FF oneshot/ TALKING TO THE MOON/ SJ-SNSD


Judul : Talking To the Moon

Length : One Shoot

Cast : Seohyun, Yesung

Genre : Sad Romance

Author :  layersmask ♔ (author tetap) *introduce FF*

 

Disclaimer: This story belongs to me. Don’t ever think to copy it in any form! This story inspired from “Dealova”.

 

Author’s note: Jadi, ini FF usang yang ada di draft PCku. Hehehe. Ini FF pertamaku, dan satu-satunya oneshot. Setelah bertahun-tahun belum pernah aku proof-read jai pasti banyak yang ngaco banget >< Tapi karena harus ngirimin one-shot, ga boleh multi chapters, jadi aku kirimin ini aja. Jangan terkecoh please sama FF ini, karena aku yakin 100% aku ada penaikkan yang signifikkan dari beberapa tahun yang lalu.

Happy reading!

___

 

“kata Jaeybom dia pindahan dari School of Performing Arts.”

“Benarkanh?! Gossh! Pantas dia berbicara saja suaranya merdu sekali! Aaaaa!!” Wanita itu menggigit buku tulisnya  karena gemas.

“tampan, imut, punya bakat seni…. Ughh dia sempurna!”

“errr bukankah aneh kalau dia lebih memilih pindah kesekolah kita, kau tau bisa masuk ke sekolahan itu adalah suatu keberuntungan…”

“ugh tapi keuntungan untuk kita karena dia pindah kesini.” Mereka semua tertawa dan mengangguk setuju.

Seohyun yang berada di anatara mereka menutup bukunya dan membantingnya kemeja “YAAH!” Semua mata tertuju padanya, “Memangnya pria itu akan masuk ke soal ulangan nanti?!” tiga temannya yang sedang mengelilingi meja Seohyun langsung terdiam,dan.. satu kelas ikut terdiam. Aissh!

Seohyun memang dikenal sebagai anak cantik, kaya, genius, teladan dan… galak. Dia adalahn primadona disekolahnya. Tidak ada yang meragukan kecantikkan alaminya, tetapi tidak ada juga yang meragukan sifat galaknya. Bahkan pria-pria disekolahnya pun takut padanya. Ratusan orang yang sudah menyatakan cinta padanya, namun dia tolak mentah-mentah.

Gadis itu bergeram kesal lalu mulai membaca lagi materi yang akan diujikan hari ini. Bagus seperti itu. Patuhi apa kata—

“namanya Yesung, nanti akan ku carikan nomor hp nya” teman sebangku Seohyun mulai bergossip lagi dan membuat kelas ribut lagi.

Kill me now!

 

****

 

“kau sudah selesai?” Guru Kim tersenyum dan menerima kertas jawaban ulangan Seohyun. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukkan. “eumm, kalau begitu tolong bawakan buku-buku ibu ini kekantor guru.” Tambah guru Kim

“uh? Oh, baiklah, ssem.” Dia mengambil tumpukkan buku itu dan memberikan guru baru itu senyuman palsu.

Berat banget! Tch! Aku lelah jadi anak teladan! Kalau saja ak— Seohyun tiba-tiba menghentikan kakinya ketika dia mendengar petikkan gitar dengan seseorang sedang bernyanyi di ruang musik. Tanpa sadar Seohyun melangkahkan kakinya ke ruangan tersebut.

 

At night when the stars light up my room

I sit by myself talking to the moon

Trying to ge to you

In hopes you’re on the other side talking to me too

Or am I fool who sits alone talking to the moon?

Ohoo…

hmm? Matanya membesar sesaat ketika melihat seorang pria dibalik gitar akustik itu menyanyikan dengan penuh penghayatan. Seohyun bisa meraskan bahwa nyanyian itu adalah suara dari hatinya. Dia menggigit bibir bawahnya dan tanpa sadar menahan nafasnya. Terlalu mengaggumi suara pria itu.

Apakah sesakit itu? Apa kau begitu sakit? Mata Seohyun mulai berkaca-kaca. Entah mengapa hanya mendengarkan pria itu bernyanyi saja Seohyun bisa merasakan sakit yang dialami pria itu. Ini pertama kalinya Seohyun merasakan sakit didadanya.

Saat pria itu selesai bernyanyi, Seohyun mulai mengambil nafas lagi yang sedari tadi dia tahan. Tapi sedetik kemudian dia menahan nafasnya lagi ketika pria itu menengok kepada Seohyun dan memberikan senyuman manisnya. Seohyun dapat merasakan mukanya mulai memerah.

Seohyun yang salah tingkah pun membuang muka dan bergegas menuju kantor guru. Dia berusaha melangkahkan kakinya lebar-lebar, namun tiba-tiba ada tangan yang menarik bahunya dan membuatnya mengahadap kepada sang pemilik tangan.

“hey!” kata orang itu. Mata Seohyun membesar dan menelan ludahnya. Oh no!

 

***

Yesung mencoba untuk mengatur nafasnya kembali. Ini adalah lagu pertama yang dia nyanyikan setelah 4 bulan tidak berlatih. Masih kurang, batinnya. Akhirnya dia merasakan ada yang memperhatikannya, dia menengok kearah Seohyun. Untuk beberapa saat dia berfikir mengapa ada anak yang berkeliaran dijam belajar seperti ini, tanpa sadar dia juga sedang membolos kelas. Wanita itu terlihat sangat kaget saat Yesung tersenyum dan pergi terburu-buru . Yesung hanya bisa terkekeh. Cute!

Yesung terdiam sesaat ketika Seohyun sudah tidak ada di jangkauan pandangannya. Dia masih bisa membayangkan wajah wanita berambut cokelat panjang itu saat kaget. My beautiful target! Yesung tersenyum pada dirinya sendiri dan mulai berlari untuk mencari sosok targetnya tersebut.

