FF oneshot/ MY 24HOURS MARRIAGE/ BAP


AUTHOR : JM

LENGTH : ONESHOT

 

GENRE : SAD, MARRIAGE LIFE, ETC

 

CAST : SON JINAH (OC/READERS), KIM HIMCHAN (BAP)

 

SUMMARY : Aku tak menyangka kau akan pergi secepat ini padahal baru saja kita bertemu, kita berbicara, saling mengenal, dan menikah. Kenapa hanya 24 jam saja waktu yang Tuhan berikan untuk kita berdua? Kenapa juga Tuhan membiarkan kita bersama dalam waktu yang singkat itu? Inilah 24 jam pernikahanku dengannya, Kim Himchan.

# # #

 

Son Jinah POV

 

Annyeong, perkenalkan aku adalah Son Jinah dan aku berusia 24 tahun. Aku adalah anak dari Son Dongwoon dan Son Naeun. Hari ini adalah hari kelulusanku, aku lulus sebagai S2 jurusan Hubungan International di Jepang dan aku akan segera bekerja di Kedutaan Korea Selatan. Eomma dan appa sudah datang dan mereka duduk di tempat duduk paling depan bersama rekan kerjanya. Aku maju ke atas podium setelah di panggil oleh rektor universitasku dan aku tersenyum ke arah eomma dan appa juga rekan kerjanya. Hari ini aku bahagia sekali karena aku lulus S2 dengan nilai yang sangat tinggi.

 

“Congratulation for your succes, Miss Son!” aku tersenyum ketika sahabatku, Yumi mengucapkan selamat kepadaku seraya mengulurkan tangannya.

“Arigatou, Miss Akita! Congratulation too for your succes!” aku menerima uluran tangannya lalu kami saling berpelukan.

“Pasti aku akan sangat rindu padamu, Miss Son! Jangan lupakan aku selama kau di Korea dan jangan lupa untuk main ke Jepang jika ada waktu!” ucap Yumi dalam bahasa Jepang. Aku tersenyum lalu mengangguk seraya melepaskan pelukan kami.

“Of course, Miss Akita! You’re my bestfriend forever! And you don’t forget to visit me in Korea if you have free time, right?”

“Ehem, sure. I will visit you! Uh, come on we take picture for memories album with us alumni! Let’s go!”

“OK! Let’s go!”

 

Aku dan Yumi berfoto bersama teman seangkatan kami juga para dosen dan rektor untuk album kenangan tahun ini. Setelah selesai aku menemui kedua orang tuaku dan juga rekan kerja mereka dan kami pulang ke apatermenku untuk mengambil barang-barangku. Kami menyempatkan untuk mampir ke sebuah restoran Jepang di dekat apatermenku lalu kami makan siang bersama di apatermenku. Sore harinya, sekitar pukul setengah 3 sore waktu setempat, kami sampai di bandara untuk menunggu penerbangan kami ke Korea, sekitar pukul 4 nanti pesawat akan lepas landas. Yumi dan kekasihnya, Joshua Hong, juga ikut mengantar kepergian kami dan sebelum kami masuk ke pesawat aku memeluk Yumi dan Josh. Korea, wait me! I’m coming now!

 

* * *

 

International Incheon Airport

 

Akhirnya aku sampai juga di Korea Selatan, negara asalku yang sudah aku tinggalkan 3 tahun belakangan ini. Aku tak pernah sempat untuk pulang kemari selama aku di Jepang karena tugas kuliahku dan juga berbagai praktek serta ujian yang harus aku hadapi. Senang rasanya bisa kembali menginjak kan kakiku di negara asalku sendiri dan aku ingin cepat-cepat sampai di rumah. Setelah mengantarkan rekan kerja appa dan eomma, kami segera pulang dan setelah sampai aku langsung beristirahat karena terlalu lelah.

