FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 13


Title : Darkside (Chapter 13)

Sub-chapter title :  It Just The Beginning

Author : A-Mysty ♔ (author tetap)

Cast :   Ahn Hye Min – Shin Ah Jung

            Shin Se Jung

Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 Kim Nam Joon

Min Yoon Gi

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.
 

Beware-Rose-Has-Thorns-Photo-from-www.abstract.desktopnexus.com_

 

 

 

 

Review :

Di tengah suasana yang manis itu, seorang gadis menatap mereka dengan napas yang tidak beraturan, serta tangan yang terkepal erat.

“Ya! Kim Taehyung!” pekik gadis itu keras.

///

Dengan langkah yang letih, Hye Min berlari mengejar Taehyung yang diyakini masih berada di lorong lantai 3 itu. Sudah hampir 25 anak tangga ia lewati hanya untuk meminta maaf dan mengejar orang itu. Degup jantungnya juga tidak bisa dikontrol dengan baik. Perut bagian kanannya juga terasa keram dan nyeri. Rasanya seperti dicengkram erat atau dicubit.

Napasnya terdengar putus-putus. Tenggorokannya juga terasa sangat kering. Hye Min sudah biasa mengalami inii. Sebab karena kebiasaan buruknya yang mandi malam-malam, ia terkena penyakit paru-paru basah ringan. Meskipun begitu, ia tetap berlari cepat. Ia ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini secepatnya.

Anak tangga ke 34. Itu adalah anak tangga terakhir yang ia injak untuk sampai di lorong lantai 3. Ia membungkukkan badannya sejenak dan menunduk. Napasnya terasa begitu sesak dan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Ia membiarkan udara yang ia hirup keluar begitu saja melalui mulutnya yang terbuka. Ia tidak bisa mengatus napasnya beberapa saat.

Karena terlalu sesak dan nyeri, kedua mata Hye Min sedikit mengeluarkan air mata dari ujung matanya. Kedua tangannya ia tumpukan di kedua lututnya, lalu ia mencoba mengatur napasnya. Poni panjangnya menjuntai menutupi sepatuh wajahnya. Ia memejamkan mata sesaat dan membatin beberapa ucapan.

‘Ya Tuhan… kenapa penyakit ringan ini begitu mengganggu?’

Selang waktu 10 menit ia membatin, napasnya sudah kembali beraturan. Meskipun, degup jantungnya seakan-akan memompa darah terlalu cepat. Hye Min meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering itu. Ia juga menjilat bibirnya yang tak kalah keringnya seperti tenggorokannya. Untuk beberapa saat, ia masih terdiam menunggu kondisinya membaik.

Setelah beberapa saat membungkukkan badan dengan tangan yang menumpu di lutut, Hye Min mulai menegakkan badannya kembali. Napasnya masih terasa berat, walaupun sudah normal. Dengan langkah yang dipelankan, ia menyusuri lorong 1 lantai 3 itu. Keram dan nyeri di perutnya juga mulai berangsur menghilang, hingga tidak mengganggu langkahnya lagi.

Hye Min melangkahkan kakinya dengan mata yang masih sedikit terpejam. Entah mengapa, ia tidak bisa membuka matanya karena air matanya yang sempat mengalir itu. Ia sedikit mengusap bibirnya yang mulai melembap, lalu membuka matanya perlahan. Namun, gerakan tangannya terhenti ketika melihat sesuatu di hadapannya. Kedua matanya yang baru saja terbuka itu langsung memicing.

Di hadapannya saat ini adalah sebuah adegan romantis. Adegan romantis yang dilakoni oleh orang yang ia cari dan seorang gadis. Ya, Taehyung tengah menaruh dagunya di pundak gadis yang wujud dan rupanya sama seperti dirinya saat ini. Sepertinya gadis yang mirip dengan dirinya itu, tengah tersenyum licik ke arahnya. Hye Min menurunkan tangannya yang tengah mengusap bibir itu. Namun, ia tidak mengatakan apapun.

Adegan itu semakin romantis ketika gadis itu memeluk Taehyung, lalu Taehyung membalas pelukan tersebut. Tangan Hye Min langsung terkepal erat. Rahang gadis itu juga mengeras seiring dengan apa yang ia lihat saat ini. Gadis yang memiliki rupa yang sama dengan dirinya itu, sedikit melonggarkan pelukannya dan meraba-raba ke dalam jas sekolah Taehyung. Kedua mata gadis itu terpejam seperti mengejek. Kali ini, Hye Min benar-benar tidak tahan melihat itu.

