FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 14


Title : Darkside (Chapter 14)

Sub-chapter title :  The Feeling, The Dream, and The Plan

Author : A-Mysty ♔ (author tetap)

Cast :   Ahn Hye Min – Shin Ah Jung

            Shin Se Jung

Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 Kim Nam Joon

Min Yoon Gi

Support Cast : Yoo Min (Hye Min’s Older Sister)

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

Notice : Maaf untuk alur yang sepertinya akan kacau lagi. Karena alurnya seharusnya sudah habis di chap ini. Oleh karena itu, aku menggunakan sisa alur yang berada di otakku. Hingga jadilah, Chap 14 ini. Semoga suka!

 

Photo cr. Me Ryu

 

 

Review:

Se Jung duduk di sebuah pilar tua pembatas sekolah dengan sebuah hutan rindang. Pilar tua yang sudah berlumut itu menjadi tempat yang biasa ia gunakan untuk mengawasi gerak-gerik Hye Min. Ia terduduk dengan dikelilingi angin dingin. Sepertinya akan hujan. Se Jung menutup matanya dan menyungging sebuah senyum licik.

“Sebentar lagi… sebentar lagi… waktu itu akan datang…”

///

Hujan deras yang tiba-tiba mengguyur itu telah membasahi sosok seorang gadis yang tengah menatap langit. Baju yang basah dan tubuh yang mengigil itu, tak menjadi halangannya untuk tetap berdiam diri di tempat tersebut. Sesekali terdengar suara gemuruh petir, serta sambaran halilintar di langit. Gadis itu menutup kedua matanya perlahan-lahan dengan tangan yang terkepal erat, hingga meremas roknya yang basah itu.

Di tempat ini, di samping sekolahnya sendiri, gadis itu berdiri di dekat kebun mawar yang tak terurus lagi semenjak ‘kematian’ seseorang yang memegang tanggung jawab atas taman ini. Di dalam genggaman tangannya satu lagi, gadis itu meremas beberapa kelopak bunga mawar merah erat. Gadis itu menangis bersaman dengan derai hujan yang membasahi wajahnya. Bibirnya bergetar dan menjadi warna biru. Birunya yang sudah bukan berwarna putih lagi, melainkan biru, terlihat bagaikan gincu alami.

‘Sebenarnya…. Perasaan aku padanya itu apa? Bukankah, aku tidak menyukainya. Tapi, kenapa sesakit itu ketika melihatnya.’ ujar gadis itu dalam hati. Tangannya mulai tergerak meraba dada kirinya.

Gadis itu adalah Hye Min. Gadis yang berlari tanpa arah setelah bertengkar dengan ‘kakak kembar’nya sendiri. Tak hanya itu, rasa sesak yang muncul batinnya muncul karena pemandangan yang ia lihat ketika penyakit ringannya mencekam. Kini, sesak itu ada lagi, namun penyebabnya saja yang berbeda.

‘Kenapa aku malah pergi? Kenapa juga aku harus marah? Dan…. kenapa juga rasa sesak ini harus muncul? Seharusnya, aku membiarkannya saja. Toh, aku juga tidak menyukainya.’ batinnya terus mengumpat marah.

Hye Min membuka matanya perlahan-lahan dan mendapati tetesan air hujan yang tak sengaja masuk dan mengenai konjungtiva matanya. Dengan cepat, gadis itu menutup matanya kembali, kemudian terduduk. Ia terduduk di atas tanah yang basah dan berlumpur begitu saja, tanpa peduli dengan roknya yang akan kotor. Hye Min menundukkan kepalanya dan semakin meremas kelopak-kelopak bunga mawar itu.

‘Lagi-lagi, aku salah jalan…’ umpatnya sekali lagi.

Bersamaan dengan umpatan dirinya itu, mulai terdengarlah suara tangis di tengah hujan deras itu. Hye Min mulai menangis tersedu-sedu. Ia tidak tahu harus apa lagi. Ia terus merutuki dirinya tanpa alasan yang jelas. Ketika gadis itu menangis dengan kepala yang tertunduk, sebuah bayangan gelap menyelubunginya. Gadis itu merasa bahwa itu adalah Yoongi yang akan menculiknya. Sambil tetap menangis, Hye Min bulai meyakinkan diri untuk ikut pergi dengannya.

“Kalau kau mau membawaku sekarang juga tak apa. Toh, dia juga sudah tidak percaya padaku.” ujar Hye Min begitu saja tanpa membuka mata sedikitpun.

Setelah ia selesai mengatakan apa yang ingin utarakan saat ini, derai hujan tidak mengguyur tubuhnya lagi. Gadis itu mulai terdiam dan menatap sekitar. Ia melihat bayangan benda yang tengah meneduhinya bersamaan dengan bayangan seseorang. Sebuah payung jingga tengah melindunginya dari hujan deras yang sudah mengguyur tubuhnya cukup lama.

“Kalau aku menculikmu untuk pulang ke rumah, mungkin itu baru benar.” ujar orang yang tengah memayunginya itu.

Hye Min membulatkan matanya. Ia langsung menghentikan suara tangisnya begitu ia mengenali suara ini. Suara yang teduh seperti embun pagi mengalun lembut di telinganya. Hye Min meneguk ludahnya perlahan. Ia tidak berani menatap orang yang tengah memayunginya saat ini. Hye Min hanya terdiam dan berusaha keras menahan tangisnya.

“Menangis di tengah hujan itu tidak baik untuk kesehatan dirimu, lho.” ujar orang itu sekali lagi.

