FF/ HE CHANGE BECOME A MONSTER/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Tittle: He Change Become A Monster [Chapter 2]|| Author: TokiarikaJung ♕ (author tetap) || Genre: Romance, School Life|| Main Cast: Song Hyura (OC), Jungkook (BTS), Seokjin (BTS), and another BTS member || Rating: PG-15 || Length: Chaptered

A/N:

Hello ada yang nunggu ff ini gak? ‘-‘) #krik krik

Oh iya sedikit bocoran, di sini banyak adegan school-life nya jadi siap siap ya😀 Happy Reading ~

he-change-become-monster

Credit: Joelle at HSG

Summary :

Aku jatuh cinta padanya. Itu tidak salah lagi. Sikapnya yang manis dan baik selalu membuatku merasa nyaman. Namun sejak ‘insiden itu’ kenapa tiba-tiba ia berubah menjadi orang yang dingin dan sinis? Apa ini karena salahku? Atau ada hal lain yang di sembunyikan olehnya? Aku tidak tahu. Yang jelas aku akan merubahnya kembali menjadi sosok yang ceria dan aku tidak akan menyerah sebelum aku mewujudkannya.

# # # # #

Previous Chapter :

“Diam ! Jangan mengajakku berbicara lagi.” Potongnya kejam. Dan tanpa aba-aba Jungkook melanjutkan langkahnya kembali.

Jungkook. Kenapa kau jadi sinis seperti ini? Apa aku berbuat salah padamu?

Aku berusaha meraih apapun yang sekiranya dapat menopang tubuhku. Tapi terlambat, aku sudah jatuh terduduk sambil menatap nanar punggung Jungkook yang semakin menjauh.

Dia berubah. Jeon Jungkook berubah. Dan aku tidak mengenalnya lagi.

# # # # #

“Aku pulang.”

Aku membuka pintu rumahku, keadaan rumah sepi seperti biasanya. Appa bekerja dan baru akan pulang ketika larut malam, sedangkan eomma? Entahlah aku rasa ia ada di ruang tamu sekarang.

Aku segera melepas sepatuku lalu menaruhnya di rak sepatu. Aku berjalan dengan pelan, mataku berkeliaran kesana kemari untuk mencari eommaku. Begitu sampai di ruang tamu, aku memelankan langkahku dan menjinjitkan kakiku —seperti maling. Pwaaaaa! Aku ingin memberikan kejutan untuk eommaku.

Dan dugaanku benar. Eomma sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton drama kesukaannya.  “Annyeong eomma. Aku pulang.” Aku berteriak tepat di sebelah eommaku. Aku ikut duduk di sofa lalu memeluk lengan eomma erat.

Eommaku melonjak kaget. “Omona. Ya ! Kau mengagetkanku—Song Hyura??”

Eomma menatapku dengan bingung, aku pun juga begitu. “Neee aku pulang. Eomma tidak rindu padaku?” aku menggembungkan pipiku.

Eomma mencubit pipiku membuatku merintih kesakitan. “Tantu saja sayang, eomma rinduuuu padamu. Kau pulang itu berarti piknik sekolahmu sudah selesai?” Tanya eomma kepadaku.

“Ne?” tanyaku bingung. Dan apa maksudnya dengan piknik sekolah? Aku mengerutkan dahiku. Jujur aku tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh eomma.

“Kau lupa? Seminggu yang lalu Jungkook datang kemari dan ia bilang bahwa sekolah kalian mengadakan piknik selama seminggu penuh. Katanya itu acara dadakan, dan hanya beberapa orang yang di perbolehkan untuk pulang meminta izin kepada orang tuanya. Termasuk Jungkook. Makanya ia datang kemari untuk memberitahukan hal tersebut kepada eomma dan appa.“ jelas eomma panjang lebar.

Aku mengerjapkan mataku. Ya ampun Jungkook datang ke rumahku? Dan apa piknik sekolah selama seminggu penuh? Alasan macam apa itu? Bahkan terdengar tidak masuk akal di otakku. Tapi bagaimana bisa eomma dan appa mempercayai ucapannya? Oh ya ampun ini gila. Tiba-tiba saja aku merasakan kepalaku berdenyut kencang.

“Hyura. Apa ada masalah? Bagaimana dengan piknik sekolah kalian? Apa itu menyenangkan?”

Aku terkejut. “A-Ah ne-neeee sangat menyenangkan eomma.” Jawabku asal. Aku masih bingung, kenapa eomma bisa mudahnya percaya dengan ‘acara piknik-piknik’ itu?

“Euhmmm baiklah.” Eomma bangkit dari duduknya. “Apa kau lapar sayang? Kau ingin makan apa kali ini?”

Aku menatap eomma lega. “Aku mau ramen. Perutku lapar.” Aku memperlihatkan deretan gigiku yang rapih. Padahal saat di rumah Suga aku sudah makan ramen. Tapi sekarang aku ingin ramen buatan eomma. Pasti rasanya lebih special.

Eomma mengangguk lalu segera berjalan ke dapur. Aku menghela napas lelah.

Apa maksudmu Jungkook? Kenapa kau tidak bicara yang sejujurnya saja pada orang tuaku kalau aku tengah di sekap. Kenapa?

# # # # #

Jungkook tunggu aku !” aku berusaha mensejajarkan langkahku dengan Jungkook. Suara sepatuku terdengar menggema di seluruh lorong sekolah. Wajar saja, ini kan masih pagi. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang di lorong sekolah.

“Jungkook !” aku menarik lengannya memaksanya untuk berhenti. Usahaku tidak sia-sia. Jungkook benar-benar menghentikan langkahnya, namun ia tidak menolehkan kepalanya kepadaku sama sekali. Pandangannya hanya fokus ke depan.

Kesempatan itu aku gunakan untuk pindah ke hadapannya. Dengan begini Jungkook akan menatapku bukan? Tapi sayangnya dugaanku salah. Ia malah mengalihkan perhatiannya ke samping. Kenapa Jungkook enggan menatapku?

