tidak terima.

 

Sementara dikoridor asrama itu terlihat seorang murid yang sedang sibuk mencek setiap pintu kamar yang berderet itu. Ia begitu bingung untuk mencari kamarnya, ya dia adalah Jeon Jungkook yang sedang sibuk mencari kamarnya. Setelah menemukan kamarnya yaitu kamar 99 dan bersiap untuk membuka pintu itu dengan kunci yang ia miliki, ia terdiam penasaran ketika mendengar teriakan dari sebuah kamar sebelahnya, ia juga melihat pintu kamar sebelah itu yang tidak tertutup sempurna hingga membuat suara itu terdengar keluar ruangan yang sebenarnya kedap suara.

 

“YYA..!!! Kau bisa menutupnya sendiri? Kau tidak perlu menggangguku seperti itu…!!” balas namja itu masih tidak terima.

“mengganggumu? Kaulah yang menggangguku taehyung..!!” teriak namja itu mulai berdiri bangkit dari ranjangnya.

“kau yang terus berdiri di balkon kamar ini setiap malam!! Apa kau tidak tau aku yang selalu menerima hukuman dari penjaga asrama karena masih menyalakan lampu ditengah malam eoh..???” ulang namja itu kesal.

“kau juga menggangguku dengan setiap permintaanmu untuk meramalkan masa depanmu dengan hanna!! Asal kau tau selama ini aku membohongimu, hanna tidak akan pernah bisa bersamamu, hanna akan terus setia pada yoon gi hyung. Itulah hannamu, hanna yang kau bilang akan menjadi milikmu, hanna yang akan menatapmu sebagai seorang laki-laki bukan hanna yang menganggapmu sebagai pelampiasan rasa kesalnya pada yoon gi. KAU PAHAM ITU..??” teriak taehyung mempelototkan matanya hingga berteriak diakhir kalimatnya membuat jimin semakin emosi hingga menarik kaos v-neck taehyung itu hendak memukul taehyung dengan tinjunya yang sudah terkepal kuat.

 

“YYA..!! SUNBAE..!! JIKA INGIN BERKELAHI SEBAIKNYA KAU MENUTUP PINTUNYA DENGAN BENAR, KAU MENGGANGGU KAMAR TETANGGA…” teriak seorang murid yang menendang pintu kamar taehyung dan jimin itu dengan kaki kanannya bahkan teriakan murid itu juga membuat seseorang dari kamar sebelah ikut menerobos kamar taehyung dan jimin itu.

“yya..!! kau? Apa kau baru saja mendukung perkelahian mereka??” Tanya seorang murid itu pada murid baru yang tidak ia ketahui namanya, tapi setelah melihat nametag murid itu ia mulai sadar jika ia adalah murid baru bernama ‘Kim Jungkook’.

Jungkook hanya mendesah kesal malas dengan sejuta pertanyaan yang pasti akan keluar dari mulut orang yang tidak ia kenali ini. Jungkook pun lebih memilih untuk kembali kekamarnya setelah menatap sinis pada orang itu, tidak peduli jika dia adalah seorang sunbae atau lebih tepatnya lebih tua dari pada dirinya karena baginya dia adalah Jeon Jungkook, walaupun orang-orang tidak tau jika ia adalah anak dari Mrs. Jeon. Sunbae itu terlihat sangat kesal dengan tingkah jungkook yang sedikit kurang ajar pada sunbaenya.

 

“yya taehyung.. apa kau akan terus seperti ini..?? kau pindah kamar saja…” ujar sunbae yang meneguri jungkook tadi pada taehyung.

“aku Jung Il Hoon sebagai ketua asrama tidak akan membiarkan asrama ini hancur hanya karena ulah kalian, taehyung kau pindah kekamar 100.” Ucap sunbae bernama Il Hoon itu dengan tegas.

“100? Bukankah itu kamar nam joon sunbae.?” Tanya taehyung heran, seperti takut untuk sekamar dengan nam joon.

“wae.? Kau tidak mau?” Tanya Il Hoon memastikan.

 

Taehyung terlihat berfikir sebentar sambil menjilati bibirnya itu karena bingung, ia terlihat mempunyai ide hingga ia melepaskan tangan jimin dengan kasar yang masih menggenggam kaosnya dengan genggaman erat itu. Tanpa pikir panjang taehyung langsung beranjak dari posisinya untuk mengemasi semua barang-barangnya juga dibantu oleh Il Hoon. Sementara jimin hanya memperhatikannya dengan malas, jimin seakan tidak peduli dengan hal itu dan lebih memilih untuk duduk disebuah sofa kecil dekat jendela sambil membolak-balikan sebuah majalah asing dengan sok seriusnya walaupun dari matanya ia terlihat berusaha melirik apa yang dilakukan oleh taehyung? Apa ia benar-benar akan pindah dari kamar ini?

 

“yya park jimin.. untuk tahun ini sekolah kita kedatangan 3 murid transfer, 2murid perempuan dan 1 murid laki-laki. Dia akan datang hari ini, sebelumnya akan ditempatkan dikamar yoon gi tapi sudah ditempati oleh murid baru tadi. Jadi dia akan satu kamar denganmu, dia dari jepang. Jika dia satu kamar dengan nam joon, kurasa dia akan merasa tidak nyaman bersekolah disini. Jadi kuharap kerja samamu..” ujar Il Hoon panjang lebar pada jimin yang masih duduk santai membolak-balikan majalah itu seakan benar-benar tidak peduli.

