FF/ FOOLISH LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2


Cast:

Kim Seok Jin – Jin BTS

Ryu Hyosi – OC

Ryu Hwayoung  (Ex T-ara)

 Ryu Hyoyoung ( 5 Dolls )

Other Cast

 

Author : pandakim ♔ (author tetap)

Rating:  17 +

Genre : Romance, Life, Sad, little bit NC

Lenght : Chapter

Disclaimer: Ini cerita asli dari pemikiran pandakim sendiri dan terinspirasi dari novel yang pandakim baca. Di part ini ada sedikit nc. Kalau nc nya tidak panas mohon baca ff nya di samping kompor biar panas. Syudahlah tanpa babibu lagi. Warning TYPO everywhere’s . BEWARE !! Happy reading guys !!

ahaja(1)

Author Pov

 

Hyosi menatapnya nanar berkas yang bertuliskan nama KIM SEOK JIN. Sudah berulang kali dia menghembuskan nafasnya.

“Maaf nona Ryu, tadi ada saya ada pasien” seorang dokter lelaki paru baya masuk kedalam ruangannya.

“Ah tidak masalah dokter Lee, saya juga baru sebentar kok disini” sahut Hyosi sopan.

“Apa yang ingin anda bicarakan nona Ryu ?” tanya dokter tersebut. Hyosi menarik nafasnya dalam –dalam dan menghembuskan secara perlahan.

“Begini dokter ini tentang… “ Hyosi menggantungkan kata – katanya sembari melihat berkas Jin.

“Tentang Jin ?” tebak dokter Lee.

“Apa Jin berbuat sesuatu yang aneh ? Bukannya Jin anak yang penurut ?” dokter Lee mengkerutkan keningnya.

“Bukan dokter tapi.. tentang psikis Jin”

“Psikis Jin ? Saya rasa psikis Jin lah paling baik perkembangannya disini. Saya tidak mengerti bagaimana psikisnya meranjak dari hari ke hari tambah hambatan” jelas dokter tersebut.

Sekali lagi Hyosi menghelah nafasnya. Rasanya sangat susah mengakatan apa yang ingin dikatakannya. “Apa bisa Jin sembuh dalam 3 bulan ?” tanya Hyosi sambil menatap dokter Lee didepannya dengan tatapan berharap.

Dokter tersebut jelas kaget mendengar pertanyaan Hyosi. “3 Bulan ?”

“Iya 3 bulan” tandas Hyosi mantab.

Terlihat dokter tersebut mengurut keningnya dengan gusar. “Bagaimana apa itu bisa ?” Hyosi berharap.

“Saya akan bayar berapa pun asalkan Jin kembali normal dalam 3 bulan”

Dokter itu menghelah nafasnya “3 bulan itu bukan waktu yang lama. Saya tidak bisa menjamin dalam 3 bulan Jin bisa sembuh. Walaupun psikis Jin  membaik setiap harinya. Dan walaupun Jin rajin untuk terapi dan Jin selalu rutin minum obat. Tapi tidak dalam waktu sesingkat itu Jin bisa kembali normal” papar dokter tersebut.

“Dokter saya mohon. Bantu Jin untuk bisa normal kembali” pintah Hyosi.

“Saya akan bantu dia, tapi dengan waktu 3 bulan apakah bisa ? ”.

Hyosi yang mendengarnya menundukan kepalanya. Rasanya kepalanya benar – benar sakit mendengar kan hal itu.

“Dokter ada kah cara – cara untuk mempercepat penyembuhan Jin ?”

“Kalau mempercepatnya pasti ada, tapi saya tidak tau pasti. Ini belum pernah di terapkan kepada pasien di sini” dokter Lee tanpak berfikir.

“ Saran saya sering – sering lah Jin di bawah ke bahasan yang lebih dewasa. Agar pemikiran dewasanya cepat berkembang. Kalau menurut saya tidak susah untuk membuka pemikiran Jin kearah dewasa. Umur Jin juga sudah dinyatakan dewasa, tapi saya tidak bisa memastikan Jin langsung bisa menanggapinya”

“Dan juga keajaiban. Berdoa kepada Tuhan agar Jin diberi keajaiban kembali normal tanpa yang kita bayangkan.

“Kalau menurut saya 3 bulan itu sangat berat Jin untuk benar – benar sembuh total. Tapi kita tidak tahu juga, kalau Tuhan berkehendak” Dokter Lee mengakhirinya dengan senyuman hangat.

“Apa ini menyangkut… “ dokter Lee menghentikan kata – katany melihat Hyosi yang terkejut mendengarnya.

“Ah.. maaf nona Ryu “ sahut dokter Lee cepat.

“Tidak masalah dokter. Benar yang anda maksud “ Hyosi menunjuk kan senyum tipisnya.

Hyosi bangkit dari duduknya untuk pamit “Kalau begitu saya pamit. Terima kasih sarannya dokter” kemudian Hyosi membungkukan badannya dan di balas senyuman oleh dokter Lee.

“Nona Ryu “

Hyosi membalikan badannya saat dokter Lee memangil.

“Ya “

“Anda bisa membawa Jin keluar setiap harinya. Jin butuh wawasan yang luas agar merangsang pemikirannya juga. Itu juga salah satu cara agar mempercepat Jin agar kembali normal”

“Ah satu lagi saya hampir lupa. Menurut data psikis Jin. Jin bisa berada di titik normalnya. Tapi itu tidak pasti kapan Jin berada di titik normalnya. Belakangan ini Jin sering sekali berada di titik normal tersebut”

“Benarkah dokter ?” tanya Hyosi sedikit senang.

Dengan deheman dan senyuman dokter Lee menjawab.

“Sekali lagi terima kasih dokter” ucap Hyosi.

 

-oo-

 

 

Jin sedang asyik menonton kartun di Tooniverse sampai – sampai Jin tertawa terpingkal – pingkal. Hyosi yang melihat Jin kesenangan menonton acara kesukaanya hanya tersenyum di ambang pintu.

“Sedang menonton apa ?”

