FF oneshot/ LOVE MY CHILDHOOD/ BTS-BANGTAN


Cast: Jung Hoseok – Jhope BTS

Na Hayoon – OC

Park Subin – Dalsabet

Gong Minzy – 2ne1

Other cast

 

Author : pandakim ♔ (author tetap) *introduce FF*

Rating: 15, Teenager, School Life, Romance, Comedy

Lenght : Oneshoot.

Author Pov

 

Derap langkah kaki hampir di katakan berlari menghiasi koridor sekolah menengah keatas Yeongnam.

Bruk !!

“Aw”

Dua murid siswa Yeongnam saling bertabrakan dari atah berlawana.

 

“Kau menabrak ku bodoh” sahut Hayoon kesal buka main kepada lelaki didepannya ini.

“Kau yang menabrak ku” sahut Hoseok lelaki yang ada di depan Hayoon dengan tak kesal juga.

“Kau”

“Kau”

Mereka berdua saling tuduh – tuduhan.

 

“Kau mentimun bodoh”

“Kau jangkrik berisik”

 

“DIAAAAAM “ suara keras Jungmin ssaem dari dalam kelas menghentikan perdebatan mereka berdua.

“Kalian sudah terlambat dan bisa – bisa nya kalian bertengkar” sahut Jungmin ssaem lagi dengan mata melotot melihat mereka.

Mereka berdua diam tak bergeming dengan posisi terduduk mereka di lantai sambil melihat Jungmin ssaem yang menatap mereka dengan tatapan membunuh. Tersadar dengan tatapan tajam guru mereka. Hayoon dan Hosoek bangkit lalu masuk ke kelas dengan takut – takut.

 

“Kalian tau ini jam berapa ?” suara Jungmin ssaem menggelegarkan ruang kelas mereka.

Hayoon dan Hoseok saling tatap – tatapan, Hayoon mengisyaratkan Hoseok menjawab, tapi Hoseok menggeleng cepat.

 

“Jawab !! Kalian tau ini sudah jam berapa Na Hayoon , Jung Hoseok !” Jungmin ssaem menggeram melihat mereka yang bukan menjawab malah tatap – tatapan.

“Jam delapan ssaem” jawab mereka serempak dengan nada rendah.

“Jam delapan lewat berapa ?” tanya gurunya lagi.

“Lewat empat puluh delima “

“Itu tandanya apa ?”

“Kami terlambat”

“Dan “

Hayoon dan Hoseok menghembuskan nafas mereka dengan pasrah.

“Harus membersihkan ruangan basket sampai bersih”

 

-oo-

 

Hayoon menatap kesal Hoseok yang bukan membersihkan lapangan basket malah duduk di pinggir sambil memainkan ponselnya dan sesekali selca.

“Mentimun bodoh kau bantu aku. Masa aku sendiri membersihkan lapangan basket ini” Hayoon menjerit kesal. Hoseok menghentikan kegiatan selca nya lalu mengalihkan pandangannya ke Hayoon yang muka sekarang sudah memerah.

“Kau yang menabrakku. Jadi kau sendiri yang membersihkan ini” jawab Hoseok santai lalu kembali  dengan kegiatannya mengambil selca.

Hayoon semakin geram mendengar jawab Hoseok. “Tapi aku wanita, masa kau tega membiarkan ku membersihkan lapangan basket ini”. Hoseok mendengus kesal kembali lagi mengalihkan padangannya ke Hayoon.

“Tch.. Kau wanita ? Kau itu wanita jadi – jadian. Wanita macam apa dirimu. Suka berantam, suka memukul, ceroboh, berisik, tidak feminim, tidak pernah pakai high heels, dan tidak pernah pakai rok. Kalau sekolah ini membebaskan murid wanita memakai celana, kurasa hanya kau yang melakukan hal itu” cicit Hoseok menatap Hayoon datar lalu mengalihkan pandangan ke ponselnya.

“KAU MENYEBALKAN MENTIMUN BODOH” Hayoon menjerit hebat sambil menghentak – hentakan kakinya dengan sangat kesal. Hoseok bukannya takut dengan jeritan Hayoon malah dia mencibir melihat Hayoon.

Kini Hayoon benar – benar kesal. Dicelupkannya pel ke ember lalu mengangkatnya tanpa di perasnya terlebih dahulu dan dipelnya ruangan basket dengan asal. Dia tidak perduli lapangan basket ini basah dan tidak bersih. Yang penting dia tidak lagi bersama dengan Hoseok. Namja yang sudah dianggapnya musuh sedari kecil dan herannya mereka dari TK sampai SMA selalu satu sekolah dan parahnya lagi satu kelas.

 

-Flashback –

“Kembalikan itu apel ku” jerit gadis kecil berumur 5 tahun.

“Apel ku. Aku yang melihatnya duluan” balas bocah laki – laki yang berumur sama dengan gadis tersebut.

“Apel ku “

“Apel ku”

“Apeeeelll kuuuu”

Mereka saling berebutan apel sampai – sampai apel tersebut terlepas ke jalanan dan sialnya ada pengendara motor melewati jalan tersebut dan melintasi apel itu sehingga apel itu hancur tidak berbentuk.

Gadis kecil yang melihat apel tersebut hancur. Kini tidak lagi menjerit malah terdiam. Bocah kecil disampingnya juga ikutan terdiam melihat apel itu hancur. Gadis kecil itu menggeram lalu ..

“Hyaaaaa”

Dengan cepat gadis kecil ini menarik rambut bocah disampingnya sampai bocah tersebut meraung – taung hebat.

“Kau menghancurkan apelku mentimun bodoh” jerit gadis kecil ini.

“Kau yang melepaskannya jangkrik berisik. Aaahhhh sakit..sakit.. lepaskan.. lepaskan jangkrik berisik” bocah kecil ini menjerit kesakitan.

“Tidaaaak.. aku membencimu kau rasakan ini mentimun bodoohhh”

“Aaaahhh sakiiit…rambutku… lepaskaaan “

 

“Hayoon, Hoseok “ jerit guru tk mereka yang melihat murid kecilnya bergulat ditanah dan menghampiri mereka berdua.

“Sudah hentikan… hentikan “

Bukannya berhenti Hayoon semakin kuat menjambak Hoseok dan Hoseok semakin menjerit hebat membuat bu guru Jiwon kewalahan.

“Bu guru Sora tolong bantu saya. Hayoon dan Hoseok bertengkar lagi “ bu guru Jiwon memanggil temannya untuk menghentikan kedua murid kecilnya ini.

 

“Yaampun Hayoon , Hoseok” setengah berlari bu guru Sora menghampiri dan melerai mereka.

Sedikit kesusahan dua pengajar tk ini melerai mereka. Jambakan Hayoon di rambut Hoseok sangat kuat, sehingga gurunya harus melonggarkan jambakan Hayoon. Kalau tidak pasti sakit sekali Hoseok merasakan tangan Hayoon di lepaskan dari rambutnya dengan begitu saja.

 

Akhirnya Hayoon dan Hoseok bisa di lerai juga. Dan lihat Hoseok rambut Hoseok sangat berantakan akibat jambakan keras Hayoon. Dan bukan hanya di jambak, Hayoon ternyata juga sedikit mencakar di pelipis Hoseok.

Hayoon kecil melihat Hoseok dengan muka memerah dan tangan dikepal ingin rasanya Hayoon kecil mendorong Hoseok ke jalanan dan hancur tak berbentuk seperti apel tadi.

“Kenapa kalian bertengkar hah ?” tanya bu guru Jiwon.

“Dia menjambakku duluan “ Hoseok kecil segera menunjuk Hayoon.

Hayoon yang melihat dia di tunjuk Hoseok mencibir kearahnya. Bukannya menjawab Hayoon kecil malah mengambil tasnya di samping ayunan lalu berjalan kesal kearah gerbang.

“AKU MAU PULANG” jerit Hayoon kecil dan melangkahkan kaki kecilnya keluar gerbang tk nya. Sedangkan gurunya diam terperangah melihat muridnya seperti itu.

 

Sepanjang perjalanan pulang Hayoon terus menangis dan mengumpat mengatai Hoseok

“Aku akan selalu membencimu Jung Hoseok mentimun bodoh” batin Hayoon kecil sambil menggeram dengan sangat kesal.

 

-Flashback end-

 

-oo-

 

Hayoon tengah duduk di atas atap sekolah Yeongnam. Ya, ini salah salah tempat favorit Hayoon dan Hayoon juga bisa merakan angin sepoi – sepoi menyapa lembut wajahnya.

“Aaahhh.. “ Hayoon merentangkan tangan nya keudara lalu sedikit memukul pelan bahunya yang pegal akibat mengepel lapangan basket indoor tadi.

 

TUK !!

 

Sebuah minuman kaleng dengan sengaja di pukulkan pelan ke kepala Hayoon sehingga Hayoon memekik kesal.

“AAAWWW”

Hayoon yang kesal kepalanya dipukul langsung melihat orang yang memukulnya dan membuat Hayoon semakin kesal. Yang memukul kepala Hayoon malah mencengir senang.

“Kenapa kau sendirian hah ?”

Hoseok duduk disamping Hayoon dan langsung memberikan minuman kaleng yang dipukulkan ke kepala Hayoon.