 

5 bulan kemudian

 

Aku sudah bekerja di Kedutaan Korea Selatan sebagai seorang ahli teknologi dan aku juga menjadi kepala bagian teknologi yang di gunakan di Kedutaan. Hari ini sudah genap 5 bulan aku di Korea dan sudah 4 bulan ini aku bekerja di  Kedutaan. Mereka menerimaku bekerja di sana tanpa tes karena mereka melihat ijazahku dan baru seminggu yang lalu aku menjadi kepala bagian. Aku cukup puas dengan pekerjaan ini dan aku tak pernah lupa untuk menceritakan semuanya kepada sahabatku, Yumi. Sekarang dia sudah bekerja di Kedutaan Jepang juga tapi dia di bagian intelejen dan dia juga puas bisa mendapat pekerjaan seperti itu.

Saat ini aku sedang berada di toko buku untuk membeli beberapa buku untuk menambah pengetahuanku tentang dunia internasional. Setelah sejam mencari akhirnya aku mendapatkan beberapa buku yang menurutku itu membantuku. Namun saat aku ingin membayar buku-buku itu, aku tak sengaja menabrak seorang namja yang sedang bersandar pada salah satu rak buku. Dia membungkuk kan badannya untuk minta maaf lalu pergi begitu saja tanpa sempat memperlihatkan wajahnya padaku. Aku hanya geleng-geleng saja lalu segera membayar buku-buku itu dan pulang.

 

Someone POV

 

Saat aku hendak keluar dari supermarket aku melihat seorang yeoja yang mirip dengan yeoja yang sedang ku cari lalu aku mengikutinya. Dan ternyata dugaanku benar itu dia, yeoja yang selama ini ku cari, aku tersenyum sendiri membayangkan wajahnya yang dulu dan sekarang. Selama hampir sejam dia memilih-milih buka yang di butuhkan dan entah kenapa aku merasa pusing sekali. Lalu aku memilih bersandar di salah satu rak buku dan baru sebentar aku memejamkan mataku, yeoja itu lewat di depanku dan tak sengaja menabrak ku ketika aku mau beranjak dari tempat itu. Aku membungkuk dan minta maaf lalu segera meninggalkan tempat itu, aku jadi salah tingkah.

Sampai di rumah, appa dan eomma sudah berada di ruang tamu dan appa menatapku tajam sedangkan eomma menatapku dengan tatapan khawatir. Aku mengembungkan pipiku lalu mendengus sebal karena tau arti tatapan mereka. Seo ahjumma menghampiriku lalu membawa barang belajaanku ke kamar dan aku duduk di depan appa.

 

“Mianhae appa. Aku lama karena aku juga ke toko buku untuk memilih buku bacaan kesukaanku namun tak ada yang cocok. Aku janji tak akan mengulanginya lagi!”

“Chagi, seharusnya kau mengatakannya pada eomma biar kau di antar oleh supir bukan pergi sendiri seperti tadi. Bagaimana jika ada apa-apa denganmu?”

“Mianhae eomma!”

“Lain kali jangan buat eommamu khawatir sehingga menyuruhku pulang seperti ini. Aku harap kau segera menikah!”

“Ne, appa. Mwo? Menikah? Baiklah aku akan menikah asal kau menikahkanku dengan seseorang!”

“Mwo? Nugu?”

“Dia…”

 

* * *

 

Author POV

 

Pagi ini keluarga Son sedang menikmati sarapan mereka di akhir pekan tapi Jinah merasa ada yang aneh dengan kedua orang tuanya. Setelah selesai sarapan, Jinah menanyakan apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya tapi orang tuanya tetap diam. Mereka tau apa reaksi Jinah jika mendengar perkataan mereka nantinya, namun Tuan Son akhirnya membuka mulut.

 

“Appa, eomma apa yang terjadi? Kenapa kalian gelisah seperti itu?”

“…”

“Oh ayolah jawab pertanyaanku, appa, eomma! Jangan buat aku penasaran!”

“…”

“Appa, eomma, jebal, katakan padaku!”