Ok tak mau buang waktu lama aku langsung membuka mulutku. “Jungkook apa maksudmu dengan piknik itu?” tanyaku. Jungkook hanya diam, tidak menanggapi pertanyaanku. Aku menghela napas. Ok kurasa ia tidak akan mau menjawab pertanyaanku, makanya aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

“Jungkook kau masih marah? Ok aku tahu aku salah, aku minta maaf. Saat itu aku memang bodoh, seharusnya aku pulang bersamamu meskipun harus menunggumu mengantar Hana pulang terlebih dahulu. Seharusnya aku tidak memutuskan untuk pulang sendiri dan saat di halte itu jujur aku refleks menghindarimu karena aku takut begitu melihatmu menatapku dengan tajam

Dan saat, saat Suga menodongku dengan pistol seharusnya…. seharusnya aku…. aku…. seharusnya kau tidak perlu menolongku. Seharusnya kau pulang dan membiarkanku terbunuh oleh Suga.”

Jungkook langsung menatapku dengan mata melotot. Aku gelagapan. “A-Aku tahu. Maaf. Aku memang bodoh. Seharusnya sekarang aku berterima kasih kepadamu karena biar bagaimanapun juga kau telah menyelamatkanku.” Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam.

“Sudah selesai? Kalau sudah selesai tolong lepaskan tanganku.” Tanggapnya dingin. Aku membelalakkan mataku. Sungguh, aku sudah berbicara panjang lebar tetapi kenapa responnya seperti itu?

Jungkook melepaskan tangannya dari genggamanku dengan paksa. Lalu ia kembali berjalan menuju kelas tanpa menoleh ke arahku.

Ada apa dengannya? Ini. Ini benar-benar aneh, maksudku Jungkook yang dulunya baik, ramah, jahil, sopan kenapa sekarang menjadi jahat, galak, dingin, jahat, tidak berperasaan.Apa yang terjadi padanya? Apa ini karena Suga dan Hana?

Aku menggelengkan kepalaku lemah, aku benar-benar tidak tahu kenapa Jungkook dapat berubah menjadi monster galak seperti itu. Tunggu-tunggu! Jungkook. Monster. Gotcha ! He Change Become A Monster? Kookster ? *Jungkook monster*

Lalu akhirnya aku berpikir, kenapa situasi sekarang berbanding dengan situasi yang dulu? Dulu Jungkook memanggilku Hyuster *Hyura monster* karena kata Jungkook aku satu-satunya gadis yang berperilaku seperti monster. Tapi coba lihat sekarang. Sebenarnya siapa yang lebih pantas di panggil monster? Dia atau aku?

Aku mengerjapkan kedua mataku lalu menatap punggung Jungkook yang makin menjauh. Lihat saja Kookster aku akan mengembalikan sikapmu seperti semula. Semua monster pasti dapat di jinakkan bukan?

Maka biarkan aku menjinakkanmu Kookster. Aku takkan menyerah.

# # # # #

“Hyura kemana saja kau selama ini huh?”

“Ya ! Ya ! Sulli ! Apa yang kau lakukan? Ini memalukan.” Aku berusaha menjauhkan Sulli yang tiba-tiba saja memelukku begitu aku masuk ke kelas.

“Kau jahat Hyura.” Sulli mengerucutkan bibirnya membuatnya terlihat menggemaskan.

“Hahaha. Jadi ada berita apa saja selama aku tidak ada di kelas?” tanyaku sambil duduk di kursiku. Sebelumnya aku melirik ke arah bangku Jungkook –yang kebetulan berada tepat di belakang bangku ku– namun tidak menemukan sang pemilik bangkunya. Hanya ada tas yang dibiarkan begitu saja di atas meja.

Sulli ikut duduk di kursinya –yang kebetulan juga berada tepat di depan bangku ku– lalu ia memutar tubuhnya menatapku dengan tatapan mengerti. “Kau mencari Jungkook? Tadi ia pergi berdua dengan chagi-ku.”

Aku mengerutkan dahiku. Chagi-ku katanya? Sejak kapan Sulli punya pacar? Bahkan setahuku Sulli paling anti dengan apapun yang berkaitan dengan namja.

“Hahaha kau pasti penasaran bukan?” tanyanya.

“Siapa chagi-ku yang kau maksud?” tanyaku balik dengan mata menyipit.

Sulli membuka mulutnya lalu menutupnya kembali. Lalu ia tersenyum penuh arti begitu melihat Jungkook dan Taehyung masuk ke kelas.

Jadi─Sulli pacar Jungkook?

Aku memperhatikan Sulli yang sedari tadi hanya menatap Jungkook dan Taehyung dengan mata berbinar, Taehyung menghampiri mejaku sedangan Jungkook berjalan ke arah tempat duduknya. Sampai akhirnya suara decitan bangku membuatku menolehkan kepalaku ke belakang. “Pagi Kookster !” sapaku dengan senyum selebar bahu.

Jungkook mengerutkan keningnya tapi ia tidak membantah ataupun memprotes. Aku membalikkan badanku ke depan lalu terlonjak kaget begitu melihat Taehyung dan Sulli menatapku dengan mata disipitkan.

“Sejak kapan namanya menjadi Kookster?” tanya mereka bersamaan dan juga dengan ekspresi yang sama –membuatku sedikit ngeri dan juga bepikir bahwa mereka seperinya memiliki ‘hubungan khusus’. Hey, coba bayangkan.Bagaimana bisa seseorang punya respon yang sama, juga ekspresi yang sama bahkan dalam waktu yang bersamaan pula. Ini mencurigakan.

“Sejak kapan kalian jadi kompakkan seperti itu?” timpalku dengan pertanyaan lain.

Tepat saat aku mengatakan hal itu terdengar suara decitan bangku dari belakang. Refleks aku menolehkan lalu terkejut begitu melihat Jungkook bangkit dari kursinya –sepertinya ia ingin pergi keluar kelas.

“Kau tidak ingin bergabung bersama kami? Seingatku dulu kau yang memaksaku untuk selalu bergabung. Sekarang kenapa kau menghindar kami, Kookster ?” sindirku tanpa sadar.

Jungkook menghentikan langkahnya tepat di sebelahku. Ia segera mengeluarkan death glare-nya kepadaku. Aku membalas tatapannya dengan tatapan menantang. “Apa yang membuatmu menjadi bisu seperti itu? Aku bertanya padamu barusan. Atau kau tidak bisa menjawab pertanyaanku  huh? Apa ini pertanyaan yang sulit? Atau kau kehabisan bahan perkataan?”