Bukannya menyambut senang Hayoon malah menatap Hoseok dengan tatapan membunuh.

“Pasti kau kelelahan kan ?”

“Diam kau. Buat apa kau kesini ? Aku muak melihatmu saja” Hayoon membuang mukanya dengan kesal.

Hoseok berdecak melihat Hayoon. Dibuka kannya minuman kaleng tersebut lalu menyodorkan ke Hayoon “Ini untuk mu. Itu tidak ku kasih racun atau sejenisnya. Minuman lah. Pasti kau kelelahan”

Hayoon tetap kukuh tidak melihat Hosoek. Dengan kesal Hoseok meletakan minuman kaleng tersebut ke samping Hayoon.

“Aku sudah berbuat baik pun” keluhnya. Hayoon segera mengalihkan pandangannya.

“Cih.. berbuat baik. Hanya karena kau memberiku minuman kau berkata kau sudah berbuat baik ? Hanya ini saja kau sudah bangga kau mengatakan kau sudah berbuat baik denganku ? Ya, Jung Hoseok asal kau tau, masih ada yang lebih dari kau yang berbuat baik kepadaku” papar Hayoon tak percaya dengan apa yang barusan Hoseok lontarkan.

Hoseok menghelah nafasnya kasar dan menatap Hayoon “Bagaimana bisa aku berbuat baik lebih banyak kepadamu. Kau sendiri saja menganggapku musuh”

Hayoon memicingkan mata sipitnya menatap Hoseok “Bagaimana tidak aku menganggap mu musuh. Kau selalu menggangguku dan membuat ku kesal. Hanya kau satu – satu nya manusia didunia ini yang membuatku selalu emosi”

Hoseok yang sedari tadi menatap Hayoon kini mengalihkan pandangannya kedepan.

“Apa kau selalu menganggap ku musuh mu ?” Hoseok tetep menatap kedepan.

Hayoon mendengar pertanyaan Hoseok mengkerutkan keningnya. “Ku rasa kau sudah gila “ Hayoon kini menatap Hoseok dengan tatapan ngeri yang dibuat – buat.

“Na Hayoon aku serius. Apa kau selalu menganggapku musuh mu ?” Hoseok mengakhiri pertanyaannya lalu menatap Hayoon. Hayoon yang tadi dengan raut muka ketakutan yang dibuat dengan cepat merubah air mukanya.

“Kau mau jawaban jujur atau bohong ?” Hayoon balik bertanya. Hoseok diam mendengar pertanyaan balik Hayoon.

“Jawaban bohong” awalnya Hoseok ragu mengataka bohong tapi akhirnya dia memilih jawaban bohong ketimbang jawaban jujur.

Dengan tatapan datar Hayoon menatap Hoseok “Tidak, kau tidak pernah ku anggap musuhku. Tidak sama se ka li” Hayoon dengan sengaja menekan jawaban terakhirnya.

Ekspresi Hoseok berubah dari serius menjadi terkejut. Jadi itu artinya..

 

Hayoon bangkit dari duduknya “Minuman itu kau saja yang minum” kemudian Hayoon meninggalkan Hoseok yang terdiam mendengar jawaban Hayoon.

“Dia selalu mengganggapku musuh” desis Hoseok tak percaya. Kini  ada segelintir rasa sakit kini menjalar di hatinya. Ditatapnya minuman yang akan diberikannya ke Hayoon lalu merebahakan tubuhnya di batako lantai atas atap sekolahnya. Ditatapnya langit yang biru yang penuh dengan awan – awan putih “Kapan aku tidak menjadi musuhmu Na Hayoon jangkrik berisik”

 

-oo-

 

Hayoon kini menatap makan siangnya tanpa ekspresi sehabis dari atas atap Hayoon segera kekantin. Untuk menenangkan pikirannya. Ya, Hayoon menenangkan pikirannya dengan makanan. Gara – gara ucapannya ke Hoseok tadi Hayoon menjadi tidak tenang. Tapi, Hayoon bukannya memakan makan siangnya agar pikirannya tenang.

“Ucapanku apa terlalu kasar ?” desis Hayoon menatap makanan di hadapannya ini.

“Ah tidak.. lebih dari itu pernah aku ucapkan dan dia biasa saja. Tapi, tadi kenapa dia diam ?” Hayoon berbicara dengan dirinya sendiri.

Retina Hayoon menangkap sesosok Hoseok berjalan masuk ke kantin. Dengan reflex Hayoon menegakkan badannya dan menatap Hoseok berharap lelaki itu melihatnya. Tapi itu sia – sia Hoseok tidak menatap nya sama sekali. Hayoon mendengus padahal jarak mereka tidak jauh. Tapi kenapa Hoseok tidak melihatnya.

Kini Hoseok duduk sendiri sambil memakan makanannya. Melihat Hoseok sendirian, Hayoon berinisiatif mendatangi Hoseok dan menanyakan apakah kata – katanya tadi terlalu kasar.

Hoseok pun sudah duduk di meja kantin dan dia sendiri. Hayoon masih ragu mendatanginya atau tidak. Tapi itu segera di tepis Hayoon. Hayoon pun melangkahkan kakinya mendatangi meja Hoseok.

 

“Hoseok”

Kini Hayoon sudah duduk di hadapan Hoseok dan memanggilnya. Tetapi Hoseok tak mengubris panggilan Hayoon.

“Jung Hoseok” sekali lagi Hayoon memanggil Hoseok dengan nama aslinya dan tidak dengan panggilan kesalnya ke Hoseok. Hoseok tetap saja tidak mengubris panggilan Hayoon dan terus mengunyah makan siangnya.

Melihat Hoseok tak mengubrisnya Hayoon berdecak kesal.

“Ya mentimun bo..”

 

BRAK !!

 

Kata – kata  Hayoon terhenti karena gebrakan baki yang membuatnya sedikit tekejut. Sontak Hayoon melihat pelaku yang membuat gebrakan baki tersebut. Setelah melihatnya Hayoon memutar bola matanya dengan malas.

“Hai.. Hoseok “ sapa gadis yang menggebrak meja tersebut. Sekilas Hoseok menatap gadis itu lalu kembali makan.

“Hai Subin” sahut Hoseok tanpa mengalihkan pandangannya. Gadis yang bernama Subin itu tersenyum senang lalu pandangannya kearah Hayoon.

“Kau Na Hayoon kenapa tidak bangkit ?” tanya Subin dengan sinis. Hayoon yang mendengar menatap Subin dengan sinis juga “Kenapa aku harus bangkit?” dengan nada angkuh Hayoon bertanya.

Subin berdecak “Aku ingin duduk dan makan bersama dengan Hoseok. Dan kau mengganggu disini” dengan nada tak kalah angkuh Subin menjawab.

“Sebaiknya kau pergi. Subin ingin duduk” ucap Hoseok santai di tengah – tengah kunyahannya. Mata Hayoon membulat mendengar ucapan Hoseok.

“Apakah lucu musuh duduk satu meja” lanjut Hoseok lagi. Hayoon terkejut mendengarnya pun mendengus kesal dan langsung bangkit.

“Baiklah aku akan pergi. Dan kau tau aku berniat meminta maaf kepadamu. Tapi, itu tidak akan terjadi sampai kapan pun” tandas Hayoon dengan tajam. Hoseok menghentikan suapan kemulutnya mendengar penuturan Hayoon. Sekilas Hoseok menatap Hayoon yang wajahnya sudah memerah akibat kesal. Kemudian mengalihkan pandangan dari Hayoon.

 

Disaat Hayoon berbalik tiba – tiba tubuh nya terdorong kebelakang sampai tanganya mengenai baki bawaan Subin yang berisikan kari dan sialnya kuah kari tersebut tumpah dan cipratan kuah kari itu mengenai jam tangan mahal milik Subin.

“AAAHH… JAM KU” Subin menjerit hebat jam Gucci mahal berwarna putihnya kini dipenuhi kuah kari berwarna kuning kunyit.

Hayoon pun juga kaget melihat hal itu dan begitu juga Hoseok.

“Maaf “ sebuah kata terlontar dari mulut Hayoon

PLAK!!

Sebuah tamparan panas tepat mengenai pipi putih Hayoon.

“Kau tau ini jam mahal. Akibat tingkahmu kau mengotori jam mahalku. Dasar kau wanita bodoh” maki Subin.

Ini bukan Hayoon yang biasanya. Hayoon kini terdiam dimaki Subin. Hayoon berfikir kalau di melawan pasti dia kalah. Karena semua pasti memilih memihak ke Subin daripada ke dirinya sendiri. Dengan alasan Subin itu orang kaya tidak seperti dirinya yang dilahirkan dari kelurga biasa – biasa saja. Ayah seorang pegawai biasa dan Ibu seorang ibu rumah tangga. Dan Subin itu cantik juga feminim tidak seperti dirinya yang tomboy, bertindak sesuka hati dan tak jarang untuk tidak berkelahi. Sayang nya Subin tidak pintar seperti Hayoon. Dan itu jelas bukan alasan mereka memihak ke Hayoon. Bahkan kalau ini dilaporkan ke kepala sekolah pastilah kepala sekolah mereka memihak ke Subin.