“Kartun” Jawab Jin tanpa mengalihkan pandangannya. Hyosi sedikit merengut melihat Jin menjawab tanpa melihatnya. Kemudian Hyosi mendudukan dirinya samping Jin.

“Kau mengacuhkanku” desis Hyosi. Sontak Jin menoleh ke arah Hyosi.

“Ti – tidak Jin tidak mengacuhkan Hyosi, Jin sudah menjawab pertanyaan Hyosi “ papar Jin dengan raut muka terkejut. Menurut Hyosi muka terkejut Jin sangat imut sampai – sampai Hyosi tidak bisa menahan hasratnya mencubit pipi Jin.

“Aaaaa kau sangat menggemaskan” Hyosi mencubit Jin dengan sangat gemas, sedang Jin meronta – ronta kesakitan minta di lepas.

“Sakiitt Hyosi “ keluh Jin sambil memegang pipinya sekarang yang sudah memerah. Melihat hal itu Hyosi tersenyum kearah Jin dan disambut senyuman juga oleh Jin.

Detik berikutnya mereka sama – sama terdiam. Akhirnya Hyosi menundukan kepalanya dan menghembuskan nafasnya.

“Hyosi ada masalah ?” tanya Jin. Hyosi menggeleng rasanya bibirnya keluh mengatakan kalau dia ada masalah.

“Jin mau mendengar cerita Hyosi” tawar Jin.

Hyosi tersenyum kearah Jin. “Aku tidak ada masalah kok”

Tiba – tiba Jin berteriak kencang sampai Hyosi kaget dibuatnya.

“Ah.. sebentar..”

Jin segera melesat ke arah lemarinya. Lalu kembali lagi ketempatnya semula dengan membawa sebuah kertas dengan gambar bunga lily.

“Ini buat Hyosi” Jin tersenyum.

Hyosi tersentak melihat gambar bunga kesukaannya. Diambilnya gambar tersebut, diperhatikannya setiap torehan pensil di kertas ini. Gambar yang indah batin Hyosi.

“Membuatnya sendiri ?”

“Jin buat khusus untuk Hyosi” Jin sangat senang. Hyosi melihat melihat Jin yang tersenyum mengulurkan tangannya ke pipi Jin.

“Terima kasih”

 

**

 

Hyosi tengah berkutat di tugas – tugas kuliahnya. Rambutnya yang rapi kini sudah acak – acakan akibat tugas ini. Berulang kali Hyosi menggerutu kesal. Tugas kali ini sangat susah bagi Hyosi.

“Tck.Tck.. seperti nya sulit ?”

Dari ambang pintu Hwayong dengan membawa baki berisi teh tengah mengejek adiknya yang frustasi. Hyosi tau itu suara siapa. Dia tetap fokus ke tugasnya ini.

“Tenangin dulu fikiran mu Hyo “ Hwayoung meletakan teh di depan muka Hyosi.

“Eonni aku sedang sibuk deadline nya lusa” Hyosi sedikit menggeram tapi tetap fokus ke tugasnya.

“Aku dengar Appa ingin menjodohkan mu dengan orang lain ?” Pertanyaan Hwayoung sukses menghentikan kegiatan Hyosi.

“Eomma cerita ke Hyoyoung”

“Cih.. mereka sesuka hatinya saja” Hyosi mencibir kesal.

“Jadi ?”

Hyosi menghelah nafasnya. Pikiran yang pusing kini semakin pusing. “3 bulan Eonni. 3 bulan aku harus membuat Jin sembuh. ”

“Sial.. lelaki tua itu membuat aku benar – benar seperti wanita jahat” wajah Hyosi tiba – tiba menegang emosi.

“Hyo…” Hwayoung memegang pundak adiknya yang kini tiba – tiba tersulut emosi.

“Kau mengatakan kau jahat ? Dari sisi mana kau jahat eoh ?” lanjut Hwayoung lagi.

“Setelah 3 bulan aku membuat harus sembuh lalu aku menikah dengannya setelah itu aku meninggalkannya yang telah membuat perusahan keluarga kita kembali bangkit. Apa aku tidak dikatakan wanita jahat ?”

“Hyo.. kau menjaga dan menemani Jin selama satu tahun lebih dan sekarang kau ingin membuatnya normal dalam 3 bulan. Apakah itu termasuk dirimu dikatakan wanita jahat ?” kini Hwayoung menatap adiknya dengan lembut.

“Kau tidak jahat Hyo.. Bukan kau yang jahat. Eonni tidak pernah punya adik jahat” Hwayoung membelai rambut adiknya yang kini menundukan kepalanya.

“Tapi… setelah aku menikah dengannya, lalu aku meninggalnya” desis Hyosi.

“Kenapa kalau kau meninggalkannya ?” Hwayoung mengangkat wajah adiknya yang tertunduk.

“Kau merasa bersalah kalau meninggalkannya ?” Hyosi menatap wajah Hwayoung dengan lamat.

“Kau mulai menyukainya kan ?” Hwayoung tersenyum lembut ke Hyosi yang terbelalak kaget.

“Ti – tidak “ Hyosi menjawab dengan gelapan.

“Mau membohongi seseorang dari jurusan psikologi ?” Hwayoung menaikan satu alisnya.

Hyosi menatap kakaknya ini dengan kesal “Tsk…”

“Buat apa kau harus bilang, kau akan membuatnya kembali normal dalam 3 bulan ? Kalau kau sendiri tidak punya rasa apa – apa kepada Jin ? Bukan kah bagus kalau kau menikah dengan yang lain lalu membuat perusahan kembali normal dan setelah itu meninggalkannya. Bukan nya itu juga yang kau ingin kan Hyo ?”

“Tapi..” belum sempat Hyosi interupsi Hwayoung sudah menyelah duluan.

“Tapi apa ? Kau mau bilang  karena kau sudah menjaganya selama 1 tahun lebih ? Mau bilang sia – sia menjaganya tapi akhirnya meninggalkannya begitu saja ?”