“Baiklah, appa akan mengatakannya asal kau janji tak akan marah dan juga berteriak! Yaksok?”

“Ne, yaksok!”

“Kemarin rekan kerja appa, meminta kau menjadi menantunya dan appa menerima lamarannya. Beliau bilang, anaknya sudah menyukaimu sejak SMP dulu dan anaknya ingin menikah denganmu!”

“Mwo? Di jodohkan? Menikah? Yang benar saja!”

“Chagi kenapa berteriak? Bukankah kau sudah janji tak akan berteriak atau pun marah?”

“Tapi eomma, ini terlalu mendadak! Lagi pula aku tak mengenalnya, siapa dia?”

“Lihatlah fotonya! Dia Kim Himchan”

“Mwo? YA! Eomma fotonya hanya dari belakang begini! Aish jinja! Terserah kalian sajalah!” Jinah langsung meninggalkan ruang makan.

“Baik. Appa anggap kau menerimanya!”

 

Lusa kemudian…

 

Saat ini Jinah sedang bersiap-siap untuk menikah dengan namja yang di jodohkan dengannya itu. Dia pasrah saja lagi pula dengan begini dia tak usah susah-susah mencari pasangan. Yumi dan Joshua juga datang menyaksikan pernikahan sahabat mereka ini. Pukul 10 a.m upacara pernikahan antara Jinah dan namja yang belum di kenalnya itu di mulai. Namun tanpa di sangka oleh Jinah, dia jatuh cinta pada namja itu ketika mata mereka saling bertatapan. Menurut Jinah, namja itu memiliki tatapan mata yang sangat hangat dan teduh kontras dengan senyumnya yang manis itu. Setelah selesai upacara pernikahan mereka, mereka langsung melanjutkan ke acara resepsi. Jinah sangat bahagia bisa menikah dengan Himchan, walau mereka baru bertemu dan berkenalan, Himchan berhasil membuat Jinah jatuh cinta padanya.

 

Malam harinya…

 

“Oppa, siapa yang mandi duluan? Aku atau kau?” tanya Jinah sambil melepaskan beberapa aksesoris yang ia gunakan di acara pernikahan tadi

“Ah? Kau duluan saja, tak apa. Aku masih ingin melihat pemandangan dari balkon kamarmu ini!”

“Baiklah. Jangan terlalu lama kena angin malam oppa, itu tidak baik lho!” Himchan mengangguk sambil mengacak rambut Jinah gemas.

“Ne. Ppali! Kau mau mandi sekarang atau mau aku mandikan?” Jinah menjitak kepala Himchan dan namja itu meringis sambil mengusap kepalanya. Jinah tertawa dan menjulurkan lidahnya lalu segera masuk ke kamar mandi sebelum Himchan membalasnya. Tanpa di sadari Jinah, Himchan mengulum senyum manisnya.

“Aku berharap bisa melihat tawamu setiap hari, Nyonya Kim Jinah. Semoga Tuhan mengabulkannya!” ucap Himchan lirih.

 

Dia terus memandangi bintang-bintang yang ada di langit dan tanpa ia sadari air matanya turun dari mata elangnya melewati pipi tirusnya. Tiba-tiba turun hujan yang membuat perlahan-lahan cahaya bintang memudar dan awan menyelimuti bulan juga bintang agar tak basah. Himchan tersenyum sendu dan dia berterima kasih pada hujan karena telah menyamarkan air matanya. Air matanya bercampur dengan air hujan yang membasahi bumi beserta isinya. Ia meresapi aroma dan kesejukan yang di bawa oleh air hujan yang membawa ketenangan sendiri baginya. Himchan berharap dia bisa merasakan aroma dan kesejukan itu di lain waktu. Air matanya masih terus mengalir seiring dengan jatuhnya air hujan ke bumi ini dan dia sangat suka itu. Tak lama kemudian Jinah keluar dari kamar mandi dan melihat Himchan yang basah kuyup karena air hujan.

