FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Author : @ismomos ♔ (author tetap)

 

Cast :

– Kim Taehyung/V (BTS)

– Park Hayoung (OC)

– Min Yoongi (BTS)

– Park Miyoung (OC)

 

Support Cast :

– Park Jimin

– Jung Hoseok

– Kim Namjoon

 

Genre: Romance, Fantasy, Kekerasan, School Life

 

Length : Chapter

 

A/N: Author minta maaf sebelumnya karna ada beberapa kata yang cukup kasar dalam part ini. I hope you like this part. Enjoy!^^

 

PhotoGrid_1400297989852

 

*flashback part 1*

 

“Kau masih berani datang ke sekolah setelah apa yang kau lakukan kemarin pada Jang songsaemnim?”

Yoongi menatap Taehyung dengan tajam. Hayoung melirik ke arah Taehyung dengan takut, wajahnya masih biasa saja, malah Taehyung menatap Yoongi dengan tatapan heran.

“Aah apa kau tidak mengingatnya? Mau ku ingatkan? Karena seluruh murid di sekolah ini pun sudah mengetahuinya.” kata Yoongi masih dengan senyum liciknya.

‘Jangan bicara lagi Min Yoongi! Jangan ingatkan Taehyung akan hal itu!’  jerit Hayoung dalam hati. Entah kenapa ia jadi sulit untuk mengeluarkan suara.

“Seorang Kim Taehyung yang terkenal baik hati tak kusangka kalau ia nekat—–”

PLAAAAK!!!!

Ucapan Yoongi terhenti saat tiba-tiba ada sesuatu yang mendarat dipipinya. Hayoung baru saja menamparnya!

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Author’s pov*

 

Teriakan tertahan terdengar hampir di seluruh sudut koridor saat Hayoung menampar pipi Yoongi. Suara itu berasal dari para murid yang berada di koridor untuk melihat apa yang terjadi antara Taehyung, Hayoung dan Yoongi.

Bahu Hayoung naik turun, menahan emosi. Ia dapat merasakan telapak tangannya memanas dan bergetar setelah ia menampar pipi Yoongi. Tentu saja, gadis itu menampar Yoongi dengan sangat keras, hal itu juga menyebabkan pipi Yoongi memerah.

“Kau……….”

Yoongi membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wajahnya yang sudah memerah akibat tamparan tadi, semakin memerah karna ia tengah menahan emosi. Tangannya terkepal kuat, takut tanpa sadar ia melakukan sesuatu yang dapat mencelakai Hayoung. Bagaimanapun juga ia adalah seorang lelaki yang tidak mungkin bersikap kasar kepada seorang gadis.

“Berhenti mencampuri urusan orang lain, Min Yoongi! Urusi saja urusanmu sendiri!”

Hayoung berkata dengan nada dan tatapan yang sangat tajam, lalu ia langsung menarik lengan Taehyung untuk segera mengikutinya. Taehyung yang dari awal tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya mengikuti langkah Hayoung dengan patuh.

Sementara itu Yoongi masih menatap kepergian dua orang itu dengan tatapan benci. Nafasnya tersengal, masih sekuat tenaga menahan emosi. Para murid yang tadi melihat kejadian itu langsung pergi meninggalkan koridor sekolah. Mereka tidak mau menjadi sasaran kemarahan Yoongi, karena mereka sudah tahu betapa menyeramkannya Yoongi saat lelaki itu sedang marah.

“AAAAAAARRRGGGHHHHHH.”

Yoongi berteriak kesal sambil menendang tempat sampah yang berada di dekatnya sampai isi dari tempat sampah itu berceceran ke lantai. Ya, tempat sampah yang malang itulah yang akhirnya menjadi sasaran kemarahan seorang Min Yoongi.

 

 

*     *      *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

Aku masih menarik lengan Taehyung agar ia mengikutiku sampai ke kelas. Namun tiba tiba Taehyung menghentikan langkahnya, membuatku menatapnya heran.

“Kenapa?”

“Masih ada waktu 20 menit sebelum bel tanda masuk. Sebaiknya kita ke uks dulu. Tidak bagus masuk ke kelas dengan keadaanmu yang seperti ini. Kajja.”

Kali ini Taehyung yang menarik lenganku dan menuntunku menuju uks. Kemarahan ku pada Yoongi benar-benar membuatku melupakan lelaki yang tengah berada di depanku saat ini. Aku lupa kalau tindakan bodohku tadi bisa saja membuat sosok itu muncul kembali. Tapi melihat keadaan Taehyung yang tenang, membuatku bersyukur sosok itu tidak muncul dan membuat keadaan semakin kacau.

“Kau duduk disini.”

Taehyung meyuruhku duduk di salah satu ranjang yang ada di uks. Kemudian ia berjalan menuju ke arah dispenser, membuatkan sesuatu untukku. Aku menatapnya yang tengah membelakangiku. Tak lama ia sudah membawa segelas teh hangat dan memberikannya untukku.

“Minum ini.. semoga bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik.”

“Terima kasih…” kataku sambil menerima teh itu dari Taehyung.

Ia hanya tersenyum. Ah.. Kim Taehyung. Andai saja kau tahu, senyummu itu lebih menghangatkan dari segelas teh yang kau bikinkan untukku. Aku hanya ingin melihatmu terus tersenyum seperti itu.

Aku meminum teh itu perlahan. Benar kata Taehyung, setelah meminum ini perasaanku jauh lebih baik.

“Park Hayoung? Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Kenapa Yoongi dan murid yang lain menatapku seperti itu? Dan… kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?”

Aku nyaris tersedak saat mendengar Taehyung menanyakan hal itu padaku. Aku menatap matanya dan seketika aku terhenyak. Aku melihat kesedihan terpancar dari mata Taehyung. Aku tidak tahu pasti apa yang membuatnya sedih. Ini pertama kalinya Taehyung memancarkan kesedihan dari matanya,-yang biasanya menatapku dengan tatapan hangat-.

