FF/ BESTFRIEND? / BTS-BANGTAN/ pt. 3 – FINAL


Author : @ismomos ♔ (author tetap)

 

Cast :

– Min Yoongi (BTS Suga)

– Im Nayeon

– Kim Seokjin (BTS Jin)

– Baek Hyerin

 

Genre : Romance, School Life, Friendship

 

 

BESTFRIEND?

BESTFRIEND?

Annyeong author is back(?) Masih ada yg nunggu ff ini kah? Hehehe. Maaf ya untuk part ini agak lama._. *bow* Buat rekomendasi, kalian baca ff ini sambil dengerin lagu Consolation-2AM, soalnya menurut author lagu itu ngefeel bgt sama ff part ini. Oke, i hope you like it. Enjoy!^^

 

 

 

Jin melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Ia tak peduli kalau ia baru saja sampai dirumah dan harus pergi lagi. Ia juga tak peduli hari sudah semakin malam dan keselamatannya yang mungkin akan terancam karna ia melajukan mobil dengan kecepatan maksimal. Yang ia pedulikan hanya Nayeon. Gadis yang sedang menunggunya di taman.

Jin tidak dapat menyembunyikan rasa cemas yang menyelimuti hatinya. Suara Nayeon yang terdengar serak dan isak tangis gadis itu saat ia meneleponnya, benar-benar membuat hati Jin mencelos, sakit. Terlebih saat ia tahu alasan yang membuat Nayeon seperti itu.

Kring….. kring…. kring….

Handphone Jin berbunyi. Lelaki itu menjawab panggilan itu melalui earphone yang sedang dipakainya.

“Ya?”

“Kim Seokjin kau dimana?” tanya orang yang meneleponnya. Min Yoongi.

Suara Yoongi terdengar sangat cemas. Jin menghela nafas, karena ia juga merasakan kecemasan yang sama dengan Yoongi.

“Aku sedang menuju taman, Nayeon ada di sana.”

“Nayeon sedang ada di taman? Apa—apa aku kesana saja untuk menemuinya?”

“Jangan. Biarkan Nayeon menenangkan dirinya dulu.”

“Mianhae…”

Hanya itu yang keluar dari mulut Yoongi, dengan suara lirih penuh rasa bersalah.

Jin menghela nafasnya, lagi. Ia tidak ingin menyalahkan Yoongi. Yang terpenting saat ini adalah secepatnya ia menemui Nayeon dan memastikan keadaan gadis itu.

“Tenangkan dirimu, Yoong. Nayeon akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja selama ia disisiku.”

Klik. Jin mengakhiri telepon.

 

 

*     *     *     *     *     *      *     *

 

 

Jin memakirkan mobilnya di dekat taman yang tak jauh dari rumah Nayeon. Ia dapat melihat gadis itu tengah duduk membelakanginya. Nayeon sedang duduk di bangku taman dengan tatapan kosong, sambil memeluk dirinya sendiri.

Jin berjalan mendekati Nayeon. Hatinya benar-benar sesak melihat keadaan Nayeon saat ini, ia tidak pernah melihat Nayeon seperti itu sebelumnya.

Nayeon masih bergeming, walaupun ia tahu Jin sudah duduk disebelahnya. Namun tatapannya masih menatap lurus kedepan memandangi air mancur buatan yang ada di taman itu. Jin juga hanya diam saja, tak ingin mengusik Nayeon. Ia membiarkan gadis itu menenangkan dirinya sendiri. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gemericik dari air mancur buatan.

Nayeon menghela nafas. Ia sudah tak menitikkan air matanya lagi, mungkin ia terlalu lelah menangis. Namun sakit dihatinya masih sangat terasa.

“Appo….(sakit).” kata Nayeon dengan suara lirih. Suaranya nyaris tak terdengar kalau saja Jin tidak duduk tepat disebelahnya.

Jin masih diam, tak menyela ucapan Nayeon. Ia memerhatikan Nayeon dalam diam. Ia merasakan apa yang Nayeon rasakan. Ia merasakan rasa sakit yang sama, namun dengan alasan yang berbeda.

“Kenapa—-kenapa mereka tega melakukan itu padaku?”

Kali ini Nayeon kembali menitikkan air mata. Bahunya bergetar, membuat Jin dengan tanpa sadar merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Nayeon tak menolak pelukan Jin, karena ia sudah terlalu lelah untuk mengelak. Tak dapat ia pungkiri, pelukan Jin saat ini dapat membuat hatinya sedikit tenang. Ia pun menumpahkan tangisannya di dalam pelukan lelaki itu.

“Jangan menangis lagi, Nayeon-ah.” kata Jin yang masih memeluk Nayeon dan mengelus rambut gadis itu lembut. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk Nayeon.

‘Jangan menangis lagi. Aku akan selalu ada disampingmu.’

 

 

          *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Yoongi meraih bingkai foto yang baru saja pecah dan berserakan di lantai kamarnya. Fotonya dan Hyerin. Di dalam foto itu mereka memang sedang tersenyum, namun tidak dengan perasaannya sekarang. Perasaan bersalah benar-benar menyelimutinya. Ia merasa menjadi orang jahat karena telah meyakiti Nayeon, sahabat baiknya.

Tiba-tiba memori Yoongi berputar pada hari ia mengetahui tentang perasaan Nayeon kepadanya. Waktu itu, ia tak sengaja menemukan buku diari Nayeon yang ada di kamar gadis itu. Dan saat itulah Yoongi tahu kalau Nayeon menyukainya, melalui buku diari yang ia baca empat tahun yang lalu..

 

 

*flashback on*

 

 

     Yoongi masuk ke dalam kamar Nayeon dengan tas yang digunakan untuk mengambil beberapa baju gadis itu. Nayeon tengah di rawat di rumah sakit karena kesehatannya yang menurun setelah kematian ayahnya. Ibu Nayeon sedang menemani gadis itu di rumah sakit, jadi Yoongi menawarkan diri untuk mengambil beberapa baju dan keperluan gadis itu.

     Yoongi membuka lemari baju Nayeon, dan terpampanglah baju-baju gadis itu. Yoongi menggaruk rambutnya yang tidak gatal, bingung harus mengambil yang mana. Akhirnya setelah memilih-milih baju yang dirasanya cukup, Yoongi menutup pintu lemari Nayeon.