 

“Oppa aku kan sudah bilang jangan terlalu lama di balkon. Lihat kau jadi basah kuyup! Ayo cepat mandi!” omelan Jinah membuat Himchan terkekeh karena istrinya yang sangat perhatian itu.

“Aish, ne arra! Aku hanya ingin mendengar suara hujan, melihat hujan, dan juga merasakannya!” ucap Himchan sambil memanyunkan bibirnya lalu segera menyambar handuk dan piyamanya. Setelah selesai mandi dia melihat istrinya yang sudah menggunakan piyama couple dari eomma Himchan sedang mengeringkan rambut di depan cermin. Himchan tersenyum melihat istrinya yang terlihat cantik tanpa menggunakan make up dan baju yang bagus.

“Kau sedang apa chagi? Kau terlihat cantik menggunakan piyama itu, sangat cocok untukmu! Apa aku sudah tampan?” tanya Himchan sambil memeluk Jinah dari belakang.

“Aku sedang mengeringkan rambut oppa! Jinja? Aku memang cantik oppa! Ah kau sudah sangat tampan sekali oppa!”

“Ne jinja. Jeongmal? Apa aku benar-benar tampan?” Jinah melepas pelukan Himchan lalu memutar badannya setelah mematikan hairdryernya. Dia menatap Himchan dan dia mengangguk.

“Kau tampan oppa, sangat tampan! Dan selamanya akan tetap menjadi yang paling tampan bagiku!” Himchan tersenyum sambil mengacak pelan rambut Jinah yang setengah kering itu lalu mengelusnya perlahan dan Jinah memeluk Himchan erat.

“Saranghae Son Jinah!”

“Nado saranghae Kim Himchan!” Himchan melepas pelukan mereka lalu menyuruh Jinah membereskan hairdryernya.

“Sudah. Ini sudah larut malam jadi cepat bereskan itu lalu tidur, arra?”

“Ne arra. Oh iya aku sudah membuat teh gingseng untukmu oppa. Aku tak ingin kau kedinginan jadi cepat habiskan!” Jinah membereskan hairdryernya dan Himchan menghabiskan minumannya.

“Wah ini sangat enak! Hm rasanya hangat seperti orang yang membuatnya dan teh ini juga manis sama seperti yang membuat!” perkataan Himchan membuat Jinah jadi tersipu malu dan dia segera membawa cangkir teh yang kosong itu ke dapur.

 

Himchan POV

 

“Aku berharap bisa melihat tawamu setiap hari, Nyonya Kim Jinah. Semoga Tuhan mengabulkannya!” ucapku lirih.

 

Aku terus memandangi bintang-bintang yang ada di langit dan tanpa ia sadari air mataku turun dari mata elangku melewati pipi tirusku. Tiba-tiba turun hujan yang membuat perlahan-lahan cahaya bintang memudar dan awan menyelimuti bulan juga bintang agar tak basah. Aku tersenyum sendu dan aku berterima kasih pada hujan karena telah menyamarkan air mataku. Air mataku bercampur dengan air hujan yang membasahi bumi beserta isinya. Aku meresapi aroma dan kesejukan yang di bawa oleh air hujan yang membawa ketenangan sendiri bagiku. Aku berharap dia bisa merasakan aroma dan kesejukan itu di lain waktu. Air mataku masih terus mengalir seiring dengan jatuhnya air hujan ke bumi ini dan aku sangat suka itu. Tak lama kemudian Jinah keluar dari kamar mandi dan melihatku yang basah kuyup karena air hujan.

 

“Oppa aku kan sudah bilang jangan terlalu lama di balkon. Lihat kau jadi basah kuyup! Ayo cepat mandi!” omelan Jinah membuatku terkekeh karena istriku yang sangat perhatian itu.