“Kau kira kau bisa mengganti jam mahal ku hah ?” Subi berteriak keras ke arah Hayoon. Hayoon menunduk tidak tau harus jawab apa. Seluruh orang – orang di kantin ini menghentikan kegiatannya. Melihat kejadian di kantin.

“Cih.. kenapa kau menunduk hah ? Aku tau pasti kau memilih diam karena tidak bisa mengganti jam mahalku kan ?” Subin benar – benar puas kali ini menghina Hayoon.

Hayoon tetap diam karena yang diucapkan Subin memang benar.

“Dasar miskin” maki Subin dengan nada yang benar – benar ketus. Lalu tangan Subin tergerak ingin menampar Hayoon dengan cepat Hoseok bangkit menangkap tangan Subin.

“Apa kau kurang puas menghinanya sampai kau ingin menampar nya untuk kedua kali ? Dan jam mahalmu hanya terciprat saja. Itu bisa di bersihkan nona park. Kau ingin jam mahalmu diganti ? Berapa harganya biar ku ganti jam mu yang mahal itu . ” tatapan tajam Hoseok dan nada dingin Hoseok juga cengkraman tangan kuat Hoseok membuat Subin menjadi takut seketika.

Dengan gerakan kasar Hoseok menghempaskan tangan Subin. Hoseok pun bergerak ke arah Hayoon dan menarik tangan Hayoon. Tapi Hayoon menghempaskan tangan Hoseok dan membuat si empunya tangan berdecak.

Hayoon menatap tajam Subin dengan tatapan tajam khas punyanya.

“Ya.. Park Subin. Yang kau katakan itu salah. Aku diam bukan berarti aku tidak bisa mengganti jam mahal mu ? Aku diam karena kau pasti akan mengaduh ke kepala sekolah dan kepala sekolah akan mencatat namaku di buku hitam. Kau tau Park Subin, aku bosan namaku saja di catat di buku hitam. Dan satu lagi. Keluargaku tidak miskin. Buktinya keluargaku mampu menyekolahkan ku di sekolah elit seperti ini. Hah, dan sekali lagi kau mengatakan aku bodoh. Akan ku robek mulut mu PARK SUBIN “ dengan sengaja Hayoon menekan nama Subin.

“Seharusnya yang bilang wanita bodoh itu aku. Aku yang terpintar di sekolah ini kau katakan bodoh ? Ck..ck..ck” kini Hayoon tersenyum dengan senyuman miring andalannya.

Kini Subin benar – benar ketakutan. Pertama atas kata – kata tajam Hoseok dan ini dengan kata – kata Hayoon.

Hayoon membalikkan badannya dan meninggalkan Subin dan Hoseok. Semua dikantin menatap kepergian Hayoon dengan mulut ternganga. Ya, hanya seorang Na Hayoon yang bisa berbuat seperti itu kepada gadis terpopuler seperti Subin.

 

-oo-

 

Hayoon melangkahkan kaki nya dengan malas menuju rumahnya padahal hari ini dia ada kursus mengajar judo. Jadi jangan tanya kalau Hayoon sering berkelahi. Dan tidak sedikit yang takut dengan Hayoon. Jelas mereka takut dengan sabuk hitam judo yang Hayoon miliki sejak dia SMP. Jadi wajar kalau Hayoon sering sendiri bukan berarti Hayoon tidak memiliki teman, Hayoon memiliki teman dekat yaitu Gong Minzy. Sayangnya Minzy  sedang diluar negeri karena pertukaran pelajar. Dan itu seharusnya diberikannya kepada Hayoon sendiri. Hayoon tidak memilih karena siapa lagi kalau bukan dia yang membantu ibu nya dirumah dan menjaga adiknya ? Hayoon tidak ingin membuat susah ibu nya maka dari itu dengan ikhlas Hayoon memberikan ke Minzy.

“Disaat seperti ini aku merindukanmu Minzy. Aku butuh teman curhat” Hayoon mendesis sambil menatap kaki nya yang melangkah satu persatu di aspal.

“Aku bisa menjadi penganti minzy sementara”

 

Hayoon sontak menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Hayoon antara terkejut dan malas menatapnya.

“Aku bisa menjadi teman curhatmu” Hoseok berdiri sempurna di hadapan Hayoon dengan tangan dimasukan ke kantong. Dan itu membuat seorang Jung Hoseok sangat keren. Tapi tidak di mata Hayoon.

Hayoon menatap Hoseok malas dan melanjutkan langkahnya dengan cepat. Kaget, itulah yang dirasakan Hoseok melihat Hayoon mengacuhkanya begitu saja. Berlari mengejar Hayoon itulah yang Hoseok lakukan. Langkah Hayoon terhenti karena Hoseok sudah di depannya menghadang jalannya.

Tidak mau mengubris Hoseok. Hayoon mengarah kesamping kanan menghindari Hoseok, Hoseok juga ikutan mengarah kesamping kanan juga sehingga langkah Hayoon terhenti lagi. Hayoon menghembuskan nafas kesalnya lalu mengarah ke arah kiri dan Hoseok dengan cepat mengahadang Hayoon.

“Apa sih mau mu” Hayoon menjerit.

“Kita pulang bersama. Motorku masuk bengkel, dan tadi aku di jemput, tapi jemputanku tidak datang” jelas Hoseok. Diam , itulah ekspresi Hayoon yang ditunjukan ke Hoseok.

“Rumah kita kan sebelahan” lanjutnya lagi.

Hayoon mengangkat alisnya sebelah dan dengan sengaja Hayoon menabrak bahu Hoseok agar dia bisa melewatinya. Hoseok yang tau mood Hayoon sedang buruk tidak melawan malah semakin menyamakan langkahnya Hayoon.

 

“Apa pipi mu masih sakit ?” Hoseok menatap pipi Hayoon.

Hayoon diam tidak menjawab.

“Ya.. jangkrik berisik.. kau jawab pertanyaanku” Hayoon masih tetap diam.

“Apa aku selalu membuatmu kesal ?”

Kini langkah Hayoon terhenti.

“Apa kau butuh jawaban jujurku ?” Hayoon menatap Hoseok tajam. Hoseok menunduk lalu menghembuskan nafasnya. “Kau jawab jujur atau bohong jawabannya akan sama” jawab Hoseok dengan pelan. Hayoon tidak habis fikir melihat lelaki di hadapannya ini. Terkadang baik, bukan sekali dua kali Hoseok membela Hayoon kalau Hayoon di persalahkan, dan bukti tadi siang cukup membuat Hayoon mengatakan dalam hatinya “Jung Hoseok membelaku”. Tapi Hoseok lebih sering menjahilinya sampai dia sendiri marah – marah tidak jelas. Hayoon menghelah nafas nya “Ayo, pulang ini sudah senja “ itulah kata yang akhirnya yang dikeluarkan Hayoon. Mendengar hal itu Hoseok mengangkat wajahnya dan berjalan di samping Hayoon.

“Pipi mu masih sakit ?”

Dengan gelengan Hayoon menjawab. Hoseok pun mengerti dan sedikit tersenyum melirik Hayoon.

 

-oo-

 

Hoseok telah membersihkan dirinya dan kini berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kemudian di dudukannya tubuhnya ke arah meja belajarnya berniat mengerjakan tugas.

“Ah.. tabel “ desis nya melihat buku catatannya. Sedikit malas dia mengambil ranselnya dan merogoh tasnya mencari penggaris.

“Kemana penggarisnya ?” tak mau ambil pusing tangan Hoseok bergerak ke laci mengambil penggaris baru. Setelah dapat penggarisnya Hoseok segera menutup lacinya tapi gerakannya terhenti melihat sebuah kotak berwarna biru langit yang bertuliskan H dengan besar di sudut laci. Hoseok mengkedip – kedipkan matanya lalu mengambil kotak  tersebut.

“Disini kau ternyata” desis Hoseok dengan di hiasi senyum manisnya. Tiba – tiba badannya bergemetar dan darahnya berdesir seketika juga detak jantungnya berdegub kencang saat tangannya bergerak membuka kotak itu.

 ( Aku Na Hayoon salam kenal umur 5 tahun ^-^)

Hoseok tersenyum melihat tulisan tangan Hayoon sewaktu kecil di sepotong kertas dan itu diberikan saat mereka pindah rumah di samping rumah Hayoon dan Hayoon mengintip – ngintip lalu memberikan surat yang berisikan namanya.

( Kau seperti mentimun sepertinya kau bodoh hihihi )

Itu adalah surat kedua dari Hayoon kepada Hoseok setelah dua hari kepindahan Hoseok di rumah barunya. Hoseok semakin tersenyum melihat tulisan tangan kecil Hayoon. Dan hal itu yang membuat mereka langsung menjadi akrab dan bersama selalu. Lalu mata Hoseok tertuju dengan foto yang sengaja di ambil saat Hayoon membersihkan halamannya. Hayoon yang kecil dengan sapu yang besar. Sangat tidak kontras dengan tubuh mungil Hayoon. Hoseok yang melihat foto tersebut malah terkekeh  melihatnya. Dan banyak lagi yang membuat Hoseok tertawa melihat barang – barang aneh di kotak ini. Mulai dari biji jeruk yang kata Hayoon itu jeruk mahal, batu berwarna merah yang mereka ambil di sungai, pokoknya semua yang berbau dengan hal kedekatannya dengan Hayoon waktu kecil ada di kotak ini sampai foto kelulusan tk Hayoon yang Hoseok curi dari ruangan kepala sekolah pun ada. Sedikit ragu Hoseok mengambilnya dan membalikan foto itu. Hoseok terbelalak kaget melihat tulisan tangannya masih ada “Na Hayoon aku menyukaimu” Hoseok menghembuskan nafasnya secara sembarang. “Masih ada” desisnya tak percaya.