     Saat hendak keluar kamar, Yoongi teringat kalau Nayeon minta dibawakan beberapa novel. Yoongi pun kembali dan berjalan menuju lemari buku. Yoongi melihat-lihat novel yang dipunya gadis itu, dan memasukkannya ke dalam tas. Namun tiba-tiba ada satu buku yang menarik peehatiannya. Buku diari, terselip di antara novel dan majalah. Yoongi meraih buku berwarna pink itu, dan membukanya dengan ragu.

     Yoongi tertawa melihat halaman depan buku itu. Ada foto dirinya dengan Nayeon waktu kecil. Yoongi membuka halaman selanjutnya. Sebenarnya ada perasaan bersalah di dalam dirinya, karena ini adalah buku tentang rahasia Nayeon, tapi rasa penasarannya mengalahkan rasa bersalahnya.

     Yoongi membaca tulisan di halaman berikutnya, tertulis “Jangan membuka dan membaca isi buku ini, atau kau akan buta seumur hidup!!!”. Yoongi tak dapat menahan tawanya saat membaca tulisan itu, ditambah ia membayangkan wajah kesal Nayeon yang sering ditujukkan gadis itu kepadanya.

    Yoongi tak peduli dengan kata-kata itu, ia terus membuka halaman berikutnya. Tulisan pertama yang ia baca adalah waktu Nayeon,-dan juga dirinya-, baru saja masuk Sekolah Menengah Pertama. Gadis itu menceritakan kalau ia senang bersekolah disana karna ia memiliki banyak teman baru. Begitu juga dengan halaman-halaman berikutnya, yang menceritakan tentang kejadian sehari-hari yang dialami Nayeon.

     Merasa bosan, Yoongi melongkap beberapa halaman sampai ia terhenti pada tulisan tanggal 23 Maret 2010. Yoongi mulai membaca lagi.

 

     23 Maret 2010

     Appa tak sadarkan diri. Ia ada di ruang ICCU saat ini. Serangan jantung menyerang Appa tiba-tiba. Melihat Appa seperti itu aku merasakan separuh hidupku hilang. Appa yang selalu tersenyum dan penuh dengan lelucon, kini terbaring lemah di ruangan itu. Appa bangun.. Jangan tinggalkan Nayeon dan Eomma. Kumohon Appa..

 

     Yoongi melihat pada halaman itu, kertasnya sedikit lecek. Ada bekas air yang sudah mengering. Apa Nayeon menulisnya sambil menangis? Yoongi melanjutkan membaca pada halaman berikutnya.

 

     24 Maret 2010

     Appa masih tak sadarkan diri. Eomma masih setia menunggu Appa sampai ia sadar. Aku kembali kesini setelah pulang sekolah, bersama Yoongi. Ia juga terlihat sedih, sama sepertiku. Tapi ia selalu bilang kalau Appa akan baik-baik saja. Bolehkah aku memercayai kata-kata Yoongi?

 

     Yoongi tersenyum tipis mengingat kejadian itu. Ia ingat betapa sedihnya Nayeon saat itu, dan ia hanya bisa mengatakan Appa Nayeon akan baik-baik saja, untuk menenangkan Nayeon. Yoongi kembali membaca buku diari itu.

 

     26 Maret 2010

     Appa ada di kamar operasi karena tiba-tiba jantung Appa tak berfungsi. Aku benar-benar sangat takut. Apa ini sudah saatnya Appa meninggalkan kami semua? Eomma menangis, untungnya ada Kim samchon dan Kim imo yang menenangkan Eomma. Aku juga menangis. Yoongi masih berada di sebelahku. Tadi ia malah memelukku. Aku merasakan jantungku berdebar. Entahlah itu karena aku terlalu mengkhawatirkan Appa atau karena Yoongi yang sedang memelukku?

 

     Yoongi tertegun setelah membaca curahan hati Nayeon pada tanggal itu. Namun Yoongi kembali membaca di halaman berikutnya.

 

     27 Maret 2010

     Appa pergi untuk selamanya. Aku tak dapat menahan kesedihanku. Aku terus menangisi kepergian Appa. Namun Appa pergi dengan tersenyum, apa itu tandanya ia pergi dengan damai? Yoongi datang ke pemakaman Appa bersama Eomma dan Appanya. Yoongi langsung menghampiriku, ku lihat ia menangis. Tapi lagi lagi ia mengucapkan kalimat yang dapat menenangkanku. Ia bilang kalau ia tidak akan meninggalkanku seperti Appa. Kali ini bolehkah aku memercayai kata-katanya?

 

     01 April 2010

     Yoongi menepati janjinya. Ia tidak pernah meninggalkanku. Bahkan saat ia ada urusan atau keperluan lainnya di sekolah, ia tidak pernah membiarkan aku pulang sekolah sendirI. Yoongi tak pernah meninggalkanku sendiri.

 

     05 April 2010

     Aku tidak tahu apa ini namanya. Yang pasti setiap bersama Yoongi aku merasakan jantungku berdebar-debar. Pipiku selalu menghangat ketika melihat senyumnya. Apa ini tandanya aku menyukainya sebagai seorang lelaki? Bukan hanya sebatas sehabat? Ya, aku rasa aku mulai mencintainya…

 

     Yoongi menutup buku diari yang dibacanya. Ia kembali tertegun. Apa benar yang baru saja dibacanya? Nayeon menyukai dirinya melebihi sahabat?

     Yoongi langsung merutuki kebodohannya, merasa menyesal karna sudah membaca buku diari Nayeon. Apakah ia akan bisa bersikap seperti biasa saja setelah mengetahui Nayeon menyukainya? Meskipun ia hanya menganggap Nayeon sebagai sahabatnya. Sahabat terbaiknya.

 

 

*flashback off*

 

 

          *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     “Nayeon kau sudah siap? Seokjin sudah menunggumu di bawah.”

Ibu Nayeon mengetuk pintu kamar anaknya agar Nayeon cepat bergegas.

“Ne, eomma. Aku sudah siap.” teriak Nayeon menyahuti pertanyaan ibunya.