“Aish, ne arra! Aku hanya ingin mendengar suara hujan, melihat hujan, dan juaga merasakannya!” ucapku sambil memanyunkan bibirku lalu segera menyambar handuk dan piyamaku. Setelah selesai mandi aku melihat istriku yang sudah menggunakan piyama couple dari eommaku sedang mengeringkan rambut di depan cermin. Aku tersenyum melihat istriku yang terlihat cantik tanpa menggunakan make up dan baju yang bagus.

“Kau sedang apa chagi? Kau terlihat cantik menggunakan piyama itu, sangat cocok untukmu! Apa aku sudah tampan?” tanyaku sambil memeluk Jinah dari belakang.

“Aku sedang mengeringkan rambut oppa! Jinja? Aku memang cantik oppa! Ah kau sudah sangat tampan sekali oppa!”

“Ne jinja. Jeongmal? Apa aku benar-benar tampan?” Jinah melepas pelukanku lalu memutar badannya setelah mematikan hairdryernya. Dia menatapku dalam, mencari keteduhan di manik kelam milikku dan dia mengangguk.

“Kau tampan oppa, sangat tampan! Dan selamanya akan tetap menjadi yang paling tampan bagiku!” aku tersenyum sambil mengacak pelan rambut Jinah yang setengah kering itu lalu mengelusnya perlahan dan Jinah memelukku erat.

“Saranghae Son Jinah!”

“Nado saranghae Kim Himchan!” aku melepas pelukanku lalu menyuruh Jinah membereskan hairdryernya.

“Sudah. Ini sudah larut malam jadi cepat bereskan itu lalu tidur, arra?”

“Ne arra. Oh iya aku sudah membuat teh gingseng untukmu oppa. Aku tak ingin kau kedinginan jadi cepat habiskan!” Jinah membereskan hairdryernya dan aku menghabiskan minumanku.

“Wah ini sangat enak! Hm rasanya hangat seperti orang yang membuatnya dan teh ini juga manis sama seperti yang membuat!” perkataan Himchan membuat Jinah jadi tersipu malu dan dia segera membawa cangkir teh yang kosong itu ke dapur.

 

Aku tersenyum melihat istriku yang sangat perhatian padaku dan dia juga mencintaiku dengan tulus. ‘Ya Tuhan aku berharap aku bisa melihat wajahnya, senyumnya, tawanya, tingkahnya dan juga bisa mendengar omelan-omelannya lebih lama!’ batinku. Jinah masuk lalu merebahkan tubuhnya di sampingku.

 

“Oppa apa kau tak mau melakukan ‘itu’ padaku? Bukankah ini malam pertama kita?” tanya Jinah pelan dan aku sedikit terkejut mendengarnya.

“Memang kau mau? Apa kau siap untuk melakukannya denganku?” Jinah mengangguk lalu aku menyerianginya dan segera melakukan hal itu padanya.

“Tunggu oppa!”

“Kenapa? Bukankah kau sudah tak sabar, hm?” godaku yang membuat dia malu dan dia menggeleng pelan.

“Aku ingin  minum susu dulu dan meminum vitamin sebelum tidur!”

“Aigoo, seperti anak kecil saja kau ini! Ya sudah sana!” aku mempout bibirku dan juga menggembungkan pipiku kesal.

Dia tersenyum kikuk lalu pergi ke dapur dan setelah itu aku tertawa melihat ekspresinya tadi. Tiba-tiba aku merasa kepalaku pusing dan pandanganku mulai buram namun aku berusaha menahannya. Segera aku mengambil obatku dan meminumnya sebelum Jinah datang. ‘Tuhan ku mohon jangan sekarang! Ini terlalu cepat, aku mohon!’ batinku. Perlahan rasa pusing itu menghilang dan aku kembali merebahkan tubuhku di kasur lalu tak lama kemudian Jinah masuk ke kamar. Dia menutup pintu lalu mematikan lampu dan mengunci pintu balkon.

 

“Oppa apa kita mau melakukannya sekarang?” tanyanya ragu sambil menutup jendela. Saat dia naik ke atas kasur aku langsung menyerangnya dan kami melakukan itu di tengah suara hujan dan petir yang menggelegar.