Aku menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Taehyung.

“Ah itu… Hm.. Sebenarnya——”

“Ternyata kalian disini. Aku sudah mencarimu kemana-mana Taehyung.”

Tiba-tiba ada murid lain yang masuk ke dalam uks. Park Jimin. Aku menghela nafas lega. Karena kedatangan Jimin, aku tidak jadi menjelaskan kepada Taehyung.

“Ne? Ada apa?” tanya Taehyung sambil menatap Jimin heran.

“Han songsaemnim menyuruhmu untuk menemuinya d ruang konseling.”

Kalimat Jimin membuatku menatap ke arahnya, bertanya “ada-apa” lewat tatapanku. Namun Jimin hanya mengedikkan bahu, menunjukkan kalau ia juga tidak tahu.

“Benarkah? Ah baiklah kalau begitu. Hayoung-ah aku ke ruang konseling dulu ya.”

Taehyung hendak pergi meninggalkanku, namun aku langsung menarik ujung seragamnya sehingga Taehyung menghentikan langkahnya.

“Tae, apapun yang dikatakan Han songsaemnim kau hanya perlu mendengarkan dan jangan membantahnya. Arra?” kataku dengan sedikit memohon.

Awalnya Taehyung menatapku dengan heran, namun pada akhirnya ia mengangguk juga. Ia pun berjalan meninggalkanku dan Jimin di uks.

“Aku benar-benar mengkhawatirkannya, Jimin-ah.” kataku sambil menunduk.

Entahlah memikirkan apa yang akan terjadi pada Taehyung nantinya selalu membuatku sedih. Jimin menepuk bahuku dengan lembut, mencoba menenangkanku.

“Kau tidak sendiri, Hayoung. Aku akan membantumu untuk melindungi Taehyung.”

 

 

*     *     *     *     *     *      *     *

 

 

*Author’s pov*

 

Han songsaemnim menatap Taehyung sambil memijat keningnya sendiri. Padahal hari masih pagi namun ia sudah dipusingkan dengan kelakuan salah satu muridnya. Pagi ini Han songsaemnim,-wali kelas Taehyung-, sudah menerima beberapa laporan dari para murid dan guru yang lain tentang kejadian yang menimpa Taehyung dan Jang songsaemnim.

Han songsaemnim sendiri tidak ada di sekolah kemarin. Ia harus menghadiri rapat dengan beberapa guru di sekolah lain. Karena itu ia tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya.

“Kau sadar dengan apa yang kau lakukan kemarin?” tanya Han songsaemnim pada Taehyung.

Sebenarnya Taehyung ingin menanyakan apa yang sebenarnya ia lakukan sampai ia harus dipanggil oleh wali kelasnya. Namun ia memilih untuk tidak bertanya atau menjawab pertanyaan Han songsaemnim. Ia teringat kata-kata Hayoung.

Han songsaemnim menggelengkan kepalanya saat melihat Taehyung hanya diam dan memasang tampang tidak tahunya.

“Ah sudahlah, karna Jang songsaemnim juga tidak mempersalahkan masalah ini lebih lanjut, untuk sekarang aku memakluminya. Tapi ku harap kau tidak melakukan hal seperti itu lagi, Kim Taehyung. Aku percaya kau adalah murid yang baik. Sekarang kau ke ruang guru. Temui Jang songsaemnim dan minta maaflah padanya.”

Taehyung menganggukan kepalanya, meskipun ia masih bertanya-tanya dalam hati. Ia membungkukan badannya kepada Han songsaemnim sebelum ia keluar dari ruang konseling.

“Aigoooo aku tidak menyangka murid seperti kau berani membentak guru seperti Jang songsaemnim, Kim Taehyung.” gumam Han songsaemnim lebih kepada dirinya sendiri.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Jang songsaemnim baru saja sampai di ruang guru, saat Taehyung sudah berdiri di depan mejanya.

“Ada apa menemuiku?” tanya Jang songsaemnim dengan nada datar.

Meskipun ia sudah tidak mau membahas kejadian kemarin, tqpi tetap saja saat melihat wajah Taehyung, ia kembali mengingat bagaimana sikap kurang ajar murid itu kepadanya.

Taehyung membungkukan badannya ketika Jang songsaemnim sudah duduk ditempatnya. Hal itu membuat Jang songsaemnim mengernyit heran melihat sikap Taehyung yang sangat berbeda dengan kemarin.

“Meskipun aku tidak tahu apa yang aku lakukan kemarin, aku ingin minta maaf karena sepertinya aku sudah melakukan kesalahan yang besar padamu, saem.” kata Taehyung sambil membungkukan badannya, lagi.

Kalimat Taehyung membuat Jang songsaemnim tersentak. Apa dia tidak salah dengar? Taehyung tidak tahu apa yang telah dilakukannya?

“Yak! Bagaimana bisa kau tidak ingat kejadian yang baru saja terjadi kemarin, huh? Kau sedang tidak bercanda kan, Kim Taehyung?!”

Jang songsaemnim berbicara sambil menggebrak mejanya, tidak terlalu keras. Taehyung menatap Jang songsaemnim dengan tatapan takut. Ia benar-benar merasa frustasi karna sepertinya hanya dirinya yang tidak mengingat kejadian itu. Apakah ada yang salah dengan ingatannya?

“Maafkan aku. Tapi aku benar-benar tidak tahu, saem..” kata Taehyung sambil menunduk.

Raut wajah Jang songsaemnim langsung berubah saat melihat ekpresi Taehyung. Sangat berbeda dengan tatapan tajam yang Taehyung tunjukkan kemarin, sekarang lelaki itu menatap dirinya dengan tatapan frustasi.