Dada Hye Min terasa sesak ketika melihat hal itu. Ia tak kuasa menahan rasa kesalnya ketika melihat adegan romantis tersebut. Seperti ada rasa yang terselip dibatinnya. Entahlah, mungkin cemburu atau semacamnya. Hye Min mendesis pelan. Dengan rahang yang mengeras dan suhu tubuh yang sedikit panas, gadis itu langsung berteriak dengan suara yang berat. Berat karena berbeda dengan suara perempuan kebanyakan.

“Ya! Kim Taehyung!” pekiknya keras. Kedua tangannya masing terkepal begitu erat.

Dari tempat ia berdiri, Hye Min dapat melihat Taehyung melepaskan pelukannya karena terkejut dengan pekikannya itu. Laki-laki itu sempat menoleh ke sekitar sejenak. Kemudian, menjauhkan tubuhnya dari gadis yang dipeluknya itu. Gadis yang tadi dipeluknya itu sedang menatap lurus ke depan. Taehyung pun mengikuti arah pandang dari gadis yang dipeluknya tadi.

Ketika Taehyung sudah membalikkan badannya, ia hanya bisa terpekik lalu diam. Tubuhnya terasa seperti membeku seketika. Ia menatap Hye Min yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan, Hye Min disebelahnya membalas tatapan tajam gadis yang serupa dengan dirinya. Hye Min yang asli mulai melangkahkan kakinya mendekati tempat dua orang itu berdiri dengan kesal.

“Hye Min… Oh! Astaga!” pekik Taehyung yang terlihat begitu terkejut.

Tatapan Hye Min yang di seberang sana dan tatapan Hye min di sebelah Taehyung terlihat sangat amat menusuk. Hye Min yang berada di sebelah Taehyung membalas tatapan benci Hye Min yang di sana dengan sebuah senyum licik. Melihat ada dua Hye Min di sekitarnya, Taehyung hanya bisa menatap sekitar bingung. Seketika, tubuhnya seperti terhuyung-huyung ke belakang.

“Tunggu… tunggu sebentar!” ujar Taehyung yang berusaha berdiri menengahi dua Hye Min tersebut. “Kenapa bisa ada dua Hye Min di sini?!” tanya Taehyung keras. Kepala terasa sedikit pusing dengan kehadiran dua yang berparas sama sekaligus.

Kedua Hye Min itu tidak menjawab apapun. Hye Min yang sebenarnya sudah melangkah maju untuk mendekati Hye Min yang berada di sebelah Taehyung. Tanpa aba-aba lagi, sebuah pukulan di tujukan ke wajah Hye Min satunya. Namun, Hye Min yang akan menjadi sasaran itu langsung menghindar dengan suara tawa yang lambat laun menjadi membesar. Suara tawa yang cukup mengerikan itu bergema di lorong lantai 3 tersebut.

“Cepat juga kau memergokiku. Padahal aku berpikir akan menjalani sebuah jalan cerita baru sebagai Hye Min ketika kau tidak ada. Kau percaya tidak? Ternyata setelah kematianku, aku menjadi sangat mirip denganmu. Bahkan, orang yang kau percaya ini tidak dapat membedakan aku dan kau, Ah Jung!” ujar ‘Hye Min’ dengan suara tawanya.

“Apa maksudmu? Kematian? Ah Jung?” Taehyung bertanya tanpa henti ketika gadis itu tertawa semakin kencang. Sedangkan, Hye Min sebenarnya memilih diam dengan rahang yang mengeras. “Tunggu sebentar!” ujar Taehyung sekali lagi.

‘Ah Jung… Siapa Ah Jung?’ batin Taehyung terus mengeluarkan pertanyaan yang cukup keras untuk pikirannya. Tiba-tiba, terbesit sebuah deretan kalimat yang ia baca tadi pagi di selembar halaman buku ‘Muerte’ milik Hye Min. ‘Ah Jung dan Se Jung! Jangan-jangan… Hye Min…’

“Kenapa kau terlihat begitu benci padaku?!” balas Hye Min keras. Matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca. Sepertinya ia akan menangis lagi.

