FF oneshot/ BUBBLES HONEY/ BTS-APINK


author: RV ♔ (author tetap) *introduce FF*

Tittle : Bubbles Honey

Rating : Teenager

Duration : Oneshot, Longshot

Genre : Romance, School-life, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV

Main Cast : Oh Hayoung (A Pink), Kim Taehyung/V (BTS), and Oh Sehun (EXO).

Other Cast : Kim Jongin/Kai (EXO).

IMG_20140425_081926

SUMMARY : Hayoung gadis pemalu yang hanya memiliki satu teman dekat yaitu Taehyung tiba-tiba memutuskan untuk pindah Rumah dan sekolah karena merasa Taehyung selalu terganggu dengan sifatnya yang berisik dan terbuka hanya kepada pria itu. Saat berita kepindahannya tersebar disekolah, Oh Sehun, seniornya yang terbilang Famous disana tiba-tiba mendekatinya dan berusaha agar Hayoung mengurungkan niatnya untuk pindah hanya karena ia ingin mencari tahu sampai mana rasa penasarannya pada Hayoung.

*

@Gyeongsang-do,Busan

 

Author POV

 

Sudah sekitar 2 jam Taehyung tertidur pulas di bukit kecil dimana ia biasa menyendiri dan bersantai. Ia terlelap di atas rerumputan, tanpa peduli apakah seragam sekolahnya kotor atau tidak saat bersentuhan rumput-rumput itu. Payung pantai panjang yang sengaja ditancapkan menembus tanah agar berdiri tegak menjadi tempat dimana menghalangi terik matahari menyentuh wajahnya.

 

Sruk..sruk..sruk..

Suara langkah seseorang yang bergesekkan dengan rumput.

Orang itu menghampiri sosok taehyung, seorang gadis berseragam yang sama dengan taehyung, gadis itu tersenyum saat melihat taehyung yang masih terpejam.

 

“Sudah kuduga kau ada disini, oppa” gumam gadis itu pada sosok taehyung.

 

Gadis itu meraih payung pantai panjang taehyung lalu dengan agak sulit ia tarik payung itu hingga terlepas dan membuat sinar matahari langsung menerpa wajah taehyung dan otomatis membuat tidur taehyung terganggu.

 

Kepala taehyung bergerak ke kanan dan kekiri, lalu ia membuka sedikit matanya mendapati sosok gadis dihadapannya tengah tersenyum memamerkan deretan giginya yang rata. Oh Hayoung, teman dekat sekaligus tetangganya.

 

“Yak Oh Hayoung! Apa-apaan kau?” Bentak taehyung masih dalam pengaruh tidurnya.

 

Hayoung hanya cekikikan melihat tingkah taehyung.

“Oppa, aku mencarimu”

 

Taehyung bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk dengan kakinya yang masih diselonjorkan.

 

Hayoung ikut duduk, tapi ia memilih duduk di atas kaki taehyung.

 

“Aissh” Taehyung dengan cepat menyentakkan kakinya agar hayoung menyingkir dari kakinya. Hayoung pindah duduk di rumput.

 

“Ada apa kau mencariku? Ku harap ini penting” ujar taehyung jutek.

“Aku punya berita baik untukmu, kau pasti senang mendengarnya!” Seru Hayoung antusias.

 

Taehyung memutar bola matanya, sudah sering ia mendengar kata itu dari hayoung.

 

“Tebaklah!” Pinta hayoung.

 

Taehyung mengacak rambutnya.

“Kau membuat makanan kesukaanku?”

“Ani” jawab hayoung masih dengan ekspresinya yang begitu antusias.

“Teh madu lagi?” Tanya taehyung dengan sedikit mengangkat sebelah alisnya.

Hayoung menggeleng.

“Membuatkanku sweater? Dapat tiket nonton? Komik? Video game? Album IU terbaru?”

“Bukan oppa! Ini hal yang lebih special”

 

Taehyung meregangkan tangannya lalu menguap.

“Sudahlah cepat katakan, Lakukan tujuanmu kesini lalu pergi, berhenti membuang-buang waktuku, aku masih ngantuk”

“Oppa ini selalu saja seperti itu” dengus hayoung “Baiklah akan aku beri tahu, sebentar lagi aku akan pindah ke seoul! Aku akan pindah sekolah ke seoul arts high school, oppa! Itu artinya keinginanmu terkabul untuk jauh dariku!” Ujar hayoung senang.

 

Taehyung merengut melihat tingkah hayoung.

“Mwo?” Tanya taehyung.

“Aku akan pergi! Bagaimana? Ini berita baik bukan? Kau tidak akan terganggu lagi olehku, dan….yang terpenting semua teman-teman disekolah tidak akan menggosipkanmu lagi denganku. Kau kan sangat benci jadi bahan gosip” jelas hayoung lalu ia tertawa.

 

Taehyung mengamati ekpresi gadis pemalu yang hanya  bisa terbuka padanya itu.

 

“Jadi..orang tuamu dipindah tugaskan lagi? Jadi kau terpaksa pindah?”

“Tidak, kau salah. Ini keinginanku”

“Kau pindah sekolah hanya karena aku menyuruhmu berhenti mengangguku?” Tanya taehyung terkejut tapi masih dalam raut wajah tenang.

“Tidak juga, nenekku sakit disana jadi aku mengusulkan kami sekeluarga untuk pindah” koreksi hayoung. “Kau sudah kuanggap seperti kakak kandungku, tentu saja aku juga mencoba memenuhi keinginanmu” tambah hayoung dengan diselingi senyum.

 

Taehyung mengalihkan wajahnya ke arah lain mendengus tidak habis pikir, lalu ia bangkit dari duduknya, berdiri.

 

Dengan ekspresi lebih dingin dari biasanya ia menatap hayoung.

“Bagus pergilah!” Seru taehyung singkat lalu ia berbalik melangkahkan kakinya menjauh dari hayoung.

 

“SAMPAI JUMPA OPPA!!” Teriak hayoung pada sosok taehyung yang mempunggunginya. “NANTI AKU KERUMAHMU MEMBERIKAN TEH MADU KESUKAANMU!” Teriak hayoung sekuat tenaga agar taehyung mendengarnya.

 

Taehyung tidak berbalik hanya mengacungkan tangannya sambil membuat isyarat O.K dengan jemarinya.

 

*

 

@Taehyung’s House

 

“Taehyung-ah~, ayo turun! Hayoung membawakanmu sesuatu” Ujar oemma taehyung.

 

“Tidak apa-apa ahjumma, aku hanya ingin memberikan ini saja” ucap hayoung ramah sambil memberikan segelas teh madu dingin buatannya.

“Terimakasih hayoungie, maaf jadi merepotkanmu”

“Tidak ahjumma, aku senang melakukannya untuk taehyung oppa”

“Ahjumma bingung, kenapa taehyung hanya menyukai teh madu buatanmu saja. Karena setiap ahjumma buatkan tidak pernah ia sentuh sama sekali”

“Ahjumma terlalu memuji, madu sangat baik untuk kesehatan jadi ahjumma harus bujuk taehyung oppa untuk meminum teh madu buatan ahjumma” Ucap hayoung lalu tersenyum.

“Hanya kau yang bisa membujuknya” goda taehyung oemma “Ngomong-ngomong apa benar kau ingin pindah ke seoul?” Tambahnya.

“Ne ahjumma”

“Sayang sekali, kenapa pindah? Keluargamu baru pindah ke gyeongsang-do selama 2 tahun” ucap taehyung oemma dengan raut wajah kecewa.

“Aku ada alasan tersendiri ahjumma, baiklah aku pulang dulu. Sampai jumpa ahjumma~” ucap hayoung melambaikan tangannya sambil berbalik pergi.

“Ne, kalau orang tuamu belum pulang kerja makan malamlah disini” taehyung oemma mengingatkan dengan setengah berteriak.

“Ne arrata” jawab hayoung juga sedikit berteriak agar suaranya terdengar.

 

“Sayang sekali gadis seceria dan sebaik hayoung harus pindah” gumam taehyung oemma, lalu ia berbalik ingin ke dapur, saat berbalik ia terkejut melihat sosok taehyung yang berdiri bersandar di dinding dekat rak pajangan.

 

“Taehyung-ah.. kau membuat oemma terkejut! Sejak kapan disana? Kenapa tidak menyapa hayoung? Dia kesini untuk memberikanmu ini” taehyung oemma melangkah mendekati anak Sulungnya itu, lalu menyodorkan teh madu buatan hayoung.

 

“Seburuk-buruknya kau memperlakukan hayoung, kau tidak pernah mengabaikannya” oemma taehyung mengingatkan.

 

Taehyung mengambil teh madu yang disodorkan oemmanya.

“Gomawo” ucap taehyung singkat, lalu beranjak kembali ke kamarnya.

 

“Anak itu semakin hari semakin aneh saja” gumam taehyung oemma.

 

*

 

@Gyeongsang High School.

 

“Hah jinjja?” Tanya segerombolan gadis.

“Ne!” Jawab seorang gadis yang menjadi sumber berita itu.

“Oh hayoung kelas 1 itu, kan?”

“Yang pendiam dan pemalu?”

“Dia yang sering menempel di sisi V terus?”

“V? Nugu?”

“Itu nama beken taehyung!”

“Jadi dia mau pindah ke seoul, sekolah di seoul arts?”

“Bagaimana bisa orang seperti dia masuk kesana?”

 

Dalam waktu 1 hari berita perpindahan hayoungpun sudah tersebar se-antero sekolah. Bahkan berita itu sampai terdengar ke telinga Oh Sehun. Namja popular di gyeongsang high school.

 

“Seoul arts? Bakat apa yang ia miliki hingga bisa masuk kesana?” Bisik-bisik dari teman sekelas sehun masih bisa terdengar olehnya.

 

Puk!

Seseorang memegang bahu sehun dari belakang membuat sehun menoleh. Sehun tersenyum melihat siapa yang memegang bahunya, teman sebangku sekaligus sahabatnya Kim Jonging alias kai. Kai duduk di bangku yang berhadapan dengan sehun.

 

“Sehun-ah, gadis incaranmu akan pergi. Sudah kubilang kau terlalu lamban dalam mengambil tindakan” ucap kai pelan takut didengar oleh teman sekelasnya. “Sekarang kuburlah harapanmu, Mr. Thinking too much”

 

Sehun memegang pergelangan tangannya lalu ia tersenyum penuh arti.

 

“Ada perubahan rencana” ucap sehun serius.

 

*

 

“Oppa, oppa, oppa~” panggil hayoung pada taehyung yang berjalan didepannya.

 

Hayoung berhenti mengejar taehyung karena lelah.

 

Taehyung yang sudah tidak mendengar hayoung memanggilnya menghentikan langkah lalu menoleh ke belakang. Ia melihat hayoung yang sedang mengatur napas. Taehyung mendengus lalu berbalik mendekati hayoung.

 

“Wae?” Tanya taehyung sedikit merasa bersalah.

“Kenapa kau tidak menyahut?” Tanya hayoung setengah merengek.

“Baiklah mianhe, ada apa? Kau mau kuantar ke toilet lagi? Atau ke perpustakaan? Kantin?”

“Aniyo”

“Lalu apa?”

“Sepulang sekolah nanti ajak aku ke bukit, oeh?”

 

Taehyung menghela napas.

“Baiklah, sepulang sekolah kita bertemu di gerbang depan”

 

Hayoung mengangguk mantap.

“Arasseo”

 

“Ada lagi?” Tanya taehyung.