“Hyo.. kau tidak akan membantah kalau itu bukan keingananmu dari hati”

“Kau memang selalu membantah tapi kalau keinginan itu dari sini” Hwayoung menunjuk dada Hyosi “Kau membantah habis – habisan. Itu lah Ryu Hyosi”

Hyosi diam tak berkata. Yang dikatakan kakaknya memang benar. Dia tidak akan membantah habis – habisan kalau tidak keinganannya dari hati. Seorang Hyosi memang anak yang suka membantah. Tapi tetap dia akan melakukannya apa yang disuruh. Karena Hyosi merespon perintah dengan pikirannya tidak dengan hatinya.

“Sekarang ceritakan apa yang membuat Ryu Hyosi membantah “

Hyosi menatap kakaknya kemudian menarik nafasnya dalam – dalam.

“Entah lah eonni aku juga tidak tau. Jin begitu baik kepadaku, bukan sekali dua kali dia perlakukan dengan tidak baik malah berulang kali tapi tetap Jin membalasnya dengan senyuman”

“Kau tau itu apa ?”

Hyosi menatap kakaknya dengan diam.

“Itu cinta. Jin tidak perduli apa yang kau lakukan terhadapnya. Jin selalu tersenyum kepadamu walaupun kau memperlakukannya tidak baik. Karena yang dia tau dia menyukaimu”

Kata – kata kakaknya membuat tubuh Hyosi meremang. Hyosi mengakui dirinya benar – benar salah. Kini Hyosi merutuki kesalahannya sendiri.

“Sampai Jin hampir mati demi mengambil bunga kesukaanku” Hyosi menatap Hwayoung yang mengkerutkan keningnya.

“Maksudmu Hyo ?”

Hyosi menundukan kepalanya “Jin hampir tenggelam karena mengambil bunga lily” desisnya pelan.

“Jadi Jin bagaimana ?” Hwayoung kini panik mendadak.

“Jin tidak kenapa – kenapa. Apa yang dialaminya tidak parah” jelas Hyosi.

“Hyo…” panggil Hwayoung.

“Eonni…..” Hyosi kembali menatap kakaknya.

“Ya”

“Lalu aku menangis di hadapan Jin, dan saat Appa mengatakan tinggalkan Jin aku semakin sedih. Itu artinya apa ?”

Mendengar hal itu Hwayoung sedikit tersenyum kearah Hyosi.

“Kan eonni sudah bilang. Kau menyukainya Hyo.. tapi kau malah membantah” Hwayoung mengacak – ngacak rambut adiknya ini.

“Sekarang bukalah hati untuk Jin” saran Hwayoung.

“Tapi sudah terlambat eonni”

“Cinta tidak mengenal kata terlambat Hyo… Kalau bukan sekarang kapan lagi ?”

 

**

 

Hyosi sedang berjalan di koridor gedung rehabilitasi tempat Jin berada, sesampainya Hyosi langsung membuka kamar Jin tanpa di ketuk. Hyosi tidak mendapatkan Jin. Mainannya juga berserakan dimana – mana. Lalu Hyosi menoleh ke arah kamar mandi. Terdengar suara percikan air “Apa Jin mandi ?” Hyosi bertanya kedirinya sendiri.

Tak mau ambil pusing Hyosi segera meletakkan bekal makanan siang untuk Jin dan segera membereskan kamar Jin.

Disela – sela Hyosi membereskan kamar Jin, Jin keluar dari kamar mandi. Dan jelas Hyosi melihat proses Jin keluar dari kamar mandi.

Jin hanya mengenakan handuk di pinggangnya saja, jadi Jin mengekspos tubuh bagian atasnya, air dari rambut Jin masih menetesi tubuhnya. Hyosi terperangah melihat Jin, Hyosi meneguk ludahnya kasar. Baru kali ini Hyosi melihat secara langsung tubuh Jin. Badannya yang putih dan abs – abs kecilnya serta bahu lebarnya yang belakangan ini Hyosi sukai. Hyosi semakin menatap Jin yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan membuatnya muka memerah “Sial “ rutuknya dalam hati. Jin masih belum sadar kalau ada Hyosi melihatnya. Disaat Jin ingin melepas handuk bawahnya “HYAAA” dengan cepat Hyosi menjerit dan menutup mukanya. Jin otomatis terkejut mendengar jeritan wanita. Di dapatnya Hyosi tengah menutup wajahnya sambil berjongkok.

“Hyo… Hyosi.. “ Jin gelapan melihat Hyosi. Dengan sigap Jin mengkaitkan kembali handuk yang sudah sedikit longgar di pinggangnya.

“Pakailah bajumu, aku menunggu diluar” Hyosi berkata masih dengan menutup mukanya dengan kedua tangannya.

 

Sesampainya diluar Hyosi menghembuskan nafasnya.

“Dia punya badan yang bagus juga” desis Hyosi. Di pegangnya pipinya yang memanas. “Kenapa wajahku jadi panas begini”

 

Selang beberapa menit Hyosi dikagetkan oleh suara Jin “Jin sudah siap” Hyosi pun menoleh kebelakang. Dia tersenyum kecil kearah Jin yang sudah memakai baju santainya. Hyosi pun mengikuti Jin dari belakang agar masuk ke kamarnya.

Hyosi pun menyiapkan makanan untuk Jin. Hyosi kembali tersenyum melihat Jin menatap makanannya dengan berbinar. Tanpa disuruh Jin segera mengambil makanannya dan menyuapkan ke mulutnya.

“Waaahh enaaak” rancau Jin disela mengunyahnya. Hyosi menanggapinya dengan senyuman tipis.

“Hyosi tidak makan ?”

“Masih kenyang”

Jin menatap Hyosi lamat kemudian diarahkannya sumpit kearah Hyosi.

“Buka mulut nya.. aaaaaa” pinta Jin.

“Masih kenyang Jin” Jin mendengar langsung merengut.

“Ayo makan.. aaaaa”

“Jin…”

“Hyosi ayo makan” Jin menatap Hyosi dengan puppy eyes membuat Hyosi memicingkan matanya lalu membuka mulutnya. Dari dulu Hyosi memang tidak tahan melihat  puppy eyes milik Jin.

Melihat Hyosi membuat Jin tertawa manis.

“Kenapa tertawa ?” Hyosi menatap Jin aneh.