Ceklek! Nayeon keluar dari kamar, sudah rapi memakai seragam dan tas sekolahnya.

“Seokjin sudah—–Nayeon-ah kenapa dengan matamu?” tanya Ibu Nayeon kaget melihat mata Nayeon yang sembab.

“Uh? Ah—-Hmm ini karna semalaman aku menonton drama yang menyedihkan—-dan aku menangis sepanjang drama itu.” jawab Nayeon sambil menoleh ke arah lain. Ia tak berani membalas tatapan ibunya yang tengah menatapnya lekat.

Ibu Nayeon menaikkan sebelah alisnya. Ia yakin saat ini Nayeon tengah berbohong padanya. Ditambah dengan keanehan yang terjadi pagi ini. Biasanya, Yoongi lah yang mengajak Nayeon untuk berangkat sekolah bersama, namun pagi ini justru Seokjin yang datang. Apa Nayeon dan Yoongi sedang bertengkar? tanya Ibu Nayeon dalam hati.

“Ah eomma, aku harus buru-buru berangkat sekolah. Hari ini adalah jadwal piketku bersama Seokjin. Annyeong, eomma.” kata Nayeon sambil mencium pipi ibunya dan langsung menuruni tangga dengan terburu-buru, sebelum ibunya bertanya yang macam-macam.

Ibu Nayeon hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anaknya. Sebenarnya ia ingin bertanya ada masalah apa Nayeon dengan Yoongi. Namun ia mengurungkan niatnya, ia tidak ingin mencampuri urusan anaknya. Karena menurutnya Nayeon sudah cukup dewasa untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

 

 

*     *     *     *     *     *     *    *

 

 

Jin dan Nayeon berjalan bersama menuju sekolah. Jin menatap Nayeon melalui ekor matanya, gadis itu berjalan sambil menunduk. Wajahnya yang masih terlihat muram tertutupi dengan rambut sebahunya yang sengaja digerai.

Mereka masih berjalan beriringan, namun sampai depan gerbang sekolah, Nayeon menghentikan langkahnya, membuat Jin menoleh ke arah gadis itu dan menatapnya heran.

“Jin—hm… boleh aku berjalan dibelakangmu? Maksudku, aku ingin meminjam bahumu untuk menutupi wajahku.”

Jin tersenyum tipis mendengar permintaan Nayeon. Tanpa bicara lagi, Jin sudah menggandeng tangan Nayeon dan memposisikan gadis itu tepat berada dibelakang tubuhnya yang tinggi. Nayeon memegang lengan atas Jin dan mulai mengikuti langkah lelaki itu.

Untungnya ini masih terlalu pagi, jadi belum banyak murid yang datang ke sekolah, membuat Nayeon menghela nafas lega. Ia masih mengikuti langkah Jin yang berada di depannya. Namun saat ia menyadari ini bukan jalan menuju kelasnya, Nayeon menghentikan langkah.

“Jin, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju kelas..” tanya Nayeon bingung.

Namun, Jin hanya diam saja. Ia terus menuntun Nayeon ke tempat yang ia maksud.

Ternyata Jin membawa Nayeon ke ruang UKS. Hal itu membuat Nayeon megernyitkan dahinya.

“Kenapa kita malah kesini, Jin?

“Sebaiknya kau beristirahat saja disini. Kau tidak mungkin masuk ke kelas dengan keadaan matamu yang seperti itu. Kau mau ditanya oleh seluruh teman sekelas?” kata Jin sambil menuntun Nayeon untuk berbaring di salah satu ranjang UKS.

Nayeon mengikuti apa yang dikatakan Jin. Memang sebaiknya ia beristirahat dulu di ruangan ini, mengingat suasana hatinya yang sedang tidak bagus. Nayeon mulai berbaring di ranjang yang berada dipojok ruang UKS.

Jin menyelimuti badan Nayeon dan tersenyum ke arah gadis itu.

“Nanti aku akan bilang ke songsaemnim kalau kau sedang sakit, jadi kau tidak bisa mengikuti pelajaran.”

Nayeon hanya mengangguk, dalam hati ia tersentuh atas perlakuan Jin padanya. Ia beruntung memiliki teman seperti Jin, yang selalu disampingnya disaat ia butuh.

“Kalau begitu aku ke kelas dulu, ya. Kau beristirahat lah..” kata Jin yang lagi-lagi menunjukkan senyuman teduhnya, lalu ia berjalan meninggalkan UKS.

Namun langkah Jin terhenti saat ada yang menahan tangannya. Tangan Nayeon. Jin menoleh ke arah gadis itu, dan ia kembali melengkungkan senyum d bibirnya, karena tepat saat ia menoleh ke arah Nayeon, gadis itu tengah tersenyum ke arahnya.

“Terima kasih, Seokjin-ah. Maaf aku selalu merepotkanmu..” kata Nayeon dengan suara lirih, namun gadis itu masih tersenyum ke arah Jin.

“Aku tidak merasa kau repotkan Nayeon-ah.”

‘Aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu…’  kata Jin, tentu saja hanya di dalam hatinya.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jin melangkahkan kakinya menuju kelas. Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu kelasnya, ada seseorang yang kelihatannya tengah menunggu lelaki itu. Min Yoongi. Jin melihat wajah Yoongi tak kalah muramnya dengan wajah Nayeon pagi ini.

“Dimana Nayeon?” tanya Yoongi pada Jin.

“Ia sedang berada di UKS.”

“Kalau begitu aku harus ke UKS sekarang.” kata Yoongi yang hendak langsung berjalan meninggalkan Jin.

Jin sontak menahan dada Yoongi, ia tidak akan membiarkan Yoongi menemui Nayeon di saat keadaan Nayeon seperti itu.

“Jangan sekarang. Keadaan Nayeon—”

“Tapi aku harus menjelaskan semuanya pada Nayeon, Jin.” kata Yoongi meyela ucapan Jin.

Lelaki itu bersikukuh ingin menemui Nayeon di UKS. Namun Jin dengan sekuat tenaga menahan badan Yoongi, ia sampai harus menghempaskan badan lelaki itu ke dinding, membuat Yoongi terpaku.

Jin mengusap wajahnya frustasi, masih ditahannya badan Yoongi di dinding.