Aku tidak tahu kata-kataku sudah kelewat tajam atau apa. Aku juga tidak peduli. Aku hanya ingin mengembalikannya menjadi Jungkook yang dulu. Dan aku tidak akan menyerah.

Taehyung yang merasakan adanya perubahan atmosfer di sekitar kami akhirnya memilih untuk menghampiri Jungkook. “Rooftop?” tawarnya pada Jungkook. Jungkook pun mengangguk –tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dariku sekalipun–.

Taehyung dan Jungkook mulai bergegas ke rooftop, namun di ambang pintu Jungkook menghentikan langkahnya lalu menatapku dalam-dalam. “Kau benar-benar hebat Song Hyura. Kau tidak lupa atas jasaku bukan?”

Jeda beberapa saat sampai akhirnya aku menjawab. “Aku memang hebat. Kau sendiri yang menjuluki-ku Hyuster bukan?”

“Kau benar. Kau memang monster.” Setelah mengatakan itu Jungkook melanjutkan kembali langkahnya yang tertunda.

“Kau keterlaluan Hyura─maksudku dulu meskipun kau jutek kau tidak pernah menyindir orang ataupun semacamnya.” Sulli langsung memutar bangkunya menghadap ke arahku.

“Aku tahu ! Aku hanya ingin merubah Jungkook seperti dulu lagi. Tapi aku, aku tidak tahu bagaimana caranya.” Aku mulai terisak. Bodoh ! Song Hyura bodoh ! “Aku malah membuatnya semakin membenciku.” Lanjutku dengan suara lirih.

“Ok hmmm mau bercerita denganku?”

 

NB : Ini kenapa jadi bahas monster? Etdah authornya gak jelas. Semoga kalian gak bingung ya😀

# # # # #

 

Kring… Kring… Kring… *bel masuk kelas berdering*

Jungkook baru saja masuk ke kelas. Tak ingin membuang waktu aku langsung membalikkan badanku begitu melihat Jungkook duduk di kursinya.

“Emmmm… Kookster.” Panggilku ragu. “Maafkan soal yang tadi pagi ya? Aku benar-benar kelepasan. Maafkan aku ya?” lanjutku sambil mengeluarkan puppy eyes ku. Tapi percuma, Jungkook malah mengabaikanku.

Aku menghela napas. “Kau masih marah padaku.” Ucapku sambil mengerucutkan bibirku.

Jungkook yang merasa risih hanya melirik ke arahku tanpa minat. “Sampai kapan kau mau marah kepadaku?” tanyaku pelan. Lagi-lagi Jungkook tidak merespon.

“Oh ! Oh ! Aku baru ingat !” teriakku heboh.

Kim Namjoon yang duduk di seberang mejaku langsung menegurku, tapi aku tidak peduli dan berusaha menulikan pendengaranku. “Bagaimana kalau nanti pulang sekolah aku mentraktirmu makan. Mau ya? Mau ya?” ajakku sambil memohon. Semoga Jungkook mau ku traktir.

Gotcha !

Jungkook menolehkan kepalanya ke arahku dengan mata berbinar. Huah rencanaku tidak sia-sia. Kau hebat Song Hyura !

“Kau mau kan?” jeritku heboh juga tak sabaran mendengar jawaban dari Jungkook.

“Ehm…”

Dehaman keras itu langsung membuat penjuru kelas menatap ke arahku dan Jungkook dengan tatapan merasa terganggu.

Aku yang sadar pertama kali langsung membenarkan posisi dudukku lalu bangkit dan membungkukkan badanku. “Joseonghamnida seonsaengnim.”

Im seonsaengnim menatapku dengan senyum manisnya. “Gwaenchana Hyura-ssi. Tapi lain kali jangan mengobrol saat guru sudah masuk ke kelas. Arraseo?”

Aku membungkukkan badanku sekali lagi. “Ne seonsaeng.” Baru setelah itu aku duduk kembali.

Urrrrgh ! Ini memalukan !

Jadi tadi yang berdeham keras itu siapa? Im Yoon Ah seonsaengnim?  Memangnya kapan ia masuk ke kelas? Kenapa aku tidak menyadarinya?

Aku langsung menoleh ke arah kiriku dengan tatapan laser. Lalu kenapa Kim Namjoon tidak memberitahuku kalau Im seonsaeng sudah datang? Huh dasar ketua kelas tidak becus.

Merasa di perhatikan Kim Namjoon pun menengok ke arahku. “Tadi aku sudah menegurmu, tapi kau tidak mau mendengarkanku. Jadi…. yah begitu lah.” Ia mengangkat kedua bahunya acuh.

Oh? Jadi dia sudah menegurku tadi? Lalu kenapa aku tidak mendengarnya juga tidak mengetahuinya? Mungkinkah karena─Jungkook?

Aku berusaha melihat Jungkook lewat sudut mataku. Ia sedang terkejut menatap ke arah depan kelas. Aku yang penasaran pun akhirnya mengikuti arah pandang Jungkook. Dan jantungku mencelos begitu melihat─

“Ka-Kalian?” jeritku tidak percaya saat melihat empat murid berjejer di depan kelasku dengan seragam Cheongdam High School. Seragam yang sama denganku dan Jungkook dan juga semua murid yang ada di kelas ini. Di antara ke empat orang itu, ketiganya adalah murid baru dan satunya lagi adalah murid dari kelas unggulan di sekolah ini.

Aku mengerutkan keningku. “Apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa kalian…. pindah sekolah?”

──────

Bel istirahat berbunyi. Im seonsaengnim menyudahi pelajarannya lalu pergi keluar kelas. Murid-murid kelasku langsung berbondong-bondong mengerubungi deretan meja yang berada di sebelah kananku.

Aku hanya menatap kerumunan itu tanpa minat. Kenapa anak-anak kelasku jadi berlebihan seperti ini sih? Kedatangan tiga murid baru yang ‘tampan-tampan’ itu membuat mereka menjadi heboh? Ck ! Terlalu berlebihan.