“Hey!” Kata Yesung dengan senyumnya saat akhirnya ia bisa menemukan Seohyun dan menarik bahu wanita itu. Lagi-lagi Seohyun terlihat kaget. Cute! Lagi-lagi Yesung berkata dalam hatinya mengagumi lucunya Seohyun saat kaget.

“A..Apa?” Seohyun mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar gugup. Tapi semut didinding di ujung koridor pun bisa mendengar suaranya bergetar.

Yesung mengigit bibir bawahnya berfikir dan mencari-cari alasan agar bisa mengobrol dengan Seohyun. Saat melihat tumpukkan buku yang Seohyun bawa senyumannya semakin besar.

“Biar aku bantu bawakan.” Yesung berkata dan berusaha untuk tidak smirk dan mengambil sebagian buku dari tangan Seohyun.

Seohyun mengigit bibir bawahnya tidak tau harus berkata apa dan mulai berjalan lalu diikuti oleh Yesung. Seohyun mulai menahan nafasnya lagi, jantungnya mulai berdegup kencang dan dia merasakan pipinya mulai memerah hanya karena pria itu berjalan disebelahnya.

Ada apa denganku?! Ugh idiot ada apa dengan jantungku? Apa dia bisa mendengar suara degupan ini? Suaranya begitu keras! Memalukan kalau dia da—

“kenapa kau tadi mengintip? Apa suaraku cukup baik? Aku rasa aku penyanyi yang berbakat bukan?” Tanya Yesung dengan terkekeh memotong pikiran Seohyun yang sedang kacau.

“A-apa?! Si-siapa yang mengitip?!” Seketika otaknya me rewind saat Yesung tadi bernyanyi dengan sepenuh hati. Dia berfikir bahwa itu pasti dinyanyikan untuk kekasihnya yang entah berada dimana. Hanya memikirkan itu saja membuat Seohyun kesal. Membuat auranya perlahan menggelap. Dia mengigit bibir bawahnya lagi lalu berhenti dan melihat sinis pada Yesung.

“Aku hanya mau melihat orang bodoh mana yang sedang membolos kelas dan menyelinap ke ruang musik. Kau pasti anak baru, biar aku jelaskan di sekolah ini membolos kelas akan dikurangi point 15 dan untuk informasi lainnya, kehilangan 50 point kau akan dikeluarkan dari sini. Dan.. kau pikir suaramu bagus? Bahkan anak kecil akan menangis mendengar suaramu. Khyuhyun sunbae memiliki suara 100 kali lebih baik darimu!” Celoteh Seohyun dingin dengan sekali nafas.

Yesung mengangguk-angguk seolah tidak merasa habis diomeli dan dihina, “Hmm..memang belum bagus. Sepertinya aku harus mulai berlatih lagi. Dan hey! Kukira kau hanya lucu saat kaget tapi ternyata kau lebih lucu saat marah seperti itu.” Yesung terkekeh membuat muka dan telinga Seohyun memanas.

“A- Apa kau sedang merayuku?” Seohyun melihat Yesung dari kepala hingga kaki dengan tampang jijik “Wake up, kau bukan tipe-ku.” Seohyun menumpukkan buku yang dia pegang ke tumpukkan buku Yesung. “Kau bilang mau membantuku kan? Bawakan ini ke meja Kim SSem.” Tambah Seohyun sinis dan berbalik jalan kekelasnya meninggalkan Yesung yang sedang menganga kaget. Namun sedetik kemudian dia tersenyum. Cute!

***

Ini sudah seminggu semenjak Seohyun bertemu dengan Yesung. Dan semenjak itu Yesung selalu mengganggu Seohyun saat istirahat. Pasti dia akan mencoba duduk satu meja dengan Seohyun dan berusaha duduk didepan Seohyun agar gadis itu memperhatikannya.

Seohyun kesal murid-murid satu sekolah akan berbisik-bisik saat dia lewat, mereka akan menggosipkan dia dengan Yesung. Seohyun kesal karena teman-temannya akan mengejeknya saat Yesung mencoba merayunya. Seohyun kesal saat jantungnya selalu berdegup kencang walau hanya karena melihat Yesung dari kejauhan ataupun hanya saat dia mencium wangi parfum Yesung. Seohyun kesal mukanya selalu memerah saat Yesung tersenyum padanya. Dan Seohyun kesal walaupun dia senang Yesung selalu berada didekatnya dia akan berkata kasar padanya saat dia ingat Yesung bernyanyi waktu itu walaupun Seohyun selalu menyesal setelahnya.

Semua ini karena Yesung!

Ya, karena Yesung!

Yesung…

Seohyun menghela nafasnya dan terus menerus melihat jam tangannya. Kenapa jam berjalan begitu lambat?! Lama sekali jam istirahat! Tch! Apa yang Yes—Mata Seohyun membesar, kaget dengan pikirannya sendiri. Apa-apaan ini?! Kenapa aku memikirkannya? Dia sangat mengganggu! Aku bahkan membencinya! Kenapa aku memikirkannya? Aaarhh! Seohyun mengacak-acak rambut kepalanya dengan kesal.

“Apa kau menunggu istirahat? Sebegitu rindukah kamu dengan Yesung sunbae?” bisik Yoona teman sebangkunya, memberikan Seohyun sebuh senyum yang penuh arti dan mulai terkekeh.

“Yah! Miccheoseo?!” bentaknya “Aku tidak merinduk—“

“SEO JOO HYUN!” bentak guru Choi padanya.

“Ma..maaf” Seohyun membungkuk dan mukanya memerah semerah tomat saat teman sekelasnya mentertawakannya.

Aissh!

***

Kreeek.

Yesung menolehkan kepalanya melihat wanita dibelakangnya menutupi kemeja bagian pinggan kanannya dengan muka memerah dan mata berkaca-kaca menahan malu. Dikoridor itu hanya ada mereka berdua dan segerombolan pria seakangatan dengannya yang pasti akan menggoda wanita itu kalau mereka sampai tau. Yesung tersenyum dan memberikan jaketnya kepada gadis itu.