Setelah Il Hoon pergi dari kamar itu, ekspresi jimin mulai berubah kesal. Ia bahkan membanting majalah itu kelantai dan memperhatikan ranjang taehyung yang sekarang terlihat bersih tanpa barang-barang namja itu  yang biasanya selalu bertebaran diatas tempat tidur itu.

 

***

 

“hanna-ya.. bukankah kau bisa bertenduh sebentar di kelas? Lihatlah akibat kecerobohanmu, badanmu sangat panas.. aku akan mengambil obat, jika ada perlu kau bisa menelfonku..” ujar sang in pada hanna yang terbaring di ranjangnya dengan wajah pucat itu. Hanna memegang kompresan yang terletak dikeningnya itu dengan letih, kepalanya terasa sangat sakit sekarang, hidungnya bahkan terlihat memerah karena flu.

 

Di UKS itu terlihatlah yoongi yang duduk bersandar disebuah kursi tepat disamping ranjang sena. Yoongi terus menatap sena dengan heran sambil menggigit-gigiti bibirnya karena bingung dengan sejuta pertanyaan atau sejuta jawaban yang akan ia lontarkan pada sena bila sudah sadar nanti.

 

Satu hal yang membuat yoon gi masih terheran adalah ‘Nam Joon’. Yoongi kembali mengingat apa yang ia lihat saat di ruangan basket tadi sore, ketika sena yang menangis dengan isakan itu. Tatapan nam joon pada sena, sangat berbeda dari tatapan biasanya. Dan satu hal lagi yang masih membuatnya bingung, apakah sena mencium nam joon? Atau yoongi hanya salah posisi untuk melihat hal itu?

 

Yoongi terlihat menarik nafas panjangnya dengan berat, dari tatapannya ia terlihat berusaha untuk membuang jauh-jauh pemikiran tersebut. Nam joon tidak mungkin menyukai sena, apalagi mencium sena? Bukankah nam joon tau jika sena adalah Min Yoon Ah yang ia tunggu selama ini? Bahkan ketika ia mengetahui kepindahan sena sebagai murid transfer itu membuat yoongi sangat bersemangat untuk datang kesetiap kelas pelajarannya, walaupun yang ia kerjakan selama mata pelajaran itu adalah menuliskan not-not lagu atau lirik-lirik yang jika dilihat oleh orang awam lebih terlihat seperti coretan. Dengan wajahnya yang secerah bunga matahari itu ia tidak peduli jika sang guru sudah menegur yoongi hingga 3x dan menyuruh lelaki itu untuk keluar dari kelasnya.

Setiap hal itu terjadi yang dilakukan oleh yoongi adalah pergi menuju rooftop. Ya, rooftop adalah tempat yang paling bagus bagi murid-murid yang membolos. Lebih tepatnya, yoongi ingin menemui nam joon teman semasa kecilnya yang sekarang ini terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Namjoon yang dulu sangat senang jika kemanapun bersama dengan yoongi, tapi sekarang membuat keputusan untuk bertingkah seakan tidak mengenal satu sama lainnya.

 

~5years ago

 

Dikamar inap VIP dari sebuah RSUP, terlihat seorang remaja yang terbaring lemah dengan kondisi tubuhnya yang cukup parah. Kaki tangan lelaki itu di gips bahkan ia juga memakai penyangga leher. Wajahnya terlihat dipenuhi luka-luka, jika dilihat lagi lelaki itu seperti baru saja lolos dari maut. Dari ranjangnya terlihatlah sebuah name tag bertuliskan ‘Min Yoon Gi’.

Seorang gadis dengan dress berwarna kecoklatan khas musim gugur terlihat menatap lelaki itu dengan lamat dari balik kaca pintu yang cukup kecil itu, gadis itu terlihat berfikir keras dan ketika ia terlihat sudah memutuskan sesuatu ia menarik tangan seorang namja yang ada disampingnya. Namja itu menolak tarikan tangan dari gadis itu tapi nihil gadis itu terlalu kuat dibandingkan dengan dirinya walaupun dia adalah seorang perempuan. Ya, gadis itu adalah gadis yang sama dengan 9 tahun yang lalu. Wajahnya masih tetap sama saat pertama kali namjoon melihat gadis itu ‘Park Su Byong’.

 

Ketika subyong sudah berhasil menarik namja itu untuk memasuki kamar inap yoon gi, subyong berusaha untuk menyapa yoongi yang sedang memejamkan matanya. Dengan malas yoon gi pun mulai membuka matanya menatap 2 orang yang tengah berdiri dihadapannya.

 

“nam joon-ah…” ujar yoon gi dengan tatapan yang seperti setengah takut. Ya, yoon gi sangat takut dengan nam joon sekarang.

 

Hal yang menyebabkan ia masuk kerumah sakit ini adalah karena ia tiba-tiba terpeleset disebuah landaian yang cukup terjang disebuah gunung ketika mengadakan hiking sekolah bersama. Saat itu ia satu kelompok dengan nam joon dan beberapa murid lainnya, namun yoongi salah arah hingga ia terpeleset dan jatuh terguling membuat sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Saat ia hampir menabrak kepalanya dengan sebuah batu yang cukup besar tak berbentuk itu ia begitu takut dan berusaha melindungi kepalanya dengan tangannya tetapi tangannya terasa tidak kuat untuk diangkat karena patah, mungkin saja kepalanya akan hancur dan hidupnya akan berakhir sampai disitu.