Saat suara tersebut kembali terdengar ditelinganya, Hye Min benar-benar ingin menghambur ke dalam pelukan orang itu. Ingin sekali ia menangis sekencang-kencangnya di dalam pelukan orang tersebut. Meluapkan semua kekesalannya, perasaannya saat ini, dan sesak yang membuat batinnya tertekan.

Tanpa basa-basi lagi, Hye Min langsung bangkit dan benar-benar menghambur masuk ke dalam pelukan orang tersebut. Orang yang tengah memayungi dirinya itu dengan senang hati membalas pelukannya. Bahkan, orang tersebut tersenyum dengan ramah.

“Aku datang ke sini untuk mengajakmu pulang. Ini sudah hampir petang kelam,” ujar orang itu dengan setengah berbisik halus.

“Eonnie!” Hye Min langsung menangis seketika di dalam pelukan kakaknya, Yoo Min.

Yoo Min tersenyum halus, kemudian mengelus kepala adik perempuannya itu, “Sebelum ibu dan ayah pergi, mereka bilang kau belum pulang. Jadi, aku datang untuk menjemputmu. Kenapa kau membiarkan dirimu kehujanan seperti ini? Bagaimana kalau kau terserang flu?”

Hye Min tidak menyahut, ia hanya mendengarkan kakaknya saja. Ia memeluk kakaknya erat dan terus menangis. Merasa ada suatu masalah yang dialami adiknya, Yoo Min mengembuskan napas hangatnya.

“Sudahlah, berhenti menangis,” ujar Yoo Min sekali lagi. “Ayolah. Adikku tidak cengeng seperti ini. Aku tahu kau sedang merasakan hal yang paling rumit yang pernah batinmu rasakan, yaitu menyukai orang lain. Aku juga dulu seperti itu. Namanya menyukai, pasti harus merasakan segala macam perasaan. Apapun itu.” jelas Yoo Min.

Hye Min mengangkat kepalanya perlahan dan menatap kakaknya. Ia hanya bisa terdiam tak mengatakan apapun. Kakaknya muncul di saat yang tepat. Namun, terbesit sebuah pikiran aneh dipikirannya. Muncul-lah pertanyaan aneh lagi.

‘Apa eonnie tau kalau aku ini hidup hanya dengan setengah roh saja?’ Batin Hye Min melemparkan sebuah pertanyaan itu.

“Kalau aku boleh bilang, ‘cinta’ itu seperti cokelat. Manis dan pahit. Haha. Aku bisa mengatakan itu karena Nenek. Nenek yang mengatakan itu padaku,” ujar Yoo Min pelan, ia mengeratkan genggamannya pada payung jingga itu. “Sudahlah. Jangan menangis hanya karena kau menyukai orang dan orang itu menyakitimu. Ayo, kita pulang sekarang.”

‘Bukan itu eonnie…’

Pada akhirnya, Yoo Min menarik pelan bahu adiknya agar berjalan bersebelahan bersama. Batin Hye Min tak bisa tenang sama sekali. Mungkin, karena ucapan kakaknya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan alasan dirinya menangis seperti ini. Atau mungkin fakor lain…

‘Eonnie, kalau aku ikut Se Jung, apakah kau akan merelakanku? Apa kau rela aku mati mendahuluimu?’

///

Taehyung terduduk di kusen kayu tebal jendela kamarnya. Ia menatap langit malam yang gelap, namun terasa cerah karena di penuhi dengan bintang berkelip. Ia menatap langit itu lurus-lurus, kemudian sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Hanya saja, gumpalan awan hitam mulai bergilir menutupi gemerlapnya bintang, serta cahaya bulan mulai meredup.

Festival musim gugur mulai diadakan di kaki bukit Hwaniwon. Ia dapat melihat keramaian dari kusen jendelanya itu. Gemerlap cahaya festival itu kian menambah indahnya malam saat itu. Taehyung menatap ke bawah, menatap tepat ke halaman rumahnya. Tiba-tiba, ia teringat kejadian yang beberapa jam yang lalu menimpanya.

‘Jadi, aku mengakui perasaanku ini bukan kepada Hye Min? Melainkan gadis yang disebut sebagai Se Jung itu?’

Ia sedikit melunturkan senyumnya saat mengingat hal itu. Ia benar-benar menyukai Hye Min. Sayangnya, ia mengakui perasaannya bukan kepada Hye Min yang asli. Ditambah, ia juga memeluk gadis yang diketahui bernama asli Se Jung itu. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya ke hamparan pohon rindang di dekat rumahnya. Rasa malunya, bersalahnya dan sebagainya seakan-akan menjadi satu saat ini. Perasaan kesalnya terhadap Hye Min kian memudar karena hal tadi.

Mata spiral biru mengkilat, siapa yang menyangka seorang gadis memiliki tatapan seperti itu. Taehyung tertegun sejenak, menghapus senyum tipis yang ada di wajahnya. Ia menopang dahinya dan berpikir.

‘Seharusnya, aku tidak melukai tangan ini… Harusnya tangan ini bisa menjaga…’

Laki-laki itu menatap ke arah kaki bukit yang tengah ramai itu. Tiba-tiba, ia menjentikkan jarinya dan beranjak dari posisinya. Ia mengambil jaket tebalnya yang menggantung di dinding kamarnya, kemudian berjalan keluar kamarnya cepat. Ia menuruni anak tangga yang ada di rumahnya itu sambil berteriak meminta izin keluar malam.

“Eomma! Aku izin keluar sebentar!” teriaknya sambil berjalan menuju pintu depan rumahnya.

“Kau mau kemana? Jangan pergi ke tempat yang aneh-aneh! Pulanglah sebelum jam 10 malam, kalau tidak kau akan dimarahi Ayahmu lagi!” sahut sang Ibu dari arah dapur.