Gadis itu mengambil dengan malu-malu dan berbisik. “Te-terimakasih, sunbae. Akan kukembalikan setelah aku berganti dengan baju cadanganku.”

 

***

Siang ini begitu dingin saat kelas 2-1 berolahraga di lapangan basket. Perempuan dibagi 2 kelompok dan pria juga 2 kelompok untuk saling bertanding di lapangan yang terpisah. Basket adalah salah satu olahraga yang Seohyun tidak bisa ia kuasai. Sebenarnya Seohyun buruk pada semua olahraga yang ada didunia ini kecuali berlari. Ya berlari karena dia memiliki kaki yang panjang.

“Baiklah, tim yang kalah harus mengikuti remedial hari minggu nanti. Jadi tidak ada libur. Aku harus pergi rapat, jadi bermainlah yang sportif! Karena MinHo dan HyuNa tidak olahraga, kalian yang menjadi wasit. Laporkan padaku pemenangnya setelah pulang sekolah nanti. Mengerti?!” guru Shi berkata dengann lantang.

“Ya, Sam!”

Muka Seohyun sekarang semerah tomat, walaupun matahari sangat bersahabat. Tapi, mencoba merebut dan mengejar bola adalah hal yang begitu melelahkan baginya. Seohyun menumpu tanganya  pada lutut yang tidak memiliki kekuatan lagi. Sedari tadi dia hanya mengejar bola yang sedang dioper-oper oleh lawan seperti orang bodoh. Tak mendapatkan sedetik pun untuk memegang bola. Dia mengisyaratkan kepada HyuNa untuk menyerah dan segera digantikan oleh NaYoon.

Dia menuju kebawah pohon rimbun dan merosot ketanah seakan tidak ada tenaga lagi. Sedetik kemudian teman sebangkunya, Yoona, duduk disebelahnya dengan asyik mengetuk dan sesekali mengusap layar smart phonenya dengan jari telunjuk. Dan dia yang memulai pembicaraan dengan tetap menatap kelayar handphonenya.

“Wow Seo!”

“Hm?” Jawab Seohyun acuh tak acuh yang sedang menikmati hembusan angin yang menyapu muka dan lehernya yang penuh keringat.

“Grup Antimu semakin banyak dalam beberapa minggu! Apa kau berfikir ini karena Yesung?”

Ada jeda beberapa saat hingga Seohyun menjawab dengan sangat tenang.

“Biarkan saja.”

Yoona menatap Seohyun sejenak lalu tersenyum penuh makna, “Haters gonna hate, kan?” lalu mereka berdua terkekeh hingga 4 gadis yang menyebut mereka sendiri The Girls, dari kelas 3 yang sedang berjalan menuju kantin – untuk membolos pelajaran – dan tak sengaja terkena bola nyasar yang dioper oleh NaYoon tapi meleset ke lengan salah satu gadis yang berambut cokelat itu.

“Aww!” Gadis itu meringis kesakitan. Seketika auranya menjadi gelap dan menatap NaYoon dengan penuh amarah. Di ambilnya bola basket itu dari tanah.

“Ma..maafkan aku sunbae. Maafkan aku tidak sengaja.” NaYoon berkata setengah teriak karena gugup dan membungkuk 90o kepadanya.

“Maafkan?!” Jawab gadis itu penuh amarah dan melempar bola sekuat tenaga kearah NaYoon yang menghindar dan meleset. “YAAH! Kenapa kau menghindar?!” Gadis itu menggeram dan menghampiri NaYoon yang diikuti oleh 3 gadis lainnya dengan mata penuh intimidasi kepada NaYoon.

“Berikan aku bolanya!” Perintahnya kepada gadis berambut pirang dibelakang NaYoon. Gadis pirang itu mengambilkan bola itu dari tanah dan memberikannya kepada kakak kelasnya.

Sekarang seluruh anak kelas 2-1 mengerubungi dan menonton mereka. Tepat saat Yesung dan Kyuhyun yang juga mau membolos kelas lewat, dan tertarik ikut menonton perkelahian wanita yang sangat menghibur.

“Jangan menghindar!” Kata gadis itu dengan kesal. “Lihat saja jika kau berani menhindar kali ini!”

“Maaf sunbae.. A-aku tidak sengaja.” Jawab NaYoon sembari menatap tanah.

Shut up!”

Saat gadis berambut coklat itu bersiap-siap melempar bola kepada NaYoon, Seohyun yang kesal segera menutupi NaYoon dengan badannya sendiri dengan tangan kanannya di pinggang dan memberikan gadis berambut coklat itu sebuah smirk.

“Apa kau tidak dengar dia sudah meminta maaf? Apa uang sakumu tidak cukup untuk membeli korek kuping?” Tanya Seohyun tenang dan mengundang tawa dari yang lain, termasuk Yesung.

“A…apa?! Kau memang tidak mempunyai sopan santun! Wanita jalang yang selalu menggoda Yesung!” Teriaknya gadis itu.

tch! Aku tidak tau kalau Sunbae suka mendengar Gossip murahan seperti itu.” Seohyun mengegeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau selalu merayunya hingga dia jatuh ditanganmu, dan saat dia terperangkap kau meninggalkannya dan membuat seolah-olah dia yang mengejarmu! Kau lebih menjijikan dari sampah!” Semua orang mulai berbisik-bisik menggossipkannya.

Sampah??!!

Yesung yang mendengar itu langsung melangkahkan kakinya menuju Seohyun untuk memberitahukan bahwa semua itu salah, tapi langkahnya terhenti ketika Seohyun menghela nafasnya.