Suatu keanehan terjadi, yoon gi melihat suatu keanehan dengan tubuhnya. Ia melihat nam joon temannya itu sedang menahan tubuh yoongi dengan ekspresi biasa, entah dari mana nam joon datang dan ia seakan sedang menahan sebuah debu yang akan menerpa matanya. Bahkan dengan mudahnya nam joon menendang batuan gunung yang besar itu dengan satu tendangan kakinya hingga batu itu berguling dan masuk ke jurang. Yoon gi terlihat shock menyadari jika ada jurang tak jauh dari bawah sana, tapi lebih shock lagi dengan apa yang ia lihat atas tindakan nam joon itu.

 

“Min Yoon Gi.. ditubuhmu mengalir darah nam joon, memang ini gila. Tapi mulai sekarang kau mungkin akan merasakan keanehan dunia, sesuatu yang tak pernah dirasakan oleh manusia. Dan sekarang kau akan mulai merasakannya..” terang gadis itu dengan tatapan pasti  yang membuat yoon gi terdiam bingung.

“aku dan nam joon.. sedikit berbeda dari kalian. Perlahan-lahan kau akan tau hal itu, tapi yang perlu kau ketahui adalah Kau benar-benar menerima donor darah dari nam joon. Awalnya aku tidak menyetujui hal itu karena kalian berbeda tapi setelah kufikir-fikir mungkin kau akan menguntungkan untukku jika memiliki sebagian hal dari kami..” ucap subyong lagi sambil memperlihatkan senyumannya yang penuh arti itu.

“menguntungkan..??” Tanya yoongi bingung, ia terlihat tidak suka dengan ucapan yang seakan-akan ia tengah dimanfaatkan atas jasa nam joon padanya.

 

Hari-hari berlalu, yoongi memang mulai merasakan keanehan dalam hidupnya. Memang ini terlihat biasa saja, tapi ia merasa sangat kebal terhadap apa saja yang terjadi padanya. Ketika ia sedang memotong buah dengan sebuah pisau, tangannya tidak sengaja ikut teriris oleh pisau tajam itu. Yoongipun langsung mencuci tangannya yang berdarah itu dengan bersih , namun saat itu tidak terdapat bekas luka irisan dijarinya itu. Ia tidak merasakan rasa nyeri atau apapun itu, jarinya benar-benar normal seperti sediakala.

 

Ketika yoongi tengah bersantai disebuah café dipusat kota. Yoongi begitu menikmati suasana sambil menatap kota seoul melalui etalase di café itu yang berada cukup tinggi dari jalanan tol disekitarnya. Ia merasa bingung karena MP3 yang sedang terputar diheadsetnya berhenti begitu saja, ketika ia kembali memplaykan music itu ia terheran menatap orang-orang disekitarnya yang terlihat kaku dan membeku. Ia menatap jalanan tol itu, terlihat semua mobil berhenti begitu saja dengan lampu-lampu yang masih menyala. Apa yang sedang terjadi?

 

Saat itu yoongi adalah remaja kelas 1SMP sama seperti nam joon, masing-masing dari mereka telah diadopsi oleh seorang keluarga yang cukup kaya. Begitu juga dengan nam joon, tapi nam joon sedikit berbeda dari yoon gi yang terlihat sangat beruntung dengan keluarga barunya.

Keluarga yang mengadopsi nam joon adalah keluarga dari suami istri yang mana suaminya berasal dari new Zealand. Saat diadopsi nam joon langsung dibawa ke new Zealand oleh keluarga barunya itu, tapi sekarang dia sudah kembali ke korea untuk bersekolah ditingkat SMP nya karena keluarganya yang mulai tidak peduli pada nam joon karena mereka sudah mempunyai keturunan diusia 40tahunan. Ia hanya memberikan tanggung jawab untuk nam joon dengan membiayai hidupnya saja seperti membelikan sebuah apartment mewah, sekolah yang berkualitas dan uang yang tetap mengalir di bank untuknya.

 

Yoongi menemui nam joon yang berada dirooftop sekolahnya. Ia mulai mencurahkan apa saja keanehan yang telah ia alami selama ini, menurutnya hanya nam joon lah yang mengetahui hal ini mengingat apa yang telah dikatakan oleh subyong ketika ia berada dirumah sakit beberapa bulan yang lalu.

Nam joon mulai berbicara, menjelaskan lebih detail terhadap apa yang telah terjadi pada yoongi dan pada dirinya. Ia tidak berani menatap yoongi, ia takut jika teman satu-satunya itu pergi meninggalkannya hanya karena ia terlihat seperti monster. Tapi tidak, yoongi malah mendekati nam joon yang memunggungi yoongi itu dengan senyuman tulus. Ia merangkul bahu nam joon dan memukul-mukulkannya dengan tinjunya sambil tertawa lepas membuat nam joon heran dengan tingkah yoongi. Ya, yoongi adalah orang yang apa adanya. Ia tidak masalah dengan latar belakang nam joon, mulai saat itu ia terlihat lebih dekat dengan namjoon. Nam joon mulai sedikit terbuka pada yoongi menceritakan tekanan batin pada hidupnya juga perasaanya pada subyong yang terus mengawasinya. Begitu juga dengan yoongi yang terus menceritakan perasaan rindunya pada Min Yoon Ah.