“Hehehe Hyosi sangat lucu” Jin kembali lagi tertawa malah semakin keras. Hyosi semakin aneh menatap Jin kemudian mencibirnya. Lalu terlintas di pikiran Hyosi..

“Nanti malam mau ku ajak keluar tidak ?”

Jin menghentikan tawa nya lalu menatap Hyosi.

“Keluar ?”

“Jam 8 harus sudah siap” tandas Hyosi. Jin mendengarnya hanya diam sambil memasukan makanan kemulutnya dengan ekspresi binggung.

 

**

 

Hyosi Pov

 

Ku tatap pintu kamar Jin dengan gugup.

“Ah sial kenapa aku gugup begini” rutukku. Kupandangi lagi baju yang kupakai. Memastikan aku tidak salah kostum atau ada hal aneh yang yang kupakai.

Kubuka pintu kamar Jin. Mataku terbelalak kaget melihat Jin malam ini. “Sial, dia keren” desisku. Dia tengah berdiri di depan cermin sambil menekan – nekan pipinya dengan jarinya.

“Hyosi” dia membalikkan badannya.

“Sudah siap ?”

Dianggukkannya kepalanya seperti anak kecil.

“Ayo “ kulangkahkan duluan diriku keluar kamarnya.

 

Kami pun berjalan dikoridor gedung ini. Ku lirik Jin disampingku yang mengenakan. Jeans warna hitam pekat dipadukan dengan kemeja merah hitam lalu dilapisi dengan jaket kulit dan sneakers berwarna senada. Ah dia benar – benar keren kali ini. Kalau dia pacarku sudah ku peluk habis – habisan dia.

 

**

Author Pov

Sepanjang perjalan Hyosi dan Jin di landa keheningan, Hyosi yang fokus menyetir dan Jin sedari tadi melihat kearah luar dengan cengiran di bibirnya. Merasa jengah dengan situasi ini Hyosi membuka suaranya.

“Senang ?”

“Sangat” tanpa mengalihkan wajahnya Jin menjawab cepat.

Kemudian Jin menatap Hyosi.

“Jin ingin sushi” pinta Jin dengan sedikit merengek.

Mendengar hal itu Hyosi sedikit tertawa “Baiklah”

 

Sesampainya mereka di sebuah restoran sushi Jin segera membuka mobil dan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam tanpa menunggu Hyosi. Dan itu membuat Hyosi memekik kesal “Jin tunggu”

Jin menghentikan langkahnya dan menatap Hyosi yang merengut. Jin mengeluarkan cengiran khasnya dan mendatangi Hyosi.

“Maaf”

Hyosi yang memang kesal hanya mencibir Jin saja dan melangkahkan kakinya masuk kedalam, Jin melangkahkan menyamakan dengan Hyosi.

Jin melihat yang lain masuk dengan menggandengkan tangan, lalu Jin melihat tangan Hyosi disamping tangannya. Dengan ragu – ragu Jin manarik tangan Hyosi untuk di genggamnya. Hyosi sontak kaget dan menatap Jin.

“Seperti itu” Jin menunjuk pasangan yang sedang bergandengan tangan masuk kedalam. Hyosi melihat apa yang ditunjuk Jin lalu tersenyum kikuk.

“Boleh ?”

Dengan anggukan Hyosi menjawab lalu menundukan kepalanya. Gerakan yang dilakukan Jin membuat darahnya berdesir seketika. Jin tersenyum kearah Hyosi dan mengandenganya masuk kedalam.

 

“Hyo…”

Hyosi menoleh kebelakang mendengar namanya dipanggil. Matanya terbelalak kaget melihat apa yang ada di depannya ini. Teman SMA nya, teman yang mengejek Hyosi karena dia di  nikahkan dengan lelaki autis. Teman yang membuatnya malu saat reunian sekolah mereka. Teman – temannya Hyosi saling berbisikan satu sama lain.

“Kau dengan si aut…”

“Saya Kim Seokjin salam kenal” Jin membungkukan badannya lalu tersenyum kearah 4 teman sekolah Hyosi dan membuat teman – teman Hyosi tersentak kaget.

Haneul salah satu teman Hyosi menatap Jin “Kau bukannya autis yang tertawa saat kami lempari kue ?” tanyanya sinis. Hyosi mendengar sontak kaget. Diliriknya Jin juga terkaget mendengarnya. Rasanya Hyosi ingin menampar wanita ini.

“Benarkah ?” dengan senyuman Jin bertanya.

“Ini lelaki autis itu kan ?” Bongsun yang disamping Haneul bertanya ke Hyosi.

“Cih.. ngomong apa kalian semua “ Hyosi menatap kesal teman sekolahnya yang menyebalkan ini.

“Dia calon suamiku” tandas Hyosi.

“Dan dia calon istriku” Jin segera merangkul pinggang Hyosi lalu tersenyum. Hyosi menoleh menatap Jin yang juga menatapnya dengan senyuman. Hyosi terenyuh melihat Jin mengatakan hal itu kepada teman – temannya. Dan rasanya Hyosi ingin meleleh melihat senyuman Jin kali ini.

“Bu – bukankah yang au – autis itu” Haneul kembali menunjuk Jin dengan tak percaya dan menatap teman – temannya dengan terkejut. Jin mengalihkan pandangnya ke gadis yang bernama Haneul itu.

“Ia kau yang autis itukan ?” tanya teman di sebelah Haneul tersebut.

“Lalu apa masalah anda nona – nona ?” kini Jin tersenyum miring. Sekali lagi Hyosi kaget mendengarnya lalu dia teringat perkataan dokter Lee ( “Jin bisa berada di titik normalnya” ) Apakah dia berada di titik normalnya ? Hyosi bertanya – tanya dalam hati.

“Kalau begitu kami pamit permisi dahulu nona – nona”

Jin pun membawa Hyosi menjauh dari mereka, darah Hyosi semakin berdesir dan degub jantungnya berdetak, bagaiman tidak Jin semakin memeluk pinggangnya dengan erat.