“Kenapa? Bukankah, dirimu sendiri pemicunya?! Dulu kau juga melakukan hal yang sama seperti ini kepadaku?!” balas gadis itu.

Taehyung masih bergulat dengan pikirannya sendiri. Melihat dua orang gadis yang bertengkar di hadapannya secara langsung, membuat Taehyung tidak bisa berkutik beberapa saat. Mungkin karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, pilihan efektif untuk saat ini hanya berdiam diri.

‘Kalau Ah Jung yang dimaksud oleh buku itu adalah Hye Min… Berarti gadis yang aku peluk tadi adalah Se Jung? Astaga! Kenapa aku tidak menyadari perbedaannya?’

Taehyung menatap kedua gadis serupa yang tengah beradu mulut dengan mata yang memicing. Ia baru menyadari bahwa ada sebuah kalung pita hitam berliontin keabuan melilit leher gadis itu rapi. Kini, ia menepuk dahinya sambil mendengus. Bisa-bisanya ia tidak merasa aneh dengan sikap Hye Min yang tiba-tiba manja dan cengeng itu.

‘Berarti aku menyatakan perasaanku bukan ke Hye Min, melainkan ke Se Jung?’

“Maafkan aku yang egois untuk menjadi Gadis keluarga Shin sendirian dan melupakanmu! Maafkan aku juga yang tidak pernah memandangmu sebagai kembaranku!” balas Hye Min dengan setengah berteriak.

“Kau kira dengan mengatakan hal itu saja cukup untuk menghapus rasa benciku padamu? Dengarkan aku, Shin Ah Jung! Aku ke sini karena aku ingin mengambil setengah rohku itu. Yang aku butuhkan hanya rohku yang masih ada didalam tubuhmu itu!” Gadis yang Taehyung duga sebagai Se Jung itu menjawab ujaran Hye Min keras-keras.

“Kau tidak bisa seenaknya melakukan hal itu padaku. Aku tahu aku bukan adik kembarmu lagi sekarang. Aku juga baru tahu kalau aku pernah hidup di masa lampau. Kau lahir menjadi seperti ini karena kau menyimpan rasa benci. Lagipula, kau juga sudah mati! Kenapa kau masih mengincar roh ini?!” ujar Hye Min melenceng dari ucapan awalnya.

“…” Gadis itu –Se Jung- terdiam dan sedikit menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan tangannya erat ketika mendengar ujaran Hye Min yang tak jauh berbeda dengan ujaran Namjoon sebelumnya.

“Jawab aku! Kenapa kau masih mengincar roh ini, padahal kau itu sudah mati?!” bentak Hye Min sekali lagi. Mendengar berbagai bentakan Hye Min, Taehyung juga ikut membeku. “Se Jung! Kau dengar aku tidak? Harusnya kau yang bergabung dengan diriku. Karena aku yang masih hidup. Bukan aku yang ikut menjadi satu arwah dan mati bersamamu!” Gadis itu berteriak tidak karuan.

“…” Se Jung hanya bergumam dengan suara yang sangat kecil.

“Jawab aku! Kau dengar tidak?!” teriak Hye Min sangat keras. Bahkan, Taehyung langsung menutup kedua telinganya dan memalingkan wajahnya. Hye Min yang saat ini, terlihat berbeda. Semuanya terjadi persis sekali dengan barisan kalimat yang Taehyung baca pagi tadi.

[Kedua gadis itu akan bertemu di sebuah lorong bangunan yang tidak bisa dipatikan letaknya. Mereka akan beragumentasi mempertahankan roh mereka masing-masing. Se Jung, sang Yeowang, tidak menjawab apapun selain mendengar bentakan sang adik, Ah Jung. Atau lebih tepatnya, ia tidak tahu menajwab apa. Karena tujuan utamanya membunuh adiknya hanya ingin membalas dendam semata. Ia ingin adiknya mati bersamanya dan terlahir dialam tembus pandang. Lalu Ah Jung, gadis itu tidak berhenti mempertanyakan hal yang ia tidak ketahui apa tujuan Se Jung ingin membunuhnya dan mengambil rohnya kembali. Meskipun di dalam batinnya, ia sudah ingin sekali menangis ketakutan.]