 

~***~

 

“sunbaenim.. kau tidur..??” Tanya park sang in sambil sedikit menggoyangkan tubuh yoon gi yang sedang tertidur itu.

“ne..??” Tanya yoongi mendongakkan kepalanya menatap sang in lalu langsung melihat sena yang masih tidur di ranjang UKS. Bahkan Yoongi langsung berdiri dan menempelkan tangannnya di kening sena, mengecek apakah sena baik-baik saja.

“mwoya..?? tadi sore dia tidak sepanas ini..” gumam yoon gi sedikit panic.

“sunbaenim, ini sudah jam 10. Sebaiknya kita membawanya keasrama saja..” ujar sang in sambil kembali mengambil tambahan obat di sebuah lemari obat untuk sena setelah tadi ia mengambil obat panas dan obat flu juga untuk hanna.

 

Yoongi pun menggendong sena dengan hati-hati sementara sang in mengiringinya didepan untuk membukakan pintu, menekan tombol lift dan hingga mengetuk pintu kamar sena hingga eunshi membukakan pintu.

Eunshi yang membukakan pintu dengan tatapan gelisah bertamabah gelisah melihat sena yang dikatakan demam dan tengah digendong juga oleh yoon gi sunbae, seseorang yang diceritakan oleh sang in dan sena tadi pagi. Eunshi membuka lebar pintu kamarnya agar yoon gi bisa masuk dengan lebih nyaman dan membaringkan tubuh sena diranjangnya.

 

“kau teman sekamarnya? Apa kau bisa menggantikan pakaian sena? apa kau bisa merawatnya? Kau tau cara menurunkan panasnya?” Tanya yoon gi dengan deretan pertanyaan itu dengan suara yang cukup gusar karena panic terhadap kondisi sena.

“sunbaenim… aku bahkan lebih ahli merawat orang sakit dari padamu..” balas eunshi sedikit kesal dengan pertanyaan yoon gi yang seperti merehkan kemampuannya sebagai seorang perempuan.

“sunbaenim, sebaiknya kau juga kembali keasramamu. Geokjeonghajimaseyo, Eunshi akan merawat sena, sementara aku akan merawat hanna…” ucap sang in sambil meletakkan paracetamol diatas meja kecil disamping ranjang sena untuk diminumnya bila sena sadar nanti kalau suhu tubuhnya masih tetap panas jika sudah dikompres.

 

“hanna sakit..??” Tanya yoon gi heran, berbeda sekali dengan ekspresi ketika ia menyadari suhu tubuh sena yang naik. Hal itu membuat sang in semakin yakin bahwa yoon gi benar-benar seperti sudah mengenal sena cukup lama atau yoon gi baru menyukai sena? Apa yoongi penyebab sakitnya hanna? Apa yoongi sunbae penyebab hilangnya mood hanna seharian ini? apa yoongi sunbae yang membuat hanna menangis tiba-tiba itu?

“ne, gadis itu tadi sore menerjang hujan seperti kucing..” ujar sang in sambil tertawa canggung.

“eoh..” balas yoon gi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

“sunbaenim, gamsahamnida..” ucap sang in sambil membungkukan badannya lalu berbalik untuk keluar dari kamar sena menuju kamarnya.

Setelah ia melihat eunshi yang membawakan air kompresan, ia mulai tenang dan meninggalkan sena dikamar itu tanpa pamit atau sekedar basa-basi dengan eunshi.

 

Setelah yoon gi benar-benar pergi dan menutup pintu itu, sena langsung membuka matanya dengan tatapan lurus menatap langit-langit kamarnya.

Eunshi yang melihat sena sudah sadar langsung mempelototi sena dengan heran. Karena Sena bangun seakan-akan ia sudah sadar dari tadi.

 

“sena.. sebaiknya kau mengganti bajumu, lalu minum obat dan beristirahat..” ucap eunshi sambil menyentuh kening sena yang terasa masih panas itu.

Tapi sena tidak menghiraukan ucapan eunshi dan hanya terus menatap dengan pandangan kosong, tanpa sadar air mata mulai mengalir saja di ujung matanya. Sena kembali teringat dengan semua perkataan bibinya tadi. Hal itu membuatnya semkain pusing dan semakin sedih.

 

“sena-ya? Gwaenchana..? kau menangis?” Tanya eunshi cemas. Tapi sena langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, walaupun tubuhnya sedikit oleng ketika akan membuka pintu kamar mandi itu.

 

Sementara dikoridor asrama laki-laki itu, terlihat yoongi yang berjalan dengan malas sambil sesekali menguap. Lelaki itu terlihat sangat mengantuk hingga memicingkan matanya dengan berat membuat matanya semakin tak terlihat karena begitu sipit.

Yoongi terlihat begitu terkejut ketika akan bersiap membuka kunci pintu kamarnya, seseorang keluar dengan hentaman pintu yang cukup keras dari kamar sebelahnya yaitu kamar 100.

Bukankah itu kamar nam joon? Kenapa ada taehyung dikamar itu?