Hanya karena Hoseok mengunci Hayoon di kamar mandi persabatan kecil singkat yang baru dibangun  mereka rusak sampai sekarang. Hayoon sampai menjerit hebat saat di kunci dikamar mandi. Padahal disitu Hoseok menahan tawanya didepan pintu kamar mandi mendengar jeritan Hayoon. Dan disitu juga Hoseok tidak punya niat meninggalkan Hayoon. Hoseok hanya meninggalkan Hayoon sebentar untuk mengambil hadiah boneka kura – kura di tasnya. Dan tasnya itu di dalam ruangan kelas meraka. Saat Hoseok balik Hayoon tidak ada lagi di dalam kamar mandi. Kemudian Hoseok kecil keluar mencari Hayoon dan ternyata Hayoon sudah di ruangan kepala sekolah sambil menangis hebat. Hayoon yang melihat Hoseok diambang pintu segera menjerit mengatakan  “AKU MEMBENCIMU MENTIMUN BODOH”. Karena hal itu Hayoon tidak mau bersekolah selama hampir sebulan.

 

Hoseok menghapus air mata dengan dengan punggung tangannya. Ingatan itu membuat air mata Hoseok lolos begitu saja dari mata.

 

-oo-

 

Pagi jam 7 Hayoon sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.

“Eomma.. aku pergi ya” setengah menjerit Hayoon berpamitan dari arah ruang depannya sambil memakai sepatunya.

“Tidak sarapan dulu ?” tanya Ibunya.

“Tidak Eomma. Bilang sama Appa aku duluan pergi hari ini ada piket” lalu Ibunya tersenyum kepada Hayoon.

Hayoon pun berjalan menuju Sekolahnya yang lumayan jauh kalau berjalan kaki. Hayoon bisa saja menaikin bus agar cepat sampai. Tapi itu bagi Hayoon pemborosan lebih baik uang jajannya ditabung buat membeli yang dia inginkan atau memberikan untuk uang belanja Ibunya atau juga untuk makan kalau dia suntuk.

 

Tin.. Tin..Tin

 

Hayoon terloncat kaget mendengar klakson. Dia tau ini ulah siapa. Hayoon tak mau membalikan badannya dan tetap berjalan kedepan.

“Ayo pergi bersama. Kau piket kan ? Kalau jalan kaki kau bisa telat”
Hayoon menatap Hoseok diatas motor sport hitamnya yang kini di samping nya dengan tajam tetapi tetap melangkahkan kakinya.

“YA NA HAYOON” jerit Hoseok.

Hayoon tetap saja melangkah kan kakinya. Hoseok menghentikan motornya. Dan berjalan lalu menarik tangan Hayoon.

“APA ? ” tanya Hayoon ketus. Tidak menjawab Hoseok menarik paksa Hayoon ke motornya.

“Naik” seru Hoseok yang sudah di motornya. Hayoon melipat tangannya dihadapan Hoseok. Hoseok menatap Hayoon yang memasang muka bosannya menghelah nafasnya.

“Ayo naik … Yoon “ dengan menatap mata Hayoon Hoseok mengajaknya dengan lembut. Seketika mata Hayoon terbelalak kaget mendengar kata terakhir dari mulut Hoseok.

 

Panggilan itu…

 

Hoseok menarik tangan Hayoon yang berniat pergi dari hadapannya.

“Yoon “ panggil Hoseok lembut.

“Jangan panggil aku dengan panggilan itu” desis Hayoon entah dari kapan kini mata Hayoon memerah.

“Aku akan tetap memanggilmu itu kalau kau tidak naik.. Yoon” tandas Hoseok. Hayoon mengepalkan tangannya dan menutup matanya. Mau tak mau Hayoon bergerak menaiki motor.

 

Panggilan itu…

 

Ah Hayoon segera menepis pikirannya jauh – jauh dia tidak mau mengingatnya lagi.

 

-oo-

 

Sesampainya di parkiran Hayoon langsung turun dan meninggalkan Hoseok di parkiran. Hoseok yang melihatnya langsung menjeriti Hayoon.

“TIDAK MENGUCAPKAN TERIMA KASIH”

Langkah besar Hayoon terhenti mendengar jeritan Hoseok. Dibalikan badannya kemudian melangkah ke arah Hoseok.

“Kenapa aku harus berterima kasih ? Kau kan yang memaksaku pergi bersama mu” Hayoon memasang muka sebalnya.

Hoseok yang melihat malah tertawa “Hehehe aku hanya bercanda “. Kemudian pandangan Hoseok beralih ke bawah. Dilihatanya tali sepatu Hayoon terlepas. Dengan inisiatif Hoseok menundukan badannya dan mengikat tali sapatu Hayoon. Hayoon jelas kaget melihat apa yang dilakukan Hoseok disaat Hayoon ingin mengeluarkan omelannya.

BRUK!!

Dari arah belakang Hayoon di tabrak seseorang hingga tubuhnya jatuh menabrak seseorang di depannya. “Maaf” sahut yang menabrak tadi tanpa melihat posisi Hayoon setelah di tabrak.

Hoseok berada di bawah Hayoon dan bibir mereka saling menempel satu samalain.

Diam. Itulah yang terjadi. Hoseok maupun Hayoon diam tak bergeming. Mereka shock tidak percaya dengan yang mereka alami ini. Bukan hanya bibir mereka yang menempel. Tapi tubuh mereka menempel juga tanpa celah.

“Maaf” Hayoon yang tersadar langsung bangkit dari tubuh Hoseok lalu berlari menjauh dari Hoseok. Hoseok masih dengan posisinya yang tertidur di tanah menatap langit. Tangannya terulur bergerak ke bibirnya.

“Ciuman pertamaku. Dengan nya” sebuah senyuman terukir di bibir seorang Jung Hoseok.

 

-oo-

 

Sepanjang pelajaran Hayoon tidak fokus sama sekali. Pikirannya masih melayang kejadian tadi pas. Hilang sudah harapannya mendapat ciuman pertamanya oleh suami sendiri. Malah ciuman pertamanya dengan musuhnya sendiri. Hayoon menatap papan tulis dengan raut muka frustasi. Kepalanya mendadak pusing memikirkannya. Dipijat – pijatnya pelipisnya dengan jari – jari tangannya.

Hoseok namja itu tidak seperti Hayoon yang frustasi malah dia tidak melepaskan senyumnya sedari tadi. Di tatapnya punggung Hayoon dari tempat duduknya sambil tersenyum. Rasanya Hoseok tidak akan lelah tersenyum. Sesekali di rabanya bibirnya. Rasanya dia benar – benar senang.

 

KRIIING!!!

 

“Saya akhiri pelajaran saya. Selama siang”

Kata – kata gurunya tadi sukses membuat Hayoon sedikit senang. Dia ingin cepat – cepat ke kantin dan makan. Dia benar – benar sangat suntuk.

 

PERHATIAN – PERHATIAN. SEBELUM KALIAN SEMUA MENIKMATI ISTRAHAT KALIAN SEMUA. KAMI DARI OSIS INGIN MEMBERITAHUKAN. BAHWA DUA MINGGU LAGI AKAN DIADAKAN PROMNITE.

 

Suara anak – anak sekolah Yeongnam terdengar membaha mendengar kabar tersebut.

 

MASIH DENGAN PERATURAN YANG SAMA. DATANG HARUS DENGAN PASANGAN. JADI KALIAN YANG BELUM PUNYA PASANGAN CARILAH PASANGAN KALIAN MULAI DARI HARI INI SAMPAI DUA MINGGU KEDEPAN. SEKIAN PESAN DARI OSIS. SELAMAT MENIKMATI ISTIRAHAT KALIAN.

 

Murid cowok mau pun cewek berteriak kesenangan. Mereka mulai membicarakan dengan siapa mereka pergi dan pergi pakai baju apa.

Berbeda dengan Hayoon. Hayoon tidak antusias seperti lainnya. Hayoon malah menghebuskan nafasnya malas dan memutar bola matanya dengan jengah. Tak mau berlama – lama Hayoon segera melangkahkan kakinya ke kantin. Sekarang kepalanya semakin pusing apalagi habis mendengarkan kabar dari osis tadi.

Hoseok yang melihat kepergian Hayoon dengan seringainya. Terlintas dipikirannya tentang mengajak Hayoon menjadi pasangannya.

 

-oo-

 

Hoseok yang baru pulang dari sekolahnya disambut oleh Ibu dan Ayahnya.

“Sudah pulang” tanya Ibunya. Hoseok hanya mendehem.