Itu adalah paragaraf yang sempat Taehyung baca, sebelum Hye Min datang dan menubruk dirinya. Ia tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi di hadapannya. Padahal, sebelumnya ia hanya berpikir itu hanyalah cerita fiktif belaka. Kini, ia baru menyadari kenapa kehidupan gadis tersebut terasa sangat aneh dan asing.

Se Jung masih terdiam tak menjawab apapun, sementara Hye Min masih menuntut jawaban yang pasti. Tak ada pilihan lain dari dalam pikirannya. Ia harus mengakhirinya dengan memperlihatkan sosok aslinya. Lekas, ia mengangkat kepalanya dan menatap Hye Min tajam. Hye Min yang menerima tatapan Se Jung itu langsung terhuyung ke belakang dan jatuh duduk. Bola mata Se Jung bukanlah biru mengkilat biasa. Melainkan, biru mengkilat dengan sebuah garis spiral di tengah bola matanya.

“Kau lihat mata ini? Aku bisa kapan saja membunuhmu beserta teman-temanmu. Bahkan, kakak dan kedua orang tuamu di dunia ini hanya dengan hanya menggunakan tatapan seperti ini. Kalau kau ingin mereka semua selamat, kau cukup serahkan rohmu saja padaku.” ujar Se Jung dengan mata yang terbuka cukup lebar.

Taehyung yang juga sempat melihat bola mata spiral milik Se jung itu langsung membeku. Baru pertama kali ia melihat manusia dengan bola mata yang spiral seperti itu. Tapi itu tak berlangsung lama, Se Jung langsung membalikkan badannya dan berjalan pergi dengan langkah kaki yang cepat.

“Jangan pernah kau bertanya alasanku ingin membunuhmu. Karena, itu pertanyaan yang tidak ingin aku dengar dari dirimu.” ujar Se Jung dengan nada pelan, namun terdengar sangat dingin.

Hye Min masih terdiam dengan mata yang terbelalak cukup lebar dan mulut yang setengah menganga. Gadis itu tidak mengeluarkan suara keras seperti tadi. Bahkan, ia terlihat seperti patung sekarang. Sama seperti Taehyung, gadis itu terlihat begitu syok dengan tatapan spiral itu. Semua ciri-ciri yang dimiliki oleh gadis tadi, sangat mirip dengan isi yang ada pada buku kuno itu. Sangat persis…

“Ya,” ujar Taehyung pelan. Kini, laki-laki itu berada tepat di hadapan Hye Min dengan pandangan mata lurus menelusup ke bola mata gadis itu. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan bahwa gadis itu tidak ‘mati duduk’ hanya karena tatapan menusuk bola mata spiral tadi.

Hye Min memejamkan matanya sesaat, kemudian mengendus. Ia ingin menangis sekarang. Hidupnya seperti terancam. Ia benar-benar tidak ingin mati hanya karena masa lampaunya. Ia tidak ingin ‘mati muda’ atau mati secepat ini. Renkarnasi kelahiran yang ia terima ini sungguh berat dan tidak logis dimata orang-orang.

“Hye Min-ah?” panggil Taehyung sekali lagi, namun tak ada sahutan.

Taehyung terdiam menunggu sahutan dari Hye Min. Namun bukan sahutan yang ia dengar, tetapi suara tangisan yang ia dengar. Hye Min kembali menangis tanpa sebab. Ia mulai bangkit dari tempatnya dan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian, gadis itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.

Melihat gadis itu pergi tanpa menyahut pertanyaannya, Taehyung hanya bisa mengekori kemana langkah kaki Hye Min pergi. Gadis itu menghilang di balik belokkan menuju tangga tempat ia naik menuju lorong ini. Suara derap langkah kakinya juga mulai menghilang dari pendengaran. Taehyung hanya bisa mengendus lemah.

‘Kenapa semuanya semakin rumit…’

///

Namjoon hendak memukul Yoongi, namun terlambat. Yoongi sudah tidak ada di sana. Yoongi dan perempuan tadi itu menghilang begitu saja ketika Jimin terpekik secara tiba-tiba. Kini, hanya ada Namjoon saja yang berdiri di sana. Sedangkan Jimin, laki-laki itu terbaring sembari memegangi perut kanannya. Laki-laki itu hanya bisa mengerang kesakitan.