“Sudahlah, sebaiknya kita tidak mengungkit kejadian ini lagi. Aku tidak tahu kau berpura-pura tidak mengingatnya atau kau memang benar-benar lupa. Tapi permintaan maafmu ku terima. Jangan melakukan hal bodoh itu lagi Taehyung. Hanya keledai yang melakukan kesalahan yang sama dua kali.”

“Terima kasih, saem. Aku sangat berterima kasih..”

Taehyung kembali membungkukan badannya, sebagai ucapan terima kasih dan permintaan maafnya, lalu ia berjalan meninggalkan ruang guru. Jang songsaemnim masih menatap punggung Taehyung yang menjauh sampai sosok itu hilang di balik pintu.

 

 

*     *      *     *     *     *     *     *

 

 

Yoongi meremas kaleng minuman yang sudah habis diminumnya, sampai kaleng itu penyok di bagian tengah. Pikirannya benar-benar sangat kacau saat ini. Sakit yang ada di pipinya,-bekas tamparan Hayoung-, memang sudah hilang. Namun tidak untuk sakit yang ada di dalam hatinya.

Panasnya matahari membuat hati Yoongi semakin panas. Sekarang Yoongi sedang berada di lapangan atas sekolahnya. Ia tak peduli kalau ia sudah melewatkan dua jam pelajaran di kelasnya. Kejadian tadi pagi benar benar membuat sakit hati yang di alaminya terkuak kembali, karena alasan yang sama.

Ia tidak mempersalahkan bagaimana cara Hayoung mempermalukannya dengan menampar kedua pipinya di depan murid yang lain di koridor sekolah. Ia sama sekali tidak mempersalahkan hal itu. Yang ia permasalahkan hanya satu, bagaimana cara Hayoung membela Taehyung. Ia benci melihat Hayoung terus berada di sisi Taehyung. Ia benci melihat Hayoung terus membela Taehyung. Ia benci melihat Hayoung lebih memilih Taehyung dibanding dirinya. Ia benci mengingat bagaimana cara Hayoung menolak cintanya, demi Taehyung.

 

*fladhback on*

 

 

     Hayoung menutup pintu lokernya setelah ia memasukkan beberapa buku yang tidak dibawanya pulang. Ia memastikan pintu lokernya sudah terkunci sebelum ia meninggalkannya. Siapa sangka saat ia membalikkan badan sudah ada sosok Yoongi tepat berada di belakangnya. Hal itu membuat Hayoung tersentak kaget.

     “Min Yoongi? Bukankah loker kelasmu ada disana? Kenapa kau malah kesini?”

     Yoongi menatap Hayoung dengan lekat dan senyum terukir di bibirnya. Lelaki itu masih diam saja, tidak mengatakan apapun.

     “Ada apa?” tanya Hayoung akhirnya. Ia jengah dengan sikap Yoongi.

     Bukannya menjawab pertanyaan Hayoung, Yoongi malah semakin mendekatkan diri pada Hayoung, membuat gadis itu terhimpit antara badan Yoongi dan lokernya. Tangan Yoongi yang bersandar pada loker, membuat sedikit ruang untuk badan gadis itu.

     Hayoung sampai harus menahan nafas saat wajah Yoongi benar-benar sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan ia dapat mencium aroma mint dari hembusan nafas Yoongi.

     “Aku menyukaimu, Park Hayoung. Jadilah pacarku.” kata Yoongi yang lebih terdengar seperti orang yang memberi perintah dibanding seperti orang yang sedang menyatakan cintanya.

     Hayoung mengerjapkan matanya berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Kalau saja akal sehatnya tidak berfungsi saat ini, pasti ia sudah terbuai dengan pesona Yoongi yang membuat seluruh gadis tergila-gila pada lelaki itu.

     “Jangan gila kau!”

     Sekuat tenaga Hayoung mendorong badan Yoongi agar menjauh darinya, sehingga membuat badan lelaki itu terhuyung ke arah loker yang ada di hadapan Hayoung.

     Mungkin kalau orang lain yang melakukan itu padanya, Yoongi akan langsung membalas dengan memukulnya. Tapi yang melakukannya saat ini adalah Hayoung. Tidak mungkin ia memukul gadis yang disukainya itu.

     “Jadi bagaimana? Kau mau kan jadi pacarku? Ah ayolah Hayoung, banyak gadis yang ingin mendengarkan kata-kata itu dari mulutku. Dan kau. Hanya kau yang mendapatkan pernyataan itu dariku.” kata Yoongi sambil menunjukkan smirk-nya yang membuat Hayoung mendengus kesal.

     “Silakan bermimpi, Min Yoongi! Tapi aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan pernah mencintaimu!”

     Yoongi membulatkan matanya, kaget mendengar jawaban Hayoung. Namun dengan cepat ia menutupi kekagetannya dengan kembali menaikkan sebelah sudut bibirnya, membentuk sebuah smirk.

     “Ah jadi kau menolakku, ya? Apa ini semua karna Kim Taehyung?” tanya Yoongi dengan dingin, meskipun senyum khasnya masih terbentuk di bibirnya.

     Hayoung dapat mendengar ada penekanan saat Yoongi menyebutkan nama Taehyung.

     “Ya, aku menolakmu karna Taehyung. Setidaknya dia bukan pembuat masalah di sekolah sepertimu. Dia… dia jauh lebih baik darimu, Min Yoongi.”

     Yoongi tertawa miris, sebenarnya ia sudah bisa menebak alasan itu. Namun tak ia sangka mendengarnya langsung dari bibir Hayoung benar-benar membuat hatinya sakit.

     “Lebih baik kau cari gadis lain untuk kau permainkan. Aku sama sekali tidak tertarik padamu.”