Karena bosan akhirnya aku memilih untuk memakai headset putih kesayanganku lalu melipat kedua tanganku di atas meja dan membenamkan kepalaku di sana.

Fiuh… Ini akan menjadi sangat rumit. Mengapa mereka bertiga harus pindah ke sini. Kenapa si anak unggulan itu juga harus pindah ke kelas ini?

“Hey Hyura. Kau tidak ingin pergi ke kantin?” Sulli menghampiriku dengan wajah polosnya. Aku hanya menggelengkan kepalaku, tanda bahwa aku sedang bosan dan tidak ingin pergi kemanapun. Termasuk ke kantin, padahal cacing-cacing di perutku sudah meronta meminta di beri asupan.

“Pergi ke kantin denganku saja, Sulli-ssi.”

Suara Taehyung. Aku hapal sekali, apalagi suara beratnya yang khas itu membuatnya terdengar seksi setiap kali mengeluarkan suara.

“Kau memanggilku dengan sebutan -ssi? Kau jahat V ! Kau jahat ! Aku ini pacarmu !”

Suara Sulli. Ia sedang merajuk rupanya. Ck pasangan ini, kenapa terlihat konyol sih? Tapi di satu sisi mereka juga terlihat serasi. Padahal yang ku tahu Taehyung itu tipe orang yang sinis, judes, cuek, dan lain sebagainya. Berbanding terbalik dengan Sulli yang tipe orang yang imut, manja, perhatian, dan bla bla bla.

“Baik-baik Chagi. Maafkan aku ok? Aku tidak akan mengulanginya. Aku janji.”

Kekehan geli langsung terlontar dari bibirku begitu mendengar suara Taehyung yang berubah panic. Sepertinya ia takut jika Sulli akan marah kepadanya. Oh, kau sangat beruntung Choi Jin Ri. Kau  juga sangat hebat, kau bisa merubah kepribadian Taehyung.

Semoga Sulli bahagia bersama Taehyung.

Tidak seperiku yang bahkan sudah gagal sebelum memulai suatu hubungan─dengan Jungkook.

“Maaf aku tidak bisa menjawabnya. Kalian tanyakan saja pada kedua temanku.”

Terdengar lagi sebuah suara. Tapi aku tidak tahu siapa pemilik suara. Oh terkutuklah atas ingatanku yang memang selalu buruk dari dulu.

“Hah !” aku tersentak dan langsung terbangun dari posisi tidurku begitu seseorang menarik tanganku lalu mengajakku keluar kelas.

“Ya ! Kau mengganggu tidurku !” protesku pada orang yang masih memegangi lenganku. “Ya ! Kim Seok Jin ! Kau dengar perkataanku tidak?”

“Aku dengar.” Jawab Jin sekenanya. “Ayo lari.” Ajaknya. Tanpa menunggu persetujuan dariku ia langsung menarik tanganku –lebih kuat di banding sebelumnya– lalu mempercepat langkahnya.

“Hey ! Aku tidak mau berlari !”

“Tidak apa-apa ini sehat.” Jawab Seokjin singkat. Kami terus berlari hingga akhirnya ia menghentikan langkahnya ketika memasuki ruang─

“Perpustakaan?” tanyaku heran. “Kenapa kau mengajakku ke perpustakaan?” aku menatap ke arah Seokjin.

Seokjin memilih diam lalu melanjutkan langkahnya ke dalam perpustakaan. Dan karena tanganku masih di genggam oleh Seokjin terpaksa aku mengikuti langkahnya.

Seokjin mengajakku duduk di salah satu bangku panjang yang terdapat di ujung perpustakaan. Karena letaknya di ujung, jarang ada yang menduduki tempat ini–pengunjung perpustakaan lebih memilih duduk di bangku yang ramai seperti bangku di dekat pintu perpustakaan–

“Murid kelasmu….. fanatik sekali ya.”

Aku menolehkan kepalaku ke arah Seokjin. “Apa maksudmu?” aku mengerutkan dahiku, bingung.

“Kau lihat tidak saat tadi aku perkenalan di depan kelas? Saat ku perhatikan satu persatu hampir semuanya memberikan kedipan mata genit untukku, dan itu membuatku menjadi geli. Dan lagi tadi saat istirahat mereka langsung mengerubungi mejaku, meja Jimin dan meja Suga. Mereka menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti nomor ponsel, alamat rumah, mantan pacar, pacar sekarang. Oh aku rasa kelasmu memang sudah berbahaya.” Seokjin menjelaskan dengan panjang lebar, di akhir perkataannya ia langsung menggelengkan kepalanya frustasi juga menghela napas panjang.

“Jinjja? Oh itu mungkin karena kau tampan makanya mereka─” aku menggantungkan kalimatku. “Yah, kau tahulah maksudku.”

Seokjin menatapku dengan seringaian jahil-nya.”Jadi menurutmu aku tampan?” tanyanya sambil mengedipkan matanya genit.

Hey lihat ini siapa yang berbicara. Tadi ia sendiri yang mengeluh soal kedipan-kedipan itu. Tapi kenapa sekarang malah ia yang mengedip-ngedipkan matanya?

Lalu, “Ayahku jauh lebih tampan dibandingkan denganmu.” Jawabku meremehkan.

“Ya !” Seokjin menjitak kepalaku membuatku meng-aduh pelan.

Setelah itu hening…..

“Oh iya ! Kenapa kau mengajakku ke perpustakaan?” tanyaku berusaha mencairkan suasana yang canggung. Berusaha menghilangkan keheningan di antara aku dengan Seokjin.

Seokjin terkekeh. “Untuk menghindari fans baruku.” Seokjin menyeringai lebar. Oh ! Aku paham. Pasti maksud dari ‘fans baruku’ itu adalah teman-teman kelasku yang fanatik itu.

“Tapi kenapa harus aku?”

Seokjin menatapku dengan tatapan ‘Maksudmu?’

Aku berdeham sebentar. “Maksudku, kenapa aku yang kau ajak ke sini? Kau kan bisa mengajak Jimin dan Suga.”

Seokjin yang mendengarkan hanya ber-oh ria membuatku menatap Seokjin dengan tatapan laser. Seokjin yang mengerti maksud dari tatapanku langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Jimin dan Suga kan laki-laki. Mana mungkin aku menggandeng tangan mereka lalu mengajak mereka lari-larian bersamaku. Bisa-bisa fans ku langsung pingsan di tempat.”