“Yoongi-ah, kumohon. Kau harus mementingkan perasaan Nayeon saat ini. Sebaiknya kau jangan menemuinya dulu, karena itu akan membuat ia semakin membencimu.”

Kini Yoongi yang mengusap wajahnya. Jin tak lagi menahan badan Yoongi, namun ia masih berdiri tepat di hadapan Yoongi. Kedua lelaki itu terdiam sampai akhirnya mereka sama-sama menghela nafas. Keadaan ini benar-benar membuat keduanya tertekan.

“Nayeon hanya butuh waktu, dan kau…..kau hanya perlu menunggu sampai ia mau bertemu denganmu lagi.” kata Jin sambil menepuk bahu Yoongi, sebelum ia masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Yoongi yang masih berdiri di depan kelasnya.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Yoongi menatap gadis yang tengah terbaring di salah satu ranjang di UKS, lelaki itu hanya melihatnya dari luar. Benar kata Jin, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui Nayeon.

Yoongi memerhatikan wajah Nayeon yang tengah terlelap, tersirat kesedihan dari wajah lelap Nayeon. Yoongi menghela nafas, lagi-lagi perasaan bersalah menyelimuti dirinya. Terakhir kali Yoongi melihat Nayeon seperti itu adalah pada hari kematian ayah gadis itu, dan kini ia melihat Nayeon menyiratkan kesedihan itu lagi, karena dirinya.

Nayeon perlahan membuka matanya, dan seketika tatapannya bertemu dengan mata yang sedari tadi melihat ke arahnya. Mata Yoongi. Nayeon terkesiap saat melihat Yoongi tengah menatapnya dari luar. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang cukup lama, dari tatapan itu mereka mencoba menyampaikan kata yang tersimpan di dalam hati masing-masing, sampai akhirnya Nayeon membuang tatapannya dari Yoongi. Melihat Yoongi membuat sakit yang ada di hati Nayeon kembali terkuak. Gadis itu kembali menitikkan air matanya.

Tanpa diketahui Nayeon, Yoongi melihat gadis itu menangis. Terlihat dari bahu Nayeon yang bergetar, membuat Yoongi menghela nafas untuk yang kesekian kali.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Kring….kring….kring…..

Handphone Nayeon berbunyi, namun si pemilik handphone hanya bergeming. Tak ingin menjawab telepon tersebut. Gadis itu sudah tahu siapa yang meneleponnya berkali-kali. Min Yoongi. Lelaki itu sudah menelepon Nayeon sebanyak tujuh kali namun tidak ada satupun panggilan yang dijawab Nayeon. Begitu pula dengan beberapa pesan dari Yoongi juga tak dibalas oleh gadis itu.

Nayeon menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Menutupi telinganya dari nada dering handphonenya yang tak kunjung berhenti. Sampai akhirnya handphone itu tak lagi menderingkan suara. Yoongi sudah menghentikan panggilan. Setelah handphonenya tak berdering lagi, Nayeon bangkit dari kasur dan berjalan menuju meja belajarnya,-tempat handphonenya berada-. Ia melihat jumlah panggilan tak terjawab di layar handphonenya. 8 panggilan tak terjawab dan 7 pesan, semuanya dari Yoongi.

Nayeon baru saja ingin menonaktifkan handphonenya saat ada yang menghubunginya kembali. Namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat nama kontak yang muncul pada layar handphonenya bukanlah nama Yoongi, melainkan nama Seokjin. Ia langsung menggeser tanda hijau pada layar handphonenya.

“Nayeon-ah..”

Terdengar suara Jin saat Nayeon menempelkan handphone ka telinganya.

“Ne. Wae Seokjin-ah?”

“Bagaimana keadaanmu?”

Nayeon tersenyum tipis, meskipun Seokjin tidak dapat melihatnya. Bayangan Jin yang tengah menatapnya dengan tatapan teduh dan senyum yang selalu terukir di bibir lelaki itu tiba-tiba saja terlintas di pikiran Nayeon.

“Sudah jauh lebih baik, Jin.” jawab Nayeon sambil tertawa kecil.

Jin tak bisa menyembunyikan senyumnya saat ia sudah bisa mendengar tawa Nayeon lagi.

“Syukurlah kalau begitu. Nayeon-ah. Kalau kau butuh sesuatu—–”

“Terima kasih, Seokjin-ah.” kata Nayeon menyela ucapan Jin.

“Untuk?” tanya Jin dengan heran.

“Untuk semuanya. Terima kasih karna kau selalu berada disisiku..”

Lagi-lagi Jin tak dapat menyembunyikan senyumnya dan ia langsung merasakan dadanya berdesir hangat.

“Sama-sama, Im Nayeon.”

 

 

*      *      *      *      *     *     *     *

 

 

‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan hubungi beberapa saat lagi.’

Klik. Yoongi langsung menekan tanda merah pada layar handphonenya.

“Kali ini nomernya sibuk. Apa dia sedang menerima telepon dari orang lain?” tanya Yoongi pada Hyerin, gadis yang tengah duduk dihadapannya.

Malam ini Yoongi dan Hyerin sedang berada di salah satu restoran favorit mereka. Namun suasana kali ini terasa sangat berbeda. Biasanya mereka melewati makan malam penuh dengan canda dan tawa. Tidak seperti malam ini, Hyerin dapat melihat dengan jelas wajah muram Yoongi. Lelaki itu mengusap wajahnya sambil terus menatap layar handphone.

Hyerin memerhatikan wajah Yoongi yang terlihat frustasi karna Nayeon tak juga menjawab telepon darinya. Gadis itu juga merasakan hal yang sama. Bagaimanapun gadis itu juga merasa bersalah pada Nayeon.

“Apa menurutmu aku adalah orang yang egois?” tanya Yoongi tiba-tiba, membuat Hyerin tersadar dari lamunannya.

“Uh? Mengapa kau bertanya seperti itu?” Hyerin tak menjawab pertanyaan Yoongi, ia malah balik bertanya kepada lekaki itu.

“Aku merasa menjadi orang yang egois saat aku menginginkan kau dan Nayeon tetap berada disisiku. Sebagai kekasih dan sahabatku, walau aku tahu Nayeon menyukaiku dan aku telah menyakitinya..” kata Yoongi dengan suara lirih sambil menghela nafasnya, berat.