“Ah tidak ada. Hari ini aku tidak akan memintamu menemaniku ke kantin, aku tidak mau merepotkanmu”

“Sejak kapan kau tidak merepotkanku?” Tanya taehyung yang dibalas tawa kecil dari hayoung.

“Kalau begitu, sampai jumpa” hayoung melambaikan tangannya sambil berbalik pergi.

 

Hayoung berjalan menelusuri koridor yang saat itu banyak murid yang berlalu lalang. Sebagian dari mereka bergerombol dan terlihat asik membicarakan sesuatu. Dengan menunduk hayoung berjalan melewati mereka.

 

Sehun yang saat itu sedang mengobrol didepan kelasnya dapat melihat hayoung dari jauh sedang berjalan ke arah kelasnya. sehun menyikut kai lalu memberikan isyarat dengan dagunya yang membuat kai reflek menoleh.

 

“Panggil dan ajak dia ke kantin” saran kai.

 

sehun menyunggingkan senyumnya.

 

Ketika hayoung berjalan didepan mereka, sehun bersiap memanggilnya dengan gugup.

 

“Yak kau! Murid kelas 10!” Panggil sehun masih dengan pesonanya yang keren.

 

Hayoung berhenti dan menoleh ke arah sehun, tapi tiba-tiba 3 gadis di samping hayoung histeris membuat hayoung terkejut.

 

“Ne oppa! Kau memanggilku?!” “Kau memanggil kami? Ada apa?” Seru para gadis itu, mereka mendekati kai dan sehun dengan kelewat senang sampai-sampai menabrak bahu hayoung.

 

Hayoung sedikit meringis lalu ia kembali melihat sehun yang saat itu sedang menatapnya dan menatap para gadis yang salah paham dengan panggilannya.

 

Hayoung menggindikkan bahunya lalu ia melangkah pergi.

 

Kai hanya berdecap dan menggerakkan tubuhnya gusar.

“Yak Bukan kalian yang dipanggil sehun!” seru kai yang membuat para gadis itu diam.

 

*

 

@Canteen

 

Hayoung melahap makanannya dengan perlahan, karena dia tidak memiliki sahabat disekolah jadi dia hanya makan sendiri. Tidak menyenangkan memang hanya makan sendiri karena biasanya dia selalu ditemani taehyung.

 

“Boleh aku duduk disini?” Tanya seorang namja.

 

Hayoung mendongak dan melihat sehun dihadapannya, hayoung menelan ludah karena jarang sekali situasi seperti ini terjadi.

 

“Si..silahkan..sunbaenim” jawab hayoung.

 

sehun duduk dihadapan hayoung membuat semua mata tertuju pada mereka, seluruh penghuni(?) Kantin sulit percaya bahwa seorang sehun mau duduk satu meja dengan yeoja pendiam seperti hayoung. Jangankan mereka, hayoung sendiripun tidak percaya.

 

Hayoung mulai menunduk dan mencoba menyantap lagi makanannya. Meyakinkan dirinya alasan sehun duduk satu meja dengannya karena tidak ada kursi yang kosong lagi selain mejanya.

 

sehun tersenyum melihat tingkah hayoung.

“Kenapa kau makan sendiri? Dimana namja yang biasa bersamamu?” Pancing sehun.

“Ne? Nu..nugu? Apa maksudmu taehyung oppa?”

 

Sehun mengangguk menyetujui.

 

“Aku tidak tahu” jawab hayoung.

“Hubungan kalian terlihat dekat”

“Dia sahabatku”

“Tapi dia tidak terlihat seperti seorang sahabat, dia terlihat..”

“Masa bodo dan sering memarahiku?” Timpal hayoung.

“Ne itu maksudku”

“Dia memang seperti itu”

“Kudengar..kau mau pindah ke seoul?”

 

Hayoung mendongak, wajahnya sangat terkejut mendengar ucapan sehun. Hayoung menelan makanannya lalu ia mengangguk.

 

“Kenapa kau pindah?” Tanya sehun.

“Ke..kenapa sunbae ingin tahu?”

“Karena aku penasaran”

 

Hayoung menggigit bibirnya.

“Aku tidak ingin menjawabnya” ucap hayoung pelan.

 

sehun tersenyum.

“Baiklah aku tidak akan memaksa, aku hanya heran saja, aku lahir dan tinggal lama di seoul lalu pindah ke gyeongsang-do, tapi kau malah melakukan sebaliknya”

 

Hayoung hanya membalas ucapan sehun dengan senyuman canggung.

 

“Kajima! Pikirkanlah lagi untuk tetap tinggal disini” saran sehun.

 

Hayoung dibuat terkejut lagi dengan ucapan sehun.

“Wae?”

“Aku tidak ingin kau pindah sebelum aku melakukan apapun”

 

Hayoung bingung dengan maksud sehun, tapi ia tidak berniat bertanya dan lebih memilih bungkam.

 

sehun beranjak dari duduknya.

 

“Aku pergi dulu, sampai bertemu dilain waktu” salam sehun.

 

“Ne” balas hayoung dengan membungkukkan  kepalanya.

 

*

 

Bell tanda pulang sudah berbunyi dari 10 menit yang lalu, hayoung sedikit berlari menuju gerbang sekolah takut jika taehyung lama menunggunya.

 

Saat sudah diluar gedung sekolah, hayoung tidak melihat sosok taehyung di gerbang depan, ada perasaan lega sekaligus kecewa yang kini ia rasakan. Lega karena itu artinya dia tidak terlambat juga tidak membuat taehyung lama menunggu, dan disisi lain ia kecewa karena lagi-lagi ia yang harus menunggu sosok taehyung.

 

Hayoung berjalan dengan lemah ke gerbang depan.

“Setiap janjian pasti aku yang selalu menunggu” keluh hayoung.

 

Hayoung berdiri tepat di dekat gerbang menunggu taehyung, Sambil sesekali memainkan kakinya.

 

Taehyung yang baru keluar dari gedung sekolah dengan beberapa temannya menghentikan langkahnya karena melihat hayoung sudah menunggunya di gerbang.

 

“V, Wae?” Tanya minwoo, dia ikut mengikuti arah mata taehyung yang sedang melihat hayoung.

“Ah.. kau pulang bersamanya lagi. Yasudah pergilah, biar aku pulang dengan kwangmin saja” tambah minwoo.

“Ne, pergilah” timpal kwangmin.

“Sampai jumpa teman-teman” salam taehyung pada minwoo dan kwangmin sambil ber high five.

 

Baru selangkah taehyung berjalan, ia berhenti karena melihat sehun menghampiri hayoung.

 

“Anyeong Oh Hayoung” sapa sehun.

 

Hayoung mendongak.

“A..anyoung sunbaenim”

“Sedang apa disini?”

“Aku..menunggu taehyung oppa” jawab hayoung.

“Hmm sayang sekali, padahal aku ingin mengajakmu pulang bersamaku”

“Ne?” Tanya hayoung terkejut hingga matanya terbelalak.

 

Sehun terlihat berpikir.

“Mmm..saat di kantin tadi, apa kau tahu maksud perkataanku kalau aku tidak mau kau pindah sebelum aku melakukan apapun?”

 

Hayoung tampak berusaha mengingat kejadian di kantin tadi.

 

Lalu hayoung menjawab pertanyaan sehun dengan menggeleng. Yang mengartikan bahwa ia tidak mengerti.

 

“Aku tidak ingin kau pergi sebelum aku mendekatimu, aku tertarik padamu oh hayoung” ucap sehun sambil mengelus pipi hayoung.

 

Kini mata hayoung terbelalak hampir mau keluar saking terkejutnya.

 

Sehun tertawa dengan sangat manis.

“Kau sangat menggemaskan, aku jadi semakin tertarik padamu” ucap sehun yang membuat wajah hayoung memerah.

 

Jantung hayoung berdetak dengan sangat cepat, gugup, karena baru kali ini ada seorang namja yang bicara seperti itu padanya. Apalagi namja pertama itu adalah Oh Sehun, namja idaman disekolahnya.

 

“Mungkin lain kali kita bisa pulang bersama, sampai jumpa Oh hayoung” salam sehun sambil sedikit melambaikan tangannya yang membuatnya terkesan semakin manis, setidaknya itulah yang ada dipikiran hayoung.

“Ne, sehun sunbae” balas hayoung sembari membungkukkan badan.

 

Mata Hayoung mengekori kepergian sehun sampai sosok sehun tidak tertangkap lagi di penglihatannya.

 

“Yak Oh Hayoung!” Seru taehyung yang kini sudah berada di samping hayoung.

 

Hayoung tersentak dan langsung menoleh ke asal suara.

 

‘Kenapa hari ini banyak sekali yang membuatku kaget?’ Batin hayoung.

 

Raut wajah hayoung yang tadi bingung bercambur tegang langsung berubah cerah saat melihat taehyung.

 

“Ah oppa~ kau sudah datang, kenapa kau lama sekali?” Pungkas hayoung bersemangat, berbeda sekali saat tadi bicara dengan sehun.

 

Taehyung mendengus sambil memutar bola matanya.

“Tapi karena itu kau senang bukan?” Sindir taehyung.

“Se..senang? Wae?” jawab hayoung tidak mengerti.

“Kajja!” Tandas taehyung sembari melangkahkan kakinya pergi.

 

Hayoung yang sudah sering diperlakukan seperti itu oleh taehyung hanya dapat memakluminya.

 

*

 

Langit cerah yang menyelimuti atmosfer di bukit kecil dimana taehyung dan hayoung berada begitu sempurna. Hayoung bertopang dagu sibuk dengan pikirannya yang mengatakan pemandangan yang indah ini tidak akan dia temui lagi saat ia pindah ke seoul. Sedangkan taehyung, ia hanya sibuk dengan buku sketsanya.

 

“Oppa..” panggil hayoung.

“Hmm?” Sahut taehyung tanpa mengalihkan pandangan dari sketsanya.

“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu disini?”

 

Taehyung sempat memberhentikan aktifitas menggambarnya, tapi ia lanjutkan lagi dan lebih memilih tidak menjawab pertanyaan hayoung.

 

“Saat itu aku sedang meniup gelembung sabun disini, tepat ditempat ini. Lalu kau datang karena mengikuti gelembung-gelembungku yang menyebar kemana-mana” jelas hayoung sambil tersenyum, kemudian ia menoleh dan tersenyum ke arah taehyung yang masih setia dengan buku sketsanya.

 

“Bukankah gelembung itu perantara tuhan dari takdir yang mempertemukan kita?” Tanya hayoung antusias.

 

Taehyung menggaruk tengkuknya.

“Jangan bicara hal-hal macam dongeng seperti itu” balas taehyung malas.

 

“Tapi oppa, bukankah karena gelembung itu kita berkenalan? Dan yang tidak terduganya lagi ternyata aku pindah kerumah yang berdekatan denganmu”

“Terserah kau sajalah” jawab taehyung pasrah.

 

“Yang pasti aku sangat bersyukur bertemu denganmu, saat itu aku sedang sangat sedih karena teman-teman di sekolah baruku tidak ada yang mau berteman denganku, lalu kau datang menghiburku dan bilang akan menjadi temanku. Kau tahu? Itu hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupku” jelas hayoung panjang lebar.

 

Taehyung menoleh ke hayoung dengan ekspresi yang tidak nyaman.

“Yak.. jangan mengucapkan hal menjijikan seperti itu! Lagipula siapa yang menghiburmu? saat itu aku hanya menyuruhmu berhenti menangis karena kau sangat jelek dan menyedihkan. Mana ada orang main gelembung sambil menangis? Mukamu sangat sembab sampai-sampai sudah tidak berbentuk!”