Taehyung kembali menyahut sambil memakai sepatu luarnya, “Baik! Aku berjanji! Kalau begitu, aku pergi dulu!”

“Hati-hati!” sahut Ibunya cepat.

Taehyung menghentikan langkah kakinya ketika ia memasuki gerbang festival tahunan itu. Orang-orang berlalu lalang ke sana dan kemari dengan bebasnya. Ada juga yang tengah memasang kembang api tanpa tahu dalam rangka apa. Sayangnya, ada sesuatu yang mengganjal dari penglihatan Taehyung. Semua orang yang berlalu lalang dihadapannya, rata-rata adalah sepasang kekasih. Melihat pemandangan itu, Taehyung hanya bisa tersenyum miring. (Jomblo sih haha /?)

Taehyung kembali melanjutkan langkah kakinya dengan kedua telapak tangan yang ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Aroma makanan hangat dimana-mana, serta suara musik trot sederhana bergema. Taehyung senang suasana ramai seperti ini. Suasana ramai dan hangat.

Kedua kaki panjangnya melangkah menuju puncak bukit. Bukit itu adalah tempat yang paling strategis untuk melihat pelangi bulan dan bintang-bintang yang berkilau. Apalagi ketika mengunjunginya tepat pukul 12 malam atau pukul 2 pagi, karena planet Venus akan terlihat paling terang bagaikan bintang.

Sudah hampir 2 tahun ia tidak datang ke bukit ini. Entahlah, semenjak ia pernah kehilangan seseorang yang menjadi cinta pertamanya pergi. Gadis yang menjadi cinta pertamanya itu pergi tanpa pemberitahuan. Taehyung hanya mengetahui bahwa gadis itu hanya pergi keluar negri dan berjanji akan kembali lagi. Sayangnya, gadis itu di beritakan telah meninggal karena sakit.

Semenjak itulah, ia memutuskan untuk menjadi anak rumahan yang tak pernah keluar rumah. Bukit ini pun bisa menjadi kenangan buruk baginya, karena bukit ini adalah tempat dimana dirinya menghabiskan waktu pulang sekolah bersama gadis itu. Karena itu pula, ia merasa tidak tertarik lagi dengan lawan jenisnya (bukan gay ya._.). Ia merasa semuanya terlihat kosong tanpa gadis yang menjadi cinta pertamanya itu.

Tapi semuanya berubah, ketika ia bertemu Hye Min. Ia pertama kali bertemu Hye Min ketika Jimin mengajaknya ke sebuah toko buku. Taehyung yang tengah berjalan santai dengan Jimin pun bertemu dengan gadis itu. Tanpa disangka, mereka pun masuk di sekolah yang sama, hanya berbeda kelas saja. Semuanya terasa terjadi seperti kebetulan.

Taehyung mulai dekat dengan Hye Min karena insiden In Hyong kala itu. Dimana mata kanan Hye Min hampir ditusuk menggunakan pensil mekanik. Benar-benar semuanya terjadi seperti kebetulan. Ia juga tidak akan menyangka akan menjadi dekat dengan gadis itu.

Semakin ke sini, Taehyung merasa ada menarik dari Hye Min. Bukan senyumnya ataupun kebiasaannya, entahlah ia juga tidak bisa mengatakan apa alasannya. Rasa suka itu datang begitu saja. Dan rasa ingin menjaga gadis itu semakin besar. Ia tidak peduli dengan pukulan gadis itu hingga membuat pipinya lebam.

Hanya saja, hanya untuk hari ini, rasa kesalnya pada gadis itu muncul begitu saja. Hye Min belakangan ini lebih sering menghabiskan waktu atau berbagi cerita kepada Namjoon atau orang lain dibanding dirinya. Hal itu secara tak langsung membuatnya kesal dan cemburu. Tunggu sebentar… Cemburu? Haha. Ia tidak bisa mengatakan itu juga. Mengingat ada dua Hye Min untuk hari ini, rasa hidupnya semakin gila saja.

Taehyung menatap langit yang terlihat semakin indah dari puncak bukit Hwaniwon itu. Hwaniwon, bukit yang selalu menebarkan harumnya bunga-bunga bersamaan dengan segarnya tetesan air hujan dari hujan yang baru saja mereda. Karena hamparan bintang-bintang yang terlihat berkelip itu, Taehyung mulai melupakan semua ingatan lamanya itu. Bahkan, rasa kesalnya sekalipun.

“Hwa! Bintangnya banyak sekali!” ujar seorang gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Taehyung tersenyum mendengar pujian gadis yang sosoknya tidak ia lirik sama sekali. Ia tetap menatap bintang berkelip itu dan kembali melebarkan senyumnya. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini ketika melihat bintang sebelumnya. Ingin rasanya ia mengajak Hye Min ke sini. Tapi rasanya itu tidak mungkin untuk saat ini. Ia harus pintar-pintar membedakan mana Hye Min yang asli dan palsu (dikira produk-_-).

“Indah, kan?” Taehyung menyahut begitu saja, seakan-akan ia mengenal gadis yang berdiri tak jauh dari dirinya saat ini.

“Ehm!” Gadis itu menjawabnya dengan dehamannya yang bersamaan anggukkan kepalanya. “Sudah 4 tahun lama, aku tidak ke sini!”

“4 tahun?” tanya Taehyung dengan masih saja menatap lurus ke arah langit yang terlihat cerah itu.

“Iya, 4 tahun. Terakhir kali aku datang kemari bersama temanku, Jimin.” balas gadis itu.

Seketika, kedua mata Taehyung membulatdan ia langsung menoleh ke gadis yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya itu. Kedua matanya membulat tak percaya. Gadis yang ingin ia ajak ke puncak bukit ini, kini tengah berdiri dan berbicara dengannya.