Hyerin terpaku melihat ekspresi Yoongi, ia tahu lelaki itu benar-benar menyesal dan merasa bersalah. Tapi sungguh, ia tak ingin melihat Yoongi seperti ini.

“Menurutku, setiap orang tidak akan pernah bisa memilih antara cinta dan persahabatan, Yoongi-ah. Tinggal bagaimana cara mereka menyikapi dan menerimanya. Kurasa Nayeon hanya butuh waktu.”

Yoongi hanya mengangguk, menyetujui ucapan Hyerin. Kali ini Hyerin yang menghela nafas, melihat Yoongi yang seperti ini membuat ia ingin melakukan sesuatu. Ya, ia harus melakukan sesuatu demi lelaki yang dicintainya, Min Yoongi.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Tok… tok… tok…

Ibu Nayeon mengetuk pintu kamar anaknya. Tak lama Nayeon sudah membuka pintu kamarnya.

“Ada apa, eomma?” tanya Nayeon dengan mata setengah terpejam, karena ia baru saja akan tidur, padahal waktu masih menunjukkan pukul 19.30. Malam ini, Nayeon ingin tidur lebih awal.

“Ada yang mencarimu..”

“Nugu? Seokjin? Atau—” tanya Nayeon sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Ani. Baek Hyerin, ia bilang ingin bertemu denganmu.”

Nayeon tersentak kaget mendengar ucapan ibunya. Untuk apa gadis itu mencarinya?

“Cepat temui dia. Hyerin sudah menunggu di ruang tamu.” kata Ibu Nayeon sambil berlalu menuju kamarnya.

Nayeon sempat terdiam di pintu kamar, menebak-nebak apa yang membuat Hyerin datang kerumahnya. Namun setelah ia merasa yakin, gadis itu berjalan menuruni tangga untuk menuju ke ruang tamu. Di sana sudah ada Hyerin yang tengah duduk di sofa. Hyerin tersenyum saat melihat Nayeon sudah ada di hadapannya. Suasana canggung langsung menyelimuti mereka.

“Nayeon-ah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Hyerin menyesap teh hangat yang dipesannya di cafe yang tak jauh dari rumah Nayeon. Mungkin dengan begitu suasana canggung antara Hyerin dan Nayeon akan sedikit mencair. Beda halnya dengan Nayeon, gadis itu malah menatap cangkir yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong. Ia tak mampu membalas tatapan Hyerin yang tengah menatapnya. Nayeon mendengar Hyerin menghela nafas, mungkin gadis itu akan mulai bicara.

“Miahae, Nayeon-ah.”

Kata itu yang pertama kali keluar dari mulut Hyerin. Namun hal itu tak membuat Nayeon menoleh ke arah Hyerin, gadis itu masih menatap cangkir yang ada di meja dengan tatapan kosong.

Hyerin menatap Nayeon dengan tatapan sedih, sejujurnya hatinya juga ikut sakit melihat Nayeon seperti itu. Walau ia dan Nayeon tak begitu mengenal secara dekat, tapi ia tahu semua tentang Nayeon. Semua tentang sikap dan sifat gadis itu. Yoongi yang menceritakan hal itu padanya.

“Kau tahu? Terkadang aku merasa cemburu padamu…” kata Hyerin yang tak lagi menatap Nayeon, pandangannya kini memandang ke arah luar jendela cafe.

Nayeon melirik Hyerin sekilas. Namun Nayeon hanya diam saja, tak memberi respon pada ucapan Hyerin walau ia tidak mengerti dengan maksud gadis itu.

Hyerin menghela nafasnya, lagi. Sekuat tenaga menahan air matanya yang akan jatuh. Namun ia mencoba untuk tetap tersenyum.

“Aku cemburu saat Yoongi selalu bercerita tentang dirimu. Walau aku tahu seharusnya aku tak boleh merasa seperti itu. Karena kau adalah sahabat dekat Yoongi.”

Hyerin masih memandang ke arah luar jendela. Suaranya terdengar lirih.

“Aku cemburu saat Yoongi lebih memilih untuk merahasiakan hubunganku dengannya hanya karna ia ingin menjaga perasaanmu dibanding perasaanku yang harus merasa bersalah ketika menjalin hubungan diam-diam seperti ini..”

Kini Nayeon menoleh ke arah Hyerin. Ia melihat air mata Hyerin sudah menggenang di pelupuk matanya. Hal itu membuat ia seperti merasakan apa yang dirasakan Hyerin.

“Aku tahu kau lebih dulu mengenal Yoongi jauh sebelum aku mengenalnya, Nayeon-ah. Tapi salahkah jika aku juga ingin mengakui dia sebagai milikku? Haruskah aku terus merahasiakan hal ini di depan yang lain, terlebih di hadapanmu?”

Hyerin kembali menoleh ke arah Nayeon membuat kedua gadis itu saling bertatapan.

“Terkadang aku merasa lelah menjalani hubungan seperti ini dengannya. Ingin rasanya aku segera mengakhirinya, daripada aku terus menerus merasa bersalah padamu. Tapi aku sadar, semakin aku mencoba untuk menjauhi Yoongi, semakin aku tak bisa lepas darinya. Aku—aku terlalu mencintainya, Nayeon-ah.”

Hyerin tak dapat lagi menahan air matanya. Air bening itu jatuh membasahi pipi Hyerin. Gadis itu menundukkan kepalanya. Nayeon melihat bahu Hyerin bergetar, membuatnya tanpa sadar meraih tangan Hyerin dan menggengam telapak tangan Hyerin dengan lembut.

Nayeon memang merasa sedih, marah dan kecewa pada Yoongi dan Hyerin. Awalnya ia mengira mereka terlalu jahat karna tega melakukan hal itu padanya. Awalnya Nayeon merasa seperi itu. Namun saat ini, saat ia melihat Hyerin benar-benar merasa bersalah dan menyesal padanya, Nayeon tahu ini semua juga bukan kemauan mereka. Dan ia akan merasa sangat jahat kalau ia tak memaafkan Yoongi dan Hyerin.

Hyerin mengangkat wajahnya saat ia merasa tangan Nayeon menggenggam tangannya. Hatinya seketika merasa lega ketika melihat Nayeon tersenyum padanya.