 

 

Hyosi sedari tadi terus – terusan menatap Jin yang sedang lahap memakan sushinya. Dia tidak percaya apa yang dikatakan Jin tadi.

“Jin..” panggilnya.

“Hhhmm”

“Kenapa berkata seperti itu tadi hmm ?”

“Berkata yang mana ?” Jin tidak mengalihkan pandanganya ke Hyosi.

“Yang tadi “

Jin menatap Hyosi “Ah.. yang tadi..” Jin terlihat berfikir. “Jin tidak tau kenapa tadi Jin berkata seperti itu hehehe” Jin mengakhirinya dengan cengiran yang seperti anak kecil.

Hyosi menghembuskan nafasnya “Dia kembali lagi seperti semula” batin Hyosi. Hyosi pun mengalihkan pandangannya mengitari restoran sushi ini. Hyosi mengekerutkan kenaingnya melihat orang – orang kini menatapnya dan ada juga yang menunjuk – nunjuk. Hyosi melihat baju yang dipakai. Tidak ada yang salah kok batinnya. Lalu diambilnya cerminnya dilihat mukanya, tidak ada yang salah juga batinnya lagi. Tapi mengapa orang – orang menatap ke arah sini ? Hyosi kembali melihat pengunjung di restoran ini dengan bingung.

“Permisi ini teh yang anda minta nona” sahut pelayan direstoran ini.

“Sepertinya pacar anda menjadi topik hangat pengunjung disini nona” sahut pelayan itu lagi.

“Huh ?” Hyosi menatap pelayan wanita itu bingung. Pelayan tersebut tersenyum kearah Hyosi. “Pengunjung disini melihat pacar anda nona”

“Melihat Jin ?” Hyosi kaget mendengarnya.

Dengan anggukan pelayan ini menjawab “Kalau begitu saya pamit nona” pelayan itu pergi meninggalkan Hyosi yang menatap Jin dengan tercengang. Ditatap Jin yang sibuk dengan makanannya. Hyosi tidak mempungkiri Jin itu memang tampan.

Tapi selang berikutnya Hyosi mendadak merengut, malah semakin banyak pengunjung yang sengaja lewat di meja melihat Jin dan terkadang menunjuk Jin lalu berbisik – bisik.

“Jin “ desis Hyosi kesal.

Jin menoleh ke Hyosi “Ya”

“Cepat habiskan makananmu”

“Hum”

“Jangan membantah” tandas Hyosi.

Apakah Hyosi cemburu ? Entalah. Hyosi saja tidak tau pasti apa yang dia rasakan.

 

**

 

“Ah Jin senang sekali hari ini. Terima kasih” ucap Jin senang lalu dia menguap seketika.

Hyosi tersenyum tipis melihat Jin yang menguap seperti anak kecil.

“Kau sudah mengantuk ?”

Jin mengucek – ngucek matanya “Jin sedikit mengantuk “

“Tidur lah, aku akan menemanimu sampai tidur”

Mata Jin seketika berbinar mendengarnya “BENARKAH ?”

“Heeemm”

Jin pun segera naik ke tempat tidurnya tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu hanya membuka jaketnya saja. Di tariknya selimut untuk menutupi badannya.

Hyosin mendatangi Jin dan duduk disamping tempat tidur Jin. Jin mengambil sesuatu dari balik bantalnya.

“Bacakan cerita untuk Jin “ dengan sedikit mempoutkan bibirnya Jin meminta kepada Hyosi. Hyosi memicingkan matanya menatap Jin yang meminta seperti anak kecil. Sedikit kasar Hyosi mengambil buku yang Jin disodorkan Jin.

Hyosi memulai membaca buku cerita tentang disney princess. Sedikit geli Hyosi menceritakannya ke Jin.

“Kemudian pangeran dan putri saling bersama dan berakhir dengan bahagia” Hyosi mengakhiri ceritanya dengan senyuman di bibirnya. Hyosi menutup buku ceritanya dan melihat Jin tidur dengan pulasnya. Diletakkannya buku tersebut ke meja samping. Kini Hyosi menatap Jin yang sedang tertidur.

“Apa nanti kita akan berakhir bahagia ?” Hyosi menatap lekat wajah Jin. Tangan Hyosi terulur  mengelus pipi mulus Jin. “Maafkan aku, maaf” desis Hyosi sedih.

Hyosi pun bangkit dari duduknya, ditatapnya lagi wajah polos Jin dengan senyuman. Entah bisikan dari mana kini Hyosi memajukan wajahnya dan.. mengecup pipi kanan Jin.

“Selamat tidur calon suamiku” terukir senyuman sangat manis di bibir Hyosi.

 

**

 

Hyosi memasuki rumahnya dengan perasaan senang.

“Aku pulang?” sedikit berteriak Hyosi memasuki rumahnya.

“Wah.. sepertinya senang sekali “ Hyoyoung menatap adiknya yang senyam senyum saja kini duduk disampingnya.

“Habis bersama Jin ?” tebak Hwayoung dari belakang sambil membawa cemilan ke arah ruang tv.

“Hhmm” cengir Hyosi.

Hyoyoung menatap adik dengan heran. “Tumben senang habis bersama Jin ?” Hyoyoung menatap Hyosi sarkatis.

“Tidak boleh ?” dengan menaikan alis matanya Hyosi bertanya kakaknya.

“Kau.. Jangan – jangan..” Hyoyoung menutup mulutnya.

“Jangan – jangan apa ?” Hyosi menatap kakaknya dengan tajam.

“Sampai mana hubungan kalian ? Pasti kalian sudah melakukan yang aneh – aneh” Hyoyoung menunjuk – nunjuk wajah Hyosi.

PLETAK !!

“Aw.. “ Hyoyoung meringis akibat Hwayoung mentakbam kepalanya.

“Mesum”

“Apa ? Kan aku tidak salah berkata. Buktinya Hyo datang – datang tersenyum seperti orang gila” protes Hyoyoung.

Hwayoung pun menatap adiknya dengan tajam.

“Apa yang kau lakukan ?”

Hyosi menanggapinya dengan cengiran. “Hanya makan malam bersama”

“Dan eonni tau, tadi Jin sangat tampan” Hyosi memekik kesenangan. Kedua kakaknya saling tatap – tatapan “kisseu ?”