Ia merasa bohong sekarang. Ia tidak mengenali suara Hye Min dengan jelas. Bukan karena faktor berisiknya orang-orang, tapi karena suara gadis itu memang beda. Berbeda dari yang tadi siang. Suaranya saat ini sangat serak seperti tengah terjangkit flu.

“Hye… Hye Min?” Taehyung menyebut nama gadis itu perlahan.

Hye Min ikut menatap Taehyung yang menyebut namanya dengan sedikit kaku itu. Gadis itu juga terkejut ketika melihat laki-laki yang menjadi salah satu alasannya menangis di tengah hujan tadi sore. Hye Min berdeham canggung dan menjilat bibirnya yang terasa sangat kering.

“Ah! Tae… Taehyung-ah!” sahut Hye Min yang cukup terkejut.

“Kapan kau datang kemari? Ada apa dengan suaramu?” tanya Taehyung dengan sedikit mendelik.

“Belum lama. Suaraku? Seperti kodok, ya? Ini karena flu yang tiba-tiba menyerangku.” balas Hye Min cukup hangat.

Hye Min ikut terdiam  cukup lama. Ia merasa ia seperti baru mengenal Taehyung saat ini. Pikirannya terasa sangat kosong. Berbeda dengan dulu sebelum ia mengetahui bahwa ia yang menjadi incaran ‘mereka’. Gadis itu memainkan ujung sepatu ketsnya dengan menggesekkan di rumput halus yang tumbuh. Gadis itu mengingat ucapan Namjoon yang menyuruhnya untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Taehyung. Entahlah mungkin karena kejadian tadi sore, ia merasa seperti tidak mengenal Taehyung.

“Taehyung-ah…”

“Hye Min-ah…”

Tanpa sengaja mereka berbicara di saat bersamaan. Mereka kembali saling bertukar pandangan bingung. Kemudian Hye Min dengan cepat mengatakan, “Kau saja yang berbicara duluan.”

Mendengar ucapan singkat Hye Min itu, Taehyung mengembuskan napasnya perlahan. Embusan napasnya sedikit membuat udara dingin. Laki-laki itu sedikit berdeham, kemudian berkata, “Aku tahu aku ini bodoh tidak bisa membedakan kau dengan orang ‘itu’. Maafkan aku. Maafkan aku yang sudah memarahimu tadi pagi. Itu karena… aku cemburu.”

“…” Hye Min hanya bisa terdiam dengan mulut yang setengah menganga. Ia tidak percaya mendengar ucapan Taehyung itu.

“Aku merasa tidak suka ketika kau bersama Namjoon sunbae. Aku benar-benar minta maaf karena telah memarahimu. Maafkan aku juga yang sudah menge-capmu sebagai pembohong. Aku percaya padamu… karena… Aku menyukaimu.” ujar Taehyung ringan.

Hye Min semakin tidak bisa mengatur rasa terkejutnya. Ia benar-benar terkejut dengan ucapan Taehyung sekarang. Laki-laki itu terlihat sedikit membuang tatapannya ke lain arah. Jantung Hye Min langsung mencelos mengingat posisinya saat ini. Ia meneguk ludahnya dan mengambil napasnya sejenak.

“Kau… tidak seharusnya menyukaiku.” balas Hye Min begitu saja, membuat Taehyung kembali menatapnya.

“Maksudmu?” Dahi Taehyung mengerut ketika mendengar sahutan Hye Min. Apa ini artinya ia ditolak?

 

“Aku tidak ingin kau dalam bahaya seperti yang lain. Aku tidak mau menambah angka kematian orang-orang terdekatku lagi. Cukup biarkan aku saja yang menyerahkan roh yang ada di dalam tubuhku ini. Dengan begitu, tidak akan ada yang mati lagi. Taehyung-ah, aku minta maaf akan semua ini. Aku seperti menarikmu untuk mencampuri urusanku yang sudah berlangsung sejak lama ini. Tapi, aku rasa kau benar-benar tak seharusnya menyukaiku…”

“…” Kini, Taehyung-lah yang menatap Hye Min dengan mulut yang setengah menganga.

“Aku benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi. Aku juga yang bodoh karena tidak menyadari bahwa aku-lah yang ‘mereka’ incar, bukan yang lain. Maaf, atas semuanya ini. Kau lihat sendiri, kan? Se Jung benar-benar akan menjemputku. Aku rasa, aku akan mengakhiri semuanya ini sebelum kau yang dibunuh oleh mereka… Karena aku tidak mau kau juga mati tanpa dosa seperti yang lain.” jelas Hye Min dengan tatapan teduh.

“Bagaimana caranya? Bagaimana caramu untuk mengakhiri semuanya dengan cepat? Hye Min-ah, apa kau bercanda?” Taehyung menyela cepat penjelasan Hye Min.

Hye Min terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis yang manis, “Dengan menyerahkanku kepada Yoongi, ah bukan, Yeowang. Ya, Yeowang. Tapi, Yoongi-lah yang akan membawaku ke hadapan Yeowang.”

“Tidak! Aku sama sekali tidak akan membiarkanmu melakukan itu!” pekik Taehyung keras, hingga membuat orang menatapnya bingung.

“Taehyung-ah, kalau aku terus hidup seperti ini, semua orang yang ada di sekitarku akan mati satu per satu. Toh, pada akhirnya aku juga akan mati, jika mereka sudah membunuh semua orang yang mereka anggap adalah pelindungku.” ujar Hye Min cepat.

“Tapi, apakah tidak ada cara lain?” tanya Taehyung yang menarik lengan kanan Hye Min cukup kencang, sekan-akan memaksanya untuk segera menjawab.