 

“hyung..?? kau dari mana?” Tanya taehyung tersenyum paksa memperlihatkan semua giginya sambil menggaruk-menggaruk kepalanya yang tak gatal itu membuat yoon gi semakin heran, apalagi ketika beberapa komik terlempar dari kamar itu hingga tepat sasaran mengenai kepala taehyung. Hal itu membuat taehyung benar-benar marah hingga matanya membulat seperti akan memakan nam joon.

 

“HYUNG!! KAU BOLEH MELEMPAR BARANG-BARANGKU YANG LAIN TAPI TIDAK DENGAN KOMIK-KOMIKKU..!!!!!!” teriak taehyung bangkit dari duduknya dan berdiri dipintu yang terbuka lebar itu sambil berkacak pinggang tidak terima, bahkan menaik-naikkan kepalanya dengan sinis menatap nam joon.

 

Teriakan itu membuat yoon gi semakin heran dan mendatangi kamar itu dengan langkah bingung, ia melihat nam joon yang sedang menatap taehyung dengan tajam. Hal itu membuat yoon gi tertawa geli berbeda dengan taehyung yang menyadari tatapan tajam nam joon itu langsung terdiam membeku bahkan langsung menundukkan wajahnya.

 

“gwaen-gwaenchana hyung.. komik ini tidak seberapa.. kau ingin membuangnya? Silahkan.. apa aku bisa membantumu..??” Tanya taehyung sedikit kaku dan takut, lalu memungut komik-komik itu dan membantingnya kelantai bahkan menginjaknya dengan bodohnya. Wajahnya terlihat tidak rela melakukan hal itu.

 

“YYYA..!!! IGE MWOYA..???” teriak Il Hoon yang baru keluar dari lift sudah disuguhi pemandangan yang seperti ini.

“hyung.. bolehkah aku kembali kekamarku..??” Tanya taehyung sedikit memelas sambil memunguti komik-komiknya itu dengan suara yang hampir menangis membuat yoon gi geleng-geleng kepala dan lebih memilih untuk kembali untuk memasuki kamarnya.

 

Ketika pintu kamar yoongi sudah terbuka, terdengar music yang sangat keras dari dalam kamar itu. Jika kejadian ini berada disebuah drama, pasti akan diberi efek not-not atau alat-alat music yang terlempar dari kamar ini membentur kepala yoongi hingga pecah.

Kejadian ini membuat Il Hoon dan taehyung langsung menutupi kedua telinganya dengan tangannya, karena music rock itu begitu keras dan berisik. Ditambah lagi dibagian chester bennington yang berteriak tidak jelas itu, lagu linkin park benar-benar membuat yoongi gila seperti ingin memakan orang yang telah memasuki kamarnya itu karena telah bertingkah seenaknya.

Yoongi langsung memasuki kamarnya sambil menendang pintu kamar itu dengan kakinya membuat hentaman yang cukup keras. Tatapan nya terlihat begitu mematikan yang bila dilihat oleh seseorang yang tidak mengenal yoon gi pasti akan langsung terkena tekanan mental.

 

Taehyung langsung membulatkan matanya membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada murid baru itu, begitu pula dengan Il Hoon. Il Hoon yang sudah mengenal yoongi selama 3 tahun dan sekarng duduk sebangku dengan yoon gi di kelas 3 tentu paham sekali dengan apa yang akan terjadi pada orang itu jika sudah mendapatkan tatapan yang seperti itu dari seseorang seperti min yoon gi.

 

“hanya menghitung sampai 3 sesuatu akan terjadi..” ucap taehyung dengan pasti.

Il hoon yang sangat mempercayai apa saja yang keluar dari mulut taehyung terhadap sebuah ramalan itu ikut menghitung dari satu samapi tiga.

 

Pada hitungan yang ketiga tidak ada apapun yang terjadi kecuali music itu yang sudah dimatikan. Taehyung mempelototi matanya karena heran tidak terjadi apa-apa begitu pula dengan il hoon.

Tak berapa lama kemudian yoon gi keluar dari kamarnya untuk menutupi pintu kamarnya itu dengan wajahnya yang berseri seperti baru saja melihat sebuah bintang jatuh.

 

“yya.. apa kalian bisa tidak membuat keributan dan segera tidur? Yya kim nam joon.. bukankah sudah saatnya kau mempunyai teman sekamar??” ucap yoon gi sambil mengerinyutkan bibirnya dan menggenggam tangannya kuat-kuat untuk mengatakan ‘FIGHTING’ sambil mempelototi matanya pada taehyung membuat Il Hoon, taehyung begitu pula nam joon yang mendengar melongo tidak percaya. Tidak terjadi apa-apa dengan yoon gi, bahkan jungkook murid baru itu tidak dibanting keluar seperti yang dilakukan nam joon pada taehyung.

 

Il hoon menatap nam joon dengan tatapan geram, nam joon hanya membuang pandangannya dan kembali masuk kekamarnya tanpa menutup pintu kamarnya. Hal itu membuat taehyung langsung bangkit dari kegiatan mengelus komiknya dan menatap il hoon yang memberikan kode agar taehyung segera masuk kekamar itu dan dibalas oleh anggukan kencang dari taehyung.

 

Dikamar itu yoongi terlihat merebahkan tubuhnya dikasur sambil memainkan ponselnya.

“apa yang membuatmu kemari? Kau membuat masalah lagi..??” Tanya yoongi pada teman sekamarnya yang baru itu, jungkook.