“Benarkah seburuk itu?” Tanya hayoung sambil memegang wajahnya.

 

Taehyung malah kembali asyik dengan aktifitas menggambarnya lagi yang tadi sempat tertunda.

 

“Oh ya oppa, aku membawakanmu teh madu. Minumlah!” Perintah hayoung sambil menyodorkan botol minum dari tasnya.

“Taru saja disitu nanti aku minum” balas taehyung.

 

Selang beberapa menit taehyung menutup buku sketsanya lalu mengambil botol minum yang berisi teh madu dari hayoung. Ia meminumnya dengan cara menengadah sampai jakunnya naik turun.

 

“Enak?” Tanya hayoung.

 

Taehyung melepas mulut botol itu dari mulutnya.

“Sama saja” jawab taehyung cuek lalu ia kembali menenggak minumannya.

 

Hayoung melihat buku sketsa taehyung yang tergeletak di rumput.

 

“Sebenarnya apasih yang kau gambar disini?” Tanya hayoung sambil mengambil buku sketsa taehyung.

 

Taehyung membelalakan matanya, ia langsung menyudahi acara minumnya dengan cepat sampai-sampai tehnya sedikit tumpah. Ia menjulurkan tangannya untuk merampas buku sketsanya tapi ia terlambat karena hayoung sudah terlebih dahulu membuka halaman awal.

 

Diam..

Hanya itu yang bisa hayoung perbuat saat melihat lukisan taehyung. Tidak dapat berkata apa-apa, lukisan pemandangan bukit dimana mereka berada dan ada banyak gelembung disekitarnya. Lukisan itu seperti menggambarkan peristiwa yang mereka alami 2 tahun yang lalu.

 

‘Sangat bagus’ pikir hayoung terkagum-kagum.

 

“Aku tidak tahu kau begitu berbakat dalam seni lukis” ucap hayoung yang bersamaan dengan itu buku sketsa taehyung sudah berhasil kembali ke tangan taehyung.

 

“Ini privasi!” Tegas taehyung.

“Bolehkah lukisan itu untukku?” Pinta hayoung.

 

Taehyung terdiam beberapa saat.

“Ani” jawab taehyung kemudian.

“Walaupun untuk kenang-kenangan tidak boleh?” Tanya hayoung lagi memastikan.

“Aku bilang tidak lah tidak”

“Oppa ini pelit sekali! Hmm kalau tidak.. maukah kau melukis wajahku? Ah tidak maksudku melukis aku? dari kepala sampai kaki” Pinta hayoung mencari alternatif.

“Shireo!”

“Oppa~”

“Biar kupikir-pikir dulu”

“Pikirkanlah baik-baik! beri tahu aku kalau kau sudah memutuskan, oeh?”

“Jangan terlalu banyak berharap!”

“Oppa~” rengek hayoung.

“Bocah!”

 

“Oh iya oppa” lanjut hayoung “Sehun sunbae bilang kalau ia tertarik padaku” jelas hayoung dengan nada seakan-akan tidak percaya.

 

Taehyung melirik hayoung.

“Kau pasti senang”

“A..aniyo.. hmm maksudku tentu aku senang ada yang menyukaiku apalagi orang itu sehun sunbae, dia orang yang baik”

 

Taehyung tertawa mengejek.

“Kalau begitu jadian sana!”

 

Hayoung terdiam sesaat tatapannya berubah kosong memandang bentangan lahan kosong dihadapannya.

“Andai aku menyukainya” gumam hayoung pelan tapi masih terdengar oleh taehyung.

 

Taehyung memandang hayoung karena mengucapkan hal itu, ia seakan mencari tahu maksud gadis itu dari raut wajahnya.

 

*

 

Keesokkan hari @Gyeongsang High School, jam pulang sekolah.

 

Di atas pintu tergantung papan bertuliskan Kelas 11B.

 

“Namjoo sunbae!” Panggil hayoung pada namjoo yang saat itu baru berniat mau keluar kelas.

“Oh hayoung, ada apa?” Tanya namjoo dengan ekspresi polosnya.

“Apa sunbae tahu dimana taehyung oppa?” Tanya hayoung dengan ekspresi bingung.

“Ah..V maksudmu? Namja konyol itu Baru saja keluar bersama minwoo dan kwangmin”

“Konyol? Dia tidak pernah terlihat konyol didepanku” gumam hayoung “Baiklah aku akan menyusulnya, gomawo sunbaenim” sambung hayoung.

“Ne”

 

Hayoung langsung melengos untuk mencari sosok taehyung.

 

*

 

“Taehyung oppa!!” Teriak hayoung.

 

Taehyung yang saat itu sedang bergurau ria dengan kwangmin dan minwoo langsung menoleh, mereka melihat hayoung mendekat dengan ngos-ngosan.

 

“Op..pa..kau..kenapa kau meninggalkanku?” Tanya hayoung sambil mengatur napasnya.

“Aku mau pergi dengan minwoo dan kwangmin, kau pulanglah sendiri!” Perintah taehyung.

“Kau mau kemana, oppa?”

“Bukan urusanmu” balas taehyung.

 

“V, kalau kau mau pulang bersamanya tidak apa-apa. Kita bisa pergi lain waktu” usul kwangmin.

 

Minwoo langsung menyiku kwangmin, lalu mereka saling berpandangan.

“Apa maksudmu lain waktu?” Protes minwoo dengan suara pelan.

 

Taehyung: “Tidak tidak! Kita akan tetap pergi sesuai rencana! Bukan masalah kan hayoung-ah?”

“Ah..ne, gwenchana” jawab hayoung kecewa.

 

“Oh hayoung!” Panggil sehun sambil melambaikan tangannya.

 

Mereka menoleh dan terkejut mendapati sehun dan kai. Hayoung terbelalak melihat sehun yang kini mendekatinya sambil memamerkan senyumnya.

 

Kwangmin dan minwoo sedikit membungkukkan tubuhnya pada sehun, karena bagaimanapun sehun adalah senior mereka.

 

Sehun memandang taehyung menyelidik lalu mengalihkan pandangannya ke kwangmin dan minwoo kemudian kembali ke hayoung. Ia menyunggingkan bibirnya saat memandang hayoung.

 

“Ayo pulang bersamaku” ajak sehun sambil meraih tangan hayoung membuat situasi awkward bagi taehyung, minwoo, dan kwangmin yang menyaksikannya.

 

Tangan hayoung sedikit gemetar.

“Ne?” Tanya hayoung terkejut.

 

Sehun melihat ke arah taehyung.

“Hari ini dia akan pulang bersamaku” titah sehun dengan ekspresi yang dingin dan serius.

“Kajja hayoung-ah!” Sehun menarik tangan hayoung agar mengikuti langkahnya.

 

Hayoung tidak melepaskan pandangannya dari taehyung, ia menyempatkan memanggil taehyung saat ditarik sehun.

“Oppa~”

 

Taehyung melirik tajam kepergian sehun dan hayoung, dadanya naik turun menahan sesuatu.

 

“Sulit dipercaya” gumam minwoo “V, yeoja yang kau semena-menakan itu berkencan dengan sehun sunbae? Aigoo.. hebat sekali gadis itu” tambah minwoo.

“Ayo kita pergi! Karena hayoung sudah ada yang menemani pulang, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan anak itu lagi, V” ucap kwangmin.

 

Taehyung menatap kwangmin.

“Siapa yang mengkhawatirkannya?” Protes taehyung sambil memukul dada kwangmin sebagai tanda protesnya, kemudian ia berjalan terlebih dahulu.

“Auuh” ringis kwangmin.

“Yak V, chakkaman!” Teriak minwoo sambil menyusul taehyung.

“Tunggu aku juga” rengek kwangmin.

 

*

 

Mobil sehun berhenti tepat di depan pekarangan rumah hayoung.

 

“Jadi ini rumahmu?” Tanya sehun.

 

Hayoung yang sedari tadi memainkan jari kukunya lalu mengalihkan pandangannya ke kiri untuk melirik rumahnya.

“Ne, ini rumahku” jawabnya sambil masih menoleh ke rumahnya.

 

Sehun memajukan tubuhnya ke dekat hayoung untuk ikut melihat rumah hayoung dari balik kaca mobilnya, atau lebih tepatnya sehun sengaja mendekat agar mereka dapat saling bersentuhan dan ia dapat mencium aroma parfum hayoung.

 

Hayoung menoleh dan mendapati sehun yang berjarak sangat dekat dengannya. Sehun menatap hayoung tepat dimanik matanya membuat hayoung meneguk salivanya karena tegang. Hayoung menunduk dan memainkan kuku jari tangannya lagi.

 

“Te..terimakasih sudah mengantarku, sunbae” ucap hayoung tergagap.

“Apa kau bilang? Aku tidak dengar” goda sehun, ia sangat senang melihat tingkah hayoung yang menurutnya itu lucu.

“Gomapta” ucap hayoung pelan.

 

Sehun tersenyum.

“Bagaimana aku bisa mendengarmu kalau kau saja tidak mau menatapku?” Tanya sehun.

 

Hayoung memberanikan diri mendongak, tanpa ia sadari tangannya memegang kenop pintu mobil.

 

“Gomapta.. sunbaenim” ucapnya dengan susah payah.

“Hanya terimakasih? Kau tidak menawarkanku mampir?”

“O..orang tuaku sedang tidak ada dirumah..ja..jadi aku tidak boleh..membawa orang luar”

 

Tanpa hayoung duga sehun memajukan wajahnya untuk menjalankan niatnya yang sedari tadi ia tahan. Melekatkan bibirnya dengan bibir manis hayoung, itulah pikiran pervert-nya yang sedari tadi mengganggu akal sehatnya.

 

Hayoung  menahan napasnya dan matanya semakin membulat, ia semakin mepet ke pintu mobil saat sehun semakin memangkas jarak diantara mereka.

 

Brakkk!

 

Tanpa terduga pintu mobil terbuka karena hayoung tanpa sadar menarik kenopnya hingga ia hampir terjungkal keluar kalau saja sehun tidak cepat menarik tubuhnya.

 

“Ya! Neo Mwoya?! Bagaimana kalau tadi kau terjungkal kebelakang? Kau bisa melukai dirimu!” Ujar sehun panik bercampur emosi.

 

Dengan cepat hayoung bangkit dari posisi mereka sekarang dan ia langsung keluar dari mobil.

 

“Maafkan aku sunbae, dan terimakasih banyak. Anyeong” ucap hayoung sambil berbungkuk hormat beberapa kali pada sehun lalu ia berlari masuk kerumahnya.

 

“Hah! Gadis itu benar benar!” Racau sehun yang masih shock dengan kejadian tadi saat hayoung hampir jatuh terjungkal kebelakang.

 

*

 

Semenjak kejadian kemarin hayoung jadi takut dan tidak berani untuk bertemu dengan sehun, oleh karena itu ia bertekat untuk tidak keluar kelas agar memperkecil kemungkinan berpapasan dengan sehun.

 

Hayoung mengacak-acak rambut frustasi mengingat kejadian kemarin, dia berpikir kalau pintu mobil tidak terbuka mungkin hal itu akan terjadi. Ciuman pertamanya.

 

Tettttt..tettttt..tettttt

Bell pertanda pulang sekolah sudah berbunyi.

 

Suasana kelas yang sedari tadi memang berisik karena guru mata pelajaran berhalangan hadir jadi semakin berisik. hayoung hanya dapat menghela napas panjang melihat teman-teman sekelasnya yang ribut karena terlalu senang dengan jam pulang.

 

*Skip..