Hye Min menggeleng pelan dengan senyuman yang sama seperti tadi, “Tidak ada. Ini adalah jalan satu-satunya untuk menyelesaikan semuanya.”

“Tidak jangan!” ujar Taehyung keras.

“Sekali lagi, aku minta maaf atas semuanya yang pernah aku lakukan padamu. Anggap ucapanku tadi adalah sebuah pesan terakhir untukmu. Sampai jumpa, Taehyung-ah!” ujar Hye Min yang melepaskan cengkraman tangan Taehyung itu.

Gadis itu berjalan meninggalkan Taehyung begitu saja. Ia berjalan dengan santai, kemudian menghilang di dalam hutan rindang di dekat bukit Hwaniwon itu. Seketika Taehyung melemas dan ia terduduk pasi menatap gadis yang meninggalkannya secara tiba-tiba itu. Ia seperti kehilangan gadis yang ia sukai atau bahkan ia sukai lagi.

///

“Hah!!”

Taehyung terpekik dan bangkit dari tidurnya secara tiba-tiba. Tubuhnya sudah dibanjiri keringat dingin. Ia mengatur napasnya agar kembali menormal. Kemudian, ia menatap keluar jendela kamarnya. Cahaya bulan yang sedikit redup menelusup masuk ke dalam kamarnya.

Laki-laki itu mencengkram erat selimutnya. Ia meneguk ludahnya untuk membasahi dinding tenggorokan yang terasa sangat amat kering. Kemudian, ia mengusap wajah perlahan, disambung dengan tamparan kecil di salah satu pipinya. Ia memejamkan matanya, kemudian membukanya lagi. Ia menatap sekitarnya. Ia berada di kamarnya sekarang, bukan di bukit Hwaniwon.

‘Aku… di rumah?’

“Tenang, Taehyung-ah! Tenang! Itu hanya mimpi! Bukan kenyataan. Ingat! Itu hanya Mimpi! Bukan kenyataan.” Taehyung terus berusaha menenangkan dirinya dari mimpi yang baru saja ia alami itu.

“Tapi… kenapa aku merasa mimpi itu nyata?”

///

Namjoon terdiam ketika ia memikirkan apa yang harus ia katakan pada Hye Min tentang kematian Jimin. Ia mengembuskan napasnya berkali-kali sembari memikirkan jawaban dan penjelasan yang tepat. Embusan angin malam yang menenangkan, membuat dirinya sedikit tenang untuk menyusun kata-kata.

Malam terasa semakin gelap karena gerhana bulan muncul malam ini. Namjoon menatap gerhana bulan tersebut dengan tatapan sendu. Saat ini, ia tengah terduduk di kursi rotan kamarnya. Berulang kali ia mengembuskan napas lelah, namun pikirannya seperti  lelah. Ia menopang dagunya dengan dahi yang mengerut rapat. Wajahnya terlihat sangat serius.

“Apa aku harus mengajak Taehyung terlebih dahulu?” Ia menggumamkan pertanyaan sebuah pertanyaan pada dirinya sendiri. “Atau Hye Min dahulu?”

“Astaga! Dua orang ini begitu penting!” ujar Namjoon frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan asal sambil menggerutu tak jelas.

Tepat di saat itu, jendela kamarnya terbuka lebar secara tiba-tiba. Embusan angin malam yang tadinya tenang, kini sudah berubah seperti tiupan angin seperti blower raksasa. Namjoon memutar kursinya hingga berderit bergesekan dengan lantai kamarnya. Ia menatap sosok yang mungkin menghampirinya sekarang.

Karena sosok yang ia tunggu tidak menampakan dirinya juga, Namjoon langsung bangkit dari posisinya. Kemudian, ia berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka lebar itu. Ia menampik kedua tangannya di atas kusen jendelanya, lalu menatap keluar jendela. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ketika Namjoon sedikit memanjangkan lehernya untuk menatap keluar, tiba-tiba wajah seseorang muncul di hadapannya dengan senyumannya.

Yeowang –Se Jung. Gadis itu muncul dengan penampilan sebenarnya.

Karena terkejut dengan munculnya Se Jung secara tiba-tiba, Namjoon langsung menarik kepalanya dengan mata yang sedikit terbelalak. Melihat Namjoon begitu terkejut, Se Jung malah tertawa lepas. Namjoon langsung memundurkan langkahnya untuk berjaga jarak dari Se Jung. Sedangkann gadis itu merubah posisinya –kepala dibawah- menjadi normal. Kemudian, ia duduk di kusen jendela kamar Namjoon dengan anggunnya.

“Mau apa kau kemari? Aku sudah tidak ada urusannya dengan dirimu lagi, kan?” ujar Namjoon dengan wajah yang berekspresi datar.

Se Jung tertawa manis dan menopang dagunya, “Namjoon-ssi, aku datang kemari hanya ingin melihat keadaanmu saja. Jangan sinis seperti itu.”

Namjoon mendengus asal, “Jangan kau coba merayuku untuk kembali ke dalam pihakmu.”

“Aku tidak merayumu untuk kembali bersamaku. Bukankah aku sudah katakan padamu tadi? Aku ke sini hanya untuk melihat keadaanmu saja. Oh ya, aku lupa, aku juga punya maksud lain.” ujar Se Jung santai. Ia duduk dengan kaki yang saling menyilang santai.

“Apa?” tanya Namjoon dengan tatapan yang begitu serius.

“Kau lupa malam ini, malam apa?” tanya Se Jung santai. Sangat santai, seperti ia tidak memiliki maksud apapun. Senyum manis menenangkan menghiasi ekspresi wajahnya.