     Kali ini Hayoung yang menunjukkan smirknya pada Yoongi, dan gadis itu langsung meninggalkan Yoongi yang masih terpaku. Tanpa Hayoung sadari, Yoongi masih menatap dirinya dengan mata memerah. Lelaki itu sedang mencoba menahan marah dan rasa sakit di hatinya.

 

 

*flashback off*

 

 

     Yoongi melempar kaleng minuman yang dipegangnya lalu menginjaknya dengan kesal. Ia selalu tidak dapat menahan emosinya setiap mengingat kejadian itu. Kejadian saat Hayoung menolak cintanya. Baru kali itu ada seseorang yang berani menolaknya.

“Sudah kuduga kau disini.”

Tiba-tiba ada yang datang ke lapangan atas sekolah.

Yoongi menoleh sekilas ke arah orang yang baru saja datang, namun ia langsung membuang pandangannya saat ia mengetahui siapa yang datang. Jung Hoseok,-sahabatnya-.

Hoseok berjalan mendekati Yoongi dan merebahkan diri di salah satu bangku yang ada di lapangan atas, ia berbaring di sebelah Yoongi.

“Kenapa kau tidak bilang kalau mau membolos, huh? Tega sekali kau membiarkanku mati kebosanan di dalam kelas.”

Yoongi mencibir ucapan Hoseok, tidak peduli dengan apa yang dikatakan lelaki itu.

“Merasa malu, huh? Ditampar oleh gadis yang kau sukai di depan banyak orang.”

“Diam kau!”

Hoseok tidak dapat menahan tawanya saat ia melihat wajah kesal Yoongi. Ia bahkan sampai harus memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.

“Kalau kau tidak menghentikan tawamu, aku tidak segan-segan untuk memukulmu sekarang juga, Jung Hoseok!”

Hoseok langsung menghentikan tawanya meskipun ia harus menutup mulutnya agar ia tidak mengeluarkan tawanya lagi.

“Sudahlah, lebih baik kau cari gadis lain saja. Banyak gadis diluar sana yang mau jadi pacarmu. Sadarlah Min Yoongi, dia sudah menolakmu secara terang-terangan.” kata Hoseok setelah ia berhasil menghentikan tawanya. Kini ia bicara dengan nada yang lebih serius.

“Lagipula dia menolakmu karna Taehyung, kan? Tadi pagi dia menamparmu juga karna ingin membela Taehyung. Jadi seharusnya kau——-”

“Aku akan membuat Taehyung terlihat sama sepertiku. Kejadian kemarin membuatku yakin kalau lelaki itu tidak lebih baik dariku. Dan aku akan menunjukkannya kepada Hayoung……” desis Yoongi dengan geram, menyela ucapan Hoseok.

Hoseok hanya menatap punggung Yoongi yang sedang duduk membelakanginya. Ia tahu, sahabatnya itu sedang marah, jadi dia memilih untuk diam daripada semakin membuat kemarahan Yoongi bertambah.

“Kita lihat saja nanti. Aku akan membuat gadis itu menyesal. Aku akan membuat Park Hayoung bertekuk lutut di hadapanku.”

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

“Kau benar benar tidak mengingatnya, Tae?” tanya Namjoon,-teman sekelas Jimin-, yang juga anggota tim basket.

Para anggota tim basket sudah berkumpul di lapangan untuk latihan, namun mereka masih menunggu sang kapten yang belum juga muncul. Mereka berkumpul di bangku yang ada di pinggir lapangan basket. Sembari menunggu sang kapten datang, mereka semua mengerubungi Taehyung, apalagi kalau bukan untuk menanyakan kejadian kemarin.

Taehyung hanya menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Namjoon. Lelaki itu mengusap wajahnya, frustasi. Kenapa semua orang terus menanyakan hal itu padanya, Ia benar-benar tidak mengingatnya sama sekali.

Melihat raut wajah frustasi Taehyung, teman-temannya yang lain jadi mengurungkan niat untuk bertanya, walau sebenarnya mereka masih sangat penasaran.

“Ah sudahlah sebaiknya kita melupakan kejadian itu. Anggap saja saat itu Taehyung sedang mengigau. Ya…. mengigau. Bukankah kalau orang mengigau tidak sadar dengan apa yang dilakukannya? Benar begitu, kan?”

Akhirnya Jimin lah yang bicara, ia memberikan alasan paling masuk akal untuk dipercayai oleh teman-temannya. Tidak mungkin lelaki itu memberi tahu alasan yang sebenarnya kepada mereka.

Taehyung menoleh ke arah Jimin yang tengah menatapnya seolah olah lelaki itu bicara “percaya-saja-padaku” melalui tatapannya. Taehyung pun mengangguk, menandakan bahwa ia percaya dengan apa yang dikatakan Jimin. Ya, mungkin memang itu alasan ia bertindak dibawah kesadarannya dan tidak mengingat apa yang telah dilakukannya.

“KAU! KIM TAEHYUNG!!”

Para anggota tim basket langsung berdiri saat sang kapten baru saja datang ke lapangan basket. Tidak halnya dengan si pemilik nama yang dipanggil oleh sang kapten, lelaki itu masih duduk di tempatnya sambil menoleh ke arah sang kapten. Min Yoongi.

Yoongi menatap ke arah Taehyung dengan pandangan yang tidak bersahabat sama sekali. Semua orang yang berada di lapangan basket,-dan juga yang sedang melewati lapangan basket-, tatapan mereka langsung tertuju pada Yoongi yang berjalan menghampiri Taehyung.

BUUUKKK!!

Yoongi langsung melayangkan pukulannya pada rahang Taehyung, membuat semua murid yang melihatnya membulatkan mata, terkejut. Yoongi benar benar tidak bisa menahan emosinya. Ditariknya kerah seragam Taehyung yang langsung tersungkur ke lapangan, lalu memukul rahang lelaki itu sekali lagi.