 

Taehyung, kwangmin dan minwoo berjalan di koridor dengan tidak ada habisnya tertawa, tertawa karena lelucon yang dilemparkan masing-masing.

 

“Benarkah? Aku tidak habis pikir” tanya taehyung dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya karena daritadi tertawa geli.

“Kau harus percaya padaku! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, baju dibagian ketiaknya robek!” Jelas minwoo lalu mereka tertawa lagi.

 

“Oh ya..bagaimana kalau nanti main video game di rumahku?” Usul minwoo.

“Ide bagus, kebetulan youngmin sedang tidak ada dirumah jadi aku bisa pulang telat” timpal kwangmin menyetujui.

 

Taehyung menghentikan langkahnya saat melihat sosok hayoung yang mengendap-endap, hayoung celingak celinguk dan merapat di dinding, Setelah itu dengan berhati-hati dan sigap hayoung berbaur ke kerumunan siswi yang kebetulan lewat.

 

“V, wae?” Tanya kwangmin.

“Sepertinya aku tidak bisa ikut, aku ada urusan” jawab taehyung seraya meninggalkan minwoo dan kwangmin.

 

Taehyung berjalan ke arah ia tadi melihat hayoung pergi, ia mengedarkan pandangannya kesuluruh sudut.

 

Merasa dapat pencerahan, taehyung menemukan sosok hayoung yang lagi-lagi sedang merapat ketembok, ia memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

 

“Oh hayoung!” Panggil taehyung yang membuat hayoung terkejut setengah mati.

“Ah..oppa?!” Sentak hayoung.

“Sedang apa kau?” Tanya taehyung datar.

“Aku…mau pulang” jawab hayoung pelan.

“Pulang?” Taehyung mengulang ucapan hayoung “Kenapa gelagatmu sangat mencurigakan?” Tambah taehyung.

“Ah..anu..”

 

Tiba-tiba hayoung berlindung di punggung taehyung, ia meremas lengan taehyung dengan tangannya yang agak gemetar.

“Apa oppa bersedia pulang bersamaku?” Tanya hayoung hati-hati.

 

Baru sehari mereka tidak pulang bersama tapi hayoung merasa seperti sudah berhari-hari.

Taehyung diam beberapa saat.

 

“Ne, kajja” jawab taehyung, ia Merasa ada sesuatu yang telah terjadi dengan hayoung dan Oh sehun kemarin.

 

Mereka berjalan dengan hayoung yang menunduk dan masih berpegangan erat di lengan taehyung, sedangkan taehyung hanya jalan dengan santai.

 

Sehun dan kai yang saat itu sedang mengobrol di luar gedung sekolah melihat hayoung dan taehyung berjalan berdampingan ke luar gerbang. Sehun melirik mereka dengan tajam, sedangkan kai hanya dapat melongo.

 

“Apa sebenarnya hubungan mereka? Kenapa mereka dekat sekali?” Tanya kai.

“Teman.. dan tidak akan kubiarkan lebih dari itu!” Jawab sehun serius.

“Kau sudah sangat terlambat, hun. Sudahlah menyerah saja, masih banyak gadis lain”

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan? Aku masih penasaran dengan gadis itu, kita lihat.. sampai sejauh mana rasa tertarikku padanya”

 

Kai mendengus

“Kau mengucapkannya seakan-akan ini sebuah permainan, hun!”

“What’s the different?”

 

*

 

“Oppa..?” Panggil hayoung.

“Hmm?” Sahut taehyung.

“Kau sudah memutuskannya?”

“Memutuskan apa?” Tanya taehyung enggan.

“Jadi Melukisku atau tidak?”

“Oh itu, mmm belum aku pikirkan” jawab taehyung enteng.

 

Hayoung melepaskan tangannya yang sedari tadi megenggam lengan taehyung.

“1 Bulan.. waktuku disini tinggal satu bulan, tolong cepat putuskan” ucap hayoung terdengar kecewa, lalu ia berjalan mendahului taehyung.

 

Walaupun wajah taehyung masih dihiasi dengan kesan datar dan angkuh, tapi sebenarnya dia cukup terkejut dengan reaksi hayoung, karena tidak biasanya hayoung bersikap seperti ini dalam merespon perlakuan sewenang-wenang taehyung. Biasanya kalau ditolak atau dimarahi ia akan memohon dengan merengek atau hanya menanggapinya dengan tertawa.

 

“Hayoung-ah” panggil taehyung.

“Ne?” Tanya hayoung tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya yang berjalan tepat berada dibelakangnya.

“Aku akan melukismu”

 

Hayoung menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap taehyung.

“Jeongmal? Kau sedang tidak mempermainkanku kan oppa?” Pungkas hayoung girang.

 

Taehyung lega melihat hayoung yang sudah kembali seperti biasanya, lalu ia mengangguk mengiyakan pertanyaan hayoung.

 

“Haa jeongmal gomawo, oppa” ujar hayoung senang.

 

Taehyung sedikit berdehem lalu mengalihkan pandangannya terkesan canggung.

“Mmm..begini, bukan maksudku untuk mengurusi urusanmu dengan oh sehun atau dengan siapapun. Hanya saja.. apa terjadi sesuatu denganmu dan sehun sunbae?”

 

Hayoung menarik napas dalam mendengar taehyung membahas hal itu.

 

“Mak..maksudku bukan dalam segi.. yaa.. kau tahu bukan dalam hal positif tapi dalam segi negatif, apa dia melakukan hal yang meganggumu?” Tambah taehyung salah tingkah, ia menggaruk samping tengkuknya.

 

“Sehun sunbae, di..dia… kemarin saat mengantarku pulang dia mencoba…menciumku” jawab hayoung malu, pipinya kini bersemu merah.

“Mwo?!” Sentak taehyung.

*

Keesokkan harinya.

@Sehun’sHouse

 

“Baiklah jawab aku jujur!” Titah kai.

“Apa yang akan kau lakukan jika gagal mendapatkan Oh Hayoung?” Lanjutnya.

“Kau lupa? Oh Sehun tidak pernah gagal” jawab sehun sarkastis.

“Baiklah anggap kemungkinan itu tidak ada, lalu jika berhasil? kau akan memaksa gadis itu untuk tetap tinggal disini? Atau Kau ingin mengikuti gadis itu pindah ke seoul?”

 

Sehun terlihat gusar lalu ia berdecap.

“Oh ayolah kai.. perasaanku tidak sebesar itu padanya, apa kau kira aku akan menikahinya?” Balas sehun enteng sembari tertawa “Kurasa ini bukan cinta atau hal merepotkan semacamnya, ini hanya sebatas ketertarikan” lanjut sehun.

 

Kai menggeleng melihat tingkah sahabatnya.

“Kau membuat perasaanku tidak enak mengenai ini” jelas kai.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan” jawab sehun enteng. “Kita lihat sampai mana rasa tertarikku padanya” sambung sehun sembari beranjak dari sofa dan kemudian mengambil kunci mobilnya.

“Yak kau mau kemana?”

“Mencari jawaban” jawab sehun yang sepersekian detik kemudian sudah meninggalkan kai.

 

*

 

@Taehyung’sHouse

Pukul setengah sepuluh malam.

 

Suara bell bergema keseluruh ruangan dirumah taehyung, taehyung oemma yang saat itu sedang menonton bersama taehyung beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang.

 

Klek..

Pintu terbuka dan terlihat sosok kedua orang tua hayoung.

“Maaf menganggu malam-malam” ucap hayoung appa sopan.

“Tidak masalah, silahkan masuk” balas taehyung oemma tak kalah sopan.

“Tidak perlu” jawab hayoung appa cepat.

“Sebenarnya kedatangan kami kesini hanya untuk meminta hayoung untuk pulang karena hari sudah malam” kini hayoung oemma yang buka suara.

 

Taehyung oemma merengut.

“Ha-hayoungie?” taehyung oemma balas bertanya. “Maaf tapi hayoung tidak ada disini”

“Jeongmal?!” Pungkas orang tua hayoung bersamaan.

 

Taehyung yang sedang menonton diruang keluarga masih dapat mendengar jelas percakapan oemmanya dengan kedua orang tua hayoung, dia terkejut karena mendengar hayoung tidak ada dirumah. Taehyung beranjak dari duduknya lalu menghampiri para orang tua.

 

Saat sudah berdiri disamping oemmanya Taehyung menyempatkan diri berbungkuk pada kedua orang tua hayoung.

 

“Apa..yang terjadi?” Tanya taehyung.

“Taehyung-ah, kau tahu dimana hayoung?” Tanya hayoung oemma khawatir.

“Animida ahjumma” jawab taehyung.

“Kapan terakhir kali kau melihatnya?” Tanya hayoung appa.

“Saat aku pulang sekolah dengannya, selebih itu aku tidak tahu”

“Hah bagaimana ini?”

“Begini saja, lebih baik paman dan bibi pulang kerumah mungkin saja hayoung akan menghubungi. Dan aku yang akan mencari hayoung” usul taehyung.

 

*

 

“Jadi..apa ini berarti kau menolakku?” Tanya sehun sembari mengangkat sebelah alisnya.

 

Hayoung menunduk tidak berani menatap sehun.

“A..aku, aku minta maaf sunbaenim, bukan maksudku untuk menyakiti perasaanmu, aku hanya mencoba jujur..”

“Tunggu-tunggu!” Potong sehun “jangan bicara seolah-olah aku seorang namja yang menyedihkan, kau membuatku muak mendengar hal itu” sembur sehun tak terima.

“Ne?” Tanya hayoung kebingungan dengan sikap sehun yang berubah drastis.

“Kau salah mengira kalau aku begitu menyukaimu, aku hanya sedikit tertarik saja padamu!” Tandas sehun jengkel.

 

Hayoung menatap sehun dengan serba salah, ia tidak mengerti jalan pikir sehun sekarang ini.

 

‘Aku tidak bilang kalau dia sangat menyukaiku’ pikir hayoung.

 

Sehun menghela napas dalam.

“Sebaiknya kau enyah dari hadapanku, dan cepat-cepatlah pindah ke seoul karena Itu sangat bagus! Dengan begitu aku bisa mendekati yeoja lain yang lebih cantik dan jauh lebih menyenangkan daripadamu!”

 

Bukannya pergi hayoung malah melangkah lebih dekat ke hadapan sehun, sehun yang melihat itu semakin tidak nyaman karena hayoung kini menatapnya penuh arti.

 

“Wae?” Tanya sehun gusar.

 

Tiba-tiba saja hayoung meraih kedua tangan sehun, sehun tersentak dengan perlakuan hayoung yang tidak disangkanya ini.

 

“Terimakasih banyak sunbaenim, terimakasih banyak karena sudah tertarik padaku, kau membuatku merasa seperti seorang wanita yang berharga. Terimakasih” ujar hayoung.

 

Hayoung melepaskan genggamannya dari tangan sehun.

“Selamat tinggal sunbaenim, kuharap kita masih bisa berteman” salam hayoung bersamaan dengan itu ia berbalik dan berlari meninggalkan sehun.

 

Sehun melihat punggung hayoung yang semakin menjauh, ia memegang dadanya yang kini  terasa sesak.

 

Sehun menghela napas lemah, ia memukul beberapa kali dadanya.

 

“Gadis bodoh” gumam sehun dengan ekspresi yang pahit.

 

*

 

Hayoung berjalan menulusuri jalan menuju rumahnya. Hayoung mendengus saat melihat arlojinya karena telah menunjukkan lewat jam 10 malam.

 

“Apa aboeji dan oemma sudah pulang? Bagaimana kalau sudah? Mereka pasti mengkhawatirkanku” keluh hayoung.