Namjoon mendelik ke arah luar jendela. Ia memicingkan matanya dan bisa melihat pantulan cahaya bulan yang semakin meredup. Tak lama setelah itu, ia langsung melemparkan tatapan benci pada Se Jung.

“Kau benar-benar lupa, ya?” ujar Se Jung yang beranjak dari posisinya. Gadis itu berjalan dengan santainya dengan kaki yang tak beralaskan apapun, bahkan kakinya dililit tangkai-tangkai bunga mawar, “Malam ini akan terjadi gerhana bulan. Malam dimana kau sudah berjanji padaku untuk membawa Ah Jung langsung kepadaku. Tapi, sepertinya itu tidak akan terjadi. Karena kau sudah mengkhianatiku. Jadi… aku sudah menyuruh Yoongi untuk membawa Ah Jung sekarang.”

Seketika, wajah Namjoon terlihat sedikit pasi. Ia sudah melupakan janji yang ia buat ketika ia masih berada dipihak Se Jung. Janji dimana ia akan bergerak untuk menculik atau membunuh Hye Min di malam gerhana bulan ini. Ia benar-benar melupakan semuanya. Dan sekarang, ia bahkan terjebak dengan Se Jung yang sepertinya akan menghalangi langkah untuk mengejar Hye Min sebelum gadis itu diculik oleh Yoongi.

“Wah! Sepertinya, aku tidak melihat ada tanda-tanda kau ingin melindunginya. Bahkan, kau saja masih di sini. Hah… aku harap Yoongi sudah menculik gadis itu dan membawanya ke tempatku. Namjoon-ssi, terima kasih untuk tidak menghalangi langkahku ini.” jelas Se Jung  dengan nada memancing.

“Kau bercanda rupanya. Hye Min tidak akan di culik oleh Yoongi dengan mudah. Ia pasti akan melawan Yoongi, aku yakin itu.” balas Namjoon yang mulai mengepalkan tangannya yakin.

“Oh ya? Aku tidak yakin itu. Bagaimana kalau Yoongi menculiknya di saat ia tertidur? Aku tahu kebiasaan adik kembarku dulu. Ia tidak akan bangun, meskipun sudah disentuh atau sebagainya.” balas Se Jung dengan kedua lengan yang sudah melipat di depan dadanya santai.

“…” Namjoon tidak bisa berkata apapun lagi sekarang. Ia rasa sekarang waktunya ia pergi untuk melihat keadaan Hye Min.

“Kenapa Namjoon-ssi? Kau terlihat pasi seketika. Hah… Gerhana bulan malam ini hanya berlangsung selama 15 menit. Aku rasa Yoongi punya waktu untuk itu. Sekarang sudah berjalan 6 menit. Masih ada sisa waktu 9 menit lagi.” Se Jung bergumam dengan nada yang benar-benar memancing.

“Aku sudah tahu keberadaan adikmu itu.” ujar Yoongi dengan santainya.

“Benarkah?” tanya Se Jung dengan mata yang berkilau tajam. Ia terlihat begitu bahagia ketika mengetahui keberadaan adiknya.

“Ya, sudahku duga bahwa ia masih siswi sekolah.” balas Yoongi yang terlihat begitu santai. Sangat santai, bahkan tidak ada ekspresi dari wajahnya sama sekali.

“Lalu, bagaimana caranya kita membawanya kemari?” tanya Se Jung dengan nada berpikir.

“Bagaimana kalau aku menyamar menjadi siswa sekolah di sana?” sahut Namjoon secara tiba-tiba.

Se Jung dan Yoongi menoleh ke arah Namjoon secara bersamaan. Merasa dilempari tatapan kepercayaan, Namjoon mengenduskan napasnya perlahan, kemudian berkata, “Percayalah padaku. Aku akan membawanya ke hadapanmu. Kita hanya butuh membuatnya drop saja.”

Se Jung tersenyum puas dengan saran Namjoon itu, “Hmm… sepertinya menarik. Yoongi-ssi, bisakah kau membuat Ah Jung drop?”

“Drop? Entahlah, akan aku usahakan. Tapi, bagaimana caranya?” ujar Yoongi dengan setengah bergumam.

“Menghantuinya dengan cara membunuh orang terdekatnya satu per satu.” ujar Namjoon cepat.

Se Jung kembali tersenyum dengan saran Namjoon itu. Ia benar-benar merasa sangat senang sekarang. Sebentar lagi, setengah rohnya itu akan menjadi miliknya seutuhnya.

“Tapi, sepertinya itu butuh waktu lama.” ujar Yoongi.

“Kau bunuh gadis yang bernama In Hyong terlebih dahulu,” balas Namjoon lagi. “Setelah itu, kau mainkan soul orang-orang yang kau anggap dekat dengan gadis itu. Aku akan muncul sebagai anak baru, ketika kau sudah membunuh gadis yang bernama In Hyong itu terlebih dahulu.”

“Boleh juga,” balas Yoongi setengah mendesis.

“Lalu, kapan kalian berdua akan membawa Ah Jung kepadaku? Aku benar-benar sudah tidak sabar!” ujar Se Jung dengan senyum licik yang sumringah lebar.

 “Aku dan Yoongi akan membawa gadis itu kepadamu di saat gerhana bulan total terjadi!” ujar Namjoon yang tersenyum licik, dan pergi begitu saja. Yoongi juga menghilang selang beberapa waktu setelah Namjoon menghilang.

‘Sebentar lagi, dendamku akan terbalaskan. Kau harus mati bersamaku Ah Jung!’ batinnya bergumam bahagia, sangat bahagia.