“Sampah? Kau membicarakan dirimu sendiri? Sampah yang masuk kesekolah ini dengan menyogok kepala sekolah, selalu membuat ulah dan mencoreng nama baik sekolah? Berkacalah…. Sampah” jawab Seohyun setenang mungkin dan tersenyum penuh arti.

“YAAAH!!” teriak gadis berambut coklat itu.

BUK!

Semua itu berlangsung begitu cepat. Begitu cepat hingga dia merasakan pusing dan semua menjadi gelap. Dia mendengar orang-orang mulai ramai berbicara sesuatu yang tidak begitu jelas. Dia juga mendengar Yoona dan teman-teman lainnya meneriakkan namanya dan merasakan ada yang mengguncang-guncang tubuhnya dan menepuk-nepuk pipinya. Seohyun ingin membuka matanya tapi kelopak matanya terlalu berat.

Tiba-tiba dia merasakan ada seseorang merengkuh tubuhnya kedalam pelukkan seseorang.

Wangi tubuh ini….Yesung!

“Seoo! Bangun Seo!” Teriak Yesung frustasi.

Hanya mendengar suara Yesung membuat tenaga Seohyun perlahan kembali. Pening kepalanya belum hilang, namun dia mulai bisa membuka matanya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali karena dunia berasa berputar saat matanya terbuka. Hingga beberapa kali ia mengedipkan matanya dunia sudah kembali ketempatnya.

Dia melihat wajah Yesung yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya terlihat khawatir, tapi sedetik kemudian tersenyum dan bernafas lega saat Seohyun mulai sadar. Dia memeluk tubuh Seohyun yang masih tiduran di pangkuannya. Membenamkan kepala Seohyun ke dadanya.

“Aku sangat khawatir… Aku benar-benar khawatir.” Bisik Yesung tepat di sebelah telinganya, bahkan dia bisa meraskan hembusan hangat nafas Yesung di telinganya. Seohyun hanya bisa mengigit bibir bawahnya. Darahnya mulai memanas dan merasakan mukanya memerah. Yesung begitu dekat! Yesung sedang memeluknya! Dia bisa merasakan dada bidangnya. Tapi… Seohyun mendengus-dengus beberapa kali. Mencium aroma yang asing dihidungnya. Aroma parfum wanita. Matanya membelalak kaget. Dia meronta untuk melepaskan tubuhnya dari pelukkan Yesung.

Setelah lepas dari pelukkan Yesung yang kebingungan, dia mendorong badan Yesung sekuat tenaga sehingga membuat Yesung yang berdiri dengan tumpuan lututnya terjerembab kebelakang.

“Jangan menyentuhku! Kau menjijikan!” Bentak Seohyun dan berusaha berdiri walaupun masih sempoyongan. Membuat lapangan seketika menjadi hening.

“Darah! Seo hidungmu berdarah!” kata Yoona dengan nada sedikit tinggi karena kaget.

Karena panjangnya hidung Seohyun, bola yang dilempar tepat landas kejidatnya itu juga menghantam hidung panjangnya. Dia merasakan darah mengalir kebibirnya, dia mengusapnya dengan punggung telapak tangannya dan menjawab dengan santai. “Oh..”

Yesung yang masih kaget karena tindakkan Seohyun tadi dan melihat darah dihidung gadis itu berdiri perlahan dan mengulurkan tangannya untuk mengusap darah yang masih mengalir dari hidung Seohyun, tapi dengan cepat Seohyun tepis.

“Jangan. Sentuh. Aku!” Ucap Seohyun perkata dengan dingin.

“Bi..Biarkan aku membawamu ke ruang uks” Yesung terbata-bata, mencoba menutupi rasa sakit yang ada di dadanya. Ini memang kesekian kalinya Yesung diperlakukan seperti ini. Ini memang kesekian kalinya Yesung ditolak, tapi dia juga manusia, ada batasan untuk bersabar. Ada batasan untuk mengalah.

“Aku bisa sendiri.” Jawab Seohyun dingin dan berlalu meninggalkan Yesung. Menapakkan kakinya satu-persatu menuju ruang UKS. Kepalanya masih pening Karena lemparan keras dari bola dengan jarak dekat tadi, dan membuatnya limbung beberapa kali. Yesung melihatnya ingin membantunya tapi tau akan percuma, dia membuang mukanya dan berjalan perlahan meninggalkan lapangan.

Yoona segera berlari menghampiri Seohyun dan gadis itu menaruh tangannya mengitari bahu Yoona dan menjadikan temannya tumpuan.

 

***

Yesung menatap langit yang dihiasi awan-awan berwarna kelabu. Dibaringkan tubuhnya di atas atap sekolah dan menjadikan lengan kanannya sebagai bantal. Dia menghelakan nafas beratnya.

Aku lelah. Apakah ini saatnya menyerah? Rasanya ini sangat percuma.

Dia menghela nafas lagi. Setetes air lolos dari ujung matanya.

 

***

Yoona duduk di tepi kasur, menatap Seohyun sedang melamun yang hidungnya disumpalkan tissue. Dia menghela nafasnya.

“Hentikan!”

“Hentikan apanya?”

“Hentikan kau bersikap seperti itu.”

“Bersikap seperti itu apanya?” Seohyun melirik kearah temannya dengan alis mata terangkat.

“Bersikap kasar pada Yesung sunbae.” Saat mendengar kata Yesung, dia mulai melamun lagi menembus langit-langit ruangan itu.

Yoona menghela nafasnya lagi, frustasi. “Kau itu ada apa sih? Jelas-jelas kau juga menyukai dia, dan jelas-jelas kau selalu memikirkan dia. Tapi kenapa kau bersikap seperti itu?”

“Me-menyukainya? Apa kau bodoh?” Jawab Seohyun terbata-bata, kaget mendengar ucapan sahabatnya itu.

“Kalau begitu jelaskan padaku kenapa kau bersikap seperti itu!”

“Ya.. ya karena aku tidak menyukainya” Kata Seohyun ragu.