Laki-laki itu terbaring lemas sambil mengembuskan napas lemahnya. Dengan cepat, Namjoon berjalan menuju Jimin yang tergeletak lunglai itu. Ketika matanya mencoba menyipit, ia mendapati luka tusukkan di perut Jimin itu. Sepertinya, gadis yang tadi itu di‘atur’ Yoongi hanya untuk membunuh Jimin.

“Oh…” ujar Jimin bersamaan dengan endusan napasnya. Sakit dibagian perut kanannya itu semakin mengigit. “Namjoon… sunbae…”

Namjoon menatap Jimin sedikit sendu. Lagi-lagi ia tidak bisa menjaga orang yang menurut Hye Min adalah penting. Ia selalu saja terlambat. Namjoon terus merutuki dirinya melalui batinnya itu. Apalagi, ia menyaksikan cara gadis itu membunuh Jimin dengan sebuah pisau yang didapatkan entah darimana itu. Parahnya lagi, Yoongi menahan dirinya dengan cara menduduki punggungnya seenaknya. Kemudian, menahan kedua tangannya ke belakang. Semuanya seperti terjadi begitu saja tanpa sempat melawan.

“Sunbae-nim…” panggil Jimin sekali lagi. Suaranya kian melemah dan seperti akan menghilang, begitu juga dengan embusan napasnya saat ini.

“Y… ya?” jawab Namjoon ragu. Ia menatap Jimin yang sepertinya sekarat itu.

“Kalau aku benar-benar mati… bisakah kau…” ucapan Jimin terputus dengan suara erangan kesakitannya. Laki-laki itu menutup kedua matanya sangat rapat ketika sebuah rasa sakit kembali menyergapnya. Bersamaan erangannya itu, darah di perutnya itu keluar semakin banyak. Darah merah yang kental dan amis itu mengalir dari tangannya hingga menetesi lantai semen atap itu.

“Apa?” Keringat dingin mengucur dari pelipis Namjoon. Ia tidak menyangka bahwa ia gagal untuk melindungi orang lain lagi.

“Akh! Aku mohon padamu…” ucapannya terus terputus karena erangannya, sampai-sampai air matanya keluar, “Aku mohon padamu… untuk…”

Namjoon yang berjongkok di sebelah tubuh Jimin itu, tak kuasa menahan kesalnya sendiri. Kesal karena perbuatan Yoongi itu, “Kau katakan saja apa yang kau minta, kalau aku bisa aku pasti akan melakukannya.”

“Argh! Aku mohon… kau jagalah dua sahabatku yang masih… hidup… Dan tolong… sampaikan pada kedua sahabatku…. bahwa aku berterima kasih karena…. aku bisa menjalani kehidupan ber…sahabat yang indah ini meski… singkat…” Jimin berujar dengan nada bergumam dan putus-putus.

“Ah! Aku pasti akan melindungi mereka! Aku berjanji itu.” sahut Namjoon pasti.

“Satu lagi…” ujar Jimin, kali ini dengan sebuah senyuman yang ia usahakan.

“Apa? Kau katakan saja apa yang kau ingin katakan…” ujaran Namjoon terputus ketika Jimin langsung memotongnya cepat.

“Tolong buatlah Hye Min tersenyum… Dia sudah aku anggap sebagai adik, meskipun ia lebih tua 4 bulan dariku. Aku tidak… ingin melihatnya… menangis… Jika ia mengetahui… kematianku ini… bisakah kau… berkata padanya untuk… tetap tersenyum… Dan katakanlah pada Hye Min… dan juga Taehyung… bahwa mereka tidak… boleh menyerah… Karena persahabatan… ini sampai… kapanpun… tidak akan berakhir…” Jimin berujar dengan napas yang mulai terputus-putus. Namun ditengah rasa sakit yang menggigit itu, ia masih menyempatkan dirinya untuk tersenyum.

Jimin mempertahankan senyumannya, meskipun tipis. Namjoon bisa merasakan sesuatu yang buruk akan segera menimpa laki-laki yang ada di hadapannya ini.

“Selamat tinggal…” Pada akhirnya, Jimin menutup matanya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajahnya.