“anni.. aku hanya ingin bersekolah disini. Lama tidak bertemu hyung..” ucap jungkook sambil menyunggingkan senyumnya.

“eoh..” balas yoongi malas sambil melepaskan cardigannya dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket itu.

 

“ok jung-ah.. kurasa subyong sudah kembali..” ucap ji hwa sambil menyandang tasnya pada ok jung yang tengah membaca sebuah lembaran-lembaran kertas yang lebih terlihat seperti naskah drama.

“yya.. anak itu pasti masih berkeliaran, kau tidur disini saja malam ini..” ucap ok jung sambil menutup lembaran kertas itu dan meletakkannya di atas meja belajar disampingnya lalu berjalan menuju lemarinya mengambil sebuah piyama dan memberikannya untuk ji hwa.

Ji hwa memandangi piyama itu dengan senyuman. Ia terlihat lebih tenang bersama ji hwa dari pada subyong, subyong selalu saja telat kembali kekamar padahal subyong tau jika ji hwa takut sendirian ditempat yang tertutup apalagi ruangan itu kedap suara. Jika terjadi hal-hal yang menakutkan, sekeras apapun ji hwa berteriak pasti tidak akan ada yang mendengar dan menolongnya.

 

“apa sekolah kita akan mengadakan festival lagi.? Bukankah hanya tinggal seminggu lagi untuk melakukan midtest.. apa para guru tidak memikirkan hal itu padamu?” Tanya ji hwa sambil berjalan kearah ok jung untuk menerima piyama itu.

“gwaenchana.. aku cukup senang dengan hal ini.. setidaknya biaya sekolah ku dikurangi 80%.. ucap ok jung sambil tertawa lepas, berbeda sekali dengan image feminim yang ia tunjukkan ketika disekolah. Sementara ji hwa hanya berdecak pasrah dengan ucapan ok jung itu sambil meletakkan kembali tasnya.

 

“yya.. kudengar kepala sekolah membuat peraturan baru, besok akan ada pengumuman di mading bahwa setiap murid harus mengikuti salah satu kegiatan ekskul sebagai syarat untuk mengikuti ujian, kecuali untuk kelas 3. Ketika midtest telah selesai dilakukan, baru kegiatan ekskul itu diaktifkan kembali. Dan sekolah kita akan mengadakan liburan musim panas setelah ujian semester nanti…” terang ok jung dengan wajahnya yang berbinar-binar membuatnya terlihat semakin cantik.

“jinjja…?? kalau begitu aku akan mempunyai junior di ruangan penyiaran jewelry?” Tanya ji hwa ikut senang. Ya, ji hwa aktif pada kegiatan ekskulnya sebagai penyiar radio di jewelry di jam-jam tertentu.

“dan kelas dramaku akan bertambah anggota..” ucap ok jung ikut senang sambil memeluk ji hwa. Ya, mereka begitu bahagia karena merasa begitu senang akan menjadi senior di kelas ekskulnya masing-masing. Mengingat murid jewelry yang tidak terlalu tertarik pada hal-hal yang tidak begitu penting itu, membuat kegiatan ekskul disekolah itu cukup memprihatinkan.

 

Dikamar nam joon yaitu kamar 100, nam joon dengan malas berbaring ditempat tidurnya tidak peduli dengan taehyung yang dengan gugup dan canggung berbaring diranjang sebelah nam joon dan langsung menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut itu.

 

Nam joon kembali membuka matanya, ekspresi wajahnya yang sebelumnya dingin kini terlihat suram.

Ia terlihat gelisah hingga menyandarkan kepalanya itu dengan kedua telapak tangannya diatas bantal itu.

 

-Nam Joon POV-

 

~DIA – Farewell For Myself

 

apa yang membuatmu sesedih itu? kau mulai mengingat masa lalumu? Hingga mana kau mengingatnya? Apa kau masih mengingatku?

Aku merasa bingung dengan perasaanku. Aku kembali memikirkan hal-hal yang sudah kulakukan pada gadis itu. Apa subyong akan menegurku lagi karena hal ini? Bukankah saat itu langsung turun hujan, setidaknya ia tidak begitu takut.

Ya, aku sudah 2 kali mencium gadis itu. Tidak.. ini sudah yang ke-3 kali.

Subyong mianhae, aku benar-benar tidak sengaja. Jika kau melihat keadaannya, saat itu gadis itu jatuh pingsan dan tidak sengaja menyentuh bibirku sebelum ia jatuh ke dadaku. Kejadian yang sama ketika 9 tahun yang lalu.

 

~9years ago

 

Dismping kamar asrama panti asuhan aku melihat seorang gadis kecil berambut panjang tengah menangis terhadap luka di lututnya. Hanya luka kecil kenapa ia begtu histeris?

Tangisannya begitu berisik hingga membangunkanku dari tidur nyenyakku diatas pohon ini. aku merasa begitu geram ketika seorang anak laki-laki itu meneriaki gadis itu agar diam. Ya, laki-laki itu adalah Min Yoon Gi, anak panti asuhan yang begitu menyebalkan hingga aku telah merusaki semua barang-barang yang dimilikinya. Dan kupastikan ia semakin suntuk karena mobil-mobilan yang sedang ia perbaiki itu semakin rusak tak berbentuk.