Namjoon memijat dahinya perlahan. Bisa-bisanya ia lupa dengan rencana dan ucapannya sendiri. Rencana penculikkan ini adalah rencananya, bukan rencana Yoongi ataupun Se Jung, sebelum ia memilih untuk menjaga Hye Min saja. Ia baru menyadarinya sekarang. Seketika itu juga, tubuh sedikit terhuyung ke dinding belakang. Melihat Namjoon terhuyung seperti itu, Se Jung kembali melangkahkan kakinya mendekat dengan senyum sumringah.

“Kau benar-benar melupakannya, ya? Padahal itu adalah rencanamu sendiri. Tapi, sebelum itu berhasil, kau malah memilih untuk mengkhianatiku dan berpihak pada Ah Jung.Ya… mau tidak mau Yoongi yang melakukannya sendiri.” jelas Se Jung sambil terus melangkah.

Namjoon menangkap sebuah tubuh yang terhuyung-huyung yang pada akhirnya pingsan di dalam dekapannya. Ia menatap gadis yang pingsan itu sedikit lamat, kemudian tersenyum penuh arti. Kemudian, ia membawa tubuh gadis itu ke UKS perlahan.

Ketika ia sudah membaringkan tubuh gadis itu, Namjoon tersenyum senang. Ia kembali tersenyum. Sambil menunggu gadis itu sadar dari pingsannya, Namjoon membaca buku kuno yang ia punya. Ia membaca ciri-ciri fisik Ah Jung yang tertulis pada buku itu.

‘Jadi, gadis ini adalah Ah Jung.’ ujarnya membatin.

Tak lama setelah ia membatin seperti itu, gadis yang ia duga adalah Ah Jung siuman. Namjoon tersenyum manis untuk menutupi sandiwara ini. Sayangnya, ketiga temannya masuk ke dalam dan menghalangi langkahnya untuk mengetahu Ah Jung lebih dalam.

Saat itu juga, Namjoon bertemu pandang dengan seorang laki-laki yang memiliki paras dingin itu. Tatapan laki-laki itu terlihat begitu menusuk dan seperti memiliki aura aneh. Bukan, bukan aura setan. Hanya saja, ia merasa tidak nyaman dengan tatapan laki-laki itu.

Berangsur lamanya ia mengenal dengan komplotan Ah Jung atau Hye Min itu, perlahan sifat jahatnya memudar dan menghilang. Rasa benci yang juga menjadi kotoran batinnya itu seakan-akan bersih dari batinnya. Saat itu juga, ia mulai memutuskan untuk menjaga Ah Jung atau Hye Min itu. Lalu, ia melupakan rencana jahatnya sendiri. Laki-laki itu benar-benar berubah tanpa ada alasan yang logis.

Mendengar ujaran Namjoon yang memilih membatalkan rencananya itu, Se Jung tak kuasa menahan amarahnya. Hingga pada saat itu, Namjoon benar-benar pergi dan menjaga Hye Min secara diam-diam. Meskipun, ia belum pernah berhasil menjaga orang-orang terdekat Hye Min dari aksi pembunuhan Yoongi itu. Ia selalu terlambat.

Terlambat…

Namjoon kembali pada kesadarannya dan menyelesaikan ingatan lamanya itu. Ia menggelengkan kepalanya tidak jelas.

“Ini tidak bisa dibiarkan!” ujarnya keras dan langsung melompat keluar jendela kamarnya begitu saja.

Se Jung tersenyum licik melihat reaksi Namjoon itu. Ia menopang dagunya sambil terus berjalan menuju sebuah cermin kecil yang menempel di dinding kamar Namjoon. Mengerikan sebenarnya. Cermin itu sama sekali tidak memantulkan bayangan wajahnya. Mungkin, dikarena wujudnya yang tembus pandang itu.

“Kita lihat sejauh mana kau bisa melindunginya dan mengkhianatiku, Namjoon-ssi.” ujar Se Jung dengan tangan yang terulur ke hadapan cermin itu.

Prang!!

Entah bagaimana caranya ia melakuakn hal tersebut, namun cermin pecah berkeping-keping begitu saja.

///

Yoo Min tengah mencuci wajahnya yang tampak terlihat sangat lesu karena lelah pekerjaannya. Wanita muda itu keluar dari kamar mandi santai kemudian berjalan menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Ketika ia baru menginjakkan telapak kakinya di anak tangga pertama, terdengar suara jeritan Hye Min dari kamarnya.

“KYAAAAA!!” jerit Hye Min yang melengking itu.

Dengan segera, Yoo Min berlari ke lantai dua menuju kamar adiknya. Tepat di depan pintu kamar adiknya, Yoo Min terus menggedor-gedor pintu kamar tersebut. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memutar kenop pintu kamar adiknya itu. Sayangnya, pintu kamar Hye Min terkunci dari dalam. Yoo Min hanya bisa memaksakan diri dengan terus memutar kenop pintu itu dengan paksa.

“Hye Min-ah!! Hye Min-ah!!” panggil Yoo Min panik.

Tidak ada balasan dari adiknya, yang terdengar hanyalah jeritan adiknya yang cukup memekik telinga. Sialnya, kedua orang tuanya sedang tidak berada dirumah karena harus bekerja di luar kota. Yoo Min berusaha mendobrak pintu kamar adiknya itu keras-keras. Ditendang dan dipukulnya pintu itu hingga membuat pintu kayu itu sedikit keropos.

“EONNIE!!” jerit adiknya sekali lagi. “KYA! SAKIT BODOH! LEPASKAN AKU!”

Jeritan adiknya yang bermaksud meminta tolong itu, membuat perasaan yang dirasakan oleh Yoo Min semakin menjadi. Wanita muda itu terus berusaha untuk mendobrak pintu tersebut dengan seluruh tenaga yang ia punya.