“Nado mianhae, Hyerin-ah. Jeongmal mianhae—” kata Nayeon sambil menahan isaknya.

“—-sangat menyakitkan saat mengetahui kau dan Yoongi tengah menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku. Kau tahu rasanya? Seperti ada yang menusukmu dari belakang. Sakit—sakit sekali…” lanjut Nayeon dengan suara lirih.

Kini Hyerin yang menggenggam tangan Nayeon. Ia tahu, topik pembicaraan ini sangat sensitif untuk keduanya. Keduanya sama-sama menghela nafas, mencoba mengurangi rasa sesak yang ada di hati mereka.

“Namun… saat melihatmu seperti ini, aku baru sadar. Kau benar-benar mencintai Yoongi bahkan melebihi dari apa yang ku rasakan. Maafkan aku, Hyerin-ah. Maafkan jika sikapku selama ini sudah menyulitkanmu.” kata Nayeon sambil melengkungkan sebuah senyuman tulus pada gadis yang ada dihadapannya.

Hyerin membalas senyum Nayeon sambil menghapus air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Namun kali ini bukan air mata kesedihan yang ia keluarkan, melainkan sebuah air mata haru dan baru kali ini hatinya merasa benar-benar lega.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Nayeon meluruskan kakinya yang terasa pegal saat dirinya dan Jin berada di tepi sungai Han, malam ini. Setelah pertemuannya dengan Hyerin, Nayeon menghubungi Jin untuk menghampirinya di dekat sungai Han. Dan disinilah mereka.

Jin menoleh ke arah Nayeon yang tengah menatap ke arah langit malam dengan wajah polosnya. Lelaki itu bersyukur karna sudah tidak ada lagi raut kesedihan pada wajah gadis yang sedang duduk disebelahnya.

“Padahal tadinya aku merasa akulah yang paling menyedihkan dalam kisah cinta seperti ini. Ternyata mereka jauh merasa lebih tertekan karna sikapku. Aku merasa jadi makhluk paling bodoh sedunia, Jin.” kata Nayeon sambil tertawa kecil, mentertawai kebodohannya sendiri.

Jin tertawa mendengar ucapan Nayeon.

“Tidak juga, kau tidak salah jika merasa seperti itu. Aku juga akan merasa sangat sedih jika aku ada diposisimu.”

Kini Nayeon menoleh ke arah Jin, lalu ia menganggukkan kepala membenarkan kata-kata Jin.

“Kalau kau ada diposisiku apa kau akan merelakan orang yang kau cintai untuk orang lain?” tanya Nayeon lagi.

“Tentu saja, aku lebih baik kehilangan orang yang kucintai daripada orang yang kucintai harus kehilangan orang yang ia sayang. Terdengar sangat bodoh bukan? Tapi itulah cinta..”

Lagi-lagi Nayeon menganggukan kepala, sangat setuju dengan apa yang dikatakan Jin.

“Kau pernah merasakan seperti itu, Jin? Merelakan orang yang kau cintai untuk orang lain?”

Pipi Jin langsung bersemu merah saat Nayeon menanyakan hal itu padanya, ditambah saat ini Nayeon tengah menatapnya dengan tatapan penasaran. Ia tak menyangka Nayeon akan bertanya seperti itu.

“Ah.. bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Jin mengalihkan pembicaraan dan ia juga tengah mencoba untuk menutupi pipinya yang masih bersemu merah.

Nayeon mengangguk namun tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.

“Belum sepenuhnya merasa lega. Terkadang saat mendengar nama Yoongi hatiku masih merasa sesak..” kata Nayeon dengan wajah yang sedikit muram.

“Ah begitu ya? Hmm kalau begitu—ddarawa.” kata Jin sambil beranjak berdiri lalu ia menengadahkan tangannya tepat dihadapan Nayeon.

Nayeon menatap Jin dengan heran, tak mengerti dengan maksud lelaki itu. Namun Jin hanya membalasnya dengan tatapan “kau-ikuti-saja-aku” sambil tersenyum. Akhirnya Nayeon pun meraih tangan Jin dan lelaki itu membantu Nayeon untuk berdiri. Jin menuntun Nayeon ke arah jembatan yang ada di sekitar sungai Han.

“Berteriaklah.. keluarkan segala isi yang ada di hatimu. Aku yakin setelah itu kau akan merasa lega.”

Awalnya Nayeon ragu untuk melakukan apa yang seperti dikatakan Jin, namun akhirnya ia mengangguk juga.

Nayeon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia mengeluarkan isi hatinya. Ia pun mulai menghitung dalam hati.

Hana… Dul… Set…

“MIN YOONGI AKU MENCINTAIMU!! SANGAT-SANGAT MENCINTAIMU. TETAPI KENAPA SAKIT SEKALI RASANYA MENCINTAIMU, HUH? MULAI SEKARANG AKU AKAN MENCOBA UNTUK MERELAKANMU DENGAN BAEK HYERIN. SEMOGA HUBUNGAN KALIAN AKAN BERTAHAN LAMA..”

Dada Nayeon naik turun seraya ia menghentikan teriakannya. Mukanya memerah karena ia baru saja mengerahkan segala kekuatannya untuk mencurahkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya. Namun setelah itu ia tersenyum lebar.

“Whoaaah daebak! Benar-benar sangat hebat! Aku seperti baru saja meluapkan segala beban yang ada di dalam diriku. Benar-benar sangat melegakan. Kau harus mencobanya Jin!” kata Nayeon yang tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah ia melakukan itu.

“Haruskah?” tanya Jin sambil menaikkan sebelah alisnya.

Nayeon menganggukan kepalanya berkali-kali, seperti anak kecil. Jin pun mengiyakan.

Jin menarik nafas dalam-dalam. Kali ini gilirannya untuk meluapkan segala perasaan yang ada di dalam hatinya.

“JANGAN MENANGIS LAGI, IM NAYEON. AKU TIDAK INGIN MELIHATMU MENANGIS! AKU AKAN MELAKUKAN APA SAJA AGAR KAU TAK MENANGIS LAGI. AKU AKAN SELALU ADA DISISIMU. AKU—-AKU MENCINTAIMU, NAYEON-AH.”