“Ayolah, kau masih berani membohongi sahabatmu dari kecil ini? Aku sangat tau kalau kau berbohong, cuping hidungmu akan mengembang.” Yoona memutar bola matanya “Jawab padaku dengan jujur, kenapa?”

Seohyun berfikir sejenak dan memegangi cuping hidungnya. Sial! Disaat seperti ini kenapa hidungku menghiatiku?! Hingga akhirnya dia menceritakan tentang saat-saat Seohyun bertemu dengan Yesung yang sedang bermain gitar dan pemikirannya tentang itu adalah lagu yang dinyanyikan untuk kekasihnya dan juga memberi tahu sahabatnya tentang wangi parfum wanita pada jaket Yesung.

Mata Yoona terbelalak kaget. Dia mendekat pada Seohyun dan menempelkan baju seragamnya ke hidung Seohyun “Apa wanginya seperti ini?! Hah? Jawab!” sentak Yoona dengan emosi.

Mata Seohyun kini yang terbelalak. Butuh beberapa detik agar otaknya bisa memproses wangi yang dia cium saat ini “Ba..bagaimana bisa?” Seohyun mengernyitkan dahinya. “Apa kau-“

“Apa aku berpelukkan dengan Yesung? Bodoh! Kau itu genius, tapi kenapa menyangkut tentang Yesung kau menjadi begitu bodoh, hah?!” Kata Yoona kasar dan kembali duduk di tepi kasur sedangkan Seohyun yang sedari tadi berbaring, sekarang duduk karena kaget.

“YAH! Apa makasudmu?!”

“Apa kau lupa sebelum istirahat tadi aku bercerita tentang bajuku yang mini itu robek karena lemak dipinggangku bertambah,  dan Yesung sunbae meminjamkan jasnya padaku?! Demi Tuhan, bahkan kau yang mengatarkan aku berganti baju!”

“A..A..Aku…”

“Kau apa? Kau bodoh? Kau menyesal?” Yoona yang melihat ekspresi campur aduk sahabatnya membuat emosinya luntur dan terkekeh geli.

“YAAH!” Muka Seohyun mulai memerah, karena semua yang dikatakan Yoona benar. Benar dia bodoh dan menyesal. Dia mulai mengigiti bibir bawahnya lagi. Suatu kebiasaan saat dia panik.

“Lalu masalah dia menyanyi itu…” Dia berkata setengah berbisik.

“Ada apa lagi?”

“aku.. aku tidak tau..” gumam Seohyun yang matanya menerawang tembok yang ada di depannya. Ada jeda beberapa saat  hingga dia berkata lagi “A-Apa aku keterlaluan?” Tanyanya hati-hati dan menengok ke arah Yoona.

“Bukan hanya keterlaluan, kau sangat-sangat keterlaluan. Kau itu terlalu cemburuan sehingga seperti ini. Masalah lagu itu, dia memang penyanyi yang baik, itu mungkin karena dia sangat menghayati lagunya”

Untuk beberapa menit mereka terdiam. Seohyun berpikir keras atas apa yang telah dikatakan Yoona. Dia benar, dia keterlaluan. Aku… terlalu cemburu? Dia menendang selimutnya dan cepat-cepat berdiri dan membuang tissue yang ada dihidungnya ke lantai. Membuat Yoona kaget dengan aksinya yang tiba-tiba.

“Yah! Kau mau kemana?”

“Aku.. Aku.. Mau mencari Yesung” Seohyun mengigit bibir bawahnya dan langsung melesat mencari Yesung, sedangkan Yoona yang ditinggalkannya hanya tersenyum.

 

***

Di kelas, kantin, lapangan, perpustakaan, maupun di toilet Yesung tidak ada. Membuat Seohyun frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya dan memejamkan matanya dan berpikir, jika aku Yesung, jika aku Yesung aku akan ke… Seohyun membuka matanya dan melangkahkan kakinya lebar-lebar lalu menaikki tangga menuju lantai atas. Dia berlari diantara anak-anak tangga hingga ia mencapai pintu besi berwarna hijau. Dia menggenggam erat-erat gagang pintu itu dan mencoba mengatur nafasnya dan detak jantungnya yang karena berlari atau karena akan bertemu dengan Yesung?

Seohyun membuka pintu itu pelan-pelan, berharap disana ada Yesung, pintu itu cukup tua sehingga menimbulkan bunyi decitan yang lumayan keras saat dibuka. Seohyun menyembulkan kepalanya diantara pintu dan melihat sekeliling hingga matanya bertemu dengan mata Yesung. Dia mulai menahan nafasnya untuk beberapa saat hingga dia melangkahkan kaki menuju pria itu.

Langit begitu mendung dan angin sangat kencang disini sehingga Seohyun harus memegangi terus roknya agar tidak tertiup angin. Yesung yang melihatnya langsung berdiri dari tidurnya.

“Apa yang kau lakukan disini, Seo?” Tanya Yesung dengan senyumannya yang membuat pipi Seohyun memerah. Dia memalingkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Yesung. Bahkan setelah apa yang aku katakana dia tetap tersenyum. Seohyun ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ada yang keluar dari mulutnya, bagaikan kata-kata itu tersangkut ditenggorokkannya, hingga mulai ada tetes-tetes air.

“Hujan. Ayo kita masuk kalau kau tidak mau kehujanan.” Kata Yesung sembari berjalan menuju pintu. Saat dia melewati Seohyun, Seohyun menarik lengannya. Yesung terlihat kaget dan bertanya dengan wajah bingung. “Ada apa, Seo? Apa kau masih sakit?” Mukanya berubah khawatir.

Seohyun mengigit bibir bawahnya dan menatap kakinya namun tangannya tetap menggenggam tangan Yesung dengan kuat.

“Maaf..” gumam Seohyun.

“A-Apa?”