Aku terkekeh geli membayangkan Jin, Jimin dan Suga berlari-larian sambil berpegangan tangan. Pasti akan sangat lucu.

Tiba-tiba. “Tidurlah.” Pinta Seokjin. Aku mengerutkan dahiku. “Maaf tadi aku mengganggu tidurmu. Sekarang tidurlah, aku akan membangunkanmu kalau bel sudah berbunyi.”

Aku melambaikan kedua tanganku. “A-Ah tidak perlu, setelah berlari-lari denganmu aku jadi tidak mengantuk lagi. Oh ! Aku punya penawaran. Bagaimana kalau kita ke kantin saja? Aku lapar.” Aku memperlihatkan deretan gigiku yang putih.

“Oh baiklah.” Seokjin bangkit dari duduknya, tangannya ia masukkan ke saku celana. Ia memilih jalan duluan, namun tak beberapa lama kemudian ia menghentikan langkahnya lalu menatapku dengan cengiran khas-nya. “Aku tidak tahu kantinnya ada dimana.”

Aku menggelengkan kepalaku. Ya ampun anak ini…

“Makanya jangan tinggalkan aku.” Ucapku sambil mengerucutkan bibirku. Aku menyamakan posisiku dengan Seokjin, baru setelah itu aku berjalan di depannya.

Aku tersentak lagi begitu Seokjin menahan lenganku. “Kita berjalan berdampingan saja.” Lalu Seokjin menggenggam tanganku dengan erat.

Tanpa sadar aku tersenyum.

Sikap Seokjin yang seperti ini membuatku teringat dengan sikap Jungkook─yang dulu.

───────

“Jadi, bagaimana bisa kalian ‘nyasar’ ke kelasku?”

“Sudah ku bilang bukan nyasar !” bantah Jimin.

“Bukan nyasar, tapi tersesat.” Tanggap Seokjin.

“Huh?” aku mengernyitkan dahiku lalu menatap mereka satu per satu dengan tatapan selidik. ”Kenapa sih kalian pindah sekolah?”

Seokjin baru saja akan berbicara, namun aku segera memotongnya.“Jawab dengan serius.” Pintaku mengingatkan.

“Aku sih karena Hana sekolah di sini.” Jawab Suga dengan seadanya sambil menyeruput minumannya.

“Kalau aku sih mengikuti Suga. Kita kan kawan.” Jimin menepuk-nepuk pundak Suga.

Aku menoleh ke arah Seokjin, menatapnya dengan tatapan ‘Lalu kau?’

Seokjin menunjukkan smirk-nya yang dapat meluluhkan hati gadis siapapun yang melihatnya, termasuk auhtor. “Kalau aku bilang aku pindah ke sini karena ada kau. Kau akan percaya padaku?”

Eh? Maksudnya apa?

Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku sebelum Seokjin menyadari wajahku yang sudah semerah tomat. Lalu Seokjin tertawa sambil menepuk punggungku dua kali. Ia mencondongkan badannya ke arahku membuatku bergeser menjauhinya.

“Aku hanya bercanda, kau tahu?” bisiknya tepat di telingaku membuat jantungku berdetak tak karuan.

Sialan kau Kim Seokjin !

Baru saja aku ingin membalas bisikan Seokjin, namun tidak jadi begitu melihat Jungkook berdiri tidak jauh dari tempatku duduk. Jungkook tengah menatapku tajam –dengan nampan di tangannya– sebelum akhirnya ia memilih untuk duduk sendirian.

Aku yang melihat hal itu tanpa berpikir dua kali langsung berniat menemani Jungkook duduk. Dengan perlahan aku mengangkat nampanku. “Kamu mau kemana?” tanya Seokjin.

Aku tersenyum penuh arti. “Maafkan aku, aku ingin menemani temanku duduk.” Setelah mengatakan itu aku mengahampiri meja dimana Jungkook berada. Suara decitan bangku terdengar membuat Jungkook menatapku dengan heran.

Aku menaruh nampanku lalu duduk di hadapan Jungkook. “Hey Kookster.” Sapaku dengan senyuman terbaikku.

Jungkook yang tadinya memperhatikanku kini ia membuang muka. “Untuk apa kau ke sini?” tanyanya dengan nada yang tidak bersahabat membuatku senyumku luntur seketika.

Namun cepat-cepat aku kembali menunjukkan senyum terbaikku. “Untuk menemani sahabatku.” Ucapku pada akhirnya.

Jungkook langsung menghentikan aktivitas makannya. “Pergi.” Usirnya. Aku mengerutkan dahiku. Apa ada yang salah dengan ini? Dengan aku yang menemani Jungkook makan, menemani sahabatku sendiri. Apa itu salah??

“Tapi aku─”

“Pergi !” teriaknya, membuat seisi kantin menatap Jungkook dengan bingung. Kecuali aku. Aku satu-satunya orang yang menatap Jungkook dengan mata berkaca-kaca.

“Aku tidak mau.” bantahku keras kepala.

BRAK !

Jungkook menggebrak mejanya. Aku tersentak, begitu juga dengan seisi kantin yang kini menatap Jungkook dengan penasaran. Suasana di kantin menjadi hening seketika.

“Sudah ku bilang pergi ! Tak bisakah kau tidak menguntitku hanya dalam sehari saja? Berhenti mengikutiku. Urus urusanmu sendiri !” bentak Jungkook murka. “Lalu bisakah kau pergi─dari hidupku? Jangan dekat-dekat denganku lagi.” pintanya dengan volume di kecilkan. Lalu setelah itu ia pergi meninggalkanku.

Aku bergeming di tempat. Dadaku terasa sesak, juga sakit. Seakan-akan ada ribuan benda tumpul menusuk nusuk dadaku. Membuat mataku menjadi panas. Membuat napasku menjadi tidak beraturan. Membuatku menangis dalam diam. Tidak terisak juga tidak sesegukan. Hanya menangis tanpa suara.

Lalu tiba-tiba satu pertanyaan terlintas di otakku.

Sejak kapan Hyuster berubah menjadi cengeng seperti ini?