Dan… itu adalah ujaran terakhirnya. Tubuh Jimin itu langsung melemah seketika. Namjoon memerhatikan rongga dada Jimin yang bidang itu. Ia ingin memastikan bahwa Jimin masih melakukan proses pernapasan. Namun sayangnya, rongga dada itu tidak mengangkat dan menurun lagi. Diafragma perutnya juga tidak kembang-kempis lagi.

Seketika, telapak tangan Namjoon tergulung menjadi sebuah kepalan tangan yang begitu erat. Tanpa ia sadari, ia menangis melihat Jimin yang terbaring lemas dan sudah tidak bernyawa itu. Meskipun ia tidak mengenal Jimin sedari dulu, tetap saja ia tidak rela anak ini pergi. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Hye Min, bahwa ia gagal. Gagal untuk menjelaskan semuanya pada Jimin dan membuat mereka semua berbaikan lagi.

Ketika Namjoon berniat untuk membopong tubuh Jimin dari atap, tiba-tiba hiliran angin yang cukup kencang datang. Anehnya, hiliran angin hanya terasa di tubuh Jimin saja. Awalnya Namjoon tidak begitu mengindahkannya, tapi ia baru menyadarinya. Hiliran angin itu seperti mengubah tubuh Jimin menjadi pasir dan menerbangkannya hingga lenyap.

Namjoon hanya terdiam dan menangis kaku. Ia menatap pasir-pasir terbang itu dengan kesal dan kepala tangan yang semakin erat. Sebuah bulir air mata meluncur cepat dari salah satu pelupuk matanya.

“Yoongi-ssi, kau benar-benar kelewatan!” ujarnya keras.

///

Sebenarnya, Yoongi tidak benar-benar pergi dari atap sekolah itu. Ia hanya berdiri di atas atap bangun kecil di tengah-tengah atap sekolah yang datar itu. Tak ada yang menyadarinya, bahwa ia masih duduk di sana dengan sebuah senyuman yang licik khasnya. Atau lebih tepat disebut dengan senyum kemenangan.

Ia menyaksikan semuanya tanpa bersuara. Meskipun, sesekali suara kekehannya keluar tanpa sengaja karena saking senangnya. Melihat Jimin yang terbaring lemas dan sekarat itu, Yoongi semakin ingin tertawa sekencang-kencangnya.

“Bagaimana? Itulah hukumanmu karena telah menguping pembicaraan orang lain…” ujarnya pelan.

Yoongi menatap Namjoon yang tengah berbicara dengan Jimin itu, sebelum Jimin mengembuskan napas terakhirnya. Ia menatap dua orang itu dengan serius bersamaan senyumnya itu. Mengetahui Jimin sudah tidak bernyawa, Yoongi bersiap-siap menggerakan telunjuknya untuk mendatangkan hiliran angin halus. Hiliran angin itu ia gunakan untuk mengubah Jimin menjadi pasir, lalu membawa roh laki-laki itu untuk menjadi ‘koleksi’-nya yang selanjutnya.

Ketika semuanya sudah berhasil, Yoongi bangkit dari posisinya dan hendak menghilang begitu saja. Tepat ia akan menutup kedua kelopak matanya, ia mendengar suara pantulan keras Namjoon yang menyisipkan namanya.

“Yoongi-ssi, kau benar-benar kelewatan!”ujar Namjoon sangat keras.

Yoongi langsung membuka matanya sedikit dan kembali tersenyum licik. Ia melangkahkan kakinya menuju ujung atap bangunan kecil tersebut sambil bergumam.

“Dengan begini, tidak akan ada yang tahu sosok ‘Dokter Jung’ yang sebenarnya, kan?” ujarnya licik.

///

Se Jung duduk di sebuah pilar tua pembatas sekolah dengan sebuah hutan rindang. Pilar tua yang sudah berlumut itu menjadi tempat yang biasa ia gunakan untuk mengawasi gerak-gerik Hye Min. Ia terduduk dengan dikelilingi angin dingin. Langit menunjukkan sepertinya akan terjadi hujan yang deras. Se Jung menutup matanya dan menyungging sebuah senyum licik.

“Sebentar lagi… sebentar lagi… waktu itu akan datang…”

To Be Continue

Author’s Note:

Pendek ya? Aku juga merasa begitu:/ Habisnya aku sudah kebingungan akan menceritakan apalagi di chapter 13 ini. Tapi, semoga chapter ini nyambung sama chapter sebelumnya hehe.