Hyosi yang tadinya senang kini menatap kedua kakak kembarnya. Dia menggeleng polos sambil berkata “Belum”

 

**

 

Jin berdiri di toko bunga sembari merawat bunga baby breath kesukaannya dan kini Jin telah menambahkan bunga lily putih kesukaan Hyosi.

“Kalian tampak indah” Jin menatap senang bunga lily dan baby breath yang ditanamnya.

“Lily “

Jin menoleh kebelakang  didapatnya Hyosi berdiri dibelakangnya.

“Hyosi” Jin kegirangan melihat Hyosi. Hyosi membalasnya dengan senyuman tipis. Lalu mendekat ke arah bunga lily yang ditanam Jin.

“Menanamnya sendiri ?”

“Khusus buat Hyosi, hihihi” jawab Jin.

 

“Mau pergi ?”

Bukan Jin namanya kalau tidak mengangguk antusias kalau diajak pergi.

“Mau kemana ?”

Jin tampak berfikir mendengar pertanyaan Jin.  Diputar – putarnya bola matanya seperti anak kecil berfikir “Bagaimana kalau jalan – jalan ke… pantai” Jin tersenyum 5 jari menatap Hyosi.

“Pantai..”

“Jin ingin kepantai” renggeknya.

“Tunggu disini sebentar aku akan meminta izin ke dokter Lee”

Jin dengan cepat mengganguk ke Hyosi.

 

Hyosi setengah berlari mengampiri Jin.

“Ayo..”

Jin menoreh melihat Hyosi denga muka pongonya “Kemana ?”

“Pantai”

“PANTAI” Jin sontak berdiri mendengar kata pantai.

“Siapkan pakaianmu aku jemput satu jam lagi” ujar Hyosi.

Jin segera melesat masuk kedalam. Dan Hyosi ke arah mobilnya untuk menyiapkan pakaiannya juga.

 

**

 

Jin dan Hyosi pun sampai di pantai Naksan daerah Yangyang di Provinsi Gangwon-do. Setelah makan malam mereka memutuskan untuk berjalan – jalan di pantai Naksan

Jin dan Hyosi jalan berdampingan menusuri bibir pantai Naksan. Angin malam menyapa lembut wajah mereka berdua.

Hening. Mereka sama – sama diam tak tau harus berkata apa. Hyosi tidak bisa melepaskan pandangannya untuk tidak melihat Jin.  Hyosi bolak – balik menelisik penampilan Jin. Celana ponggol selutut dan baju kaus warna putih dan dipadukan jaket hitam putih membuat Jin tampak casual. Hyosi merutuki bagaimana bisa setampan Jin bisa autis.

Hyosi tersadar saat Jin menoleh melihatnya sambil tersenyum.

“Apa Jin tampan sampai Hyosi melihat Jin terus ?” Jin mempergoki Hyosi yang terus menatapnya. Hyosi dengan cepat mengalihkan pandangannya melihat arah lain.

“Percaya diri sekali” cibir Hyosi angkuh.

Jin melihat Hyosi mencibirnya malah tertawa.

 

Hyosi memeluk tangannya menandakan dia sedikit kedinganan. Melihat Hyosi kedinganan, Jin segera melepaskan jaketlah lalu memasangkan ke tubuh Hyosi. Hyosi tersentak kaget akan apa yang dilakukan Jin.

“Hyosi kedinginan” lalu tersenyum hangat kearah Hyosi. Pipi Hyosi merona seketika melihat senyuman hangat dari Jin dan menundukan kepalanya.

Tes.. Tes.. Tes..

“Hujan ?” mereka serempak mendongakkan kepalanya keatas.

Jin segera menarik tangan Hyosi menuju hotel yang mereka tempati.

 

Kini tubuh mereka basah kuyub. Jarak hotel dari pantai memang dekat tetapi hujan semakin lama semakin deras membuat tubuh mereka basah.

 

“Hyosi ganti baju duluan, Jin menunggu disini.

“Jin kau basah kuyub, kau saja duluan berganti baju” Hyosi menyanggah.

“Hyosi saja duluan Hyosi nanti bisa sakit”

Saat Hyosi ingin protes Jin dengan cepat menarik Hyosi ke dalam kamar untuk ganti baju.

“Jin tunggu diluar” tandasnya marah seperti anak kecil.

 

Hyosi keluar dari kamar dan segera menyuruh Jin berganti baju. Didudukannya tubuhnya di sofa hotel ini sambil menonton tv menunggu Jin selesai ganti baju.

Selang beberapa menit berikutnya Jin sudah keluar dari kamar dan ikutan duduk disamping Hyosi.

“Sudah selesai”

“Hemm” jawab Jin.

“Jin..”

“Ya..”

“Pejamkan matamu”

“Buat apa ?”

“Sudah pejamkan saja, jangan dibuka sampai aku suruh buka mengerti” tandas Hyosi. Jin pun menutup matanya rapat – rapat.

 

Hyosi berlari kearah dapur diambilnya cake yang sudah dipesannya saat Jin mandi untuk pergi makan malam.

Dengan langkah pelan Hyosi mendatangi Jin dengan membawa kue yang berisi kan tulisan “Happy Birthday”

“Buka matamu” titah Hyosi.

Perlahan Jin membuka matanya.

“Selamat ulang tahun Kim Seokjin. Maaf aku telat” Hyosi menoreh senyum buat Jin.

“WAAAHH” Jin menatap kue dihadapannya ini dengan berbinar.

“Lucuuuuu” pekik Jin melihat kue yang bergambarkan disney princess dan juga mario di sekeliling kue ini.

“Ayo hembus”

“Oke” sahut Jin seperti anak kecil.

Sebelum Jin menghembus Hyosi menarik kuenya menjauh “Make a wish”

“Ah.. Jin lupa” Jin menepuk jidatnya lalu memejamkan matanya untuk meminta permohonan.