 

Hayoung mengedarkan pandangannya ke langit malam yang saat itu terlihat sangat hitam pekat karena tidak ada satupun bintang.

 

“Badanku rasanya remuk semua” hayoung memijat lengan kirinya.

 

Angin malam menerpa tengkuk hayoung membuatnya menggigil.

 

Hayoung memandang lurus kedepan lalu ia menegaskan penglihatannya menangkap sosok yang sepertinya ia kenal.

“Apa itu taehyung oppa?”

 

Mata hayoung membulat sempurna saat yakin kalau itu benar taehyung.

“Oppa~” panggil hayoung.

 

Taehyung yang memang saat itu sedang mencari hayoung bergegas menghampiri hayoung.

 

Hayoung tersenyum lebar mendapati taehyung dihadapannya.

“Oppa, ini sudah malam. Apa yang sedang kau lakukan disi…”

“Kau kemana saja?!” Potong taehyung, ekspresinya sekarang terlihat kesal “Aku cemas setengah mati!” Lanjutnya dengan membentak.

 

“Kau..mencemaskanku?” Tanya hayoung.

“Gadis bodoh!” Kesal taehyung.

“Mianheyo, oppa”

“Sebenarnya kemana saja kau? Kau tidak tahu semua orang mengkhawatirkanmu?!” Taehyung jengkel.

“A..aku.. mmm, akan kuceritakan sambil jalan pulang” usul hayoung sembari menuntun lengan taehyung.

 

Taehyung mengambil ponselnya lalu mengirim pesan ke orang tua hayoung dan oemmanya.

 

Hayoung sudah kutemukan, kami sedang jalan pulang. Jangan khawatir dia baik baik saja.

 

-Taehyung

 

Taehyung menyentuh tanda ‘Send’ lalu ia memasukkan kembali ponselnya.

 

“Jadi, apa?” Taehyung terdengar tidak sabar.

 

Hayoung menghela napas dalam.

“Jadi begini…

 

~Flashback~

 

Teng..nong..teng..nong

 

Suara bell bergema dirumah hayoung, hayoung yang saat itu sedang membaca majalah di sofa ruang tamunya mendengus malas.

 

“Ne, tunggu sebentar!” hayoung beranjak dari sofa lalu berjalan menuju pintu utama.

 

Hayoung meraih kenop pintu kemudian menariknya, senyum yang menghiasi wajahnya hilang seketika saat melihat sehun yang datang.

 

“A…anyeonghaseyo” sapa hayoung gugup.

 

Sehun memerhatikan hayoung dari ujung kaki sampai ujung kepala, ia tersenyum melihat hayoung yang terlihat cantik memakai kaos santai dan hot pants, ditambah rambut hitam panjangnya yang terurai bebas.

 

“Kau lebih cantik saat memakai baju bebas” ucap sehun yang membuat hayoung salah tingkah.

 

“Si..silahkan masuk, sunbaenim”

 

Mereka masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.

 

“Rumahmu selalu sesepi ini?” tanya sehun sambil memerhatikan sekeliling rumah hayoung.

“Kedua orang tuaku bekerja”

 

Sehun mengangguk dan hanya menggumamkan “Oh”

 

“Kau mau minum apa sunbaenim?”

“Tidak perlu, aku tidak haus” jawab sehun.

“Hmm..baiklah” hayoung ikut duduk di sofa yang berseberangan dengan sehun.

“Oh ya, aku melihat namja yang biasa bersamamu disekolah, dia masuk kerumah yang diseberang. Apa dia tetanggamu?” Tanya sehun.

“Ne, dia tetanggaku”

“Pantas kalian dekat”

 

Hayoung berdehem.

“Ada urusan apa sunbae kesini?”

 

Sehun beranjak dari sofa, ia mendekati meja yang terdapat beberapa bingkai foto hayoung dan kedua orang tuanya.

 

“Seharian ini, ah maksudku dari kemarin aku tidak melihatmu disekolah bahkan di jam istirahat” jawab sehun sambil melihat foto masa kecil hayoung.

 

Hayoung meringis.

“Ah itu.. tadi aku bawa bekal, jadi aku makan dikelas” dusta hayoung.

 

Bibir sehun membentuk ‘O’

“Kukira kau menghindariku karena kejadian pada tempo hari” balasnya tanpa emosi seakan hal itu bukan apa-apa.

 

Hayoung menelan ludah.

 

“Kalau begitu, bersiaplah! Ganti baju dan berdandanlah yang cantik” perintah sehun mengejutkan.

“Oeh?”

“Aku ingin membawamu ke suatu tempat”

 

~10 menit kemudian~

 

Sehun tertegun dengan penampilan hayoung saat ini, ia membayangkan rok atau baju mini yang akan hayoung pakai, tapi yang ia lihat malah celana jins semata kaki dan sweater wol lengan panjang. Sehun terkekeh pelan membuat hayoung bingung.

 

“Apa ada yang aneh dengan penampilanku?” Tanya hayoung ragu.

“Ani, kau sangat manis” balas sehun sembari meraih tangan hayoung menariknya menuju mobil.

 

*

 

Sekitar 30 menit berlalu dan sehun memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan yang terlihat asing dimata hayoung.

 

“Kita dimana sunbae?” Tanya hayoung penasaran.

“Turunlah, nanti kau juga akan tahu”

 

Hayoung turun dari mobil, ia menunggu sehun yang menghampirinya dari sisi depan mobil, sehun tersenyum kemudian menarik tangan hayoung menuntunnya memasuki bangunan yang terkesan misterius dihadapannya.

 

Sehun mendorong pintu besar hitam bangunan itu, sedetik kemudian suara musik terdengar samar samar dipendengaran mereka. Sebuah lorong berkelok dengan lampu seadanya kini membuat hayoung semakin bingung.

 

“Sunbaenim, tempat apa ini?”

“Ini Club, hayoung-ah. Jangan bilang ini kali pertamamu?” Tanya sehun menatap hayoung lekat-lekat.

 

Hayoung hanya menggigit bibir bawahnya pertanda ia tidak tahu harus menjawab apa.

 

Sehun tertawa sambil mengelus kepala hayoung.

“Ayo kita masuk, kujamin kau akan menyukainya”

 

Di ujung lorong ada sebuah pintu lagi, yang menyambut pemandangan mereka saat membuka pintu Ruangan itu adalah Spotlight remang-remang, orang-orang yang meliukan tubuh dengan bebas mengikuti alunan musik berisik yang menjadi pengiring dan juga bau alkohol yang menyengat.

 

“Sunbae!” Panggil hayoung membuat sehun agak tersentak “Aku tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di Busan” tambah hayoung.

 

Sehun hanya tersenyum sambil menarik tangan hayoung semakin memasuki tempat asing tersebut.

 

“Yo, Kai!” Panggil sehun memanggil kai yang saat itu sedang duduk menikmati minumannya.

“Hun, kukira kau tidak datang!” Ujar kai, lalu mereka ber hi-five.

 

Senyum kai pudar saat melihat hayoung. Ia melirik sehun dengan tatapan menggoda.

“Jadi julukan Oh Sehun tidak pernah gagal itu benar?” Tanya kai berteriak di telinga sehun karena alunan musik yang begitu keras, Mereka kemudian tertawa.

 

Bibir Sehun mendekati telinga hayoung.

“Mau kuperlihatkan pertunjukkan yang menarik?” Tanyanya.

“Apa itu?”

“Duduklah disini, dan jangan alihkan pandanganmu barang sekalipun dariku”

 

Hayoung mengangguk.

 

Sehun terlihat memberisikkan sesuatu pada kai lalu mereka mendekati DJ dan tiba-tiba musik jadi berganti.

 

Kai dan sehun ke tengah lantai dansa, lalu mereka mulai menari dengan energik membuat semua orang berhenti menari dan mengganti aktivitas mereka menjadi penonton tarian sehun dan kai yang sangat mengagumkan. Tarian mereka membuat hayoung beberapa kali menarik napas menyaksikannya, bahkan sampai ia berdiri karena terbawa perasaan, ia tidak tahu kalau mereka berdua sangat hebat dan keren dalam Dance.

 

Tarian Sehun dan Kai berakhir dengan tepuk tangan yang meriah dari semua pengunjung club tak terkecuali hayoung.

 

Dengan cepat sehun menghampiri hayoung.

“Bagaimana…hayoung-ah?” Tanya sehun dengan napas yang masih ngos ngosan.

“Sunbae daebak!!” Ujar hayoung “Aku sangat kagum” tambahnya.

 

Sehun memegang dagu hayoung lalu mengecup dalam pipi hayoung membuat jantung hayoung berdebar cepat.

“Terimakasih oh hayoung” ucap sehun setelah mengecup pipi hayoung.

 

Belum puas membuat hayoung terkejut, sehun membuat dahi mereka bersentuhan lalu wajahnya semakin mendekat sampai hidung mereka saling bersentuhan, ia terdiam beberapa saat kemudian mendekap tubuh hayoung dengan sangat erat.

“Aku senang kau disini bersamaku” ucap sehun membuat hayoung semakin tidak berkutik.

 

Tiba-tiba suara musik jadi mengecil dan temponya semakin melambat.

 

“Test, test, test, 1..2..3” terdengar suara namja di mic membuat semua mata tertuju pada pemilik suara tak terkecuali sehun dan hayoung.

 

“Selamat malam semua perkenalkan aku Kim Jongin alias kai, aku berdiri disini karena ingin mengucapkan selamat pada sahabatku Oh Sehun yang baru saja mendapatkan gadis pujaannya, Oh Hayoung, pada malam hari ini” ujar kai sambil menunjuk sehun dan hayoung.

 

Hayoung terhenyak mendengar pernyataan kai yang menurutnya sangat tidak benar, sekarang seluruh mata menatapnya dan sehun. Ia melirik sehun yang masih terlihat tenang dan masih dihiasi dengan senyum cool-nya.

 

“Tolong tepuk tangannya untuk pasangan kita pada malam hari ini” ujar kai lagi keras di mic, yang disambut baik oleh pengunjung club dan tak sedikit yang diselingi sorak sorai menggoda hayoung dan sehun.

 

“Dan..ku yakin kalian semua ingin melihat ciuman pertama pasangan baru ini, benar begitu?” Pertanyaan kai dibalas persetujuan dari para pengunjung.

 

“Cium cium cium cium…” sorak para pengunjung club ditambah kai yang memakai mic.

 

Hayoung meneguk ludahnya, dia sangat takut sekarang. Ia mengalihkan pandangannya ke sehun yang kini menatapnya penuh arti.

 

“Sunbae, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Kenapa jongin sunbae bicara seperti itu? Mereka salah paham…” Desis hayoung yang terpotong karena telunjuk sehun menutup bibirnya.

 

Hal itu terkesan romantis dimata pengunjung club yang menjadi semakin riyuh. Lalu mereka kembali bersorak.

 

“Cium cium cium!”

 

“Kita lakukan saja apa kemauan mereka” bisik sehun.

“Ta..tapi sunbae, aku… maksudku kita..” hayoung tergagap, lalu ia tertunduk “aku tidak pernah melakukannya” lanjutnya putus asa.

 

Sehun memegang lembut dagu hayoung dan membuat wajah mereka berhadapan.

 

“Tutup saja matamu” ucap sehun.

 

Dengan gugup hayoung mencoba menutup matanya, bagaimanapun dia tidak ingin mempermalukan sehun kalau semua orang tahu bahwa mereka sebenarnya tidak berkencan.

 

“Tenanglah.. bernapas perlahan” ucap sehun lagi memberi pengarahan.