Seohyun memberanikan hatinya menatap Yesung “Maaf.. Maaf selalu berbuat kasar padamu. Maaf..” dia mengigit bibir bawahnya lagi dan air mata mulai berjatuhan dipipinya, walaupun sedang hujan tapi Yesung tau kalau dia sedang menangis. “Ma..Maaf aku selalu berkata kasar padamu.” Suara Seohyun bergetar.

Yesung melepaskan tangan Seohyun dari tangannya dan kedua tangannya meremas bahu Seohyun untuk menenangkan gadis itu. “Tidak tidak tidak… Jangan menangis. Aku mohon jangan menangis.” Ucapnya cemas.

Mendengar itu Seohyun tidak berhenti menangis, melainkan tangisannya semakin menjadi. Kenapa dia begitu baik setelah apa yang selalu Seohyun lakukan padanya?  “Tapi aku keterlaluan hiks— tidak seharusnya aku seperti itu hiks— maafkan aku.. Yoona bilang hiks— itu karena aku cemburu hiks—.“ katanya polos.

“Ce-cemburu?” Kening Yesung mengkerut, bingung. Lalu dia tersenyum dan memegang kedua pipi Seohyun. “Kau.. adalah cinta pertamaku. Tidak seharusnya kau cemburu, karena..” Yesung menempelkan keningnya ke kening Seohyun. “ Hanya ada kau dihatiku.”

Mata Seohyun terbelalak, mukanya memerah. Tapi kemudian dia tersenyum. Rasanya senang mendengar itu dari Yesung. Walaupun mereka berdua sekarang sudah basah kuyup, tapi hembusan nafas Yesung yang menyapu wajah Seohyun membuatnya hangat. Walaupun dingin, dia tetap merasa nyaman.

So.. Would you be my girlfriend?”

“A-Apa?!” Seohyun menjauhkan kepalanya dari Yesung. Tidak percaya apa yang dikatakan Yesung. Namun seketika dia tersenyum.

Sure.”

“A-Apa?!” Sekarang giliran Yesung yang kaget. “Apa aku menghayal?”

“Tidak, bodoh!” Seohyun terkekeh.

Lalu entah bagaimana, terlalu cepaat terjadi, Yesung mendaratkan bibirnya ke kening Seohyun.

Hangat..

 

***

 

Ini sudah sebulan semenjak mereka menjadi sepasang kekasih. Tapi selama itu juga mereka tidak pernah pergi berkencan, mereka hanya bertemu disekolah ataupun hanya saling berkirim pesan, karena Yesung sedang sibuk belajar untuk ujian Universitas.

Seohyun terbangun karena getaran hanphone di bawah bantalnya. Dia melirik kearah jam nya yang berada di meja lampu tidur, menunjukkan jam 6 pagi. Siapa yang menelfonku sepagi ini?! Seohyun menghiraukan getaran itu dan mempererat selimut yang menutpinya dan mulai tertidur lagi seiring getaran itu hilang.

Dreeett.. dreeett..

Baru saja ia memasuki pintu mimpinya, Seohyun terbangun lagi. Dengan malas dia mengangkat telfonnya tanpa melihat siapa yang menelfonnya.

“Halo?” Kata Seohyun dengan suara yang khas orang baru bangun tidur.

“Halo. Apa aku membangunkanmu?” Orang yang ada diujung telfon terkekeh.

Butuh beberapa detik agar otaknya memproses apa yang dia dengar tadi karena setengah jiwanya masih berada di dunia mimpi. Saat dia sadar siapa yang menelfonnya, dia langsung duduk dan melihat layar handphonenya untuk memastikan jika dia tidak salah dengar.

“O..Oppa..” Kata Seohyun setengah berbisik karena malu. Ini pertama kalinya Yesung menelfonnya. Sedangkan yang berada di seberang telfon terkekeh lagi. Sangat menyenangkan mendengar Seohyun memanggilnya Oppa.

“Maaf membangunkanmu.”

Seohyun menggeleng seolah Yesung melihatnya, “Tidak apa-apa. Ada apa?” Tanyanya to-the-point.

“Eumm,” Suara Yesung bagaikan musik ditelinga Seohyun dan itu membuat mukanya memerah. Dia bersyukur Yesung tidak bisa melihat wajahnya sekarang. “Kemarin aku baru saja selesai dengan ujian Universitas yang bodoh itu.” Gumamnya.

“ Hm, lalu?”

“Ayo kita pergi kesuatu tempat, aku sangat ingin bertemu denganmu.” Yesung tidak melihatnya tapi sangat yakin Seohyun sedang tersenyum sekarang. “Jam 9 akan ku jemput”

“Hah? Eum, baiklah oppa.” Terdengar sangat jelas Seohyun sedang gugup. Dia mengutuk dirinya sendiri karena terdengar begitu bodoh pada Yesung.

“Eumm, apa kau tidur dengan baik?” Tanya Yesung dan percakapan mereka berlanjut hingga jam 9, mereka tidak menghiraukan handphone mereka yang mulai memanas.

 

***

 

Tangan mereka saling bertautan melewati ramainya MyungDeong saat senja hari. Ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Dalam sehari mereka semakin dekat, dan menjadi lebih mengenal satu sama lain.

Yesung mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, sedangkan tangan kanannya tetap memegang erat tangan halus milik Seohyun.

“Oh sudah jam 7!” Kata Yesung tiba-tiba.

“Ada apa?” Tanya Seohyun. Seperti biasa kata-katanya selalu to the point, padat dan jelas.

“Aku ingin kesuatu tempat sebelum semakin malam dan semakin dingin.” Jawabnya sembari menarik tangan Seohyun untuk menuntunnya ketempat parkiran motor.

***

“Oppa.. apa kau yakin motor ini bisa membawa kita berdua? Bukan bermaksud menghina tapi…” Seohyun mengigit bibir bawahnya. Dia sekarang sedang mengendarai motor tua yang katanya dulu milik ayah Yesung. Di memeluk pinggang Yesung. Walaupun dia merasa aman berada dengan Yesung, tapi dia memiliki firasat buruk dengan motor ini.