Nayeon terhenyak mendengar pernyataan cinta Jin yang tiba-tiba itu. Dada Jin naik turun setelah ia mengeluarkan isi di dalam hatinya. Lalu ia melirik ke arah Nayeon dengan takut, ia tak bisa menebak reaksi apa yang akan diberikan gadis itu setelah mendengar pernyataan cinta darinya.

Tanpa diduga Jin, Nayeon langsung memeluk lelaki itu dengan erat. Hal itu membuat Jin terpaku dan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia yakin Nayeon dapat mendengar detak jantungnya saat ini.

“Maafkan aku, Jin. Maaf karena aku tidak tahu perasaanmu selama ini. Maaf karna aku belum—-” kata Nayeon yang masih memeluk Jin.

Kalimat Nayeon terhenti karena tiba-tiba Jin menyela ucapannya.

“Gwaenchana Nayeon-ah. Kau tak perlu merasa tak enak padaku. Aku tak akan memaksamu. Aku—aku akan menunggumu.”

Jin membalas pelukan Nayeon sambil mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Perlakuan Jin membuat Nayeon tersenyum di dalam pelukannya.

“Terima kasih, Seokjin-ah. Terima kasih karna kau sangat mengerti dan memahami diriku. Terima kasih karna kau selalu berada disisiku. Dan…. terima kasih karna telah mencintaiku.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Yoongi tengah duduk di bangku yang ada di taman, menikmati suasana malam yang sunyi. Ini sudah seminggu semenjak Nayeon menjauhinya. Ia sangat merindukan gadis itu. Senyumnya, tawanya, wajah kesalnya, celotehan gadis itu yang kadang membuat telinganya mau pecah, suaranya, dan—-

Kring… kring…. kring….

Tiba-tiba handphone Yoongi berbunyi. Lelaki itu sontak melebarkan matanya saat melihat nama kontak yang menghubunginya. Im Nayeon. Ia tak dapat menyembunyikan rasa harunya dan langsung menjawab panggilan itu sebelum Nayeon menghentikan panggilannya.

“Im Nayeon—-”

“Yak Min Yoongi! Dengarkan, aku mau bicara ah tidak lebih tepatnya aku mau bercerita. Jangan menyela apalagi sampai menimpali kata-kataku. Kalau kau melakukan itu, aku tidak akan memafkanmu seumur hidup!”

Yoongi melengkungkan senyumnya, karena ia tahu Nayeon tak serius dengan ucapannya. Dalam hati ia merasa sangat senang, akhirnya ia bisa mendengar suara itu kembali. Suara Nayeon yang sangat ia rindukan.

Yoongi mendengar Nayeon berdeham sebelum gadis itu mulai bicara. Ia bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan dikatakan gadis itu?

“Pada suatu hari, hiduplah sepasang burung yang tinggal disebuah pohon. Sepasang burung itu adalah teman baik. Mereka berjanji akan menjadi teman selamanya dan tidak akan meninggalkan satu sama lain.”

Kalimat Nayeon membuat Yoongi tertawa kecil. Nayeon sedang menceritakan tentang mereka. Sepasang burung itu adalah gambaran tentang dirinya dan Nayeon. Namun lelaki itu hanya diam saja, menuruti kata Nayeon. Ia tidak akan menyela atau menimpali ucapan gadis itu.

“Namun entah sejak kapan, burung betina mulai menyukai burung jantan, sahabatnya sendiri. Dan tanpa diketahui burung betina, ternyata burung jantan telah memiliki kekasih, burung betina yang lain.”

Yoongi tertegun mendengar ucapan Nayeon. Ia dapat mendengar Nayeon menghela nafas di seberang telepon. Namun lagi-lagi Yoongi hanya diam saja, masih menunggu Nayeon melanjutkan ceritanya.

“Seiring berjalannya waktu, burung betina itu pun mengetahuinya. Burung betina itu tahu kalau burung jantan telah memiliki kekasih. Ia langsung merasa sangat sedih, marah dan kecewa, burung jantan yang ia sukai sejak lama ternyata sudah memiliki kekasih, dan ia baru mengetahuinya setelah mereka menjalin hubungan cukup lama.”

Hati Yoongi mencelos ketika Nayeon bercerita tentang itu. Ia tahu, Nayeon sedang mencurahkan kekecawaannya saat ini. Yoongi mendengar Nayeon menahan isaknya, apakah gadis itu sedang menangis? Mendengar itu, rasa bersalah kembali menyelimuti Yoongi.

Nayeon menghela nafas sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“Namun pada akhirnya, burung betina sadar. Cinta tak bisa dipaksakan. Burung betina tidak bisa memaksa burung jantan untuk menyukainya karna burung betina tahu, burung jantan sangat mencintai kekasihnya. Dan burung betina pun merelakan burung jantan hidup bahagia bersama kekasihnya. Bukankah makna cinta yang sebenarnya adalah bahagia melihat orang yang dicintainya bahagia?”

Yoongi menoleh ke arah belakang saat ia mendengar suara Nayeon semakin dekat. Benar saja, Nayeon sudah berdiri di belakangnya, masih dengan handphone yang menempel ditelinga.

Yoongi tak dapat menahan senyum bahagianya melihat Nayeon ada di hadapannya. Gadis itu berjalan mendekat kearahnya. Yoongi dapat melihat Nayeon sedang sekuat tenaga menahan air mata. Sama seperti dirinya, air matanya juga sudah menggenang.

Kini keduanya terdiam. Suasana hening langsung menyelimuti sepasang remaja itu. Tak ada yang mulai bicara. Mereka masih saling menatap dalam waktu yang lama.

“Bodoh! Sudah tahu dengan mejauhimu aku merasa tersiksa, kenapa aku harus menjauhimu, huh?”

Nayeon memecah keheningan di antara mereka. Bersamaan dengan kata yang keluar dari mulutnya, air matanya juga ikut jatuh. Tapi ia tertawa, Nayeon tertawa dalam tangisnya. Ia tidak bisa mengelak bahwa ia merindukan lelaki dihadapannya ini.

Yoongi langsung memeluk Nayeon, air matanya juga tak dapat ditahan. Nayeon membalas pelukan lelaki itu.