 

Hayoung mencoba melakukan apa yang diminta sehun.

 

Sehun tersenyum melihat bibir tipis hayoung yang sebentar lagi akan ia nikmati. Sehun mendekatkan wajahnya dengan perlahan membuat kesan dramatis kepada orang-orang yang sedang menyaksikan aksinya. Ini bukan ciuman pertama bagi sehun, tapi jantungnya ikut berdetak cepat sama seperti hayoung yang akan merasakan First Kissnya

 

‘Bodoh..sepertinya aku benar benar menyukaimu’ batin sehun.

 

Hidung mereka bersentuhan membuat hayoung agak terlonjak, lalu bibir sehun mendarat dengan lembut dibibir hayoung yang lagi lagi membuat hayoung tersentak. Sehun mulai melumatnya dengan lembut, ia memejamkan matanya untuk lebih merasakan sensasi ciumannya.

 

Setelah 10 detik lamanya Hayoung merasa ini sudah lebih dari cukup, tapi sehun malah memperdalam lumatannya. Tangannya memegang belakang kepala hayoung, sehun menciumnya seakan-akan hanya ada mereka berdua di ruangan kedap suara itu.

 

*

 

“Malam ini kau hebat” puji kai pada sehun sambil mendorong bahu sehun dengan tangan kanannya secara bersahabat.

“By the way terimakasih atas bantuanmu” balas sehun.

“Kau bad boy, hun” ujar kai sambil tertawa.

“Yes, i am” aku sehun.

“Lalu kau sudah punya jawaban pertanyaanku waktu itu? Apa yang akan kau lakukan padanya? Pada hubungan kalian? Kita tahu sebentar lagi dia akan pergi” kini kai terdengar serius.

“Belum kupikirkan benar-benar tapi akan kubuat dia mengemis pada orang tuanya untuk tetap tinggal. Well, aku sungguh menyukainya”

“Ayolah.. kau terdengar tidak realistis. Jangan terlalu berharap tinggi, bila jatuh sakit. Tapi tak kusangka kau serius menyukai gadis itu” kai meremas bahu sehun.

 

Sehun diam merasakan remasan tangan kai pada bahunya seperti sedang mentransfer kekhawatirannya.

 

“Yasudah hampiri gadismu, aku ada janji” ujar kai sambil melirik arlojinya “Sampai jumpa” kai menghampiri motornya lalu ia pergi.

 

Sehun berbalik dan betapa terkejutnya saat melihat hayoung sudah berada tepat dibelakangnya.

 

“Oh hayoung, kau mengagetkanku. Sejak kapan disitu?” Sehun berusaha terdengar sebiasa mungkin.

“Baru beberapa detik yang lalu” dusta hayoung, ia sebenarnya mendengar percakapan sehun dan juga kai, tapi anehnya itu sama sekali tidak membuatnya sakit hati.

 

“Baiklah ayo ku antar kau pulang” ajak sehun.

“Tunggu sunbae, ada yang ingin kubicarakan”

“Apa itu?”

“Mengenai kejadian tadi..” hayoung menggantung ucapannya.

“Lanjutkan” perintah sehun tidak sabar.

“Kita sama sama tahu kalau apa yang jongin sunbae bilang semuanya tidak benar, kita bukan pasangan” ucap hayoung hati hati.

“Kalau begitu kau mau itu jadi kenyataan? Baiklah mulai sekarang kau yeojachiguku”

“Ani, bukan itu maksudku” balas hayoung cepat.

“Lalu?” Sehun bingung.

“Ciuman itu.. itu ciuman pertamaku, dan… kau seharusnya tahu jenis wanita sepertiku ingin ciuman pertama yang berkesan..”

“Apa tadi kurang berkesan untukmu?” Tanya sehun.

 

Hayoung menggeleng cepat.

“Bukan, maksudku kau bahkan bukan namjachiguku”

 

Sehun tertawa kecil.

“Ahhh aku tahu, kau ingin ciuman pertamamu itu di tempat special dengan kekasihmu dan dengan penuh perasaan?”

 

Hayoung hanya mengangguk.

 

Sehun meraih pergelangan hayoung.

“Baiklah ayo kita buat hal itu terjadi. Kau mau mengulangnya?”

 

Hayoung menarik tangannya sampai terlepas dari genggaman sehun yang tidak begitu erat.

“Tidak bisa!” Ujar hayoung begitu saja.

“Mwo?”

“Aku..menyukaimu hanya sebagai seniorku saja, tidak lebih”

 

~End Flashback~

 

“Lalu dia mencaciku, dia bilang aku terlalu percaya diri karena mengira dia sangat menyukaiku, dia juga menyuruhku cepat-cepat pindah dari Busan” jelas hayoung.

 

Taehyung tidak berekspresi, ekspresinya masih terbilang normal tidak menandakan emosi.

 

“Hari ini pasti berat bagimu” hanya itu yang terucap dari mulut taehyung.

 

Hayoung mengeratkan genggamannya pada lengan taehyung.

 

“Aku takut sekali oppa, dan aku..sangat sedih karena ciuman pertamaku sudah direbut” terdengar isakan kecil dari hayoung.

 

“Ya habis mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi” ujar taehyung.

 

Hayoung memutuskan tidak menjawab, dia hanya memuaskan emosi sedihnya saat ini.

 

Taehyung menghentikan langkah mereka, ia memegang kedua bahu hayoung, mencoba membuat gadis dihadapannya ini menatapnya.

 

“Hayoung-ah, jebal uljima. Kau ingin orang tuamu khawatir karena melihatmu pulang dengan mata sembab?” Tanya taehyung lembut.

 

Hayoung menggeleng.

“Hatiku tidak bisa menerimanya” rengek hayoung “Oppa~” hayoung berhambur ke tubuh taehyung, mendekapnya sangat erat merasakan hangat tubuh taehyung.

 

Taehyung menarik napas terkejut, matanya membulat sempurna. Lalu tatapannya melembut, tangan kirinya ia lingkarkan pada pinggang hayoung sedangkan tangan kanannya mengelus lembut belakang kepala hayoung.

 

“Tenanglah, mulai sekarang aku akan selalu ada untukmu. Jangan sungkan untuk datang padaku”

 

 

*******

 

Keesokkan Harinya.

 

“Baiklah aku berangkat” salam hayoung pada kedua orang tuanya.

“Josimhae” sahut oemma dan appa.

 

Hayoung membuka pintu rumahnya.

 

“Oppa!” Seru hayoung.

 

Taehyung yang sedang berdiri di perkarangan rumah hayoung sontak terkejut.

“Yak, bocah! Kau mau aku kena serangan jantung, oeh?!”

 

Hayoung berlari kearah taehyung.

“Wah kau menjemputku, mulai saat ini kau yang menjemputku? Jadi Aku tidak perlu menunggumu lagi setiap pagi?” Tanya hayoung girang mengabaikan ucapan taehyung sebelumnya.

 

***

 

@Gyeongsang High School.

 

“Yak sehun-ah! Oddiega?” Kai berteriak sembari mengejar sehun yang berlari sangat cepat ke toilet.

 

Kai terdiam dibalik pintu toilet saat mendengar sehun muntah dan terbatuk. Ia menarik pintu toilet lalu masuk dengan perlahan, betapa terkejutnya kai melihat sosok sehun berdiri di depan cermin wastafel dengan wajah yang pucat, rambutnya mencuat kemana-mana karena tidak disisir, juga kemeja seragamnya yang keluar.

 

“Hun, kau sakit?” Tanya kai hati-hati.

 

Sehun memutar keran air lalu mengelap mulutnya.

 

“Apa yang kalian lakukan semalam sampai kau mual-mual begini? Apa kalian melakukannya?” Goda kai.

“Tidak lucu kai” balas sehun dingin.

“Ok maaf, aku hanya heran kenapa kau berantakan sekali” ucap kai terdengar lebih sebagai pernyataan.

“Aku hanya terkena flu juga kelelahan karena semalam terkena insom”

“Semalam kau tidak bisa tidur? Ayo ke UKS, akan kucarikan obat untukmu”

 

Mereka berdua keluar dari toilet dan berjalan dengan pelan menuju UKS sebab sehun berjalan lebih lambat dari biasanya karena kepalanya yang kini berdenyut. Kai yang berjalan didepan sempat beberapa kali menoleh ke belakang melihat keadaan sehun yang menurutnya sangat tidak baik. Kai kembali mengalihkan pandangannya kedepan.

 

“Itu Oh Hayoung!” Pungkas kai bersemangat “aku akan memanggilnya dan menyuruhnya untuk menemanimu di UKS, kau pasti akan cepat sembuh jika dia yang merawatmu, bukan?” Baru selangkah kai berjalan tangannya sudah ditahan oleh sehun.

“Andwe!” Titah sehun.

“Wae? Bukankah dia kekasihmu?” Tanya kai bingung.

“Dia bukan kekasihku”

“Yaa walaupun kalian belum resmi pacaran tapi kalian sudah mengetahui perasaan satu sama lain” timpal kai.

 

Kai mau berjalan lagi tapi kini sehun lebih keras menahan lengannya.

“Dia menolakku!” Seru sehun tegas.

 

Ekspresi kai berubah, senyumnya seketika pudar. Ia berdehem lalu menatap sehun dengan canggung.

“Ga..gadis itu tidak ada apa-apanya, dia juga tidak pantas untukmu. Kita cari gadis yang lebih menarik dan juga lebih sexy darinya” ucap kai mencoba menghibur sehun, walaupun ia tahu ucapannya terdengar bodoh dan tidak akan mempan memperbaiki hati sahabatnya yang kini terluka.

 

***

 

Makanan yang telah dibeli hayoung sudah habis, saat ini dia makan sendiri karena taehyung harus ke perpustakaan ada urusan tugas.

 

Hayoung menghela napas lemah karena merasa sedari tadi orang orang memerhatikannya dan menggunjingnya. Ia memutuskan untuk beranjak dan segera kembali ke kelas, disaat yang bersamaan sehun dan kai memasuki kantin. Sehun tampak lebih segar daripada tadi pagi karena penampilannya sudah lebih rapi dan wajahnya-pun tidak sepucat tadi.

 

Hayoung terpaku dengan kedatangan sehun dan kai, dia berpikir bahwa siswa siswi di kantin sangat menantikan kejadian seperti ini karena mereka pasti penasaran dengan hubungan apa yang terjalin antara Invisible Student sepertinya dan Siswa Popular seperti Oh Sehun.

 

‘Dan pertunjukkan yang mereka ingin lihat akan segera terjadi’ batin hayoung.

 

Sehun berhenti saat dihadapan hayoung membuat hayoung meneguk ludahnya, tidak seperti biasanya kalau sedang gugup ia akan menunduk, karena kini dia membalas menatap tatapan dingin sehun yang seakan menusuk. Lalu sedetik kemudian sehun melewatinya dengan memiringkan bahunya seakan sangat enggan bersentuhan dengannya setelah itu kai ikut melewatinya dengan sedikit menubruk bahu hayoung membuatnya terdorong kebelakang.

 

Kejadian ini tentu membuat para penghuni(?) Kantin berbisik membicarakan mereka.

 

Hayoung mendengar ada beberapa siswi yang berbisik kalau dia sudah dicampakkan.

 

‘Sepertinya kalian sudah puas karena mendapat jawaban yang seperti kalian inginkan’ batin hayoung berkecamuk.

 

****

 

~Hayoung POV~

 

Beberapa Hari Kemudian.

@Gyeongsang High School.

Kelas 10B, Waktu Istirahat.