“Yatuhan terima kasih telah memberikan Jin kehidupan yang indah ini, terima kasih telah memberi Jin orang – orang yang menyayangi Jin. Hanya satu permintaan Jin. Jin mau Hyosi bahagia, Hyosi senang, Hyosi tidak bersedih. Jin sedih saat Hyosi menangis. Mohon kabulkan permintaan Jin”

Hyosi terperangah kaget mendengar permintaan Jin. Setetes air mata jatuh ke pipinya. Dengan cepat Hyosi mengapusnya.

setelah membuat permohonan Jin langsung meniup lilin di kue ini.

“yeeeee” teriak Jin kegirangan. Hyosi melihat Jin jadi ikut tesenyum. Kemudian Jin juga ikut menatap Hyosi.

“terima kasih” ujar Jin dengan lembut.

Hyosi masih tersenyum melihat Jin kemudian mengganguk.

 

Setelah merayakan ulang tahun Jin yang sudah sangat telat secara kecil – kecilan. Kini Hyosi dan Jin duduk di balkon hotel ini menatap pantai Naksan dimalam Hari sambil menikmati teh hangat.

“Hyosi..”

“Heem” Hyosi mendehem sambil menyerup tehnya.

“Terima kasih”

Hyosi menoleh kearah Jin. “Bukan kah tadi kau sudah mengatakannya ?” Hyosi menatap Jin heran.

“Jin ingin mengatakan sekali lagi” jawab Jin tersenyum. Hyosi menanggapi dengan senyuman miring. Lalu Hyosi menatap kedepan memikirkan Jin untuk 3 bulan kedepan.

Hyosi meletakkan tehnya dan diikuti oleh Jin juga. Kemudian Hyosi menjatuhkan kepalanya ke bahu Jin.

“Jin..” desis Hyosi lemah. “Apa kau akan ada selalu untukku ?”

Jin menoleh ke Hyosi “Jin akan selalu ada untuk Hyosi” jawabnya tegas.

“Benarkah ?”

“Hmm.. Jin akan selalu ada buat Hyosi”

“Jin..”

“Ya..”

“Boleh aku meminta sesuatu kepadamu” Hyosi menutup kuat matanya menahan getir di dadanya.

“Jin akan melakukan apa saja buat Hyosi”

“Peluk. Peluk aku” air mata Hyosi yang dia tahan mati –  matian kini lolos begitu saja.

“Hyosi kenapa ?” Jin menatap gusar Hyosi yang sudah menundukan kepalanya.

“Peluk aku Jin” bibir Hyosi bergetar mengatakannya.

“PELUK AKU” pekik Hyosi kemudian dengan gamblangnya Hyosi menumpahkan air matanya begitu saja.

Melihat Hyosi menangis hebat Jin segera memeluk Hyosi.

“Hyosi kenapa ?”

Diam. Hyosi lebih memilih diam dan meneruskan tangisannya yang menganjal di hatinya.

Tak mendapat jawaban. Jin semakin erat memeluk Hyosi.

“Hyosi jangan menangis” pinta Jin. Tiba – tiba Hyosi membalas pelukan Jin.

“Jin..” isak Hyosi dipelukan Jin.

“Jiiinn…” isakan Hyosi semakin pilu.

Melihat dan mendengar Hyosi menangis Jin juga ikutan menangis. Dia benar – benar tidak bisa melihat Hyosi menangis. Jin melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hyosi dengan kedua tangannya.

“Jangan menangis. Hyosiku jangan menangis” Jin menatap Hyosi lembut sangat lembut. Hyosi diam mendengar titah Jin. Ibu jari Jin tergerak menghapus air mata Hyosi.

“Hyosi ku jangan menangis” Jin menatap lekat – lekat Hyosi. Hyosi tersentak “Apa dia di titik normalnya” batin Hyosi lagi.

“Aku tidak suka kau menangis”

Hyosi semakin tersentak “Dia berada di titik normalnya

Entah dari dorongan mana Jin semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Hyosi. Hyosi diam tak bergeming. Wajah Jin semakin dekat, dan Hyosi semakin jelas menatap wajah Jin. Kini wajah Jin hanya berjarak 1 cm dari wajahnya.

“Aku menyukaimu” hembusan nafas Jin menerpa lembut wajah Hyosi.

CUP

Bibir Jin sudah mendarat lembut di bibir Hyosi. Mulanya Jin hanya menempelkan bibirnya saja selang detik berikutnya Jin menggerakan bibirnya di bibir Hyosi. Hyosi sontak menutup matanya. Gerakan bibir Jin yang lembut tidak menuntut membuat Hyosi terbuai. Semakin lama tempo ciuaman Jin semakin cepat. Tangan kiri Jin bergerak kearah tenguk belakang Hyosi lalu semakin menekan bibir tebalnya ke bibir plum Hyosi. Hyosi yang menerimanya merutuk dalam hati “Sial, ciumannya”. Hyosi yang semakin terbuai akan gerakan bibir Jin sedikit membalas ciuman dari Jin, mula – mulanya sedikit lama – lama Hyosi semakin membuka kesempatan untuk Jin lebih mengeksploitasi bibirnya. Jin dengan cepat melesakkan lidahnya kedalam mulut Hyosi. Di absennya gigi Hyosi satu persatu. Lalu menghisap bibir bawah dan atas Hyosi “Sial, sial kenapa dia ahli sekali” batin Hyosi lagi. Tak mau kalah dari Jin. Hyosi dengan sengaja mengangkat tubuhnya untuk duduk dipangkuan Jin. Tangan Hyosi yang tadinya meremas habis – habisan kaus yang dipakai Jin, kini sudah beralih ke leher jenjang Jin. Kemudian Hyosi menghisap gemas bibir tebal Jin yang menurutnya seksi. Jin sadar Hyosi sudah duduk di pangkuannya malah memeluk Hyosi agar semakin dekat dengannya. Tangan kanan Jin yang menganggur beranjak naik ketubuh Hyosi menggrayangi tubuh Hyosi yang masih berbalut baju tanpa lengan. Mata Hyosi yang tertutup kini terbuka lebar akibat sentuhan lembut Jin membuat Hyosi meremang. Lalu Hyosi menghisap kuat bibir Jin dan sedikit menggigitnya.