“Appa ingin bicara kesini sebentar” sahut ayahnya Hoseok. Hoseok mengkerutkan keningnya tapi dilangkahkan juga kakinya ke dekat ayahnya.

“Masih ingin sekolah di Perancis ?” dengan tanpa basa basi ayahnya bertanya. Sontak mata Hoseok membesar mendengarkan kata PERANCIS

“Masih Appa” Hoseok menjawab cepat.

“Kalau begitu kau selesaikan sma mu disana. Kasian Noona mu harus sendiran disana. Dua minggu lagi kau bisa berangkat ke sana”

Hoseok seharusnya makin senang tapi itu tidak. Dia tiba – tiba sedih.

“Kenapa ?” tanya ibunya lembut. “Ah tidak Eomma. Dua minggu ya” desis Hoseok. Hoseok bangkit dari duduknya. “Akan aku pikirkan lagi” Hoseok pun berlalu ke kamarnya. Orangnya tuanya menatap anak laki – lakinya heran. Bukankah seharusnya Hoseok senang ? Kenapa muka malah sedih  ? Appa dan Eomma nya saling tatap – tatapan binggung.

 

Hoseok berdiri di balkon rumahnya sembari memikirkan kata – kata ayahnya tadi.

“Dua minggu lagi ? Itu sangat cepat” Hoseok mengacak – ngacak rambutnya kesal.

 

Pandangan Hoseok beralih kesamping melihat Hayoon keluar kamarnya dan duduk di balkon kamarnya. Hoseok melihat Hayoon dengan ternganga. Bagaimana tidak. Hayoon hanya menggunakan baju kaos putih sedikit kebasaran di tubuhnya dengan lengan pendek dan shortpans hitam. Dan bajunya itu terbayang akibat sinar lampu kamarnya. Jadi Hoseok sedikit banyaknya bisa melihat lekuk tubuh Hayoon.

Hayoon duduk menatap langin hitam dengan menopang dagunya.

“Jangkrik”

“………….” Hayoon tidak mendengarnya.

“JANGKRIK BERISIK” kini Hoseok berteriak dan membuat Hayoon kaget.

“APA” Hayoon menatap Hoseok dari balkon nya dengan marah. Balkon mereka samping – sampingan jadi jangan heran mereka bisa berbicara satu sama lain tanpa harus menjerit.

“Kau aku panggil tadi” sunggut Hoseok. Bukan nya menjawab Hayoon malah menatap kembali langit hitam di pandangannya.

“Kau pergi dengan siapa ?”

Hayoon mendengus kesal. Dia bangkit dan bergerak dari duduknya menuju kamarnya.

“Aku ingin mengobrol dengan mu” Hoseok berlari mendekati balkon rumah Hayoon. Hayoon tetap berjalan menuju kamarnya.

“Jangkrik ayolah temanin aku mengobrol sebentar” pinta Hoseok.

“Mau mu apa sih ?”

“Kita mengobrol sebentar”

Hayoon berdecak. “Baiklah apa yang ingin kau katakan, cepat katakan” sahut Hayoon dari posisinya diambang pintu kamarnya.

“Mana ada mengobrol jauh – jauhan seperti itu. Kau disini juga. Seperti ku” Hoseok menunjuk dirinya berdiri di ambang sisi balkonya.

Hayoon mengelah nafas malasnya dan bergerak malas malasan. Hayoon menatap Hoseok dengan tajam “Cepat apa yang ingin kau bicarakan”

“Cih.. kenapa kau begitu sinis hah ? Karena kejadian tadi pagi kau semakin sinis kepadaku begitu ? Tck”

Seketika muka Hayoon memerah. Ciuman itu.

“Aku tidak akan membahas itu. Aku tidak ingin kau marah” lanjut Hoseok.

“Aku ingin bercerita dengan mu. Sebentar lagi aku akan sekolah di Perancis. Kau tau itu membuatku senang” cengir Hoseok.

Tiba – tiba hati Hayoon mencelos. Ditatapnya Hoseok yang sedang tersenyum dengan diam. Tapi dengan cepat Hayoon membuat ekspresi dinginnya.

“Baguslah. Tidak ada yang menggangguku lagi”

Hoseok tau ini adalah jawaban dari Hayoon. Tapi Hoseok tetap tersenyum mendengarnya. Ya, walaupun ada terbesit sakit di hatinya mendengar jawaban pahit Hayoon.

“Cih.. kau begitu senang aku pergi” Hoseok sengaja memicingkan matanya menatap Hayoon.

“Dikarenakan aku akan pergi. Jadi… “ Hoseok mengantungkan kata – katanya. Sejujurnya dia tak mampu mengatakan ini. Tapi inilah celah buat mengajak Hayoon.

“Jadi apa ?”

“Jadi.. mau kah jadi pasanganku pas promnite nanti”

“Aku tau kau mau bilang jawaban jujur atau bohong kan ?” Hoseok menyelah saat Hayoon ingin protes.

“Aku ingin punya moment bersamamu jangkrik berisik” Hoseok menatap Hayoon dengan tatapan lembut.

“Aku harap kau mau. Kalau begitu aku duluan masuk ya” Hoseok bergerak menuju kamarnya dan meninggalkan Hayoon yang tercengang.

“Ah.. ya.. baju mu itu tembus pandang” dengan kedipan nakal Hoseok menutup pintu kamarnya dan membuat Hayoon…….

“MENTIMUN BODOOOHHHH KAUUU MESUUUUM”

Jeritan seorang gadis memecah keheningan malam

 

-oo-

 

Hayoon menapaki ubin ubin koridor sekolah satu persatu. Rasanya malas sekali hari ini dia bersekolah. Langkahnya terhenti tepat di mading sekolah. Ditatapnya selebaran di mading ini.

“Tiga hari lagi” desisnya pelan.

“Tiga hari lagi apa ?” tanya seseorang.

“Tiga hari lagi promnite” jawab Hayoon lesuh.

“Lalu kau sudah punya pasangan ?”

“Selama ini aku tidak pernah memikirkan promnite karena aku tidak pernah mau datang. Tapi ada seseorang mengajakku. Apa aku harus tetap tidak pergi ?” Hayoon bertanya balik tanpa mengalihkan pandangannya. Sedetik kemudian Hayoon mengalihkan pandangannya.

“GONG MINZY”

Suara Hayoon yang nyaring menggelegar di sekolah. Hayoon langsung memeluk Minzy sampai sampai Minzy tidak bisa bernafas.

“Kenapa tidak bilang kau balik ? Kenapa kau tidak menghubungi ku ? Kenapa kau tidak memintaku menjemput mu ? ” Hayoon menghentak – hentakan kakinya kesal. Minzy yang tau sifat temannya seperti ini hanya tersenyum.

“AKU KANGEN DENGAN MU” Hayoon tak lagi menjerit seperti tadi malah Hayoon menangis.

“HAHAHAHAHAHA… KAU TETAP CENGENG” Minzy puas melihat Hayoon yang menjerit – jerit lalu menangis. Dipeluknya temannya ini “Kan aku sudah balik bodoh” Hayoon pun memeluk balik Minzy.

 

Kini Hayoon yang berisik semakin berisik apalagi Minzy sudah kembali. Teman – temanya tidak ada yang bisa memprotes keberisikan Hayoon. Karena Hayoon akan memberi jurus – jurus Judo nya bila ada yang protes. Hanya Hoseok yang bisa memprotes. Dan jelas Hoseok sudah sering mendapat jurus – jurus Judo dari Hayoon.

“Ah aku baru ingat. Siapa yang mengajak wanita berisik seperti dirimu ke promnite” Minzy mencibiri temannya.

Hayoon mengelah nafasnya. Dilihatnya sekeliling kelasnya. Dia belum datang batin Hayoon.

“Si..”

“Siapa ?” Minzy penasaran.

“Si..men timun bo doh” Hayoon sedikit meringis menyebutnya.

Minzy mengedarkan pandangannya.

“Si.. itu.. ah.. benarkah.. Jung.. ah.. tidak.. tidak.. bagaimana bisa ?” Minzy  menatap Hayoon tidak percaya.

Hayoon mengangguk kan kepalanya lemah lalu menunduk. “Ia Minzy.. dia sih Ho….” saat Hayoon mengangkat kepalanya. Seseorang yang dimaksud masuk ke kelas. Hayoon manarik nafasnya lalu menundukan kepalanya. Belakangan ini Hayoon selalu menghindar dari tatapan Hoseok. Entah apa artinya..

“Minzy “ Hoseok berhenti di meja Hayoon.

“Hai.. “ balas Minzy dengan senyuman.

“Wah.. kapan kembali ? Bagaimana di Amerika menyenangkan ?” tanya Hoseok antusias.

“Hmm.. lumayan lah. Lebih menyenangkan disini” jawab Minzy dan Hayoon tetap menundukan kepalanya.

“Bagaimana dengan perancis kau tetap akan kesana ?” tiba – tiba Minzy bertanya ke Hoseok. Seketika juga Hayoon yang mendengar jelas mencelos kaget. Hayoon perlahan mengangkat kepalanya menatap Hoseok. Begitu juga Hoseok terdiam mendengar pertanyaan Minzy diliriknya sekilas Hayoon yang menatapnya sendu.