 

Lirikkan dari teman teman wanita sekelasku begitu menusuk, walaupun aku tidak melihat tatapan mereka secara langsung tapi tetap saja aku dapat merasakan kalau teman temanku sedang membicarakan hal hal yang menyedihkan tentangku. Aku yang dicampakkan, ditinggalkan, hanya sebagai hiburan singkat sehun sunbae, atau hal yang menyakitkan lainnya. Untung saja aku sudah terbiasa sendiri dan dipandang sebelah mata oleh orang lain, sehingga ini tidak terlalu mengangguku.

 

Aku beranjak dari kursiku membuat teman temanku, entahlah.. apa mereka dapat kusebut sebagai temanku(?). Mereka melihat ke arahku, kuputuskan untuk keluar kelas menuju perpustakaan karena belakangan ini taehyung oppa masih ada keperluan disana.

 

*

 

Kulangkahkan kakiku masuk kedalam perpustakaan, aku mengedarkan pandanganku mencari taehyung oppa.

 

“Yak Oh Hayoung!!” Panggil segerombolan siswi yang saat itu sedang duduk di kursi membaca.

 

Aku menoleh dan memandang mereka dengan penuh tanya.

 

“Ada apa antara kau dan sehun oppa?” Tanya salah seorang gadis terang terangan.

 

Aku terdiam beberapa jeda

“Kami hanya… berteman” jawabku tidak yakin karena  aku sendiripun tidak tahu apa aku dan sehun sunbae dapat terbilang teman, Aku bahkan berani bertaruh kalau sekarang dia sangat membenciku.

 

“Hahaha teman? Jangan bercanda” jawab salah seorang yeoja lain.

 

“Aku yakin Sehun sunbae sudah bosan denganmu karena kau begitu membosankan. Dia sadar tertarik padamu adalah sebuah kesalahan besar dihidupnya” timpal gadis disebelahnya.

 

“Kau dicampakkan olehnya, kan?”

 

Aku menggigit bibir bawahku kuat kuat, menahan air mata yang akan keluar dan tentunya itu semakin membuat dadaku sesak.

 

“Yak jawab!” Perintah gadis yang bertanya padaku dengan berteriak.

 

Aku mendongak menatap mereka.

“Ne, dia…mencampakkanku”

 

Lalu mereka tertawa.

“Hahaha sudah kuduga”

 

Kurasa kesini adalah kesalahan besar bagiku, ini jauh lebih buruk daripada di kelas. Aku berbalik untuk kembali ke kelas tapi.. saat ku berbalik aku sudah mendapatkan sosok taehyung oppa yang sedang menatapku nanar.

 

‘Apa sedari tadi dia dibelakangku? Dia mendengarnya?’ Tanyaku dalam hati.

 

Dia mendekat padaku, lalu meraih tanganku dan megenggamnya erat membuat para gadis yang tadi mengolokku terpaku melihat kami.

 

Taehyung oppa memberikan Death Glare-nya pada mereka membuat mereka takut.

 

“Hayoung-ah, kajja” ucap taehyung oppa yang masih menatap para gadis itu dengan lirikan tajam.

 

***

 

~Author POV~

Beberapa Hari Setelahnya.

 

“Ne? Namjoo sunbae mengutarakan cinta pada taehyung oppa?” Tanya hayoung terkejut.

“Ne, Aku dan kwangmin saksinya! Benar begitu, min?” Pungkas minwoo.

 

Kwangmin hanya tersenyum pertanda meng-iyakan minwoo.

 

“Yak Bisakah kalian diam dan tidak bahas itu lagi?” Ujar Taehyung gusar “mengingat itu membuatku merinding” tambahnya.

“karena selama ini kau dan dia berteman baik” timpal kwangmin.

 

“Oppa, kukira… tidak ada orang yang lebih peduli dan menyayangimu seperti aku. Tapi kini keadaan sudah berubah, ada namjoo sunbae yang menyukaimu, Kurasa aku bisa pindah dengan tanpa beban”

 

“Shikuro, hentikan ucapan konyolmu!” Titah taehyung kesal.

 

“Kuyakin dia akan membuat harimu lebih menyenangkan daripada bersamaku karena aku selalu membuatmu jengkel dan kesal” lanjut hayoung.

 

“Kubilang diam!!” Bentak taehyung yang kemudian menarik pergelangan tangan hayoung kasar.

 

“Mengapa kau selalu membuatku marah?!” Sembur taehyung penuh emosi.

 

Kwangmin dan minwoo terdiam seketika karena terkejut melihat reaksi taehyung yang tidak disangka ini karena Seorang taehyung yang mereka kenal adalah sosok yang konyol, humoris, dan ceria.

 

“V-ah…Kau tidak perlu memperlakukan hayoung seperti itu” ucap kwangmin mengingatkan.

“Tidakkah kau berlebihan? Kau tidak perlu membentak” Timpal minwoo.

 

Taehyung berdecap kesal.

“Kajja, pulang!” Seru taehyung seraya menarik tangan hayoung untuk mengikutinya tanpa ada basi-basi ke minwoo atau kwangmin.

 

“A..anyeong sunbaedeul” salam hayoung.

 

“Geez, anak itu kenapa marah sekali?” tanya minwoo.

“Intinya dia marah pada kita atau hayoung?” Tanya kwangmin dengan tampang polosnya sedangkan minwoo hanya menggindikan bahu.

 

***

 

~Hayoung POV~

 

Tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, taehyung oppa tidak mengajakku pulang melainkan ke bukit.

 

Aku terduduk dirumput memandangnya yang kini berdiri berjarak beberapa meter disampingku sedang memainkan gelembung sabun. Ada yang aneh menurutku, entah apa itu. Sedaritadi dia tidak berbicara tapi gelagatnya tidak seperti sedang marah.

 

“Oppa, waeyo?” Tanyaku.

 

Taehyung oppa tidak mengubris pertanyaanku dia malah masih asik meniup gelembung sabun.

 

“Oppa, kau marah padaku? Maafkan aku jika aku memiliki kesalahan padamu” ucapku sungguh sungguh.

 

Taehyung oppa menghentikan aktivitasnya lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.

“Hayoung-ah, kenapa kau sangat menyukai gelembung sabun?”

“Mwo?”

“Kurasa tidak ada yang menarik dari ini” timpalnya sembari memandang botol gelembung sabun di tangannya.

 

Aku berdiri lalu mendekatinya.

“Kenapa oppa tiba tiba bertanya seperti itu?”

“Aku…” ia terlihat berpikir “Aku hanya ingin tahu alasan kau menyukainya” lanjutnya.

 

Aku tersenyum lembut padanya.

“Aku hanya menyukainya, tidak semua hal harus memiliki alasan, bukan?”

“Kau hanya menyukainya?” Tanyanya mengulang ucapanku.

“Ne”

“Kau tidak peduli dengan alasan kenapa kau menyukainya?”

 

Aku sedikit kesulitan mencerna arah pembicaraan kami, tapi aku tetap mengangguk meng-iyakan pertanyaannya.

 

“Hayoung-ah”

“Ne, oppa?”

 

Taehyung oppa menatapku intens.

“Bolehkah aku memelukmu?”

 

Mataku membulat karena terkejut.

 

“Tidak perlu alasan khusus kan untuk aku melakukannya?” Tanyanya.

 

Aku tersenyum lalu mengangguk.

Aku meregangkan tanganku kemudian mendekatinya, ia-pun meregangkan tangannya menyambut baik lingkaran tanganku di tubuhnya. Dia mendekapku dengan sangat erat membuat jantungku berdetak di ambang batas normal.

 

“Hayoung-ah” panggilnya.

“Ne?”

“Mungkin… aku akan menyukai gelembung sabun juga”

 

kurasakan tubuhnya agak bergetar.

 

Taehyung oppa melepaskan pelukannya, kemudian ia berbaring di rumput dengan tangannya yang menutupi matanya.

 

Aku ikut berbaring disampingnya, memerhatikannya yang terlihat ada sesuatu yang meganggunya. Aku meraih tangannya yang menutupi matanya, membuatnya mengalihkan pandangannya padaku. Aku menunggu ia mengucapkan sesuatu atau menjelaskan hal apa yang menganggunya.

 

“Hayoung-ah, kurang dari 2 minggu kau akan pergi. Kapan kau ada waktu untuk kulukis?”

 

***

 

~Author POV~

Keesokkan harinya.

@Gyeongsang High School

@Canteen

 

 

“Oppa, menurutmu gaya apa yang harus kuperagakan saat dilukis olehmu? Bagaimanapun itu harus special” pungkas hayoung.

 

Taehyung yang sedang melahap rotinya mendecap malas.

“Kau bisa berdiri dan tersenyum! Jangan gunakan pose pose aneh atau menggelikan, itu hanya akan merepotkanmu. Memang kau pikir dilukis hanya sebentar? setidaknya kau harus menjaga posemu untuk beberapa lama sampai lukisan itu selesai. Jadi jangan menyusahkan diri sendiri”

“Ah matta! Tapi tetap saja itu harus berkesan”

“Terserah kau sajalah”

“Kalau melukis dari foto bagaimana?” Pungkas hayoung “ah tidak.. itu tidak akan berkesan” tambah hayoung menjawab pertanyaannya sendiri.

 

Tiba tiba ada yang berdiri di sisi samping meja mereka, membuat mereka beralih menatap orang tersebut.

 

Oh Sehun, ya.. tidak lain dan tidak bukan itu dia dengan kai yang tepat di belakangnya. Dengan tatapan dingin sehun menatap tajam hayoung.

 

“Neo…” desis sehun dengan tatapan intens.

Sehun diam beberapa saat sampai ia melanjutkan ucapannya.

“Apa benar…kau bilang kalau aku mencampakkanmu?” Tanya sehun dingin.

 

Hayoung meneguk salivanya.

“A..aku, ne matta”

 

Sehun mendengus dengan menyunggingkan senyum pahit yang tidak simetris.

“Permainan apa yang kau mainkan padaku? Jangan buat dirimu terlihat menyedihkan, aku tidak tahan”

“Maaf?” Hayoung tidak mengerti.

 

Karena kesal sehun meraih tangan hayoung dan menariknya kasar hingga hayoung berdiri.

“Kita perlu bicara!” Seru sehun seraya berbalik.

 

Pakk!

 

Sehun dan hayoung reflek menoleh kebelakang yang ternyata taehyung menahan pergelangan tangan hayoung yang bebas.

“Hajima!” Ujar taehyung.

“Aku tidak punya urusan denganmu, lepaskan!” Perintah sehun sinis.

“Kau yang lepaskan! Siapa kau? Kau pikir kau siapanya hayoung, hah? Main seenaknya memerintah, dia bukan bonekamu!” Taehyung tak kalah sinis.

“Yak bocah, Jaga mulutmu!

Kau pikir kau bicara dengan siapa?!” Bentak kai tidak terima.

“Yakk! aku tidak bicara denganmu!!” Balas taehyung sembari menunjuk kai.

 

Kai seketika mati kutu karena diteriaki oleh taehyung.

 

Taehyung kembali beralih menatap sehun.

“Hentikan tingkahmu yang menyebalkan sunbaenim, urusanmu dengannya sudah selesai. Jangan karena kau senior jadi kau seenaknya. Belakangan ini aku sudah cukup sabar dengan tingkahmu yang memperlakukan dia seakan-akan milikmu! Lepaskan hayoung, dia bukan milikmu, dia…dia wanitaku”

 

Seluruh penghuni kantin terkejut dengan ungkapan taehyung, khususnya hayoung. Hayoung merasakan cengkraman taehyung yang sangat kuat dipergelangannya seakan mengisyaratkan kalau taehyung tidak menginginkan dirinya pergi. Takut kehilangan?