 

* * *

 

Keesokan harinya…

 

Jinah POV

 

Aku terbangun dari tidurku sekitar pukul setengah 6 a.m dan sepertinya oppa tidur dengan sangat nyenyak mungkin dia terlalu lelah. Aku turun dari tangga lalu menuju ke dapur setelah aku mencuci muka menyikat gigiku dan aku membantu eomma dan eommanya Himchan oppa memasak di dapur. Pukul setengah 8 a.m sarapan sudah siap dan aku, appa, eomma, dan orang tua Himchan oppa sudah berkumpul namun Himchan oppa sendiri yang belum. Akhirnya aku yang membangunkannya walau sedikit rasa tidak enak karena membangunkan tidur nyenyaknya.

 

“Oppa, oppa, Himchan oppa, irona! Semua sudah menunggu oppa di bawah!”

“Eung… kenapa? Ah aku masih ngantuk, chagi!”

“Ayolah oppa. Kau harus sarapan dulu setelah itu kau bisa melanjutkan tidurmu!”

“Hm, baiklah! Kajja!”

 

Setelah selesai makan dan Himchan oppa juga sudah mandi, aku menemaninya menikmati pemandangan di taman belakang. Aku tersenyum melihat Himchan oppa yang mulai mengantuk sepertinya, dasar tukang tidur.

 

“Oppa”

“Ne?”

“Bisakah kau bernyanyi untukku?”

“Huh? Menyanyi? Kau yakin?”

“Iya, aku ingin mendengar suaramu oppa!”

“Baiklah. Tapi jangan tutup telingamu ketika aku sedang bernyanyi!”

“Arraseo oppa! Kajja!”

 

(BAP~Raind Sound)

 

“Bagaimana? Apa kau puas? Eh? Kenapa malah menangis?”

“Hiks.. hiks.. lagunya benar-benar menyentuh, apalagi penghayatanmu yang sangat mendalam itu oppa! Hiks” Himchan oppa menghapus air mataku lalu memelukku.

“Sudahlah jangan cengeng! Hanya seperti itu saja kok sudah nangis! Payah!”

“Ne oppa. Apa itu lagu faforitmu?”

“Tentu saja! Hoam… ah aku sudah mengantuk! Biarkan aku tidur di pahamu!”

“Hm, oppa!”

“Wae?”

“Berjanjilah untuk selalu di sampingku oppa! Jangan pernah tinggalkan aku!” Himchan oppa hanya diam, ternyata dia sudah tidur. Aku mengelus rambutnya pelan dan rambutnya benar-benar lembut. Tak sengaja aku melihat ada air mata yang mengalir di pipinya dan ternyata oppa menangis. Perasaanku jadi tidak tenang lalu aku merasakan tubuhnya yang dingin dan juga aku sudah tak mendengar deru napas maupun detak jantungnya lagi. Aku sangat khawatir dan sangat panik lalu aku berteriak, eomma yang pertama kali datang. Aku tak bisa membendung air mataku lagi dan aku menangis sejadi-jadinya.

 

And this is my 24 hours marriage….

 

END

 

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF oneshot/ MY 24HOURS MARRIAGE/ BAP

  1. Himchan oppa ko cepet bgt perginya T_T
    Daebak thor bnar2 terharu
    Tapi kurang detail di ending msi cengo karna rada gantung, ttang kepergian Himchan karna sakit apa ? Apa yg Himchan derita ?

    Tpi tetap OK kok thor seru🙂

  2. hikshiks… :’) :’) :’)
    sukses bikin aq mewek…
    author tanggung jawab…
    nyesek bgt thor kasian jinah br sehari jadi istri udh d tgl pergi…😥

    but this is good ff…
    neomu daebak..🙂

  3. Sedih banget😦 coba aja hime nya dibangunin lagi dicium sama jinahnya jadi kayak sleeping beauty gitu wkwkwk. Terus happy ending deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s