“Entahlah sepertinya aku akan pergi kesana sebentar lagi” Hayoon langsung menundukan kepalanya. Ada rasa sakit di hatinya mendengar jawaban Hoseok.

“Pasti kau senang” Minzy menaikan satu alis matanya.

“Hahaha jelas. Tapi aku tidak akan bisa menjahili si jangkrik berisik ini” diselentiknya kuping Hayoon membuat si empunya mendongakak kepalanya kesal.

Entah kenapa Hayoon mengurungkan niatnya memarahi Hoseok yang tersenyum kearahnya.

“Sudah ya.. Yoon 3 hari lagi” itu kata – kata Hoseok sebelum meninggalkan mereka berdua. Minzy mendengar itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. YOON….

 

-oo-

 

Hari sabtu kali ini murid sekolah Yeongnam di perbolehkan pulang cepat. Karena malamnya mereka akan ada acara di sekolahnya.

Hayoon dan Minzy juga berjalan menuju gerbang untuk pulang seperti yang lainnya.

“Aku masih tidak percaya ada yang mengajakku ?” dari pagi tadi Minzy tidak bisa menyembunyikan senangnya.

“Kau selalu mendapat ajakan kalau ada promnite kan ? Kenapa kau kali ini senang ?” cibir Hayoon sambil mengunyah permen karetnya.

“Kau tau ini aku di ajak siapa ?” tanya Minzy kesenangan.

“Ya.. ya aku tau si Jongin kan ?”

“Siapa juga yang tidak senang di ajak namja setampan dia ?” jelas Minzy.

“Aku tidak” jawab Hayoon santai. Minzy menatap Hayoon lalu mencubit lengan Hayoon dan membuat Hayoon menjerit.

Tak sengaja retina Hayoon menangkap seseorak Jung Hoseok diparkiran yang bersadar di motor sportnya.

Hoseok tengah memainkan ponselnya tiba – tiba mendongak lalu memasukan ponselnya kesakunya dan akhirnya mereka tatap – tatapan. Kemudian Hoseok mengangkat tangannya dan membuat lima di dengan tangan kanan dan tiga tangan kiri. Sedetik kemudian Hoseok manaiki motornya.

“jam delapan” ujar Minzy.

Hayoon hanya mengangguk mendengar nya.

 

-oo-

 

Hayoon menatap lemarinya dengan tatapan nanar.

“Baju apa yang kupakai” desisnya bergetar.

 

“HAI NA HAYOON IBU PERI MEMBAWA SOLUSI BUAT ANDA” Minzy sudah di ambang pintu kamar Hayoon saja.

 

Hayoon membalikan badannya menatap Minzy. Hayoon cukup tercengang melihat penampilan Minzy. Tidak feminim tetapi tidak tomboy. Malah terkesan girly – girly funky gitu. Sangat cocok dengan Minzy. Minzy memakai tee dengan warna hitam tanpa lengan yang menutupi dari dadanya sampai perutnya lebih tepatnya pinggulnya dan dipadukan dengan cardigan merah ungu dan hitam sampai batas pahanya. Lalu rok kulit ketat warna hitam dengan liris putih disisi samping. Dan dipadukan kalung batu warna – warni dan gelang – gelang dengan mata batu ruby. Membuat Minzy benar – benar funky juga manis. Minzy tidak mengubah model rambutnya pendeknya. Hanya saja memberi warna biru di bagian bawah rambutnya. Benar – benar penampilan yang chic pikir Hayoon.

 

“Aku sudah tau kau hanya punya jeans, kaos, kardigan dan jaket”

Hayoon diam mendengar kata – kata Minzy yang dikatakannya memang benar.. Hayoon mengelah nafasnya dengan lemah.

“Pakai ini. Aku tidak terima penolakan dan tidak terima protes” dengan paksa Minzy menarik Hayoon kekamar mandinya untuk berganti baju.

 

5 menit kemudian..

 

Minzy sibuk memakan cemilan yang dibawah sambil berkutat dengan ponselnya. Kegiatan Minzy terhenti melihat Hayoon keluar dari kamar mandi dengan takut – takut. Minzy tercengang melihat temannya.

“Na Hayoon temanku kau sangat cantik sekali” desis Minzy dengan sangat jujur. Hayoon mendengarnya segera berlari kearah cermin. Mulut nya ternganga melihat pantulan dirinya di cermin.

Dress berbahan katun terusan berwarna biru laut pucat dengan mode kerah jatuh ke sisi bahunya  sehinggi mengekspos bahu putih nya. Dress yang pendeknya 10 cm diatas lututnya membuat dress ini tidak terlihat kekurangan bahan. Malah terlihat manis dibadan Hayoon. Pita – pita kecil mengiasi sekitaran pinggul Hayoon menambah kadar manis Hayoon saat memakainya.

“Duduk” seru Minzy dengan cepat dia keluarkan alat – alat make upnya.

 

Hayoon masih tidak percaya melihat dirinya malam ini. Dia cantik kali ini dan feminim mungkin orang yang melihat Hayoon hanya sekali menganggap Hayoon wanita manis,baik hati dan ramah. Diliriknya kebawah melihat apa yang dia pakai. HIGHHEELS . Hayoon memakai highHeels. Highheels dengan warna senada diahiasi permata biru putih. Benar – benar pas dengan pakaian Hayoon.

Hayoon hanya menunggu jam 8, menunggu Hoseok menjemputnya. Minzy sudah pergi sekitar 15 menit yang lalu.

“Hayoon, Hoseok sudah dibawah menunggumu” seru ibunya dari rungan bawah.

“Baiklah Eomma” sahutnya.

Hayoon berdiri dan sekali lagi menatap dirinya dari cermin. Menarik nafas dalam – dalam dan menghembuskan perlahan. Dilangkahkan kaki jenjangnya ke luar kamarnya.

 

Tangan Hayoon sedikit bergemetar membuka kenop pintu rumahnya. “Ayolah Hayoon” desisnya. Dengan tekad yang kuat Hayoon membuka kenop pintunya dan berjalan menuju gerbang rumahnya.

Hayoon sedikit sulit berjalan. Tau sendiri Hayoon tidak pernah pakai Highheels. Tapi Hayoon mau tak mau mengatasi kesulitannya sendiri. Masa dia jatuh pakai higgheels, itu akan sangat malu.

Hayoon dan Hoseok sama – sama terkejut melihat penampilan satu sama lain.

Hayoon yang terkejut dengan penampilan Hoseok, yang sangat – sangat keren menurutnya. Kemeja putih tanpa dikancing atasnya dengan jas hitam dibiarkan terbuka begitu saja. dan celana kepper hitam, membuat penampilan Hoseok sangat keren dimata Hayoon.

“Kau cantik Yoon” desis Hoseok tulus yang membuat Hayoon terdiam juga wajahnya sedikit memanas.

“Ayo masuk” Hoseok membuka pintu mobil untuk Hayoon.

“Motormu ?” Hayoon menatap Hoseok heran.

“Kau mau dandanan mu berantakan hah ?” seru Hoseok. Hayoon menarik nafasnya dan berjalan pelan menuju mobil Hoseok.

 

-oo-

 

Hayoon duduk diam di bangku yang telah disediakan sambil menatap yang lain sedang bersenang – senang diaula sekolah ini. Hayoon tidak memperdulikan orang – orang yang melihatnya heran. Seorang Na Hayoon jadi feminim ?

“Mau berdansa ?” Hoseok datang menghampiri Hayoon karena dilihatnya Hayoon duduk saja sambil meminum softdrinknya .

“Aku tidak pandai” jawab Hayoon jujur.

“Hahaha.. aku ajarkan” jelas Hoseok. Hayoon menatap Hoseok dengan diam. “Nanti kakimu terinjak” kemudian Hayoon menatap kebawah melihat Highheelsnya.

“Kau terinjak aku akan menjerit”

Hayoon melotot mendengarnya kemudian membuang mukanya kesal.

“Aku bercanda. Ayo, lihat lagunya sudah berganti” Lagu beat yang DJ putarkan kini berganti menjadi lagu mellow.

“Tapi.. “ Hayoon meringgis menatap Hoseok. Tak mau berlama – lama Hoseok menarik tangan Hayoon menuju lantai dansa.

“Lingkarkan tangamu”

Hayoon diam tak bergeming.

“Ayo lingkarkan “ tandas Hoseok lagi. Hoseok menghelah nafasnya. “Seperti ini” diambilnya tangan Hayoon dan diletakkanya di lehernya agar tanganya Hayoon memeluk lehernya. “Dan aku seperti ini” tangan kanan Hoseok bergerak kearah pundak Hayoon dan  tangan kirinya memeluk pinggang kecil Hayoon kemudian Hoseok sengaja menarik badan Hayoon agar menempel ditubuhnya.

“Harus seperti ini ?” tanya Hayoon takut.

“Heemm harus” jawab Hoseok mantab.

Kemudian dengan perlahan Hoseok menggerakan kakinya ke kanan, ke kiri, ke belakang, ke depan. Dan begitu seterusnya.

“Gampangkan ?” tanya Hoseok pelan. Hayoon sedari tadi menundukan kepalanya. Dia malu bertatapan dengan Hoseok.

“Kau pakai parfum apa ?” tanpa menatap Hayoon Hoseok bertanya. Hayoon refleks mendongakan kepalanya.