BUUUKKK!!!

Yoongi kembali menarik kerah seragam Taehyung dan menatap lelaki itu dengan tatapan yang sangat tajam. Ia tidak menghiraukan darah yang mulai mengalir dari dalam mulut Taehyung, dan ia juga tidak menghiraukan mata Taehyung yang menatapnya…..takut?

“Brengsek!! Berhenti menatapku seolah-olah kau takut. Tunjukkan kalau kau berani padaku! Dasar kau pengecut!!”

 

 

*     *     *     *      *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

 

“Kudengar Yoongi sedang menghajar Taehyung di lapangan basket.”

Ucapan seorang murid perempuan kepada temannya,-yang tak sengaja kudengar-, membuatku menghentikan gerakanku yang hendak memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut. Langsung saja aku berlari meninggalkan kantin dan melupakan makan siangku yang belum habis. Aku tak menghiraukan pandangan para murid yang menatapku aneh, aku terus berlari menuju lapangan basket. Bayangan tentang sosok V yang tiba-tiba muncul menguasai sosok Taehyung terus berputar di pikiranku.

Ya Tuhan, semoga sosok itu tidak muncul di saat seperti ini. Kumohon Taehyung, kuatkan dirimu untuk tidak membiarkan sosok itu menguasai tubuhmu.

Aku terus berdoa dalam hati untuk Taehyung. Ah, kenapa rasanya jarak kantin dan lapangan basket jauh sekali, huh?

Ku lihat disekitar lapangan basket sudah banyak murid yang sedang berkerubung. Ya, pasti mereka sedang menyaksikan apa yang terjadi di lapangan basket. Bodoh! Kenapa mereka hanya meontonnya saja? Kenapa tidak ada salah satu dari mereka yang mencoba menghentikan kelakuan Yoongi?

Aku langsung menerobos kerumunan itu untuk menuju tempat paling depan. Beruntung mereka memberiku jalan. Mungkin mereka berpikir hanya aku yang bisa melerai dua lelaki itu. Baru aku ingin masuk ke dalam lapangan basket dan menghentikan tindakan bodoh Yoongi, namun tiba-tiba langkahku terhenti ketika melihat apa yang ada di hadapanku saat ini.

Yoongi mencengkram kerah seragam Taehyung dengan kasar. Min Yoongi, sialan! Kenapa kau selalu saja mengganggu hidup Taehyung, hah?!

Lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah Taehyung. Bayangan V dengan kilat matanya yang tajam yang sedari tadi memenuhi pikiranku, hilang seketika saat aku melihat keadaan Taehyung saat ini. Hatiku mencelos.

Memang seharusnya aku bersyukur karena sosok V tidak menguasai tubuh Taehyung, tapi melihat keadaan Taehyung sekarang,-yang masih dalam cengkraman Yoongi,- membuat hatiku benar-benar sakit.

Aku dapat melihat dengan jelas darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Dan aku juga dapat melihat dengan jelas air mata yang menetes dari mata Taehyung. Ya Tuhan, aku seperti merasakan seluruh oksigen yang ada di paru-paruku habis, sesak sekali melihatnya seperti itu.

Kim Taehyung bodoh! Kenapa kau masih bisa-bisanya tersenyum di saaat seperti ini? Kenapa kau masih bisa tersenyum saat Yoongi memukulmu? Kenapa kau masih bisa tersenyum di saat air mata menetes dari matamu? Sepandai itukah kau menyembunyikan rasa sakitmu dengan senyuman di bibirmu?

Aku melangkah ke arah mereka meskipun aku merasakan kakiku sudah tidak dapat berpijak dengan baik.

“Lepaskan dia, Min Yoongi…” kataku dengan nada datar.

Yoongi belum juga melepaskan cengkramannya pada kerah Taehyung. Mungkin emosinya membuat telinganya menjadi tuli, atau—-entahlah aku tak peduli.

Aku menatap ke arah Taehyung, melihat keadaannya dari jarak yang dekat membuat hatiku bertambah sakit. Ku sentuh sudut bibirnya yang terluka, aku bisa merasakan darahnya yang mengalir menyentuh jariku. Air mataku menggenang.

Kini aku mengalihkan tatapanku ke wajah Yoongi. Lelaki itu masih menatap Taehyung dengan tajam. Entah apa salah Taehyung sampai Yoongi begitu membencinya.

“KUBILANG LEPASKAN DIA MIN YOONGI!”

Aku tak dapat menahan amarahku lagi karna Yoongi tak juga melepaskan cengkramannya. Teriakanku membuat air mata yang sekuat tenaga ku tahan, jatuh mengalir di pipiku. Akhirnya Yoongi melepaskan cengkramannya, lalu ia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Kuhapus air mataku dan membalas tatapan Yoongi dengan lekat dan tajam.

“Karna aku bukan orang bodoh, aku tidak akan mengotori tanganku hanya karna ingin menampar pipimu untuk kedua kalinya, di hari yang sama.” kataku masih dengan nada datar.

Yoongi masih diam saja, tak membalas perkataanku. Ia masih menatapku dengan tatapan itu.

“Dan satu lagi…melihat apa yang baru saja kau lakukan, membuatku bertambah yakin kalau aku tidak salah membenci orang. Aku-membencimu-Min-Yoongi…” kali ini aku berkata dengan penuh penekanan.

Aku tak peduli dengan reaksi yang akan ditunjukkan lelaki itu, karna aku sudah menarik tangan Taehyung untuk pergi dari lapangan basket dan meninggalkan Yoongi sendiri,-lagi-.

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

Aku memeras wash-lap yang kugunakan untuk membasuh luka pada wajah Taehyung, lalu kembali menempelkan washlap itu pada lukanya. Kulihat ia meringis kesakitan. Aku juga sedang menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Sungguh, aku tidak bisa melihat keadaan Taehyung seperti ini.