# # # # #

Author’s Pov

“Apa kau nyaman menangis disini?”

Seseorang menyodorkan sebuah sapu tangan kepada Hyura. “Kau jelek saat menangis.” Ucap orang itu lagi membuat Hyura sejenak menatap sapu tangan yang berada di hadapannya.

“Hapus air matamu pakai ini.” Pinta orang itu sambil menggerak-gerakkan sapu tangannya.

“Atau kau ingin aku yang menghapus air matamu?” tawar orang itu.

Hyura mulai menoleh ke kiri lalu mengangkat wajahnya–menatap orang itu–, namun ia tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Huh sepertinya memang harus aku yang menghapus air matamu.” Tiba-tiba orang itu berlutut di sebelah Hyura , posisinya mirip seperti seorang pria yang hendak melamar pacarnya.

Untuk yang kesekian kalinya Hyura berhasil menarik perhatian para penghuni kantin. Namun kali ini responnya berbeda. Dari yang tadinya merasa prihatin karena Hyura di usir Jungkook, sekarang merasa dengki karena idola baru mereka sedang berlutut di samping Hyura.

“Kenapa kau baik sekali Kim Seokjin?”

Hyura menatap lurus manik mata Seokjin. Seokjin mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu. Namun Seokjin tidak mengatakan apa-apa. Ia menganggap pertanyaan itu seperti angin berlalu.

Kenapa ia tidak menjawab pertanyaan Hyura? Mungkin terasa aneh, tapi ia benar-benar tidak tahu jawabannya. Kenapa ia baik kepada Hyura? Ia sendiri juga tidak tahu.

Sret…..

Seokjin menghapus air mata Hyura menggunakan ibu jarinya. Hyura terkejut. Begitu juga dengan seisi kantin. Mereka menatap Seokjin dengan tatapan tidak percaya.

“Seokjin oppa. Jangan lakukan itu ! Kami sebagai fans barumu merasa kecewa !” seorang gadis berteriak histeris, membuat seisi kantin beralih menatapnya. Namun akhirnya mereka semua mengangguk, merasa setuju dengan perkataan gadis itu.

Berita tentang kepindahan tiga murid tampan itu nampaknya telah menyebar luas di Cheongdam High School. Membuat seluruh murid perempuan di Cheongdam High School menjadi gempar dan mereka semua langsung memilih untuk menjadi fans baru ketiga murid baru itu.

“Sepertinya ini bukan tempat yang baik.” Seokjin berdesis kesal. Ia bangkit lalu langsung menarik tangan Hyura, mengajaknya untuk pergi.

Hyura hanya pasrah dan mengikuti Seokjin. Saat ia bangkit, ia dapat mendengar cibiran juga makian yang di tujukan kepadanya. Ia ingin menangis lagi, namun cepat-cepat Seokjin menguatkan genggaman tangannya –berusaha menguatkan Hyura. Hyura mengerti, ia hanya mengangguk dan mulai menulikan pendengarannya. Ia tidak akan peduli dengan cibiran dan makian tersebut, karena Seokjin bersamanya. Ia merasa aman.

Akhirnya Seokjin dan Hyura keluar dari ruangan kantin. Suga dan Jimin yang melihat kelakuan Jin hanya menggelengkan kepalanya. “Ada apa dengannya?” Tanya Jimin heran.

Suga menyeruput minumannya lalu menatap punggung Jin dan Hyura yang semakin menjauh. “Sepertinya ia sedang jatuh cinta.” Suga menjawabnya dengan asal.

Ini akan menjadi menarik. Gumam Suga dalam hati.

# # # # #

“Maaf ya aku kembali mengajakmu ke perpustakaan. Aku tidak tahu harus mengajakmu kemana. Dan aku juga tidak tahu ruangan lain selain ruang kelas, ruang kantin dan ruang perpustakaan. Jadilah  aku mengajakmu kesini.” Seokjin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“Kau tidak perlu repot-repot. Kita kan bisa kembali ke kelas.” Ucap Hyura dengan suara serak khas-khas orang menangis.

Seokjin mendelik ke arah Hyura. “Kau ingin ke kelas lalu bertemu dengan temanmu yang brengsek itu?” Tanya Jin sakartis.

Hyura terkejut. Benar juga, mungkin saja Jungkook ada di kelas. Dan aku TIDAK INGIN menemuinya untuk saat ini. Batin Hyura. Lalu ia tersenyum miris kepada Jin. “Yeah kau benar. Ia memang brengsek dan aku tidak ingin menemuinya,” untuk saat ini. Lanjut Hyura dalam hatinya.

Seokjin mengangguk. Dan tepat setelah ia mengangguk bel masuk kelas berbunyi. Hyura dan Seokjin saling tatap. “Kalau kau masih ingin di sini, tidak apa-apa aku akan menunggumu.” Ucap Jin pada akhirnya.

Hyura menggelengkan kepalanya. “Tidak aku ingin ke kelas saja.”

Seokjin pun menganggukkan kepalanya mengerti. “Baiklah ayo kita ke kelas.” Seokjin mengulurkan tangannya kepada Hyura membuat Hyura mengernyit heran. Melihat tingkah Hyura, Seokjin menghela napas sesaat sebelum akhirnya ia menarik tangan Hyura. “Kita ke kelas bersama.”

Hyura mengangguk. Mereka pun meninggalkan ruang perpustakaan yang untungnya sudah sepi. Bagus. Aku aman dari fans-fans nya Seokjin –untuk saat ini, gumam Hyura dalam hatinya.

Mereka terus berjalan berdampingan sampai akhirnya Hyura menghentikan langkahnya. Tiba-tiba ia teringat bahwa sekarang wajahnya pasti sedang sangat berantakan, mengingat ia habis menangis dan ia tidak mungkin masuk ke kelas dengan wajah berantakan seperti itu bukan? Itu hanya akan membuatnya terlihat lebih menyedihkan di depan teman-teman sekelasnya.

“Um, Seokjin. Aku rasa aku harus ke toilet. Aku tidak bisa masuk kelas dengan wajah berantakan seperti ini.” Hyura menunjuk wajahnya, yang kenyataannya memang sedang dalam keadaan buruk. Mata bengkak, rambut awut-awutan, hidung memerah, dan lain sebagainya.