“Aku bau ya ?”tanyanya cemas.

“Tidak – tidak. Sudah jawab saja” Hoseok menatap balik Hayoon.

“Aku hanya pakai cologne bayi” dengan ringgisan Hayoon menjawab.

“Jangan rubah parfummu. Aku suka wangimu jangkrik berisik.” papar Hoseok yang tidak lagi menatap Hayoon. Seketika Hayoon merinding mendengar kata – kata Hoseok. Darahnya juga berdesir cepat. “Ada apa denganku” batin Hayoon.

Kini mereka sama- sama terdiam. Diam dengan pikiran masing – masing. Hayoon menyadari Hoseok semakin memeluknya erat. Entah lah, Hayoon sendiri tidak ada niat memberontak. Malah dia akui, dia kali ini nyaman.

“Boleh aku memanggilmu Yoon”

Hayoon mendongak kepalanya melihat Hoseok lalu menundukan kepalanya lagi.

“Buat sekali ini saja” lanjutnya.

“Baiklah” itulah jawaban Hayoon. Dia tidak tau harus berkata apa lagi.

“Yoon”

“Heem”

“Kenapa diam” tanya Hayoon.

“Kau ingin tau apa yang ingin aku katakan”

“Kau ingin mengatakan apa ?”

“Kau ingin tahu ?”

“Kau sudah membuatku penasaran mentimun bodoh” tandas Hayoon. Tiba – tiba Hoseok melepaskan pelukannya dan menarik tangan Hayoon. Hoseok menarik Hayoon ke sebuah tempat. Tempat kesukaan Hayoon. Di atas atap sekolah mereka.

 

Hoseok kini tengah memegang kedua tangan Hayoon dan menatap lekat Hayoon.

“Yoon” panggil Hoseok mantab.

“Ya..”

“Apa aku selalu menjadi musuh mu ?”

Diam. Hayoon terdiam. Hayoon binggung menjawab apa. Mulutnya ingin mengatakan IYA. Tapi hatinya ? Jauh di lubuk hati paling dalam Hayoon mengatakan dengan tegas TIDAK.

“Jujur atau bohong”

Sial. Itulah kata rutukan di batin Hayoon. Dia merutuki dirinya sendiri. Kenapa kata – kata itu yang keluar.

“Jujur. Benar – benar jujur. ” jawab Hoseok mantab.

Hayoon menarik nafasnya dalam – dalam. Dilihatnya tangannya di genggam erat oleh Hoseok.

Hayoon menatap Hoseok dengan lamat “…. Ya”

Hoseok menghembuskan nafasnya. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban Hayoon.

“Apa kau selalu menjahili ku ?” kali ini Hayoon yang bertanya.

“Jujur atau bohong ?”

“Sangat jujur”

“Ya.. “

Hayoon tersenyum miring mendengarnya.

“Berhenti”

Hayoon menatap Hoseok heran “Berhenti”

“Berhenti menjalani hal bodoh ini. Aku ingin berhenti menjahilimu. Dan kau..”

“Berhenti menjadikan mu musuhku begitu ?” sambung Hayoon.

“Kenapa kau ingin berhenti ?”

“Aku.. aku ingin berhenti….” Hoseok menarik Hayoon agar mendekat kedirinya lalu menatap Hayoon dengan manik matanya “Karena aku mencintaimu Yoon. Aku mencintaimu jangkrik berisik. Aku menyukaimu semua darimu. Aku lelah terus menerus kau anggap musuhmu. Aku..”

“Jangan bercanda Hoseok” nada dingin keluar dari mulut Hayoon.

“Kali ini aku. Jung Hoseok benar – benar tidak bercanda kepadamu. Kepada mu. Yoon. Na Hayoon”

Tubuh Hayoon menegang mendengar pernyataan cinta dari Hoseok. Lelaki yang dianggapnya musuh. Tapi jauh dilubuk hatinya…

“Kenapa kau bilang baru sekarang ?” Air mata Hayoon lolos begitu saja dipipinya.

“Kau menunggu ?”

“Aku jelas menunggu mentimun bodoh. Dasar bodoh. Kau kira aku… aku..” isakan yang ditahan Hayoon mati – matikan kini keluar dari bibir mungilnya.

“Sudah Yoon jangan diteruskan..” Hoseok menutup mulut Hayoon dengan ibu jarinya.

“Aku belum selesai bodoooh” isakan Hayoon semakin kencang. Hoseok yang tadi terharu kini kaget melihat Hayoon yang membentak nya dan semakin menangis.

“Aku merindukan mu saat mengajak bermain. Saat kita bersama. Walaupun itu tidak lama. Karena kau..”

“Hentikan Yoon.. hentikan..aku tidak berniat menguncimu dikamar mandi. Aku tidak berniat meninggalkanmu dikamar mandi. Aku.. aku meninggalkmu itu hanya sebentar. Aku meninggalkanmu karena ingin mengambil hadiah untukmu. Hadiah boneka kura – kura untukmu” Hoseok menangkup wajah Hayoon dengan kedua tangannya.

“Kau masih suka boneka kura – kurakan ?” tanya Hoseok lembut. Dengan antusias Hayoon menganggukan kepalanya.

“Kenapa baru sekarang “ isak Hayoon pilu.

“Aku benar – benar bodoh. Aku baru berani bilang sekarang. Kalau tidak sekarang mau kapan lagi. Aku tidak mau waktuku bertambah untuk menjadi musuhmu. Maaf. Maafkan aku Yoon” Hoseok tersenyum manis ke Hayoon. Hayoon buru – buru menundukan kepalanya. Dia benar – benar tidak tahan melihat senyuman Hoseok.

“Yoon.. tatap aku..”

Hayoon tetap menundukan kepalanya.

“Jangkrik berisik, tatap aku”

Hayoon menggeleng kan kepalanya. Hoseok yang masih menangkut wajah Hayoon. Segera mengangkat wajahnya ke atas untuk melihatnya.

CUP..

Tanpa permisi Hoseok menempelkan bibirnya ke bibir Hayoon. Membuat Hayoon mendelik kaget atas tindakan Hoseok secara tiba – tiba ini.

Selang detik berikutnya Hoseok melumat lembut bibir peach Hayoon. Hayoon menutup matanya dengan cepat. Tangan kanan Hoseok kini beralih ke tengkuk leher Hayoon untuk memperdalam ciumanan. Ciuman lembut Hoseok membuat Hayoon terbuai dan sedikit membalas ciuman Hoseok tapi itu akibat adalah salah. Sedikit bagi Hayoon banyak bagi Hoseok. Itu adalah celah yang banyak bagi Hoseok. Dengan cepat lelaki ini memasukan lidahnya ke dalam mulut Hayoon. Mengabsen gigi – gigi Hayoon. Melumat bibir bawah dan atas Hayoon bergantian. Walaupun ciuman Hoseok tidak menuntu tapi Hayoon kewalahan menyeimbanginya. Kepala Hoseok bergerak ke kanan dan kekiri agar mencicipi semua bagian bibir Hayoon dan menghisap bibir Hayoon dengan gemas. Kini nafas Hayoon tak lagi banyak. Hoseok memang tidak menciumnya dengan menuntut melainkan sangat lembut. Tetapi Hoseok tidak memberinya celah untuk bernafas. Tangan Hayoon bergerak ke wajah Hoseok berniat menjauh wajahnya.

“Aku sulit bernafas” ucap Hayoon disela ciumannya.

Hoseok yang mendengar langsung melepaskan tautan bibirnya.

“Maaaff.. “ sahut Hoseok dengan nafas yang memburu sama seperti Hayoon yang sedang megap – megap mencari oksigen.

Kembali lagi Hoseok manarik tubuh Hayoon. “Aku mencintaimu cinta masa kecilku” dikecupkan kening Hayoon beralih ke pipi putih Hayoon.

“Mentimun bodoh “

“Jangkrik berisik “

Kemudian Hayoon mengecup bibir Hoseok dengan singkat.

 

-oo-

 

5 Tahun kemudian.

 

“Appa.. Eomma aku pergi berkerja dulu ya” sahut Hayoon yang memasang highheels hitamnya ke kaki jenjangnya.

“Perlu Appa antar ?” tanya Appa yang baru keluar dari garasi.

“Tidak perlu Appa, aku naik bisa saja” lalu Hayoon berpamitan.

 

Hayoon melangkahkan kakinya keluar gerbang rumahnya. Dilihatnya rumah Hoseok yang sudah berganti pemilik rumahnya. Semenjak acara promnite tersebut. Esok harinya Hoseok sudah dikabarkan tidak bersekolah lagi di Yeongnam itu artinya dia sudah pergi ke perancis.

Tangan Hayoon bergerak mengambil liotin di lehernya. Dilihatanya liontin  yang bertuliskan ( H ) yang artinya HAYOON – HOSEOK . Hayoon tersenyum melihat liontin ini. liontin yang berikan Hoseok pas diulang tahunya ke 20 yang dititipkan ke Ibunya sendiri.

“Aku masih menunggumu mentimun bodoh”

 

**

 

“Bonjour… “

Lelaki tinggi berparas tampan dengan setelan Suit hitam putih memasuki ruangan CEO dari perusahaan salah satu perusahan IT terkenal di korea dengan senyuman mengembang di bibirnya.