“Euungg” Jin melenguh. Sebuah smirk terukir di bibir Hyosi. Hyosi semakin membalas ciuman. Jin sepertinya juga tidak mau kalah, Jin mulai menggerakan kepalanya ke kanan dan kekiri agar semakin merasakan penuh bibir Hyosi. Hyosi ? Hyosi juga membalasnya.  Decapan demi decapan keluar dari mulut mereka.

Kini Hyosi meronta memukul dada Jin. Nafasnya sudah semakin sedikit. “Jin” desis Hyosi tertahan di sela ciuman pertama mereka ini. Jin sepertinya tidak mendengar permintaan Hyosi. Hyosi semakin tidak bisa bernafas “Jin” desis sekali dengan sedikit kuat. Jin pun menghentikan ciumannya.

Hyosi menarik wajahnya dari wajah Jin. Hyosi tersenyum lembut kearah Jin.

“Jin” panggil Hyosi dengan nafas memburu.

“Hyosi” sahut Jin dengan nafas memburu yang sama seperti Hyosi. Hyosi menangkup wajah Jin untuk benar – benar menatapnya.

“Boleh aku minta sesuatu untukmu” Hyosi menatap Jin lekat. Jin mengangguk.

“Jadilah dewasa untukku. Jadilah normal untukku”

Jin menatap Hyosi bingung.

“Aku ingin kau menjadi suamiku” ucap Hyosi tepat di bibir Jin dan mengecup lembut bibir tebal Jin.

 

TBC

 

HAAAAAAAIIIIIIIII….. masih menunggu ff nista gak jelas inikan gais ? Maaf ya kalau lama. Pandakim sibuk di banjiri sama tugas kuliah sampe – sampe pandakim hampir tenggelam /?

Di part ini tetap tidak disuguhin nc beneran. Karena pandakim fikir nanti alurnya akan kecepatan. Jadi mungkin entah di part mana akan ada pure nc nya ( halah bahasanya ).

Maaf kalau alurnya makin melenceng, tidak mellow mau muntah , maaf kalau tidak jelas, maaf kalau makin absurd kaya es doger /?

Duch Very very kamsia yang sudah koment dan like ini ff di part sebelumnya xixixixi.

Syudahlah ocehan pandakim . MOHON KOMENT SAMA LIKE NYA GAIS !!! chu~ :3😄 :*😀

About fanfictionside

just me

45 thoughts on “FF/ FOOLISH LOVE/ BTS-BANGTAN/ pt. 2

  1. Mewek T_T
    Setelah itu kipas”😀 panassss
    Hyosi yg gg bsa nafas, knpa aku yg sesak ya thor??
    Daebak part ini, bgus bgt mlah..
    Part 3 nya jgn lama” ya thor.
    Ditunggu..
    Hwaiting!!!!!

  2. AKHIRNYA INI FF KELUAR! Kyaaaaaa!
    Gak tau mau ngomong apa, ini kok ngefeel bgt ffnya thor T-T
    aku ngrasa jadi Hyosi eh, dilema gitu kan.. Kasihan Hyosi tertekan..
    Kalo ‘berada di titik normal’ Jin serem(?) ya, manly banget masaaaa ><

  3. wah…akhirnya dipost juga nih part 2nya *part 3 jangan lama2 ya thor*

    ngebayangin tingkah Jin bikin saya senyum2 sendiri. Jin emang bikin gemes sih. OMG Jin topless *pervert mode ON* >_< itu temen2nya Hyosi nyebelin bgt yah & tiba2 Jin jd gentle😀 kissing scenenya TOT pokoknya Jin harus bisa dewasa & hidup normal ya ^^

  4. Aku senang jin jadi normal~ aduh ini fluffnya ngena banget >3< ey ey jin mulai nakal/? Sini aku peluk/?

    Selalu berada didalam titik normal kim seokjiiiiin~ u,u)/ next chap ditunggu😀

  5. Ommoooo jinjja Hyosi akhirnya menyukai Jin ye”🙂 wah Jin tu emang ganteng,cocok banget sama perannya di ff ni, huaaa Jin jago kiseuu ne? Jeball pandakim tetap ditunggu last chapter, fighting😀

  6. Daebak..!!! Jin udah makin dewasa.. FFnya makin menarik, saya suka saya suka..
    Keep writing thor.. Ditunggu part selanjutnya..!!

  7. Alhamdulillah~ jin mulai normal.. ^o^
    mdah² jin bisa normal dlm 3 bln ya?! .. or lbi h cpet juga gpp :v

    lanjuuttt~

  8. ahhh keren bgttt!! aku suka jalan ceritanya. emang sih agak lucu ngebayangin Jin yang kayak bocah bgt gt. tapi aku suka bgt cerita dia disini. bikin penasaran aja sama kelanjutan ceritanya. lanjutkan ya thor!!! next chapter lebih menggelegar lg eheh;)))

  9. Omoo omooo jiiin ya berubah jadi dewasa
    Mangkin keren thor ff nya di tunggu nex part nya
    Thor cepetan dah jin nya normal thor

  10. yeeyy~ om jin mulai beranjak dewasa!! hoho *salto*
    cepet dewasa yaa om jin, biar ganteng sama kerennya paten, ga sekali-sekali doang, wkwk
    np: om jin udah jago kisseu, uwaaa~~ >,< *terjun*

  11. jin mesum~
    jin mesum.. trixie suka. trixie suka jin mesum.. mesum-mesum lagi ya…
    _________________________
    sumpah ak ngakak baca koment ak ndiri.. #plak
    aku agk sedih baca part 1 & 2 tpi kurasa part selanjutnya menjelaskan fase perubahan dari jin polos-> jin setan mesum.. ;)))
    sempet iri sih..ada yg sayang ama hyosi sampe segitunya #Iri.. kepengen punya pacar kek gitu deh…

  12. degdegan baca scene terakhir terus bikin senyum-senyum hahahaha :3
    kasian ya Hyosi hidup nya diatur-atur sama Appa nya, dan gak tega juga kalo Jin sampe kehilangan Hyosi :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s