“Oh.” Seokjin berpikir sesaat, sambil memandangi wajah Hyura. “Baik kalau begitu aku akan mengantarmu dan menunggumu.” Ucap Jin dengan nada memaksa.

“Tidak ! Tidak perlu. Nanti fans-fans barumu itu malah mengamuk padaku.” Hyura mengerucutkan bibirnya. “Biarkan aku ke toilet sendiri. Kau tidak ingin di bilang maniak bukan?” Hyura memicingkan matanya.

Seokjin berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. “Ah arra. Aku akan ke kelas. Sepertinya Hyura yang biasanya telah kembali. Lihat tadinya menangis sekarang malah berkata sinis.” Perkataan Jin membuat Hyura memukul lengan Jin. “Baiklah. Jangan lama-lama di toilet dan….. hati-hati Hyura.” Seokjin mengacak rambut Hyura.

Hyura terdiam sesaat. Sentuhan Seokjin membuatnya sesaat lupa bagaimana caranya bernafas. Yup ! Ia menahan nafasnya, jantungnya berdetak cepat, dan juga ia merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.

Ini aneh. Gumamnya di dalam hati.

Hyura langsung tersadar, ia pun menganggukkan kepalanya mengerti. Ia langsung berlari ke arah toilet yang berada di ujung koridor –mengabaikan Seokjin yang tengah menatapnya dengan bingung.

Hyura terus berlari. Dan sepertinya ia tidak menyadari, bahwa ada tiga orang yang sedang menguntitnya saat ini.

# # # # #

Warning ! Ada sedikit kata-kata kasar disini

 

Hyura membasuh mukanya sekali lagi lalu ia menatap pantulan wajahnya di cermin. “Tidak terlalu buruk.” Hyura menghela napas lega.

Tiba-tiba Hyura merasakan hasrat buang air kecil yang tidak dapat di tahan lagi. Ia berpikir, apa tadi aku minum terlalu banyak?. Hyura menangguk, sepertinya iya.

Tanpa aba-aba lagi ia langsung masuk ke salah satu bilik toilet.

“Huuuuh leganya.” Gumamnya setelah mengeluarkan hasratnya tersebut. Ia merapihkan seragamnya sejenak, baru setelah itu ia mengangguk puas. “Baik aku sudah siap.”

Ia membuka pintu toilet, tapi sialnya pintu itu tidak mau terbuka. Ia mencoba lagi dan hasilnya tetap sama. Toiletnya tetap tidak mau terbuka.

“Apa pintunya rusak?” Tanya Hyura keheranan. Ia memutar kenop pintu toilet dengan hati-hati dan tetap tak ada yang terjadi. “Aneh, aku rasa pintu ini baik-baik saja. Tapi kenapa aku tidak dapat membukanya?”

Lalu tiba-tiba lampu di dalam toilet itu mati. Hyura melonjak kaget. Ia merasa badannya mulai bergetar. Ia takut kegelapan.Benar-benar takut kegelapan. “Jo-jogiyooo. Apa ada orang di luar?” Tanya Hyura dengan suara bergetar.

“Jogiyo. Apa ada orang di luar?” tanyanya sekali lagi.

Suara cekikikan terdengar, membuat Hyura menciut begitu saja. “Siapapun  kalian tolong bukakan pintunya. Nyalakan lampunya.”

“Rasakan itu perempuan jalang.” Seorang gadis menendang pintu toilet Hyura.

“Makanya jangan pernah sekali-kali menggoda Seokjin. Dia hanya milik kami.” Ucap seorang gadis yang lainnya. Hyura sadar, ada lebih dari satu orang yang berbicara di luar sana.

“Selamat bersenang-senang wanita jalang.” Ucap gadis yang lain lagi dan juga dengan nada dan intonasi yang berbeda. Hyura yakin sekali, sepertinya ada tiga orang yang sedang mengurungnya di dalam toilet ini.

Setelah itu terdengar suara langkah kaki menjauh dan juga terdengar suara bantingan pintu. Sepertinya tiga orang itu telah keluar dari toilet ini, pikir Hyura.

“Brengsek.” Hyura mendobrak pintunya dengan kasar. Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa seseorang mengunci pintu toiletnya?

Hyura mendobrak sekali lagi, namun hasilnya tetap sama. Pintu toiletnya tetap tidak mau terbuka.

“Tolong ! Tolong aku ! Aku terkunci disini.” Hyura berteriak sekencang-kencangnya. Berharap ada seseorang yang mendengarnya.

Usahanya sia-sia. Letak toilet ini berada di ujung koridor. Dan jarang sekali ada yang berlalu lalang di tempat ini. Apalagi sekarang bel masuk sudah berbunyi.

Hyura merinding. Ia ketakutan. Ia benci dengan apapun yang berhubungan dengan gelap. Dan sekarang ia merasakannya. Merasakan kegelapan.

“Eomma… Appa….” Panggilnya dengan suara bergetar. “Aku takut.” Lanjutnya lagi.

Hyura tidak tahan. Ia langsung jatuh terduduk sambil memukul pintu toilet yang tidak kunjung terbuka. Setelah itu ia menangis. Ini bahkan sudah yang kedua kalinya ia menangis untuk hari ini.

Hyura merutuki air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir. Kenapa aku jadi cengeng seperti ini? Kenapa?

“Seseorang tolong aku. Bukakan pintunya.”

“Jungkook ku mohon tolong aku.”