Spoiler: Di chapter 14 nanti ada cerita yang sedikit membuat tidak menyangka (mungkin), serta sesuatu yang buruk terjadi pada seorang dari 3 tokoh yang masih tersisa🙂.

About fanfictionside

just me

26 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 13

  1. JIMIN MENINGGAL MAYGAAAAATTTTT >< abang gue yg chubby lu kenapa mati hiksss.
    okeh itu Taehyung jadi linglung ya liat ada 2 hyemin wkwk. dan yoongi, grrrr kau menyebalkan syekaliiiiiiiiii!!!!
    please, 3 orang jangan dibuat meninggal yaaa. buat aja mereka HAMPIR meninggal aja, jangan sampai meninggal. nggak tega gitu kalau meninggal juga T.T dan pengennnnn gitu rasanya kalau hyemin sama taehyung pacaran awawaw wkwkwk.
    oke next chapter please?

  2. Plisssss di next chapter taehyung nya jangan matiiii. Cukup sudah jimin saja yang menjadi korbannn

  3. Ya ampun gue nangis pas jimin mati,sedih banget huee:( duh thor emng sih rada kependekan,jadi tambah penasaran nih:’) lanjut yaa thor,jangan lama2 hihi

  4. Aiissss,,jinjja menegangkan thor,kurang panjang sih,wah orangnya makin dikit ya sisanya,semoga dengan masih adanya 3 orang tersisa,mereka tak menyerah, Hye Min-ah aku mendukungmu,next chapter ‘fighting’😀 ditunggu

  5. Haii thorr aku reader baru:3 belum dibaca sh hehe cuma tadi pas ngubek2 ggl ff bts fantasy nemu ini!:D dan spt nya ceritanya seru. Hehe udah dulu yaa aku cma mau ninggalin jjak dan mau baca dri part 1-13 nihoho=))

  6. Huwaaaaaa fin! Aku udah baca dri part 1-13 dan kenapa jiminnya matiiii??:((trus pas adegan taehyung sama hyemin itu udh so sweet bgt tpi trnyata itu si sejung-_-next chap nya jgn lama2 yaaa thorr trustrus sesuatu yg trjadi buat 3 tokoh tersisa apa?:-| pokonya taehyung sma hyemin harus bersatu!hahay *maksa-_- okelah sekian dulu cuap2 nya next chap jgn lama2 thor;***lvu fighting!!({})

  7. Yah author, masa Jimin-nya metong? TT.TT Doh, Yoon Gi bener” nista banget, mukanya yang unyu gitu bisa”nya bikin Jimin jadi ‘koleksi’nya *apa ini?* Mending next chapter Yoon Gi aja yang diilangin, wkwk. Thor, next chapternya jangan ada yang diilangin ya, cukup Jimin aja dah -_- jangan Taehyung, aku tak rela -_- weks.
    Untuk chapter ini feelnya justru dapet banget thor, part Jimin-Rapmon bikin gue jadi mewek” gaje. Kurang panjang? Bener banget thor. Next chapter panjangin, TBC-nya juga gregetin thor, soalnya di chapter ini TBC-nya kurang gantung gimana gitu -halah-.
    Sekian thor, thanks for the jjang fic, next part, i’ll waiting!!!!😀

  8. ini kependekkan thor, tapi gapapa deh aku tunggu kelanjutannya. keep fighting thor, jgn lama” publishnya hehe^^

  9. Tanggung jawab ah lu thor bikin abang gue mati :”) gue nangis masa u.u
    Demi apa ini ff keren badaai…
    Btw mian ya thor baru komen /baru baca/ hehehe *langsung cus ke part 14*

  10. Authooooorrrrr…….. Kenapa Jiminnya matiiiiiiii?????!!! Aku nangiiiisss T_T Yoongi jahaaaattt >,< gue pecat lu jadi bias *plaakk
    Seru banget thor, sueeerr…..

  11. huahh….. kenapa jimin harus pergi ??? kenapa ??? /drama/ *abaikan* ;-;
    Wih, sedih banget pas bagian jimin ngucapin kata-kata terakhirnya aku sampe gimana-gimana gitu ;-;. ih si se jung orangnya batu -_- sebel deh/?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s