Yesung yang mendengar suara Seohyun yang cemas hanya terkekeh dan senang karena motor ini membuatnya dipeluk Seohyun. “Walaupun.. walaupun motor ini terlihat seperti rongsokkan, tapi ini sangat keren.”

Beri tahu aku bagian mana dari motor ini yang terlihat keren?!

Kekhawatiran Seohyun semakin menjadi ketika mereka harus melewati jalanan yang menanjak untuk sampai ketempat tujuan. Motor itu mengaum keras saat dipaksakan mendaki jalannan itu. Dan membuat Seohyun mempererat pelukkannya pada Yesung.

Yesung lagi-lagi terkekeh. “Sebentar lagi kita sampai, tenang saja.”

10 menit kemudian Yesung memarkirkan motornya di bawah pohon besar, lalu menautkan tangannya dengan tangan milik Seohyun dan menariknya kesuatu tempat. Dia menariknya kesebuah taman yang lapang. Walaupun tidak ada lampu disekitarnya, tapi cahaya bulan begitu terang sehingga Seohyun bisa melihat wajah tampan Yesung yang disirami cahaya bulan.

Yesung menariknya lagi ke bangku terdekat. Saat duduk disana Seohyun dapat dengan jelas melihat bulan dengan hamparan bintang-bintang dilangit. Sedangkan Yesung menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, membuat Seohyun memalingkan wajahnya ke arah Yesung.

“Apa Oppa kedinginan?”

Yesung memiringkan wajahyna, “Seharusnya aku yang bertanya begitu, badanmu mengigil!” Dia menghela nafasnya lagi sembari memeluk pinggang Seohyun dan menaruh dagunya diatas bahu Seohyun. “Seharusnya aku membawamu bukan disaat musim seperti ini.”

Seohyun menggeleng dan tersenyum pada langit. “Menurutku ini hangat.”

“Benarkah? Aku kira kau akan marah” Dia melepas pelukkannya dan menatap Seohyun, “Sudah lama aku tidak melihatmu marah. Coba tunjukkan padaku ekspresi marahmu.” Yesung menunjukkan Aegyo nya.

Gadis itu berpikir sejenak, dia tau jika dia marah sekarang Yesung akan memanggilnya cute seperti biasa dan mencubit pipinya, dan dia tidak suka itu. Maka sekarang dia tersenyum, senyuman yang paling manis yang ia punya. Bukannya protes, tapi Yesung malah memegang dada kirinya dan terlihat kesakitan. Membuat Seohyun panik.

“O-Oppa! Kau kenapa?!” Tanyanya khawatir.

“Aku kira ekspresi terbaikmu adalah saat kaget dan marah, tapi saat kau trsenyum, begitu cantik, membuat umurku memendek.” Jawabnya serius.

“Yaah!” Seohyun memukul lengan Yesung, tapi dia tersenyum dan pipinya memerah.

Yesung terkekeh dan memeluk pinggangnya lagi. Mereka sama-sama memandang langit dengan diam, hingga Yesung yang pertama memecah kesunyian.

“Kau tau, aku sangat suka berbicara dengan bulan.”

“Hm? Kenapa?” Tanya Seohyun tapi tetap melihat langit.

“Saat 9 tahun, ibuku meninggal.” Seohyun menjadi kaku dan melihat ke arah Yesung, sedangkan Yesung hanya tersenyum dan terus melihat bulan. “Aku sangat sedih, setiap hari aku hanya menangis dan menangis. Sedangkan adikku yang masih berumur 6 tahun sangat tegar. Dan dia yang membuatku suka berbicara pada bulan seperti orang gila.”

*FLASHBACK*

“hyung, sudah jangan menangis.” JongJin menusap punggung kakaknya, “Kau tau, MinHo bilang jika seseorang yang sudah meninggal, akan tetap mengawasi kita. Mereka akan menjadi bintang yang sangat terang dilangit.”

Yesung kecil menghentikan tangisannya dan menatap JongJin dengan penuh harap. “Benarkah? Benarkah itu JongJin? Jadi Eomma ada dilangit dan menjadi bintang?” Suaranya bergetar. Dan JongJin mengangguk. Sedangkan ayahnya yang mendengar itu tersenyum lega melihat anaknya memilik cahaya semangat lagi diwajahnya.

Yesung bangkit dan langsung berlari keatap rumah yang diikuti oleh ayah dan adiknya. Dia menatap langit lekat-lekat, mencari bintang yang menjadi sosok ibunya. Setelah menentukan pilihannya, dia tersenyum lebar dan menunjuk sesuatu dilangit.

“Itu Eomma! JongJin, Appa, itu Eomma!”

“Itu bulan sayang, bukan bintang.” Jawab ayahnya dengan lembut.

Yesung kecil menggeleng dan tersenyum. “Tapi bulan cahayanya paling terang, dia seperti Eomma, sangat terang dan cantik.” Yesung terdiam beberapa saat lalu menghela nafasnya, “Halo, Eomma! Maaf.. Maaf Yesung baru tau selama ini Eomma berada disana. Apa disana sangat menyenangkan? Aku sangat merindukanmu. Tapi hey, jangan khawatir, jika aku besar nanti aku akan jadi astronot dan membawa Eomma pulang.” Air matanya menetes dan dengan segera ia menghapusnya, tidak ingin ibunya melihatnya menangis.

Ayahnya yang melihat itu, dadanya terasa disayat dan jantungnya ditarik paksa keluar. Sangat sakit.

 

*FLASHBACK END*

 

Seohyun yang mendengar cerita itu mulai mengerti, bahwa lagu yang dulu dinyanyikan Yesung bukan untuk kekasihnya, tapi untuk ibunya. Dia mengusap pipi Yesung dengan ibu jarinya dan mendaratkan ciuman lembut di kening kekasihnya, berharap ciumannya bisa menguatkan Yesung.