“Baru kali ini aku melihatmu menangis lagi setelah sekian lama.”

Nayeon melepaskan pelukannya pada Yoongi sambil mengusap air matanya. Ia tertawa melihat ekspresi Yoongi saat menangis.

“Maafkan aku, Nayeon-ah..”

Nayeon hanya menganggukkan kepala, tanda kalau ia sudah memaafkan Yoongi. Yoongi ikut tertawa bersama Nayeon.

“Sudahlah, kita tak usah membahas itu. Lagipula aku sudah menemukan lelaki yang jauh lebih baik darimu.” kata Nayeon sambil mengulum senyum. Gadis itu tengah menggoda Yoongi.

Yoongi melebarkan matanya, pura-pura terkejut.

“Mwo? Yak! Memangnya siapa lelaki yang lebih baik dariku, huh?” tanya Yoongi dengan gayanya yang pura-pura tidak terima dengan ucapan Nayeon.

“…….. Kim Seokjin.”

 

 

FIN

 

 

 

 

Waaaaah finally end~~ terima kasih untuk para readers yang udah setia(?) baca ff ini dari part 1-end. Thanks for your like, comment and support:) Rencananya author mau bikin ff oneshoot tentang kisah cintanya Nayeon-Jin. Gimana menurut readers? Kira-kira pada setuju gak, ya?

About fanfictionside

just me

30 thoughts on “FF/ BESTFRIEND? / BTS-BANGTAN/ pt. 3 – FINAL

  1. Kenapa selesai thor???? Arghhhh pikiranku malah nayeon bakal musuhan sama yoongi terus masih banyak lgi dah masalah2 yg datang, tpi gakpapa deh ini aja sdah cukup😀

  2. Yaaah! Udh end ya thor? Pdhl aku berharap tar endingnya Yoongi bs sama Nayeon terus Hyerin bs ngerelain Yoongi, haha tp gapapa deh ceritanya seru❤ LURV!

  3. Aduh ini FF rapih banget, ngiri saya.
    Wah happy ending ya, tapi sebenernya pengen ada kisah antara Nayeon sama Jin.
    Author bikin sequel dong!!!😉

  4. ceritanya daebak thor. aku suka banget ^^b

    akhirnya nayeon merelakan yoongi ama hyerin & mau nerima seokjin. seneng deh kl baca FF happy ending kayak gini ^^ ditunggu FF selanjutnya ya thor

  5. Wahh padahal aku ngarepnya nayeon happy ending sama suga😦 tapi gpplah, ini kan yg buat author :3
    Aku setuju thor! Supaya gk gantung ceritanya😀

  6. Happy ending ;(
    Mewek ku bca ny thor..
    Crita ny kyak di realita banget.
    Buat kisah nayeon jin, mw dong thor d buat ff ny, ya? Ya?
    Aku tggu pkok ny😀

  7. Ih manis banget masa :’v padahal sih aku berharapnya Nayeon sama Suga ;;’
    Thor, bikin sequelnya coba🙂 plisss xD

  8. Yeeeee happy ending. dari FF ini aku malah dapat pelajaran yang berharga. Gomawo thor :>
    Boleh request nggak? hehehe kalau bisa dibuat sequelnya ya thor. Kayanya masih ada yang kurang komplit nih. Tapi, tetap aja FF ini keren!

  9. aaahh~ so sweet….
    tapi penasaran gimana reaksinya yoongi pas tau nayeon-jin udah jadian wkwkwk
    keren thor, seru banget^^

  10. Lu gila ya thor? Gue nangis baca ni ff ;-; cetitanya gue bangeeeeet #lebay. Sekuel! Gamau tau :p tanggung jawab udh bikin gua nangis kekk gini ;p

  11. aaa:v akhirnya aku baca finalnya setelah lama ga lanjutin baca ff/curcol/ walaupun jadi greget karna nayeon jadian sama jin bukan sama suga😦 nyesek banget kalo baca ff yg kaya gini. Bener thor. Tapi ff ini tetep daebakkkkkkk! Yang penting happy ending aku mah seneng2 aja😀

  12. buatin yg oneshoot nya thor.. seru itu.. daebakk thor.. dikira akhirnya sama suga tapi emang sama jin jg cocok.. kkk.. sequel nya oke thor? yg cucok buatnya thor.. hahaha.. Kerenn!

  13. Aaaa bikin nangis ini ff nya thooorr ;__; daebak daebak!
    sequel nya dong, penasaran gimana nayeon sama jin nyaa ^^

  14. 3 part thor? Em sebenernya kurang puass huahaha. Yaa tapi kalau ini adalah hasilnya yaa aku harap im nayeon hanya im nayeon. Haha namkor aku park nayeon😀 aku jadi ade yoongi aja ah :3 dan seokjin teman baik😀 *ngarep –“* yaudah deh buat ff nya keren, alurnya bagus, udh daebak lah! Lain kali buat ff yoongi sama nayeon lagi ya cast nya *request nih! :D* oke?! Ditunggu ya. Gomawo~

  15. 3 part? Em sebenernya belum puass huahaha. Tapi im nayeon tetapi im nayeon. Karena namkor aku Park Nayeon thor!😀 masalah ffnya, keren, alurnya bagus, pokonya daebak! Lain kali bikin ff lagi ya cast nya yoongi-nayeon wkwks, *request nih!* oya aku mau jadi ade yoongi aja ah, trs seokjin jadi teman baik🙂 hahaha ngarep. Ditunggu ya ff selanjutnya. Gomawo~

  16. satu kata buat FF ini —> ‘DAEBAK’
    ini beneran menyentuh… aku beneran nangis thor baca FF mu ini…huhuhuhh…

    Aku bener2 suka sama Endingnya yg dibuat Nayeon sama Yoongi ttp jd Sahabat dan engga jadian. soalnya klw menurut aku cerita2 sahabat jd cinta itu basi.heheheh
    dan semuanya berakhir bahagia…Yeayyyyyy >_<

  17. Selalu selang seminggu yh :v kayaknya seminggu itu udh lama bgt :3

    Suka pas bagian endingnya >///< ngena bgt.. Sampe ikutan nangis bacanya.. *part yoongi sama nayeon*

    I luv it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s