Dari mulai berkas – berkas, buku – buku di meja, pulpen sampai jam diatas meja dilemparkan kepada lelaki ini.

“KENAPA BARU DATANG SEKARANG KAU JUNG HOSEOK !!!!” Seru Kim Namjoon dengan kesal selaku CEO dari perusahaan ini.

Yang bernama Jung Hoseok ini hanya memasang cengiran manisnya.

“He..He..He.. maaf.. Kau tau aku orang sibuk. ” jawabnya.

“Cih sibuk apanya. Sepupu macam apa kau. 1 tahun aku menunggu bodoh. Sudah kau segera keruanganmu dan segera kau bekerja” tandas Namjoon ke sepupunya ini.

“Bekerja ? Sekarang juga ? Hari ini juga ?” tanyanya heran.

“Ya jelas hari ini. Kau sudah absen selama SETAHUN”  sengaja Namjoon menekan kata setahunnya.

“Aku bekerja menjadi direkturkan ? “

“Tidak  tapi jadi cleaning service. YA JELAS JUNG HOSEOK” Namjoon meggeram melihat sepupu yang baru saja datang dari prancis.

“Ia.. ia.. berkasnya mana ?”

“Berkasnya .. ah tunggu sebentar.. heemm mana ya” Namjoon sibuk mencari map berisikan berkas buat Hoseok.

“Apa ini ? “ Hoseok mengambil beberapa map yang dilemparkan untuknya.  Namjoon melihatnya beberapa map ditangan Hoseok dan mengambil satu dari map tersebut.

“Sepertinya ini” Namjoon mengambil map warna merah dan membacanya untuk memastikan.

“HAH ia ini.. dan ada beberapa pegawai dari defisi pemasaran yang bekerja di bawah devisi yang kau pegang” jelas Namjoon.

Hoseok segera mengambil dan membaca isinya juga pegawai – pegawai yang ikut dalam devisinya.

Mata Hoseok terbelalak kaget melihat salah satu pegawai di perusahaan ini.

Dia….

“Ini..” Hoseok menunjuk foto pegawai tersebut.

“Oh.. dia pegawai magang yang sudah menjadi pegawai tetap kira – kira 2 tahun yang lalu” Namjoon melihatnya foto pegawai itu sekali lagi.

“Terima kasih “ Hoseok memeluk erat Namjoon. Kemudian Hoseok melepaskan pelukannya.

“Bisa minta tolong.. kau tau tetang jangkri berisik kan ?” Hoseok menatap Namjoon dengan lekat.

 

Hayoon sedang mengerjakan tugasnya terkaget mendengar deringan telfon.

“Dengan Na Hayoon dari devisi pemasaran. Ada yang bisa dibantu ?” dengan sopan Hayoon mengangkat telfonya.

“Ini saya Kim Namjoon”

“Sangjamnim “ Hayoon terkaget mendengar nama tadi.

“Bisa ke ruangan rapat devisi ? Anda masuk daftar tersebut. Ini rapat mendadak”

“Ah… benarkah.. Baiklah saya akan segera kesana Sangjangnim “ Hayoon segera menutup telfonya dan bergerak ke ruangan rapat devisi.

 

Setiba diruangan Hayoon terheran. Ruanganya sepi.

“Apa mereka masih mengarah kesini ?” Hayoon bertanya ke dirinya sendiri.

 

TAP

Tiba – tiba lampu dimatikan.

 

“Lampunya kok mati ?” seru Hayoon.

TAP.. TAP.. TAP..TAP

Suara hentakan sepatu menghiasi ruangan rapat ini.

CKLEK

Pintu ruangan ini pun ditutup dari dalam.

 

Hayoon yang tadi diam kini bergerak mundur secara perlahan. Hayoon ketakutan.

TAP..TAP..TAP

Hentakan sepatu itu semakin mendekat kearah Hayoon. Hayoon semakin memundur.

“SIAPA ITU ?” teriak Hayoon ketakutan. Disaat gelap seperti ini Hayoon sama sekali tidak bisa mengeluarkan jurus Judo yang dia punya. Hayoon benar – benar phobia dengan kegegelapan.

“SIAPAAAA” teriak Hayoon bergetar.

Sial. Batin Hayoon. Tubuhnya tidak bisa bergerak diraba nya dinding tempat sandarannya ini. Dia terpojok.

Langkah itu semakin dekat dan mendekat. Lalu menempelkan tubuhnya ke Hayoon.

“Yoon”

Suara itu.. panggilan itu.. Hati Hayoon langsung mencelos mendengarnya.

“Jung Hoseok” desis Hayoon memastikan.

Dengan cepat yang bernama Hoseok menempelkan bibirnya ke bibir Hayoon dan melesakkan lidahnya kedalam mulut Hayoon. Menghisap kuat bibir bawah dan atas Hayoon dengan kuat membuat siempunya bibir sedikit mengeluarkan desahannya.

“Eung…Ho..seok” dengan susah payah Hayoon mengeluarkan kata – katanyanya. Yang bernama Hoseok tersebut semakin merapatkan tubuhnya dan menarik wajah juga pinggul Hayoon kedirinya.

“Hem…Yoon” Hoseok menjawab di sela – sela ciuamnnya.

“Kapan kau.. eung..da..thang”

Hoseok melepaskan tautannya.

“Tck.. kau benar – benar berisik. Dasar jangkrik berisik. Aku datang tadi pagi dan aku menemukanmu di berkas yang akan ku kerjakan nanti dan kau akan menjadi bawahan devisiku dan juga aku menjadia direkturmu dan kau menjadi bawahanku” dengan durasi cepat Hoseok mengucapkan sederet kata – katanya. Lalu tanpa babibu lagi Hoseok kembali mencium Hayoon dan melumat bibir Hayoon dengan gemas. Hayoon menjauhkan wajah Hoseok dari wajahnya.

“Kau direktur disini ?” tanya Hayoon tak percaya.

“Ia.. Ia .. kau puas hah ?”

“Tapi bagaimana bisa ?”

“Na Hayoon. Bisakah kau menyimpan pertanyaanmu nanti ?” dengus Hoseok kesal dan Hoseok kembali Hoseok bergerak kewajah Hayoon ingin meraup bibir Hayoon lalu dengan cepat Hayoon menangkup wajah Hoseok.

“Kau melakukan ini kepada bawahanmu ?” Hayoon menatap tajam Hoseok.

“Kenapa ? Kau juga nanti menjadi istriku ?” selah Hoseok.

“APA ?” Hayoon menjerit hebat. Bibir Hoseok dengan cepat meraup bibir Hayoon. Dengan rabaan tangan Hayoon tergerak mencari tali penarik tirai.

DAPAT

Hayoon dengan cepat menarik tali tersebut hingga tirai menggulung keatas. Cahaya pun masuk menghiasi ruangan gelap ini.

Hayoon sekarang menatap jelas wajah Hoseok yang semakin tampan.. mata Hayoon tidak berkedip melihat Hoseok yang tersenyum manis kearahnya.

“Jung Hoseok.. mentimun bodoh ku” Hayoon tersenyum manis ke Hoseok

“Na Hayoon.. jangkrik berisik ku “ Hoseok juga membalas senyuman Hayoon. Tapi… “ KENAPA PAKAIAN MU SEPERTI ??? “ dilihatnya pakain Hayoon kemeja pink pucat ketat dan rok hitam yang terbilang pendek juga ketat.

“KAU…” desis Hoseok dengan dingin..

“Ak.. aku.. bis..”

Tanpa perintah Hoseok mencium Hayoon dengan memburu dan juga penuh tuntutan.

“Balas dan jangan membantah” perintah Hoseok disela – sela ciuaman panas ini. Hayoon memang merindukan nya mau tak mau menuruti kekasihnya ini. Dan ikut membalas ciuman panas dari Hoseok mentimun bodohnya..

 

Tok.. Tok..

“Buka pintunya.. Siapa pun di dalam tolong buka pintunya. Ruangan ini ingin dipakai rapat “

 

FIN

 

Akhirnya selesai juga. Ini dibuat dalam  2 hari  (curhat ).  Kamsia yang telah membaca ^^ 

About fanfictionside

just me

11 thoughts on “FF oneshot/ LOVE MY CHILDHOOD/ BTS-BANGTAN

  1. wahhh
    daebak daebak
    ini ff seru dan keren😀

    siapa lgi tuh di akhir yg ngetok2 pintu rwg rapat ?
    Gangu aja😀 wkwkwk

  2. aaaaaaaaa~ jung hoseok oppaaa kau haruss tanggung jawab!!!! Aku gilaa sekarang karna ulahmu -_-😄
    Keren minn ceritanya bener² so gooddddd
    Keep writting and fighting yoo!!

  3. Aaaaaaaaaaaaaahhhh my hope hope my bias co cwiit… aplagi bgian terakhirnya… sumpah demi apapun aku gregetan bacanya ampe tereak2 molo.. lama2 aku nya ff jhope yg romance akhirnya ktemu juga… panjangin lagi ath thor.. ada adegan dia kawin lah…. hihi keren deh thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s