Taehyung masih meringis kesakitan sambil sesekali matanya terpejam. Badannya bersender pada kursi yang ada diruang tamu rumahku. Ya, aku langsung membawa Taehyung pulang, meskipun ia harus melewatkan jadwal latihan basket hari ini.

“Tahan sedikit, Tae. Sebentar lagi—”

Kalimatku terhenti saat tiba-tiba Taehyung meraih lenganku yang sedang membasuh lukanya, ia menatapku tepat di manik mata.

Yak Kim Taehyung! Jangan nenatapku seperti itu atau air mataku akan jatuh. Aku mengalihkan pandanganku dari mata Taehyung. Walau ia menatapku lekat, aku tahu lelaki yang ada di hadapanku saat ini adalah Taehyung. Tidak ada kilatan tajam di matanya.

“Park Hayoung?” panggilnya sambil masih menahan lenganku yang sedang menyentuh wajahnya.

“Hm?” Kini aku memberanikan diri untuk membalas tatapannya.

“Apa kau menganggapku sebagai orang yang lemah?”

Taehyung bertanya dengan nada serius, namun aku malah mencoba untuk tertawa, seolah olah pertanyaan Taehyung barusan adalah sebuah lelucon.

“Tentu saja tidak, Tae. Menurutku kau adalah sosok yang kuat.” aku menjawabnya sambil tersenyum, tersenyum senormal mungkin.

“Aku merasa selama ini kaulah yang terus melindungiku. Kaulah yang selalu membelaku. Tidak pernah sekali pun aku melindungimu.” katanya, terdengar sedih.

“Kau bicara apa.. Kaulah yang selalu melindungiku, Tae. Kau yang berkali-kali menyelamatkanku. Kau ingat? Waktu aku jatuh dari sepeda, siapa yang menolongku? Waktu aku diganggu oleh anak kecil yang lain, siapa yang membelaku? Waktu aku—-”

“Itu bukan aku.” Taehyung menyela ucapanku.

Aku membulatkan mata saat mendengar jawaban Taehyung. Bagaimana bisa Taehyung berkata seperti itu?

“Ma-maksudmu?”

Taehyung melepaskan genggamannya pada lenganku. Ia kembali bersandar pada bangku dan memejamkan matanya. Ia terlihat frustasi.

“Entahlah… aku merasa ada sosok lain yang ada di dalam tubuhku. Seperti ada sosok lain yang memberontak di dalam tubuhku. Aneh, bukan? Atau itu hanya perasaanku saja?” tanya Taehyung yang masih memejamkan matanya,-lebih kepada dirinya sendiri-.

Aku merasakan seluruh tubuhku seperti tersengat listrik saat mendengar ucapan Taehyung. Dia… dia tahu? Apa dia mulai menyadari kalau ada yang salah dengan dirinya?

“Taehyungie, sebaiknya kau beristirahat saja di kamar. Tenangkan dirimu, aku akan memasak untuk makan malam.” kataku mengalihkan pembicaraan.

Taehyung bangun dari posisinya dan menganggukan kepala. Sepertinya ia memang benar-benar butuh waktu untuk sendiri dan beristirahat.

Aku menatap punggungnya yang bergerak menjauhiku. Dalam hati aku bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan terjadi jika akhirnya Taehyung menyadari kalau ia memiliki kepribadian ganda?

 

 

*     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Auhtor’s pov*

 

 

*flashback on*

 

 

     “Hentikan suara tangisanmu itu anak bodoh!” kata seorang lelaki yang sudah cukup tua kepada seorang anak kecil yang sedang menangis di sudut ruangan tak jauh dari tempat lelaki itu duduk.

     Dirumahnya yang sangat kecil,-ditambah bau asap rokok dan alkohol di seluruh ruangan-, anak kecil itu tetap menangis, tak menghiraukan ucapan lelaki tua itu. Ayahnya.

     “YAK! BUKANKAH SUDAH KUBILANG?! HENTIKAN TANGISANMU, ANAK BODOH!!”

     Lelaki tua itu berkata sambil menggebrak meja yang ada dihadapannya dengan keras. Namun lagi-lagi anak kecil itu tak mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya. Ia masih terus menangis bahkan sekarang sampai sesenggukan.

     “AISH KAU ANAK BODOH—-” Lelaki tua itu sudah kehilangan kesabarannya. Ia mengambil satu botol soju yang kosong lalu memukulkan botol itu pada tubuh anak kecil yang menangis itu.

     “BODOH! KAU ANAK BODOH!! KAU TIDAK MENDENGARKAN APA KATAKU, HUH?! DIAM! DIAM! DIAAAMMM!!!!”

     PRANG! PRANG!PRANG!

     Lelaki itu terus memukulkan botol kaca itu pada tubuh anaknya. Sudah hilang akal sehatnya karena pengaruh alkohol yang menjadi minuman sehari-harinya.

     Anak kecil itu semakin kencang menangis. Ia benar-benar merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Ia terus saja menangis tanpa bisa berbuat apapun, ia hanya bisa menerima siksaan dari ayahnya.

     “Dasar kau anak tidak berguna!! Kenapa kau tidak ikut mati saja bersama ibumu, hah?! Tega sekali ibumu meninggalkanku dengan seorang anak bodoh dan tidak berguna seperti kau!!”

     Lelaki itu masih saja melontarkan kata-kata kasar dari mulutnya yang bau alkohol.

     “Aku tidak bodoh. Aku tidak bodoh.”

     Hanya kata itu yang bisa dikatakan oleh anak kecil itu, dengan suara bergetar dan sesenggukan.

     “YAK KAU KIM TAEHYUNG——“

     “Ahjussi kumohon hentikan!”