●○●○●

 

Ok aku sadar ini adalah chapter terpanjang yang pernah aku buat /tepuk tangan/ dan juga ini chapter termaksud yang pernah aku bikin. Huah aku aja bingung sama jalan ceritanya apalagi kalian? >.<

Dan aku di chapter ini bener-bener nyiksa si Hyura ya? *tolong jangan gebukin aku >.<* Aku juga gatau kenapa aku jadi kejam gini. Muehehee aku juga gak ngasih summary untuk chapter berikutnya biar gak pada penasaran😉 Tapi sedikit bocoran. Bersiap-siaplah karena untuk chapter selanjutnya bakalan ada adegan Suga-Hana. *eh gatau juga deng*

Hehehe >w< Ok segini aja, aku pengen tau respon kalian. Chapter ini bener-bener gembel atau enggak atau jangan-jangan masih kurang panjang? Kalau masih ada adegan yang membingungkan silahkan, kasih tau aku aja ya lewat komen😉 Kalau ada yang mau saran ataupun kritik atau apapun itu juga gapapa kok itu malah bikin aku makin semangat >w<

E-Ehmmmm…. Mulai sekarang jangan panggil aku thor thor ya?😀 Panggil aku rika aja atau arika ok? Ok?😉

Oh iya soal Rae Mi… Save Me ! Aku mau nunda ff itu dulu. Tapi aku juga gatau ff itu mau di lanjut atau enggak soalnya ideku macet di tengah jalan. Jadi aku tunda dulu deh untuk RMSM. *Ampuni rikaaaa >.<*

Ok segitu aja. Aku pengen tahu masih ada yang nunggu ff ini atau enggak kkk~ dan juga aku mau nanya dong sama kalian. Kalian lebih suka Hyura-Jungkook atau Hyura-Seokjin? Vote ya vote? Wkwkwk~

Dadaaaah readersku ({}) sampai bertemu lagi di chapter berikutnya. RCL jangan lupa. Kalau respon kalian dikit, aku jadi males ngelanjutinnya ^_~

About fanfictionside

just me

20 thoughts on “FF/ HE CHANGE BECOME A MONSTER/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Hi Rika yg gak mau dipanggil thor thor😀
    akhirnya part 2nya nongol juga..
    aaaaa kasihan amat itu Hyura.. Apa salah Hyura? Etdah..
    Tetep penasaran kenap Jeongguk berubah gitu? Apa ada hubungannya sama Suga? Ya kali aja dulu waktu Hyura disekap Suga ngancem Jeongguk gitu /apa hubungannya?/😄
    bisa nggak next part dikasih tau alasan Jeongguk berubah jadi Ice Man(?) gitu?
    Aku pengennya Hyura sama Jeongguk aja.. Nah nanti semoga yg nolongin Hyura juga Jeongguk :3😀

  2. Hay rika part ini seru loh🙂 next chap jangan lama2 ne ? hbis itu ntar ending nya Hyura sama Jin aja ya ?? Plisssseu ?

  3. Authoorrrr sumveh itu si jungkook minta di tampol kalo aku yang jadi cewenya mah udah aku gebok -_- Hyura move on nih? ._. Kalo aku sih HYURA – JUNGKOOK soalnya jin bukan bias ku/? *ga ada hubungannya .-.* jadi kalo si jin mau gitu kek begono kek aku sih oke/? Itu jungkook lama lama gue cipok pake kaki nih -_- Kookster = Jungkook Monster. Kookster = Jungkook Gangster/? Jungkook jadi gangster aja sekalian/? Nanti kalo jungkook ga sama hyura di endingnya nanti aku….aku…..aku..kasih author si jin ifrit/? Sama si gula/? *ceritanya ngancem/?* pokoknya aku cinta happy ending *<–ga penting* lope lope buat author semoga bisa terus ngelanjutin cerita ini moah :*

  4. aku sih mending hyura-jungkook ya soalnya jungkook bias banget wkwk. pls kasitau kenapa jungkook bs marah gitu ke hyura soalnya kasian juga dia, terus jangan buat jungkook marah terus dong kasian hyura nya ya rikaT__TT

  5. Kalo saya nurut ama mbake wae lah,,🙂 mau Hyura sama Jin atau sama Jeonkook aku setuju aja,orang tinggal baca :v

  6. fuuuhhh.. lap kringet *lebay
    lumanyun eh lumayan panjang rika..🙂
    jungkook knp marah sma hyura.. aduh kasian bgt hyura kena bully mulu.. sedih byngin dy dkunciin…
    bnr2 gk pny prasaan mereka.. ;(
    aish lanjuuutttt..
    jgn klamaan…
    geram bgt sma sikapa nya jungkook n cwe2 itu.. ;(

  7. alasannya jimin enak banget ya. jungkook kenapa sih jadi monster ? galak,jahat lagi. chapter selanjutnya alasan jungkook jd monster begitu ya ya ya penasaran nih.

  8. Hey rika. Aku suka bgt ffnya,
    tapi aku msh bingung knp sikap jungkook ky gt.. But, kalau saran, endingnya buat tambah gregetin lgi ya :3 misalnya, ada suara sepatu (kuda) hehe

  9. hallo ^^ maap baru komen di chapter ini. salam kenal rika🙂
    ah di chapter satu rika bilang bahasa rika amburadul bla bla bla, tp sejak baca sampe chapter ini aku rasa gak amburadul kok. bahasanya ringan dan bisa ngalirin suasana sm jalan cerita ff ini. enggak ngebosenin gtu bacanya ^^
    jujur aja banyak plot yg mengundang rasa penasaran yg tinggi, tp okelah ditahan saja sampe chapter2 berikutnya. jd tolong dilanjut ya ff ini🙂 keep writting mah pokoknya ^0^
    buat votenya, seriusan aku bingung >< seok-jinnie itu ultimate aku my beloved dan jung-kookie little boy aku. gak tau musti pilih yg mana TAT

  10. Oke rika,,🙂
    Msh pnsaran, knp jungkook bsa brubh kx gtu, moga part slnjutny bsa d jlsin.
    Suka sh hyura seokjin, cma lebih condong ke hyura jungkook, mgkin krna prubhan skap jungkook kali ya^^
    Atau mgkin jungkook jg suka ma hyura?? Soal ny sblum ny jungkook perhatian bgt noh ma hyura.
    Part3 ny jgn lma” ne,, ni slh satu ff yg aku tunggu”
    Dan mian, part1 ny gg bsa coment, krn bru bca hri ni😀
    Jd coment ny d part ke2 aj gpp kn??
    Hwaiting rika^^

  11. lanjut thor!!! buat hyura jadi lebih berani dong ke jongkook!!!! udah jongkook sama hyura aja # maksa !!! abaikan!!!!!!

  12. haii rika^^
    ff ini kerenn
    duhduh sedihnya hyuraaaT_T
    banyakin hyura-jungkook dong aku shipper merekaa, hihi;D
    lanjuttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s