 

“Kau bohong..” desis sehun, kini dadanya naik turun.

“Dia bukan milikmu” lanjut sehun pelan tapi masih dapat terdengar.

 

“Dia milikku! Kau seharusnya tahu bahwa hubungan kami lebih dari sekedar teman!” Taehyung menarik tangannya yang menggenggam hayoung membuat hayoung terhempas kearahnya tapi tangannya yang lain masih ditahan oleh tangan sehun.

 

“Hayoung-ah, kajja!” ajak taehyung sambil melepaskan genggaman sehun yang agak merenggang dengan kasar.

 

***

 

Taehyung berjalan dengan cepat dengan tangannya yang masih menuntun hayoung. Hayoung hanya dapat pasrah dan mengikuti arah kaki taehyung membawanya.

 

Mereka keluar dari gedung sekolah menuju taman belakang, setelah sampai taehyung melepaskan tangan hayoung dengan tiba-tiba, membuat hayoung otomotis berhenti.

 

Taehyung memegang kepala dengan kedua tangannya seakan ada rasa sakit yang menyerbunya. Hayoung hanya menatap taehyung yang kini mepunggunginya dengan tatapan bingung dan serba salah.

 

Ding…Dong..Ding..Dong

 

Suara bel tanda masuk berbunyi, membuat hayoung menoleh ke asal suara.

 

“Abaikan bel itu, Duduklah..” perintah taehyung tanpa berbalik menghadap hayoung dengan tangan kanannya menunjuk kursi panjang taman di samping mereka.

 

“N..ne!” Jawab hayoung tergagap tapi lugas.

 

Tanpa pikir panjang hayoung duduk di kursi tersebut menuruti perintah taehyung.

 

“Oppa, gwenchana?” Tanya hayoung sambil melirik taehyung yang masih terlihat frustasi dan memegangi kedua sisi kepalanya.

 

“Ani, ani gwenchana! Aku sama sekali tidak baik, oh hayoung” jawab taehyung reflek berbalik menghadap hayoung. “Aku pasti sudah gila, aah michinde” racau taehyung.

 

“Oppa, mianheyo. Kau pasti merasa terbebani karena perkataanmu tadi, terimakasih karena kau sudah berniat baik membantuku, tapi sungguh aku baik baik saja. Bagaimana kalau aku kembali ke kantin dan bilang ke mereka kalau yang kau katakan tidak benar?” Hayoung mencoba beranjak tapi taehyung dengan cepat mencegahnya.

 

“Kajima! Bukan itu maksudku” seru taehyung dengan menggerakkan kedua tangannya kedepan mengisyaratkan ‘Jangan’

 

“Hmm?” Hayoung mengerutkan dahi.

 

Taehyung berdecap lalu menarik napas sangat dalam, dia berkacak pinggang frustasi.

“A..aku, aku hanya merasa terkejut. Karena tidak pernah bertindak seberani itu”

 

“Ahhh, kau merasa tidak percaya karena sudah berani menantang sunbaedeul?” Hayoung menyimpulkan.

 

Taehyung geram lalu ia mendekat kearah hayoung, dengan sekali gerak dia ikut duduk di samping hayoung dengan tubuhnya menghadap hayoung, kedua tangannya meremas bahu hayoung.

 

“Bukan itu intinya”  ucap taehyung serius dengan menatap hayoung intens membuat hayoung meneguk salivanya.

 

“Tadi adalah pertama kalinya bagiku mempertahankan apa yang kuinginkan dengan sangat berani sekaligus putus asa disaat bersamaan” lanjut taehyung.

 

Hayoung membulatkan matanya, terkejut.

 

“Mian… aku benar-benar menyukaimu, sangat” tambah taehyung, ia melepaskan kedua tangannya yang megenggam bahu hayoung lalu ia menunduk dalam.

 

Terasa ada seribu kupu-kupu yang menggelitik perut hayoung, detak jantungnya terasa berdetak dengan tempo yang tidak beraturan.

 

“Sejak kapan?” Hanya 2 kata itu yang dapat keluar dari mulut hayoung yang terasa kelu.

 

Taehyung masih menundukkan kepalanya di hadapan hayoung, ia menggindikkan bahunya pertanda ‘Tidak Tahu Pasti’.

“Pertemuan pertama kita, mungkin?”

 

Hayoung tercekat, rasanya penglihatannya sudah mengabur karena air mata kini sudah membendung disana. Senyum yang sangat manis ia torehkan, walaupun taehyung tidak melihatnya karena masih menunduk.

 

Dengan perlahan tapi pasti hayoung melingkarkan tangannya di leher taehyung, memeluknya dengan hangat. Membuat taehyung mendongak karena terkejut, tapi kemudian ia tersenyum dan membenamkan wajahnya di leher hayoung membuat dirinya nyaman dengan wangi rambut hayoung. Taehyung mengepalkan tangannya sebab ia belum berani membalas pelukan hayoung, membayangkan tangannya melingkar di pinggang hayoung saja membuatnya sulit bernapas.

 

 

***

-Hayoung POV-

Dua Minggu kemudian

 

“Hayoung-ah~ palliwa! Cepat masukkan kopermu ke mobil! Apa yang kau lakukan di atas, oeh?!” Teriak oemma dari lantai bawah.

“Ne~ sebentar lagi!” Jawabku tak kalah keras agar dapat terdengar.

 

Aku menarik koperku dengan susah payah karena ukurannya yang besar juga beban yang sangat berat.

 

 

“Haaahuh~” aku menghela napas lega karena setelah sekian lama berkutat dengan koper merepotkan itu, aku berhasil memasukkannya kedalam mobil.

 

Aku menyeka keringat yang berada di dahiku, lalu aku melirik rumah yang berada tepat diseberang jalan rumahku. Aku tersenyum melihatnya, dan ah! Aku menepuk jidat.

 

“Oemma-oemma-oemma!” Panggilku.

 

“Oh Hayoung, kenapa kau berteriak memanggil oemmamu?” Tanya appa yang keluar dari dalam rumah sembari membawa kardus kecil.

“Ohh appa! Bolehkah aku pergi sebentar?” Tanyaku bersemangat.

“Mau kemana, hayoung-ah?” Tanya appa lembut seperti biasanya.

“Aku ingin ke rumah taehyung oppa, berpamitan padanya juga dengan kim ahjumma” jawabku, aku memerhatikan ekspresi wajah appa menunggu jawabannya “Ayolah~ aku janji hanya sebentar, kalau sudah waktunya pergi kalian bisa memanggilku” tambahku meyakinkan.

“Pergilah, manfaatkan waktu” ujar appa sembari tersenyum.

 

Senyumku langsung mengembang.

“Gomawo~” ucapku seraya berlari ke arah rumah taehyung oppa.

 

*

 

~Taehyung POV~

 

Tok-Tok-Tok

 

“Masuk!” Perintahku.

 

“Oppa!!” Pungkas suara yang sangat kukenal.

 

Aku beralih menatapnya.

“Yak! Oh Hayoung, Tidak bisakah kau masuk dengan normal?” Ujarku jengkel.

 

Dia hanya tersenyum, lalu seketika matanya membulat.

“Wahh” gumamnya kagum, dia melihat keadaan kamarku yang kini penuh dengan gelembung sabun.

“Oppa, daebak! Bagaimana bisa?” Tanyanya.

 

Aku menunjuk sebuah mesin dekat meja belajarku yang sedari tadi mengeluarkan gelembung sabun.

“Aku membelinya di toko. Keren, bukan?” Ucapku narsis.

 

Hayoung mengangguk beberapa kali sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Kau membelinya untukku?” Tanyanya seraya mendekatiku yang sedang berdiri di dekat jendela.

 

“Kau terlalu percaya diri” aku menoyor kepalanya.

 

Dia mendengus sambil meringis, sangat menggemaskan pikirku. Lalu dia menengadahkan tangan kanannya di depan wajahku.

 

“Hmm?” Tanyaku meminta penjelasan.

“Mana lukisan yang kau janjikan?”

“Ah matta! Tunggu sebentar”

 

Aku melangkah ke meja belajarku, mengambil Sketch Book-ku

“Ige, ambillah”

“Buku ini untukku?” Tanyanya sulit percaya.

“Ne”

“Wah oppa gomawoyo” ucapnya girang,

“Begitu saja sangat gembira” ejekku.

“Biarkan!” Hayoung menjulurkan lidahnya.

 

Detik kemudian dia mulai membuka Buku sketsaku, dari lukisan di halaman pertama yang pernah ia lihat lalu beralih ke halaman-halaman selanjutnya. Dia melihat seluruh lukisanku dengan ekspresi sulit percaya.

 

“Opp..oppa, jadi selama ini kau melukisku?” Tanyanya, dia mengalihkan pandangannya menatapku membuatku canggung.

 

Aku menggaruk tengkukku.

“Ma..maaf, aku melukismu tanpa seizinmu”

 

Tiba tiba dia memelukku, melingkarkan tangannya sangat erat di pinggangku membuatku terlonjak mengangkat kedua tanganku keatas.

 

“Kau sangat manis, oppa” ucap hayoung, melihat wajahnya dari jarak dekat begini membuat akal sehatku terganggu.

 

“Pokoknya kau harus kuliah di Seoul, aku tidak mau tahu!” Rajuknya “kau tidak boleh membiarkan aku tersiksa karena merindukanmu disana!” Lanjutnya.

 

‘Aku yang akan tersiksa karena merindukanmu’ batinku berkecamuk.

 

“Yak~ dimana-mana pria yang berinisiatif seperti itu, kau ini yeoja tapi tidak tahu malu mengatakan hal itu” protesku.

 

Dia semakin mengeratkan pelukannya padaku seakan tidak rela berpisah.

“Ahh biarkan saja, aku tidak peduli Selagi aku bisa bersamamu, oppa” jawabnya.

 

Chup

 

Hayoung mengecup singkat pipi kiriku. Membuat darahku berdesir hebat, tanganku yang masih terangkat tiba-tiba lemas kebawah.

 

“Kau selalu saja tidak peka terhadap perasaanku” ucap hayoung kecewa, dia meregangkan tangannya yang melingkar di pinggangku.

 

Sebelum dia melepaskan pelukannya padaku aku sudah terlebih dahulu mendekapnya erat membuat ia agak terkejut.

 

“Aku akan kuliah disana, jadi tunggu aku. Dan… awas kau meladeni namja yang mencoba mendekatimu!” ancamku.

 

Dia mengangguk lalu tersenyum dengan manis. Aku menatapnya lekat lekat, lalu menelan ludah.

 

“Hayoung-ah, saranghae”

 

Chu~

 

Sekali gerakan aku sudah menempelkan bibirku pada bibirnya. Dengan hati hati aku mencoba melumat bibirnya, membuatnya nyaman dengan lumatan yang kuberikan. Tak kusangka dia membuka mulutnya dan membalas ciumanku dengan dalam. Sekitar beberapa detik kemudian hayoung melepaskan bibirnya dariku, membuatku kecewa. Bagaimanapun aku pria, tentu aku menyukai hal itu.

 

“Oh hayoung, kau mahir melakukannya?” Tanyaku.

 

“Aku belajar dari Sehun sunbae” jawabnya sambil tersenyum tanpa dosa.

 

“Yak! Kau mau mati, hah?” Ujarku kesal dan dia hanya tertawa cekikikan.

 

END🙂

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF oneshot/ BUBBLES HONEY/ BTS-APINK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s