Hal itu terjadi lagi, saat itu kekuatanku masih sangat labil. Sedikit saja aku tidak bisa mengontrol diriku dunia berubah dan waktu terhenti kembali. Mungkin bagi orang lain ini akan menyenangkan, tapi tidak denganku. Ini sangat menjengkelkan dan menakutkan. Aku benar-benar merasa sebagai seorang monster terhadap kekuatan terkutuk ini.

 

Aku tidak sengaja menginjak ranting yang rapuh hingga terjatuh dari atas pohon ini membuatku semakin marah hingga menendang pohon besar ini. Sebuah ranting yang cukup lapuk itu langsung terjatuh kebawah.

Ini memang aneh, tanpa kusadari aku mendekati gadis itu dengan langkah penasaran. Anak itu yang tengah menangis kencang dan sekarang terlihat membeku. Wajahnya terlihat lucu, aku pun berjongkok sambil menatapnya setengah jijik karena ingusnya yang sedikit keluar dari persembunyiannya(?).

Entah apa yang mendorongku untuk menghapus air mata itu dengan tanganku, tapi kuurungkan dan lebih memilih untuk meniupinya dengan mulutku agar air mata itu segera kering dipipinya.

Saat itu tubuhku tidak seimbang dan tidak sengaja terdorong kedepan hingga menyentuh bibirnya. Akupun langsung menahan kedua bahunya dengan kedua tanganku, tapi hal itu benar-benar tidak dapat dihindarkan. Aku benar-benar tidak sengaja menciumnya.

Hal aneh terjadi lagi, aku melihat lututnya yang berdarah dan teluka itu menghilang dengan sendirinya. Apa ini yang dibicarakan oleh nuna kemaren? Aku tidak boleh mencium atau melakukan hal yang seperti itu? tapi ini benar-benar tidak disengaja dan aku langsung bangkit dari posisiku lalu secepat kilat berlari dari sekitar panti asuhan itu karena aku merasa subyong nuna pasti melihatku. Ia pasti akan memarahiku dan menatapku dengan tatapan yang mematikan itu lagi.

 

~***~

 

Subyong nuna.. dan kali ini sungguh, kejadian itu tidak disengaja lagi.

Tapi berbeda dengan ciuman yang ke-2. Ciumanku padanya benar-benar tulus, bukan hanya untuk menyembuhkan lukanya. Tetapi itu sebagai symbol dari rasa rinduku padanya.

Ya, aku menyukainya melebihi rasa cinta yoon gi pada gadis itu. Hal itulah yang membuatku tenang saja ketika kau tegur,Tapi kenapa kau mengungkit kembali masalah ibuku pada saat itu? apa kau tidak sadar? Jika waktu terhenti karena emosiku yang labil itu artinya aku benar-benar sedang marah? Setidak nya kau mengerti hal itu. Kalaupun waktumu akan berkurang, setidaknya cinta sejati itu tidak akan berkurang. Itulah pemikiran manusia tentang cinta sejati. Cinta sejati tidak akan pergi dan berada jauh darimu.

Subyong nuna, cepatlah menemukan cinta sejatimu agar aku bisa memiliki Sena seutuhnya.

 

~2 hari yang lalu ketika di apartment nam joon

 

Gadis itu terbaring dengan kondisi tubuhnya yang sangat parah. Aku terus menatap nya dengan lamat.

Gadis yang kutatap 9tahun yang lau. Gadis yang kuhindari hingga berlari kebukit itu, itulah kesalahan terbesarku. Andai saja saat itu aku tidak berlari menjauhimu kau tidak akan datang kebukit dan kembali dari bukit itu hingga tertarbrak dan koma tanpa ku ketahui.

Kau terkena amnesia? Dan hal itu langsung membuatku kembali begitu menyedihkan, sesedih ketika aku kehilangan ibuku. Hal bodoh terjadi lagi, aku selalu menyesal dikemudian hari terhadap semua hal yang telah kulakukan.

Ketika mendengar kau akan diadopsi dan langsung dibawa ke Indonesia, sebuah tempat yang tak begitu kuketahui dimana itu. Apa kau tau saat itu aku sangat frustasi? Entah keberanian dari mana hingga aku berani membantah apapun yang dikatakan orang-orang padaku.

 

Aku menatap tangannya yang diperban itu. Apa ini karena di roof top itu? Andai saja saat itu aku tidak begitu gugup ketika kau berbicara dengan ku, andai saja saat itu aku tidak merasa takut jika yoon gi yang akan datang ke roof top dan melihatmu yang bersamaku dan andai saja aku dapat mengontrol emosiku agar pegangan tangga itu tidak rusak, dan andai saja aku langsung memperbaiki pegangan tangga itu kau tidak akan terluka seperti ini.

Andai saja kau tidak mengikutiku kebukit itu, kau tidak akan seperti ini. Kau tidak akan melihat orang-orang yang kubunuh itu.

Sena mianhae… andai saja kau tidak pernah mengenalku.. mianhae.

 

Tanpa sadar hatiku tergerakkan untuk menggenggam tangannya lalu mencium bibirnya dengan hangat, tanpa kusadari bahkan air mataku menetes tepat dikelopak matanya. Aku melihat semua lukanya yang mulai menghilang itu. Bila tidak dapat memilikinya, setidaknya aku bisa melindunginya semampuku.