     Gerakan lelaki tua itu yang ingin memukulkan botol kaca ke badan Taehyung, terhenti saat ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya. Ia menatap orang itu dengan bengis. Orang itu,-yang baru saja datang-, langsung memeluk tubuh kecil Taehyung dan menjauhkan anak itu dari ayahnya.

     “Sadarlah dengan apa yang kau lakukan, Ahjussi. Dia anakmu!”

     Lelaki itu malah tertawa licik dan membuang ludahnya tepat di hadapan orang itu, dan juga Taehyung.

     “Cih! Aku tak sudi punya anak sebodoh dirinya. Anak yang tidak berguna! Lebih baik ia mati saja daripada harus menyusahkanku!”

     Orang itu mendengar ucapan Ayah Taehyung dengan perasaan miris. Ia sampai menutup kedua telinga Taehyung agar anak kecil itu tidak mendengar kata-kata kasar ayahnya.

     “Taehyungie, kau mau tinggal dirumah Noona?” tanya orang itu pada Taehyung.

     Taehyung melihat ke arah orang itu dan ayahnya bergantian. Namun saat ia melihat tatapan menyeramkan ayahnya, ia langsung menganggukan kepala. Lebih baik dia ikut dengan orang itu darioada harus menerima siksaan dari ayahnya setiap hari.

     “Kau bawa saja dia! Aku tak membutuhkannya! Dan jangan sampai aku melihat anak bodoh itu di hadapanku lagi!”

     Orang itu hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Ayah Taehyung. Ia benar-benar tidak menyangka ada sosok ayah seperti lelaki tua itu.

     “Baiklah kalau begitu, aku akan membawa Taehyung kerumahku. Dan anda. Anda jangan menyesal karna sudah menyia-nyiakan anak seperti Taehyung!”

     Ayah Taehyung memasang tampang tak pedulinya, membuat orang itu langsung menarik lengan Taehyung untuk mengikutinya pulang kerumahnya. Taehyung yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti langkah orang itu sambil sesenggukan.

     Orang itu, Park Miyoung.

 

 

          *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

     “Aku benci Ayah. Aku benci Ayah.” kata Taehyung kecil dengan suara parau.

     Miyoung mengelus rambut Taehyung dengan lembut, ia dapat merasakan goncangan jiwa yang dialami anak lelaki yang sedang duduk disebelahnya di bangku taman saat ini.

     “Aku benci Ayah. Ayah jahat. Aku benci Ayah.” ulang Taehyung, masih dengan suara parau.

     “Taehyungie, kau tak boleh membencinya. Bagaimanapun ia adalah ayahmu.” kata Miyoung dengan nada lembut.

     “Tapi Ayah jahat. Ayah selalu memukul Taehyung setiap hari. Ayah benci Taehyung.”

     Miyoung menghadapakan Taehyung agar anak itu duduk berhadapan dengannya. Ia memegang bahu Taehyung dan menatapnya dengan lekat.

     “Dengarkan aku Taehyungie. Sekasar apapun orang memperlakukanmu, kau harus tetap tersenyum. Tak peduli seberapa kasarnya mereka, kau harus tetap tersenyum. Kau tak boleh menangis, karena itu akan menunjukkan kalau kau lemah . Dan kau juga tak boleh membalasnya apalagi sampai membenci orang yang bersikap kasar kepadamu. Arra, Tae?” kata Miyoung sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Taehyung.

     Taehyung yang belum mengerti sepenuhnya hanya menganggukan kepala sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Miyoung.

     “Arasseo, Noona.”

 

*flashback off*

 

 

          *     *     *     *     *     *     *     *

 

 

*Hayoung’s pov*

 

 

Aku terbangun dari tidurku saat aku merasakan tenggorokanku gatal. Sepertinya aku membutuhkan minum dan obat radang untuk menyembuhkan tenggorokanku yang gatal ini. Kulirik jam yang ada di dinding kamar. Masih jam 01.30. Aku pun keluar dari kamar dan menyalakan semua lampu untuk menerangi jalanku menuju dapur.

Dengan mata setengah terpejam aku berjalan menuju dapur. Namun mataku langsung melebar saat melihat dia sedang duduk di ruang tamu. Kim Taehyung atau….

“Tae—hyung?” panggilku ragu, karna aku tidak tahu sosok siapa yang ada ditubuhnya saat ini.

Lelaki itu menoleh dan tersenyum tipis kearahku. Ah, dia Taehyung. Mungkin karna luka disudut bibirnya yang masih terasa sakit jadi dia hanya tersenyum seperti itu, tak selebar biasanya.

Aku melupakan niatku untuk mengambil air minum dan obat radang di dapur, aku malah melangkahkan kakiku ke ruang tamu dan duduk disebelahnya.

Aku menatapnya heran karna aku dapat melihat matanya yang sangat mengantuk tapi kenapa ia masih terjaga sampai jam segini?

“Aku bermimpi buruk…” kata Taehyung, seolah olah bisa membaca pikiranku.

Aku hanya diam saja, menunggu Taehyung melanjutkan cerita tentang mimpinya.

“Aku… aku memimpikan ayahku.”

Kata-katanya membuat jantungku berdegup lebih kencang. Apa? Apa yang ia mimpikan tentang ayahnya? Sesuatu yang burukkah? Atau—–

“Aku bermimpi tentang masa kecilku dulu, tentang Ayah yang selalu menyiksaku setiap hari dan aku yang hanya bisa menangis. Hah, aku baru menyadari betapa lemahnya aku saat itu, atau sampai sekarang aku tetap menjadi sosok yang lemah?”

Taehyung tertawa, tertawa miris lebih tepatnya. Hal itu membuatku tak dapat menahan ekspresi sedihku saat melihatnya seperti itu.