 

***

 

“Oppa, tidak bisakah kita pulang dengan bus?” Tanyanya khawatir. Mereka sudah memulai perjalanan pulang. Yesung menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Aku suka seperti ini, kau memelukku.” Dia terkekeh dan Seohyun hanya memutar bola matanya.

Sekarang mereka sedang melewati jalan yang menurun. Jalanan ini cukup panjang, dan motor itu semakin lama semakin kencang melesat menuruni jalan itu. Seohyun mengigit bibir bawahnya. “Oppa.. Bisakah pelankan motornya, aku takut.” Yesung tidak merespon membuat Seohyun semakin takut. “Oppa kau mendengarku??”

“Huh? Oh tenang saja.” Jawabnya pelan.

“Tapi—“

“Seohyun-ah” Potong Yesung, “Kau tau kan..” Dia tidak menyelesaikan kata-katanya.

“Tau apa??” Tanya Seohyun frustasi karena motor yang menyeramkan ini terlalu cepat melaju.

Yesung tidak menjawab. Beberapa menit kemudian, ketika motor itu semakin cepat, Yesung berteriak.

“Seo SARANGHAE!” Sedetik kemudian tangan Yesung melepas pelukkan Seohyun dipinggangnya dan menariknya ke sebelah kiri. Seohyun yang kaget, tidak memiliki tenaga untuk mempertahankan dirinya. Dia terjatuh berguling-guling di aspal. Otaknya tidak bisa memproses semua kejadian singkat itu. Yang ia rasakan hanya sakit disekujur badannya, terutama dihatinya. Apa yang dia lakukan…

BRAAKKK!!

Matanya terbelalak. Orang-orang mulai mengitarinya dan beberapa ada yang berteriak-teriak menyuruh orang lain untuk menelfon ambulans. Dan ketika ada bunyi tabrakkan keras itu, beberapa orang ada yang berteriak jika pengendara motor itu sudah tewas.

Mata Seohyun mulai basah. Tenggorokkannya terasa tercekat. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Otaknya terus berputar. Dia ingin bangkit, tapi dia tidak bisa menggerakkan badannya.

“OPPAAAA!!” Teriak Seohyun di tengah isak tangis.

 

***

Seohyun membuka pintu mobilnya, dan Yoona dengan sigap membantunya menjadi tumpuan Seohyun untuk duduk di kursi roda. Yoona menaruh gitar berwarna pink ke pangkuan Seohyun. Ini sudah 3 bulan semenjak kecelakaan itu. Tulang tangan dan rusuknya sudah sembuh total, hanya kakinya saja yang masih membutuhkan terapi beberapa bulan lagi.

Yoona mendorong kursi roda itu dengan arahan Seohyun. Hingga sebuah pohon besar yang sangat familiar terlihat beberapa langkah darinya. Mereka memasuki taman, sebuah ingatan bermain di otak Seohyun seperti sebuah film. Dia merasakan sesak didadanya, matanya mulai berkaca-kaca siap untuk memuntahkan bulir-bulir air mata. Tapi dia tidak bisa menangis dihadapan Yoona. Sudah cukup dia melihatnya memakai kursi roda. Seohyun tidak ingin terlihat lemah di depannya.

Dia mengigit kedua bibirnya untuk menahan rasa sakit didadanya, lalu menengok kebelakang dan tersenyum. “Bisa kau meinggalkanku sebentar?”

Yoona mengangkat alis kirinya. Tapi tatapannya menjadi lembut ketika melihat mata Seohyun yang tersinari terangnya bulan, penuh dengan rasa sakit, lalu ia mengangguk.

“Satu jam lagi aku akan kembali.” Dia meletakkan tangannya di bahu Seohyun dan meremasnya pelan dan tersenyum. Seohyun membalas tersenyum dan mengangguk tanpa mengatakan apapun.

Ketika Yoona sudah tak terlihat dari pandangannya, dia berbalik lagi dan melihat ke langit. Melihat terangnya bulan dan tebaran bintang yang setia menemani bulan itu. Dia menghela nafasnya yang berat.

Setelah beberapa saat pikirannya kosong dan hanya menatap bulan, dia mulai memetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu yang selalu dia dengar setiap hari.

I know you’re somewhere out there
Somewhere far away

 

“Kukira kau hanya lucu saat kaget tapi ternyata kau lebih lucu saat marah seperti itu”

I want you back
I want you back

 

“Kau.. adalah cinta pertamaku. Tidak seharusnya kau cemburu, karena..” Yesung menempelkan keningnya ke kening Seohyun. “ Hanya ada kau dihatiku.”


My neighbors think I’m crazy
But they don’t understand
You’re all I had
You’re all I had

 

“Aku kira ekspresi terbaikmu adalah saat kaget dan marah, tapi saat kau tersenyum, begitu cantik, membuat umurku memendek.”

 

At night when the stars light up my room
I sit by myself talking to the moon.

 

“Seo SARANGHAE!”


Trying to get to you..


“Remnya blong. Setelah… setelah dia mendorongmu, motornya terlalu kencang, dia tidak sempat melompat. Dan motornya menabrak bis yang ada didepannya.” Mata Seohyun membelalak kaget. Dia menaruh tangan kedada kirinya, terasa sakit.

 

In hopes you’re on the other side talking to me too.
Or am I a fool who sits alone talking to the
moon?

Seohyun menghela nafas beratnya. “Oppa.. Kau.. Sudah bertemu dengan ibumu?” Kata Seohyun tersenyum saat melihat bulan. Dia sudah tidak bisa menangis lagi, air matanya habis tak tersisa. “Apakah menyenangkan menjadi bulan? Tunggulah.. Tunggulah aku akan segera menemanimu disana.”

About fanfictionside

just me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s