 

~***~

 

Bisakah mulai sekarang kau mulai menyadari kehadiranku? Sekarang aku bukanlah daddy long legs yang biasa kau sebutkan untukku dulu. Aku adalah orang yang selalu menunggumu, aku orang yang selalu sabar terhadap semua hal yang kau lakukan. Dan kau adalah manusia pertama yang mengetahui kekuatanku. Dan apa kau sudah mengingatku??

 

-Author POV-

 

Sementara itu ditaman belakang jewelry. Gadis itu masih tidur memicingkan matanya diatas pohon. Ia tidak merasa sakit sama sekali pada tubuhnya karena sudah tidur diatas pohon dari sore hingga malam apalagi dibawah hujan yang lebat itu. Ia membuka matanya ketika melihat sinar bulan yang tepat mengenai tubuhnya.

 

“eommo.. apa ekor ku terlihat?” gumam gadis itu cemas. Ya, gadis itu adalah Park Subyong.

Gadis itu langsung meloncati pohon itu hingga tersungkur ditanah. Ketika gadis itu membalikkan tubuhnya sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya yang kotor itu ia tercegat melihat seseorang di hadapannya yang memperhatikannya dengan wajah sedikit terkejut dan mempelototkan matanya heran melihat seorang perempuan cantik yang berada dihadapannya memiliki 9 ekor yang bersinar.

 

“GU-GUMIHO..!!!”

 

To be continued..

 

Gimana part 4 ini? ceritanya masih belum klimaks. Kkk~ semua cast mulai terkumpul nih keknya walaupun partnya masih dikit-dikit wkwkwk.

Mianhae sangat telat, ada masalah sama ujian author jadi author butuh sedikit waktu untuk mengembalikan mood author. Hehe

ada pertanyaan yang membingungkan tentang beberapa part sebelumnya? Nanti akan author jawab di kolom komentar juga pertanyaan dan jawabannya akan author tulis di next part agar semua pembaca juga paham. Karena ini genre fantasy etc, pasti ada hal-hal yang membingungkan? Karena banyak alur flashbacknya.

Kalo ada yang nanya ini terinspirasi dari mana, ini terinspirasi dari drama-drama genre fantasy hehe. Jadi maklumin aja kalau ada hal-hal yang sedikit mirip hehe.

 

Ada yang nanya di part sebelumnya ‘kenapa nam joon bisa menghentikan waktu..’ coba baca lagi hehe, karena nam joon ga bisa mengontrol emosinya, jadi kekuatannya jadi labil haha.. *apaan ini* Misalkan masih belum paham juga, bisa baca intro monster.

 

Next part author ga tau akan cepet di post atu tidak, berhubung ujian semester semakin dekat author ga tau pasti. Selama ujian author tidurnya paling 3 jam sehari, saat suntuk author akan nulis dikit-dikit setidaknya akan di post tepat habis ujian hehe.

 

 

RCL-juseyo…~~^^

 

About fanfictionside

just me

20 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 4

  1. Namjoonaaa.. Itu hubungan Jungkook sama Yoongi apa kok akrab banget?

    Ah..yg di akhir itu..yg ketemu gumiho pasti Hoseok my Honey T-T
    yah POTEK deh aku nanti kalo baca ini, huweeee, Hoseokaaaaa ><

  2. oooo.. gitu ternyata, terjawab jg.
    Kasian namjoon, kalo kx gni aku dukung namjoon sena ;D
    Itu jhope kn??
    jd yg nnti bkal jd cnta sejati ny subyong itu jhope atau taehyung thor??
    Hem,, mkin pnasaran
    Good job thor, hwaiting!!!!

  3. kyaaaaaaaaaa!!!! serunyaaa…..
    Taehyung kasian, ketakutan sekamar ama Namjoon hahaha..
    wah itu siapa yang liat subyong??
    aaaaa, penasaran…. next ya thor^^

  4. Author jjang!!!! #saran jeongkook sama roommatenya sena ketemu lg dong trus so sweet lg………. Tapi sena dan namjoon jadi couple ya…..#maksa! Abaikan! Next thor!!!! Semoga utsnya lancuar yuah!!!!!~chu

  5. Bagus kak (y)
    lucu jga klo ada taehyung sma jungkook ,ohya ya hub jungkook sma yoon gi apa’an yaa /? Aku jg bingung sbner’a -_

    yoongi entar sma hanna yaa? Yaahh kesian yoon >.<

  6. awww kapan nih lanjutanya.. jujur aku baru baca ff ini dari intro langsung sampe part 4.. komen di sini saja?!
    ceritanya bener bener seru, aku ngebayangin betapa asiknya kalo ff ini dibikin drama..
    karakter tokohnya juga pas banget, teruma taehyung yg keliatan nyebelin gitu. cocok (y)
    dan semuaaanyaaa
    tinggal j-hope nih yang blm nongol..
    penasaran sama yg di bagian tbc, itu yg liat subyong si hoppie bukan yah???? kkk
    next next ditunggu nih :3

  7. aku masih bingung sebenernya gumiho itu siapaa? udah gitu subyong sebenernyaa mau ngapain? tapi aku suka banget sama konfliknya namjoon suga dan sena, author daebak^^

  8. Well sejujurnya gw gak tw harus komen apa
    Tpi yg jelas ceritamu kerennnnnnn
    Penggambarannya kayak liat film bujan kayak baca
    Toplah😀❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s