“KYA! Hmph! Eon… hmph!”

Yoo Min dapat mendengar Hye Min yang berteriak dalam sebuah bungkaman. Suara teriakan tertahan itu terus bergema beberapa saat, hingga akhirnya memelan lalu menghilang. Yoo Min mengambil napasnya dalam, berharap adiknya baik-baik saja di dalam kamarnya. Ia tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada adiknya itu. Kemudian, ia mendobrak pintu dengan bahu kanannya keras.

Brak!

Yoo min berhasil mendobrak pintu kamar adiknya itu dengan meninggalkan bahun yang rasa nyerinya luar biasa. Wanita muda itu memegang bahu kanannya dan berjalan dengan sedikit tidak seimbang. Ia menerawang seisi kamarnya dengan tatapan sayunya itu.

Yoo Min terlambat. Adiknya sudah tidak ada di dalam kamarnya. Kondisi kamar Hye Min yang ia lihat begitu berantakan. Pecahan kaca dimana-mana, selimut yang berada dilantai, dan baju-bajunya berserakan bagaikan sampah yang tidak bisa didaur ulang. Yoo Min melangkahkan kakinya mencoba mencari sosok adiknya itu.

“Hye… Hye Min… ah!”panggil Yoo Min dengan ringisannya.

Nihil. Tidak ada yang menjawab panggilannya itu sama sekali, kecuali gemaan suaranya sendiri.

Kondisi kamar Hye Min kacau balau. Selain selimut, pecahan kaca, dan baju gadis itu, jendela kamarnya juga terbuka lebar hingga membuat angin malam berembus kencang masuk ke dalam. Yoo Min mencium sebuah bau yang membuat kepalanya terasa pening seketika. Ia mencari tahu dimana bau itu berasal.

Ia menoleh ke arah tempat tidur Hye Min. Darah basah melekat dan menjadi noda di atas tempat tidur adiknya. Bau amis darah basah yang menyengat hidung itu, membuat Yoo Min segera menutup hidungnya rapat-rapat. Ia yakin itu adalah darah Hye Min. Tapi, bagaimana bisa ia terluka dan mengeluarkan darah sebanyak itu? Apa ‘orang’ yang masuk ke dalam kamar adiknya lewat jendela itu membacok adiknya? Atau… ah sudahlah.

“Hye Min-ah, kau dimana?” panggil Yoo Min sekali lagi. Hye Min benar-benar menghilang tanpa jejak dirinya, namun meninggalkan noda darah basah itu saja.

Yoo Min terduduk pasi dengan kedua mata yang menatap lurus keluar jendela. Ia dapat menyaksikan berakhirnya gerhana bulan total.

“Hye Min-ah…” ujar Yoo Min sekali lagi dengan lirih dan pucat.

To Be Continued

Author’s Note :

Bagaimana pendapat kalian terhadap Chapter ini? Semoga suka ya😀 Dan bagaimana dengan covernya? Butuh waktu lama untuk menggambar itu hehe. –Myst

About fanfictionside

just me

24 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 14

  1. Hiaaaaa thor penasaran siapa yg nyulik hyemin???
    yoongi??
    namjoon???
    atau taehyung?? >>> ini cuma perasaan ku klo sii taehyung yah yg nyulik >_<
    thor aduh penasaran next chapter jgn lama" yah d tunggu😀

  2. Wawawaa
    makin penasaran baca lanjutan ceritanya
    kasian bgt si taehyung. Itu si yoongi gk bisa jd baik ya
    di tunggu next chap min

  3. Kyaaaa thor ceritanya makin buat penasaran sumpah!itu ngomong2 cinta pertamanya taehyung siapa ya?heeemmm. Trus itu hyemin knpaaa?apa dia diculik sama yoongi? Huwaaaaaa next chap jgn lama2 yaaaa:D

  4. Waaaaaa, thor!!! ini ngepas banget, gilaa. ceritanya sama TBCnya memuaskan(?) GREGET ASLI :3 tapi taehyungnya kurang greget nih, biasanya kan dia yang paling rame karakternya(?) wkwk. jadi tambah penasaran nih thor, next partnya gue tunggu thor!! keep writing yaw😀

  5. Knp akuu ngerasa klo Yoomin tau sesuatu ya?? .-. Gyaaaaaaw penasaran >< laff you author-nimmm ♡♡ maaf baru comment disini, hpku selalu error setiap mau comment di ff2 gitu.-.

  6. huaaaa serem serem ~~~
    ahh jadi itu semua akal alanya rapmong, uwaa rapmong baboya/? :v

    apa yg terjadi sama hyemin.. smg dia gpp
    semoga rapmong blm terlambat…
    dan itu taehyung bener bener cuma mimpi?
    ahh next next

  7. Yaaaah.
    Itu si Jimin dah ngga ada ya?😥 sangat di sayangkan thor!
    Trus itu si Taehyung lagi ngimpi ternyata?
    Huwaaaa.. keren thor. Keep writing, fighting!

  8. Yaaa kereeenn sekalii !!!!!!!!!
    Trnyata rencana itu awalnya dari namjoon? Duh nyesel bgt lu bangg :’)
    Makin keren makin bikin penasarann.. burun dilanjut.. huaa hyemin diambill tu ><

  9. kyaaaaaaaaa, maldo andwae!!! hyemin dibawa kabuurr!!!
    aaahh penasaran gimana kelanjutannya, next ya thor..
    covernya bagus banget loh thor, cantik^^

  10. woaaaah thor daebak! itu hyemin di culik siapa? aa penasaran sama kelanjutannya~
    btw covernya bagus bgt thor^^ keep fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s