“Tapi saat Ayah sedang menyiksaku, tiba-tiba ada seseorang yang datang menyelamatkanku. Aku tidak tahu siapa orang itu—–yang pasti dia cantik. Dia cantik sepertimu.”

Kalau saja Taehyung mengatakan hal itu tidak di saat seperti ini, pasti pipiku sudah bersemu merah. Tapi tunggu dulu, tadi Taehyung bilang dia tidak mengenal orang yang menyelamatkannya? Miyoung eonnie kah itu? Taehyung tidak mengingat Miyoung eonnie?

“Kau—kau tidak mengingat siapa orang yang menyelamatkanmu, Tae?” tanyaku memastikan.

Taehyung menggeleng dengan tatapan polosnya.

“Aku seperti pernah mengenalnya, tapi—tapi aku tidak mengingat siapa dirinya. Di dalam mimpiku, dia bilang kalau aku tidak boleh menjadi orang yang lemah. Kata-katanya sama seperti yang kau ucapkan waktu itu.”

Tidak salah lagi, orang yang dimaksud Taehyung adalah Miyoung eonnie. Tapi—kenapa Taehyung tidak mengingatnya? Sekuat itukah ia mencoba untuk melupakan eonnie dan segala kejadian yang telah menimpanya? Hatiku benar-benar terenyuh mendengarnya.

Taehyung menghela nafas, membuatku menoleh ke arahnya. Ternyata ia tengah menatapku dengan kantung mata yang terlihat di bawah matanya.

“Hayoung-ah, boleh aku tidur bersamamu malam ini?

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Part 2 done~~~ what do you think, readers? Hehehehe. Maaf kalau di part ini sosok V dan romancenya belum dimunculkan. Dan kayaknya ini bakal jadi dark romance(?) *terserah lu aja thor* Thanks for reading, jangan lupa komen dan kritiknya ya. Thankyou~*

About fanfictionside

just me

31 thoughts on “FF/ THE ANOTHER OF YOU/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Jadi ikut nangis pas bagian flashback tae kecil😦 .. jadi seperti itu ..
    Oh iya,lanjutkan thor !!! penasaran sama bagian yang terakhir nii ,, jjeng jjeng …🙂

  2. Sumpah aku terbawa suasana thor.. Huhu Taehyung, noona padamu T-T
    Kasihan sekali dia, pengen aku peluk T-T /abaikan/
    aaaa mau bobo bareng ya mereka.. Kok TBC thor? Panjangin lah, cepetan lah next partnya ><

  3. Kan bener.. Suga suka ma hayoung
    Mkin bkin pnsaran aj..
    Sosok taehyung lemah bgt ya, jdi lbih suka sosok v, biar bisa ngelawan yoongi.
    Lanjut thor….

  4. Aigoo.. Kasian bnget Taehyung.. Ayahnya kejam bnget?? O ya.. Terus Miyoung kemana? Knapa Taehyung ampe ngak inget dia? Ok next.. Ditunggu chap 3nya.

  5. duuh sosok taehyung disini kalem kalem gt ya beda bgt ama aslinya yg urakan(?) lol kesian yoongi d tampar huhu sini sini yoongi sama aku aja XDzzzttt itu bisa yah sosok V tdk muncul pada saat2 genting(?) sperti itu wow… ga ada kritik dlu ya thor? ga ada typo, alur bagus.. heumm d tunggu next chapt nya ^^

  6. Taehyung kok ngga ingat miyoung? loh?-_-
    aihhh Taehyung disakiti yoongi masih aja senyum hiksss. ketika ketiga bias ada disiniiiiii. tae yg jadi orang berpribadian ganda, yoongi yg jadi cowok jahat hikss, dan hoseok yg jadi sahabatnya yoongii. ahhhh sesuatuuu {} tinggal jungkook nih yg blm ada disini /loh/
    next chapter yaaaa~

  7. Yes gw nangis yes huh ;-( daebak jinjja (y)
    tapi kok udah tbc uuwaa T-T
    aku ska jlan crita eon :-* muach muach daebak ..
    Fighting next part eon ,I’m wait oke😉

  8. Thor lanjut aku suka!!!! Tapi #saran : taehyung harus selalu menjadi milik arra!!! Min yoonggi sialan itu# ampun……. Gk boleh sama arra !!! Next thor!!!

  9. /bawa obor/ DEMI TUHAN BAKAAAAAAAR! BAKAR AUTHORNYAAAAAAAA *plak* DAEBAK THOOOR! NEXTNYA JANGAN LAMA2 #capsjebol

  10. oke vixx(?) aku kesel sama yoongi-,- #kemudiandigaplok
    mian yah thor aku komen pas part 2._. TAPI AKU AKAN TETEP DUKUNG AUTHOR MENULIS FF!!! *abaikan

  11. Sesuai dengan kehidupan realnya, MIN YOONGGI yang selalu merendahkan KIM TAEHYUNG. Cocok thor, nyesek campurcampur ngeliat taehyung oppa. He’s strong! V!

  12. yang ngajak tidur bareng jangan-jangan sosoknya V? kekekekekek waaah…. sekarang kakaknya Hyoung kemana? apa nanti V ada rasa spesial ke kakaknya Hayoung? Untuk Yoongi yang sabar ya. Semoga di chapter 3 diperbanyak flashback supaya makin ngerti gimana alur ceritanya><

  13. Hemm cerita’a mirip ff yg judul’a “Another Soul” tapi di ff itu yg main cast’a D.O oppa🙂 dan dia juga punya sosok lain yg ada ppada diri’a yang di sebut alter ego.
    But, ff ini juga gak kalah keren+bagus’a kok, apalagi yg main cast’a taetae❤ sampe terbawa suasana gitu..😀 cepet2 di buat ya part selanjut'a😀 gak sabarr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s